Tumpang
Sempena ramadan
Quran adalah al Furqan
(Lihat surah al Furqan)
25:1
Maha suci Allah yang telah menurunkan *Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan* kepada seluruh alam,
2:185
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan *al furqan (pembeza antara yang benar dan yang salah)*
3:4
Sebelum (Al-Quran diturunkan), menjadi petunjuk bagi umat manusia. Dan Ia juga yang menurunkan *Al-Furqaan (yang membezakan antara yang benar dengan yang salah)*. Sesungguhnya orang-orang yang kufur ingkar akan ayat-ayat keterangan Allah itu, bagi mereka azab seksa yang amat berat. Dan (ingatlah), Allah Maha Kuasa, lagi berhak membalas dengan azab seksa (kepada golongan yang bersalah).
8:29
*Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan*. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai kurnia yang besar.
****
8:29 : *Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan*
Al Furqan diambil dari kata al-farq, artinya pembatas, pembeza, penyisihkan di antara yang benar dengan yang salah, yang hak dan yang batil, jalan yang lurus dengan jalan yang bengkok berbelit-belit.
Oleh sebab itu maka Al Qur'an sendiripun disebut juga Al Furqan, bahkan Taurat-pun disebut juga Al Furqan. Maka menurut tafsir Ibnu Jarir, yang dimaksud dengan Al Furqan di sini ialah *akal manusia sendir*i. Artinya Rasul-Rasul diutus, kitab-kitab diturunkan dan buat menampung wahyu Ilahi itu manusiapun diberi akal buat membezakan yang benar dari yang salah. Oleh sebab itu maka dengan adanya Al Furqan, akal itu, jika manusia menganut suatu kepercayaan, hendaklah yang benar-benar sesuai dengan akal mereka sendiri. Sedang wahyu yang datang dari Tuhan-pun tidak mungkin berbeda dari inti sari akal murni itu.
Maka kedatangan Rasul-Rasul dan turunnya kitab-kitab adalah menuntun al-furqan manusia, atau akal murni manusia tadi, di dalam menuju keredaan Tuhan. Tidak mungkin orang yang teratur caranya berfikir akan menolak kebenaran Tuhan.
Sebab itu berkata Tuhan pada lanjutan ayat : "Sesungguhnya orang-orang yang tidak mau percaya kepada ayat-ayat Allah, bagi mereka azab yang sangat." Azab itu ada dua macam, pertama azab dunia, yaitu azab kekacauan fikiran, azab karena tidak dapat memperbezakan di antara buruk dengan baik, azab hidup yang sebagai "menghasta kain sarung," berputar-putar di sana-sana juga, tidak bertemu ujung. Dan azab yang kedua ialah di akhirat.
Ref: Prof. Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrulloh (HAMKA) telah menulis di dalam Tafsir Al-Azhar, Juz III, Suroh Ali Imran, Ayat 4