akudotcom
CG Hardcore Club


- Messages
- 61,479
- Joined
- Jun 17, 2007
- Messages
- 61,479
- Reaction score
- 7,005
- Points
- 881
Urutan kisah iblis enggan sujud pd Adam
********************************************
Urutan kisah yang diceritakan dalam ayat tersebut awalnya para malaikat dan juga iblis diperintah oleh Allah untuk bersujud (tunduk) kepada Nabi Adam, semua bersujud kecuali iblis.Sejak itulah iblis menjadi makhluk yang hina dan terusir dari surga. Setelah iblis dikeluarkan, Nabi Adam dan istrinya diijinkan oleh Allah untuk makan apa saja yang mereka kehendaki, tapi ada satu larangan bagi keduanya yaitu mendekati pohon terlarang, yang disebut dalam al qur’an“syajarah”
Kemudian iblis yang sudah berada di luar surga itu membisikkan fikiran jahat kepada keduanya. Pada ayat berikutnya iblis dinyatakan dengan kata setan. Itu berarti bahwa iblis adalah setan, dan setan itu adalah jin. Setan itu mengalir mengikuti aliran darah manusia, berarti ia bukan di luar diri manusia tetapi ada di dalam diri manusia. Jin inilah yang boleh berubah menjadi setan ketika ia berperilaku jahat dan membangkang perintah Allah Swt. sebagaimana pembangkangan yang dilakukan oleh Iblis atas perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam a.s. Dan Iblis ini sesungguhnya adalah setan, sehingga dalam beberapa ayat menunjukkan bahwa Iblis disebut pula dengan setan. Ketika setan menolak untuk sujud kepada Adam, ia menjelaskan alasannya sebagaimana yang disebutkan dalam QS.al-A`raf: 12, yang bermaksud:
“(Allah) berfrman, “Apakah yang menghalangimu sehingga kamu tidak bersujud (kepada Adam)ketika Aku menyuruhmu?
”Iblis menjawab, “Aku lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah.”
Maksudnya Iblis ingin mengatakan, “Aku yang lebih berhak atas sujudnya Adam kepadaku, tapi mengapa perlu aku yang harus sujud kepadanya?, padahal asal penciptaannya lebih rendah dariku.”Setan (Iblis) menyombongkan diri dengan asal penciptaannya.Ia menggunakan analogi yang salah yang bertentangan dengan nash yang jelas dari Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
Sementara Ibnu al-Qayyim mengungkapkan pendapatnya sebagai berikut:
>Sifat api adalah merusak dan menghancurkan apa saja yang mengenainya, berbeza dengan tanah.
>Sifat api ringan, panas dan kacau, sedangkan sifat tanah tetap dan tenang. Tanah mengandung rezeki dan makanan bagi mahluk hidup, sedangkan api tidak .
>Tanah dan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya sangat diperlukan oleh haiwan dan tumbuh-tumbuhan, sedangkan api tidak diperlukan secara langsung olehnya.
>Jika benih tumbuhan diletakkan di tanah, maka tanah itu akan mengeluarkan hasil yang berlipat ganda dari benih tumbuhan tersebut. Sedangkan api, jika sesuatu diletakkan di atasnya, maka tidak akan ada lagi yang tersisa (hangus).
>Api tidak boleh berdiri sendiri, tetapi memerlukan tempat dimana api tersebut menyala. Sedangkan tanah tidak memerlukan tempat. Api memerlukan tanah, sedangkan tanah tidak memerlukakan api kerana api memerlukan tempat yang ada di atas tanah.
>Material penciptaan Iblis adalah dari nyala api, sesuatu yang lemah dan mudah dipermainkan oleh angin. Material penciptaan manusia adalah tanah, sesuatu yang kuat dan tidak mudah dipermainkan oleh angin.
>Allah menyebutkan di dalam al-Qur’an berbagai manfaat tanah dan mendorong kepada manusia untuk memikirkannya dan merenungkan ayat-ayat dan keajaiban yang ada di dalamnya. Namun untuk api, Allah tidak menyebutkannya melainkan dalam konteks ancaman dan siksa, kecuali hanya di beberapa ayat saja.
>Dalam banyak ayat, Allah menyebutkan bahwa tanah mengandung banyak keberkatan, berbeza dengan api yang tidak disebutkan keberkatannya.
>Tanah adalah tempat rumah-rumah ibadah untuk menyebut nama Allah, seandainya hanya ada baitullāh (Masjid al-Harām) di muka bumi ini, maka itu sudah cukup sebagai kehormatan bagi tanah.
> Jika tanah memerlukan api, tanah akan memanggilnya. Jika tidak maka tanah akan meninggalkannya .
>Bumi terdiri dari dua unsur. Pertama, air yang diciptakan Allah sebagai sumber kehidupan bagi mahluk hidup. Kedua, tanah yang diciptakan Allah sebagai tempat penyimpanan berbagai manfaat dan kenikmatan.
>Kemudian seandainya kita menerima andaian yang salah dari Iblis yang mengaku bahwa api itu lebih baik dari tanah, tidak berarti apa yang diciptakan dari api itu lebih baik dari yang diciptakan dari tanah. Sebab penilaian itu terletak pada kesempurnaan akhir penciptaan, bukan terletak kepada sifatnya yang kurang sempurna, sebagaimana Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik, walaupun berasal dari tanah yang hina dan kotor.
Cerita perdebatan antara iblis dan manusia itu sesungguhnya hanya sebagai gambaran metafora terhadap keunikan manusia yang diciptakan oleh Allah.Manusia disamping unsur penciptaannya adalah tanah juga ada entiti yang bersemayam dalam diri manusia. Yakni, sebuah entiti yang melahirkan energi atau kekuatan negatif yang berusaha menundukkan manusia untuk memperturutkan hawa nafsunya yang disebut dengan jin, dan entiti ini yang melahirkan energi atau kekuatan positif yang terus menerus mendorong manusia untuk tetap berada di dalam jalan yang diredhai oleh Allah yang disebut dengan malaikat.
Kemudian dalam bahasa Rasulullah keduanya disebut sebagai qarin. Jadi yang dimaksud dengan jin yang berarti setan bukanlah jin mahluk halus yang berada di luar diri manusia, tetapi ia adalah entiti yang ada dalam diri manusia
********************************************
Urutan kisah yang diceritakan dalam ayat tersebut awalnya para malaikat dan juga iblis diperintah oleh Allah untuk bersujud (tunduk) kepada Nabi Adam, semua bersujud kecuali iblis.Sejak itulah iblis menjadi makhluk yang hina dan terusir dari surga. Setelah iblis dikeluarkan, Nabi Adam dan istrinya diijinkan oleh Allah untuk makan apa saja yang mereka kehendaki, tapi ada satu larangan bagi keduanya yaitu mendekati pohon terlarang, yang disebut dalam al qur’an“syajarah”
Kemudian iblis yang sudah berada di luar surga itu membisikkan fikiran jahat kepada keduanya. Pada ayat berikutnya iblis dinyatakan dengan kata setan. Itu berarti bahwa iblis adalah setan, dan setan itu adalah jin. Setan itu mengalir mengikuti aliran darah manusia, berarti ia bukan di luar diri manusia tetapi ada di dalam diri manusia. Jin inilah yang boleh berubah menjadi setan ketika ia berperilaku jahat dan membangkang perintah Allah Swt. sebagaimana pembangkangan yang dilakukan oleh Iblis atas perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam a.s. Dan Iblis ini sesungguhnya adalah setan, sehingga dalam beberapa ayat menunjukkan bahwa Iblis disebut pula dengan setan. Ketika setan menolak untuk sujud kepada Adam, ia menjelaskan alasannya sebagaimana yang disebutkan dalam QS.al-A`raf: 12, yang bermaksud:
“(Allah) berfrman, “Apakah yang menghalangimu sehingga kamu tidak bersujud (kepada Adam)ketika Aku menyuruhmu?
”Iblis menjawab, “Aku lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah.”
Maksudnya Iblis ingin mengatakan, “Aku yang lebih berhak atas sujudnya Adam kepadaku, tapi mengapa perlu aku yang harus sujud kepadanya?, padahal asal penciptaannya lebih rendah dariku.”Setan (Iblis) menyombongkan diri dengan asal penciptaannya.Ia menggunakan analogi yang salah yang bertentangan dengan nash yang jelas dari Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
Sementara Ibnu al-Qayyim mengungkapkan pendapatnya sebagai berikut:
>Sifat api adalah merusak dan menghancurkan apa saja yang mengenainya, berbeza dengan tanah.
>Sifat api ringan, panas dan kacau, sedangkan sifat tanah tetap dan tenang. Tanah mengandung rezeki dan makanan bagi mahluk hidup, sedangkan api tidak .
>Tanah dan segala sesuatu yang terkandung di dalamnya sangat diperlukan oleh haiwan dan tumbuh-tumbuhan, sedangkan api tidak diperlukan secara langsung olehnya.
>Jika benih tumbuhan diletakkan di tanah, maka tanah itu akan mengeluarkan hasil yang berlipat ganda dari benih tumbuhan tersebut. Sedangkan api, jika sesuatu diletakkan di atasnya, maka tidak akan ada lagi yang tersisa (hangus).
>Api tidak boleh berdiri sendiri, tetapi memerlukan tempat dimana api tersebut menyala. Sedangkan tanah tidak memerlukan tempat. Api memerlukan tanah, sedangkan tanah tidak memerlukakan api kerana api memerlukan tempat yang ada di atas tanah.
>Material penciptaan Iblis adalah dari nyala api, sesuatu yang lemah dan mudah dipermainkan oleh angin. Material penciptaan manusia adalah tanah, sesuatu yang kuat dan tidak mudah dipermainkan oleh angin.
>Allah menyebutkan di dalam al-Qur’an berbagai manfaat tanah dan mendorong kepada manusia untuk memikirkannya dan merenungkan ayat-ayat dan keajaiban yang ada di dalamnya. Namun untuk api, Allah tidak menyebutkannya melainkan dalam konteks ancaman dan siksa, kecuali hanya di beberapa ayat saja.
>Dalam banyak ayat, Allah menyebutkan bahwa tanah mengandung banyak keberkatan, berbeza dengan api yang tidak disebutkan keberkatannya.
>Tanah adalah tempat rumah-rumah ibadah untuk menyebut nama Allah, seandainya hanya ada baitullāh (Masjid al-Harām) di muka bumi ini, maka itu sudah cukup sebagai kehormatan bagi tanah.
> Jika tanah memerlukan api, tanah akan memanggilnya. Jika tidak maka tanah akan meninggalkannya .
>Bumi terdiri dari dua unsur. Pertama, air yang diciptakan Allah sebagai sumber kehidupan bagi mahluk hidup. Kedua, tanah yang diciptakan Allah sebagai tempat penyimpanan berbagai manfaat dan kenikmatan.
>Kemudian seandainya kita menerima andaian yang salah dari Iblis yang mengaku bahwa api itu lebih baik dari tanah, tidak berarti apa yang diciptakan dari api itu lebih baik dari yang diciptakan dari tanah. Sebab penilaian itu terletak pada kesempurnaan akhir penciptaan, bukan terletak kepada sifatnya yang kurang sempurna, sebagaimana Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik, walaupun berasal dari tanah yang hina dan kotor.
Cerita perdebatan antara iblis dan manusia itu sesungguhnya hanya sebagai gambaran metafora terhadap keunikan manusia yang diciptakan oleh Allah.Manusia disamping unsur penciptaannya adalah tanah juga ada entiti yang bersemayam dalam diri manusia. Yakni, sebuah entiti yang melahirkan energi atau kekuatan negatif yang berusaha menundukkan manusia untuk memperturutkan hawa nafsunya yang disebut dengan jin, dan entiti ini yang melahirkan energi atau kekuatan positif yang terus menerus mendorong manusia untuk tetap berada di dalam jalan yang diredhai oleh Allah yang disebut dengan malaikat.
Kemudian dalam bahasa Rasulullah keduanya disebut sebagai qarin. Jadi yang dimaksud dengan jin yang berarti setan bukanlah jin mahluk halus yang berada di luar diri manusia, tetapi ia adalah entiti yang ada dalam diri manusia