BTC USD 84,710.3 Gold USD 4,178.84
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Larangan Isbal

Maksud isbal: melabuhkan pakaian lebih dari buku lali

Dalil larangan:

- Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

“Pakaian seorang muslim hingga setengah betis, tidaklah berdosa jika melabuhkan antara setengah betis hingga di atas buku lali. Dan apa yang turun dibawah buku lali maka bahagiannya di neraka. Barangsiapa yang menarik pakaiannya kerana sombong maka Alloh tidak akan melihatnya”

[Hadits Riwayat. Abu Dawud 4093, Ibnu Majah 3573, Ahmad 3/5, Malik 12. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah 4331]


- “Dari Abu Dzar, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

“3 golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan bagi mereka adzab yang pedih. Rasulullah menyebutkan 3 golongan tersebut berulang-ulang sebanyak 3 kali, Abu Dzar berkata : "Rugilah mereka! Siapakah mereka wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab :
1. Orang yang suka melabuhkan pakaiannya [isbal]
2. Orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian
3. Orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.


[Hadits Riwayat Muslim 106, Abu Dawud 4087, Nasa'i 4455, Darimi 2608. Lihat
Irwa': 900]


- Dari Abdullah bin Umar ra, Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kain yang panjangnya di bawah buku lali tempatnya adalah di neraka”

(HR. Bukhari 5787).


-Dari Mughiroh bin Syu'bah ra, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Wahai Sufyan bin Sahl! Janganlah kamu isbal, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang isbal."

[Hadits Riwayat: Ibnu Majah 3574, Ahmad 4/26, Thobroni dalam Al-Kabir 7909. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 2862]


-Imam Ahmad mencatat sebuah riwayat dalam Musnad-nya (4 / 390) : Sufyan bin ‘Uyainah berkata padaku, dari Ibrahim bin Maisarah, dari ‘Amr bin Asy Syarid, dari ayahnya, atau dari Ya’qub bin ‘Ashim, bahwa ia mendengar Asy Syarid berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melihat seorang laki-laki yang pakaiannya terseret sampai ke tanah, kemudian Rasulullah bersegera (atau berlari) mengejarnya. Kemudian baginda bersabda:

“Angkat pakaianmu, dan bertaqwalah kepada Allah“. Lelaki itu berkata: “Kaki saya bengkok, lutut saya tidak stabil ketika berjalan”. Nabi bersabda: “Angkat pakaianmu, sesungguhnya semua ciptaan Allah Azza Wa Jalla itu baik”.

Sejak itu tidaklah lelaki tersebut terlihat kecuali pasti kainnya di atas pertengahan betis, atau di pertengahan betis.

[Hadis shahih, semua perawinya tsiqah. Ya’qub bin ‘Ashim dikatakan oleh Ibnu Hajar: “ia maqbul” . Adz Dzahabi juga berkata: “ia tsiqah”. Al Albani berkata: “sanad ini sesuai syarat Bukhari-Muslim jika (Ibrahim meriwayatkan) dari ‘Amr dan sesuai syarat Muslim jika dari Ya’qub. Dan yang lebih kuat adalah yang pertama (dari ‘Amr)” (Silsilah Ash Shahihah, 3/427).]


- Larangan isbal hanya untuk lelaki. Dalil:

Dari Khorsyah bin Hirr, ia berkata : “Ada seorang pemuda yang melabuhkan sarungnya lalu di hadapan Umar bin Khaththab ra. Maka Umar menegurnya: “Apakah kamu orang yang ada haid?”. Pemuda tersebut menjawab : “Wahai Amirul mukminin, apakah laki-laki itu mengalami haid?” Umar menjawab ; “Lantas mengapa engkau melabuhkan sarungmu melebihi buku lali?”. Kemudian Umar minta diambilkan gunting lalu memotong bahagian sarung yang melebihi kedua buku lalinya”. Kharsyah berkata : “Seakan-akan aku melihat benang-benang di ujung sarung itu” [Hadits Riwayat Ibnu Syaibah 8/393 dengan sanad yang shohih, lihat Al-Isbal Lighoiril Khuyala, hal. 18]


- Makruh menggulung pakaian. Dalil:
Dari Ibnu Abbas r.a., Nabi s.a.w., bersabda: "Aku telah diperintahkan bahawa aku sujud di alas 7 anggota tubuh, tidaklah aku menggulung pakaian dan tidak juga rambut". (Bukhari, Muslim, Abu Daud, At Tirmizi, An Nasa’i, Ibnu Majah)

Hukumnya makruh tanzih, tetapi zahirnya adalah haram, dan tidak ada dalil yang memalingkan dari hukum haram.

Ibnu Khuzaimah menulis di dalam "Bab Larangan Menggulung Pakaian Di Dalam Solat", di dalam Sahihnya. Sambungan dari kitab Syarah Sahih Muslim, Imam Nawawi berkata, "Hal larangan ini menurut At Tabari adalah sebagai ijmak ulama.

Ibnu Munzir telah menukil dari Hasan AI Basri bahawa barang siapa yang mengerjakan solat dengan keadaan seperti itu, maka ia harus mengulangi solatnya".


- Berkata Syeikh Bakr Abu Zaid :” Hadis-hadis tentang larangan isbal mencapai drajat mutawatir kerana tercantum dalam kitab-kitab shohih, sunan-sunan, ataupun musnad-musnad, diriwayatkan oleh banyak dari para sahabat. Beliau menyebutkan nama-nama sahabat tersebut hingga 20 orang. Seluruh hadits tersebut menunjukkan larangan yang sangat tegas, larangan pengharaman, kerana di dalamnya terdapat ancaman yang sangat keras. Sesuatu yang terdapat ancaman atau kemurkaan, maka diharamkan, dan termasuk dosa besar, tidak dihapus dan diangkat hukumnya. Bahkan termasuk hukum-hukum syar'i yang kekal pengharamannya."[Hadd Tsaub Wal Uzroh Wa Tahrim Isbal Wa Libas Syuhroh, hal. 19]


- Hukum Isbal semasa solat:

Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin:

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seorang yang shalat dalam keadaan isbal -seluarnya menjulur di bawah buku lali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata padanya, “Pergilah dan kembalilah berwudhu.” Lalu ia pergi dan berwudhu kemudian ia datang kembali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berkata, “Pergilah dan kembalilah berwudhu.” Kemudian ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau memerintahkan padanya untuk berwudhu, lantas engkau diam darinya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ia hendak shalat dalam keadaan isbal –melabuhkan seluar di bawah buku lali, padahal Allah tidak menerima shalat dari orang yang isbal.” (HR. Abu Daud no. 4086.)

[Imam Nawawi: Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz menyatakan hadis ini dhoif dan mengkritik pernyataan Imam Nawawi, ia berkata, “Ini adalah kesalahfahaman dari Imam Nawawi rahimahullah. Sanad hadits ini tidak sesuai syarat Muslim. Al Hafizh Abu Thohir : hadits di atas hasan. Syaikh Al Albani ra dalam takhrij Riyadhus Sholihin juga menyatakan hadits ini dhoif.]


Firman Allah: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rosul, takut akan di timpa cubaan (fitnah) atau ditimpa adzab yang pedih” [an-Nur/24 : 63]
 
larangan-isbal.jpg
 
aku tak pandai tapi hadis abu dawud ni keras,,,banyak perawi yang berlainan pendapat dengan abu dawud.
 
kalau lah nabi saw ada skrg, mungkin nasib kita sama dgn Ubaid bin Khalid yg ditegur oleh rasullah saw kerana pakaian labuh lebih dr buku lali:

'Ubaid bin Khalid ra berkata : “Pernah aku berjalan di kota Madinah, tiba-tiba ada seorang di belakangku sambil berkata, "Tinggikan jubahmu! Sesungguhnya hal itu lebih mendekatkan kepada ketakwaan." Ternyata dia adalah Rasulullah. Aku pun bertanya kepadanya, "Wahai Rasulullah, ini Burdah Malhaa (pakaian yang mahal). Rasulullah menjawab, "Tidakkah pada diriku terdapat teladan?" Maka aku melihat sarung baginda hingga setengah betis”.
[Hadits Riwayat Tirmidzi dalam Syamail 97, Ahmad 5/364. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Mukhtashor Syamail Muhammadiyah, hal. 69]
 
banyak pakaian zaman skrg ni stail labuh2,tp ade je seluar yg jenis stail ngam2 je kat buku lali,
 
Back
Top
Log in Register