kasturi
Legendary Member

- Messages
- 13,525
- Joined
- Jul 22, 2006
- Messages
- 13,525
- Reaction score
- 3,282
- Points
- 196
Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah.
Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan
sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan
sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah.
Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap
kali dia marah. Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang.
Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya
daripada memakukan paku ke pagar.
Akhirnya tibalah hari dimana dia merasa boleh mengendalikan
amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya.
Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian
mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu
ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu ayahnya
berkata, “Bagus anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar itu.
Pagar ini tidak akan lagi sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu
mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan
bekas seperti lubang ini, di hati orang lain...
“Sesungguhnya marah itu daripada syaitan dan sesungguhnya
syaitan itu diciptakan daripada api, dan api hanya dapat
dipadamkan dengan air. Oleh itu, jika salah seorang daripada
kamu marah, maka hendaklah dia berwuduk.”
(Hadis riwayat Abu Dawud dan Ahmad).
Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan
sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan
sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah.
Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap
kali dia marah. Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang.
Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya
daripada memakukan paku ke pagar.
Akhirnya tibalah hari dimana dia merasa boleh mengendalikan
amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya.
Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian
mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu
ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu ayahnya
berkata, “Bagus anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar itu.
Pagar ini tidak akan lagi sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu
mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan
bekas seperti lubang ini, di hati orang lain...
“Sesungguhnya marah itu daripada syaitan dan sesungguhnya
syaitan itu diciptakan daripada api, dan api hanya dapat
dipadamkan dengan air. Oleh itu, jika salah seorang daripada
kamu marah, maka hendaklah dia berwuduk.”
(Hadis riwayat Abu Dawud dan Ahmad).