Rosman
Fun Poster
- Messages
- 644
- Joined
- Jan 9, 2010
- Messages
- 644
- Reaction score
- 334
- Points
- 36
Pada satu hari, seorang pemburu telah menangkap seekor burung
murai. Dengan perasaan sedih burung murai itu merayu kepada si
pemburu.
Burung itu bertanya, " Apa yang ingin engkau lakukan pada
diriku?"
Lelaki itu menjawab " Akan aku sembelih engkau dan makan engkau
sebagai lauk"
"Percayalah, engkau tidak akan begitu berselera memakanku dan
aku tidak akan mengenyangkan engkau. Jangan engkau makan aku,
tetapi akan aku beritahu engkau tiga nasihat yang lebih baik
dari engkau memakanku "
Si burung berjanji akan memberikan nasihat pertama ketika berada
dalam genggaman orang itu. Yang kedua akan diberikannya kalau ia
sudah berada di cabang pohon dan yang ketiga ketika ia sudah
mencapai puncak bukit.
Terpengaruh dengan rayuan si murai itu, si pemburu pun bersetuju.
Lalu dia meminta nasihat pertama. Kata burung itu, "Kalau kau
kehilangan sesuatu, meskipun engkau menghargainya seperti
hidupmu sendiri, jangan menyesal."
Orang itu pun melepaskannya dan burung itu segera melompat ke
dahan. Di sampaikannya nasihat yang kedua, "Jangan percaya kepada
segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti."
Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia
berkata, "Wahai manusia malang! Jika tadi engkau sembelih aku,
nescaya engkau akan dapati dalam tubuhku ada dua biji mutiara.
Berat setiap mutiara itu adalah dua puluh gram."
Terperanjat sungguh si pemburu itu mendengar kata-kata si burung
murai.. Si pemburu berasa dirinya telah tertipu. "*****nya aku!
Bagaimana aku boleh terlepas peluang yang begitu baik!"
Pemburu itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya. Namun
katanya, "Setidaknya, katakan padaku nasihat yang ketiga itu!"
Si burung murai menjawab,"Alangkah tololnya kau meminta nasihat
ketiga sedangkan yang kedua pun belum kau renungkan sama sekali.
Sudah kukatakan padamu agar jangan kecewa kalau kehilangan dan
jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau
malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk
akal dan menyesali kehilanganmu. Cuba engkau fikirkan, hai orang
yang dungu. Aku, dagingku, darahku dan buluku tidak logik
seberat dua puluh gram. Oleh itu, bagaimana mungkin akan ada
dalam perutku dua biji mutiara yang masing-masing seberat dua
puluh gram? Aku tidak cukup besar untuk menyimpan dua butir
mutiara besar! Kau *****! Oleh kerananya kau harus tetap berada
dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia."
Murai menyambung lagi, "Nasihatku yang ketiga adalah, memberi
nasihat kepada sedozen bahlul seperti engkau ini adalah seperti
menabur benih di tanah usang, tidak akan memberi faedah!"
Kemudian terbanglah si burung murai yang bijak itu meninggalkan
si lelaki yang termenung akan ketamakannya itu.
Moral:
Itulah contoh betapa halobanya anak Adam yang jadi kelabu mata
dari mengetahui kebenaran.
Jika seseorang menginginkan yang serba banyak atau terlalu
panjang angan-angannya atas sesuatu yang lebih, nescaya
hilanglah sifat qana' (merasa cukup dengan yang ada). Dan
tidak mustahil ia menjadi kotor akibat haloba dan hina akibat
rakus sebab kedua sifat itu mengheret kepada pekerti yang jahat
untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan mungkar, yang merosakkan
maruah (harga diri).
murai. Dengan perasaan sedih burung murai itu merayu kepada si
pemburu.
Burung itu bertanya, " Apa yang ingin engkau lakukan pada
diriku?"
Lelaki itu menjawab " Akan aku sembelih engkau dan makan engkau
sebagai lauk"
"Percayalah, engkau tidak akan begitu berselera memakanku dan
aku tidak akan mengenyangkan engkau. Jangan engkau makan aku,
tetapi akan aku beritahu engkau tiga nasihat yang lebih baik
dari engkau memakanku "
Si burung berjanji akan memberikan nasihat pertama ketika berada
dalam genggaman orang itu. Yang kedua akan diberikannya kalau ia
sudah berada di cabang pohon dan yang ketiga ketika ia sudah
mencapai puncak bukit.
Terpengaruh dengan rayuan si murai itu, si pemburu pun bersetuju.
Lalu dia meminta nasihat pertama. Kata burung itu, "Kalau kau
kehilangan sesuatu, meskipun engkau menghargainya seperti
hidupmu sendiri, jangan menyesal."
Orang itu pun melepaskannya dan burung itu segera melompat ke
dahan. Di sampaikannya nasihat yang kedua, "Jangan percaya kepada
segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti."
Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia
berkata, "Wahai manusia malang! Jika tadi engkau sembelih aku,
nescaya engkau akan dapati dalam tubuhku ada dua biji mutiara.
Berat setiap mutiara itu adalah dua puluh gram."
Terperanjat sungguh si pemburu itu mendengar kata-kata si burung
murai.. Si pemburu berasa dirinya telah tertipu. "*****nya aku!
Bagaimana aku boleh terlepas peluang yang begitu baik!"
Pemburu itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya. Namun
katanya, "Setidaknya, katakan padaku nasihat yang ketiga itu!"
Si burung murai menjawab,"Alangkah tololnya kau meminta nasihat
ketiga sedangkan yang kedua pun belum kau renungkan sama sekali.
Sudah kukatakan padamu agar jangan kecewa kalau kehilangan dan
jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau
malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk
akal dan menyesali kehilanganmu. Cuba engkau fikirkan, hai orang
yang dungu. Aku, dagingku, darahku dan buluku tidak logik
seberat dua puluh gram. Oleh itu, bagaimana mungkin akan ada
dalam perutku dua biji mutiara yang masing-masing seberat dua
puluh gram? Aku tidak cukup besar untuk menyimpan dua butir
mutiara besar! Kau *****! Oleh kerananya kau harus tetap berada
dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia."
Murai menyambung lagi, "Nasihatku yang ketiga adalah, memberi
nasihat kepada sedozen bahlul seperti engkau ini adalah seperti
menabur benih di tanah usang, tidak akan memberi faedah!"
Kemudian terbanglah si burung murai yang bijak itu meninggalkan
si lelaki yang termenung akan ketamakannya itu.
Moral:
Itulah contoh betapa halobanya anak Adam yang jadi kelabu mata
dari mengetahui kebenaran.
Jika seseorang menginginkan yang serba banyak atau terlalu
panjang angan-angannya atas sesuatu yang lebih, nescaya
hilanglah sifat qana' (merasa cukup dengan yang ada). Dan
tidak mustahil ia menjadi kotor akibat haloba dan hina akibat
rakus sebab kedua sifat itu mengheret kepada pekerti yang jahat
untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan mungkar, yang merosakkan
maruah (harga diri).
