BTC USD 85,826.3 Gold USD 4,140.79
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

5. As Salam

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

[23]Dia lah Allah, yang tidak ada Tuhan melainkan Dia; Yang Menguasai (sekalian alam); Yang Maha Suci; Yang Maha Selamat Sejahtera (dari segala kekurangan); Yang Maha Melimpahkan Keamanan; Yang Maha Pengawal serta Pengawas; Yang Maha Kuasa; Yang Maha Kuat (menundukkan segala-galanya); Yang Melengkapi segala KebesaranNya. Maha Suci Allah dari segala yang mereka sekutukan denganNya.

Quran 59:23


As-Salaam membawa erti Yang Maha Memberi Selamat.atau Yang Maha Penyelamat. Allah memberi rasa selamat kepada makhluknya. Keselamatan dari Allah akan membawa kesejahteraan kepada kehidupan manusia. Rasa selamat dan sejahtera akan memberi rasa aman. Maka itulah Islam dinamakan sebagai Agama Keamanan kerana ia datang dari yang yang bernama ﺍﻟﺴﻼﻢ (As-Salaam).

Nama As-Salaam adalah nama kepada sifat Allah. Sifat Allah adalah memberi selamat. Setiap nama yang menjadi sifat Allah boleh digunakan makhluk. Contohnya nama Abdul Salam atau Muhammad Salam boleh digunakan manusia. Tidak boleh menggunakan nama Assalam sendirian kerana huruf alif dipangkal kalimah Salam itu merujuk kepada Zat Allah sahaja.

Amalan-amalan yang menggunakan kalimah ﺍﻟﺴﻼﻢ (As-Salaam)
1) Dalam bacaan tahiyat terdapat doa keselamatan untuk Nabi Muhammad saw, untuk diri kita sendiri dan untuk sekelian orang-orang yang soleh:-
Assalaamualaika aiyuhan nabiyyu - Selamat sejahtera atasmu wahai Nabi
Assalaamualaina wa'ala 'ibaadillahi solihin - Selamat sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang soleh.

2) Wirid selepas sembahyang yang diajar Rasulullah saw merangkumi sifat salam Allah swt:-
Allahumma antassalaam - Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera.
Wa mingkassalaam - Dan dari-Mu kesejahteraan itu.
Wa ilaika ya'udussalaam - Dan kepada-Mu kesejahteraan.
Fahai'yina rabbana bisssalaam - Hidupkanlah kami, wahai Tuhan kami, dengan kesejahteraan.
Wa adkhilnal jannata darrassalaam - Dan masukkanlah kami ke dalam Syurga Keselamatan.

3) Memberi selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad saw.
Memberi selawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw adalah perintah dari Allah yang terakam di dalam ayat 56 surah al-Ahzab, yang bermaksud; "Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu ke atas Nabi dan ucaplah salam kepadanya."

Hadith dari Abu Hurairah ra. bahawa Rasulullah saw bersabda, yang bermaksud; "Tidaklah seorang memberi salam kepadaku, melainkan Allah swt akan mengembalikan rohku hingga aku menjawab salamnya."

Tidakkah kita mahu menerima jawapan salam dari Rasulullah saw? Sesungguhnya orang yang banyak memberi selawat dan salam kepada junjungan kita akan dapat bersama Rasulullah saw di akhirat kelak. Maka amalkanlah memberi selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad saw.

4) Mengucapkan Assalaamu'alaikum.
Hukum memberi salam ada 2 iaitu:-
1) Wajib
Memberi salam yang pertama (sebelah kanan) dalam sembahyang adalah wajib dan menjadi rukun sembahyang. Sembahyang tidak sah jika tidak memberi salam pertama ini. Salam yang kedua (sebelah kiri) adalah sunat hukumnya. Untuk siapakah kedua-dua salam ini? Salam ini adalah untuk Malaikat Rakid (kanan) dan Malaikat Atid (kiri). Merekalah yang mencatit segala amal baik dan buruk kita selama kita hidup di dunia ini.

Lafaz salam dalam sembahyang ialah "Assalaamu'alaikum warahmatullah".

2) Sunat
Umat Islam sangat digalakkan untuk menyebarkan salam sesama saudara Islam dengan mengucapkan kalimah "Assalaamu'alaikum" yang membawa maksud; "Selamat dan sejahtera atas kamu."

Hukum memberi salam kepada saudara Islam kita adalah sunat mu'akad (sangat digalakkan) dan akan mendapat pahala yang besar. Orang yang menerima salam itu wajib menjawabnya dengan sebaik salam yang diberi atau lebih baik lagi.

Contoh jawapan salam yang sama baik ialah "Wa'alaikum salam" ertinya "Untuk kamu juga selamat sejahtera" atau "Wa'alaikumussalam" yang bermaksdu "Untuk kamu juga selamat dan sejahtera yang banyak".
Contoh jawapan salam yang lebih baik ialah "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh".

Tidak menjawab salam sesama saudara Islam adalah berdosa. Wajib juga menjawab salam dalam tulisan dengan tulisan balasnya. Menulis kalimah salam dan jawapan dalam tulisan hendaklah dengan ejaan yang betul dan elakkan dari menggunakan tulisan ringkas (short-formed) seperti dalam sms. Jika menulis kalimah "Assalaamu'alaikum" itu dirasakan terlalu panjang boleh dipendekkan menjadi "Assalam" atau "Salam" sahaja.

Memberi dan menjawab salam di dalam tandas adalah haram dan berdosa. Ini kerana dalam kalimah salam itu ada mengandungi nama Allah "As-Salaam". Begitu juga tidak boleh membawa kalimah Assalaamu'alaikum dalam tulisan hijjah'yah (huruf Arab) ke dalam tandas. Jika ia ditulis dalam tulisan rumi tidaklah mengapa dengan syarat jangan dibaca atau disebut di dalam tandas.

Ada juga orang bukan Islam yang pandai mengucapkan "Assalaamu'alaikum" kepada teman-teman Islam mereka. Bolehkah kita menjawab salam mereka ini? Cara untuk menjawab salam dari orang yang tidak beriman kepada Allah ialah dengan mengucapkan "Wa'alaikum" sahaja tanpa kalimah salam. Salam adalah dari Allah dan mereka yang tidak beriman tidak berhak mendapat keselamatan dari Allah. Ucapan salam sebenarnya adalah satu doa keselamatan untuk kehidupan dunia dan keselamatan dari api neraka di akhirat kelak. Orang-orang yang tidak beriman (kafir) tidak akan selamat dari api neraka kerana itulah ketentuan Allah swt.

Cukuplah memberi mereka jawapan "Wa'alaikum" yang bermaksud "untuk kamu juga". Ertinya kita pulangkan apa yang mereka niatkan untuk kita. Jika niat mereka baik, maka mereka akan mendapat kebaikan itu di dunia ini. Jika niatnya jahat, maka kejahatan itu akan kembali juga kepada mereka di dunia dan di akhirat. Begitulah adab kita sebagai orang Islam yang baik.

The-Sandy-Beach_zpsygvvmvml.jpg
 
6. Al Mukmin

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

[23]Dia lah Allah, yang tidak ada Tuhan melainkan Dia; Yang Menguasai (sekalian alam); Yang Maha Suci; Yang Maha Selamat Sejahtera (dari segala kekurangan); Yang Maha Melimpahkan Keamanan; Yang Maha Pengawal serta Pengawas; Yang Maha Kuasa; Yang Maha Kuat (menundukkan segala-galanya); Yang Melengkapi segala KebesaranNya. Maha Suci Allah dari segala yang mereka sekutukan denganNya.

Quran 59:23

AL MU'MIN (Yang Maha Terpercaya) adalah dari Allah-lah datangnya keselamatan dan keamanan, karena Dia memiliki media-media untuk mendapatkan keselamatan dan keamanan dan sekaligus untuk menolak bahaya. Karena keselamatan dan keamanan hanya didapati dengan adanya rasa takut.


Pada dasarnya manusia merasa lemah, yaitu takut terkena penyakit, kelaparan dan kehausan. Dan ketakutan manusia yang terbesar yaitu takut tidak akan ada yang melindunginya dari suatu keburukan, karena tidak mempercayai atau tidak beriman kepada Allah atau tidak mempercayakan segala sesuatunya kepada Allah semata. Sesungguhnya takut dan aman itu datangnya dari Allah, karena Allah menciptakan sebab-sebab rasa takut, maka wajarlah apabila menusia berlindung dan memohon pertolongan-Nya.

Iman kepada Allah yaitu iman kepada Dzat-Nya dan iman kepada ke-Esaan-Nya, iman kepada wujud Allah SWT dan iman kepada sifat-sifat ketuhanan-Nya yang paling sempurna. Allah Mahabersih dan Mahasuci, Dzat-Nya tidak menyerupai dzat-dzat makhluknya, dimana manusia mempunyai jenis dan macam sementara Allah tidak seperti itu. Iman kepada ke-Esaan Allah yaitu mengetahui bahwa Allah itu sendiri dalam pemilikan dan pengaturan-Nya, Maha Esa Dzat-Nya, Maha Esa sifat-sifat-Nya, Maha Esa perbuatan-perbuatan-Nya, Maha Esa Firman-Nya dan Dia-lah yang Maha Tinggi.

'Dia-lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, yang Mahasuci, yang Maha Sejahtera, yang mengkaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala ke-Agungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana[59-Al Hasyr 23~24]

Iman kepada Malaikat-Malaikat-Nya, mereka adalah jasad-jasad yang mulia, yang diciptakan disertai akal tanpa syahwat, yang dapat berubah-ubah wujud dalam bentuk yang mereka kehendaki dengan izin Tuhan-nya, dan hanya Allah yang mengetahui jumlahnya. Barangsiapa yang akalnya mengalahkan syahwatnya maka ia bersama para Malaikat dan barangsiapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya maka ia bersama dengan binatang-binatang. Iman kepada para Malaikat berarti membenarkan adanya Malaikat sebagai hamba-hamba yang dimuliakan Allah

'Sebenarnya (Malaikat-Malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan'[21-Al Anbiyaa' 26]

'Yang senantiasa memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman kepada Tuhan mereka. Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan Neraka yang bernyala-nyala [40-Al Mu'min 7]

Iman kepada Kitab-Kitab-Nya, yaitu membenarkan bahwa sesungguhnya kitab-Nya adalah Firman Allah yang diturunkan kepada para Rasul-Nya dan segala perkara yang terkandung didalam kitab-kitab-Nya adalah benar. Kitab yang diturunkan Allah kepada para Rasul-Nya berjumlah seratus shuhuf dan empat kitab, dari kesemua kitab, Allah memilih Al-Qur'an dan dari Al-Qur'an Allah memilih surat Al-Fatihah, surat yang terpilih dari yang terpilih.

'Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang yang dahulu[26-Asy Syu'ara 196]

'Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat [4-Al Baqarah 4]

Rasulullah Saw bersabda : Allah yang Maha Perkasa dan Maha Mulia tidak menurunkan didalam Taurat dan tidak pula di Injil, seperti Ummul Qur'an. Allah SWT berfirman: ia adalah tujuh yang diulang-ulang dan ia dibagi antara Aku dan hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta [Tirmidzi]

Rasulullah Saw bersabda: Allah berfirman: Shalat Aku bagi menjadi 2 bagian, sebagian untuk Aku dan sebagian lagi untuk umatku. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang menguasai hari pembalasan, ini untuk Aku dan untuk hamba-Ku akan memperoleh apa yang ia minta bila mengucapkan : tunjukanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat dan bukan jalan orang-orang yang telah Engkau murkai, dan bukan jalan orang-orang yang sesat [Muslim].

Iman kepada Rasul-rasul yaitu membenarkan apa yang dibawa para Nabi dan Rasul yang diwahyukan Allah. Penyebutan beriman kepada Malaikat di dahulukan, karena sesuai dengan proses penciptaanya.

Para Malaikat lebih dahulu diciptakan karena tertib risalah, dan merekalah yang diutus Allah untuk menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul. Para Nabi dan Rasul adalah sebaik-baik makhluk Allah. Allah memilih, memelihara, meridhai, dan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang dipercaya atas agama-Nya dan Tauhid-Nya. Allah menjadikan mereka keberkahan dan keamanan bagi makhluk-Nya yang ada di bumi.

Para Nabi berjumlah 124.000 dan diantaranya ada 313 Rasul, Nabi yang pertama adalah Nabi Adam a.s dan Nabi yang terakhir adalah Nabi Muhammad Saw.

Para Rasul yang menjadi Ulul `Izmi yatu Nabi Nuh a.s, Nabi Ibrahim a.s, Nabi Musa a.s, Nabi Isa a.s dan Nabi Muhammad Saw.

Iman kepada Hari Akhir (Hari Kiamat) yaitu membenarkan adanya hari akhir dan membenarkan semua perkara yang termasuk didalamnya. Disebut hari akhir karena merupakan hari akhir dari hari-hari dunia dan akhir dari zaman yang terbatas.

Hari Akhir atau Hari Kiamat mempunyai beberapa nama sesuai dengan maknanya:
-As-Saa'ah;
karena Kiamat akan terjadi secara tidak terduga dan cepat hisabnya
-Qiyaamah;
karena pada hari Kiamat semua makhluk bangkit dari kuburnya
atau manusia bangkit untuk menghadap Allah SWT
-Qaari'ah;
karena Kiamat amat menggoncangkan hati
-Haaqah;
karena Kiamat pasti terjadi dan tidak diragukan lagi
-Ghaasyiyah;
karena Kiamat menutupi pengelihatan makhluk dengan kesusahan-kesusahannya,
sehingga mereka tidak sempat lagi memperhatikan makhluk atau manusia lain
-Waaqi'ah;
karena urusan-urusan dari Kiamat terjadi pada hari itu
-Aazifah;
karena hari kiamat itu dekat terjadinya
-Khaafidhlah;
karena pada hari Kiamat, orang-orang yang rendah di masukkan ke Neraka,
karena amal-amal buruknya.
-Shaakhkhah;
karena pada hari Kiamat terjadi benturan keras yang memekakkan telinga,
sehingga menyebabkan manusia menjadi tuli
-Thaammah;
karena hari Kiamat meliputi segala sesuatu yang ada di alam semesta
dan banyak kesusahan yang timbul
-Zalzalah;
karena hari Kiamat menggetarkan hati dan telapak kaki
-Shaihah;
karena Malaikat Israfil meniupkan terompet (Shuur)
-Firqah;
karena pada hari Kiamat terjadi pemisahan, sebagian masuk Surga
dan sebagian masuk Neraka
-Yaumul Mau'uud;
karena pada hari Kiamat telah dijanjikan adanya balasan bagi makhluk,
baik keselamatan maupun kecelakaan
-Yaumul `Ardhi;
karena pada hari Kiamat semua makhluk dihadapkan kepada Allah SWT,
dan semua amalan diperlihatkan kepada-Nya
-Yaumul Hasy;
karena pada hari Kiamat semua makhluk dikumpulkan Allah SWT.
Dihidupkan kembali dan amal-amal di hisab
-Yaumul Mafarr;
karena pada hari Kiamat orang-orang panik mencari tempat berlari
atau perlindungan
-Yaumul Ma'lum;
karena waktu terjadinya hari Kiamat sudah ditetapkan
atau ditentukan dan dikumpulkannya orang-orang terdahulu
dan orang-orang terkemudian
-Yaumul `Asiir;
karena pada hari Kiamat, perhisaban sangat ketat yaitu melewati jembatan, amal-amal ditimbang, dan orang-orang saling berdesak-desakan, sehingga disetiap telapak kaki terdapat seribu telapak kaki.

Matahari berada dekat dengan kepala makhluk yang panasnya dilipat gandakan enam puluh kali, dan panasnya mengelilingi padang Mahsyar.

Iman kepada Qadar (Takdir) yaitu meyakini bahwa sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan hal yang baik dan hal yang buruk sebelum menciptakan makhluk, karena semua yang terjadi adalah dengan ketentuan dan takdir Allah SWT.

Qadar (Takdir) dibagi menjadi dua, yaitu;

(1)-Takdir Baik; perkara yang disesuaikan dengan keinginan,
seperti merasa nikmat dan lezat dalam semua kelezatan,
yaitu kesehatan, makanan, minuman, pernikahan.

(2)-Takdir Buruk; perkara yang tidak disesuaikan dengan keinginan,
yaitu kepedihan, penyakit, kelaparan, kehausan, rasa cemas.

Hakikat Iman dicapai jika seorang hamba sudah menyadari atau mengetahui bahwa sesungguhnya yang menimpa dirinya bukanlah suatu kekeliruan dan apa yang meleset darinya bukanlah merupakan hal yang seharusnya menimpa dirinya.

Rasulullah Saw bersabda: ada 5 perkara yang merupakan bagian dari iman. Barangsiapa dalam dirinya tidak terdapat salah satu diantaranya, berarti ia tidak memiliki iman, yaitu : berserah diri terhadap perintah Allah, rela dengan keputusan-Nya, menyerahkan urusannya kepada Allah, bertawakkal kepada Allah, dan bersabar di awal musibah yang menimpa dirinya.

Seorang yang beriman jika membutuhkan sesuatu maka ia akan menghadap kepada Tuhan-nya dengan pijakan permohonan, ketundukan, merendahkan diri dan bertaubat kepada-Nya. Jika Allah memberikan apa yang diinginkan, maka harus besyukur atas pemberian-Nya, dan jika Allah menolaknya maka patuhlah pada penolakan-Nya, bersabar pada kehendak-Nya tanpa berpaling dari-Nya ataupun menentang-Nya.

Ikhsan adalah hendaknya beribadah kepada Allah seperti kita melihat-Nya, sekiranya kita tidak melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia senantiasa memperhatikan kita, yaitu apa saja yang kita perbuat tidak dapat lepas dari pandangan Allah, baik perkara yang nyata maupun perkara yang tersembunyi

Rasulullah Saw bersabda: Iman yang paling utama ialah kamu meyakini bahwa Allah selalu bersamamu dimanapun kamu berada[Thabrani].

Perkara yang merupakan bagian dari Iman adalah Berserah diri terhadap perintah-Nya, Rela dengan keputusan-NYA, Menyerahkan segala urusan kepada-Nya, Bertawakkal kepada-Nya, Bersabar di awal musibah yang menimpa dirinya

'Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku'[21-Al Anbiyaa' 92]

'Dia-lah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam' [40-Al Mu'min 65]

Tauhid Rububiyah, yakin bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah SWT. Tauhid Uluhiyah dan Ubudiyah, yaitu meniatkan semua perbuatan ibadah, pujian, amal perbuatan hanya untuk Allah semata.

Tauhid sifat, yaitu pemahaman dan penghayatan sifat-sifat Allah SWT.

Tauhid Qauli dan Amali, yaitu keyakinan yang tidak hanya diucapkan oleh lisan akan tetapi dibuktikan dengan amal perbuatan.

Imam Al-Ghazali


____________________oooOooo___________________

Hanya Dia pelindung dan pemberi keamanan. Selain-Nya adalah lemah dan fana. Selain-Nya hanya semu dan penuh fatamorgana.
Hanya Dia yang mampu membebaskan manusia dari ketakutan dan rasa lapar. Dua problem peradaban yang terus-menerus mengejar manusia tanpa henti dan lelah. Manusia-manusia yang merdeka, bangsa-bangsa yang merdeka, hanya mungkin merdeka jika telah terbebas dari ketakutan dan kelaparan. Dan hanya dengan izin-Nya atas usaha kita, ketakutan dan kelaparan itu akan sirna.

Jangan pernah salah mengambil pelindung. Karena, selain Allahul Mukmin semuanya menyimpan kemungkinan musnah dan hancur. Hanya Dia yang kekal, lagi kukuh.

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad diceritakan, suatu ketika seorang sahabat bertanya pada Rasulullah, “Wahai utusan Allah, apakah mungkin seorang Mukmin bersifat penakut?”

“Ya, mungkin.” Jawab Rasulullah.

“Wahai utusan Allah, apakah mungkin seorang Mukmin bersifat kikir?” tanya sahabat lagi.

“Ya, mungkin juga,” jawab Rasulullah lagi.

“Tapi apakah mungkin seorang Mukmin pembohong?”

“Tidak mungkin!” tegas Rasulullah.

Kikir dan takut, mungkin saja ada di dalam jiwa seorang Muslim yang Mukmin. Karena ia menjadi tabiat yang melekat dalam diri manusia. Tapi ada tempat kembali yang sempurna, yang Mahapemberi Keamanan. Dengan berdzikir menyebut nama-Nya, al Mukmin, kita akan terbebas dari rasa takut, lemah, kikir dan khawatir atas mara bahaya.

Al Mukmin, akan menyelamatkan hamba-Nya yang selalu mengingat-Nya. Ketika seorang hamba mengingat-Nya di kala sepi, pasti Dia akan mengingat kita di kala ramai. Ketika seorang hamba mengingat-Nya di kala lapang, pasti Dia akan mengingat kita di saat sempit. Dengan nama-Nya, dengan izin-Nya, tak ada yang tak mungkin terjadi di muka semesta.

Butler%20Raceway%20035_zpsnlqwni5r.jpg
 
7. Al Muhaimin

AL MUHAIMIN (Yang Maha Memelihara), Dia yang memperhatikan makhluk-makhluk-Nya, seperti mengurusi tindakan, rezeki dan kematian hamba-Nya, yang memperhatikan dengan pengetahuan-Nya, milik-Nya dan perlindungan-Nya. Menguasai mengharuskan memiliki pengetahuan, pemilikan mengharuskan adanya kesempurnaan kemampuan dan kekuasaan, sedangkan perlindungan mengharuskan adanya tindakan.

Setiap hamba Allah adalah pelindung hatinya sendiri, mengawasi kedalaman hatinya dan mengawasi rahasia-rahasia hatinya, memperbaharui sifat-sifatnya, dan melindunginya sesuai dengan tuntutan pembaharuannya. Sehingga ia tetap berada dijalan yang lurus dan benar sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.

Imam Al-Ghazali


هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ



“Dialah Allah yang Maha tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Raja, Yang Maha Suci, Yang Mahasejahtera, Yang Mahaterpecaya, Yang Mahamemelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahaberkehendak, Yang Mahamegah Pemilik segala keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”(QS al Hasyr: 23)

Sebaik-baiknya kita memelihara sesuatu, tentu ada lengahnya. Sekuat-kuat manusia menjaga sesuatu, tentu ada lemahnya. Sesayang apapun orangtua pada anaknya, kasih sayang Allah pada mahluknya jauh lebih sempurna. Jika kasih sayang orangtua pada anaknya, kadang bisa membuat lemah. Tapi kasih sayang Allah pada hamba-Nya, tentu akan membuatnya lebih kuat dan tegar.

Karena Dia adalah Mahapelindung dan penjaga. Dia memelihara seluruh makhluknya. Yang terbang di langit, yang melata di bumi, yang menyelam di air, bahkan yang berada di dalam tanah. Tak satupun yang luput dari pemeliharaan-Nya. Sebab dia adalah al Muhaimin, Yang Mahamemelihara.

Tak satupun dari hamba-Nya yang tak mendapatkan rezeki dari-Nya. Tak satupun dari makhluknya yang tak mendapat karunia dari-Nya. Karena Dia Maha memelihara.

Jika kita tak mampu memelihara sesuatu, sebutlah nama-Nya, karena Dia Maha memelihara dan tak ada yang lebih baik dari-Nya dalam memelihara. Jika kita tak sanggup mengatasi sesuatu, dzikirkan nama-Nya, maka atas izin-Nya tak ada yang tak mampu terlaksana.

Dia yang menciptakan. Dia yang menghidupkan. Dia pula yang menjaga. Dia pula yang memelihara. Dia akan melindungi. Dia akan menjaga.

Betapa merugi orang-orang yang melupakan-Nya. Betapa rugi manusia yang tak melibatkan-Nya dalam segala peristiwa. Sebab dari Dialah awal, dan pada-Nya semua berakhir. Wahai jiwa yang lalai, sebut-sebutlah nama-Nya, al Muhaimin. Karena Dia Maha memelihara, dan betapa nikmat dalam peliharaan-Nya.

Beautiful-Green-Mountain-Wide_zpsjl3oj5lk.jpg
 
8. Al Aziz

إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Artinya :” Sesumgguhmya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS AL Ankabut :42)

Nama tersebut termasuk Al-Asma`ul Husna, sebagaimana terdapat dalam nash Al-Quran dan Hadits. Di dalam Al-Quran di antaranya di Surat Al-Baqarah ayat 129:

إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Sedangkan di dalam hadits di antaranya diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَفَاةً عُرَاةً غُرْلاً كَمَا خُلِقُوا…. فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Manusia dikumpulkan di Hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak dikhitan sebagaimana dahulu mereka diciptakan.Maka aku mengatakan seperti yang dikatakan seorang hamba yang shalih: Jika engkau siksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan jika Engkau ampuni mereka, sesungguhnya Engkau adalah Al-Aziz (Maha Perkasa) dan Maha Bijaksana. (Shahih, HR. At-Tirmidzi dalam Kitab Shifatul Qiyamah Bab Ma Ja`a fi Sya`nil Hasyr no. 2423. Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani mengatakan: Shahih)

Adapun makna nama Allah Al-Aziz adalah yang memiliki sifat ‘izzah.Al-‘Izzah menurut para ulama memiliki tiga makna:

Al-’Izzah( yang berasal dari kata عَزَّ-يَعِزًُّ artinya pertahanan diri dari musuh yang hendak menyakiti-Nya sehingga tidak mungkin tipu dayanya akan sampai kepada-Nya.

Sebagaimana dalam hadits qudsi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي …

“Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian tak akan dapat mencelakai Aku, sehingga membuat Aku celaka…”

Al-’Izzah yang berasal dari kata( عَزَّ-يَعُزُّ artinya mengalahkan dan memaksa.

Contoh penggunaan kata itu dengan makna tersebut:

إِنَّ هذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُوْنَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيْهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ

“Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Dia berkata: Serahkanlah kambingmu itu kepadaku, dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan. (Shad: 23)

Sehingga maknanya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Perkasa, memaksa dan mengalahkan musuh-musuh-Nya, sedang musuh-Nya tidak mampu mengalahkan dan memaksa-Nya. Makna inilah yang paling banyak penggunaannya.

Dari kata عَزَّ-يَعَزُّ artinya kuat.(Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin mengatakan:

“Sifat ‘izzah menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bahwa tiada yang menyerupainya dalam hal kuat/mulia kedudukan-Nya.”

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengatakan:

“Al-’Aziz artinya yang memiliki segala macam kemuliaan: kemuliaan kekuatan, kemuliaan kemenangan, dan kemuliaan pertahanan. Sehingga tidak seorangpun dari makhluk dapat mencelakai-Nya. Dan Ia mengalahkan dan menundukkan seluruh yang ada, sehingga tunduklah kepada-Nya seluruh makhluk karena kebesaran-Nya.”

Pengaruh Nama Al-’Aziz pada Hamba

Pengaruhnya pada diri seorang hamba, nama tersebut membuahkan sikap tunduk kepada-Nya, dan tidak mungkin bagi makhluk untuk melakukan sesuatu untuk memerangi Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti melakukan riba atau merampok. Karena keduanya merupakan salah satu bentuk memerangi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 279 dan Al-Ma‘idah ayat 33.

Nama ini juga membuahkan sifat mulia dalam diri seorang mukmin dalam berpegang dengan agamanya, sehingga ia mulia di hadapan orang kafir, merendah di hadapan mukminin.

Selain itu, nama ini juga membuahkan sikap selalu memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejahatan musuh karena Dia-lah yang Maha Kuat lagi Perkasa.

tree_zpse0jhkkhm.jpg
 
9. Al Jabbar


هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ


Allah SWT berfirman, ”Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan,” - Al-Quran, surah Al Hasyr, ayat 23

Al-Jabbar diambil daripada kata dasar yang terdiri daripada huruf jim, ba dan ra, yang mengandungi makna keagungan, ketinggian dan istiqamah (berterusan). Perkataan ini hanya disebut sekali di dalam Al-Quran bagi menunjukkan sifat Allah, tetapi sebanyak lapan kali lagi disebut sebagai sifat manusia yang angkuh.

Pendapat para ulama mengenai makna Al-Jabbar, antara lain ialah “ketinggian yang tidak terjangkau.” Ini bermaksud ketinggian sifat-sifat Allah yang menjadikannya tidak mampu terjangkau oleh sesiapapun. Pakar tafsir Al-Biqai mentafsirkan kata Jabbar sebagai “Yang Maha tinggi sehingga memaksa yang rendah untuk tunduk kepada apa yang dikehendakinya; dan tidak terlihat atau terjangkau oleh yang rendah apa yang mereka harapkan untuk dicapai dari sisinya, ketundukan dan ketidakjangkauan yang tampak secara amat jelas.”

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat ditegaskan Al-Jabbar hanyalah milik Allah. Hanya Dia yang berhak memaksa seluruh makhluk untuk mentaati kehendak-Nya. Tidak ada seorang pun yang boleh melaksanakan kehendak mereka ke atas Allah. Dia adalah zat yang tidak seorang pun berada di luar daripada genggamannya dan hanya Dia yang mempunyai kuasa secara mutlak. Disamping itu, nama Al-Jabbar juga membawa maksud Yang Maha Perkasa.

“Dan tunduklah semua muka (dengan merendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi sentiasa mengurus (makhluknya). Dan sesungguhnya merugilah orang yang melakukan kezaliman.” - Al-Quran, Surah Taha, ayat 111

“Kemudian dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi:”Datanglah kamu keduanya menurut perintahku dengan rela ataupun terpaksa.” Keduanya menjawab,”Kami datang dengan rela.” - Al-Quran, surah Fussilat, ayat 11

Mencerminkan Al-Jabbar

Oleh kerana sifat ini hanya untuk Allah SWT, manusia tidak boleh memiliki sifat memaksakan sesuatu ke atas orang lain. Di sebalik paksaan Tuhan sebenarnya ada cinta dan kasih sayang. Dalam sebuah hadis qudsi yang disampaikan oleh Imam Muslim;

”Kemuliaan adalah pakaian Ku, keangkuhan adalah selendang Ku. Sesiapa yang mencoba merebutnya daripada Ku, akan Ku siksa Dia.”

Maksud dari hadis itu adalah manusia tak boleh angkuh, sombong dan memuliakan dirinya. Yang boleh angkuh hanya Allah SWT karena Dia lah yang berkuasa atas segala hal. Manusia harus selalu berusaha dan waspada jika sifat sombong ada dalam dirinya.

Seorang manusia yang sombong atau takbur adalah mereka yang menolak kebenaran. Ketika dirinya berbuat salah, tetapi tidak mahu dinasihati, berarti ada sifat sombong dalam dirinya. Ia merasakan dirinya lebih tinggi darjatnya daripada orang yang menasihatinya. Ia tidak sedar bahawa sifat sombong boleh menyebabkan dirinya tertutup dari melihat kebaikan-kebaikan lain.

Sesiapa yang membaca Ya Jabbar sebanyak 226 kali, setiap pagi dan petang dengan izin Allah, musuh tidak berdaya melemahkannya malah akan tunduk kepadanya dengan pertolongan Allah.

rose-flower-14_zpsv7xir7wx.jpg
 
10. Al Mutakabbir

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengurniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. [Q.S. Hasyr: 23]

Al-Mutakabbir secara bahasa bererti kebesaran, angkuh, dan tidak tertundukkan. Allah al-Mutakabbir, artinya Allah Pemilik Segala Kebesaran. Kebesaran itu hanya milik Allah. Hanya Allah yang pantas menyandangnya. Sebab, Dialah Yang Maha Besar.

Demikianlah makna Al-Mutakabbir. Sekarang, bagaimana bentuk meneladani nama dan sifat Allah Al-Mutakabbir? Meneladani nama dan sifat Allah Al-Mutakabbir bererti kita harus berfikir dan berjiwa besar. Kita harus percaya diri bahawa kita dapat menjadi orang yang berhasil.

Selain itu, kita juga harus rendah hati. Tidak boleh takabur (sombong). Ingatlah, kita berasal dari setetes air mani yang menjijikkan. Ke mana-mana, kita juga membawa kotoran dalam perut. Kita ini makhluk yang lemah, roboh jika diterjang peluru, dan lumpuh jika diserang virus, jadi, bagaimana mungkin kita bersikap takabur? Sangat tidak pantas bagi kita bersikap takabur!

Orang takabur adalah orang yang ***** dan bohong. ***** karena dia tidak mengetahui bahwa kebesaran hanya milik Allah, dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman, "Kemuliaan adalah pakaian-Ku, kebesaran adalah selendang-Ku. Siapa yang mencoba mengenakannya, akan Aku siksa." (H.R. Muslim)

Dia berbohong kerana sesungguhnya lemah. Namun, merasa dirinya hebat. Jangankan ditimpa musibah yang besar, digigit nyamuk malaria saja boleh sakit. Jadi, orang yang takabur adalah orang yang membohongi diri sendiri. Kerananya meneladani nama dan sifat Allah Al-Mutakabbir adalah menjauhkan diri dari sifat takabur.

Akhirnya, marilah kita berdoa, "Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari setiap kejahatan yang sekarang dan yang akan datang, kejahatan yang telah aku ketahui dan yang belum aku ketahui. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu sebaik-baik yang telah diminta kepada-Mu oleh hamba dan nabi-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan, yang telah dimohonkan terhindarnya kepada-Mu oleh hamba dan nabi-Mu." (H.R. Ibnu Majah dan Ahmad)

Manfaat Zikir al-Mutakabbir

“Ya Mutakabbir!” apabila dizikirkan sebanyak 662 x, maka dengan kebijaksanaan bertindak, kita akan dapat menundukkan semua musuh, bahkan mereka akan menjadi pembantu yg setia.

Wallahu A'lam

https://www.youtube.com/watch?v=2iQD3Nm0F98
 
Last edited:
11. Al Khaaliq


قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ


[16]
Bertanyalah (wahai Muhammad): “Siapakah Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan langit dan bumi?” Jawablah: “Allah”. Bertanyalah lagi: “Kalau demikian, patutkah kamu menjadikan benda-benda yang lain dari Allah sebagai Pelindung dan Penolong, yang tidak dapat mendatangkan sebarang manfaat bagi dirinya sendiri, dan tidak dapat menolak sesuatu bahaya?” Bertanyalah lagi: “Adakah sama, orang yang buta dengan orang yang celik? Atau adakah sama, gelap-gelita dengan terang? Atau adakah makhluk-makhluk yang mereka jadikan sekutu bagi Allah itu telah mencipta sesuatu seperti ciptaanNya, sehingga ciptaan-ciptaan itu menjadi kesamaran kepada mereka?” Katakanlah: “Allah jualah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu, dan Dia lah Yang Maha Esa, lagi Maha Kuasa”.

quran 13:16

Al Khaliq adalah salah satu nama-nama Allah yang indah, kita sebut dengan Asma ul Husna, artinya Allah Pencipta, yang menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya, dia Maha Pencipta yang kita kagumi hasil penciptaan-Nya;
" Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy. tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”[As Sajadah 32;4]

Penciptaan alam semesta ini diakui oleh orang-orang kafir di masa jahiliyyah walaupun ketika mereka dituntut untuk menyembah Allah mereka menolak, artinya kafir Quraiys ketika itu mengakui Allah dengan keimanan secara Rububiyyah yaitu keimanan sebatas pengakuan tentang Maha Penciptanya Allah.
Duhai yang Maha Pencipta, izinkan hamba menyebut dan menulis nama-Mu yang Maha Mulia. Sungguh betapa agung nama-Mu, yang telah menciptakan segala. Rasanya, dengan hati dan perasaan malu, kami membisikkan nama-Mu. Karena Engkau telah menciptakan segala, tapi kami tak jenuh-jenuh berbuat dosa.
Janganlah Engkau kunci hati kami. Jangan pula Engkau tutup jiwa kami. Dari kebenaran-Mu. Dari kebesaran-Mu. Sungguh, kami tak ingin Engkau butakan. Sungguh, kami tak hendak Engkau campakkan.
Duhai yang Maha Pencipta, izinkan hamba menyebut dan menulis nama-Mu dengan segenap jiwa yang penuh alpa. Tidak saja karena takut, tapi juga penuh rasa malu. Betapa sayangnya Engkau pada kami, tapi betapa durhakanya kami atas semua nikmat yang Engkau beri.
Kami terlalu sibuk memikirkan tentang apa yang kami bisa dan apa yang kami mampu. Padahal, dibanding izin-Mu, sungguh malu jika kami merasa bisa dan mampu. Engkau hamparkan bumi. Engkau turunkan hujan. Engkau tumbuhkan tanaman. Engkau jadikan kehidupan. Dan kami masih terus menerus durhaka, dengan berbuat dosa.
Duhai yang Maha Pencipta, izinkan hamba menyebut dan menulis nama-Mu dengan segenap ruh yang mudah luluh. Ampuni kami Gusti, yang seolah lupa betapa luasnya langit, betapa bergeloranya samudera. Dan semua itu, hanya Engkau yang menciptakannya.
Rasul-Mu saja, betapa takut dan malu menatap langit yang begitu luas. Takut karena merasa sangat kecilnya manusia. Malu karena, betapa lemahnya manusia.
Tapi Engkau Maha Menepati janji, wahai Sang Pencipta. Yang lemah akan menjadi kuat, dengan menyebut nama-Mu. Yang takut menjadi berani, dengan menyebut nama-Mu. [Cyber Sabili, Rabu, 16 Juni 2010 04:41 Herry nurdi].

Makna lain dari kalimat “Laa Ilaaha Illallah”, tidak ada Tuhan selain Allah adalah “Laa Khaliq Illallah” artinya “Tidak ada Pencipta kecuali Allah”. Karena memang di dunia ini selain Allah adalah makhluk artinya yang diciptakan, termasuk di dalamnya adalah manusia, tumbuh-tumbuhan dan alam sekitarnya.

Allah juga menciptakan makhluk lainnya seperti jin dan malaikat dengan kejadian yang berbeda dan watak yang tidak sama pula, sehingga beragamlah makhluk Allah tersebut.
Dengan mempehatikan kejadian seluruh makhluk membuat kita semakin yakin bila Allah itu Maha Perkasa, wajar bila seorang sufi mengatakan,”Barangsiapa yang mengenal asal kejadiannya maka dia akan mengetahui siapa Tuhannya”

Allah Swt Maha Kuasa, Ia menciptakan alam semesta semuanya tidak menggunakan alat atau perkakas. Bila akan menjadikan sesuatu, cukuplah dengan kalimat “Kun” jadilah, lalu terjadilah seperti firman Allah dalam surat Yasin surat ke 36 ayat 82
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah Berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia”

Firman Allah dalam hadits qudsi ;”Aku adalah gudang yang tersembunyi, maka Aku suka agar Aku dikenal, lalu Aku ciptakan makhluk supaya ia mengenalku Aku”
Dalam surat Yunus 10;3 Allah menyatakan firman-Nya;
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”

Jadi jelaslah yang mengatur semua kejadian alam, makhluk, manusia, binatang, matahari, bulan dan bintang, hidup dan mati adalah Allah Swt [Al Baqarah 2;255]
”Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Tidak semua orang mengakui kalau Allah adalah Pencipta karena dihalangi oleh beberapa faktor diantaranya tidak mempunyai akal serta tidak diberdayakan akalnya ke arah itu. Dalam mengenal Allah mempunyai dua cara;

Dengan menggunakan akal fikiran dan memeriksa secara teliti apa saja yang telah diciptakan Allah, yang berupa benda-benda yang beraneka ragam.


Dengan mengetahui nama-nama Allah serta sifat-sifat-Nya. Dengan menggunakan akal dari satu sudut dan dengan mema’rifati nama-nama dan sifat-sifat-Na dari sudut lain, akan dapat seseorang berma’rifah kepada Allah dan dia akan memperleh petunjuk ke arah itu.


Karenanya islam menganjurkan kepada manusia agar memikirkan hal-hal yang diciptakan Allah. Apa-apa yang di langit dan di bumi. Dalam diri sendiri dan dalam masyarakat. Tidak sebuah pemikiranpun yang dilarang, melainkan memikirkan zat Allah, sebab soal yang satu ini pasti berada di luar kekuatan akal fikiran manusia, Rasulullah bersabda,”Berfikirlah perihal makhluk Allah. Dan janganlah kamu berfikir tentang zat Allah. Sebab sesungguhnya kamu tentu tidak dapat mencapai keadaan hakekat zat Allah”[HR.Abu Nu’aim]

Al Qur’an banyak menunjukkan dengan beratus-ratus tanda bukti yang mengajak ummat manusia untuk merenungkan keadaan alam yang terbuka lebar dan luas di hadapan mereka, itu makanya hal yang dapat menghilangkan akal manusia harus disingkirkan;

“ Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,’[Al Baqarah 2;219]

Yang diciptakan Allah bukanlah sebatas isi langit dan bumi tapi seluruh jagad raya yang maha luas, hal ini digambarkan oleh seorang ilmuan yang bernama Albert Einstein, ketika dia meneropong bintang yang paling dekat dengan bumi,dia menemukan jarak satu juta tahun perjalanan cahaya, artinya bila kita menyorotkan senter ke bintang tersebut maka akan sampai cahaya senter tersebut setelah satu juta tahun lamanya. Dan ketika dia menyorotkan teropongnya pada bintang yang paling jauh maka dia menemukan jarak yang luar biasa yaitu 20 nonya dibelakang, sehingga kekagumannya tadi terucap dengan pendapat,”Ilmu tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu buta”.

Berfikir sejenak atas peristiwa alam yang terjadi sehari-hari akan membangkitkan kesadaran yang tinggi, bagaimana langit dan bumi diciptakan serta rintik hujan sampai ke tanah yang dapat menyuburkan tanaman.
Di angkasa raya dengan kebesaran penciptaNya berjuta-juta bintang berhamburan memberi warna indahnya di langit, pergantian musim dan cuaca, gumpalan awan yang membawa hujan dan sungai yang mengaliri air [Ash Shaffat 37;6]
“ Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, Yaitu bintang-bintang,

Kebesaran Allah tidak ditemui tandingannya dan hal ini diakui dengan kerendahan hati oleh orang-orang yang beriman yang mau mengetuk hatinya untuk membacakan segala peristiwa dari alam ini, sejak dari biji yang tak berdaya, tumbuhan, hewan dan manusia yang dihidupkan serta dimatikan dengan kekuasaan-Nya [Al An’am 6;95]

”Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?”

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari ciptaan Allah; lautan dengan segala kekayaannya, binatang serangga dengan berbagai jenisnya, tumbuh-tumbuhan dengan corak warnanya sampai kepada diri manusia itu sendiri [Al Jatsiyah 45;4]
“Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini”

Bagaimana awal mula diciptakan manusia yang berasal dari air mani dengan segala proses kejadiannya [As Sajdah 32;7-8]

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina”

Dengan Maha Penciptanya Allah, maka hanya Allah saja yang mengerti tentang keadaan ciptaan-Nya, silfat dan watak hamba-Nya, hak dan kewajiban hamba-Nya sehingga selayaknya bila mmat ini selain mengakui penciptaan-Nya juga tidak mengabaikan pengabdian dalam seluruh asfek kehidupan, bila hanya beriman kepada Allah atas Maha Penciptanya Allah tapi tidak mau mengabdi kepada-Nya berarti sama dengan keimanan orang-orang kafir masa dulu, wallahu a'lam

rain-birds_00428368_zpsn1rcur5h.jpg
 
12. Al Baari

Salah satu Al-Asma`ul Husna adalah Al-Bari` (البَارِئُ), seperti yang Allah l sebutkan:

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Dia-lah Allah Al-Khaliq (Yang Menciptakan), Al-Bari’, Al-Mushawwir (Yang Membentuk Rupa), Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik.” (Al-Hasyr: 24)

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, sesungguhnya kalian telah menganiaya diri kalian sendiri karena kalian telah menjadikan anak lembu (sebagai sesembahan kalian), maka bertaubatlah kepada Bari` kalian dan bunuhlah diri kalian. Hal itu adalah lebih baik bagi kalian di sisi Bari` kalian…’.” (Al-Baqarah: 54)



Makna Al-Bari`

Ibnu Qutaibah v mengatakan: “Di antara sifat Allah l adalah (Al-Bari`) dan makna Al-Bari` adalah (Al-Khaliq): Pencipta. Dikatakan (dalam bahasa Arab):

Artinya ‘menciptakan makhluk’, dan (البَرِيَّة) berarti ‘makhluk’.” (Tafsir Gharibul Qur`an hal. 15, dinukil dari Shifatullah ‘Azza Wa Jalla Al-Waridah Fil Kitabi Was-Sunnah hal. 61-62)

Ibnul Atsir v mengatakan: “Al-Bari` artinya yang menciptakan makhluk tanpa meniru. Akan tetapi lafadz ini lebih memiliki kekhususan pada (penciptaan) makhluk-makhluk hidup, tidak pada makhluk-makhluk yang lain. Lafadz ini jarang sekali dipakai pada (penciptaan) selain makhluk hidup. Sehingga diungkapkan dalam bahasa Arab:

يَبْرَأُ اللهُ النَسَمَةَ

‘Allah menciptakan makhluk hidup.’ (dengan menggunakan kata bara`a, pent.). Dan:

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

‘Allah menciptakan langit dan bumi.’ (dengan menggunakan kata khalaqa, pent.).” (Jami’ul Ushul, 4/177, dinukil dari Shifatullah ‘Azza Wa Jalla Al-Waridah Fil Kitabi Was-Sunnah hal. 61-62)

Demikian pula yang dikatakan dalam Lisanul ‘Arab.

Jadi di sinilah salah satu perbedaan makna antara nama Allah Al-Khaliq dan Al-Bari`.

Abu Hilal Al-‘Askari v mengatakan: “(Kata) (بَرَأَ اللهُ الْخَلْقَ) artinya ‘Allah l membeda-bedakan bentuk mereka’.” (Al-Furuq Al-Lughawiyyah hal. 227)

Ibnu Katsir v ketika menjelaskan ayat ke-24 surat Al-Hasyr berkata: “Al-Khalqu (yang darinya diambil kata Al-Khaliq, pent.) artinya menetapkan. Dan Al-Bar`u (yang darinya diambil kata Al-Bari`, pent.) artinya Al-Faryu, yaitu melaksanakan dan memunculkan atau mengadakan apa yang Dia tetapkan menuju ke alam nyata. Dan tidak semua yang bisa menetapkan sesuatu dan mengaturnya mampu untuk melaksanakan dan mewujudkannya, selain Allah l. Seorang penyair memuji orang lain:

وَلَأَنْتَ تَفْرِي مَا خَلَقْتَ

وَبَعْضُ الْقَوْمِ يَخْلُقُ ثُمَّ لاَ يَفْرِي

Sungguh dirimu mewujudkan apa yang kamu tetapkan

sementara sebagian kaum menetapkan lalu tidak bisa mewujudkan

Yakni engkau mewujudkan dan mengadakan apa yang engkau tetapkan, berbeda dengan selainmu, yang tidak mampu melaksanakan apa yang diinginkan. Sehingga, makna Al-Khalq adalah menetapkan, sedangkan makna Al-Faryu (Al-Bar`u) adalah melaksanakannya.” (Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 4/367. Lihat juga Tafsir Al-Qurthubi, 18/48)



Kesimpulan

Dari nukilan penjelasan para ulama di atas dapat disimpulkan bahwa makna Al-Bari` adalah Yang menciptakan tanpa meniru, dan mewujudkan ke alam nyata apa yang Allah l tetapkan –sebagaimana penjelasan Ibnu Katsir v– serta membedakan antara satu makhluk dengan yang lain –sebagaimana penjelasan Abu Hilal Al-‘Askari v–. Dan kata Al-Bari` lebih akrab dengan penciptaan makhluk hidup, –sebagaimana penjelasan Ibnul Atsir v–.



Buah Mengimani Nama Allah Al-Bari`

Dengan mengimani nama tersebut serta mengetahui maknanya, kita semakin menyadari kekuasaan Allah Yang Maha Hebat, serta mengetahui bagaimana luasnya ilmu Allah l dan kemampuan-Nya. Di mana tidak mungkin ada yang melakukan itu semua kecuali Dzat yang Maha Berilmu dan Maha Mampu. Ini semua mestinya membuat kita semakin tunduk kepada-Nya dan semakin patuh. Sebagaimana juga mestinya membuat kita semakin bersyukur kepada-Nya karena kita semua –dengan bentuk ciptaan yang bagus dan indah ini– adalah buah dari nama Allah l tersebut.

Wallahu a’lam.

kurma2-001_zpsudqli38r.jpg
 
13. Al Mushawwir


هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ


Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Hasyr: 24)

Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh-mu. (Q.S. Al-Infithar: 6-8)

Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. ali-Imran: 6)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam"; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. (Q.S. Al-A'raaf: 11)

Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. (Q.S. Al-Mu'min: 64)

Al-Mushawwir secara bahasa berasal dari kata "shawwara" yang berarti memberi rupa dan subtansi bagi sesuatu, sehingga menjadi berbeda dengan yang lainnya. Allah al-Mushawwir, artinya Allah Maha Membentuk Rupa pada semua ciptaan-Nya. Manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan segala yang ada di alam ini diberi bentuk rupa yang terbaik oleh Allah. manusia adalah makhluk yang diberi bentuk rupa paling baik. Al-Qur'an menegaskan, "sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (Q.S. At-Tin: 4)

Kita bisa lihat wajah manusia, tidak ada yang sama. Alah-lah yang memberi bentuk wajah-wajah manusia itu. Ibarat sebuah bangunan yang telah selesai dibuat maka perlu diperindah dan diperhalus. Demikian pula dengan penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia dengan ukuran tertentu yang tepat (Al-Khaliq), mengadakannya ke alam dunia dari tiada (Al-Bari'), kemudian memberikan bentuk rupa yang bagus (Al-Mushawwir).

Demikianlah makna Al-Mushawwir. Sekarang, bagaimana bentuk meneladani nama dan sifat Allah Al-Mushawwir? Meneladani nama dan sifat Allah Al-Mushawwir berarti ketika membuat sebuah karya, buatlah sebagus-bagusnya. Tidak hanya asal jadi, melainkan indah dan bermanfaat. Misalnya, kita membuat kursi dari anyaman rotan, buatlah dengan semenarik dan sebagus mungkin. Dengan demikian, selain memiliki nilai seni dan ekonomi yang tinggi, kita juga telah meneladani Al-Mushawwir.

Akhirnya, marilah kita berdoa, "Ya Allah Engkau telah membaguskan penciptaanku, maka baguskanlah pula akhlakku." (H.R. Ahmad)

FADHILAT ASMA’UL HUSNA – AL-MUSHAWWIR

Yang Merupakan Makhluk./ Yang Membentuk Rupa (makhluknya) / Maha Pembentuk / Maha Menjadikan Rupa Bentuk / Maha Pereka – Ia reka segala-galanya, memberikan gambaran atau bentuk pada sesuatu yang berbeza dengan lainnya. Jika Al-Khaaliq adalah mengadakan sesuatu yang belum ada asal mulanya atau yang menakdirkan adanya itu. Al-Baari’ ialah mengeluarkannya dari yang sudah ada asalnya, manakala Al-Mushawwir pula ialah yang memberinya bentuk yang sesuai dengan keadaan dan keperluannya.

1. Sesiapa yang berzikir ‘Ya Mushawwir’ sebanyak 336 X atau lebih, maka Insya’Allah akan menjadi baik segala perbuatannya atau apa yang dikerjakannya.

2. Sekiranya sudah lama berkahwin tetapi masih belum mempunyai anak, maka seorang isteri cubalah ikhtiar ini dengan berpuasa 7 hari dari hari Ahad hingga Sabtu. Di waktu hendak berbuka puasa, ambil segelas air dan dibacakan ‘Ya Mushawwir’ sebanyak 21 X, Kemudian diminum air tersebut untuk berbuka puasa.

3. Bagi si suami, hendaklah berbuat perkara yang sama tetapi hanya dengan berpuasa selama 3 hari sahaja. Kemudian pada waktu hendak berjimak, bacalah zikir ‘Ya Mushawwir’ sebanyak 10 X. Insya’Allah akan dikurniakan anak yang soleh.

4. Jika perempuan mengandung tiada berdaya hendak melahirkan anak, hendaklah ia berpuasa selama 7 hari, dan sewaktu berbuka hendaklah ia menyebut ‘Ya Khaliq, Ya Baarii, Ya Mushawwir’ (Wahai Yang Maha Pembuat, Penjadi dan Pereka) sebanyak 3 X sebelum ia meminum air. Insya’Allah mudah bersalin dan permintaannya akan dikabulkan.

https://www.youtube.com/watch?v=pTk9jVDWNV0
 
Last edited:
14. Al Ghaffar

DIA-lah yang membuat nyata apa yang indah dan menyembunyikan apa yang buruk.

Dosa temasuk hal yang buruk yang disembunyikan-NYA, yaitu dengan mengizinkannya tertutupi di dunia dan pengampunan-NYA juga merupakan penyembunyian. DIA-lah pemberi ampunan yang sempurna, dan DIA-lah kesempurnaan ampunan yang mencapai tingkat tertinggi (Maghfirah).

Penyembunyian yang pertama adalah bagian-bagian buruk dari tubuh yang apabila melihatnya akan merasa jijik sementara bagian luarnya dapat dijaga kebersihan dan keindahannya.

Penyembunyian yang kedua adalah maksud-maksud yang tercela yang tersimpan dalam hati (penipuan, pengkhianatan), yang orang lain tidak akan mengetahuinya dan apabila orang lain megetahuinya maka akan dijauhi oleh orang-orang atau bahkan membinasakannya.

Penyembunyian yang ketiga adalah ampunan Allah terhadap dosa-dosa yang sesungguhnya patut mendapat aib dihadapan manusia lainnya.

Imam Al-Ghazali


____________________oooOooo___________________
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

”Katakanlah: ’Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS Az Zumar: 53).

Ya Rabbi, dengan segala dosa dan noda hina, hamba mendekat kepada-Mu. Dengan berlari, dengan berjalan kaki, kami menyeret bergunung-gunung dosa dan berdeburan, di belakang kami kesalahan laksana ombak yang tak pernah surut mendatangi pantai.

Kami adalah hamba yang melampaui batas dan tak tahu diri. Kami makhluk yang tak tahu berterima kasih dengan segala kemaksiatan yang terus menerus kami lakukan. Ya Rabbi, hanya kepada-Mu kami mengadukan diri.

Allahuma ya Allah, dengan segala rupa kesalahan hamba, janganlah Engkau cabut rahmat dan Kau timpakan azab. Hanya Engkau yang mampu membersihkan diri kami, dari segala dosa yang melekat erat. Hanya Engkau yang mampu, wahai al Ghaffar.

Sungguh ya Allah, kami pernah mendengar Rasul-Mu bersabda, menjabarkan firman-Mu yang mulia. ”Wahai para hamba-Ku, setiap kalian adalah telanjang kecuali orang yang telah Aku beri pakaian; maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian pakaian.” Maka ya Allah, dengan segala rahmat-Mu, kami meminta perlindungan, busana dari segala aib atas dosa-dosa.

Sungguh ya Allah, kami pernah mendengar Rasul-Mu bersabda, menjabarkan firman-Mu yang mulia. ”Wahai para hamba-Ku, setiap kalian itu adalah lapar kecuali orang yang telah Aku beri makan; maka mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian makan.” Maka ya Allah, ampuni kami yang terus menerus meminta dan juga terus menerus bermaksiat kepada-Mu.

Sungguh ya Allah, kami pernah mendengar Rasul-Mu bersabda, menjabarkan firman-Mu yang mulia. ”Wahai para hamba-Ku, setiap kalian adalah sesat kecuali orang yang telah Aku beri petunjuk; maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian petunjuk.” Maka ya Allah, Ya Ghaffar, yang Maha Pengampun, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, hidup yang tulus. Karena hanya dari-Mu segala bermula dan dari-Mu segala berakhir.

Ya Ghaffar, wahai yang Maha Pengampun, ampuni kami yang tak lagi sanggup berkata-kata karena terlalu besarnya dosa-dosa.

dsc008282_zpswduw8wbx.jpg
 
Back
Top
Log in Register