encikmental
Active Member
- Messages
- 1,873
- Joined
- Oct 27, 2013
- Messages
- 1,873
- Reaction score
- 37
- Points
- 30
Jadi berasal daripda apa???
Follow along with the video below to see how to install our site as a web app on your home screen.
Note: This feature may not be available in some browsers.
semaklah bahagian daripada nasihat Rasulullah s.a.w ini:
"Tanda2 kebencian Allah s.w.t terhadap seseorang ialah apabila dia mensia-siakan waktu dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Apabila umur seseorang berlalu tetapi dia tidak menggunakannya untuk melakukan ibadah yang diperintah Allah, maka pantas baginya menyesal sepanjang masa. Barang siapa yang telah berumur lebih empat puluh tahun sedangkan amal baiknya belum mengalahkan kemaksiatannya, maka hendaklah dia bersedia untuk masuk neraka".
Itulah nasihat yang mudah, yang sukar ialah yang menerimanya sebab nasihat itu akan terasa pahit bagi orang yang memperturutkan kehendak nafsunya. Dia lebih cenderung menyukai hal-hal terlarang. Apa lagi bagi golongan muda-mudi yang suka membuang masa mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Mereka menyangka tanpa amalan, ilmu pengetahuan pun akan dapat membawa kepada kebahagian dan keselamatan.
Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. bersabda:
مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa meninggalkan perdebatan sedang dia di pihak yang batil, maka dibangun Allah baginya sebuah rumah dalam perkampungan sorga. Dan barangsiapa meninggalkan perdebatan sedang dia di pihak yang benar, maka dibangun Allah baginya sebuah rumah dalam sorga tinggi”.[2]
Kesepuluh, riya’ atau ingin memperlihatkan amalannya kepada orang banyak dan berusaha menarik hati serta pandangan. Seorang pendebat pasti memiliki sebersit keinginan untuk menonjolkan dirinya agar dipuji oleh orang lain.
Itulah sepuluh perkara yang menjadi induk kejahatan batin, orang-orang yang biasa berdebat tidak akan lepas dari sepuluh perkara tersebut. Di samping itu juga terdapat madharat yang mungkin timbul dari orang-orang di sekitar pendebat, seperti permusuhan dan perkelahian.
Sepuluh perkara yang termasuk sifat-sifat rendah tadi terkadang juga ada pada orang yang biasanya memberi nasehat atau fatwa, namun tujuannya untuk pamrih, bermegahan, mendapat kekayaan dan kemuliaan. Juga ada pada orang-orang yang menuntut ilmu bukan karena mengharap pahala Allah, sehingga ilmu yang ada padanya akan sia-sia bahkan menghinakan dirinya.
jadi mereka yg kaji tentang bahtera nabi Nun A.s ni utk menentukan kitab mane yg betul tahun nya bersamaan dgn kitab mereka sahaja.. utk ape mereka kaji ni encik anz?
cuba terangkan sedikit
Fatwa Syaikh Muhammad Al Imam hafizhahullah
Soal:
Bolehkah seseorang menafsirkan Al Qur’an tanpa ilmu dan tanpa merujuk pada keterangan para ulama? Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.
Jawab:
Seseorang tidak boleh berbicara tentang hal yang tidak ia ketahui. Dan tidak boleh juga berbicara tentang ilmu agama padahal ia tidak memiliki ilmu. Ini merupakan kejahatan yang besar, dan berbahaya bagi orang yang melakukannya. Ini juga merupakan kejahatan terhadap kalam Allah, dan bahaya yang besar bagi orang yang melakukannya.
Maka, hendaknya orang-orang suka bermudah-mudah ini bertaqwa kepada Allah, dan jauhi berbicara mengenai kalamullah padahal ia tidak memiliki ilmu yang mencukupi yang membuat ia bisa menafsirkan dengan benar. Karena perbuatan ini merupakan penyimpangan dan kejahatan terhadap Allah dan terhadap agama Allah dan juga terhadap Rasul-Nya. Dan ini juga merupakan keburukan yang besar, sebagaimana sudah saya katakan.
Maka takutlah kepada Allah dengan tidak melakukan hal seperti ini, yang menyebabkan sebagian orang yang mengikutinya melakukan kebid’ahan, berdalil dengan ayat ini dan ayat itu, ayat ini menyuruh perbuatan ini dan itu, padahal bukan demikian maksud ayat tersebut dan dia bukan orang yang ahli dalam menafsirkan ayat Qur’an.
Ada riwayat shahih dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu, beliau melewati seorang lelaki yang sedang mengajarkan orang-orang Al Qur’an. Beliau berkata:
أتعرف الناسخ والمنسوخ ؟ قال : لا ، قال : هلكت وأهلكت
“Apakah engkau sudah paham nasikh dan mansukh? Lelaki tadi berkata: ‘Saya belum paham’. Ali berkata: ‘Sungguh engkau ini binasa dan membuat orang lain binasa’“
Demikian, hendaknya hal ini dipahami.
Sumber: http://www.sh-emam.com/show_fatawa.php?id=570

