kasturi
Legendary Member

- Messages
- 13,525
- Joined
- Jul 22, 2006
- Messages
- 13,525
- Reaction score
- 3,282
- Points
- 196
Situasi: Semasa berdiri iktidal dalam shalat berjamaah:
Hadis 1:
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Imam itu dijadikan hanya untuk diikuti. Apabila ia rukuk, maka rukuklah. Apabila ia mengangkat kepala, maka angkatlah kepala kalian. Apabila ia mengucapkan : ‘sami’allaahu li-man hamidah’, maka ucapkanlah : ‘rabbanaa walakal-hamdu’.....”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 689].
Hadis 2:
Dari Abu Hurairah r.a, katanya: "Rasulullah saw bersabda: "Jika seorang imam membaca "Samiallahu liman hamidah", maka ucapkanlah: "Rabbanaa walakal hamdu". Sesungguhnya jika ucapan seorang bersamaan dengan yang diucapkan oleh para malaikat, maka akan diampunkan dosa-dosanya yang terdahulu."
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaari no. 796 dan At-Tirmidzi no. 267 dan Hadis Sunan An-Nasai Jilid 1. Hadis Nombor 1037.].
At-Tirmidzi rahimahullah menjelaskan lagi perkara ini:
“Hadits ini diamalkan oleh sebagian ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang setelah mereka, iaitu ketika imam mengucapkan : ‘sami’allaahu li-man hamidah rabbanaa wa lakal-hamdu’; maka makmum yang berada di belakangnya mengucapkan : ‘rabbanaa wa lakal-hamdu’. Inilah pendapat yang dipegang Ahmad.
Ibnu Siiriin dan yang lainnya berkata : Makmum yang berada di belakang imam mengucapkan : ‘sami’allaahu li-man hamidah, rabbanaa wa lakal-hamdu’ – seperti yang diucapkan imam. Pendapat inilah yang dipegang Asy-Syaafi’i dan Ishaaq” [Jaami’ At-Tirmidziy, 1/306].
Hadis 3:
Dari Rifaa’ah bin Raafi’ Az-Zuraqiy, ia berkata: “Pada suatu hari kami pernah shalat di belakang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau mengucapkan : ‘sami’allaahu li-man hamidah’, maka seorang laki-laki di belakang beliau mengucapkan : ‘rabbanaa wa lakal-hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih (Rabb kami, milik-Mu lah segala pujian yang banyak, baik dan diberkahi)’. Ketika selesai shalat, beliau bersabda : “Siapakah yang mengucapkan ucapan tadi ?”. Lelaki itu menjawab : “Saya”. Beliau bersabda : “Aku melihat lebih dari 30 malaikat berlumba siapakah yang menulisnya pertama kali”.
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 799 dan Hadis Sunan An-Nasai Jilid 1. Hadis Nombor 1036.].
Dari Naafi’: Bahawasannya Ibnu ‘Umar pernah berkata : “Apabila menjadi makmum, lalu ketika itu imam mengucapkan ‘sami’allaahu li-man hamidah’, Ibnu ‘Umar berkata : ‘(Makmum mengucapkan) ‘allaahumma rabbanaa lakal-hamdu”.
[Diriwayatkan oleh Ibnul-Mundzir dalam Al-Ausath 3/162 no. 1420; shahih]
Kesimpulan : Makmum tidak membaca sami’allaahu liman hamidah, namun terus membaca ‘rabbanaa wa lakal-hamdu’.
Wallaahu a’lam.
Hadis 1:
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Imam itu dijadikan hanya untuk diikuti. Apabila ia rukuk, maka rukuklah. Apabila ia mengangkat kepala, maka angkatlah kepala kalian. Apabila ia mengucapkan : ‘sami’allaahu li-man hamidah’, maka ucapkanlah : ‘rabbanaa walakal-hamdu’.....”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 689].
Hadis 2:
Dari Abu Hurairah r.a, katanya: "Rasulullah saw bersabda: "Jika seorang imam membaca "Samiallahu liman hamidah", maka ucapkanlah: "Rabbanaa walakal hamdu". Sesungguhnya jika ucapan seorang bersamaan dengan yang diucapkan oleh para malaikat, maka akan diampunkan dosa-dosanya yang terdahulu."
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaari no. 796 dan At-Tirmidzi no. 267 dan Hadis Sunan An-Nasai Jilid 1. Hadis Nombor 1037.].
At-Tirmidzi rahimahullah menjelaskan lagi perkara ini:
“Hadits ini diamalkan oleh sebagian ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang setelah mereka, iaitu ketika imam mengucapkan : ‘sami’allaahu li-man hamidah rabbanaa wa lakal-hamdu’; maka makmum yang berada di belakangnya mengucapkan : ‘rabbanaa wa lakal-hamdu’. Inilah pendapat yang dipegang Ahmad.
Ibnu Siiriin dan yang lainnya berkata : Makmum yang berada di belakang imam mengucapkan : ‘sami’allaahu li-man hamidah, rabbanaa wa lakal-hamdu’ – seperti yang diucapkan imam. Pendapat inilah yang dipegang Asy-Syaafi’i dan Ishaaq” [Jaami’ At-Tirmidziy, 1/306].
Hadis 3:
Dari Rifaa’ah bin Raafi’ Az-Zuraqiy, ia berkata: “Pada suatu hari kami pernah shalat di belakang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau mengucapkan : ‘sami’allaahu li-man hamidah’, maka seorang laki-laki di belakang beliau mengucapkan : ‘rabbanaa wa lakal-hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih (Rabb kami, milik-Mu lah segala pujian yang banyak, baik dan diberkahi)’. Ketika selesai shalat, beliau bersabda : “Siapakah yang mengucapkan ucapan tadi ?”. Lelaki itu menjawab : “Saya”. Beliau bersabda : “Aku melihat lebih dari 30 malaikat berlumba siapakah yang menulisnya pertama kali”.
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 799 dan Hadis Sunan An-Nasai Jilid 1. Hadis Nombor 1036.].
Dari Naafi’: Bahawasannya Ibnu ‘Umar pernah berkata : “Apabila menjadi makmum, lalu ketika itu imam mengucapkan ‘sami’allaahu li-man hamidah’, Ibnu ‘Umar berkata : ‘(Makmum mengucapkan) ‘allaahumma rabbanaa lakal-hamdu”.
[Diriwayatkan oleh Ibnul-Mundzir dalam Al-Ausath 3/162 no. 1420; shahih]
Kesimpulan : Makmum tidak membaca sami’allaahu liman hamidah, namun terus membaca ‘rabbanaa wa lakal-hamdu’.
Wallaahu a’lam.