BTC USD 86,003.0 Gold USD 4,333.54
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Sejarah Ahli Sunnah (Perlu dibaca dan dihalusi)

Dalam pencarian di literatur syi’ah, ternyata kita menemukan adanya pernyataan dari ulama syi’ah tentang kitab syi’ah yang seluruh isinya shahih. Lalu mana yang benar? Ada kitab shahih atau tidak ada?
Kitab yang paling valid dalam mazhab syi’ah adalah kitab Al Kafi yang disusun oleh Al Kulaini, yang menyatakan dalam pengantar kitabnya : saya katakan kamu ingin memiliki kitab yang lengkap, berisi ajaran ilmu agama yang lengkap bagi pelajar dan dijadikan rujukan bagi mereka yang ingin mencari petunjuk, menjadi referensi bagi mereka yang ingin mencari ilmu agama dan mengamalkannya dengan riwayat yang shahih dari orang-orang jujur [pengantar Al Kafi hal 7].

Sementara itu Ali Akbar Al Ghifari, pentahqiq kitab Al Kafi menyatakan: mazhab Imamiyah sepakat bahwa seluruh isi kitab Al Kafi adalah shahih.

Sementara Abdul Husein Syarafuddin Al Musawi dalam kitab Al Muraja’at [edisi bahasa Indonesia berjudul Dialog Sunnah Syi’ah, terbitan Mizan] menegaskan: yang terbaik dari yang dibukukan adalah empat kitab yang merupakan pegangan mazhab Imamiyah dalam masalah ushul maupun furu’ sejak jaman pertama hingga masa kini, yaitu kitab Al Kafi, Tahdzib, Al Istibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih, semua isinya adalah mutawatir dan dipastikan status keshahihannya, dan Al Kafi adalah yang paling terdahulu, paling hebat, paling bagus [Muraja’ah no 110] Edisi Dar Shadiq Beirut.

Setelah memuji empat kitab di atas, Al Faidh Al Kasyani mengatakan: Al Kafi adalah yang paling mulia, paling hebat, paling valid, paling sempurna dan paling lengkap. Muqaddimah Kitab Al Kafi halaman 9, padahal dia juga mengakui bahwa Al Majlisi menganggap kebanyakan riwayat yang ada dalam kitab Al Kafi adalah tidak shahih.

Sementara An Nuri At Thabrasi mengatakan: posisi Al Kafi di antara empat kitab adalah bagaikan matahari dibandingkan dengan bintang-bintang yang ada di langit, jika orang yang bersifat objektif menelaah kitab Al Kafi, maka dia tidak perlu lagi meneliti validitas perawi yang ada dalam kitab itu, dan akan segera percaya bahwa isi kitab itu adalah shahih dan valid. Lihat Mustadrak Al Wasa’il jilid 3 hal 532

Al Hurr Al Amili mengatakan: kesimpulan ke enam mengenai validitas penulisan kitab ini dan kitab ini benar-benar ditulis oleh Al Kulaini, juga riwayat-riwayat yang ada di dalamnya adalah benar berasal dari para imam alaihimussalam. Lihat di Khatimatul Wasa’il hal 61.

Sementara Agho Barzak mengatakan : Al Kafi adalah kitab yang terbaik dari empat kitab yang dijadikan pegangan bagi mazhab syi’ah. Tidak pernah ada kitab riwayat dari keluarga Nabi yang menyamai Al Kafi. Ad Dzari’ah ila tashanifi Asy Syi’ah jilid 17 hal 245

Sementara Abbas Al Qummi menyatakan: Al Kafi adalah kitab yang terbaik dalam Islam, kitab syi’ah yang terbaik yang tidak pernah ada lagi kitab syi’ah yang seperti itu, Muhammad Amin Al Istrabadi menyatakan: kami mendengar dari para guru dan ulama kami bahwa tidak ada kitab dalam Islam yang menyamai atau mendekati Al kafi. Al Kuna wal Alqab jilid 3 hal 98.

Syaikh Muhammad Shadiq As Shadr dalam kitab Asy Syi’ah halaman 122 menyatakan : dikisahkan bahwa kitab Al Kafi ditunjukkan pada Imam Mahdi lalu beliau menyatakan: kitab ini cukup bagi syi’ah kami.

Penegasan ulama syi’ah yang kita tuliskan di atas bertolak belakang dengan ucapan syi’ah hari ini, baik ulama maupun kawan-kawan syi’ah di sekitar kita. Barangkali pembaca bingung menghadapi dua hal yang berlawanan: pernyataan tidak ada kitab riwayat syi’ah yang seluruh isinya shahih, dan pernyataan bahwa isi kitab Al Kafi dan tiga kitab lainnya adalah shahih, bahkan mutawatir. Lalu mana yang benar? Pernyataan teman-teman syi’ah hari ini atau pernyataan ulama syi’ah yang kami nukilkan di atas? Jika pembaca bingung, maka saya pun berhak untuk bingung juga.

Tetapi kebingungan kita akan hilang jika kita mau menyadari bahwa pernyataan tentang validitas kitab Al Kafi dan ketiga kitab lainnya muncul dari ulama syi’ah yang memiliki kredibilitas yang tidak main-main, misalnya Abdul Husein Syarafudin Al Musawi yang menulis buku yang berjudul Al Murajaat, yang terjemahnya berjudul Dialog Sunnah Syi’ah. Buku ini direkomendasikan oleh syi’ah di seluruh dunia, yang mana konon isinya adalah dialog antara Abdul Husein dan Syeikh Salim Al Bisyri, tentang mazhab syi’ah, di mana Abdul Husein menerangkan tentang mazhab syi’ah dan menepis tuduhan-tuduhan yang ada. Jika memang Abdul Husein keliru dalam pernyataannya maka sudah tentu buku Al Murajaat tidak diedarkan sedemikian banyak ke seluruh dunia dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa, salah satunya adalah bahasa Indonesia. Begitu pula ulama lainnya yang merekomendasikan Al Kafi sebagai kitab yang valid.

Tapi kita jadi ragu lagi, karena teman-teman syi’ah bakal menjawab bahwa ada ulama syi’ah yang mengevaluasi lagi kitab Al Kafi seperti Al Majlisi yang menyatakan bahwa kebanyakan riwayat yang ada dalam Al Kafi adalah tidak shahih. Dan yang meneliti validitas kitab Al Kafi bukan hanya Al Majlisi saja.

Jika pembaca bingung, saya sendiri ikut bingung, karena ulama syi’ah sendiri berbeda pendapat tentang validitas kitabnya sendiri. Artinya validitas kitab Al Kafi sendiri masih menjadi perdebatan. Tetapi apakah Abdul Husein tidak mengetahui kritik Al Majlisi terhadap kitab Al Kafi?
Lalu bagaimana dengan pernyataan Al Kulaini bahwa kitab Al Kafi yang ditulisnya adalah shahih dan kitabnya itu menjadi pedoman bagi syi’ah, dan diriwayatkan oleh orang-orang jujur? Sudah pasti Al Kulaini benar-benar tahu apa yang ditulisnya.

Jika beralasan ada perbedaan definisi shahih antara Kulaini dan ulama lain yang mengkritiknya, maka definisi shahih yang dianut oleh Kulaini lebih valid karena Kulaini sendiri hidup pada masa Al Ghaibah As Sughra, yaitu masa di mana masih ada empat orang wakil yang bisa berhubungan langsung dengan imam Mahdi. Maka sangat dimungkinkan Kulaini telah “berkonsultasi” dengan imam Mahdi melalui wakilnya. Apalagi ada kisah yang telah dikutip di atas bahwa imam Mahdi sendiri telah menelaah kitab Al Kafi dan merekomendasikannya sebagai kitab rujukan bagi syi’ah. Di mana ulama syiah lainnya yang mengkritik Al Kafi sudah tidak mungkin lagi berkonsultasi dengan imam Mahdi karena mereka hidup pada era Ghaibah Kubra, yaitu masa di mana tidak ada lagi wakil yang empat bagi imam Mahdi. Sebagai perbandingan kita sebutkan di sini bahwa Al Hulli hidup pada abad ke 7 Hijriyah –sezaman dengan Ibnu Taimiyah- , juga Zainuddin Al Amili yang wafat tahun 965 Hijriyah, Apalagi Al Majlisi, Al Mamaqani dan ulama yang hidup hari ini.

Kita tinggalkan saja perbincangan mengenai validitas Al Kafi, mari kita menengok ke sebagian judul bab yang ada dalamnya, dari judul bab itu kita bisa tahu sekilas isi kitab Al Kafi yang menjadi rujukan utama bagi syi’ah. Dengan mengetahui rujukan mazhab tertentu kita bisa mengetahui isi ajaran mazhab itu, maka bisa dikatakan bahwa dengan mengetahui isi kitab Al Kafi kita bisa mengetahui isi ajaran syi’ah.

Sumber dari Artiklel FIKH Syiah.


P/S Jagan TAKSUB pada satu MAHZAB saje....

Seorang ulama Syiah bernama Syeikh Muhammad Jawab Mughniyah berkata: Sesungguhnya Syiah meyakini bahawa kitab2 hadits yang bwujud di perpustakaan mereka seperti Al-Kafi, At-Tahzib, Al-istibsor dan Man La yahdhuruhu Faqih adalah bercampur aduk dengan shahih dan dhaif. Dan tiada di sisi Syiah kitab yang mereka beriman bahawa isinya semua benar dan haq dari awal hingga akhir melainkan al-Quran. Bahkan hadits2 yang terdapat di dalam kitab2 Syiah tidak menjadi hujjah atas kebenaran mazhab mereka. (Salamatul Quran Minat Tahrif: ms19)

Hakikatnya, al-Hadits bagi Syiah bukanlah tunjang utama dalam membenarkan sesebuah kepercayaan mazhab khsusnya dalam perkara aqidah. Ia hanya menjadi sandaran sisi semata2. Yang menjadi tunjang asas mereka adalah al-Quran.

Setiap hadits yang tidak berlanggar dengan fakta al-Quran maka mereka akan menerimanya. Begitu juga sebaliknya.

Manakala hadits di sisi Ahlus Sunnah juga masih boleh dipertikaikan standardnya. Ini kerana sebahagian besar apa yang menjadi shahih di sisi Bukhari tidak semestinya dipersetujui oleh Muslim. Seterusnya diikuti ulama hadits yang lain. Masing2 memiliki syarat tertentu dalam menilai dan menapis hadits. Bahkan ulama terbaru yang telahpun meninggal dunia iaitu Syeikh Nasiruddin albani telah menapis lagi hadits2 Bukhari dan Muslim dan terbukti terdapat hadits2 yang dhaif. Ini menunjukkan hadits bukan menjadi tunjang utama dalam membenarkan kepercayaan aqidah kerana ulama yang menapisnya memiliki syarat2 tersendiri. begitu juga Tirmidzi yang mengklafikasikan standard hadits kepada Hasan Shahih.

Segalanya ini bukan menunjukkan ulama Islam menolak kekuatan al-Hadits tetapi mereka terlalu berhati2 dengan penerimaan tersebut, kerana mereka mengkaji satu persatu individu yang membawa teks hadits tersebut. Nabi s.a.w adalah benar, hanya takut mereka yang membawa kata2 Nabi itu yang tidak benar. Slagi manusia tidak maksum maka adalah satu kemungkinan ia akan membuat kesilapan...
 
....
Pada awal perpecahan Umat, syiah menyokong Saidina Ali dan keturunan rasul atau ahlul bait.Pemerintah Islam pada waktu itu setelah muawiyyah menjadi khalifah amat memusuhi Saidina Ali dan keturunannya atau lebih dikenali sebagai ahlul bait,mereka takut takhta pemerintahan Islam diambil alih oleh keturunan rasul ini hinggakan mereka snaggup membunuh cucunda Rasul Saidina Hussein di karbala bagi memastikan tiada ancaman terhadap pemerintahan mereka.
Aku pernah baca sebuah kisah kerajaan Islam pada waktu itu pergi kepasar pasar dengan meneriakkan nama Hassan atau Huseein atau Ali sekiranya ada sesiapa menoleh akan ditangkap dan dipancung guna untuk menghapuskan pengaruh keturunan rasul ini.
Itulah sebabnya rata rata golongan sunnah hanya kenal cucunda Rasul sahaja,bila ditanya cicit baginda kebanyakkannya blur sotong tak tahu. sebab umat pada waktu itu takut kena pancung.Mereka percaya pemimpin mereka adalah dari keturunan nabi dari sebelah Saidina Ali dan Fatimah dan anak kepada saidina Huseein atau cicit baginda
.

Syiah dari sudut bahasa (لغة) bererti pengikut, penyokong dan pencinta. Perkataan ini ada disebutkan di dalam ayat Allah menerusi surah as-Safat: 83

واِنَّ مِن شِيعَتِهِ َلاِبرَاهِيم

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiah-nya (pengikut Nuh)"

Manakala maksud Syiah dari sudut istilah syarak pula bererti pencinta, penyokong dan pengikut imam Ali a.s dan Ahlul Baitnya secara khusus. Pengertian ini terbukti menerusi kenyataan para ulama berikut:

1-Fairuz Abadi di dalam Qamus al-Lughat pada kalimat "شَاعَ" berkata: Nama Syiah umumnya bererti setiap orang yang mewalikan (mengakui kepimpinan) Ali dan Ahlul Baitnya hingga nama tersebut khusus bagi mereka.

2-Ibnu Khaldun pula berkata menerusi kitabnya Muqaddimah, halaman 194: Perkataan Syiah dari sudut bahasa bererti sahabat dan pengikut. Para ulama Kalam (aqidah) samada salaf (terdahulu) mahupun khalaf (terkemudian) mengertikan Syiah sebagai pengikut Ali dan anak-anaknya.

3-Ibnu Manzur menerusi kamusnya Lisanul Arab berkata: Syiah adalah mereka yang mencintai apa yang dicintai oleh keturunan Rasul (iaitu Ahlul Bait) dan mereka taat kepada keturunan tersebut.

4-Asy-Syahrastani pula berkata: Syiah ialah mereka yang mengikuti Ali a.s secara khusus serta mengatakan bahawa al-Imamah (kepimpinan umat) dan khalifahnya adalah terbukti secara nas dan wasiat, samada secara tersurat atau tersirat.(Al-Milal Wan Nihal: Jil. 1 Hal.195)

Menerusi pengertian yang dinyatakan para ulama Sunni di atas, maka jelaslah bahawa Syiah adalah nama bagi mereka yang menjadi penyokong dan pengikut imam Ali dan Ahlul Baitnya secara khusus.
 
Last edited:
Bump....up semula..

Alhamdulillah

Semuga perbincangan ini dapat memberi petunjuk dan pemahaman yang lebih untuk rakan rakan cg.
Bagi saya tak perlulah kita bertelagah dalam forum, matlamat kita adalah berhujah dengan ilmiah guna untuk mencari kekuatan dalam membina ummah.
Bak kata pepatah Bersatu kita teguh,bercerai kita roboh.Untuk bersatu kita perlu kepada pemahaman yang setara dan sama.
Tak mungkin sekiranya kita beribadah lain,lain. Bersiasah lain lain atau berpemimpinan lain lain akan dapat mewujudkan kesatuan ummah.

Jangan jadikan masalah furuqiah punca kita berpecah belah.Bukankah kita disaran oleh Rasul untuk mengikut Sunnahnya dan para sunnah para khulafa ar rasyidin walaupun dizaman Khalifah Usman dan Saidina Ali terjadi perpecahan yang amat dashyat ketika itu.
Kadangkala terfikir juga adakah hadith ini bersesuaian dengan fitrah Rasul yang dipimpin Allah,atau ianya hanya ciptaan pemerintah pada waktu itu untuk kepentingan pemerintahan mereka.

Kita tinggalkan dulu persoalan perbezaan pendapat sekian banyak ulama-ulama yang ada baik dari zaman dahulu hinggalah kehari ini walaupun pada hakikatnya kita perlu menilai ulama manakah yang perlu kita ikut sesuai dengan saranan Rasul ulama warisatul anbiya guna untuk kita menyelamatkan diri dari tersalah titian sebenar penyelamat diri menuju ke alam kekal abadi nanti.

Tajuk thread kita adalah Sejarah Ahli Sunnah,persoalannya setelah kita lihat hujah hujah ilmiah yang terdahulu dapat kita simpulkan bahwa kedudukan ahli sunnah ini wujud berbagai bagai Mazhab dan kaedah serta uslub uslub bersandarkan ijtihad ulama masing masing.
yang menjadi persoalan lagi ijtihad dan uslub uslub ini ada berbagai bagai dan setengahnya bercanggah antara satu sama lain.

terbukti percanggahan ini menyebabkan umat islam berpecah belah sehinggalah kehari
ini.Syukurlah di Malaysia rata rata kita bermazhab Syafie,perpecahan itu agak tidak ketara,sekiranya kita lihat di timur tengah dan negara arab yang lain,kita akan dapat lihat jurang perbezaan ini mengwujudkan perpecahan diantara mereka.
Maka lahirlah mazhab mazhab yang baru atau fahaman baru seperti Wahabi,Kaum Muda dan banyak lagilah sehinggakan ada satu fahaman yang mensamaratakan kaum wanita dengan kaum lelaki atas nama Islam kununnya.
Mari kita lihat diawal perpecahan umat selepas kewafatan Rasullulah.

fahaman puak digelar khawarij,muktazilah,syiah merupakan fahaman terawal perpecahan ummah tidak termasuk sunnah wal jamaah yang terbentuk selepas 200 tahun kemudian,
Diantara yang masih aktif hingga kini adalah Syiah dan Sunnah,Perbezaan pendapat keduanya amat ketara sehingga menimbulkan permusuhan pembunuhan dan kafir menkafir antara mereka walaupun pada dasarnya mereka membawa agama Islam yang satu, kalimah tauhid yang satu.Nabi yang satu,tidak dinafikan juga seperti sunnah ada yang terpesong akidah.Tapi dua mazhab ini mendominasi agama Islam kini.Ada lebih kurang 30% berfahaman Syiah di dalam Islam di dunia ini.
Sunnah dengan pemimpin mereka dikalangan mazhab mazhab mereka manakala syiah dengan pemimpin mereka dikalangan mazhab mazhab mereka juga.
Pada awal perpecahan Umat, syiah menyokong Saidina Ali dan keturunan rasul atau ahlul bait.Pemerintah Islam pada waktu itu setelah muawiyyah menjadi khalifah amat memusuhi Saidina Ali dan keturunannya atau lebih dikenali sebagai ahlul bait,mereka takut takhta pemerintahan Islam diambil alih oleh keturunan rasul ini hinggakan mereka snaggup membunuh cucunda Rasul Saidina Hussein di karbala bagi memastikan tiada ancaman terhadap pemerintahan mereka.
Aku pernah baca sebuah kisah kerajaan Islam pada waktu itu pergi kepasar pasar dengan meneriakkan nama Hassan atau Huseein atau Ali sekiranya ada sesiapa menoleh akan ditangkap dan dipancung guna untuk menghapuskan pengaruh keturunan rasul ini.
Itulah sebabnya rata rata golongan sunnah hanya kenal cucunda Rasul sahaja,bila ditanya cicit baginda kebanyakkannya blur sotong tak tahu. sebab umat pada waktu itu takut kena pancung.Mereka percaya pemimpin mereka adalah dari keturunan nabi dari sebelah Saidina Ali dan Fatimah dan anak kepada saidina Huseein atau cicit baginda.
Berbalik pula kisah Sunnah aku dah sebut ianya ujud setelah 200 tahun wafatnya baginda,pemimipin mereka adalah Ulama Ulama sezaman dari kerajaan Umaiyyah, Abbassiah sebagaimana hadith rasul Ulama warisatul anbiya.
Mari kita bincang bincangkan antara dua Mazhab terbesar umat islam akhir zaman ini Sunnah dan Syiah.
Persoalannya apakah ada ruang lagi untuk ummah bersatu diantara dua mazhab ini guna untuk menghadapi yahudi dan nasrani dan memartabatkan Islam di mata dunia ,Islam kini dihina bangkitlah mencari kesatuan dan kekuatan bersatu kita teguh bercerai kita roboh.Sekiranya Imam Mahdi telah ada kini bagaimana untuk kita mengikut beliau kalau diantara kita masih lagi bertelagah dan berpecah belah.Hadith Rasul sekiranya kita mendengar seruan Imam Mahdi hendaklah kita mendatangi beliau walaupun terpaksa merangkak.
Mari kita bincangkan.

Wallahualam bissawab.
 
Last edited:
Dalam pencarian di literatur syi’ah, ternyata kita menemukan adanya pernyataan dari ulama syi’ah tentang kitab syi’ah yang seluruh isinya shahih. Lalu mana yang benar? Ada kitab shahih atau tidak ada?
Kitab yang paling valid dalam mazhab syi’ah adalah kitab Al Kafi yang disusun oleh Al Kulaini, yang menyatakan dalam pengantar kitabnya : saya katakan kamu ingin memiliki kitab yang lengkap, berisi ajaran ilmu agama yang lengkap bagi pelajar dan dijadikan rujukan bagi mereka yang ingin mencari petunjuk, menjadi referensi bagi mereka yang ingin mencari ilmu agama dan mengamalkannya dengan riwayat yang shahih dari orang-orang jujur [pengantar Al Kafi hal 7].

Sementara itu Ali Akbar Al Ghifari, pentahqiq kitab Al Kafi menyatakan: mazhab Imamiyah sepakat bahwa seluruh isi kitab Al Kafi adalah shahih.

Sementara Abdul Husein Syarafuddin Al Musawi dalam kitab Al Muraja’at [edisi bahasa Indonesia berjudul Dialog Sunnah Syi’ah, terbitan Mizan] menegaskan: yang terbaik dari yang dibukukan adalah empat kitab yang merupakan pegangan mazhab Imamiyah dalam masalah ushul maupun furu’ sejak jaman pertama hingga masa kini, yaitu kitab Al Kafi, Tahdzib, Al Istibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih, semua isinya adalah mutawatir dan dipastikan status keshahihannya, dan Al Kafi adalah yang paling terdahulu, paling hebat, paling bagus [Muraja’ah no 110] Edisi Dar Shadiq Beirut.

Setelah memuji empat kitab di atas, Al Faidh Al Kasyani mengatakan: Al Kafi adalah yang paling mulia, paling hebat, paling valid, paling sempurna dan paling lengkap. Muqaddimah Kitab Al Kafi halaman 9, padahal dia juga mengakui bahwa Al Majlisi menganggap kebanyakan riwayat yang ada dalam kitab Al Kafi adalah tidak shahih.

Sementara An Nuri At Thabrasi mengatakan: posisi Al Kafi di antara empat kitab adalah bagaikan matahari dibandingkan dengan bintang-bintang yang ada di langit, jika orang yang bersifat objektif menelaah kitab Al Kafi, maka dia tidak perlu lagi meneliti validitas perawi yang ada dalam kitab itu, dan akan segera percaya bahwa isi kitab itu adalah shahih dan valid. Lihat Mustadrak Al Wasa’il jilid 3 hal 532

Al Hurr Al Amili mengatakan: kesimpulan ke enam mengenai validitas penulisan kitab ini dan kitab ini benar-benar ditulis oleh Al Kulaini, juga riwayat-riwayat yang ada di dalamnya adalah benar berasal dari para imam alaihimussalam. Lihat di Khatimatul Wasa’il hal 61.

Sementara Agho Barzak mengatakan : Al Kafi adalah kitab yang terbaik dari empat kitab yang dijadikan pegangan bagi mazhab syi’ah. Tidak pernah ada kitab riwayat dari keluarga Nabi yang menyamai Al Kafi. Ad Dzari’ah ila tashanifi Asy Syi’ah jilid 17 hal 245

Sementara Abbas Al Qummi menyatakan: Al Kafi adalah kitab yang terbaik dalam Islam, kitab syi’ah yang terbaik yang tidak pernah ada lagi kitab syi’ah yang seperti itu, Muhammad Amin Al Istrabadi menyatakan: kami mendengar dari para guru dan ulama kami bahwa tidak ada kitab dalam Islam yang menyamai atau mendekati Al kafi. Al Kuna wal Alqab jilid 3 hal 98.

Syaikh Muhammad Shadiq As Shadr dalam kitab Asy Syi’ah halaman 122 menyatakan : dikisahkan bahwa kitab Al Kafi ditunjukkan pada Imam Mahdi lalu beliau menyatakan: kitab ini cukup bagi syi’ah kami.

Penegasan ulama syi’ah yang kita tuliskan di atas bertolak belakang dengan ucapan syi’ah hari ini, baik ulama maupun kawan-kawan syi’ah di sekitar kita. Barangkali pembaca bingung menghadapi dua hal yang berlawanan: pernyataan tidak ada kitab riwayat syi’ah yang seluruh isinya shahih, dan pernyataan bahwa isi kitab Al Kafi dan tiga kitab lainnya adalah shahih, bahkan mutawatir. Lalu mana yang benar? Pernyataan teman-teman syi’ah hari ini atau pernyataan ulama syi’ah yang kami nukilkan di atas? Jika pembaca bingung, maka saya pun berhak untuk bingung juga.

Tetapi kebingungan kita akan hilang jika kita mau menyadari bahwa pernyataan tentang validitas kitab Al Kafi dan ketiga kitab lainnya muncul dari ulama syi’ah yang memiliki kredibilitas yang tidak main-main, misalnya Abdul Husein Syarafudin Al Musawi yang menulis buku yang berjudul Al Murajaat, yang terjemahnya berjudul Dialog Sunnah Syi’ah. Buku ini direkomendasikan oleh syi’ah di seluruh dunia, yang mana konon isinya adalah dialog antara Abdul Husein dan Syeikh Salim Al Bisyri, tentang mazhab syi’ah, di mana Abdul Husein menerangkan tentang mazhab syi’ah dan menepis tuduhan-tuduhan yang ada. Jika memang Abdul Husein keliru dalam pernyataannya maka sudah tentu buku Al Murajaat tidak diedarkan sedemikian banyak ke seluruh dunia dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa, salah satunya adalah bahasa Indonesia. Begitu pula ulama lainnya yang merekomendasikan Al Kafi sebagai kitab yang valid.

Tapi kita jadi ragu lagi, karena teman-teman syi’ah bakal menjawab bahwa ada ulama syi’ah yang mengevaluasi lagi kitab Al Kafi seperti Al Majlisi yang menyatakan bahwa kebanyakan riwayat yang ada dalam Al Kafi adalah tidak shahih. Dan yang meneliti validitas kitab Al Kafi bukan hanya Al Majlisi saja.

Jika pembaca bingung, saya sendiri ikut bingung, karena ulama syi’ah sendiri berbeda pendapat tentang validitas kitabnya sendiri. Artinya validitas kitab Al Kafi sendiri masih menjadi perdebatan. Tetapi apakah Abdul Husein tidak mengetahui kritik Al Majlisi terhadap kitab Al Kafi?
Lalu bagaimana dengan pernyataan Al Kulaini bahwa kitab Al Kafi yang ditulisnya adalah shahih dan kitabnya itu menjadi pedoman bagi syi’ah, dan diriwayatkan oleh orang-orang jujur? Sudah pasti Al Kulaini benar-benar tahu apa yang ditulisnya.

Jika beralasan ada perbedaan definisi shahih antara Kulaini dan ulama lain yang mengkritiknya, maka definisi shahih yang dianut oleh Kulaini lebih valid karena Kulaini sendiri hidup pada masa Al Ghaibah As Sughra, yaitu masa di mana masih ada empat orang wakil yang bisa berhubungan langsung dengan imam Mahdi. Maka sangat dimungkinkan Kulaini telah “berkonsultasi” dengan imam Mahdi melalui wakilnya. Apalagi ada kisah yang telah dikutip di atas bahwa imam Mahdi sendiri telah menelaah kitab Al Kafi dan merekomendasikannya sebagai kitab rujukan bagi syi’ah. Di mana ulama syiah lainnya yang mengkritik Al Kafi sudah tidak mungkin lagi berkonsultasi dengan imam Mahdi karena mereka hidup pada era Ghaibah Kubra, yaitu masa di mana tidak ada lagi wakil yang empat bagi imam Mahdi. Sebagai perbandingan kita sebutkan di sini bahwa Al Hulli hidup pada abad ke 7 Hijriyah –sezaman dengan Ibnu Taimiyah- , juga Zainuddin Al Amili yang wafat tahun 965 Hijriyah, Apalagi Al Majlisi, Al Mamaqani dan ulama yang hidup hari ini.

Kita tinggalkan saja perbincangan mengenai validitas Al Kafi, mari kita menengok ke sebagian judul bab yang ada dalamnya, dari judul bab itu kita bisa tahu sekilas isi kitab Al Kafi yang menjadi rujukan utama bagi syi’ah. Dengan mengetahui rujukan mazhab tertentu kita bisa mengetahui isi ajaran mazhab itu, maka bisa dikatakan bahwa dengan mengetahui isi kitab Al Kafi kita bisa mengetahui isi ajaran syi’ah.

Sumber dari Artiklel FIKH Syiah.


P/S Jangan TAKSUB pada satu MAHZAB saje....

thanks bro bagi penjelasan :)

:)cgrock

Jumud ??? Taksub ??? Rigid ??? Fanatik ??? Taklid Buta ??? Jahil Murakkab ??? :-?
 
Imam Syafie, imam mazhab rakyat Malaysia berasal dari Gaza. Fakta ni saja kurang "glamour".

Tahniah kepada Gaza kerana melahirkan seorang ulama yang hebat.

Menurut Dr Ahmad Asy-Syurbasi di dalam bukunya Al Aimmatul Arba'ah, Imam Syafie berasal dari daerah Ghazzah, Palestine dan membesar di daerah 'Asqalan.

Imam Ahmad pernah berkata, "Diceritakan daripada nabi bahawa Allah akan menghantar kepada umat ini seorang pembaharu agama, Umar Abdul Aziz dihantar untuk seratus tahun pertama dan aku berharap Imam Syafie adalah pembaharu abad kedua"

Imam Syafie seorang ulama hebat, beliau banyak menghafal hadith. Telah diceritakan bahawa beliau telah menghafal kitab Al-Muwatta hanya selama 9 malam. Beliau telah menyusun 13 buah kitab di dalam pelbagai bidang yang diguna pakai sehingga sekarang. Mazhab Syafie diikuti oleh rata-rata rakyat Malaysia, Indonesia, Brunie.

Kalau nak cerita pasal Imam Syafie, memang panjang.

Hari ini bandar Asqalan yang terletak lebih kurang 18 km dari Gaza itu dan merupakan salah satu wilayah Israel. Majoriti orang-orang di Gaza hari ini merupakan warga asal Asqalan yang telah diusir pada suatu ketika dahulu.

Asqalan telah dijajah. Gaza telah "dimusnahkan".

Wallahu'alam.
 
Imam Syafie, imam mazhab rakyat Malaysia berasal dari Gaza. Fakta ni saja kurang "glamour".

Tahniah kepada Gaza kerana melahirkan seorang ulama yang hebat.

Menurut Dr Ahmad Asy-Syurbasi di dalam bukunya Al Aimmatul Arba'ah, Imam Syafie berasal dari daerah Ghazzah, Palestine dan membesar di daerah 'Asqalan.

Imam Ahmad pernah berkata, "Diceritakan daripada nabi bahawa Allah akan menghantar kepada umat ini seorang pembaharu agama, Umar Abdul Aziz dihantar untuk seratus tahun pertama dan aku berharap Imam Syafie adalah pembaharu abad kedua"

Imam Syafie seorang ulama hebat, beliau banyak menghafal hadith. Telah diceritakan bahawa beliau telah menghafal kitab Al-Muwatta hanya selama 9 malam. Beliau telah menyusun 13 buah kitab di dalam pelbagai bidang yang diguna pakai sehingga sekarang. Mazhab Syafie diikuti oleh rata-rata rakyat Malaysia, Indonesia, Brunie.

Kalau nak cerita pasal Imam Syafie, memang panjang.

Hari ini bandar Asqalan yang terletak lebih kurang 18 km dari Gaza itu dan merupakan salah satu wilayah Israel. Majoriti orang-orang di Gaza hari ini merupakan warga asal Asqalan yang telah diusir pada suatu ketika dahulu.

Asqalan telah dijajah. Gaza telah "dimusnahkan".

Wallahu'alam.

TQ atas info berguna..
 
terciptanya mazhab yang 4 ni dizaman khalifah Umar bin Abdul aziz dimasa kerajaan abassiah. Pada waktu itu terlalu ramailah ulama yang nak tunjuk fatwa merekalah yang paling tepat dan jitu. Mereka ada ramai pengikut tersendiri.Kalau rujuk kitab sejarah lama, masalah furu berkenaan fekah, ibadah ni mereka umat waktu itu bertelagah antara mereka, maklumlah orang arab ni kat keturunan degil.
diberitakan terjadi pembunuhan hanya untuk menegakkan fatwa ulama masing masing.kalau tak silaplah pasal sentuh batal air sembahyang atau kentut batal air sembahyang atau lain lain masalah furu ni melibatkan angka korban sebanyak 60 ribu umat pada waktu itu,

Khalifah umar agak pening menghadapi situasi itu. Akhirnya beliau memutuskan untuk memilih 4 ikutan mazhab yang kita maklum. Syafie,Hambali,Maliki dan Hanafi. Beliau meharuskan bukan wajib,Sebab beliau bukan nabi.Umat pada waktu itu berpegang pada salah satu mazhab tersebut.
Malangnya masih juga umat itu bercakaran. untuk selesaikan masalah ini beliaupun memecahkan pengikut ini mengikut kawasan dan daerah. bagi yang mazhab hambali dihantar fahaman ini disebelah timur tengah begitu juga hanafi.bagi hanafi dan syafei dihantar ke bahagian asia khususnya di sekitar india dan jiran terdekat. itulah sebabnya orang kat malaysia dan asia tenggarani mazhabnya syafie sebab pedagang gujerat dari india zaman parameswara dan sewaktu dengan berdagang dengan kita.

Renung-renungkanlah wahai umat.

good info, tetapi cume nak perbetulkan sedikit bagi mereka2 yang hanye membace forum...

Imam yang empat dimulai dari
Imam Abu Hanifah (80H-148H),
Imam Malik (93H-179H),
Imam Syafie (150H-204H) dan
Imam Ahmad (164H-241H)
sebenarnye hidup dalam 2 kerajaan bermula sepertimane dibawah:

Bani Umayyah, Khalifah - Abdul Malik bin Marwan (68H-86H)
Al-Walid bin Abdul Malik (86H-96H)
Sulaiman bin Abdul Malik (96H-99H)
Umar bin Abdul Aziz (99H-101H)
Yazid bin Abdul Malik (101H-105H)
Hisham bin Abdul Malik (105H-125H)
Al-Walid bin Yazid (125H-126H)
Yazid bin Al-Walid (126H)
Ibrahim bin Al-Walid (126H)
Marwan bin Muhammad (127H-132H)

Bani Abbas, Khalifah - Al-Saffah (132H-136H)
Al-Mansur (136H-158H)
Al-Mahdi (158H-169H)
Al-Hadi (169H-170H)
Harun Al-Rasyid (170H-193H)
Al-Amin (193H-198H)
Al-Maamun (198H-218H)
Al-Muktasim (218H-227H)
Al-Wasiq (227H-232H)
Al-Mutawakkil (232H-247H)

Jadi, pendapat yang yang mengatakan bahawa penetapan berpegang kepade mazhab yang 4 oleh khalifah Umar ibnu Aziz adalah tidak tepat dan perlu dikaji lagi...saye pun masih tercari2 lagi diketika mane ditetapkan untuk bertaklid hanye kepade imam yang 4...kepade sesiape yang mempunyai ilmu dan maklumat, mohon kerjasame untuk pencerahan disini bagi saye yang baru belajar, terime kasih..:)
 
Back
Top
Log in Register