BTC USD 80,867.1 Gold USD 3,995.86
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Ajaran islam vs ajaran melayu

Bagaimana klo kenduri tahlil tu kita termakan harta anak yatim?
tidakkah berdosa kita.

Soalan sy mkn harta anak yatim yg berdosa atau majlis tahlil tuh yg berdosa???...

Fikir elok2 sblm jwb...

Sama gak org solat dgn songkok curi, adakah dia berdosa krn solat atau dia berdosa krn mencuri???...

Fikir elok2 gak sblm menjwb..
 
bab tahlil tu bende baik? maaf tuan, amalan agama yang xde contoh dari nabi n para sahabat semua dinamakan bid'ah.

ni penjelasan hadith ..

عَنْ أُمِّ المُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم [ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]
Dari Ibunda kaum mukminin, Ummu Abdillah Aisyah –semoga Allah meridhainya- beliau berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak (H.R alBukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim: Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak.

PENJELASAN :

Hadits ini adalah patokan lahiriah untuk menentukan sah atau tidaknya suatu amalan. Jika suatu amalan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, maka tertolak. Meski pelakunya mengamalkan dengan ikhlas hanya karena Allah. Karena itu, syarat diterimanya amalan ada 2 :

Ikhlas karena Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits pertama yang lalu.
Mengikuti tuntunan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam
Perbuatan yang diada-adakan dalam Dienul Islam, yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam disebut dengan bid’ah.





DEFINISI BID’AH

Bid’ah secara bahasa artinya adalah sesuatu yang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya. Dalam alQur’an ada penyebutan lafadz bid’ah secara bahasa tersebut, di antaranya:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Allahlah yang mengadakan langit dan bumi (tanpa contoh sebelumnya)(Q.S alBaqoroh:117).

Makna bid’ah secara istilah adalah :

Jalan yang ditempuh dalam Dien, yang diada-adakan, menandingi syariat, yang niat melaksanakannya adalah sebagaimana niat seseorang menjalankan syariat (al-I’tishom karya al-Imam asy-Syathiby).



PENJELASAN DEFINISI BID’AH

Beberapa karakteristik sesuatu hal dikatakan sebagai bid’ah :

1) Telah menjadi sebuah ‘jalan’.

Bukan sesuatu hal yang sekedar ‘pernah’ dilakukan, tapi berulang-ulang dan menjadi kebiasaan, sehingga menjadi ‘jalan’.

2) Dalam urusan Dien (bukan duniawi).

Dalam urusan duniawi dipersilahkan berinovasi seluas-luasnya selama tidak ada larangan dari alQur’an maupun Sunnah Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam.

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
Kalian lebih tahu tentang urusan duniawi kalian (H.R Muslim)

3) Diada-adakan, tidak ada dalilnya.

Tidak ada dalil shahih yang menjadi landasannya. Jika ada dalil, bisa berupa hadits lemah atau hadits palsu, atau ayat yang ditafsirkan tidak pada tempatnya.

4) Menandingi syariat

Tidaklah seseorang melakukan sesuatu bid’ah kecuali Sunnah yang semisalnya akan mati.

Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا أَحْدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلَّا رُفِعَ مِثْلُهَا مِنَ السُّنَّةِ
Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah, kecuali akan terangkat Sunnah yang semisal dengannya (H.R Ahmad dari Ghudhaif bin al-Haarits, dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (baik) dalam Fathul Baari (13/253))

Contoh: bacaan-bacaan setelah selesai sholat fardlu banyak disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih. Namun, ada seseorang yang karena merasa mendapatkan ijazah bacaan dari gurunya (meski tidak ada dalilnya dari hadits Nabi), selalu mengulang-ulang bacaan yang diajarkan tersebut setelah selesai sholat. Misalkan, membaca Laa Ilaaha Illallaah 333 kali, disertai keyakinan keutamaan-keutamaannya (memperlancar rezeki, kewibawaan, dsb). Akibatnya, ia akan tersibukkan dengan amalan dari gurunya tersebut dan meninggalkan Sunnah Nabi yang sebenarnya.

5) Niat melakukannya adalah sebagaimana orang berniat dalam melakukan syariat (untuk mendekatkan diri kepada Allah).

Penjelasan ini disarikan dari Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalusy Syaikh ketika mensyarh hadits ini (Syarh al-Arbain anNawawiyyah)





SEMUA BID’AH ADALAH SESAT

Semua bid’ah -secara istilah- sebagaimana definisi di atas adalah sesat.

Sabda Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثاَتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Dan berhati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan karena setiap bid’ah adalah sesat (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah)

Dalam hadits Jabir dinyatakan bahwa Nabi selalu mengulang-ulang ucapan semacam itu pada permulaan-permulaan khutbah beliau baik pada saat Khutbah Jumat atau di waktu lain



Ucapan para Sahabat Nabi:

Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridlainya- berkata:

اَ تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Ikutilah (Sunnah Nabi) janganlah melakukan bid’ah, karena sesungguhnya kalian telah dicukupi, dan seluruh bid’ah adalah sesat (diriwayatkan oleh Abu Khoytsam dalam Kitabul Ilm dan Muhammad bin Nashr alMarwazy dalam as-Sunnah)

الْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ أَحْسَنُ مِنَ الْاِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
Sederhana di dalam Sunnah lebih baik dibandingkan bersungguh-sungguh di dalam bid’ah (riwayat al-Hakim).

(Maksudnya, sedikit amalan namun di atas Sunnah (sesuai bimbingan Nabi) lebih baik dibandingkan banyak beramal dan bersungguh-sungguh, namun di atas kebid’ahan)

Ibnu Umar –semoga Allah meridlainya- berkata:

كلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
Semua bid’ah adalah sesat sekalipun manusia memandangnya baik (diriwayatkan oleh alBaihaqy dalam al-Madkhal dan Muhammad bin Nashr alMarwazy dalam as-Sunnah)

Muadz bin Jabal –semoga Allah meridlainya- berkata:

فَإِياَّكُمْ وَمَا يُبْتَدَعُ فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلَالَة
Berhati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena perkara yang diada-adakan (dalam Dien) adalah sesat (Hilyatul Awliyaa’ (1/233)).

Ibnu Abbas –semoga Allah meridlainya-berkata:Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah dan istiqomah, ikutilah (Sunnah Nabi) jangan berbuat kebid’ahan (diriwayatkan oleh ad-Daarimi).

Hudzaifah bin al-Yaman –semoga Allah meridlainya- berkata:

كُلُّ عِبَادَةٍ لَمْ يَتَعَبَّدْ بِهَا أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فلاَ تَتَعَبَّدُوْا بِهَا ؛ فَإِنَّ الأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلآخِرِ مَقَالاً ؛ فَاتَّقُوا اللهَ يَا مَعْشَرَ القُرَّاءِ ، خُذُوْا طَرِيْقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
“Setiap ibadah yang tidak pernah diamalkan oleh para Sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, janganlah kalian beribadah dengannya. Karena generasi pertama tak menyisakan komentar bagi yang belakangan. Maka bertakwalah kalian kepada Allah wahai para pembaca al-Qur’an (orang-orang alim dan yang suka beribadah) dan ikutilah jalan orang-orang sebelummu” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibanah).

Maaf ye tuan, saya tak nak berdebat, saya cuma menyampaikan hadith berdasarkan penjelasan ulama.
wslm

Nice info tt.
Thanks
 
bab tahlil tu bende baik? maaf tuan, amalan agama yang xde contoh dari nabi n para sahabat semua dinamakan bid'ah.

ni penjelasan hadith ..

عَنْ أُمِّ المُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم [ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]
Dari Ibunda kaum mukminin, Ummu Abdillah Aisyah –semoga Allah meridhainya- beliau berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak (H.R alBukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim: Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak.

PENJELASAN :

Hadits ini adalah patokan lahiriah untuk menentukan sah atau tidaknya suatu amalan. Jika suatu amalan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, maka tertolak. Meski pelakunya mengamalkan dengan ikhlas hanya karena Allah. Karena itu, syarat diterimanya amalan ada 2 :

Ikhlas karena Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits pertama yang lalu.
Mengikuti tuntunan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam
Perbuatan yang diada-adakan dalam Dienul Islam, yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam disebut dengan bid’ah.





DEFINISI BID’AH

Bid’ah secara bahasa artinya adalah sesuatu yang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya. Dalam alQur’an ada penyebutan lafadz bid’ah secara bahasa tersebut, di antaranya:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Allahlah yang mengadakan langit dan bumi (tanpa contoh sebelumnya)(Q.S alBaqoroh:117).

Makna bid’ah secara istilah adalah :

Jalan yang ditempuh dalam Dien, yang diada-adakan, menandingi syariat, yang niat melaksanakannya adalah sebagaimana niat seseorang menjalankan syariat (al-I’tishom karya al-Imam asy-Syathiby).



PENJELASAN DEFINISI BID’AH

Beberapa karakteristik sesuatu hal dikatakan sebagai bid’ah :

1) Telah menjadi sebuah ‘jalan’.

Bukan sesuatu hal yang sekedar ‘pernah’ dilakukan, tapi berulang-ulang dan menjadi kebiasaan, sehingga menjadi ‘jalan’.

2) Dalam urusan Dien (bukan duniawi).

Dalam urusan duniawi dipersilahkan berinovasi seluas-luasnya selama tidak ada larangan dari alQur’an maupun Sunnah Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam.

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ
Kalian lebih tahu tentang urusan duniawi kalian (H.R Muslim)

3) Diada-adakan, tidak ada dalilnya.

Tidak ada dalil shahih yang menjadi landasannya. Jika ada dalil, bisa berupa hadits lemah atau hadits palsu, atau ayat yang ditafsirkan tidak pada tempatnya.

4) Menandingi syariat

Tidaklah seseorang melakukan sesuatu bid’ah kecuali Sunnah yang semisalnya akan mati.

Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا أَحْدَثَ قَوْمٌ بِدْعَةً إِلَّا رُفِعَ مِثْلُهَا مِنَ السُّنَّةِ
Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah, kecuali akan terangkat Sunnah yang semisal dengannya (H.R Ahmad dari Ghudhaif bin al-Haarits, dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (baik) dalam Fathul Baari (13/253))

Contoh: bacaan-bacaan setelah selesai sholat fardlu banyak disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih. Namun, ada seseorang yang karena merasa mendapatkan ijazah bacaan dari gurunya (meski tidak ada dalilnya dari hadits Nabi), selalu mengulang-ulang bacaan yang diajarkan tersebut setelah selesai sholat. Misalkan, membaca Laa Ilaaha Illallaah 333 kali, disertai keyakinan keutamaan-keutamaannya (memperlancar rezeki, kewibawaan, dsb). Akibatnya, ia akan tersibukkan dengan amalan dari gurunya tersebut dan meninggalkan Sunnah Nabi yang sebenarnya.

5) Niat melakukannya adalah sebagaimana orang berniat dalam melakukan syariat (untuk mendekatkan diri kepada Allah).

Penjelasan ini disarikan dari Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalusy Syaikh ketika mensyarh hadits ini (Syarh al-Arbain anNawawiyyah)





SEMUA BID’AH ADALAH SESAT

Semua bid’ah -secara istilah- sebagaimana definisi di atas adalah sesat.

Sabda Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثاَتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Dan berhati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan karena setiap bid’ah adalah sesat (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah)

Dalam hadits Jabir dinyatakan bahwa Nabi selalu mengulang-ulang ucapan semacam itu pada permulaan-permulaan khutbah beliau baik pada saat Khutbah Jumat atau di waktu lain



Ucapan para Sahabat Nabi:

Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridlainya- berkata:

اَ تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Ikutilah (Sunnah Nabi) janganlah melakukan bid’ah, karena sesungguhnya kalian telah dicukupi, dan seluruh bid’ah adalah sesat (diriwayatkan oleh Abu Khoytsam dalam Kitabul Ilm dan Muhammad bin Nashr alMarwazy dalam as-Sunnah)

الْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ أَحْسَنُ مِنَ الْاِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
Sederhana di dalam Sunnah lebih baik dibandingkan bersungguh-sungguh di dalam bid’ah (riwayat al-Hakim).

(Maksudnya, sedikit amalan namun di atas Sunnah (sesuai bimbingan Nabi) lebih baik dibandingkan banyak beramal dan bersungguh-sungguh, namun di atas kebid’ahan)

Ibnu Umar –semoga Allah meridlainya- berkata:

كلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
Semua bid’ah adalah sesat sekalipun manusia memandangnya baik (diriwayatkan oleh alBaihaqy dalam al-Madkhal dan Muhammad bin Nashr alMarwazy dalam as-Sunnah)

Muadz bin Jabal –semoga Allah meridlainya- berkata:

فَإِياَّكُمْ وَمَا يُبْتَدَعُ فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلَالَة
Berhati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena perkara yang diada-adakan (dalam Dien) adalah sesat (Hilyatul Awliyaa’ (1/233)).

Ibnu Abbas –semoga Allah meridlainya-berkata:Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah dan istiqomah, ikutilah (Sunnah Nabi) jangan berbuat kebid’ahan (diriwayatkan oleh ad-Daarimi).

Hudzaifah bin al-Yaman –semoga Allah meridlainya- berkata:

كُلُّ عِبَادَةٍ لَمْ يَتَعَبَّدْ بِهَا أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فلاَ تَتَعَبَّدُوْا بِهَا ؛ فَإِنَّ الأَوَّلَ لَمْ يَدَعْ لِلآخِرِ مَقَالاً ؛ فَاتَّقُوا اللهَ يَا مَعْشَرَ القُرَّاءِ ، خُذُوْا طَرِيْقَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
“Setiap ibadah yang tidak pernah diamalkan oleh para Sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, janganlah kalian beribadah dengannya. Karena generasi pertama tak menyisakan komentar bagi yang belakangan. Maka bertakwalah kalian kepada Allah wahai para pembaca al-Qur’an (orang-orang alim dan yang suka beribadah) dan ikutilah jalan orang-orang sebelummu” (Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibanah).

Maaf ye tuan, saya tak nak berdebat, saya cuma menyampaikan hadith berdasarkan penjelasan ulama.
wslm

Blh tlg berikan perbuatan apa shj ketika majlis tahlil tuh yg bid'ah sebenarnya menurut pandangan sdr...

Membaca Al-Quran?

Membaca tasbih, tahmid, takbir & tahlil?

Bersedekah?

Menjamu tetamu?

Mendoakan jenazah?

Menziarah saudara?

Menjlskan hutang jenazah atau menghalalkan hutang kpd jenazah?

Ada lg x? Sila tambah...

Tp sila berikan secara spesifik perbuatan mana satu yg sdr kater bid'ah...

Atau pon sdr nak kater menghimpunkan semua perbuatan nih dlm satu majlis menjdkan ia bid'ah???...

Cuber tlg jlskan dgn lbh spesifik & lbh mendlm...
 
Last edited:
pulak dah....berjela da thread ni nnt..panas..panas..
 
mahatma ghandi boleh baca apa yg sedang berlaku, pada masa dia. kita orang islam, patutnya lebih "bijak" lagi...
Satu ketika, Mahatma Gandhi berkata: "apabila negara India mahu bersatu menentang imperialisme British, tentera British menyembelih lembu dan melemparkannya di jalan raya dalam usaha untuk mencetuskan peperangan antara orang Islam dan Hindu, lalu membiarkan penjajahan berterusan dan imperialis British terus dengan perompakan mereka.
Once the late Mahatma Gandhi said:” whenever the Indian nation wanted to unite against the British imperialism, the British soldiers slaughtered a cow and threw it on the road in order to ignite wars between Muslims and Hindus, leaving the colonialism to take its course and British imperialists to continue their plunder.
 
Quran 8:46
Malay
Dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan; kalau tidak nescaya kamu menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan kamu, dan sabarlah (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati); sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Sahih International
And obey Allah and His Messenger, and do not dispute and [thus] lose courage and [then] your strength would depart; and be patient. Indeed, Allah is with the patient.
 
Persoalan Bid‘ah Dalam Masalah Ikhtilaf/Khilaf Perkara Furuk

Tarikh Keputusan : : 31 Mei 2016/24 Syaaban1437H

Setelah meneliti setiap pandangan ahli mesyuarat dan hujah-hujah yang dikemukakan, Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Negeri Sembilan Bil. 5/2016-1437H yang bersidang pada 31 Mei 2016 bersamaan 24 Syaaban1437H telah bersetuju memutuskan Sighah Fatwa Bagi Persoalan Bid‘ah Dalam Masalah Ikhtilaf/Khilaf Perkara Furuk seperti berikut:

1. Persoalan khilafiah adalah perkara ijtihadiyyah dan tidak boleh sama sekali dihukumkan bid‘ah kerana amalan tersebut telah diterima dan menjadi amalan ulama muktabar sejak dahulu.

2. Pandangan jumhur ulama sewajarnya menjadi ikutan masyarakat Islam dengan mengutamakan perkara asas dalam berdakwah dan tidak membesar-besarkan perkara khilafiyyah yang boleh menggugat perpaduan umat Islam.

3. Keputusan fatwa ini hendaklah diwartakan.

4. Antara amalan yang didakwa sebagai bid‘ah adalah :

1. Konsep penggunaan dan pengamalan Hadis Dhaif.
2. Membaca Yaasin pada malam Jumaat.
3. Membaca tahlil dan talqin untuk si mati.
4. Mengadakan kenduri arwah.
5. Menyambut hari-hari kebesaran Islam seperti Maulid al-Rasul, Israk Mikraj dan Maal Hijrah pada setiap tahun.
6. Membaca Yaasin 3 kali pada malam nisfu Syaaban.
7. Berdoa beramai-ramai selepas solat berjemaah.
8. Membaca wirid dan zikir secara kuat/nyaring beramai – ramai selepas solat fardhu.
9. Membaca “Basmallah” secara kuat / nyaring dalam solat fardhu.
10. Menyebut lafaz “Usalli” dalam niat solat.
11. Membaca qunut dalam solat subuh.
12. Bersalaman selepas solat berjemaah.
13. Solat sunat sebelum solat Maghrib.
14. Solat sunat sebelum Jumaat.
15. Fidyah solat.
16. Terbatal wuduk dengan sebab bersentuhan lelaki dengan perempuan yang harus dikahwini.
17. Bilangan rakaat bagi solat sunat tarawih selain 8 rakaat.
18. Menyapu muka selepas salam.
19. Akikah dengan binatang al-an‘am selain kambing.
20. Amalan bertawassul dan bertabarruk.
21. Berdoa dan membaca al-Quran di kubur.
22. Doa akhir tahun dan awal tahun.

Mesyuarat bersetuju untuk mewartakan fatwa ini.


Sumber: http://www.muftins.gov.my/index.php...h-dalam-masalah-ikhtilaf-khilaf-perkara-furuk
 
Back
Top
Log in Register