BTC USD 63,425.3 Gold USD 4,334.74
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Khayalan Taqrib Sunni - Syiah

Abu Maryam Janggood

Fun Poster
Messages
107
Joined
Nov 9, 2013
Messages
107
Reaction score
12
Points
15
ALLAH Subhanahu wa Taála berfirman :

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ

"Dan sungguh ALLAH telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al-Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat² ALLAH diingkari dan diperolok²kan(oleh orang² kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya(kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka."
[QS An-Nisaa' : 140]

Al-Baghawi dalam Má'alimut Tanzil (2/301) dalam tafsir surat an-Nisaa’ ayat 140 berkata :

وقال الضحاك عن ابن عباس رضي الله عنهما: دخل في هذه الآية كلُّ مُحْدِث في الدين وكلُّ مبتدع إلى يوم القيامة

Adh-Dhahhak berkata : dari Ibnu Ábbas radhiyallahuánhuma :
"Masuk pada ayat ini semua orang yang mengada²kan bid'áh dalam agama dan semua mubtadí’ sampai hari
qiamat."


Al-Qurthubi dalam tafsirnya(5/418) berkata:

وروى جويبر عن الضحاك قال: دخل في هذه الآية كلُّ مُحْدِث في الدين مبتدع إلى يوم القيامة.

Juwaibir bin Saíd al-Azdi meriwayatkan dari adh-Dhahhak, ia berkata :
"Masuk pada ayat ini semua orang yang mengada²kan bid'áh dalam agama, mubtadí’ sampai hari qiamat."

ALLAH Subhanahu wa Taála berfirman :

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
"Dan apabila kamu melihat orang² memperolok²kan ayat² KAMI, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa(akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang² yang zhalim itu sesudah teringat(akan larangan itu)."

[QS Al-An'ám : 68]

Abu Áun Ábdullah bin Áun al-Bashri(W150H) berkata :

كان محمد يرى أن أهل الاهواء أسرع الناس ردة، وأن هذه نزلت فيهم: (وإذا رأيت الذين يخوضون في آياتنا فأعرض عنهم حتى يخوضوا في حديث غيره)

"Muhammad bin Sirin, Abu Bakar al-Anshari(W110H) berpendapat bahwa ahlul ahwa adalah orang yang paling cepat
murtadnya, dan bahwa ayat ini (al-An’am : 68, pent) turun pada mereka : (Dan apabila kamu melihat orang-orang
memperolok²kan ayat² KAMI, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain)."

[Siyar Álamin Nubala' 4/610]

Dari Á'isyah radhiyallahuánha, ia berkata : “Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam membaca ayat ini :

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ
تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

"DIA-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepada kamu. Di antaranya ada ayat² yang muhkamaat, itulah pokok²
isi Al-Qur’an dan yang lain(ayat²) mutasyaabihaat. Adapun orang² yang dalam hatinya condong kepada kesesatan,
maka mereka mengikuti sebahagian ayat² yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk
mencari² ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan ALLAH. Dan orang² yang mendalam
ílmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat² yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak
dapat mengambil pelajaran(daripadanya) melainkan orang² yang beráqal."

[QS. Ali Ímran : 7]

Á'isyah radhiyallahuánha berkata : lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ

"Jika engkau melihat orang² yang mengikuti sebagian ayat² yang mutasyabihat; mereka itulah yang disebut ALLAH
(dalam ayat tadi), maka berhati²lah dari mereka!"

[HR. al-Bukhari no. 4273 dan Muslim no. 2665]

Dari Abu Hurairah radhiyallahuánhu, bahwa Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda :

سيكون في آخر أمتي أناس يحدثونكم ما لم تسمعوا أنتم ولا آباؤكم فإياكم وإياهم

"Akan ada pada akhir ummatku orang² yang mengabarkan kepada kalian apa² yang belum pernah kalian dengar dan tidak pula bapa² kalian, maka berhati²lah kalian dari mereka!"
[HR. Muslim dalam muqaddimah Shahih-nya hadits no. 6]

Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkhali hafidzahullah setelah membawakan 2 hadits di atas, beliau berkata :
"Ini juga termasuk diantara nash² yang melarang dari bermajlis dengan ahlul bida’. Di sana ada orang² ahlul jahil dan
orang² yang tertipu, sedangkan engkau memiliki ílmu, hujjah dan burhan(penjelasan), engkau mendakwahkan mereka
kepada kebenaran dan memberi penjelasan kepada mereka, (maka ini) tidak mengapa. Adapun engkau bermajlis
untuk bershahabat, berteman, mencintai, bergaul dan yang serupa dengan itu, maka ini merupakan kesalahan yang
akan menghantarkan kepada kesesatan. Dan wajib bagi orang yang berakal untuk menjauhinya, dan sebagian
shahabat telah mentahdzir dari yang demikian seperti Ibnu Ábbas dan sebagian imam tabi’ín seperti Ayyub as-
Sikhtiyani dan Ibnu Sirin rahimahumullah. Dulu salah seorang dari mereka tidak mau mendengar kepada ahli bid'áh,
sampai² jika ahli bid'áh itu menawarkan untuk membacakan padanya sebuah hadits atau ayat, maka ia(imam itu)
berkata : "Tidak!", lalu ditanyakan kepadanya : "engapa?I Ia berkata : "Sesungguhnya hatiku bukan di tanganku, aku
khawatir ia akan melempar fitnah dalam hatiku, lalu aku tidak mampu untuk menolaknya." Keselamatan janganlah
diganti dengan sesuatu apapun, maka janganlah seseorang memperlihatkan dirinya kepada fitnah, khususnya jika ia
mengetahui bahwa dirinya lemah."

[Syarah Ushulus Sunnah (hal. 8, versi sahab.org)]

Dari Abu Musa al-Ásy’ari radhiyallahuánhu, dari Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam, beliau bersabda :

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ
يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

"Permisalan teman duduk yang shaleh dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa misk(sejenis minyak
wangi) dan peniup bara api. Orang yang membawa misk, mungkin ia akan memberimu(misk) atau engkau membeli
darinya atau engkau akan mendapatkan darinya bau wangi. Adapun peniup bara api, mungkin ia akan membakar
bajumu atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak sedap."

[HR. al-Bukhari Dan Muslim dll dengan lafadz Muslim]

Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ أَوْ لِمَا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ

"Barangsiapa mendengar Dajjal, hendaklah ia mejauh darinya. Kerana demi ALLAH, seseorang akan mendatanginya
dengan mengira bahwa ia(Dajjal) itu seorang mu’min, lalu iapun mengikutinya dalam syubhat² yang dilontarkan oleh
Dajjal atau ke r ana syubhat² yang dilontarkan oleh Dajjal."

[HR. Abu Dawud (4319), Ahmad (19982), al-Hakim (8616), ath-Thabrani dalam al-Mú'jam al-Kabir (550) dll. Dishahihkan al
-Albani dalam Shahihul Jami' (6301)]

Abu Ábdillah Úbaidullah bin Muhammad bin Baththah al-Ukbari setelah membawakan hadits ini berkata :

هذا قول الرسول صلى الله عليه وسلم ، وهو الصادق المصدوق ، فالله الله معشر المسلمين ، لا يحملن أحدا منكم حسن ظنه بنفسه ، وما عهده من معرفته بصحة مذهبه على
المخاطرة بدينه في مجالسة بعض أهل هذه الأهواء ، فيقول : أداخله لأناظره ، أو لأستخرج منه مذهبه ، فإنهم أشد فتنة من الدجال ، وكلامهم ألصق من الجرب ، وأحرق
للقلوب من اللهب

"Inilah sabda Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam, dan dia adalah ash-shadiqul mashduq(yang benar dan
dibenarkan). Maka ALLAH! ALLAH wahai sekalian kaum muslimin!! Janganlah salah seorang dari kalian membawa baik
sangkanya terhadap dirinya sendiri dan apa² yang telah ia ketahui dari kebenaran madzhabnya, kepada yang
membahayakan agamanya dari bermajlis dengan sebagian ahlil ahwa' ini, lalu ia mengatakan : "aku akan masuk
kepadanya untuk ku debat dia, atau aku akan mengeluarkannya dari madzhabnya.", sesungguhnya fitnah mereka
lebih parah dari Dajjal, dan perkataan mereka lebih melekat daripada kudis, dan lebih membakar hati daripada api
yang menyala."

[Lihat al-Ibanah al-KubrA 3/470, kemudian beliau membawakan riwayat contoh orang² yang termakan syubuhat ahlul
ahwa' wal bida', wal íyadzubillah]

Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda :

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

"Ruh² adalah seperti tentara yang berbaris², maka yang saling mengenal akan bersatu dan yang saling mengingkari
akan berselisih."

[HR. al-Bukhari (3158), Muslim (2638), Abu Dawud (4834), Ahmad (7922), Ibnu Hibban (6168), al-Hakim (8296), dll]

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahuánhu, ia berkata : Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ
رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ مَا يَقُولُ عِبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي قَالَ فَيَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ قَالَ فَيَقُولُ وَكَيْفَ لَوْ
رَأَوْنِي قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا قَالَ يَقُولُ فَمَا يَسْأَلُونِي قَالَ يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ
يَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً قَالَ فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ قَالَ
يَقُولُونَ مِنْ النَّارِ قَالَ يَقُولُ وَهَلْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً قَالَ
فَيَقُولُ فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ قَالَ يَقُولُ مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ قَالَ هُمْ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

"Sesungguhnya ALLAH memiliki para Malaikat yang biasa berkeliling di jalan mencari orang² yang berdzikir. Jika mereka
mendapatkan suatu kaum yang berdzikir kepada ALLAH, mereka pun saling memanggil : “Kemarilah pada apa yang
kalian cari (hajat kalian)." Maka para Malaikat pun menaungi mereka dengan sayap mereka sampai ke langit dunia.
Lalu ALLAH Ázza wa Jalla bertanya kepada para Malaikat itu sedangkan ALLAH lebih mengetahui daripada mereka :
"Apa yang diucapkan para hamba-Ku?" Para Malaikat menjawab : "Mereka bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan
memuji kepada-MU." ALLAH bertanya : "Apakah mereka melihat AKU?" Para Malaikat tersebut menjawab : "Tidak, demi
ALLAH, mereka tidak melihat ENGKAU." ALLAH bertanya lagi : "Bagaimana sekiranya jika mereka melihat AKU?” Para
Malaikat menjawab : "Sekiranya mereka melihat Engkau, niscaya mereka tambah bersemangat beribadah kepada-Mu
dan lebih banyak memuji serta bertasbih kepada-MU." ALLAH bertanya : "Apa yang mereka minta?" Para Malaikat
menjawab : "Mereka minta Surga kepada-MU." Allah bertanya : "Apakah mereka pernah melihat Syurga?" Para Malaikat
menjawab : "Tidak demi ALLAH wahai RABB, mereka tidak melihatnya." ALLAH bertanya : “Bagaimana jika mereka
melihatnya?” Para Malaikat menjawab : "Sekiranya mereka pernah melihatnya, niscaya mereka lebih sangat ingin
untuk mendapatkannya dan lebih bersungguh² memintanya serta sangat mengharapkannya." Allah bertanya : "Dari
apa mereka minta perlindungan?" Para Malaikat menjawab : "Dari neraka." ALLAH bertanya : "Apakah mereka pernah
melihatnya?" Para Malaikat menjawab : "Tidak, demi ALLAH , mereka belum pernah melihatnya.” ALLAH bertanya :
"Bagaimana kalau mereka melihatnya?" Para Malaikat menjawab : “Seandainya merek" melihatnya, niscaya mereka
tambah menjauh dan takut darinya." ALLAH berfirman : "AKU persaksikan kepada kalian bahwa AKU telah
mengampuni mereka." Seorang di antara Malaikat berkata : "Di antara mereka ada si Fulan yang tidak termasuk dari
mereka(orang² yang berdzikir), dia hanya datang karena ada keperluan."ALLAH berfirman : "Tidak akan celaka orang
yang duduk bermajlis dengan mereka(majlis dzikir)."

[HR. al-Bukhari no. 6045]

Abu Áli Fudhail bin Iyadh bin Mas'úd at-Tamimi berkata :

إن لله ملائكة يطلبون حلق الذكر، فانظر مع من يكون مجلسك، لا يكون مع صاحب بدعة؛ فإن الله تعالى لا ينظر إليهم، وعلامة النفاق أن يقوم الرجل ويقعد مع صاحب
بدعة، وأدركت خيار الناس كلهم أصحاب سنة وهم ينهون عن أصحاب البدعة

"Sesungguhnya ALLAH memiliki malaikat yang bertugas mencari majlis² dzikir, maka lihatlah bersama siapakah majlismu
itu, janganlah bersama ahli bid’áh; kerana ALLAH Taála tidak melihat kepada mereka. Dan salah satu tanda nifaq
adalah seseorang bangun dan duduk bersama ahli bid’áh. Aku mendapati sebaik² manusia(yakni tabi’in, pent),
mereka semuanya adalah ahlus Sunnah dan mereka melarang (yakni memperingatkan) dari ahli bid’ah."

[Hilyatul Aulia (8/104)]

Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi -hafidzahullah- berkata dalam Irsyadus Saari ila Taudhih Syarhis Sunnah setelah
membawakan hadits ini :
"Sebagaimana orang yang bermajlis dengan ahlus Sunnah tidak akan celaka dengan bermajlisnya bersama mereka,
bahkan ia mendapat kebaikan dari majlis tersebut; demikian pula orang yang duduk dengan ahli bid'áh, ia akan
mendapat bagian kemurkaan yang turun atas mereka. Kita memohon kepada ALLAH agar menjaga kita dari bid'áh²
dan menjadikan kita termasuk orang² yang mengikuti sunnah² serta menjauhi bid'áh²."


Dari Ibnu Ábbas radhiyallahuánhuma, ia berkata :

لا تجالس أهل الأهواء ، فإن مجالستهم ممرضة للقلوب

"Janganlah engkau duduk²(bermajlis) dengan ahlul ahwa' karena duduk² bersama mereka membuat hati menjadi
sakit."

[Diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam asy-Syariáh pada bab Dzammul Jidal wal Khushumat fid Din dan Ibnu Baththah
dalam al-Ibanah al-Kubra pada bab at-Tahdzir min Shuhbati Qoumin Yumridhul Qulub wa yufsidul Iman, dengan sanad
yang shahih]

Dari Ábdullah ar-Rumi, ia berkata :
"Datang seseorang kepada Anas bin Malik radhiyallahuánhu, dan aku berada di sisinya, kemudian orang itu berkata,
"Wahai Abu Hamzah, aku bertemu dengan suatu kaum yang mendustakan adanya syafaát dan adzab qubur."

Anas berkata,

أولئك الكذابون ، فلا تجالسهم
"Mereka adalah pendusta, jangan kamu duduk bersama mereka!"

[Diriwayatkan Ibnu Baththah dalam al-Ibanah al-Kubra pada bab at-Tahdzir min Shuhbati Qoumin Yumridul Qulub wa
yufsidul Iman, dalam kitab Ushulus Sunnah dengan tahqiq al-Walid bin Muhammad Nabih hal. 31 dikatakan bahwa
sanadnya la ba'sa bihi, wallahu a'lam]

Ibnu Úmar radhiyallahuánhuma berkata ketika ditanya tentang kelompok Qadariyyah:

فإذا لقيت أولئك فأخبرهم أني بريء منهم وأنهم برآء مني

"Jika engkau bertemu mereka, khabarkan kepada mereka bahwa aku telah berlepas diri dari mereka dan bahwa
mereka telah berlepas diri dariku."

[Diriwayatkan Muslim dalam shahih-nya, hadits no. 7]

Dari al-Hasan bin Abil Hasan al-Bashri dan Muhammad (bin Sirin)(Abu Bakr al-Anshari), mereka berdua berkata :

لا تجالسوا أصحاب الأهواء ولا تجادلوهم ولا تسمعوا منهم

"Janganlah kalian bermajlis dengan ahlul ahwa' dan janganlah kalian berdebat dengan mereka dan janganlah kalian
mendengar dari mereka!"

[Diriwayatkan Ibnu Saád dalam ath-Thabaqat al-Kubra (7/172), sanadnya shahih]

Dari Marhum bin Abdil Áziz al-Áththor, aku mendengar ayahku dan pamanku berkata: "Kami mendengar al-Hasan(al-
Bashri) melarang bermajlis dengan Má'bad al-Juhani(seorang tokoh Qadariyyah), ia(al-Hasan) berkata :

لا تجالسوه فإنه ضال مضل

"Jangan kalian bermajlis dengannya! Kerana ia sesat dan menyesatkan."
[Diriwayatkan Ábdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam As-Sunnah (2/391), al-Lalika'i dalam Syarah Ushul Í'tiqad Ahlis
Sunnah (4/637), Ibnu Baththah dalam al-Ibanah án Syari'átil Firqatin Najiyah (2/319), al-Ajurri dalam asy-Syari'áh (1/245),
al-Firyabi dalam Kitabul Qadar (1/204)]

Dari Asma bin Úbaid, ia berkata:

دَخَلَ رَجُلاَنِ مِنْ أَصْحَابِ الأَهْوَاءِ عَلَى ابْنِ سِيرِينَ فَقَالاَ : يَا أَبَا بَكْرٍ نُحَدِّثُكَ بِحَدِيثٍ؟ قَالَ : لاَ. قَالاَ : فَنَقْرَأُ عَلَيْكَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ؟ قَالَ : لاَ ، لَتَقُومَانِ عَنِّى أَوْ لأَقُومَنَّ. قَالَ :
فَخَرَجَا فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ : يَا أَبَا بَكْرٍ وَمَا كَانَ عَلَيْكَ أَنْ يَقْرَآ عَلَيْكَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى؟ قَالَ : إِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْرَآ عَلَىَّ آيَةً فَيُحَرِّفَانِهَا فَيَقِرُّ ذَلِكَ فِى قَلْبِى

Dua orang ahlul ahwa datang kepada Ibnu Sirin, mereka berdua berkata: "Wahai Abu Bakr, kami akan membacakan
kepadamu satu hadits!" Ibnu Sirin berkata: "Tidak!" Mereka berdua berkata: "Kalau begitu kami akan membacakan
kepadamu satu ayat dari Kitabullah?" Ibnu Sirin berkata: "Tidak! Pergilah kalian dariku, atau aku yang pergi!" (Asma bin
Úbaid) berkata: Maka mereka berdua keluar, lalu beberapa orang bertanya: "Wahai Abu Bakr, kenapa engkau(tidak
mau) ketika mereka akan membacakan kepadamu satu ayat dari Kitab ALLAH Taála?" Ibnu Sirin menjawab: "Aku
khawatir mereka berdua akan membacakan kepadaku sebuah ayat, lalu mereka menyimpangkannya, kemudian hal
itu(penyimpangan tersebut) akan menetap di hatiku."

[Diriwayatkan ad-Darimi dalam Sunan-nya (397), lihat Siyar Álamin Nubala' (11/285)]

Dari Ayyub, ia berkata : Abu Qilabah Abdulloh bin Zaid al-Jarmi berkata :

لا تجالسوا أهل الأهواء ولا تجادلوهم فإني لا آمن أن يغمسوكم في ضلالتهم أو يلبسوا عليكم ما كنتم تعرفون

"Janganlah kalian bermajelis dengan ahlul ahwa dan jangan berdebat dengan mereka! karena aku tidak merasa
aman jika mereka akan menenggelamkan kalian ke dalam kesesatannya atau men-talbis(membuat kesamaran)
terhadap apa yang kalian anggap baik."

[Diriwayatkan Ibnu Saád dalam ath-Thabaqat al-Kubra (7/184), lihat as-Siyar (4/472) oleh adz-Dzahabi. Sanad ini shahih]

Abu Ábdillah Sufyan bin Saíd ats-Tsauri berkata :

من أصغى بسمعه إلى صاحب بدعة، وهو يعلم، خرج من عصمة الله، ووكل إلى نفسه

"Barangsiapa mendengarkan ahli bid'áh dengan pendengarannya, padahal dia mengetahui, maka ia keluar dari
penjagaan ALLAH dan (urusannya) diserahkan kepada dirinya sendiri."


Beliau juga berkata :

من سمع ببدعة فلا يحكها لجلسائه، لا يلقها في قلوبهم

"Barangsiapa mendengar suatu bid'áh, maka janganlah ia menceritakannya kepada teman² duduknya, janganlah ia
melemparkannya ke dalam hati² mereka."

Setelah membawakan perkataan Sufyan ats-Tsauri di atas, Al-Hafidz Abu Ábdillah Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi
berkata:

أكثر أئمة السلف على هذا التحذير، يرون أن القلوب ضعيفة، والشبه خطافة

"Kebanyakan para imam Salaf berpendapat dengan tahdzir ini, mereka melihat bahwa hati itu lemah dan syubhat² itu
menyambar²."

[Siyar Álamin Nubala' 7/261]

Dari Abu Nashr Yahya bin Abi Katsir, ia berkata :

إذا لقيت صاحب بدعة في طريق فخذ في طريق آخر

"Jika engkau bertemu dengan ahli bid'áh di suatu jalan, maka ambillah jalan yang lain."
[Diriwayatkan oleh Abu Nuáim dalam al-Hilyah (3/69), Ibnu Baththah dalam al-Ibanah al-Kubra pada bab at-Tahdzir
min Shuhbati Qaumin Yumarridhunal Qulub wa yufsidul Iman, Ibnu Wadhdhah dalam al-Bida' pada bab an-Nahyu ánil Julus maá Ahlil Bida']

Abu Muhammad Sulaiman bin Mihran al-Á'masy berkata :

كانوا لا يسألون عن الرجل بعد ثلاث: ممشاه ومدخله وألفه من الناس

"Mereka(para salaf) tidak bertanya tentang seseorang setelah jelas tiga : teman jalannya, teman masuknya dan teman
pergaulannya."

[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam al-Ibanah (2/476)]

Ibnu Áun berkata :

الذي يجالس أهل البدع أشد علينا من أهل البدع

"Orang yang bermajlis dengan ahlul bida' itu lebih buruk bagi kami daripada ahlul bida'.”
[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam al-Ibanah al-Kubra (2/372)]

Dari Mubasyir bin Ismaíl al-Halabi, ia berkata :

قيل للأوزاعي : إن رجلا يقول : أنا أجالس أهل السنة ، وأجالس أهل البدع ، فقال الأوزاعي : هذا رجل يريد أن يساوي بين الحق والباطل

Dikatakan kepada al-Áuza'í : Seseungguhnya ada seseorang yang mengatakan : "Aku akan bermajlis dengan ahlus
Sunnah dan aku akan bermajlis dengan ahli bid'áh." Maka al-Áuza'í mengatakan : "Orang ini mau menyamakan
antara yang haq dan yang batil."

[Diriwayatkan Ibnu Baththah dalam al-Ibanah al-Kubra (2/456)]

Al-Imam al-Áuza’í juga berkata :

من ستر علينا بدعته لم تَخْفَ علينا أُلفته

"Barang siapa yang menutupi bid'áhnya dari kami, tidaklah samar bagi kami pergaulannya."
[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam al-Ibanah al-Kubra (2/479)]

Dari Úqbah bin Alqamah, ia berkata :

كنت عند أرطاة بن المنذر فقال بعض أهل المجلس: ما تقولون في الرجل يجالس أهل السنّة ويخالطهم، فإذا ذكر أهل البدع قال: دعونا من ذكرهم لا تذكروهم، قال
أرطأة: هو منهم لا يلبّس عليكم أمره، قال: فأنكرت ذلك من قول أرطاة قال: فقدمت على الأوزاعي، وكان كشّافاً لهذه الأشياء إذا بلغته، فقال: صدق أرطأة والقول ما
قال؛ هذا يَنهى عن ذكرهم، ومتى يحذروا إذا لم يُشد بذكرهم
"Aku berada di sisi Abu Ámr Ábdurrahman bin Ámr al-Áuza'í, lalu sebagian orang di majlis itu berkata :
Bagaimana pendapatmu tentang orang yang bermajlis dengan ahlus Sunnah dan bercampur bersama mereka, tapi
jika ahlul bida’ dibicarakan ia berkata : "Tinggalkanlah kami dari membicarakan mereka, janganlah kalian
membicarakan mereka!", Arthah(Abu Ádi Arthah bin al-Mundzir berkata : "Dia termasuk mereka, tidaklah
samar bagi kalian perkaranya", Úqbah berkata : Aku mengingkari pendapat Arthah tersebut, lalu ia (Úqbah) berkata :
Lalu aku datang kepada al-’Áuza’í, dan dia mampu menyingkap tentang masalah² seperti ini jika telah sampai
kepadanya, lalu ia berkata : "Arthah benar, pendapatku seperti pendapatnya. Orang ini melarang membicarakan
mereka (ahlul bida’), kapan orang² dapat diperingatkan jika tidak dikeraskan dalam membicarakan mereka."

[Tarikh Dimasyq (8/15)]

Abu Úrwah Má’mar bin Rasyid al-Azdi berkata : Suatu ketika Ibnu Thawus sedang duduk, kemudian datang
seorang Mu'tazili lalu berbicara, Abu Muhammad Ábdulloh bin Thawus al-Yamani lalu memasukkan dua jari ke
telinganya dan berkata kepada anaknya:

أي بني أدخل أصبعيك في أذنيك واشدد، ولا تسمع من كلامه شيئاً

"Wahai anakku, masukkan dua jarimu ke dua telingamu dan kencangkanlah! Jangan engkau dengarkan apa yang ia
katakan sedikitpun!"

[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam al-Ibanah al-Kubra (2/446), Abu Nu'áim dalam Hilyatul Auliya' (1/218), lihat
Siyar Álamin Nubala' (11/285)]

Dari Abu Ábdirrahman Mufadhdhal bin Muhalhal as-Sá’di al-Kufi(W167H), ia berkata:

لو كان صاحب البدعة إذا جلست إليه يحدثك ببدعته حذرته وفررت منه ولكنه يحدثك بأحاديث السنة في بدو مجلسه ثم يدخل عليك بدعته فلعلها تلزم قلبك فمتى تخرج من
قلبك ؟

"Seandainya ahli bid’áh itu, jika engkau duduk bersamanya, lalu ia berbicara dengan bid’áhnya maka engkau akan
mentahdzirnya dan lari darinya. Akan tetapi ia berbicara kepadamu dengan hadits² sunnah pada majlisnya yang
tampak, lalu bid’áhnya masuk kepadamu, kemudian bid’áh itu mengenai hatimu, maka bilakah bid’áh itu akan
keluar dari hatimu?"

[Diriwayatkan Ibnu Baththah dalam al-Ibanah al-Kubro]

Abu Áli Fudhail bin Iyadh berkata :

إن لله ملائكة يطلبون حلق الذكر، فانظر مع من يكون مجلسك، لا يكون مع صاحب بدعة؛ فإن الله تعالى لا ينظر إليهم، وعلامة النفاق أن يقوم الرجل ويقعد مع صاحب
بدعة، وأدركت خيار الناس كلهم أصحاب سنة وهم ينهون عن أصحاب البدعة

"Sesungguhnya ALLAH memiliki malaikat yang bertugas mencari majlis² dzikir, maka lihatlah bersama siapakah majlismu
itu, janganlah bersama ahli bid'áh; karena ALLAH Taála tidak melihat kepada mereka. Dan salah satu tanda nifaq
adalah seseorang bangun dan duduk bersama ahli bid'áh. Aku mendapati sebaik² manusia(yakni tabi'ín), mereka
semuanya adalah ahlus Sunnah dan mereka melarang(yakni memperingatkan) dari ahli bid'áh."

[Diriwayatkan Abu Nu'aim dalam Hilyatul Aulia' (8/104)]

Al-Fudhail bin Iyadh juga berkata :

الأرواح جنود مجندة، فما تعارف منها ائتلف، وما تناكـر منها اختلف، ولا يمكن أن يكون صاحب سنة يمالئ صاحب بدعة إلا من النفاق

"Ruh² adalah seperti tentara yang berbaris², maka yang saling mengenal akan bersatu dan yang saling mengingkari
akan berselisih, dan tidak mungkin seorang shahibus Sunnah menolong shahibul bid'áh kecuali kerana nifaq."


Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata :

لا تجلس مع صاحب بدعة ، فإني أخاف أن تنزل عليك اللعنة

"Janganlah engkau duduk bersama ahli bid'áh, karena sesungguhnya aku takut akan turun laknat untukmu."
[Diriwayatkan oleh al-Lalika'i dalam Syarh Ushul Í'tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaáh(1/137), dan Ibnu Baththah dalam al-
Ibanah al-Kubra dan dinukil oleh al-Barbahari dalam Syarhus Sunnah]

Abu Ábdillah Úbaidullah bin Muhammad bin Baththah al-Ukbari berkata -setelah perkataan al-Fudhail tadi- :

صدق الفضيل - رحمه الله –فإنا نرى ذلك عياناً

"Al-Fudhail rahimahulloh benar, sesungguhnya kami melihat yang demikian dengan mata kepala kami."
[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam al-Ibanah al-Kubra (2/456)]

Abu Ábdirrahman Ábdullah bin al-Mubarak al-Handzali(W181 H) berkata :

ليكن مجلسك مع المساكين، وإياك أن تجلس مع صاحب بدعة

"Hendaklah majlismu itu bersama orang² miskin dan berhati-²lah kamu dari duduk dengan ahli bid'áh."
[Siyar Álamin Nubala' 8/399]

Abu Ábdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi'í al-Qurasyi(W1204 H) berkata : Dahulu jika datang beberapa orang ahlul
ahwa kepada Abu Ábdillah Malik bin Anas al-Madani(W179H), ia berkata :

أما إني على بينة من ديني، وأما أنت، فشاك، اذهب إلى شاك مثلك فخاصمه

"Adapun aku, aku yakin pada agamaku. Adapun engkau adalah orang yang ragu. Pergilah kepada orang yang ragu
semisalmu, lalu berdebatlah dengannya saja!"

[Siyar Álamin Nubala' 8/99]

Al-Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani berkata dalam Ushulus Sunnah bahwa diantara Ushulus Sunnah (pokok aqidah/manhaj) adalah :

وترك الخصومات والجلوس مع أصحاب الأهواء

"…dan meninggalkan debat kusir dan duduk² bersama ash-habil ahwa'…"

Al-Imam Ahmad bin Hanbal juga berkata :

أهل البدع ما ينبغي لأحد أن يجالسهم ولا يخالطهم ولا يأنس بهم

"Ahli bid'áh itu, tidaklah pantas bagi seseorang untuk bermajlis dengan mereka dan bercampur dengan bereka serta
bersikap lunak kepada mereka."

[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam al-Ibanah al-Kubra 2/475]

Ibnu Abi Hatim(Abu Muhammad Ábdurrahman bin Muhammad bin Idris ar-Razi(W327H) berkata:

“وسمعت أبي وأبا زرعة : يأمران بهجران أهل الزيغ والبدع ويغلظان في ذلك أشد التغليظ وينكران وضع الكتب برأي في غير آثار. وينهيان عن مجالسة أهل الكلام
والنظر في كتب المتكلمين ويقولان لا يفلح صاحب كلام أبدا ” قال أبو محمد : ” وبه أقول أنا “

"Aku mendengar ayahku[Abu Hatim Muhammad bin Idris ar-Razi(277 H)] dan Abu Zur’áh[Abu Zur’áh Úbaidullah bin
Ábdil Karim ar-Razi(264H)], mereka berdua memerintahkan untuk menghajr ahluz-zaigh wal-bida' dan bersikap keras
dalam hal itu dengan keras yang sangat, dan mereka berdua mengingkari penulisan kitab dengan ra'yi(pendapat)
saja tanpa ada atsar. Dan mereka berdua melarang bermajlis dengan ahlul kalam dan melihat kitab² ahli kalam, dan
mereka berkata,
"Tidak akan beruntung ahli kalam selamanya." Abu Muhammad berkata : "Dan aku juga berpendapat seperti itu."

[Ushul Í'tiqad Ahlis Sunnah waal Jamaáh (1/179)]

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang
má'ruf dan mencegah dari yang munkar…"

[QS Ali Ímran : 104]

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Serulah ke jalan RABB-mu dengan hikmah dan dengan nasehat yang baik, serta debatlah mereka dengan cara yang
baik. Sesungguhnya RABB-mu lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-NYA dan DIA lebih mengetahui orang² yang
mendapat petunjuk."

[QS. An-Nahl : 125]

Dan yang lebih buruk lagi adalah seseorang yang melindungi ahli bid’ah dan membela mereka, karena Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam bersabda :

..وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا..

"…dan ALLAH melaknat orang yang melindungi seorang muhdits..."
al-Hadits
[HR. Muslim no. 1978, Ahmad no. 855, 858, 954 dan 1306; an-Nasa'i no. 4422, Ibnu Hibban no. 6604 dan lain-lain]
 
thread sampah tanpa hala tuju dan motif...mod sila2 la mainkan peranan...
 
Apakah ayat2 Al-Qur'an & Hadits yang disertakan termasuk kategori sampah?
"Rabbi zidni 'ilma."
 
Assalamu'alaykum

Boleh bagi contoh amalan ahli bidaah di Malaysia ini khususnya?

Saya tahu motif anda. Cuma hendak tahu siapakah ahli bidaah yg anda maksudkan secara khusus?

Sebab ada golongan ini Malaysia menghukumkan org yg membaca yassin malam jumaat, talqin, qasidah dan sebagainya itu bidaah.
 
Dari Á'isyah radhiyallahuánha, ia berkata : “Rasulullah shallallahuálaihi wa sallam membaca ayat ini :

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ
تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

"DIA-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepada kamu. Di antaranya ada ayat² yang muhkamaat, itulah pokok²
isi Al-Qur’an dan yang lain(ayat²) mutasyaabihaat. Adapun orang² yang dalam hatinya condong kepada kesesatan,
maka mereka mengikuti sebahagian ayat² yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk
mencari² ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan ALLAH. Dan orang² yang mendalam
ílmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat² yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak
dapat mengambil pelajaran(daripadanya) melainkan orang² yang beráqal."

[QS. Ali Ímran : 7]

Á'isyah radhiyallahuánha berkata : lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ

"Jika engkau melihat orang² yang mengikuti sebagian ayat² yang mutasyabihat; mereka itulah yang disebut ALLAH
(dalam ayat tadi), maka berhati²lah dari mereka!"

[HR. al-Bukhari no. 4273 dan Muslim no. 2665]

Boleh tak TT bagi beberapa contoh ayat dalam AQ yg dikategorikan sebagai ayat2 Mutasyaabihat.
 
Urusan untuk mentabdi'/mentakfir ini bukan bidang keahlian saya. Juga tidak semudah itu untuk mentabdi'/mentakfirkan sesebuah kumpulan mahupun individu bagi ulama' kerana yang diinginkan adalah dengan bertambahnya orang baik melalui jalan amar ma'ruf nahi munkar bukan penyusutan. Setakat di sini saya percaya kita semua setuju, mahu yang baik² sahaja(kita di dalam ukhuwwah Islamiyyah yang agung) & tidak mudah menghukum terutamanya tanpa didasari ilmu yang shahih. Menjawab soalan siapakah mubtadi' itu, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk menuding si fulan sebagai mubtadi'. Tidak semua yang terlibat di dalam bid'ah itu mubtadi, kerana ada di kalangan mereka juga adalah muqallid ma'(pentaqlid buta) yang tiada berilmu. Ringkasnya, mentaati ALLAH Azza wa Jalla sebagaimana ketaatan yang DIA inginkan bukan kita gambarkan atau sangka teka. Mentaati sebagaimana yang telah DIA ajari kita melalui kekasihnya Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam. Yang diwariskan kepada kita Qur'an & Hadits. Pasti, saya, tuan & kita semua akan berjaya sebagaimana para pendahulu kita.

Tujuan pula adalah penerangan ringkas yang telah ternukil tentang isu taqrib antara Sunni-Syiah di dengung²kan di zaman mutakhir ini. Yang pada haqiqatnya mungkin kita kurang peka tentang pengkhianatan Syiah yang berlaku sejak zaman-berzaman. Bahkan telah ternyata dalam sejarah yang dijaga oleh ulama' ahlus sunnah tentang permasalahan mereka berakar-umbi pada bab ushul bukan lagi furu'.

Ayat² mutasyaabihat secara ringkasnya merujuk kepada ayat² yang agak samar, mengandung kemiripan antara 2 perkara. Telah datang daripada hadits tentang ALLAH menguji manusia dengan sebahagian daripada mereka menjadi penggemar kepada ayat² tersebut. sebagaiman mafhum Surah al-Imran : 7. Maaf, tidak dapat dipastikan berapa jumlah antara ayat² muhkamat dengan ayat² mutasyabihat. 'Ala kulli hal, yang dituntut baik pada kedua ayat tersebut adalah beriman dengannya.
 
Tergantungla...byk ayt..tp motif...ubah la 1st post..msukan sikit mukadimah dan huraian sikit..#:-S
 
Back
Top
Log in Register