BTC USD 84,783.3 Gold USD 4,140.83
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Falsafah Berpuasa

Ibadat puasa adalah ibadah dikerjakan dengan berlapar dan berdahaga sepanjang hari iaitu sejak terbitnya fajar sodiq (masuk waktu Subuh) hingga terbenamnya matahari (masuk waktu Maghrib). Antara hikmah dan faedah ibadat puasa ialah menginsafkan diri bahawa kita pada hakikatnya adalah makhluk yang dhaif yang perlu sentiasa menghampirkan diri dan beribadat kepada Allah s.w.t. serta mengharapkan limpah kurnia-Nya.

Firmah Allah s.w.t. menjelaskan tentang hikmah puasa Ramadhan yang bermaksud:

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan berpuasa atas kamu sebagaimana diwajibkan atas umat-umat yang terdahulu sebelum kamu, semoga kamu bertakwa" (Surah al-Baqarah:183)

Dengan puasa juga, kita akan memperolehi kesihatan jasmani dan rohani. Sabda Nabi Muhammad s.a.w. yang bermaksud: "Berpuasalah kamu, tentu kamu akan sihat." Sabda Baginda Rasulullah s.a.w. lagi: "Perut besar itu adalah sarang penyakit dan banyak makan itu punca segala penyakit."

Selain daripada itu, puasa juga mempunyai hikmah dan faedah seperti:

*

Tanda bersyukur kepada Allah s.w.t. atas limpah kurnia nikmatNya yang tidak terhingga
*

Mendidik nafsu ammarah (yang lebih banyak mengajak kepada keburukan) agar berubah menjadi nafsu lawwamah dan seterusnya meningkat kepada nafsu mutmainnah yakni nafsu yang tenang tenteram, bersedia menjunjung titah perintah Allah s.w.t.
*

Melatih dan mendidik jiwa supaya mempunyai sifat kasihan belas terhadap orang-orang yang susah menderita dan kurang bernasib baik kehidupan mereka
*

Membersihkan diri daripada sifat-sifat mazmumah (keji) seperti tamak, sombong, hasad dengki dan lain-lain lagi
*

Mendidik jiwa supaya bersifat sabar, tahan menanggung kesusahan dan pelbagai cabaran dalam menempuh perjuangan hidup
*

Memperolehi kecerdasan akal dan fikiran sebagaimana disebut dalam satu riwayat maksudnya: "Orang yang lapar perutnya itu tajamlah fikirannya dan teranglah hatinya."

Oleh kerana sangat besar faedah dan manfaatnya ibadah puasa kepada kita, maka selain puasa yang wajib pada bulan Ramadhan, ada lagi puasa-puasa sunat yang elok dilakukan sepanjang tahun iaitu seperti yang akan disebutkan nanti.
 
FADHILAT PUASA RAMADHAN

Puasa pada bulan Ramadhan difardhukan kepada setiap individu Muslim dan Muslimah yang telah 'aqil baligh dan ketiadaan uzur syar'i. Uzur puasa seperti sakit dan dalam perjalanan (musafir) sejauh 91km. atau lebih. Orang yang uzur boleh meninggalkan puasanya. tetapi wajib mengqadhanya pada hari dan bulan yang lain.

Puasa Ramadhan adalah menjadi salah satu rukun Islam yang kelima. Pahala melakukannya tersangat besar, sebagaimana sabda Nabi Muhammad s.a.w. yang bermaksud: "Sesiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dalam keadaan beriman dan kerana menuntutkan keredhaan Allah s.w.t., nescaya diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu." (Rujuk: Al-Targhib II:206)

Sabda Baginda Rasulullah s.a.w.: "Setiap amanalan anak Adam (manusia) itu digandakan satu kebaikan dengan sepuluh yang seumpamanya hingga kepada 700 kali ganda. Firman Allah s.w.t. (maksudnya) :" Kecuali puasa yang dikerjakan untuk Ku, maka Aku-lah yang membalasnya. Dia menahan syahwatnya dan meninggalkan makan kerana Aku" Bagi orang yang puasa itu ada dua kegembiraan, iaitu gembira ketika berbuka (atau berhari raya) dan gembira ketika menemui Tuhannya kelak. Dan, demi bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum daripada bau kasturi." (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)
 
Memasuki bulan Ramadhan merupakan nilai kenikmatan lahir dan batin yang luar biasa dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan diri bagi umat muslim di dunia. Bulan Ramadhan memiliki nuansa perbedaan yang sangat dirasakan oleh diri kita, di mana pahala yang didapati oleh kita dalam melakukan ibadah dan amal kebaikan memiliki nilai yang berlipat ganda dari Allah SWT.
 
Kata “puasa” dalam bahasa Arab, adalah “Ash-Shaumu” atau “Ash-Shiyaamu”. Sedangkan kata “Ash-Shiyaamu” menurut bahasa Arab adalah semakna dengan “Al-Imsaku” artinya : menahan dari segala sesuatu, seperti menahan makan, menahan bicara, menahan tidur, atau dengan kata lain: mampu mengendalikan diri dari segala sesuatu (Al-Imsaaku wal-kaffu ‘anisy-syai)

Adapun kata “Ramadhaana” berasal dari kata “Ramadha” yang semakna dengan “Al-harru”. Artinya udara dan hawa yang sangat panas dalam bulan Ramadhan, lebih-lebih bagi orang yang puasa, tenggorokannya menjadi lebih kering, juga perutnya sangat lapar, karena udara yang sangat panas. Atau kata “Ramadha” itu semakna dengan “ihtaraqa” artinya panas yang membakar, atau bulan Ramadhan itu merupakan bulan pembakaran dan penghapusan dosa.

Sedangkan puasa (Ash-shiyaamu) menurut istilah (syari’at) agama Islam ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan (membukakan) selama satu hari penuh, sejak dari terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahari dengan niat mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.

Ibadah puasa bulan Ramadhan itu adalah salah satu rukun Islam yang lima, diwajibkan pada tahun kedua hijriyyah, yaitu tahun kedua sesudah Nabi Muhhammad SAW, berpindah ke Madinah. Hukumnya fardhu’ain atas tiap-tiap orang mukallaf (baligh dan berakal).

Rasulullah sendiri telah mengerjakan puasa sembilan kali Ramadhan, delapan kali dengan puasa dua puluh sembilan hari, dan satu kali cukup tiga puluh hari. Dalam hal ini beliau bersabda : “Bulan itu kadang-kadang tiga puluh hari, kadang-kadang dua puluh sembilan hari” (Riwayat Hadits Bukhari).

Puasa Ramadhan sebagai Rukun Islam bukan hanya merupakan kegiatan yang bersifat ritual saja. Tetapi juga mengandung macam-macam hikmah dan nilai yang sangat luhur, baik ditinjau dari segi akidah Islamiyah, segi syari’ah, segi kejiwaan (psikologi) serta segi jasmaniyah (fisiologi) maupun segi kemasyarakatan (sosiologi).

Ditinjau dari segi akidah, puasa sebagai didikan kepercayaan (keimanan) atau dengan kata lain, sebagai testing kualitas seseorang secara individual, sejauh mana tingkat keimanannya kepada Allah SWT. Disamping dari segi syari’ah (hukum Islam), maka puasa jelas hukumnya wajib (fardhu ‘ain) bagi setiap orang Islam. Dari segi psikologi (kejiwaan), mengandung nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab, sehingga manusia terjauh dari dusta, dengki, dendam, marah, khianat, curang dan lain sebagainya, dan juga membentuk manusia berjiwa social, sehingga menjadi dermawan.

Dari segi fsikologi, puasa dapat memelihara kesehatan badan, oleh karena mengatur makan dan minum menjadi pokok yang penting dalam memelihara dan menjaga kesehatan jasmani. Dari segi kemasyarakatan (sosiologi) puasa dapat menghilangkan bibit-bibit diskriminasi pergaulan dan mempertebal semangat persaudaraan serta memperkuat ruh kesetiakawanan dan perdamaian.
 
Di antara syahwat besar yang dapat menyesatkan manusia adalah syahwat perut dan kemaluan. Puasa membiasakan jiwa mengendalikan kedua syahwat tersebut.

“Puasa adalah separuh kesabaran” [HR. Tirmidzi & Ibnu Majah, sanad hasan].

Ada tiga tingkatan puasa:

1. Puasa orang awam: menahan perut dan kemaluan dari mengikuti kemauan syahwat.

2. Puasa orang khusus: menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan semua anggota badan dari berbagai dosa.

3. Puasa orang super khusus : puasa hati dari berbagai keinginan rendah dan pikiran-pikiran yang tidak berharga; juga menahan hati dari selain Allah secara total. Aktifitas duniawi mereka pun diperuntukkan demi bekal akhirat.

Ada enam (6) cara menggapai puasa para shalihin (orang khusus):

a. Menundukkan pandangan dan menahannya dari berkeliaran memandang ke setiap hal yang dicela dan dibenci.

“Pandangan adalah salah satu anak panah yang beracun di antara anak panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah maka ia telah diberi Allah keimanan yang mendapatkan kelezatan di dalam hatinya.” [HR. al-Hakim -yg men-shahih-kan sanadnya].

b. Puasa lisan: menjaga lisan dari bualan, dusta, ghibah, gunjingan, kekejian, perkataan kasar, pertengkaran dan perdebatan; mengisinya dengan diam, dzikrullah dan tilawah al-Quran.

“Sesungguhnya puasa itu tidak lain adalah perisai; apabila salah seorang di antara kamu sedang berpuasa maka janganlah berkata kotor dan jangan pula bertindak *****; dan jika ada seseorang yang menyerangnya atau mencacinya maka hendaklah ia mengatakan sesungguhnya aku berpuasa, sesungguhnya aku berpuasa.” [HR. Bukhari & Muslim].

c. Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci (makruh) karena setiap yg diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarkannya. Allah SWT menyetarakan orang yang mendengarkan dan yang memakan barang yang haram, “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.” [Al-Maidah: 42].

d. Menahan berbagai anggota badannya dari berbagai dosa; seperti menahan tangan dan kaki dari hal-hal yang dibenci, menahan perut dari berbagai syubhat pada waktu tidak puasa. Tidak ada artinya berpuasa dari yang halal, tapi berbuka puasa dengan yang haram. Barang yang haram adalah racun yang menghancurkan agama, sedangkan barang yang halal adalah obat yang bermanfaat bila dikonsumsi sedikit tetapi berbahaya bila terlalu banyak.

Apa artinya pula berpuasa dari makanan halal tapi ‘memakan daging manusia’ (berghibah -yang notabene haram) ketika berbuka.

“Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi ia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.” [HR. Nasa'i & Ibnu Majah].

e. Tidak memperbanyak makanan yang halal pada saat berbuka puasa sampai penuh perutnya. Tujuan puasa ialah pengosongan dan menundukkan nafsu untuk memperkuat jiwa mencapai taqwa. Dan esensi puasa adalah melemahkan berbagai kekuatan yang menjadi sarana syetan untuk kembali kepada keburukan. Semua ini tidak akan tercapai kecuali dengan mengurangi makanan yang biasa dimakan pada di tiap malam ketika tidak berpuasa. Bahkan di antara adabnya adalah mengurangi tidur siang agar merasakan lapar kemudian berusaha agar setiap malam bisa bertahajjud beserta wiridnya sehingga hatinya menjadi jernih, karena bisa jadi syetan tidak mengitari hatinya dan dia bisa melihat berbagai keghaiban langit.

f. Ber-ifthar dengan hati cemas dan harap, mengkhawatirkan ‘nilai’ puasanya. Hendaklah hati dalam keadaan demikian di akhir setiap ibadah yang baru saja dilaksanakan. Sebagian ulama’ berkata: ‘berapa banyak orang yang berpuasa sesungguhnya dia tidak berpuasa dan berapa banyak orang yang tidak berpuasa tetapi sesungguhnya dia berpuasa.

-Diringkas dari “Rahasia Puasa dan Syarat-Syarat Batinnya”, buku Tazkiyatun Nafs susunan Sa’id Hawwa-
 
Puasa ini juga yang dilakukan oleh orang2 sebelum kita, sebagaimana dalam firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS 2 : 183).



Didalam firman surat Al Baqarah ayat 183 tersebut kita harus menyadari bahwa sebenarnya puasa ini adalah mengerem hawa nafsu kita. Semua perbuatan yang tidak baik harus kita hilangkan.

Dan sebenarnya Allah memberikan ramadhan, bulan yang penuh rahmat ini kepada kita, agar kita itu senantiasa ingat untuk tidak melakukan hal yang buruk di dunia ini. Rasa sayang Allah yang sedemikian besar sehingga memberikan bulan ramadhan ini kepada kita, subhanallah.

Tahukah kita apa yang ada dalam firman Allah tadi ?

Kita orang beriman diwajibkan untuk berpuasa, setelah kita berpuasa diharapkan oleh Allah Ta’ala agar kita menjadi orang yang takwa.

Begini urut-urutannya, pertama kita haruslah termasuk orang yang beriman dahulu, kemudian melakukan puasa, puasa itu selain tidak makan dan minum sebetulnya pelajaran utamanya adalah mengerem semua hawa nafsu yang tidak baik. Baik itu amarah, baik itu ghibah, baik itu su’udon, baik itu memukul orang, memaki orang. Semua yang tidak baik itu harus kita hilangkan dari hati kita yang memang penuh dengan dosa. Dari sanalah kalau kita bisa melakukan puasa di bulan ramadhan dengan baik dan benar, dan barulah kita digolongkan orang yang takwa oleh Allah Ta’ala

Saudaraku kita harus menyadari bahwasanya ramadhan ini adalah salah satu dari bulan-bulan yang paling baik bagi kita orang Islam. Tapi kita akan lebih bisa dekat kepada Allah Ta’ala, jika kita setiap hari berpuasa dengan setiap hari kita tidak mengumbar nafsu kita. Baik itu amarah, baik itu ghibah, baik itu memaki orang, baik itu mengambil hak orang lain dan lain sebagainya.Semua yang tidak baik, kita tidak lakukan semata-mata karena Allah, karena cinta kita kepada Allah, karena kita takut akan dosa yang kita lakukan kepada Allah.
 
Back
Top
Log in Register