wanzex
CG Top Poster Club

- Messages
- 35,552
- Joined
- Jul 12, 2006
- Messages
- 35,552
- Reaction score
- 1,107
- Points
- 191
Berita tentang tenggelam dan selamatnya badan Fir’aun
Dalam Al-Qur’an ditemukan sekitar 30 kali Allah SWT menguraikan kisah Musa dan Fir’aun, suatu kisah yang tidak dikenal masyarakat ketika itu, kecuali melalui Kitab Perjanjian Lama. Tapi satu hal yang mencengangkan adalah Al-Qur’an telah mengungkap suatu perincian yang sama sekali tidak diungkap oleh satu kitab pun sebelumnya, bahkan tidak diketahui kecuali yang hidup pada masa terjadinya peristiwa tersebut, yaitu pada abad kedua belas SM atau sekitar 3.200 tahun yang lalu.
Mari kita lihat sekelumit kisah Fir’aun yang diungkap oleh Al-Qur’an :
Ertinya :
Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir`aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir`aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. 091. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. 092. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (QS. Yunus [10] : 90-92)
Yang perlu digarisbawahi dalam konteks pembicaraan ini adalah firman-Nya yang berbunyi: “Hari ini kami selamatkan badanmu, agar engkau menjadi pelajaran bagi generasi yang datang sesudahmu.”
Memang orang mengetahui bahwa Fir’aun tenggelam di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa dan kaumnya, dimana bukti akan hal ini diberikan lebih lanjut oleh seorang arkeolog bernama Ron Wyatt pada akhir tahun 1988 silam yang mengklaim bahwa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno di dasar Laut Merah yang digunakan Firaun dan bala tentaranya sewaktu mengejar Nabi Musa, tetapi menyangkut keselamatan badannya dan dapat menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya merupakan satu hal yang tidak diketahui siapapun pada masa Nabi Muhammad bahkan tidak disinggung oleh Perjanjian Lama dan Baru.
Sekali lagi pada masa turunnya Al-Qur’an 14 abad yang lalu, tidak seorang pun yang mengetahui dimana sebenarnya penguasa yang tenggelam itu berada, dan bagaimana pula kesudahan yang dialaminya. Namun pada 1898, purbakalawan Loret, menemukan jenazah tokoh tersebut dalam bentuk mumi di Wadi Al-Muluk (Lembah Para Raja) berada di daerah Thaba, Luxor, di seberang Sungai Nil, Mesir. Kemudian 8 Juli 1907, Elliot Smith membuka pembalut-pembalut mumi itu dan ternyata badan Fir’aun tersebut masih dalam keadaan utuh. Kepala dan lehernya terbuka, bagian-bagian badannya masih tertutup dengan kain dan kesemuanya diletakkan dalam satu peti berkaca yang memungkinkan para pengunjung Museum Mesir melihatnya dengan jelas. Sayang, pada sekitar tahun 1985, pemerintah Mesir menutup kamar tempat penyimpanan mumi itu untuk umum, karena rupanya pengaruh udara dari luar dan polusi yang disebabkan oleh mikro organisme telah mempengaruhi keadaan mumi itu.
Dalam Al-Qur’an ditemukan sekitar 30 kali Allah SWT menguraikan kisah Musa dan Fir’aun, suatu kisah yang tidak dikenal masyarakat ketika itu, kecuali melalui Kitab Perjanjian Lama. Tapi satu hal yang mencengangkan adalah Al-Qur’an telah mengungkap suatu perincian yang sama sekali tidak diungkap oleh satu kitab pun sebelumnya, bahkan tidak diketahui kecuali yang hidup pada masa terjadinya peristiwa tersebut, yaitu pada abad kedua belas SM atau sekitar 3.200 tahun yang lalu.
Mari kita lihat sekelumit kisah Fir’aun yang diungkap oleh Al-Qur’an :
Ertinya :
Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir`aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir`aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. 091. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. 092. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (QS. Yunus [10] : 90-92)
Yang perlu digarisbawahi dalam konteks pembicaraan ini adalah firman-Nya yang berbunyi: “Hari ini kami selamatkan badanmu, agar engkau menjadi pelajaran bagi generasi yang datang sesudahmu.”
Memang orang mengetahui bahwa Fir’aun tenggelam di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa dan kaumnya, dimana bukti akan hal ini diberikan lebih lanjut oleh seorang arkeolog bernama Ron Wyatt pada akhir tahun 1988 silam yang mengklaim bahwa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno di dasar Laut Merah yang digunakan Firaun dan bala tentaranya sewaktu mengejar Nabi Musa, tetapi menyangkut keselamatan badannya dan dapat menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya merupakan satu hal yang tidak diketahui siapapun pada masa Nabi Muhammad bahkan tidak disinggung oleh Perjanjian Lama dan Baru.
Sekali lagi pada masa turunnya Al-Qur’an 14 abad yang lalu, tidak seorang pun yang mengetahui dimana sebenarnya penguasa yang tenggelam itu berada, dan bagaimana pula kesudahan yang dialaminya. Namun pada 1898, purbakalawan Loret, menemukan jenazah tokoh tersebut dalam bentuk mumi di Wadi Al-Muluk (Lembah Para Raja) berada di daerah Thaba, Luxor, di seberang Sungai Nil, Mesir. Kemudian 8 Juli 1907, Elliot Smith membuka pembalut-pembalut mumi itu dan ternyata badan Fir’aun tersebut masih dalam keadaan utuh. Kepala dan lehernya terbuka, bagian-bagian badannya masih tertutup dengan kain dan kesemuanya diletakkan dalam satu peti berkaca yang memungkinkan para pengunjung Museum Mesir melihatnya dengan jelas. Sayang, pada sekitar tahun 1985, pemerintah Mesir menutup kamar tempat penyimpanan mumi itu untuk umum, karena rupanya pengaruh udara dari luar dan polusi yang disebabkan oleh mikro organisme telah mempengaruhi keadaan mumi itu.