BTC USD 86,424.0 Gold USD 4,147.83
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

15. Al Qahhar

Al-Qahhar adalah satu di antara 99 nama indah-Nya Allah, yang berarti menjinakkan atau menundukkan. Segala makhluk-Nya dijinakkan dan ditundukkan di bawah kekuasaan-Nya. Tiada satupun makhluk yang menentang-Nya kecuali mereka akan dikalahkan dan dihinakan, sekaligus.

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ


"Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An’am: 18)

Dalam al-Qur’an, al-Qahhar disebut enam kali dan kesemuanya dirangkai setelah penyebutan kata al-Wahid, yang juga merupakan Asma Allah. Penyebutan nama dan sifat al-Wahid di depannya memberi arti kuat bahwa hanya Dia satu-satunya yang memiliki sifat Al-Qahhar. Orang yang mengaku dirinya Qahhar (penakluk) akan dikalahkan dan dihinakan-Nya. Fir’aun, dalam al-Qur’an dikisahkan pernah mengganggap dirinya sebagai “Qaahiruun” (penakluk) ketika dia memerintahkan untuk membunuh semua bayi lelaki.

“Fir’aun berkata: Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh atas mereka.” (QS. Al-A’raf: 127)

Allah membungkam Fir’aun dan orang-orang kafir lainnya dengan menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya, menekuk lutut para pembangkang dengan kekuasaan-Nya, menjinakkan hati para pecinta-Nya sehingga mereka bersuka cita menanti di depan pintu rahmat-Nya. Dia pula yang menundukkan panas dan dingin, mengalahkan besi dengan api, memadamkan api dengan air, menghilangkan gelap dengan terang, dan melenyapkan terang dengan kegelapan.

“Katakanlah: Jelaskan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang bisa mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?

Katakanlah: Jelaskan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang bisa mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Al-Qashash: 71 dan 72)

Sungguh, Allah telah mengalahkan semua makhluq-Nya, termasuk manusia. Dialah yang menjadikan manusia menjerit ketika lapar, menjadikannya lemah dan tak berdaya ketika kantuk dan tidur. Dia pula yang memberi manusia sesuatu yang tidak diinginkan dan menghalangi yang didambakan. Tak seorangpun yang bisa menolak ketika diberi celaka atau sakit. Sebaliknya, tak seorangpun yang bisa mendapatkan sesuatu yang dihalangi Allah.

Kepada manusia yang biasa menyombongkan ilmu dan teknologinya, Allah menantang, apakah mereka bisa menahan sebentar saja peredaran matahari? Apakah mereka juga bisa memperpanjang malam walau sedetik saja? Orang yang beriman segera akan menyadari dan berkata: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 12 dan 13)

Sekalipun Al-Qahhar merupakan nama dan sifat Allah yang tak patut seorangpun mengaku sebagai penakluk, tapi hal itu tidak menghalangi orang beriman untuk meneladaninya. Imam Al-Ghazali mempersyaratkan bagi mereka yang ingin meneladani sifat Al-Qahhar dengan terlebih dahulu menyadari bahwa tujuan penciptaannya adalah untuk menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Banyak halangan dan rintangan yang menjadi sebab tak terpenuhinya tujuan penciptaan tersebut, salah satunya adalah hawa nafsu. Untuk itu kita harus “Qaahiruun”, menjadi penakluk dan penjinak hawa nafsu kita sendiri.

Dalam hal penaklukan dan penjinakan nafsu, kita harus meneladani cara dan pendekatan Allah dalam menundukkan dan menjinakkan makhluq-Nya. Ketika Allah menaklukkan manusia, Dia tidak mencabut kebebasannya, apalagi mematikannya kecuali pada saat yang telah ditetapkan-Nya. Untuk itu, nafsu tidak boleh dimatikan. Nafsu hanya boleh diarahkan dan dikendalikan.

Islam mengakui perlunya memenuhi tuntutan nafsu selama tidak mengantarkan manusia menyimpang dari tujuan penciptaannya. Bagaimana mungkin manusia dicegah untuk memenuhi syahwat perutnya, sementara jasmani yang sehat dan kuat sangat dibutuhkan untuk memikul tugas-tugas di jalan Allah? Bagaimana mungkin nafsu seksual diharamkan, sementara anak keturunan yang shaleh sangat didambakan untuk melanjutkan generasi pengemban risalah-Nya?

Lebih jauh, Al-Qahhar jika dibumikan menjadi bahasa kepemimpinan, maka ia berarti kemampuan untuk mengarahkan orang lain pada kebaikan. Pemimpin yang baik adalah navigator yang tahu jalan yang lurus dan jalan yang harus dihindarinya. Ia memiliki kemampuan untuk membimbing anak buahnya agar senantiasa berjalan di atas rel yang lurus, tidak zig-zag agar lebih cepat mencapai tujuan. Untuk itu seorang pemimpin harus mampu menyatupadukan semua staf dan anggotanya menjadi satu kekuatan yang memiliki visi, misi, dan persepsi yang sama. Semoga kita bisa meneladaninya.


Fadhilat Al-Qahhar:

Dizikirkan ‘Ya Qahhaar’ mengikut kemampuan atau sebanyak 306 X, Insya’Allah akan dijaga dari ketamakan & kemewahan dunia dan keluar dari hatinya kecintaan dunia dan kebesaran terhadap sesuatu yang lain daripada Allah SAW.

Sesiapa menyebut ‘Ya Qahhaar’ berulang kali, Insya’Allah akan mengatasi kehendaknya, dan akan mengalami jiwa yang tenang serta bebas dari segala perbuatan maksiat yang dilakukan olehnya & orang lain serta kecintaannya kepada Allah semakin bertambah.

Apabila dibaca‘Ya Qahhaar’ tiap-tiap hari dan malam sebanyak 306 X atau lebih, Insya’Allah baginya dapat pertolongan Allah SWT atas musuhnya dan orang-orang yang selalu bermusuh itu akan sedar & tunduk akhirnya.

Sesiapa yang adanya hajat lalu berzikir ‘Ya Qahhaar’ 100 X, kemudian mengangkat kedua tangannya dan membuka akan kepalanya, Insya’Allah ditunaikan hajatnya.

iStock_000005471489Small_large_zpscad3dwmd.jpg
 
16. Al Wahhab

Karunia merupakan hadiah yang bebas dari imbalan dan kepentingan. Jika karunia yang bersifat seperti ini banyak jumlahnya, pihak yang memberikannya dapat disebut sebagai pemberi atau dermawan. Namun, kedermawanan tidak dapat benar-benar dibayangkan kecuali dari Allah semata, karena Dia-lah yang memberi setiap manusia apa yang dibutuhkannya, bukan untuk mendapatkan balasan atau kepentingan tertentu, sekarang ataupun dimasa yang akan datang.

Akan tetapi siapapun yang memberikan sesuatu dengan maksud agar kepentingannya terwujud cepat atau lambat, dia bukanlah pemberi dan juga dermawan. Apa saja yang belum dapat dicapai, tetapi bermaksud mencapainya dengan bermurah hati memberikan sesuatu, hal tersebut dianggap mengharapkan balasan.

Kedermawanan sejati adalah memberikan keuntungan-keuntungan kepada orang lain, namun bukan bertujuan agar si pemberi mendapat imbalan keuntungan. Sesungguhnya siapapun yang melakukan sesuatu karena akan dicela kalau tidak melakukannya, dia sedang membebaskan dirinya dengan jalan melakukan sesuatu, hal itu adalah kepentingan dan mengharapkan imbalan.

Makna lafazh 'Al Wahhab' menekankan bahwa pada hakikatnya tidak mungkin tergambar dalam benak, mengenai adanya yang memberi, siapapun yang membutuhkannya tanpa mengharapkan imbalan atau tujuan duniawi atau ukhrawi, kecuali Allah Azza wa Jalla.

Karena siapa yang memberi disertai dengan tujuan duniawi atau ukhrawi, baik tujuan itu berupa pujian, meraih persahabatan, menghindari celaan atau mendapatkan kehormatan, dia bukanlah 'Wahhab'. Makhluk tidak mungkin memberi secara berkesinambungan sedang Allah dapat memberi secara berkesinambungan dan tanpa batas.


أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ


'Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi'[Shaad:9]

'(Mereka berdoa): Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)' [Ali Imran:8]

'(Nabi Sulaiman) ia berkata : Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi'[Shaad:35]

Murah hati adalah mengorbankan milik dan jiwanya, demi Allah semata, bukan demi tercapainya kenikmatan Surga atau bukan demi terhindarnya dari siksa Neraka, atau bukan demi keuntungan yang ingin disegerakan atau keuntungan dimasa yang akan datang.

Setingkat dibawahnya adalah orang yang memberi dengan sukarela demi tercapainya kenikmatan Surgawi dan tingkat dibawahnya adalah orang yang memberi untuk mendapat pujian. Karena tujuan dari kemurahan hati (kedermawanan) adalah 'keridhaan Allah Azza wa Jalla, kesempatan bertemu dengan-Nya dan dapat mencapai-Nya, karena inilah kebahagiaan yang hakiki dari kemurahan hati (kedermawanan) dan terlihat secara dzahir bahwa dia tidak mendapat apa-apa dari kedermawanannya'.

Perhatikan hubungan orang tua kepada anak-anaknya, mereka perduli kepada mereka bukan karena keuntungan yang akan didapatkan dari anaknya dan apabila anak-anaknya tidak memberikan keuntungan kepada orang tua mereka maka para orang tua tidak merubah keperdulian mereka kepada anak-anaknya.

Apabila orang mencari sesuatu demi sesuatu yang lain dan bukan demi sesuatu itu sendiri, seakan-akan dia tidak mencari sesuatu itu sendiri, karena hal itu bukan tujuan yang hendak dicapainya.

Ini seperti orang yang mencari emas, dia tidak mencari emas demi emas, namun demi mendapatkan makanan atau pakaian melalui emas. Makanan dan pakaianpun tidak dicari demi makanan dan pakaian, tetapi sebagai alat demi memuaskan kenikmatan atau untuk menghilangkan penderitaan.

Maka siapapun yang beribadah kepada Allah demi mendapatkan kenikmatan Surga, berarti dia telah menjadikan Allah sebagai sarana dan bukan sebagai tujuan yang hendak dicapainya. Tanda bahwa sesuatu itu merupakan sarana adalah tidak ada seorangpun yang mencari sesuatu itu jika keuntungannya dapat diperoleh tanpa sesuatu itu.

Jika sesuatu itu dapat dicapai tanpa emas, maka emas tidak akan disukai dan tidak akan dicari, karena sesungguhnya yang disukai adalah manfaat yang dicari bukan emas. Dan jika merasa Surga dapat dicapai oleh orang yang beribadah kepada Allah demi Surga itu, maka sesungguhnya dia tidak beribadah, karena yang dicari dan yang disukainya adalah Surga itu sendiri.

Barangsiapa yang hanya mencintai Allah semata dan hanya mencari kedekatan dengan-Nya, maka dia-lah yang disebut orang yang beribadah kepada-Nya, bukan mencari keuntungan, karena Allah itu sendirilah keuntungan dan selain Dia bukanlah keuntungan.

Maka Allah-lah yang sesungguhnya tujuan akhir seseorang sejak dari awalnya. Kebanyakan makhluk berbuat keji kepada dirinya ketika beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu seperti orang upahan, yang bekerja demi upah yang diharapkannya, maka sikap seperti ini tidak akan memahami kenikmatan menatap wajah Allah Azza wa Jalla, karena mereka hanya mempercayai-Nya sebatas ucapan-ucapan.

Jika seseorang yang mencapai sesuatu itu semakin baik keadaannya dibanding bila tidak mencapainya, maka sesungguhnya hal itu bukanlah suatu perolehan, karena perolehan yang hakiki adalah tercapai atau tidaknya sesuatu itu tetap merubah keadaannya semakin baik.

Imam Al-Ghazali


____________________oooOooo___________________



"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."(QS Ali Imran: 08)

Al Wahhab, Dia adalah Maha Pemberi. Pemberian-Nya tanpa syarat, juga tanpa batas. Tak terukur, juga tak ternilai. Tak ada satupun yang mampu menyamai pemberian-Nya. Tak pula satupun yang mampu menghitung anugerah-Nya.

Al Wahhab, Dia adalah Maha pemberi. Langit diberi-Nya awan, agar manusia di bumi ternaungi. Langit diberi-Nya awan, agar air kembali turun ke bumi dan menyuburkan tanah. Langit diberi-Nya awan, agar para sastrawan juga mendapat inspirasi.

Al Wahhab, Dia adalah Maha Pemberi. Burung dengan merdu berkicau, singa dengan gagah mengaum. Bukankah begitu indah dan penuh harmoni semua yang dianugerahkan?

Diberikan manusia sebaik-baik rupa. Diberikan manusia setinggi-tinggi akal untuk menalar. Diberikan manusia sedalam-dalamnya hati untuk merasa. Diberikan manusia daya untuk berusaha sekuat-kuatnya.

Maha Suci Allah yang Maha Pemberi. Dia yang selalu menjawab doa dan memberikan segala yang dipinta hamba. Sungguh luas karunia-Nya. Cacing di dalam tanah, mendapatkan jatahnya. Burung yang tak tahu akan terbang kemana, juga mendapatkan rezekinya. Apalagi manusia, makhluk yang sangat dicintai-Nya, atas izin-Nya dan dengan segala usaha, ada banyak anugerah yang mampu didapatkan manusia.

Wahai hamba yang mendamba, jika ingin segala hasrat baik diijabah, dzikirkan selalu dari bibirmu, ya Wahhab. Tiada henti, tiada lelah. Insya Allah, Tuhan yang Maha Memberi akan mengabulkan segala.

Tapi ada satu pertanyaan yang tersisa, tidakkah kita malu dengan segala pemberian-Nya yang tidak sebanding dengan ketaatan yang kita sembahkan? Sungguh, Maha Suci Allah yang selalu memberi, meski dengan segala kealpaan kita yang selalu terjadi. Semoga Allah senantiasa memberi ampunan-Nya.

Goat_family_zpss2pdsvdu.jpg
 
17. Ar Razzaq


إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ


[58]Sesungguhnya Allah Dia lah sahaja Yang Memberi rezeki (kepada sekalian makhlukNya, dan Dia lah sahaja) Yang Mempunyai Kekuasaan yang tidak terhingga, lagi Yang Maha Kuat Kukuh kekuasaanNya.
quran 51:58

“Rezeki itu di tangan Allah” ini adalah ungkapan yang sering kita dengar, dan ungkapan ini adalah bentuk keimanan pada rububiyah Allah, di mana Allah-lah yang memberi dan mengatur rezeki makhluk-Nya.

Di antara nama Allah yang masuk dalam asmaul husna adalah Ar-Raziq dan Ar-Razzaq. Nama Ar-Raziq tersebut dalam Al Quran sebanyak lima kali, dan nama Ar-Razzaq tarsebut dalam Al Quran sebanyak satu kali.

Apa makna dari nama Allah Ar-Raziq dan Ar-Razzaq?

Imam Ibnu Atsir rahimahullah mengatakan: “(Ar-Razzaq) maknanya adalah bahwasanya Dialah (Allah) yang menciptakan rezeki, dan memberikannya kepada seluruh makhluk-Nya”.

Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan: “(Ar-Razzaq) adalah yang Maha memberi rezeki kepada seluruh makhluk-Nya, tidak satupun makhluk yang ada di bumi ini kecuali rezekinya ada di tangan Allah, dan rezeki Allah yang diberikan kepada hamba-Nya dibagi menjadi dua macam:

Rezeki yang bersifat umum mencakup semua hamba-Nya baik yang shaleh ataupun yang durhaka, baik umat yang terdahulu maupun yang akan datang, ini disebut sebagai rezeki lahiriyah.
Rezeki yang bersifat khusus yaitu rezeki hati yang selalu terisi dengan ilmu dan keimanan, termasuk juga rezeki halal yang membantu seorang hamba agar menjadi baik agamanya, ini khusus untuk orang mukmin berdasarkan derajatnya dan sesuai dengan hikmah Allah serta rahmat-Nya.

Apa pengaruh positifnya pada keimanan orang hamba?

Bila seorang hamba memahami dengan sepenuhnya dua nama Allah yang mulia ini maka akan memberi pengaruh yang sangat baik dan positif pada diri hamba tersebut, di antaranya:

Akan bertambah kecintaannya kepada Allah Ta’ala sehingga ia akan beribadah hanya kepada-Nya, tidak akan pernah menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, karena ia paham dan yakin bahwa Rabb yang telah menciptakannya dan memberinya rezeki Dialah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi apa pun itu bentuk ibadahnya. Allah berfirman yang artinya: “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah: “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” [QS. Yunus : 31]

Bila ia telah yakin dengan sepenuhnya bahwa Allah-lah satu-satunya yang memberi rezeki pada hamba-Nya dan Allah pulalah yang menjamin rezeki hamba-Nya, maka ini akan menumbuhkan pada dirinya sikap tawakkal dan bergantung kepada Allah Ta’ala semata dengan terus berusaha dengan cara yang baik, ia akan bergantung pada Yang memberi rezeki itu, bukan menggantungkan diri pada rezekinya itu. Dengan demikian hatinya pun menjadi tenang, tidak takut akan rezekinya karena Allah telah menjaminnya, firman Allah yang artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”[QS. Hud : 6]

Dengan keyakinan ini pula seorang hamba tidak akan mencari rezeki dengan cara yang haram, ia tidak akan pernah takut orang lain menghalangi rezekinya atau memutus rezekinya.
Nama Allah yang maha mulia Ar-Razzaq dan Ar-Raziq ini menunjukkan nama-nama yang lainnya seperti Al-Lathif, Ar-Rahim dan Al-Hakim (Yang Maha lembut, Maha penyayang, dan Maha bijaksana). Maha lembut dan penyayang sangat jelas terlihat di mana Allah menganugerahkan rezekinya kepada seluruh makhluk-Nya – sekalipun kafir atau fasik – semuanya diberi rezeki oleh Allah Ta’ala. Allah berfirman yang artinya: “Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. [QS. As-Syura : 19].

Dan juga kita sangat tahu bahwa rezeki hamba Allah itu berbeda-beda, ada yang miskin ada yang kaya, ada yang biasa-biasa saja, ini semua kehendak Allah Ta’ala yang Maha adil dan bijaksana, karena Allah-lah yang Maha tahu hikmah di balik semua ini, Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” [QS. Al-Isra: 30]

Kecintaan yang tinggi yang ditumbuhkan oleh nama Allah yang mulia ini di dalam hati para wali-Nya dan orang-orang pilihan-Nya, di mana Allah menganugerahkan kepada mereka rezeki ilmu yang bermanfaat, hidayah ke jalan yang lurus, keimanan yang kuat di dalam sanubari sehingga ia menjadi hamba yang selalu taat dan tunduk pada-Nya, inilah rezeki yang hakiki yang tidak ada habisnya, berbeda dengan rezeki yang dianugerahkan kepada orang-orang kafir yang akan terhenti bersamaan dengan binasanya mereka, adapun orang mukmin Allah khususkan karunia dan rezeki tersendiri di akhirat, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” [QS. Al-A’raf : 32]

Sesungguhnya sarana terpenting untuk mendatangkan rezeki dari Allah dan keberkahan dari-Nya adalah takwa dengan sebenar-benarnya karena Allah berfirman yang artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” [QS. Ath-Thalaq : 2-3], juga firman Allah: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” [QS. Al-A’raf : 96]

Seharusnya seorang hamba yang mukmin di samping ia berusaha untuk meraih keberkahan rezeki dari Allah di dunia ini, dia juga harus lebih berusaha dengan sebenar-benarnya untuk mendapatkan rezeki Allah yang hakiki di akhirat kelak yaitu surga Allah yang kenikmatannya kekal tak terputus. Allah berfirman yang artinya: “Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya.” [QS. Ath-Thalaq : 11]

Dan nama Allah Ar-Razzaq ini juga mengajarkan kepada hamba-Nya untuk menjauhi sejauh-jauhnya sifat kikir, karena seberapa pun rezeki yang ada di tangan seorang hamba pada hakikatnya itu bukanlah miliknya, tapi anugerah dari Allah Ta’ala, maka tidaklah sepantasnya ia memperturutkan sifat kikirnya kepada sesama.

Inilah sekelumit yang dapat kami paparkan tentang “rahasia” di balik nama Allah Ar-Razzaq dan Ar-Raziq, tentunya masih sangat banyak nilai-nilai tarbawi yang belum mampu untuk kami paparkan, semoga ini dapat menambah keimanan dan ketakwaan kita serta ketawakkalan kita sehingga kita menjadi hamba-hamba-Nya yang selalu bersyukur atas segala karunia-Nya, amin.

tembikai1_zpsq2iatr47.jpg
 
Last edited:
18. Al Fattah

Allah Subhanahu wata’ala adalah al-Fattah. Allah Subhanahu wata’ala menyebutnya sebagai salah satu dari nama-Nya yang agung dalam ayat-Nya,

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ


Katakanlah, “Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.” (Saba’: 26)

Sebenarnya dengan nama-Nya Al- Fattah, berarti Allah Subhanahu wata’ala memiliki sifat al-fath. Kata al-fath itu sendiri memiliki beberapa makna, di antaranya:

1. Membuka, lawan dari menutup, seperti dalam firman-Nya,

حَتَّىٰ إِذَا فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا ذَا عَذَابٍ شَدِيدٍ إِذَا هُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ

“Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu yang ada azab yang amat sangat (di waktu itulah) tiba-tiba mereka menjadi putus asa.” (al-Mu’minun: 77)

2. Memutuskan, seperti dalam firman-Nya,

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

“Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil), dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (al-A’raf: 89)

3. Mengirim, seperti dalam firman- Nya,

مَّا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah kirimkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Fathir: 2)

4. Memenangkan, seperti dalam firman-Nya,

وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا ۖ نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (ash-Shaf: 13)

Demikian pula firman-Nya,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” (an-Nashr: 1) (Lihat Nuzhatul ‘Aun an-Nawadzir)

As-Sa’di dan al-Harras menjelaskan, Al-Fattah adalah yang menghukumi antara para hamba-Nya dengan hukum- Nya yang syar’i, hukum takdir-Nya, dan hukum pembalasan-Nya. Dengan kelembutan-Nya, Dia membuka penglihatan orang-orang yang jujur serta membuka kalbu mereka untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan kembali kepada-Nya. Ia membuka bagi hamba-Nya pintu-pintu rahmat, pintupintu rezeki yang bermacam-macam, serta menetapkan untuk mereka sebab yang mengantarkan mereka memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. Pembukaan Allah Subhanahu wata’ala sendiri ada dua macam:

1. Pembukaan dengan hukum agama-Nya dan hukum balasan-Nya.

2. Pembukaan dengan hukum takdir-Nya.

Pembukaan dengan hukum agama- Nya adalah dengan hidayah-Nya kepada para hamba-Nya dan pemberian syariat kepada mereka melalui lisan para rasul- Nya dalam segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan mereka, yang dengannya mereka dapat istiqamah di atas jalan-Nya yang lurus. Adapun pembukaan dengan hukum balasannya ialah keputusan-Nya dan pemenangan-Nya untuk para nabi- Nya dan pengikut mereka, dengan memuliakan dan menyelamatkan mereka, serta penghinaan dan hukuman yang ditimpakan atas musuh-musuh mereka. Termasuk dalam hal ini adalah keputusan- Nya di antara para hamba-Nya pada hari kiamat, saat setiap insan memperoleh balasan dari amalannya, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Adapun pembukaan-Nya dengan hukum takdir-Nya adalah apa yang Ia takdirkan atas hamba-hamba-Nya, baik berupa kebaikan maupun keburukan, manfaat maupun mudarat, pemberian maupun penghalangan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَّا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah kirimkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Fathir: 2)

Maka dari itu, Allah-lah Al-Fattah. Dengan inayah-Nya, terbuka seluruh yang tertutup. Dengan hidayah-Nya, tersingkap seluruh yang musykil. Seluruh kunci urusan gaib dan rezeki berada di tangan-Nya. Dia pula yang membuka perbendaharaan kedermawanan-Nya untuk para hamba-Nya yang taat. Dia juga yang membuka hal yang sebaliknya untuk musuh-musuh-Nya, dengan keutamaan dan keadilan-Nya. (Lihat Tafsir Asma’illahil Husna dan Syarh Nuniyah)

Buah Mengimani Nama Allah al-Fattah

Dengan mengimani nama Allah Al-Fattah, kita semakin mengetahui kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala dan kebesaran-Nya. Hanya di tangan-Nyalah kemenangan. Oleh karena itu, kepada-Nya juga kita berdoa untuk mendapatkan kemenangan. Hanya kepada-Nya juga kita bertawakal untuk memperoleh kemenangan, tidak pada hasil usaha kita, banyaknya jumlah kita, atau kecanggihan teknologi kita. Dalam urusan rezeki pun demikian, hanya kepada-Nya kita mengharap. Di tangan-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi, dan Dialah yang mengaturnya; membuka atau menutupnya. Maka dari itu, jangan sekali-kali seseorang mencari pesugihan dari para makhluk, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang dengan mengunjungi tempattempat tertentu dan melakukan ritual khusus demi mendapatkan kekayaan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kalian membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian, maka mintalah rezeki itu di sisi Allah. Sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada- Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan.” (al-Ankabut: 17)

Dalam urusan nasib, mintalah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala akan kebaikan nasib kita di dunia dan akhirat, karena di tangan-Nyalah segala keputusan.

Wallahu a’lam.

Sunrise-Beach-Tropical_zpsiudbp0zu.jpg
 
19. Al aliim

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

[29]
Dia lah (Allah) yang menjadikan untuk kamu segala yang ada di bumi, kemudian Ia menuju dengan kehendakNya ke arah (bahan-bahan) langit, lalu dijadikannya tujuh langit dengan sempurna; dan Ia Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.

Quran 2:29

Kata ‘Alim terambil dari akar kata “’ilm” yang menurut pakar-pakar bahasa berarti “menjangkau sesuatu seusai dengan keadaannya yang sebenarnya”. Bahasa Arab menggunakan semua kata yang tersusun dari huruf-huruf “äin”, “lam”, “mim” dalam berbagai bentuknya untuk menggambarkan sesuatu yang sedemikian jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. Perhatikan misalnya kata-kata “alamat” (alamat) yang berarti tanda yang jelas bagi sesuatu atau nama jalan yang mengantar seseorang menuju tujuan yang pasti. “Ïlmu” demikian juga halnya, ia diartikan sebagai suatu pengenalan ayang sangat jelas terhadap suatu objek. Allah SWT dinamai “’’Alim” atau “’Alim” Karena pengetahuan-Nya yang amat jelas sehingga terungkap baginya hal-hal yang sekecil apapun.

Dalam Al-Qurán ditemukan banyak sekali ayat-ayat yang menggunakan akar kata yang sama dengan Asma’AlHusna yang dibahas ini. Kata “’Alim” dalam AL-Qurán ditemukan sebanyak 166 kali. Di samping itu terdapat pula sekian banyak kata “Alim: yang menunjuk kepada Allah SWT, sebagaimana banyak pula yang menunjuk-Nya dengan menggunakan redaksi “A’lam” (Lebih Mengetahui). Banyaknya ayat serta beraneka ragamnya bentuk yang digunakan itu, menunjukkan batap luas dan banyak ilmu Allah SWT.

Ilmu-Nya mencakup seluruh wujud. “Ïlmu Tuhanku meliputi segala sesuatu” (Q.s Al-An’am 6:80). “Pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Q.s. Al-An’am 6:59).

Segala aktivitas lahir dan bathin manusia diketahui-Nya. “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”(Q.s. Ghafir 40:19), bahkan jangankan rahasia, yang “lebih tersembunyi dari rahasia”, yakni hal-hal yang telah dilupakan oleh manusia dan yang berada di bawah sadarnyapun diketahui oleh Allah SWT. “Jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia (mengetahuinya serta) mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (dari rahasia)” (Q.s Thaha 20:19).

Apapun yang terjadi, telah diketahui-Nya sebelum terjadi, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.s. Al-Hadid 57:22).

Pengetahuan semua makhluk bersumber dari pengetahuan-Nya, “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” (Q.s. Al-Baqarah 2:255).

Allah “mengajar dengan qalam”, yakni mengajar manusia melalui upaya mereka dan “mengajar apa yang mereka tidak diketahui”, tanpa usaha mereka, tetapi langsung sebagai curahan rahmat-Nya. Begitu informasi-Nya dalam Q.s. Al-Alaq.

Manusia tentu saja dapat meraih ilmu berkat bantuan Allah, bahkan istilah “’Alim” pun dibenarkan Al-Qur’an untuk disandang manusia (Q.s. Az-Zariyat 51:28) tetapi betapa pun dalam dan luasnya ilmu manusia, terdapat sekian perbedaan antara ilmunya dan ilmu Allah.

Pertama, dalam hal objek pengetahuan; Allah mengetahui segala sesuatu, manusia tidak mungkin dapat mendekati pengetahuan Allah. Pengetahuan mereka hanya bagian kecil dari setets samudera ilmu-Nya. “Tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan seidkit” (Q.s. Al-Isra 17:85). “Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis)kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Q.s. Al-Kahfi 18:109).

Kedua, kejelasan pengetahuan manusia tidak mungkin dapat mencapai kejelasan ilmu Allah. Pensaksian manusia yangpaling jelas terhadap sesuatu, hanya bagaikan melihatnya di balik tabir yang halus, tidak dapat menembus objek yang disaksikan sampai ke batas terakhir.

Ketiga, ilmu Allah bukan hasil dari sesuatu, tetapi sesuatu itulah yang merupakan hasil dari ilmu-Nya. Sedangkan ilmu manusia dihasilkan dari adanya sesuatu. Untuk hal yang ketiga ini, Al-Ghazali member contoh dengan pengetahuan pemain catir dan pengetahuan pencipta permainan catur. Sang pencipta adalah penyebab adanya catur, sedang keberadaan catur adalah sebab pengetahuan pemain. Pengetahuan Pencipta mendahului pengetahuan pemain, sedang pengetahuan pemain diperoleh jauh sesudah pengetahuan pencipta catur. Demikianlah ilmu Allah dan ilmu manusia.

Keempat, ilmu tidak berubah dengan perubahan objek yang diketahui-Nya. Itu berarti tidak ada kebetulan di sisi Allah, karena pengetaaahuan-Nya tentang apa yang akan terjadi dan saat kejadiannya sama saja di sisi-Nya.

Kelima, Allah mengetahui tanpa alat, sedang ilmu manusia diraihnya dengan panca indra, akal dan hatinya, dimana semuanya didahului oleh ketidaktahuan, “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur dengan menggunakannya untuk meraih ilmu)”. (Q.s. An-Nahl 16:78).

Keenam, ilmu Allah kekal, tidak hilang dan tidak pula dilupakan-Nya. Tuhanmu sekali-kali tidak lupa. Q.s. Maryam 19:64.

Manusia memperoleh kehormatan karena ilmu yang dianugerahkan Allah kepadanya. “Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang yang benar!’ Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.s. Al-Baqarah 2:30-31).

Dalam meneladani sifat Al’Alim, manusia hendaknya terus menerus berupaya menambah ilmunya. Rasul Saw setelah diperintahkan pada wahyu pertama untuk membaca, diperintahkan juga untuk berdoa. “(Bermohonlah wahai Muhammad) Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (Q.s. Thaha 20:114).

Dalam upaya tersebut manusia dituntut agar dapat menggunakan secara maksimal seluruh potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya – mata, telinga, akal dan kalbu – untuk meraih sebanyak mungkin ilmu yang bermanfaat, bukan hanya menyangkut “seluruh benda-benda” –yakni “seluruh alam raya” – yang telah dianugerahkan Allah potensi untuk mengetahuinya sejak kelahiran manusia pertama, tetapi juga ilmu yang bersifat non empiris yang hanya dapat diraih dengan kesucian jiwa dan kejernihan kalbu.

Lebih jauh dapat dikatakan bahwa pengetahuan yang hakiki tentang sesuatu adalah pengetahuan yang menimbulkan dampak dalam kehidupan. Karena itu Ja’far Ash-Shadiq misalnya menggarisbawahi bahwa, “pengetahuan, bukanlah apa yang diperoleh melalui proses belajar-mengajar, tetapi ia adalah cahaya yang dinampakkan Tuhan ke dalam hati orang-orang yang dikehendaki-Nya”

Pengetahuan atau mengetahui sesuatu nenurut Rasul Saw bukan hanya terbatas sampai pada kemampuan mengekpresikannya dalam bentuk kata tetapi ada pula yang menyentuh hati sehingga melahirkan amal-amal yang sesuai dengan petunjuk-petunjuk Ilahi. Pengetahuan dalam arti yang kedua inilah yang pada akhirnya menimbulkan kesadaran akan jati diri manusia sebagai makhluk yang dhaif di hadapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Ilmu seseorang harus membawanya kepada iman, selanjutnya ini mengantarnya kepada keikhlasan dan ketundukan kepada Allah. “Supaya orang-orang yang yang mempunyai ilmu mengetahui bahwa dia (Al-Qur’an) adalah benar-benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman, kemudian hati mereka tunduk kepada-Nya” (Q.s. Al-Haj 22:54). Demikian terlihat, ilmu mengantar kepada iman dan iman menghasilkan ketundukan kepada Allah SWT. “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Alqur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Mereka berkata, ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti terlaksana’, dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu”. (Q.s. Al-Isra 17:107-108-109).

Ilmu juga harus mengantar ilmuwan kepada amal dan karya-karya nyata bermanfaat. Rasul Saw berdoa memohon perlindungan Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari diri (perut) yang tidak kenyang dan dari doa yang tidak diterima” (H.R. Muslim).

Setiap ilmuwan dituntut untuk memberi nilai-nilai spiritual bagi ilmu yang diraihnya, sejak motivasi hingga tujuan dan pemanfaatannya. Memang boleh jadi tidak berbeda cara dan alat-alat meraih ilmu antara seorang dengan yang lain, hakekat ilmiahpun yang mereka raih tidak berbeda karena cara, alat dan hakekat ilmiah bersifat universal dan bebas nilai; tetapi motivasi, tujuan dan pemanfaatan ilmu, bagi ilmuwan yang meneladani Allah dalam sifat-Nya, tidaklah bebas nilai, ia harus “Bismi Rabbika”.

“Siapa yang mencari ilmu untuk memamerkan diri/menunjukkan kebolehan di hadapan cendekiawan, atau untuk berbantah-bantahan dengan yang jahil, maka dia di neraka” (Q.s. At-Thabarany dari Ummi Salamah).

Tidak etis melupakan peranan Allah atau menutup-nutupinya dalam setiap peristiwa alam, apalagi mengingkarinya. Ketika benih tumbuh, jangan berkata bahwa alam menumbuhkannya atau karena unsur ini dan kondisi itu, -kalaupun harus berkata demikian, jangan tutupi atau tidak mengingatkan peranan Allah, karena yang demikian dapat merupakan salah satu bentuk kedurhakaan terhadap Allah. Hukum sebab dan akibat, jangan pisahkan ia dari penyebab pertamanya yakni Allah SWT, karena jika dipisahkan, ia merupakan pengingkaran dan kekufuran paling sedikit dalam arti mengkufuri nikmat-Nya.

Suatu ketika Rasulullah Saw mengimani sahabat-sahabat beliau shalat subuh di Hudaibiyah, setelah pada malamnya hujan turun. Seusai shalat beliau mengarah kepada hadirin dan bersabda, “Tahukah kamu apa yang dikatakan Tuhan (Pemelihara) kamu?”. Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”, “Allah berfirman – sabda Rasul menjelaskan – ‘pagi (ini) ada hamba-Ku yang percaya pada-Ku dan kafir dan ada juga yang kafir pada-Ku dan percaya (pada selain-Ku). Adapun yang berkata: “Kami memperoleh curahan hujan atas anugerah Allah dan rahmat-Nya, maka itulah yang percaya pada-Ku serta kafir terhadap bintang’, sedangkan yang berkata, “kami memperoleh curahan hujan oleh bintang ini dan itu, maka itulah yang kafir pada-ku dan percaya pada bintang”. (H.R. Al-Bukhari melalui Zaid bin Khalid Al-Juhani).

Dahulu ketika para arsitektur muslim membangun rumah-rumah tempat tinggal, mereka membangunnya dengan memperhatikan nilai-nilai agama. Memang bahan-bahan yang mereka gunakan, pengetahuan yang mereka terapkan dapat diketahui oleh muslim dan non muslim, tetapi yang meneladani Allah dalam ilmu-Nya, membangun rumah dengan memperhatikan nilai-nilai yang diamanatkan oleh Allah Penganugerah Ilmu. Sehingga sambil memperhatikan ventilasi udara, pencahayaan, keamanan dan kenyamanan penghuni dan tetangga, mereka juga sangat mengindahkan privasi dan terhalangnya pandangan yang bukan mahram melihat apa yang dilarang Allah untuk dilihat. Demikian, wa Allah A’lam.

Green-leaf-pc-desktop-wallpaper-hd_zpshe0pppft.jpg
 
20. Al Qaabidh

Saat ini ikhwah akhowat ku mari sama2 kita bertahmid… memuja memuji Allah yang padaNya sanya berhak IA mendapat pujian… ALHAMDULILLAH. Allah itu AL-Qabidh.

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

[245]
Siapakah orangnya yang (mahu) memberikan pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik (yang ikhlas) supaya Allah melipatgandakan balasannya dengan berganda-ganda banyaknya? Dan (ingatlah), Allah jualah Yang menyempit dan Yang meluaskan (pemberian rezeki) dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan.

quran 2:245




“…dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” –Surah Furqan , ayat 2.



Al-Qabidh itu kata akarnya bermakna ‘sesuatu yang diambil’ dan ‘keadaan terhimpun pada sesuatu’. Daripada sinilah lahir perkataan yang memberi makna menahan, menggenggam, menghalang, kedekut dan menyempitkan. AllahulQabidh, mempunyai hak bagi menahan atau menggenggam, menghalang dan menyempitkan rezeki seseorang apabila pada pandangan Allah hak itu memang patut dilakukannya.

Selain itu, Allah juga berhak memendekkan umur, kuasa, nama baik dan sebagainya daripada hambaNya. Sudah tentu, tindakan itu hanya Allah yang tahu kerana semua hambaNya berada dalam pengawasan dan genggangamanNya… Apa saja yang sudah terjadi adalah keputusan Allah…yang pada hakikatnya segala itu punya kebaikan buat manusia.

Dengan menyedari Allah itu berkuasa menyempitkan dan menangguhkan sesuatu bagi hambaNya, ia dapat mendorong kita supaya lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Seseorang perlu lebih berwaspada apabila dia diamanahkan dengan jawatan presiden, menteri, pengarah… ulama’, amir, amirah, ustaz, ustazah, imam, ketua persatuan atau program dan hal seumpamanya… Hal ini disebabkan , apabila Allah melihat ada yang tidak kena pada tingkah laku hambaNya, Dia bisa mengambil tindakan dengan 2 tujuan: menghukum ataupun memberi peringatan…Allah…

Apabila Allah menghukum, bermakna apa yang Allah taklifkan pada hambaNya telah disalahgunakan sehingga tiada tolak ansur lagi, menyebabkan hukuman diberikan sebagai pengajaran dan iktibar. Dalam sejarah, kita lihat ramai sekali pemimpin menjadi zalim dan menyalahguna kekuasaan yang ada… disebabkan kekuasaan, mereka sewenangnya membunuh rakyat tiada dosa, hidup dipenuhi darah dan ketakutan. Allah menjatuhkan hukuman berat kepada mereka. Bahkan, mereka dianggap pelaku jenayah yang mencabul hak manusia oleh generasi berikutnya. Contohnya, kita ambil Firaun di Mesir seperti yang diceritakan dengan jelas oleh Allah dalam alQuranul kareem.

Contoh lain yang lebih dekat zamannya dengan kita ialah Adolf Hitler dari Jerman, Benito Musolini dan Joseph Stalin dari bekas Kesatuan Soviet. Mereka ini adalah pemimipin yang terpengaruh dengan teori evolusi Darwin. Juga yang jelas dan perlu jelas pada umat islam, seorang pemimpin yang pernah menjatuhkan islam dengan kekuasaan yang ada dan kepimpinannya yang ‘gila’ adalah Kamal atTartuk la’natullah. Ada tika Allah menyempitkan, kerana mahu memperbaiki tingkah hambaNya. Allah Maha Mengetahui bahwa yang dilakukan hambaNya itu adalah khilaf.

Allah tidak serta merta menghukum hambaNya tanpa didahului dengan peringatan yang pelbagai bentuk. Sehinggakan bagi mereka yang faham, mereka segera sedar apa yang sedang mereka lalui adalah teguran yang halus daripada Allah.

“Sama sahaja bagi mereka sama ada kamu memberi peringatan kepada mereka ataupun kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.” [Yasin;10.]

Oleh itu, ikhwah akhowat, marilah kita sentiasa bermohon kepada Allah, sebagaiman dalam [surah as-Syuara’; 83]; “Rabbi habli hukman” (Tuhanku, berikan ku kefahaman), supaya kita dapat menangkap apa sahaja bentuk peringatan yang datang kepada kita. Syeikh ahmad athailllah, menasihatkan kita, “Janganlah hairan apabila terjadi hal-hal sukar selama kamu berada di dunia ini. Sesungguhnya, dunia itu tidak dilahirkan melainkan sudah menjadi hak sifatnya dan ditetapkan sifatnya.” Muslimin, muslimat yang dimuliakan Allah swt, Mungkin ada yang tidak bersetuju kerana jika begitu untuk apa kita hidup kalau hanya mengalami masalah dan kesukaran?

Di sinilah silapnya kita apabila berfikir. Belum ujian datang kita sudah hilang keyakinan bagi menhadapi ujian ini. Sepatutnya kita mengerah fikian, tenaga dan masa bagi mengahadapi ujian sehingga kita dapat melihat bagaiman hasil akhirnya. Menurut Fethullah Gulen dari Turki; ujian adalah proses bagi menentukan nilai kita, untuk mengetahui apakah kita ini besi atau emas.

Kita diuji dalam apa yang kita perjuangkan. Suatu har, kita akan masuk ke naugan Allah dan mempertanggungjawabkan diiri kira sendiri, “Dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka pada apa yang dahulu mereka lakukan.” [Yasin: 65] SUmber Redha

“Ketika aku menemui kehidupan (duniawi), ku temui akhir kehidupan adalah kematian.”
[as-Syahrastani]

Ya ALLAH, Ya Qabidh, Akulah pencinta yang menderita, wahai Kekasih, Ku tidak akan meninggalkanMu Walaupun Kau belah dadaku dengan belati, Ku takkan meninggalkanMu Walaupun mereka memotongku seperti mereka memotong Zakaria Letakkan gergajimu di kepalaku oh penebang Ku takkan meninggalkanMu Walaupun mereka membakar menjadi debu dan meniup debuku Mereka akan mendengar debuku mengeluh; Wahai penutup(dosa2) Aku tidak akan meninggalkanMu…
[Nasimi] ~

bila rasa disakiti oleh orang lain, bacalah alQabidh sebanyak 100kali. Biiznillah, yakini ntum akan tehindar daripada ancaman mereka. [khasiat asma’ul husna] :

: Ya Allah, Kau Maha Mengetahui setiap segala yang berlaku dunia akhirat, di langit dan bumi serta seisinya... lalu apa yang menyebabkan aku boleh berduka lagi dengan aturanMU.. iziniku lalui kehidupan ini dalam redhaMU ya Allah... Kau mampu menghina dan memuliakan sesiapa yang Kau mahu.. Allah...

https://www.youtube.com/watch?v=D2pK_VGEchA
 
21. Al Baasith

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Allah melapangkan rizki bagi siapa saja yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Ankabuut: 62)

Al-Baasith adalah nama Allah yang menyertai bahkan tak terpisahkan dengan nama sebelumnya, yaitu Al-Qaabidh. Jika Al-Qaabidh bermakna menyempitkan, maka Al-Baasith berarti sebaliknya, Maha Melapangkan. Kata al-Baasith sendiri berasal dari ba-sa-tha yang berarti keterhamparan, kemudian dikembangkan menjadi “memperluas” atau ”melapangkan”.

Adalah hak absolut Allah untuk melapangkan atau menyempitkan rizki hamba-hamba-Nya, sebagaimana pula hak absolutNya memperpanjang dan memperpendek umur mereka. Sebagian orang dimudahkan mendapat rizki sehingga harta kekayaannya melimpah, sebagian yang lain disempitkan rizkinya sehingga hidupnya pas-pasan atau malah kekurangan. Dialah yang mengetahui rahasia di balik pembagian rizki yang tidak merata.

Sebagian dari rahasia itu dibuka oleh Allah dalam firman-Nya: ”Dan jika Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 27)

Ayat di atas mengandung pesan yang tegas, bahwa terhadap distribusi rizki yang tidak merata itu jangan disikapi dengan suudzan, berburuk sangka seolah-olah Allah tidak adil kepada hamba-hamba-Nya. Pesan itu menjadi semakin terang setelah Allah menutup ayat di atas dengan menyatakan bahwa Dia Maha Mengetahui dan Maha Melihat.

Sikap negatif lain yang harus dihindari adalah iri hati atau hasad. Sudah merupakan sunnah-Nya bahwa ada sebagian diberi kelebihan rizki dibandingkan yang lain. Allah berfirman:

”Dan jangalah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisaa: 32)

Kita hendaknya lapang dada menerima perbedaan tersebut, sembari terus berusaha keras dan cerdas untuk mengais rizki-Nya. Hari ini mungkin Allah menyempitkan, tapi siapa tahu justru besok Allah akan melapangkan. Semua itu adalah rahasia-Nya. Bagi kita, yang penting adalah ikhtiar dan berdo’a.

”Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah dari sebagian rizki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15)

Bagi mereka yang dilapangkan rizkinya, hendaknya senantiasa menyadari bahwa rizki itu amanah dan titipan Allah. Kekayaan, jabatan, popularitas, dan kedudukan yang tinggi jangan menjadikan lupa diri, sombong, dan takabbur. Jangan seperti orang yang disebut dalam ayat di bawah ini:

”Jika kami memberi kesenangan kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, dan bila ia ditimpa kemalangan, ia berdo’a berpanjang-panjang.” (QS. Fushshilat: 51)

”Bila Kami rasakan kepadanya suatu rahmat dari Kami sendiri, setelah ada kemalangan menimpanya, pasti ia berkata: Ini karena usahaku sendiri, dan aku tak yakin akan terjadi hari kiamat.” (QS. Fushshilat 50)

Kaum Muslimin yang menyadari dan berusaha mencontoh nama dan sifat-Nya Al-Baasith, akan berusaha sekuat tenaga untuk memberi kelapangan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Kekayaan yang diberikan Allah tidak digunakan untuk kesenangan dirinya sendiri, tetapi didistribusikan kepada masyarakat sekitarnya, terutama terhadap fakir miskin dan para mustadh’afiin. Mereka sadar bahwa di dalam hartanya ada hak mereka yang harus dikeluarkan.

Akhirnya, marilah kita menyikapi kelapangan rizki itu sebagaimana sikap Nabi Sulaiman yang senantiasa berdo’a:

”Tuhanku! Berilah aku kesempatan untuk berterimakasih atas nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan supaya aku dapat mengerjakan perbuatan yang baik yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam hamba-hamba-Mu yang shaleh”. (QS. An-Naml: 19) -

smileyfaceatsunset-2000px-mikesalway_zpsyaqny2xu.jpg
 
22, Al Khafidh

خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ

[3]Kejadian hari kiamat itu merendahkan (golongan yang ingkar), dan meninggikan (golongan yang taat).

quran 56:3


Al-Khaafidh berasal dari kata kerja kha-fa-dha, yang berarti merendahkan. Dalam al-Qur’an tidak didapati satu ayat pun yang secara langsung menyebut nama Al-Khaafidh. Meskipun demikian, ditemukan turunan kata itu dalam beberapa ayat, misalnya dalam surat Al-Waqi’ah: 3 yang menggambarkan hari kiamat sebagai ”Khaafidhatur-Raafi’ah”, (pada hari itu Allah ”merendahkan dan meninggikan” derajat manusia). Ada manusia yang saat di dunia memiliki tempat dan kedudukan yang tinggi di depan manusia, tapi oleh Allah pada hari kiamat justru direndahkannya. Sebaliknya, ada yang dalam kehidupan dunianya direndahkan oleh manusia, sementara Allah pada hari itu justru meninggikan derajatnya.

Suatu hari Rasulullah ditanya tentang arti firman ”Setiap saat Dia (Allah) dalam kesibukan” (QS. Ar-Rahman: 29), beliau menjawab: ”Termasuk kesibukan-Nya adalah mengampuni dosa, menghilangkan keresahan, meninggikan kelompok-kelompok manusia, dan merendahkan yang lain”. (HR. Ibnu Majah)

Dari hadits di atas, kita bisa menangkap makna bahwa Allah swt tidak pernah berhenti beraktifitas. Dia senantiasa sibuk, selain menjaga rotasi alam, juga mengatur kehidupan makhluk istimewa-Nya yang bernama manusia. Dia memberi ampunan pada siapa saja yang bertaubat kepada-Nya, menghilangkan kegelisahan orang-orang yang stres, meninggikan orang yang berprestasi, dan merendahkan manusia dengan berbagai sanksi sosial, moral, dan hukum.

Al-Qur’anul Karim telah menjelaskan kepada manusia tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan kejatuhan, kebangkitan, dan ketinggian.

Berikut ini adalah salah satu ayat yang menjelaskan tentang hukum tersebut:

”Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam kesempurnaan ciptaan, kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya”. (QS. At-Tiin: 5)

Al-Qur’an sangat cermat memilih kata, dipilihnya kata ”Kami” untuk menggambarkan keterlibatan manusia dalam ketinggian dan kerendahan derajatnya. Jika manusia mengoptimalkan fungsi ruh Ilahi –yang dalam al-Qur’an digunakan istilah ”Min Ruuhiy”— untuk mengangkat derajatnya ke tingkat ”ahsanu taqwiim, maka tinggilah derajat kemanusiaannya. Sebaliknya, jika manusia melepaskan diri dari daya tarik ruhnya dan mengikuti daya tarik bumi (gravitasi) sebagaimana makhluk binatang yang hidupnya hanya diperuntukkan bagi pemenuhan makan, minum, dan hubungan seksual semata, maka ia akan meluncur jatuh ke tingkat yang serendah-rendahnya.

Al-Qurthubi dalam al-Asmaul Husna meng*ingatkan: ”Ketahuilah bahwa yang direndahkan Allah adalah manusia yang terhindar dari taufiq dan pertolongan-Nya, yang diperintah oleh nafsunya, yang tidak memperoleh kebajikan dari Tuhannya. Apabila berusaha kembali kepada-Nya, ia tidak mendapatkan bisikan hati tentang kekuasaan-Nya. Apabila berusaha mendengar bisikan-bisikan hatinya, ia tidak meraih percaya diri atau kelezatan dalam bermunajat dengan-Nya”.

Untuk menjaga keseimbangan dan harmoni kehidupan manusia di muka bumi, Allah swt menerapkan hukum ”reward and punishment”. Hadiah diberikan kepada mereka yang berprestasi, sedang hukuman diberikan kepada mereka yang melanggar aturan. Bisa jadi reward and punishment itu tidak diberikan semasa hidup di dunia ini, tapi yang pasti di akhirat nanti semua orang akan mendapat hadiah dan sanksi. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih akan diangkat derajatnya dengan mendapat kedudukan yang tinggi (surga), sedangkan mereka yang kafir, musyrik, dan munafiq akan diberi sanksi dengan hukuman neraka jahim. Allah menghinakan siapa saja yang layak mendapatkan kehinaan akibat perbuatannya.

Green_Tree_Ant_two_times_life_size_zpsisyki4tk.jpg
 
23. Ar Raafi'

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu” , maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Mujaadilah [58]: 11)


Ar-Rafi’ berasal dari kata ra-fa-’a yang artinya meninggikan, sedang arti Ar-Raafi’ sendiri adalah Yang Maha Tinggi. Allah adalah wujud yang Maha Tinggi, bahkan Dia adalah setinggi-tinggi wujud dalam segala sifat keagungan-Nya.

Dalam al-Qur’an bisa dijumpai beberapa ayat yang menjelaskan tentang ”kesibukan” Tuhan dalam meninggikan derajat nabi dan para wali (kekasih)-Nya. Di antaranya adalah Nabi Isa as yang telah diwafatkan dan kemudian ditinggikan derajatnya oleh Allah swt di sisi-Nya, setelah di dunia dihinakan oleh ummatnya. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan meninggikanmu”. (Ali Imraan: 55)

Nabi Muhammad termasuk disebut dalam al-Qur’an sebagai orang yang ditinggikan sebutan (derajatnya). Nama beliau tidak saja digandengkan dengan nama-Nya dalam dua kalimah syahadat, tapi namanya senantiasa disebut-sebut dalam setiap shalawat. Sekalipun beliau sudah wafat 14 abad yang lampau, namanya tetap harum dan paling banyak disebut dan diucapkan manusia sampai hari kiamat.

Tak sedikit orang yang semasa hidupnya tidak banyak disebut orang, bahkan oleh para musuh politiknya dikategorikan sebagai pengkhianat negara, tapi setelah wafat sekian lamanya, namanya direhabilitasi. Orang menyebutnya kembali sebagai pahlawan. Pikiran-pikirannya muncul kembali menjadi ruh dalam menyemangati perjuangan dan idealisme.

Dia-lah Allah yang tidak pernah lepas memperhatikan satu per satu hamba-hamba-Nya, memperhitungkan, sekaligus memberi hukuman dan penghargaan. Orang-orang yang mengukir prestasi semasa hidupnya di dunia ini tak perlu khawatir perbuatannya sia-sia. Lambat atau cepat prestasi itu akan diperlihatkan dan dihargai. Bisa jadi penghargaan itu diberikan pada saat dia masih hidup, mungkin juga diberikan saat sudah mati. Namanya dikenang banyak orang, dijadikan teladan, dijadikan sumber inspirasi, dan ditulis dalam catatan sejarah dengan tinta emas.

Pahlawan Uhud adalah contoh kongkret tentang orang-orang yang ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT. Dalam hadits qudsiy Allah berfirman: “Ketika kawan-kawanmu mendapat musibah dalam Perang Uhud, Allah SWT memindahkan ruh-ruh mereka itu ke dalam burung-burung hijau yang menghinggapi sungai-sungai surga sambil memakan buah-buahannya dan kemudian berlindung ke lampu-lampu emas yang bergantungan di bawah naungan Arsy. Tatkala mereka merasakan nikmatnya tempat peristirahatan mereka di surga itu, berkatalah mereka: siapakah gerangan yang akan menyampaikan kepada kawan-kawan kami tentang hal ihwal diri kami yang hidup bahagia di surga, agar mereka tidak meninggalkan jihad dan agar mereka tidak licik meninggalkan medan perang? Allah menjawab: Akulah yang akan menyampaikan kepada mereka perihal diri kamu semua.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Hakim, Baihaqi, dan Ibnu Abbas)

Jika kita ingin meneladani Allah dalam sifat Ar-Raafi’ ini, maka kita harus berusaha keras untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, serta membela hamba-hamba Allah yang memperjuangkannya.

https://www.youtube.com/watch?v=nIcecqY06is
 
24. Al Mui'z

Dalam Al-Qur’an, kata Mu’iz, yang merujuk langsung pada sifat Allah, tidak ditemukan. Tetapi, kata kerja yang menunjukkan kegiatan Allah dalam penganugerahan kemuliaan kepada hamba-Nya, bisa dijumpai dalam beberapa ayat. Salah satu di antaranya adalah:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
26]
Katakanlah (wahai Muhammad): “Wahai Tuhan yang mempunyai kuasa pemerintahan! Engkaulah yang memberi kuasa pemerintahan kepada sesiapa yang Engkau kehendaki, dan Engkaulah yang mencabut kuasa pemerintahan dari sesiapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah juga yang memuliakan sesiapa yang Engkau kehendaki, dan Engkaulah yang menghina sesiapa yang Engkau kehendaki. Dalam kekuasaan Engkaulah sahaja adanya segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

quran 3:26

Siapakah yang dikehendaki Allah untuk dimuliakannya? Al-Qur’an membocorkan rahasia itu kepada kita, sebagaimana firman-Nya: “Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafiq itu tiada mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8)

Kemuliaan menurut ayat di atas hanya pantas disandangkan kepada mereka yang mempunyai kedekatan hubungan dengan Allah. Orang yang menjaga jarak dengan Allah, menjauh dari ajaran-Nya, dan melalaikan-Nya, maka Dia akan mencabut kemuliaannya.

Al-Qur’an mengingatkan tentang beberapa hal yang bisa melalaikan manusia dari mengingat Allah, di antaranya adalah harta kekayaan. Karunia Allah yang awalnya diberikan sebagai fasilitas hidup, tapi oleh manusia justru dijadikan sebagai tujuan hidup. Bahkan, sebagian besar manusia memandangnya sebagai kemuliaan. Tak heran jika ada yang mengira bahwa kemuliaan manusia itu terletak pada seberapa banyak harta yang dikumpulkan. Dalam keadaan seperti itu, manusia berubah dari Hamba Allah menjadi budak harta atau budak dunia. Mereka mengira bahwa harta, jabatan, popularitas, dan kemegahan duniawi lainnya bakal dapat mengekalkan dan menjadikannya abadi di dunia ini.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur”. (At-Takatsur: 1-2)

“Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah”. (Al-Humazah: 3 dan 4).

Pesan penting yang harus dicamkan baik-baik di sini, adalah bahwa kemuliaan itu bukan berada di luar, bukan faktor eksternal. Kemuliaan itu sesungguhnya ada pada diri kita sendiri, ketika kita mampu menggali nilai-nilai ilahiyah dalam diri. Inilah yang akan melahirkan percaya diri (self-confidence), menumbuhkan harga diri, dan selanjutnya mendorong kemandirian. Di sinilah sesungguhnya letak kemuliaan itu.

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”. (Al-Israa: 14)

Allah telah memuliakan kita karena kedekatan hubungan kita kepada-Nya. Satu lagi tugas kekhalifahan yang harus kita jalani, yaitu memuliakan orang lain. Jika kita ingin dimuliakan, maka muliakanlah orang lain. Jika kita ingin dihormati, maka hormatilah orang lain. Jangan sekali-kali memandang rendah orang lain, karena setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat. Yang membedakannya adalah iman dan taqwanya. Dengan semangat memuliakan, akan tercipta kedamaian dan ketentraman batin. (Hamim Thohari)

Al-Mu'iz bererti Maha Pemberi Kemuliaan atau Kemenangan. "Ya Mu'izz" dizikirkan sebanyak 140 kali setiap hari, Inshaa Allah akan memperolehi kewibawaan yang besar terutamanya ketua-ketua jabatan atau perniagaan.

Mountain%20Wallpapers%202_zpsr22dri9v.jpg
 
Back
Top
Log in Register