BTC USD 86,273.8 Gold USD 4,152.62
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Berdialog dengan jin islam

porexseeker

Fun Poster
Messages
125
Joined
Apr 5, 2012
Messages
125
Reaction score
3
Points
15
SEKADAR PERKONGSIAN:

TENTANG PENULIS

MUHAMMAD 'ISA DAWUD, lahir di bagian timur Isma`iliyah, tahun
1957. Dibesarkan dan menempuh pendidikan di Kairo. Meraih gelar Lc. di bidang sastra dari Fakulti Bahasa-bahasa dan Studi Timur, Cairo University. Dia memulai karir profesionalnya di surat kabar Al Akhbar dan Akhbar Al-Yawm, sebagai redaksi dan editor, di samping terjun pula sebagai da'i.

Bekerja di surat kabar An-Nadwah Saudi Arabia, dan karirnya terus meningkat, sampai akhirnya dipercaya sebagai Direktur Umum surat kabar harian di Saudi, sekaligus sebagai Wakil Pimpinan Redaksi untuk rubrik Pemikiran dan Kebudayaan Islam, selain mengetuai bahagian referensi (dan koreksi. Di samping itu, dia masih pula menjabat sebagai penasihat bidang informasi khusus untuk ketua informasi Makkah Al-Mukarramah.

Muhammad Isa Dawud menulis ,ratusan makalah dan berbagai kajian dalam bidang agama, sastra, bahasa, sosial dan politik, yang dimuat dalam berbagai surat kabar dan majalah di Saudi Arabia dan Mesir. Kini dia adalah anggota persatuan Wartawan Mesir,dan organisasiPersuratkabaran Internasional (PIO). Sekarang sibuk mem- berikan ceramah ilmiah, pemikiran dan kebudayaan, dan menerbitkan beberapa karya khususnya di Mesir.

`Isa Dawud adalah orang yang yakin betul bahwa sesuatu yang bersumber dari kalbu pasti akan sampai di kalbu pula. Sedangkan yang hany a berasal dari mulut, pasti hanya masuk telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.[]


Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

MUKADIMAH

Tunduk kepada khayalan dan mengikatkan diri semata-mata pada kecenderungan akal, plus ketidaktahuan terhadap sesuatu yang tidak kita ketahui, adalah jalan menuju kesesatan, yang kadang-kadang seluruhnya, atau salah satu di antaranya, menyatu dalam diri seseorang. Yang demikian ini, cukup sudah sebagai jamin an bagi terjadinya kekeliruan persepsi, rusaknya akidah, dan terjadinya dekadensi.
Itu sebabnya, maka diturunkanlah akidah Islam y ang komp re-. hensif, me menuhi tu ntutan emosi dan rasio, mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak mereka ketahui sebelumnya, dan mengeluarkan
mereka dari kegelapan ke*****an , lalu menyinari jalan yang dilaluinya. Karena itu, barangsiapa mengikuti apa yang diajarkannya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya, kemudian beriman kepada segala sesuatu yang disampaikan oleh Alquran, berarti dia telah memperoleh petunjuk, dilindungi dan dipenuhi segala keperluannya.Dan barangsiapa menyimpang darinya, bererti dia telah disesatkan setan: Barangsiapa tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidaklah dia mempunyai cahaya (petunjuk) sedikit pun (QS. An-Nur: 40).
Sepanjang jin merupakan makhluk y ang bersama-sama dengan kita menghuni planet bumi ini, atau dengan ungkapan yang lebih tegas "Kami (Allah) telah menempatkan mereka di bumi, " dan dia lebih dulu ada dibandingkan dengan manusia, dan dalam banyak hal mereka juga bergaul dengan manusia, memiliki keinginan dan kemampuan memilih antara baik dan buruk, untuk kemudian melaksanakan salah satu di antara keduanya, dan sepanjang jin juga merupakan makhluk yang dikenai kewajiban beribadah oleh syariat, dan manusia baik yang Mukmin maupun non Mukmin mengetahui adanya makhluk ini, maka wahyu ternyata membatasi jalan kita untuk mengetahui alam gaib ini dari pandangan kita ,sekalipun kadang-kadang kita boleh merasakan kehadirannya. Sementara itu, Sunnah Nabi pun telah menjelaskan kepada kita secara gamblang tentang hal-hal yang berkaitan dengan alam gaib tersebut, sehingga kita tidak tersesat dari jalan yang benar.
Dan jika orang-orang non-Muslim menisbat kan kepada jin berbagai kemampuan yang sebenarnya tidak mereka miliki, seperti pengetahuan tentang yang gaib, maka yang demikian itu disebabkan karena ke*****an mereka. Akan tetapi bila hal se perti itu terjadi pada sementara kaum Muslim, maka ia merupakan sejenis syirik dan bukan karena ke*****an mereka.. Sebab, bertanya adalah kunci pengetahuan, dan Alquran yang dibaca dan didengar pun telah menjelaskan bahwa tidak ada yang dapat mengetahui yang gaib kecuali Allah: Ketahuilah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan), melainkan prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga (QS. Yunus:
66).
*********
Sudah sejak lama , dan selama beberapa tahun dalam usia saya,ala m jin sangat menarik perhatian saya,karena adanya beberapa peristiwa yang di situ beberapa jin terlibat.
Karena saya seorang Muslim, maka saya pun percaya pada adanya alam jin, berikut hal-hal yang berkaitan dengan mereka sebagaimana yang difirmankan Allah dan diberitakan oleh Nabi saw.
Hanya tinggal satu masalah yang saya percayai dalam keadaan sang at goyah,atau dengan masih adanya sesuatu yang mengg anjal dalam diri saya. Yakni, masalah masuknya jin ke dalam diri manusia. Hal itu sebenarnya tidak saya pungkiri.Sebab,Rasulullah yang ma`shum telah memberitakannya kepada kita, dan sesudah beliau hal itu disampaikan pula oleh para imam yang terpercaya, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ibn Taimiyyah, Ibn Al-Qayyim, dan lain-lain. Akan tetapi karena ketidakmampuan saya untuk menangkap persoalan ini dan juga karen a kedangkalan akal saya, sekalipun saya tetap mengimaninya,maka yang bisa saya lakukan ha nyalah memohon ampunan kepada Allah atas kekurangan dan keterbatasan saya,dan saya berlindung kepada-Nya dari godaan setan dan kehadirannya pada diri saya.

Sejalan dengan profesi saya sebagai seoran g wartawan di Su rat kabar Al-Akhbar sebelum ini, dan dengan keterlibatan saya di bidang dakwah, suatu hari yang ketika itu saya menjabat sebagai Pimpinan Masjid Al-Malik di Hada`iq AI-Qubbah, dan yang menjadi imam dan pengajarnya adalah Syaikh Abdul-Hamid Kisyik, yaitu salah seorang di antara guru- guru saya yang sangat saya hormati-terjadilah suatu peristiwa, di mana secara tiba-tiba datang menemui kami dua orang
yaitu gadis jin yang masuk ke dalam jasad gadis manusia. Kedua-duanya, jin dan gadis manusia yang disurupinya,sama-sama Muslimah.Penyusupan itu terjadi di depan mata saya, dalam sosok yang tidak saya ragukan sama sekali,dan hendaknya orang-orang yang beriman mempercayai apa yang saya lihat itu. Gadis jin tersebut dapat menjelma
dalam berbagai bentuk, yakni memperlihatkan dirinya bukan dalam bentuk aslinya.Dia pandai berbahasa arab,dan namanya Georgina
Abdurrahman.
Sesudah itu, dalam waktu yang tidak lama,datang pula kepada kami
seorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun disertai kedua orangtuanya. Begitu pintu ditutup,tiba-tiba gadis itu tertawa terbahak-bahak, lalu menyambar-nyambar. Kedua orangtuanya, yang pada saat itu berada dalam keadaan yang sangat tertekan, menceritakan bagaimana gadis tersebut kesurupan jin wanita yang kafir, bahkan ateis. Begitu kami
menyarankan untuk membaca ayat kursi, tiba-tiba gadis itu bergerak
sangat cepat ke sana kemari,dalam kekuatan yang tidak wajar. Dia memukul teralis yang terbuat dari besi dengan keras.Kami segera membaca ayat kursi.Tiba-tiba setan perempuan yang menyelusup dalam tubuh gadis itu,mengucapkan sumpah-serapah dan kata-kata kotor yang tidak pantas dikemukakan di sini. Kami terus membaca ayat kursi, sampai akhirnya gadis itu ambruk ke tanah seperti orang pingsan. Kami mengangkatnya dan memindahkannya ke dipan. Pada mulanya hal itu sangat sulit kami lakukan, karena tubuhnya mengejang-ngejang dan sulit digerakkan. Tetapi berkat pertolongan Allah,akhirnya gadis itu sadar.Kami membaringkannya di depan,dengan tidak lupa menyelimuti kedua kakinya. Sesudah dia betul-betul sadar, kami menasihatinya agar selalu melaksanakan ajaran-ajaran Islam, melaksanakan perintahnya dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Rasulullah saw.
Sejak saat itu, pengalaman saya tentang dunia yang ganjil-ganjil terus bertambah,sampai tingkat yang agaknya tidak mungkin bisa dibayangkan oleh pembaca yang budiman.Akan tetapi saya membatasinya pada pengetahuan semata-mata.Sebab,bersahabat dengan sesuatu yang tidak sejenis dengan Anda, sama sekali tidak akan memberikan kebaikan apa pun, kecuali bersahabat dengan malaikat yang Anda muliakan dengan amal saleh Anda dan selalu berzikir kepada Allah.Sesudah saya ber-istikharah kepada Allah SWT untuk menulis buku t entang alam jin,maka Allah memberikan kehendak-Nya sehingga terjadilah hubungan antara saya dengan jin Muslim.Sebelumnya dia adalah kafir, kemudian Allah memuliakannya dengan Islam-melalui pertemuannya dengan saya yang terjadi berkali-kali dan dalam waktu yang cukup lama. Saya mohon maaf kepada pembaca bila di sini sayatidak memaparkan rahasia dan cara pertemuan kami.Sebab,hal itu merupakan satu aspek yang tidak memberikan manfaat kepada pembaca.Pada sisi lain,saya maksudkan agar saya tidak berbuat salah kepada orang yang saya cintai.Pada sisi yang ketiga, itu disebabkan karena moral seorang Muslim haruslah melindungi rahasia pihak lain, dan menganggapnya sebagai amanah,sepanjang yangbersangkutan memintanya demikian. jin yang saya maksudkan di sini, berasal dari keluarga Konjur, dan memilih nama Mushthafa sesudah dia masuk Islam. Seluruh persoalannya sangat ganjil. Karena itu, bersangka-baik sajalah, dan jangan bertanya mengapa begitu.

Dalam berbagai pertemuan dan dialog yang terjadi antara saya dan kawan yang datang dari alam gaib tersebut, saya mengajukan ratusan pertanyaan.Saya mengajaknya berbincang-bincang tentang berbagai ma salah,bahkan dia menunjukkan didepan mata saya berbagai ke- ajaiban yang dikhususkan Allah bagi mereka dengan ilmunya. Sesudah dia yakin betul akan persahabatan kami, dia mengungkapkan kepada saya banyak sekali hal yang selama ini diyakini se cara keliru oleh manusia; termasuk hal-hal lain yang ingin sekali saya gali darinya, namun dia tidak bersedia mengungkapkannya. Kendati demikian, saya telah terlibat dengannya dalam berbagai persoalan yang mungkin tidak pernah terlintas dalam pikiran pembaca yang budiman, yang saya ketahui melalui hubungan kami.

bersambungggggg........

Muhammad `Isa Dawud


DUNIA JIN:
YANG TAMPAK DAN YANG TERSEMBUNYI

Jinn adalah nama jenis, bentuk tunggalnya adalah jiniy, yang artinya yang tersembunyi", atau "yang tertutup", atau "yang tak terlihat". Hal itulah yang memungkin kan kita untuk mengaitkannya dengan sifat yang umum"alam tersembunyi",sekalipun akidah Islam memaksudkannya dengan makhluk -makhluk berakal,berkehendak,sadar dan punya kewajiban, berjasad halus,dan hidup bersama-sama kita di planet bumi ini.

Makna Jin dalam Bahasa Arab
Apabila para sarjana antropologi dan kebudayaan kuno menegaskan bahwa bahasa yang tercatat paling tua adalah Bahasa Sumeria,yang sejarahnya mengakar pada kira-kira 3500 tahun sebelum Masehi,yaitu masa yang dalam nisbatnya dengan sejarah umum manusia setara dengan lima detik, maka kita berpendapat bahwa Bahasa Arab adalah bahasa induk bagi bahasa-bahasa umat manusia seluruhnya.Bahasa Arab adalah bahasa pertama,dan darinya muncullah bahasa-bahasa kuno lainnya,yang juga disebut sebagai Bahasa Aramia,yang merupakan cabang darinya. Sebab, telah ditemukan beberapa teks dalam bahasa Aramia yang mengacu pada abad ke-14 SM suatu bahasa yang, dalam skala besar, terdiri dari bentuk-bentuk huruf Arab sekarang ini.
Saya bertanya kepada Jin Muslim sahabat saya, tentang bahasa paling tua yang pernah dikenal manusia. Dia menjawab bahwa nenek-moyangnya,yang mati disambar kilatan api Tuhan karena ulahnya yang mencoba-coba mencuri-dengar suara langit, memberitahukan kepada ayahnya bahwa kakek-kakeknya yang berasal dari India, mem-beritakan kepadanya bahwa
bahasa Arablah yang merupakan bahasa paling tua, sebagaimana yang
disampaikan oleh kabar-kabar mutawatir di dunia Jin
Dari segi bahasa,Al Jinn adalah lawan kata Al-Ins (manusia). Di- sebut-sebut bahwa jika dikatakan, anastu asy-syai'a berarti "saya melihat sesuatu". Allah SWT berfirman, Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan, dan dia berangkat dengan keluarganya, lalu dilihat-nya api di lereng gunung. Dia berkata kepada keluarganya, "Tunggulah di sini, sesungguhnya aku melihat api (anastu naran)" (QS. Al-Qashash: 29).
Kosa kata dalam bahasa Arab yang terdiri dari huruf Jim dan Nun, dengan berbagai bentukannya, memiliki pengertian "benda" atau "makhluk" yang tersembunyi.
Al janin (janin) disebut demikian karena ketersembunyiannya dalam perut ibunya, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah yang berbunyi, ... dan ketika kamu masih tersembunyi (ajinnat) dalam perut ibumu (QS. An-Najm: 32).
Junnat AI-Layl, artinya ketersembunyian oleh kegelapan malam dan tertutup tabir hitamnya, seperti firman Allah yang berbunyi, Ketika malam telah menjadi gelap (janna), maka dia melihat sebuah bintang (QS AI-An-'am: 76).
Junna ar-rajulu jununan,wa ajannahullahu fahuwa majnun, artinya
'Jika seseorang telah kehilangan akalnya, dan 'tertutup'-lah kesadarannya, maka dengan itu hilanglah kewajiban-kewajiban darinya akibat tidak adanya akal." Tentang pengertian yang seperti ini Allah SWT berfirman, ... atau, pada dirinya ada penyakit gila? (QS. Saba': 8).
Termasuk kategori ini adalah ucapan Nabi saw. yang berbunyi, "Puasa itu adalah junnah (perisal),"1 dan penjelasan 'Utsman ibn Abi Al-'Ash terhadap kata junnah yang berbunyi, "Puasa itu adalah junnah (perisai) seperti junnah kalian dalam peperangan." Junnah, dengan demikian, berarti pelindung atau penutup. Penulis kitab An-Nihayah mengatakan bahwa makna puasa sebagai junnah adalah karena ia melindungi pelakunya dari serangan syahwat. Al-Qurthubi mengatakan: "Junnah berarti pembatas, yakni dalam kaitan dengan ketentuan syariat. Yaitu, setiap orang yang berpuasa mesti melindungi dirinya dari segala sesuatu yang bisa merusak puasanya dan menghilangkan pahalanya. Juga benar bila junnah diartikan sebagai penutup karena pahala dari peningkatan kebaikan yang dihasilkannya." Ibn 'Arabi mengata- kan Sesungguhnya puasa itu adalah junnah (pelindung) dari api neraka, karena puasa bisa mencegah syahwat, sedangkan neraka diperingan jalan ke arahnya dengan syahwat. Alhasil, jika seseorang yang berpuasa menahan diri dari memperturutkan syahwat di dunia, maka
puasa tersebut bisa menjadi penutup dirinya dari siksa neraka diakhirat.2
Orang Arab menyebut perisai yang dengannya seorang prajurit melindungi diri dalam peperangan dengan al-mijann.Sebab, prajurit tersebut menutupi dirinya dengan perisai itu dari lemparan,tikaman,dan pukulan musuh.Segalasesuatu yang Anda gunakan sebagai penutup diri dari segala keburukan, adalah junnah.3 Surga yang dijanjikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yan g bertakwa disebut jannah karena banyaknya pohon yang terdapat di sana, yang saling menutupi satu sama lain.
Hati kita juga disebut al-janan karena ia merupakan sesuatu yang tertutup oleh dada.Ada pula yang mengatakan bahwa ia disebut demikian, karena pikiran dan lintasan hati yang dimilikinya tertutup dan tidak terlihat. Dengan demikian, segala yang tidak tampak oleh pandangan mata, atau yang tersembunyi, disebut sebagai janan. Itu pula sebabnya, maka kuburan juga disebut junan, karena ia menutupi orang yang dikubur di dalamnya.4
Kata jiniy yang diucapkan orang-orang Arab dahulu dan juga dipergunakan oleh Alquran, adalah makhluk berakal yang tersembunyi (tidak terlihat mata), yang hidup bersama-sama dengan kita. Bahasa- bahasa Eropa mengadopsinya dari bahasa Arab, lalu melafalkannya dengan genie (Inggris). Sekalipun kamus-kamus mereka me maksud - kannya dengan "roh setan", namun dalam film-film modern istilah ini mereka maksudkan dengan makhluk berakal, khususnya, yang berbuat baik atau membantu manusia dalam melakukan kebaikan.


Awal Penciptaan Jin
Allah SWT menciptakan jin sebelum menciptakan manusia, dengan selisih waktu yang lama bila dikiaskan pada manusia maupun jin
sendiri. Allah SWT berfirman, Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin, sebelum itu, dari api yang sangat panas (QS. Al-Hijr: 26-27).

Kalimat "sebelum itu" dalam ayat di atas, mengisyaratkan pada waktu yang sangat lama yang menunjukkan usia penghunian jin dimuka bumi sebelum manusia.Dengan demikian, selisih waktu tersebut bukan hanya 40tahun sebagaimana yang dikatakan sementara orang,5 akan tetapi ia merupakan waktu yang sangat lama, bahkan jika dikiaskan dengan jin sekalipun. Sebab, waktu 40 tahun bisa jadi tidak melebihi waktu penyusuan bayi jin. Kemungkinan waktu tersebut setara dengan 2000tahun seperti yang terdapat dalam pendapat yang dinisbatkan kepada Abdullah binAmr ibn Al-Ash, dalam suatu riwayat yang saya duga adalah palsu.6 Atau, bisa pula menunjukkan waktu yang lebih lama yang mendekati 6000 tahun bila dikiaskan kepada manusia suatu rentang waktu yang dianggap oleh jin sebagai waktu yang sangat lama yang menjadi salah satu kebanggaan mereka.

Namun,apapun juga adanya, pengetahuan tentang masalah ini sama sekali tidak memberi manfaat atau mudarat apa pun.Jin sahabat saya, kendati dia jin Mu slim,berkali-kali menyebutkan bahwa jin diciptakan Allah sebelum manusia.Dia begitu bangga dengan hal ini, sampai-sampai saya harus mengingatkan kepadanya bahwa seorang Muslim tidaklah boleh membanggakan dirinya kepada saudara sesama Muslimnya, khususnya jika kelebihan itu hanyalah menyangkut "lebih dulu diciptakan "dan bukan kelebihan esensial yang ada pada dirimereka,tetapiberkaitandengan kehendak Allah SWT Jin sahabat saya itu, subhanallah, begitu bahagia karena bisa belajar dari manusia, dan berulang kali mengatakan, "Ajarilah saya... ajarilah saya," atau "Tam- bahlah ilmu saya."

bersambung.....

​
 
Last edited:
Materi Asal Penciptaan Jin

Allah SWT berfirman, Dan Kami telah menciptakan Jan, sebelum itu, dari api yang sangat panas[når as-samum](QS. Al-Hijr: 27).
Dan Dia menciptakan jan dari nyala api [marii](QS. Ar-Rahman: 15).
Ketika mengisahkan perkataan Iblis, Allah SWT berfirman, Engkau ciptakan aku dari api, sedang Engkau menciptakan dia dari tanah (QS. Al-Araf: 12).
Imam Muslim, dalam Shahih-nya, mencantumk an sebuah hadis Yang diterima dart 'U rwah, dart A'isy ah, yang meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. berkata; "Malaikat diciptakan dart cahaya, dan Jan diciptakan dari nyala (marij) api, dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan kepada kalian."7
Dengan demikian, baik Alquran Al-Karim maupun Sunnah Rasul yang suci, telah menegaskan tentang materi asal penciptaan jin, yaitu api, sekalipun Alquran dan Sunnah sesekali mengungkapnya dengan Nyala api" dan pada kali lain dengan "api yang sangat panas".
Lantas, apa y ang dimaksud dengan "ny ala api (marij)" dan "api
Yang sangat panas (nar as-samum)" itu?
Berkenaan dengan makna al-marij (nyala api), Imam An-Nawawi men g a takan, "Yaitu jilatan api (al-lahab ) yang bercampur dengan hitamnya api." Sementara itu, Ath-Thabari mengatakan, "al-marij ialah sesuatu yang bercampur satu sama lain, antara merah, kuning, dan biru, berdasar ucapan orang-orang Arab yang mengatakan marija 'amr al-qawm yang berarti 'urusan kaum itu bercampur aduk.' Juga berdasar ucapan Nabi saw. kepada Abdullah bin ibn Al-Ash yang berbunyi , 'Bagaimana halmu jika kamu berada di tengah-tengah suatu kaum yang perjanjian dan amanah mereka sudah bercampur baur....' 8 Dengan demikian, arti marij adalah nyala api dan lidah api,"9


Dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan: "Al-Marij adalah al-lahab (nyala a p i ) dari Ib n 'A bbas. Atau, inti api, atau lidah api y ang berada di puncak manakala api tersebut menyala." Al-Laits mengatakan, "AI-Marij ialah api yang sangat terang yang memiliki nyala (panas) yang sangat kuat." Ibn
'Abbas mengatakan, ' "AI-Marij adalah nyala api yang berada di bagian atas, yang saling bercampur warnanya antara merah, kuning dan biru." Sementara itu, Abu 'Ubaidah dan Al-Hasan mengatakan, "AI-Marij adalah campuran api. la berasal dari marija yang berarti bercampur baur." Al-jauhari dalam Al-Shihah mengatakan bahwa, yang dimaksud dengan marij min nar adalah api yang tidak berasap, yang dari itu jin diciptakan."10

Sedangkan mengenai makna as-samum, Imam An-Nasafi, dalam Tafsir-nya, mengatakan, "... as-samum, ialah api yang sangat panas yang digunakan di tempat peleburan."11 Dalam Tafsir Al-Qurthubi dikatakan, "Diriwayatkan bahwa Allah SWT menciptakan dua jenis api, yang satu sama lain bercampur, dan saling telan-menelan, itulah nar as-samum (api yang sangat panas)."12 Masih dalam Tafsir Al-Qurthubi, dalamsurah Al-Hijr disebutkan bahwa Ibn Mas'ud mengatakan, "Nar as-Samum yang darinya jin diciptakan adalah satu bagian dari tujuh bagian api Jahannam." Sedangkan Ibn 'Abbas mengatakan bahwa as-samum ialah angin yang
sangat panas dan mematikan. Di bagian lain Ibn`Abbas mengatakan bahwa, "As-samum adalah api tanpa asap, dan halllintar terbuat darinya." Sementara itu, Al-Qusyairi mengatakan bahwa, "Angin panas disebut as-samum karena la masuk misam tubuh (toxit)."13 "Berdasar uraian di atas, maka tidak ada perbedaan antara al-marij ''
dengan as-samftm. As-samum adalah sifat yang ditambahkan dan penjelas bagi karakter al-marij. Dengan seluruh penghormatan kita kepada pendapat-pendapat para pendahulu kita, maka pendapat yang me- ngatakan bahwa as-samum adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api Jahannam, rasanya tidak memiliki dasar yang kuat. Jadi, kiranya cukuplah
bila di sini kita ketahui bahwa api ini mengandung ether yang menyebabkan ia menjadi begitu ringan, dan terdiri dari campuran
berbagai warna yang menyebabkan makhluk yang terbuat darinya pun memiliki warna yang bermacam-macam, serta kemampuan memanjang dan
meninggi, yang menyebabkan makhluk-makhluk yang terbuat darinya pun mempunyai kecenderungan pada dua sifat ini.

Jin sahabat saya itu, sekalipun dia Muslim, sangat bangga akan kesanggupannya menghafal seluruh Alquran Al-Karim hanya dalam waktu empat bulan saja. Dia menyombongkan diri terhadap jin yang berada bersamanya dalam salah satu majelis, yang tidak seperti dirinya. Karena itu, saya menasihatinya agar la memuji Allah atas kekuatan dan -kecakapan
hafalannya yang demikian istimewa, dan hendaknya tidak menyombongkan diri kepada siapa pun. Sebab, Allah yang telah meng- anugerahkan nikmat seperti itu, pasti bisa mencabutnya dalam sekejap. Mendengar nasihat saya, dia tampak kaget dan mengucapkan istighfar. Jin sahabatnya yang lambat hafalannya itu selalu menasihatkan kepadanya bahwa hanya menghafal saja tanpa mengamalkan, sama sekali tidak ada artinya. Saya setuju dengan itu. Sebab, pernah pula di-sampaikan kepada salah seorang cerdik-pandai bahwa si Fulan hafal seluruh isi Shahih Al-Bukhari, dan beliau mengatakan, "Tanpa amal, tidak ada sesuatu yang lebih kecuali sekadar tulisan dalam buku
 
Last edited:
Jin Tidak Lagi Berbentuk Api

Sebagaimana halnya dengan jasad kita yang tidak lagi berbentuk tanah yang bila dicampur dengan air menjadi luluh, maka seperti itu pulalah halnya dengan jin. la tidak saja sudah tidak berada dalam bentuk asalnya sebagai api, tetapi juga sudah dibentuk oleh Allah SWT menjadi wujud benda, lalu dikembangkan menjadi bentuk dan organ-organ tubuh. Kemudian ditiupkan kepadanya ruh agar dia menjadi
makhluk yang cerdas, berakal, dan memiliki kebebasan memilih, persis seperti ketika Allah mengembangkan Adam dari tanah, kemudian menjadi tanah liat yang lebih dikenal dengan ath-thin. Selanjutnya dari tanah liat menjadi hama' masnun, yakni tanah liat hitam yang sudah berubah baunya karena lama terendam dalam air. Kemudian tanah liat hitam dan basah itu berubah menjadi tanah liat kering (shalshal) dan keras yang, kalau diketuk, dapat mengeluarkan bunyi. Sesudah itu ditiupkan ruh, sehingga jadilah Adam sebagai manusia yang sangat baik bentuknya, melalui kekuasaan Allah SWT.
Dengan kehendak dan kekuasaan Allah berubahlah nyala api menjadi benda yang terkumpul di dalamnya sifat basah dan kering, lalu ditiupkan kepadanya ruh, sehingga berubahlah ia menjadi benda ether yang berbentuk dan bersosok, ringan dan lembut. '

Disiksa dengan Api (Neraka)
Kadang-kadang terasa musykil bagi sementara orang untuk me- mahami bagaimana jin yang terbuat dari api bisa disiksa dengan api pula, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi, Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama-sama umat-umat terdahulu, baik jin maupun manusia (QS. Al-A'raf. 38),Kalimat Tuhanmu telah ditetapkan: "Sesung-guhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia yang durhaka) semuanya" (QS. Hud: 119), dan Maka mereka dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang yang sesat, dan bala tentara Iblis semuanya (QS. Asy-Syu'ara: 94-95), serta ayat-ayat yang menyampaikan ancaman kepada mereka dengan siksa neraka Jahim dan neraka Jahannam.
Jawabnya mudah dan dekat. Akan tetapi karena begitu dekatnya, sehingga menjadi sulit dilihat atau ditentukan. Anda sekalian, wahai anak Adam, diciptakan Allah SWT dari tanah. Kendati begitu, jika Anda tertimpa segumpal tanah yang keras, atau yang tidak keras tetapi banyak, pasti ia akan melukai dan bisa-bisa membuat Anda mati. Lantas, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Sebab, secara sederhana, Anda sekarang Judah tidak Magi berada malam bentuk segala, tetapi Judah memiliki bentuk yang lain. Demikian pula halnya dengan jin.
Bahkan, kalaupun jin masih tetap berbentuk nyala api, atau bahkan a p i itu send iri, mak a k a lau Allah menghend aki la b i sa merasa d a n menentukan bahwa ia bisa disiksa dengan barang yang sejenis, niscaya hal itu mudah saja bagi Allah. Allah SWT berfirman, Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya, 'Jadilah!" maka jadilah ia (QS. An-Nahl: 40).
Persoalanny a di sini, dari awal hingga akhir, berk aita n deng an akidah, bertautan dengan iman kepada Allah SWT, dan dibangun atas dasar key akinan akan benarny a firman Allah: Sesungguhnya orang- orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar (QS. Al-Hujurat: 15).
Allah juga berfirman, Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dikehendaki dan memilih-Nya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka (QS. Al-Qashash: 68), dan Katakanlah, "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam he dalam siang, dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa batas" (QS. Ali 'Imran: 26-27).
Kehendak Allah SWT adalah mutlak. Iradah-Nya mutlak. Kekuasaan-Nya mutlak. Mahasuci Allah dan Mahatinggi. Kami beriman kepada-Nya, kepada firman-Nya, kepada kehendak-Nya, apa pun juga yang Dia kehendaki.
Adalah mengherankan adanya sementara orang yang mengingkari disiksanya jin dengan api,. sedangkan jin sendiri mengakui hal itu. Mengisahkan ucapan mereka Allah berfirman, Dan sesungguhnya di antara kami terdapat jin-jin yang taat, dan ada pula jin -jin yang menyimpang dart kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun jin-jin yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam (QS. Al-Jin: 14-15).

Sebagaimana yang telah saya kemukakan di muka, maka persoal- anny a, pertama-tama, adalah persoalan iman. Kalau Anda bu kan seorang yang beriman kepada Allah dan firman-Nya, maka sesudah kekafiran ad alah kesesatan. Terhadap orang-orang yang seperti itu, pintu diskusi memang tertutup.
 
Jin Juga Ada yang Masuk Surga



Adalah sangat mengherankan adanya sementara orang yang berpendapat bahwa jin, jika Muslim, beriman dan mengerjakan amal saleh, tidak memperoleh pahala di hari kiamat kecuali terhindar dari neraka. Yang lebih me ngherank an lagi ad alah pendapat y a ng me- ngatakan bahwa akhir kehidupan mereka adalah menjadi debu seperti binatang.
Padahal Alquran Al-Karim telah menegaskan setegas-tegasny a, khususnya dalam surah Ar-Rahman, tatkala Allah menjelaskan tentang para bidadari, dengan mengatakan, Di dalam surga itu terdapat bidadari- bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh sebelumnya, oleh jin maupun manusia (QS. Ar-Rahman: 55-56).
Di dalam Tafsir-nya Imam Al-Qurthubi mengatakan, "Di dalam ayat ini terdapat petunjuk yang menyatakan bahwa jin, sebagaimana halnya manusia, juga mati, lalu masuk surga. Untuk mereka disediakan jin-j i n perempuan (bidad ari- b id adari jin)." Dhamrah mengatak a n , Kepada mereka disediakan bidadari-bidadari: bidadari manusia untuk manusia, dan bidadari jin untuk jin.14
Mari k ita re nu n gkan firman Allah SWT y an g b erbuny i, Wa ha i golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepada kalian rasul-rasul dari golongan kalian sendiri, yang menyampaikan kepada kalian ayat-ayatKu, dan mengingatkan kalian akan pertemuan hari ini? Mereka berkata, "Kami menjadi saksi alas diri kami sendiri " Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi alas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. Yang demikian itu karena Tuhanmu tidaklah membinasakan negeri-negeri secara aniaya, melainkan penduduknya telah lalai. Dan masing-masing orang akan memperoleh derajat seimbang dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lalai atas apa yang mereka kerjakan (QS. Al-An'am: 130-132).

Terhadap firman Allah SWT yang berbunyi: Dan masing-masing memperoleh derajat seimbang dengan apa yang dikerjakannya, Al-Qurthubi me mberik an ko m e n t ar: "Mak sud n y a adalah dari golo ngan jin d a n manusia, sebagaimana firman Allah dalam ayat lain'yang berbunyi, Mereka itulah orang-orang yang telah ditetapkan (untuk mengalami siksa) di antara umat-umat terdahulu sebelum mereka dari kalangan jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Kemudian dilanjutkan, Dan bagi masing-masing diberikan derajat sesuai apa yang mereka kerjakan, dan agar mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka, sedang mereka tiada dirugikan (QS. Al-Ahqaf. 18-19). Di dalam ayat ini terdapat bukti bahwa jin yang taat akan masuk surga, dan yang maksiat akan masuk n e raka, p e rsis man usia. Inilah pend ap at y a ng tampaknya lebih sahih, karena itu ketahuilah."15
Imam Ibn Al-Qayyim menuturkan bahwa jumhur ulama' menyatakan bahwa jin Mukmin itu masuk surga, sebagaimana halnya yang kafir masuk neraka.16 Pendapat ini dikemukakannya kembali dalam bukunya yang berjudul Thariq Al-Hijratain wa Bab As-Sa'adatain, Mathba'ah As Salafiyyah, Kairo, halaman 149.
Imam Al-Bukhari me mbu a t satu pasal y a ng berkaitan deng an
masalah ini di bawah judul Bab Dzikr Al Jin wa Tsawabuhum wa Iqabuhum, sementara itu Imam Ibn Hajar Al-Asqalani mendiskusikan pula berbagai pendapat seputar masalah ini.17
Ima m An- Nawawi, dala m Syarh-nya atas kitab Shahih Muslim,
menganggap kuat pendapat yang menyatakan bahwa jin itu bisa masuk surga. Demikian pula halnya dengan Al-Fakhr Ar-Razi dalam Tafsir Al- Kabir-nya, Al-Alusiy dan Ruh Al-Ma’ani, Ibnu Katsir dalam. Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim, Muhammad Rasjid Ridha dalam Al-Manar, dan Sayyid Quth dalam Fi Zhilal Al-Qurdn. Pendapat inilah yang kita ikuti, seraya mengakui kedangkalan ilmu saya di hadapan tokoh-tokoh yang
saya sebutkan di atas. Kita beriman dengannya dan insya' Allah akan
mati dengan membawa akidah kita yang seperti ini.
 
MUNGKINKAH MELIHAT JIN, DAN BAGAIMANA PULA CARANYA?


Prinsipnya, melihat jin itu tidak bisa dilakukan, sepanjang jin tersebut berada dalam sosoknya yang hakiki, dan tidak menyerupakan diri dalam bentuk yang lain, yakni mengambil bentuk fisik-materiel, sekalipun hal itu sangat mungkin bisa dilakukan oleh para nabi sebagai suatu mukjizat, atau bagi orang yang dianugerahi oleh Allah kemampuan untuk itu. Juga bisa saja hal itu dilakukan oleh orang yang ditempatkan oleh Allah dalam suatu kondisi - tertentu yang memungkinkan dia dapat melakukannya, atau yang menempatkan dirinya dalam posisi tertentu yang memungkinkan terjadinya hal seperti itu.
Agar pembaca yang budiman tidak menuduh saya sebagai orang yang asal bicara, padahal sahabat Anda ini demi Allah adalah orang yang sangat menjauhi pembicaraan yang tidak berdasar dan bukan pula orang yang mengajak orang lain untuk percaya kepada khurafat, maka di sini saya akan mengemukakan bukti-bukti saya, dan mendiskusikan berbagai dalil syariat yang menyatakan ketidakmungkinan melihat jin, setelah terlebih dahulu saya kemukakan gambaran tentang sifat-sifat jin dan memperkenalkan beberapa kemampuannya yang pernah diperlihatkan kepada saya melalui anugerah Allah.

Persepsi yang Keliru
Kadang-kadang banyak orang tidak memahami bahwa jin_merasa prihatin dengan persepsi-persepsi keliru yang berkembang tentang bentuk-bentuk mereka yang tersebar di dunia manusia.
Ketika saya bertanya kepada jin Muslim sahabat saya tentang bentuk jin, dia menjawab dengan pengertian seperti yang telah saya kemukakan terdahulu. Dia menambahkan bahwa, "Manusia seringkali secara keliru meyakini tentang buruknya jin, dan bahwasanya bentuknya sangat menakutkan. la sekadar sosok yang membuat manusia menjadi takut: wajahnya tidak karuan, dan mempunyai ekor sebagai mata hanya merupakan perkiraan manusia."
Saya berkata kepadanya: "Kadang-kadang jin itu sendirilah yang bertanggung jawab te rhad ap munculnya anggapan yang salah dan buruk yang ada di pikiran manusia."– "Bagaimana mungkin bisa terjadi yang demikian?" tanyanya.
+ "Ya, karena adanya setan yang memperlihatkan diri dalam bentuk yan g demikian buruk dan menakut kan kepada seseorang, dengan maksud menakut-nakutinya atau karena maksud tertentu," jawab saya.
– "Bisa jadi demikian," katanya, "Akan tetapi, bagaimanapun, manusia telah melebih- mana binatang, dan bahwa..., dan bahwa.... Semuanya tidak berdasar, dan semata lebihkan gambaran mereka tentang jin, dan acap kali hal itu hanya merupakan kebohongan semata.18 Lebih dari itu, setan memang memiliki. sosok yang buruk, berbeda dari jin Mus- lim yang diberi bentuk yang baik oleh Allah."

Bentuk dan Sosok jin
"Kalau begitu," kata saya, "Mari kita luruskan persepsi dan pikiran mereka. Nah, bagaimana sebenarnya bentuk hakikimu seperti y ang diciptakan Allah?"*
"Menurut hemat saya, bentuk kami seperti yang diciptakan Allah SWT, tidaklah banyak berbeda dari bentuk manusia, kecuali beberapa perbedaan kecil di sana-sini. Kepala kami, misalnya, sedikit lebih besar dalam bandingannya dengan tubuh kami, bila dibandingkan dengan p erband ingan kepala'dan tubuh kalian. Mata kami me manjang dan tidak bulat seperti mata kalian. Di antara kami ada yang mempunyai mata memanjang arah ke atas, dan ada pula yang sedikit miring ke ara h d a h i , mi r i p ma t a l a zi mny a . o r ang-orang Cin a atau Jepang di kalangan kalian. Ada yang perlu dicatat. Yakni, mata kami tidak sipit seperti mata manusia, tetapi lazimnya besar dan lebar seperti mata rusa, namun dengan bentuk yang memanjang."
+ "Selama ini ada anggapan bahwa mata kalian selamanya merah," kata saya, "Apakah benar begitu?"
– "Tidak selamanya demikian," jawabnya, "Mata kami, sebagai-mana halnya dengan mata manusia, banyak sekali macamnya. Ada mata yang berwarna hitam, kuning, coklat tua, persis sep e rti mata manusia, sekalipun hitamnya berbeda dengan hitamnya mata kalian. Mata hitam kami cenderung keputih-putihan. Anggapan bahwa mata kami selalu merah, bisa jadi diakibatkan oleh adanya sinar-sinar halus yang memancar dari mata kami, yakni sinar yang selamanya cenderung b erwarna merah. la tidak menakutkan bagi siapa y ang menatapny a, bahkan di situ terdapat suatu keindahan."

"Sedangkan telinga kami," lanjutnya, "dua-duanya mirip telinga kuda, khususnya dalam hal bentuknya yang runcing. Ada pula di antara kami yang telinganya mirip telinga kucing. Kalau manusia mengamati secara cermat, telinga kucing, sesungguhnya, juga mirip dengan telinga kuda. Karena itu ,kalau ada diantara kami yang berbicara dan menyerupakan diri dalam bentuk-bentuk tertentu, maka y ang paling mereka sukai adalah kucing, kuda, atau harimau."19
"Soal hidung," paparnya lebih lanjut, "maka hidung kami terletak di tengah-tengah wajah kami. Persis seperti hidung manusia. Hany a saja ia tidak mancung seperti hidung kalian. Lazimnya hidung kami pesek atau bulat, mirip hidung laki-laki dan wanita Filipina."
"Jin Mu slim me manjangkan jeng gotny a, karena mengik u ti p e - tunjuk Nabi Muhammad saw. Terhadap mereka yang wajahnya tidak berjenggot, kami sebut wajahnya dengan 'wajah gentong'."
Rambut kepala kami sangat tebal, dan lebih tebal lagi pada kaum wanita jin. Di kalangan kaum laki-laki, rambut kami terasa lebih kasar, dan dalam skala besar lebih banyak yang botak. Rambut kaum wanita, bagi kami, sangat, sangat panjan g. Dan itu, merupakan lamb ang ke- cantikan. Sampai-sampai ada di antara mereka yang rambutnya terseret di tanah saking panjangnya."
+ "Bagaimana tentang tangan dan kaki kalian?"
- "Tangan tangan kami seperti tangan kalian. Cuma, dari segi panjang lengan dan kuku, agak berbeda. Lengan kami, dalam bandingannya dengan tubuh kami, terbilang sangat panjang, bila dibandingkan dengan lengan kalian terhadap tubuh kalian. Demikian pula halnya dengan kuku-kuku kami. Sebab, jari-jari kami pun panjang-panjang. Sedangkan kaki kami, berbeda dengan kaki kalian dalam hal letak tumit dan keruncingan jari-jarinya."
+ "Apakah kalian juga punya tulang, jantung, organ pernapasan dan pencernaan?""
- "Ya, persis seperti kalian, sekalipun tulang kami, dibandingkan dengan kulit atau daging kami, terbilang besar. Sekarang ini, kami memiliki kelenturan yang tak mungkin bisa kalian bayangkan. Organ-organ kami yang selebihnya, terbilang kecil-kecil. Semuanya berfungsi seperti tubuh kalian, sekalipun kami tidak membutuhkan oksigen untuk bernapas sebanyak yang kalian butuhkan. Begitu pula dengan alat pencernaan yang mencerna segala yang kami makan. Sisa-sisa pencernaan kami juga keluar dari lubang-lubang pencernaan seperti yang kalian 'alami, sekalipun kotoran kami tidak berbentuk kasar, melainkan lebih mirip dengan uap yang sangat pekat. Sedangkan air kencing, juga berbentuk gas yang sangat kuat tekanannya, tetapi sangat ringan dan mirip aliran air mancur di kalangan kalian. Itu sebabnya, maka ada setan yang bisa mengencingi telinga seorang
Muslim yang ketika tidur tidak menyebut asma Allah,"20 dan yang di malam harinya tidak p ernah bern iat untuk me nunaik an kewajib an kepada Alla h, Tuhan semesta alam."
+ "Apakah kalian punya alat kelamin?"
– "Persis seperti m a n u sia. Hanya saja t e rbilang kecil bila di- bandingkan dengan y ang ada pada kalian, dan dalam banding anny a dengan tubuh kami. Kaum laki-laki kami seperti kaum laki-laki kalian. Mereka punya dorongan birahi dan kemampuan untuk bersenggama, dan mengeluarkan sperma. Wanitanya pun seperti kaum wanita kalian. Mereka mernpunyai selaput dara yang pecah ketika terjadi hubungan seksual. Suatu bentuk kehidupan yang, wahai saudaraku, betul-betul kehidupan biasa."

+ "Kembali pada persoalan kepala. Nabi pernah berkata, 'Sesung- guhnya matahari, ketika terbit, ia membawa tanduk setan. Ketika la naik, dilepaskannya tanduknya. Kemudian ketika la tepat di tengah u f uk, dik e nak a nny a kemb ali tandukny a. Namu n k e tika terg elin cir tanduk itu ditanggalkannya, untuk kemudian dikenakannya lagi ketika ia mendekati tenggelam. Ketika betul-betul tenggelam, tanduk itu ditanggalkannya. Karena itu, janganlah kalian shalat pada tiga waktu tersebut.'21 Beliau juga mengatakan, 'Sesungguhnya matahari terbit di antara dua tanduk setan, dan tenggelam di antara dua tand uk setan pula."22 Seterusnya beliau juga mengatakan janganlah kalian men
dekatkan shalat kalian dengan waktu terbit dan tenggelamn y a mata- h a ri.Sebab,ia terbit diantara dua tanduk setan ,dan tenggelam di antara dua tanduk setan pula.23 Kalau demikian, apakah setan atau jin mempunyai tanduk dalam bentuk nyata, ataukah itu hany a me- rupakan kiasan saja?"*
− "Itu adalah ucapan Muhammad saw., dan dia mengatakan yang b enar. Setiap jin puny a dua tand uk. Tetapi kedua tand uk tersebut sangat kecil, bahkan bila dibandingkan dengan tubuh kami yang kecil ini
+ "Apa kalian juga berpakaian?"
− "
− "ya.... Kami mengenakan pakaian yang berbeda-beda dan indah-indah.Kaum wanitanya mengenakan pakaian yang sesuai dengan kewanitaannya:yang Muslimah mengenakan kerudung atau jilbab seperti kaum wanita kalian. Akan tetapi saya lebih menekankan jubah, sebab la lebih dekat dengan firman Allah yang berbunyi, Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka (QS. Al-Ahzab: 59). Kaum laki-lakinya mengenakan pakaian yang sesuai, lazimnya semacam kemeja.Sebagian besar jin menyukai warna merah, kemudian kuning, dan selanjutnya hitam."
+ "Bagaimana dengan lidahmu yang sekarang berkata-kata ini, apakah ia betul-betul lidah, ataukah kalian berbicara dengan cara yang tidak kami ketahui?"
− "Tidak, tidak. Ini betul-betul lidah dan bukan sekadar kiasan. Akan tetapi sangat kecil, sesuai dengan kecilnya tubuh kami. Singkat-nya,ka mi juga mempunyai organ-organ seperti kalian,segalanya, segalanya seperti kalian."
+ "Juga punya gigi?"
− "Tentu saja. Hanya saja bila dibandingkan dengan tubuh kami, ia terb ilang panjang, atau b e sar , dibandingk an d e ngan gigi kalian terhadap tubuh kalian."
+ "Kendati begitu, kami tetap tidak bisa melihat kalian?"
− "Ya, wajar saja. Sebab, asal kami adalah api yang bersifat gas yang ringan, sekalipun dalam kondisi-kondisi tertentu kami bisa di- lihat. "
+ "Kondisi yang bagaimana?"
− "Ya, ketika kami menampakkan diri dalam bentuk fisik dan materi”25 atau dalam kondisi sihir atau ketika seseorang minum air sihir
Atau, bisa saja, melalui kemauan Jin itu sendiri, dan dalam kondisi- kondisi lain yang tidak bisa tidak, kami pasti bisa dilihat."26
+ "Apa yang kalian kenakan di kaki kalian? Apakah kalian ber- jalan dengan telanjang kaki, atau mengenakan sepatu atau terumpah?"
− "Ya, ya, ada sesuatu yang kami kenakan. Tetapi berbeda antara jin Muslim dengan jin setan."
+ "Apa bedanya?"
– "Kalau jin setan, mengenakan satu terumpah di kaki kirinya,27
sedang kaki kanannya dibiarkannya telanjang."
+ "Kalau yang Muslim?"
– "Tidak seperti itu. Alhamdulillah, aku mengenakan dua terum- pah di dua kakiku."
+ "Terbuat dari apa terumpah kalian?"
– "Terbuat dari daun papirus."
+ "Daun papirus biasa, yakni daun yang digunakan sebagai alat tulis oleh para Fir`aun, ataukah daun papirus lain y ang kalian tana m dan tidak kami lihat?"
– "Tidak, ya daun papirus yang itu-itu juga. Akan tetapi, biasanya sangat kecil, sesuai dengan kecilnya tubuh kami. Apalagi ia kami kena- kan demikian rupa,sehingga ia mengikuti kekhususan - kekh ususan kami, sehingga tidak bisa dilihat oleh siapa pun
 
Pada Prinsipnya, Jin Tidak Bisa Dilihat

Allah Yang Mahaagung berfirman, Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga. Dia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya dia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempest yang kamu tidak bisa
melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman (QS. Al-A'raf: 27).
Imam Al-Qurthubi, dalam menafsirkan ayat ini, mengatakan bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa dalam ayat im terdapat dalil bahwa Jin itu tidak bisa dilihat, berdasarkan firman Allah yang berbunyi, dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Akan tetapi sebagian iainnya mengatakan bisa. Sebab, jika Allah menghendaki memperlihat- kan mereka, maka Dia menamp akkan tubuh mereka, sehin gga dapat dilihat. An-Nuhhas mengatakan bahwa firman Allah yang berbunyi, dari tempat yang kahan tidak dapat melihat mereka, menunjukkan bah- wa Jin itu tidak bisa dilihat, kecu ali pada masa Nabi. Sebab, hal itu merupakan bukti kenabian beliau . Yang demikian itu disebabk a n kar e n a Al la h SW T m e n c i p ta ka n m e re ka dal a m ben tu k ci pt aa n ya ng memang tidak bisa dilihat. Akan tetapi ketika mereka dialihkan dart bentuknya yang asli, dan yang demikian itu hanya merupakan mukjizat pada masa para nabi, maka mereka bisa dilihat. Al-Qusyairi mengata- kan, "Allah SWT memberlakukan adat bahwa anak-cucu Adam tidak dapat melihat setan sekarang ini (di dunia), dan dalam sebuah riwayat disebutkan, 'Setan berjalan dalam tubuh anak-cucu Adam bersamaan dengan aliran darah. ''28

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Manaqib Asy-Syafi'i, dengan sanad dart Ar-Rabi', katanya, "Saya mendengar Asy-Syafi'i berkata, "Barang siapa mengklaim dirinya melihat Jin, maka kami menganggap syaha- datnya telah batal, kecuali jika dia seorang nabi."29

Pendapat yang sama juga diikuti oleh Ibn Hazm Azh-Zhahiri ketika mengatakan, "Mereka (jin) bisa mellhat kita, tetapi kita tidak bisa melihat mereka, sebab Allah SWT telah berfirman, Sesungguhnya dia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari satu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka (QS. Al-A'raf.- 27). Kalau Allah telah memberitakan ke- p ada kita bahwa kita tidak dapat melihat mereka, maka barangsiapa y ang mengklaim diri telah melihat mereka, maka dia telah berdusta, kecuali kalau dia memang seorang nabi. Sebab, bagi para nabi, melihat jin adalah suatu mukjizat, sebagaimana yang ditetapkan oleh Rasulullah saw., bahwa beliau juga digoda setan dalam upayanya menggagalkan shalat beliau."30

Penjelasan tentang Masalah Tersebut:31

Saya bertanya kepada jin Muslim sahabat saya: "Bagaimana pen-dapatmu tentang melihat jin, apakah manusia bisa melihatnya?"
– "Kabarnya,diantara kalian ada yang berpendapat bahwa barangsiapa yang mengatakan telah melihat jin, batallah syahadatnya, atau ditolaklah syahadatnya ...... tanyanya kembali.
+ "Memang benar, itu adalah pendapat Imam Asy -Sy afi'i r.a.,"*
jawab saya.
− "Memang begitu. Akan tetapi apa yang disampaikan Allah SWT tidaklah menafikan kemungkinan melihatnya. Yang dimaksudkan di situ adalah bahwa pada prinsipnya memang begitu. Yang demikian itu adalah sesuatu yang wajar, yang sejalan dengan karakter tubuh kami yang diciptakan oleh Allah SWT Kami adalah dunia yang dikehendaki Allah untuk tidak bisa dilihat dari alam manusia, tidak bisa didengar dan disentuh, kecuali dalam beberapa hal yang didahului oleh ilmu- N y a . Yaitu, pem b eritahuan tentang keistimewaan dunia ini, atau kemam p u a n khusus y a ng denganny a dia (jin) menjadi mudah me- lancarkan gangguan atau bergaul dengan manusia, tanpa manusia sen- diri, pada umu mny a, memiliki kemu ngkinan untuk melihat mereka, kecuali dalam kondisi-kondisi yang sangat khusus."

+ "Menurut hematmu, apa pengecualian tersebut?"
− "Yakni ketika "Tadi sudah saya katakan, yakni ketika kami menampakkan diri dalam bentuk yang memang bisa dilihat, atau dalam keadaan sihir, atau minum air sihir,atau melalui kemauan jin itu sendiri untuk memperlihatkan diri, dan kondisi-kondisi tertentu yang di situ terpenuhi segala syarat untuk bisa melihat kami.”32

+ "Apakah ada larangan terhadapmu untuk menjelaskan secara rinci masing-masing kondisi tersebut, kemudian memberi sedikit kete- rangan yang bisa membuat orang-orang yang berakal menjadi paham, dan orang-orang yang ***** menjadi tabu?"
— "Tidak, tidak ada larangan apa pun ......"
 
Ini antara saya punya favourite part of studies. Terima kasih TT. Kasi masukkan banyak2 info lagi ya nanti TT. Insyaallah.

:) :) :)
 
Melihat Jin Ketika Dia Menampakkan Diri


Jin Muslim sahabat saya itu kemudian melanjutkan perkataannya: "Sesungguhnya Allah SWT telah menganugerahkan kepada kami suatu kemampuan untuk mengubah diri dalam berbagai bentuk. Coba baca surah Al-Anfal yang berbunyi, Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka, seraya mengatakan, "Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesung- guhnya aku ini adalah pelindungmu. " Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling melihat, setan itu berbalik ke belakang seraya berkata, "Sesung- guhnya aku berlepas diri dari kamu, sesungguhnya aku dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihatnya. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, dan Allah sangat keras siksa-Nya" (QS. Al-Anfal: 48).
Kemudian dia menujukan pandangannya ke meja saya yang penuh buku, dan berkata, "Coba ambilkan tafsirmu yang menjelaskan ayat tersebut!"
+ "Ini Tafsir Ibn Katsir, dan yang itu Tafsir Al-Qurthubi.
Saya mengambil Tafsir Al-Qurthubi, lalu dia berkata, "Bacalah, bacalah tafsir ayat itu!"
Saya pun membacanya: "Diriwayatkan bahwa, setan pada hari itu menampakkan diri kepada mereka dalam bentuk Suraqah bin Malik bin Ju`syam. Dia berasal dari Bani Bakr bin Kinanah. Orang-orang Quraisy sangat takut bila Bani Bakr mengejar mereka. Sebab, mereka telah membunuh salah seorang warga Bani Bakr. Ketika dia telah me- nampakkan diri kepada mereka, dia lalu menyampaikan kabar yang dia katakan berasal dari Tuhan. Adh-Dhahhak mengatakan, "Pada perang Badar, datang Iblis dan pengikut-pengikutnya kepada mereka (kaum musyrikin)lalu membisikan kedalam hati mereka bahwa me reka tidak akan terkalahkan ,sebab mereka berperang membela agama nenek moyang mereka." Ibn 'Abbas mengatakan, "Allah SWT me mb antu Nabi-Nya, Muhammad saw., dan kaum Mukmin deng an seribu malaikat. jibril membawa serta lima ratus malaikat yang men- dampingi pasukan beliau di kiri dan kanan. Disebut-sebut pula bahwa jibril dan pasukannya itu merupakan satu peleton yang menghadang di salah satu ujung jalan, sedang Mika`il dengan lima ratus malaikat yang dipimpinnya mendampingi pasukan tersebut. Kemudian muncul Iblis di tengah-tengah pasukan setan, dengan membawa bendera. Dia menampakkan diri dalam bentuk seorang laki-laki dari Bani Mudlij dan setan dalam sosok Suraqah bin Malik bin ju'syam. Setan itu berkata kepada kaum musyrikin, "Hari ini tidak akan ada yang mengalahkan kalian, seb ab aku men d am pingi k a lian." Ketika pasuk a n tersebut berbaris, Abu jahal berkata, "Tuhan, tolonglah kami dalam membela kebenaran, dan bantulah dia." Di pihak lain Rasulullah saw. meng- angkat kedua tanganny a dan berdoa, "Tuhanku, sesungguhny a jika Engkau hancurkan.,pasukan ini, maka Engkau tidak akan lagi disembah di muka bumi ini untuk selama-lamanya." Mendengar itu jibril berkata, "Am b illah segenggam debu." Maka, Rasulullah saw. pun meraup segenggam tanah, lalu dihambur kannya kearah kaum musyrikin ,sehingga tidak ada seorang pun diantara mereka yang mata, tenggorokan dan mulutnya tidak terkena serangan debu. Akibatnya, mereka pun lari tunggang-langgang. Kemudian jibril menemui Iblis. Ketika jibril melihatnya, maka saat itu tangan Iblis sedang menggandeng salah seorang di an tara kaum mu syrikin. Kemudian dia melepaskan tangannya dan lari bersama pengikut-pengikutnya. Laki-laki yang digandeng tangan nya itu lalu berteriak kepad a n y a (Iblis), "Wahai Suraqah, bukankah engkau telah menyatakan untuk membantu kami?" Iblis menjawab, "Aku berlepas tangan dari kalian. Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kamu lihat." Riwayat ini dituturkan ole h Al-Baihaqi dan perawi-perawi lainnya."
Jin Muslim sahabat say a itu mengatakan, "Ini merupakan bukti b ahwa Iblis, y ang termasuk kategori jin, itu bisa menamp akkan diri dalam bentuk seorang laki-laki yang memungkinkan dia bisa dilihat dan diajak berbicara. Bahkan dia menggandeng tangan manusia, dan mengikat perjanjian bersama mereka. Dalam Shahih Muslim disebutkan ada n ya j i n ya n g m e na m p ak ka n d i ri da lam be nt u k see k o r ula r , d a n membunuh seorang pemuda yang mencoba membunuh ular tersebut."
Karena dia menyebut-nyebut Shahih Muslim, maka saya pun segera me ngamb il kitab tersebut, lalu membacanya . Di situ saya temukan bahwa Abu As-Sa`ib menemui Abu Sa`id Al-Khudri di rumahnya. Ke- mudian dia menuturkan, "Ketika itu, dia (Abu Said Al-Khudri) sedang sh alat, k a ren a itu aku dud uk me nung gu h i ngg a dia meny elesaik a n shalatny a. Tiba-tiba kudengar suara gemerisik di 'Urjun (lapisan pe- nyangga atap) rumahnya. Tiba-tiba saya -melihat seekor ular. Karena itu saya berdiri dan bermaksud segera membunuhnya. Tetapi Abu Said men g i sy aratkan k e p a daku agar aku tetap duduk . Aku pun k e mb ali duduk. Ketika dia telah menyelesaikan shalatnya, dia menunjuk salah satu ruang di rumahnya, seraya berkata, "Engkau lihat kamar ini?"

Aku menjawab, "Ya."
"Dulu di sini tinggal seorang pemuda yang baru nikah. Suatu kali kami pergi menuju Perang Khandaq bersama-sama Rasulu llah saw. Pem uda itu pun m e m inta izin ke pada Nabi untuk ikut berperang hingga tengah hari, dan pulang untuk menemui isterinya. Suatu hari p emuda tersebut me minta izin kepada Nabi untuk pu lang ke rumah-
ny a. Nabi saw. berkata kepadanya, "Bawalah senjatamu , sebab aku
khawatir Bani Quraidhah akan mengganggumu."
Pemuda itu mengambil senjatanya, kemudian pulang. Tiba di rumah, dilihatnya isterinya sedang berdiri di antara pintu rumah dan pintu halama n. Terdoron g oleh rasa cemburunya, dia segera meng- hambur dan mencoba me nikam isterinya dengan tombak.Isterinya berteriak , "Tahan tombakmu .Masuklah,dan lihatlah apa yang me - nyebabkan aku keluar rumah."
Laki-lak i itu pun masuk rumah, dan dilihatnya ad a seekor ular besar melingkar di tempat tidur. Dia membidikkan tombaknya ke arah ular itu, dan mengenainya. Dia keluar rumah dan membiarkan ular itu tetap berada di dala m kamar. Tiba-tiba ular itu menyerang dan membelitnya. Mereka bergulat, dan entah siapa yang akan segera mati: Pemuda itu ataukah ular.
Abu Sa'Id Al-Khudri melanjutkan penuturannya, "Kemudian kami mendatangi Nabi saw. dan menyampaikan berita tentang pemuda itu. Kamm me mohon kepada beliau, "Y a Rasulullah, mohonlah kepada Allah agar dia bisa tetap hidup bersama kita."

Nabi saw. berkata, "Sebaiknya kalian memohonkan ampunan kepada Allah untuk dia." Sesudah itu beliau melanjutkan, "Di Madinah terdapat jin yang menyatakan diri telah masuk Islam. Kalau kalian melihat gelagat yang tidak baik dari mereka (jin-jin lain), maka panggillah dia selama tiga hari. Kalau sesudah itu ternyata membangkang, maka bunuhlah dia. Sebab, dia adalah setan’’34

– "Seandainya pemuda itu menikam ular tersebut di tempat yang mematikan (sampai mati), niscaya dia tidak terkena musibah seperti itu," kata jin sahabat saya ,"Sayangnya dia menangguhkannya. Ini merupakan peringatan dan pelajaran .Tetapi, bagaimana pun juga,hadis Muhammad saw. ini merupakan bukti tentang kemampuan jin menampakkan diri dalam berbagai sosok."
+ "Baiklah. Sekarang mari kita kembali pada persoalan kemam- p uan jin un tuk men a mpakkan diri. Se bab , ak u puny a interpretasi- interpretasi lain. Mari kita kembali kepada masalah kedua, atau kondisi kedua yang menyebabkan jin bisa dilihat. Engkau mengatakan bahwa, kondisiny a adalah kondisi sihir atau ketika seseorang meminu m air sihir."
− "Betul, betul.... Dalam kondisi ini, jin bisa dilihat den g an mudah."
+ "Tetapi saya perlu penjelasan lebih lanjut."
– "Benar. Dengan izin Allah, aku akan mengemukakan kepadamu beberapa hal yang tidak termaktub di kalangan kalian, dan tidak bisa diketahui kecuali dalam kondisi yang sangat, sangat khusus."
+ "Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan yang lebih balk, sebab Allah telah berfirman, Dan ka mu tidak dianugerahi ilmu kecuali sedikit.
 
MELIHAT JIN DENGAN SIHIR ATAU DENGAN MEMINUM AIR SIHIR

Jin Muslim sahabat saya mengatakan: "Pengecualian tersebut adalah menyimpang dari kaidah yang umum, yakni ketidakmungkinan melihat jin. Yang mengherankan pada kalian, para manusia, dan yang merupakan sesuatu yang barn dalam masalah ini, adalah bahwa dalam kon disi sih i r atau minum air sihir, m a nus ia b i sa m e li hat j in dalam sosoknya yang biasa dalam kehidupan mereka sehari-hari."
+ "Bagaimana bisa begitu?" tanya saya.
– "Akan saya jelaskan. Tetapi hendaknya engkau selalu ingat akan ucapan Nabi saw. y ang mengatakan, 'Barangsiapa melakukan sihir, maka dia telah kafir."'
+ "Memang benar. Sungguh benar Rasulullah saw."

– "Ada orang yang menjual dirinya kepada setan, lalu dengan itu berusaha menguasai orang lain, me nghancurkan kehidupanny a atau me nguasai dan me ngend alik an kead aanny a. Misalny a deng an me m- buat rugi perdaganganny a, memikat isteriny a, atau membuat gelisah p ikirannya sehingga dia tid ak bisa tenang dan tidak pu la bisa tidur. Di antara mereka ada yang berlaku demikian jahat dengan meminumkan air yang sudah diberi mantra dengan mantra-mantra setan kepada korbannya. Ketika air itu telah memasuki tubuh korban, maka ia membentuk semacam "pusat" magnet yang menarik setan-setan masuk ke d a lam tubuhny a. Kalau sudah begitu, maka si korban seakan-akan lubang tanpa penjaga yang boleh dimasuki setan bila-bila saja”35

+ "Kok, bisa masuk, bagaimana caranya?"
− "Air terseb ut san g at an eh. Ia bisa mengundang setan - setan , seakan-akan undangan untuk kenduri."
+ "Aku meng erti, tetapi yang kumaksudkan adalah, dari organ tubuh yang mana dia masuk?"
− "Biasany a dari anus. Sebagi an dari m u lu t, khususny a b i l a o rangnya kurang memperhatikan kebersihannya dengan bersikat gigi dan lain-lain. Kemungkinan juga dari mata. Akan tetapi setan biasanya lebih menyukai tempat-tempat yang berbau tidak sedap. Karena itu, biasanya masuk lewat anus."
+ "Lalu, bagaimana dalam kondisi itu manusia bisa melihat jin?"
− "Bisa dilakukan melalui pengaruh air sihir, yang memberikan kemampuan kepada mata manusia di atas kemampuannya yang biasa, sehingga dapat melihat kami. Pengaruh air sihir terhadap mata atau indera orang yang tersihir demikian hebat, dan pada derajat yang sulit kalian bay angkan. Kegoncangan yang demikian hebat pada susunan fisik oran g yan g tersih ir in ilah yan g me mb erik an kekuatan kepada dirinya untuk melihat, mendengar dan memudahkan kami untuk mempengaruhinya."
+ "Bisa kau jelaskan lebih jauh?"
− "Saya berikan suatu contoh. Kalau engkau memegang sebuah batu, lalu melemparkannya kuat-kuat, maka batu itu, saat melayang, lenyap dari pandanganmu. Kemudian kecepatannya sedikit melambat k a rena ad any a su atu day a tarik. Akhirnya goncangan nya semakin lambat, sehingga engkau dapat melihatnya kembali. Kau tahu bahwa Allah SWT telah menjadikan seluruh makhluk-Nya, baik manusia, jin, tumbuh-tumbuhan, binatang dan benda-benda mati, terdiri dari atom yang selalu bergerak. Akan tetapi kekuatan gerakannya berbeda satu sama lain."36
+ "Ya, memang benar, bila yang engkau maksudkan adalah bahwa Allah menciptakan jasad kalian dari atom-atom yang bergerak dengan cepat, sedangkan kami diciptakan dengan atom-atom yang sedikit lebih lambat. Kemudian sihir itu memberikan kekuatan beberapa kali lipat
dari k e kuatan y a ng b i asa k e pad a ato m -ato m y a ng ad a p a da tubuh
manusia tersebut. Dengan demikian, maka indera orang yang tersihir itu dapat melihat kalian sebagaimana wujud kalian yang sebenarnya."

– "Sungguh Allah telah memberimu ilmu yang banyak. Memang persis seperti itu."
+ "Barangkali engkau juga memaksudkan bahwa, kalian tidak bisa dilih at, d id e ngar dan d isentu h , kare na et her kalian berger ak sangat cepat. "
– Ya. Bahkan kecepatan kami berada di atas kecepatan
cahaya menurut perhitungan kalian (186.000 mil per detik), yang dengan itu kalian membuat perhitungan-perhitungan. Misalnya, sebuah batu yang dd emparkan demikian ku at yang menjadi tidak terlih at, atau peluru y ang ditembakkan dari senapan, yang tidak bisa kalian lihat karena kecepa tannya yang melebihi kecepatan gerak atom dalam struktur dirinya. Jadi, kalian tidak bisa melihat kami kecuali bila kalian diberi kekuatan seperti yang diberikan oleh air sihir."37
+ "Apakah setiap orang yang tersihir atau yang minum air sihir bisa seperti itu?"
– "Tidak , tetapi hany a mereka ya ng d i m i n u m i ai r s i hi r ya n g disertai kekuasaan setan, dalam arti bahwa dia akan berubah bentuk menjadi setan laki-laki atau setan perempuan, atau lebih dari itu. Ketika setan sudah keluar dari tubuh orang yang disurupinya, lalu dia kembali sadar, maka dia bisa melihat setan atau sejum ah setan di depan matanya."
+ "Apakah saudara S yang engkau masuki jasadnya sekarang ini dapat melihatmu setelah engkau meninggalkan tubuhnya, khususnya ketika dia berada dalam kondisi seperti yang kau sebutkan tadi?""
+ "Ya, dia bisa melihat dan mendengarku. Bahkan aku acap kali

mengingatkan dia akan kekeliruan-kekeliruan yang demikian ******* terjadi, walau sedikit, misalnya memegang sesuatu dengan tangan kiri, lalu aku mencegahnya. Dia melihat dan mendengarku ketika marahnya t e l a h m e r e d a , "38 atau ketika dia melaku k a n s e s u a t u t a n p a m e n y e b u t asma Allah'39 dan minum dengan tangan kirinya. Dalam hal-hal seperti ini, kadang-kadang dia membela diri dengan mengatakan, "Aku lupa." U n tu k itu , a k u me n g at a k an kepadan y a, "Min talah perlin d u n g an kepada Allah, sebab lupa seperti ini datangnya dari setan."
+ "Kalau sihir itu tidak disertai dengan penguasaan setan atas diri manusia, bagaimana?"
– "Orang yang tersihir tidak akan bisa melihat setan. Akan tetapi bila sihir itu berlalu terhadapnya, maka keadaan dirinya berubah menjadi tidak semestinya. Dia tidak akan bisa kembali kepada keadaannya semula, kecuali jika Allah memberikan pertolongan-Nya dengan menghancurkan pengaruh sihir tadi."
+ "Saya pikir, sekarang tiba waktunya bagimu untuk menjelaskan kepadaku kondisi yang ketiga, yang membuat seseorang bisa melihat jin. Yakni, ketika jin itu sendiri bermaksud memperlihatkan diri dengan adanya kondisi-kondisi tertentu."
– "Ya, memang begitu. Aku akan jelaskan itu."
+ "Jelaskanlah, semoga Allah membalas kebaikanmu
 
Back
Top
Log in Register