kasturi
Legendary Member

- Messages
- 13,525
- Joined
- Jul 22, 2006
- Messages
- 13,525
- Reaction score
- 3,282
- Points
- 196
Kisah 1:
Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar Ibnu Khattab ra, beliau telah memilih seorang lelaki untuk menjadi wakilnya di wilayah Homs, sebuah kota yang berada di Syam; dialah Said Ibnu Amir, sahabat Rasulullah SAW.
Selang beberapa lama, datanglah rombongan utusan dari Homs menghadap Khalifah Umar Ibnu Al khattab. Lalu beliau berkata kepada para utusan, “Tulislah nama orang-orang fakir di Homs, agar aku dapat memberi harta dari kaum muslimin untuk menyambung hidup”.
Setelah mendapatkan daftar orang fakir di Homs, Umar Ibnu Al Khattab melihat ada nama Said Ibnu Amir di dalamnya. Maka, Umar pun bertanya, “Siapakah Said Ibnu Amir ini?” Mereka menjawab, “Pemimpin kami.”
“Pemimpin kalian fakir?” Tanya Umar terkejut. “Ya. Demi Allah, telah berlalu beberapa hari yang panjang. Namun, tidak dihidupkan api di rumahnya (keluarganya tidak memasak).” Menangislah Umar Ibnu Al Khattab mendengar penuturan para utusan dari Homs tentang pemimpin mereka.
Umar lalu memasukkan 100 dinar [riwayat lain 1000 dinar] ke dalam sebuah kantong lalu memberikannya kepada mereka. “Bawalah dinar-dinar ini kepadanya agar ia dapat digunakannya untuk keperluan pemimpin kalian hidup sehari-hari. Sesampainya di Homs, mereka memberikan kantong berisi wang dinar itu kepada pemimpin mereka; Said Ibnu Amir.
Seketika, dia berucap, ” Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun.” - ucapan yang disebut jika ditimpa musibah atau ada suatu bahaya di hadapan.
Mendengar itu, istrinya bertanya, “Apakah yang terjadi? Apa Amirul Mukminin wafat?
“Tidak, ini perkara yang lebih besar.Dunia menghampiri untuk merusak akhiratku,” lanjutnya.
“jauhilah darinya,” ucap istrinya segera. Namun, istrinya tak mengetahui bahwa ini adalah masalah harta yang diberikan oleh Amirul Mukminin.
“Mahukah kau membantuku menyelesaikan masalah ini?” pinta Said Ibnu Umar.
“Ya,” jawab istrinya. Mereka berdua akhirnya memberikan semua harta itu kepada fakir miskin di Homs.
Dalam kisah itu, diceritakan begitu takutnya Said Ibnu Amir pada dugaan harta dan kepemimpinan. Sehingga ia dan isterinya segera membahagikan kepada orang lain meakipun sebenarnya dia juga membutuhkan harta untuk hidupnya.
Kerana, harta dan kepemimpinan adalah amanah besar yang kelak akan segera ditanyakan pertanggungjawabannya di akhirat oleh Allah. Maka, berhati-hatilah pada keduanya.
Sangat jarang kita menemukan seorang pemimpin yang berjiwa seperti beliau saat ini. ‘Inilah akhlak Pemimpin yang Dirindui.’
Rujukan kitab ‘Silsilah Ta’lim lughotil Arobiyyah jilid 2
https://www.islampos.com/said-ibnu-amir-sosok-pemimpin-yang-dirindukan-195619/
Kisah 2:
Saat Khalifah Umar berkunjung ke Homs, penduduk di wilayah itu mengadu gabenor mereka, Said ibn Amir kepada Umar ibn al-Khaththab. Ada 4 hal yang mereka adukan,
Pertama, gabenor tak pernah keluar menemui rakyat kecuali jika hari telah siang.
Kedua, Said tidak pernah menerima tamu di waktu malam.
Ketiga, Setiap bulan, dua hari ia tak mau keluar menemui kami.
Keempat, Sesekali Said pengsan dan terjatuh.
Mendengar aduan mereka, Umar berpaling kepada Said ibn Amir dan bertanya, "Apa pembelaanmu terhadap kesalahan-kesalahan yang telah kau lakukan, hai Said?"
Said menjawab satu per satu aduan tersebut. Ia berkata,
"Pertama, keluargaku tak punya pembantu. Jadi, di pagi hari aku membuat tepung untuk mereka. Setelah menjadi tepung aku membuat roti untuk mereka. Setelah itu, aku berwudhu dan keluar menemui orang-orang.
Kedua, aku membahagi hari-hariku. Satu bagian untuk Tuhanku dan satu bahagian untuk rakyatku. Waktu siang hari aku bersama mereka, sedangkan waktu malam aku bersama Tuhanku.
Ketiga, aku hanya memiliki satu potong pakaian. Setiap bulan aku mencucinya dua kali. Setelah itu, aku menunggu pakaianku kering dan kukenakan kembali untuk menemui mereka.
Keempat, aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri bersama orang Quraisy, bagaimana Khubaib ibn Adi disalib dan dibunuh. Setiap kali aku teringat kejadian itu, pandanganku gelap dan aku jatuh pengsan."
Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar Ibnu Khattab ra, beliau telah memilih seorang lelaki untuk menjadi wakilnya di wilayah Homs, sebuah kota yang berada di Syam; dialah Said Ibnu Amir, sahabat Rasulullah SAW.
Selang beberapa lama, datanglah rombongan utusan dari Homs menghadap Khalifah Umar Ibnu Al khattab. Lalu beliau berkata kepada para utusan, “Tulislah nama orang-orang fakir di Homs, agar aku dapat memberi harta dari kaum muslimin untuk menyambung hidup”.
Setelah mendapatkan daftar orang fakir di Homs, Umar Ibnu Al Khattab melihat ada nama Said Ibnu Amir di dalamnya. Maka, Umar pun bertanya, “Siapakah Said Ibnu Amir ini?” Mereka menjawab, “Pemimpin kami.”
“Pemimpin kalian fakir?” Tanya Umar terkejut. “Ya. Demi Allah, telah berlalu beberapa hari yang panjang. Namun, tidak dihidupkan api di rumahnya (keluarganya tidak memasak).” Menangislah Umar Ibnu Al Khattab mendengar penuturan para utusan dari Homs tentang pemimpin mereka.
Umar lalu memasukkan 100 dinar [riwayat lain 1000 dinar] ke dalam sebuah kantong lalu memberikannya kepada mereka. “Bawalah dinar-dinar ini kepadanya agar ia dapat digunakannya untuk keperluan pemimpin kalian hidup sehari-hari. Sesampainya di Homs, mereka memberikan kantong berisi wang dinar itu kepada pemimpin mereka; Said Ibnu Amir.
Seketika, dia berucap, ” Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun.” - ucapan yang disebut jika ditimpa musibah atau ada suatu bahaya di hadapan.
Mendengar itu, istrinya bertanya, “Apakah yang terjadi? Apa Amirul Mukminin wafat?
“Tidak, ini perkara yang lebih besar.Dunia menghampiri untuk merusak akhiratku,” lanjutnya.
“jauhilah darinya,” ucap istrinya segera. Namun, istrinya tak mengetahui bahwa ini adalah masalah harta yang diberikan oleh Amirul Mukminin.
“Mahukah kau membantuku menyelesaikan masalah ini?” pinta Said Ibnu Umar.
“Ya,” jawab istrinya. Mereka berdua akhirnya memberikan semua harta itu kepada fakir miskin di Homs.
Dalam kisah itu, diceritakan begitu takutnya Said Ibnu Amir pada dugaan harta dan kepemimpinan. Sehingga ia dan isterinya segera membahagikan kepada orang lain meakipun sebenarnya dia juga membutuhkan harta untuk hidupnya.
Kerana, harta dan kepemimpinan adalah amanah besar yang kelak akan segera ditanyakan pertanggungjawabannya di akhirat oleh Allah. Maka, berhati-hatilah pada keduanya.
Sangat jarang kita menemukan seorang pemimpin yang berjiwa seperti beliau saat ini. ‘Inilah akhlak Pemimpin yang Dirindui.’
Rujukan kitab ‘Silsilah Ta’lim lughotil Arobiyyah jilid 2
https://www.islampos.com/said-ibnu-amir-sosok-pemimpin-yang-dirindukan-195619/
Kisah 2:
Saat Khalifah Umar berkunjung ke Homs, penduduk di wilayah itu mengadu gabenor mereka, Said ibn Amir kepada Umar ibn al-Khaththab. Ada 4 hal yang mereka adukan,
Pertama, gabenor tak pernah keluar menemui rakyat kecuali jika hari telah siang.
Kedua, Said tidak pernah menerima tamu di waktu malam.
Ketiga, Setiap bulan, dua hari ia tak mau keluar menemui kami.
Keempat, Sesekali Said pengsan dan terjatuh.
Mendengar aduan mereka, Umar berpaling kepada Said ibn Amir dan bertanya, "Apa pembelaanmu terhadap kesalahan-kesalahan yang telah kau lakukan, hai Said?"
Said menjawab satu per satu aduan tersebut. Ia berkata,
"Pertama, keluargaku tak punya pembantu. Jadi, di pagi hari aku membuat tepung untuk mereka. Setelah menjadi tepung aku membuat roti untuk mereka. Setelah itu, aku berwudhu dan keluar menemui orang-orang.
Kedua, aku membahagi hari-hariku. Satu bagian untuk Tuhanku dan satu bahagian untuk rakyatku. Waktu siang hari aku bersama mereka, sedangkan waktu malam aku bersama Tuhanku.
Ketiga, aku hanya memiliki satu potong pakaian. Setiap bulan aku mencucinya dua kali. Setelah itu, aku menunggu pakaianku kering dan kukenakan kembali untuk menemui mereka.
Keempat, aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri bersama orang Quraisy, bagaimana Khubaib ibn Adi disalib dan dibunuh. Setiap kali aku teringat kejadian itu, pandanganku gelap dan aku jatuh pengsan."