Orang yang “buang angin” ketika shalat jemaah harus meninggalkan saf dan tidak boleh diam di tempat, kerana orang yang tidak shalat, tetapi dia berada di tengah-tengah saf, akan memutus saf.
Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecam orang yang memutus saf:
“Barang siapa yang menyambung saf maka Allah akan menyambung dirinya dan barang siapa yang memutus saf maka Allah akan memutus dirinya.”
(H.R. Ahmad, Abu Daud, dan An-Nasa’i; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Ketika wuduk/shalat seseorang batal dan ia ingin meninggalkan saf, dia diperbolehkan melintas dan lalu di depan barisan makmum, kerana makmum tidak memiliki sutrah (batasan shalat); yang memiliki sutrah hanya imam. Dalil:
Hadis dari Ibnu Abbas, bahawa beliau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika peristiwa Fathu Mekah, dan pada saat itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat berjemaah bersama para sahabat. “… Sementara, aku dan saudaraku (Fadhl bin Abbas) sedang berboncengan naik keledai. Kemudian, kami lewat di depan shaf makmum, turun, lalu ikut shalat berjemaah, sementara keledai berkeliaran di antara shaf shalat jemaah dan mereka tidak membatalkan shalat.”
(H.R. Ahamd; dinilai sahih oleh Syu’aib Al-Arnauth)