BTC USD 85,417.5 Gold USD 4,140.83
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

71. Al Muqaddim

Allah mendahulukan segala sesuatu dengan kekuasaan, ilmu, dan kebijaksanaan yang dimiliki-Nya. Dia berhak mengutamakan siapa saja yang Dia kehendaki. Allah tidak akan menunda sesuatu, kecuali karena mengandung hikmah dan kebaikan. Allah juga tidak akan mempercepat segala sesuatu, kecuali ada kebaikan di balik itu. Allah mendahulukan peringatan sebelum menurunkan azab.



قُلْ لَكُمْ مِيعَادُ يَوْمٍ لا تَسْتَأْخِرُونَ عَنْهُ سَاعَةً وَلا تَسْتَقْدِمُونَ




Katakanlah, "Bagimu ada hari yang telah dijanjikan (hari kiamat), kamu tidak dapat meminta penundaan atau percepatannya sesaat pun." [Q.S. Saba': 30]



Akhlak Kita Terhadap Sifat Al Muqaddim:



1. Selalu mendahulukan diri dalam berbuat kebaikan.

2. Tidak mengerjakan sesuatu yang sia-sia tanpa tujuan yang bermanfaat.

3. Tidak suka menunda-nunda pekerjaan.

4. Tidak mendahulukan kepentingan satu orang dengan merugikan kepentingan orang banyak.



Kesimpulan:



Allah Maha Mendahulukan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Allah mendahulukan peringatan sebelum mendatangkan azab. Allah mendahulukan anugerah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Jika Allah menghendaki sesuatu mendahului yang lain, tidak ada yang mampu menghalangi.

https://www.youtube.com/watch?v=iPckMoeoiDI
 
72. Al Muakhir

Allah yang menciptakan alam raya dan seluruh makhluknya, Dia menghidupkan dan mematikan, Dia yang memulai kehidupan bagi makhluknya dan Dia pula yang mengakhirinya, Dia berkuasa atas segala sesuatunya tanpa dikuasai oleh yang lain. Bila kehidupan makhluknya akan berakhir maka tidaklah dapat didahulukan oleh siapapun dan tidak pula tidak dapat diundurkan waktunya, semuanya dibawah kekuasaan Khaliq, sebagaimana firman-Nya dalam surat Hud 11;104

وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلَّا لِأَجَلٍ مَعْدُودٍ

”Dan Kami Tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu”.

Karena kematian itu hanya Allah saja yang tahu kapan terjadinya sehingga banyak orang yang lupa bahkan melupakannya padahal sudah banyak contoh yang tampil di depan matanya tentang kejadian kematian, tapi seolah-olah kejadian itu hanya untuk orang saja, dia merasakan tidak akan tersentuh dengan akhirnya kehidupan. Itulah makanya seorang mukmin agar mewaspadai akhir dari kehidupan ini sebelum datang waktunya, ketika Al Muakhir memerintahkan untuk berakhir kehidupan hamba-Nya maka tidak dapat untuk mengelak apalagi menolaknya, upaya untuk mengingat kematian itu adalah berziarah.

Salah satu hikmah berziarah ke kuburan dan hikmah melihat orang sakit hingga ada yang meninggal adalah pelajaran bagi yang hidup untuk zikrul maut yaitu mengingat kematian dalam rangka untuk menyuburkan rohani sehingga iman dan taqwa dapat bertahan di dalam hati. Rasulullah bersabda;"Perbanyaklah mengingat akan pemusnah segala kenikmatan [Kematian] [HR.Turmuzi] "Siapa yang mau berziarah kubur hendaklah berziarah, sebab ziarah kubur bisa mengingat kematian".

Pada kesempatan lain Rasulpun menyatakan bahwa orang yang mengingat mati adalah orang yang pintar, karena pandangannya jauh ke depan yaitu hari yang lebih baik kedepan selain itu juga berupaya mempersiapkan bekal di dunia ini dengan amal ibadah.Umar bin Khattab bila dia teringat akan kematian maka badannya gemetar bagai burung kedinginan dan menangis, sedangkan Abu Darda punya kegemaran duduk dekat kuburan dalam rangka mengingat mati.

Akhir kehidupan makhluk di dunia ini termasuk manusia adalah kematian yang dialaminya, hal itu tidak dapat lari darinya, semua akan mengalami kematian tanpa membedakan satu sama lain. Karena hal itu pasti akan dilalui oleh manusia maka persiapan yang perlu dilakukan adalah menyuburkan rohani dengan ritual yang meringankan perjalanan kematian itu.

Rohani akan tetap subur dengan pertumbuhan yang baik bila berupaya membayangkan hari akherat dan yang berkaitan dengan kejadiannya.Nanti semua manusia dikumpulkan di Padang Mashar dengan telanjang dan tanpa alas kaki dan tidak saling kenal mengenal antara satu dengan lainnya, Matahari ketika itu sangat dekat sekali jaraknya hanya diatas kepala manusia, bumi sebagai saksi atas perbuatan manusia di dunia ketika hidup dahulu, termasuk anggota badan juga sebagai saksi atas amal perbuatan manusia sebagaimana firman Allah dalam surat Yasin 36;65
"Pada hari Ini kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan''

Neraka itu memiliki lembah-lembah yang dalam sekali sehingga ada lembah yang kalau kita lemparkan sebuah benda ke dalamnya, maka akan sampai benda itu ke dasar lembah selama empat puluh ribu tahun lamanya, di neraka disediakan palu godam untuk menyiksa orang-orang yang berdosa, tangisan mereka sangat mengerikan sekali, orang-orang yang masuk neraka mereka memiliki muka yang buruk dan baunya busuk sekali, dikala penduduk neraka menghendaki minum mereka akan diberi minuman dari nanah dan darah;
"Di hadapannya ada Jahannam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah" [Ibrahim 14;16]
"Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya kami Telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek"[Al Kahfi 18;29]

Ya Al Muakhir, yang mengakhiri makhluknya, mengakhiri dari kehidupan yang dilaluinya, mengakhiri aktrivitasnya dari segala kegiatan yang selama ini digeluti sehingga tidak mampu lagi berbuat, jangankan untuk orang lain sedangkan untuk dirinya sendiri tidak mampu dilakukan, mengakhiri makhluknya dari kehidupan yang penuh dengan dosa dan maksiat, kembali menemui Tuhannya dengan taubat dan mensucikan diri, mengakhiri makhluknya dari semua jabatan yang pernah disandangnya, kekuasaan bagaimanapun lama bercokol akan lengser juga dengan sendirinya karena memang semua yang dimiliki manusia adalah amanah yang dititipkan sampai batasnya akan dikembalikan kepada pemilik sebenarnya;
“ Dankepunyaan Allah-lahapa yang di langitdan yang di bumi, dansungguh kami Telahmemerintahkankepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. tetapi jika kamu kafir Maka (ketahuilah), Sesungguhnya apa yang di langitdanapa yang di bumihanyalahkepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.”[An Nisa’ 4;131]

Manusia hanya mampu merencanakan, memperjuangkan dan merebut kekuasaan serta kemuliaan dengan cara apa pun, tapi kekuasaan dan kemuliaan itu milik Allah, yang hanya diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kelak Allah pun berhak untuk mencabut kembali kekuasaan dan kemuliaan itu dari siapa yang dikehendaki-Nya, mampu tidak akan mampu mempertahankan kekuasaan dan kemuliaan yang sudah diraihnya, suatu hari kelak, semuanya itu akan berakhir karena sudah habis masanya atau akan diakhiri secara paksa oleh yang berhak untuk merenggut semuanya itu.
’Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu’.[Ali Imran 3;26]

Ya Al Muakhir, Allah yang mengakhiri makhluk-Nya, akhirilah kehidupan kami ini dalam keadaan baik, yaitu kehidupan yang keislaman kami dalam keadaan baik tanpa dicampuri dengan syirik, berilah kami iman yang tauhid yaitu iman yang hanya menjadikan Engkau saja sebagai Tuhan kami, berilah kami ilmu yang selalu bertambah sehingga dengan ilmu itu kami dapat mengetahui yang baik dan berupaya untuk memperjuangankan yang baik itu, dan beri pula kami pengetahuan tentang yang buruk sehingga kami berupaya untuk menyingkirkan yang buruk itu dalam kehidupan kami, akhirilah kehidupan kami ya Allah setelah Kau berikan kepada kami rezeki yang berkah yaitu rezeki yang halal dan baik untuk kehidupan kami, beri pula kami kemampuan untuk membelanjakan rezeki itu kepada hal-hal yang engkau perintahkan.

Ya Al Muakhir, akhirilah kehidupan hamba-Mu ini setelah kami bertaubat, bertaubat dari segala dosa dan maksiat yang hamba lakukan, karena terlalu banyak dosa yang kami lakukan sehingga malu rasanya kalau hamba mengharapkan lebih banyak lagi dari-Mu, ampunilah kami ya Allah dari segala dosa-dosa yang keji dan kemungkaran yang kami lakukan selama ini, kalaulah Engkau tidak mengampuni dosa-dosa kami maka sungguh ya Maukhir, kami termasuk hamba-Mu yang menganiaya diri, maka celakalah akhir dari kehidupan ini.

Ya Al Muakhir, berilah kami rahmat ketika datangnya maut yang kami tidak mampu untuk mengelak dan menolaknya, dengan rahmat-Mu ya Allah kami akan melalui sakaratul maut dengan baik dan berilah ampunan-Mu ya Allah sebelum akhir kehidupan ini, tanpa ampunan-Mu maka hamba akan melalui akhir kehidupan ini dengan susah payah sebagaimana susahnya orang-orang kafir ketika menghadapi maut.
Ya Al Muakhir, jadikanlah kami orang-orang yang siap menghadapi maut, mengakhiri kehidupan ini dengan ikhlas tanpa dibelenggu oleh dunia dan isinya, ringankanlah kami menghadapi perjalanan akhir ini bersama-sama orang-orang yang shaleh walaupun hamba ini tidak orang shaleh, berilah hamba rahmat-Mu sebagaimana yang Engkau berikan kepada para nabi dan rasul-Mu walaupun hamba ini bukanlah nabi dan rasulmu, rahmatilah hamba-Mu ini ya Allah dengan ampunan dan kesudahan yang baik dari-Mu sebagaimana rahmat itu Kau berikan kepada para syuhada’ walaupun hamba bukanlah syuhada’, dengan rahmat-Mu itulah kelak hamba akan mendapatkan ampunan-Mu dan Syurga-Mu, wallahu a’lam

sunset-sea_00382491_zpsbzola03u.jpg
 
Last edited:
73. Al Awwal

Bismillahirrahmanirrahiim

Cara mulia dan terpenting yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah adalah dengan bertawasul kepadaNya dengan nama-namaNya yang baik.Allah telah memerintahkan kita dalam Al-Qur'an untuk berdoa dengan menyebut nama-namaNya,sebagaimana firmanNya : "Hanya milik Allah-lah al-Asma al-Husna',maka bermohonlah dengan menyebut Asmaul al-Husna' itu dan tinggalkan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam ( menyebut ) nama-namaNya.Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
( QS. Al-A'raf " 180 ).
Rasulullah SAW juga bersabda : " Sesungguhnya Alah memiliki sembilan puluh sembilan nama,seratus kurang satu,barangsiapa menjaganya.ia akan masuk Jannah ".
( HR. Bukhari dan Muslim ).

Al-Awwal adalah Zat yang tidak didahului sesuatupun sebelumNya, Dialah Zat yang Mahatinggi di atas segala sesuatu, Dialah Zat yang Mahakaya tidak perlukan sesuatupun.
Nama ini di sebutkan di dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ


" Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu "
( QS. Al-Hadid : 3 ).

Al-Awwal adalah Zat yang tidak didahului sesuatupun sebelumNya, Dialah Zat yang Mahatinggi di atas segala sesuatu, Dialah Zat yang Mahakaya tidak perlukan sesuatupun.Dialah yang lebih dahulu dari selainNya.Tiada satu makhluk pun yang dapat menandingi dan menyamai kesempurnaan sifatNya, karena Allah itu Esa dalam Zat, sifat dan PerbuatanNya.

Al-Awwal adalah Zat yang memiliki sifat awwaliyah, dan sifat ini mengandung sifat dzatiyyah yang menunjukkan bahwa sifat awwaliyahNya adalah bersifat mutlak, juga ketinggian yang tiada dimiliki kecuali oleh Allah.

Doa-doa yang berkaitan dengan nama Al-Awwal :
Setiap Rasululluh hendak beranjak ke tempat tidur, beliau berdoa :


" Ya Allah, Rabbnya langit dan bumi, dan Rabbnya Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, Rabb yang membelah butit tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil, dan Al-Qur'an.Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya.Ya Allah, Engkaulah Yang Mahaawal, tidak ada sesuatu pun sebelumMu, Engkaulah Yang Mahaakhir, tidak ada sesuatu pun setelahMu.Engkaulah yang Mahatampak, tidak ada sesuatu pun yang lebih nyata daripada Engkau.Engkaulah Yang Maha Tersembunyi, tidak ada sesuatu pun yang lebih tersembunyi daripada Engkau, lunasilah hutang kami dan jauhkanlah kami dari kefakiran ".
( HR. Muslim ).

Orang yang mengesakan Al-Awwal akan yakin bahwa Allah adalah Zat Yang Mahaawal dan Mahakaya baik sifat maupun ZatNya.Allah tidaklah mencari sesuatu sifat yang (sebelumnya) tidak ada, tidak pula mencari sesuatu (sifat) kesempurnaan yang tidak ada pada diriNya sebelum itu.Berbeda dengan keadaan makhluk, untuk mencapai suatu kesempurnaan maka ia harus berusaha terlebih dahulu.

Jika seorang muslim sudah menyadari bahwa ia berasal dari tanah, ada permulaan dan penghabisan, meyakini bahwa hidupnya hanya untuk beberapa waktu, maka ia akan meyakini bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah, Rabb semesta alam.
Amal ketaatan yang telah dilakukannya adalah semata-mata karena taufik dan karunia Allah, serta meyakini bahwa segala sesuatu akan kembali ke asalnya.

Adapun pengaruh nama tersebut terhadap perangai seorang hamba adalah dapat memunculkan kecintaan untuk selalu mencari kebaikan, selalu memprioritaskan segala bentuk perintah Allah, selalu berlomba-lomba dalam mencari pahala.

Juga dapat memberikan motivasi untuk selalu mengerjakan shalat pada awal waktu dan selalu berusaha untuk berada di shaf terdepan, selalu bersungguh-sungguh untuk bisa mengungguli orang lain dalam hal ibadah, demikian pula sikapnya terhadap berbagai amal kebajikan.

Semoga bermanfaat.Marilah kita untuk senantiasa Mengajak Dan Menebar Kebaikan bagi para sesama.

Kami beristighfar kepada Allah.Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala melimpahkan shalawat,salam dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam,keluarga dan para shahabatnya serta seluruh pengikut beliau.
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaa hailla anta astaghfiruka wa atubu ilaika...

Wassalam...

fabulous_wallpaper_nature_animals_zpsdailzcg9.jpg
 
74. Al Akhir

Al-Akhir adalah Zat yang memiliki sifat kekal dan Mahaakhir yang tidak ada sesuatu pun setelahNya.Dia Mahakekal tatkala semua makhluk hancur, Mahakekal dengan kekekalannya.

Nama ini disebutkan di dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ


" Dialah Yang Awal dan Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu ".
( QS. Al-Hadid : 3 ).

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
" Ya Allah, Engkaulah Yang Mahaakhir, yang tidak ada sesuatu setelahMu ".
( HR. Muslim ).

Al-Akhir adalah Zat yang memiliki sifat kekal dan Mahaakhir yang tidak ada sesuatu pun setelahNya.Dia Mahakekal tatkala semua makhluk hancur, Mahakekal dengan kekekalannya.Adapun kekekalan makhlukNya adalah kekekalan yang terbatas, seperti halnya kekekalan Jannah, neraka dan apa yang ada di dalamnya.Jannah adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan ketentuan, kehendak, dan perintahNya.

Allah berkehendak untuk menetapkan makhluk yang kekal dan yang tidak, namun kekekalan makhluk itu tidak secara zat dan tabiat, karena secara tabiat dan zat, seluruh makhluk ciptaan Allah adalah fana (tidak kekal).Sifat kekal tidak dimiliki oleh makhluk, kekekalan yang ada hanya sebatas kekal untuk beberapa masa sesuai dengan ketentuanNya.

Sedangkan zat dan sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala seperti wajah, keperkasaan, kemahatinggian, rahmat, tangan, kemampuan, kerajaan, dan kekuatan Allah adalah sifat yang kekal abadi.Kekal adalah sifat Zat Allah, karena Allah adalah Zat yang Mahaakhir tiada sesuatupun setelahNya.

Doa-doa yang berkaitan dengan nama Al-Akhir
Rasulullah berdoa dengan doa berikut :


" Ya Allah, Engkau adalah Mahaawal yang tiada sesuatu sebelumMu, Engkau adalah Mahaakhir yang tiada sesuatupun setelahMu, aku berlindung kepadaMu dari kejahatan setiap makhluk yang ubun-ubunnya berada di tanganMu, dan aku berlindung kepadaMu dari dosa dan sifat malas dan aku berlindung kepadaMu dari adzab kubur dan fitnahnya, aku berlindung kepadaMu dari perbuatan dosa dan terlilit hutang.Ya Allah, bersihkan hatiku dari dosa sebagaimana Engkau bersihkan baju putih dari najis.Ya Allah, jauhkan diriku dan kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat ".
( Mustadrak al-Hakim (1922 ) ).

Orang yang mengesakan Al-Akhir akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup yang tiada tujuan hidup selainNya, tidak ada permintaan kepada selainNya, dan segala kesudahan tertuju hanya kepadaNya, dan segala kesudahan tertuju hanya kepadaNya.Oleh sebab itu, jadikanlah akhir kesudahan kita hanya kepadaNya, karena sungguh akhir kesudahan hanya kepada Rabb kita, seluruh sebab dan tujuan jalan akan berujung ke haribaanNya semata.

Orang yang mengesakan Al-Akhir akan selalu merasa membutuhkan Rabbnya, ia akan selalu mendasarkan apa yang diperbuatnya kepada apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk hambaNya, karena ia mengetahui bahwa Allah adalah pemilik segala kehendak, hati dan niat.

Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk menyimpang darinya maka ia akan menyeleweng, sebaliknya siapa yang dikehendaki selalu lurus dalam niat dan kehendaknya maka ia kan berlaku lurus sesuai ketetapanNya.
Dialah Allah yang menciptakan makhluk sesuai dengan ketentuan dan kehendakNya.Dia pula yang menyelamatkan makhluk dari qadhaNya dengan qadhaNya pula.

Orang yang mengesakan Al-Akhir akan berlindung dari dirinya dengan diriNya, semua urusan dan hukum adalah milikNya, sesuatu yang dikehendakiNya untuk tidak terjadi maka tidak akan terjadi.Sebaliknya, jika Dia menghendaki untuk tidak terjadi maka tidak akan terjadi.

Mahasuci Allah Zat yang tiada seorang pun bisa sampai kepadaNya kecuali dengan petunjukNya, Dia tidak di taati kecuali dengan kehendakNya, kemuliaan di sisiNya tidak akan bisa di raih kecuali dengan ketaatan kepadaNya, tidak ada bisa taat kepadaNya, kecuali dengan taufik dan pertolonganNya.
Walhasil, seluruh urusan kembali kepadaNya, sebagaimana seluruh urusan itu bersumber dariNya.Dialah Zat Yang Mahasuci, Yang Mahaawal dan Yang Mahaakhir.

Semoga bermanfaat.Marilah kita untuk senantiasa Mengajak Dan Menebar Kebaikan bagi para sesama.

Kami beristighfar kepada Allah.Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala melimpahkan shalawat,salam dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam,keluarga dan para shahabatnya serta seluruh pengikut beliau.
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaa hailla anta astaghfiruka wa atubu ilaika...

Wassalam...

6-autumn-nature-sandbox-images_2053316_zpsfnfcw7bu.jpg
 
75. Az Zahir


هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ


" Dialah Yang Awal dan Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu ".
( QS. Al-Hadid : 3 ).



Dalam Asmaul Husna salah satu nama Allah adalah AD-DZAHIR artinya Maha Nyata.

Allah ta’ala Dzahir sebagaimana firmanNya yang artinya
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” ( Al Baqarah: 186).
“Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat” (QS Al-Waqi’ah: 85).
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf: 16)
Allah swt berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)“. (QS Al-’Alaq [96]:19 )

Allah itu dekat itu bukan berarti bahwa Allah ta’ala bertempat di bumi , di langit atau di mana-mana. Maha suci Allah ta’ala dari “di mana”.

Allah itu dekat dapat kita yakini dengan SifatNya, NamaNya dan perbuatanNya sedangkan SifatNya,NamaNya dan perbuatanNya tidak berpisah dengan dzatNya. Jadi dengan sifatNya,NamaNya dan perbuatanNya lah kita menjadi seolah-olah melihat dzatNya inilah yang dinamakan dengan Ihsan atau Tasawuf dalam Islam yang salah satu pokoknya adalah tentang mengenal Allah ta’ala (ma’rifatullah).

Hal yang menarik adalah sebagian muslim ada yang memahami bahwa Allah ta’ala bertempat di atas Arasy dan sebagian lain memahami bahwa di atas Arasy bukan maknanya bertempat di atas Arasy.

Bagi yang berpemahaman bahwa “di atas Arassy” bukan sebagai tempat dzatNya , tentu juga memahami bahwa dzatNya tidak di langit dalam arti langit sebagai tempat sehingga tidak membenarkan orang yang menunjuk ke langit (ke arah awan berada) untuk menjawab pertanyaan “di mana Allah ?”. Maha suci Allah dari “di mana”

Sebagian muslim memahami bahwa Allah itu dekat dengan ilmuNya bukan dzatNya berdasarkan bahwa ilmuNya meliputi makhlukNya sedangkan dzatNya bertempat di atas Arasy.
Bagaimanakah mungkin dzatNya berpisah dengan namaNya, sifatNya atau perbuatanNya.

Sebagian muslim memahami bahwa Allah menguasai atau meng-atas-i semua makhlukNya termasuk Arasy.
Mungkin ada yang bertanya apakah Allah ta’ala tidak menguasai di bumi ?
Pertanyaan seperti inilah yang memahami bahwa Arasy adalah tempat bagi dzatNya

Sayyidin Ali ra mengatakan “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya“.

Allah berfirman dalam hadist Qudsi:
“Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.”

“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka aku ciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku”.

Tuhan menciptakan makhluk supaya mengenal Dia dengan sebenar-benar kenal, berhubungan dengan mesra, terus menerus berdialog dengan Tuhan agar kita terus terbimbing kejalan-Nya.


121_zpsdggfpu88.jpg
 
7. Al Batin

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari sifat-sifat Allah yang terkandung pada asmaul husna, tidak sedikit hikmah yang dapat dipetik bagi orang-orang yang mau membaca dan mempelajari asmaul husna sehingga asma ul husna itu ibarat samudera luas yang diarungi oleh siapa yang mau mengarunginya, sangat luas ilmu yang dapat dipetik dari kandungan asmaul husna itu sehingga dia ibarat hutan belantara yang masih lebat belum terjamah.

Allah itu punya nama yang indah dari sekalian nama indah yang lainnya yaitu Al Bathin, Yang Tersembunyi, apa yang terkandung dari makna ini ? kita ambil beberapa pelajaran yang diungkapkan, Allah berfirman;

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ


“Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.”[Al Hadid 57;3]

Yang dimaksud dengan: yang Awal ialah, yang telah ada sebelum segala sesuatu ada, yang akhir ialah yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah, yang Zhahir ialah, yang nyata adanya karena banyak bukti- buktinya dan yang Bathin ialah yang tak dapat digambarkan hikmat zat-Nya oleh akal.

Banyak kejadian di dunia ini yang tidak bisa dianalisa oleh akal manusia, kejadian itu diluar kemampuan manusia untuk mencernanya tapi mengandung hikmah yang luar biasa, karena keimananlah sehingga kejadian yang luar biasa itu diterima oleh ummat manusia, tanpa iman maka hal yang luar biasa itu untuk sementara ditolak, setelah sekian tahun bahkan abad melalui penemuan penelitian barulah diakui kebenaran itu.

Nabi Musa pernah ditanya oleh muridnya tentang orang yang paling pintar saat itu, maka dia menjawab bahwa dialah orang yang paling pintar.Tidak begitu lama Allah menegur Musa bahwa masih ada hamba Allah yang lebih pintar daripadanya. Musa bermaksud mencari orang tersebut dengan muridnya yang bernama Yusa' bin Nun.
"Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau Aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".[Al Kahfi 18;60]

Pertemuan Musa dengan orang yang dimaksud terjadi dipertemuan dua lautan, pendapat tafsir Al Maraghi menyatakan bahwa dua lautan tersebut ada perbedaan pendapat ulama adalah laut Arab dan laut Merah, laut Tengah dan laut Atlantik dan ada yang mengatakan Laut asin dan laut Tawar [muara sungai Nil].

Dengan berbekal seadanya di tengah perjalanan mereka makan lalu ikan mereka yang tinggal sebelah melompat ke laut, Musa yakin bahwa inilah tempat yang dikatakan Allah, akhirnya Musa bertemu dengan orang yang dicari;
" Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami" [Al Kahfi 18;65].

Menurut ahli tafsir hamba di sini ialah Khidhr, dan yang dimaksud dengan rahmat di sini ialah wahyu dan kenabian.sedang yang dimaksud dengan ilmu ialah ilmu tentang yang ghaib seperti yang akan diterangkan dengan ayat-ayat berikut. Ada tiga hal yang dilakukan oleh Khidr dalam perjalanan itu, semua kejadian diprotes oleh Musa karena bertentangan dengan akal yang sehat, seperti nabi Khidr melarang Musa banyak bertanya, Khidr melubangi perahu, membunuh anak kecil dan memperbaiki dinding rumah orang yang rubuh [Al Kahfi 18;67-77].

Sudah tiga kali kesabaran Musa diuji dan kenyataannya memang dia tidak mampu bersabar dalam perjalanan itu, sesuai dengan janjinya bahwa kalau dia sudah tiga kali mendapat teguran dari guru maka Musa siap untuk diberi sangsi atas kesalahannya itu, Khidir lansung memberikan vonis untuk berpisah hari itu juga, tapi sebelum berpisah Khidir memberikan kesempatan kepada Musa untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi dibalik itu, dengan seksama Musa menerima ilmu yang selama ini belum pernah dia peroleh;
"Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara Aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya" [18;78]
"Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan Aku bertujuan merusakkan bahtera itu, Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera" [18;79]
"Dan adapun anak muda itu, Maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran" [18;80]
"Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).'' [18;81]
"Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah Aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya"[18;82]

Begitu juga halnya kejadian yang dialami oleh anak-anak muda yang kita kenal dengan Ashabul Kahfi, mereka adalah anak-anak muda yang beriman kepada Allah, tidak mau menyembah yang lain karena hal itu mencemari tauhid, ketika raja memerintahkan semua rakyatnya untuk menyembah berhala, pemuda-pemuda ini meyingkir untuk menyelamatkan diri dari kejaran sang raja, sehingga sampailah mereka bersembunyi pada sebuah gua, di dalam gua itu mereka tidur bukan mati, karena setiap waktu mereka masih melakukan gerakan-gerakan ke kiri dan ke kanan untuk menjaga kestabilan tubuhnya, adakah tubuh yang berada dalam tidurnya selama sekian tahun bisa bertahan tidak membusuk dan bangun kembali dengan izin Allah;
“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang Luas dalam gua itu.itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. dan kamu mengira mereka itu bangun, Padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.”[Al Kahfi 18;17-18].

Allah berkuasa untuk menidurkan pemuda itu sekian ratus tahun hingga mereka sadarkan diri, kemudian keluar mencari makanan, tapi warung penjual makanan itu tidak mau menerima uangnya sebab mata uang itu sudah berusia ratusan tahun yang lalu, ketika itu negeri ini dikuasai oleh raja yang zhalim dan syirik, tapi sekarang negeri ini dipimpin oleh orang yang shaleh, perdebatan tentang berapa jumlah mereka dalam gua itu, berapa lama mereka berada di sana, ini adalah perdebatan yang zhahir, sedangkan yang bathin yang sebenarnya hanya Allah saja yang mengetahuinya;
“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.”[Al Kahfi 18;22].

Banyak kejadian yang ada di dunia ini tersembunyi peristiwanya dan tidak tahu maknanya, Allah yang menjelaskan segala hal yang bathin itu sebagai pelajaran yang dapat diambil oleh orang-orang yang punya hati nurani.

Allah, Al Bathin, Yang Tersembunyi, banyak peristiwa dan kejadian yang tampil di dunia ini, sejak dunia ini diciptakan-Nya, sepanjang itu pula kejadian itu terekam indah dalam hikmah yang dapat dipelajari oleh hamba-Nya, semuanya dari Allah Swt. Salah satu yang kadangkala luput dari perhatian kita adalah masalah fitnah, ujian dan musibah yang didatangkan Allah kepada manusia, memang menyakitkan, tapi dari semua itu ada hikmah yang terkandung untuk kita ambil sebagai pelajaran. “Disadari atau tidak, ternyata tidak sedikit orang yang hancur luluh keimanannya hanya karena ketidakmampuannya menghadapi musibah dalam hidup.Salah satu penyebabnya karena salah dalam memahami makna musibah dan salah pula dalam menyikapinya.Kesalahan seseorang dalam memaknai dan menyikapi musibah akibatnya bisa sangat fatal terhadap keimanannya.”

Bagi seorang mu’min tentu meyakini bahwa, segala sesuatu hanya akan terjadi di dunia ini karena, “Kun Fayakun” Allah, sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini terutama yang tidak kita inginkan harusnya menjadi bahan “muhasabah” (introspeksi) atau “tazkirah” (peringatan) apa yang sebenarnya sedang Allah rencanakan untuk kita.
Berbicara masalah musibah, sebenarnya musibah adalah sesuatu yang mutlak akan dialami oleh manusia dalam menjalani kehidupannya, baik seseorang itu yang kafir maupun mu'min. Jika musibah menimpa orang yang kafir, pasti itu adalah azab. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia), sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. As Sajdah, 32 : 21).

Namun, jika menimpa orang yang mu'min, pasti itu adalah bentuk kasih-sayang Allah SWT.Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw pernah menyatakan, "Jika Allah sudah mencintai suatu kaum maka Allah SWT akan memberikan bala, ujian atau cobaan".Ini semakin mempertegas kepada kita bahwa musibah bagi orang-orang yang mu'min itu sebagai bentuk kasih-sayang.

Kematian Abu Jahal dan Siti Khadijah merupakan pukulan berat bagi Nabi Muhammad, betapa tidak, Abu Jahal adalah pamannya, walaupun masih kafir, tapi dia sudah menunjukkan bantuan keamanan terhadap kemenakannya yang selalu diganggu oleh orang-orang kafir Quraisy, demikian pula dengan Siti Khadijah, isteri yang dicintainya, selain isteri yang baik dan shalehah, diapun sudah menunjukkan komitmennya untuk membela islam dengan menyerahkan seluruh hartanya untuk kepentingan da’wah.

Secara manusiawi wajar bila Muhammad sedih dengan kematian dua orang yang dicintainya itu, tapi apa dibalik itu, hikmahnya adalah, dengan keberhasilan dakwah nabi Muhammad orang akan semakin simpati dan kagum dengan nabi Muhammad karena tanpa adanya kedua tokoh itu dia mampu berhasil, tapi apabila keduanya masih hidup, maka orang akan berkata, wajar saja Muhammad berhasil karena ada dua orang yang berpengaruh dalam hidupnya yaitu Abu Thalib dan Khadijah.

Ya Allah, Al Bathin, Yang Tersembunyi, banyak kejadian kehidupan yang kami jalani di dunia ini diluar kemampuan akal kami untuk menerimanya, tapi semua itu terjadi berkat izin-Mu yang banyak mengandung hikmah tanpa kami sadari. Ya Allah berikanlah kepada kami, hamba-Mu ini keimanan yang mendalam sehingga segala kejadian mampu kami untuk menyikapinya, segala peristiwa dapat kami ambil ibrahnya untuk kami terima dengan tawakal.

Ya Ilahi, ampunilah hamba ini, yang terlalu banyak berbuat kealfaan, kesalahan, maksiat dan dosa sehingga hidup kami selalu berada dalam kegelisahan dan kezhaliman, tanpa bimbingan-Mu, tanpa ampunan-Mu, tanpa kau bukakan tabir kebenaran kepada kami, maka termasuklah kami orang-orang yang zhalim, ya Allah Al Bathin.Wallahu a’lam

nature-wallpapers-1_zpsphwedbid.jpg
 
77. Al Waali

AL WAALIY (yang Maha Penguasa) adalah Allah yang merencanakan urusan-urusan makhluk dan mengatur mereka, yaitu mengurus dan menangani pengaturan mereka. Ini seakan-akan mengatur, menguasai atau memerintah, memberikan pengertian penataan, kuasa dan tindakan, sedangkan nama Waaliy (penguasa) tidak dapat digunakan untuk apapun yang tidak memadukan kesemuanya itu. Jadi, tidak ada yang menguasai segala sesuatu kecuali Allah Azza wa Jalla, dengan alasan:

(1)_Sesungguhnya Dia-lah yang merencanakan mereka.

(2)_Dia yang menerapkan rencana dengan merealisasikannya.

(3)_Dia yang melindungi mereka dengan melestarikannya.


لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ



`Bagi manusia ada Malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia`(Ar Ra'd:11)

`Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah, dan Dia Maha perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buatkan untuk manusia dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang Mu'min`(Al Ankabuut:41~45)

`Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah disegala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan`(Al Mulk:15)

`Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)`(Huud:6).


Sunrise%20In%20Space%20Wallpapers%202_zpsj6xzb4p5.jpg
 
78. Al Mutalli

Kenapa kita harus memupuk iman kita? Karena kita sudah diberi bibit dulu, waktu di alam arwah. Kita ditawarkan untuk menjadi pejabat. Pejabat apa? Khalifah di muka bumi. Berapa lama? Tidak lama hanya sebentar saja. Karena kita menyanggupi, maka kita diambil janji oleh Allah, (7:172)

(QS7. Al A’raaf ayat 172)

172. dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Hari ini kita akan melanjutkan kaji masih tentang Asmaul Husna yang ke 78 yaitu

Al-Muta’aali.. (Yang Maha Tinggi)

Bagaimana Allah memberitahukan tentang diri-Nya, mari kita lihat QS.13:9

(QS13. Ar Ra’d ayat 9-10)

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ




9. yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; yang Maha besar lagi Maha tinggi.

10. sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan Ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.

Allah memberitahukan kepada kita bahwa Dia Maha Tinggi. Apanya yang tinggi? Semuanya, kekuasaannya tinggi, ilmunya tinggi, kasih sayangnya tinggi. Semuanya tinggi, tidak ada yang mengalahkan Allah. Barangsiapa yang mencoba menandingi-Nya pasti hancur.

Ada ga yang coba menandingi Allah? Ada… mari kita lihat QS.79:15-25

(QS79. An Nazi’at ayat 15-25)

15. sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa.

16. tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Thuwa;

17. “Pergilah kamu kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas,

18. dan Katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”.

19. dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?”

20. lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.

21. tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai.

22. kemudian Dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa).

23. Maka Dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya.

24. (seraya) berkata:”Akulah Tuhanmu yang paling tinggi[T1] “.

25. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.

[T1]Ada yang mengaku sebagai Tuhan yang paling tinggi.

Memang manusia sudah diberi sifat Allah itu sedikit. Maksud Allah memberikan sifat itu supaya kita tidak diperbudak oleh alam. Tapi sayang Firaun melampaui batas, oleh karena itu dia diazab.

Untuk apa Allah menceritakan kisah ini kepada kita? Bukan untuk dongeng2an saja, tapi untuk diambil pelajarannya.

Mari kita lihat dulu siapa yang akan ditinggikan oleh Allah… mari kita lihat QS.58:11

(QS58. Al Mujaadilah ayat 11)

11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat[T1] . dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

[T1]Orang iman ditinggikan derajatnya, tapi orang berilmu lebih lagi

Jadi yang ditinggikan siapa? Orang beriman. Tapi orang berilmu lebih tinggi lagi.

Jadi kalau kita ingin ditinggikan kita harus punya ilmu. Ilmu tentang apa?

Ilmu tentang siapa Tuhan kita?
Siapa diri kita yang sebenarnya?
Dan apa itu alam?

Kalau kita tidak mengetahui tentang ilmu yang tiga itu kita akan diperbudak oleh alam. Darimana kita bisa tau ilmu tentang semua itu? Dari Al-Qur’an. Kalau kita belum tau AL-Qur’an, maka sebenarnya kita belum tahu apa itu iman.

Nabi bilang ibadah tanpa ilmu binasa. Allah bilang dalam Qur’an shalat tanpa ilmu akan binasa. Mari kita liat QS.4:43

(QS4. An Nisaa’ ayat 43)

43. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam Keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.

Jadi kalo orang shalat tidak mengerti yang dibaca apa namanya? Mabok..

Jadi kalau ada orang yang shalat selama 50 tahun tapi tidak pernah tau apa yang dibaca, “ga usah shalat deh” kata Allah..

Jadi apa kewajiban kita? Mulai sekarang pelajari dan pahami itu bacaan shalat kita. kalau kita tau isi bacaan shalat, ngeri kita. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.. “hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” Kalau kita mengaku menyembah Allah, jadi maunya siapa yang harus kita ikuti? maunya Allah. Maunya Allah ada dimana? Di Al-Qur’an..

Jadi kalau ingin ditinggikan derajat, sembah Allah, ikuti aturan-aturan-Nya (dalam Qur’an), sekalipun dunia dan seisinya menghujat.

Allah bilang “balas kejahatan dengan kebaikan”, kita bilang “enak aja..”. tapi dalam shalat bilang iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Tuh makanya jangan sok, masih banyak yang kita melanggar aturan Allah. Pernah ga saat kita pake HP kita doakan orang yang bikin HP? Kira2 yang bikin HP itu rahmatan lil ‘alamin ga? Iya.. nah… pernah ga saat mau makan, kita mendoakan orang yang memasak, mengolah makanan, menyampaikan makanannya sampai ke tangan kita? Nah… makanya jangan sok.. nah itu ilmu..

Semua yang kita lakukan itu karena ingin mencari sayangnya Allah. Nah semuanya itu untungnya akan kembali kepada kita juga. Orang bilang berdzikir ini-itu seribu kali, sekian kali, ratusan kali tapi ga pernah ingin tau apa isinya. Allah bilang ingatlah Allah banyak-banyak kapanpun, saat berdiri, duduk, berbaring. Nah lakukan itu, baru cocok inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil ‘alamin.

Kita kembali kepada orang yang mengaku dirinya tinggi, siapa? Firaun. Allah bilang “Hai Musa pergilah kepada Firaun karena dia sudah melampaui batas.” Mari kita lihat bagaimana dia melampaui batas. QS.43:51

(QS43. Az Zukhruf ayat 51)

51. dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; Maka Apakah kamu tidak melihat(nya)?

Masya Allah.. Allah bilang “lahu ma fis samawati wama fil ardhi”, eh Firaun bilang Mesir punya dia. Nah tidak terasa kita juga suka bersifat seperti Firaun. Saat kita ditanya, “bu ini rumah siapa?” rumah saya.. mobil siapa? Mobil saya… anak siapa? Anak saya…

Firaun diberi ilmu untuk mengolah alam, sehingga kaya raya tapi ruhnya tidak pernah dikenalkan kepada Allah sehingga membangkang dan lupa kepada Allah. Kira-kira ada ga orang sekarang yang seperti itu? Ada… banyak yang menyekolahkan anak mahal-mahal tentang ilmu dunia tapi tidak pernah dikenalkan dengan Al-Qur’an.

Allah cerita lagi tentang Firaun di QS.28:4

(QS28. Al Qashash ayat 4)

4. Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

Ada ga sekarang orang yang berbuat sewenang-wenang? Ada.. nah itu cucu firaun. Berbuat semau hati, tidak peduli apa maunya Allah.

Bagaimana keadaan jiwa firaun itu? Siapa cucu firaun itu? Mari kita lihat QS.3:10-11

(QS3. Ali ‘Imran ayat 10-11)

10. Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. dan mereka itu adalah bahan Bakar api neraka,

11. (keadaan mereka) adalah sebagai Keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. dan Allah sangat keras siksa-Nya.

Jadi orang kafir itu siapa? Yang mendustakan ayat-ayat Allah.. itulah cucu-cucu Firaun.

Mari kita lihat di ayat lain. QS.8:52-54

(QS8. Al Anfaal ayat 52-54)

52. (keadaan mereka) serupa dengan Keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. mereka mengingkari ayat-ayat Allah, Maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Amat keras siksaan-Nya.

53[T1] . (siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

54. (keadaan mereka) serupa dengan Keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya Maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim.

[T1]Orang yang dulunya kaya, terus sekarang jatuh miskin, banyak yang tidak enak.. lihat, bisa jadi karena mengingkari Al-Qur’an.

Ada ga orang sekarang mengingkari ayat-ayat Allah? Ada… tadi mendustakan sekarang mengingkari.

Allah bilang Al-Qur’an itu pedoman hidup, tapi kita mengolok-olokkan, kita baca-baca tapi tidak mau tau apa isinya, itu mengingkari namanya. Maka siksa lah yang datang. Makanya rugi..rugi sekali kalau sampai mati kita tidak mau tau apa isi Al-Qur’an.. menyesal nanti di neraka. saat musa membacakan ayat Allah kepada Firaun, dia marah tidak mau menerima. Kira-kira orang sekarang ada ga yang begitu? Ada.. mari kita lihat ayatnya

72. dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah: “Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, Yaitu neraka?” Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

Nah itulah cucu-cucu firaun. Kita dengan belajar ini yang tadinya jadi cucu firaun, sekarang jadi cucu Musa, cucu Muhammad, nabi-nabi lah pokoknya. Nabi-nabi itu semuanya islam. Kalau jadi cucu firaun, cucu syaitan, azab lah yang didapat, binasalah akhirnya.

Jangan mau diperbudak oleh alam. Oleh karena itu Allah teteskan sifat Al-Muta’aali (tinggi) agar kita tidak diperbudak oleh alam.. saya tidak ada, saya tidak punya, saya tidak bisa, kalau tidak diadakan, dipunyakan dan dibisakan oleh Yang Punya Langit dan Bumi.

summer-garden_zpsn5m6xwxl.jpg
 
79. Al Barr

Salah satu Asma`ul Husna adalah Al-Barr الْبَرُّ berdasarkan firman Allah l:

إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ


“Dialah Al-Barr, Maha Penyayang.” (Ath-Thur: 28)

Adapun maknanya adalah:

q Al-Lathif bi ‘Ibadihi: Yang menyampaikan kepada hamba-Nya maslahat mereka dengan lembut dan baik, dari jalan di mana mereka tidak merasakannya (Shifatullah, hal. 223). Demikian ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas c (Tafsir Al-Qurthubi, 17/70) dan Ibnu Jarir Ath-Thabari t dalam tafsirnya.

q Al-’Uthuf ‘ala ‘Ibadihi: Yang belas kasih terhadap hamba-Nya dengan kebaikan dan kelembutan-Nya. Demikian ditafsirkan oleh Ibnul Atsir t dalam Jami’ul Ushul. (Shifatullah, hal. 223)

q Yang banyak kebaikan dan karunia-Nya. Demikian ditafsirkan oleh Ibnul Qayyim t dalam Nuniyyah.

q Al-Muhsin: Yang berbuat kebaikan. Demikian tafsiran Al-Alusi t.(Ruhul Ma’ani, 19/449)

q Yang jujur dalam janji-janji-Nya kepada para hamba-Nya. Demikian ditafsirkan Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Juraij. (Tafsir Al-Qurthubi, 17/70)



Asy-Syaikh As-Sa’di t mengatakan: “Di antara nama-nama Allah l adalah Al-Barr, Al-Wahhab, Al-Karim, yang meliputi seluruh alam semesta dengan kebaikan-Nya, pemberian-Nya, dan kemurahan-Nya. Dialah yang memiliki keindahan dan selalu memberi kebaikan, Maha Luas pemberian-Nya. (Di antara) sifat-Nya adalah kebaikan, dan buah dari sifat ini adalah seluruh nikmat yang lahir maupun yang batin, sehingga tidak satu makhluk pun lepas dari kebaikan-Nya walau sekejap mata. Dan nama-nama ini menunjukkan keluasan rahmat-Nya dan pemberian-Nya yang menyeluruh pada segala yang ada, sesuai dengan hikmah Allah l. Dan kebaikan Allah l terbagi menjadi dua, yang bersifat umum dan yang bersifat khusus.

Yang umum tertera dalam firman-Nya:

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْماً

“Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu.” (Ghafir: 7)

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al-A’raf: 156)

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (An-Nahl: 53)

Semua kebaikan ini, sama-sama didapatkan oleh orang yang baik maupun yang jahat, penduduk langit maupun penduduk bumi, makhluk yang terbebani hukum ataupun tidak.

Adapun yang khusus, adalah rahmat dan nikmat-Nya untuk orang-orang yang bertakwa, di mana Allah l berfirman:

فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآياتِنَا يُؤْمِنُونَ

“Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf: 156)

إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ الْـمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf: 56)

Juga dalam doa Nabi Sulaiman q:

وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (An-Naml: 19)

Dan rahmat Allah l yang bersifat khusus inilah yang diminta oleh para nabi serta para pengikut mereka, yang membuahkan taufiq-Nya untuk beriman dan beramal shalih serta kebaikan dalam seluruh keadaan, kebahagiaan yang abadi serta keberuntungan dan kesuksesan. Dan itulah tujuan terbesar bagi para makhluk yang khusus.” (Tafsir Asma`illahi Al-Husna)



Buah Mengimani Nama Allah Al-Barr

Di antara buahnya adalah bahwa ketika kita mengimaninya dengan segala maknanya, semestinya hal itu menumbuhkan rasa syukur kepada Allah l yang telah memberikan kepada kita berbagai macam karunia. Bahkan sebagiannya tanpa kita sadari dan tanpa kita ketahui dari mana datangnya. Itu semua Allah l berikan walau hamba dalam keadaan yang tidak diridhai Allah l. Semestinya hal ini menggugah si hamba untuk kemudian segera kembali kepada agamanya dan ketaatan kepada-Nya. Apalagi karunia-Nya kepada para hamba-Nya yang senantiasa taat kepada-Nya tentu begitu besar. Bahkan kenikmatan-Nya tidak lagi dapat dihitung oleh hamba-hamba-Nya.

000155_zpsioecivky.jpeg
 
80. At Tawwab

Allah Subhanahu wa Ta’ala menamai diri-Nya dengan nama At-Tawwab ( التَّوَّابُ ), Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan nama-Nya ini dalam ayat-Nya:

فَتَلَقَّى ءَادَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ


“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 37)

Ibnul Qayyim rahimahullahu menerangkan dengan ringkas tentang nama tersebut pada dua bait sya’ir:

Demikianlah At-Tawwab itu termasuk sifat-sifat-Nya
dan taubat dalam sifat-Nya bermacam dua
taufiq-Nya kepada hamba untuk bertaubat, dan menerima-Nya
setelah taubatnya, dengan karunia Yang Maha memberi karunia.

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras dalam penjelasannya terhadap dua bait syair itu mengatakan: “Adapun nama At-Tawwab artinya adalah yang banyak taubat artinya kembali. Maksudnya, menerima taubat hamba dan mengembalikan kepada hamba berupa ampunan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Asy-Syura: 25)

غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya; Yang mempunyai karunia. Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk).” (Ghafir: 3)

Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai tenggorokan atau sebelum matahari terbit dari barat. Maka bilamana muncul tanda kiamat kecil (mati) dengan sampainya nyawa ke tenggorokan atau muncul tanda kiamat besar dengan terbitnya matahari dari arah barat, ketika itu pintu taubat ditutup. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ اْلآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. (An-Nisa`: 18)

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلاَئِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ ءَايَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ ءَايَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ ءَامَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا

“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Rabbmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Rabbmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (Al-An’am: 158)Dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Bahwa Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat jelek di siang hari dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat jelek di malam hari sehingga matahari terbit dari arah barat.” (Shahih, HR. Muslim dari sahabat Abu Musa radhiallahu ‘anhu)

Taubat Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-Nya ada dua macam:

Pertama: bahwa Ia memberikan ilham dan taufiq-Nya untuk bertaubat kepada-Nya serta untuk menelusuri syarat-syarat taubat baik berupa penyesalan (dari perbuatan dosa), istighfar, dan menanggalkan maksiat, bertekad untuk tidak kembali kepada dosanya serta menggantikan dosanya dengan amal shalih.

,Kedua: bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menerima taubat hamba-Nya, menyambutnya, serta menghapuskan dosanya, karena taubat yang murni dan benar-benar itu akan melebur kesalahan-kesalahan sebelumnya.

إِلاَّ مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan: 70)

As-Sa’di rahimahullahu juga menjelaskan dalam tafsirnya: “At-Tawwab adalah yang senantiasa memberikan dan menerima taubat dari hamba-hamba-Nya serta mengampuni dosa orang-orang yang bertaubat. Maka semua yang bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang murni dan sungguh-sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan menerima taubatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taubat kepada hamba-Nya, pertama dengan memberikan taufiq-Nya kepada mereka untuk bertaubat dan bersungguh-sungguh dengan kalbunya menuju kepadanya, serta menerima taubat mereka setelah mereka melakukannya dan mengampuni kesalahannya.”

Buah Mengimani Nama At-Tawwab

Dengan mengimani nama At-Tawwab kita akan mendapatkan banyak manfaat. Di antaranya, akan tumbuh pada diri kita rasa syukur yang besar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan taufiq dan ilham-Nya kepada seorang hamba sehingga muncul pada dirinya keinginan untuk bertaubat serta mencabut diri dari berbagai macam kesalahan dalam bentuk apapun. Kalaulah bukan karena taufiq-Nya niscaya takkan tumbuh dalam diri ini keinginan untuk bertaubat dan kembali keharibaan-Nya.

Dengan mengimani nama itu pula, kita mengetahui dengan pasti bahwa pintu taubat senantiasa terbuka, sehingga tidak ada kata putus asa untuk bertaubat. Tiada kata ‘telanjur basah’ dalam maksiat. Apapun dan berapapun dosanya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berikan ampunan kepadanya manakala dia dengan sungguh-sungguh bertaubat. Barangkali kita pernah mendengar sebagian kisah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kita yang mulia, tentang bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat seorang yang telah membunuh 100 jiwa, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni pelacur, bahkan yang berbuat kekafiran sekalipun Allah Subhanahu wa Ta’ala beri ampunan, ketika mereka bertaubat secara sungguh-sungguh.

Namun yang perlu diperhatikan adalah kesungguh-sungguhan dalam bertaubat dengan memenuhi syarat-syaratnya. Sebagaimana yang disebutkan Asy-Syaikh Al-Harras di atas; menyesali perbuatan dosanya, mencabut diri darinya, bertekad untuk tidak mengulanginya, mengganti dengan amal shalih, dilakukan sebelum tertutupnya pintu taubat dan bila berkaitan dengan hak orang, mengembalikan hak orang yang kita dzalimi, atau meminta kehalalannya.

Moon-full_zpskbwugtqh.jpg
 
Back
Top
Log in Register