Suatu hari Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada Ibrahim bin Adham,
''Bagaimana model kehidupan Anda?'' Ibrahim menjawab, ''Jika kami
memperoleh rezeki kami bersyukur, jika tidak maka kami bersabar.''
''Itu sama halnya dengan kebiasaan anjing-anjing di Khurasan,'' timpal
Syaqiq. Ibrahim bertanya, ''Memangnya bagaimana model kehidupan Anda?''
Syaqiq menjawab, ''Jika kami mendapat rezeki, maka kami dermakan, jika
tidak maka kami bersyukur.'' ''Anda pasti seorang mahaguru (tasawuf),''
kata Ibrahim bin Adham. Kisah dalam kitab Nafahat al-Uns
karya Jami di atas itu, menyiratkan kesimpulan bahawa sikap tidak mementingkan diri sendiri hampir susah kita jumpai di dunia
manapun dan zaman apa pun. Jangankan mendermakan rezeki ketika menerima
(model Syaqiq al-Balkhi itu), bersyukur saja ketika mendapatkan rezeki
(model Ibrahim bin Adham) mungkin belum tentu.
Yang ada adalah,
jika tidak memperoleh rezeki manusia umumnya berkeluh kesah, dan jika
sudah mendapatkannya maka ia ingin tambah terus dan terus.
Jika orang yang hanya bersyukur jika
mendapat rezeki dan bersabar ketika tidak mendapat rezeki oleh Syaqiq
Balkhi diibaratkan tak ubahnya anjing, maka bagaimana dengan mereka
yang tak pernah bersyukur dan tak pernah merasa puas dengan apa yang
sudah diterimanya? Tentu bererti mereka lebih hina lagi.
Alasannya, mereka tidak pernah bersyukur. Sebaliknya, mereka berfikiran
bahwa segala yang mereka dapatkan adalah hasil jerih payah mereka.
Mendermakan sebagian hartanya dianggap sebagai tindakan merugikan diri
sendiri.
Apa yang pernah disabdakan oleh Nabi SAW sangatlah
sesuai untuk mengilustrasikan 'gaya hidup' mereka ini. Kata Nabi Saw,
sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah, ''Seorang anak Adam jika
memiliki segunung emas, maka ia pasti ingin memiliki dua (gunung emas).
Ia tak akan pernah puas, hingga tanah memenuhi lubang hidungnya
(mati).'' (HR Bukhari dan Muslim). Nauzubillahi min dzalik. Semoga kita terhindar dari sifat yang demikian.