BTC USD 85,417.5 Gold USD 4,140.83
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

81. Al Muntaqim

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum

Segala puji bagi Allah. Kita memuji, meminta pertolongan dan memohon keampunan daripadaNya. Kita juga memohon perlindungan kepada Allah daripada kejahatan dan kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk tiada siapa yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang tersesat tiada siapa yang dapat memberinya petunjuk. Selawat dan salam kepada Nabi kita Nabi Muhammad saw serta keluaraga dan para sahabat serta pengikut setia.

Hari ini mencatat serba sedikit hasil dengar kuliyah tentang asmaul husna. Al-Muntaqimu, nama Allah asmaul husna yang ke 81. Kalimah arab ini terambil daripada huruf nun qaf dan mim (naqama, intaqama, yantaqimu) yang makna asalnya/makna harfiyah ialah:

1) Tidak menyetujui sesuatu

2) Memberikan sesuatu dengan kemarahan

3) Membalas kejahatan

Jadi maknanya al-Muntaqimu sebagai nama Allah ialah : Allah zat yang tidak menyetujui sesuatu balasan seksa yang diberi terhadap kejahatan hamba kerana Allah menganggap itu adalah sesuatu yang memberikan keburukan. Allah membalas kejahatan hamba dengan seksa bagi kejahatan yang dilakukan oleh hamba ialah intiqaam. Walaupun Allah menurunkan bencana contohnya tsunami ataupun taufan sandy di AS pada beberapa hari yang lepas namun kita tidak boleh menganggap itu sebagai balasan kejahatan. Ini boleh jadi intiqaam kepada sebahagian namun pada sebahagian yang lain bencana itu mungkin merupakan nikmat. Allah adalah ar-Rahman jadi bila ditimpakan bencana atau musibah tidaklah boleh kita katakan 100% Allah murka/intiqaam.

Sekali Allah timpakan bencana pasti banyak tujuannya, mungkin intiqaam dan mungkin nikmat. Allah Maha Pengasih. Bencana ni sebenarnya tak elok namun Allah tetap Maha Pengasih. Disebabkan nama ini memberi makna yang tidak baik maka kita tidak temukan kalimah sebagai nama Allah al-Muntaqimu dalam al-Quran. Yang kita temukan dalam bentuk jamak iaitu muntaqimun diulang sebanyak 3 kali tiada dalam bentuk mufrad, tiada dalam bentuk musanna, 6 kali dalam bentuk feel madhi dan 1 kali dalam bentuk feel mudhari'

Mengapa al-Muntaqimu sebagai bentuk mufrad (nama Allah tidak ditemukan dalam al-Quran)?

Allah memang bersifat muntaqim. Kenyataan ini benar, namun Allah mengajar kita kesopanan atau adab terhadap Allah SWT. Allah mengajar kita jika ada keburukan yang berlaku di dunia, walaupun Allah yang mencipta; jangan kembalikan (menisbahkan) kepada Allah. Wajib dikembalikan kepada Allah perkara yang baik-baik sahaja. Contoh yang paling mudah Allah ajar kita ucap yang baik-baik terdapat dalam apa yang kita ucapkan dalam solat sekurang-kurangnya 17 kali iaitu:

Tunjukilah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang telah dimurkai dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat. (Al-Faatihah 1 : 6-7)

Dalam ayat di atas Allah ajar kita sebut yang baik iaitu nikmat kita nisbahkan kepada Allah. Allah tidak ajar kita sebut jalan orang-orang yang Engkau murkai dan orang-orang yang Engkau sesatkan sebaliknya Allah ajar kita sebut jalan orang-orang yang telah dimurkai dan jalan orang-orang sesat (walaupun Allah yang memurkai dan menyesatkan). Mereka dimurkai dan sesat adalah disebabkan perbuatan sendiri/pilihan sendiri). Jadi sebab itulah tidak ada kalimah muntaqimu sebagai nama Allah. Yang ada dalam bentuk jamak 3 kali. Dalam ayat di atas juga Allah menyebut dalam bentuk jama'. Kenapa Allah gunakan dalam bentuk jamak? Jawapannya menurut pakar bahasa arab dan al-Quran ialah; untuk menerangkan perbuatanNya; itu nak menunjukkan bahawa Allah melibatkan makhluk dalam melaksanakan perbuatanNya. Ini samalah seperti apabila Allah kata "Kami memberi rezeki". Allah tak pernah kata Aku beri rezeki. Maknanya Allah melibatkan malaikat yang menurunkan hujan, angin yang bertiup dan sebagainya. Berbeza dengan kalimah taubat. Allah selalu kata "Aku menerima taubat" tidak kata "Kami menerima taubat". Ini kerana masalah taubat Allah tak libatkan makhluknya kecuali Dia dan orang yang bertaubat. Jadi ketika Allah nak memberikan balasan; bila Allah muntaqim, Allah melibatkan makhluk lain, paling tidak malaikat, mungkin angin, semut, kuman, virus dan lain-lain ( ini semua adalah tentera Allah).

Contoh : dalam ayat berikut, Allah sebut Inna tidak Inni:

A022 Dan tidaklah ada yang lebih zalim daripada orang yang diberi ingat dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya (dan tetap mengingkarinya); sesungguhnya Kami tetap membalas. (As-Sajdah 32 : 22)

Bila Allah nyatakan Dia membalas siksaan, Dia hanya memberi balasan selepas diberikan peringatan atau teguran. Teguran pula berulang-ulang, bila diengkari barulah Allah membalasnya dengan siksaan. Siksaan hanya akan berlaku di akhirat bukan di dunia. Di dunia ini sekeras manapun, sedahsyat manapun bencana masih ada kasih sayang Allah. Tenggelam dalam tsunami tidak sama terbakar di dalam api neraka.

Kesimpulan penting bagi nama al-Muntaqimu ini ialah:

1) Kita tidak menemukan dalam al-Quran al-Muntaqim sebagai nama Allah; ini memberi kesan makna bahawasanya apabila al-Muntaqim ini dinisbahkan kepada Allah SWT ia tidak menimbulkan istilah sesuatu yang kurang baik terhadap Allah SWT sebab makna al-Muntaqim ialah yang Maha Mengancam/Memberi Ancaman; yang Maha Menimpakan balasan sedangkan biarpun Allah SWT yang akan menimpakan balasan, balasan itu dilakukan demi kasih sayangNya. Kalimah al-Muntaqim dalam bentuk mufrad tidak ditemukan dalam al-Quran, yang ada hanya dalam bentuk jamak adalah untuk menunjukkan bahawa ketika Allah SWT hendak menimpakan balasan kepada hambaNya yang patut diazab Allah akan melibatkan makhluk lain untuk melaksanakannya contohnya para malaikat.

2) Sifat Allah al-Muntaqim ini atau ancaman hendak menimpakan balasan dalam al-Quran semuanya berkaitan dengan pembalasan pada hari kiamat kelak sama ada dalam bentuk mudhari', bentuk madhi atuapun dalam isim jamaknya. Ancaman seksa ini semuanya berkaitan dengan balasan yang akan dilakukan di akhirat. Itupun ancaman tadi diberikan oleh Allah SWT setelah manusia berulang-ulang kali melakukan kejahatan dan berulang-ulang kali pula mereka diberikan peringatan bahkan berulang-ulang kali juga Allah memberi kemaafan. Berdasarkan kepada pemahaman seperti ini; memang sepatutnyalah hamba seperti ini diancam dengan balasan yang keras. Pertama pernah diberikan peringatan, kedua kerana telah dimaafkan kerana telah bertaubat tapi dibuat sekali lagi.

Allah berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 95

عَفَا ٱللَّهُ عَمَّا سَلَفَ*ۚ وَمَنۡ عَادَ فَيَنتَقِمُ ٱللَّهُ مِنۡهُ*ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ۬ ذُو ٱنتِقَامٍ (٩٥)

Maksudnya; "Allah maafkan apa yang telah lalu dan sesiapa yang mengulangi (kesalahan itu) maka Allah akan menyeksanya dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa, lagi Berkuasa membalas dengan azab seksa". (95) 3)

Disebabkan al-Muntaqim adalah tentang ancaman balasan seksa, kadang-kadang Allah tunaikan kadang-kadang Allah tidak tunaikan.

Jadi berbeza dengan wa'dun (janji kebaikan/pahala/syurga/keampunan) pasti Allah tunaikan, tapi bila balasan itu merupakan ancaman/azab kadang-kadang Allah tunaikan kadang-kadang Allah tidak tunaikan.


https://www.youtube.com/watch?v=z9H8E36ZrQY
 
Last edited:
81. Al Afuw

"Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatan (dosa) mereka, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya" (QS Faathir:45).


Makna al-Afuw secara bahasa

Ibnu Faris menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan dua makna, salah satunya adalah meninggalkan sesuatu[1].

Ibnul Atsir berkata, “Nama Allah “al-‘Afuw” adalah fa’uul dari kata al-‘afwu (memaafkan) yang berarti memaafkan perbuatan dosa dan tidak menghukumnya, asal maknanya: menghapus dan menghilangkan[2].

Al-Fairuz Abadi berkata, “Al-‘Afwu adalah pemaafan dan pengampunan Allah Ta’ala atas (dosa-dosa) makhluk-Nya, serta tidak memberikan siksaan kepada orang yang pantas (mendapatkannya)[3].

Penjabaran makna nama Allah al-‘Afuw

Al-‘Afuw adalah zat yang maha menghapuskan dosa-dosa dan memaafkan perbuatan-perbuatan maksiat[4].

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

{إنَّ اللهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ**

“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pema’af lagi Maha Pengampun” (QS al-Hajj:60).

Beliau berkata, “Artinya: Dia maha memaafkan orang-orang yang berbuat dosa, dengan tidak menyegerakan siksaan bagi mereka, serta mengampuni dosa-dosa mereka. Maka Allah menghapuskan dosa dan bekas-bekasnya dari diri mereka. Inilah sifat Allah Ta’ala yang tetap dan terus ada pada zat-Nya (yang maha mulia), dan inilah perlakuan-Nya kepada hamba-hamba-Nya di setiap waktu, (yaitu) dengan pemaafan dan pengampunan…”[5].

Makna inilah yang dimaksud dalam doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dibaca pada malam lailatul qadr:

اللهم إنك عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pema’af, Engkau suka memaafkan (hamba-Mu), maka maafkanlah aku”[6].[7]

Dalam beberapa ayat al-Qur’an Allah menggandengkan nama ini dengan nama-Nya yang lain yaitu “al-Ghafur” (maha pengampun), seperti dalam ayat di atas, demikian pula dalam surat an-Nisa’:43 dan an-Nisa’:99.

{وَكَانَ الله ُعَفُوًّا غَفُوْرًا**

“Dan adalah Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun” (QS an-Nisaa’:99).

Kedua nama Allah yang maha indah ini memang memiliki makna yang hampir sama, meskipun nama Allah ‘al-Afuw memiliki makna yang lebih mendalam. Karena “pengampunan” mengisyaratkan arti as-sitru (menutupi), sedangkan “pemaafan” mengisyaratkan arti al-mahwu (menghapuskan) yang artinya lebih mendalam (dalam penghapusan dosa). Meskipun demikian, kedua nama Allah ini jika disebutkan sendiri-sendiri maknanya mencakup keseluruhan arti tersebut[8].

Sifat “memaafkan” dan “mengampuni” ini adalah termasuk sifat-sifat yang tetap dan terus-menerus ada pada dzat Allah (yang Maha Mulia). Dan senantiasa pengaruh (baik) sifat-sifat ini meliputi semua makhluk-Nya di siang dan malam hari. Karena sifat “memaafkan” dan “mengampuni” (yang dimiliki)-Nya meliputi semua makhluk, dosa dan perbuatan maksiat.

Padahal, mestinya perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan manusia menjadikan mereka ditimpa berbagai macam siksaan, akan tetapi pemaafan dan pengampunan-Nya menghalangi turunya siksaan tersebut. Allah Ta’ala berfirman:

{ولو يؤاخذ الله الناسَ بما كسبوا ما ترك على ظهرها من دابة ولكن يؤخرهم إلى أجل مسمى، فإذا جاء أجلهم فإن الله كان بعباده بصيرا**

“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatan (dosa) mereka, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya” (QS Faathir:45).

Inilah kesempurnaan pemaafan-Nya, yang kalau bukan karena itu niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun[9].

Senada dengan ayat di atas, dalam sebuah hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satupun yang lebih bersabar menghadapi gangguan (celaan) yang didengarnya melebihi Allah Ta’ala. Sungguh orang-orang (kafir) telah menyekutukan-Nya dan mengatakan (bahwa) Dia mempunyai anak, (tapi bersamaan dengan itu) Dia tetap menangguhkan siksaan dan memberi rezki bagi mereka”[10].

Pembagian sifat al-‘afw (memaafkan) dari Allah Ta’ala

Sifat al-afw (memaafkan) ini ada dua macam:

1. Yang pertama: pemaafan-Nya yang (bersifat) umum bagi semua orang yang berbuat maksiat, dari kalangan orang-orang kafir maupun yang selain mereka. (Yaitu) dengan tidak menimpakan siksaan yang telah ada sebab-sebabnya, yang seharusnya menjadikan mereka terhalangi dari kenikmatan (duniawi yang mereka rasakan), padahal mereka menentang-Nya dengan mencela-Nya (menisbatkan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya), menyekutukan-Nya dan melakukan berbagai macam penyimpangan lainnya. (Bersamaan dengan itu) Allah (tetap) memaafkan (menangguhkan siksaa-Nya), memberi rezki dan menganugerahkan berbagai macam nikmat (duniawi) lahir dan batin kepada mereka.

2. Yang kedua: Pemaafan dan pengampunan-Nya yang (bersifat) khusus bagi orang-orang yang bertaubat, yang meminta ampun, yang berdoa dan menghambakan diri (kepada-Nya), demikian pula bagi orang-orang yang mengharapkan (rahmat-Nya) dengan musibah-musibah yang menimpa mereka. Maka semua orang yang bertaubat kepada-Nya dengan tobat yang nashuh[11], maka Allah akan mengampuni dosa apapun yang dilakukannya, (baik itu) kekafiran, kefasikan maupun maksiat (lainnya). Semua dosa tersebut termasuk dalam (keumuman) firman Allah Ta’ala,

{قل يا عبادي الذين أسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة الله إن الله يغفر الذنوب جميعًا إنه هو الغفور الرحيم**

“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (az-Zumar:53) [12].

Pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah al-Afuw

Memahami nama Allah yang maha agung ini merupakan pintu utama untuk mencapai kedudukan yang tinggi (di sisi-Nya), khususnya jika (setelah memahaminya dengan baik) kita berusaha untuk merealisasikan kandungan dan konsekwensi yang terkandung dalam nama ini. Yaitu melakukan istighfar (meminta ampun kepada Allah) secara kontinyu, meminta pemaafan, selalu bertobat, mengharapkan pengampunan dan tidak berputus asa (dari rahmat-Nya), karena Allah Ta’ala Maha Pema’af lagi Maha Pengampun, sangat mudah bagi-Nya untuk mengampuni dosa (hamba-hamba-Nya) bagaimanapun besarnya dosa dan maksiat tersebut. Maka seorang hamba senantiasa berada dalam kebaikan yang agung selama dia selalu meminta pemaafan dan mengharapkan pengampunan dari Allah[13].

Cobalah renungkan makna yang agung ini dalam hadits qudsi berikut ini:

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Seorang hamba melakukan perbuatan dosa, kemudian dia berdoa: “Ya Allah ampunilah dosaku”. Maka Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku telah berbuat dosa, sedang dia meyakini bahwa dia mempunyai Tuhan yang (maha) mengampuni dan membalas perbuatan dosa”. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba itu berbuat dosa lagi lalu berdoa, “Ya Tuhanku ampunilah dosaku”. Maka Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku telah berbuat dosa, sedang dia meyakini bahwa dia mempunyai Tuhan yang (maha) mengampuni dan membalas perbuatan dosa”. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba itu berbuat dosa lagi lalu berdoa, “Ya Tuhanku ampunilah dosaku”. Maka Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku telah berbuat dosa, sedang dia meyakini bahwa dia mempunyai Tuhan yang (maha) mengampuni dan membalas perbuatan dosa, berbuatlah sesukamu (wahai hamba-Ku), maka sungguh Aku telah mengampunimu”[14]. Yaitu, “Selama kamu terus bertaubat, memohon dan kembali (kepada-Ku)” [15].

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

{إن الله كان عفواً غفوراً**

“Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” (QS an-Nisaa’:43).

Beliau berkata: “Artinya: Allah memiliki banyak pemaafan dan pengampunan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, dengan memudahkan dan meringankan syariat-Nya bagi mereka, sehingga mudah bagi mereka untuk menunaikannya dan tidak menyusahkan.

Termasuk (bentuk) pemaafan dan pengampunan-Nya adalah Rahmat-Nya bagi umat (Islam) ini dengan Dia mensyariatkan bersuci dengan tanah (debu) sebagai pengganti air ketika tidak mampu menggunakan air.

Dan termasuk (bentuk) pemaafan dan pengampunan-Nya adalah dengan Dia membukakan pintu taubat dan kembali kepada-Nya bagi orang-orang yang berbuat dosa, bahkan dia menyeru mereka untuk bertaubat dan menjanjikan pengampunan bagi dosa-dosa mereka.

Juga termasuk (bentuk) pemaafan dan pengampunan-Nya adalah bahwa seandainya seorang mukmin datang menghadap-Nya (di akhirat nanti) dengan membawa dosa sepenuh bumi, tapi dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, maka Dia akan memberikan pada hamba-Nya itu pengampunan yang sepenuh bumi (pula)[16]. [17]

Termasuk (bentuk) pemaafan-Nya adalah bahwa perbuatan baik dan amalan shaleh bisa menghapuskan perbuatan buruk dan dosa. Allah Ta’ala berfirman,

{إنَّ الحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ**

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk” (QS Huud:114).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ikutkanlah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan (dosa) perbuatan buruk tersebut[18].

Demikian juga termasuk (bentuk) pemaafan-Nya adalah bahwa semua musibah yang menimpa seorang hamba pada diri, anak maupun hartanya, (itu semua) akan menghapuskan dosa-dosanya, khususnya jika hamba itu mengharapkan pahala (dari) musibah tersebut dan menunaikan sikap bersabar dan ridha (dengan takdir Allah Ta’ala terhadap dirinya).

Dan termasuk (bentuk) pemaafan-Nya yang agung adalah bahwa hamba-Nya selalu menentang (perintah)-Nya dengan (melakukan) berbagai macam maksiat dan dosa besar, tapi Dia selalu berlaku lembut dan memberikan maaf-Nya kepadanya, kemudian dia melapangkan dada hamba-Nya itu untuk bertobat (kepada-Nya), lalu Dia menerima taubatnya. Bahkan Allah Ta’ala bergembira dengan taubat hamba-Nya padahal Dia Maha Kaya lagi Maha Terpuji, tidak akan memberi manfaat bagi-Nya ketaatan orang-orang yang taat, sebagaimana tidak akan merugikan-Nya kemaksiatan orang-orang yang berbuat maksiat [19].

Penutup

Sesungguhnya pintu-pintu pemaafan dan pengampunan-Nya senantiasa terbuka (lebar), dan Dia senantiasa dan selalu bersifat maha pemaaf dan pengampun. Sungguh Dia telah menjanjikan pengampunan dan pemaafan bagi orang-orang yang mengusahakan sebab-sebabnya, sebagaimana dalam firman-Nya,

{وإني لغفار لمن تاب وآمن وعمل صالحاً ثم اهتدى**

“Dan sesungguhnya Aku benar-benar Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal shaleh kemudian tetap di jalan yang benar” (QS Thaaha:82) [20].

Demikianlah, semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita pemaafan-Nya dan memuliakan kita dengan pengampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.

animal_zpszaemneql.jpg
 
83. Ar Rauf

SEMAKIN dalam menyelami asma-asma Allah, kita akan sedar bahawa kita berada dalam samudera kecintaan. Tengoklah, sekian asmanya menunjukkan hal itu. Dia mencurahkan kasih sayang kepada siapa pun (Rahman-Rahim) dan juga berbelas kasih dalam kelembutan, keramahan dan kesejukan lewat asmaNya, Ar-Rauf.

Kita boleh memahami kedahsyatan asma ini dari makna kata-katanya. Kata Ar-Rauf, menurut Quraish Shibab, terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf ra, hamzah dan fa’. Maknanya berkisar pada kelemahlembutan dan kasih sayang.

Kata ini juga dipakai untuk menunjukkan rasa kasihan atau berbelas kasihan dan keramahan.

Menurut pakar bahasa Az-Zajjaj, dalam buku Tafsir Asma ul Husna, kata ini sama dengan rahmat. Hanya saja, menurutnya, apabila rahmat sedemikian besar, maka ia dinamai ra’fat dan pelakunya ra’uf. Inilah yang menyebabkan ada yang memaknai ar-Rauf sebagai titik puncak dari rahmat Allah.

Khatabi berkata bahawa ar-Rauf adalah perasaan kasih yang paling dalam dan menurut Ibnu Atsir adalah satu perasaan kasih yang khusus. Mufassir al-Biqaiy, menurut Quraish lagi, ketika menafsirkan ayat 143 surat al-Baqarah, yang menerangkan bahawa umat Islam adalah umat pilihan dan menyebut ar-Rauf bersanding dengan ar-Rahim di akhir ayat, menjelaskan bahawa ra’fat adalah rahmat yang dianugerahkan kepada yang menghubungkan diri dengan Allah melalui amal salih.

Jadi, hubungan kehambaan kita dengan Allah-lah yang boleh membuat kita menemukan dan merasakan makna dari asma ini. Kesan dari memahami ra’fat (kasih Allah) dalam pengertian di atas adalah kita akan sentiasa menjaga diri dari melakukan apa yang dilarang Allah. Juga agar kita adil dalam memberi hukuman berdasarkan aturan-aturan Allah. Dalam konteks ini, jika seorang pezina telah terbukti dan dijatuhi dengan hukuman, janganlah kita mengurangi hukuman itu.

Atau janganlah kita berbelas kasihan melihat orang terus-menerus lalai dalam menjalankan agama Allah. Kita berbelas kasih dengan memperingatinya, menunjukkan hal yang benar dan bukannya membiarkan orang tersebut dalam kelalaian semisal malas solat, malas berpuasa atau enggan menjalankan ibadah haji sekalipun ia mampu. Hubungan hamba-Tuhan, mukmin-Allah s.w.t. ini yang menjadikan asma ar-Rauf berbeda dengan ar-Rahman atau ar-Rahim.

Jika rahmat Allah melimpah ruah dan mengalir ke setiap sudut kehidupan di jagad ini tanpa terkecuali, maka ar-Rauf adalah belas kasih dalam hubungan kehambaan. Semua makhluk memang terkait dengan Allah s.w.t. tapi seorang mukmin sungguh begitu istimewa kerana setiap mukmin terkait dengan Allah dalam lingkup ibadah, amal salih dan ketundukan. Maka asma ini tampak istimewa bagi orang-orang yang beriman kepadaNya.

Ar-Rauf untuk Al-‘Ibad

Di sisi lain, ra’fat menggambarkan sekaligus menekankan melimpah ruahnya anugerah Allah. Asma ar-Rauf lebih menekankan kepada Allah s.w.t. sebagai pelaku yang amat kasih, sehingga melimpah ruah kasihnya. Sedangkan yang ditekankan pada ar-Rahim adalah penerima dari rahmat itu, yakni semua makhluk di segala tempat dan zaman.

Jadi, ar-Rauf memenuhi keperluan melebihi apa yang diperlukan, sedang ar-Rahim memenuhi keperluan sesuai keperluan manusia yang jumlahnya sangat melimpah pula. Ulama lain menambahkan bahawa ra’fat hampir tidak dicurahkan kepada objek yang tidak disenangi. Berbeda dengan rahmat yang dicurahkan kepada yang disenangi dan boleh juga kepada yang tidak disenangi kerana adanya hikmah dan kemaslahatan, yang tertuju kepada yang kafir dan yang mukmin, yang derhaka dan tidak derhaka, maka ra’fatnya tidak demikian.

Al-Qurthubi mengemukakan bahawa “ra’fat” digunakan untuk menggambarkan anugerah yang sepenuhnya menyenangkan, sedang rahmat, boleh jadi pada awalnya menyakitkan, tetapi beberapa waktu kemudian akan menyenangkan. Dari sini dapat dimengerti penggabungan sifat ar-Rauf dan ar-Rahim pada ayat-ayat tertentu. Jika ar-Rahim boleh tertuju pada siapa saja termasuk yang derhaka, maka ar-Rauf tertuju pada mereka yang taat.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ


[143]
Dan demikianlah (sebagaimana Kami telah memimpin kamu ke jalan yang lurus), Kami jadikan kamu (wahai umat Muhammad) satu umat yang pilihan lagi adil, supaya kamu layak menjadi orang yang memberi keterangan kepada umat manusia (tentang yang benar dan yang salah) dan Rasulullah (Muhammad) pula akan menjadi orang yang menerangkan kebenaran perbuatan kamu. (Sebenarnya kiblat kamu ialah Kaabah) dan tiadalah Kami jadikan kiblat yang engkau mengadapnya dahulu itu (wahai Muhammad), melainkan untuk menjadi ujian bagi melahirkan pengetahuan Kami tentang siapakah yang benar-benar mengikut Rasul serta membenarkannya dan siapa pula yang berpaling tadah (berbalik kepada kekufurannya) dan sesungguhnya (soal peralihan arah kiblat) itu adalah amat berat (untuk diterima) kecuali kepada orang-orang yang telah diberikan Allah petunjuk hidayah dan Allah tidak akan menghilangkan (bukti) iman kamu. Sesungguhnya Allah Amat melimpah belas kasihan dan rahmatNya kepada orang-orang (yang beriman).

(QS. Al-Baqarah: 143).


Ayat ke-143, surat al-Baqarah ini merupakan jawapan Allah atas pertanyaan para sahabat yang menanyakan: apakah kawan-kawan mereka yang semasa hidup solat menghadap Baitul Maqdis dan kemudian meninggal dunia tetap mendapat pahala di sisi Allah? Dan Allah menjawab bahawa mereka tetap mendapat pahala kerana Dia adalah ar-Rauf. Inilah bukti ra’fat Allah kepada hambaNya yang telah sungguh-sungguh menyembahNya.


Poin penting mengenai kehambaan ini dapat kita lihat buktinya pada beberapa ayat al-Quran. Kata ar-Rauf tersanding dengan al-‘Ibad yakni hamba-hamba yang taat. Sedangkan asma ar-Rahim tidak digandingkan dengan al-‘lbad.

1541216620X310_zpsnee9fbyb.jpg
 
84. Maalikul Mulk

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu'alaikum.

Marilah kita sama-sama mengucapkan syukur dan memuji Allah SWT atas segala limpahan kurniaNya yang begitu banyak serta memberikan kenikmatan kita menghirup udaranya dan banyak lagi nikmatNya sehingga kita tidak mampu menghitungnya. Marilah kita berselawat sebanyak-banyaknya buat Junjungan Mulia, Rasul tercinta, Muhammad SAW serta keluarga, para sahabat dan orang-orang yang istiqamah mengikuti Baginda. Kali ini diulis tentang pengajaran yang boleh diambil dalam ayat 26 surah Ali Imran seperti difirmankan Allah SWT:

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَـٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِى ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ*ۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُ*ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬ (٢٦

Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali Imran [3] : 26)

Begitulah Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat ke 26. Dalam ayat itu ada kalimah-kalimah yang dihiglightkan supaya dapat diberi perhatian.

Maalikul Mulki adalah nama Allah yang ke 84 dalam senarai nama-nama Allah (asmaul husna) yang bermaksud : Pemilik segala kekuasaan dan kepemilikan . Rangkaian dua kalima daripada dua kata dasar yang sama yakni Ma la ka.

Kalimah Maalik tanpa dirangkai dengan Mulki ada 7 kali dalam al-Quran, satu daripadanya merujuk kepada malaikat penjaga neraka yakni dalam ayat 77 surah az-zukhruf. "Mereka berseru: "Hai Malik!, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja". Dia menjawab: "Kamu akan tetap tinggal [di neraka ini]". (az-Zukhruf [43] : 77) .

Ma la ka (Mim Lam Kaf) diterjemahkan sebagai:

1) Menguasai.
2) Memiliki.
3) Kuat.
4) Benar atau sahih.
5) Ikatan.

Maalikul Mulki yakni Pemilik segala kekuasaan dan kepemilikan memberi pengertian bahawa ALLAHlah yang menguasai secara MUTLAK segala yang maujud. ALLAH al Maalikul Mulki tak pernah berkongsi milik dan kuasanya dengan selainNYA. Ini banyak dinyatakan oleh Allah SWT dalam al-Quran contohnya ayat-ayat seperti di bawah:

وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ*ۚ وَتَبَارَكَ ٱلَّذِى لَهُ ۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَعِندَهُ ۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ

Serta "Man fis samawati wal ardh, la hawla wala quwwata illa billah," bahkan masyi'ah Allah juga Allah tak berkongsi dengan makhlukNYA contoh ayat:

وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ*ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمً۬ا (٣٠

Dan kamu tidak mampu [menempuh jalan itu], kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Al-Insaan [76]: 30)

Ini bermaksud Allah tak berkongsi kekuasaan dan kepemilikanNYA dengan sesiapapun baik di dunia mahupun di akhirat. Hanya sahaja kekuasaan dan kepemilikanNYA semasa di dunia kita kurang nampak sebab kita diberi pilihan. Berbeza di akhirat nanti. Ini ketara sekali kerana apabila kita buat jahat di dunia, umpamanya kita tinggal solat atau puasa, Allah tidak mengazab serta merta kerana Allah beri kebebasan memilih. Di akhirat nanti jangankan manusia, malaikatpun berbaris-baris, bersaf-saf, idak dibenarkan berkata-kata hanya boleh selepas diizinkan, dan itupun mesti yang benar dan dengan perlahan.

Dalam ayat 26 surah ali Imran tadi; Allah mengajar kita supaya memuji Allah sebelum memohon pertolongan. Seperti yang telah ditulis tentang segala puji bagi Allah sebelum ini, Allahlah yang layak dipuji, Allah juga dipuji. Doa ini dinamakan doa ibadah. Selepas doa ibadah barulah kita berdoa masalah. Cuba kita perhatikan doa Nabi Yusuf dalam surah Yusuf ayat 101.

"Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian takbir mimpi. (Ya Tuhan!) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh". (Yusuf [12] : 101)

Doa ibadah dan doa masalah dibaca sekaligus, tidak perlu berbunga-bunga yang di highlightkan tu doa ibadah, panjang daripada doa masalah. Bukan tak boleh doa panjang (masalah) tapi lebih afdhal dipanjangkan doa ibadah, Dalam doa ibadah ini kita merendahkan diri sebagaimana doa Nabi Adam as dan doa Nabi Yunus as.

Berbalik semula dalam ayat 26 tadi, lihat Allah suruh kita memujinya, Allah suruh kata "Ya Allah!, Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali Imran [3] : 26)

Allah gunakan perkataan تُؤۡتِى di situ PERTAMA untuk menunjukkan perkara yang besar. Jadi al Mulk bukan sekadar pemerintah tetapi Allah menggerakkan segala-galanya, bumi, langit, dan segala isinya, dan kita pula digerakkan tangan, kaki, mulut, lidah, mata, lutut dibengkokkan dan segala-galanya digerakkan oleh Allah.

Allah berfirman dalam surah as-saffaat [37] ayat 96, maksudnya:

"Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu buat itu!" (As-Saffaat [37]: 96) KEDUA, تُؤۡتِى menunjukkan apa yang diberi oleh Allah kepada makhlukNYA bukan untuk dimiliki oleh penerima tetapi semuanya itu tetap milik ALLAH.

Daripada sini kita mesti sedar bahawa:

1. Kemampuan kita bergerak, berfikir dan segala-galanya adalah anugerah Allah yang terbesar. (Bila kita ingat Maalikul Mulk, kita pasti syukur walaupun kita lapar kita masih boleh bergerak untuk mendapatkan makanan).

2. Apa yang dianugerahkan Allah itu hendaklah digunakan dengan sebaik-baiknya mengikut tujuan yang Allah cipta kita sebelum DIA ambil semula, kerana kita tak tahu bilaDIA akan mengambilnya semula. (Perlu sedar semua anugerah Allah bukan milik kita, suatu saat DIA akan ambil kembali).

KETIGA تُؤۡتِى yang bermaksud Allah memberi dengan mudah, senang, dengan penuh kasih sayang kerana sifat Karim, Rahim dan RahmanNYA. Allah memberi tak kira kepada siapapun sama ada yang beriman atau tak, yang baik atau tak. Sebab itu jika kita baca ayat-ayat tentang zakat Allah sebut 'ITAZZAKAH' sebab manusia disuruh beri zakat dengan rasa senang hati. Jangan ada rasa berat apatah lagi semuanya itu bukan milik dia tetapi milikAllah SWT.

Kita perlu sedar bahawa kita tidak boleh memiliki dan menguasai. Allah memberikan semua ini sebagai pinjaman, hanya sekejap sahaja, jika dibandingkan 40 tahun umur kita di dunia dengan umur di skhirat, umur di dunia ini tiada ertinya. Allah gunakan تَنزِعُ maksudnya Allah ambilkembali dengan susah. Kita rasa susah sebab telah diikat dalam hati bahawa semuanya milik kita bukan milik Allah. Dengan sebab itu apabila Allah memberi dengan mudah (dan Allah Penguasa dan Pemilik) janganlah kita mengikat dengan hati kita, jadi apabila tiba saat Allah ambil kembali kita tidak akan berasa kecewa, sengsara, sedih dan sebagainya, sebab daripada awal kita menyedari bahawa semua itu diberikan sementara sahaja.

Allah tidak menyuruh kita rasa semua itu milik kita dan kita berkuasa atasnya, tetapi Allah suruh letak di tempat yang sepatutnya. Allah suruh kita selalu ingat "Inna lillahi wainna ilayhi raaji'uun" (Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kepadaNya kita kembali). Jika memahami ini tidak akan ada rasa kecewa. Segala kemuliaan diberi kepada seseorang boleh ditarik kembali. Allah tidak boleh disoal, Ya Allah mengapa jadi begini, begini dan seterusnya sebaliknya kitalah yang ditanya nanti. Allah berfirman dalam surah al-Anbiya' ayat 23 maksudnya:

"Dia tidak boleh ditanya tentang apa yang Dia lakukan, sedang merekalah yang akan ditanya kelak". (Al-Anbiya' [21] : 23)

Walaupun kita nampak seperti tidak adil, kerana ada hamba yang taat Allah berikan kesihatan yang tak memuaskan, hidup susah sedangkan hamba yang tidak taat melakukan pelbagai maksiat Allah berikan kesenangan. Yakinlah bahawa Allah sangat adil sebab Allah Maha Mengetahui.

"Boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah Yang mengetahui (semuanya itu), sedang kamu tidak mengetahuinya. (al-Baqarah [2] : 216)

tree-shade_zpsdiafxvo0.jpg
 
85. Zul Jalali Wal Ikram

Allah memiliki nama dan sifat Zul Jalal wal Ikram, artinya Yang Maha Luhur dan Yang Maha Mulia, dua sifat yang tergabung pada satu nama dalam kalimat yang indah Zul Jalal wal Ikram, hal ini diungkapkan pada surat Ar Rahman 55;27;

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ


”Semua yang ada di bumi itu akan binasa. dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”[Ar Rahman 55;26-27]

Dengan keluhuran dan kemuliaan Allah sangat menguntungkan bagi makhluk-Nya khusus manusia sebagai hamba sehingga segala karunia Allah tercurah kepada manusia. Diciptakan manusia di dunia ini oleh Allah dibawah lindungan dan pengawasannya, sejak manusia dipertemukan di alam rahim antara sperma dan sel telur, ditiupkannya ruh pada bulan keempat sampai kepada rezeki, usia, jodoh, qada dan qadarnya telah ditentukan Allah, sekali-kali Dia tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya, dalam kondisi apapun dijamin akan diperoleh pertolongan dan lindungan-Nya sebagai mana firman Allah dalam surat Al Baqarah 2;257

“Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Segala permohonan dan permintaan yang hakiki hanya ditujukan kepada Allah karena Dialah yang punya hak untuk memberikan pertolongan kepada hamba-Nya;

“Hadits Zaid bin Khalid mengatakan,”Kami shalat subuh di Hudaibiyyah bersama Rasulullah, ada bekas hujan pada malam harinya. Setelah selesai shalat Rasulullah menghadap orang banyak seraya berkata,”Tahukah kamu apa yang difirmankan oleh Tuhanmu?” mereka menjawab,”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui” Nabi bersabda,”Pagi ini hamba-Ku ada yang beriman dan ada yang kafir. Barangsiapa mengatakan kami diberi hujan dengan rahmat dan fadhilah Allah, berarti dia beriman kepada-Ku dan tidak percaya kepada bintang, dan barangsiapa yang mengatakan kami dihujani oleh letak bulan ini dan tempat bulan itu maka berarti dia tak percaya kepada-Ku, tetapi beriman kepada bintang” [HR.Bukhari dan Muslim]

“Dari Abu Malik Al Asy Ari mengatakan bahwa Rasulullah bersabda.”Empat perkara jahiliyah ada pada ummatku yang tidak akan mereka tinggalkan; sombong dengan kedudukan, mencela keturunan, minta hujan kepada bintang dan meratapi orang mati”[HR.Muslim]

Demikian halusnya perangkap syirik untuk menggelincikan iman seseorang, sedikit saja kepercayaan kepada Allah ragu atau menandingi keberadaan Allah telah membawanya kepada kerusakan aqidah, pertolongan Allah wajib diyakini oleh setiap muslim dalam setiap derap langkah kehidupan manusia. Bila Allah telah memutuskan untuk memberikan pertolongan kepada seseorang, walaupun semua manusia dan makhluk lain menghalanginya maka tidak akan mampu mencegah Allah demikian pula sebaliknya bila Allah memutuskan untuk memberikan celaka kepada seseorang, walaupun seisi dunia ini mencegahnya tidak akan dapat menghentikan. Memberikan perlindungan kepada hamba-Nya, bagi Allah adalah merupakan hak-Nya, hak Allah itu terbagi dua yaitu;

Pertama; hak yang berhubungan dengan amalan dan perbuatan lahir, misalnya menunaikan shalat, shaum ramadhan, mengeluarkan zakat, melakukan ibadah haji bagi yang mampu dan memenuhi syarat, menjauhi dosa-dosa besar, menghindari dan tidak mengekalkan dosa-dosa kecil, memberikan pertolongan kepada hamba Allah dan perbuatan-perbuatan lain yang sudah ada perinciannya dalam syariat islam yang mulia.

Kedua; hak yang berhubungan dengan I’tikad [keimanan] dan amalan bathin. Setiap orang wajib beri’tikad dan keyakini bahwa Allah Swt Maha Esa dalam zat-Nya dan Perbuatan-Nya, satu-satunya tempat berlindung dan minta pertolongan, yang memiliki Kemuliaan, yang Maha Agung, Yang Maha Besar,Yang Maha Luhur dan Yang Mulia.

Tidak akan pernah ada, siapapun yang dapat memberikan kemuliaan kepada manusia, kecuali manusia hanya dengan bertauhid. Tauhidlah yang akan membangkitkan kekuatan dan harga diri penganutnya. Hanya Allah saja Yang Maha Kuat, dan hanya Allah saja Yang Maha Perkasa.Hanya Allah saja yang berhak di sembah dan dibadahi. Hanya Allah saja, yang layak dimintai pertolongan.Tak ada seorangpun manusia yang dapat menandinginya.

Seorang penganut “aqidah tauhid” tidak mau menjadi hamba sahaya dari siapapun. Penguasa manapun. Raja dan Presiden manapun. Apalagi menghamba kepada Raja dan Presiden yang zalim. Hakekatnya mereka adalah orang-orang yang lemah. Tidak memiliki kekuatan apa-apa. Karena itu, manusia yang menyembah manusia, meminta pertolongan, meminta perlindungan, menggantungkan hidupnya kepada sesama manusia, maka mereka akan tersungkur ke dalam lembah kehinaan.

Betapa banyaknya manusia hari ini yang menjadi hamba hina-dina, karena mereka memperlakukan manusia yang lemah itu, sebagai sesembahan mereka. Menjadi mereka tempat bergantung dan meminta pertolongan. Mereka menganggap yang namanya Raja dan Presiden mempunyai kekuasaan dan kekuatan yang dapat menjadi tempat mereka bergantung.

Mengagung-agung manusia dengan status yang dimilikinya, dan menafikan kekuasaan dan keesaan AllahTa’ala, maka manusia akan masuk ke dalam lubang kesesatan, yang tak mungkin dapat mengangkat dirinya kepda kemuliaan di hadapan Allah Ta’ala. Mereka menjadi manusia yang paling lemah, dan hina,baik dihadapan manusia dan dihadan Allah Rabbul Alamin.

Hari-hari ini Allah Azza Wa Jalla memperlihatkan dan membuktikan kepada manusia di seluruh muka bumi, bahwa manusia yang selama disangka kuat dan dengan kekuasaannya, bisa menjadi tempat bergantung dan melindungi mereka, satu demi satu berguguran dan tersungkur. Sekarang Allah perlihatkan kelemahan mereka dengan terang benderang. Seperti terangnya matahari di siang hari.

Para Raja dan Presiden yang disangka sebagai manusia yang paling ‘super’ dengan kekuasaan yang dimilikinya, kini berguguran, tanpa dapat menunda-nunda lagi. Mereka pergi dengan hina. Manusia-manusia yang selama ini telah menyatakan kesombongannya, dan tidak mau tunduk dengan Allah Rabbul Alamin, sekarang dipelihatkan akan datangnya kekuasaan Allah dihadapan mereka.

Aqidah tauhid menimbulkan harga diri yang amat tinggi dalam jiwa pemeluknya. Tidak ada orang-orang mukmin yang benar “haqqan” menjadi hina dina. Karena seluruh jiwa raganya hanya bersedia tunduk kepada Allah. Maka apapun yang terjadi dalam kehidupannya, tidak pernah mereka risaukan.

Seorang yang beriman wajib thaat kepada Raja, Presiden dan Sultan, hanya selama mereka masih menjalankan keadilan. Karena hanya Allah yang menyuruh berbuat adil, dan taat kepada keadilan. Seorang mukmin tidak akan pernah tunduk kepada kezaliman dan kebathilan. Karena Allah yang melarang kazaliman dan kebathilan. Dalam bentuk apapun.[

Keluhuran dan kemuliaan Allah merupakan sebuah keyakinan yang terbingkai pada tauhid yang murni sehingga segala harapan dan pertolongan hanya ditujukan kepada pemilik Kemuliaan, dengan sikap dan akhlak terpuji, janganlah kita hanya dapat berakhlak baik kepada sesama manusia sementara melanggar akhlak mulia kepada Allah.

Keimanan yang mantaplah dengan merealisasikan salah satu unsur kalimat syahadat akan mendapat perhatian, resfon dan pertolongan Allah. Tanpa itu semua mustahil kemenangan akan diraih. Sejauh mana kita mendekatkan diri kepada Allah sebatas itu pulalah kedekatan Allah dengan kita bahkan lebih sebagaimana dalam hadits qudsi beliau mengatakan,”Ketika hamba-Ku datang dengan berjalan maka Aku akan datang dengan berlari, bila mereka berlari maka secepat kilat Aku menemuinya”, subhanallah, demikian perhatian Allah kepada orang-orang yang mampu mengujudkan syahadat dalam hidupnya sehari-hari.

Ya Allah sungguh jelas al haq itu adalah datang dari Engkau yang membawa manusia menuju ampunanMu. Dan kebatilan datang dari syaitan yang membawa manusia menuju murkaMu.

Ya Allah sungguh banyak para pembela hak mendapat pencemaran nama, fitnah, tuduhan dan acaman bahkan pemboikotan. Mereka itulah para nabi dan ulama yang telah Engkau janjikan surga bagi mereka. Ya Allah sungguh banyak kebatilan yang dikemas yang menarik perhatian, sehingga banyak manusia yang terjebak dan terperangkap di dalamnya tanpa mereka sadari. Ketika diantara mereka ada yang menyadari, merekapun tidak sanggup meninggalkannya karena takut menghadapi kesulitan ekonomi atau pencemaran nama yang belum pasti.

Ya Allah perlihatkan kepada kami al haq dengan jelas meski dituduh dan dicemari oleh para pembela kebatilan. dan berilah kami keberanian untuk mengambil yang haq meski harus menghadapi resiko yang berat dan berkepanjangan. Sungguh tiada yang berat dan susah dalam masalah yang Engkau ringankan dan mudahkan.

Ya Allah selamatkanlah kami dari kebatilan meski menarik dan manakjubkan bahkan diberi nama dengan nama-nama yang diambil dari alQuran. Sungguh Engkaulah satu-satunya pelindung kami dari berbagai bahaya duniawi dan bahaya hari kemudian.
Ya Allah jauhkanlah kami dari kebatilan dan berilah kami kesabaran untuk menghadapi berbagai fitnah dan tuduhan yang sengaja dilontar para pembela kabatilan dari sejak zaman Adam hingga akhir zaman.

Allah Zul Jalal wal Ikram, Engkau Yang Maha Luhur dan Yang Maha Mulia, Keluhuran dan Kemuliaan-Mu tidak ada yang dapat menandinginya, dengan keluhuran dan kemuliaan-Mulah hamba selalu mengharapkan bimbingan-Mu agar selalu dalam ridha dan rahmat-Mu, dalam hidayah dan taufiq-Mu, Wallahu a’lam

snow-mountain-wallpapers_22126_1920x1200_zpstn68f9ia.jpg
 
86. Al Muqsith

AL MUQSITH (yang Maha Adil) adalah Allah menuntut keadilan untuk pihak yang mendapat perlakuan buruk dari pihak yang memberikan perlakuan buruk. Kesempurnaannya terletak pada pengaitan kepuasan pelaku kezaliman yang merupakan hasil dari kejahatan dengan kepuasan orang yang dizalimi. Itulah puncaknya keadilan dan keseimbangan, namun tidak ada yang mampu untuk itu kecuali Allah Azza wa Jalla.

Pada suatu hari ketika Rasulullah Saw duduk, beliau tertawa sehingga kelihatan giginya, lalu Umar ibn Khaththab ra. berkata `Ayahku dan Ibuku menjadi tebusan Anda, ya Rasulullah, apa yang membuat anda tertawa?`.

Beliau bersabda `Dua orang umatku berlutut dihadapan Tuhan yang Maha Kuasa. Salah seorang berkata `Ya Tuhanku, hendaknya yang ini (orang ini) mengganti rugi untukku atas perlakuan zalimnya terhadap diriku`.

Allah Azza wa Jalla berfirman `Berilah ganti rugi kepada saudaramu atas kesalahan yang telah engkau lakukan terhadapnya`, ia berkata `Ya Tuhanku, aku tidak mempunyai lagi amal baik` , lalu Allah SWT berfirman kepada pemohon `Bagaimana engkau akan berlaku baik terhadap saudaramu, karena dia sudah tidak lagi memiliki amal baik`. Pemohon berkata `Ya Tuhan, biarlah dia membebaskan aku dari sebagian dosaku`

Lalu Rasulullah Saw mulai menangis dan bersabda `Sungguh suatu hari yang hebat itu, ketika seseorang memerlukan orang lain untuk meringankan beban mereka`. Selanjutnya Beliau mengatakan `Kemudian Allah Azza wa Jalla berfirman kepada orang yan telah mendapat perlakuan buruk itu `Angkatlah pandanganmu dan lihatlah Surga`. Orang itu berkata `Ya Tuhanku, aku melihat kota-kota perak dan istana-istana emas berhiaskan mutiara. Untuk Nabi, Shiddiq atau Syahid manakah ini?`. Allah Azza wa Jalla berfirman `Ini untuk siapa saja yang membayar harganya`. Lalu ia berkata `Ya Tuhan, siapakah yang dapat membayar sejumlah itu?`. Allaj Ta'ala berfirman `Gandenglah saudaramu dan bawalah ke Surga`. Kemudian Rasulullah Saw bersabda `Takutlah (bertakwalah) kepada Allah dan berdamailah diantara diri kalian sendiri, karena sesungguhnya Allah akan membuat damai diantara orang yang beriman pada hari kiamat`

Beginilah cara menuntut dan meberikan keadilan. Tidak ada yang mampu bertindak seperti itu, kecuali Allah Tuhan semesta alam. Namun, manusiapun dapat disebut adil bila mereka terlebih dahulu menekankan keadilan dari diri mereka sendiri untuk orang lain, tetapi manahan diri dari menuntut keadilan dari orang lain untuk dirinya sendiri.

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ



`Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana` (Ali Imran:18).


animal-desktop-pictures-2_zpszionhvmj.jpg
 
87. Al Jami'

Al-Jami' secara bahasa artinya Yang Maha Mengumpulkan/Menghimpun, yaitu bahwa Allah Swt. Maha Mengumpulkan/Menghimpun segala sesuatu yang terbesar atau terserak. Allah Swt. Maha Mengumpulkan apa yang dikehendaki-Nya dan dimana pun Allah Swt. berkehendak.

Penghimpunan ini ada berbagai macam benruknya, di antaranya adalah mengumpulkan seluruh makhluk yang beraneka ragam, termasuk manusia dan lain-lainya, di permukaan bumi dan kemudian mengumpulkan mereka di padang mahsyar pada hari kiamat. Allah Swt berfirman:


رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ



Artinya : "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang ada keraguan padanya".
Sesungguhnya Allah Swt. tidak menyalahi janji." (Q.S. Ali Imran/3:9).

Allah Swt. akan menghimpun manusia di akhirat kelak sama dengan orang-orang yang satu golongan di dunia. Hal ini bisa dijadikan sebagai Parometer, kepada siapa kita berkumpul di dunia itulah yang akan menjadi teman kita di akhirat. Walaupun kita berdekatan secara fisik akan tetapi hati kita jauh, maka kita juga tidak akan berkumpul dengan mereka.

Oleh sebab itu, apabila di dunia hati kita terhimpun dengan orang-orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya, di akhirat kelak kita akan berkumpul dengan mereka di dalam neraka. karena orang-orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya, tempatnya adalah di neraka.

Begitupun sebaliknya, apabila kecenderungan hati kita terhimpun dengan orang-orang beriman, bertakwa dan orang-orang saleh, di akhirat kelak kita juga akan terhimpun dengan mereka. Karena tidaklah mungkin orang-orang beriman hatinya terhimpun dengan orang-orang kafir dan hakikat batin di dalam hati. Barang siapa yang sempurna ma'rifatnya dan baik tingkah lakunya, maka ia disebut juga sebagai al-Jami'.
Dikatakan bahwa al-jami' ialah orang yang tidak padam cahaya ma'rifatnya.

sunset-hd-wallpapers-beach-sunset-backgrounds-top-natural-scene-images_zpsrkeakh5l.jpg
 
88. Al Ghani

Al-Ghani adalah salah satu dari al-Asma’ul Husna. Sebuah nama yang menunjukkan kesempurnaan-Nya dan keagungan- Nya. Dialah al-Ghani, Yang Mahakaya, Maha cukup, dan tidak membutuhkan siapa pun dan apa pun. Nama ini tercantum dalam beberapa ayat al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ {** إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ {** وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ

“Hai manusia, kamulah yang membutuhkan kepada Allah dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (Fathir: 15—17)

لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ


“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar benar Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (al-Hajj: 64)

قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ الْغَنِيُّ ۖ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, “Allah mempuyai anak.” Mahasuci Allah. Dia-lah Yang Mahakaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. (Yunus: 68)

Di antara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam istisqa’ (meminta hujan) adalah,

اللَّهُمَّ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ

“Ya Allah, Engkaulah Allah, tiada sesembahan yang benar selain Engkau, Engkaulah yang Mahakaya sedangkan kami orang-orang miskin yang membutuhkan. Turunkanlah kepada kami hujan….” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras menerangkan, “Di antara nama-nama Allah Subhanahu wata’ala adalah al-Ghani. Maknanya, Allah Subhanahu wata’ala memiliki kecukupan yang sempurna dan mutlak dari segala

sisinya. Kecukupan-Nya sama sekali tidak ternodai oleh sifat miskin dan membutuhkan. Sifat kecukupan dan kekayaan-Nya tidak mungkin lepas dari- Nya, karena sifat ini adalah konsekuensi dari Dzat-Nya, dan sifat yang terkait dengan Dzat-Nya tidak mungkin hilang.

Maka dari itu, tidak mungkin bagi Allah Subhanahu wata’ala kecuali sebagai Dzat Yang Mahacukup dan Mahakaya. Demikian pula, tidak mungkin bagi-Nya kecuali bersifat Dermawan, Pengasih, Baik, Penyayang, dan Pemurah. Sebagaimana kekayaan Allah Subhanahu wata’ala itu tidak terlepas dari Dzat-Nya, tidak mungkin pula menimpa-Nya sesuatu yang berlawanan dengannya baik kehinaan maupun rasa membutuhkan. Demikian pula kebutuhan para makhluk kepada-Nya, itu adalah kebutuhan yang bersifat dzati yang tidak mungkin sifat kebutuhannya hilang darinya walaupun sesaat saja. Makhluk senantiasa butuh kepada-Nya dalam hal keberadaan dan

eksistensinya, juga dalam segala hal kebutuhannya. Di antara luasnya kekayaan-Nya, bahwa perbendaharaan langit dan bumi semuanya berada di tangan-Nya, Allah Subhanahu wata’ala salurkan darinya sekehendak-Nya dan bahwa pemberian nikmat-Nya senantiasa berkesinambungan terus mengalir, tidak terputus walau sesaat sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits,

يَمِينُ اللهِ مَلْأَى لاَ يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَنْقُصْ مَا فِي يَمِينِهِ

“Sesungguhnya tangan kanan Allah Subhanahu wata’ala penuh, selalu memberi, malam dan siang, tidak menguranginya pemberian apa pun. Tidakkah engkau mengetahui apa yang Allah Subhanahu wata’ala berikan sejak Dia ciptakan langit-langit dan bumi? Sungguh, itu tidak mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan-Nya.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di antara kesempurnaan kekayaan dan kemurahan-Nya, Allah Subhanahu wata’ala bentangkan tangan-Nya untuk mengijabahi doadoa bagi mereka yang berdoa, Allah Subhanahu wata’ala penuhi kebutuhannya, Allah Subhanahu wata’ala angkat kesulitannya, tidak pernah kesal dengan rengekan makhluk-makhluk yang meminta. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala murka kepada siapa yang tidak meminta kepada- Nya. Dia berikan kepada hamba-Nya apa yang mereka minta dan yang tidak mereka minta. Dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

“Wahai hamba-Ku, andai yang pertama hingga yang terakhir di antara kalian, bangsa manusia dan bangsa jin dari kalian, mereka berdiri pada satu hamparan lalu semuanya berdoa dan meminta kepada-Ku lalu Ku-kabulkan permintaan masing-masing, hal itu tidak mengurangi dari apa yang di sisi-Ku kecuali seperti jarum yang dicelupkan ke dalam lautan.” (Sahih, HR. Muslim)

Di antara kecukupan-Nya sehingga tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya, bahwa Allah Subhanahu wata’ala tidak menjadikan bagi diri-Nya istri ataupun anak. Tiada serikat bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, tidak pula memerlukan penolong karena terhina, karena Dia Mahakaya, Mahacukup, Maha Tidak Membutuhkan, yang telah sempurna segala sifat-sifat-Nya. Bahkan Dia pula yang mencukupi segala makhluk-Nya. (Syarah Nuniyyah) Di antara kesempurnaan kekayaan- Nya, serta keluasan pemberian-Nya adalah apa yang Ia hamparkan untuk penghuni rumah kemuliaan-Nya (surga), berupa kenikmatan, kelezatan yang terus-menerus, kebaikan yang berkesinambungan, serta nikmat-nikmat yang tidak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah tebersit dalam kalbu seseorang. (as-Sa’di, Tafsir Aasma’illah Al-Husna)

Al-Halimi rahimahullah juga menjelaskan, “Dialah Yang Mahasempurna dengan apa yang dimiliki-Nya dan yang ada pada-Nya, dengan itu ia tidak butuh kepada yang lain. Allah Rabb kita yang Mahaagung pujian-Nya dengan sifat-Nya yang seperti ini, karena sifat ‘memerlukan’ merupakan suatu kekurangan, dan sesuatu yang membutuhkan berarti lemah disebabkan apa yang dia butuhkan sampai ia mendapatkan apa yang dibutuhkan. Sementara itu, sesuatu yang dibutuhkan memiliki jasa baginya dengan adanya sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang membutuhkan. Kekurangan semacam ini tidak ada pada-Nya Yang Maha Terdahulu dalam keadaan bagaimana pun, kelemahan juga tidak mungkin ada pada-Nya.

Tidak mungkin juga bagi siapa pun akan memiliki jasa terhadap-Nya, karena semua selain-Nya adalah makhluk-Nya, ciptaan yang Ia ciptakan, tidak memiliki urusan Allah rahimahullah sedikit pun. Bahkan, makhluk-Nyalah yang tercipta seperti kehendak-Nya. Dia yang mengaturnya. Dengan demikian, tidak terbayang bahwa makhluk-Nya akan memiliki jasa terhadap-Nya.” (al-Baihaqi, dalam kitab al-Asma’ was Shifat)

Buah Mengimani Nama Allah al-Ghani

Betapa bahagianya kita, saat Allah Subhanahu wata’ala memberikan kepada kita taufik-Nya untuk hanya beribadah kepada-Nya, karena sesembahan kita Mahakaya, takkan merugi seseorang yang Tuhannya Maha kaya. Hal ini membuat kita sebagai hamba-Nya tidak berputus asa dalam meminta dan berdoa. Allah Subhanahu wata’ala bahkan memerintahkan kita untuk meminta-Nya dan menjanjikan untuk mengijabahinya, baik permintaan duniawi maupun ukhrawi. Saat kita bersalah lalu meminta ampunan-Nya, dengan kemurahan-Nya, Dia akan memberikan maaf-Nya. Saat kita terdesak kebutuhan, Dialah tujuan kita dalam meminta, niscaya Dia akan berikan. Dia tidak meminta sesuatu kepada kita berupa imbalan apa pun, hanya saja merupakan kewajiban kita untuk menunaikan hak-Nya, dengan beribadah hanya kepada-Nya. Namun, perlu diingat, tentu tidak semua doa akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Hanya doa-doa yang baik dan terpenuhi syaratnya serta selamat dari segala penghalang terkabulnya. Terkadang Allah Subhanahu wata’ala mengabulkannya nanti di akhirat, atau dengan menghindarkan kejelekan yang senilai dengan apa yang dia minta. Dengan mengimani nama ini, kita juga menyadari kelemahan sesembahansesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala yang tidak memiliki apa pun. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۚ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ {** إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ {** يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari pada biji kurma. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 13—15)

Jika demikian keadaan sesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala, lantas atas dasar apa mereka diibadahi? Ia tidak memiliki apaapa, maka tidak berhak diibadahi sama sekali. Sungguh merugi seseorang yang tuhannya semacam ini. Ya, rugi dunia akhirat dan itulah kerugian yang nyata.

beautiful_beach_sunsets_wallpaper_hd_free_zpsr1jqwbhf.jpg
 
89. Al Mugni

Qorun, awalnya diberi kekayaan yang melimpah ruah, emas berlian, makanan lezat serta berbagai kenikmatan dunia yang tiada taranya. Namun kemudian beserta seluruh hartanya dimusnahkan Allah SWT karena tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT kepadanya. Hal ini merupakan salah satu sebab karena mengingkari keberadaan-Nya. Sesungguhnya hanya Allah SWT yang bisa memberikan nikmat kepada manusia dan seluruh makhluk, tanpa memandang apakah orang itu beriman atau tidak, karena Allah SWT memiliki sifat asmaul husna Al Mughni, yang berarti Yang Maha Mengkayakan. Sifat ini hanya dimiliki Allah SWT, sedangkan Allah SWT bisa mengkayakan siapa saja sesuai yang dikehendakinya tanpa memandang di amuslim atau bukan karena Allah SWT juga memiliki sifat arrahman penyayang kepada seluruh umat. Kekayaan dalam konteks yang lebih luas bukan hanya berupa harta saja, tetapi seluruh nikmat-nikmat yang diberikan Allah SWT adalah kekayaan. Termasuk kekayaan adalah nikmat anggauta badan, nikmat kesehatan dan yang lain.

Sedang makna kekayaan yang lebih luas lagi, kekayaan itu mencakup semua kekuasaan Allah SWT yang ada di langit dan bumi, artinya kekayaan Allah SWT tidak akan mampu dihitung manusia. Firman Allah SWT, “Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS Al Kahfi:109). Ketika seorang muslim mengetahui dan menyadari bahwa Allah SWT memiliki sifat Al Muhni, seyogyanya setiap muslim harus banyak bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT kepadanya. Sehingga nikmat-nikmat itu akan lebih bermakna bagi kehidupannya sehingga Allah SWT akan menambah nikmat-nikmat-Nya, sebaliknya manakala manusia kufur terhadap nikmat-Nya, maka azab yang pedih yang menantinya.
Salah satu wujud syukur adalah dengan menggunakan nikmat sesuai tuntunan Allah SWT, karena nikmat anak amanah Allah. Setiap harta yang dikaruniakan kepada seseorang sesungguhnya ada hak orang lain yang harus ditunaikan. Kekayaan dan harta juga cobaan dan ujian, hendaknya juga menjadikan seseorang lebih berhati-hati agar selalu dekat dengan Allah SWT

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا ۖ وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ ۚ وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَمَنْ يُكْرِهْهُنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ


[33]
Dan orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan berkahwin, hendaklah mereka menjaga kehormatannya sehingga Allah memberi kekayaan kepada mereka dari limpah kurniaNya; dan hamba-hamba kamu (lelaki dan perempuan) yang hendak membuat surat perjanjian untuk memerdekakan dirinya (dengan jumlah bayaran yang tertentu), hendaklah kamu melaksanakan perjanjian itu dengan mereka jika kamu mengetahui ada sifat-sifat yang baik pada diri mereka (yang melayakkannya berbuat demikian); dan berilah kepada mereka dari harta Allah yang telah dikurniakan kepada kamu. Dan janganlah kamu paksakan hamba-hamba perempuan kamu melacurkan diri manakala mereka mahu menjaga kehormatannya, kerana kamu berkehendakkan kesenangan hidup di dunia. Dan sesiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah – sesudah paksaan yang dilakukan kepada mereka – Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

quran 24:33

20120718_zpsqloicczv.jpg
 
90. Al Maani'

Apapun yang ditentukan oleh Allah dalam kehidupan ini pasti terjadi, Dia berkehendak menurut kemauan-Nya, demikian pula halnya apapun yang tidak diingini-Nya pasti tidak terlaksana, Dia mampu mencegah segala sesuatu dengan ketentuan dan kekuasaan-Nya. Allah punya sifat Al Maani’ arti secara harfiah adalah menghalangi atau mencegah sebagaimana makna dalam ayat dibawah ini;


وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ


”Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.”[At Taubah 9;54]

Pada satu saat Allah akan mengabulkan do’a seseorang sesuai dengan kemauan-Nya, Diapun berhak untuk mencegah terkabulnya do’a itu, artinya bagaimanapun juga terkabul dan tidaknya doa seseorang tergantung kehendak Allah. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah 2;186;
”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a kepada-Ku…”

Do’a menurut bahasa adalah minta pertolongan, memanggil, memuji, memohon, sedangkan dari segi istilah yaitu permohonan hamba kepada Allah sebagai Khaliq [Pencipta]. Do’a selain berbentuk permohonan kepada Allah juga akan berujud ibadah sebagaimana Rasulullah bersabda, “Do’a adalah sumber ibadah”. Selain do’a itu perintah dari Rasul dia juga perintah Allah, bukankah Allah telah menyebutkan bahwa orang yang tidak mau berdo’a termasuk orang yang sombong, orang yang sombong terhalang baginya untuk masuk syurga;
“Berdo’alah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan do’amu, orang yang menyombongkan diri hingga tak hendak beribadah kepada-Ku sungguh mereka itu akan masuk neraka dalam keadaan hina dina” [Al Mukmin 40; 60]

Pada suatu hari Sayidina Ali Karamallaahu Wajhah, berkhutbah di hadapan kaum Muslimin.Ketika beliau hendak mengakhiri khutbahnya, tiba-tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil berkata, “Ya Amirul Mu’minin, mengapa do’a kami tidak diijabah? Padahal Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Ud’uuni astajiblakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu).
Sayidina Ali menjawab, “Sesungguhnya hatimu telah berkhianat kepada Allah dengan delapan hal, yaitu :
Engkau beriman kepada Allah, mengetahui Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya.Maka, tidak ada mamfaatnya keimananmu itu.
Engkau mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi engkau menentang sunnahnya dan mematikan syari’atnya.Maka, apalagi buah dari keimananmu itu?
Engkau membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak kau amalkan.
Engkau berkata, “Sami’na wa aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi kau tentang ayat-ayatnya.
Engkau menginginkan syurga, tetapi setiap waktu melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari syurga.Maka, mana bukti keinginanmu itu?
Setiap saat sengkau merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah, tetapi tetap engkau tidak bersyukur kepada-Nya.
Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh bagi(mu) karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang nyala-nyala” (QS. Al Faathir [35] : 6). Tetapi kau musuhi syetan dan bersahabat dengannya.
Engkau jadikan cacat atau kejelekkan orang lain di depan mata, tetapi kau sendiri orang yang sebenarnya lebih berhak dicela daripada dia.
Nah, bagaimana mungkin do’amu diterima, padahal engkau telah menutup seluruh pintu dan jalan do’a tersebut.Bertaqwalah kepada Allah, shalihkan amalmu, bersihkan batinmu, dan lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nanti Allah akan mengijabah do’amu itu.[Mengapa Do'a Tidak Diijabah.Manajemen Qalbu K.H. Abdullah Gymnastiar].

Allah menjanjikan kepada hamba-Nya yang berdo’a akan dikabulkan, tetapi bila syarat tidak dipenuhi maka Allahpun berhak untuk mencegah terkabulnya permohonan makhluk itu, sedangkan segala syarat yang sudah dipenuhi saja, bila Allah tidak berkenan maka tetap tidak akan terkabul do’a itu.

Ketika dakwah islam di Mekkah tidak memungkinkan lagi dilanjutkan berlama-lama maka direncanakan untuk hijrah ke Madinah, detik-detik perjalanan hijrah itu ada upaya dari kafir Quraisy untuk membunuh nabi Muhammad, dalam suasana genting itu Allah menyelamatkan rasul-Nya dan menggagalkan rencana jahat kafir Quraisy.

Pemuda-pemuda yang sudah disiapkan Quraisy untuk membunuhnya malam itu sudah mengepung rumahnya, karena dikuatirkan ia akan lari. Pada malam akan hijrah itu pula Muhammad membisikkan kepada Ali b. Abi Talib supaya memakai mantelnya yang hijau dari Hadzramaut dan supaya berbaring di tempat tidurnya. Dimintanya supaya sepeninggalnya nanti ia tinggal dulu di Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan kepadanya. Dalam pada itu pemuda-pemuda yang sudah disiapkan Quraisy, dari sebuah celah mengintip ke tempat tidur Nabi.Mereka melihat ada sesosok tubuh di tempat tidur itu dan merekapun puas bahwa dia belum lari.Tetapi, menjelang larut malam waktu itu, dengan tidak setahu mereka Muhammad sudah keluar menuju ke rumah Abu Bakr.Kedua orang itu kemudian keluar dari jendela pintu belakang, dan terus bertolak ke arah selatan menuju gua Thaur.Bahwa tujuan kedua orang itu melalui jalan sebelah kanan adalah di luar dugaan.

Walau sudah lolos dari kepungan di rumah itu, akhirnya merekapun dicari kemanapun perginya.Kemudian pemuda-pemuda Quraisy - yang dari setiap kelompok di ambil seorang itu - datang.Mereka membawa pedang dan tongkat sambil mundar-mandir mencari ke segenap penjuru.Tidak jauh dari gua Thaur itu mereka bertemu dengan seorang gembala, yang lalu ditanya.“Mungkin saja mereka dalam gua itu, tapi saya tidak melihat ada orang yang menuju ke sana.”

Ketika mendengar jawaban gembala itu Abu Bakr keringatan. Kuatir ia, mereka akan menyerbu ke dalam gua. Dia menahan napas tidak bergerak, dan hanya menyerahkan nasibnya kepada Tuhan.Lalu orang-orang Quraisy datang menaiki gua itu, tapi kemudian ada yang turun lagi. “Kenapa kau tidak menjenguk ke dalam gua?” tanya kawan-kawannya. “Ada sarang laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir,” jawabnya.“Saya melihat ada dua ekor burung dara hutan di lubang gua itu.Jadi saya mengetahui tak ada orang di sana.”

Muhammad makin sungguh-sungguh berdoa dan Abu Bakr juga makin ketakutan.Ia merapatkan diri kepada kawannya itu dan Muhammad berbisik di telinganya: “Jangan bersedih hati. Tuhan bersama kita.”

Perjalanan dakwah yang dilalui oleh nabi Muhammad dalam hijrah itu, selain merupakan scenario Allah untuk memenangkan da’wah juga merupakan keputusan –Nya untuk mencegah kejahatan orang-orang kafir terhadap tumbuh kembangnya risalah ini.

Allah juga mencegah kemungkaran yang dilakukan oleh Fir’aun ketika akan membunuh semua anak laki-laki di Mesir karena dikhawatirkan akan mengganggu kekuasaannya, tapi Allah memberi kesempatan kepada Musa untuk hidup memperjuangkan agama Allah walaupun harus berhadapan dengan Fir’aun, demikian pula dengan Ibrahim, Allah mencegah kemungkaran Namrudz yang akan membakar Ibrahim, api yang seharusnya membakar menghanguskan, dengan kekuasaan Allah tak mampu menjalankan fungsinya dalam rangka menyelamatkan nabi-Nya yaitu Ibrahim As.
“Mereka berkata: "Bakarlah Dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak".Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim",[Al Anbiya’ 21;68-69].

Bagaimanapun rencana kejahatan yang dilakukan oleh manusia, tidak akan mendatangkan hasil, Dia berhak untuk mencegah sehingga gagallah rencana kejahatan itu dan Allah akan memberikan rencana lain kepada mereka. orang-orang kafir itu membuat rencana jahat untuk mematahkan kebenaran Islam dan mereka berusaha menegakkan kebathilan, tetapi mereka itu tidak menyadari bahwa makar (rencana jahat)mereka itu digagalkan oleh Allah SWT.
“Dan Sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar Padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu.dan Sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.”[Ibrahim 14;46]

Kemarau yang panjang sehingga sulitnya mendapatkan air, banyak pertanian yang tidak jadi, tumbuh-tumbuhan dan hewan yang mati, kebakaran hutan dimana-mana, yang otomatis musim paceklik datang, harga barang-barang kebutuhan naik, sehingga masyarakat dalam keadaan panik dan susah mencari penghidupan, bila kemarau panjang Nabi menyarankan agar kita melaksanakan shalat minta hujan sebagai solusinya, minta pertolongan kepada Allah. Begitu juga ketiga musim hujan yang lama juga mendatangkan kesengsaraan kepada manusia, banjir terjadi dimana-mana merendam sekian daerah yang menyebabkan areal pertanian tidak dapat digarap, dengan curah hujan yang lebat kemungkinan longsor akan terjadi, jalan sebagai urat nadi transportasi terputus dan banyak aktivitas yang tidak optimal dilakukan.

Bencana lain seperti gagalnya panen, gempa bumi yang diiringi dengan tsunami juga akan menelan korban tidak sedikit, kerugian harta benda sulit diperkirakan ditambah lagi dengan susahnya kehidupan manusia. Hal itu hanya bisa dihadapi dengan penuh kesabaran dan introsfeksi diri karena segala musibah selain merupakan gejala alam dia juga berkaitan erat dengan tingkah polah manusia, sikap hidup yang jauh dari agama Allah, ketaatan yang kamuflasi, kefanatikan yang sebenarnya kemunafikan dalam beragama, aqidah yang dikotori dengan syirik dan kemaksiatan;
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" [Ar Ruum 30;41].

Dengan datangnya bala atau bencana, ada upaya yang seharusnya dilakukan seorang manusia, baik yang berkaitan dengan gejala alam yaitu menserasikan alam ini sesuai dengan fithrahnya, dijauhkan dari segala yang dapat mendatangkan bencana seperti tidak melakukan penebangan dan perambahan hutan sembarangan dan menjaga keseimbangannya, sedangkan yang berkaitan dengan sikap kepribadian manusia maka harus kembali kepada konsep ketuhanan yaitu meningkatkan kualitas iman menjadi taqwa, dalam surat Al A’raf 7;96 Allah berfirman;
”Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan juga ayat-ayat Kami itu, maka mereka Kami siksa disebabkan perbuatannya”.

Tradisi yang berlansung di negeri yang rawan bencana ini adalah, dikala bencana datang atau dalam rangka untuk melepaskan negeri dari marabahaya dilakukanlah riitual tolak bala yang dihiasi pula dengan atribut islam seperti membaca Shalawat, membaca Barzanji yang terkesan memang demikian yang diajarkan oleh Rasulullah. Pada sebuah tempat dibawalah sebuah perahu yang sarat dengan bahan makanan diadakan ritual khusus dibawah pimpinan seorang pawang atau dukun, diantarkan ke tengah lautan dengan maksud agar penghuni laut tidak murka, bencana yang berasal dari laut tidak datang.

Ada pula pada sebuah tempat masyarakat datang beramai-ramai, dilakukan penyembelihan hewan di bukit dengan bacaaan tahlil sekian ribu kali untuk mengusir kemarau panjang yang telah menelantarkan areal pertanian masyarakat, sehingga bukit itu semerbak dengan kemenyan dan berkabut karena asap yang beterbangan, ada kesan puas dan penuh harap dari yang datang supaya Allah melepaskan mereka dari musibah.

Pada waktu-waktu tertentupun dilakukan penyerahan hasil panen ke tempat-tempat tertentu seperti gunung, bukit, gua dan tempat-tempat keramat lainya sebagai tanda bersyukur atas panen yang sudah dilaksanakan, harapannya supaya hasil panen yang akan datang lebih dari hasil sekarang. Bila hal ini tidak dilakukan maka rasa takut kalau panen yang akan datang tidak baik, penyakit tanaman menyerang sehingga menyengsarakan kehidupan yang akan datang. Itulah tradisi masyarakat kita yang masih berlansung hingga kini, walaupun ada membawa-bawa simbul islam sebenarnya ritual itu jauh sekali dari ajaran islam, banyak hal-hal syirik yang mereka lakukan, maksud hati ingin menolak bala, menolak bencana dan musibah tapi dengan cara demikian malah akan mendatangkan bala.

Rasulpun mengajak ummat-Nya untuk melakukan pencegahan terhadap kemungkaran, "Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata :Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.(Riwayat Muslim)
Rasulullah menegaskan kepada ummatnya, ”Sampaikanlah apa yang telah anda terima dariku meskipun hanya satu ayat”. Ini menunjukkan betapa pentingnya da’wah demi keselamatan hidup manusia di dunia hingga akherat.

Para sahabat telah mendapat pendidikan dan bimbingan dari Nabi _ tentang sarana dan metode-metode dalam berdakwah.Lalu setelahbeliau _ wafat para shabatlah yang memikul tanggung jawab dakwahini.Para shahabat (semoga Allah meridhai mereka) telahmengorbankan saat-saat senang dan mengekang syahwat mereka(demi dakwah), dan mereka tak segan-segan mengorbankan harta,waktu dan jiwa mereka demi tersebarnya agama ini di muka bumi.Merekalah yang telah menyiarkan dakwah ilallah, mengembankalimat laa ilaaha illallah sehingga merasuk ke dalam setiap rumah dibelahan bumi timur dan barat, di kawasan Syam dan Iraq, Mesir danAfrika utara, di Rusia dan kawasan di sebarang sungai dan yanglainnya

Dan negari ini (Kerjaan Arab Saudi) dimenangkan hingga Islam tersiar dan tauhid tersebar sebagai ganti dari kesyirikan, kekufuran diganti dengan keimanan, dan bermunculan pula di negari ini para ulama dan da'i, orang-orang yang suka beribadah dan zuhud, orang-orang sholeh, para mujahid, yang semuanya ini menyenangkan bagi setiap orang muslim. Merekalah orang-orang yang terbaik, termulia dan merekalah yang telah diridhai Allah _ dan merekapun ridha kepada Allah, merekalah orang-orang yang jujur dan benar dalam menepati janjinya dengan Allah _ .

Allah Maha Pencegah, Engkau berkuasa untuk menentukan segala sesuatu dan Engkau juga berkuasa untuk Mencegah terjadinya sesuatu, kalau Allah ingin menghancurkan sebuah negeri, walaupun seluruh isi langit dan isi bumi melindunginya maka tidaklah mampu mereka untuk mencegah kemauan Allah.

Al Maani’ Engkaulah yang mengabulkan doa dan memenuhi harapan manusia, tanpa ketentuan-Mu maka tidak ada orang yang mampu untuk mengabulkannya, Engkaulah yang menjadikan hamba ini tercegah dari perbuatan maksiat, dosa dan kesalahan, semua itu karena taufiq dan hidayah-Mu. wallahua'lam

animal%20wallpaper%2001_zpsfnejffyo.jpg
 
Back
Top
Log in Register