BTC USD 64,916.1 Gold USD 4,448.98
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Guru mursyid

makna murshid ni ikutan, antara guru2 murshid yang aku kenal ialah seperti tn guru nik azis, tn guru hj hadi, tn guru dr harun din, syeikh murtadzar (bekas mufti n9), syeikh faiz (tareqat ahmadiah idrisiah).
 
Sahabat, banyak orang yang mengaku mursyid, merasa mursyid, atau dianggap mursyid. Tapi yang teramat sulit adalah mencari mursyid yang sesungguhnya, yang tugas kelahirannya memang sebagai seorang mursyid. Kita harus setiap saat memohon untuk diantarkannya ke 'seorang pemimpin yang dapat memberi petunjuk/wali mursyid', sebagaimana QS 18: 17 menyebutkan,

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang disesatkanNya, maka kamu tak akan mendapatkan 'Waliyyan Mursyida' (seorang pemimpin yang dapat memberi petunjuk)."

Kita harus setiap saat memohon untuk ditunjuki-Nya kepada seorang 'Waliyyan Mursyida' ini.

Banyak orang yang ingin bertemu mereka, tapi setelah bertemu mereka justru berbondong-bondong berlari meninggalkannya. Kenapa? Karena bersama seorang mursyid memang tidak mudah.

Dia akan memotong semua jalur-jalur perbudakan syahwat dan hawa nafsu pada diri kita. Dia akan mengajari dan memaksa kita untuk berani mengenal, mempelajari dan menguasai semua jenis hawa nasfu dan syahwat yang ada dalam diri kita sendiri. Dia akan memaksa kita secara semula jadi bergantung hanya kepada Allah, bahkan bukan bergantung pada dirinya sebagai mursyid. Itu adalah tugasnya.

Karena dengan terkuasainya seluruh balatentara syahwat dan hawa nafsu kita, maka kalbu kita akan semakin bening, dan kita pun pada akhirnya akan mampu mendapatkan petunjuk dari Qalbu kita sendiri.

Memang dia akan menolong kita jika 'tersempit' dalam kehidupan, menjelaskan persoalan dengan terperinci, tapi bukan berarti memanjakan terus menerus. Dia tidak akan mendidik kita untuk menjadi orang yang tidak mau menghadapi persoalan, sedikit-sedikit menangis minta tolong pada mursyidnya.

Dia akan memaksa kita untuk berani menghadapi persoalan, karena dengan demikian kita akan mengenal segala kekurangan diri yang perlu diperbaiki, mengenal dan menyempurnakan kelebihan diri yang ada, menghadapi semua hawa nafsu dan syahwat (Cthnya: rasa takut, cemas, ego, bangga, sombong, iri, tidak percaya diri, dan sebagainya) demi untuk mengenal segala aspek dalam diri kita sendiri
('arafa nafsahu), supaya kelak kita bisa mengenal Rabb ('arafa rabbahu).

Maka dari itu, bermursyid bukan seperti datang ke masjid sekali seminggu. Menghilangkan kepenatan dan menenangkan diri, mencari kesejukan sesaat, buka dan sekedar menghafal quran, setelah lega kembali ke kehidupan masing-masing. Bukan pula untuk berorganisasi, berharap dapat mengembangkan potensi diri demi karir di sana. Juga bukan seperti dukun, minta doa supaya sukses, minta amalan, dan semacam itulah.

Bermursyid itu, bukan pula seperti ke pasar. Ingin membeli
pencerahan, ingin membeli keajaiban, ingin membeli maqom ataupun pencapaian spiritual. Tapi begitu malam tiba, semua pembeli pergi ke rumah masing-masing dan kembali kepada kenyamanan tempat tidurnya di rumah, lupa pada perjuangan penyucian diri.

Demikian pula, jangan bermursyid pada orang yang mengangkat kita sebagai murid karena kita memiliki 'potensi' manfaat untuk dirinya, perniagaannya, parti politiknya, maupun organisasinya. Ini guru yang 'berbisnes', karena orang seperti ini, jika ia ingin susu maka ia akan mencari lembu untuk dipelihara.

Hubungan dengan mursyid itu tidak mudah, karena akibatnya adalah, setiap saat dimanapun kita berada, kita dituntut untuk bertaubat dan memperbaiki diri, sesuai Q.S. 5:39, Allah hanya menerima taubat dari orang-orang yang taubatnya dilanjutkan dengan memperbaiki dirinya.

"Dan ikutilah orang-orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah 'muhtaduun' (orang yang tetap diatas petunjuk)" Q.S. 36:21.

Semoga bermunafaat dengan artikel ini
 
Back
Top
Log in Register