Surat dari Ulama Hadis Dr. M. Abu al-Laits yang Mengajar Di UIA
Asri berkata
Quote
“Saya dan sahabat saya pergi ke India membawa surat sokongan peribadi daripada guru hadith Ph.D kami, Dr. Muhammad Abul Laith al-Khair Abadi, pengarang kitab Takhrij al-Hadith, `Ulum al-Hadith bain al-Asalah wa al-Mu`asarah dan lain-lain. Beliau juga berasal dari India, pernah belajar di Deoband dan mendapat Ph.D dari Umm al-Qura, Mekah”.
Terus terang, saya kenal dengan siapa Abu al-Laits tersebut. Rumah nenek saya yang mana Ibu dan Bapa saya sedang tinggal di sana kerana menjaga nenek yang sudah uzur berada hanya 100 meter dari rumah Abu al-Laits di daerah Gombak. Setiap kali saya pulang ke Malaysia, saya akan tinggal di Gombak, tidak di rumah ibu bapa saya yang berada di Damansara. Syaikh Abu al-Laits adalah seorang yang alim dalam ilmu hadis. Beliau sangat ilmiah dan jujur dengan ilmunya. Tapi Asri harus tahu, Abu al-Laits sendiri seorang yang berpegangan kuat pada akidah al-Mathuridiyyah yang ditolak oleh puak-puak seperti Asri atau Wahhabi. Malah guru besar golongan Wahhabi/salafi atau apapun nama mereka dan ingin disebut atau panggil oleh mereka menetapkan bahwa `Asy’ariyyah dan Mathuridiyyah adalah golongan yang sesat! (Lihat: al-Tauhid, Shalih Fauzan al-Fauzan, vol. 1 P. 104-105; cetakan Kuliyyah al-Mu’allimin al-Islamiyyah, Gontor Ponorogo).
Pegangan ini saya dengar sewaktu saya menemuinya di UIA setelah beliau membacakan kitab Fath al-Bari Syarh Bukhari. Bukti tertulis adalah Abu al-Laits telah menerjemahkan sebuah kitab tentang cara yang disunnahkan untuk bermushafahah ke dalam bahasa Arab yang bernama “الطريقة المسنونة للمصافحة بين الرجال”. Dalam mukadimah kitab tersebut, Abu al-Laits memula perkataan beliau dengan “الحمد لله الذي خلقنا وهدانا للإسلام والصلاة والسلام على سيد الأنام”. Di sinilah beliau berkata “سيد الأنام”. Padahal menurut puak Asri (Wahabi/salafi) bahwa ini dilarang (Lihat: al-Tauhid, Shalih Fauzan al-Fauzan, vol. 3 P. 104-105; cetakan Kuliyyah al-Mu’allimin al-Islamiyyah, Gontor Ponorogo).
Oleh itu, menurut sahabat saya yang juga keluaran madrasah hadis di Pakistan mengatakan bahwa Abu al-Laits pada dasarnya menolak Dr. Asri ini. Hanya saja ini sebuah riwayat yang belum saya tanyakan ke Abu al-Laits, dan akan saya klarifikasikan kepada Beliau. Satu hal yang sangat mengeli hati adalah Abu al-Laits menolak keilmuan Nashiru al-Din al-Albani. Bagaimana pula dengan kata-kata Asri di petikan
“Malangnya, ada seorang penulis keluaran pondok Kelantan yang kekadang menulis di dalam majalah-majalah, seakan menganggap seseorang seperti al-Syeikh Nasir al-Din al-Albani tidak boleh dianggap sebagai tokoh ulama dalam ilmu hadith kerana tidak menghimpunkan sanad. Inilah adalah satu kejahilan yang amat nyata. Inilah bala bila semua orang cuba mengaku pandai dan mencampuri apa yang bukan urusannya”.
Ternyata seorang yang dikagumi Asri yang juga ahli hadis juga menolak al-Albani!!!!
Tuduhan Asri Terhadap Pelajar Pondok (Inti dari Tulisan Saya)
Seperti kata-kata Asri di atas, ditambah lagi dengan
Quote
“Sebaliknya, di negara kita, ada yang menganggap Islam tidak dapat difahami melainkan setelah penat belajar di bawah pelita minyak yang malap, tinggal dalam pondok yang senget, menggunakan bahasa melayu sankrit lama. Baginya tokoh ulama hanya guru pondoknya. Para ulama timur tengah langsung tiada tempat dalam dirinya. Seakan-akan Nabi s.a.w itu dulunya lahir di kawasan pondoknya.”
Kata-kata ini sangat memilukan hati saya dan penuh pahit dan perih seperti saya ditampar di telinga dan pipi serta ditusuk hati saya. Akan tetapi, ini semua adalah fitnah belaka!! Fitnah semata-mata! Asri wajib meminta maaf dan ziarahlah pondok-pondok di daerah Jawa dan Madura! Saksikan sendiri!. Berikut ini hujjah saya dalam menolak kata-kata Asri:
1- Asri mengatakan bahwa kesalahan besar bagi si fulan dari Kelantan yang lulus pondok tersebut menganggap al-Albani tidak boleh dianggap ulama hadis sebab karena tidak menghimpun sanad. Asri menganggap ini adalah ke*****an budak pondok, kerana ia cuba mengaku pandai dan mencampuri apa yang bukan urusannya. Terus terang, bagi saya Asrilah yang salah, kerana al-Albani telah masuk dalam bab yang bukan keahliannya. Mungkin benar kata-kata ulama India yang mengatakan sekarang sudah tidak diperlukan lagi pengajian sanad, kerana ulama Hadis seperti Bukhari dan lain-lain telah mengemukakan sanad mereka, maka tradisi ijazah adalah sebagai tabarruk saja. Akan tetapi, Asri salah dalam membela al-Albani, kerana al-Albani-lah orang yang telah melakukan sesuatu yang bukan ahlinya. Dia jugalah yang telah meneliti sanad-sanad padahal – seperti kata-kata ulama hadis India – sanad-sanad telah selesai/tuntas dinyatakan oleh ulama Hadis sebelumnya. Dan akhirnya apa yang terjadi, al-Albani telah dengan mudahnya melemahkan satu perawi akan tetapi di dalam kitab yang sama ia mensahihkannya. Ini menunjukkan al-Albani bukanlah orang yang Alim dalam ilmu hadis. (Lihat kitab Tanaqud al-Albani dan bandingkan dengan kitab asal al-Albani, baru diketahui secara ilmiah dan ini ilmiah juga).
Selain dari itu, Asri juga harus tahu, al-Albani telah mentarjih (tashih dan tadl’if) hadis-hadis dengan tanpa memenuhi syarat. Padahal al-Albani tidak hafal hadis, sedangkan syarat menta’dil harus hafal seperti kata imam al-Suyuthi “وخذه حيث حافظ عليه نص # أو من مصنف بجمعه يخص”. Jadi apa yang menjadi kata-kata budak pondok Kelantan tersebut adalah berdasar dan dapat dibenarkan. Lebih-lebih lagi, bukan budak tersebut sendirian saja yang berpendapat sedemikian. Ulama Hadis di Madinah; Muhammad Awwamah di dalam kitabnya Atsar al-Hadis al-Syarif p. 51 juga menegaskan yang sama. Ia menetapkan kejahilan al-Albani dengan sebuah riwayat yang lucu apabila dibaca. Mungkin Asri salah memahami kata-kata ulama Hadis India tersebut, kerana mungkin saja Asri tidak mengerti bahasa Urdu atau Arab dialek India (kerana yang saya jumpa bahasa Arab India kadangkala agak sedikit berbeza uslubnya dengan di Arab walaupun tidak salah dari segi nahwu).
Bagi saya, seperti apa yang diajarkan oleh ulama hadis saya, dan salah satunya adalah Ustaz Fahmi Zamzam (alumni madrasah al-Nadwah, India dan Muhammad bin Alawi al-Maliki) yang saya sempat mengikuti acara khataman kitab al-Awail al-Zamzamiyah bahwa dalam menetapkan hadis tersebut sahih, dan daif serta hasan atau tidak sudah tidak diperlukan lagi, kerana ia sudah dinyatakan oleh ulama Hadis yang lebih alim terdahulu. Jadi yang salah di sini justru al-Albani, seorang yang dikagumi Asri serta kuncu-kuncunya.
2- Kata-kata Asri
Quote
“Sebaliknya, di negara kita, ada yang menganggap Islam tidak dapat difahami melainkan setelah penat belajar di bawah pelita minyak yang malap, tinggal dalam pondok yang senget”
adalah yang memilukan. Apakah Asri tidak tahu bahwa menuntut itu perlu waktu yang lama? Dan juga memerlukan kepayahan. Tapi tidak ada di dalam Pondok mana-mana yang menuntut untuk semua pelajar kene pakai lampu minyak? Tidak ada yang menuntut pelajar kene duduk di pondok yang kumuh, dan senget (mereng atau dah nak runtuh). Justru ini membuktikan Asri berbicara tanpa tahu apa yang terdapat di Pondok. Kalau saja dia pergi ke Kelantan dan lihat bagaimana megahnya Pondok al-Rahmaniyah, Lubuk Tapah? Cobalah pergi ke Pondok Salaf Sidogiri yang kaya raya itu? Cuba lihat bagaimana megahnya pondok al-Fitrah Kedinding Surabaya yang luas di dalam kota Surabaya? Atau marilah melawat Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Kencong, Pare, Kediri yang bersih! Semua pondok ini telah mengeluarkan ulama-ulama besar yang jauh lebih hebat dari seorang Asri. Lubuk Tapah dipimpin oleh Tuan Guru haji Abdullah yang sewaktu masih hidupnya banyak ulama Arab sendiri datang menziarahinya (sayyid Muhammd bin Alawi al-Maliki, habib Umar, Kyai Ihya’ Ulumuddin, Sayyid Gibril, dan lain-lain). Mereka semua meminta ijazah dari Tuan Guru tersebut (Apakah ada ulama dari Arab datang menemui Asri dan meminta ijazah darinya?). Pondok Pesantren Lirboyo telah mengeluarkan lebih dari 50 kader ulama masa depan setiap tahunnya. Salah satu alumninya adalah Kyai Maimun Zubair, Sarang Jawa Tengah. Kyai Maimun seorang yang alim dalam semua bidang ilmu agama. Kalau Asri tidak percaya datanglah melawatnya dan berdiskusilah dengannya. Beliau dapat membahas lebih dalam dan lebih ilmiah dari Asri.
3- Sedangkan kata-kata Asri
Quote
“Baginya tokoh ulama hanya guru pondoknya. Para ulama timur tengah langsung tiada tempat dalam dirinya. Seakan-akan Nabi s.a.w itu dulunya lahir di kawasan pondoknya.”
Itu adalah kalam yang fasid sefasid-fasidnya. Kebanyakan pondok-pondok sangat senang diziarahi ulama besar dari Arab seperti Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Apakah Sayyid Muhammad bukan dari golongan ulama Arab? Justru Asri salah dengan kata-kata “bahasa melayu sankrit lama”, kerana kalau Asri pergi ke Pondok-pondok yang ada di Jawa, semua kitab yang dikaji dari kelas bawah yaitu pelajaran Awamil Jurjani sampai ke kitab Uqud al-Juman yang mungkin Asri belum pernah baca sekalipun memakai kitab yang berbahasa Arab. Dan di Pondok melayu lama pun tidak mempertikaikan apakah menggunakan kitab melayu atau arab? Yang penting faham dan khatam. Jangan baca sekerat-sekerat saja. Perlu Asri tau, murid-murid lulusan pesantren/pondoklah yang justru berjaya dan mendapatkan 1st class honor kalau dia masuk ke university. Menurut dosen saya, kalau di Saudi sekalipun (University Saud Riyadl tempat beliau study), kalau ada yang dapat mumtaz dari Asia, maka ia adalah seorang anak pondok salaf Nahdlatul Ulama. Herankan? Seorang `Asya’irah berjaya di University Wahabi??
Nama Laqab Wahabi bagi Puak Asri CS.
Dalam artikel ini dan juga artikel yang pernah saya baca, Dr. Asri sangat menolak pemberian nama Wahabi kepadanya, ia mengatakan Muhammad bin Abdil Wahhab adalah seorang yang alim dan murni memperjuangkan akidah yang suci. Saya jujur sahaja, sebenarnya saya tidaklah perduli dengan nama Wahabi tersebut, yang terpenting adalah apakah ia memiliki ideologi seperti golongan-golongan yang mereka anut itu yaitu seperti Bin Baz, Utsaimin, al-Albani, Shalih Fauzan al-Fauzan dan lain-lain yang dengan mudah membid’ahkan yang sesat terhadap majority amalan umat muslim di dunia, mulai dari bertaklid dan bermazhab, bertawassul, bertarekat, ziarah kubur dan lain-lain. Ideologi tersebutlah yang menjadi tujuan dari laqab wahabi, bukan semata-mata nama yang menjadi tujuan. Ok lah, kalau mereka tidak ingin disebut wahabi, maka saya dengan suka rela menyebut mereka dengan salafi seperti claim mereka itu sendiri yang menyebut salaf al-shalih. Tapi saya dengan tegas berpendapat ideologi tidak boleh lari walaupun nama berubah. Dan nama salaf al-shalih di sini bukanlah salaf al-shalih yang dimaksud dalam kitab-kitab salaf seperti Imam al-Syafi’I dan lain-lain, kerana Imam al-Syafi’I misalnya selalu bertawassul dengan Abu Hanifah setelah meninggalnya (Lihat: Tarikh Baghdad, vol. 1 p. 123). Akan tetapi, golongan Asri menolak tawassul dan mengharamkannya? Bagaimana dengan Syafi’i?? Syirikkah dia??
Pengakuan Mazhab Syafi’I, bukan Berarti Menolak Sunnah!
Dalam statement yang jelas dan penuh muslihat, Asri berkata “
Quote
Di tempat kita juga demikian, golongan yang membuat amalan-amalan yang tidak benar pada nilaian al-Quran dan al-Sunnah akan membela diri dengan menyatakan ini adalah mazhab Syafi`i dan menuduh golongan yang menegur mereka sebagai wahabi. Ternyata mereka menggunakan modal yang sama. Kebanyakan perkara yang mereka dakwa sebagai mazhab Syafi`i, tidak pernah pun disebut al-Imam Muhammad bin Idris al-Syafi`i r.a.. Bahkan di kalangan mereka ada yang tidak pernah membaca al-Umm karangan fiqh beliau, atau al-Risalah dalam usul fiqh dan hadith”.
Masalahnya, apakah amalan Asri sudah benar-benar sesuai al-Qur’an dan Sunnah Nabi? Mereka dengan mudahnya mengatakan kami yang bertentangan pada dua sumber Islam tersebut. Mereka juga menganggap amalan kita tidak sesuai dengan pendapat Imam al-Syafi’I sendiri.
Contoh hujjah mereka, kenapa melafazkan niat sewaktu solat? Padahal ia tidak diajarkan Imam al-Syafi’I sendiri? Mana hujjahnya dalam al-`Umm?
Saya cukup ketawa dan menilai pendapat mereka itu sangat lemah dan hanya berlindung pada apakah Imam Syafi’I berkata seperti itu? Terus terang! Kalau kita belajar mazhab Syafi’I, kita akan tau bahwa Imam Syafi’I ada dua mazhab yaitu qadim dan jadid. Ini disebabkan beliau berijtihad. Dan ijtihad seseorang itu boleh berubah sesuai dengan perkembangan ilmunya. Akan tetapi, ijtihad yang memiliki dasar tidak boleh dirusak dengan ijtihad yang baru walaupun memiliki dasar pula (الإجتهاد لا ينقض بالإجتهاد).
Begitu pula dengan mazhab Syafi’i. dalam hal melafazkan niat, memang Imam Syafi’I tidak menyebutkan secara sharih. Beliau bahkan tidak melarang secara sharih! Maka “عدم العلم نفي العدم” kalau tak tau bukan berarti tidak ada! Dalam kitab al-Majmu’ ditetapkan bahwa murid-murid beliaulah yang menganggap dan berijtihad bahwa melafazkan niat adalah sunnah kerana ia mengukuhkan niat dalam hati yang menjadi rukun dari sholat! Ini merupakan ijtihad muri-murid Syafi’i. apakah murid-muridnya bukan mujtahid juga? Padahal Imam al-Mawardi juga disebut dengan mujtahid mazhab! Imam Nawawi dan Rafi’I sebagai Mujtahid Fatwa! Belum lagi dari mazhab lain seperti Hanafi dan Hanbali yang juga menetapkan sunnah, kecuali Maliki yang menganggap ia makruh (tidak Haram)! (Lihat: al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, vol. 1 bab Sholat bagian niat; saya juga telah mengkaji dalam kitab asal mereka, dan ia telah ditetapkan seperti kata-kata Wahbah al-Zuhaily).
Jadi kesimpulan saya, apa yang dilakukan umat islam dengan mengklaim ia adalah mazhab Syafi’I itu adalah benar, kerana kitab-kitab muta’akhirin seperti minhaj al-thalibin, nihayat al-muhtaj, tuhfah, fath al-muin dan lain-lain tidak lain merupakan tarjih ulama Mazhab Syafi’I terhadap mazhab Syafi’I berdasarkan ilmu usuli dan qawaidi yang menjadi inti di dalam mazhab Syafi’i.
Pernyataan kami dari pondok tidak membaca kitab al-Umm dan al-Risalah adalah salah.
Mungkin saja benar kalau yang ditanya adalah budak pondok yang memang belum tahu apa-apa. Atau mungkin ustaz pondok yang class dia masih berada di bawah. Kalau Asri datang ke Jawa, saksikanlah bagaimana Kyai-Kyai yang academic membuktikan mazhab Syafi’I dengan berhujjah memakai kitab al-Umm dan konsep al-risalahnya dengan ilmiah! Saya sendiri dengan harapan doa dari semua pembaca dan orang lain dapat menyelesaikan skripsi saya tentang kajian penerapan usul fiqh syafi’I dalam al-risalah di dalam al-Umm itu sendiri. Amin…Amin….
Masalah pentarjihan pendapat yang kuat seperti kata-kata Asri, yang mana ia meninggalkan pendapat yang lemah walaupun dari Syafi’I, perlu dicermati. Apakah apabila Asri menetapkan ia lemah, berarti benar-benar secara hakiki pendapat itu lemah? Sehinggakan berqunut di waktu Subuh itu bid’ah? Kerana dalil lemah menurut Asri? Saya selama mengkaji dan mengaji dari kyai-kyai dan secara otodidak pun, selalu berusaha menilai sebuah dalil. Tapi selalu saya temukan, bahwa apabila ada tarjih, pasti dipandang satu sisi, sedangkan yang lain dari sisi yang lain pula. Hasilnya, khilaf. Maka apakah perbedaan sisi pandang membuat kita takfir dan tabdi’? tidak ada satu pun ulama salaf yang saya temu mentabdi’kan qunut yang dikeluarkan Imam Syafi’I dalam al-Ummnya. Di dalam dunia Pesantren, kalau seorang murid itu sudah sampai derajat ustaz, maka dalam membahas ia pasti selalu membandingkan antara qauli dan usuli. Dari sini kita dapat tahu, mengapa terjadi perbedaan pendapat antara ulama. (Sila datang ke program musyawarah kitab Mahali di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri).