jumatmajid
Super Active Member
- Messages
- 8,074
- Joined
- Jun 5, 2012
- Messages
- 8,074
- Reaction score
- 337
- Points
- 86
aku heran apsal nko seronok sangat tanpa fikir terlebih dahulu...)
memang aku tak faham pun
isu yang nko bangkitkan sebelum ni berkenaan "periwayatan hadis" > #2521
isu aku tanya nko kat sini pasal apa?
"periwayatan/penyaksian al-Quran" > #78
isu baru ni, jadi apa penerangan nko pasal al-Quran ni?
betul ker diriwayatkan kan?
atau disaksikan oleh sahabat sendiri bagaimana Rasulullah SAW ajar satu persatu
ditulis/dihafal pada zaman Rasulullah SAW masih hidup
bacaannya disemak oleh Rasulullah SAW sendiri
dan kemudiannya..
pada masa sahabat2 yang berkomunkasi secara langsung dengan Rasulullah SAW masih hidup
ayat2 ini dikumpulkan, setiap ayat disahkan oleh setiap "saksi"
dan dibukukan pada zaman itu juga
maka menjadi muktamad, tidak lagi boleh dipinda, tidak lagi boleh diubah2
semuanya hasil daripada "komunikasi" langsung dengan Rasulullah SAW...
berbeza dgn cerita hadis
tiada langsung hadis bertulis dan sekadar cerita mulut
yang kemudiannya dikumpulkan 250 tahun selepas kewafatan Rasulullah SAW dan para sahabat
(sebab itu diriwayatkan, macam buku cerita Riwayat Merong Mahawangsa, Riwayat Si Pitung.. hehe)
selanjutnya dan kalau nko berpegang pada al-Quran itu diriwayatkan...
aku nak tahu...
kenapa takda tulis pada setiap ayat al-Quran "diriwayatkan oleh siapa"?
salah ni.. tak tulis nama periwayat... hehe
dan pasal apa ulama nko cakap "diriwayatkan"
dia faham ker maksud yang boleh dikategorikan sebagai "diriwayatkan"
dan yang mana boleh dikategorikan sebagai "penyaksian"?
takkan dia failed untuk faham isu2 macam ni kut? dulu dia sekolah kat mana?)
x dinafikan penyaksian atau periwayatan adalah penting...
ttp apa yg lbh penting drpd persoalan itu adalah iman & akhlak org yg menyaksikan atau meriwayatkan...
brp byk kisah dlm Al-Quran yg menceritakan kaum Nabi2 terdhl MENYAKSIKAN mukjizat Nabi2 mrk...
ttp brp rmi jg yg akhirnya tetap MENDUSTAKAN PENYAKSIAN mrk, semuanyer krn iman & akhlak mrk x sempurna...
adalah x masuk akal, jika para shbt Nabi Muhammad SAW dlm perkara mencatat Al-Quran diakui sbg glgan yg mpyi iman & akhlak yg mulia...
ttp apabila mrk menyampaikan hadis, iman & akhlak mrk blh pula dipersoalkan...
adalah x masuk akal jg jika para mufassirin & muhaddisin spt Ibnu Katsir, Al-Jalalain, Imam Bukhari, Imam Muslim...
apabila mrk menghafaz Al-Quran 30 juzuk, memahami maksud & percaya pd setiap ayat, mrk dianggap sbg beriman kpd qjjl SWT...
ttp apabila mrk menjlskan ayat2 Al-Quran berdsrkan hadis, serta merta mrk dilihat sbg penipu & pendusta...
krn ini x sesuai dgn ayat dibwh yg mengatakan Al-Quran diwariskan kpd org2 yg melakukan kebaikan & akan mendpt anugerah dr qjjl SWT...

aku pasti tentu ayat ini merujuk kpd para muhaddisin, mufassirin, huffaz & semua glgan yg beriman & berakhlak mulia...
bkn kpd kita yg kater jer beriman tp Al-Quran pon x hafal, akhlak buruk pula dgn mengeluarkan kata2 keji, caci, maki, nista, fitnah, memberikan gelaran buruk sesama sendiri...
~~~~~~~~~~
aku tgk hujah nko byk berdsrkan sejarah, ttp aku perasan jg nko lbh byk merujuk kpd sejarah penulisan Al-Quran...
apabila nko petik hadis2 yg melrg penulisan hadis ader x nko kaji ltrbelakang sejarah nyer...
aku pasti sdh tentu x, krn ia x membantu menguatkan hujah nko...
disbbkan nko x nak, aku akan memberikan ltrbelakang sejarah kpd lrgan itu aku agar pembaca fhm kenapa para muhaddisin menulis hadis yg melrg mrk menulis hadis...
jika difikirkan secara logik jika ada lrgan sedemikian sdh tentu mrk x akan memasukkan ke dlm kitab2 hadis mrk & akan cuba menyembunyikan lrgan itu sebaik mgkn...
oleh itu penjlsannya bg hujah nko yg x masuk akal & ltrbelakang sejarah bg hadis lrgan menulis hadis itu adalah spt berikut...
Sejarah Penulisan Hadits Pada Masa Nabi Saw
Pada masa Rasulullah SAW masih hidup hadits belum mendapat pelayanan dan perhatian sepenuhnya seperti al-Quran. Para sahabat, terutama yang mempunyai tugas istimewa, selalu mencurahkan tenaga dan waktunya untuk mengabadikan ayat-ayat Alquran di atas alat-alat yang mungin dapat dipergunakannya. Tetapi, tidak demikian halnya terhadap hadits. Kendatipun para sahabat sangat memerlukan petunjuk-petunjuk dan bimbingan Nabi SAW dalam menafsirkan dan melaksanakan ketentuan-ketentuan di dalam al-Quran.
Larangan Menulis Hadits
Para sahabat menyampaikan sesuatu dari hadits Nabi SAW melalui lisan atau pendengaran saja. Pendirian ini mempunyai pegangan yang kuat, yakni sabda Nabi SAW “Jangan kamu tulis sesuatu yang telah kamu terima dariku selain al-Quran. Barang siapa menulis dariku selain al-Quran hendaklah ia hapus. Ceritakan saja yang kamu terima dariku, tidak mengapa. Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya di neraka.” (HR Muslim). Dalam riwayat lain Sa’id al-Khudri mengatakan: “Kami pernah meminta izin kepada Nabi SAW untuk menulis tetapi beliau tidak mengizinkannya.” (al-Muhadits al-Fashil: 4/5)
Hadits di atas, selain menganjurkan agar meriwayatkan hadits dengan lisan, juga sebagai larangan keras kepada orang yang membuat riwayat palsu. Larangan penulisan hadits tersebut ialah untuk menghindarkan adanya kemungkinan sebagian sahabat penulis wahyu memasukkan hadits ke dalam lembaran-lembaran tulisan al-Quran, karena dianggapnya segala yang dikatakan Rasulullah SAW adalah wahyu semuanya. Lebih-lebih bagi generasi yang tidak menyaksikan zaman dimana wahyu itu diturunkan, tidak mustahil adanya dugaan bahwa seluruh yang tertulis adalah wahyu semuanya, hingga bercampur aduk antara al-Quran dengan hadits.
Perintah Menulis Al-Hadits
Di samping melarang menulis hadits, Rasulullah SAW juga memerintahkan kepada beberapa orang sahabat tertentu untuk menulis hadits. Misalnya, hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra menerangkan bahwa sesaat ketika kota Mekah telah dikuasai kembali oleh Rasulullah SAW beliau berdiri berpidato di hadapan para manusia. Pada waktu beliau berpidato, tiba-tiba seorang laki-laki yang berasal dari Yaman yang bernama Abu Syah berdiri dan bertanya kepada Rasulullah saw., ujarnya, “Ya Rasulullah! Tulislah untukku!” Jawab Rasul, “Tulislah oleh kamu sekalian unutknya!”
Dan tidak ada satu pun riwayat tentang perintah menulis hadits yang lebih sah, selain hadits ini. Sebab, Rasulullah SAW dengan tegas memerintahkannya. Sejarah telah mencatat adanya beberapa naskah tulisan hadits yang bersifat pribadi dari beberapa sahabat dan tabi’in. Para sahabat dan tabi’in yang mempunyai naskah hadits antara lain sebagai berikut.
Abdullah bin Amr bin Ash ra (65 H)
Abdullah bin Amr bin Ash ra adalah salah seorang sahabat yang selalu menulis apa yang pernah didengarnya dari Nabi Muhammad SAW. Tindakan ini pernah didengar oleh orang-orang Quraisy, mereka mengatakan, “Apa engkau menulis semua yang telah kau dengar dari Nabi? Sedang beliau itu hanya manusia, kadang-kadang berbicara dalam suasana suka dan kadang-kadang berbicara dalan suasana duka?” Atas teguran tersebut, ia segera menanyakan tentang tindakannya kepada Rasulullah SAW. Maka, jawab Rasulullah SAW, “Tulislah! Demi Zat yang nyawaku ada di tangan-Nya, tidaklah keluar daripadanya, selain hak.” (HR Abu Dawud) dan Abu Hurairah pernah mengatakan: “Tidak ada satu pun sahabat Nabi yang haditsnya melebihi aku selain Abdullah bin Amru, ia menulisnya sedangkan aku tidak menulisnya.” (Fathul Baari: 1/217)
Rasulullah SAW mengizinkan Abdllah bin Amr bin Ash untuk menulis apa-apa yang didengarnya dari beliau karena ia adalah salah seorang penulis yang baik. Naskah ini disebut dengan Ash-Shahifah ash-Shadiqah, karena ditulisnya secara langsung dari Rasulullah SAW.
Naskah hadits Ash-Shadiqah berisikan hadits sebanyak 1000 hadits, dan dihafal serta dipelihara oleh keluarganya sepeninggal penulisnya. Cucunya yang bernama Amr bin Syu’aib meriwayatkan hadits-hadits tersebut sebanyak 500 hadits. Bila naskah Ash-Shadiqah ini tidak sampai kepada kita menurut bentuk aslinya, dapat kita temukan secara kutipan pada kitab Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasai, Sunan At-Tirmizi, dan Sunan Ibnu Majah.
Jabir bin Abdullah al-Anshari ra (78 H)
Naskah haditsnya disebut Shahifah Jabir. Qatadah bin Da’amah as-Sudusy memuji naskah Jabir ini dengan katanya, “Sungguh, shahifah ini lebih kuhafal daripada surat Al-Baqarah.”
Human bin Munabbih (131 H)
Ia adalah seorang tabi’in alim yang berguru kepada sahabat Abu Hurairah ra dan banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. Hadits-hadits tersebut kemudian ia kumpulkan dalam satu naskah yang dinamai Ash-Shahifah ash-Shahihah. Naskah itu berisikan hadits sebanyak 138 hadits.
Imam Ahmad di dalam musnadnya menukil hadits-hadits Humam bin Munabbih keseluruhannya. Dan Imam Bukhari banyak sekali menukil hadits-hadits tersebut ke dalam kitab sahihnya, terdapat dalam beberapa bab.
Ketiga buah naskah hadits tersebut di atas adalah di antara sekian banyak tulisan hadits yang ditulis secara pribadi oleh para sahabat dan tabi’i yang muncul pada abad pertama.
Nas-nas yang melarang menulis hadits di satu pihak dan yang mengizinkan di pihak lain bukanlah nas-nas yang saling bertentangan satu sama lain, akan tetapi nas-nas itu dapat dikompromikan sebagai berikut.
Bahwa larangan menulis hadits itu adalah terjadi pada awal-awal Islam untuk memelihara agar hadits itu tidak bercampur dengan al-Quran. Tetapi, setelah jumlah kaum muslimin semakin banyak dan telah banyak yang mengenal al-Quran, maka hukum melarang menulisnya telah dihapus dengan perintah yang membolehkannya. Dengan demikian, hukum menulisnya adalah boleh.
Bahwa larangan hadits itu adalah bersifat umum, sedang perizinan menulisnya bersifat khusus bagi orang yang mempunyai keahlian tulis-menulis, hingga terjaga dari kekeliruan dalam menulisnya dan tidak dikhawatirkan akan salah, seperti Abdullah bin Amr bin Ash.
Bahwa larangan menulis hadits ditujukan kepada orang yang lebih kuat menghafalnya daripada menulisnya, sedang perizinan menulisnya diberikan kepada orang yang tidak kuat hafalannya, seperti Abu Syah.
Penjelasan di atas sekaligus sebagai bantahan kepada pengusung orientalis yang memiliki anggapan bahwa hadits baru ditulis pada abad kedua atau hadits tidak pernah ditulis pada masa Nabi SAW.
Wallahu ‘Alambisshawab
Pada masa Rasulullah SAW masih hidup hadits belum mendapat pelayanan dan perhatian sepenuhnya seperti al-Quran. Para sahabat, terutama yang mempunyai tugas istimewa, selalu mencurahkan tenaga dan waktunya untuk mengabadikan ayat-ayat Alquran di atas alat-alat yang mungin dapat dipergunakannya. Tetapi, tidak demikian halnya terhadap hadits. Kendatipun para sahabat sangat memerlukan petunjuk-petunjuk dan bimbingan Nabi SAW dalam menafsirkan dan melaksanakan ketentuan-ketentuan di dalam al-Quran.
Larangan Menulis Hadits
Para sahabat menyampaikan sesuatu dari hadits Nabi SAW melalui lisan atau pendengaran saja. Pendirian ini mempunyai pegangan yang kuat, yakni sabda Nabi SAW “Jangan kamu tulis sesuatu yang telah kamu terima dariku selain al-Quran. Barang siapa menulis dariku selain al-Quran hendaklah ia hapus. Ceritakan saja yang kamu terima dariku, tidak mengapa. Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia menduduki tempat duduknya di neraka.” (HR Muslim). Dalam riwayat lain Sa’id al-Khudri mengatakan: “Kami pernah meminta izin kepada Nabi SAW untuk menulis tetapi beliau tidak mengizinkannya.” (al-Muhadits al-Fashil: 4/5)
Hadits di atas, selain menganjurkan agar meriwayatkan hadits dengan lisan, juga sebagai larangan keras kepada orang yang membuat riwayat palsu. Larangan penulisan hadits tersebut ialah untuk menghindarkan adanya kemungkinan sebagian sahabat penulis wahyu memasukkan hadits ke dalam lembaran-lembaran tulisan al-Quran, karena dianggapnya segala yang dikatakan Rasulullah SAW adalah wahyu semuanya. Lebih-lebih bagi generasi yang tidak menyaksikan zaman dimana wahyu itu diturunkan, tidak mustahil adanya dugaan bahwa seluruh yang tertulis adalah wahyu semuanya, hingga bercampur aduk antara al-Quran dengan hadits.
Perintah Menulis Al-Hadits
Di samping melarang menulis hadits, Rasulullah SAW juga memerintahkan kepada beberapa orang sahabat tertentu untuk menulis hadits. Misalnya, hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra menerangkan bahwa sesaat ketika kota Mekah telah dikuasai kembali oleh Rasulullah SAW beliau berdiri berpidato di hadapan para manusia. Pada waktu beliau berpidato, tiba-tiba seorang laki-laki yang berasal dari Yaman yang bernama Abu Syah berdiri dan bertanya kepada Rasulullah saw., ujarnya, “Ya Rasulullah! Tulislah untukku!” Jawab Rasul, “Tulislah oleh kamu sekalian unutknya!”
Dan tidak ada satu pun riwayat tentang perintah menulis hadits yang lebih sah, selain hadits ini. Sebab, Rasulullah SAW dengan tegas memerintahkannya. Sejarah telah mencatat adanya beberapa naskah tulisan hadits yang bersifat pribadi dari beberapa sahabat dan tabi’in. Para sahabat dan tabi’in yang mempunyai naskah hadits antara lain sebagai berikut.
Abdullah bin Amr bin Ash ra (65 H)
Abdullah bin Amr bin Ash ra adalah salah seorang sahabat yang selalu menulis apa yang pernah didengarnya dari Nabi Muhammad SAW. Tindakan ini pernah didengar oleh orang-orang Quraisy, mereka mengatakan, “Apa engkau menulis semua yang telah kau dengar dari Nabi? Sedang beliau itu hanya manusia, kadang-kadang berbicara dalam suasana suka dan kadang-kadang berbicara dalan suasana duka?” Atas teguran tersebut, ia segera menanyakan tentang tindakannya kepada Rasulullah SAW. Maka, jawab Rasulullah SAW, “Tulislah! Demi Zat yang nyawaku ada di tangan-Nya, tidaklah keluar daripadanya, selain hak.” (HR Abu Dawud) dan Abu Hurairah pernah mengatakan: “Tidak ada satu pun sahabat Nabi yang haditsnya melebihi aku selain Abdullah bin Amru, ia menulisnya sedangkan aku tidak menulisnya.” (Fathul Baari: 1/217)
Rasulullah SAW mengizinkan Abdllah bin Amr bin Ash untuk menulis apa-apa yang didengarnya dari beliau karena ia adalah salah seorang penulis yang baik. Naskah ini disebut dengan Ash-Shahifah ash-Shadiqah, karena ditulisnya secara langsung dari Rasulullah SAW.
Naskah hadits Ash-Shadiqah berisikan hadits sebanyak 1000 hadits, dan dihafal serta dipelihara oleh keluarganya sepeninggal penulisnya. Cucunya yang bernama Amr bin Syu’aib meriwayatkan hadits-hadits tersebut sebanyak 500 hadits. Bila naskah Ash-Shadiqah ini tidak sampai kepada kita menurut bentuk aslinya, dapat kita temukan secara kutipan pada kitab Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasai, Sunan At-Tirmizi, dan Sunan Ibnu Majah.
Jabir bin Abdullah al-Anshari ra (78 H)
Naskah haditsnya disebut Shahifah Jabir. Qatadah bin Da’amah as-Sudusy memuji naskah Jabir ini dengan katanya, “Sungguh, shahifah ini lebih kuhafal daripada surat Al-Baqarah.”
Human bin Munabbih (131 H)
Ia adalah seorang tabi’in alim yang berguru kepada sahabat Abu Hurairah ra dan banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. Hadits-hadits tersebut kemudian ia kumpulkan dalam satu naskah yang dinamai Ash-Shahifah ash-Shahihah. Naskah itu berisikan hadits sebanyak 138 hadits.
Imam Ahmad di dalam musnadnya menukil hadits-hadits Humam bin Munabbih keseluruhannya. Dan Imam Bukhari banyak sekali menukil hadits-hadits tersebut ke dalam kitab sahihnya, terdapat dalam beberapa bab.
Ketiga buah naskah hadits tersebut di atas adalah di antara sekian banyak tulisan hadits yang ditulis secara pribadi oleh para sahabat dan tabi’i yang muncul pada abad pertama.
Nas-nas yang melarang menulis hadits di satu pihak dan yang mengizinkan di pihak lain bukanlah nas-nas yang saling bertentangan satu sama lain, akan tetapi nas-nas itu dapat dikompromikan sebagai berikut.
Bahwa larangan menulis hadits itu adalah terjadi pada awal-awal Islam untuk memelihara agar hadits itu tidak bercampur dengan al-Quran. Tetapi, setelah jumlah kaum muslimin semakin banyak dan telah banyak yang mengenal al-Quran, maka hukum melarang menulisnya telah dihapus dengan perintah yang membolehkannya. Dengan demikian, hukum menulisnya adalah boleh.
Bahwa larangan hadits itu adalah bersifat umum, sedang perizinan menulisnya bersifat khusus bagi orang yang mempunyai keahlian tulis-menulis, hingga terjaga dari kekeliruan dalam menulisnya dan tidak dikhawatirkan akan salah, seperti Abdullah bin Amr bin Ash.
Bahwa larangan menulis hadits ditujukan kepada orang yang lebih kuat menghafalnya daripada menulisnya, sedang perizinan menulisnya diberikan kepada orang yang tidak kuat hafalannya, seperti Abu Syah.
Penjelasan di atas sekaligus sebagai bantahan kepada pengusung orientalis yang memiliki anggapan bahwa hadits baru ditulis pada abad kedua atau hadits tidak pernah ditulis pada masa Nabi SAW.
Wallahu ‘Alambisshawab
rujuk jg "20 Contoh Hadis yang kelihatan Bercanggah dan Kaedah Mengatasi Percanggahan Tersebut: Contoh 14"
~~~~~~~~~~~~~
akhir sekali aku nak komen ttg post hj_maikel yg nko guner sbg bukti bhw ada glgan yg mengatakan Al-Quran x terjaga...
aku ikut perbincangan nko dgn hj_maikel & jls sgt nko memanipulasi post2 beliau utk kepentingan nko...
kpd pembaca semua, hj_maikel sebenarnyer menggunakan kaedah reverse psychology dlm berhujah dgn glgan KAHAK nih...
iaitu jika KAHAK x yakin dgn para perawi hadis yg jg merupakan glgan yg menghafaz, menulis, menyebarkan Al-Quran maka secara lgsg KAHAK jg x mempercayai Al-Quran...
sy pasti Pub In akan kater sy bersubahat dgn hj_maikel, jd sy sgt glkkan sedara2 merujuk sendiri post hj_maikel yg dipetik oleh Pub In...
jgn ambil kata2 sy atau pon kata2 Pub In bulat2, buat kajian & penilitian sendiri, itu yg terbaik...
p/s: kener outstation seminggu, klu ader maser aku respon kat hujah bls nko, tp klu nko awal2 nak bg gambar Simpson kat sini aku x kesah gak, meriah sket...
Last edited:


