Salam semua, x sangka pula ramai yang menunggu.. sebenarnya kisah piramid Melayu ini boleh tengok blog ini:
http://militaryofmalaysia.net/2012/09/pendedahan-eksklusif-piramid-melayu/#more-1231
dinasihatkan supaya baca bahagian komen dalam blog diatas. Mana2 komen yang melibatkan politik dalam blog kat atas bolehlah diabaikan dan juga boleh lihat blog ini
http://aku-tak-peduli.blogspot.com/2012/10/piramid-melayu-kuno-ditemui.html
saya Cuma copy paste sebab nak kongsi dengan semua orang, mana tahu ada yang sudi nak kongsi maklumat tambahan.
Sama ada suratan atau kebetulan aku tak pasti,tapi semasa menghadhiri Permukiman Bloggers Janda Baik hujung minggu lalu aku ditempatkan disuatu puncak paling tinggi di Janda Baik dimana Saufiville Resort bediri megah.Walaupun pada mulanya aku sepatutnya bermalam di Wadi Hussein tapi atas desakan Uncleseekers disaat saat akhir aku terpaksa akur untuk bermalam di Saufiville.
Jadi bila aku sampai di resort yang berada dipuncak paling tinggi itu hari pun sudah menjelang senja dan dalam keheningan senja disuatu penjuru resort tu (gambar diatas) mata aku terpaku pada salah satu bukit/gunung yang pastinya dalam lingkaran Banjaran Titiwangsa.Apa yang menarik tentang bukit/gunung ini ialah bentuknya yang menyerupai piramid dan amat sempurna sekali.
Ini gambar yang aku snap sendiri.Bukan nak tunjukan gunung itu tapi
lebih kepada nak tunjukan suasana kedamaian balcony Saufiville Resort.
'Piramid' yang aku maksudkan terlindung dibalik tiang..
Memandangkan malam mula menyelubungi aku tidak berpeluang melihat struktur bukit/gunung itu dengan jelas waktu itu.Tapi keesukan paginya aku mengajak beberapa sahabat bloggers untuk sama sama membuat penelitian terhadap struktur bukit yang dimaksudkan dengan menggunakan alat alat zooming yang ada pada kami.
Allahu Akbar...
"Bukit tak serupa bukit..gunung tidak serupa gunung"
Ianya terlalu sempurna baik dari segi bentuk mahupun puncak nya untuk sebuah bukit/gunung dan ianya lebih menyerupai bentuk sebuah piramid.Apatahlagi bila melihat pokok pokok yang meliputinya melalui zoom,akan kelihatan pokok pokok yang tumbuh cukup selari dari atas kebawah atau sebaliknya.Ianya tidak kelihatan semulajadi...
Maka teringat aku satu artikel yang aku baca beberapa hari lalu DISINI dari sebuah blog.Kisah ini pernah hebuh seketika dulu tapi seakan akan 'disenyapkan' oleh pihak pihak tertentu ntah atas sebab apa.Jadi kepada anda yang berminat untuk melihat apa yang aku anggap sebagai "Piramid Kuno Melayu",apakata anda singgah atau bermalam di Saufiville Resort dan melihat sendiri dengan mata anda,Anda tidak akan menyesal kerana sekurang kurangnya makanan yang disediakan disitu enak enak belaka.Aku pasti anda akan jatuh cinta..
Dan ini lagi satu – tp dalam bahasa english la pulak..
http://ki-media.blogspot.com/2007/12/ancient-khmer-city-discovered-in.html
Ancient Khmer city discovered in Malaysia?
The pyramid-like hills near Tasik Chini have sparked interest in the legend of a lost civilisation
Lost city of Khmer empire?
2007/12/10
The New Straits Times (Malaysia)
PEKAN: The existence of seven pyramid-like hills near Tasik Chini has again sparked interest in the legend of a lost civilisation in the area that could date back to the 12th century.
While there is no proof that the hills are man-made, there is a possibility that it is part of a lost city or may at least shed some light on the mystery.
It is long believed that the ancient city could only be found in the depths of the lake. This is based on a theory that the area was inundated with water after the fall of the Khmer empire, of which the city was a part of in the 15th century.
Although many people have made claims of a sunken city, little effort has been made to unravel the mystery. Based on pieces of porcelain found in the area, the city could have been built when the Khmer empire was at the height of its power.
The Khmer empire was ruled, between 802 and 1432, by a succession of "god kings" and had its capital in Siem Reap, Cambodia, where the famed Angkor Wat temple complex stands.
According to a villager, the "pyramid" was more evident when one of the unique hills in Padang Kerbau was cleared by a plantation company recently.
"Before this, all the hills looked normal. However, the way they were 'positioned' is not natural and that is quite interesting," said Ahmad Najib Mohd Don of Kampung Melayu, Chini.
Ahmad Najib, 57 and his wife, Pauziyah Abdullah, 49, later drove their pick-up truck to the hills and found that the formations stood in a swampy area.
Although she was born in Kampung Melayu, Pauziyah said she never realised the peculiar shape of the hills as they were covered by vegetation.
"The hills are also inaccessible because of the swampy land which surrounds them."
The new development has excited archaeologist, Professor Datuk Dr Nik Hassan Shuhaimi Nik Abdul Rahman, who was known for his leading role in the expedition to locate the lost city in 1998.
"There's a possibility as we cannot say for sure its exact location. It can be in the lake or on land," said the senior research fellow at Universiti Kebangsaan Malaysia when contacted.
He said there was no conclusion during the two-week exploration nine years ago as the team had lacked funds.
"We managed to drain a small part of the lake but the compartment walls collapsed when we were about to clear a layer of mud on top of a rocky base."
Dan ini pula kisah piramid di Indonesia
http://sochehsatriabangsa.wordpress.com/2012/02/07/penemuan-piramida-di-indonesia/
penemuan piramida di indonesia
Penemuan Piramida Raksasa di Bandung Jawa Barat ini masih merupakan misteri dan masih diteliti lebih dalam tentang keberadaannya
Berikut ini adalah beberapa artikel yang menguak tentang misteri piramida raksasa di Bandung yang tepatnya berada di Gunung Lalakon, yang terletak di Desa Jelegong, Kecamatan Kotawaringin, Kabupaten Bandung.
Berburu Piramida Nusantara
Mentari nyaris berada di atas ubun-ubun, saat empat mobil menepi di pinggiran Jalan Raya Soreang-Cipatik, medio Februari 2011. Siang itu, Kampung Badaraksa yang terletak di lereng bukit, kedatangan tamu.
Rombongan itu menyusuri jalan kecil mendaki di tengah pemukiman penduduk, hendak menuju ke atas puncak Gunung Lalakon, yang terletak di Desa Jelegong, Kecamatan Kotawaringin, Kabupaten Bandung.
Dari Kampung Badaraksa yang berada di ketinggian sekitar 720 m di atas permukaan laut, mereka bergegas naik memutari bukit dari bagian selatan ke barat.
Sambil membawa berbagai peralatan dan beberapa gulungan besar kabel, rombongan membelah hutan gunung. Derap langkah kaki mereka seolah berkejaran dengan ritme suara jengkerik, dan tonggeret di kanan-kiri.
Tim yang terdiri dari sekelompok pemuda dan para peneliti itu, akhirnya sampai di puncak setinggi 988 meter dari permukaan laut.
Kabel direntang. Tim mulai memasang alat geolistrik yang mereka bawa. Sebanyak 56 sensor yang dipasangi altimeter (alat pengukur ketinggian) diuntai dari puncak bukit ke bawah lereng, masing-masing berjarak lima meter, dicatu oleh dua aki listrik.
Alat-alat itu berfungsi mendeteksi tingkat resistivitas batuan, dan bisa digunakan menganalisa struktur kepadatan batuan hingga ratusan meter ke bawah. “Tujuan kami saat itu mengetahui apakah ada bangunan tersembunyi di dalam gunung,” kata Agung Bimo Sutedjo, kepada VIVAnews, di Jakarta, Selasa, 15 Februari 2011.
Agung adalah Pendiri Yayasan Turangga Seta, organisasi yang punya hajat penelitian di gunung itu. Bak tokoh fiksi Indiana Jones, awak Turangga Seta memang punya kegemaran memburu jejak sejarah. Bukan atas hasrat memiliki, tapi mengungkap kegemilangan sejarah nenek moyang di masa lalu.
Komunitas itu berdiri sekitar 2004, digawangi oleh sekelompok profesional di berbagai bidang. Ada pengajar, kontraktor bangunan, pegawai negeri sipil, karyawan perusahaan swasta, juga mahasiswa. Beberapa di antara mereka punya kepekaan lebih terhadap kehadiran gaib, atau istilah keren mereka: parallel existence.
“Kami ini semua anak-anak MIT. Bukan Masachussetts Institute of Technology, tapi Menyan Institute of Technology,” kata anggota Turangga Seta Hery Trikoyo, bergurau. Sebab, dalam melakukan perburuan terhadap situs sejarah, kadang mereka mendapat sokongan informasi lokasi dari ‘informan tak kasatmata’.
Namun, karena dasarnya mereka adalah anak-anak yang mengenyam pendidikan tinggi, dorongan mereka membuktikan informasi tersebut, mengalir deras. Tak jarang para ‘arkeolog partikelir’ ini keluar malam-malam usai jam kerja, untuk menggali sebuah tempat demi membuktikan kebenaran hipotesa mereka.
Setelah mereka menemukan benda sejarah yang mereka maksud, lalu mereka menimbunnya kembali, tanpa diketahui oleh masyarakat umum. “Kami khawatir bila diketahui banyak orang, malah diambil atau dicuri,” kata Agung.
Kali ini, kedatangan mereka ke Gunung Lalakon dalam rangka membuktikan teori mereka, bahwa ada sejumlah piramid di Indonesia. Salah satu informasi awal didapatkan dari tafsiran mereka terhadap relief Candi Penataran.
Turangga Seta percaya bahwa kebudayaan Nusantara lebih tua daripada Kebudayaan Sumeria, Mesir, atau Maya. Mereka haqul yakin Indonesia memiliki situs candi atau piramida yang lebih banyak dan lebih megah dari peradaban Mesir dan Maya.
“Ada ratusan piramida di Indonesia, dan tingginya tak kalah dari piramida Giza di Mesir yang cuma 140-an meter,” kata Agung. Meski masih harus diuji secara ilmiah, pandangan Agung senada dengan teori Profesor Arysio Santos, yang menyebutkan Indonesia adalah peradaban Atlantis yang hilang. (Baca juga: Nusantara Memendam Atlantis?)
Keyakinan ini tentu saja membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Turangga Seta sempat mem-post keyakinan mereka ihwal keberadaan piramida di Indonesia di sebuah forum online. lengkap dengan foto-fotonya. Hasilnya, mereka menuai cemoohan dan tertawaan. “Nanti, kalau semuanya terbukti, mereka tak bisa lagi tertawa,” kata Agung berapi-api.
Turangga Seta mengklaim masih ada ratusan piramida lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satu pentolan Turangga Seta lainnya, Timmy Hartadi, dalam laman Facebook mereka mengatakan bahwa piramida-piramida itu tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. (Lihat Infografik)
Klaim penemuan sebuah piramida tersembunyi di dalam bukit, tak hanya terjadi di Indonesia. Klaim ini juga sempat muncul di Bosnia. Pada 2006, seorang pengarang bernama Semir Osmanagic mengklaim penemuan ini, dan sempat mengatakan mereka menemukan piramida tersembunyi di bukit Visocica, kota Visoko, yang terletak di barat laut Sarajevo.
Osmanagic mengatakan penggalian piramida itu melibatkan arkeolog dari Australia, Austria, Irlandia, Skotlandia dan Slovenia. Namun, beberapa arkeolog yang disebut Osmanagic menolak klaim tersebut.
Seperti dikutip dari situs Archaeology.org, arkeolog dari Kanada yang disebut Osmanagic, Chris Mundigler mengaku tak pernah mendukung atau setuju bekerja di proyek tersebut. “Skema ini adalah sebuah kebohongan keji terhadap masyarakat awam, dan tak akan pernah mendapat tempat di dunia ilmu pengetahuan,” kata pernyataan resmi dari Asosiasi Arkeolog Eropa.
Bagaimana dengan klaim piramid di Bandung dan di Garut?
Secara geomorfologis, bentuk Gunung Lalakon di Bandung maupun Gunung Sadahurip di Garut memang memiliki bentuk yang mirip dengan piramida. Mereka memiliki empat sisi yang nyaris simetris.
“Bentuknya kok begitu simetris ya? Lancipnya sangat simetris,” ujar arkeolog senior Profesor Edi Sedyawati, saat dijumpai VIVAnews di kediamannya di Jakarta, Rabu, 23 Februari 2011.
Namun, kata Edi, klaim dan hasil uji geolistrik masih belum cukup untuk mendapatkan kesimpulan akhir. Langkah selanjutnya adalah penggalian percobaan pengambilan sampel dengan memuat sebuah test bed untuk mengetahui apa benar ada indikasi lapisan-lapisan budaya dan ada bekas-bekas perbuatan manusia atau tidak.
“Tapi ini harus betul-betul penggalian arkeologi yang meminta izin kantor suaka purbakala dan melibatkan arkeolog, karena harus ada pertanggung jawaban dan laporan, dari mili ke mili (milimeter, red),” kata Edi Sedyawati.
Turangga Seta pun tengah mengusahakan izin pengambilan sampel tanah di Gunung Lalakon kepada Pemda Jawa Barat. “Kami hanya perlu menggali tanah di lokasi, selebar sekitar 3-4 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter,” kata Agung.
Gunung Lalakon dikelilingi beberapa bukit lain seperti bukit Paseban, Pancir, Paninjoan, Pasir Malang. Di bukit Paseban ada tiga buah batu, yang dua di antaranya terdapat telapak kaki manusia dewasa, dan telapak kaki anak-anak.
Menurut Edi, bila benar batu telapak itu peninggalan sejarah, kemungkinan ini berasal dari zaman megalitikum. Batu telapak juga sudah dijumpai di tempat lain, seperti prasasti Ciaruteun, peninggalan Raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara. “Cap telapak kaki biasanya diabadikan sebagai monumen mengenang pemimpin suatu daerah,” kata Edi.
Cap kaki juga erat kaitannya dengan konsep Triwikrama atau tiga langkah yang berkembang di masa itu. Saat itu, mereka percaya bila seseorang hendak naik ke dunia dewa-dewa, mereka harus menjejak dengan keras agar dapat melompat tinggi sekali.
Sementara itu, di Gunung Lalakon juga terdapat beberapa situs batuan, seperti Batu Lawang, Batu Pabiasan, Batu Warung, Batu Pupuk, Batu Renges, Batu gajah, dan sebuah batu panjang yang terletak di atas puncak.
Menurut Abah Acu, tokoh masyarakat Kampung Badaraksa, secara filosofis, Gunung Lalakon adalah perlambang sebuah lakon dari kehidupan manusia. Batu-batu tadi merepresentasikan berbagai lakon atau profesi yang dipilih oleh manusia.
Namun, keberadaan batu-batu tadi kerap disalahgunakan. Banyak orang datang ke tempat batu di Gunung Lalakon mencari pesugihan. Bahkan, menurut Jujun, tokoh agama Islam di tempat itu, dulu banyak orang datang ke Batu Gajah mencari ilham judi buntut. “Banyak pula yang berhasil menang,” kata Jujun.
Jujun menerangkan, di Gunung Lalakon secara rutin juga digelar acara ritual tolak bala, yakni dengan membuat nasi tumpeng kemudian dibagikan dan dimakan oleh penduduk. “Acara ini diadakan setiap tahun, biasanya setiap tanggal 1 Syuro.”
Berbeda dengan tradisi di Gunung Lalakon, masyarakat di sekitar Gunung Sadahurip relatif lebih ‘modern’. Menurut Nanang, warga Kampung Cicapar Pasir, kampung terdekat Gunung Sadahurip, di sana tak ada tradisi tolak bala. Masyarakat sekitar juga tak terlalu peduli dengan mitos gunung itu di masa lalu
Dibuka kepada mana2 ahli CG menambah fakta baru jika ada....