BTC USD 81,038.9 Gold USD 4,378.12
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Isu Am

bono79 said:
MASALAH ZIKIR DENGAN JAHAR

Ada suara-suara sumbang yang menuduh golongan ini pengikut fahaman wahhabi (wallahualam). Ada juga yang menyarankan agar Jakim memantau pergerakan golongan ini kerana tuduhan mereka ini sudah tentu membawa implikasi besar terhadap amalan majoriti umat Islam di Malaysia..

Apa itu Wahabi?
Siapakah sebenarnya yg dimaksudkan dgn Wahabi?
Blh saudara kupas ttg ini.

Terima kasih.
 
Apa itu Wahabi?
Siapakah sebenarnya yg dimaksudkan dgn Wahabi?
Blh saudara kupas ttg ini.

Terima kasih.
ini sy dpt dr petikan soal jawab berkenaan isu wahabbi ini...sy tidak layak memperkatakan ttgnya bdasarkan ilmu yg ada di dada ini...semoga menjadi bahan bacaan yg baek utk semua...
Asslamualaikum wr. wb.
Saya selalu mengikuti kolom ustadz menjawab ini, semoga ustadz mendapatkan keberkahan dan pahala, amien.
Ustadz ini adalah pertanyaan saya yang ke 4, alaupun tak satupun belum dapat balasan, namun saya tidak bosan untuk bertanya.
Pertanyaan saya adalah, apa itu wahabi? Apakah iyanyanya termasuk ahlulsunnah? Kalau pengikut wahabi dinisbatkan kepada Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, kenapa pengikutnya tidak dikatakan Muhammadi/Muhammadiyah?

Tolong ustadz jelaskan apa manhajnya, karena terdapat penafsiran yang berbeda-beda di masyarakat tentang wahabi ini.
Saya pernah mendengar di stasiun TV nasional sewaktu raja Fahd meninggal, reporter tersebut mengatakan, "Kuburan raja Fahd dirahasiakan, karena menurut pengikut wahabi berziarah kubur adalah sesuatu yang diharamkan." Apakah benar demikian menurut pemahaman Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab?
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih. Semoga ustadz diberi pahala dan keberkahan, amien.
Sayid Syafrizal



Jawaban:

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu 'ala rasulillah, wa ba'du

Sebelumnya, kami mohon maaf apabila pertanyaan anda yang sudah empat kali itu baru bisa terjawab pada hari ini. Dan kami ucapkan terimakasih atas kesabaran anda.

Istilah wahabi sebenarnya bukan istilah baku dalam literatur Islam. Dan penisbahan istilah wahabi kepada sebagian umat Islam pun kurang objektif. Meski istilah `wahabi` bila kita runut dari asal, memang mengacu kepada tokoh ulama besar di tanah Arab yang bernama lengkap Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi Al-Najdi (1115-1206 H atau 1703-1791 M). Namun para pendukung dakwah beliau umumnya menolak bila dikatakan bahwa gerakan mereka adalah gerakan wahabiyah. Justru mereka lebih sering menggunakan istilah ahlisunnah wal jamaah atau dakwah salafiyah.

Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir di 'Uyainah dan belajar Islam dalam mazhab Hanbali. Beliau telah menghafal Al-Qur'an sejak usia 10 tahun. Dakwah beliau banyak disambut ketika beliau datang di Dar`iyah, bahkan beliau dijadikan guru dan dimuliakan oleh penguasa setempat saat yaitu pangeran (amir) Muhammad bin Su`ud yang berkuasa 1139-1179. Oleh amir, dakwah beliau ditegakkan dan akhirnya menjadi semacam gerakan nasional di seluruh wilayah Saudi Arabia hingga hari ini.

Pokok ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab

Sosok Muhammad bin Abdul Wahhab menjadi pelopor gerakan ishlah (reformasi). Sosok beliau muncul menjelang masa-masa kemunduran dan kebekuan berpikir pemikiran dunia Islam, yaitu sekitar 3 abad yang lampau atau tepatnya pada abad ke-12 hijriyah. Dakwah ini menyerukan agar aqidah Islam dikembalikan kepada pemurnian arti tauhid dari syirik dengan segala manifestasinya.

Sementara fenomena umat saat itu sungguh memilukan. Mereka telah menjadikan kuburan menjadi tempat pemujaan dan meminta kepada selain Allah. Kemusyrikan telah merajalela dan merata di hampir semua penjuru negeri. Bid`ah, khurafat dan takhayyul menjadi makanan sehari-hari. Dukun berkeliaran ke sana ke mari, ramalan-ramalan dari syetan sangat digemari, sihir menjadi aktifitas umat, ilmu ghaib seolah menjadi alternatif untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan umat Islam.

Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab saat itu bangkit mengajak dunia Islam untuk sadar atas kebobrokan aqidah ini. Beliau menulis beberapa risalah untuk menyadarkan masyarakat dari kesalahannya. Salah satunya adalah kitabut-tauhid, yang hingga kini masih menjadi rujukan banyak ulama di bidang aqidah.

Dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab ini kemudian melahirkan gerakan umat yang aktif menumpas segala bentuk khurafat, syirik, bid`ah dan beragam hal yang menyeleweng dari ajaran Islam yang asli. Mereka melarang membangun bangunan di atas kuburan, juga mengharamkan untuk menyelimuti kuburan atau memasang lampu di dalamnya. Mereka juga melarang orang meminta kepada kuburan, orang yang sudah mati, dukun, peramal, tukang sihir dan tukang teluh. Mereka juga melarang tawassul dengan menyebut nama orang shaleh seperti kalimat bi jaahirrasul atau keramatnya syeikh Fulan dan Fulan.

Dakwah beliau lebih tepat dikatakan sebagai dakwah salafiyah. Dakwah ini telah membangun umat Islam di bidang aqidah yang telah lama jumud (beku) akibat kemunduran aqidah umat. Dakwah beliau sangat memperhatikan pengajaran dan pendidikan umum serta merangsang para ulama dan tokoh untuk kembali membuka literatur kepada buku induk dan maraji` yang mu`tabar, sebelum menerima sebuah pemikiran.

Sebenarnya mereka tidak pernah mengharamkan taqlid, namun meminta agar umat ini mau lebih jauh meneliti dan merujuk kembali kepada nash-nash dan dalil dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta pendapat para ulama salafus shalih.

Di antara tokokh ulama salaf yang paling sering mereka jadikan rujukan adalah:

a. Imam Ahmad ibn Hanbal (164-241 H)
b. Ibnu Taimiyah (661-728 H)
c. Muhammad Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (6691-751H)

Oleh banyak kalangan, gerakan ini dianggap sebagai pelopor kebangkitan pemikiran di dunia Islam, antara lain gerakan Mahdiyah, Sanusiyah, Pan Islamisme-nya Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh di Mesir dan gerakan lainnya di benua India. Paling tidak, masa hidup Muhammad bin Adbul Wahhab lebih dahulu dari mereka semua. Dalam penjulukan yang kurang tepat, gerakan ini sering dijuluki dengan wahabi. Namun istilah ini tidak pernah diterima oleh mereka yang ikut mengembangkan dakwah salafiyah.

Demikian sekelumit tentang gerakan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Maka dengan demikian, sesungguhnya dakwah ini juga dakwah ahlisunnah wal jamaah. Sebab tetap berpegang kepada sunnah Rasulullah SAW dan juga para jamaah (shahabat ridhwanullahi 'alaihim).

Para pendiri dakwah ini umunya bermazhab fiqih dengan mazhab Al-Hanabilah, jadi tidak benar kalau dikatakan mereka anti mazhab. Namun memang mereka tidak selalu terikat dengan mazhab tersebut dalam fatwa-fatwanya. Terutama bila mereka menemukan dalil yang lebih rajih. Oleh karena itu dakwah merka sering disebut La Mazhabiyyah, namun sebenarnya lebih kepada masalah ushul, sedangkan masalah furu`nya, mereka tetap pada mazhab Al-Hanabilah.

Dakwah ini jelas-jelas sebuah dakwah ahlisunnah wal jamaah serta berpegang teguh dengannya. Mereka menyeru kepada pemurnian tauhid dengan menuntut umat agar mengembalikan kepada apa yang dipahami oleh umat Islam generasi pertama.

Sedangkan bila dikatakan bahwa dakwah ini mengharamkan ziarah kubur, sebenarnya tidak juga. Sebab mereka pun mengakui bahwa ziarah kubur itu ada masyru'iyahnya dari syariat Islam.

Dahulu Aku (Rasulullah SAW) melarang kalian ziarah kubur, namun sekarang silahkan berziarah kubur. (HR Muslim dan merupakan hadits Shahih dan terdapat dalam syarah imam Nawawi)

bersambung
 
sambungan

Hanya saja mereka agak lebih berhati-hati, agar jangan sampai niat ziarah yang baik itu dirusak dengan praktek-praktek yang diharamkan. Seperti meminta doa dari ahli kubur, meminta keberkahan, minta diselamatkan, minta dilindungi, minta jodoh, rizqi dan sebagainya. Sebenarnya praktek seperti inilah yang mereka takutkan. Dan memang praktek seperti ini tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Sebab tempat meminta itu hanya kepada Allah SWT saja, bukan kepada kuburan.

Wallahu a'lam bish-shawab, Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ahmad Sarwat, Lc

Sumber: http://www.eramuslim.com/ks/us/59/21172,1,v.html

dipetik dari JAKIM..
'Fahaman Wahabi Berasaskan Pemikiran Ibnu Taimiyyah' Oleh: Ghafani Awang Teh (JAKIM)

Gerakan Wahabi diasaskan oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi (1703 – 1791 M) lahir di Uyaynah utara Riyadh di daerah Nejad Arab Saudi. Bapanya adalah seorang qadhi di Nejad yang berpegang kepada akidah Ahli Sunnah wal-Jamaah. Selain berguru dengan bapanya beliau juga berguru dengan ulama-ulama Ahlu Sunnah Wal-Jamaah di Mekah dan Madinah. Gurunya yang terkenal di Madinah ialah Syeikh Muhammad Hayat yang menulis kitab Al-Hashiyah ‘Ala Sahih al-Bukhari.

Imam Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan seorang ulama’ yang banyak dipengaruhi Mazhab Hanbali tetapi pegangan tauhidnya berasaskan fikrah Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim yang juga bermazhab Hanbali. Beliau tertarik dengan pemikiran dua pemikir dan cuba menghidupkan kemabli konsep pemikiran Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim.

Ibnu Taimiyyah ( 1263 – 1328 M) adalah seorang pemikir besar umat Islam. Pemikiran Ibnu Taimiyyah menimbulkan bantahan beberapa ulama berfahaman akidah Ahli Sunnah Wal-Jamaah yang sedang menguasai pemikiran akidah pada masa itu sehingga ia di penjara, dilarang menulis dalam penjara dan akhirnya meninggal dunia dalam penjara di Damshik Syiria. Ibnu Qayyim (1292 – 1350 M) adalah juga murid kepada Ibnmu Taimiyyah.

Secara umumnya Syeikh Mohammad bin Abdul Wahab muncul ketika pengaruh Mazhab Hanbali sedang merosot dan umat Islam pada masa itu banyak melakukan pencemaran akidah seperti khurafat, bid’ah dan wakil gabenor Turki pula terlibat dengan rasuah. Beliau telah melancarkan reformasi dan pembaharuan di semenanjung Arab dalam usaha membersihkan mengembalikan umat Islam kepada ajaran sebenar al-Quran dan Hadis Sahih Rasulullah s.a.w. Usahanya mendapat sokongan beberapa pemimpin kabilah Arab di Nejad.

Berasaskan gerakan reformasi inilah maka ia beruasaha menghapuskan rasuah, segala macam bid’ah, khurafat dan pelbagai perbuatan yang membawa kepada syirik. Penegak-penegak fahaman Wahabi ini juga menamakan fahaman mereka sebagai kumpulan Salafi iaitu kumpulan yang tidak terikat dengan mana-mana mazhab seperti mana yang berlaku di zaman Rasulullah dan kepimpinan sahabat-sahabat selepasnya.

Bagaimana pun terdapat juga penganalisis politik Arab bahawa gerakan Wahabi ini lahir sebagai usaha untuk membebaskan bangsa Arab dari pemerintahan Kerajaan Uthmaniah Turki yang menguasai negara Arab pada masa itu. Muhammad bin Saud (pengasas pemerintah Kerajaan Arab Saudi sekarang) telah memimpin kabilah Arab dan mendapat sokongan British berjaya memerintah Arab Saudi. Muhammad bin Saud dan pengasas fahaman Wahabi itu telah bersatu dalam usaha mengukuhkan kepentingan masing-masing dan usaha mereka berjaya. Kerajaan Uthmaniah Turki gagal mengawal kebangkitan Muhammad bin Saud dan perkembangan gerakan Wahabi kerana sibuk memnperkukuhkan penyebaran Islam di Eropah.

Menurut sumber sejarah ulama Mekah dan Madinah pada awalnya menentang fahaman Wahabi di mana berlaku isu kafir mengkafir yang hebat di antara ulama Ahli Sunnah Wal-Jamaah dengan ulama Wahabi. Bagaimana pun gerakan Wahabi berjaya menawan dua tempat suci itu maka bermulalah fahaman itu bertapak kukuh.

Pada prinsipnya fahaman Wahabi ini membuat terjemahan serta tafsiran al-Quran dan hadis sebulat-bulatnya mengikut fahaman pemimpin mereka serta ditegaskan dengan pendirian keras pergerakan itu. Mereka juga dikatakan menolak fahaman 4 Mazhab utama serta pegangan Ahli Sunnah Wal-Jamaah.

Menurut K.H Sirajudin Abbas seorang ulama besar Indonesia dalam buku 40 Soal-Jawab Agama menyatakan konsep moden fahaman Wahabi antaranya adalah seperti berikut:

. Dalam mempelajari ilmu Usuludin hendaklah berpegang kepada fahaman yang diasaskan oleh Ibnu Taimiyyah.

. Di dalam amalan fiqh pula tidak berpegang kepada mana-mana mazhab malah boleh menampal antara satu sama lain (Talfiq).

. Berpegang kepada sumber al-Quran dan hadis sahih sahaja tanpa berpegang kepada Ijmak dan Qias.

. Melarang keras umat Islam berdoa melalui tawassul (perantaraan).

. Melarang ziarah kubur walaupun maqam Rasulullah s.a.w. Kerajaan Arab Saudi membenarkan Jemaah Haji dan Umrah menziarah Maqam Rasulullah itu adalah atas dasar menziarahi Masjid Nabawi.

. Menghancurkan tugu-tugu peringatan kerana semua itu menjadikan umat Islam syirik.

. Melarang membaca qasidah dan berzanji yang memuji Rasulullah s.a.w. tahlil dan seumpamanya.

. Melarang umat Islam mengadakan sambutan hari-hari kebesaran Islam seperti Maulid Nabi, Isra’ Mikraj dan lain-lain.

Melarang umat Islam belajar sifat 20 dan seumpamanya.

. Fahaman Asa’ari iaitu fahaman Ahlu Sunnah Wal-Jamaah dibuang jauh-jauh.

. Imam dilarang membaca Bismillah pada permulaan Fatihah.

. Tidak boleh membaca wirid-wirid yang memuji Rasulullah.

. Tidak boleh melagu-lagukan lafaz al-Quran dan laungan azan tetapi boleh baca dengan lurus sahaja.

. Menghadakan majlis zikir secara berjemaah dilarang.

. Amalan tariqah dilarang sama sekali.

. Amalan berwirid selepas solat berjemaah dilarang keras.

Fahaman Wahabi menjadi pegangan Kerajaan Arab Saudi yang menguasai Masjidil Haram Mekah dam Masjid Nabawi Madinah. Berdasarkan penguasaan dua tempat suci ini maka fahaman Wahabi terus bertapak kukuh. Malah Kerajaan Arab Saudi menjadi negara Islam paling banyak menyumbangkan dana-dana untuk perkembangan dakwah dan syiar Islam di seluruh dunia.

Di negara kita Kerajaan Perlis Indera Kayangan satu-satunya negeri yang tidak berpegang kepada mana-mana mazhab. Mereka mendakwa berpegang kepada al-Quran dan hadis sahih sepenuhnya seperti mana yang diamalkan di Arab Saudi. Terdapat kalangan pelajar Malaysia yang belajar di Arab Saudi dan mahir dalam selok belok hukum tertarik dengan fahaman Wahabi dan mengembangkannya di Malaysia.

Penerapan fahaman Wahabi di kalangan umat Islam di negara ini yang sejak berkurun lama berakar umbi dengan Akidah Ahli Sunnah Wal-Jamaah telah menimbulkan salah faham di kalangan umat Islam. Manakala bagi orang awam yang kurang mahir dalam selok belok mazhab maka lebih baik bertaqlid dengan pegangan mazhab sedia ada.

Hakikatnya fahaman Wahabi tidak membawa pemikiran baru tentang akidah. Mereka hanya mengamalkan apa yang telah dikemukakan oleh Ibnu Taimiyyah dalam bentuk yang lebih keras berbanding apa yang diamalkan oleh Ibnu Taimiyyah sendiri. Perkembangan fahaman Wahabi dan penerapan mazhab lain dalam masyarakat Islam di negara ini tidak dapat dielakan kerana kesan pengglobalan ilmu di dunia hari ini.

Malah dalam penghayatan muamalah dan sisitem perbankan Islam di negara ini dan di dunia sekarang banyak menggunakan kaedah yang terdapat dalam Mazhab Hanafi.

Kesimpulannya dari segi tauhid fahaman Wahabi bukan ajaran baru dan juga tidak termasuk antara 73 cabang ajaran sesat seperti mana yang dijelaskan ulama berdasarkan huraian hadis penjelasan 73 ajaran sesat itu.
Tarikh : 23 Disember 2006
Sumber : Pengarah Bahagian ILIM
Editor : PRO JAKIM
Hits : 1635
 
Korban amalan yang disukai Allah

SOALAN: Boleh ustaz jelaskan hukum ibadah korban dan cara terbaik pengagihan dagingnya.Adakah boleh melakukan korban untuk arwah ibu bapa atau sanak saudara?

JAWAPAN
Hukum menjalankan ibadah korban adalah sunat muakkad dan bukannya wajib. Pandangan ini merupakan pendirian jumhur sahabat, seperti Abu Bakar, Umar, Bilal, Ibn Mas’ud, Said bin al-Musayyab, al-Qamah serta sebilangan ulama seperti Imam al-Syafie, Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal, melainkan Imam Abu Hanifah berpendapat ia wajib bagi mereka yang mampu melakukannya.

Namun perlu diketahui bahawa sunat muakkad merupakan suatu tuntutan namun bukanlah wajib, justeru adalah afdal bagi mereka yang mampu mengerjakan ibadah korban pada hari raya Aidiladha, atau pada mana-mana hari tasyrik. Pandangan Imam al-Sayfie: “Aku tidak melonggarkan hukum korban bagi mereka yang mampu melakukannya, maksudnya makruh meninggalkannya bagi mereka yang mampu. (Shams al-Din al-Syarbaini, al-Iqna’, jld:2, hlm: 565).

Firman Allah s.w.t: Maka dirikanlah solat kerana Tuhanmu semata-mata dan sembelihlah korban. (al-Kawthar: 2 ).

Hadis Rasulullah s.a.w daripada Aisyah r.a.h, sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak ada satu amalanpun yang lebih disukai oleh Allah pada hari raya korban melainkan menumpahkan darah binatang dengan menyembelihnya, sesungguhnya binatang yang dikorbankan itu akan datang pada hari akhirat bertemu tuannya (orang yang mengorbankannya) dengan tanduknya, kulitnya serta bulunya, dan sesungguhnya kebajikan (pahala) korban itu akan ditetapkan Allah kepadanya sebelum darah korban itu menitik ke bumi, oleh itu sucikanlah diri kamu dengan melakukan ibadah korban. (Riwayat Ibn Majah dan al-Tarmidzi ).

Pada pandangan al-Syawkani: Bagi mereka yang mampu adalah lebih baik baginya melakukan ibadah korban daripada bersedekah dengan duit tersebut, ini kerana hadis Rasulullah s.a.w menyebut tiada amalan yang paling disukai oleh Allah pada hari raya korban melainkan dia melakukan korban. (al-Syawkani, Nail al-Awthar: jld:8, hlm:618)

Adalah disunatkan menyembelih binatang korban oleh tuannya sendiri (orang yang melakukan ibadah korban). Namun timbul di sana beberapa masalah di antaranya binatang warna apakah yang afdal dikorbankan?.Sepanjang pembacaan saya dalam kitab-kitab muktabar dalam fikah dan hadis belum ada nas yang ditemui mengenai warna yang disaran dan dikira afdal warna tertentu. Kalau ada mungkin riwayatnya berpaksi kepada israiliyyat yang di bawa masuk daripada ahli kitab. Wallahu a’lam.

Apa yang perlu diberi perhatian dalam ibadah korban ialah maqsadnya iaitu matlamatnya, ini jelas dalam firman Allah: Daging dan darah binatang korban itu sama sekali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya ialah amal yang ikhlas yang berdasarkan takwa daripada kamu. (al-Haj: 37).

Jelas dalam ayat ini yang dilihat dan dinilai oleh Allah ialah keikhlasan seseorang di dalam mengabdikan diri kepada Allah melalui ibadah korban. Falsafahnya ialah dengan mengalirnya darah binatang di atas bumi terhakis jugalah hendaknya sifat-sifat mazmumah dari diri seseorang.

Empat perkara yang perlu diberi perhatian sebelum menyembelih binatang; 1- Tidak buta atau cacat penglihatan, 2- Tidak tempang sehingga mencacatkan pengerakan binatang korban, 3- Tidak sakit/ binatang yang berpenyakit, 4- Tidak terlalu kurus.

Ada enam perkara sunat yang perlu dipelihara ketika melakukan penyembelihan; 1- Menyebut nama Allah, 2- Selawat dan salam ke atas Rasulullah, 3- Menghadap kiblat, 4- Takbir tiga kali, 5- Doa supaya ibadat korban diterima Allah s.w.t, sekurang-kurang berdoa: “Ya Allah sesungguhnya binatang yang disembelih ini daripada engkau dan kami kembalikan kepada engkau, maka terimalah ia daripada kami.” Dan ditambah lagi dengan tiga perkara: 6- Menajamkan alat penyembelih, 7- Alat penyembelih yang sesuai serta boleh memutuskan urat pernafasan dan saluran makanan, 8- Membaringkan binatang sembelihan pada lambung kirinya, 9- Ikat kakinya.

Pembahagian dagingnya pula adalah lebih baik di bahagikan kepada tiga bahagian: sepertiga dari daging korban disedekahkan, sepertiga yang lain dimasak dan diberi makan dan sepertiga yang lain diambil oleh orang yang melakukan korban.

Namun adalah afdal jika dapat disedekahkan keseluruhannya dan orang yang melakukan korban itu mengambil sedikit untuk makan dengan ahli keluarganya. Adalah ditegah dan haram hukumnya menjual beli dengan daging korban atau apa-apa sahaja daripada binatang korban.

Firman Allah s.w.t: Maka makanlah kamu daripada daging binatang-binatang korban itu dan berilah makan kepada orang yang susah dan orang yang fakir miskin. (al-Haj: 28).

Setiap bahagian daripada binatang korban itu hendaklah dimanfaatkan, termasuklah kulitnya.

Mengenai bolehkah membuat korban untuk arwah keluarga, jawapannya boleh. Ini berdasarkan kepada pendapat Dr. Yusof al-Qardawi yang dipetik menyebut: Harus melakukan ibadah korban bagi arwah atau untuk si mati, sekiranya suasana masyarakat masih memerlukan daging.” (lihat; fatwa al-Qardawi di laman Islamonline.net)

Pada hari ini ada tempat-tempat yang tertentu masih memerlukan daging, justeru tidak salah jika seseorang ingin menyedekahkan kepada ibubapanya atau sanak saudaranya yang sudah tiada sebagai satu amalan kebajikan yang kita harapkan mereka di alam barzakh mendapat manfaatnya.
 
Back
Top
Log in Register