BTC USD 86,424.0 Gold USD 4,147.83
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

63, Al Qayyum

Al-Qayyum adalah salah satu dari al-Asma’ul Husna. Bahkan nama ini adalah salah satu Asma’ul Husna yang teragung dari nama-nama-Nya, yaitu ketika nama ini bergabung dengan nama Allah al-Hayyu. As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Sebagian ulama peneliti menerangkan bahwa sesungguhnya keduanya adalah al-ismul a’zham yang bila Allah ‘azza wa jalla diseru dengan menyebutnya Dia akan mengijabahi, bila dimohon dengan menyebut nama itu, maka Ia akan memberi.”

Allah ‘azza wa jalla telah menyebut nama-Nya ini dalam tiga ayat dalam al-Qur’an, ketiganya bergandengan dengan nama Allah al-Hayyu. Nama tersebut juga ada dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana akan kami sebutkan.

Asy-Syaikh al-Harras menjelaskan bahwa di antara al-Asma’ul Husna itu adalah al-Qayyum, itu adalah bentuk mubalaghah dari kata Qa’im (bentuk kata yang memberi arti yang lebih dalam sifat tersebut). Al-Qayyum memiliki dua makna:

Pertama, Dia yang berdiri sendiri dan tidak perlukan seluruh makhluk, sehingga tidak butuh sesuatu pun, baik dalam hal adanya maupun dalam hal eksistensinya. Demikian pula dalam sifat kesempurnaan-Nya dan perbuatan yang muncul dari-Nya. Karena ketidakbutuhan-Nya bersifat dzati (terkait langsung dengan Dzat Allah ‘azza wa jalla) sebagaimana kami telah terangkan, maka Dia tidak akan ditimpa kekurangan ataupun rasa butuh.

Kedua, Dialah yang selalu mengatur mahluk-Nya. Seluruh yang ada di alam ini membutuhkan-Nya, dengan rasa butuh yang dzati (terkait langsung dengan dzat makhluk tersebut), tidak mungkin tidak, walau sesaat saja.

Maka dari itu, makhluk butuh kepada-Nya dalam hal keberadaannya, Allah ‘azza wa jalla lah yang memberikan kepadanya sebab-sebab eksistensinya tidak ada sesuatu pun dalam alam ini seluruhnya kecuali dalam bantuan-Nya.

Dengan demikian, Dia selalu mengatur dan memerhatikan urusan makhluk-Nya, tidak mungkin Dia lalai sesaat pun dari mengawasi mereka, kalau tidak demikian maka akan kacau aturan alam dan akan hancur tonggak-tonggaknya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?” Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Rabb mereka. (al-Anbiya:42)

kemudian berfirman,

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 41)

Jadi sifat Allah ‘azza wa jalla yang satu ini, di antara sifat-sifat-Nya yang lain yaitu sebagai al-Qayyum, memiliki urusan yang besar sebagaimana besar-Nya Pemilik sifat ini, yang sifat ini dengan maknanya yang pertama mengandung kesempurnaan ketidakbutuhan-Nya dan kebesaran-Nya. Dengan makna yang kedua, mengandung seluruh sifat kesempurnaan dalam perbuatan-Nya yang tidak ada kesempurnaan bagi-Nya kecuali dengan sifat Al-Qayyum.

Di antara asma-Nya yang Mahaindah juga adalah al-Hayyu, Yang Mahahidup, dan nama al-Hayyu telah beriringan dengan nama-Nya al-Qayyum di tiga tempat dalam al-Qur’an:

Ayat kursi dalam surat al-Baqarah ayat 255,



اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ


[255] – Ayatul Kursi (The Throne Verse)
Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Tetap hidup, Yang Kekal selama-lamanya mentadbirkan (sekalian makhlukNya). Yang tidak mengantuk usahkan tidur. Yang memiliki segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat (pertolongan) di sisiNya melainkan dengan izinNya. yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari (kandungan) ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki (memberitahu kepadanya). Luasnya Kursi Allah (ilmuNya dan kekuasaanNya) meliputi langit dan bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta memelihara keduanya. Dan Dia lah Yang Maha Tinggi (darjat kemuliaanNya), lagi Maha Besar (kekuasaanNya)


Awal surat Ali Imran ayat 1-2,

“Alif lam mim. Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Dia. Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.”

Surat Thaha ayat 111,

“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Rabb yang hidup kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman.”

Makna al-Hayyu adalah yang memiliki kehidupan yang sempurna, yang kekal abadi, yang tidak mengenai-Nya kematian ataupun fana, karena ini adalah sifat yang terkait dengan Dzat-Nya Yang Mahasuci. Sebagaimana sifat qayyum-Nya berkonsekuensi kesempurnaan seluruh perbuatan-Nya. Demikian pula sifat kehidupan-Nya yang sempurna berkonsekuensi seluruh sifat dzat-Nya yang sempurna, baik ilmu, kamampuan, kemauan, pendengaran, penglihatan, kemuliaan, kesombongan, kebesaran, dan sebagainya.

Sifat al-Hayyu dan al-Qayyum mengandung sifat kesempurnaan seluruhnya. Keduanya ibarat dua kutub bagi seluruh langit sifat-sifat-Nya, sehingga tidak ada satu sifat pun yang keluar dari kedua sifat itu sama sekali.

Oleh karena itu, telah terdapat sebuah riwayat bahwa keduanya merupakan al-ismul a’zham, yaitu nama Allah Yang Mahaagung, yang apabila diminta dengan menyebut nama-Nya tersebut, Allah ‘azza wa jalla akan memberi; apabila dimohon dengan menyebut nama-Nya, Ia akan mengijabahi.

Kedua nama yang agung ini mengandung seluruh sifat kesempurnaan karena kehidupan merupakan syarat untuk memiliki segala kesempurnaan dalam Dzat-Nya baik itu ilmu, kemampuan, kemauan, pendengaran, penglihatan, kalam, dan seterusnya. Karena selain yang hidup tidak memiliki sifat-sifat; siapa saja yang sempurna kehidupannya, maka dia akan lebih sempurna pada tiap sifat yang kehidupan merupakan syarat bagi sifat tersebut. Adapun al-Qayyum, yang salah satu maknanya adalah yang banyak mengatur urusan makhluk-Nya yang tidak lalai dari mereka walaupun sesaat, hal itu berkonsekuensi kesempurnaan dan kelanggengan seluruh perbuatan-Nya. (Syarh Nuniyyah, 1/111—113)

Ar-Rabi rahimahullah mengatakan, “Al-Qayyum artinya Yang mengatur segala sesuatu, menjaganya, dan memberinya rezeki.”

Mujahid rahimahullah menafsirkannya dengan tafsir yang semakna.

Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan, “Al-Qayyum adalah Yang melakukan penjagaan terhadap segala sesuatu, pemberian rezeki, pengaturannya, pada apa yang dia kehendaki dan Dia sukai, baik perubahan, penggantian, penambahan, maupun pengurangan.” (Tafsir ath-Thabari)

Telah disebutkan bahwa kedua nama Allah, yaitu al-Hayyu dan al-Qayyum merupakan al-ismul a’zham, nama Allah ‘azza wa jalla yang teragung. Hal itu sebagaimana terdapat dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Dikisahkan bahwa dahulu dia duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ada seseorang yang shalat lalu berdoa,

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan mengimani bahwa milik-Mu segala pujian tiada sesembahan yang benar selain engkau al-Mannan, pencipta langit dan bumi, wahai yang memiliki keagungan dan kemurahan, wahai al-Hayyu, wahai al-Qayyum.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sungguh dia telah berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan menyebut nama-Nya yang terbesar yang bila diminta dengannya, Dia akan mengijabahi; dan bila dimohon dengannya, Dia akan memberi.” (Sahih, HR. Abu Dawud dinyatakan sahih oleh al-Albani)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajari putrinya untuk berdoa dengan menyebut nama itu. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah,

“Apa yang menghalangimu untuk mendengar apa yang kuwasiatkan kepadamu? Hendaknya kamu ucapkan bila masuk waktu pagi dan masuk waktu sore, ‘Wahai al-Hayyu, wahai al-Qayyum, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaikilah seluruh urusanku … Janganlah Engkau serahkan diriku padaku walaupun sekejap mata selamanya’.” (Hasan, HR. Ibnu Sunni dalam kitab Amal Yaum wal lailah dan al-Baihaqi dalam Asma’ wash-Shifat. Lihat ash-Shahihah no. 227 dan Shahihul Jami’ no. 10759)

Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mempraktikkannya sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu juga,

Apabila tertimpa suatu urusan yang sulit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Wahai al-Hayyu dan al-Qayyum, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.” (Hasan, HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Sunni lihat Shahilul Jami’ no. 8908 dan ash-Shahihah no. 3182)



Buah Mengimani Nama Allah Al-Qayyum

Di antara buah mengimani nama Allah al-Qayyum adalah mengetahui kebesaran Allah ‘azza wa jalla dan keagungan-Nya, segala perbuatan-Nya dalam puncak kesempurnaan, segala sifat-Nya dalam puncak keindahan dan ketinggian. Allah ‘azza wa jalla tak penah lemah, tak pernah letih, tak pernah butuh, tak pernah istirahat, tak pernah lalai walau sesaat, tak penah kantuk, dan tak pernah tidur.

“Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.” (al-Baqarah: 255)

“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.” (Qaf: 38)

“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (ar-Rahman: 29)

Dia Maha Mencipta, Maha Memiliki, Maha Mengatur, Mahatahu, Mahamampu atas segala sesuatu, Mahaperkasa, Maha Mengawasi, Maha Memberi, dan sifat kesempurnaan lainnya.

Takkan rugi dan takkan tersia-siakan siapa pun yang Rabbnya adalah Dia, yang selalu ia puja, ibadahi, mohon, tauhidkan, dan pasrahi segala urusannya.

https://www.youtube.com/watch?v=S8sESsRDNv4
 
64. Al Waajid

Nama Allah yang ke 64 iaitu al-Waajid. Al Waajid terdiri daripada 3 huruf iaitu waw, jim dan dal; wajada.

Al-Waajid bermaksud: Maha Mendapatkan/ Maha Menemukan

Al-Waajid; bila dinisbahkan kepada Allah SWT yakni bila kita kata Allah al-Waajid ialah:

1) Allah yang Maha mendapatkan atau Maha Menemukan apa yang DIA perlukan sehingga membawa maksud Allah Maha Kaya. Ini tak mungkin dimiliki oleh manusia. Sama seperti dalam nama Allah al-Ghaniyy.

2) Allah yang tidak menemukan hambaNya dalam satu keadaan melainkan Allah SWT ambil tindakan sesuai dengan keadaan hamba tadi. Contoh bila seseorang yang sakit memerlukan kesihatan Allah sembuhkan. Sikap Allah mengambil tindakan semasa hambaNya ditemui itulah al-Waajid.

Ini bereti ketika kita menghadapi masalah yang menghimpit, atau merasa bersendirian; atau tidak ada kawan yang menemani, sebenarnya kita tidak pernah sendiri. Ini kerana selalu ada Allah Al-Waajid bersama-sama kita.


أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ


A006 "Bukankah dia mendapati engkau yatim piatu, lalu la memberikan perlindungan?" (Adh-Dhuha 93:6)

A007 "Dan didapatiNya engkau mencari-cari (jalan yang benar), lalu Ia memberikan hidayah petunjuk (dengan wahyu - Al-Quran)?"(Adh-Dhuha 93:7)

A008 "Dan didapatiNya engkau miskin, lalu Ia memberikan kekayaan? "(Adh-Dhuha 93:8)

Untuk memahami Al-Waajid elok kita renungi maksud Firman Allah dalam ayat-ayat di atas.

Kisah Nabi Muhammad SAW:

Pada saat Rasulullah SAW gundah gulana kerana wahyu yang tidak kunjung datang dan baginda bimbang Allah telah meninggalkannya ; Allah mewahyukan ayat daripada Surat Adh-Dhuha ini. Baginda mendapat jaminan bahawa dirinya tidak akan pernah ditinggalkan olehNya. Bukankah Dia 'mendapatkan/menemukan engkau (wahai Muhammad)' sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia 'menemukanmu' sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk? Dan Dia 'menemukanmu' sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan? Apabila kita bersandar kepada Allah al-Waajid kita akan rasa bahagia dan tidak akan kecewa.

Kisah Nabi Ayub as:

A044 "Dan (Kami perintahkan lagi kepadanya): " Ambilah dengan tanganmu seikat jerami kemudian pukulah (isterimu) dengannya; dan janganlah engkau merosakkan sumpahmu itu ". Sesungguhnya Kami mendapati Nabi Ayub itu seorang yang sabar; ia adalah sebaik-baik hamba; sesungguhnya ia sentiasa rujuk kembali (kepada Kami dengan ibadatnya)". (Saad 38:44)

Nabi Ayub as pernah bersumpah, bila sembuh daripada sakit baginda akan pukul isterinya dengan 100 kali pukulan. Apabila baginda sembuh tidak boleh melanggar sumpahnya. Nak pukul dengan 100 pukulan terlalu banyak. Allah Maha Mengetahui, dan Allah mendengar Nabi Ayub nak melaksanakan sumpah tetapi baginda tersangat sayang kepada isterinya. Jadi ayat di atas Allah perintahkan nabi Ayub mengambil seikat jerami yang jumlahnya 100, pukul sekali sahaja, dan ini tidak mendatangkan mudharat kepada isteri nabi Ayub. Di sini menunjukkan sikap wajada Allah, Allah akan memberikan penyelesaian yang sesuai terhadap apa sahaja keadaan hambaNya. Ayat di atas adalah contoh wajada Allah kepada orang yang berbuat baik, sekarang kita lihat contoh wajada Allah kepada orang yang berbuat jahat.

Kisah Orang yang menentang ajaran Allah SWT:

A101 "Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebahagian dari khabar beritanya kepadamu (wahai Muhammad); dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan keterangan-keterangan yang nyata (mukjizat), sesudah itu mereka tidak juga beriman kepada apa yang mereka telah mendustakannya dahulu. Demikianlah Allah meteraikan di atas hati orang-orang yang kafir". (Al-A'raaf 7:101)

A102 "Dan Kami tidak mendapati bagi kebanyakan mereka sebarang janji (yang ditepati), dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka melainkan orang-orang yang fasik". (Al-A'raaf 7:102

Di dalam dua ayat di atas; Allah mengutuskan para rasul kepada kaum-kaum yang tidak beriman yakni yang menentang ajaran rasul-rasul. Lalu Allah melihat mereka atau memberikan penilaian tehadap mereka sebagai orang-orang yang fasik. Jadi penilaian Allah adalah berdasarkan keadaan hambaNya. Bila derhaka Allah kata fasiq bila beriman dan beramal soleh Allah kata orang-orang solihin.

Begitulah serba sedikt tentang nama Allah al-Waajid dan marilah kita berdoa dengan menggunakan wasilah al-Waajid:

Ya Allah!

Ya Waajid!

Tuhan yang Maha Menemukan!

Tiada tempat di dunia ini yang terlindung dari Mu

Engkau tetap menemukan kami

Kerana Engkau menyayangi dan mengasihani kami

Berikanlah kami peringatan ketika Engkau mendapati kami lalai

Tunjukkan kami jalan kemudahan ketika Engkau dapati kami tersilap melangkah ke lorong kesukaran


Tunjukkan kami jalan kebenaran ketika Engkau mendapati kami tersilap melangkah ke lorong kebatilan

Kami bersandar kepada Mu ya Allah! ya Waajid! yang sentiasa prihatin dengan situasi yang kami lalui dalam pengembaraan kehidupan di alam ini.

eyebright%20A_zps791opcdy.jpg
 
65. Al Maajid

Sedangkan manusia yang diciptakan Allah diberi prediket mulia, baik dan suci, tentu yang menciptakannya yaitu Allah Yang Maha Mulia, Dialah Allah dengan sifat Al Maajid;


إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ
إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ
إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ
وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ
ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ
فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ


”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Itulah keberuntungan yang besar. Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras. Sesungguhnya Dia-lah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali).Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai 'Arsy, lagi Maha mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya”.[Al Buruj 85;11-16]

Dengan kemuliaan-Nya, Allah bertempat pada satu tempat yang tidak akan terjangkau oleh manusia, yaitu ’Arsy. Berkaitan dengan keberadaan Allah ada tiga pendapat yang dapat diungkapkan dalam rangka mencerahkan kita, agar kita tidak salah mengartikan tentang bertempatnya Yang Maha Mulia.
Kalau seseorang beriman dengan benar pada Al-Quran Al-Kariem dan sunnah, maka dia pasti akan mendapatkan jawaban bahwa Allah SubhanahuWata`alaituada di langit dan di ata Arsy. Itulah keterangan yang benar sesuai dengan informasi yang Allah SWT tetapkan sendiri dalam Al-Quran Al-Kariem.

1. Allah Diatas Arsy
Keteranganbahwa Allah SWT ada di atasArsyadalahfirman Allah SWT sendiri yang ditetapkan di dalam Al-Quran Al-Kariem.



Maka tidak ada kesempatan sedikit pun bagi manusia untuk menolak apa yang telah Allah SWT tetapkan sendiri tentang dirinya.


Sesungguhnya Tuhankamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas'Arsy .Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya.Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.MahaSuci Allah, Tuhan semesta alam.(QS. Al-Araf : 54)

Redaksi yang sama tentang keberadaan Allah di Al ‘Arsy juga terdapat pada beberapa surat yaitu Yunus;3, Ar Ra’d;2, Thaha;5, Al Furqan; 59, As Sajdah; 4, dan Al Hadid;4.

2. Allah Di Langit
Selain itu di dalam Al-Quran Al-Kariem juga ada keterangan bahwa Allah SWT itu ada di langit.
“Tidakkah kamu merasa aman dari Allah yang berada DI LANGIT bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang.Atau apakah merasa aman terhadap Allah yang DI LANGIT bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat) mendustakan peringatan-Ku”.( QS Al-Mulk : 16-17).

Selain itu ada hadits dari Rasulullah SAW yang juga menjelaskan tentang dimanakah Allah SWT itu .Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Kasihanilah yang bumi maka kamu akan dikasihani oleh Yang DI LANGIT”. (HR. Tirmiziy).

Namun tentang bagaimana tentang keberadaan Allah SWT di langit dan di asry, kita tidak punya keterangan pasti.Maka kita imani keberadaannya sedangkan teknisnya seperti apa, itu majhul. Dan bertanya tentang seperti apa teknisnya adalah bid’ah. Ini adalahj awaban paling aman dan inilah yang diajarkan Imam Ahmad kepada kita.

3. Tidak Ada Keterangan Bahwa Allah Ada Dimana-mana
Sebaliknya, tentang keterangan bahwa Allah SWT itu ada dimana-mana, sama sekali kita tidak mendapatkan dalil yang sharih.

Paling jauh ada ayat berikut ini saja :
Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihatapa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid : 4)

Namun kata ma’a tidak berarti menunjukkan tempat seseorang berada. Sebab dalam percakapan kita bisa mengatakan bahwaa ku menyertaimu, meski pada kenyataannya tida kberduaan. Sebab kebersamaan Allah SWT dalam ayat ini adalah berbentuk muraqabah ataup engawasan.

Seperti ketika Rasulullah SAW berkata kepada Abu Bakarra di dalam gua,”Jangan kamu sedih, Allah beserta kita”.Ini tidak berarti Allah SWT ikut masuk gua.Juga ketika Musa as berkata,”bersama ku tuhanku”, tidak berarti Allah SWT ada di pinggir laut merah saat itu.

Jikalau kamu tidak menolongnya makas esungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengeluarkannya sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Jangan lah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah besertakita."(QS. At-Taubah : 40)

Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku".(QS. As-Syu’ara : 62) [Dimanakah Allah ? Konsultasi& FAQOleh :Fakta 04 Jul 2004 - 7:34 am,Swaramuslim.net]

Allah Yang Maha Mulia, Dialah yang telah memulikan makhluk-Nya dengan segala kelebihan, Dia telah memberikan kemuliaan kepada manusia bukan karena status sosial dan keturunan tapi kemuliaan itu terletak pada taqwa hamba-Nya, semakin taqwa maka semakin mulia posisinya di hadapan Yang Maha Mulia;
”Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” [Al Hujurat 49;13].

Selayaknya pula kita meletakkan kembali Kemuliaan Allah sesuai dengan kapasitas-Nya dan keberadaan manusia sesuai dengan fitrahnya, inilah Kemuliaan Allah dimata hamba-Nya;

Pertama, Allah itu ahad; maksudnya adalah Allah saja yang memiliki sifat, pekerjaan dan zat-Nya yang tidak sama dengan makhluk-Nya. Allah ahad atas sifatnya, hanya Dia saja yang mempunyai kesempurnaan sifat, Allah ahad atas pekerjaan-Nya adalah hanya Allah saja yang mampu berbuat demikian menurut kehendak-Nya dan Allah Ahad dari segi zat-Nya, kejadian Allah tidak sama dengan kejadian makhluk demikian pula zat kejadian Allah tidak satupun makhluk berkewajiban untuk mengetahinya [112;1-4]
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."[Al Ikhlas 112;1-4]

Kedua, tidak ada yang menyamainya; walaupun sifat dan pekerjaannya juga banyak dimiliki oleh hamba-Nya tapi segala sifat dan pekerjaan itu jauh berbeda dengan apa yang dikerjakan hamba-Nya;
(Dia) Pencipta langit dan bumi. dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat [Asy Syura 42;11]

Ketiga, Tuhan bagi sekalian makhluk; semua makhluk yang ada di dunia ini Tuhannya adalah Allah walaupun tidak sedikit yang keliru mengambil tuhan, ada yang mengambil tuhan dari jenis jin, malaikat, manusia, batu, berhala serta apapun yang mereka ikuti dalam seluruh aturan yang dibuat manusia;
(yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah Dia; dan dia adalah pemelihara segala sesuatu.[Al An’am 6;102]

Keempat, tidak ada tuhan selain Dia; sehingga segala sembahan yang diambil manusia adalah bathil yang mempermudah mereka untuk masuk neraka tanpa hisab, inilah yang disebut dengan syirik, segala pengabdian manusia harus ditujukan kepada Allah semata;
Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".[Lukman 31;13]
Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam [6;162]
Kelima, Dialah Tuhan yang wajib ditaati; ibadah saja tidak cukup tanpa diiringi dengan ketaatan, sebagaimana iblis adalah makhluk Allah yang sudah banyak ibadahnya serta hamba Allah yang senior, tapi akhirnya terlaknat dan dikutuk Allah karena ketaatannya kepada Allah tidak terujud;
”Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka[1045] ialah ucapan. "Kami mendengar, dan Kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.”[An Nuur, 24;51] ,

Dengan cara demikianlah orang-orang yang mulia yaitu orang-orang yang beriman untuk memuliakan Yang Maha Mulia, sehingga eksistensi Allah sebagai Yang Maha Mulia tetap terjaga di hati hamba-Nya yang diujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Al Maajid, Allah Yang Maha Mulia, tiada kemuliaan yang ada pada kami tanpa Engkau yang memberikannya, berilah kami kemampuan untuk menjaga kemuliaan ini bersama iman, taqwa dan amal shaleh, tanpa itu semua maka kehadiran kami di dunia ini tidak beda dengan hewan melata lainnya, kokohkanlah dalam hati kami iman yang selalu istiqamah walaupun hidup penuh dengan ujian, fitnah dan cobaan, berilah kami ujian yang kami mampu untuk memikulnya.

Allah Yang Maha Mulia, Engkau yang memberikan kemuliaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau pula yang mencabut kemuliaan itu dari siapa yang Engkau kehendaki, Engkau yang memberikan Kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, sehingga dengan kekuasaan itu manusia menjadi mulia dan Engkau pula yang mencabut kekuasaan itu dari siapa yang Engkau kehendaki, Engkau berkuasa untuk berbuat menurut kehendak-Mu, Wallahu a’lam

https://www.youtube.com/watch?v=rqyTo5HXyqw
 
66. Al Wahid

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

[163]
Dan Tuhan kamu ialah Tuhan yang Maha Esa; tiada Tuhan (Yang berhak disembah) selain dari Allah, yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.

quran 2:163


Al-Wahid adalah sesuatu yang tidak bisa dipecah dan tidak ada duanya. Jadi Allah adalah satu-satunya dan tiada duanya. Maka bila ada orang mengatakan ada tuhan selain-Nya maka itu adalah perkataan batil.

Jika disebut Al-Wahid dalam konteks asmaul husna maka Dia adalah tunggal, tidak bisa dipecah, tidak bisa ditambah bilangannya menjadi dua dan seterusnya.

Adapun pengertian sesuatu yang tidak bisa dipecah adalah seperti benda berharga logam mulia. Disebut Al-Wahid karena tidak mungkin dibagi-bagi. Maka dikatakan Dia adalah Esa, Dia tidak ada bagiannya lagi. Demikian juga titik, tidak bisa dibagi.

Allah Ta’ala adalah Wahid dengan pengertian bahwa Allah mustahil terbagi pada Dzat-Nya, karenanya Allah tidak melahirkan dan dilahirkan. Karena jika melahirkan maka ia termasuk bagian dari yang dilahirkan. Begitu juga sebaliknya.

Adapun yang dimaksud tidak ada duanya adalah tidak ada tandingannya. Orang mungkin bisa mengatakan ini tuhan dan patung itu tuhan, tapi itu tidak sama dengan ke Tuhanan Allah. Tidaklah sama antara yang menciptakan dengan yang diciptakan. Selalu Allah katakan demikian di Al-Qur’an supaya hamba-Nya paham perbandingannya, bahwa tuhan yang sebenarnya memiliki sifat-sifat yang tidak akan pernah dimiliki oleh tuhan-tuhan yang diklaim oleh orang-orang kafir. Sampai-sampai Allah berfirman,

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah,” (Al-Hajj: 73).

Orang-orang kafir akan dimasukkan ke neraka bersama dengan tuhan-tuhan mereka. Lantas bagaimana tuhan bisa masuk neraka? Itu menunjukkan bahwa tuhan mereka tidak dapat memberi manfaat di dunia dan akhirat, bahkan untuk dirinya sendiri.

Termasuk manusia yang dianggap tuhan seperti Nabi Isa, Isa tidak dapat menyelematkan diri. Jika ia tuhan, ia tidak akan meminta bantuan Allah ketika dikejar-kejar mau disalib dan dibunuh. Itu menunjukkan bahwa kemusyrikan dan kekufuran membuat manusia *****, membuat manusia tidak memahami hakikat Tuhan dan hamba. Melihat sesuatu yang aneh sedikit saja dianggap tuhan.

Hanya karena melihat sesuatu yang aneh, lantas mereka jadikan sebagai tuhan. Seperti matahari mereka anggap aneh sehingga banyak orang yang menganggapnya tuhan. Bila logika seperti ini, maka tuhannya bisa banyak sekali.

Allah katakan, apakah sama orang yang memiliki satu tuhan yang satu dengan yang memiliki dua tuhan?. Pastilah tidak sama, orang yang memiliki dua tuhan pasti akan pusing, satu menyuruh A dan satunya lagi menyuruh B.

Bila ada dua tuhan yang mengatur bumi, maka bumi ini akan hancur. Tuhan satu minta supaya bumi berputar, satunya lagi minta bumi goyang.

Logika sederhana di atas menunjukkan bahwa Allah adalah Esa, tidak ada duanya. Beda halnya dengan makhluk yang mungkin ada duanya.

Dalam kehidupan manusia juga disebut ini orang satu-satunya jika tidak ada orang yang menyamainya dari komunitas dan masyarakatnya dalam hal kebaikannya. Orang seperti ini bisa disebut tiada duanya. Seperti halnya Abu bakar, beliau tidak ada dunya. Beliau unggul dalam semua hal.

Makhluk Allah bisa dikatakan tiada duanya alias tunggal karena ada perbandingannya dan waktunya. Karena mungkin saja akan muncul lagi orang semisalnya di waktu lain.

Untuk itu, tidak ada yang mutlak keesan-Nya kecuali Allah Ta’ala. Dengan demikian, Al-Wahid memiliki dua makna, yaitu tunggal dan tiada bandingannya. Tidak ada yang menyerupai-Nya dari sesuatu apapun. Logikanya sederhana, karena Allah adalah Khaliq (pencipta). Pencipta pasti akan menciptkan sesuatu di bawah kemampuan-Nya. Begitulah jauhnya perbedaan antara Khaliq dengan makhluk. Allah katakan,

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (Al-Ghasyiyah: 17-20)

Semua itu akan melahirkan jawaban bahwa Allah Esa, tidak ada duanya. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya mempelajari ilmu alam untuk memperkuat tauhid. Allah berfirman;

“Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat (Tanda-tanda Kekuasaan) kami di ufuk (tepi langit) dan pada diri mereka sendiri. Sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran ini sebenarnya (dari Allah). Tidakkah cukup bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas tiap-tiap sesuatu.” (Al-Ankabut : 53)

herb-garden_zpslohv70k1.jpg
 
67. Al Ahad

Salah satu Asma`ul Husna (nama-nama Allah I yang sangat baik) adalah Al-Ahad (Yang Maha Esa). Hal itu berdasarkan dalil-dalil dari Kitab dan Sunnah Nabi n. Di antaranya adalah firman Allah I:


قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Katakanlah Dialah Allah yang Maha Esa.” (Al-Ikhlas: 1)
Adapun dalam hadits Nabi n, terdapat dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah z dari Nabi n bahwa Allah I berfirman:

“Adapun cercaan anak Adam terhadap-Ku maka ucapannya bahwa Allah telah menjadikan untuk diri-Nya seorang anak, padahal Aku adalah Allah Yang Maha Esa dan yang menjadi tempat bergantung. Aku tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada bagi-Ku tandingan seorangpun.” (HR. Al-Bukhari)
Dalam hadits yang lain, dari Buraidah z:

“Bahwa Rasulullah n mendengar seorang berkata; Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan aku bersaksi bahwa Engkaulah Allah, tiada ilah yang benar kecuali Engkau Yang Maha Esa, dijadikan tempat bergantung oleh hamba-hamba-Nya.” (HR. At-Tirmidzi)
Makna Al-Ahad (Yang Maha Esa) antara lain:
1. Yang tiada yang menyerupainya, sebagaimana dikatakan oleh Al-Baihaqi.
2. Yang Maha tunggal, seperti dikatakan oleh Ibnul Atsir.
Bisa dilihat dalam buku Shifatullah ‘Azza wa Jalla Al-Waridah fil Kitabi was Sunnah hal. 42.
Sehingga Al-Ahad adalah yang tiada tandingan bagi-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya, dalam Uluhiyyah-Nya, Ketuhanan-Nya, dan dalam Rububiyyah-Nya, serta dalam Asma` dan Sifat-Nya (nama-nama dan sifat-sifat-Nya).
Dia Maha Tunggal dalam Rububiyyah-Nya, sehingga tiada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, tidak ada yang dapat melawan dan mengalahkan-Nya. Dia Maha Tunggal dalam Dzat, nama, dan sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya.
Dia Maha Tunggal dalam Uluhiyah-Nya sehingga tiada sesuatu pun yang berhak diibadahi kecuali Dia, dan tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Dia. (Lihat Ma’arijul Qabul, 1/136)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t mengatakan: “Al-Ahad yakni Yang menyendiri dengan segala kesempur-naan, keagungan, kebesaran, keindahan, pujian, hikmah, rahmah dan selainnya dari sifat-sifat kesempurnaan. Sehingga tidak ada yang menyerupai dan menyamai-Nya dalam satu sisi pun dari sisi-sisi yang ada.
Maka Dia Yang Maha Tunggal dalam kehidupan-Nya, sifat qayyumiyah-Nya, ilmu-Nya, kekuatan-Nya, kebesaran-nya, keindahan-Nya, pujian terhadap-Nya, hikmah-Nya, rahmah-Nya, dan sifat-sifat lain. Dia memiliki sifat-sifat itu pada puncak kesempurnaan.” (Lihat Bahjatu Qulubil Abrar, dinukil dalam kitab Syarh Asma` Allah Al-Husna fi Dhau`il Kitab was Sunnah, hal. 167)
Di antara nama Allah I juga adalah (Yang Maha Esa). Hal itu berdasarkan dalil dari Al-Quran di antaranya:

“Sesungguhnya Allah adalah Ilah Yang Maha Esa.” (An-Nisa: 171)

“(Lalu Allah berfirman): ‘Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?’ Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (Ghafir: 16)
Adapun dalam hadits Nabi n, di antaranya sabda Nabi n dalam doa-doa dan dzikirnya:

“Tiada Ilah yang benar kecuali Allah satu-satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya.”
Al-Baihaqi menyatakan: “Al-Wahid artinya Yang Maha Tunggal atau Esa, yang tetap menyendiri dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dikatakan pula artinya Yang tidak terbagi dalam Dzat-Nya, tidak ada yang menyerupainya dan tiada sekutu bagi-Nya. Dan ini merupakan sifat yang dengan Dzat-Nya Allah I berhak memilikinya.” (Lihat Shifatullah U Al-Waridah fil Kitab was Sunnah, hal. 265)

animals%20Images_zps2cacvqxj.jpg
 
68. Ash Shamad

Dasar penetapan

Nama Allah Ta’ala yang agung ini disebutkan dalam firman-Nya:

{قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ**


“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah ash-Shamad (Penguasa Yang Maha Sempurna dan bergantung kepada-Nya segala sesuatu)”(QS al-Ikhlaash:1-2).

Dan dalam sebuah hadits yang shahih Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum, “Apakah kalian tidak mampu membaca sepertiga (dari) al-Qur’an dalam satu malam?” Maka para sahabat radhiyallahu ‘anhum merasakan hal itu sangat berat dan meraka berkata: Siapa di antara kami yang mampu (melakukan) hal itu, wahai Rasulullah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Surat) Allah al-Wahid (Yang Maha Esa) ash-Shamad (Penguasa Yang Maha Sempurna dan bergantung kepada-Nya segala sesuatu) adalah (sebanding dengan) sepertiga al-Qur’an”[1].

Makna ash-Shamad secara bahasa

Ibnu Faris menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan dua makna, salah satunya adalah al-qashdu (tujuan), artinya: orang yang dinamakan dengan ini adalah pemimpin yang dituju (dijadikan rujukan) dalam semua urusan. Kemudian Ibnu Faris berkata: “Allah yang maha agung kemuliaan-Nya adalah ash-Shamad karena Dialah yang dituju oleh semua hamba-Nya dengan doa dan permohonan mereka”[2].

Al-Fairuz Abadi menjelaskan bahwa termasuk makna ash-Shamad secara bahasa adalah as-sayyid (pemimpin) karena selalu dituju (dijadikan rujukan), juga berarti yang kekal dan mulia[3].

Demikian juga Ibnu Manzhur menyebutkan bahwa makna ash-Shamad adalah yang dituju dan dijadikan sandaran[4].

Ibnul Atsir berkata: “Nama Allah ash-Shamad artinya as-sayyid (penguasa) yang mencapai puncak kemahakuasaan. Ada yang berpendapat: artinya adalah yang maha kekal abadi…Dan ada yang mengatakan: artinya adalah yang dituju (oleh semua makhluk) dalam segala kebutuhan mereka”[5].

Oleh karena itu, (dulunya) orang Arab menamakan para pemimpin mereka dengan “ash-shamad” karena merekalah yang dituju oleh orang-orang yang mempunyai keperluan dan terhimpunnya (sifat) kepemimpinan pada (diri) mereka”[6].

Penjabaran makna nama Allah ash-Shamad

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsir beliau[7] meriwayatkan ucapan shahabat yang mulia Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berkata: “Ash-Shamad adalah penguasa yang maha sempurna kekuasaan-Nya, maha mulia yang sempurna kemuliaan-Nya, maha agung yang sempurna keagungan-Nya, maha penyantun yang sempurna sifat penyantun-Nya, maha kaya yang sempurna kekayaan-Nya, maha perkasa yang sempurna keperkasaan-Nya, maha mengetahui yang sempurna pengetahuan-Nya, dan maha bijaksana yang sempurna hikmah/kebijaksanaan-Nya, Dialah yang maha sempurna dalam semua bentuk kemuliaan dan kekuasaan, Dialah Allah yang maha suci dan sifat-sifat ini hanyalah pantas (diperuntukkan) bagi-Nya”[8].

Lebih lanjut imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah memaparkan: “ash-Shamad adalah penguasa yang sempurna kekuasaannya, oleh karena itu dulunya orang Arab menamakan pemimpin mereka dengan nama ini, karena banyaknya sifat terpuji (yang terkumpul) pada diri orang tersebut…Maka sesungguhnya ash-Shamad adalah zat yang dituju (dijadikan sandaran) oleh hati manusia dalam ketakutan dan pengharapan (mereka), karena banyaknya sifat baik dan terpuji (yang terhimpun) padanya. Oleh karena itu, mayoritas ulama salaf, di antaranya Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Ash-Shamad adalah penguasa yang maha sempurna kekuasaan-Nya…”[9].

Senada dengan itu, syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi berkata, “Allah Ta’ala Dialah penguasa tunggal tempat menyandarkan segala kesulitan dan kebutuhan, Dialah Yang Maha Suci dan Tinggi dari (menyerupai) sifat-sifat makhluk, seperti makan, minum dan sebagainya…”[10].

Keterangan di atas menunjukkan bahwa nama Allah yang agung ini adalah termasuk dari nama-nama-Nya yang menunjukkan makna beberapa sifat (mulia), dan bukan hanya satu sifat. Ini sekaligus menggambarkan banyaknya sifat-sifat agung dan sempurna milik Allah Ta’ala[11].

Oleh karena itu, keterangan para ulama salaf sewaktu mengartikan nama Allah yang agung ini berbeda-beda, sebagaimana yang dinukil oleh imam Ibnu Jarir ath-Thabari dan imam Ibnu Katsir[12].

Dan semua makna tersebut adalah benar dan hanya pantas diperuntukkan bagi Allah Ta’ala.

Hal ini ditegaskan oleh imam Abul Qasim ath-Thabrani dalam ucapannya: “Semua makna tersebut adalah benar dan merupakan sifat-sifat Allah Ta’ala”[13].

Imam al-Bagawi berkata: “Yang lebih tepat adalah mengartikan kata “ash-shamad” dengan semua makna yang diterangkan (oleh para ulama), karena kata ini mengandung (semua) makna tersebut, maka ini mengandung kensekwensi tidak adanya (yang berhak disebut) “ash-Shamad” kecuali Allah Ta’ala, Yang Maha Agung dan Kuasa atas segala sesuatu. Nama ini khusus (diperuntukkan) bagi-Nya semata, Dialah yang memiliki nama-nama yang maha indah dan sifat-sifat yang maha tinggi”[14].

Pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah ash-Shamad

Jika seorang hamba mengetahui bahwa Rabbnya Allah Ta’ala memiliki semua sifat mulia dan sempurna, Dia maha perkasa dan tidak ada sesuatupun yang bisa mengalahkan-Nya, Dialah tempat bersandar dan bergantung semua makhluk-Nya, sehingga tidak ada cara untuk menyelamatkan diri dari kemurkaan-Nya kecuali dengan kembali kepada-Nya, dan Dialah satu-satunya yang dituju oleh semua makhluk untuk memenuhi segala kebutuhan, permintaan dan pengharapan mereka, maka ini akan menjadikan hamba tersebut selalu bersandar kepada-Nya semata, tidak meminta keperluannya kecuali kepada-Nya, tidak beribadah kecuali hanya kepadanya, serta tidak meminta pertolongan dan berserah diri dalam segala urusannya kecuali hanya kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

{أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ**

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS an-Naml:62)[15].

Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika kamu meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika kamu meminta pertolongan maka minta pertolonganlah kepada-Nya”[16].

Bahkan inilah inti kandungan dari al-Qur’an yang suci, yaitu firman Allah Ta’ala,

{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ**

“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS al-Faatihah:5).

Salah seorang ulama salaf berkata: “Surat al-Faatihah adalah rahasia (inti kandungan) al-Qur’an dan rahasia (inti kandungan) al-Faatihah adalah kalimat (ayat) ini”[17].

Penutup

Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia senantiasa menganugerahkan kepada kita petunjuk dan taufik-Nya, serta memudahkan kita untuk memahami dan mengamalkan kandungan dari sifat-sifat kesempurnaan-Nya.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا
أن الحمد لله رب العالمين


river%20hd%20wallpaper%2044_zps46yqta9j.jpg
 
69. Al Qadir

Semua yang diciptakan Allah tertata dengan rapi sesuai dengan ukurannya, bagaimana siang tidak pernah melampau malam dan malam tidak menabrak siang, angin berhembus sepoi-sepoi hingga menimbulkan sejuknya suasana, dikala sampai pada waktunya sang angin akan bertiup kencang, badai menghempaskan segala yang ada dan pada saatnya kembali tenang, hujan yang diawali dengan kumpulan awan sehingga menebal membentuk mendung semakin lama semakin berat, turunlah rintik hujan dengan gerimisnya sampai kepada hujan yang lebat bahkan dapat membawa banjir dan bah yang mencelakakan kehidupan manusia sekitarnya.

Allah menetapkan segala ukuran kejadian yang diciptakannya sesuai dengan sunnatullah atau hukum alam, semuanya harus tunduk kepada ketentuan dari Khaliq yang menciptakan alam raya ini, karena memang di dunia ini selain Allah adalah makhluk artinya yang diciptakan, termasuk di dalamnya adalah manusia, tumbuh-tumbuhan dan alam sekitarnya.

Allah juga menciptakan makhluk lainnya seperti jin dan malaikat dengan kejadian yang berbeda dan watak yang tidak sama pula, sehingga beragamlah makhluk Allah tersebut. Dengan memperhatikan kejadian seluruh makhluk membuat kita semakin yakin bila Allah itu Maha Perkasa,wajar bila seorang sufi mengatakan,”Barangsiapa yang mengenal asal kejadiannya maka dia akan mengetahui siapa Tuhannya

Allah Swt Maha Kuasa, Ia menciptakan alam semesta semuanya tidak menggunakan alat atau perkakas. Bila akan menjadikan sesuatu, cukuplah dengan kalimat “Kun” jadilah, lalu terjadilan seperti firman Allah dalam surat Yasin surat ke 36 ayat 82
”Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah Berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia”
“ Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan dia Telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak Kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak Kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan” [Al Furqan 25;2-3]”

Firman Allah dalam hadits qudsi ;”Aku adalah gudang yang tersembunyi, maka Aku suka agar Aku dikenal, lalu Aku ciptakan makhluk supaya ia mengenalku Aku”Dalam surat Yunus 10;3 Allah menyatakan firman-Nya;
”Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”

Jadi jelaslah yang mengatur semua kejadian alam, makhluk, manusia, binatang, matahari, bulan dan bintang, hidup dan mati adalah Allah Swt [Al Baqarah 2;255]
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Yang diciptakan Allah bukanlah sebatas isi langit dan bumi tapi seluruh jagad raya yang maha luas, hal ini digambarkan oleh seorang ilmuan yang bernama Albert Einstein,ketika dia meneropong bintang yang paling dekat dengan bumi,dia menemukan jarak satu juta tahun perjalanan cahaya, artinya bila kita menyorotkan senter ke bintang tersebut maka akan sampai cahaya senter tersebut setelah satu juta tahun lamanya. Dan ketika dia menyorotkan teropongnya pada bintang yang paling jauh maka dia menemukan jarak yang luar biasa yaitu 20 nonya dibelakang, sehingga kekagumannya tadi terucap dengan pendapat,”Ilmu tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu buta”.

Berfikir sejenak atas peristiwa alam yang terjadi sehari-hari akan membangkitkan kesadaran yang tinggi, bagaimana langit dan bumi diciptakan serta rintik hujan sampai ke tanah yang dapat menyuburkan tanaman;
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”[Al Baqarah 2;164].

Di angkasaraya dengan kebesaran penciptaNya berjuta-juta bintang berhamburan memberi warna indahnya di langit, pergantian musim dan cuaca, gumpalan awan yang membawa hujan dan sungai yang mengaliri air [Ash Shaffat 37;6]
“ Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, Yaitu bintang-bintang,

Kebesaran Allah tidak ditemui tandingannya dan hal ini diakui dengan kerendahan hati oleh orang-orang yang beriman yang mau mengetuk hatinya untuk membacakan segala peristiwa dari alam ini, sejak dari biji yang tak berdaya, tumbuhan, hewan dan manusia yang dihidupkan serta dimatikan dengan kekuasaan-Nya [Al An’am 6;95]

”Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?”

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari ciptaan Allah; lautan dengan segala kekayaannya, binatang serangga dengan berbagai jenisnya, tumbuh-tumbuhan dengan corak warnanya sampai kepada diri manusia itu sendiri [Al Jatsiyah 45;4]

“Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di mukabumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini”

Bagaimana awal mula diciptakan manusia yang berasal dari air mani dengan segala proses kejadiannya [As Sajdah 32;7-8]
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina”

Semua ciptaan Allah itu telah ditentukan kadar dan ukurannya sesuai dengan jenis makhluk yang diciptakan itu, setiap kandungan seorang ibu sesuai dengan kadar dan ukurannya itu akan lahir seorang bayi, selama hidup di dunia dalam batas waktunya kelak akan tua dan meninggal dunia, selama proses tertentu pula awan yang mengandung air akan turun hujan untuk kehidupan dan penghidupan penghuni bumi, bahkan bakteri dan baksil yang masuk ke tubuh manusia, pada waktu dan ukuran tertentu akan menjadi penyakit yang mencelakakan manusia bila tidak ditanggulangi dengan pengobatan yang intensif, Allah menjelaskan dalam firman-Nya;

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”[QS. 54;49]

Air dimana pun telah ditentukan ukurannyaoleh Allah akan mengalir dari tempat yang tinggi ketempat yang lebih rendah, api akan membakar karena memang demikian ukurannya, besi adalah benda keras yang sulit untuk ditembus oleh kekuatan manusia sedang busa akan mengapung di air karena ringannya dan itu sudah keputusan yang ditentukan oleh Allah sesuai dengan ukuran untuk benda-benda itu.

Dengan tanpa perhitungan Allah mencurahkan nikmat-Nya kepada manusia sehingga manusia dapat hidup tentram dan damai dengan segala fasilitas yang disediakan. Segala kebutuhan dan sarana hidup telah disediakan Allah untuk digali, diolah, dijaga dan dilestarikan sebagai amanat dari Allah, sejak dari hutan yang lebat lagi subur yang dapat menampung air sebagai persediaan dimusim kemarau, minyak yang terpendam di dalam bumi sebagai harta yang tak ternilai jumlah dan harganya sampai kepada lautan yang penuh dengan segala keperluan hidup manusia, semua itu untuk manusia, ”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan Bani Adam dan telah Kami berikan ia kendaraan di darat dan di lautan dan telah Kami berikan rezeki yang baik-baik, dan telah Kami lebihkan ia dari kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan yang sebenar-benarnya dilebihkan” [Al Isra’ 17;70].

Semua fasilitas tersebut bila tidak dijaga dan dipelihara oleh manusia maka kecelakaan, kesusahan dan malapetaka akan turun, hal ini terjadi karena ulah kelengahan manusia dan kejahilannya, ”Telah hadir kerusakan di bumi dan di laut dengan sebab tangan manusia, yang akhirnya Allah rasakan kepada mereka ganjaran dari sebagian yang mereka kerjakan, supaya mereka mau kembali kepada jalan Tuhan”[Ar Rum 30;41].

Hidup akan tentram dan damai, bila memperoleh jaminan dari Allah sebagai penguasa alam semesta; sehingga tidak ada rasa takut dalam memelihara sarana kehidupan ini. Sangatlah sia-sia bila manusia terlepas dari jaminan Allah walaupun nikmat Allah masih diterima tetapi diiringi oleh turunnya murka dan laknat Allah. Sedangkan orang yang berada dalam jaminan penguasa atau raja saja hidupnya merasa enak, apalagi di bawah lindungan dan jaminan Allah, dalam surat Al A’raf 7;96 Allah berfirman, ”Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan juga ayat-ayat Kami itu, maka mereka Kami siksa disebabkan perbuatannya”.

Begitu banyak sejarah yang terbentang di belakang kita yang dapat diambil sebagai pelajaran, tadinya mereka jaya dibawah berkah Allah akhirnya hancur berantakan karena laknat Allah. Itu semua karena kekafiran dan keingkaran manusia sebagaimana halnya kaum ’Ad, Tsamud, Bani Israil serta hancurnya negeri Saba’, pada masa jayanya negeri ini dengan bendungan Maghribnya diperintah oleh seorang Ratu bernama Bulqis yang akhirnya dapat ditaklukkan dan diislamkan oleh Nabi Sulaiman. Karena tentram dan damainya negeri ini dengan kemakmuran kehidupan penduduknya sehingga terukir dengan indahnya dalam Al Qur’an sebagai sebutan ”Baldatun Thayibatun Warabbun Ghafur” yaitu Negeri Yang Baik Dibawah Ampunan Allah, sampai pada Dinasti Mahrib yang dilanjutkan oleh raja-raja yang tidak cakap dalam memerintah, menyebabkan runtuhnya negeri Saba ’ pada tingkat yang paling rendah.

Terjadilah perebutan kekuasaan silih berganti, saling bertengkar merebut harta warisan dan merebut mahkota serta saling bunuh bahkan terjadi perang antar saudara. Akhirnya kerajaan yang dipegang oleh Ibnu Amin al Azdi yang lalai dengan fungsinya sebagai raja pemimpin rakyat. Dia tidak mempunyai sifat-sifat utama, bahkan pengecut, pengkhianat negeri, bejat moral, lalim, melalaikan segala amanat yang seharusnya dilaksanakan oleh seorang raja. Bendungan Maghribpun tidak diperhatikan lagi, dinding dan pintunya mulai rusak yang kian berat, batu-batunya pada lepas, disana-sini terdapat lubang menganga yang sangat menyedihkan, karena rakyat semakin melarat dan sengsara, seluruh penduduk telah melupakan ajaran Allah dan mengingkari nikmat Allah, mereka merusak semua bangunan umum termasuk bendungan raksasa itu yang setiap saat mengancam mereka.

Ketika terjadi hujan yang lebat dengan terus menerus, bendungan tersebut tidak mampu lagi menampung air yang semakin membanjir maka akhirnya bendungan Maghrib tersebut jebol dan hancur dengan menelan korban yang tidak sedikit dan negeri Saba’ hancur berantakan sebagai balasan atas kekufuran mereka, dalam surat As Saba’ Allah menerangka;

,”Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar yang menghancurkan segalanya dan Kami ganti kebun-kebun mereka itu dengan kebun-kebun yang ditumbuhi pohon-pohon berbuah pahit dan semacam pohon cemara dan sedikit pohon bidara”[As Saba’ 34;16-17].

HD%20Rain%20Wallpapers16_zpsfoy8eklv.jpg
 
70. Al Muqtadir

Allah Maha Kuasa atas segala makhluk-Nya, semua kehendak-Nya adalah mutlak dan Dia Yang Menundukkan segala sesuatu dengan caranya sendiri, sifat mulia-Nya itu dinamakan Al Muqtadir yaitu Yang Menundukkan, adalah nama dan sifat yang menunjukkan kekuasaan dan keperkasaan, tak satupun yang melakukan perlawanan kepada-Nya, perlawanan apapun akan dilemahkan-Nya. Kekafiran, kezhaliman, kefasikan dan kemunafikan adalah bentuk perlawanan yang disadari atau tidak oleh manusia, maka Allah akan melemahkan dan menundukkan hamba-Nya yang demikian dengan berbagai cara.

Bagaimana Allah menundukkan orang-orang dahulu yang melakuka kekafiran dengan terang-terangan, mereka tidak mampu berkilah dan berdalih lebih lama karena dengan waktu yang cepat sekali Allah menurunkan ancaman dan azab-Nya sebagai balasan bagi kekafiran mereka;


وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

وَلَقَدْ جَاءَ آلَ فِرْعَوْنَ النُّذُرُ

كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كُلِّهَا فَأَخَذْنَاهُمْ أَخْذَ عَزِيزٍ مُقْتَدِرٍ

أَكُفَّارُكُمْ خَيْرٌ مِنْ أُولَٰئِكُمْ أَمْ لَكُمْ بَرَاءَةٌ فِي الزُّبُرِ


“Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?dan Sesungguhnya telah datang kepada kaum Fir'aun ancaman-ancaman.mereka mendustakan mukjizat Kami semuanya, lalu Kami azab mereka sebagai azab dari yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa.Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari mereka itu, atau Apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-Kitab yang dahulu.”[Al Qamar 54;40-43]

Di dunia ini kita hadir sebagai bentuk ketundukan kepada Allah, sejak lahir kita tidak mampu untuk berbuat banyak, bahkan untuk menentukan bentuk wajah dan fisik kita saja terserah kepada Allah yang menciptakan.

Hampir dipastikan, kita semua tidak pernah bisa meraba bagaimana rupa takdir kita ke depan. Segala sesuatunya adalah misteri bagi kita.Acap kali kejadian dan semua peristiwa terjadi begitu saja tanpa bisa direkayasa.Terkadang kita juga tidak berkuasa dengan amalan kita sendiri.Kegagalan, kesuksesan, kaya miskin, antara kehidupan dan kematian adalah mutlak milik Allah. Bahkan, di beberapa ayat diinformasikan, salah satunya dalam QS ash-Shaaffat, [37]: 96, bahwa kita dan semua amalan kita Allahlah pembuat skenarionya, "Wallahu khalaqakum wa maa ta'maluun".


Setiap kejadian di atas muka bumi selalu diputuskan dengan rahmat-Nya, serta kudrat dan iradat-Nya.Seluruh ciptaan tak ada yang luput dari pengawasan-Nya, termasuk aktivitas manusia. Allah jua yang telah menuliskannya dalam lauh mahfuzh-Nya (QS Al-Hadid [57]: 22).
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Meski semua telah tertulis di zaman azali, manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar menjemput kebaikan.Tak ada satu kebaikan pun yang diraih dengan berpangku tangan.Semua itu meniscayakan adanya sebuah gerak, usaha, dan akselarasi.

Diam hanya akan membuat seseorang berkubang dalam penderitaan dan kegagalan. Jika kita adalah seorang pedagang atau pebisnis, mutlak untuk melakukan sesuatu.Sebaik-baik ikhtiar manusia adalah merujuk pada syariat-Nya, sebagai Zat yang mengatur kehidupan.
Allah yang menundukkan segala-galanya, semua apa yang ada di langit dan di bumi berada dalam genggaman-Nya, apapun keinginan Allah terhadap ciptaan-Nya akan sangat mudah bagi-Nya untuk melakukan, semua makhluk tunduk atas segala kemauan-Nya, apakah akan diselamatkan atau akan dibinasakan, tak ada yang dapat menghalangi-Nya;
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak ?jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru, dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah.”[Ibrahim 14;19-20]
Allah menundukkan kekuasaan Raja Namrud dikala Ibrahim menyampaikan da’wah kepadanya tapi da’wah itu ditolak bahkan dimusuhi.Raja mereka Namrud bin Kan'aan menjalankan tampuk pemerintahnya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak. Semua kehendaknya harus terlaksana dan segala perintahnya merupakan undang-undang yang tidak dapat dilanggar atau di tawar. Kekuasaan yang besar yang berada di tangannya itu dan kemewahan hidup yang berlebih-lebihan yang ia nikmati lama-kelamaan menjadikan ia tidak puas dengan kedudukannya sebagai raja. Iamerasakan dirinya patut disembah oleh rakyatnya sebagai tuhan. Ia berfikir jika rakyatnya mahu dan rela menyembah patung-patung yang terbina dari batu yang tidak dapat memberi manfaat dan mendatangkan kebahagiaan bagi mereka, mengapa bukan dialah yang disembah sebagai tuhan. Dia yang dapat berbicara, dapat mendengar, dapat berfikir, dapat memimpin mereka, membawa kemakmuran bagi mereka dan melepaskan dari kesengsaraan dan kesusahan.Dia yang dapat mengubah orang miskin menjadi kaya dan orang yang hina-dina diangkatnya menjadi orang mulia.di samping itu semuanya, ia adalah raja yang berkuasa dan memiliki negara yang besar dan luas.

Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruknya lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung. Ia sebagai calon Rasul dan pesuruh Allah yang akan membawa pelita kebenaran kepada kaumnya,jauh-jauh telah diilhami akal sihat dan fikiran tajam serta kesedaran bahawa apa yang telah diperbuat oleh kaumnya termasuk ayahnya sendiri adalah perbuat yang sesat yang menandakan ke*****an dan kecetekan fikiran dan bahawa persembahan kaumnya kepada patung-patung itu adalah perbuatan mungkar yang harus di banteras dan diperangi agar mereka kembali kepada persembahan yang benar ialah persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan pencipta alam semesta iniAllah SWT menceritakan peristiwa tersebut dalam firman-Nya:

"Dan sesungguhnya telah kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui keadaannya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: 'Patung-patung itu apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya ?' Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.' Ibrahim menjawab: 'Sesungguhnya kamu dan bapak- bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.' Mereka menjawab: 'Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?' Ibrahim berkata: 'Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas apa yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala- berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.' Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim.' Mereka berkata: 'Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.' Mereka berkata: '(Kalau demikian) Bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikannya.' Mereka bertanya: 'Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab: 'Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.' Maka mereka telah kembali kepada kesedaran mereka dan lalu berkata: 'Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang- orang yang menganiaya (diri sendiri).' Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahawa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' Ibrahim berkata:, maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun tidak dapat pula memberi mudarat kepada kamu?' Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Mereka berkata: 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan- tuhan kami jika kamu benar-benar hendak bertindak.'" (QS. al- Anbiya': 51-68)
Nabi Ibrahim mampu menundukkan mereka dengan argumentasi dan logik berfikir yang sehat. Tetapi mereka membalasnya dengan menetapkan akan menggantungnya di dalam api. Sungguh ini sangat menghairankan. Suatu mahkamah yang mengerikan digelar di mana si tertuduh akan dihukum dengan pembakaran.
Namun Allah membela nabi-Nya dengan menundukkan api yang biasanya membakar apalagi sedang membara pasti akan membinasakan siapa yang mengenainya tapi dikala itu sang api, patuh atas perintah Tuhannya;
Manusia yang melihat peristiwa itu berdiri agak jauh dari galian api itu kerana saking panasnya. Lalu, seorang tokoh dukun memerintahkan agar Ibrahim dilepaskan ke dalam api. Tiba-tiba malaikat Jibril berdiri di hadapan Nabi Ibrahim dan bertanya kepadanya: "Wahai Ibrahim, tidakkah engkau memiliki keperluan?" Nabi Ibrahim menjawab: "Aku tidak memerlukan sesuatu darimu." Nabi Ibrahim pun dilepaskan lalu dimasukkan ke dalam kubangan api. Nabi Ibrahim terjatuh dalam api. Api pun mulai mengelilinginya, lalu Allah SWT menurunkan perintah kepada api, Allah SWT berkata:

"Kami berfirman: Wahai api jadilah engkau dingin dan membawa keselamatan kepada Ibrahim." (QS. al-Anbiya': 69)

Api pun tunduk kepada perintah Allah SWT sehingga ia menjadi dingin dan membawa keselamatan bagi Nabi Ibrahim. Api hanya membakar tali- tali yang mengikat Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim dengan tenang berada di tengah-tengah api seakan-akan beliau duduk di tengah-tengah taman. Beliau memuji Allah SWT, Tuhannya dan mengagungkan-Nya. Yang ada di dalam hatinya hanya cinta kepada sang Kekasih, yaitu Allah SWT. [Kisah nab-nabi, Dahalan bin Che Mat (Pak Ndak).
Begitu juga Allah menundukkan penguasa-penguasa yang zhalim lainnya dengan berbagai kejatuhan yang dialami hingga memberikan siksa dan azab-Nya. Allah juga menundukkan kegagahan Umar bin Khattab dengan hidayah sehingga masuk islam dan membelanya. Rasulullahpun selalu berdo’a kepada Allah agar hati yang dimilikinya selalu hidup dalam keadaan kokoh dalam agama ini “Ya Muqallabil Qulub Tsabbit Qalbi ‘ala dinik”, Wahai yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku ini dalam agama-Mu’. Artinya kita sendiri tidak mampu menundukkan hati kita, karena jangankan hati, sedangkan diri kita sendiri di bawah ketundukan Allah.
Ya Al Muqtadir, Allah Yang Menundukkan, kekuasaan-Mu tak satupun yang mampu menandingi, dengan taufiq dan hidayah-Mu berilah hamba-Mu ini kemampuan untuk menundukkan keangkuhan dan kecongkakan yang ada pada jiwa kami, tundukkanlah nafsu kami untuk menyelamatkan agama kami, lemahkanlah sifat-sifat negative kami hingga menjadi positif. Tundukkan kemalasan, keengganan dan kelalaian kami dalam menjalankan ibadah kepada-Mu.
Ya Allah, Al Muqtadir, berilah kami kemampuan untuk menundukkan pandangan kami agar terjaga dari fitnah dunia sebagaimana yang Engkau perintahkan;
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat", Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. “[An Nuur 24;30-31]
Ya Ilahi, Al Muqtadir, semua makhluk yang Engkau ciptakan berada dalam genggaman-Mu, mereka patuh dan taat, mereka tunduk dengan segala sunnah-Mu sehingga kehidupan ini berjalan harmonis, jangan Engkau siksa kami ya Allah karena masih banyaknya dari hamba-hamba-Mu yang belum tunduk hatinya kepada kebenaran, berilah hidayah-Mu ya Allah sehingga kami terbimbing di jalan-Mu, wallahu a’lam

https://www.youtube.com/watch?v=VVbKpbYTnS8
 
Back
Top
Log in Register