BTC USD 85,826.3 Gold USD 4,140.79
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

53. Al Qawi

Al-Qawi, Yang Mahakuat, adalah salah satu nama Allah Yang Agung. Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan nama ini dalam beberapa ayat-Nya.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

“Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Hud: 66)

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

“Allah Mahalembut terhadap para hamba-Nya, Dia memberi reaeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Mahakuat dan Mahaperkasa.” (asy-Syura: 19)

إِنَّهُ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Sesungguhnya Dia Mahakuat lagi Mahakeras hukuman-Nya.” (Ghafir: 22)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil al-Harras mengatakan, “Asma Allah al-Qawi bermakna yang memiliki kekuatan. Kekuatan Allah Subhanahu wata’ala tidak akan tertimpa oleh kelemahan, kejenuhan, dan kehilangan yang menimpa kekuatan para makhluk. Allah Subhanahu wata’ala tidak akan merasa lemah karena menciptakan sesuatu, keletihan juga tidak akan menimpa-Nya.”

Sementara itu, semua kekuatan makhluk pada hakikatnya adalah milik- Nya. Dialah yang menyimpan kekuatankekuatan pada makhluk-makhluk itu. Apabila Allah Subhanahu wata’ala berkehendak mencabutnya, tentu Dia mampu. Telah disebutkan dalam hadits bahwa kalimat berikut ini,

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ؛ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ

“Tiada kemampuan untuk mengubah suatu keadaan dan tiada pula kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah l,” adalah salah satu simpanan dari simpanan-simpanan dalam surga. (Sahih, HR . al-Bukhari dan yang lain)

Dalam kisah pemilik dua kebun yang disebutkan dalam surat al-Kahfi, seseorang menasihati saudaranya,

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا

“Mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Masya Allah, laa quwwata illa billah (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).’ Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. (al-Kahfi: 39)

Demikian pula dalam surat al- Baqarah,

وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (al-Baqarah: 165)

Buah Mengimani Nama Allah al-Qawi

Allah Subhanahu wata’ala sesembahan kita Mahakuat. Kekuatan kita berasal dari-Nya. Oleh karena itu, kita senantiasa memohon kekuatan dari-Nya dan mensyukuri pemberian-Nya. Tanpa bantuan-Nya, kita adalah makhluk yang sangat lemah. Kita juga harus menyadari bahwa selaku makhluk Allah Subhanahu wata’ala, kita tidak boleh merasa sombong dengan kekuatan yang dimiliki. Sebesar apa pun kekuatan kita, toh itu adalah pemberian Allah Subhanahu wata’ala. Suatu saat nanti, Allah Subhanahu wata’ala akan mencabutnya dari kita.

Lihatlah nasib raja-raja yang sombong di muka bumi ini, Fir’aun, Namrud, dan yang lainnya. Lihatlah nasib para diktator di muka bumi ini. Di manakah mereka sekarang? Menjadi apa mereka sekarang? Itulah kekuatan manusia. Oleh karena itu, janganlah seseorang semena-mena dengan kekuatan yang dia miliki lantas menindas orang-orang yang lemah dan menzalimi sesama manusia.

Hanya Allah Subhanahu wata’ala lah yang memiliki kekuatan yang mutlak, Dialah sembahan kita. Adapun sembahan selain Allah l, dia lemah, tidak memliki kekuatan yang hakiki. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ () مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekalikali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu.Amat lemahlah yang menyembah danamat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (al-Hajj: 73—74)

https://www.youtube.com/watch?v=omzyv_GLCLk
 
54. Al Matin

Makna “al-Matîin” adalah Yang Maha sangat kuat. Dia Maha Mampu memberlakukan perintah dan ketentuan-Nya kepada semua makhluk-Nya (tanpa ada satupun yang mampu menghalangi). Dia mampu memuliakan siapapun yang dikehendaki-Nya dan mampu menjadikan hina siapapun yang dikehendaki-Nya. Allâh Azza wa Jalla mampu menolong siapa yang dikehendaki-Nya serta tidak menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Allah SWT adalah Maha sempurna dalam kekuatan dan kekukuhan-Nya. Kekukuhan dalam prinsip sifat-sifatnya.

Oleh karena itu, sifat Al-Matin adalah kehebatan perbuatan yang sangat kokoh dari kekuatan yang tidak ada taranya. Dengan begitu, kekukuhan Allah SWT yang memiliki rahmat dan adzab terbukti ketika Allah SWT memberikan rahmat kepada hamba-hambanya. Kekuatan dan kekukuhanya tidak terhingga dan tidak terbayangkan oleh manusia yang lemah dan tidak memiliki daya upaya. Jadi karena kekukuhanya, Allah SWT tidak terkalahkan dan tidak tergoyahkan. Siapakah yang paling kuat dan kukuh selain Allah SWT? Tidak ada satu makhluk pun yang dapat menundukan Allah SWT meskipun seluruh makhluk di bumi ini bekerjasama.

Allah SWT berfirman dalam

surat Az-Zariyat ayat 58 :

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Artinya : “Sungguh Allah SWT, dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.”

Dengan demikian, hamba Al-Matin adalah hamba yang dikaruniai dan diberikan oleh Allah mengetahui rahasia sifat kekuatan dan kekukuhan Allah yang meliputi segala kekuatan. Hal tersebut membuatnya berpegang teguh pada tali agamanya. Dan tidak ada sesuatupun yang dapat membuatnya berpaling. Tidak ada kesuliatan yang melelahkannya, dan tidak ada yang dapat memisahkannya dari Yang Maha Benar. Dan, dalam membela kebenaran tidak ada seorangpun yang dapat mengancam atau membuatnya diam.

Seorang hamba yang menemukan kekuatan dan kekukuhan Allah akan membuatnya menjadi manusia yang tawakal, memiliki kepercayaan dalam jiwanya dan tidak merasa rendah di hadapan manusia lain. Ia akan selalu merasa rendah di hadapan Allah. Hanya Allah yang maha menilai. Oleh karena itu, Allah melarang manusia bersikap atau merasa lebih dari saudaranya, karena hanya Allah yang Maha Mengetahui baik buruknya seorang hamba. Allah juga menganjurkan manusia bersabar, karena Allah Maha tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Akhlak kita terhadap sifat Al-Matin adalah :

Beristiqamah (meneguhkan pendirian).

Beribadah dengan kesungguhan hati, tidak tergoyahkan oleh bisikan menyesatkan.

Terus berusaha dan tidak putus asa, serta bekerjasama dengan orang lain sehingga menjadi lebih kuat.

kuat pendirian dan keteguhan hati, tidak mudah diberikan tipu daya.

BEARCUBS_zpsceqdg5mc.jpg
 
55. Al Wali

AL WALIY (yang Maha Melindungi) adalah Allah yang mencintai dan melindungi.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
[257]
Allah Pelindung (Yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, penolong-penolong mereka ialah Taghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka, mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah:257)

`Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung`(Muhammad:11)

Dikalangan orang-orang Mu'min, Wali adalah orang yang mencintai Allah dan mencintai ahli-ahli-Nya, meperlihatkan permusuhan dengan musuh-musuh-Nya. Berarti barangsiapa yang mengabaikan godaan-godaan setan, sesungguhnya ia memajukan urusan-urasan Allah dan ahli-ahli-Nya.

`Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa`(Yunus:62~63)

Rasulullah Saw bersabda: Firman Allah SWT: `Barangsiapa wali-Ku, maka sungguh Aku telah mengumumkan perang padanya, dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada menjalankan kewajiban-kewajiban yang aku wajibkan kepadanya dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan yang sunnah-sunnah, sehingga Aku mencintainya` (HR. Bukhari).

Lafazh Waliy mempunyai dua makna, yaitu

(1)_Orang yang dipelihara dan dijaga oleh Allah dan diambil alih kekuasaannya oleh Allah.

`Dia melindungi orang-orang yang saleh`(07-Al A'raaf:196)

Dengan demikian sejenakpun para wali tidak mengurusi dirinya.

(2)_Orang yang secara aktif melaksanakan ibadah kepada Allah dan mematuhi-Nya secara istiqomah tanpa diselingi kemaksiatan.

Kedua makna diatas merupakan syarat kewalian. Oleh karena itu seorang Wali Allah haruslah yang dipelihara (mahfudz) sebagaimana seorang Nabi Allah dan mereka harus terjaga dari perbuatan dosa dan rendah (ma'shuum). Setiap orang yang bertentangan dengan syara', tidak dapat dikategorikan sebagai Wali Allah. Sesungguhnya mendekatkan diri kepada Allah dapat dilakukan dengan melaksanakan kefardhuan atau ibadah-ibadah sunat. Dan yang paling dicintai Allah adalah yang melaksanakan kefardhuan. Kefardhuan mencakup Fardhu 'Ain dan Fardhu Kifayah.

Beberapa alasan mengapa Allah lebih mencintai kefardhuan, yaitu:

(1)_Apabila ditinjau dari segi perintah, ibadah fardhu adalah perintah yang harus dilaksanakan. Hukumnya berpahala jika dilakukan dan berdosa jika itinggalkan.

(2)_Sesungguhnya ibadah fardhu merupakan pokok dan asas, sedangkan yang sunat adalah cabang dan bangunan atasnya.

(3)_Perkara-perkara yang di fardhukan, dikerjakan sesuai dengan cara yang diperintahkan, memuliakan Allah yang memerintahnya, mengagungkan-Nya serta tunduk kepada-Nya, menampakkan keagungan sifat Ilahiyah dan merendahkan sifat kehambaan. Dengan demikian, mendekatkan diri kepada Allah dengan hal itu adalah perbuatan yang paling mulia. Istilah `UHIBBA` ialah seorang hamba yang melakukan ibadah sunat setelah melakukan ibadah-ibadah fardhu.

`Dekatnya sifat seorang hamba kepadaTuhannya terjadi dengan Iman kemudian Ihsan. Dekatnya Tuhan kepada hamba-Nya di dunia adalah dengan Makrifat kepada-Nya, sedangkan di akhirat dengan Ridha-Nya`(Al-Qusyairi)

Seorang wali selalu melihat dirinya dengan rendah hati, jika terlihat sedikit saja karomahnya, dia khawatir hal itu akan menipu dirinya. Dia selalu merasa takut jatuh dari kedudukan kewaliannya dan membawa akibat yang berbalik kepadanya. Mereka menjadikan syariat kewalian harus selaras dengan keteguhannya hingga akhir hayatnya.

Ketika Rasulullah Saw menyatakan bahwa sepuluh orang sahabat mengetahui bahwa sepuluh orang ini terjamin keselamatannya dikemudian hari. Keadaan mereka tidak tercela atau tercemar. Untuk mengetahui Kenababian adalah Mu'jizatnya dan karomah adalah tanda kewalian, dan akan tampak dalam kebenarannya.

`Jika ingin menjadi wali-Nya, janganlah menginginkan harta duniawi dan ukhrowi, kosongkan diri untuk Allah semata, dan palingkan wajah kepada-Nya sehingga Dia berpaling kepadamu dan menjadikanmu sebagai wali-Nya'(Ibrahim bin Adham)

`Mereka adalah hamba-hamba yang mengenakan pakaian sukacita ibadah setelah mengalami penderitaan. Mereka memeluk rohani setelah Mujahadah (bersungguh-sungguh dalam ibadah), sehingga mereka sampai pada tingakatan wali`(Yahya bin Mu'adz)

`Para wali tidak pernah meminta. Mereka hanya tunduk dan tawadhu. Puncak tertinggi dari perjalanan mereka merupakan awal dari derajat para Nabi`(An Nash Abadzi)

`Keberuntungan para wali terlihat dari empat nama Asmaul Husna. Masing-masing kelompok berdiri dengan membawa nama itu, yaitu AL AWWALU (yang Maha Dahulu); AL AKHIRU (yang Maha Akhir dengan tiada kesudahan); ADZ DZAAHIR (Yang Maha Nyata); AL BAATHIN (yang Maha Tersembunyi).

Seorang wali yang sempurna tenggelam dalam ke-empat Asma Allah ini. Barangsiapa yang keberuntungannya dengan nama Adz dzahiru, dia selalu melihat kebesaran kekuasaan Allah. Barangsiapa keberuntungannya dengan nama Al Awwalu, dia akan selalu mengoreksi masa lalunya. Dan barangsiapa keberuntungannya dengan nama Al Akhiru, dia selalu sibuk mempersiapkan sikapnya dimasa depannya. Masing-masing akan diberi atau diperlihatkan menurut kemampuannya`(Abu Yazid Al Bustami)

`Wali adalah wewangian Allah di bumi-Nya, ia dicium oleh orang-orang yang mencintai kebenaran, sehingga keharuman mereka sampai didalam hati para pencinta kebenaran, rindu kepada Tuhan-nya, dan ibadah mereka bertambah giat karena perilaku para wali itu`(Yahya ibnu Mu'adz)

Salah satu sifat wali adalah dia tidak mempunyai rasa takut kepada selain-Nya, karena rasa takut hanya akan mengisi ruang masa depan. Wali adalah anak zaman, tidak ada gambaran didepan yang menkutkannya, atau tak ada harapan karena harapan itu sendiri milik-Nya. Sang wali tidak pernah bersedih, karena kesedihan adalah penderitaan dalam waktu dan tidaklah mungkin kesedihan hadir jika cahaya ridha telah sampai kepadanya.

cosmos_flower_zpswbktuzmi.jpg
 
56. Al Hamid

Salah satu nama Allah l adalah Al-Hamiid (الْحَمِيدُ), yakni Yang Maha terpuji. Nama ini tersebut dalam firman Allah l:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ



“Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah l) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha terpuji. (Al-Baqarah: 267)

Wahai manusia, kamulah yang perlu kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha terpuji. (Fathir: 15)

Dalam hadits dari Abdurrahman bin Abi Laila t, dia berkata:

لَقِيَنِى كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ فَقَالَ: أَلاَ أُهْدِى لَكَ هَدِيَّةً سَمِعْتُهَا مِنَ النَّبِيِّ n؟ فَقُلْتُ: بَلَى، فَأَهْدِهَا لِى. فَقَالَ: سَأَلْنَا رَسُولَ اللهِ n فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ الصَّلاَةُ عَلَيْكُمْ أَهْلِ الْبَيْتِ فَإِنَّ اللهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ؟ قَالَ: قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Ka’b bin Ujrah telah berjumpa denganku, lalu beliau mengatakan: “Tidakkah aku beri kamu hadiah yang aku dengar dari Nabi n?” Maka aku katakan: “Ya, berikan hadiah itu kepadaku. Maka beliau mengatakan: Kami telah bertanya kepada Rasulullah n. Kami mengatakan: Wahai Rasulullah, bagaimanakah bershalawat kepada kalian keluarga Nabi? Sesungguhnya Allah telah mengajari kami bagaimana memberikan salam (kepada kalian). Maka Nabi berkata: Bacalah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Ya Allah, berikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana engkau berikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Agung. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Agung’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kata Al-Hamiid berasal dari akar kata ha-mi-da (حَمِدَ), terdiri dari huruf ح-م-د yang artinya adalah lawan dari celaan (yaitu pujian). Seseorang disebut mahmud (مَحْمُودٌ) atau Muhammad (مُحَمَّدٌ) bila terdapat pada dirinya banyak sifat kebaikan, bukan sifat yang tercela. (Mu’jam Maqayis Al-Lughah)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras mengatakan: “Al-Hamdu (الْحَمْدُ) artinya pujian dengan lisan atas suatu kebaikan yang adanya bukan karena keterpaksaan, baik itu berupa jasa atau bukan….”

Kata Al-Hamiid (الحَمِيْد) adalah salah satu dari Al-Asma’ul Husna. Kata ini sesuai dengan wazan (bentuk susunan) fa‘il (فَعِيلٌ) (sebagai pelaku) namun bermakna maf’ul (مَفْعُولٌ) (sebagai obyek). Sehingga maknanya adalah (Yang terpuji) yang berhak atas segala pujian yang telah terjadi ataupun yang diperkirakan akan terjadi. Maka, seluruh bagian dari pujian yang terwujud atau yang ditakdirkan nanti akan terwujud, semua itu tetap bagi Allah l. Allah l berhak terhadapnya, dengan sebab sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, dan keindahan yang Dia miliki. Oleh karena itu, pendapat yang kuat bahwa alif dan lam dalam kata Al-Hamid itu berfungsi untuk istighraq (mencakup) seluruh bagian pujian.

Ibnu Utsaimin t mengatakan bahwa (الْحَمِيدُ) juga bermakna faa’il (pelaku pujian) yakni Dia memuji hamba-hamba-Nya dan para wali-Nya yang menegakkan perintah-Nya.

Ibnul Qayyim t menyebutkan bahwa Al-Hamiid memiliki dua makna:

Pertama: Seluruh makhluk mengucapkan pujian terhadap-Nya, maka segala pujian yang terwujud dari seluruh penduduk langit-langit dan bumi, yang awal maupun yang akhir dari mereka, serta semua pujian yang terjadi dari mereka di dunia dan akhirat, juga semua pujian yang belum terwujud dari mereka bahkan yang masih dalam pengandaian, demikian pula yang tersembunyi, selama berlangsungnya zaman dan berjalannya waktu; dengan pujian yang memenuhi alam-alam seluruhnya baik yang atas maupun bawah dan memenuhi yang semacam alam itu tanpa hitungan, maka sesungguhnya Allah l berhak terhadapnya dari banyak sisi. Yaitu, karena Allah l yang menciptakan mereka, memberi mereka rezeki, dan melimpahkan nikmat lahir maupun batin kepada mereka, terkait urusan keduniaan ataupun urusan agama. Juga karena Allah l telah memalingkan mereka dari bencana ataupun hal-hal yang tidak disukai. Apapun nikmat yang ada pada hamba-hamba maka itu dari Allah l. Tidaklah ada yang menghalangi dari kejelekan dan kejahatan melainkan Dia. Maka, Allah l mempunyai hak agar mereka memuji-Nya dalam segala waktu, menyanjung-Nya, dan mensyukuri-Nya sebanyak saat-saat yang berjalan.

Kedua: Allah l terpuji karena apa yang Dia miliki berupa Al-Asma’ul Husna dan sifat-sifat yang sempurna nan tinggi, segala hal yang terpuji serta sifat yang indah dan agung. Milik-Nyalah seluruh sifat kesempurnaan. Sifat-sifat yang Ia miliki berada pada puncak kesempurnaan dan kebesaran. Sehingga dalam setiap sifat dari sifat-sifat-Nya, Ia berhak dipuji dengan pujian yang sempurna dan sanjungan yang sempurna. Lantas bagaimana dengan seluruh sifat-Nya yang suci? Milik-Nyalah segala pujian karena Dzat-Nya, milik-Nyalah segala pujian karena sifat-sifat-Nya, dan milik-Nyalah segala pujian karena perbuatan-perbuatan-Nya yang berkisar antara karunia dan kebaikan, serta antara keadilan dan hikmah yang dengannya Dia berhak mendapatkan pujian yang sempurna. Milik-Nyalah pula segala pujian karena penciptaan-Nya, karena syariat-Nya, karena hukum-hukum takdir-Nya atau hukum syariat-Nya, serta hukum pembalasan-Nya di dunia dan di akhirat. Perincian pujian-Nya dan apa yang Dia dipuji karenanya tidaklah bisa dijangkau oleh pikiran dan tidak bisa dihitung oleh pena.”

Buah Mengimani Nama Allah Al-Hamid

Di antara buah mengimaninya adalah kita mengetahui kemuliaan sifat-sifat Allah l dan keindahan perbuatan-perbuatan-Nya, di mana semua sifat dan perbuatan-Nya berhak untuk dipuji. Sehingga pantaslah kalau segala puji itu milik-Nya. Maka hendaknya kita selalu berbaik sangka kepada-Nya atas segala ketetapan-Nya.

Wallahu a’lam.

Garden_flower__zpsqc1cirlv.jpg
 
57. Al Muhshi

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا



[49]
Dan “Kitab-kitab Amal” juga tetap akan dibentangkan, maka engkau akan melihat orang-orang yang berdosa itu, merasa takut akan apa yang tersurat di dalamnya; dan mereka akan berkata:” Aduhai celakanya kami, mengapa kitab ini demikian keadaannya? Ia tidak meninggalkan yang kecil atau yang besar, melainkan semua dihitungnya!” Dan mereka dapati segala yang mereka kerjakan itu sedia (tertulis di dalamnya); dan (ingatlah) Tuhanmu tidak berlaku zalim kepada seseorangpun. (Qs. Al-Kahfi: 49)

Kelak di akherat, semua manusia akan menerima sebuah kitab “rekam jejak” yang berisi catatan lengkap tentang semua amal, baik yang berupa perkataan, perbuatan, maupun diamnya. Tak ketinggalan, di sana juga berisi catatan mengenai sikap, perasaan, gerak hati, dan niat. Dalam kitab itu tidak ada yang tersisa, termasuk gerak mata, lintasan hati, niat dan motivasi.

Lalu, apa yang tertinggal? Sekecil apapun perbuatan yang pernah kita lakukan pastilah mengisi lembaran buku tersebut. Kelak kita akan diperlihatkan kembali semua amal kita, baik yang lucu, yang konyol, yang menggemaskan, atau yang menyedihkan. Seolah kita diajak masuk dalam lorong waktu, lalu kita melihat diri kita secara utuh sejak bayi hingga mati.

“Barangsiapa yang berbuat baik walau sebiji atom, kelak pasti ia akan melihatnya. Demikian pula, siapa yang melakukan perbuatan buruk walau sekecil biji atom, kelak dia akan mengenalinya”. (Qs. Al-Zalzalah: 7 dan 8)

Dari buku catatan itu, ada beberapa peristiwa yang masih kita ingat atau kita kenang, tapi tidak sedikit di antaranya yang telah kita lupakan. Yang perlu diketahui bahwa tidak ada catatan yang didelete, semua bisa dihadirkan kembali. Bisa dicopy paste.

“Pada hari ketika semuanya dibangkitkan Allah, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitung (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Qs. Al-Mujadalah: 6)

Kitab yang akan kita terima nanti, tidak saja berisi catatan amal perbuatan kita sendiri, tapi juga mencatat bekas-bekas yang kita tinggalkan. Amal kita ternyata meningglkan bekas. Jika menjadi inspirasi kebaikan orang-orang sesudah kita, maka kebaikan itu menjadi kebaikan bagi kita. Jika sebaliknya, maka kejahatan itu menjadi beban bagi kita. Allah juga menegaskan:

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami himpun dan Kitab Induk yang nyata”. (Qs. Yaa Siin: 12)

Tentang hal ini, Rasulullah saw telah bersabda:
“Barangsiapa yang medatangkan jalan yang baik di dalam islam, maka untuknyalah pahala dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya, dengan tidak mengurangi pahala untuk yang memulai itu sedikitpun. Dan barangsiapa yang merentangkan jalan baru yang buruk dalam Islam, maka akan dipikulkannyalah dosanya dan dosa orang yang menuruti jalannya sesudahnya dengan tidak mengurangi pula dosanya sedikitpun untuk yang memulai itu.” (HR. Muslim)

Allah yang memiliki sifat Al-Muhshi mencatat secara cermat dan memperhitungkan secara adil, serta memberi pahala dan siksa secara bijaksana. Manusia bias lolos dari jerat hukum dunia, tapi catatan yang sangat lengkap dan detail, serta anti virus itu tak akan pernah ada yang terlewatkan.

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat, tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis (tercatat). (Qs. Al-Qamar: 52 – 53).

Perhitungan Allah yang memiliki nama indah (asmaul husna) Al-Muhshi itu dijamin akurat, tepat, dan pasti pas.

Sunset_in_Coquitlam_zpsq8vn6os7.jpg
 
58.Al Mubdiu

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? (QS. Ath-Thur: 35)

Pertanyaan di atas ditujukan kepada mereka yang masih ragu tentang penciptaan alam, termasuk manusia. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa alam itu ada dengan sendirinya dan tidak ada yang menghancurkan serta membinasakannya kecuali waktu.

Anggapan seperti itu telah direkam al-Qur’an:

“Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga.” (QS. Al-Jatsiyah: 24).

Teori evolusi yang digagas oleh Darwin dan ilmuwan lainnya hanyalah bersifat hipotesa yang sama-sekali belum atau tidak akan terbukti kebenarannya, selama-lamanya. Teori yang menduga bahwa terwujudnya sesuatu karena adanya unsur-unsur sebelumnya yang mengalami proses evolusi sehingga menghasilkan sesuatu yang baru, hanyalah isapan jempol yang tak pernah terbukti secara ilmiah.

Memang, kaum atheis selalu mempertanyakan, jika segala sesuatu itu ada yang menyiptakan, lalu siapakah yang menyiptakan Tuhan? Pertanyaan seperti itu sudah ada sejak zaman Nabi saw, oleh karenanya beliau telah mengajarkan kepada kita: “Sesungguhnya setan dating kepada salah seorang di antara kamu dan bertanya, siapakah yang menyiptakan langit? Dijawab, Allah. Ditanya lagi, siapakah yang menyiptakan bumi? Dijawab, Allah. Lalu, ia akan bertanya lagi, siapakah yang menyiptakan Allah? Maka apabila muncul pertanyaan seperti itu, segeralah berkata: “Aku beriman kepada Allah dan Rasulullah saw.”

Pandanglah alam raya yang terbentang luas di depan kita, perhatikan satu persatu ciptaan Allah yang nyaris tak terhingga itu, betapa indah dan harmonis. Lalu, tanyalah dalam hati yang terdalam, Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS. Ibrahim: 10).

Dalam al-Qur’an, kata Al-Mubdi-u dalam bentuk isim (kata benda) tidak ditemukan, baik yang disifatkan kepada Allah atau pun kepada selain-Nya. Meskipun demikian, bentukan kata dari Al-Mubdi-u dalam bentuk fi’il mudhari’ (kata kerja masa kini dan masa depan), maupun dalam bentuk fi’il maadhi (kata kerja masa lampau yang mengandung makna kepastian) dapat dijumpai dalam beberapa ayat. Salah satu contohnya adalah:


إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا ۖ وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ إِنَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ بِالْقِسْطِ ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ




[4]
KepadaNyalah kembalinya kamu semua, sebagai janji Allah yang benar. Sesungguhnya Dia lah yang memulakan kejadian sekalian makhluk, kemudian Ia mengembalikannya (hidup semula sesudah matinya), untuk membalas orang-orang yang beriman dan beramal soleh dengan adil; dan orang-orang yang kafir pula, disediakan bagi mereka minuman dari air panas yang menggelegak, dan azab yang tidak terperi sakitnya, disebabkan mereka ingkar dan berlaku kufur.. (QS. Yunus: 4)

Dalam ayat yang lain juga dapat dijumpai, misalnya:
“Atau siapakah yang memulai (menyiptakan) makhluq dan siapa pula yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Katakanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. An-Naml: 64)

Ya, Allah telah memperkenalkan diri-Nya kepada kita sebagai Al-Mubdi-u, Yang Maha Memulai. Menurut Al-Qusyairi, Al-Mubdi-u berarti Dialah yang menyiptakan makhluq dari tiada menjadi ada tanpa contoh sebelumnya, dan mengembalikan mereka dengan kebangkitan serta menghidupkan kembali makhluk-makhluk-Nya yang telah mati pada hari kiamat nanti.

Contoh sederhana adalah penyiptaan manusia. Walaupun penyiptaan manusia itu berulang-ulang dan dalam jumlah yang amat besar, penyiptaannya bukan pabrikan atau bersifat massal. Dua anak kembar yang lahir dari rahim yang sama, tidak persis sama, baik bentuk fisik, apalagi struktur kejiwaannya. Kreasi Allah sungguh tak terbatas, selalu terbarukan.

Fish_Lake_Oregon_Sunset_zps63ypzctu.jpg
 
59. Al muid

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ ۚ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ


Dia (Allah) yang menyiptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat Yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Ar-Rumm: 27)

Adalah wajar jika manusia bertanya-tanya tentang kehidupannya setelah mati, apakah mereka binasa selamanya atau akankah mereka kembali dihidupkan. Pertanyaan seperti itu tak mungkin bisa dijawab secara memuaskan oleh sains maupun teknologi. Kecerdasan intelektual manusia yang sangat terbatas itu tak mungkin bisa menjawab misteri ini. Itulah sebabnya, Allah mengutus para Nabi dan Rasul serta menurunkan wahyu untuk menjelaskan berbagai masalah ghaib yang terlihat gelap bagi mata telanjang.

Jangankan manusia biasa, Nabi Ibrahim yang disebut sebagai khalilullah, kekasih Allah, yang keyakinan dan keimanannya telah mencapai seratus persen itu masih minta ditunjukkan “simulasi” penciptaan kembali. Allah tidak tersinggung dengan permintaan Ibrahim tersebut, Dia hanya bertanya, apakah kamu kurang percaya? Ibrahim menjawab, bukannya kurang percaya, tapi justru untuk lebih meyakinkan keimananku. Pendek cerita, Ibrahim diperintahkan untuk menangkap beberapa burung, lalu burung-burung itu dicincang-cincang menjadi beberapa bagian. Masing-masing bagian diletakkan di atas bukit, lalu Ibrahim diperintahkan untuk memanggil semuanya. Potongan-potongan daging burung itu lalu menyatu kembali, hidup, dan bisa terbang lagi.

Subhanallah, simulasi tersebut bukan sulap, bukan magic, juga bukan permainan ketangkasan. Melalui simulasi itu Allah hendak meyakinkan manusia bahwa mengembalikan kejadian makhluk-Nya kepada keadaan semula itu lebih ringan daripada membuat materi baru. Walaupun di sisi Allah tidak ada istilah lebih ringan dan lebih berat. Bagi Allah segala kehendak-Nya pasti terjadi. Jika Dia berkehendak, cukup bagi-Nya berfirman “kun” (jadilah), maka jadi.

Kaum musyrikin, sebagaimana juga kaum lain yang tidak mendapat informasi dari Allah melalui wahyu yang diturunkanNya akan terheran-heran jika ada yang menyatakan bahwa ada kehidupan setelah mati. Mereka bertanya-tanya, apakah setelah manusia menjadi tulang belulang, bahkan telah melebur menjadi tanah bisa dihimpun dan dapat hidup lagi? Karena yang merasa heran atas kejadian tersebut bukan hanya kaum musyrik yang hidup pada jaman Nabi, tapi akan selalu ada orang yang bertanya-tanya soal itu hingga akhir zaman, maka al-Qur’an perlu menginformasikannya: “Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan debu, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” (QS. Al-Isra’: 49)

Pertanyaan yang menggambarkan keraguan, bahkan ketidakyakinan itu jangan dibiarkan. Pertanyaan seperti itu harus dijawab secara tegas melalui argumentasi yang pas dan akurat. Dalam hal ini Allah membimbing Nabi Muhammad untuk menjawab mereka, sebagaimana tertera dalam al-Qur’an:

Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu, atau menjadi makhluk lain yang menurut pikiranmu tidak mungkin (bangkit kembali). Mereka akan bertanya, siapa yang akan mengembalikan kami lagi (seperti semula)? Katakanlah, “yang menciptakan pertama kali.” Lalu mereka akan menggelengkan kepala kepadamu dengan mengatakan, “Kapan akan terjadi?” Katakanlah, boleh jadi segera. (QS. Al-Isra: 50 – 51)

Al-Qur’an adalah kalamullah, ia merekam berbagai kejadian masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang. Al-Qur’an juga merekam berbagai gejolak yang timbul dalam benak dan pikiran manusia, baik yang disembunyikan maupun yang dinyatakan. Di antara gejolak pikiran yang timbul berkaitan dengan topik kita kali ini, direkam secara tajam melalui firmanNya:

"Dan (manusia durhaka) membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya. Ia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?” katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menyiptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau itu”. Dan tidaklah Tuhan yang menyiptakan langit dan bumi itu berkuasa menyiptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yaasin: 78 – 81)

Dialah Al-Mu’id, Tuhan Yang Maha Mengembalikan. Masih adakah keraguan dalam pikiran dan perasaan kita? Mudah-mudahan kita kembali ke jalan yang lurus.

Mini-Dining-Set-90_zpsoto7d3gh.jpg
 
60. Al Muhyi

Sifat Allah SWT memiliki sifat yang maha agung, memperlihatkan maha kuasa-Nya atas segala sesuatu. Pembahasan Asmaul Husna kali ini, Al-Muhyi atau Maha Menghidupkan mengingatkan seseorang bahwa sejatinya hidup dan mati ada pada ketentuan-Nya.

Sifat Al-Muhyi mengingatkan manusia tidak ada seseorang yang hidup tanpa kuasa-Nya. Allah pemilik langit dan bumi, kuasa-Nya sangat berkenan atas sesuatu yang dikehendaki. Tugas manusia sebagai hamba, seyogyanya memaksimalkan ibadah yang baik dalam kehidupan ini.

Di dalam al-Qur’an, Allah telah memberitahu kepada umat manusia bahwa tidak ada di dunia ini yang kekal abadi. Pengabdian seorang hamba dalam menjalakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, memperlihatkan sejauh mana seseorang menjadi hamba yang bertaqwa.


إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي وَنُمِيتُ وَإِلَيْنَا الْمَصِيرُ



“Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami–lah tempat kembali (semua makhluk),” Q.S Qof : 43.

Hingga demikian tanggung jawab manusia di muka bumi, yang akhirnya seseorang perlu hayati. Tidak saja menjadi hamba yang bertaqwa, namun sebagai pemimpin harus mampu mengayomi masyarakat atau dirinya sendiri.

Sebagai khalifah fil ard seyogyanya manusia berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Kehidupan yang telah Allah hadirkan, tidak lain sebagai ladang amal untuk bekal di dunia dan akhirat. Diharapkan keberkahan dan ridho Allah tercurahkan dalam langkah aktivitas kita.

Allah memang di antaranya memiliki sifat Maha Menghidupkan, namun jangan sampai kelalaian kita memaknai arti kehidupan kurang mengetahui tanggung jawab diturunkannya manusia di muka bumi.

Karena sejatinya apa yang telah seseorang lakukan mau atau tidak, kita akan kembali kepada-Nya. Sehingga sejauh mana persiapan yang telah Allah berikan kehidupan kepada kita, karena sebenarnya apa yang kita miliki tidak lain adalah titipan yang harus kita manfaatkan dengan baik selama kita hidup.

Dari Abdullah ibnul Abdullah mengisahkan bahwa suatu hari ia tengah berada di kota Mekkah yang dialnda kemarau panjang. Ketika itu, ia duduk di pintu Bani Syaibah, ia melihat seorang budak hitam mengambil tempat tersembunyi di Masjidil Haram. Ia pun mendekati dan mendengarkannya tengah berdoa minta pertolongan Allah dengan khusyuk agar turun hujan. Tak lama turun hujan. Sedangkan budak hitam itu masih saja bertasbih dan bersyukur. Setelah itu ia mengikuti kemana pulangnya budak hitam itu. Segera ditemuinya pemilik si budak itu dan membeli budak tersebut. Setelah berkenalan ia tahu, budak itu makan hanya dari jerih payahnya. Jika ia mendapat rezeki, ia makan. Tapi jika tidak mendapat rezeki, ia akan tertidur karena kelaparan. Budak lain yang bekerja pada tuan si budak hitam mengatakan budak hitam itu tidak pernah tidur malam hari. Selang beberapa waktu, si budak hitam mengajukan pertanyaan pada Abdullah, kenapa mau membelinya. Abdullah berkata, “Aku tergerak membelimu ketika kusaksikan kau berdoa meminta turun hujan, saat itu juga hujan turun. Maka aku berkata dalam hati untuk membelimu untuk aku merdekakan dan aku nikahkan.” Mendengar jawaban itu si budak hitam menangis dan pergi meninggalkan Abdullah untuk shalat. Setelah selesai ia mendatangi Abdullah kembali dan berakata, “Wahai Abdurrahman, apakah Anda menginginkan sesuatu dariku? Karena aku akan segera pergi?” Abdullah bertanya pergi kemana dan dijawwab si budak hitam ingin pergi ke akhirat. Lalu Adullah berate kembali, “Jangan lakukan itu. Beri aku kesempatan memerdekakan dan menikahkanmu dengan seorang wanita.” Tetapi, si budak hitam malah menjawab, “Aku tidak akan dapat menikmati indahnya kehidupan setelah terbuka rahasia hubungan yang terjalin antara diriku dengan Allah. Aku ingin selalu menyembah Allah secara sembunyi-sembunyi. Karena ibadah yang paling ikhlas adalah yang dilakukan secara tersembunyi.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia bersujud sambil berkata, “Wahai, Tuhanku. Ambillah nyawaku. Ambillah nyawaku.” Kemudian Abdullah mendekatinya, dan mendapati ia telah wafat. Subhanallah.

Manusia tidak lain hanyalah berusaha dan berdoa. Berusaha sesuatu (pekerjaan) yang telah direncanakan, pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT. Karena itu kesempatan seseorang hidup yang akhirnya mengukur sejauh mana mereka melakukan perbuatan; perbuatan baik atau sebaliknya. Bahkan disebutkan sebuah ayat di al-Qur’an bahwa kehidupan ini tidak lain hanyalah ladang amal untuk bekal di akhirat.

https://www.youtube.com/watch?v=hvlHgbG85kM
 
61. Al Mumit

Kapan manusia disebut mati? Sebagian kita menjawab, ketika nyawa telah berpisah dengan jasad manusia. Lalu apakah nyawa itu? Jika ada, bertempat dimana? Wujudnya apa? Kapan berpisahnya?


وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ

وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا


Dan sesungguhnya Dia yang menjadikan (manusia) tertawa dan menjadikan (mereka) menangis. Dan sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan. (An-Najm: 43-44)

Seorang anak dengan mudah bisa membedakan antara sebatang kayu dengan sebatang pohon. Dia juga mengerti bahwa sebatang pohon itu hidup dan sebatang kayu itu mati. Ketika diminta untuk menjelaskan apa hakekat “kehidupan” dan hakekat “kematian”, mereka hanya bisa bungkam, bahkan seorang profesor botani sekalipun tak bisa menjelaskan. Maksimal mereka hanya bisa menunjukkan tanda-tanda kehidupan, yaitu tumbuh, bergerak, dan berkembang. Jika sesuatu itu tidak tumbuh, tidak bergerak, dan tidak berkembang, maka sesuatu itu berarti telah mati.

Kapan manusia disebut mati? Sebagian kita menjawab, ketika nyawa telah berpisah dengan jasad manusia. Lalu apakah nyawa itu? Jika ada, bertempat dimana? Wujudnya apa? Kapan berpisahnya? Pertenyaan-pertanyaan di atas tidak bisa kita jawab, kecuali bahwa kita yakin bahwa dalam diri manusia yang hidup terdapat nyawa, dan nyawa itu suatu saat akan dicabut oleh Allah yang Maha Kuasa mencabutnya. Dia-lah Al-Mumit, Yang Maha Mematikan.

Dalam realitasnya, seribu satu cara manusia menuju pada kematiannya. Ada yang disebabkan sakit dan ada pula yang karena kecelakaan. Berjuta-juta jenis penyakit, dan beribu-ribu jenis kecelakaan, di laut, di udara, dan di daratan. Berjuta-juta sebab orang mati, tapi hanya satu yang namanya mati, yaitu ketika ajal telah tiba dan ketetapan Allah telah dijatuhkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu”. (An-Nisaa: 78)

Tak ada tempat bersembunyi dari mati. Sekalipun kita membuat benteng yang kokoh, sekalipun kita bersembunyi di dasar laut, jika ajal telah tiba, maka kematian akan menjemput kita.

“Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu”. (Al-Jumu’ah: 8)

Tidak ada orang yang sanggup memberi hidup, juga sebaliknya tidak ada seorang pun yang bisa mematikan. Betapa banyak orang yang berusaha bunuh diri, tapi justru ia selamat. Sebaliknya, berapa banyak orang yang berusaha selamat, ternyata justru mengalami kematian.

Bagi orang yang beriman, kematian itu bukan sesuatu yang harus ditakuti, sebagaimana kehidupan juga tak perlu dikhawatiri. Hidup dan mati adalah ketetapan Allah yang harus diterima sebagai taqdir-Nya. Ketika diberi kesempatan hidup, kita manfaatkan kehidupan itu untuk beribadah dan beramal shalih serta menghimpun sebanyak-banyakanya pahala di sisi Allah swt. Ketika kematian datang, kita sambut dengan suka cita.

Bagi kita, kematian adalah pintu gerbang kehidupan yang sebenarnya. Hanya melalui gerbang itu kita bisa menjumpai kekasih kita, Yang Maha Kasih, yaitu Allah saw. Hanya dengan kematian itu kita bisa menjumpai surga, suatu tempat yang telah dijanjikan berulang-ulang oleh Allah dalam al-Qur’an. Hanya dengan memasuki pintu gerbang yang berupa kematian itu kita bisa menjumpai manusia terbaik, rasul yang paling mulia, Muhammad saw. Betapa indahnya gerbang kehidupan yang sebenarnya itu?

Meskipun demikian kita tidak mengharapkan kematian, sebab kita juga belum merasa cukup mengumpulkan bekal menyusuri kehidupan yang begitu panjang. Tabungan amal shalih kita belum mencukupi untuk bekal hidup di akherat nanti. Kita masih perlu mengumpulkan pundi-pundi pahala. Kita masih terlalu sibuk mempersiapkan bekal hidup di dunia yang tidak terlalu lama. Kita masih lalai mengingat mati.

Ketahuilah bahwa kita semua adalah calon-calon mayat. Saat ini kita hanya menunggu giliran, kapan waktunya Allah mencabut nyawa kita, memisahkan nyawa dari jasad kita, dan mengembalikan jasad pada asalnya, yaitu tanah dan mengirim “ruh” kita kembali ke alam kehidupan yang sebenarnya. Sayangnya, disana hanya tersedia dua pilihan untuk tempat tinggal manusia, surga atau neraka. Bekal kita selama hidup di dunia akan menentukan di mana kita akan tinggal selama-lamanya.

animal-wallpapers-free_zpsklkkfcot.jpg
 
62. Al Hayyu


اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rizki yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. (Al-Ghafir: 64 -65)

Dalam al-Qur’an, kata Al-Hayy bisa didapati sebanyak sembilan belas kali. Empat belas ayat berkait langsung dengan sifat dan asma Allah, sedangkan lima ayat yang lain berbicara mengenai manusia.

Hidup adalah antitesis mati. Bagi Allah, hidup adalah sifat wajib yang dimiliki, sebaliknya mustahil bagi-Nya sifat ”mati”.

Ketika kita membahas sifat dan asma Allah ”Al-Hayy”, terdapat dua pemahaman yang saling melengkapi. Pertama, bahwa Dia Yang Maha Mencukupi Dirinya sendiri sejak masa pra-azali dan akan berlangsung selamanya. Sebaliknya, setiap makhluq hidup hanya bisa hidup atas anugerah dan karunia Allah. Mereka tidak bisa memberi rizki kehidupan kepada diri mereka sendiri, apalagi kepada yang lain. Manusia diberi hidup dalam batas yang telah ditentukan, jika telah habis masanya maka kematian akan segera menemuinya.

”Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula)”. (Az-Zumar: 30)

Pemahaman kedua, Allah hidup tiada berawal dan tiada berakhir. Dia hidup dan tidak pernah mati. Dia yang menciptakan waktu, dan karenanya Dia tidak dibatasi dimensi waktu. Bagi-Nya tiada waktu lalu, sekarang, juga yang akan datang. Dia di luar semua itu.

”Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya, dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya”. (Al-Furqan: 58)

Manusia tidak bisa hidup langgeng dan abadi seperti Allah. Akan tetapi manusia bisa melanggengkan hidupnya dengan ”keharuman nama” setelah kematiannya, dengan meninggalkan karya-karya monumental yang bisa dinikmati manusia selama-lamanya. Nabi Muhammad telah lama meninggal dunia, tapi beliau telah meninggalkan karya kemanusian yang luar biasa sehingga namanya tetap langgeng dan abadi hingga akhir zaman nanti.

Demikian juga para syuhada, orang-orang yang mati syahid. Orang-orang yang mati karena memperjuangkan agama Allah ini dalam realitasnya telah mati, akan tetapi pada hakekatnya mereka tetap hidup. Sekalipun mereka telah mati, tapi betapa banyaknya manusia hidup yang terinspirasi olehnya? Itulah sebabnya Allah menegaskan:

”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. (Al-Baqarah: 154)

Jika para syuhada’ yang telah lama mati disebut ”tetap hidup” , maka sebaliknya ada orang yang dapat menarik dan menghembuskan nafas, otak dan jantungnya juga berjalan normal, akan tetapi karena tidak mendengar dan memperkenankan panggilan Allah maka orang tersebut dinilai telah mati. Yang demikian itu telah ditegaskan Allah dalam al-Qur’an:

”Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang”. (An-Naml: 80)

Sifat Allah Al-Hayy sebanyak tiga kali dirangkai dengan sifat Al-Qayyum yang berarti Maha Berdiri sendiri lagi Maha Mengurus makhluk-makhluk-Nya. Menurut sebagian Ulama’ hal tersebut memberi teladan kepada manusia bahwa hidup yang sebenarnya itu bukan sekadar hidup untuk memenuhi dirinya sendiri, tapi hidup itu pada hakekatnya adalah memberi hidup dan sarana kehidupan kepada pihak lain.

”Dan barangsiapa yang menghidupkan (memelihara kehidupan) seorang manusia, maka seolah-olah dia telah menghidupkan manusia semuanya”. (Al-Maidah: 32)

Dengan demikian, alangkah mulianya orang yang bersedekah kepada yang sedang lapar dan haus. Alangkah mulianya para pengusaha yang menyiapkan lapangan kerja dan membayar para buruh dengan layak dan tepat pada waktunya. Alangkah mulianya para dokter, apoteker, dan para penyembuh lainnya yang telah bekerja sungguh-sungguh dan tulus ikhlas untuk mengobati dan menyembuhkan penyakit. Demikian juga para polisi dan aparat keamanan lain yang menjaga keamanan dan perdamaian hidup.

Akhirnya, kita harus menyadari bahwa kehidupan manusia di dunia ini hanya sementara dan berlangsung sebentar saja. Kehidupan yang sesungguhnya bagi kita adalah hidup di akherat. Untuk itu mari kita jadikan hidup di dunia ini sebagai bekal untuk hidup yang sesungguhnya di akherat kelak.

”Sesungguhnya tempat tinggal di akherat itulah sebenar-benar kehidupan, sekiranya mereka mengetahui”. (Al-Ankabut: 64)

Sussex_1461448i_zpsf49bskgm.jpg
 
Back
Top
Log in Register