BTC USD 84,415.0 Gold USD 4,153.61
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

rencana 2 Khidir

sumber:http://kaumberpikir.blogspot.my/2013/02/hikmah-di-balik-kisah-nabi-khidir.html

Pada era kerasulan Musa, hidup seorang nabi bernama Khidir. Asal usulnya tak jelas. Ada yang mengatakan, ia merupakan keluarga Dzulqarnain, ada pula yang mengatakan, ia keturunan bangsa Persia dan Romawi. Beberapa menyebut, Khidir merupakan nama julukan dari pria kalangan biasa bernama Balya bin Malkan.

Entah siapa Khidir tersebut, sosoknya begitu misterius. Ia pun dikisahkan dalam sebuah perjalanan Musa yang penuh hal ajaib, luar biasa, dan tentunya penuh misteri.

Suatu hari, seorang dari Bani Israil menemui Musa dan kemudian bertanya, “Wahai Nabiyullah, adakah di dunia ini orang yang lebih berilmu darimu?” ujarnya. Tersentak, Nabi Musa pun jelas menjawab, “Tidak.” Tentu saja, siapa yang mampu menandingi ilmu Musa, utusan Allah kala itu. Sumber tuntunan agama dan sumber pengetahuan wahyu Allah ada di genggaman Musa. Ia memiliki Taurat dan beragam mukjizat dari-Nya.

Namun, rupanya Allah memiliki hamba lain selain Musa yang lebih berilmu. Allah pun mewahyukan pada Musa bahwa tak seorang pun di muka bumi yang mampu menguasai semua ilmu. Tak hanya Musa, di belahan bumi lain pun terdapat seorang yang memiliki ilmu luar biasa.

Ilmu itu tak dimiliki Musa sekalipun. Orang itu juga seorang nabi. Mengetahui hal tersebut, sontak Musa pun ingin berguru pada orang tersebut. Ia bersemangat ingin menuntut ilmu dan menambah pengetahuanya.

“Ya Allah, di mana orang ini bisa saya temui? Saya ingin bertemu dengannya dan belajar darinya,” tanya Musa antusias. Nabi Musa sendiri dikenal dengan keistimewaan sebagai nabi yang bisa berbicara langsung dengan Allah tanpa perlu perantara malaikat. Allah pun menunjukkan sebuah tempat di mana Musa dapat menemui orang berilmu tersebut.

Di pertemuan antara dua lautan, demikian lokasi ahli ilmu itu. Agar lebih yakin dan tak salah mengenali orang, Musa pun meminta tanda identitas orang tersebut. Allah pun memerintahkan Musa membawa seekor ikan dalam wadah berisi air. Ikan tersebut akan menunjukkan arah di mana keberadaan sang ahli ilmu Khidir.

Berangkatlah Musa menyusuri lautan, mencari keberadaan Khidir. Ia ditemani muridnya yang terkenal setia Yusya bin Nun. Yusya lah yang membawa bejana berisi ikan yang akan menghantarkan Musa pada Khidir.

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, keduanya tak juga menemukan Khidir. Meski lelah, keduanya tetap melanjutkan perjalanan. “Aku tak akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun,” ujar Musa pada Yusya.

Perjalanan telah jauh, tapi Khidir tak juga dijumpai. Musa pun memutuskan untuk sejenak beristirahat di sebuah batu besar di tepi sungai. Kelelahan, Musa pun tertidur. Saat Musa terlelap, Yusya melihat ikan dalam bejana tersebut meloncat keluar dari bejana ke arah sungai. Tapi, Yusya lupa mengabarkannya pada Musa. Saat Musa bangun, keduanya pun melanjutkan perjalanan tanpa ingat panduan sang ikan.

Pejalanan melelahkan keduanya hingga mereka merasa lapar. Ketika Musa menanyakan bekal untuk makan, Yusya baru teringat pada si ikan. “Saat kita istirahat di batu tadi, sungguh aku benar-benar lupa mengabarkan tentang ikan itu.

Tidaklah yang melupakanku untuk mengabarkannya padamu kecuali syaitan. Ikan itu kembali ke laut dengan cara yang aneh sekali,” ujar Yusya. Musa pun langsung mengetahui itu adalah sebuah tanda, “Itulah tempat yang kita cari,” ujar Musa bersemangat.

Lupa sudah rasa lapar tadi, keduanya pun kembali ke arah semula tempat mereka beristirahat. Sampailah mereka pada tempat yang mereka tuju dan bertemu sosok pria yang wajahnya tertutup sebagian oleh kudung. Sikapnya tegas menunjukkan kesalehannya. Pria itulah Khidir. “Bolehkah aku mengikutimu agar kau bisa mengajarkanku sebagian ilmu di antara ilmu-ilmu yang kau miliki?” ujar Musa kepada Khidir.

Apa jawab Khidir kepada Musa? “Sungguh kau tak akan sanggup untuk sabar jika bersamaku. Bagimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang itu,” kata Khidir.

Bukan Musa kalau langsung patah semangat dengan penolakan halus itu. “Insya Allah, kau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar. Aku tak akan menentangmu dalam urusan apa pun,’” ujarnya. Mendengar ketekadan hati Musa, Khidir pun akhirnya mengizinkan Musa mengikutinya. Tapi, dengan syarat, “Jika kau mengikutiku, jangan menanyakan suatu apa pun padaku sampai aku yang menerangkannya padamu,” kata Khidir.

Musa girang dapat mengikuti Khidir. Artinya, ia dapat menuntut ilmu dari Khidir. Pergilah Khidir dan Musa menumpang sebuah perahu. Tapi, ketika perahu itu hampir mendarat, Khidir melubangi perahu tersebut. Musa kaget, ia pun berkata, “Mengapa kau lubangi perahu ini. Kau akan membuat penumpang tenggelam. Kau telah melakukan sebuah kesalahan besar.”

Khidir hanya menjawab, “Bukankah aku telah berkata bahwa kau tak akan sabar bersamaku.” Musa pun teringat janjinya tak akan menanyakan apa pun. Ia pun menyesali ucapannya. “Jangan hukum aku atas lupaku dan jangan bebani aku dengan kesulitan urusan,” kata Musa.

Keduanya pun melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan, mereka berjumpa dengan seorang anak. Mengagetkan, Khidir kemudian membunuhnya. Musa yang sifatnya spontan langsung bereaksi. “Mengapa kau bunuh jiwa yang bersih? Dia tak membunuh orang lain. Sungguh, kau melakukan suatu yang mungkar,” protes Musa.

Lagi-lagi, Khidir hanya menjawab, “Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa kau sungguh tak akan sabar bersamaku?” Musa pun kembali teringat janjinya. Dia pun memendam rasa amarah sekaligus herannya atas kelakuan Khidir. “Jika setelah ini aku bertanya kembali padamu, jangan kau izinkan aku lagi mengikutimu. Sungguh, kau cukup memberiku uzur,” kata Musa.

Perjalanan keduanya dilanjutkan. Tibalah mereka di sebuah negeri. Tapi, tak ada satu pun penduduk negeri yang berkenan menjamu mereka. Lagi, Khidir melakukan perbuatan yang tak masuk akal bagi Musa. Kali ini khidir tidak melakukan perbuatan mungkar di negeri tersebut, ia justru memperbaiki dinding sebuah rumah yang hampir roboh. “Jika kau mau, kau dapat mengambil upah karena telah memperbaiki itu,” ujar Musa.

Lupa sudah Musa akan tekadnya untuk diam tak mengomentari ulah Khidir. Sesuai ucapan Musa, ia pun tak lagi mendapat pengecualian. Sudah tiga kali Musa mempertanyakan sikap Khidir. “Inilah perpisahanku denganmu,” kata Khidir.

Sebelum berpisah, Khidir pun menjelaskan maksud dibalik perbuatan yang Musa tak sabar atasnya. “Aku akan memberitahu tujuan perbuatanku. Perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku merusak perahu mereka karena mereka dihadapkan pada seorang raja yang merampas setiap perahu,” kata Khidir.

Betapa ilmu Khidir benar-benar luar biasa. Ilmu tersebut membuatnya sangat bijak. Bayangkan jika Khidir tak melubangi perahu itu, orang miskin tersebut akan kehilangan tak hanya perahu, tapi juga mata pencaharian mereka. Dengan perahu yang berlubang, raja lalim mana yang suka untuk mengambilnya.

Itu baru satu kisah. Kisah selanjutnya, Khidir menjelaskan, “Adapun anak itu, kedua orang tuanya merupakan Mukminin. Kami khawatir, dia akan mendorong kedua orang tuanya pada kesesatan dan kekafiran. Dan, kami menghendaki supaya Rabb mengganti anak lain untuk mereka yang lebih baik, suci, dan lebih sayang pada ibu bapaknya,” ujar Khidir.

Tahulah Musa bahwa ilmu yang dimiliki Khidir benar-benar luar biasa. Ia mengetahui hal misterius dan mengambil kebijaksanaan atasnya. Kisah terakhir, “Dinding rumah itu merupakan milik dua anak yatim di negeri tersebut. Di bawahnya tersimpan harta benda simpanan sang ayah untuk keduanya. Ayahnya adalah seorang yang shalih. Rabbmu menghendaki agar mereka sampai dewasa dan mengeluarkan simpanan itu sebagai rahmat Rabbmu,” jelas Khidir.

Terjawablah semua pertanyaan Musa atas sikap Khidir. Musa pun kagum dengan ilmu yang diajarkan Allah kepada Khidir. “Tidaklah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri,” pungkas Khidir yang menunjukkan betapa dia memiliki ilmu yang luar biasa dari rahmat Allah.

Perjalanan Musa dan Khidir tersebut dikisahkan dalam Alquran surah al-Kahfi ayat 60 hingga 82. Rasulullah pun mengisahkannya dalam sebuah hadis riwayat Ubai Ibn Ka’ab yang tercantum dalam Shahih Al Bukhari. Ibnu Katsir menjelaskan kisah dengan rinci melalui hadis tersebut.

Di akhir hadis, Rasulullah bersabda, “Kami berharap, Musa dapat sabar dengan kebajikan yang mana Allah mungkin akan memberitahu kami lebih banyak tentang kisah ini. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada Musa,” sabda Rasulullah.

Adapun dalam al-kitab atau Injil Perjanjian Lama, tokoh Khidir tak disebut-sebut meski kisahnya terjadi di masa Bani Israil. Tapi, beberapa dari cendekiawan Bani Israil menganggap, Khidir merupakan Elia atau Ilyas. Beberapa mereka juga mengenal Khidir dengan sebutan St George. Dalam buku Mystical Dimensions of Islam karya Annemarie Schimmel, kisah Khidir termasuk di dalamnya dan disebut sebagai sosok yang kekal dan belum wafat hingga kini sebagaimana Nabi Isa.

Tapi, legenda mengenai kekalnya Khidir tersebut tampaknya hanyalah dongeng belaka. Ibnul Qayyim dalam kitabnya al-Manarul Munif fil Hadits-Shahih wa Dhaif menyebutkan bahwa tak ada riwayat shahih yang menyebut bahwa Khidir masih hidup.

Hikmah di Balik Kisah Nabi Khidir

Terdapat banyak hikmah dari kisah Khidir , salah satunya, yakni menuntut ilmu. Dalam Islam, menuntut ilmu merupakan perkara wajib. Tampak dalam kisah betapa Nabi Musa sangat antusias menuntut ilmu. Bahkan, meski kedudukannya saat itu merupakan nabi ia tak segan untuk terus menuntut ilmu.

Beliau bahkan bersedia menempuh perjalanan panjang demi bertemu sang guru. Beliau yang berstatus tinggi sebagai nabi, bahkan bersedia merendahkan diri dihadapan sang guru. Alasannya, karena ilmu memiliki kedudukan tinggi dalam Islam.

Allah berfirman dalam surah al-Mujadilah ayat 11, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama) beberapa derajat.” Banyak ayat yang menyatakan keutamaan ilmu dan kewajiban menuntutnya. Dalam hadis, Rasulullah pun sering mengingatkan umatnya untuk menuntut ilmu. Beliau pun menyatakan keutamaan ilmu bagi para Muslimin.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Abud Darda menceritakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, Allah akan mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah dan sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu.

Dan, sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya. Dan, sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka, barangsiapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.
 
rencana 3 khidir

sumber:http://alfitrah.my/?p=1729

Pendahuluan

Manusia merupakan makhluk yang beruntung kerana Allah s.w.t telah menganugerahkan ilmuNYA secara langsung sehingga manusia dapat mengetahui sesuatu perkara. Firman Allah s.w.t dalam surah al-Baqarah ayat 32 :

ayat32 surah albaqarah

“malaikat itu menjawab: “Maha suci Engkau (Ya Allah)! Kami tidak mempunyai pengetahuan selain dari apa Yang Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkau jualah Yang Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana”.

Huraian daripada ayat ini, makhluk Allah seperti malaikat yang mengaku diri mereka sebagai makhluk yang sentiasa bertasbih dengan memuji Allah dan mensucikannya, tidak diberi ilmu seperti manusia.Ayat di atas merupakan pengakuan daripada malaikat. Atas alasan inilah Allah s.w.t akan mengangkat darjat manusia yang berilmu. Seperti firman Allah s.w.t dalam surah al-Mujadalah, ayat 11 :

ayat11 surah Mujadalah

“Wahai orang-orang Yang beriman! apabila diminta kepada kamu memberi lapang dari tempat duduk kamu (untuk orang lain) maka lapangkanlah seboleh-bolehnya supaya Allah melapangkan (segala halnya) untuk kamu. dan apabila diminta kamu bangun maka bangunlah, supaya Allah meninggikan darjat orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang Yang diberi ilmu pengetahuan agama (dari kalangan kamu) – beberapa darjat. dan (ingatlah), Allah Maha mendalam pengetahuannya tentang apa Yang kamu lakukan”.

Allah s.w.t telah memberi penghormatan kepada manusia untuk menjaga alam dan menjadi khalifah di bumi ini.oleh kerana itu, setiap manusia memerlukan ilmu untuk menjalankan tanggungjawab yang telah diamanahkan. Dengan penguasaan ilmu yang diberikan oleh Allah s.w.t, manusia dapat memahami hakikat dirinya, hakikat diciptakan alam semesta dan hakikiat kehadirannya di dunia ini.Allah s.w.t juga telah memberikan ilmu kepada setiap manusia mengikut kemampuan manusia tersebut. Seseorang manusia tidak akan dibebani dengan sesuatu yang tidak mampu dipikulnya. Allah s.w.t Maha Mengetahui setiap yang tersurat.

Atikel kali ini, penulis ingin membongkar rahsia dan kisah seorang nabi yang sering menjadi tanda tanya kepada setiap muslim. Adakah nabi ini masih hidup atau sedah meninggal dunia atau dia hilang tanpa disedari?Apakah ilmu yang telah dianugerahkan oleh Allah s.w.t kepada beliau hingga Nabi Musa mencarinya untuk menuntut ilmu?Adakah dia benar-benar seorang nabi atau hanya wali Allah s.w.t?Nabi yang dimaksudkan ialah Nabi Khidir a.s.



Latar Belakang

Nama sebenar Nabi Khidir a.s ialah Balya bin Malkan bin Faligh bin ‘Abir bin Salikh bin Arfakhsad bin Sam bin Nuh. Urutan nama ini adalah berasaskan daripada pendapat Ibnu Abbas. Manakala menurut pendapat Ibnu Ishak pula, Nabi Khidir adalah putera Al-‘Ish bin Ishak bin Ibrahim al-Khalil.Ada juga pendapat yang mendakwa Nabi khidir adalah putera Fir’aun.Dakwaan ini adalah pendapat daripada an-Naqhasy.Akan tetapi, menurut Al-Thabari, pendapat an-Naqhasy ini adalah palsu.Begitu juga dengan pendapat beberapa ulama yang lain, mengatakan bahawa Nabi Khidir ialah Alyasa’ iaitu teman Ilyas.Pendapat ini juga adalah palsu. Sementara itu, menurut Abu al-Qasim Abdullah bin Hasan al-Khats’ami dalam kita at-Ta’rif menyatakan bahawa Nabi Khidir adalah seorang putera raja yang bernama ‘Amiyal. Raja ini merupakan putera dari Al-‘Ish ibnu Ishak.Ibunya ialah Alha, seorang puteri raja bernama Faris (Fuadi, 2009).

Terdapat pelbagai pendapat mengenai nama Nabi Khidir, dalam sebuah karya yang berjudul Ensiklopedia Tasawuf Imam al-Ghazali menyatakan bahawa Nabi Khidir mempunyai 3 jenis nama iaitu nama sebenar, nama panggilan dan nama samara. Dinyatakan dalam karya tersebut, nama sebenar Nabi Khidir ialah Balya bin Balkan bin Falakh bin Anbar bin Syalakh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh a.s bin Lamak bin Mutawasylikh bin Idris a.s bin Yard bin Mahlail bin Qainan bin Yanasy bin Syits bin Adam a.s. Manakala nama panggilannya pula ialah Abul Abbas dan nama samarannya ialah Khidir atau Khadir (M.Abdul Mujieb, 2009)

M.Abdul Mujieb, 2009 dalam karyanya turut menyatakan bahawa Nabi Khidir merupakan putera seorang raja Persia yang bernama Balkan.Ibunya pula bernama Alha binti Faris, merupakan seorang wanita bangsawan keturunan Persia dari ibu Iskandar Zulqurnain.Ibu Nabi Khidir merupakan seorang wanita yang suka mengembara walaupun ketika hamil.Oleh sebab itulah Nabi Khidir telah dilahirkan dalam gua di sebuah bukit.Setelah Nabi Khidir dilahirkan, ibunya telah melarikan diri daripada penyamun dengan membawanya bersama.Namun ada riwayat menyatakan ibunya telah dibunuh kemudian seorang pengembala telah menemui Nabi Khidir dan dia dipelihara oleh pengembala tersebut hingga dewasa.

Menurut M.Alwi Fuadi, dalam bukunya yang berjudul Jaminan Sosial Nelayan, Nabi Khidir telah dilahirkan di sebuah gua. Ibunya memberikan susu segar kambing setiap hari ketika Khidir masih bayi. Kemudian Khidir telah diserahkan kepada seorang pengembala untuk dijaga dan dididik hingga dewasa.Khidir merupakan seorang yang cerdas dan bijak dalam bidang menulis dan membaca lembaran-lembaran yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim a.s (Fuadi, 2009).Terdapat pelbagai riwayat dan cerita mengenai kelahiran Nabi Khidir a.s.

Setelah Nabi Khidir meningkat dewasa, beliau telah menemui ayahnya dan mereka tinggal bersama.Apabila ayahnya merasakan anaknya cukup dewasa, maka diperintahkan anaknya untuk mengahwini seorang wanita yang bernama Fannah.Namun Nabi Khidir enggan mengahwini Fannah dan mengambil keputusan untuk meninggalkan istana.Ayahnya terkejut dengan tindakan anaknya dan memerintahkan orang suruhan untuk mencari Nabi Khidir.Namun kelibat Nabi Khidir tidak berjaya ditemui.Akhirnya Fannah telah dinikahkan dengan Hizqil dan dikurniakan 3 orang cahaya mata.Fannah ialah Masyitah iaitu tukang sikat rambut puteri Firaun (M.Abdul Mujieb, 2009).

Sebelum Nabi Khidir meningkat dewasa, bapanya amat menitikberatkan urusan pendidikan anaknya itu.bapanya telah menyerahkan Nabi Khidir kepada seorang guru. Namun Nabi Khidir tidak menunjukkan minat kepada guru tersebut.Rumah guru tersebut terletak tidak jauh dari istana iaitu kediaman Nabi Khidir bersama bapanya.Di antara istana dan rumah guru tersebut terdapat sebuah rumah ahli ibadah.Tingkah laku dan keperibadian ahli ibadah tersebut telah menarik minat Nabi Khidir untuk mendekatinya.Akhirnya Nabi Khidir telah memilih ahli ibadah tersebut sebagai gurunya.Nabi Khidir amat rajin menghadiri rumah ahli ibadah dan menyertai majlis ilmu yang diadakan (Fuadi, 2009).

Manakala guru yang diperkenalkan oleh bapa Nabi Khidir beranggapan bahawa Nabi Khidir berada di istana ketika dia tidak hadir ke rumahnya.Dan bapa Nabi Khidir pula beranggapan anaknya berada di rumah guru tersebut ketika anaknya tidak ada di istana.Walhal, anaknya itu sering berada di rumah ahli ibadah yang menjadi pilihannya untuk menuntut ilmu.Keadaan seperti ini berlarutan hingga Nabi Khidir meningkat dewasa. Nabi Khidir merupakan seorang yang bijak, beliau dapat menguasai semua ilmu yang diajar dan cara ibadah yang telah diajar oleh ahli ibadah tersebut (Fuadi, 2009)

Ternyata kecenderungan Nabi Khidir ialah urusan yang melibatkan kekuatan rohani dan bukan hal yang melibatkan duniawi.Hal ini dapat dibuktikan dengan kisah yang telah dinyatakan dalam perenggan sebelum ini, yang mana Nabi Khidir lebih berminat untuk menuntut ilmu dengan ahli ibadah dan bukan dengan guru yang diperkenalkan oleh bapanya.Ini membuktikan lagi bahawa, kecantikan dan kesucian peribadi seseorang mempunyai pengaruh yang amat kuat dalam menarik minat seseorang.Tingkah laku dan peribadi mulia yang ditunjukkan ahli ibadah tersebut berjaya menarik minat Nabi Khidir untuk menuntut ilmu.



Keistimewaan Nabi Khidir

Nabi Khidir merupakan seorang insan istimewa, beliau telah dianugerahkan pelbagai keistimewaan oleh Allah s.w.t. Antara keistimewaan yang dimiliki oleh beliau ialah :

Hidup sepanjang zaman hingga munculnya Dajjal

Terdapat riwayat yang mengatakan bahawa Nabi khidir hidup sepanjang zaman hingga munculnya Dajjal.Antara faktor yang menyebabkan beliau hidup sepanjang zaman ialah beliau telah minum ma al-hayat (air kehidupan).Menurut riwayat Ibnu Asakir. Pada zaman dahulu ada seorang raja muslim yang soleh dan bijak bernama Zulkarnain. Beliau mempunyai seorang sahabat yang rapat dari kalangan malaikat bernama Rafail. Zulkarnain menyatakan hasratnya kepada sahabatnya, beliau ingin hidup lama dan memperoleh umur yang panjang agar dapat beribadat dengan sempurna (M.Abdul Mujieb, 2009)

Rafail kagum dengan keinginan Zulkarnain, lalu Rafail memberitahu kepada Zulkarnain bahawa di bumi Allah ini ada satu sumur yang disebut *ma Al-hayat.Orang yang pernah meminum airnya walaupun sedikit akan hidup sampai hari kiamat, kecuali jika ia sendiri memohon agar dimatikan oleh Allah s.w.t. Namun lokasi sumur itu tidak dapat diberitahu oleh Rafail kerana dia sendiri sama sekali tidak mengetahui lokasi sumur itu (M.Abdul Mujieb, 2009)

Zulkranain segera mengumpulkan ulama dan pakar sejarah untuk menanyakan lokasi sumur itu.malangnya tidak seorang pun diantara mereka mengetahui lakosi sumur tersebut. Akan tetapi, ada diantara mereka menyatakan berdasarkan buku wasiat Adam bahawa sumur tersebut terletak di mathlausy-Syamsi (tempat matahari terbit di daerah timur dunia).Zulkarnain segera berangkat ke lokasi tersebut bersama dengan 6000 pengikutnya.Pada suatu hari rombongan Zulkarnain tiba di kawasan tersebut setelah 12 tahun perjalanan.Malangnya tempat itu gelap dan tidak ada seorang pun yang menemui sumur itu kecuali Nabi Khidir. Apabila Nabi Khidir menemui sumur itu, beliau mandi, berwudhuk dan meminum airnya (M.Abdul Mujieb, 2009)



Mempunyai ilmu laduni

Nabi Khidir mempunyai ilmu laduni yang dianugerahkan oleh Allah s.w.t secra langsung kepada beliau tanpa usaha, perantara dan guru. Seperti yang terkandung dalam surah al-Kahfi, ayat 65 :

ayat65 surah al kahfi

“Lalu mereka dapati seorang dari hamba-hamba Kami Yang telah Kami kurniakan kepadanya rahmat dari kami, dan Kami telah mengajarnya sejenis ilmu; dari sisi kami.”

Walaupun dalam ayat tersebut tidak dinyatakan nama nabi Khidir. Namun ramai ulama tafsir bersepakat bahawa hamba yang dimaksudkan dalam ayat tersebut ialah Nabi Khidir a.s.



Fizikalnya tidak dapat dilihat oleh manusia biasa

Fizikal Nabi Khidir juga tidak dapat dilihat oleh orang kebanyakkan dan orang biasa, hanya manusia yang dipilih oleh Allah s.w.t sahaja akan dapat melihat fizikal Nabi Khidir dengan izin Allah s.w.t.



Pakaiannya sentiasa baru dan bersih

Menurut Imam Asy-Syarani, dalam kitab yang berjudul Al-Mizan Ash-Shaghir, pakaian Nabi Khidir sama sekali tidak akan rosak. Ini adalah keistimewaan yang diberikan oleh Allah s.w.t sebagai tanda bahawa Nabi Khidir bersih dari maksiat.



Boleh berjalan sepantas kilat

Nabi Khidir boleh bergerak kemana sahaja sepantas kilat.Oleh sebab itu, beliau boleh mengelilingi dunia dan bersolat secara berpindah-randah.



Boleh berubah rupa

Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin mengatakan bahawa Nabi Khidir boleh berubah rupa di beberapa tempat yang berbeza untuk menguji seseorang yang dikehendakinya.Hal ini dikuatkan lagi oleh Syaikh Hasyisi al-Himshani dalam Jami Al-Karamat yang pernah berkumpul berkali-kali dengan Nabi Khidir yang wujud dengan keadaan yang berbeza-beza.



Setiap yang dipijak akan bertukar menjadi warna hijau

Kisah ini berdasarkan hadis Rasulullah s.a.w yang bermaksud :“Gelaran Khidir diberikan kerana setiap duduk di atas tanah yang kering, tanah itu berubah hijau dan ditumbuhi rumput”. Para Mujahid berpendapat bahawa beliau disebut Khidir adalah kerana dimana tempat beliau solat makan akan hijaulah tanah yang megelilinginya. Syeikh Mustafa Al-Uqbawi dalam Hasyiyah Aqidah Ad-Dardiri berkata bahawa beliau diberikan gelaran Khidir kerana apabila duduk di atas tanah yang kering maka saat itu juga tanah dan sekitarnya menjdai hijau atau kerana kebiasaanya beliau duduk di atas sejadah hijau. Menurut Imam Tsalabi, apabila beliau melangkahkan kakinya, maka akan tumbuh rumput hijau di bawah tapak kakinya.



Enggan bertemu dengan orang yang berhati kotor dan buruk akhlaknya

Ali al-Khawwash mengatakan bahawa untuk bertemu dengan nabi Khidir a.s seseorang itu harus memenuhi 3 syarat iaitu tingkahlaku dan perbuatannya berdasarkan Sunnah, bersih hatinya dari sifat-sifat mazmumah dan tidak rakus terhadap harta dunia.



Mengenal dan mengetahui semua nama Wali Allah

Nabi Khidir bukan sahaja mengenali semua nama wali Allah, bahkan beliau merupakan pembimbing bagi setiap manusia yang diangkat oleh Allah untuk menjadi wali. Imam Syarani dalam Lawaqih Al-Anwar mengatakan bahwa Nabi Khidir a.s hanya akan menemui orang yang berhak memiliki kewalian dan menjadi wali.

Begitulah beberapa keistimewaan yang dimiliki oleh Nabi Khidir a.s yang mana keistimewaan tersebut tidak dimilik oleh manusia biasa.Beliau merupakan insan istimewa kerana telah dipilih oleh Allah s.w.t untuk memiliki keistimewaan bersebut.Kesemua keistimewaan ini dipetik dari kitab Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali.



Pertemuan Nabi Musa a.s dengan Nabi Khidir a.s.

Kisah pertemuan Nabi Musa a.s dengan Nabi Khidir merupakan satu kisah aneh dan menjadi satu catatan dalam sejarah para nabi.Setiap perancangan Allah s.w.t itu mempunyai hikmah yang tersembunyi.

Kisahnya bermula apabila Nabi Musa mengumpulkan semua pengikutnya di satu kawasan dan diberi nasihat kepada pengikutnya supaya beriman kepada Allah dan sentiasa bersyukur kepada Allah s.w.t. menyeru Nabi Musa kepada kaumnya,

“Wahai kaumku, adakah di antara kamu mengetahui perkara-perkara ghaib?”.Tidak ada seorang pun dalam kalangan kaumnya mengakui mengetahui perkara ghaib. Maka berkata Nabi Musa kepada kaumnya :

“ Ketahuilah bahawa aku adalah manusia yang paling mengetahui perkara-perkara ghaib.”

Kata-kata Nabi Musa itu telah menyebabkan dia ditegur oleh Allah s.w.t.

“ Wahai Musa! Engkau tidak berhak berkata demikian. Ketahuilah bahawa ada hambaKU yang paling mengetahui perkara ghaib?.Jika engkau mahu menemui hambaKU, maka berjalanlah engkau. Jika sudah berada di antara pertemuan dua buah lautan maka berhentilah, engkau akan berjumpa denganya. Dia bernama Khidir”.

Kemudian, Nabi Musa bersama sahabatnya yang bernama Yusha bin Nun memulakan perjalanan dengan membawa seekor ikan yang diletakkan dalam satu bekas.(EFEK) Allah s.w.t memerintahkan Nabi Musa supaya membawa seekor ikan, di mana ikan itu meluncur ke laut, di situ lah Nabi Musa akan menemui Nabi Khidir. Mereka meneruskan perjalanan hingga tiba di satu kawasan yang mempunyai sebuah batu besar di pinggir pantai.Mereka merehatkan badan untuk menghilangkan penat, lalu mereka tertidur.Ketika itulah ikan yang mereka bawa tadi melompat dan terus masuk ke laut.

Perkara ini diceritakan oleh sahabatnya kepada Nabi Musa.Kemudian Nabi Musa memaklumkan kepada sahabatnya itu bahawa itu lah tempat yang mereka cari.Mereka meneruskan perjalanan untuk mencari pertemuan antara dua lautan.Apabila mereka sampai di tempat yang dimaksudkan.Nabi Musa melihat seseorang yang sedang duduk berselimutkan pakaian yang rapat. Mereka menghampiri manusia itu lalu mengucapkan salam.

“ Assalamualaikum, aku Musa. Apakah engkau yang bernama Khidir? Soal Nabi Musa.

“ Waalaikumussalam, betul aku Khidir. Apakah engkau Musa dari bani Israil?”.Soal Khidir.

“ Ya betul, wahai saudaraku Khidir, bolekah aku mengikutimu untuk belajar ilmu yang engkau miliki?” soal Musa.

Nabi Khidir menjawab :“ Wahai Musa, ketahuilah sesunguhnya engkau memiliki ilmu yang Allah ajarkan kepadamu dan aku tidak mengetahuinya. Dan aku memiliki ilmu yang Allah ajarkan kepadaku yang engkau pun tidak mengetahuinya.Musa, sama sekali engkau tidak akan dapat bersabar ketika mengikutiku nanti”.

“ tolonglah wahai Khidir, aku ingin sekali mengetahui ilmumu”. Pinta Nabi Musa kepada Khidir.

“ Baiklah, jika engkau ingin berilmu denganku, engkau jangan sekali-kali bertanya dan menggugat apa yang aku lakukan”. Pinta Khidir.

Nabi Musa menyetujui permintaan itu dan mereka menyusuri tepi pantai, tatkala mereka telah menaiki perahu, maka Nabi Khidir pun memecahkan sebahagian perahu itu.Kejadian ini mengejutkan Nabi Musa, dia hairan mengapa Nabi Khidir memecahkkan perahu tersebut.Lalu Nabi Musa bertanya kepada Nabi Khidir.

“ Mengapakah engkau memecahkan perahu ini, tentu engkau akan membinasakan penumpangnya, sesungguhnya perbuatan engkau sangat jahat sekali”.

“ Bukankah sudah aku katakana kepadamu wahai Musa, engkau tidak dapat sabar bersamaku”. Jawab Khidir. Ternyata Nabi Musa telah terlupa akan janji-janjinya bersama Khidir sebelum mereka memulakan perjalanan.

Kemudian mereka meneruskan lagi perjalanan sehingga bertemu dengan seorang anak kecil, lalu Nabi Khidir membunuh anak tersebut.Sekali lagi kejadian yang tidak disangka oleh Nabi Musa berlaku dihadapannya. Terus Nabi Musa bertanya kepada Khidir :

“Mengapakah engkau membunuh seorang jiwa yang bersih dan suci, sedangkan dia tidak melakukan apa-apa kesalahan.”

Nabi Khidir menjawab dengan jawapan yang sama. Selepas kejadian itu, mereka meneruskan perjalanan hingga s[tiba di sebuah negeri iaitu Antakia, lalu mereka meminta supaya orang negeri itu memberi mereka sedikit makanan, namun permintaan mereka ditolak. Mereka tidak diberikan makanan oleh penduduk negeri tersebut.Dalam negeri tersebut terdapat sebuah rumah lama yang hamper roboh. Lalu Nabi Khidir membaikinya hingga selesai.Setelah selesai rumah itu dibaiki, maka berkata Nabi Khidir kepada Nabi Musa.

“Sesungguhnya ini adalah titik pemisah antara kita.nanti aku akan beritahu kepada kamu atas apa yang telah aku lakukan, yang engkau tidak sabar itu. memang perahu yang aku pecahkan itu milik orang miskin, akan tetapi diseberang sana ada seorang raja yang akan merampas perahu mereka. Jadi apabila perahu itu rosak, maka raja tersebut tidak dapat merampas perahu ini dan pemilik perahu ini tidak akan dianiayai oleh raja yang zalim itu. adapun anak muda yang aku bunuh itu memilik ibu bapa yang beriman, namun apabila dewasa anak itu tidak akan mengikut jejak ibu bapanya. Dan aku telah berdoa kepada Allah s.w.t supaya diberi anak yang soleh dan lebih suci daripada anak itu.rumah yang aku baiki ini adalah milik dua orang anak yatim, di dalam rumah ini ada harta yang ditinggalkan oleh bapa mereka. Maka Allahg menghendaki supaya keduanya sampai dewasa, lalu mereka dapat mewarisi harta ini dan harta ini tidak akan dirampas oleh orang lain.”

Kata-kata akhir Nabi Khidir kepada Nabi Musa cukup menarik. Nabi Khidir menyatakan apa yang dilakukannya bukan atas kemahuannya, tetapi kemahuan Allah. Hal ini disebutkan dalam surah al-Kahfi ayat 82 :

“adapun tembok itu pula, adalah ia dipunyai oleh dua orang anak yatim di bandar itu; dan di bawahnya ada “Harta terpendam” kepuyaan mereka; dan bapa mereka pula adalah orang Yang soleh. maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka cukup umur dan dapat mengeluarkan harta mereka Yang terpendam itu, sebagai satu rahmat dari Tuhanmu (kepada mereka). dan (ingatlah) Aku tidak melakukannya menurut fikiranku sendiri. Demikianlah penjelasan tentang maksud dan tujuan perkara-perkara Yang Engkau tidak dapat bersabar mengenainya”.

Begitulah berakhirnya pertemuan antara Nabi Musa dengan Nabi Khidir.Kisah yang memberikan pengajaran kepada kita semua supaya sentiasa bersabar dalam menuntut ilmu. Ilmu Allah s.w.t itu sangat luas, kita hanya memilik apa yang Allah s.w.t berikan dan izinkan sahaja. Itulah sifat pemurah dan penyayang Allah s.w.t terhadap hamba-hambaNYA.(Alkumayi, 2008)

Kesimpulan

Kisah Nabi Khidir yang dipaparkan oleh penulis dalam atikel ini merupakan sebuah kisah yang aneh dan diluar jangkauan kita sebagai manusia biasa.Seperti kejadia-kejadian yang berlaku antara Nabi Musa dan Nabi Khidir.Maha Suci Allah yang mengetahui segala yang tersurat dan tersirat.Penulis berharap atikel ini dapat memberikan manfaat kepada semua pembaca.Tambahla ilmu selagi kita msih bernyawa.

Sebuah hadis Rasulullah s.a.w yang bermaksud :“ Sampaikan lah daripadaku walaupun satu ayat”.Hadis ini memberi makna kepada kita supaya setiap menyampaikan ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat.Kisah Nabi Khidir ini memang anieh.Hingga kini masih belum ada riwayat mahupun bukti yang mengatakan bahawa Nabi Khidir telah meninggal dunia.
 
rencana 4 khidir

sumber:https://dajjal.wordpress.com/2012/09/03/air-kehidupan-nabi-khidir-dan-jack-sparrow/

Kesepakatan Ulama Bahawa Khidir Tidak Mati dan Berumur Panjang

Nabi Khidir a.s. Sememangnya berumur panjang dan masih hidup sehingga sekarang. Walaupun ada sebahagian ulama’ masih mempertikaikannya tetapi majoriti ulama-ulama muktabar seluruh dunia semenjak zaman tabiin bersepakat bahawa Nabi Khidir masih hidup.

Imam Nawawi dalam kitab syarahnya menyebut;

”Sesungguhnya telah berlaku perselisihan di kalangan ulama’ mengenai hidupnya Khidir a.s. Kebanyakan ulama’ berpendapat bahawa Khidir itu masih hidup lagi wujud di persekitaran.

Tambah Imam Nawawi lagi, ”Pendapat ini telah disepakati dikalangan ulama’-ulama Tasawuf, para soleh dan ahli-ahli ma’rifat (wali Allah). Cerita-cerita daripada mereka bahawa mereka pernah melihatnya, bertemu dengannya, mengambil ilmu daripadanya, bersoal-jawab dengannya dan cerita-cerita tentang kewujudannya di tempat-tempat yang mulia dan di persekitaran yang baik, terlalu banyak untuk dihitung dan terlalu masyhur.” (Tahzib Asma’ Wa al-Lughaat, jilid 1/176, Syarah Sahih Muslim jilid 10/135-136).

Manakala seorang ulama Tafsir, Abu Ishak al-Tha’labi berkata, ”Ada sesetengah ulama berpendapat sesungguhnya Khidir tidak akan mati melainkan hanya pada akhir zaman aiaitu ketika diangkatkan al-Quran. (Fathul al-Baari, Jilid 6, ms 310)

Imam al-Yafie menegaskan dalam kitabnya, ”Apa yang aku telah sebut bahawa Khidir masih hidup merupakan pendapat yang juga telah diputuskan kebenarannya oleh para wali Allah dan telah dikuatkan kesahihannya oleh ulama’ Feqah, Ulama’ Usuluddin dan kebanyakan Ulama’ Hadith dan pendapat ini juga telah tersebar dikalangan orang ramai.” (Nasyru al-Mahasin al-Ghaaliah, ms 395-396)

Dua Pendapat Bagaimana Khidir Berumur Panjang

Di dalam kitab terdapat pelbagai versi cerita bagaimana Nabi Khidir boleh berumur panjang. Secara ringkasnya, ulama berpendapat bahawa Khidir berumur panjang berdasarkan dua sebab:

Pendapat Pertama;- Sebahagian ulama’ berpandangan umur Khidir panjang kerana kesan dari doa Nabi Adam a.s. yang mana sebelum baginda mangkat, baginda berdoa kepada Allah SWT agar memanjangkan umur orang yang telah mengambil tugas mengkebumikan jenazahnya. Dalam hal ini, Nabi Khidir dikatakan orang yang bertanggungjawab mengkebumikan Nabi Adam.

Pendapat Kedua;- Ada sebahagian ulama’ lain mengatakan Khidir telah panjang umurnya kerana minum air dari mata air kehidupan. Dari itu, baginda kekal hidup sehingga sekarang.

Pendapat Pertama: Doa Nabi Adam a.s.

Dalam riwayat Ibnu Ishak telah menyebutkan bahawa apabila sampai saat kewafatan Nabi Adam a.s., baginda telah mengkhabarkan kepada semua anak-anaknya bahawa taufan akan melanda. Baginda berpesan, sekiranya taufan berlaku hendaklah dibawa jasadnya itu menaiki kapal Nabi Nuh a.s. bersama-sama mereka dan kemudian dikebumikan di suatu tempat yang telah ditentukan.

Tidak berapa lama kemudian taufan pun melanda, maka Nabi Nuh .a.s. memerintahkan anak-anak Nabi Adam a.s. Membawa jasad bapa mereka ke atas kapal untuk dikebumikan di tempat yang telah diwasiatkan. Namun begitu mereka semua berasa takut kerana tiada tempat yang selamat untuk dikebumikan. Sehinggalah muncul Nabi Khidir maka barulah jasad Nabi Adam selamat dikebumikan.



Namun begitu, riwayat ini agak musykil kerana tedapat khilaf umur di antara Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Khidir dan anak-anak Nabi Adam sendiri yang boleh dipertikaikan.

Imam al-Aalusi menyebut, ”Inilah sebabnya mengapa dipanjang umur Khidir dan kalau sebab ini tidak dapat dipastikan kebenaran riwayatnya maka sebab lainnya yang masyur ialah umurnya menjadi panjang kerana terminum mata air hidup. (Imam al-Alusi, Ruuhu al-Maani, jilid 15, ms 322)

Ibnu Kathir pula dalam kitabnya Al-Bidaayah wa Nihayah menyebutkan bahawa pengkebumian jasad Nabi Adam oleh Khidir selepas taufan yang menyebabkan panjang umur adalah riwaayt yang jauh dari kebenaran. (Ibnu Kathir, Bidayah wa Nihayah, Jilid 1, ms 326)



Pendapat Kedua : Telaga Mata Air Hidup

Kisah air dari telaga ini adalah berdasarkan dari Tafsir Nasafi yang mengandungi sebuah hadith yang menyebut,

”Sesungguhnya Rasulullah SAW telah menceritakn tentang sebab musafirnya Zulqarnain dengan sabdanya; ”Pada mulanya Zulqarnain teah terbaca di dalam beberapa kitab kenyataan bahawa salah seorang daripada anak-anak Sam bin Nuh akan meminum air mata kehidupan. Lantaran itu, dia pun dipanjangkan umurnya dan berterusan hidup. Dengan sebab itu, maka Zulqarnain pun bermusafir kerana mencari air mata hidup itu.”

”Ketika itu uga, Nabi Khidir adalah menteri dan anak saudara (kepada Zulqarnain). Suatu ketika Khidir terlebih dahulu menemui mata air hidup dan berpeluang meminumnya. Lalu Khidir pun meminum air mata hidup itu sebelum sempat Zulqarnain berpeluang minum.”



Dalam versi lain pula menceritakan Zulqarnain telah terbaca di dalam beberapa kitab bahawa salah seorang anak Sam bin Nuh akan meminum air dari mata air laut yang datang dari syurga. Selepas itu, dia akan dipanjangkan umur sehingga kiamat.

Disebabkan itu, Zulqarnain melakukan pengembaraan untuk mencari air mata hidup tersebut. Namun Khidir lebih dahulu menemui air tersebut dan meminumnya serta berwudhu dengannya. Riwayat ini disebutkan oleh al-Maqdisi.

Manakala dalam kitab Fathul Baari pula menyebut bahawa Zulqarnain mengetahui tentang telaga air mata hidup tersebut melalui salah seorang malaikat selepas beliau bertanya cara untuk memanjangkan umur. Selepas keluar mengembara akhirnya Khidir yang sampai dahulu dan berjaya meminumnya. Selepas itu, Zulqarnain tidak berhasil lagi menemui telaga air mata tersebut. (Imam Ibnu Hajar al-Asqalaani, Fathul al-Baari, Jilid 6, ms 310)

Namun begitu, harus diingat semua riwayat-riwayat ini berkemungkinan besar dari cerita-cerita Israeliyyat dan kemungkinan terdapat tokok-tambah yang keterlaluan. Ia bukanlah bermaksud para ulama-ulama besar dahulu tidak menapis cerita dalam kitab-kitab mereka tetapi ia adalah untuk pengetahuan ilmu bagi umat yang akan datang. Maka adalah menjadi tanggungjawab umat sekarang mendalaminya.

Maka jelaslah di sini, bahawa filem tersebut meniru cerita Nabi Khidir yang telah diriwayatkan begitu lama sekali sama ada dari pihak ulama-ulama Israeliyyat atau ulama Islam.
 
rencana 5 khidir

sumber:http://islamandstory.blogspot.my/2014/08/sang-raja-ingin-bertemu-nabi-khidir.html

Sang raja ingin bertemu nabi Khidir

Suatu malam seorang Raja bengis di Turkestan sedang mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh seorang sufi. Lalu sang Raja bertanya tentang Nabi Khidir .

“Khidir, Datang kalau diperlukan. Tangkaplah jubahnya kalau ia muncul, maka segala pengetahuan akan menjadi milik Baginda.” Jawab Sufi

“Apakah itu bisa terjadi atas siapapun ?” tanya sang raja
“Ya, siapapun bisa,” kata sufi.
“Siapa pula lebih bisa dariku ?” pikir Sang Raja

Raja sangat ingin bertemu dengan Nabi Khidir, seperti diceritakan sang sufi, ia ingin menangkap jubahnya agar memperolah berbagai ilmu pengetahuan.

Sang raja kemudian mengedarkan pengumuman yang berisi:
“Siapa yang bisa menghadirkan Khadir Yang Ghaib di hadapanku, akan kujadikan orang kaya.”

Kabar itu segera tersebar ke seluruh pelosok negeri. Seorang lelaki bernama Bakhtiar Baba mendengar pengumuman itu.

Kemudian Bakhtiar menghadap raja, lalu member hormat dan berkata kepada Sang Raja.
“Hamba dapat menghadirkan Khidir, tetapi ada syaratnya…”
“Apa syaratnya yang kau pinta?” Tanya sang Raja.
“Baginda harus memberi hamba seribu keping uang emas.” jawab Bakhtiar Baba
“Tunggu….”kata raja.”Berapa lama kau dapat mencari Khidir?”
“Hamba akan mencari Khidir dalam waktu empat puluh hari” jawab Bakhtiar Baba
“Kalau engkau bisa menemukan Khidir, Kau akan mendapat sepuluh kali seribu keping uang emas ini. Kalau gagal kau akan mati dipancung di tempat ini sebagai peringatan kepada siapapun yang akan mencoba mempermainkan rajanya.” kata sang Raja

Bakhtiar pun pulang dan memberikan uang itu kepada istrinya. Pada hari kempat puluh ia menghadap raja.

“Yang mulia, Kerakusanmu telah menyebabkanmu berpikir bahwa uang akan bisa mendatangkan Khidir. Tetapi Khidir, tidak akan muncul oleh panggilan yang berdasarkan kerakusan. kata Bakhtiar Baba
Raja sangat marah. “Orang celaka, kau telah mengorbankan nyawamu, Siapa pula kau ini, berani-beraninya mencampuri keinginan seorang raja?” kata sang Raja

Dengan tenang Bakhtia berkata,” Menurut dongeng, semua orang bisa bertemu Khidir. Tetapi pertemuan itu hanya aka nada manfaatnya apabila maksud orang itu benar.”
“Cukup bualanmu itu !” hardik sang raja.” Sebab aku tak akan memperpanjang hidupmu. Waktumu sudah habis ! kau hanya tinggal menungguku untuk meminta nasehat para menteriku tentang cara paling tepat guna menghukummu.”balas sang Raja

Raja menoleh pada Menteri Pertama dan berkata,” Bagaimana cara orang ini mati ?”
Menteri pertama menjawab, “Panggang hidup-hidup, sebagai peringatan.”
Menteri kedua berkata, “Potong-potong tubuhnya, pisah-pisakan anggota tubuhnya.”
Menteri ketiga berkata, “Sediakan kebutuhan hidup orang ini, agar ia tidak lagi menipu demi kelangsungan hidup keluarganya.”

Seorang bijaksana yang sudah sangat tua memasuki ruangan itu. Dan mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi dalam dirinya.
“Orang tua apa maksud kedatanganmu ?” Tanya raja.
“Saya hanya ingin mengulas nasehat para menteri ini.” Jawab orang tua itu.
“Apa maksudmu !” tanya raja

“Maksudku, menteri pertama ini aslinya Tukang Roti, jadi ia berbicara tentang panggang-memanggang. Menteri kedua dulu tukang daging, jadi ia bicara tentang potong-memotong daging. Menteri ketiga, yang telah mempelajari ilmu Kenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini.” Jawab orang tua itu

orang tua itu melanjutkan perkataannya “Catat dua hal ini. Pertama, Khidir muncul melayani setiap orang sesuai dengan kemampuan orang itu untuk memanfaatkan kedatangannya. Kedua, Bakhtiar, orang iri yang kuberi nama Baba karena pengorbanannya telah didesak oleh keputusaasaan untuk melakukan tindakan tersebut. Keperluannya semakin mendesak sehingga akupun muncul di depanmu.”

Semua orang terkejut mendengar perkataan orang tua ini. Ketika orang-orang itu memperhatiannya dengan saksama, orang bijaksana itu lenyap beitu saja. Raja sangat menyesal karena tidak sempat memanfaatkan saat pertemuan itu, karena orang itu tak lain adalah Nabi Khidir.
 
rencana 6 khidir

sumber:http://sufimuda.net/2013/07/21/khidir-sosok-misterius-tapi-nyata/

Sebelum kita membahas hakikat dari Nabi Khidir yang menurut banyak sumber hidup abadi sepanjang zaman, ada baiknya kita baca dulu dari berbagai sumber tentang kisah hidup Beliau, mulai dari zaman Nabi Musa sampai setelah zaman Nabi Muhammad SAW.

Al-Khiḍr secara harfiah berarti ‘Seseorang yang Hijau’ melambangkan kesegaran jiwa, warna hijau melambangkan kesegaran akan pengetahuan “berlarut langsung dari sumber kehidupan.” Dalam situs Encyclopædia Britannica, dikatakan bahwa Khidr memiliki telah diberikan sebuah nama, yang paling terkenal adalah Balyā bin Malkān

Khidr adalah sepupu Dzul Qarnain dari pihak ibu. Menurut Ibnu Abbas, Khidr adalah seorang anak cucu Nabi Adam yang taat beribadah kepada Allah dan ditangguhkan ajalnya. Ibunya berasal dari Romawi sedangkan bapaknya keturunan bangsa Parsi.

Kemudian Mahmud al-Alusi menambahkan bahwa ia tidak membenarkan semua pendapat mengenai riwayat asal-usul Nabi Khidr, tetapi An-Nawawi mengatakan bahwa ia adalah seorang putra raja

Kisah Musa dan Khiḍr dituturkan oleh Al-Qur’an dalam Surah Al-Kahf ayat 65-82. Menurut Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab menceritakan bahawa beliau mendengar nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya pada suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling berilmu?” Jawab Nabi Musa, “Aku” Lalu Allah menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, “Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.”

Lantas Musa pun bertanya, “Wahai Tuhanku, dimanakah aku dapat menemuinya?” Allah pun berfirman, “Bawalah bersama-sama kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kamu akan bertemu dengan hamba-Ku itu.” Sesungguhnya teguran Allah itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa untuk menemui hamba yang shalih itu. Di samping itu, Nabi Musa juga ingin sekali mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut.

Itulah kisah pertama tentang Nabi Khidir yang menjadi guru hakikat membimbing Nabi Musa mengenal ilmu-ilmu yang selama ini belum pernah diketahui. Kelanjutan kisah ini bisa di baca di Wikipedia. Dalam beberapa riwayat, Nabi Khidir pernah datang bertakziah ketika Rasulullah wafat, riwayatnya sebagai berikut :

Berkata Ibnu Abu Dunia, yang didengarnya dari Kamil bin Talhah, dari Ubad bin Abdul Samad, dari Anas bin Malik, mengatakan: “Sewaktu Rasulullah SAW meninggal dunia, berkumpullah sahabat-sahabat beliau di sekeliling jenazahnya menangisi kematian beliau. Tiba-tiba datang kepada mereka seorang lelaki yang bertubuh tinggi memakai kain panjang. Dia datang dari pintu dalam keadaan menangis. Lelaki itu menghadap kepada sahabat-sahabat dan berkata: “Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, ada pengganti setiap ada yang hilang. Bersabarlah kamu kerana sesungguhnya orang yang diberi musibah itu akan diberi ganjaran.”

Kemudian lelaki itu pun menghilang daripada pandangan para sahabat. Abu Bakar berkata: “Datang ke sini lelaki yang memberi takziah.” Mereka memandang ke kiri dan kanan tetapi lelaki itu tidak nampak lagi. Abu Bakar berkata: “Barangkali yang datang itu adalah Khidir, saudara nabi kita. Beliau datang memberi takziah atas kematian Rasulullah SAW.” Kisah Lengkap pertemuan Khidir dengan orang-orang setelah Nabi bisa di baca disini.

Dari berbagai sumber diketahui bahwa Nabi Khidir pernah berguru kepada Imam Abu Hanifah dan Abul Qasim Al-Qusyairi pernah berjumpa dengan Nabi Khidir disamping orang-orang lain dikemudian hari. Nabi Khidir adalah Guru dari Nabi Musa, lalu bagaimana mungkin orang yang sama berguru kepada Imam Abu Hanifah yang hidup ribuan tahun setelah Nabi Musa.

Saya tidak menulis secara panjang lebar kisah-kisah pertemuan Khidir dengan para ulama karena memang kisah tersebut sangat banyak. Menjadi bahan renungan kita, apakah khidir itu sebuah pangkat rohani atau seseorang yang hidup abadi.

Kalau menurut pendapat saya pribadi yang saya dapat dari Guru, Khidir itu bukanlah sosok tapi merupakan pangkat rohani yang diberikan Allah kepada orang yang mempunyai pengetahuan luas tentang hakikat dan Khidir memang ditakdirkan Allah untuk tidak mengembangkan syariat tapi tunduk kepada Syariat Nabi di zamannya. Kalau anda mencari Khidir dalam arti sosok manusia, maka anda tidak akan pernah bisa menjumpai Khidir karena orang yang berpangkat Khidir di zaman Nabi Musa bernama Balyā bin Malkān itu sudah tiada.

Disinilah kebanyakan orang yang senang dengan gaib terjebak dengan pemahaman yang keliru tentang Khidir, menganggap khidir itu adalah sosok yang hidup abadi, tidak pernah mati, hidup dari zaman Nabi Musa sampai sekarang. Karena terobsesi dengan Gaib akhirnya orang ada yang menggali sumur kemudian membuat tempat bertapa di bawah dekat sumber air dengan harapan bisa berjumpa dengan Khidir yang konon kabarnya hidup di air atau lautan. Di khawatirkan muncul setan yang datang mengaku sebagai Khidir dan memberikan amalan-amalan sesat yang membuat manusia jauh dari Tuhan.

Kalau para sahabat Nabi bisa berjumpa dengan Khidir, generasi setelahnya, Imam Abu Hanifah, Al-Qusyairi dan banyak yang lainnya, tentu kalau kita menggunakan metode yang sama dengan mereka pasti bisa juga jumpa dengan Khidir. Anda harus mengetahui terlebih dulu siapa sosok yang pangkat rohani nya sebagai khidir yang bisa membuka rahasia ketuhanan yang ketika anda berjumpa dengan Beliau akan menjadi terang segalanya. Lalu siapakah manusia di zaman sekarang yang berpangkat rohani Khidir? Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui.

Jadi yang anda cari terlebih dulu bukan Khidir, tapi Allah. Kalau anda mencari Khidir saya khawatir anda akan disesatkan setan, tapi kalau anda telah berhampiran dengan Allah maka segala rahasia gaib akan tersingkap termasuk rahasia Khidir yang merupakan salah satu hamba-Nya yang Shaleh.
 
Last edited:
rencana 7 khidir

sumber:http://www.sarkub.com/2013/kisah-nabi-khidir-dan-nabi-ilyas/

Di dalam kitab "Al-Asror Rabbaniyyah wal Fuyudhatur Rahmaniyyah" karya Syeikh Ahmad Shawi Al-Maliki halaman 5 diterangkan yang artinya sebagai berikut:

Telah berkata guru dari guru-guru kami, Sayyid Mushtofa Al-Bakri: Telah berkata Al-'Ala'i di dalam kitab tafsirnya bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas as hidup kekal sampai hari kiamat. Nabi Khidir as berkeliling di sekitar lautan sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di lautan.

Sedangkan, Nabi Ilyas berkeliling di sekitar gunung-gunung sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di gunung-gunung. Inilah kebiasaan mereka di waktu siang hari. Sedangkan di waktu malam hari mereka berkumpul di bukit Ya'juj wa Ma'luj (يأجوج و مأجوج) sambil mereka menjaganya.

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Khidir dan Nabi Ilyas berjumpa pada tiap-tiap tahun di Mina (Saudi Arabia). Mereka saling mencukur rambutnya secara bergantian. Kemudian mereka berpisah dengan mengucapkan kalimat:

بسم الله ما شاء الله لا يسوق الخير الا الله
بسم الله ما شاء الله لا يصرف السو ء الا الله
بسم الله ما شاء الله ما كان من نعمة فمن الله
بسم الله ما شاء الله لا حول و لا قوة الا بالله

Maka barangsiapa mengucapkan kalimat-kalimat ini pada waktu pagi dan sore hari, maka ia akan aman dari tenggelam, kebakaran, pencurian, syaitan, sultan, ular, dan kalajengking.

Dan telah dikeluarkan oleh Ibnu 'Asakir bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas itu berpuasa Ramadhan di Baitul Maqdis (Palestina) dan mereka melakukan ibadah haji pada tiap-tiap tahun. Mereka minum air zamzam dengan sekali tegukan, yang mencukupkan mereka seperti minuman dari Kabil.

Sebagian ulama menceritakan bahwa sesungguhnya Nabi Khidir itu putera Nabi Adam as yang diciptakan dari tulang iganya. Menurut segelintir kecil ulama lagi beliau putera Halqiya. Ada yang mengatakan putera Kabil bin Adam. Adapula yang mengatakan beliau itu cucunya Nabi Harun as, yaitu putera bibinya Iskandar Dzul Qarnain. Dan Perdana Menterinya benar-benar aneh mengatakan bahwa Nabi Khidir itu dari golongan malaikat.

Sedangkan, menurut pendapat ulama yang paling shohih adalah bahwa Khidir itu adalah seorang Nabi. Menurut ulama jumhur beliau itu masih hidup dan beliau tidak akan pernah meninggal terkecuali pada hari kiamat apabila Al-Qur'an telah diangkat dan Dajjal telah membunuhnya. Kemudian, Allah menghidupkannya kembali. Sesungguhnya, beliau itu masa hidupnya panjang sekali. Karena, beliau meminum air kehidupan.
 
rencana 8 khidir

sumber:http://smart-islam.blogspot.my/2013/11/menganal-nabi-khidir.html

“Ia dinamakan Khidir tidak lain karena, jika ia duduk di farwah(permukaan tanah, rumput kering), maka tiba-tiba tanah di bawahnya itu menumbuhkan tanaman yang MENGHIJAU.” (Abu Hurairah)

• Pengertian Hijau:
Mewakili kebenaran, kekuatan, subur-berkembang, alam, pengetahuan, kehidupan, umur panjang, kebangkitan, warna surga, emerald, jubah keagungan Muhammad Saw dan Al-ISLAM.

“Three things of this world delight the heart: water, green things, and a beautiful face.” (Hadis)

GENEOLOGI

• Nabi Khidhir adalah Balya bin Malkan bin Qali’ bin Syalikh bin Abir bin Arfakh-syadz bin Sam bin Nuh as. (Wahb bin Munabbih, Ibnu Kathir, al-Alusi, Imam Nawawi dan Ibnu Qutaybah)

• Khidir as adalah rekan seperjuangan Nabi Ibrahim as saat berdakwah kepada Namrud di Babilonia. Saat Nabi Ibrahim berhijrah meninggalkan Babilonia, Nabi Khidir as pun ikut serta bersama Nabi Ibrahim as dan keluarganya. Khidir as juga sempat menjadi penasihat dan pendamping Zulqarnain as. (Imam At-Tabari)

Dari berbagai pendapat soal geneologi Khidir as, yang paling kuat dan mayoritas adalah, beliau keturunan Nuh as, hidup sezaman dengan Dzulqarnain as dan Ibrahim as, pada era Mesopotamia kuno.

Pendapat kuat ini melemahkan tesis yang menyatakan Khidir keturunan Harun as dari nasab Ishaq as. Sekaligus menggugurkan tesis bahwa Alexander The Great adalah Dzulqarnanin as. Tesis Alexander sebagai Dzulqarnain as dan Khidir as keturunan Harun as, sangat lemah dan kontradiksi, sarat distorsi dan konspirasi.

Al-Fakhrurrazi rah.a dalam tafsirnya berkata: “Dzulqarnain adalah seorang Nabi, sedangkan Iskandar(Alexander) adalah seorang musyrik. Gurunya adalah Aristoteles, dan Iskandar memerintah (negerinya) dengan perintah Aristoteles, yang tidak diragukan lagi merupakan penyembah berhala.”

KHIDIR MASIH HIDUP

Jumhur Ulama berpendapat bahwa dia (Sayyidina Khidhir as) hayyun maujudun baina adzharina (hidup dan wujud di kalangan kita, yakni di masa kita ini) dan pendapat ini telah disepakati oleh para ahlu tasawuf dan ahlush sholah wal ma’rifah (orang-orang ahli kebajikan dan ma’rifah).

Cerita-cerita mereka mengenai melihat dan bertemu dengan baginda dan mengambil pengajaran serta bertanya-jawab dengan baginda, dan kehadiran baginda di tempat-tempat yang mulia dan tempat-tempat kebajikan adalah terlalu banyak untuk dihitung, dan terlalu masyhur jika ditutup. (Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim juz 15, halaman 135-136, Bab min Fadhail al-Khidhir)


"Dia (Khidir as) hidup menurut jumhur ulama dan orang-orang shaleh, dan orang awam adalah beserta mereka dalam pegangan ini". Beliau mengomentari sebagian Ahli Hadis yang menyatakan Khidir as telah Wafat: " Adalah suatu pandangan yang ganjil dari sebagian muhadditsin yang mengingkari hal ini.” (Abu 'Umar bin Ash sholeh, Syarah Muslim juz 15, halaman 135-136, Bab min Fadhail al-Khidhir)

Pendapat Khidir as masih hidup beserta jasad dan rohnya, telah disepakati oleh mayoritas ulama ahlu sunnah, para wali, ahli ma’rifat, ahli tasawuf, dan orang-orang shaleh yang mengikuti pendapat mereka. Hanya sebagian “kalangan sensasionis” saja yang coba melemahkan ijma’ ulama tentang masih hidupnya Khidir as. Persoalan ini sama hal dengan perseteruan persepsi antara Mujasimmah dan Ahlu tassawuf, dimana hujjah terkuat dan mayoritas diunggulkan oleh ahlu tasawuf. Dimana Allah Swt tidak bertempat lebih masuk akal dibanding Allah Swt bertempat.

ROOT OF THE GREENMAN MYTHS

Mitos tentang MANUSIA HIJAU ialah legenda tertua yang pernah ada. Hampir ada diseluruh peradaban dunia. Sejak versi kuno Mesopotamia, hingga versi millenium fantasi.

Di karya-karya fiksi, baik novel maupun film, biasanya sering kita lihat sosok manusia pohon berwarna hijau. Sebut saja, The Eye Of The World, Lord of The Ring, Narnia, Pan’s Of Labyrinth dll.

Manusia Hijau dikenal sebagai sosok yang ghaib, pelindung, sekaligus pembimping para pejuang kebenaran. Dia sering di lukiskan berkarakter bijak dan berumur panjang. Di eropa khususnya, dia disebut The Wizard of the Wood, Greenman, Greenies atau Greencoaties.

Legenda dunia mengaitkan sosok hijau ini dengan banyak kisah, nama, dan sifat:

• Humbaba (Huwawa)
• Osiris
• GreenMan
• Mímir
• Dewa Pan
• Saint George
• The Green Knight (Bercilak)
• Robinhood
• Someshta
• Treebeard
• Tom Bombardil
• Peter Pan
• Swampthing
(Penjelasan lengkapnya:http://djsknight.multiply.com/journal/item/73/KHIDIR_as_The_Root_Of_The_GreenMan_Myths)

Dari keseluruhan personafikasi sosok Hijau yang pernah hadir di setiap peradaban dan karya fiksional, secara garis besar, dapat ditarik kesimpulan sifat dan karakteristik mereka:

• Berumur Panjang

• Simbol Kebijaksanaan

• Pembimbing/Penasihat/Pelindung mereka yang berada diatas jalan kebenaran

Namun, dari semua legenda sosok hijau diatas, dewa Mimir dan Odin lah yang paling mendekati kisah Khidir as dan Dajjal. Legendanya sangat jelas mengalegorikan kisah Khidir as sesuai versi islam.

Legenda Mimir memiliki kecocokan nama, sifat, julukan, serta karakter kisah dengan Khidir as:

1. Nama: HoddMimir, Hill-Mimir

2. Julukan: Seorang yang hijau, Sang penasihat, Harta karun yang terpendam, Penguasa hutan.

3. Sifat: Yang tersembunyi dan Hidup.

4. Karakter Kisah: Penjaga sumber air kehidupan, sosok yang dikhususkan, dan terpenggal kepalanya(Dalam sbuah riwayat, Dajjal akan memenggal kepala Khidir as, di akhir zaman).

FOUNTAIN OF YOUTH (Ainul Hayat)

Penggalan kisah dari Ats-Tsa’labi rah.a, ahli tafsir bermazhab Syafi’iyah:

Dalam sebuah riwayat, Zulqarnain dan Khidir bersama rombongan prajuritnya pernah pergi mencari telaga air kehidupan(Ainul Hayat/Fountain of Youth), ketika mereka tiba di tujuan, Allah member wahyu melalui malaikat Rafa’il bahwasanya air kehidupan itu dikhususkan untuk Khidir. Lalu Nabi Khidir pun meminumnya, dari situlah awal kisah takdir Allah atas usia panjang kehidupan Khidir a.s.

Kisah diatas juga banyak dimuat di berbagai kitab tafsir karangan ulama-ulama Ahlusunnah:

• Kitab Baidai’iz: Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas .
• Kitab Nuzhatul Majalis: Syeikh Abdul Rohman Ash-Shafuri.

Di dunia ini, satu-satunya lokasi bersejarah dimana telaga air kehidupan itu -kabarnya- ditemukan adalah Fountain Of Youth, yang berada di Miami Florida(sebagian menduga di Bahama), dekat segitiga Bermuda. Ditemukan kembali pada abad ke-16 M, oleh Dinasti Utsmaniah(Ottoman), sezaman dengan era pertempuran Mohacs, versus dinasti Habsburg. Catatan sejarah eropa mengklaim Juan Ponce de Leon sebagai penemunya, klaim ini menjadi kontroversi dikalangan pemerhati sejarah. Ilustrasi Fountain Of Youth digambarkan dalam game Age Of Empire.

Namun, keberadaan lokasi Fontain Of Youth sesungguhnya pun masih patut dipertanyakan. Menimbang dilokasi yang diklaim Juan Ponce de Leon tersebut, telah menjadi taman kunjungan wisata. Tidak ada yang tahu pasti dibagian mananya florida, yang jelas keterangan hadis hanya menyebutkan "ainul hayat" terletak di dalam bumi. Wallahu a'lam.

REKAYASA ORDO NAGA

Yang menarik dari keseragaman mithologi tersebut, ternyata tersirat teka-teki dan petunjuk keberadaan siapa penggagasnya, ada ciri sifat dan karakter kuat yang selalu serupa. Karakter dan sifat yang memang sudah di peringati Rasulullah Saw dan telah dipahami ummat islam sebagai suatu ciri.

Semua kesesuaian itu mengacu pada Dajjal si pendusta bermata satu. Simbol kebijaksanan palsu yang disisipkan pada legenda Greenman, dan karakter mata satu pun selalu ada menemaninya. Kadang keduanya dikarang sebagai teman, dan di versi lain di karang sebagai musuh. Seperti Mimir dan Odin, Peter Pan dan Kapten Hook.

Dari pernyataan pemerhati dan asal usul legenda Manusia Hijau, dapat di tarik 2 kesimpulan:

1. Bahwa, Legenda tersebut berakar dari kisah Khidir as yang disampaikan oleh para rasul dan Nabi. Kisahnya merambat melintasi bentang sejarah dan peradaban dimana para nabi di utus.

2. Khidir berkelana mengunjungi manusia-manusia pilihan Allah yang ada di seluruh dunia.

Lalu terjadi distorsi, rekayasa makar Persaudaraan Babilonian(Draconian Brotherhood), yang menginspirasi imajinasi masyrakat pagan kuno, lalu berkembang, simpang siur, ngawur sampai sekarang.

Sejatinya, tujuan di utusnya para nabi dan pengikutnya, juga kehadiran Khidir as disetiap zaman, adalah dalam rangka meluruskan aqidah manusia yang telah dibelokan dan diplintir sedemikian rupa oleh Secret societies. Misi kerasulan dan kehadiran Khidir as terus berlanjut seiring upaya penyesatan Dajjal dan organisasi gelapnya yang juga terus bergerak.

Selalu beriringan, namun saling kontradiksi misi dan tujuan, trus seperti itu keadaannya, hingga tiba saatnya kebenaran akan diungkap dan dipersaksikan oleh Khidir sendiri diakhir zaman.

POLARITAS KHIDIR DAN DAJJAL

The eye of the world (saksi zaman) :

• Keduanya adalah saksi Zaman, saksi atas kebenaran dan kebathilan.
Bedanya Khidir melihat dengan Bashirah, Dajjal melihat dengan “sebelah mata”

The Eternal wanderer (Pengembara yang ditangguhkan) :

• Khidir dan Dajjal keduanya sama-sama ditangguhkan/berumur panjang
• Keduanya telah lama mengembara dan mengunjungi setiap peradaban

The Concellor (Pendamping) :

• Khidir pendamping para Nabi, Waliyullah, dan mukmin yang shaleh
• Dajjal pendamping Iblis, reptilian, ahli sihir, dan Illuminatus.

The Green :

• Emanasi malaikat, surga, bashirah Khidir.
• Reptilian, dunia/uang 1 dollar, mata Dajjal(hadis).

Dari zaman ke zaman Dajjal, berusaha mereduksi dan mendistorsikan sifat, karakter dan kisah esensial kehijauan Khidir as. Hingga puncak dusta-dusta dajjal akan di tampakan di akhir zaman secara simbolik. Hal ini telah tercatat dalam prediksi nubuwwah.

Untuk lebih jelas memahami polaritas dan hal simbolik ini, silahkan klik link:http://salafiaqeedah.blogspot.com/2011/01/green-turban.html

• Green Turban: Jubah dan sorban ahlusunnah
• Green Shawl: “Ghutrah” atau Selendang dan kerudung khas arab, syal Palestin, dan rabi yahudi/Necromancer

Mendiami Florida-Bermuda :

• Keduanya sama-sama tinggal di wilayah florida segi tiga Bermuda, bedanya Dajjal tinggal di kedalaman laut Bermuda(Muhammad Isa Dawud), sementara Khidir bertahta di suatu tempat di dalam bumi, mendiami "Ainul Hayat/Fontain of Youth"(Imam At-Tabhari).

EMERGENCE OF THE TRUE VERDANT ONE (The Final Batlle)

Pertemuan dan persaksian:

Disebutkan dalam beberapa riwayat tentang pertemuan Khidir as dan Dajjal di Akhir Zaman. Pada pertemuan itu kemungkinan terbesar ialah, Khidir as akan mengungkap seluruh fitnah dan kebohongan Dajjal sepanjang masa, dia akan bersaksi dan meyakinkan ummat manusia, “inilah Dajjal yang sesungguhnya”, “beginilah kebohongannya”.

Kematian sang syuhada :

Setelah Khidir as bersaksi dihadapan Ummat manusia, dimuka Dajjal. Lalu Dajjal memenggal kepalanya untuk memamerkan “kekuatan” sekaligus demi merapuhkan keyakinan ummat islam atas persaksiaan Khidir as tersebut. Setelah Khidir as terpenggal dan tercincang, lalu dengan keahlian sihir nekromansi dan sihir idris/enochianmagic yang dikuasai Dajjal, ia menghidupkan dan membangkitkan kembali Khidir as. Dan Khidir as kembali menentang dan bersaksi atas kedustaan Dajjal, khidir berkata: "Wahai skalian manusia, dia tidak akan melakukan hal seperti ini terhadap seseorang pun setelahku".

Lantas Dajjal berusaha memenggal Khidir as untuk kedua kalinya, namun atas Izin Allah Dajjal tidak sanggup membunuhnya dengan cara itu, sehingga Dajjal melemparnya. Di hadis di jelaskan, orang-orang yang menyaksikan kejadian itu mengira dia dilemparkan ke neraka, dan rasulullah pun segera menegaskan: "padahal ia dilemparkan kesurganya Allah Swt. Derajatnya mulia, dan ia adalah syuhada yang paling agung di sisi Allah Azza Wa Jala" Setelah kejadian tersebut, barulah sebagian ummat semakin yakin dan segera berbaiat kepada Al-Mahdi as


"Pria ini adalah orang yang derajatnya paling dekat denganku, sekaligus syuhada yang paling agung di mata tuhan semesta alam."

"Ajal Khidir ditunda sampai ia mengingkari Dajjal"

Dua kutipan hadis diatas dari riwayat Abu sa'id al Khudri rah.a, Daraquthni rah.a, juga tertera pada Shahih, mutawatir dan Masyhur Hadis. Ibnu Hajjar rah.a mengomentari hadis diatas, beliau mengatakan pria yang di bunuh dan di hidupkan kembali itu adalah Khidir as.
 
rencana 9 khidir

sumber: http://mahligai-an-nur.blogspot.my/2014/08/bersabar-ke.html

S.a.b.a.r Kata ini sangat mudah diucapkan, namun tidak mudah melaksanakannya. Tapi bila baca kisah Nabi Musa a.s bertemu dengan Nabi Khidir a.s. banyak pengajaran yang dapat. Marilah kita merenung kisah nabi kita Musa a.s dan nabi khidir suatu kisah yang banyak memberi pengajaran kepada semua. Rasanya ada yang sudah mengatahui kisah ini. Kisah ini, bermula ketika mana Nabi Musa sangat berhajat untuk bertemu dengan Nabi Khidir kerana baginda mengetahui Nabi Khidir sangat banyak ilmu dan kebijaksanaan yang dimiliki. Nabi Musa mulanya menyangka bahawa beliau lah ALLAH Taala memberi pengetahuan secara lansung, rupanya ada lagi manusia yang hebat dan akhirnya baginda berdoa untuk bertemu dengan Nabi Khidir serta belajar dan mengikutnya.

Mulanya Nabi Khidir menolak untuk membenarkan Nabi Musa mengikutnya kerana pada penilaiannya Nabi Musa tidak mampu bersabar untuk belajar dengannya. Namun, Nabi Musa terus meminta. Akhirnya, Nabi Khidir bersetuju dengan syarat beliau tidak bertanya apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir sehingga di beritahu.


Sepanjang perjalanan nabi Khidir telah melakukan 3 perkara :


1 – Khidir membocorkan perahu milik seorang miskin, yang digunakan oleh mereka berdua untuk merentas sungai.

“Lalu berjalanlah keduanya(Khidir dan Musa) sehingga apabila mereka naik ke sebuah perahu, kemudian dia(Khidir) membocorkannya.” Surah Al-Kahfi ayat 71.

2 – Khidir membunuh seorang anak kecil.

“Kemudian keduanya berjalan lagi sehingga apabila mereka bertemu dengan seorang pemuda lalu ia membunuhnya.” Surah Al-Kahfi 74.

3 – Khidir menegakkan sebuah dinding yang hampir roboh.

“kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka dia(Khidir) menegakkan dinding itu.” Surah Al-Kahfi ayat 77.


Jika dilihat pada setiap kejadian, Nabi Musa a.s tidak sabar untuk memenuhi syarat yang dikenakan dan dalam setiap perlakuan itu, menimbulkan pertanyaan. Sedangkan, perjanjian yang dipersetujui mereka di awal perjalanan adalah, Musa tidak akan bertanya apa-apa.


"Musa berkata kepada lelaki itu(Khidir): Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? Dia menjawab: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? Musa berkata: Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun. Dia(Khidir) berkata: Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” Ayat 66-70 Surah Al-Kahfi.


Segala perbuatan yang di lakukan oleh Nabi Khidir, hakikatnya mempunyai sebab.


1 - Tuan punya perahu, perahunya tidak lagi dirampas kerana bocor. Dan bocor itu boleh dibaiki dan dia masih boleh berniaga dengan perahunya lagi.

2 - Ibu bapa yang kehilangan anak, keimanan mereka terselamat, dan mereka takkan dicampak ke neraka Allah nanti.
3 - Dua anak yatim yang dibantu, memang akan terjaga hartanya sampai mereka dewasa nanti.



P/S: Ada perkara itu, Allah berikan yang pahit dahulu seperti Perahu bocor, anak mati. Ada perkara, Allah berikan terus-terus nampak baik seperti Bina dinding yang hampir roboh. Tetapi kesimpulannya, semua itu akan menghala kepada kebaikan. Pokoknya, kita perlu bersabar, dan bersangka baik dengan keputusan Allah SWT. Tidakkah kita belajar bahawa, manusia yang tidak mampu bersabar, adalah manusia yang rugi? Lihatlah Nabi Musa, bagaimana dengan ketidak sabarannya, dia terpaksa berhenti dari mengikuti Nabi Khidir, sedangkan kalau beliau bersabar, mungkin lebih banyak lagi hikmah yang akan dibukakan kepadanya. Orang-orang yang bersabar, dan sentiasa bersangka baik dengan Allah SWT, mereka takkan terganggu dengan musibah-musibah yang melanda mereka. Kerana mereka tahu, Allah SWT hanya mahukan yang baik-baik sahaja.
 
rencana 10 khidir

sumber:http://kisah-kekasih-allah.blogspot.my/2014/03/asal-usul-nabi-allah-khidir-as.html

Nama Sebenar Nabi Khidir Ialah Balya Bin Malkan Bin Faligh Bin ‘Abir Bin Syalikh Bin Arfakhsyaz Bin Sam Bin Nabi Nuh. Dan Gelarannya Pula Ialah Abu Al’ Abbas. Beliau Juga Dikenali Dengan Panggilan Khidir Kerana Dua Sebab. Sebab 1 - Rasulullah S.A.W Bersabda: “Ia Dinamakan Khidir Kerana Ketika Ia Duduk Di Atas Rumput Tiba-Tiba Memancar Cahaya Hijau Dari Arah Belakangnya (Hadis Abi Hurairah Yang Diriwayatkan Oleh Bukhari). Sebab Ke2 - Al-Khattaby Berkata : Dia Dinamakan Khidir Kerana Wajahnya Cantik Dan Berseri-Seri (Rujuk Al-Bidayah Wal Nihayah-Ibnu Katsir 1/327).

Malkan Iaitu Ayahanda Kepada Nabi Khidir Adalah Seorang Raja Yang Amat Berpengaruh Dan Terkenal Dengan Kekejamannya. Ketika Nabi Khidir Masih Kecil, Dia Dihantar Belajar Dengan Seorang Guru Yang Berakhlak Mulia. Di Antara Rumah Guru Dan Istana Malkan, Ada Seorang Ahli Ibadah Yang Mana Nabi Khidir Amat Tertarik Dengannya. Maka Dia Belajar Dan Tinggal Bersama Orang Yang Ahli Ibadah Itu. Gurunya Beranggapan Bahawa Nabi Khidir Berada Di Istana Raja Malkan. Manakala, Raja Malkan Pula Beranggapan Bahawa Nabi Khidir Berada Di Rumah Gurunya. Tetapi Sebenarnya, Nabi Khidir Tinggal Dan Belajar Secara Tidak Rasmi Dengan Orang Yang Ahli Ibadah Itu.

Setelah Nabi Khidir Meningkat Dewasa, Pembesar-Pembesar Istana Mencadangkan Supaya Dia Segera Dikahwinkan Untuk Mendapatkan Keturunan Atau Generasi Penerus Kerajaan Raja Malkan. Kemudian Raja Malkan Menawarkan Dan Menyuruh Nabi Khidir Mendirikan Rumahtangga. Bagaimanapun Nabi Khidir Enggan Menerima Tawaran Tersebut. Setelah Berulangkali Disuruh Oleh Ayahandanya, Akhirnya Nabi Khidir Bersetuju Dan Berkahwin Dengan Seorang Puteri Raja.

Setelah Agak Lama Menjadi Pasangan Suami Isteri, Maka Nabi Khidir Memberitahu Isterinya :”Aku Beritahu Kepadamu Tentang Suatu Rahsia Ku, Jika Kamu Rahsiakan, Kamu Akan Selamat Di Dunia Dan Di Akhirat Tetapi Jika Kamu Bocorkan Rahsia Ku Ini, Kamu Akan Disiksa Di Dunia Dan Di Akhirat.” Isterinya Bertanya ”Apakah Rahsia Itu ?” Nabi Khidir Menjawab : “Sesungguhnya Aku Ini Seorang Lelaki Yang Beragama Islam. Bukan Seperti Ayahku Dan Aku Tidak Memerlukan Perempuan Dalam Hidupku. Oleh Itu, Jika Kamu Bersetuju Hidup Bersamaku Dan Mengikut AgamaKu. Maka, Kita Boleh Terus Hidup Bersama. Dan Sekiranya, Kamu Tidak Setuju Dengan Ku, Maka Aku Membenarkan Kamu Pulang Ke Rumah KeluargaMu.” Isteri Nabi Khaidir Membalas ”Aku Akan Terus Setia Bersama Mu.”

Setelah Lama Berumahtangga Dan Tidak Mempunyai Anak Maka Pembesar Negara Dan Orang Ramai Bertanya Kepada Raja Malkan. ”Bahawasanya Anak Kamu Itu Sebenarnya Mandul Dan Tidak Dapat Memperolehi Anak.” Lantas Raja Malkan Bertanya Kepada Nabi Khidir : ”Telah Lama Kamu Berkahwin Tetapi Sehingga Hari Ini Kamu Masih Belum Mempunyai Anak.” Balas Nabi Khidir : ”Hal Ini Bukan Di Bawah KekekuasaanKu Tetapi Di Bawah Kekuasaan TuhanKu Allah SWT. Dia Mengurniakan Anak Kepada Sesiapa Yang DikehendakiNya.” Soalan Yang Sama Ditanya Oleh Raja Malkan Kepada Isteri Nabi Khidir. Jawapan Yang Diperolehi Daripada Isteri Nabi Khidir Adalah Sama Sebagaimana Yang Diperolehi Daripada Nabi Khidir.

Setelah Sekian Lama Telah Berkahwin Tetapi Masih Belum Dikurniakan Anak, Raja Malkan Menyuruh Nabi Khidir Menceraikan Isterinya. Nabi Khidir Enggan Berbuat Demikian Pada Mulanya Tetapi Raja Malkan Terus Memaksa Nabi Khidir Dan
Akhirnya Raja Malkan Memisahkan Antara Nabi Khidir Dan Isterinya. Kemudian Secara Paksa, Raja Malkan Mengahwinkan Nabi Khidir Dengan Seorang Janda Muda Yang Telah Mempunyai Anak Dengan Harapan Mudah-Mudahan Perkahwinan Ini Nanti Akan Membuahkan Hasil, Iaitu Mempunyai Anak Untuk Meneruskan Keturunan Dan Kerajaan Raja Malkan.

Malangnya Keadaan Yang Sama Berlaku. Setelah Lama Berkahwin, Mereka Masih Belum Dikurniakan Anak. Apabila Nabi Khidir Ditanya Tentang Hal Ini, Jawapannya Sama Seperti Dahulu. Kemudian Raja Malkan Bertanya Kepada Isteri Kedua Nabi Khidir : ”Kamu Ini Adalah Janda Muda Yang Sudah Mempunyai Anak Sebelum Kahwin Dengan AnakKu, Kenapa Pula Kamu Tidak Memperolehi Anak Setelah Berkahwin Dengannya ?”

Isteri Kedua Nabi Khidir Pun Menjawab : ”Semenjak Kami Kahwin Sehingga Sekarang, Saya Tidak Pernah Disentuh Sama Sekali Oleh Beliau.” Kemudian Isteri Pertama Nabi Khaidir Dipanggil Dan Ditanya, Jawabannya Sama Belaka. Nabi Khaidir Dipanggil Oleh Raja Malkan Dan Dimarahi Dengan Bahasa Yang Kesat Serta Kasar. Sehingga Hati Nabi Khidir Terasa. Justeru Itu, Nabi Khidir Berasa Tidak Bahagia, Tidak Selesa Dan Tidak Tenteram Untuk Tinggal Di Istana Raja Malkan. Akhirnya Nabi Khidir Meninggalkan Istana Raja Malkan Dan Pergi Merantau

Raja Malkan, Ayahanda Kepada Nabi Khidir Amat Sedih Dan Menyesal Dengan Kejadian Itu. Justeru Raja Malkan Mengerahkan 100 Orang Mencari Nabi Khidir Ditempat Yang Berlainan, Sebelah Utara, Selatan, Timur Dan Barat. Mereka Berpecah Mengikut Kumpulan. Akhirnya, Sekumpulan Sepuluh Orang Berjaya Menemui Nabi Khidir Di Sebuah Pulau Yang Kecil Dan Terpencil.

Nabi Khidir Berkata Kepada Kumpulan 10 Orang Ini. ”Aku Akan Katakan Sesuatu Yang Bila Kamu Rahsiakan, Kamu Akan Selamat Di Dunia Dan Akhirat. Tetapi Jika Kamu Bocorkan Rahsia Ini, Kamu Akan Disiksa Di Dunia Dan Diakhirat.” Mereka Kumpulan 10 Bertanya ”Apakah Rahsia Itu ?’ Namun Nabi Khidir Bertanya Lagi Kepada Mereka ”Adakah Orang Lain Yang Mencari Aku Selain Daripada Kamu Sekelian Yang Bersepuluh.” ”Ya, Ada” Balas Mereka. Nabi Khaidir Terus Berkata ”Jika Kamu Merahsiakan Pertemuan Kita Ini Daripada AyahandaKu Tentang Pertemuan Kita Di Pulau Kecil Ini. Sebabnya, Jika Kamu Beritahu Ayahanda Ku Tentang Pertemuan Kita Ini, Nanti Aku Akan Dibunuh Dan Kamu Juga Akhirnya Akan Dibunuh Selepas Itu,”

Namun Setelah Kumpulan Sepuluh Pekerja Istana Ini Pulang Ke Istana Malkan Dan Bertemu Raja Malkan, Sembilan Daripada Mereka Jujur Kepada Raja Malkan Dengan Memberitahu Bahawa Mereka Telah Bertemu Nabi Khidir. Manakala, Hanya Seorang Yang Merahsiakan Pertemuan Tersebut Daripada Raja Malkan. Sembilan Yang Mengaku Bertemu Nabi Khidir Dikerah Untuk Mencari Dan Membawa Pulang Nabi Khidir Ke Istana. Malangnya, Nabi Khidir Tiada Di Pulau Kecil Tersebut Kerana Beliau Telah Merantau Ke Tempat Yang Lain. Semua Sembilan Orang Pekerja Istana Ini Pulang Dengan Tangan Kosong Dan Mati Dihukum Pancung Oleh Raja Malkan. Yang Seorang Lagi Selamat Kerana Beliau Menjaga Rahsia Dan Telah Melarikan Diri Dari Istana Raja Malkan.

Isteri Kedua Nabi Khidir Si Janda Muda Itu Juga Turut Di Hukum Bunuh Kerana Menjadi Pencetus Kepada Kekacauan Yang Berlaku Dalam Istana Raja Malkan. Kerana Takut Dibunuh Oleh Raja Malkan, Bekas Isteri Pertama Nabi Khidir, Si Puteri Raja Lari Menginggalkan Istana Raja Malkan Bersama-sama Pekerja Istana Yang Menjaga Rahsia.

Akhirnya Mereka Berdua Bertemu Di Perantauan Dan Mereka Berjanji Untuk Menutup Rahsia Masing-Masing. Mereka Akhirnya Bertemu Jodoh Dan Berkahwin. Mereka Merantau Ke Mesir Dan Berkerja Dengan Raja Fir’aun Di Sana. Si Isteri Bekerja Sebagai Pengasuh Anak Perempuan Fir’aun. Dalam Sejarah Dia Dikenali Dengan Nama MASHITAH (Tukang Sikat Rambut). Sementara, Suaminya Pula Bekerja Sebagai Tukang Kayu, Namanya Ialah HIZQIL (Pembuat Kotak Yang Menghanyutkan Nabi Musa AS Ketika Bayi Di Dalam Sungai Nil).
 
rencana 11 khidir

sumber:http://saifulislam.com/2015/02/ibrah-kisah-musa-dan-khidir-belajar-bahasa-dan-berbahasa/

“Izinkan aku untuk mengikutimu” kata Musa.

Baginda bertemu dengan Khidir selepas menempuh perjalanan yang panjang bersama Yusha’ bin Nun.

‘Alayhim al-solaat wa al-salaam.

“Agar dengannya engkau mengajar aku apa yang telah diajar kepadamu daripada perkara-perkara berupa petunjuk (rushd)” Musa menjelaskan tujuan beliau mahu mengikut Khidir.

Kisah ini tersebut di dalam Surah al-Kahf ayat ke-66:
قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Nabi Musa berkata kepadanya (Khidir): Bolehkah aku mengikutmu, agar dengannya engkau mengajarku dari apa yang telah diajarkan oleh Allah kepadamu, ilmu yang menjadi petunjuk bagiku?” [Al-Kahf 18:66]

Di dalam ayat ini terkandung elemen penting membabitkan teras pengurusan ilmu dan intelektual. Ia membicarakan soal adab. Bukan sekadar meminta izin, tetapi mengungkapkannya dengan lafaz yang unik, yakni pada adab Musa meletakkan dirinya sebagai orang yang berhajat, tanpa menyusah dan membebankan Khidir.

“Benarkan sahaja aku mengikutimu, tanpa perlu engkau melakukan apa-apa untukku. Hanya dengan kebenaran itu sudah memadai, proses belajar itu akan berlaku, aku akan belajar daripadamu, apa yang aku hajatkan” mesej yang terkandung di dalam ungkapan Musa itu.

Musa tidak mahu dirinya menjadi beban kepada Khidir.

Khidir tidak perlu memperuntukkan masa tambahan.

Tidak perlu memikirkan kebajikan Musa.

Hanya sebuah kebenaran untuk mengikut, selebihnya Musa sendiri yang uruskan.

MENGUNDURKAN DIRI

Sikap yang sama ditunjukkan, tatkala Musa tidak dapat menahan dirinya daripada bertanya, buat kali kedua, selepas masing-masing sudah bersetuju dengan syarat bersama, bahawa apa sahaja yang berlaku, jangan bertanya, sehinggalah Khidir sendiri yang menerangkannya kepada Musa (Q18:70).

Kali pertama, ketika perahu yang ditumpang dirosakkan oleh Khidir, Musa tertanya.

Kali kedua, tatkala seorang budak lelaki dibunuh oleh Khidir, Musa bertanya lagi.

Pertanyaan spontan kerana Musa adalah seorang Rasul.

Utusan Allah yang sifatnya tidak akan mendiamkan diri terhadap kemungkaran. Terlupa kepada satu syarat pengecualian antara seorang Nabi dengan seorang Nabi yang lain.

Dan selepas dua kali melanggar perjanjian, Musa menampilkan satu lagi pendekatan yang konsisten, seperti yang terungkap di dalam firman Allah:
قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي ۖ قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّي عُذْرًا

Nabi Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sebarang perkara sesudah ini, maka janganlah engkau jadikan daku sahabatmu lagi; sesungguhnya engkau telah cukup mendapat alasan-alasan berbuat demikian disebabkan pertanyaan-pertanyaan dan bantahanku” [Al-Kahf 18:76]

Musa sendiri yang berkata kepada Khidir.

Jika sekali lagi beliau melanggar perjanjian, Khidir tidak perlu menyusahkan dirinya untuk terus diganggu oleh ‘pelajar bermasalah’ bernama Musa.

Musa sendiri yang akan mengundurkan diri.

PROAKTIF

Sikap yang ditunjukkan oleh Musa terhadap Khidir amat penting untuk direnungkan dengan penuh tadabbur oleh kita semua. Ia sebahagian daripada akhlaq yang mendatangkan rahmat Allah beriringan dengan ilmu.

Ilmu bersama rahmat, menjadi aset.

Ilmu tanpa rahmat, segalanya liabiliti.

Musa tidak mahu hajatnya untuk belajar dengan Khidir sebagai beban ke atas Khidir. Musa hanya mahu peluang belajar, sesuatu yang Allah tegaskan bahawa ia hanya boleh Musa pelajari daripada Khidir. Ia bukan soal ilmu di dalam al-Kitab yang Allah bekalkan di dalam Taurat buat Musa. Ia adalah ilmu tentang cara memandang masalah. Melihat taqdir Allah yang lebih luas daripada tadbir manusia yang terhad.

Bukan sekadar untuk berilmu, yakni ALIM.

Malah berhikmah dan bijaksana, yakni HAKIM.

Semasa mahu belajar, Musa uruskan sendiri keperluan dirinya, tanpa membebankan gurunya Khidir. Semasa melanggar terma dan syarat yang disepakati bersama, Musa juga memberikan komitmen untuk mengundurkan dari tanpa perlu Khidir memecat atau memberhentikannya.

Sikap proaktif Musa itu amat besar impaknya kepada psikologi manusia.

Dan bekalannya hanya pada memilih perkataan yang betul.

Perkataan yang menyampaikan mesej serupa, tetapi mencetuskan kesan psikologi yang amat berbeza.

APLIKASI DUNIA BELAJAR MENGAJAR

“Saya ingin menjemput ustaz ke syarikat kami dan tarikh cadangan adalah pada 27hb. Inilah satu-satunya tarikh yang kami ada dan syarikat kami amat memerlukan kehadiran ustaz untuk menyelesaikan masalah politik dalaman yang meruncing. Saya sudah telefon ustaz banyak kali tetapi tidak dapat bercakap sendiri dengan ustaz berkenaan hal ini” borang di CONTACT ME menghantar utusan.

Itu sering berlaku.

Pernah juga senario ini berlaku:

“Saya mohon maaf tidak dapat hadir ke kuliah Maghrib malam ini. Ibu mertua saya baru sahaja meninggal dunia pagi ini” seorang ustaz memberitahu AJK sebuah surau.

“Oh begitu. Minta tolong ustaz carikan pengganti, ya” katanya.

Ustaz itu tergamam.

Apabila manusia berinteraksi dengan manusia, sama ada dalam urusan ‘duniawi’ mahu pun ukhrawi, hakikatnya ia adalah komunikasi. Interaksi bukan hanya berlegar pada logik dan rasionalnya sebuah komunikasi, dan dalam kes ini sebuah jemputan ceramah, malah ia juga membabitkan soal emosi. Psikologi.

Organisasi di pejabat atau di surau berkemungkinan boleh lebih berhasil mendapatkan penceramah dengan pendekatan Musa.

Pendekatan orang berhajat.

Enggan menjadikan hajatnya sebagai beban ke atas pihak yang dihajat.

Apatah lagi ‘mengugutnya’ dengan ‘tanggungjawab tuan sebagai orang berilmu untuk mengajar kami yang mahu belajar’.

Secara proaktif, kita berusaha memudahkan proses menjemput. Andai tidak berhasil untuk tarikh kali ini kerana kekangan, hubungan baik dan kuasa perkataan positif, menjadikan penceramah yang dijemput mungkin menunggu-nunggu untuk peluang yang seterusnya.

Kuasa perkataan
 
Back
Top
Log in Register