teresastracke
Freshie
- Messages
- 6
- Joined
- Oct 30, 2017
- Messages
- 6
- Reaction score
- 1
- Points
- 8
Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Kemarin saya membaca artikel baru berbicara tentang depresi postpartum perempuan
Depresi yang biasa terjadi pada enam minggu pertama setelah melahirkan ini berbeda dengan baby blues yang umumnya dapat mereda dalam hitungan hari atau minggu.
Gejala-gejala yang patut diwaspadai antara lain:
- Perasaan sedih atau tidak bersemangat yang menetap.
- Sulit untuk dekat dan akrab dengan bayi.
- Terus-menerus merasa sedih dan menangis tanpa alasan jelas.
- Mengabaikan diri sendiri, misalnya tidak mau makan, tidak mengganti baju atau mandi.
- Tidak percaya diri, merasa bersalah, ingin menyakiti diri sendiri, atau bahkan timbul keinginan untuk bunuh diri.
- Pada kasus yang sangat jarang terjadi, sebagian ibu berpikir untuk menyakiti bayi mereka.
Beberapa hal berikut ini diduga menjadi faktor yang melatarbelakanginya, di antaranya:
- Kurang tidur dan kondisi fisik yang lemah pasca-melahirkan, diiringi tuntutan untuk merawat bayi.
- Perubahan hormonal yang membuat beberapa wanita merasa lebih sensitif.
- Masalah keluarga dan sosial seperti persoalan keuangan, konflik dengan anggota keluarga, atau kurangnya dukungan orang terdekat saat melahirkan dan merawat bayi.
- Riwayat depresi yang pernah dialami sebelumnya, terutama depresi selama masa kehamilan.
- Mengalami gangguan kesehatan, terutama pasca-melahirkan, seperti nyeri pada bekas jahitan atau gangguan buang air kecil.
Depresi pasca-melahirkan dapat menjadi masalah berkepanjangan jika dibiarkan saja. Pasalnya, depresi pasca-melahirkan dapat bertahan selama berbulan-bulan jika tidak diobati. Berikut ini adalah langkah-langkah penanganan yang dapat diambil. Bicarakan kepada kerabat atau sahabat dekat sesegera mungkin. Dukungan orang-orang terdekat sangat penting terhadap kesehatan mental. Atau dapat juga langsung memeriksakan diri ke psikiater atau dokter. Olah tubuh dapat membantu meringankan depresi ringan. Bicarakan dengan dokter atau instruktur olahraga agar mendapat rangkaian latihan yang tepat. Psikiater mungkin akan memberikan psikoterapi seperti terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavior Therapy / CBT). Semua orang silakan berbagi pemahaman Anda mengenai hal ini
Depresi yang biasa terjadi pada enam minggu pertama setelah melahirkan ini berbeda dengan baby blues yang umumnya dapat mereda dalam hitungan hari atau minggu.
Gejala-gejala yang patut diwaspadai antara lain:
- Perasaan sedih atau tidak bersemangat yang menetap.
- Sulit untuk dekat dan akrab dengan bayi.
- Terus-menerus merasa sedih dan menangis tanpa alasan jelas.
- Mengabaikan diri sendiri, misalnya tidak mau makan, tidak mengganti baju atau mandi.
- Tidak percaya diri, merasa bersalah, ingin menyakiti diri sendiri, atau bahkan timbul keinginan untuk bunuh diri.
- Pada kasus yang sangat jarang terjadi, sebagian ibu berpikir untuk menyakiti bayi mereka.
Beberapa hal berikut ini diduga menjadi faktor yang melatarbelakanginya, di antaranya:
- Kurang tidur dan kondisi fisik yang lemah pasca-melahirkan, diiringi tuntutan untuk merawat bayi.
- Perubahan hormonal yang membuat beberapa wanita merasa lebih sensitif.
- Masalah keluarga dan sosial seperti persoalan keuangan, konflik dengan anggota keluarga, atau kurangnya dukungan orang terdekat saat melahirkan dan merawat bayi.
- Riwayat depresi yang pernah dialami sebelumnya, terutama depresi selama masa kehamilan.
- Mengalami gangguan kesehatan, terutama pasca-melahirkan, seperti nyeri pada bekas jahitan atau gangguan buang air kecil.
Depresi pasca-melahirkan dapat menjadi masalah berkepanjangan jika dibiarkan saja. Pasalnya, depresi pasca-melahirkan dapat bertahan selama berbulan-bulan jika tidak diobati. Berikut ini adalah langkah-langkah penanganan yang dapat diambil. Bicarakan kepada kerabat atau sahabat dekat sesegera mungkin. Dukungan orang-orang terdekat sangat penting terhadap kesehatan mental. Atau dapat juga langsung memeriksakan diri ke psikiater atau dokter. Olah tubuh dapat membantu meringankan depresi ringan. Bicarakan dengan dokter atau instruktur olahraga agar mendapat rangkaian latihan yang tepat. Psikiater mungkin akan memberikan psikoterapi seperti terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavior Therapy / CBT). Semua orang silakan berbagi pemahaman Anda mengenai hal ini
