BTC USD 86,424.0 Gold USD 4,147.83
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

25. Al Muzil

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
26]
Katakanlah (wahai Muhammad): “Wahai Tuhan yang mempunyai kuasa pemerintahan! Engkaulah yang memberi kuasa pemerintahan kepada sesiapa yang Engkau kehendaki, dan Engkaulah yang mencabut kuasa pemerintahan dari sesiapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah juga yang memuliakan sesiapa yang Engkau kehendaki, dan Engkaulah yang menghina sesiapa yang Engkau kehendaki. Dalam kekuasaan Engkaulah sahaja adanya segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

quran 3:26

Lafal Al-Mudzillu mempunyai arti atau mengandung makna bahwa Allah Subhanahu Wata'ala, adalah Dzat yang menundukkan orang yang dikehendaki-Nya dengan jalan menghinakannya. Berakhlak dengan kedua ism ini mengharuskan seseorang agar memuliakan kepada siapa yang diperintahkan supaya dimuliakan dan menghinakan kepada siapa yang diperintahkan supaya dihinakan.

Khasiatnya Ism Al-Mudzillu menurut beberapa pendapat jika dibaca sebanyak tujuh puluh lima kali kemudian ia berdoa di dalam sujudnya, niscaya ia akan bebas dari dalam penjaranya dan akan selamat dari gangguan orang-orang yang dengki dan aniaya.

Al Mudzill secara bahasa berarti menimpakan kehinaan. Allah Al Mudzill, artinya Allah menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki menurut hikmah kebijaksanaan-Nya. Misalnya, Allah menghinakan orang-orang musyrik, kafir, dan munafik karena kedurhakaan mereka.

Allah memiliki otoritas untuk memuliakan dan menghinakan hamba-Nya. Seorang hamba dimuliakan karena amalnya, demikian juga hamba yang lain dihinakan karena perbuatannya. Allah memuliakan dan menghinakan hamba-Nya atas dasar ilmu juga keadilan-Nya. Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya, tetapi hamba itulah yang mendzalimi dirinya sendiri.

"Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." [Q.S. Ali 'Imran: 26]

Seorang muslim yang memahami Asma Allah yang satu ini senantiasa waspada dan hati-hati, sebab bisa jadi kehormatan dan kemuliaan yang kini disandangnya menjadi batu ujian yang justru bisa membalikkan posisinya.

Jika saat ini diberi amanah harta dan kekayaan, ia tidak bangga apalagi menyombongkan diri. Ia tetap tawadhu (rendah hati) sekalipun kekayaannya melimpah, anak buahnya banyak, dan orang lain memberi penghormatan karena kebaikan dan kedermawanannya. Ia sadar bahwa harta dan kekayaannya adalah amanah dan titipan Allah agar ia mampu membagikan kesejahteraan kepada yang lain. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah perantara untuk menyejahterakan kaum fakir dan miskin.

Seorang Muslim yang menyadari hakikat Asma Allah, Al-Mudzil senantiasa hati-hati dalam menggunakan harta kekayaannya. Ia tidak semena-mena membelanjakannya, apalagi untuk kemaksiatan. Sebaliknya, seluruh hartanya hanya dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menyantuni fakir miskin, keperluan dakwah dan jihad fi sabilillah.

Pangkat dan jabatan tak jarang menjadikan manusia lupa diri. Dengan pakaian seragam militer, polisi, dokter, atau kepegawaian, kadang seseorang merasa terhormat. Apalagi jika di pundaknya atau di dadanya terselip simbol-simbol tertentu. Tiba-tiba timbul dalam dirinya keinginan untuk dihormati dan dihargai. Ia merasa lebih dari yang lain. Hatinya merasa terkoyak bila ada orang yang tidak memedulikannya.

Di dalam Al Qur'an dijelaskan bahwa orang-orang yang menjauhkan diri dari Allah dan mengingkari ayat-ayat-Nya akan ditimpakan kehinaan. Salah satu dari mereka adalah orang-orang Yahudi, sebagaimana diceritakan dalam Al Qur'an, "Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan." [Q.S. Ali 'Imran: 112]

"Adapun orang-orang yang berbuat kejahatan (akan mendapat) balasan kejahatan yang setimpal dan mereka diselubungi kehinaan..." [Q.S. Yunus: 27]

Untuk lebih menghayati Asma Allah, Al-Mudzil, berikut ini kami kutipkan hadits qudsy dalam kitab Al-Ghazali. Allah berfirman,

“Wahai manusia! Wahai budak-budak uang! Aku menjadikan uang agar engkau dapat menikmati rizki-Ku, mengenakan pakaian-Ku, dan agar kalian semua bertasbih dan menyucikan diri-Ku. Tetapi ternyata kalian mengambil kitab suci-Ku, lalu engkau letakkan di belakangmu dan engkau mengambil uang lalu engkau letakkan di atas kepalamu. Kau agung-agungkan rumahmu dan kau remehkan rumah-Ku. Sungguh engkau bukanlah manusia pilihan, bukan orang-orang yang merdeka. Tapi engkau adalah para budak dunia. Sekumpulan manusia sepertimu laksana kuburan yang dibangun dengan tembok. Sepintas dari luar tampak cantik molek, tetapi di dalamnya jelek. Begitu pula dengan sikapmu, sepintas kalian berbuat baik, simpatik, dan penuh kasih kepada orang lain dengan mulutmu yang manis dan perbuatanmu yang manis memikat, tetapi sesungguhnya hatimu keras dan kasar, serta budi pekertimu sangat nista. Wahai manusia! Bersihkan perbuatanmu dari noda, lalu mintalah kepada-Ku. Sungguh Aku memberi kepadamu lebih banyak lagi dari apa yang dimintakan para peminta.”

Akhirnya, marilah kita berdoa, "Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat. Sungguh Engkau tidak pernah mengingkari janji. [Q.S. Ali 'Imran: 194]

underwater-fish-wallpaper-1280x800-0203_zpsbvg1dbue.jpg
 
Fakta: Umat Islam di Malaysia 53% daripada penduduknya.
 
26. As Samii'


فَإِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ


“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” [QS. Al-Baqarah : 137].

Allahlah yang mendengar semua yang terucap, terlintas dalam pikiran dan akal, apa yang dirasakan dalam hati. Gemericiknya air, gemerisiknya dedaunan kala ditiup angin, bahkan bunyi jejak langkah kaki semut Allah mendengarnya dengan jelas. As-Sami’ Yang Maha Mendengar, adalah sifat kesempurnaan karena lawan katanya tuli, sebagai sifat kekurangan.

Ada dua tingkat kesempurnaan yang relatif dan mutlak. Kesempurnaan mutlak tidak bergantung pada alat, keadaan, atau batasan. Sedangkan kesempurnaan yang relative tergantung pada alat, keadaan dan tebatas.
Alam semesta sejak penciptaan awal hingga akhir dari satu sisi ke sisi yang lain tanpa terputus, segala bunyi dan suara selalu mengiringi penciptaan ini. suara ini terkadang ada yang mampu didengar oleh manusia, sebagaimana halnya suara ledakan keras, ada pula yang tidak terdengar oleh pendengaran manusia.

Suara ini tidak ada yang hilang dari catatan As-Sami’ dalam buku besar yang tersimpan dalam lauhul mahfudz. Semua suara dan bunyi dari makhluk di alam semesta terjejak dengan rapi, penuh makna. Jika suara ini adalah pertanyaan, maka Allah menjawabnya, jika sebuah tuntutan, maka akan dipenuhiNya, jika ini adalah sebuah salah, maka akan ditunjukkan jalan kebenaran olehNya.

Allah Maha mendengar segala keluh, gundah, kegelisahan, dan kehampaan kita. Hanya dengan isyarat dalam hati Allah mampu mendengar. Tak perlu kita melenguhkan suara kita untuk memohon kasihNya. Hanya dengan ungkapan air mata, Allah sudah memahami apa yang kita inginkan.

Allah dengan sengaja menciptakan dua telinga untuk kita, agar kita lebih banyak mendengar suara-suara di sekeliling kita. Mendengar suara rintihan kaum papa yang mengharap pertolongan sesama. Mendengar nasihat-nasihat yang datang dari berbagai penjuru arah untuk memaknai kebesaran As-Sami’, mencintai sifat-sifatNya yang sempurna.

Ini semua merupakan bukti, bahwa Allah ada di sekeliling kita dengan segala jejak yang ditinggalkanNya melaui suara-suara hidayah alam. Sehingga kita bisa menyadari, menemukan dan mencintaiNya dimanapun kita berada.

Di saat kita merasa hampa dan tiada berdaya, hanya Allah mampu mendengar apa isi hati kita. Segala yang tak terucap dari lisan, Allah tahu dengan sejelas-jelasnya. Allah tidak akan pernah bosan mendengar segala pinta dan asa kita.

Maha MendengarNya, tidak hanya di alam nyata, di alam ghaib Allah menguasaiNya. Sebagaimana firmanNya dalam surat Al-An’am 59, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (Q.S. Al-An’am 59)

Menyebut asma As-Sami dalam setiap dzikir kita semakin menambah kedekatan kita kepadaNya. Memuja sifat dan mengamalkan dalam kehidupan akan membawa kita kepada kepekaan untuk lebih memahami kekuasaaNya.

Pernahkah kita mendengar detak jantung yang memompa darah kita setiap harinya? Atau suara helaian nafas yang keluar dari rongga dada ini? Begitu pun dengan desir aliran darah yang menjalari? Semua anggota tubuh kita, tiada berhenti memujanya. Hanya keterbatasan pendengaran kita yang membuat segalanya menjadi kabur tertutup oleh hijab kekhilafan kita.

Allah dalam hadis qudsi mengungkapkan, “Tidaklah seorang hamba-Ku mendekati-Ku dengan terus menerus bersikapa taat kecuali Aku akan mencintaiNya dan jika Aku mencintaiNya, maka Aku akan menjadi telinganya yang dengannya dia mendengar dan menjadi lidahnya yang dengannya dia berbicara dan menjadi tangannya yang dengannya dia menggenggam.”

Semoga pendengaran kita semakin mengasah kepekaan kita untuk merasakan keindahan semesta dan penciptaNya

461236020_1367007381_zpsh0lcwhkz.jpg
 
27. Al Bashir

Bismillahirrahmanirrahiim

Cara mulia dan terpenting yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah adalah dengan bertawasul kepadaNya dengan nama-namaNya yang baik.Allah telah memerintahkan kita dalam Al-Qur'an untuk berdoa dengan menyebut nama-namaNya,sebagaimana firmanNya : " Hanya milik Allah-lah al-Asma al-Husna',maka bermohonlah dengan menyebut Asmaul al-Husna' itu dan tinggalkan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam ( menyebut ) nama-namaNya.Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
( QS. Al-A'raf " 180).

Rasulullah SAW juga bersabda : " Sesungguhnya Alah memiliki sembilan puluh sembilan nama,seratus kurang satu,barangsiapa menjaganya.ia akan masuk Jannah ".
( HR. Bukhari dan Muslim ).

Al-Bashir adalah Allah memiliki sifat melihat.Penglihatan adalah salah satu sifat ZatNya yang sesuai dengan keagunganNya.
Nama ini disebutkan Allah di dalam firmanNya :

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
56]Sesungguhnya orang-orang yang membantah mengenai maksud ayat-ayat Tuhanmu dengan tidak berdasarkan sebarang bukti yang sampai kepada mereka (dari pihak yang diakui benarnya), tidak ada dalam dada mereka melainkan perasaan mahukan kebesaran (untuk mengatasimu), kemahuan yang mereka tidak sekali-kali akan dapat mencapainya. Oleh itu mintalah perlindungan kepada Allah (dari angkara mereka); sesungguhnya Dia lah jua Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat.

( QS. Ghaffar : 56 ).

Al-Bashir adalah Allah memiliki sifat melihat.Penglihatan adalah salah satu sifat ZatNya yang sesuai dengan keagunganNya.Sifat ini wajib ditetapkan tanpa meyerupakan atau menjelaskan bagaimananya, atau meniadakan atau mengubahnya.
Dia Maha Melihat alam ghaib dan alam nyata, melihat segala sesuatu baik tersembunyi ataupun nampak, baik yang teramat sangat kecil atau pun yang besar.

Dia melihat makhlukNya, mengetahui mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di dalam dada.Tidak ada sesuatu pun dari amal perbuatan hambaNya yang tersembunyi dariNya.BagiNya yang rahasia adalah jelas, yang ghaib adalah nyata.
Dia melihat semut hitam yang merayap di atas batu hitam di malam yang gelap gulita, dan melihat tali urat dan pembuluh darah tempat mengalirnya makanan di dalam anggota tubuh semut itu.

Allah adalah Al-Bashir yang melihat orang-orang yang beriman dengan kemuliaanNya dan rahmatNya, memberi mereka anugerah berupa nikmat dan JannahNya, menambah untuk mereka kenikmatan berjumpa denganNya dan melihatNya sebagai bentuk kemurahanNya.
Dan Dia tidak melihat kepada orang-orang kafir sebagai hukuman bagi mereka, maka mereka kekal di dalam siksa dan dihalangi dari melihatNya.

Doa-doa yang berkaitan dengan nama Al-Bashir :


"Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya pada lisanku, jadikanlah cahaya pada pendengaranku, jadikanlah cahaya di belakangku, dan cahaya dari depanku, jadikanlah cahaya dari atasku, dan cahaya dari bawahku, Ya Allah berilah aku cahaya ".
( HR. Muslim ).

Orang yang mengesakan Al-Bashir akan mencapai derajat ihsan, ia selalu merefleksikan kesempurnaan rasa selalu di awasi Allah.Seperti di riwayatkan dalam hadist shahih dari Umar bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wa Sallam bersabda tentang ihsan : " Yaitu kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihatNya, dan apabila kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu ".
( HR. Bukhari ).

Maka wajib hukumnya seorang hamba untuk merasa diawasi oleh Rabbnya dalam menjalankan ketaatan, dan yakin nahwa Allah dari atas 'Arsy melihat ibadahnya, mengetahui keikhlasan dan niatnya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : "Dan katakanlah. "Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu ".
( QS. At-Taubah : 105 ).

Orang yang mengesakan Al-Bashir akan memikirkan ciptaan Allah dan pengaruhnya, kesempurnaan kekuasaan dan hikmahNya yang sangat luas, serta mengambil pelajaran dari apa yang Allah timpakan terhadap umat-umat terdahulu

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.Marilah kita untuk senantiasa Mengajak Dan Menebar Kebaikan bagi para sesama.

Kami beristighfar kepada Allah.Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala melimpahkan shalawat,salam dan keberkahan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam,keluarga dan para shahabatnya serta seluruh pengikut beliau.
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaa hailla anta astaghfiruka wa atubu ilaika...

Wassalam...

FOREST%20WALLPAPER%204_zpsurkkhnrm.jpg
 
Last edited:
28. Al Hakam

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ
[48]Orang-orang yang sombong angkuh itu menjawab: “Sebenarnya kita semua menderita bersama-sama dalam neraka (tidak ada jalan untuk kita melepaskan diri), kerana sesungguhnya Allah telah menetapkan hukumanNya di antara sekalian hambaNya “

quran 40:48

“Maka patutkah aku mencari hukum selain daripada Allah, padahal Dialah yang menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci?” (Al-An’am: 114)

Al-Hakam berasal dari akar kata ha-ka-ma. Dari akar kata itu bisa berubah menjadi haakim dan hukm. Semua kata yang berasal dari pengembangan akar kata ha-ka-ma mempunyai makna yang sama, yaitu menghalangi. Itulah sebabnya, hukum dapat diartikan sebagai perangkat yang dapat menghalangi atau membatasi seseorang atau sekelompok orang dari tindakan yang melanggar.

Pengertian pertama Al-Hakam adalah bahwa Allah-lah yang Maha Memutuskan dan Menetapkan semua perkara. Segala yang terjadi di kolong langit dan di atas bumi adalah ketetapan-Nya. Kapan selembar daun mengering, kapan terlepas dari tangkainya, dan kapan pula jatuhnya ke bumi, Dia-lah yang menetapkan. Tiada Tuhan selain Allah, yang menetapkan segala sesuatu berdasar hukum-Nya.

Pengertian kedua, melalui Asma-Nya ini Allah menetapkan bahwa setiap individu manusia akan memperoleh apa yang telah diusahakannya. Setiap individu menanggung sendiri dosa dan pahalanya. Anak tidak menanggung dosa bapaknya, demikian juga sebaliknya. Islam tidak mengenal dosa warisan, sebagaimana firman-Nya: “Dan bahwa setiap manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusakannya, dan bahwa usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepada-nya).” (An-Najm: 39-40).

Pengertian ketiga, sebagai Al-Hakam, Allah telah menetapkan kepastian hukum bagi hamba-Nya. Bagi yang berbakti akan diganjar dengan kebahagiaan, sebaliknya bagi yang durhaka akan dihukum dengan kesengsaraan. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yanag penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (Al-Infithar: 13 dan 14)

Pengertian keempat, Allah adalah Hakim Agung. Sebagai Hakim Agung, Allah tidak membutuhkan sesuatu, malah sebaliknya segala sesuatu membutuhkan-Nya. Dia tidak bisa dirayu, disogok, dan disuap. Di pengadilan Allah, semua perkara diputus dengan seadil-adilnya. Semua alat bukti dapat dihadirkan, bahkan Allah sendiri yang akan menjadi saksinya. Jangankan perbuatan yang terlihat, niat yang tersembunyi sekalipun dapat dilihat Allah swt. Di hadapan Allah, mana mungkin kita mengingkari atau sekadar menyembunyikannya?

Pengertian kelima, setiap keputusan yang keluar dari-Nya pastilah merupakan keputusan dan adil dan bijaksana. Allah tidak pernah mendzalimi hamba-Nya, tapi hamba-Nya lah yang berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri. Apa pun keputusan-Nya harus kita terima. “Boleh jadi sesuatu yang tidak kamu sukai menjadi lebih baik bagi kamu, dan bisa jadi apa yang kamu sukai itu menjadi jelek bagi kamu.” (Al-Baqarah: 216)

Sebagai hambanya Al-Hakam, kita hanya boleh berbaik sangka terhadap apa yang telah diputuskan kepada kita sampai saat ini, juga terhadap apa yang akan diputuskan kelak pada kita di akherat nanti. Kita rela dan bersyukur atas keputusanNya di dunia ini, dan kita senantiasa berharap keputusan terbaik buat kita di akherat kelak. (Hamim Thohari)

Asmaul Husna dan Khasiat Membacanya

“Ya Hakam!” dizikirkan sebanyak 68 x pada tengah malam dalam keadaan suci, InsyaAllah dapat membuka hati seseorang itu mudah menerima ilmu-ilmu agama & membantu kecepatan mempelajari ilmu-ilmu agama.

https://www.youtube.com/watch?v=CXnf9jOtnw0
 
29. Al Adl

Al-'Adl artinya Maha Adil. Al-‘Adl bearasal dari kata ‘adala yang berarti lurus dan sama. Keadillan Allah SWT bersifat mutlak, tidak dipengaruhi oleh apapun dan oleh siapapun. Keadilan Allah SWT juga didasari dengan ilmu Allah SWT yang Maha Luas. Sehingga tidak mungkin keputusan-Nya itu salah. Alloh adalah Pencipta segala keindahan dan keburukan, kebaikan, dan kejahatan. Allah SWT bersifat adil pada ciptaan-Nya, dalam hal ini ada rahasia yang sulit dimengerti. Tetapi setidak-tidaknya, kita memahami bahwa seringkali orang harus mengenal lawan kata dari sesuatu untuk memahaminya. Orang yang tidak pernah merasakan kesedihan, tidak akan mengenal kebahagiaan. Jika tidak ada yang buruk, kita tidak akan mengenal keindahan. Baik dan buruk sama pentingnya. Alloh menunjukkan yang satu dengan yang lain, yang benar dengan yang salah, dan menunjukkan kepada kita akibat dari masing-masingnya. Dia memperlihatkan pahala sebagai lawan kata dari siksaan. Lalu dipersilakan-Nya kita untuk menggunakan penilaian kita sendiri. Sesuai dengan takdirnya, masing-masing mendapatkan keselamatan dalam penderitaan dan rasa sakit, atau kutukan dalam kekayaan. Alloh mengetahui apa yang terbaik bagi makhluk-Nya. Hanya Alloh yang mengetahui nasib kita. Perwujudan dari nasib itu adalah keadilan-Nya.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-An’am ayat 115 : وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلا لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya : “Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur'an, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Orang yang adil adalah orang yang berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuran ganda. Persamaan inilah yang menunjukan orang yang adil tidak berpihak kepada salah seorang yang berselisih. dan seorang yang adil selalu berpihak kepada yang benar, karena baik yang benar maupun yang salah sama-sama harus memperoleh haknya. Maka orang yang adil akan melakukan sesuatu yang patut, tidak sewenang-wenang dan berusaha memutuskan perkara secara adil sesuai hukum yang berlaku, tidak memihak kepada siapapun dalam memutuskan suatu perkara, membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Adil juga dimaknai sebagai penempatan sesuatu pada tempat yang semestinya.

Perilaku yang dapat diteladani :

Yang pertama Adil terhadap Allah Ta’ala, yaitu dengan tidak berbuat syirik dalam beribadah kepada-Nya, mengimani nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, menaati-Nya dan tidak bermaksiat kepada-Nya, senantiasa berdzikir dan tidak melupakan-Nya serta mensyukuri nikmat-nikmatNya dan tidak mengingkarinya.

Yang kedua Adil terhadap sesama manusia, yaitu dengan memberikan hak-hak mereka dengan sempurna tanpa menzhaliminya, sesuai dengan apa yang menjadi haknya.

Yang ketiga Adil terhadap keluarga (anak dan istri), yaitu dengan tidak melebihkan dan mengutamakan salah seorang di antara mereka atas yang lainnya atau kepada sebagian atas sebagian yang lainnya.

Yang keempat Adil dalam perkataan, yaitu dengan berkata baik dan jujur tidak berdusta, berkata kasar, bersumpah palsu, mengghibah saudara seiman dan lain-lain.

Yang kelima Adil dalam berkeyakinan, yaitu dengan meyakini perkara-perkara yang disebutkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih dengan keyakinan yang pasti tanpa keraguan sedikitpun dan tidak meyakini hal-hal yang tidak benar yang menyelisihi keduanya.

Yang keenam Adil dalam menetapkan hukum dan memutuskan perselisihan yang terjadi antara sesama manusia, yaitu dengan menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber hukum dan pemutus perkara tersebut.

Strawberry-Plant_zps7h6ub8gh.jpg
 
30. Al Lathif

Mahalembut terhadap hamba-Nya, Maha Mengetahui hal-hal yang lembut, itulah al-Lathif, salah satu asma’ul husna yang Dia subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,


لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ


“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Mahalembut lagi Maha Mengetahui.” (al-An’am: 103)

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); sedangkan Dia Mahalembut lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk: 14)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyebutkan nama Allah al-Lathif dalam sebuah hadits,

“Wahai Aisyah, ada apa denganmu? Nafasmu tampak terengah-engah.”

Aisyah menjawab, “Tidak.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Engkau harus mengabarkan kepadaku atau Allah akan mengabariku, Yang Maha Mengetahui hal-hal yang lembut dan Maha Berilmu.” (Sahih, HR. an-Nasa’i dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Penulis kitab an-Nihayah berkata, “Pada nama Allah اللَّطِيفُ ( al-Lathif) terkumpul makna kelembutan dalam bab perbuatan, dan dalam bab ilmu terhadap maslahat-maslahat yang lembut, serta menyampaikannya kepada makhluk-Nya yang Allah takdirkan untuk memperolehnya.

Ungkapan,

لَطَفَ بِهِ وَلَهُ

Maknanya ialah berbuat lembut padanya.

Adapun ungkapan لَطُفَ dengan harokat dhammah pada huruf tha’ maknanya kecil atau lembut.”

Ar-Raghib rahimahullah berkata, “(Dalam bahasa Arab) sesuatu yang tidak dapat ditangkap dengan indra terkadang diungkapkan dengan kata al-Latha’if. Bisa jadi, dari sisi inilah Allah subhanahu wa ta’ala disifati dengan nama al-Lathif, yakni bermakna bahwa Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui hal-hal yang lembut. Bisa jadi pula, maknanya ialah Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya dalam hal memberikan hidayah kepada mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya.” (asy-Syura: 19)

“Sesungguhnya Rabbku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki.” (Yusuf: 100)

Dengan demikian, Allah Mahalembut terhadap hamba-Nya dalam urusanurusan yang ada dalam diri hamba tersebut, yakni yang terkait langsung dengan dirinya, dan lembut terhadapnya pada urusan-urusan yang di luar dirinya. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menggiring hamba- Nya kepada apa yang menjadi maslahat baginya, dari arah yang hamba itu sendiri tidak merasa. Ini adalah buah dari pengetahuan Allah, rahmat-Nya dan kemurahan-Nya.”

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa nama ini memiliki dua makna.

Bermakna al-Khabir, yang berarti ilmu-Nya meliputi hal-hal yang rahasia, yang tersembunyi, yang tersimpan dalam dada, dan segala sesuatu yang lembut. Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala sesuatu yang mungkin bagi-Nya, tidak ada sesuatu pun yang terlewat dari ilmu Allah subhanahu wa ta’ala dan pengetahuan-Nya.
Kelembutan-Nya terhadap hamba-Nya dan wali-Nya yang ingin Dia beri karunia, meliputinya dengan kelembutan-Nya dan kemurahan-Nya, mengangkatnya ke derajat yang tinggi, memberikan kemudahan untuknya, dan menjauhkan-Nya dari kesulitan.

Karena itu, mengalirlah pada dirinya berbagai ujian dan berbagai ragam cobaan—yang Allah subhanahu wa ta’ala ketahui mengandung maslahat, kebahagiaan, dan akibat yang baik baginya, di dunia dan akhirat. Misalnya, Allah subhanahu wa ta’ala menguji para nabi dengan gangguan dari kaumnya kepada mereka dan dengan jihad di jalan-Nya. Allah menguji para walinya dengan sesuatu yang mereka benci agar Dia memberi mereka apa yang mereka sukai.

Inilah makna ucapan Ibnul Qayyim, “Maka dari itu, Allah memperlihatkan kepadamu kemuliaan-Nya,” yakni dengan mengujimu melalui sesuatu yang tidak engkau sukai; serta “Dia tampakkan kelembutan-Nya,” yakni pada akibat yang terpuji dan akhir yang membahagiakan.

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Betapa banyak hamba yang memperoleh berbagai keinginan dunia yang dia cari, baik berupa wilayah, kepemimpinan, atau suatu sebab yang disukai, lalu Allah subhanahu wa ta’ala memalingkannya dari hal tersebut karena kasih sayang-Nya kepadanya, agar hal tersebut tidak membahayakan urusan agamanya.

(Ketika itu) seorang hamba akan bersedih karena ketidaktahuannya dan karena tidak mengenal Rabbnya. Padahal apabila dia tahu apa yang disembunyikan untuknya di alam gaib dan apa yang dikehendaki sebagai kebaikan untuknya, tentu dia akan memuji Allah dan mensyukuri-Nya karena itu. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya serta Mahalembut terhadap para wali-Nya.” (Dinukil dari Syarah Nuniyyah karya Muhammad Khalil Harras)



Buah Mengimani Nama Allah al-Lathif

Dengan mengimani nama Allah al-Lathif, seseorang akan memahami betapa besar kelembutan-Nya terhadap dirinya, berbagai kenikmatan Allah berikan dari arah yang dia ketahui maupun yang tidak. Ketika seseorang mengimani nama Allah al-Lathif, dia akan lebih merasaskan betapa besarnya kelembutan Allah terhadapnya. Berbeda halnya ketika seseorang belum mengetahui nama Allah al-Lathif, barangkali ia tak begitu berpikir tentang berbagai kelembutan Allah subhanahu wa ta’ala tersebut pada dirinya.

Di samping itu, keimanan terhadap nama Allah al-Lathif ini akan membuahkan kehati-hatian seseorang ketika bertindak dengan lahiriah dan batiniahnya. Sebab, semuanya diketahui oleh Allah. Selembut apa pun, Allah mengetahuinya. Mahabesar Allah dan Mahaluas ilmu-Nya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita agar selalu melakukan hal-hal yang diridhai-Nya.

1346242_19284843_zps9n0zdnpm.jpg
 
31. Al Khabir

Al Khabir salah satu asma Allah, artinya Dzat yang mengetahui hal-hal yang mendetail pada segala sesuatu, Dzat yang ilmu-Nya sampai pada tingkatan meliputi perkara-perkara batin dan yang tersembunyi

Bismillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah.

Tak kenal, maka tak sayang. Tak sayang, tanda tak cinta

Begitulah ungkapan yang cukup populer sebagai pengukur kecintaan seseorang terhadap sesuatu. Dan ungkapan ini memang benar. Karena nyatanya rasa sayang kita tidak pernah tumbuh terhadap sesuatu yang tidak kita kenal.

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa tidak ada sesuatu yang boleh kita cintai melebihi cinta kita kepada Allah Ta’ala. Untuk itu, sudah sepantasnya kita berusaha mengenal Allah Ta’ala melalui nama-nama-Nya sebagai langkah awal dalam memupuk rasa cinta kita kepada-Nya. Dan kali ini, kita akan mengenal salah satu dari nama-nama Allah, yaitu “Al-Khabir”.
Definisi “Al-Khabir”

Secara bahasa, Al-Khabir diambil dari mashdar al-khibru, al-khubru, al-khibrah, al-khubroh, al-makhbarah, dan al-mukhbarah, yang semuanya berarti pengetahuan terhadap sesuatu. Sedangkan al-khabir adalah yang mengetahui sesuatu itu.1

Sedangkan definisi yang disebutkan oleh para ulama adalah Dzat yang mengetahui hal-hal yang mendetail pada segala sesuatu, Dzat yang ilmu-Nya sampai pada tingkatan meliputi perkara-perkara batin dan yang tersembunyi, sebagaimana ilmu-Nya juga meliputi perkara-perkara yang tampak. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Sejatinya yang menciptakan itu sangat mengetahui. Dan Dia adalah yang Maha Lembut dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 14)

Al-Khabir Yang mengetahui mata-mata yang khianat dan juga perkara-perkara yang disembunyikan dalam dada. Dan Dia Maha Mengetahui terhadap jiwa yang memiliki dada.2

Ketika menafsirkan nama Allah Al-Khabir pada surah Al-An’am ayat 18, Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Ia adalah yang menyingkap pengetahuan terhadap hal-hal yang bersifat rahasia, apa-apa yang ada dalam hati, dan perkara-perkara yang tersembunyi.”3

Imam Ibnu Jarir rahimahullah berkata dalam kitab tafsir beliau, “Al-Khabir adalah Yang Mengetahui maslahat dan mafsadat segala sesuatu, tidak tersembunyi darinya akibat dari segala urusan.”4
Dalil-dalil yang menunjukkan Al-Khabir sebagai nama Allah Ta’ala

Dalam menetapkan suatu nama sebagai nama Allah Ta’ala, para ulama mensyaratkan adanya penyebutan nama tersebut dalam Al-Qur’an atau hadis-hadis yang sahih. Karena perkara-perkara yang berkaitan dengan Allah Ta’ala seperti ini bersifat tauqifiyyah atau baku dari pembuat syariat, dan akal manusia sama sekali tidak memiliki peran untuk berijtihad.5
Dalil dari Al-Qur’an

Syaikh Muhammad Al-Hamud dalam kitabnya An-Nahjul Asma mengatakan bahwa nama “Al-Khabir” telah disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 45 kali. Di antaranya,

وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

“Dan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 18)

قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ

“Beliau berkata,“Saya diberitahu oleh Yang Maha Mengetahui lagi Maha teliti’.” (QS. At-Tahrim: 3)

إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ

“Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu benar-benar mengetahui tentang diri mereka.” (QS. Al-‘Adiyat: 11)
Dalil dari Hadis

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha tatkala beliau menyembunyikan sesuatu dari Rasulullah,

لَتُخْبِرِينِي أَوْ لَيُخْبِرَنِّي اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Engkau harus memberitahukanku atau Allah Yang Mahalembut dan Maha Mengetahui yang akan memberitahukanku.” (HR. Muslim, no. 1625)
Perbedaan antara Al-‘Alim dengan Al-Khabir

Al-‘Alim dan Al-Khabir sama-sama berarti yang mengetahui. Akan tetapi dari sisi objek, keduanya memiliki perbedaan. Al-‘Alim berasal dari kata al-‘ilmu, sedangkan Al-Khabir berasal dari kata al-khibrah.

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan al-‘ilmu itu zhahir (bagian luar dari pengetahuan), sedangkan al-khibrah merupakan batin (bagian dalam yang tersembunyi). Dan merupakan kesempurnaan ilmu adalah ketika mampu menyingkap al-khibrah tersebut. Dengan begitu al-khibrah merupakan bagian dalam dari ilmu serta kesempurnaannya.”6

Dan diantara kesempurnaan Allah ‘Azza wa Jalla adalah memiliki dua nama ini sekaligus, Al-‘Alim dan Al-Khabir.
Kandungan nama Allah “Al-Khabir”

Para ulama telah membuat kaidah bahwa pada setiap nama Allah yang menunjukkan sifat muta’addi (membutuhkan objek) atau yang berkaitan dengan sesuatu yang ada atau berwujud, memiliki tiga kandungan.7Dan nama Allah “Al-Khabir” termasuk nama yang menunjukkan sifat muta’addi. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa ada tiga hal yang terkandung di dalamnya.

Pertama, penetapan “Al-Khabir” sebagai salah satu asmaul husna atau nama-nama Allah yang maha indah.

Kedua, penetapan al-khibrah sebagai sifat bagi Allah, yaitu mengetahui perkara-perkara yang tersembunyi.

Ketiga, konsekuensi dari nama Allah “Al-Khabir” ini adalah Allah mengetahui segala sesuatu, baik itu yang tampak maupun yang tersembunyi. Allah mengetahui segala perbuatan makhluk dan segala yang tebersit dalam lubuk hati mereka. Dan tidak ada sesuatupun baik di langit ataupun bumi yang tersembunyi serta luput dari pengetahuan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Letak keindahan nama Allah “Al-Khabir”

Telah disebutkan diatas, bahwa “Al-Khabir” merupakan salah satu nama Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa nama-nama yang dimiliki-Nya adalah nama-nama yang memiliki keindahan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Dan Allah itu memiliki nama-nama yang maha indah. Maka berdoalah kalian dengan nama-nama itu.” (QS. Al-A’raf: 180)

Sedangkan diantara letak keindahan pada nama Allah “Al-Khabir” adalah pada dua segi, kandungan dan lafal.

Secara lafal, Allah Ta’ala tidak memilih Al-‘Arif sebagai nama-Nya walaupun artinya sama, yaitu mengetahui. Namun, Dia memilih Al-Khabir dan Al-‘Alim sebagai nama-Nya karena lebih mudah diucapkan dan lebih nyaman didengar.

Letak keindahan lain dari Al-Khabir adalah dari segi kandungannya. Padanya terkandung sifat pengetahuan yang sangat sempurna. Dan kesempurnaan sifat tersebut bersifat mutlak dari berbagai sisi. Pengetahuan-Nya tidak didahului dengan ke*****an, tidak ternodai dengan kelupaan, dan tidak pernah berkurang ataupun hilang.

Pada nama Al-Khabir, terdapat kelaziman penetapan sifat-sifat lain (selain al-khibrah) bagi Allah. Diantaranya adalah:

Al-‘ilmu (mengetahui)

Al-hayah (hidup)

As-sam’u (mendengar)

Al-bashar (melihat)

Pengaruh nama Allah “Al-Khabir” dalam ibadah

Ketika seorang muslim telah mengetahui bahwa Allah Ta’ala itu Al-Khabir dan memahami maknanya dengan benar, maka ini akan memberikan efek positif dalam ibadahnya. Diantara efek positif tersebut adalah:

Menumbuhkan rasa muraqabatullah (merasa diawasi Allah) yang sempurna dalam jiwa seorang hamba. Karena ia mengetahui bahwa Allah Ta’ala itu Maha Mengetahui segala perbuatan dan dosa-dosanya.8

Menumbuhkan pada jiwa seorang hamba keinginan untuk menyucikan hati dari berbagai penyakit hati berupa hasad/iri, riya’ (ingin amalannya dilihat orang lain), kemunafikan, dan yang lainnya.9

Menumbuhkan rasa takut kepada Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala melihat dan mengetahui segala sesuatu yang ada pada batinnya, sehingga ia menjaga lisannya dari berbuat bohong, ghibah, adu domba, dan yang lainnya. Dan ia juga akan menjaga anggota tubuhnya dari berbuat jahat kepada orang lain.10

Demikianlah ulasan singkat tentang makna nama Allah “Al-Khabir”. Semoga dengan memahami nama Allah ini dapat membawa dampak positif bagi ibadah dan keseharian kita.

Wallahu a’lam.

chicken-4rk2_zpsuektdxcx.jpg
 
32. Al Halim

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

[235]
Dan tidak ada salahnya bagi kamu tentang apa yang kamu bayangkan (secara sindiran), untuk meminang perempuan (yang kematian suami dan masih dalam idah), atau tentang kamu menyimpan dalam hati (keinginan berkahwin dengan mereka). Allah mengetahui bahawa kamu akan menyebut-nyebut atau mengingati) mereka, (yang demikian itu tidaklah salah), akan tetapi janganlah kamu membuat janji dengan mereka di dalam sulit, selain dari menyebutkan kata-kata (secara sindiran) yang sopan. Dan janganlah kamu menetapkan dengan bersungguh-sungguh (hendak melakukan) akad nikah sebelum habis idah yang ditetapkan itu. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada dalam hati kamu, maka beringat-ingatlah kamu akan kemurkaanNya, dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyabar.

quran 2:235

Dalam al-Qur’an, kata al-Halim tidak hanya khas milik Allah, tapi atribut ini bisa disandang manusia pilihan yang mempunyai sifat dan karakter penyantun. Setidak-tidaknya ada empat ayat yang digunakan Al-Qur’an untuk memberi gelar al-Halim kepada manusia.

Mereka itu adalah Nabi Ibrahim as -- dalam Surat At-Taubah (9): 114 dan Surat Hud (11): 75. Orang kedua adalah Nabi Ismail, dalam Surat As-Shafat (37): 101. Kedua nabi tersebut mendapatkan julukan al-Halim langsung dari Allah SWT. Adapun orang ketiga adalah Nabi Syuaib, dalam Hud (11): 87. Bedanya, yang memberi gelar Al-Halim adalah kaumnya sebagai sindiran atas keteguhan dan kesantunannya dalam memperjuangkan misi kenabian.

Adalah pantas jika Ibrahim mendapat gelar al-Halim, karena kesabaran dan kesantunannya di luar batas-batas normal. Sekalipun diusir oleh ayahnya karena keyakinannya, beliau tidak marah, apalagi membencinya. Ia malah mendo’akan agar Allah SWT berkenan memberi ampunan kepada orangtuanya.

Allah mengingatkan bahwa mendo’akan orang kafir, sekalipun orangtuanya sendiri adalah perbuatan sia-sia dan diharamkan agama. Sekalipun begitu, Allah SWT tetap menghargai sikap santun dan sabar Nabi Ibrahim dengan pujian, bahkan diberi gelar al-Halim.

Ismail juga demikian. Ketika ayahnya, Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelihnya, Ismail tidak protes, marah, apalagi membencinya. Justru ia berkata kepada ayahnya: “Yaa abatif’al maa tu’maru satajiduni minash-shabirin. Wahai ayahku, laksanakanlah perintah Tuhanmu, engkau akan mendapati aku dalam keadaan bersabar."

Adakah kesantunan yang bisa melebihi kesantunan kedua nabi tersebut? Sulit, itu pasti. Tidak ada manusia yang derajat dan akhlaqnya sampai melebihi nabi. Meskipun demikian, ada di antara manusia biasa yang sampai ke derajat itu. Ia adalah Al-ahnaf bin Qois.

Sekalipun ada manusia yang bergelar al-Halim, sikap santun Allah berbeda: tidak dibatasi ruang dan waktu. Ia bersifat konstan. Dia yang menyaksikan kedurhakaan para pendurhaka, melihat pembangkangan para pembangkang, Dia masih memberi kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki diri. Dia begitu santun walau kekuasaan-Nya meliputi langit dan bumi.

Marilah kita renungkan sifat santun Allah melalui hadits di bawah ini:

“Seorang hamba Allah melakukan dosa, lalu berdo’a: wahai Tuhanku! Ampunilah dosaku. Allah SWT berfirman: HambaKu telah melakukan dosa, tetapi ia tahu bahwa ia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menghukumnya karena melakukan dosa. Kemudian hamba tersebut melakukan dosa lagi, lalu berdo’a : Wahai Tuhanku! Ampunilah dosaku. Allah swt berfirman: HambaKu melakukan dosa, tetapi ia tahu bahwa ia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa dan menghukumnya karena melakukan dosa. Oleh karena itu berbuatlah sesuka hatimu, Aku akan ampunkan dosamu..." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Allah Maha Penyantun. Dia tidak memutuskan rizki-Nya kepada orang yang melakukan dosa, tidak bersegera menjatuhkan hukuman kepada orang yang durhaka. Hadits Qudsi berikut ini menggambarkan betapa Maha Santun-Nya Allah SWT:

"Jika engkau mengingat-Ku, Aku pun mengingatmu; jika engkau lupa kepada-Ku, aku tetap mengingatmu. Jika engkau taat kepada-Ku, maka pergilah kemana pun yang kau kehendaki. Engkau jadikan Aku pelindungmu, maka aku melidungimu; engkau tulus kepada-Ku, Akupun tulus kepadamu; engkau berpaling dari-Ku, Aku menuju kepadamu. Siapakah yang memberimu makan ketika engkau masih berbentuk janin dalam perut ibumu? Aku yang terus-menerus melakukan pentadbiran yang sempurna kepadamu, sehingga rencana-Ku terlaksana pada dirimu. Tetapi ketika engkau Ku-keluarkan menuju ke pentas bumi, engkau bergelimang di dalam dosa. Bukan begitu pembalasan kepada yang berbuat baik kepadamu." (Hamim Thohari) -

dew_zpsdarersby.jpg
 
Back
Top
Log in Register