mynor5535101
Active+ Member
- Messages
- 4,452
- Joined
- Nov 29, 2007
- Messages
- 4,452
- Reaction score
- 201
- Points
- 33
Ijab Qabul Nikah Mutaah
1. Adanya Ijab dan Qabul dengan mempergunakan dua kata yang dapat menunjukkan atau menimbulkan pengertian yang dimaksud dan rela dengan pernikahan Mutaah dengan cara yang dimengerti kedua belah pihak. Dengan demikian maka tidak sah dengan hanya sekadar adanya perasaan rela dalam hati dari kedua belah pihak (suami dan isteri) atau dengan saling memberi (sesuatu) sebagaimana yang berlaku pada kebanyakkan akad (transaksi) atau dengan tulisan ataupun pula dengan isyarat (kecuali) bagi orang bisu.
2. Mengerti dengan yang dimaksudkan dari kata-kata:
Aku mut?hkan (Matta?u)
Aku nikahkan (Ankahtu)
Aku kahwinkan (Zawwajtu)
Dengan demikian, maka tidak sah hanya dengan sekadar menggerakkan lidah mengucapkan kata-kata di atas (tanpa mengerti maksudnya) namun harus sedar, bahawa dengan pengucapan kata-kata tersebut memang berkeinginan untuk mewujudkan (perkahwinan) yang khusus sesuai dengan pengertian Nikah Muta?h. Diperkenankan mempergunakan kata-kata lain yang dapat mengungkapkan pengertian yang sama dengan kata-kata di atas dan boleh dimengerti serta diterima oleh yang bersangkutan.
3. Ijab dan qabul harus dengan bahasa Arab bagi yang mampu mengucapkannya walaupun (kedua puhak) melalui sistem perwakilan. Bagi yang tidak mampu berbahasa Arab, diperkenankan mempergunakan bahasa lain dengan syarat pengertiannya sama dengan yang dimaksudkan dalam bahasa Arabnya.
4. Pengucapan Ijab dari pihak isteri dan Qabul dari pihak suami boleh dilakukan secara langsung oleh yang bersangkutan atau melalui perwakilan masing-masing.
5. Pengucapan Ijab harus mendahului Qabul bila kalimat Qabul mempergunakan lafaz : Aku terima (Qabiltu).Si Wanita Harus melafazkan IJAB dahulu dan Pihak laki laki melafazkan penerimaan QABUL kemudian
6. Kalimat Ijab diperkenankan hanya dengan mempergunakan salah satu dari tiga macam lafaz (kata):
Aku mut'ah kan (Matta'tu)
Aku nikahkan (Ankahtu)
Aku kahwinkan (Zawwajtu)
Nikah mut'ah menjadi tidak sah bila mempergunakan kalimat yang lain seperti :
Aku milikkan (Mallaktu)
Aku berikan (Wahabtu)
Aku sewakan (Ajjartu)
Adapun kalimat Qabul, maka cukup dengan mempergunakan kalimat apa saja yang sekiranya dapat menimbulkan pengertian rasa rela dengan Ijab yang diterimakannya seperti:
Aku terima mut'ah ( Qabiltu mut'atah )
Aku terima kahwin ( Qabiltu Tazwij )
Aku terima nikah ( Qabiltu nikahah )
Dan pernikahan tetap sah seandainya diringkaskan saja dengan kalimat seperti :
Aku terima (Qabiltu)
Aku rela ( Rodhitu)
. menyebutkan Mahar (mas kawin) yang telah disepakati oleh kedua belah pihak (suami-isteri) dan menentukan kadarnya, baik dari segi bentuknya mahu pun jumlahnya dengan cara-cara yang dapat menghilangkan kesalahfahaman. Selain itu, mahar tersebut harus milik suami itu sendiri yang diperolehi secara halal baik sedikit atau pun banyak bahkan meskipun segenggam makanan.
8. menyebutkan jangka waktu yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, baik lama maupun sebentar saja dan pula harus disepakati bentuk waktunya, seperti beberapa hari, bulan atau tahu secara tegas dan jelas sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari jangka waktu yang telah ditentukan tersebut, dan ha
1. Adanya Ijab dan Qabul dengan mempergunakan dua kata yang dapat menunjukkan atau menimbulkan pengertian yang dimaksud dan rela dengan pernikahan Mutaah dengan cara yang dimengerti kedua belah pihak. Dengan demikian maka tidak sah dengan hanya sekadar adanya perasaan rela dalam hati dari kedua belah pihak (suami dan isteri) atau dengan saling memberi (sesuatu) sebagaimana yang berlaku pada kebanyakkan akad (transaksi) atau dengan tulisan ataupun pula dengan isyarat (kecuali) bagi orang bisu.
2. Mengerti dengan yang dimaksudkan dari kata-kata:
Aku mut?hkan (Matta?u)
Aku nikahkan (Ankahtu)
Aku kahwinkan (Zawwajtu)
Dengan demikian, maka tidak sah hanya dengan sekadar menggerakkan lidah mengucapkan kata-kata di atas (tanpa mengerti maksudnya) namun harus sedar, bahawa dengan pengucapan kata-kata tersebut memang berkeinginan untuk mewujudkan (perkahwinan) yang khusus sesuai dengan pengertian Nikah Muta?h. Diperkenankan mempergunakan kata-kata lain yang dapat mengungkapkan pengertian yang sama dengan kata-kata di atas dan boleh dimengerti serta diterima oleh yang bersangkutan.
3. Ijab dan qabul harus dengan bahasa Arab bagi yang mampu mengucapkannya walaupun (kedua puhak) melalui sistem perwakilan. Bagi yang tidak mampu berbahasa Arab, diperkenankan mempergunakan bahasa lain dengan syarat pengertiannya sama dengan yang dimaksudkan dalam bahasa Arabnya.
4. Pengucapan Ijab dari pihak isteri dan Qabul dari pihak suami boleh dilakukan secara langsung oleh yang bersangkutan atau melalui perwakilan masing-masing.
5. Pengucapan Ijab harus mendahului Qabul bila kalimat Qabul mempergunakan lafaz : Aku terima (Qabiltu).Si Wanita Harus melafazkan IJAB dahulu dan Pihak laki laki melafazkan penerimaan QABUL kemudian
6. Kalimat Ijab diperkenankan hanya dengan mempergunakan salah satu dari tiga macam lafaz (kata):
Aku mut'ah kan (Matta'tu)
Aku nikahkan (Ankahtu)
Aku kahwinkan (Zawwajtu)
Nikah mut'ah menjadi tidak sah bila mempergunakan kalimat yang lain seperti :
Aku milikkan (Mallaktu)
Aku berikan (Wahabtu)
Aku sewakan (Ajjartu)
Adapun kalimat Qabul, maka cukup dengan mempergunakan kalimat apa saja yang sekiranya dapat menimbulkan pengertian rasa rela dengan Ijab yang diterimakannya seperti:
Aku terima mut'ah ( Qabiltu mut'atah )
Aku terima kahwin ( Qabiltu Tazwij )
Aku terima nikah ( Qabiltu nikahah )
Dan pernikahan tetap sah seandainya diringkaskan saja dengan kalimat seperti :
Aku terima (Qabiltu)
Aku rela ( Rodhitu)
. menyebutkan Mahar (mas kawin) yang telah disepakati oleh kedua belah pihak (suami-isteri) dan menentukan kadarnya, baik dari segi bentuknya mahu pun jumlahnya dengan cara-cara yang dapat menghilangkan kesalahfahaman. Selain itu, mahar tersebut harus milik suami itu sendiri yang diperolehi secara halal baik sedikit atau pun banyak bahkan meskipun segenggam makanan.
8. menyebutkan jangka waktu yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, baik lama maupun sebentar saja dan pula harus disepakati bentuk waktunya, seperti beberapa hari, bulan atau tahu secara tegas dan jelas sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari jangka waktu yang telah ditentukan tersebut, dan ha
Last edited:
