BTC USD 86,219.6 Gold USD 4,166.77
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

33. Al Azim

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

[4]Dia lah yang mempunyai dan menguasai segala yang ada di langit dan yang ada di bumi; dan Dia lah Yang Tertinggi keadaanNya, lagi Maha Besar (kekuasaanNya).

quran 42:4


"Dan bagi-Nya lah keagungan di langit dan di bumi." (QS. Al-Jatsiyah: 37)

Ruku’ adalah salah satu gerakan shalat yang harus dilakukan kaum muslimin. Posisi ruku' merupakan posisi tertunduk, di mana seseorang menundukkan separuh badannya dalam keadaan setengah berdiri. Pada saat posisi ketertundukan seperti itulah kita dianjurkan membaca: “Subahaana Rabbiyal Adhiim”, Maha Suci Allah, Yang Maha Agung. Kita ulangi bacaan itu minimal tiga kali. Dengan cara seperti itu, diharapkan tidak saja posisi fisik yang tertunduk, tapi hati mushalli (orang yang solhat) juga ikut merunduk.

Ketika shalat usai dilaksanakan, saatnya bagi kaum muslimin meminta ampunan atau maghfirah. Saat itu, bacaan yang dianjurkan adalah: Astaghfirullahal Adhiim, Aku minta ampuanan Allah, Tuhan Yang Maha Agung. Lagi-lagi, kita minta Allah Yang Maha Agung, yang dengan keagungan-Nya bisa mengampuni dosa dan kesalahan kita, hamba-Nya yang hina.

Satu lagi yang telah mentradisi, setiap kali usia membaca Al-Qur’an, seorang Qaari menutup bacaannya dengan mengucapkan “Shadaqallahul-Adhiim”, yang artinya: “Maha Benar Allah, Yang Maha Agung. Al-Qur’an adalah bacaan agung, yang merupakan firman Allah Yang Maha Agung.

Kata “Adhim” pada dasarnya terambil dari kata a-dha-ma, yang berarti agung atau besar. Secara fisik, agung itu berarti besar, panjang, lebar, tinggi, sekaligus dalam. Ada yang bisa dijangkau dengan kasat mata, ada yang tidak. Gunung yang besar dan tinggi disebut agung karena kebesaran dan ketinggiannya, sekalipun masih dapat dijangkau oleh pandangan mata. Demikian juga binatang gajah disebut agung dibanding binatang lainnya karena fisiknya yang besar dan berat.

Di samping keagungan yang bersifat fisik atau materiel, ada juga keagungan yang bersifat immateriel, seperti keagungan perilaku atau akhlaq. Rasuullah saw dipuji oleh Allah karena akhlaqnya yang agung. Dia berfirman:

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah orang yang berakhlaq agung (mulia).” (Al-Qalam: 4) Semua keagungan makhluq Allah tetap terbatas, yang berarti terjangkau oleh akal. Hanya ada satu keagungan yang berada di atas semua jenis keagungan. Dialah Yang Maha Agung, Allah swt. Mata manusia tidak mampu memandang-Nya, dan akal manusia tidak dapat menjangkau hakekat wujud-Nya.

Allah Maha Agung karena keagungannya berada di atas segala yang agung, bahkan keagungan segala yang agung di dunia itu merupakan anugerah, kasih dan sayang-Nya. Allah Maha Agung, karena keagungan-Nya tak bertepi serta tidak dapat diukur dengan apa pun.

Allah Maha Agung karena akal manusia berlutut di hadapan-Nya. Jiwa manusia gemetar dan larut dalam cinta-Nya. Di hadapan-Nya semua wujud menjadi kecil dan tak berarti apa-apa. Semua makhluq membutuhkan pertolongan-Nya. Tiada suatu apa pun yang dapat menolak ketetapan-Nya.

Terhadap hal ini, Allah menegaskan melalaui firman-Nya dalam hadits Qudsyi: “Kebesaran adalah selendag-Ku, sedang Keagungan adalah pakian-Ku. Barangsiapa merampas salah satu (dari keduanya) Aku lempar dia ke neraka jahannam.” (HR. Abu Dawud).

Hadits di atas menegaskan dua hal. Pertama, kita harus senantiasa menyucikan nama-Nya dengan cara mengagungkan-Nya. Artinya, kita harus tetap meyakini bahwa tiada sedikit pun cela, kekurangan, dan sifat negatif pada Allah swt. Jika terbesit dalam hati kita keraguan tentang kesempurnaan Allah, maka kita harus segera beristighfar dan meminta ampunan-Nya.

Kedua, kebesaran dan keagungan itu hanya milik Allah. Dia-lah yang paling berhak menyandangnya. Sedangkan kita adalah makhluk-Nya yang hanya bisa menjadi agung dan mulia karena memuliakan-Nya, menjalankan syari’at-Nya, dan mengagungkan syia’ar-syi’ar-Nya. “Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.” (QS. Al-hajj: 32)

https://www.youtube.com/watch?v=ET3p9ecZU3s
 
34. Al Ghafur

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Kabarkan olehmu (Wahai Muhammad) kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hijr: 49) -


Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw melewati para sahabat yang sedang larut dalam tawa dan canda, lalu beliau menyalami mereka, kemudian bersabda: "Apakah kalian tertawa sedang neraka di hadapan kalian?" Atas nasihat tersebut, para sahabat menyesal atas perbuatannya dan mereka merasa sangat tertekan.

Tak lama kemudian Rasulullah saw kembali kepada mereka dan berkata, "Jibril baru saja mendatangi saya dan menyampaikan bahwa Allah bertanya, mengapa saya menjadikan sebagian hamba-Nya putus asa dari rahmat-Nya?" Setelah itu beliau membaca ayat di atas.

Kata “Al-Ghafur” berasal dari kata dasar gha-fa-ra, sama dengan “Al-Ghaffar” yang sama-sama merupakan nama sekaligus sifat Allah. Sebagian Ulama memberi arti yang sama terhadap keduanya, sebagian lagi menyatakan bahwa cakupan Al-Ghaffar lebih luas dan dalam dibanding Al-Ghafur, dan sebagian lagi sebagaimana pendapatnya Imam Al-Ghazali bahwa Al-Ghafur lebih sempurna dan menyeluruh pengampunannya.

Lepas dari perbedaan tersebut, al-Qur’an tak kurang dari 91 kali menyebut kata Al-Ghafur. Sebagian besar dirangkai dengan nama dan sifat Allah yang lain, sebagian sisanya berdiri sendiri. Dari sekian banyak ayat, kata Al-Ghafuur lebih banyak disandingkan dengan kata Ar-Rahim (tak kurang dari 70 kali). Hal itu memberi kesan bahwa sifat ghafur-Nya lebih merupakan derivasi dari sifat kasih dan sayang-Nya.

Betapa tidak! Allah memberi ampunan kepada setiap mukmin yang bertobat dan bersungguh-sungguh meminta ampunan-Nya. Allah berfirman:

"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shaleh, kemudian ia tetap mengikuti jalan (petunjuk) yang benar." (QS. Thaaha: 82)

Bahkan kepada mereka yang telah melampaui batas dan tidak serta merta meminta ampunan sekalipun, Dia tetap berlapang untuk mengampuninya.

"Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Tentu saja tetap ada batasnya, yaitu syirk. Untuk jenis dosa yang satu itu Allah tak akan memberi ampunan sampai yang bersangkutan bertobat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Allah berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirk) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisaa: 48)

Sebagai hamba-Nya Al-Ghafur, patut kita meneladani sifat tersebut dengan senantiasa berlapang dada, memberi maaf kepada mereka yang dengan sengaja maupun tidak sengaja telah melakukan kesalahan kepada kita. Kita tetap memberi maaf kepada mereka yang meminta maaf ataupun yang tidak, yang mengakui kesalahannya maupun yang tidak.

Dalam masalah yang satu ini Abu Bakar Ash-Shidiq patut diteladani. Bayangkan, ia tetap berlapang dada dan memberi maaf kepada orang yang telah memfitnah dan merusak nama baik keluarganya, padahal orang tersebut selama ini ditanggung segala kebutuhan hidupnya, termasuk sandang, papan, dan pangannya.

Pada awalnya ia marah, tersinggung, bahkan terlontar suatu sumpah untuk tidak lagi menafkahi orang tersebut, tapi ia segera membatalkannya. Atas sikapnya itu Allah menurunkan firman-Nya:

"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nuur: 22) -

anak-arnab-cute%202_zpsj5vvqina.jpg
 
35. As Syakur

Asy-Syakir (الشَّاكِرُ) adalah salah satu nama Allah l yang agung, al-Asma’ul Husna. Nama tersebut termaktub pada beberapa ayat dalam kitab suci al-Qur’an. Di samping itu, hadits Nabi-Nya yang mulia juga menyebutkan bahwa Allah l memiliki sifat tersebut.

Di dalam al-Qur’an juga disebutkan nama yang mulia, asy-Syakur (الشَّكُورُ):

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

[158]
Sesungguhnya “Safa” dan “Marwah” itu ialah sebahagian daripada Syiar (lambang) ugama Allah; maka sesiapa yang menunaikan ibadat Haji ke Baitullah atau mengerjakan Umrah, maka tiadalah menjadi salah ia bersaie (berjalan dengan berulang-alik) di antara keduanya. Dan sesiapa yang bersukarela mengerjakan perkara kebajikan, maka sesungguhnya Allah memberi balasan pahala, lagi Maha Mengetahui.


(al-Baqarah: 158)

“Dan Allah itu Syakur lagi Maha Penyantun.” (at-Taghabun: 17)

Kedua nama di atas sama-sama berasal dari kata asy-syukr (الشُّكْرُ). Kata asy-syukr itu sendiri berarti menyanjung seseorang atas kebaikan yang dilakukannya kepadamu. Dikatakan pula bahwa hakikat asy-syukr adalah ridha dengan sesuatu yang sedikit. (Mu’jam Maqayis al-Lughah karya Ibnu Faris)


Asy-Syaikh as-Sa’di menjelaskan, “Di antara nama Allah l adalah asy-Syakir dan asy Syakur. Maknanya, Allah l mensyukuri amalan sedikit yang ikhlas, bersih, bermanfaat, dan memaafkan banyak kesalahan, serta tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik. Bahkan, Allah l melipatgandakan pahalanya dengan jumlah yang banyak tanpa hitungan.

Di antara bentuk syukur Allah kepada hamba-Nya, Dia membalasi satu kebaikan dengan 10 kali lipatnya sampai 700 kali lipat, bahkan sampai kelipatan yang banyak. Bisa jadi, Allah l membalasi amalan seorang hamba dengan berbagai pahala yang disegerakan sebelum yang tertunda, padahal Allah l tidak terbebani kewajiban membalas atas amalan hamba-Nya. Akan tetapi, Allah l yang mewajibkan atas diri-Nya sendiri sebagai wujud kedermawanan dan kemurahan-Nya.

Allah l juga tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang beramal apabila mereka berbuat baik dalam amalan tersebut dan ikhlas. Karena itu, apabila seorang hamba melakukan perintah Allah l dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, Dia akan membantunya untuk itu, memujinya, dan menyanjungnya, serta memberinya ganjaran dengan cahaya, iman, dan kelonggaran pada kalbunya. Selain itu, Allah l juga akan memberikan balasan berupa kekuatan dan semangat dalam tubuhnya, tambahan keberkahan dalam segala keadaannya, dan tambahan taufik dalam hal perbuatannya. Setelahnya, Allah l memberikan pahala yang ditunda tersebut di sisi-Nya dalam keadaan lengkap, tidak terkurangi.

Di antara bentuk syukur Allah l kepada hamba-Nya, seseorang yang meninggalkan sesuatu karena Allah l maka Dia akan menggantikan yang lebih baik darinya….” (Tafsir Asma wa ash-Shifat)

Al-Hulaimi mengatakan, “Asy-Syakir maknanya adalah Dzat yang memuji orang yang menaati-Nya, yang menyanjung-Nya, dan memberi pahala atas ketaatannya, semata-mata karena karunia dari-Nya. Adapun asy-Syakur adalah Dzat yang syukurnya terus-menerus dan meliputi setiap orang yang taat, baik ketaatan yang kecil maupun yang besar.” (al-Asma wash Shifat karya al-Baihaqi)

Al-Harras mengatakan, “Nama Allah asy-Syakur terdapat bersamaan dengan nama Allah al-Ghafur dalam firman-Nya yang menceritakan ucapan penghuni surga:

Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dukacita dari kami. Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Fathir: 34)

Selain itu, nama tersebut juga didapati bersamaan dengan nama Allah al-Halim dalam firman-Nya:

“Dan Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun.” (at-Taghabun: 17)

Makna asy-Syakur adalah Dzat yang menerima amalan para hamba-Nya, meridhainya, dan mengganjarnya, bahkan melipatgandakannya dalam jumlah yang banyak sesuai dengan keikhlasan dan ketekunannya. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan (nya) dengan baik.” (al-Kahfi: 30)

Allah l telah mengumpamakan infak di jalan-Nya dengan sebuah biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai dan pada setiap tangkainya ada seratus biji. Lalu Allah l menyebutkan pada akhirnya:

“Allah melipatgandakannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (al-Baqarah: 261)

Firman-Nya di atas adalah pemberitahuan bahwa kelipatan tersebut bisa jadi melebihi ukuran tersebut, bagi siapa yang dikehendaki oleh Allah l. Dalam hadits yang sahih disebutkan, “Barang siapa yang menyedekahkan senilai satu butir kurma dari penghasilan yang baik—dan Allah tidak menerima selain yang baik—, Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya lalu mengembangkannya sebagaimana seseorang di antara kalian membesarkan anak kudanya hingga berkembang menjadi seperti gunung yang besar.”

Mahasuci Allah yang memberikan taufik-Nya kepada kaum mukminin untuk melakukan sesuatu yang Dia ridhai, lalu Dia mensyukurinya atas perbuatan tersebut dengan pahala-Nya yang bagus dan pemberian-Nya yang banyak, sebagai keutamaan yang murni dari-Nya, bukan kewajiban sebagai (timbal balik atas) amal seorang hamba. Bahkan, hal itu karena kewajiban yang Dia wajibkan atas diri-Nya sebagai wujud kemurahan dan kedermawanan-Nya. (Syarah Nuniyyah)

Buah Mengimani Nama Allah asy-Syakir

Mengimani nama Allah l tersebut akan semakin menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah l karena timbulnya kesadaran akan kebesaran karunia-Nya. Selain itu, beriman kepada nama Allah l tersebut akan menambahkan rasa syukur kita kepada-Nya karena amal kita yang sedikit akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah l, dengan syarat ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah n. Dengan keimanan kepada nama Allah itu, mestinya seseorang semakin taat kepada Allah l dalam rangka bersyukur kepada-Nya, karena orang yang bersyukur adalah yang membalas kebaikan dengan kebaikan.

Lihatlah bagaimana Nabi n bersyukur kepada Allah l atas karunia-Nya. Beliau semakin bersungguh-sungguh dalam hal ibadah hingga membengkak kakinya karena shalat malamnya. Saat Aisyah x, sang istri, muncul rasa belas kasihnya kepada beliau ketika melihat hal itu, dia pun bertanya, “Mengapa engkau melakukan demikian, padahal Allah l telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Tidakkah aku suka untuk menjadi hamba yang bersyukur?”

Wallahu a’lam.

duck_standing_on_another_duck_zpsgkztfifg.jpg
 
36. Al Aliy


سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى


Sucikanlah Nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. (QS. Al-A’la: 1) -

Kata Al-Aliy dalam Al-Qur’an terdapat sebelas kali, sembilan di antaranya merupakan Asma Allah yang dirangkai dengan Asma-Nya yang lain. Dirangkai dengan kata Al-Kabir sebanyak lima kali, dirangkai dengan Al-Adzim dua kali, dan disambungkan dengan kata Al-Hakim sebanyak dua kali.

Dalam Al-Qur’an juga ditemukan penggunaan bentuk superlatif dari kata Al-Aliy, yaitu Al-A’la (yang Lebih Tinggi) sebagaimana yang tercetak di awal tulisan ini. Bahkan Al-Qur’an juga mengabadikan klaim Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan Yang Lebih Tinggi, dengan kata-kata yang populer: Ana Robbukumul a’la. Hingga Allah merendahkan dan menghancurleburkannya.

Allah adalah Tuhan Yang Maha Tinggi (Al-Aliy). Dia mengalahkan dan menaklukkan seluruh yang ada, dan tak satu pun di antaranya yang mampu menolak titah dan ketentuan-Nya. Termasuk manusia yang kafir, boleh jadi mereka menentang Allah, tapi fisiknya pada akhirnya menyerah terhadap ketentuan-Nya. Mereka menjadi tua, lemah, sakit-sakitan, dan kemudian mati. Tak seorang manusia kafir pun yang dapat menepis ketentuan ini.

Apalagi makhluk yang lain, semua tunduk patuh, bahkan senantiasa bersujud kepada Allah, bertasbih. Al-Qur’an menyebutkan: “Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang. Gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar dari manusia? Dan banyak di antara manusia yang (tidak menjalani sujud) telah ditetapkan azabnya.” (QS. Al-Hajj: 18).

Sujud adalah simbolisasi dari “merendah” serendah-rendahnya. Pada posisi sujud, kepala atau kening kita yang menjadi simbol kehormatan dan kemuliaan kita justru langsung menyentuh bumi yang sehari-hari kita injak dan rendahkan. Itulah posisi terbaik kita sebagai hamba ketika berhadapan dengan Allah SWT. Itulah sebabnya, dalam posisi seperti itu, ketika solat, dianjurkan kepada kita untuk membaca: “Subhana rabbiyal a’la,” Maha Suci Tuhan Yang Maha Tinggi.

Sujud hanya boleh kita lakukan kepada Allah SWT. Kita tidak boleh sujud kepada siapa pun, dan kepada apa pun, karena Allah telah memuliakan kedudukan kita sebagai manusia. Kita adalah makhluk yang terhormat, mulia, lagi sempurna. Sangat naif jika kita bersembah diri kepada sesama manusia, apalagi kepada jin atau setan yang justru pernah diperintah Allah secara langsung bersujud kepada kita. Sungguh aneh jika ada orang yang takut, apalagi taat kepada jin dan setan.

“Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam, maka bersujudlah mereka semua, kecuali Iblis. Dia enggan dan sombong karenanya dia termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Kita adalah hamba Allah yang paling sempurna, karenanya kita harus meneladani sifat Allah, Al-Aliy dengan jalan menghiasi diri kita dengan himmah (ambisi positif) untuk meraih kemuliaan dan derajat yang tinggi. Caranya sederhana, lakukan hal-hal yang mulia dan bernilai tinggi, dan jauhi hal-hal yang rendah, remeh-temeh. Hidup kita hanya sekali, untuk itu yang sekali itu harus bernilai tinggi.

Untuk mencapai maqam yang tinggi, kita harus melewati aqabah (jalan mendaki), suatu jalan yang mengharuskan para pendakinya senantiasa tegar menghadapi goda dan teguh dalam cita-cita. Di setiap kelokan tak jarang dijumpai sorak-sorai yang merayu dan juga yang menakut-nakuti. Hanya pendaki istiqamah yang tetap sabar meniti pendakian hingga mencapai kemuliaan, ketinggian, sekaligus kebahagiaan dunia dan akherat.

grape_zpskqgsv1tl.jpg
 
37. Al Kabiir

Ibadah yang paling sering dilakukan kaum muslimin adalah shalat. Dalam shalat itu terdapat beberapa kalimat yang harus diucapkan dan gerakan yang harus dilakukan. Di setiap perubahan gerakan selalu diantarai dengan takbir (bacaan Allahu Akbar sambil mengangkat kedua tangan).

Ketika seorang Muslim sudah takbir (membesarkan nama Allah), maka pikiran, perasaan, dan gerakan fisiknya hanya tertuju kepada Allah. Ia berdiri dengan posisi menghormat, rukuk dengan posisi merunduk, dan sujud, berserah diri secara total kepada Allah. Dalam keadaan seperti itu, panggilan siapapun tak boleh dihiraukan. Termasuk panggilan boss atau atasan, panggilan orangtua, panggilan HP atau telepon. Ia hanya peduli pada panggilan Allah SWT hingga salam.

Membesarkan nama Allah seharusnya tidak hanya dalam shalat. Kapan dan di manapun setiap manusia harus senantiasa membesarkan-Nya. Panggilan-Nya-lah yang harus diutamakan untuk didengar dibanding dengan panggilan siapapun. Aturan (syari’ah)-Nya-lah yang seharusnya lebih ditaati daripada semua aturan yang ada. Hanya Dia yang Maha Besar.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ



”(Kuasa Allah) yang demikian itu, karena sesunguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil (sia-sia), dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar”. Al-Hajj: 62)

Kaum Muslim yang menjalankan ibadah haji terlebih dahulu harus menanggalkan seluruh pakaian kebesarannya dan menggantinya dengan dua helai kain putih tak berjahit (ihram), lalu berseru kepada Allah dengan kalimat talbiyah, labbaikallahumma labbaik. Kami penuhi panggilan-Mu ya Allah, dan hanya panggilan-Mu yang kami penuhi. Tiada yang bersekutu dengan-Mu.

Kebesaran Allah tak bertambah sedikitpun dengan takbir kita, demikian juga sebaliknya, kebesaran-Nya tak berkurang sekalipun semua makhluq-Nya tiada yang membesarkan-Nya. Kita takbir (membesarkan-Nya), karena kita butuh kepada-Nya. Kita bertakbir, karena kita ingin membesarkan jiwa kita dengan membebaskan diri dari semua oknum yang mengaku ”besar” atau justru kita ”besar-besarkan”. Hanya dengan takbir kita terbebas dari segala belenggu kejiwaan yang selama ini mengungkung kita.

Allah tak perlu takbir kita, sebab Dia memang Mahabesar. Sang Penyandangnya (Al-Kabir) tidak membutuhkan pihak lain dalam segala hal, mulai dari yang kecil hingga yang paling besar. Justru semua pihak tak terkecuali membutuhkan-Nya, karena semua diciptakan hanya untuk bergantung kepada-Nya.

Allah Mahabesar karena Dia abadi, tiada awal dan tiada akhir. Adapun semua makhluk-Nya diciptakan dalam batasan waktu. Ada awal dan ada akhirnya. Ada proses awal keberadaannnya dan akan berakhir dengan kepunahannya. Ada kelahiran dan ada kematiannya.

Dia Mahabesar, karena keberadaannya merupakan sumber terpancarnya semua makhluk. Dialah yang merupakan sumber keberadaan semua makhluk. Dia wajibul wujud (keberadaaa-Nya wajib), sedang manusia dan semua makhluk yang ada lebih pantas disebut mumkinul wujud (keberaannya hanya sebatas mungkin). Semua manusia boleh ada dan boleh juga tidak ada. Ketiadaannya tidak menjadikan yang lain menjadi tidak ada.

Dalam al-Qur’an ada beberapa figur yang mengaku ”Besar”, di antaranya adalah Qarun yang karena kepemilikannya terhadap harta, menjadikannya sombong. Dengan arogan ia mengkalim bahwa harta miliknya merupakan hasil usaha dan ilmu yang dimilikinya.

Figur lain yang tak kalah sombongnya adalah Namrud dan Fir’aun. Keduanya dihinakan oleh Allah dengan kematian yang mengenaskan.

Allah membenci setiap manusia yang merasa besar dan menyombongkan diri. Allah berfirman:

”Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih”. (An-Nisaa: 173)

”Negeri akherat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi”. (Al-Qashash: 83) -

https://www.youtube.com/watch?v=Aycqg9Pp4dM
 
38. Al Hafidz

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah Al-Hafiizh (الْحَفِيظُ) dan Al-Haafizh (الْحَافِطُ), sebagaimana dalam firman-Nya:

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَيْكُمْ ۚ وَيَسْتَخْلِفُ رَبِّي قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّونَهُ شَيْئًا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ

[57]
Dalam pada itu, jika kamu membelakangkan juga seruanku, maka tidaklah menjadi hal kepadaku kerana aku telah sampaikan kepada kamu apa yang telah diutus oleh Allah untuk menyampaikannya, dan Tuhanku akan menggantikan kamu dengan suatu kaum yang lain (setelah kamu dibinasakan); dan kamu pula tidak akan dapat membahayakanNya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengawal dan Pemulihara tiap-tiap sesuatu.”

(Hud: 57)

“Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf: 64)
Adapun maknanya sebagaimana dijelaskan oleh Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras dalam Syarh Nuniyyah Ibnul Qayyim t:

Di antara nama-nama Allah l adalah Al-Hafiizh. Nama ini memiliki dua makna:

Salah satunya, bahwa Dia menjaga/memelihara apa yang dilakukan oleh hamba-Nya berupa amal baik atau amal buruk, yang ma’ruf atau yang mungkar, taat atau maksiat. Tidak ada yang terlewatkan sedikitpun dari-Nya walaupun seberat semut kecil. Pemeliharaan Allah l terhadap amal mereka ini bermakna menghitungnya dengan tepat. Berarti ilmu Allah l meliputi segala amal mereka, lahir maupun batin, dan Allah l telah menulisnya dalam Lauhul Mahfuzh, sebelum menciptakannya, bahkan sebelum menciptakan langit-langit dan bumi. Allah l juga telah menugaskan para malaikat penjaga untuk mengurusinya, para malaikat mulia yang menulis dan mengetahui apa yang mereka lakukan. Allah l berfirman:


“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Yasin: 12)

dan berfirman:

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Mujadalah: 6)

Allah l juga berfirman:

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang juapun’.” (Al-Kahfi: 49)

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (Al-Qamar: 52, 53)

Makna penjagaan Allah l yang seperti ini berkonsekuensi bahwa ilmu Allah l meliputi segala keadaan hamba-hamba-Nya lahir maupun batin, dan bahwa itu telah tertulis di Lauhul Mahfuzh juga pada lembaran-lembaran yang berada pada tangan para malaikat. Sebagaimana ini juga berarti bahwa Allah l mengetahui ukuran amal mereka sempurna atau kurangnya, serta ukuran balasannya baik pahala atau hukuman, lalu Allah l akan membalasi mereka dengan keutamaan dan keadilan-Nya.

Makna yang kedua, bahwa Allah l adalah Al-Haafizh, yakni Yang menjaga hamba-hamba-Nya dari segala hal yang tidak mereka sukai. Ibnul Qayyim t mengisyaratkan makna ini dengan ucapannya, ‘Dan Dialah yang menjamin untuk menjaga mereka dari segala hal yang memberatkan dan tidak disukai.’

Penjagaan Allah l dalam hal ini ada dua macam, bersifat umum dan bersifat khusus. Yang bersifat umum adalah penjagaan-Nya terhadap seluruh makhluk, yaitu Allah l mudahkan makhluk untuk mendapatkan sesuatu yang melindunginya dan menjaga tubuhnya, serta memberikan ilham kepadanya untuk segala urusannya serta berusaha untuk memperbaikinya masing-masing sesuai dengan kondisi fisiknya, seperti dalam firman-Nya:

“Musa berkata: ‘Rabb kami ialah Dzat yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk’.” (Thaha: 50)

Yakni memberikan petunjuk kepada seluruh makhluk untuk menuju kepada apa yang telah ditentukan atasnya berupa kebutuhan yang pokok atau kebutuhan penunjangnya. Allah l juga memberikan kepadanya sarana dan alat yang dengannya ia mampu untuk mendapatkan makan dan minumnya serta kebutuhan nikahnya. Juga kemampuan untuk berusaha menuju kepadanya. Tanpa diragukan, hal ini berlaku atas orang yang baik maupun yang jelek, bahkan juga hewan dan yang lainnya. Dialah yang menahan langit-langit dan bumi agar tidak bergeser. Dia pula yang menjaga seluruh makhluk dengan nikmat-nikmat-Nya. Dia pula yang menugaskan para malaikat penjaga –yang menjaga baik dari depan maupun dari belakang– untuk menjaga anak Adam. Semuanya itu dengan perintah Allah l. Maksudnya malaikat tersebut menjaga manusia dari hal yang mencelakakannya, dan gangguan-gangguan yang tidak Allah l takdirkan menimpanya, yang semestinya akan mengenainya kalaulah bukan karena penjagaan Allah l.

Macam kedua, penjagaan Allah l yang khusus untuk para wali-Nya. Penjagaan yang lebih dari apa yang telah disebutkan. Yaitu, Allah l menjaga mereka dari sesuatu yang mencelakakan keimanan mereka atau menggoyahkan keyakinan mereka, berupa berbagai godaan dan syubhat ataupun syahwat. Sehingga Allah l selamatkan mereka darinya dan Allah l keluarkan dari semuanya itu dengan terjaga dan sejahtera. Juga Allah l menjaga mereka dari musuh-musuh mereka dari kalangan jin maupun manusia, sehingga Allah l menangkan mereka atas musuh-musuh, serta Allah l selamatkan dari tipu daya mereka. Allah l berfirman:

“Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (Al-Hajj: 78)

Ini berlaku umum dalam hal menjaga dari segala yang akan mencelakakan mereka baik dalam urusan dunia maupun agama.

Maka sebanding dengan keimanan yang dimiliki seorang hamba, Allah l akan memberikan penjagaan-Nya terhadapnya dengan kelembutan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih dari hadits Ibnu Abbas c:

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah (hukum-hukum) Allah niscaya akan menjagamu, jagalah (hukum-hukum) Allah niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu.” (Syarh Al-Qashidah An-Nuniyyah, 2/90-91)

Buah Mengimani Nama Al-Hafiizh dan Al-Haafizh

Dengan mengimaninya, seseorang akan mengetahui keluasan ilmu Allah l dan ketelitian-Nya. Tidak ada satu perbuatanpun yang luput dari ilmu Allah l. Semuanya tertulis dan terjaga, untuk dipertanggungjawabkan oleh manusia kelak di hadapan-Nya. Atas dasar itu maka setiap insan harus berhati-hati dalam berbuat dan bertutur kata, tak ada yang luput dari catatan-Nya.
Sebagaimana dengan mengimani nama tersebut kita mengetahui karunia Allah l yang begitu besar kepada seluruh makhluk-Nya, di mana Allah l menjaga mereka dari segala marabahaya. Kalaulah bukan karena penjagaan-Nya tentu berbagai macam malapetaka akan menimpa, kecuali bila takdir telah datang maka malaikat pun menyingkir tidak menjaga dari musibahnya.

Juga terkhusus karunia Allah l kepada orang yang beriman dan bertakwa, lebih besar dari makhluk lain pada umumnya. Karena bukan hanya urusan dunia yang Allah l jaga namun juga mencakup agama dan keimanannya. Tentu ini menuntut kita untuk bersyukur kepada-Nya, Al-Hafiizh l.

Wallahu a’lam.

Hawaii%20Beaches-25_zpshqsv3nmm.jpg
 
39. Al Muqit

Al-Muqiit, Yang Maha Memberi Kekuatan

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا


"Barangsiapa yang memberikan syafa’at dengan syafa’at yang baik, niscaya ia akan mendapatkan bagian (pahala) daripadanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at dengan syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) daripadanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. An-Nisaa: 85)

Al-Muqiit didapati dalam al-Qur’an hanya dalam satu ayat, sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Sebagian Ahli tafsir menyebutkan bahwa kata tersebut sebagai turunan dari akar kata benda “qut” yang berarti makanan. Menurut pemahaman ini, Al-Muqiit hampir sama dengan Ar-Razzaq. Bedanya, Ar-Razzaq lebih menunjuk pada berulangnya pemberian rizki yang dikaruniakan pada makhluk-Nya, sedangkan Al-Muqiit lebih pada penjaminannya.

Allah, Al-Muqiit tidak saja menciptakan kehidupan, tapi juga menciptakan berbagai sarana kehidupan untuk semua makhluk-Nya. Dia menciptakan kemudahan-kemudahan bagi semua makhluk untuk mendapatkan akses ke sarana-sarana rizki yang telah disediakan.

"Dia (Allah) yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjuru." (QS. Al-Mulk: 15)

Jaminan Allah berupa rizki tak hanya diberikan kepada mereka yang dewasa dan normal saja, bahkan kepada yang cacat sekalipun rizkinya telah dijamin. Dia berfirman:

“Dan tiada makhluk melatapun di muka bumi kecuali Allah telah menjamin rizkinya." (QS. Huud: 6)

Apalagi untuk makhluk-Nya yang unggul dan pilihan, yang bernama manusia. Mereka bahkan dijadikan sebagai penguasa-penguasa di muka bumi.

“Dia telah menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi”. (QS. Huud: 165)

Al-Muqiit tak hanya mencipta dan memberi kehidupan, tapi Dia sekaligus memberi jaminan (guarantee) akan kelangsungan hidup itu sendiri. Diberinya setiap makhluk segenap potensi, jalan, dan kemudahan untuk mengakses semua rizki yang telah menjadi jatahnya.

Rizki yang diberikan kepada manusia tak hanya berupa makanan, tapi juga ilmu. Jika makanan merupakan konsumsi jasad, maka ilmu merupakan konsumsi akal dan hati. Dengan rizki ilmu manusia dapat melipatgandakan potensinya sehingga tugas-tugas kekhalifahan di muka bumi dapat diembannya dengan baik. Seperti diketahui bahwa kehadiran manusia di muka bumi adalah sebagai pemakmur.

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya”. (QS. Huud: 61)

Seorang Mukmin yang menghayati nama Allah “Al-Muqiit” akan bangkit semangatnya, tumbuh motivasinya, dan lahir jiwa optimisnya. Mereka tak pernah ragu menjalani kehidupan yang tampak berat dan penuh rintangan, sebab di balik semua ujian itu terdapat garansi dari Allah. Mereka tak gentar menghadapi berbagai cobaan, sebab di balik semua kesulitan pasti ada kemudahan. Di balik penderitaan pasti ada kebahagiaan. Di balik tangis pasti ada senyuman.

Asma Allah Al-Muqiit ini mengharamkan kita untuk berkeluh kesah, meratapi nasib, dan berputus asa. Kita tidak boleh tunduk di bawah kaki kehidupan, tapi kita justru harus menaklukkan kerasnya kehidupan. Kita harus menjadi pemenang, bukan pecundang. Semua sudah disiapkan Allah, jalannya sudah dibentangkan, caranya sudah ditunjukkan. Tinggal kita, mau melangkah atau berhenti di tengah jalan.

Di akhir tulisan ini, ada baiknya kita renungkan puisi Muhammad Iqbal:

Engkau menciptakan malam, dan aku yang membuat pelita
Engkau menciptakan tanah liat, dan aku yang membuat piala
Engkau menciptakan sahara, gunung-gunung dan hutan belantara,
Dan aku yang membuat kebun anggur, taman-taman
akulah yang mengubah batu menjadi cermin
akulah yang mengubah racun menjadi obat penawar

vegetables-clip-art_zpss35ozzvc.jpg
 
40. Al Hasib

Assalamu'alaikum. Marilah sama-sama kita memuji dan memuja Allah SWT atas segala limpahan kurniaNya yang begitu banyak memberikan kita kenikmatan sehingga tidak mampu kita menghitungnya. Selawat dan salam buat Junjungan Mulia, Rasul tercinta, Muhammad SAW serta keluarga, para sahabat dan orang-orang yang istiqamah mengikuti Baginda.

Di bawah ini ditulis maksud ayat-ayat al-Quran yang ada menyebut kalimah al-Hasib . Al-Hasib terambil daripada huruf ha' sin dan ba' dan daripada segi bahasa bermakna menghitung (mengira), mencukupkan, melindungi / menolong. Juga bermaksud penyakit yang menyebabkan kulit berwarna putih/ sopak. Juga bermakna bantal kecil. Kedua-dua makna ini tidak berkaitan dengan sifat-sifat Allah SWT.

Hasib yang merujuk kepada manusia:

Allah berfirman:


اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا


(Lalu Kami perintahkan kepadanya): Bacalah Kitab (suratan amalmu), cukuplah engkau sendiri pada hari ini menjadi penghitung terhadap dirimu (tentang segala yang telah engkau lakukan). (al-Israk [17] : 14)

Bermaksud; Ambillah buku ini, buku yang mencatat segala amalan kamu semasa berada di dunia, lihatlah! dan kamu sendiri akan dapat menhitung. Ketika itu manusia disuruh untuk membaca sendiri atau meneliti sendiri sebab Allah berfirman: "Bacalah Kitab (suratan amalmu), cukuplah engkau sendiri pada hari ini menjadi penghitung terhadap dirimu (tentang segala yang telah engkau lakukan)". Ketika ini manusia akan tahu ke mana dia akan tuju, syurga atau neraka?.

Pada peringkat pertama Allah berfirman :

(Patutkah dia bersikap demikian?) Tidakkah dia mengetahui (bagaimana keadaan) ketika dibongkarkan segala yang ada dalam kubur? (Al-'Aadiyaat [100] : 9)

Tidakkah dia mengetahui (bagaimana keadaan) ketika dibongkarkan segala yang ada dalam kubur? Manusia akan dikeluarkan dan akan dicari amalan hatta sekecil-kecil amalan (bak polis selongkar bukti, mesti digeledah untuk mendapatkan bukti tersebut, jika barang besar tak perlu digeledah lagi).

Peringkat kedua Allah berfirman:

Dan dikumpul serta didedahkan segala yang terpendam dalam dada? Sesungguhnya Tuhan mereka Maha Mengetahui dengan mendalam tentang (balasan yang diberikanNya kepada) mereka pada hari itu. (Al-'Aadiyaat [100] : 10 - 11)

Segala amalan dicari dan dikumpulkan sehingga tidak ada lagi amalan yang tertinggal, semuanya tercatat. Amalan digredkan dan dikumpulkan mengikut kategori. Kita boleh bayangkan bagaimana barang2 yang digredkan sebagai gred A, B dan seterusnya. Setelah itu barulah diserahkan kitab amalan untuk dibaca dan dihitung, Jadi mudahlah manusia menghitungnya, sebab Allah berfirman;

"cukuplah engkau sendiri pada hari ini menjadi penghitung terhadap dirimu (tentang segala yang telah engkau lakukan".

Sebagai Nama Allah:

Pertama:

Dan ujilah anak-anak yatim itu (sebelum baligh) sehingga mereka cukup umur (dewasa). Kemudian jika kamu nampak daripada keadaan mereka (tanda-tanda yang menunjukkan bahawa mereka) telah cerdik dan berkebolehan menjaga hartanya, maka serahkanlah kepada mereka hartanya dan janganlah kamu makan harta anak-anak yatim itu secara yang melampaui batas dan secara terburu-buru (merebut peluang) sebelum mereka dewasa dan sesiapa (di antara penjaga harta anak-anak yatim itu) yang kaya maka hendaklah dia menahan diri (dari pada memakannya) dan sesiapa yang miskin maka bolehlah dia memakannya dengan cara yang sepatutnya. Kemudian apabila kamu menyerahkan kepada mereka hartanya, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (yang menyaksikan penerimaan) mereka dan cukuplah Allah sebagai Penghitung (akan segala yang kamu lakukan). (An-Nisaa [4] : 6).

Allah mengingatkan bahawa DIA Hasib. Jadi kepada sesiapa yang terlibat dengan penjagaan harta anak-anak yatim, kena betul-betul buat kira-kira (akaun) sejak mula menjaga dan semasa menyerahkan semula harta yang dijaganya. Jangan cuba-cuba hendak menginayai /zalim (menipu), Allah ingatkan AKU ini akan hitung semula; jika kamu berlaku adil Aku akan mencukupkan. Jika tidak AKU akan memberi balasan setimpal.

Kedua:

(Nabi-nabi yang telah lalu itu) ialah orang-orang yang menyampaikan syariat Allah serta mereka takut melanggar perintahNya dan mereka pula tidak takut kepada sesiapa pun melainkan kepada Allah dan cukuplah Allah menjadi Penghitung (segala yang dilakukan oleh makhluk-makhlukNya untuk membalas mereka). (Al-Ahzab [33] : 39)

Jika tadi ditujukan kepada amanah terhadap anak-anak yatim, ayat di atas ini pula ditujukan kepada penyampai risalah Allah, penyeru kepada kebaikan. Mereka tidak takut selain Allah kerana mereka sedar Allah sahajalah yang mencukupkan, menghitung. Jadi mereka akan sampaikan segala kebenaran biarpun tertindas. Ayat ini juga boleh ditujukan kepada pemegang amanah yang lainnya; Apabila takut kepada Allah mereka tidak berani memanipulasi hitungan, jika 10 mereka tidak akan jadikan 6 sedangkan Allah Maha Menghitung. Orang-orang yang tidak menghitung dengan tepat ini mereka tidak menyedari bahawa Allah Maha Mencukupkan dan Maha Menghitung akan beri lebih jika mereka amanah.

Jika mereka tidak amanah balasan azab yang setimpal menanti mereka. Mohon dilindungkan kita daripada berbuat demikian.

Ketiga:

Allah berfirman: "Mereka juga ialah yang diberitahu oleh orang-orang (pembawa berita) kepada mereka: Bahawa kaum (kafir musyrik) telah mengumpulkan tentera untuk memerangi kamu, oleh itu hendaklah kamu gerun kepadanya. Maka berita itu makin menambahkan iman mereka lalu berkata: Cukuplah Allah untuk (menolong) kami dan Dia sebaik-baik pelindung (yang terserah kepadaNya segala urusan kami)". (Ali Imran [3] : 173)

Kisah dalam peperangan ini; orang-orang yang beriman tidak gentar biarpun mereka tahu orang-orang kafir musuh mereka bilangannya ramai. Mereka tidak gerun kerana mereka ada Allah yang akan menolong, mencukupkan dan melindungi mereka. Dalam kehidupan jika kita yakin Allah Maha Menghitung, Maha Mencukupkan, Maha Menolong, Maha memberi Rezeki dan Maha segala-galanya kita tidak perlu khuatir, kerana jika kita jahil Allah akan pandaikan kita, jika kita sakit Allah akan sembuhkan, sebab Allah ada segala-galanya. Kita perlukan hasanah fid dunia dan hasanah fil akhirat, jadi kita kena yakin Allah al-Hasib tidak akan membiarkan kita kecewa.

Jika kita telusuri kisah ibu Nabi Musa as yang Allah ilhamkan supaya hanyutkan putera kesayanganNya, dia menyerah kepada al-Hasib dan dia hampir-hampir ingin mendedahkan rahsia, namun kekuatan rohaninya meyakinkan bahawa Allahlah pelindung, akhirnya Nabi Musa as hidup di istana. Ibunya pula menyusukannya dan diberi upah pula. Kisah ini boleh dibaca dalam surah al-Qasas mulai ayat 7 hingga ayat 28.

Mudah2an memberi manfaat.

https://www.youtube.com/watch?v=1d3c4YefoPg
 
41. Al Jalil

Allah dengan sifatnya yang mulia mengajarkan kepada hamba-Nya agar memiliki sifat demikian, yaitu sifat mendekati kepada sifat-sifat Allah sehingga kepribadian hamba itu mulia, baik dan luhur di hadapan hamba lainnya. Al Jaliil adalah sifat Allah yang Maha Luhur, yang mempunyai keluhuran, kebaikan, kebesaran dan kemuliaan;

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ


”Semua yang ada di bumi itu akan binasa. dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai keluhuran dan kemuliaan.” [Ar Rahman 55;26-27]

Keluhuran Allah nampak kepada hamba-Nya yang dicurahkan karunia dan rahmat-Nya sejak dari kejadian langit dan bumi hingga penciptaan manusia yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas hidup termasuk rezeki yang menopang kehidupan manusia;
”dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya). di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang, dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”[Ar Rahman 55;10-18]

Dia yang mendengar doa dan munajad hamba-Nya yang kadangkala doa itu dikabulkan manusia melupakan semua nikmat yang sudah diberikan itu, Allahpun memberikan kekuasaan kepada manusia dengan maksud untuk memakmurkan dunia ini dengan keadilan;
”Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya) atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di dataran dan lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar".[An Naml 27;62-64]

Begitu luhur dan mulianya Allah kepada hamba-Nya yang memberikan karunia kepada seluruh manusia, bahkan dikala Allah menyampaikan maksud untuk menciptakan manusia kepada malaikat, sebenarnya malaikat tidak setuju karena selama ini makhluk yang diciptakan sebelum manusia perbuatannya selalu membuat kerusakan dan menumpahkan darah, malaikat khawatir akan terjadi hal demikian lagi, tapi Allah yang Maha Luhur menciptakan makhluk baru ini juga dengan kepribadian yang luhur, protes malaikat tidak membuat Allah marah tapi disikapi kesantunan;
”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."[Al Baqarah 2;30].

Dengan kasih sayang-Nya Allah memberikan ilmu kepada Adam agar memiliki pengetahuan yang lebih dari malaikat, sehingga protes malaikat tidak terbukti dan akhirnya terjawab argumentasi yang disampaikan Allah;
”Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”[Al Baqarah 2;31-32].

Dalam surat Al An'am 6;151-152 Allah menerangkan sebanyak sebelas pesan-Nya untuk hamba dalam rangka mengokohkan ketauhidan seorang muslim, agar menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat merusak kepribadian sehingga derajat taqwa dapat diraih, ini merupakan akhlak luhur yang diajarkan kepada hamba-Nya agar hidup harmonis di dunia dan baik ke akheratnya;
"Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu:
1.janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,
2.berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa,
3.dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu Karena takut kemiskinan
4.kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka,
5.dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang
nampak di antaranya maupun yang tersembunyi,
6.dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya)
melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". demikian itu yang diperintahkan
kepadamu supaya kamu memahami(nya).
7.Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang
lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.
8.dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.
9.kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar
kesanggupannya.
10.dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia
adalah kerabat(mu),
11.dan penuhilah janji Allah. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar
kamu ingat.

Sebelas akhlak luhur tersebut dapat kita bahas satu persatu dalam rangka menambah pengetahuan dan meningkatkan kualitas kemusliman kita hendaknya;

1.janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,
Sejak awal kenabian Muhammad bahkan dari Nabi Adam As, sudah disampaikan dan diperjuangkan agar ummat ini mempersihkan pengabdiannya hanya kepada Allah semata, mentauhidkan Allah dan menjauhkan diri dari perbuatan syirik yang dapat merusak iman. Demikian pentingnya aqidah yang bersih, iman yang baik sampai Lukman menempatkan pendidikan kepada anaknya pendidikan aqidah terlebih dahulu sebagaimana firman Allah dalam surat Lukman 31;13

"Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

2.berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa,
Orang yang paling berjasa dalam hidup ini selain Allah sebagai Khaliq adalah orangtua yang memfasilitasi sehingga kita bisa hadir di dunia dalam kondisi baik, kita kandung selama sembilan bulan lebih kemudian diasuh dengan segala suka dan duka tanpa mengeluh, semua itu agar sang anak hidup dan selamat, sehingga wajar bila Allah menempatkan orangtua lebih awal dibandingkan dengan manusia lainnya. Firman Allah dalam surat Lukman 31;14

" Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu"

3.dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu Karena takut kemiskinan
Allah menuntut agar orangtua untuk menjaga anak dengan baik semampunya karena membesarkan anak juga merupakan bentuk jihad lain untuk menciptakan anak-anak yang berkualitas. Firman Allah dalam surat An Nisa' 4;9

''Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar''

4.kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka,
Keimanan kepada kalimat tauhid yang berbunyi,”Laa Ilaaha Illallah” mengandung salah sat u makna yaitu “Laa Raaziqu Illallah” artinya tidak ada Pemberi rezeki kecuali Allah.

Namun rezeki tersebut tidaklah turun dari langit dengan demikian saja tanpa usaha, usaha itu menunjang untuk dapatnya rezeki dari Allah, firman-Nya dalam beberapa ayat menerangkan;

"Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh".[Adz Dzariyat 51;57-58]

5.dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi,
Sikap seorang mukmin terhadap Allah adalah rela menjadikan dirinya sebagai hamba yang wajib mengabdikan seluruh potensi hidupnya hanya kepada-Nya [Adz Dzariat 51;56],

Terhadap manusia sikap seorang mukmin adalah bermuamalah yaitu menjalin hubungan sosial dengan siapapun tanpa mengorbankan aqidah dan mencemari tauhid [Ali Imran 3;112]
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas”

6.dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar".
Seorang mukmin dilarang membunuh tanpa alasan yang tepat seperti dalam peperangan, itu dibolehkan, tapi pembunuhan selain yang diperintahkan maka berdosalah pelakunya. Rasulullah menyatakan bahwa bila ada seorang muslim membunuh saudaranya tanpa alasan yang dapat dibenarkan syara' maka haram baginya untuk masuk syurga". Firman Allah dalam surat An Nisa' 4;93

"Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya"

7.Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.
Mendekati harta anak yatim adalah sikap yang tidak terpuji apalagi menguras harta itu untuk kepentingan yang salah, anak yatim harus dijaga dan disantuni, bila kita tidak mampu untuk membantu mereka dengan marteri maka menjaga hartanya sudah cukup terpuji. Firman Allah dalam surat Adh Dhuha 93;9

"Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang"

8.dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.
Dalam kehidupan muamalah kita harus belaku baik termasuk dalam menakar, mengukur dan menimbang harus sempurna, sesuai dengan takaran yang ada agar hidup kita selamat dunia dana akherat, Firman Allah dalam surat Al Muthafifin 83;1-6

"1. Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, 2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, 3. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. 4. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, 5. Pada suatu hari yang besar, 6. (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?".

9.kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya.
Sesuai dengan do'a hamba kepada Allahdalamsurat Al Baqarah 2;286 bahwa hamba pun tidak sanggup menerima ujian diluar kemampuannya;

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulahpenolong kami, Makatolonglah kami terhadapkaum yang kafir."

10.dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu),
Keadilan harus tegak pada seluruh posisi kehidupan manusia, sejak dari pribadi, keluarga, masyarakat hingga level negara, barulah hidup manusia itu akan aman.

Firman Allahdalamsurat Al Maidah 5;8

'"Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan"

11.dan penuhilah janji Allah
Sejak berada di alam rahim seorang ibu, manusia sudah berjanji untuk taat dan patuh hanya kepada Allah yang akan dijadikan sebagai Tuhan dan hanya kepada-Nya saja menyembahkan diri;

" Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)",[Al A'raf 7;172].

Orang yang beribadah kepada Allah adalah orang yang mengerti dengan janjinya dahulu, yang janji itu harus ditunaikan dengan sebaiknya, bila tidak tentu ada konsekwensi yang akan diterimanya kelak.

Allah Al Jaliil, Yang Maha Luhur, Engkau memperlakukan makhuk atau hamba-Mu dengan santun, baik, lemah lembut lagi luhur, tiada dapat kami membalas semua kebaikan yang telah Engkau berikan kepada kami, ajarilah kami ya Allah bagaimana cara bersyukur yang baik, janganlah kami disiksa karena kami lalai atau lupa untuk mensyukuri segala nikmat-Mu.

Allah Yang Maha Luhur, tunjuki kami akhlak yang luhur kepada hamba lainnya dalam mengamalkan keluhuran yang telah Engkau ajarkan dalam kehidupan ini, tanpa keluhuran-Mu maka mustahil kami dapat menerima nikmat yang demikian banyak sehingga kami tidak mampu untuk menghitungnya, Wallahu a’lam

animal-animals-funawake.com-5_zpsnegt9wz1.jpg
 
42. Al Karim

Secara bahasa, al-karim mempunyai arti Yang Maha Mulia, Yang Maha Dermawan atau Yang Maha Pemurah. Secara istilah, al-karim diartikan bahwa allah SWT Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah yang memberi anugrah atau rezeki kepada semua makhluk-Nya. Dapat pula dimaknai sebagai Zat yang sangat banyak memiliki kebaikan, Maha Pemurah, Pemberi Nikmat dan Keutamaan, baik ketika diminta maupun tidak.

Hal tersebut sesuai dengan firmanya : Q.S al-infitar : 6

يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ


Artinya : “Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah?

Al Karim ialah Dzat yang banyak memberi dan berbuat baik tanpa diminta. Berbeda dengan As-Sakhiy (dermawan) yang suka memberi karena diminta. Atas dasar inilah, Allah memberikan nama-Nya dengan Al-Karim, bukan As-Sakhiy. Ada pendapat lain mengatakan, bahwa Al-Karim artinya ialah jika mampu membalas, ia justru memaafkan; jika berjanji, ia menepati; dan jika memberi, ia melebihi apa yang diharapkan, tidak peduli berapa banyak ia memberi dan kepada siapa ia memberi. Jika timbul kebutuhan kepada selainnya, ia tidak rela. Dia tidak menyia-nyiakan orang yang berlindung atau menyerahkan diri kepadanya, dan dicukupkannya orang itu dari perantara dan pembela lain. Tidak ada yang memiliki sifat-sifat ini selain Allah SWT. Nama ini memberi pengertian istimewa tentang Allah SWT Al-Karim bermaksud:

Allah SWT Maha Pemurah.

Allah SWT memberi tanpa diminta.

Allah SWT memberi sebelum diminta.

Allah SWT memberi apabila diminta.

Allah SWT memberi bukan kerana permintaan, tetapi cukup sekadar harapan, cita-cita dan angan-angan hamba-hamba-Nya. Dia tidak mengecewakan harapan mereka.

Allah SWT memberi lebih baik daripada apa yang diminta dan diharapkan oleh para hamba-Nya.

Allah Yang Maha Pemurah tidak kedekut dalam pemberian-Nya. Tidak dikira berapa banyak diberi-Nya dan kepada siapa Dia memberi.

Paling penting, demi kebaikan hamba-Nya sendiri, Allah SWT memberi dengan bijaksana, dengan cara yang paling baik, masa yang paling sesuai dan paling bermanafaat kepada si hamba yang menerimanya

. Dengan memahami makna nama Allah Al-Kariim akan menumbuhkan sifat-sifat yang mulia dalam diri seorang muslim, di antaranya :


Menanamkan sifat mulia dalam diri seorang muslim, karena Allah Mahamulia mencintai orang yang bersifat mulia.

Menanamkan sifat pemurah dalam diri seorang muslim, karena di antara makna Al Kariim “Maha Pemurah“. Tentu Allah amat mencintai orang yang bersifat pemurah. Dan Allah membeci orang yang bersifat kikir.

Menumbuhkan rasa cinta yang dalam diri seorang muslim kepada Allah, karena Allah bersifat Maha Pemurah. Allah memberi nikmat tanpa batas kepadanya meskipun tanpa diminta.

Wajibnya memuliakan kitab Allah yaitu Al-Qur’anul Karim. Karena, Al-Quran adalah Kalam Allah yang mulia. Yang diturunkan melalui perantara malaikat yang mulia kepada Rasul yang mulia.

Wajibnya memuliakan malaikat-malaikat Allah, di antaranya malaikat jibril, barang siapa yang membencinya, maka ia adalah musuh Allah.

Wajibnya mencintai para rasul Allah, barang siapa yang membenci salah seorang di antara mereka, maka ia adalah musuh Allah.

Menumbuhkan sifat suka memuliakan tetangga dan tamu. Menumbuhkan sifat suka pemaaf, karena Allah menyukai sifat pemaaf.

Mendorong kita untuk selalu berdoa kepada Allah, karena Allah Maha Pemurah terhadap hambanya.

wild%20animal%20wallpaper%201_zpsft5vcn0f.jpg
 
Back
Top
Log in Register