BTC USD 82,729.0 Gold USD 4,125.23
Time now: Jun 1, 12:00 AM

ISU TAHLIL ARWAH

kita sama2 sesat bila tinggalkan pengajian, nah di sini ambe bawakan;

Bid’ah Menurut Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani (wafat 852H), penulis kitab Fathul Bari (syarah Sahih Bukhari), Bulughul Maram.

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Bida’ adalah bentuk jamak dari kata bid’ah. Ia merupakan segala sesuatu yang tidak ada contoh yang mendahuluinya. Oleh sebab itu secara bahasa, bid’ah ini mencakup segala hal baik yang terpuji maupun tercela. Adapun dalam urf/kebiasaan ahli syari’at maka kata bid’ah ini khusus mencakup perkara yang tercela, apabila ia disebutkan dalam kerangka perkara yang terpuji maka maksudnya adalah penggunaan istilah bid’ah secara bahasa” (lihat Fath al-Bari, 13/291-292).

Beliau rahimahullah juga menyatakan : “Bid’ah dalam urf syari’at adalah tercela, berbeda dengan istilah bid’ah secara bahasa. Karena segala perkara yang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya -secara bahasa- dinamakan dengan bid’ah. Baik hal itu terpuji atau pun tercela….” (lihat Fath al-Bari, 13/266-267).

Sehingga pembagian bid’ah menjadi dua -yaitu terpuji dan tercela- ini adalah penggunaan istilah bid’ah secara bahasa -yaitu mencakup segala hal yang baru-, bukan istilah bid’ah dalam kacamata syari’at. Inilah yang dimaksud oleh Imam Syafi’i rahimahullah.

Beliau mengatakan -sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar- : “Bid’ah itu ada dua; yang terpuji dan yang tercela. Apa-apa yang sesuai dengan sunnah [tuntunan] maka itu adalah terpuji. Adapun apa-apa yang bertentangan dengan sunnah maka itu adalah tercela” (lihat Fath al-Bari, 13/267).

Inilah yang dipahami oleh Imam Ibnu Hajar rahimahullah. Oleh sebab itu beliau mengatakan ketika menjabarkan berbagai bentuk penyimpangan ajaran dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengatakan : “Oleh sebab itu orang yang berbahagia adalah yang berpegang teguh dengan apa-apa yang menjadi pegangan dan ajaran kaum salaf serta menjauhi segala hal baru -dalam agama- yang diada-adakan oleh kaum khalaf…” (lihat Fath al-Bari, 13/267).

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa pada dasarnya Ibnu Hajar sendiri tidak menyetujui adanya bid’ah hasanah dalam istilah syari’at. Oleh sebab itu apabila beliau menyebutkan ada suatu perbuatan yang beliau namakan dengan istilah bid’ah hasanah maka ini maksudnya adalah bid’ah dalam pengertian bahasa [sesuatu yang baru], bukan dalam istilah syari’at, karena bid’ah dalam kacamata syari’at itu semuanya sesat.

Ketegasan Para Ulama Dalam Mengingkari Bid’ah
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “tidaklah datang kepada manusia suatu tahun kecuali mereka mengada-adakan bid’ah padanya dan mematikan sunnah. Sehingga merajalela lah bid’ah dan matilah sunnah-sunnah” (lihat al-I’tisham, 1/39).

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “barangsiapa yang mencintai pembela bid’ah maka Allah akan menghapuskan amalnya dan Allah akan mencabut cahaya Islam dari dalam hatinya” (lihat Min A’lam as-Salaf, 2/47)

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah juga berkata, “barangsiapa yang mendukung pembela bid’ah sesungguhnya dia telah membantu untuk menghancurkan agama Islam.” (lihat Min A’lam as-Salaf, 2/47)

Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata, “hendaknya kamu tetap berpegang dengan atsar dan jalan kaum salaf, dan jauhilah olehmu segala ajaran yang diada-adakan, karena itu adalah bid’ah” (lihat Fashlu al-Maqal fi Wujub Ittiba’ as-Salaf al-Kiram, hal. 46).

Imam Abul Qasim At-Taimi rahimahullah berkata, “syi’ar Ahlus Sunnah adalah komitmen mereka untuk ittiba’ kepada salafus shalih dan meninggalkan segala ajaran yang bid’ah dan diada-adakan” (lihat Fashlu al-Maqal fi Wujub Ittiba’ as-Salaf al-Kiram, hal. 49)

Ibnul Majisyun berkata: Aku pernah mendengar Malik berkata, “barangsiapa yang mengada-adakan di dalam Islam suatu bid’ah yang dia anggap baik (baca: bid’ah hasanah), maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah. Sebab Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian”. Apa-apa yang pada hari itu bukan termasuk ajaran agama, maka hari ini hal itu juga bukan termasuk agama” (lihat al-I’tisham, 1/64-65)

Abu Idris al-Khaulani rahimahullah berkata, “sungguh apabila aku melihat api di dalam masjid yang tidak sanggup aku padamkan itu lebih aku sukai daripada melihat di dalamnya bid’ah yang aku tidak sanggup mengubahnya” (lihat Mukhtashar al-I’tisham, hal. 25).

Ayyub as-Sakhtiyani rahimahullah berkata, “tidaklah pelaku bid’ah menambah kesungguh-sungguhan kecuali dia akan semakin bertambah jauh dari Allah.” (lihat Mukhtashar al-I’tisham, hal. 33).

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “semua orang yang mengada-adakan sesuatu yang baru lalu dia sandarkan kepada agama padahal tidak ada dasar rujukannya di dalam agama maka itu adalah kesesatan, dan agama berlepas diri darinya. Sama saja apakah hal itu terjadi dalam masalah keyakinan/akidah ataupun amalan, atau dalam hal ucapan lahir maupun batin.” (lihat al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, hal. 26).

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhuma berkata, “semua bid’ah itu sesat walaupun oang-orang menganggapnya sebagai kebaikan/hasanah” (lihat al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, hal. 27).

Suatu ketika Sa’id bin al-Musayyab rahimahullah melihat ada seorang lelaki melakukan sholat setelah terbitnya fajar lebih dari dua raka’at dan dia memperbanyak padanya ruku’ dan sujud. Maka Sa’id pun melarangnya. Orang itu pun berkata, “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengazabku karena melakukan sholat?”. Beliau menjawab, “Tidak, akan tetapi Allah akan mengazabmu karena menyimpang dari as-Sunnah/tuntunan” (lihat al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah, hal. 27).

mmg dr awal lg sy katerkan menurut Imam Syafie bid'ah hasanah itu semua x bercanggah dgn sunnah & bid'ah dhalalah itu pula seblknyer...

bid'ah hasanah menurut definisi Imam Syafie adalah bid'ah yg x berselisih [bercanggah] dgn sunnah...

soalannyer skrg aderkah semua amalan yg disyariatkan spt membaca yasin, mengucapkan tahlil, bersedekah, berdoa utk jenazah...

apabila dihimpunkan dlm satu majlis maka automatik ia menjd bid'ah dhalalah???...
 
Last edited:
Itulah bukti bahawa majlis itu adalah majlis ma'tam mengikut budaya di zaman jahiliah. Mereka dibiayai untuk berkumpul untuk meraung-raung, mengoyakkan baju meletakkan debu atas kepala dan lain-lain.

Adapun majlis tahlil tidak ada biaya atau bayaran yang ada adalah sedekah. Sedekah dengan biaya dua perkara yang berbeza

ooohh lbh krg budaya org cina gak nih lah yer...

jd klu camtuh betul ler pendpt yg sy berikan dlm post awal...

perlu jg kiter ambil perhatian bhw dlm budaya msykt jahiliyah terdpt budaya "meratapi" kematian sehingga melampau bts...

cthnyer spt memukul2 dada, menangis dgn melampau, berteriak2, menampar2 pipi, mengoyak2kan pakaian, dsb...

maka apabila para shbt menyamakan berkumpul beramai2 semasa kematian sbg "meratapi" [niyahah] inilah yg mrk maksudkan...

ttp bandingkan dlm budaya kiter org Melayu, budaya "meratapi" kematian sedemikian x ader dlm msykt kiter, klu ader pon hanya pd kes2 yg sgt terpencil...

mgkn disbb itu maka majlis tahlil hanya wujud diklgan msykt Melayu & x ader dlm msykt lain di dunia, krn msykt lain ader budaya yg ekstrim dlm menangani kematian...

cthnyer myskt India yg membakar isteri semati bersama2 dgn simati, msykt Cina yg membkr semua jenis replika harta dunia & mengupah org utk meratapi si mati sepjg hari, dll...

so aper yg sy ingin spikan disini ialah kebimbangan yg sama spt yg dinyatakan oleh para shbt ttg "meratapi" kematian seharusnyer x terpakai dlm msykt Melayu...
 
Syaikhul Islaam Zakariyaa Al-Anshoori As-Syafi'i (wafat 926 H) berkata dalam kitabnya : Asna Al-Mathoolib Fi Syarh Roudh At-Thoolib (1/335, terbitan Daarul Kutub al-'Ilmiyah, Beirut, Libanon, cetakan pertama dengan tahqiq DR Muhammad Taamir):

وَيُكْرَهُ لِأَهْلِهِ أَيْ الْمَيِّتِ طَعَامٌ أَيْ صُنْعُ طَعَامٍ يَجْمَعُونَ عليه الناس أَخَذَ كَصَاحِبِ الْأَنْوَارِ الْكَرَاهَةَ من تَعْبِيرِ الرَّوْضَةِ وَالْمَجْمُوعِ بِأَنَّ ذلك بِدْعَةٌ غَيْرُ مُسْتَحَبٍّ وَاسْتَدَلَّ له في الْمَجْمُوعِ بِقَوْلِ جَرِيرِ بن عبد اللَّهِ كنا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصُنْعَهُمْ الطَّعَامَ بَعْدَ دَفْنِهِ من النِّيَاحَةِ رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وابن مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ وَلَيْسَ في رِوَايَةِ ابْنِ مَاجَهْ بَعْدَ دَفْنِهِ وَهَذَا ظَاهِرٌ في التَّحْرِيمِ فَضْلًا عن الْكَرَاهَةِ وَالْبِدْعَةِ الصَّادِقَةِ بِكُلٍّ مِنْهُمَا

"Dan dibenci bagi keluarga mayat untuk membuat makanan yang orang-orang berkumpul memakan makanan tersebut….dan dalam kitab Al-Majmuu' (karya An-Nawawi-pen) berdalil akan makruhnya hal ini dengan perkataan Jariir bin Abdillah : "Kami menganggap berkumpul ke keluarga mayit setelah dikuburkan dan pembuatan makanan setelah dikuburkannya mayat termasuk niyaahah"

Penulis menyamakan ianya dengan niyaahah, dan niyaahah jelas hukumnya HARAM, bukannya MAKRUH. Jadi, jelas imam syafie bermaksud HARAM, bukannya MAKRUH.

Bagaimana pendapat saudara adakah mereka ini telah melakukan niyahah (meratap)

Bahwasanya apabila salah seorang anggota keluarganya meninggal dunia, maka berkumpullah para wanita. Kemudian mereka berpisah, kecuali keluarga dan orang-orang tertentu. Setelah itu, ia (‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) menyuruh diambilkan seperiuk talbinah. Lalu dia memasak dan membuat tsariid. Kemudian dia menuangkan bubur talbinah tersebut di atasnya. Setelah itu, ia berkata: “Makanlah bubur ini! Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Talbinah dapat menyegarkan hati orang yang sakit dan dapat menghilangkan sebagian rasa sedih”
(HR. Bukhari no. 5101 dan Muslim no. 2216)

Adakah Aisyah radhiyallahu ‘anha telah melakukan niyahah?

Telah tiba berita kepada sayyidina Umar bahawa beberapa wanita telah berkumpul di rumah simati dengan masing-masing menangisi khalid. lalu umar mengatakan biarkanlah mereka menangisi Abi Sulaiman (khalid bin walid) selama tidak meletakkan debu diatas kepala dan tidak membesarkan suaranya
(HR Abu Daud)

Adakah sayyidina Umar membenarkan niyahah?

Dari 'Aisyah, bahawa ketika Sa'ad bin Mu'adz meninggal dunia, maka Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan 'Umar mendatanginya. 'Aisyah berkata, “Demi Tuhan yang diriku di tangan-Nya, sungguh aku lebih mengenal tangisan Abu Bakar daripada tangisan 'Umar, sedang aku berada di dalam kamarku". [HR. Ahmad, dalam Nailul Authar juz 4, hal. 114]

Adakah Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan 'Umar turut melakukan niyahah kerana telah berkumpul ketika Sa'ad bin Mu'adz meninggal dunia?

Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata : Ketika Zainab binti Rasulullah SAW meninggal dunia, lalu para wanita menangis. Kemudian 'Umar memukul mereka dengan cambuknya. Lalu Rasulullah SAW memegang tangan 'Umar sambil bersabda, “Sabar ya 'Umar!" Kemudian baginda bersabda, “Jauhkankah diri kamu dari raungan syaithan". Kemudian baginda bersabda (pula), “Karena sesungguhnya bila tangisan itu hanya sekedar mengeluarkan air mata dan kesedihan hati, maka ia itu berasal dari Allah 'Azza wa Jalla dan dari perasaan hiba. Dan bila tangisan itu diikuti perbuatan tangan dan lisan, maka ia itu berasal dari syaitan". [HR. Ahmad, dalam Nailul Authar juz 4, hal. 111]

Adakah Rasulullah saw membenarkan niyahah?

Dalam kitab Hasyiah I'aanat at-Thoolibin, Ad-Dimyaathi menukil perkataan seorang ulama Syafi'iyah :

"Segala puji hanya milik Allah, dan semoga shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutinya setelahnya. Ya Allah aku meminta kepadMu petunjuk kepada kebenaran.

Benar bahwasanya apa yang dilakukan oleh masyarakat berupa berkumpul di keluarga mayat dan pembuatan makanan merupakan bid'ah yang munkar yang pemerintah diberi pahala atas pelarangannya ….

Dan tidaklah diragukan bahwasanya melarang masyarakat dari bid'ah yang mungkar ini, padanya ada bentuk menghidupkan sunnah dan mematikan bid'ah, membuka banyak pintu kebaikan dan menutup banyak pintu keburukan. Karena masyarakat benar-benar bersusah payah, yang hal ini mengantarkan pada pembuatan makanan tersebut hukumnya haram. Wallahu a'lam.

Ditulis oleh : Yang mengharapkan ampunan dari Robnya : Ahmad Zainy Dahlan, mufti madzhab Syafi'iyah di Mekah" (Hasyiah I'aanat at-Thoolibin 2/165-166)

Jadi, jelas imam syafie bermaksud HARAM, bukannya MAKRUH. Kalo sekadar MAKRUH, takkan sampai dipanggil "bid'ah yang munkar yang pemerintah diberi pahala atas pelarangannya."

Semoga Allah kurniakan manfaat kepada sesiapa yg Dia kehendaki melalui artikel di bawah.

Syeikh Ahmad Zainy Dahlan mufti madzhab Syafi'iyah di Mekah ini Ulama yang berakidah asyairah yang di katakan sesat. tetapi bila bab tahlil arwah boleh pula mengambil pendapatnya. aneh :)

Jangan ambil potong-potong secara ringkas hingga membawa kepada perubahan makna.

Di bawah ini adalah secara lengkap jawapan mufti madzhab Syafi'iyah

Apakah fatwa para mufti yang mulia di Tanah Haram ini pada adat kebiasaan khusus yang dilakukan manusia di sebahagian negeri di mana apabila seseorang itu berpindah ke Negeri Pembalasan (meninggal dunia) serta hadir para kenalannya, jirannya yang ingin berta’ziyyah; jadi adat kebiasaan bahawa mereka ini menunggu makanan. Dan adalah besar malunya kepada keluarga si mati yang terbeban dengan bebanan yang besar (jika tiada menyediakan makanan), dan terpaksa menyediakan berbagai jenis hidangan, dan kehadiran mereka itu mendatangkan kesusahan yang besar. Dan jikalau Ketua Para Hakim (Qadhi atau pihak berkuasa), yang prihatin terhadap rakyat, melarang perkara ini agar mereka kembali berpegang dengan sunnah yang tinggi ,adakah si Penguasa akan mendapat pahala ?

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menjawab : “Ya, apa yang dilakukan manusia dengan berkumpul di rumah si mati dan dihidangkan makanan adalah suatu bid’ah yang mungkar yang diberi pahala kepada Pemerintah yang melarangnya. Dan telah berkata Al-Allamah Ibn Hajar al-Haitami dalam (kitabnya) Tuhfah Muhtaj syarh Minhaj : “Dan sunat bagi jiran si mati menyediakan makanan yang mengenyangkan keluarga si mati sehari semalam berdasarkan hadith sahih “Perbuatlah bagi keluarga Ja’far makanan kerana mereka telah didatangi sesuatu yang menyibukkan mereka (iaitu kematian ahli keluarga)”. Dan (sunat) jua menyuakan keluarga si mati agar makan (makanan yang di bawa jiran) kerana (berkemungkinan) ahli keluarga si mati meninggalkan memakan makanan tersebut kerana malu atau kerana kerunsingan. Dan haram menyediakan makanan bagi para peraung (al-naa’ihaat) kerana yang demikian itu membantu pada membuat maksiat. Dan apa yang teradat oleh keluarga si mati menyediakan makanan untuk menjemput manusia makan adalah suatu BID’AH MAKRUH, begitu jua menyambut jemputan seperti itu, kerana telah sah suatu hadith dari Jarir r.a : “Kami mengira sesuatu perhimpunan pada keluarga si mati dan berbuat makanan selepas dikuburkan mayat sebagai sebahagian dari niyahah (ratapan)”. Dan aspek persamaan dengan niyahah itu adalah kerana terdapatnya SYIDDATUL IHTIMAM (KESUSAHAN URUSAN) di sebabkan kesedihan.”
 
Tiada kesudahan....

rasanyer mcm tuh ler...

tp yg penting glgan yg melaksanakan majlis tahlil x mengatakan mana2 glgan sbg sesat...

jika glgan yg menentang majlis tahlil benar, maka selamat lah mrk dr kesesatan & kekal sesat ler glgan yg melaksanakan majlis tahlil...

ttp jika glgan yg menentang majlis tahlil salah, maka rugi lah mrk krn x melaksanakan suatu yg membawa kebaikan mlh berdosa pula krn mengatakan glgan yg benar sbg sesat...

jls glgan maner yg berada dlm kerugian yg lbh bsr...
 
Bagaimana pendapat saudara adakah mereka ini telah melakukan niyahah (meratap)

Bahwasanya apabila salah seorang anggota keluarganya meninggal dunia, maka berkumpullah para wanita. Kemudian mereka berpisah, kecuali keluarga dan orang-orang tertentu. Setelah itu, ia (‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) menyuruh diambilkan seperiuk talbinah. Lalu dia memasak dan membuat tsariid. Kemudian dia menuangkan bubur talbinah tersebut di atasnya. Setelah itu, ia berkata: “Makanlah bubur ini! Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Talbinah dapat menyegarkan hati orang yang sakit dan dapat menghilangkan sebagian rasa sedih”
(HR. Bukhari no. 5101 dan Muslim no. 2216)

Adakah Aisyah radhiyallahu ‘anha telah melakukan niyahah?

Telah tiba berita kepada sayyidina Umar bahawa beberapa wanita telah berkumpul di rumah simati dengan masing-masing menangisi khalid. lalu umar mengatakan biarkanlah mereka menangisi Abi Sulaiman (khalid bin walid) selama tidak meletakkan debu diatas kepala dan tidak membesarkan suaranya
(HR Abu Daud)

Adakah sayyidina Umar membenarkan niyahah?

Dari 'Aisyah, bahawa ketika Sa'ad bin Mu'adz meninggal dunia, maka Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan 'Umar mendatanginya. 'Aisyah berkata, “Demi Tuhan yang diriku di tangan-Nya, sungguh aku lebih mengenal tangisan Abu Bakar daripada tangisan 'Umar, sedang aku berada di dalam kamarku". [HR. Ahmad, dalam Nailul Authar juz 4, hal. 114]

Adakah Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan 'Umar turut melakukan niyahah kerana telah berkumpul ketika Sa'ad bin Mu'adz meninggal dunia?

Dari Ibnu 'Abbas, ia berkata : Ketika Zainab binti Rasulullah SAW meninggal dunia, lalu para wanita menangis. Kemudian 'Umar memukul mereka dengan cambuknya. Lalu Rasulullah SAW memegang tangan 'Umar sambil bersabda, “Sabar ya 'Umar!" Kemudian baginda bersabda, “Jauhkankah diri kamu dari raungan syaithan". Kemudian baginda bersabda (pula), “Karena sesungguhnya bila tangisan itu hanya sekedar mengeluarkan air mata dan kesedihan hati, maka ia itu berasal dari Allah 'Azza wa Jalla dan dari perasaan hiba. Dan bila tangisan itu diikuti perbuatan tangan dan lisan, maka ia itu berasal dari syaitan". [HR. Ahmad, dalam Nailul Authar juz 4, hal. 111]

Adakah Rasulullah saw membenarkan niyahah?



Syeikh Ahmad Zainy Dahlan mufti madzhab Syafi'iyah di Mekah ini Ulama yang berakidah asyairah yang di katakan sesat. tetapi bila bab tahlil arwah boleh pula mengambil pendapatnya. aneh :)

Jangan ambil potong-potong secara ringkas hingga membawa kepada perubahan makna.

Di bawah ini adalah secara lengkap jawapan mufti madzhab Syafi'iyah

Apakah fatwa para mufti yang mulia di Tanah Haram ini pada adat kebiasaan khusus yang dilakukan manusia di sebahagian negeri di mana apabila seseorang itu berpindah ke Negeri Pembalasan (meninggal dunia) serta hadir para kenalannya, jirannya yang ingin berta’ziyyah; jadi adat kebiasaan bahawa mereka ini menunggu makanan. Dan adalah besar malunya kepada keluarga si mati yang terbeban dengan bebanan yang besar (jika tiada menyediakan makanan), dan terpaksa menyediakan berbagai jenis hidangan, dan kehadiran mereka itu mendatangkan kesusahan yang besar. Dan jikalau Ketua Para Hakim (Qadhi atau pihak berkuasa), yang prihatin terhadap rakyat, melarang perkara ini agar mereka kembali berpegang dengan sunnah yang tinggi ,adakah si Penguasa akan mendapat pahala ?

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menjawab : “Ya, apa yang dilakukan manusia dengan berkumpul di rumah si mati dan dihidangkan makanan adalah suatu bid’ah yang mungkar yang diberi pahala kepada Pemerintah yang melarangnya. Dan telah berkata Al-Allamah Ibn Hajar al-Haitami dalam (kitabnya) Tuhfah Muhtaj syarh Minhaj : “Dan sunat bagi jiran si mati menyediakan makanan yang mengenyangkan keluarga si mati sehari semalam berdasarkan hadith sahih “Perbuatlah bagi keluarga Ja’far makanan kerana mereka telah didatangi sesuatu yang menyibukkan mereka (iaitu kematian ahli keluarga)”. Dan (sunat) jua menyuakan keluarga si mati agar makan (makanan yang di bawa jiran) kerana (berkemungkinan) ahli keluarga si mati meninggalkan memakan makanan tersebut kerana malu atau kerana kerunsingan. Dan haram menyediakan makanan bagi para peraung (al-naa’ihaat) kerana yang demikian itu membantu pada membuat maksiat. Dan apa yang teradat oleh keluarga si mati menyediakan makanan untuk menjemput manusia makan adalah suatu BID’AH MAKRUH, begitu jua menyambut jemputan seperti itu, kerana telah sah suatu hadith dari Jarir r.a : “Kami mengira sesuatu perhimpunan pada keluarga si mati dan berbuat makanan selepas dikuburkan mayat sebagai sebahagian dari niyahah (ratapan)”. Dan aspek persamaan dengan niyahah itu adalah kerana terdapatnya SYIDDATUL IHTIMAM (KESUSAHAN URUSAN) di sebabkan kesedihan.”
terbaek sedara Abbas...

sy pelik msh ader lg jenis manusia yg petik ayat separuh2 utk menang hujah yer??? heran2...

aper pon hrp2 dpt respon dr mrk yg berkaitan sbb ini msh lg dlm isu tahlil & x melencong kpd ibadah2 yg lain...
 
dorg petik kata2,ulama aswj zaini dahlan..dorg sdiri x amik aliran abu hassan..teruk benar..petik kata2.,cam dorg idup mase tu..sib baik ada ulama yg bgtau..apa yg dmaksudkan..tgklah..kalau rukuk byk x..sujud byk x..org 1rakaat 1 rukuk,dia hentam 4,5 kali rukuk..memang bidaah sesat la,kalau x nyanyuk,hehe..tu baru betul nk tgkan benang yg basah..ni tahlil..risalah rasul telah sempurna..jk adat sesuatu kaum x mlampaui batas agama..silakan..tp jk mlampaui agama spt syiah,ayahpin..memang bidaah sesat..
 
Macam2 hadis yang keluar untuk membenarkan amalan tahlil nih ... :D Tapi saya masih tertanya2 kenapa Nabi, para sahabat, para ahlul bait x pernah buat jika ianya benar2 beri menafaat kpd umat islam.. Sedangkan Rasullulah adalah Nabi yang terlalu sayangkan umatnya .. Ini membuatkan saya tertanya2 .. apakah kita harus ikut amalan dalam kitab2 lama atau yang dibawa oleh rasullulah...

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, & telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu & telah kuridhoi Islam itu sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah 3)

Tetapi ayat ini tidak dipandang oleh umat islam apabila menokok tambah amalan yang telah diperturunkan kepada Rasullulah.... di tas amalan suka menokok tambah ini maka bertaburan lah ilmu2 sesat kerana perbuatan ini dan berkembang subur di mana2 kerana mempunyai ramai pengikut yang jelas tidak faham maksud ayat AQ Al Maidah dan pesan Nabi (umat Islam hanya akan selamat jika ikut AQ dan Sunnahnya)...

Dan terlalu ramai juga yang silap memahami perkara bidaah dan definasi bidaah ....
 
Last edited:
Nak tanya Jejantas;
Jejantas faham tak apa makna ... telah kusempurnakan ...

 
Macam2 hadis yang keluar untuk membenarkan amalan tahlil nih ... :D Tapi saya masih tertanya2 kenapa Nabi, para sahabat, para ahlul bait x pernah buat jika ianya benar2 beri menafaat kpd umat islam.. Sedangkan Rasullulah adalah Nabi yang terlalu sayangkan umatnya .. Ini membuatkan saya tertanya2 .. apakah kita harus ikut amalan dalam kitab2 lama atau yang dibawa oleh rasullulah...

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, & telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu & telah kuridhoi Islam itu sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah 3)

Tetapi ayat ini tidak dipandang oleh umat islam apabila menokok tambah amalan yang telah diperturunkan kepada Rasullulah.... di tas amalan suka menokok tambah ini maka bertaburan lah ilmu2 sesat kerana perbuatan ini dan berkembang subur di mana2 kerana mempunyai ramai pengikut yang jelas tidak faham maksud ayat AQ Al Maidah dan pesan Nabi (umat Islam hanya akan selamat jika ikut AQ dan Sunnahnya)...

Dan terlalu ramai juga yang silap memahami perkara bidaah dan definasi bidaah ....

"...Tapi saya masih tertanya2 kenapa Nabi, para sahabat, para ahlul bait x pernah buat jika ianya benar2 beri menafaat kpd umat islam.. Sedangkan Rasullulah adalah Nabi yang terlalu sayangkan umatnya.."

soalan sdr dah lama dijwb jika sdr benar2 mengamati post2 awal dlm thread ini, takper sy ulang...
  1. aperkah Nabi Muhammad SAW pernah memerintahkan agar dibacakan yasin kpd jenazah??? yer...

  2. aperkah Nabi Muhammad SAW pernah mendoakan utk jenazah??? yer...

  3. aperkah Nabi Muhammad SAW pernah melrg mengucapkan tahlil pd masa2 tertentu??? x...

  4. aperkah Nabi Muhamad SAW pernah melrg memberi sedekah atas nama si mati??? x...

  5. aperkah Nabi Muhammad SAW pernah melrg tangisan & membenarkan ratapan semasa kematian??? x...

  6. aperkah Nabi Muhammad SAW mengglkkan ziarah keluarga si mati??? yer...

  7. aperkah Nabi Muhammad SAW pernah memerintahkan agar jiran & kaum kerabat menyediakan mknan utk ahli si mati??? yer...

  8. aperkah Nabi Muhammad SAW pernah melrg agar jiran & kaum kerabat menyediakan mknan utk org yg dtg berziarah??? x...

  9. aperkah Nabi Muhammad SAW melrg ijtihad utk menghimpunkan semua amalan di atas dlm satu majlis??? x...

  10. aderkah Islam melrg menggunakan al-urf [adat kebiasaan dlm sesebuah msykt yg x menyalahi syarak] sbg sumber hukum??? x...

  11. akhir sekali aderkah hanya dgn menhimpunkan semua amalan yg disyariatkan itu dlm satu majlis maka automatik ia menjd bid'ah dhalalah??? x...
semua soalan di atas di atas dah dijwb, tp sedara yg enggan menerima jwban, terus membutakan mata & hati...

mlh lbh teruk lg menggunakan nama Imam Syafie utk mengharamkan tahlil sdgkan kenyataan sedemikian x pernah dikeluarkan oleh beliau...

sbb tuh sehingga hari nih sedara x mampu memberikan bukti kater2 sedara...

so aper kater sdr plak yg menjwb soalan, krn soalan sdr dah pon di jwb...

Itu buka thread lain tuan .... Kita bincang di sana... di sini isunya tahlil...

sy dah agak dah jwban sedara tuh...

so jika kiter hanya membincangkan ttg majlis tahlis naper soalan2 di bwh di abaikan???...

oleh krn kiter membincangkan ttg tahlil, blh sedara buktikan kenyataan sedara kat bwh...

Imam Syafie dengan jelas menyatakan bahawa kenduri tahlil nih x boleh ...

klu sedara blh berikan hadis yg menjd asas kpd pendpt Imam Syafie spt yg sedara kater kat atas lg elok, lg kuat hujah sedara...

berkenaan dgn majlis tahlil, jika sdr ikuti perbincangan sy dgn sdr gjoykamitake sy dah berikan dalil bg setiap amalan dlm majlis tahlil...

ini termasuk membaca yasin, mengucapkan tahlil, berdoa utk si mati, bersedekah kpd tetamu, kaum kerabat & jiran dibnrkan menyediakan mknan ttp x ahli keluarga si mati...

yg tiada dalil jls hanyalah menghimpunkan semua amalan ini dlm satu majlis...

maka timbul lah persoalan aderkah hanya dgn menghimpunkan semua amalan ini dlm satu majlis serta merta menjdkan semua amalan itu bid'ah???...

lg pon jika hanya krn persamaan dgn agama lain shj menybbkan majlis tahlil bid'ah, maka brp byk persamaan dlm agama Islam dgn agama lain yg perlu diisytiharkan bid'ah...
  1. org Islam x blh nak berdoa utk kesejahteraan jenazah krn org Hindu jg berdoa utk kesejahteraan jenazah mrk...
Nota: Soalan ini merujuk kpd video yg sedara berikan...
 
Last edited:
Back
Top
Log in Register