BTC USD 84,082.6 Gold USD 4,265.20
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

anNu’man bin Basyir

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

(رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Abdillah anNu’man bin Basyir –semoga Allah meridlainya- beliau berkata: Saya mendengar Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, di antara keduanya terdapat perkara yang samar (musytabihat) tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menghindari syubuhat maka ia membersihkan Dien dan kehormatannya. Barangsiapa yang masuk ke dalam syubuhat maka ia (hampir) masuk ke dalam haram, bagaikan penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar himaa (wilayah yang dilindungi), hampir-hampir saja ternak itu makan di tempat yang dilindungi tersebut. Ingatlah, sesungguhnya setiap raja memiliki wilayah khusus yang dilindungi, ingatlah bahwa wilayah khusus yang dilindungi bagi Allah adalah keharamannya. Ingatlah bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, bahwa (segumpal daging) itu adalah hati (H.R alBukhari dan Muslim)



SEDIKIT PENJELASAN TENTANG SAHABAT NU’MAN BIN BASYIR

Sahabat Nabi yang meriwayatkan hadits ini adalah anNu’maan bin Basyir. Beliau adalah Sahabat Nabi yang dilahirkan 8 tahun sebelum Rasul shollallahu ‘alaihi wasallam wafat (sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Atsir dalam Usudul Ghobah). Para Ulama’ menganggap bahwa periwayatan Sahabat Nabi yang masih kecil (saat Nabi menyampaikan hadits) adalah periwayatan yang sah.

Pelajaran penting yang diambil dari sini, orang tua tidak perlu menghalangi seorang anak kecil yang tertarik dengan suatu majelis ilmu untuk hadir dan menyimaknya dengan baik, karena hal itu sudah memberikan kebaikan yang banyak kepadanya. Bahkan, suatu faidah ilmiyah yang pernah ia dapatkan dari suatu majelis akan tertanam kuat hingga bertahun-tahun kemudian. Hal ini berlaku untuk anak yang tenang saat ta’lim dan punya ketertarikan yang tinggi dengan kajian ilmu 21

KESALAHPAHAMAN TENTANG HADITS

Sebagian orang salah memahami makna hadits ini. Mereka menganggap bahwa untuk setiap orang, hukum itu terbagi 3 : halal, haram, dan samar (musytabihat).

Padahal, yang dimaksud oleh Nabi adalah tidak sama antara satu orang dengan orang yang lain. Bagi si A, hukum perkara tertentu adalah tidak jelas (samar), sedangkan bagi B yang lebih alim dibandingkan A, ia bisa membedakan dengan jelas bahwa perkara itu benar-benar halal atau benar-benar haram. Kesamaran itu menjadi berkurang atau bahkan hilang ketika ilmu Dien seseorang bertambah. Dari sini nampak pentingnya ilmu, karena ilmu adalah sebagai penerang jalan yang memudahkan seseorang membedakan suatu yang haq dengan yang batil, dan yang halal dengan yang haram. Sehingga ia beramal di atas keyakinan, dan meninggalkan sesuatu juga di atas keyakinan. Sedangkan kesamaran meninggalkan keraguan.



SIKAP WARA’



Hadits ini merupakan landasan sikap wara’. Wara’ adalah suatu sikap berhati-hati meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan membahayakan kehidupannya di akhirat nanti. Seseorang yang meninggalkan suatu hal yang masih samar karena khawatir termasuk perbuatan haram, itu adalah bentuk sikap wara’.

Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ



Jadilah seorang yang wara’, niscaya engkau menjadi manusia yang paling (tinggi kualitas) ibadahnya (H.R Ibnu Majah, dinyatakan sebagai sanad yang hasan oleh alBushiri dalam Mishbahus Zujaajah)

Ibnul Mubarak (salah seorang guru Imam al-Bukhari) berkata: Sungguh aku mengembalikan harta satu dirham yang berasal dari harta yang syubhat lebih aku cintai dari pada bersedekah dengan seratus ribu (dirham),…hingga 600 dirham (Shifatus Shofwah (4/139)).



PERUMPAMAAN ‘WILAYAH YANG DIJAGA’

Dalam hadits ini Nabi menyatakan bahwa raja-raja biasanya memiliki wilayah-wilayah yang dikhususkan. Biasanya areal wilayah khusus yang memiliki banyak rumput untuk penggembalaan ternak tertentu. Barangsiapa yang tanpa ijin menggembalakan ternaknya di tempat itu, bisa terkena hukuman dari raja.

Sedangkan Allah memiliki wilayah khusus yang berupa larangan-larangan/ sesuatu yang diharamkan. Barangsiapa yang masuk dalam wilayah itu, akan terkena adzab Allah.

Perumpamaan seseorang yang mengambil sesuatu yang samar (musytabihaat) adalah bagaikan penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekeliling wilayah yang dijaga tersebut. Sangat riskan sekali ternaknya masuk ke dalam wilayah terlarang itu. Seperti perkara yang ‘samar’ bagi seseorang sangat mudah menjerumuskannya ke dalam keharaman.

MEMPERBAIKI HATI

Dalam hadits ini disebutkan bahwa hati adalah ‘raja’ bagi seluruh anggota tubuh yang lain. Jika baik hatinya, akan baik seluruh anggota tubuh, sebaliknya jika buruk, maka yang lain tidak akan baik.

Ada beberapa upaya untuk menghidupkan, melembutkan, dan menjernihkan hati. Di antaranya:

Membaca dan tadabbur (memikirkan dengan penuh pemahaman) al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah penghidup hati yang mati. Karena itu Allah sebut al-Qur’an sebagai “ruh”. AlQuran adalah penyinar hati dan membuatnya bercahaya

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا…

Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu ruh (al-Qur’an) dari perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak tahu apakah kitab dan iman itu. Akan tetapi Kami jadikan ia (al-Quran) sebagai cahaya yang dengannya Kami memberikan hidayah kepada siapa saja yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami (Q.S asy-Syuuro:52)

Al-Qur’an adalah obat hati:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Wahai sekalian manusia, telah datang nasehat dari Tuhanmu (alQuran) dan sebagai obat bagi yang berada di dalam dada (hati), dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman (Q.S Yunus:57)

2. Berdzikir dengan lisan dan hati

“Ingatlah, dengan berdzikir hati menjadi tenang” (Q.S arRa’d:28).

3. Menjaga lisan dari segala ucapan yang mengandung dosa dan kesia-siaan.

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ، وَلاَ يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ

Tidaklah akan istiqomah iman seorang hamba sampai istiqomah hatinya, dan tidak akan istiqomah hatinya sampai istiqomah lisannya (H.R Ahmad, dihasankan oleh Syaikh al-Albany dalam Shahih atTarghib wat Tarhiib)

4. Selalu berusaha untuk mengingkari kemungkaran menjadikan hati putih bersinar.

“Hati senantiasa dihadapkan dengan ujian (kemunkaran) bagaikan anyaman tikar sehelai dan sehelai. Hati yang menelannya akan diberi bintik hitam, sedangkan hati yang mengingkarinya akan diberi bintik putih. (Demikian terus berlangsung) hingga akan terdapat 2 jenis hati: (1) Hati yang hitam bagaikan mangkuk terbalik tidak mengenal mana yang ma’ruf dan mana yang munkar, kecuali yang diserap hawa nafsunya. (2) Hati yang putih (cemerlang) yang tidak akan berpengaruh mendapatkan fitnah selama masih ada langit dan bumi” (H.R Muslim).

5. Puasa Ramadlan dan diikuti 3 hari setiap bulan (Hijriah)

صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ يُذْهِبْنَ وَحَرَ الصَّدْرِ

Puasa pada bulan kesabaran (Ramadlan) dan 3 hari setiap bulan akan menghilangkan ‘wahar’ (dengki, permusuhan, kemarahan) dalam dada (H.R Ahmad dan alBazzar, alHaitsamy menyatakan bahwa rijalnya adalah rijal as-Shohih).

6. Istighfar dan taubat penjernih hati

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ

Sesungguhnya seorang mukmin jika berdosa akan ditandai titik hitam pada hatinya. Jika ia bertaubat, mencabut kemaksiatannya dan beristighfar, maka hatinya akan mengkilap (H.R Ahmad)

https://www.youtube.com/watch?v=3ODmJLCN9mo
 
Nuaim bin Mas’ud

Pada masa mudanya, Nuaim bin Mas’ud adalah seorang yang mahir dalam segala bidang. Ia terlahir dari sebuah keluarga saudagar yang cukup makmur di Nejed, kota kecil di pinggiran Makkah.

Nu'aim terlahir sebagai seorang suku Ghathafan dari keluarga yang terpandang. Di usia muda, ia cukup sering berdagang dari Makkah ke Madinah. Namun, dari kegiatan itulah ia pun menjadi tahu akan hal-hal yang menyangkut kemaksiatan dan kesenangan di kota itu.

Dengan pemahamannya yang cukup akan kesenangan yang ditawarkan Madinah, ia menjadi seorang yang cukup sering pergi ke kota itu demi mencari kesenangan dunia yang ditawarkan oleh kaum Yahudi di sana, terutama Bani Quraizhah. Oleh sebab itu, ia sangat dikenal oleh orang-orang di Madinah. Dan mereka pun menyukai Nu'aim.

Pada saat itu, Nu’aim tidak ambil pusing dengan dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Saat Rasulullah dan para sahabatnya memulai hijrah ke Madinah, barulah Nu’aim merasa terganggu dan terusik.

Ketika kaum Yahudi Bani Nadhir—yakni kaum Yahudi dari sekitar Madinah—mulai bergerak dan memprovokasi kaum Quraisy di Makkah dan di Nejed untuk memerangi Rasulullah dan pengikutnya di Madinah, dengan segera bani Ghathafan di Nejed menyambut baik usulan tersebut.

Saat itu, Nu’aim termasuk salah satu tokoh Bani Ghathafan yang ikut dalam pasukan Bani Ghathafan di bawah kepemimpinan Uyaynah bin Hishn Al-Ghethfan. Selain membujuk kaum Quraisy di Makkah dan Bani Ghathafan di Nejed, para Yahudi Bani Nadhir juga mengompori suku Yahudi yang tinggal di Madinah, yakni Bani Quraidzah.

Saat itu Bani Quraidzah menolak usulan Bani Nadhir, karena mereka terikat perjanjian damai dengan kaum Muslimin. Namun, para pemimpin Bani Nadhir pandai merayu Bani Quraizhah agar membatalkan perjanjian tersebut secara sepihak. "Kali ini Muhammad pasti kalah," kata mereka. Bani Quraizhah pun manut saja.

Berita tentang datangnya ribuan pasukan dari arah Makkah dan tentang pemutusan perjanjian sepihak oleh Bani Quraidzah segera terdengar dengan cepat ke Madinah.

Orang-orang munafik yang berada di tengah-tengah kaum Muslimin mulai membuka kedok.

Banyak dari mereka dengan terang-terangan meninggalkan Madinah dengan alasan takut akan hal buruk yang tiba-tiba menimpa keluarga mereka jika mendadak Bani Quraidzah menyerang. Sampai saat itu, jumlah kaum Muslimin yang siap mempertahankan Kota Madinah hanya sekitar 900 orang prajurit.

Sampai pada suatu malam, setelah kira-kira 20 hari dalam pengepungan, Rasulullah saw berdoa, mengadu kepada Allah dengan sungguh-sungguh. “Ya Allah, aku memohon pertolongan-Mu sesuai dengan apa yang Engkau Janjikan.”

Sementara itu, jauh dari tempat Nabi saw bermunajat, seorang tokoh Bani Ghathafan, Nu’aim bin Mas’ud, tengah berbaring dalam tendanya dengan gelisah. Ia merasa apa yang dilakukannya adalah suatu kebenaran. Namun, dalam hatinya ia merasa bersalah.

"Sungguh, alangkah *****nya diriku. Selama ini, hidupku dipenuhi dengan kesenangan yang menipu dan kegembiraan sesaat. Namun, mengapa kini aku melawan Muhammad yang katanya bisa mengajarkan kehidupan yang dipenuhi ketenteraman yang abadi? Bukankah aku tetap tidak ingin kembali ke kehidupanku yang sebelumnya?” Nu'aim mendapat hidayah Allah SWT.

Malam itu juga, ia memacu kudanya dan menuju ke dekat kota Madinah. Sesampainya di sana, ia meminta izin untuk bertemu dengan Rasulullah saw bukan sebagai musuh.

Ketika Rasulullah melihatnya Nu'aim berdiri di hadapannya, beliau bertanya, "Engkau Nu'aim bin Mas'ud?"

"Betul, wahai Rasulullah," jawab Nu'aim.

"Apa yang mendorongmu datang ke sini pada saat seperti ini?" tanya beliau.

"Aku datang untuk menyatakan pengakuanku. Tidak ada Tuhan selain Allah dan seusungguhnya engkau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku mengakui agama yang engkau bawa sesungguhnya benar," jawab Nu'aim sungguh-sungguh.

Kemudian ia melanjutkan kata-katanya, "Wahai Rasulullah, sungguh aku telah benar-benar masuk Islam. Dan kaumku tidak mengetahui bahwa aku telah masuk Islam. Perintahkanlah kepadaku perintah apa saja yang dapat aku laksanakan!"

Rasulullah menjawab, "Engkau hanya seorang dari pihak kami, kembalilah kepada kaummu! Dan jika kamu sanggup, takut-takutilah mereka bahwa sesungguhnya mereka lemah dan kami kuat. Sesungguhnya perang itu adalah tipu daya.”

“Saya siap, wahai Rasulullah. Insya Allah engkau akan segera melihat sesuatu yang menggembirakan,” janji Nu’aim.

Setelah itu, Nuaim segera berangkat menuju ke kubu Bani Quraidzah, yang telah menjadi sahabat baiknya sampai saat ini. Ia berhasil meyakinkan mereka untuk tidak dalam pertempuran melawan Rasulullah SAW.

"Jangan kalian bantu mereka (Quraiys) memerangi Muhammad sebelum kalian minta jaminan kepada kedua sekutu kalian itu, yakni pemuka-pemuka atau bangsawan-bangsawan terpandang dari mereka sebagai jaminan atas peperangan ini. Sampai kalian memenangkan peperangan ini dan menguasai negeri ini, atau kalian mati bersama-sama dengan mereka,” saran Nu’aim. Bani Quraizhah pun menerima saran itu.

Setelah itu, Nuaim segera beranjak menuju kubu Quraisy dan Ghathafan di luar Kota Madinah. Ia segera menemui pimpinan Quraisy, Abu Sufyan bin Harb, yang saat itu dikelilingi para pembesar Quraiys. Ia berhasil merayu mereka agar tidak melanjutkan serangan bersama.

Nu'aim mengatakan bahwa Bani Quraizhah menyesal memutusan perjanjian dengan Muhammad SAW, dan malah mereka akan membantu Rasulullah menghadapi pasukan Ahzab.

Mendengar penjelasan Nuaim, Abu Sufyan berkata, “Kau adalah sekutu kami yang baik. Semoga kamu mendapat balasan yang baik pula.”

Hal yang sama dilakukan juga oleh Nuaim kepada Kaumnya, yakni Bani Ghathafan. Dan setelah yakin bahwa Pasukan Ahzab tidak akan melancarkan serangan apa pun kepada kaum Muslimin. Diam-diam Nu’aim pergi ke Madinah dan bergabung dengan pasukan Rasulullah.

Sementara itu, datanglah pertolongan Allah yang dijanjikan kepada Nabi-Nya, berupa badai pasir yang meluluh-lantakkan tenda-tenda dan menakut-nakuti hewan tunggangan kaum Quraisy. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menghentikan pengepungan dan kabur ke negeri masing-masing dengan kekalahan yang memalukan.

“Dan Allah mengusir orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25).

Demikianlah, strategi yang dilancarkan Nuaim membuahkan hasil seperti yang diperkirakannya. Semenjak itu, Nuaim bin Mas’ud menjadi Muslim yang taat dan pulang ke negerinya (Ghathafan) dan mulai berdakwah di sana.

Banyak orang-orang Ghathafan yang akhirnya masuk Islam setelah mendengar dakwah Nuaim. Dan menjelang penaklukan Makkah, Nu’aim dengan segera berbaiat dan mengajukan pasukan dari Bani Ghathafan di bawah komandonya untuk mengabdi kepada Rasulullah dan membantu menaklukkan Kota Makkah.

Khan%20Mohammad%20Mirdha%20Mosque%20in%20Dakha%20-%20Bangladesh_zpse2wlughf.jpg
 
Rabi'ah bin Ka'ab

Di usia muda, jiwanya sudah cemerlang dengan cahaya iman. Hatinya dipenuhi pengertian dan pemahaman tentang Islam.

Pertama kali berjumpa dengan Rasulullah saw, ia langsung jatuh cinta dan menyerahkan seluruh jiwa raganya; menjadi pendamping beliau. Kemana pun beliau pergi, Rabi'ah bin Ka'ab selalu berada di sampingnya.

Rabi'ah melayani segala keperluan Rasulullah sepanjang hari hingga habis waktu Isya' yang terakhir. Bahkan lebih dari itu, ketika Rasulullah hendak berangkat tidur, tak jarang Rabi'ah mendekam berjaga di depan pintu rumah beliau.

Di tengah malam, ketika Nabi SAW bangun untuk melaksanakan shalat, seringkali ia mendengar beliau membaca Al-Fatihah dan ayat-ayat Alquran.

Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw, jika seorang berbuat baik kepadanya, maka beliau pasti membalasnya dengan lebih baik lagi. Begitulah, beliau membalas kebaikan Rabi'ah dengan kebaikan pula.

Pada suatu hari beliau memanggilnya seraya berkata, "Wahai Rabi'ah bin Ka'ab, katakanlah permintaanmu, nanti kupenuhi!"

Setelah diam sejenak, Rabi'ah menjawab, "Ya Rasulullah, berilah saya sedikit waktu untuk memikirkan apa sebaiknya yang akan kuminta. Setelah itu, akan kuberitahukan kepada Anda."

"Baiklah kalau begitu," jawab Rasulullah.

Rabi'ah bin Ka'ab adalah seorang pemuda miskin, tidak memiliki keluarga, harta dan tempat tinggal. Ia menetap di Shuffatul Masjid (emper masjid), bersama-sama dengan kawan senasibnya, yaitu orang-orang fakir dari kaum Muslimin.

Masyarakat menyebut mereka "dhuyuful Islam" (tamu-tamu) Islam. Bila ada yang memberi hadiah kepada Rasulullah, maka biasanya beliau memberikannya kepada mereka. Rasulullah hanya mengambil sedikit saja.

Dalam hati, Rabi'ah bin Ka'ab ingin meminta kekayaan dunia agar terbebas dari kefakiran. Ia ingin punya harta, istri, dan anak seperti para sahabat yang lain.

Namun, hati kecilnya berkata, "Celaka engkau, wahai Rabi'ah bin Ka'ab! Kekayaan dunia akan lenyap. Mengapa engkau tidak meminta kepada Rasulullah agar mendoakan kepada Allah kebajikan akhirat untukmu?"

Hatinya mantap dan merasa lega dengan permintaan seperti itu. Kemudian ia datang kepada Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, saya mohon agar engkau mendoakan kepada Allah agar menjadi temanmu di surga."

Agak lama juga Rasulullah SAW terdiam. Sesudah itu barulah beliau berkata, "Apakah tidak ada lagi permintaamu yang lain?"

"Tidak, ya Rasulullah. Tidak ada lagi permintaan yang melebihi permintaanku," jawab Rabi'ah bin Ka'ab mantap.

"Kalau begitu, bantulah aku dengan dirimu sendiri. Perbanyaklah sujud," kata Rasulullah.

Sejak itu, Rabi'ah bersungguh-sungguh beribadah, agar mendapatkan keuntungan menemani Rasulullah di surga, sebagaimana keuntungannya melayani beliau di dunia.

Tidak berapa lama kemudian Rasulullah SAW memanggilnya. "Apakah engkau tidak hendak menikah, hai Rabi'ah?" tanya beliau.

"Saya tak ingin ada sesuatu yang menggangguku dalam berkhidmat kepada Anda, ya Rasulullah. Di samping itu, saya tidak mempunyai apa-apa untuk mahar kawin, dan untuk kelangsungan hidup berumah tangga," jawab Rabi'ah.

Rasulullah diam sejenak. Tidak lama kemudian beliau memanggil Rabi'ah kembali seraya bertanya, "Apakah engkau tidak hendak menikah, ya Rabi'ah?"

Dan Rabi'ah kembali menjawab seperti seperti semula. Hingga ketiga kalinya Rasulullah memanggil dan bertanya serupa. Rabi'ah menjawab, "Tentu, ya Rasulullah. Tetapi, siapakah yang mau kawin denganku, keadaanku seperti yang Anda maklumi."

"Temuilah keluarga Fulan. Katakan kepada mereka bahwa Rasulullah menyuruhmu kalian supaya menikahkan anak perempuan kalian, si Fulanah dengan engkau."

Dengan malu-malu Rabi'ah datang ke rumah mereka dan menyampaikan maksud kedatangannya. Tuan rumah menjawab, "Selamat datang ya Rasulullah, dan dan selamat datang utusan Rasulullah. Demi Allah, utusan Rasulullah tidak boleh pulang, kecuali setelah hajatnya terpenuhi!"

Rabia'h bin Ka'ab kemudian menikah dengan anak gadis tersebut. Dan Rasulullah juga menghadiahkan sebidang kebun kepadanya, berbatasan dengan kebun Abu Bakar ash-Shiddiq.

Pink-mosque_zpslvr7xxr8.jpg
 
Saad bin Ubadah

Setiap menyebut nama Saad bin Muadz, pastilah disebut pula bersamanya Saad bin Ubadah. Mereka berdua adalah pemuka-pemuka penduduk Madinah.

Saad bin Muadz pemuka Suku Aus, sedang Saad bin Ubadah pemuka Suku Khazraj. Keduanya lebih dini masuk Islam, menyaksikan Baiat Aqabah dan hidup di samping Rasulullah sebagai prajurit yang taat dan Mukmin sejati.

Mungkin kelebihan Saad bin Ubadah karena dia satu-satunya dari golongan Anshar yang menanggung siksaan Quraisy yang dialami hanya kaum Muslimin penduduk Makkah. Adalah suatu hal yang wajar jika Quraisy melampiaskan amarah dan kekejaman mereka kepada orang-orang yang sekampung dengan mereka yaitu warga kota Makkah.

Tetapi jika siksaan itu mencapai pada laki-laki warga Madinah, padahal ia bukan laki-laki kebanyakan, tetapi seorang tokoh di antara para pemimpin dan pemukanya, maka keistimewaan itu telah ditakdirkan hanya bagi Saad bin Ubadah seorang.

Begini ceritanya, setelah selesainya perjanjian Aqabah yang dilakukan secara rahasia, dan orang-orang Anshar telah bersiap-siap hendak kembali pulang, orang-orang Quraisy mengetahui janji setia orang-orang Anshar ini serta persetujuan mereka dengan Rasulullah SAW, di mana mereka akan berdiri di belakangnya dan menyokongnya menghadapi kekuatan*kekuatan musyrik dan kesesatan.

Timbullah kepanikan di kalangan Quraisy, dan mereka segera mengejar kafilah Anshar. Kebetulan mereka berhasil menangkap Saad bin Ubadah. Kedua tangannya mereka ikatkan ke atas pundaknya dengan tali kendaraannya, lalu mereka bawa ke Makkah. Di Makkah, iring-iringan ini disambut beramai-ramai oleh penduduk yang memukul dan melakukan siksaan pada Saad sesuka hati mereka.

Bayangkan, Saad bin Ubadah, sang pemimpin Madinah, mendapat perlakuan seperti ini. Ia yang selama ini melindungi orang yang minta perlindungan, menjamin keamanan perdagangan mereka, memuliakan utusan dari pihak mana pun yang berkunjung ke Madinah, telah diikat, dipukuli, dan disiksa. Dan orang-orang yang memukulnya seolah tidak kenal padanya dan tidak mengetahui kedudukannya di kalangan kaumnya!

Saad segera meninggalkan Makkah setelah menerima penganiayaan, hingga diketahuinya dengan pasti sampai di mana persiapan Quraisy untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap kaum yang tersingkir, yang menyeru kepada kebaikan, kepada hak dan keselamatan.

Dan permusuhan Quraisy ini telah mempertebal semangatnya hingga diputuskannya secara bulat akan membela Rasulullah SAW, para sahabat dan Agama Islam secara mati-matian.

Rasulullah SAW melakukan hijrah ke Madinah, dan sebelumnya itu para sahabatnya telah lebih dulu hijrah. Ketika itu demi melayani kepentingan orang-orang Muhajirin, Saad membaktikan harta kekayaannya. Saad adalah seorang dermawan, baik dari tabiat pembawaan, maupun dari turunan.

Ia adalah putra Ubadah bin Dulaim bin Haritsah yang kedermawanannya di zaman jahiliyah lebih tenar dari ketenaran manapun juga.

Dan memang, kepemurahan Saad di zaman Islam merupakan salah satu bukti dari bukti-bukti keimanannya yang kuat lagi tangguh. Dan mengenai sifatnya ini ahli-ahli riwayat pernah berkata, “Sa’ad selalu menyiapkan perbekalan bagi Rasulullah SAW dan bagi seluruh isi rumahnya.”

Kata mereka pula, “Biasanya seorang laki-laki Anshar pulang ke rumahnya membawa seorang dua atau tiga orang Muhajirin, sedang Saad bin Ubadah pulang dengan 80 orang!”

Oleh sebab itu, Saad selalu memohon kepada Tuhannya agar ditambahi rezeki dan karunia-Nya. Dan ia pernah berkata, “Ya Allah, tiadalah yang sedikit itu memperbaiki diriku, dan tidak pula baik bagiku!”

Wajarlah apabila Rasulullah SAW mendoakannya, “Ya Allah, berilah keluarga Saad bin Ubadah karunia serta rahmat-Mu!”

Saad tidak hanya menyiapkan kekayaannya untuk melayani kepentingan Islam yang murni, tetapi juga ia membaktikan kekuatan dan kepandaiannya. Ia adalah seorang yang amat mahir dalam memanah. Dalam peperangannya bersama Pasulullah SAW, pengorbanannya amat penting dan menentukan.

Ibnu Abbas RA berkata, “Di setiap peperangannya, Rasulullah SAW mempunyai dua bendera; bendera Muhajirin di tangan Ali bin Abi Thalib dan bendera Anshar di tangan Saad bin Ubadah.”

Pada hari-hari pertama pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab, Saad pergi menjumpai Amirul Mukminin dan dengan blak-blakan berkata kepadanya, "Demi Allah, sahabat anda, Abu Bakar, lebih kami sukai daripada anda. Dan sungguh, demi Allah, aku tidak senang tinggal berdampingan dengan anda.”

Dengan tenang Umar menjawab, “Orang yang tidak suka berdampingan dengan tetangganya, tentu akan menyingkir daripadanya."

Saad menjawab pula, "Aku akan menyingkir dan pindah ke dekat orang yang lebih baik daripada anda.”

Dengan kata-kata yang diucapkannya kepada Amirul Mukminin Umar bin Khathab itu, tiadalah Saad bermaksud hendak melampiaskan amarah atau menyatakan kebencian hatinya. Karena orang yang telah menyatakan ridhanya kepada putusan Rasulullah SAW, sekali-kali tiada akan keberatan untuk mencintai seorang tokoh seperti Umar, selama dilihatnya ia pantas untuk dimuliakan dan dicintai Rasulullah.

Maksud Saad—salah seorang sahabat yang telah dilukiskan Alquran mempunyai sifat berkasih sayang sesama mereka—ialah bahwa ia tidak akan menunggu datangnya suasana, di mana nanti mungkin terjadi pertikaian antaranya dengan Amirul Mukminin. Pertikaian yang sekali-kali tidak diinginkan dan disukainya.

Maka disiapkannyalah kendaraannya, menuju Suriah. Dan belum lagi ia sampai ke sana dan baru saja singgah di Hauran, ajalnya telah datang menjemputnya dan mengantarkannya ke sisi TuhannyaYang Maha Pengasih.

Great_mosque_in_Medan_zpsru6vvm4p.jpg
 
Ummu Sulaim binti Malhan

Beliau bernama Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah.

Beliau adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik, dirinya dihiasi pula dengan ketabahan, kebijaksanan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berfikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga nantinya cerita yang baik ditujukan kepada beliau dan setiap lisan memuji atasnya. Karena beliau memiliki sifat yang agung tersebut sehingga mendorong putra pamannya yang bernama Malik bin Nadlar untuk segera menikahinya. Dari hasil pernikahannya ini lahirlah Anas bin Malik, salah seorang shahabat yang agung.

Tatkala cahaya nubuwwah mulai terbit dan dakwah tauhid muncul sehingga menyebabkan orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus untuk bersegera masuk Islam.

Ummu Sulaim termasuk golongan pertama yang masuk Islam awal-awal dari golongan Anshar. Beliau tidak mempedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya didalam masyarakat jahiliyah penyembah berhala yang telah beliau buang tanpa ragu.

Adapun halangan pertama yang harus beliau hadapi adalah kemarahan Malik suaminya yang baru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, “Apakah engkau murtad dari agamamu?”. Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab: ”Tidak, bahkan aku telah beriman”.

Suatu ketika beliau menuntun Anas (putra beliau) sembari mengatakan: “Katakanlah La ilaha illallah.” (Tidak ada ilah yang haq kecuali Allah). Katakanlah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) kemudian Anas mau menirukannya. Akan tetapi ayah Anas mengatakan, “Janganlah engkau merusak anakku”. Maka beliau menjawab: “Aku tidak merusaknya akan tetapi aku mendidik dan memperbaikinya”.

Perasaan gengsi dengan dosa-dosa menyebabkan Malik bin Nadlar menentukan sikap terhadap istrinya yang –menurutnya- keras kepala dan tetap ngotot berpegang kepada akidah yang baru, maka Malik tidak memiliki alternatif lain selain memberi khabar kepada istrinya bahwa dia akan pergi dari rumah dan tidak akan kembali hingga istrinya mau kembali kepada agama nenek moyangnya.

Manakala Malik mendengar istrinya dengan tekad yang kuat karena teguh terhadap pendiriannya mengulang-ulang kalimat “Ashadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, maka Malik pergi dari rumah dalam keadaan marah dan kemudian bertemu dengan musuh sehingga akhirnya dia dibunuh.

Ketika Ummu Sulaim mengetahui bahwa suaminya telah terbunuh, beliau tetap tabah mengatakan: “Aku tidak akan menyampih Anas sehingga dia sendiri yang memutusnya, dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku”.

Kemudian Ummu Anas menemui Rasulullah yang dicintai dengan rasa malu kemudian beliau mengajukan agar buah hatinya, Anas dijadikan pembantu oleh guru manusia yang mengajarkan segala kebaikan. Rasulullah menerimanya sehingga sejuklah pandangan Ummu Sulaim karenanya.

Kemudian orang-orang banyak membicarakan Anas bin Malik dan juga ibunya dengan penuh takjub dan bangga. Begitu pula Abu Thalhah mendengar kabar tersebut sehingga menjadikan hatinya cenderung cinta dan takjub. Kemudian dia beranikan diri melamar Ummu Sulaim dan menyediakan baginya mahar yang tinggi. Akan tetapi, tiba-tiba saja pikirannya menjadi kacau dan lisannya menjadi kelu tatkala Ummu Sulaim menolak dengan wibawa dan penuh percaya diri dengan berkata: “Sesungguhnya tidak pantas bagiku menikah dengan orang musyrik. Ketahuilah wahai Abu Thalhah bahwa tuhan-tuhan kalian adalah hasil pahatan orang dari keluarga fulan, dan sesungguhnya seandainya kalian mau membakarnya maka akan terbakarlah tuhan kalian”.

Abu Thalhah merasa sesak dadanya, kemudian dia berpaling sedangkan dirinya seolah-olah tidak percaya dengan apa yang telah dia lihat dan dia dengar. Akan tetapi cintanya yang tulus mendorong dia kembali pada hari berikutnya dengan membawa mahar yang lebih banyak, roti maupun susu dengan harapan Ummu Sulaim akan luluh dan menerimanya.

Akan tetapi Ummu Sulaim adalah seorang da`iyah yang cerdik yang tatkala melihat dunia menari-nari dihadapannya berupa harta, kedudukan dan laki-laki yang masih muda, dia merasakan bahwa keterikatan hatinya dengan Islam lebih kuat dari pada seluruh kenikmatan dunia. Beliau berkata dengan sopan: “Orang seperti anda memang tidak pantas ditolak, wahai Abu Thalhah, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan saya adalah seorang muslimah sehingga tidak baik bagiku menerima lamarnmu”. Abu Thalhah bertanya: “lantas apa yang anda inginkan?”, beliau balik bertanya: “Apa yang saya inginkan?”. Abu Thalhah bertanya: “apakah anda menginginkan emas atau pera?”. Ummu Sulaim berkata: “Sesungguhnya aku tidak menginginkan emas ataupun perak akan tetapi saya menginginkan agar anda masuk Islam”. “Kepada siapa saya harus datang untuk masuk Islam?”, tanya Abu Thalhah. Beliau berkata: “Datanglah kepada Rasulullah untuk itu!”. Maka pergilah Abu Thalhah untuk menemui Nabi yang tatkala itu sedang duduk-duduk bersama para sahabat. Demi melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah bersabda:

“Telah datang kepada kaliaan Abu Thalhah sedang sudah tampak cahaya Islam dikedua matanya”.

Selanjutnya Abu Thalhah menceritakan kepada Nabi tentang apa yang dikatakan oleh Ummu Sulaim, maka da menikahi Ummu Sulaim dengan mahar keislamannya.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Ummu sulaim berkata:

“Demi Allah! orang yang seperti anda tidak pantas untuk ditolak, hannya saja engkau adalah orang kafir sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta yang selain dari itu”.

Sungguh ungkapan tersebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan mengisi hati Abu Thalhah, sungguh Ummu Sulaim telah bercokol dihatinya secara sempurna, dia bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan takluk dengan rayuan-rayuan kemewahan, sesungguhnya dia adalah wanita cerdas, dan apakah dia akan mendapatkan yang lebih baik darinya untuk diperistri, atau ibu bagi anak-anaknya?”.

Tanpa terAsa lisan Abu Thalhah mengulang-ulang: “Aku berada diatas apa yang kamu yakini, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah”.

Ummu Sulaim lalu menoleh kepada putranya, Anas dan beliau berkata dengan suka cita karena hidayah Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya: “Wahai Anas! Nikahkanlah aku dengan Abu thalhah”. Kemudian beliaupun dinikahkan dengan Islam sebagai mahar.

Oleh karena itulah Tsabit meriwayatkan hadits dari Anas :
“Aku belum pernah mendengar seorang wanitapun yang paling mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam”.

Ummu Sulaim hidup bersama Abu Thalhah dengan kehidupan suami-istri yang diisi dengan nilai-nilai Islam yang menaungi bagi kehidupan suami istri, dengan kehidupan yang tenang dan penuh kebahagiaan.

Ummu Sulaim adalah profil seorang istri yang menunaikan hak-hak suami isteri dengan sebaik-baiknya, sebagaimana juga contoh terbaik sebagai seorang ibu, seorang pendidik yang utama dan seorang da`iyah.

Begitulah Abu Thalhah mulai memasuki madrasah imaniyah melalui istrinya yang utama yakni Ummu Sulaim sehingga pada gilirannya beliau minum dari mata air nubuwwah hingga menjadi setara dalam hal kemuliaan dengan Ummu Sulaim.

Marilah kita dengarkan penuturan Anas bin Malik yang menceritakan kepada kita bagaimana perlakuan Abu Thalhah terhadap kitabullah dan komitmennya terhadap al-Qur`an sebagai landasan dan kepribadian. Anas bin Malik berkata :

“Abu Thalhah adalah orang yang paling kaya di kalangan Anshar Madinah, adapun harta yang paling disukainya adalah kebun yang berada di masjid, yang biasanya Rasulullah masuk ke dalamnya dan minum air jernih didalamnya. Tatkala turun ayat :

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu nafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Q,.s. آli’ Imran: 92).

Seketika Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya Allah telah berfirman di dalam kitab-Nya (yang artinya), “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” Dan sesungguhnya harta yang paling aku sukai adalah kebunku, untuk itu aku sedekahkan ia untuk Allah dengan harapan mendapatkan kebaikan dan simpanan di sisi Allah, maka pergunakanlah sesuka kamu, wahai Rasulullah”.

Rasulullah bersabda :

“Bagus …..bagus.. itulah harta yang menguntungkan…. Itulah harta yang paling menguntungkan…..aku telah mendengar apa yang kamu katakan dan aku memutuskan agar engkau sedekahkan kepada kerabat-kerabatmu”.

Maka Abu Thalhah membagi-bagikannya kepada sanak kerabat dan anak-anak dari pamannya.

Allah memuliakan kedua suami-istri ini dengan seorang anak laki-laki sehingga keduanya sangat bergembira dan anak tersebut menjadi penyejuk pandangan bagi keduanya dengan pergaulannya dan tingkah lakunya. Anak tersebut diberi nama Abu ‘Umair. Suatu ketika anak tersebut bermain-main dengan seekor burung lalu burung tersebut mati. Hal itu menjadikan anak tersebut bersedih dan menangis. Pada waktu itu, Rasulullah melewati dirinya maka beliau berkata kepada anak tersebut untuk menghibur dan bermain dengannya: “Wahai Abu Umair! Apa yang dilakukan oleh anak burung pipit itu?”.

Allah berkehendak untuk menguji keduanya dengan keduanya dengan seorang anak yang cakap dan dicintai, suatu ketika Abu Umair sakit sehingga kedua orang tuanya disibukkan olehnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi ayahnya apabila kembali dari pasar, pertama kali yang dia kerjakan setelah mengucapkan salam adalah bertanya tentang kesehatan anaknya, dan beliau belum merasa tenang sebelum melihat anaknya.

Suatu ketika Abu Thalhah keluar ke masjid dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal. Maka ibu Mu`minah yang sabar ini menghadapi musibah tersebut dengan jiwa yang ridla dan baik. Sang ibu membaringkannya ditempat tidur sambil senantiasa mengulangi kalimat: “Inna lillahi wa inna ilahi raji`un”. Beliau berpesan kepada anggota keluarganya: “Janganlah kalian menceritakan kepada Abu Thalha hingga aku sendiri yang menceritakan kepadanya”.

Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu Sulaim mengusap air mata kasih sayangnya, kemudian dengan bersemangat menyambut suaminya dan menjawab pertanyaannya seperti biasanya: “Apa yang dilakukan oleh anakku?”. Beliau menjawab: “dia dalam keadaan tenang”.

Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat, sehingga Abu Thalhah bergembira dengan ketenangan dan kesehatannya, dan dia tidak mau mendekat karena khawatir mengganggu ketenangannya. Kemudian Ummu Sulaim mendekati beliau dan mempersiapkan malam baginya, lalu beliau makan dan minum sementara Ummu Sulaim bersolek dengan dandanan lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya, beliau mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan memakai wangi-wangian, kemudian keduanyapun berbuat sebagai mana layaknya suami istri.

Tatkala Ummu Sulaim melihat bahwa suaminya sudah kenyang dan mencampurinya serta merasa tenang dengan keadaan anaknya maka beliau memuji Allah karena tidak membuat risau suaminya dan beliau biarkan suaminya terlelap dalam tidurnya.

Tatkala diakhir malam beliau berkata kepada suaminya: “Wahai Abu Thalhah! bagaimana pendapatmu seandainya suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga kemudian suatu ketika mereka mengambil titipannya tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut untuk menolaknya?”. Abu Thalhah menjawab: “Tentu saja tidak boleh”. Kemudian Ummu Sulaim berkata lagi: “Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah dapat memanfaatkannya?”. Abu Thalhah berkata: “Berarti mereka tidak adil”. Ummu Sulaim berkata: ”Sesunggguhnya anakmu titipan dari Allah dan Allah telah mengambilnya, maka tabahkanlah hatimu dengan meninggalnya anakmu”.

Abu Thalhah tidak kuasa menahan amarahnya, maka beliau berkata dengan marah: “kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu kabari tentang anakku?”.

Beliau ulang-ulang kata-kata tersebut hingga beliau mengucapkan kalimat istirja` (Inna lillahi wa inna ilahi raji`un) lalu bertahmid kepada Allah sehingga berangsur-angsur jiwanya menjadi tenang.

Keesokan harinnya beliau pergi menghadap Rasulullah dan mengabarkan kapada Rasulullah tentang apa yang terjadi, kemudian Rasulullah bersabda:

“Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua”.

Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau utus Anas bin Malik untuk membawanya kepada Rasulullah selanjutnya Anas berkata: “Wahai Rasulullah, bahwasanya Ummu Sulaim melahirkan tadi malam”. Maka Rasulullah mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut (menggosokan kurma yang telah dikunyah ke langit-langit mulut si bayi). Anas berkata: “Berilah nama baginya, wahai Rasulullah!”. Beliau bersabda: “namanya Abdullah” .

Ubbabah, salah seorang rijal sanad berkata: “Aku melihat dia memiliki tujuh anak yang kesemuanya hafal al-Qur`an”.
Diantara kejadian yang mengesankan pada diri wanita yang utama dan juga suaminya yang mukmin adalah bahwa Allah menurunkan ayat tentang mereka berdua dimana umat manusia dapat beribadah dengan membacanya. Abu Hurairah berkata:

“Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar”. Maka Rasulullah menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada dirumahnya, namun beliau menjawab: “Demi Dzat Yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya tidak berbeda. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah bersabda:

“Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya”.

Maka berdirilah salah seorang Anshar yang namanya Abu Thalhah seraya berkata: “Saya wahai Rasulullah”. Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim): “Apakah kamu memiliki makanan?”. Istrinya menjawab: “Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak”. Abu Thalhah berkata: ”Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk maka akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan, apabila makanan sudah berada di tangan maka berdirilah. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut sementara kedua sumi-istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah lalu Rasulullah bersabda: “Sungguh Allah takjub (atau tertawa) terhadap fulan dan fulanah”. Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:

“Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian” .

Di akhir hadits disebutkan: “Maka turunlah ayat (artinya):

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Q,.s. al-Hasyr :9).

Abu Thalhah tidak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan khabar gembira tersebut kepada istrinya sehingga sejuklah pandangan matanya karena Allah menurunkan ayat tentang mereka dalam al-Qur`an yang senantiasa dibaca.

Ummu Sulaim tidak hanya cukup menunaikan tugasnya untuk mendakwahkan Islam dengan penjelasan saja, bahkan beliau antusias untuk turut andil dalam berjihad bersama pahlawan kaum muslimin. Tatkala perang Hunain tampak sekali sikap kepahlawanannya dalam memompa semangat pada dada mujahidin dan mengobati mereka yang luka. Bahkan beliau juga mempersiapkan diri untuk melawan dan menghadapi musuh yang akan menyerangnya. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam shahihnya dan Ibnu Sa`ad di dalam Thabaqat dengan sanad yang shahih bahwa Ummu Sulaim membawa badik (pisau) pada perang Hunain kemudian Abu Thalhah berkata: “Wahai Rasulullah! ini Ummu Sulaim berkata: “Wahai Rasulullah apabila ada orang musyrik yang mendekatiku maka akan robek perutnya dengan badik ini”.

Anas berkata: “Rasulullah berperang bersama Ummu Sulaim dan para Wanita dari kalangan Anshar, apabila berperang, para wanita tersebut memberikan minum kepada mujahidin dan mengobati yang luka”.

Begitulah Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah, beliau tidak pernah masuk rumah selain rumah Ummu Sulaim bahkan Rasulullah telah memberi khabar gembira bahwa beliau termasuk ahli surga. Beliau bersabda :

“Aku masuk ke surga, tiba-tiba mendengar sebuah suara, maka aku bertanya: “Siapa itu?”. Mereka berkata: “Dia adalah Rumaisha` binti Malhan ibu dari Anas bin Malik”.

Selamat untukmu wahai Ummu Sulaim, karena anda memang sudah layak mendapatkan itu semua, engkau adalah seorang istri shalihah yang suka menasehati, seorang da`iyah yang bijaksana, seorang pendidik yang sadar sehingga memasukkan anaknya ke dalam madrasah nubuwwah tatkala berumur sepuluh tahun yang pada gilirannya beliau menjadi seorang ulama diantara ulama Islam, selamat untukmu…..selamat untukmu…

South_Africa-Ladysmith-Sufi_Mosque-01_zpswauomrvd.jpg
 
steri-isteri Nabi Muhammad S.A.W

Isteri-isteri Nabi Muhammad S.A.W ialah wanita-wanita mula yang telah berkahwin dengan Nabi Muhammad S.A.W. Baginda pernah berkahwin dengan 13 orang wanita. Sebelas daripadanya pernah bersama dengan Baginda sebagai suami isteri, manakala dua daripadanya diceraikan sebelum mereka bersama. Isteri-isteri baginda dikenali sebagai "Ummahatul Mukminin" yang bermaksud "Ibu-ibu kepada orang-orang beriman". Gelaran ini datang dari firman Allah di dalam al-Quran:

"Nabi itu lebih menolong dan lebih menjaga kebaikan orang-orang yang beriman daripada diri mereka sendiri; dan isteri-isterinya adalah menjadi ibu mereka..."
—Surah Al-Ahzab, petikan ayat ke-6

Khadijah binti Khuwailid al-Asadiyah r.a

Rencana utama: Khadijah binti Khuwailid

Khadijah binti Khuwailid adalah isteri Nabi Muhammad S.A.W yang pertama. Sebelum berkahwin dengan baginda, beliau pernah menjadi isteri kepada Atiq bin Abid dan Abi Halah bin Malik dan telah mempunyai empat anak, dua dengan suaminya yang bernama Atiq, iaitu Abdullah dan Jariyah, dan dua dengan suaminya Abu Halah iaitu Hindun dan Zainab.

Banyak kisah memaparkan bahawa sewaktu Nabi Muhammad S.A.W bernikah dengan Khadijah, umur Khadijah berusia 40 tahun sedangkan baginda S.A.W hanya berumur 25 tahun. Tetapi menurut Ibnu Kathir, seorang tokoh dalam bidang tafsir, hadis dan sejarah, mereka berkahwin dalam usia yang sebaya. Nabi Muhammad S.A.W bersama dengannya sebagai suami isteri selama 25 tahun iaitu 15 tahun sebelum bithah dan 10 tahun selepasnya iaitu sehingga wafatnya Khadijah, kira-kira 3 tahun sebelum hijrah. Khadijah wafat semasa beliau berusia 50 tahun. Beliau merupakan isteri Nabi Muhammad S.A.W yang tidak pernah dimadukan kerana kesemua isterinya yang dimadukan adalah berlaku selepas daripada wafatnya Khadijah. Di samping itu, kesemua anak baginda kecuali Ibrahim adalah kandungannya.

Mas kahwin daripada Nabi Muhammad S.A.W sebanyak 20 bakrah dan upacara perkahwinan diadakan oleh ayahnya Khuwailid. Riwayat lain menyatakan, upacara itu dilakukan oleh saudaranya Amr bin Khuwailid.
Anak-anak Rasulullah bersama Khadijah

Al-Qasim bin Muhammad
Abdullah bin Muhammad
Zainab binti Muhammad
Ruqaiyah binti Muhammad
Ummu Kalthum binti Muhammad
Fatimah binti Muhammad

Kesemua anak lelaki Rasulullah telah meninggal dunia sejak kecil lagi.
Saudah binti Zam'ah al-Amiriyah al Quraisiyah r.a

Rencana utama: Saudah binti Zam'ah

Nabi Muhammad S.A.W berkahwin dengan Saudah setelah wafatnya Khadijah 3 tahun. Saudah adalah seorang janda tua. Suami pertamanya ialah al-Sakran bin 'Amr. Saudah dan suaminya al-Sakran adalah di antara mereka yang pernah berhijrah ke Habsyah. Apabila suaminya meninggal dunia setelah pulang dari Habsyah,[1] maka Nabi Muhammad S.A.W telah mengambilnya menjadi isteri untuk memberi perlindungan kepadanya dan memberi penilaian yang tinggi kepada suaminya.

Acara perkahwinan dilakukan oleh Salit bin Amr. Riwayat lain menyatakan upacara dilakukan oleh Abu Hatib bin Amr. Mas kahwinnya ialah 400 dirham.Selain itu,beliau mempunyai sikap yang lucu sehingga baginda tersenyum dengan telatahnya. Contohnya pada suatu hari, Saudah mengatakan kepada suaminya iaitu semasa beliau sedang sujud,beliau tidak dapat menahan sakit kerana hidungnya selalu tertekan kuat di atas lantai yang ketika itu Rasulullah sedang sujud dengan begitu lama. Hal ini menyebabkan beliau terpaksa menaikkan sedikit hidungnya semasa sujud.
Aisyah binti Abu Bakar

Rencana utama: Aisyah Abu Bakar

Pernikahan di antara Nabi Muhammad S.A.W dan Aisyah diadakan di Makkah sebelum Hijrah, tetapi penikahan tersebut berlaku setelah wafatnya Khadijah dan setelah Nabi Muhammad S.A.W berkahwin dengan Saudah. Ketika itu, Aisyah berumur 7 tahun (namun ulama berselisihan pendapat mengenainya). Rasulullah tidak bersama dengannya sebagai suami isteri melainkan setelah berhijrah ke Madinah. Ketika itu, Aisyah berumur 9 tahun sementara Nabi Muhammad S.A.W berumur 53 tahun.

Aisyah merupakan isteri yang paling muda yang dinikahi baginda dan mempunyai banyak periwatan Hadith.
Hafsah binti Umar bin al-Khattab r.a

Rencana utama: Hafsah binti Umar

Hafsah merupakan puteri kepada Umar Al-Khattab dan ibunya Zainab. Apabila mendapat berita tentang kelahiran puteri beliau, Umar Al-Khattab merasa malu kerana mengikut Arab jahiliah sesiapa yang dapat anak perempuan maka akan menyebabkan hidup malang atau dikategorikan sebagai pembawa ****. Selepas peristiwa itu, Umar Al-Khattab lari ke Darul Nadwah kerana itu. Setelah beberapa tahun, ayahnya telah memeluk Islam dan mengucap dua kalimah syahadah di hadapan Rasulullah saw.

Hafsah mempunyai seorang suami tetapi suaminya wafat kerana terkorban di medan perang. Apabila mendapat berita mengenainya, Rasulullah saw mengambilnya sebagai isterinya atas membalas jasa suaminya yang membantu baginda. Ketika peristiwa pembunuhan ayahandanya, Hafsah berasa sedih atas pemergian ayahandanya yang tersayang. Hal ini menyebabkan beliau gemar mengurung diri di dalam rumah sambil bertaqarrub kepada Allah SWT.
Ummu Salamah Hindun binti Abi Umaiyah r.a

Rencana utama: Hindun binti Abi Umaiyah

Ummu Salamah seorang janda tua mempunyai 4 anak dengan suami pertama yang bernama Abdullah bin Abd al-Asad. Suaminya terkorban dalam Perang Uhud dan saudara sepupunya turut terkorban dalam perang itu lalu Nabi Muhammad S.A.W melamarnya. Mulanya lamaran ditolak kerana menyedari usia tuanya. Alasan umur turut digunakannya ketika menolak lamaran Abu Bakar dan Umar al Khattab.

Lamaran kali kedua baginda diterimanya dengan mas kahwin sebuah tilam, mangkuk dari sebuah pengisar tepung.
Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan r.a

Rencana utama: Ramlah binti Abi Sufyan

Ummu Habibah seorang janda. Suami pertamanya Ubaidullah bin Jahsyin al-Asadiy. Ummu Habibah dan suaminya Ubaidullah pernah berhijrah ke Habsyah. Ubaidullah meninggal dunia ketika di rantau dan Ummu Habibah yang berada di Habsyah kehilangan tempat bergantung.

Melalui Raja Najasyi, Nabi Muhammad S.A.W melamar Ummu Habibah dan upacara perkahwinan dilakukan oleh Khalid bin Said al-As dengan mas kahwin 400 dirham, dibayar oleh Najasyi bagi pihak Nabi.
Juwairiyah (Barrah) binti Harith

Rencana utama: Juwairiyah binti Harith

Ayah Juwairiyah ialah ketua puak Bani al-Mustaliq yang telah mengumpulkan bala tenteranya untuk memerangi Nabi Muhammad S.A.W dalam Perang al-Muraisi'. Bani al-Mustaliq telah tewas dan Barrah telah ditawan oleh Thabit bin Qais bin al-Syammas al-Ansariy. Thabit mahu beliau ditebus dengan 9 Uqiyah tetapi Barrah mengadu kepada nabi. Baginda sedia membayar tebusan tersebut dan seterusnya mengahwininya.
Safiyah binti Huyay

Rencana utama: Safiyah binti Huyay

Safiyah anak kepada Huyay, ketua puak Bani Quraizah iaitu dari keturunan Nabi Harun a.s. Dalam Perang Khaibar, suaminya seorang Yahudi telah ditawan dan Safiyah telah ditawan. Dalam satu rundingan setelah dibebaskan, Safiyah telah memilih untuk menjadi isteri Nabi Muhammad S.A.W. Safiyyah meriwayatkan 10 hadis dan meninggal dunia dalam bulan Ramadhan tahun ke-50H (ada yang mengatakan 52H). Dia dikebumikan di al Baqi’.
Zainab binti Jahsyin

Rencana utama: Zainab binti Jahsyi

Zainab merupakan isteri kepada Zaid ibn Harithah, yang pernah menjadi hamba dan kemudian menjadi anak angkat Nabi Muhammad S.A.W setelah dia dimerdekakan.

Hubungan suami isteri antara Zainab dan Zaid tidak bahagia kerana Zainab dari keturunan mulia, tidak mudah patuh dan tidak setaraf dengan Zaid. Zaid telah menceraikannya walaupun telah dinasihati oleh Nabi Muhammad S.A.W.

Upacara perkahwinan dilakukan oleh al-Abbas bin Abdul Mutalib dengan mas kahwin 400 dirham, dibayar bagi pihak Nabi Muhammad S.A.W.
Umrah bt. Yazid al-Kilabiyah

Nabi Muhammad S.A.W berkahwin dengan Umrah ketika Umrah baru sahaja memeluk agama Islam. Umrah telah diceraikan dan dipulangkan kepada keluarganya.
Zainab binti Khuzaimah

Rencana utama: Zainab binti Khuzaimah

Zainab binti Khuzaimah meninggal dunia sewaktu Nabi Muhammad S.A.W masih hidup.
Maria al-Qibtiyyah

Rencana utama: Maria al-Qibtiyyah

Maria al-Qibtiyyah, (Mariah si Qibti) merupakan salah seorang isteri kepada Nabi Muhammad S.A.W.

Anak Rasulullah ketika bersama dengan Mariyah Al-Qibtiyah bernama Ibrahim

Sunset-in-Indigo_zpsokhmig3d.jpg
 
Bahagia

Semua orang inginkan bahagia. Apa itu bahagia? Susah nak jawabkan. Ada setengah orang merasa bahagia bila mendapat ramai kawan. Jadi dia berusaha mencari kawan. Kalau tiada kawan di sisinya ,dia akan merasa kesunyian.

Ada setengah orang pula berpendapat bahagia tu bila ada duit dan harta. Oleh itu dia akan berusaha mencari duit. Siang dan malam mencari duit. Bila duit ada, dapatlah dia membeli banyak benda seperti kereta,pakaian,makanan,rumah dan lain lain lagi. Kalau duit dan harta tiada, dia akan merasa susah hati.

Sunrise-On-Flowers_zpsodtxhdek.jpg


menikmati pemandangan yang indah buatkan kita bahagia juga.tak gitu?
 
Last edited:
Sabar

Salah satu kunci kebahagiaan ialah kesabaran. Untuk memiliki hati yang sabar adalah amat sukar. Hidup ini penuh cabaran dan dugaan. Kita kena hadapi semua tu. Bagaimana kita harungi masalah tu , jika kita tidak sabar. Kesabaran amat penting dalam meneruskan kerja-kerja kebaikan. Kalau kita mudah berputus asa, kita tidak akan mendapat kebaikannya malah kita akan mendapat kerugian.


Banyak rintangan dalam hidup ini seperti kesakitan,kegagalan dan lain-lain kesempitan hidup. Oleh itu kita kenalah banyak bersabar dan semuanya adalah ujian dan cubaan. Semuanya akan menjadikan kita lebih matang dan cekal untuk hadapinya di masa depan. Semoga kita dapat mendidik hati kita menjadi sabar.

sunrise0610_zpsvkrjiko7.jpg


banyakkan bersabar..sabar itu separuh dari iman
 
Syukur

Alam ini dijadikan berpasang-pasang seperti panas bersama sejuk,siang bersama malam dan lain-lain. Begitu juga kehidupan ini, ada masanya kita susah dan ada masanya kita merasa senang. Sekiranya tibanya susah kita kena banyakkan sabar sementara ketika menjelma kesenangan kita hendaklah bersyukur. Sabar dan syukur umpama sepasang sayap si helang. Sekiranya salah satu sayapnya patah, sudah tentu ianya tidak mampu terbang dengan baik.

Bersyukur lah apa yang kita miliki seperti kesihatan,kepandaian,kekayaan dan lain-lain. Semuanya hanya bersifat sementara di mana bila-bila masa ianya akan hilang. Sekiranya kita tidak bersyukur kita akan mudah menjadi tamak dan lupa diri serta hanya membanggakan diri. Sedangkan semua yang kita ada adalah pinjaman dan ujian bagi kita samada kita bersyukur atau pun tidak.

Sunrise-Beach-Tropical_zpsvp1kpksb.jpg


semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang bersyukur
 
Ikhlas

Dalam diri insan ada seketul daging. Ianya bernama hati, dimana hati itulah merupakan raja. Kalau ianya jahat maka semua dalam diri akan menjadi jahat dan kalau hati tu baik maka seluruh diri menjadi baik. Jadi hati tu kenalah di bersihkan dari keburukan. Antara perkara perlu disemai dalam hati adalah seperti sabar,syukur dan ikhlas.

Kita hendaklah ikhlas dalam melakukan sebarang perkara. Ikhlas bermaksud melakukan kerja dengan penuh amanah dan tanggungjawab. Kalau kita tidak ikhlas maka ianya adalah sia-sia. Jangan mengharapkan sebarang pujian dan sanjungan dari orang.

Sunrise%20landscape%20render%20retouches_zps6xpszlsp.png


ikhlaskan diri
 
Back
Top
Log in Register