BTC USD 83,613.5 Gold USD 4,157.01
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Hadis Imam Al-Bukhari

Hadis Sahih Bukhari Jilid 1. Hadis
Nombor 0243.

Dari Abdullah bin Umar r.a.,
katanya: "Ketika orang-orang di
Quba sedang solat subuh, tiba-
tiba datang seorang mengatakan,
"Sesungguhnya tadi malam Al-
Quran turun kepada Rasulullah
saw. Beliau diperintahkan solat
menghadap ke Kaabah. Maka
menghadap pulalah anda semua
ke Kaabah. Lalu mereka yang
ketika itu sedang solat dengan
menghadap ke Syam, merubah
arah mereka dengan menghadap
ke Kaabah."
 
Hadis Sahih Bukhari Jilid 1. Hadis
Nombor 0107.

Abdullah bin Umal r.a.
menceritakan, "Saya naik ke
loteng rumah Hafsah untuk suatu
keperluan; kelihatan olehku
Rasulullah sedang buang air
membelakang kiblat dan
menghadap ke Syam."
 
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra :

bahwa mengeraskan suara dalam berdzikir
selesai orang-orang melaksanakan solat wajib
dengan berjamaah sudah menjadi kebiasaan
pada masa Nabi Saw. kata Abdullah bin Abbas:
Ketika saya mendengar zikir tersebut saya tahu
bahwa orang-orang sudah selesai melaksanakan
solat jamaah.

( HR.Bukhari 841 )
 
Dari Humaid bin Abdurrahman
bahwasanya ia mendengar Mu'awiyah
r.a. di waktu melakukan ibadat haji, ia
berada di atas mimbar dan mengambil
segenggam rambut yang ada di tangan
seorang pengawalnya, lalu ia berkata:
"Hai ahli Madinah, di manakah para
alim ulamamu ini? Saya mendengar
Nabi s.a.w. melarang semacam ini dan
beliau s.a.w. bersabda: "bahwasanya
kaum Bani Israil itu rosak - yakni budi
pekerti dan akhlaknya - di kala kaum
wanita mereka itu mengambil rambut
seperti ini - yakni menggunakan rambut
cemara (rambut palsu).

(Muttafaq 'alaih)
 
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma,
katanya: "Rasulullah s.a.w. melarang
penguncitan -yakni mencukur sebagian
kepala - dan meninggalkan sebagian
lainnya."

(Muttafaq 'alaih)
 
Dari Asma' radhiallahu 'anha
bahwasanya ada seorang wanita
bertanya kepada Nabi s.a.w. lalu
berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya
anak saya perempuan itu terkena
penyakit campak lalu gugurlah
rambutnya dan saya sudah
mengahwinkannya, apakah boleh saya
hubungkan rambutnya itu dengan
rambut orang lain -dengan diberi
cemara (rambut palsu) dan sebagainya?" Rasulullah
s.a.w. bersabda: "Allah melaknat
kepada orang yang menghubungkan
rambut dengan rambut orang lain dan
melaknat pula kepada orang yang
rambutnya dihubungkan dengan
rambut orang lain."

(Muttafaq 'alaih)
 
Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma
bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu
melaknat kepada orang yang
menghubungkan rambutnya dengan
rambut orang lain, juga orang yang
meminta supaya rambutnya
dihubungkan dengan rambut orang
lain, demikian pula melaknat kepada
orang yang mencacah kulit (bertatu dengan
gambar, tulisan dan Iain-lain ) serta
orang yang meminta supaya dicacah
kulitnya.(ditatu)"

(Muttafaq 'alaih)
 
Dari Ibnu Mas'ud r.a., bahwasanya
ia berkata: "Allah melaknat kepada
orang-orang yang mencacah kulitnya (tatu)
serta yang meminta supaya dicacah
kulitnya (ditatu), juga orang yang meminta
supaya rambut alisnya (bulu kening) ditipiskan - agar
tampak indah bagaikan bulan sabit,
demikian pula orang yang
merenggangkan gigi-giginya untuk
maksud kecantikan yang semuanya itu
mengubah-ubah keaslian kejadian
makhluk Allah." Kemudian ada seorang
wanita yang berkata dalam hal ini -
seolah-olah menyanggah, lalu Ibnu
Mas'ud berkata: "Bagaimanakah saya
tidak akan melaknat kepada orang yang
juga dilaknat oleh Rasulullah s.a.w. dan
pelaknatan itu tercantum pula dalam
Kitabullah (yakni al-Quran), Allah Ta'ala
berfirman: "Dan apa-apa yang
didatangkan oleh Rasul, maka ambillah
itu dan apa-apa yang dilarang olehnya,
maka tercegahlah dari melakukannya."

(Muttafaq 'alaih)
 
Dari al-Bara' bin 'Azib r.a., katanya:
"Rasulullah s.a.w. itu adalah seorang
yang sedang tingginya ( yakni tinggi
tubuhnya itu sedang), sungguh-sungguh
saya telah melihat beliau s.a.w.
mengenakan pakaian yang berwarna
merah. Tidak pernah sama sekali saya
melihat sesuatu apa pun yang
nampaknya lebih indah dari beliau
s.a.w. itu."

(Muttafaq 'alaih)
 
Dari Anas r.a. katanya: "Ketika Nabi
s.a.w. sudah berat sakitnya, maka
beliau pun diliputi oleh kedukaan
(kerana menghadapi sakaratulmaut),
kemudian Fathimah radhiallahu 'anha
berkata: ''Aduhai kesukaran yang
dihadapi ayahanda." Beliau s.a.w. lalu
bersabda: "Ayahmu tidak akan
memperolehi kesukaran lagi sesudah
hari ini."
Selanjutnya setelah beliau s.a.w. wafat,
Fathimah berkata: "Aduhai ayahanda,
beliau telah memenuhi panggilan
Tuhannya. Aduhai ayahanda, syurga
Firdaus adalah tempat kediamannya.
Aduhai ayahanda, kepada Jibril kita
sampaikan berita wafatnya."
Kemudian setelah beliau dikebumikan,
Fathimah radhiallahuanha berkata pula:
"Hai Anas, mengapa hatimu semua
merasa tenang dengan menyebarkan
tanah di atas makam Rasulullah s.a.w
itu?"
Maksudnya: Melihat betapa besar
kecintaan para sahabat kepada beliau
s.a.w. itu tentunya akan merasa tidak
sampai hati mereka untuk menutupi
makam Rasulullah s.a.w. dengan tanah.
Mendengar ucapan Fathimah
radhiallahu 'anha ini, Anas r.a. diam
belaka dan tentunya dalam hati ia
berkata: "Hati memang tidak sampai
berbuat demikian, tetapi sudah
demikian itulah yang diperintahkan
oleh beliau s.a.w. sendiri."

(Riwayat Bukhari)
 
Back
Top
Log in Register