maaf lah... aku kurang skit dalam ilmu agama.... yang no 6 tu betul ker?
Malik bin Sinan (ayah Abu Said Al-Khudri) dalam Perang Uhud telah menelan
darah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم yang keluar dari luka di pipi beliau. (Ibn Qayyim, Zadul Ma`ad, 3/94; Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiqul Makhtum, hal. 219; Qadhi Iyadh, Asy-Syifa bi-Ta'rif Huquq Al-Mushthafa, hal. 40).
Al-Mubarakfuri menulis bahwa :
"Malik bin Sinan ayah Abu Said Al-Khudri telah menyedut
darah dari pipi Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم sampai menelannya. Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersabda, "Ludahkanlah itu!" Malik bin Sinan menjawab,"Demi Allah, aku tidak akan meludahkannya." Kemudian dia berbalik dan berperang. Berkatalah Nabi صلى الله عليه وآله وسلم ,"Barangsiapa ingin melihat seseorang dari penduduk surga, hendaklah ia melihat orang ini," Malik bin Sinan kemudian mati syahid." (Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiqul Makhtum, hal. 219)
Bagaimana hukum menelan
darah Rasulullah? Menelan
darah Rasulullah hukumnya boleh (mubah), kerana
darah Rasulullah adalah suci, bukan najis sebagaimana
darah manusia umumnya. (Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Al-Jami' li Ahkam Ash-Shalah, 1/74). Hal ini termasuk dalam khususiyat yang hanya dimiliki Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم , tidak dimiliki oleh manusia lainnya.
Imam Qadhi Iyad dalam kitabnya Asy-Syifa bi-Ta'rif Huquq Al-Mushthafa, hal. 39 telah membuat satu pasal berjudul : "Fasal Mengenai Kebersihan Tubuhnya, Kewangian Bau Badannya, dan Kebersihannya dari Kotoran-Kotoran dan Cacat- Cacat Tubuh." Dalam fasal itu Imam Qadhi Iyad menyatakan salah satu khususiyat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم sebagai berikut :
"Adapun kebersihan tubuhnya, kewangian bau badannya dan keringatnya dan kebersihannya dari kotoran-kotoran dan cacat-cacat tubuh, maka Allah telah mengkhususkan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم dalam hal-hal tersebut dengan khususiyat- khususiyat yang tidak dijumpai pada selain beliau." (Qadhi Iyad, Asy-Syifa bi-Ta'rif Huquq Al-Mushthafa, hal. 39).
Dalam fasal inilah, Imam Qadhi Iyad menukilkan banyak riwayat-riwayat sebagai dalil bagi bab tersebut, di antaranya adalah riwayat bahwa Malik bin Sinan yang menelan
darah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم dalam Perang Uhud. Qadhi Iyad berkata :
"Di antaranya riwayat mengenai ini adalah tindakan Malik bin Sinan meminum dan menyedut
darah Rasul صلى الله عليه وآله وسلم saat Perang Uhud, dan adanya izin Nabi صلى الله عليه وآله وسلم baginya melakukan itu, dan sabda beliau : "Dia tidak akan terkena api neraka." (Qadhi Iyad, Asy-Syifa bi-Ta'rif Huquq Al-Mushthafa, hal. 40).
Riwayat lain yang dinukilkan Imam Qadhi Iyad adalah tindakan Abdullah bin Zubair yang meminum
darah bekam Rasulullah dan tindakan ini tidak diingkari oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم .