BTC USD 84,993.4 Gold USD 4,140.83
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Falsafah Berpuasa

wanzex

CG Top Poster Club
gem
Messages
35,552
Joined
Jul 12, 2006
Messages
35,552
Reaction score
1,107
Points
191
Ternyata bukan hanya umat Muhammad yang berpuasa. Sejarah mencatat, sebelum kedatangan Muhammad, umat Nabi yang lain diwajibkan berpuasa. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, sejak Nabi Nuh hingga Nabi Isa puasa wajib dilakukan tiga hari setiap bulannya. Bahkan, nabi Adam alaihissalam diperintahkan untuk tidak memakan buah khuldi, yang ditafsirkan sebagai bentuk puasa pada masa itu. "Janganlah kamu mendekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim". (Al-Baqarah: 35).

Begitu pula nabi Musa bersama kaumnya berpuasa empat puluh hari.Nabi Isa pun berpuasa. Dalam Surah Maryam dinyatakan Nabi Zakaria dan Maryam sering mengamalkan puasa. Nabi Daud alaihissalam sehari berpuasa dan sehari berbuka pada tiap tahunnya. Nabi Muhammad saw.sendirisebelumdiangkat menjadi Rasul telah mengamalkan puasa tiga hari setiap bulan dan turut mengamalkan puasa Asyura yang jatuh pada hari ke 10 bulan Muharram bersama masyarakat Quraisy yang lain.

Malah masyarakat Yahudi yang tinggal di Madinah pada masa itu turut mengamalkan puasa Asyura. Begitu pula, binatang dan tumbuh-tumbuhan melakukan puasa demi kelangsungan hidupnya. Selama mengerami telur, ayam harus berpuasa. Demikian pula ular, berpuasa baginya untuk menjaga struktur kulitnya agar tetap keras terlindung dari sengatan matahari dan duri hingga ia tetap mampu melata di bumi. Ulat-ulat pemakan daun pun berpuasa, jika tidak ia tak kan lagi menjadi kupu-kupu dan menyerbuk bunga-bunga. Jika berpuasa merupakan sunnah thobi'iyyah (sunnah kehidupan) sebagai langkah untuk tetap survive, mengapa manusia tidak? Terlebih lagi jika kewajiban puasa diembankan kepada umat Islam, tentu saja memikili makna filosofis dan hikmah tersendiri. Karena, ternyata puasa bukan hanya menahan dari segala sesuatu yang merugikan diri sendiri atau orang lain, melainkan merefleksikan diri untuk turut hidup berdampingan dengan orang lain secara harmonis, memusnahkan kecemburuan sosial serta melibatkan diri dengan sikap tepa selira dengan menjalin hidup dalam kebersamaan, serta melatih diri untuk selalu peka terhadap lingkungan.

Rahasia-rahasia tersebut ternyata ada pada kalimat terakhir yang teramat singkat pada ayat 183 surah al-Baqarah. Allah swt memerintahkan: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa". (QS. Al-Baqarah:183). Allah swt mengakhiri ayat tersebut dengan "agar kalian bertakwa". Syekh Musthafa Shodiq al-Rafi'ie (w. 1356 H/1937 M) dalam bukunya wahy al-Qalam mentakwil kata "takwa" dengan ittiqa, yakni memproteksi diri dari segala bentuk nafsu kebinatangan yang menganggap perut besar sebagai agama, dan menjaga humanisme dan kodrati manusia dari perilaku layaknya binatang.

Dengan puasa, manusia dapat menghindari diri dari bentuk yang merugikan diri sendiri dan orang lain, sekarang atau nanti. Generasi kini atau esok. Dalam ibadah puasa, Islam memandang sama derajat manusia. Mereka yang memiliki dolar, atau yang mempunyai sedikit rupiah, atau orang yang tak memiliki sepeserpun, tetap merasakan hal yang sama: lapar dan haus. Jika sholat mampu menghapus citra arogansi individual manusia diwajibkan bagi insan muslim, haji dapat mengikis perbedaan status sosial dan derajat umat manusia diwajibkan bagi yang mampu, maka puasa adalah kefakiran total insan bertakwa yang bertujuan mengetuk sensitifitas manusia dengan metode amaliah (praktis), bahwasanya kehidupan yang benar berada di balik kehidupan itu sendiri.

Dan kehidupan itu mencapai suatu tahap paripurna manakala manusia memiliki kesamaan rasa, atau manusia "turut merasakan" bersama, bukan sebaliknya. Manusia mencapai derajat kesempurnaan (insan kamil) tatkala turut merasakan sensitifitas satu rasa sakit, bukan turut berebut melampiaskan segala macam hawa nafsu. Dari sini puasa memiliki multifungsi. Setidaknya ada tiga fungsi puasa: tazhib, ta'dib dan tadrib. Puasa adalah sarana untuk mengarahkan (tahzib), membentuk karakteristik jiwa seseorang (ta'dib), serta medium latihan untuk berupaya menjadi manusia yang kamil dan paripurna (tadrib), yang pada esensinya bermuara pada tujuan akhir puasa: takwa. Takwa dalam pengertian yang lebih umum adalah melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Takwa dan kesalehan sosial adalah dua wajah dari satu keping mata uang yang sama, mengintegral dan tak dapat dipisahkan. Ada sejenis kaidah jiwa, bahwasanya "cinta" timbul dari rasa sakit. Di sinilah letak rahasia besar sosial dari hikmah berpuasa.

Dengan jelas dan akurat, Islam melarang keras segala bentuk makanan, minuman, aktivitas seks, penyakit hati dan ucapan merasuki perut dan jiwa orang yang berpuasa. Dari lapar dan dahaga, betapa kita dapat merasakan mereka yang berada di garis kemiskinan, manusia papa yang berada di kolong jembatan, atau kaum tunawisma yang kerap berselimutkan dingin di malam hari atau terbakar terik matahari di siang hari. Ini adalah suatu sistem, cara praktis melatih kasih sayang jiwa dan nurani manusia. Adakah cara yang paling efektif untuk melatih cinta? Bukankah kita tahu bahwa selalu ada dua sistem yang saling terkait: yang melihat dan yang buta, yang cendikia dan yang awam, serta yang teratur dan yang mengejutkan. Jika cinta antara orang kaya yang lapar terhadap orang miskin yang lapar tercipta, maka untaian hikmah kemanusiaan di dalam diri menemukan kekuasaannya sebagai "sang mesias", juru selamat. Orang yang berpunya dan hatinya selalu diasah dengan puasa, maka telinga jiwanya mendengar suara sang fakir yang merintih. Ia tidak serta merta mendengar itu sebagai suara mohon pengharapan, melainkan permohonan akan sesuatu hal yang tidak ada jalan lain untuk disambut, direngkuh dan direspon akan makna tangisannya itu. Orang berpunya akan memaknai itu semua atas pengabdian yang tulus, iimaanan wa ihtisaaban. Semua karena Allah, karena hanya Dia Sang pemilik segalanya. * Dewan Eksekutif Sanggar Kinanah, sedang menempuh S1 al-Azhar university, jurusan Akidah dan Filsafat, Kairo. Bibliografi: 1. Al-Quran al-Karim, Departemen Agama. 2. Musthafa Shadiq al-Rafi'ie, wahy al-Qalam, Jilid II, maktabah al-Adab, 1936, Kairo. 3.Muhammad Ali al-Shobuni, Rowa'i al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam.
 
thavx :) info yg menarik :) :)cgrock
 
kita dah hampir nak sambut ramadhan.....syaaban pun dah try2 puasa... kire buat raptai lah ye...?
 
Nabi SAW bersabda : "Apabila tiba awal malam dalam bulan ramadhan diikat semua syaitan dan jin2 yang derhaka, ditutup semua pintu neraka dan dibuka pintu-pintu syurga. Dan tidak ditutup walaupun satu pintu. Lalu penyeru (malaikat) menyeru : "Wahai orang yang mengharapkan kebaikan, terimalah. Wahai orang yang mengharapkan kejahatan berhentilah. Dan yang ikhlas kerana Allah SWT dibebaskan dari api neraka dan penyeru itu menyeru pada setiap malam Ramadhan." (Riwayat Tirmidzi dan Ibn Majah)
 
Satu-satunya bulan yang disebut khusus oleh Allah SWT di dalam al-Qur'an, pada surah al-Baqarah ayat 185. Sebutan ini menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang paling istimewa mendahului bulan-bulan haram dan bulan yang lain.
 
Dari Abi Hurairah r.a, Nabi SAW juga bersabda : "Sesiapa yang berpuasa Ramadhan dgn penuh keimanan dan pengharapan nescaya akan diampun dosa-dosanya yang terdahulu." (Riwayat al-Syeikhan)

-Hadis ini menjelaskan kepada kita bahawa kehadiran Ramadhan itu secara automatik menghapus dosa-dosa kecil yang dilakukan jin dan manusia. Manakala dosa besar perlu diselesaikan dengan taubat Nasuha. Walaupun begitu, kita tidak boleh memandang remeh dosa-dosa kecil kerana tiada yang berhak mengampuni kita kecuali Dia. Tambahan pula, dosa-dosa kecil itu lama-kelamaan menjadi banyak dan meningkat. Apabila dilakukan ketaatan terhapus dosa yang dilakukan sebelumnya. Namun pabila ditaati 'larangan' Ramadhan penghapusan dosa semakin laju dan melebar tahun demi tahun. Alangkah bertuahnya seorang Mukmin, setiap tahun, bulan, minggu, hari dan selangan waktu solat dosanya diampunkan Allah SWT. Justeru, Memang patut untuk kita bersyukur dengan kehadiran Ramadhan yang mulia ini.
 
Di dalam hadis Qudsi, Nabi SAW bersabda : " Semua amalan anak adam digandakan kebaikannya 10x ganda sama nilainya sehingga 700x ganda. Allah SWT berfirman : "Melainkan puasa, kerana ianya untukKu. Aku sendiri yang akan membalasnya. Mereka meninggalkan syahwat dan makanan keranaKu." Bagi orang yang berpuasa mereka akan mendapat 2 kegembiraan. Kegembiraan ketika berbuka berpuasa dan kegembiraan ketika menemui Allah SWT. Dan bau mulut orang yang berpuasa itu (kerana puasanya) lebih wangi disisi Allah daripada wangian Kasturi." (Riwayat al-Syeikhan)

-Hadis ini menjelaskan bahawa amalan orang yang beriman dilipatgandakan sehingga 700x ganda dividennya. Tiada manusia, syarikat @ kerajaan dunia ini yang sanggup menawarkannya kecuali Allah SWT. Ketika di 10 malam terakhir, Sayyidatina Aisyah RA bertanyakan Nabi SAW : "Wahai Rasulullah! sekiranya akau berada pada sepuluh malam yang terakhir (malam laylatul Qadar) apa yang perlu aku buat Baginda SAW menjawab : "Ucapkanlah :

اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني

Maksudnya : " Ya Allah, Sesungguhnya Dikau Maha Pengampun, sukakan keampunan maka ampunilah hambamu ini." - hadis riwayat Tirmidzi, Ahmad dan Ibn Majah.
 
Ketahuilah, selain hadis-hadis di atas, masih terdapat kombinasi hadis-hadis hasan dan daif yang tampil menjelaskan kelebihan ramadhan. Jika ada hadis palsu sekalipun, ia tetap tidak menjejaskan keistimewaan Ramadhan itu sendiri. Ini kerana keistimewaan ramadhan telah sabit dgn dalil-dalil dari sumber yang sahih lagi jelas. Apa yang penting, fahamilah kedudukan dalil dan istidlalnya masing-masing. Mudah-mudahan kita bukan hanya terdiri dari kalangan pencari hujah. Tetapi kita sebenarnya terdiri dari kalangan yang mencari kasih sayang Allah SWT. Marhaban ya Ramadhan.
 
Fadilat dan kelebihan puasa dan orang yang berpuasa :

* Imam Ahmad dan Muhammad bin Nasar al- Baihaqi meriwayatkan daripada Abi Hurairah sabda Nabi s.a.w, “Dikurniakan kepada umatku pada bulan Ramadan lima kelebihan yang tidak dikurniakan mana-mana umat sebelum mereka : bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari bau kasturi, malaikat berdoa diampunkan mereka sehingga berbuka, Allah hiasi setiap hari syurganya, kemudian berfirman hampir-hampirlah hamba-Ku yang soleh yang merasai kesukaran tetapi terus menuju kepadamu, diikat padanya syaitan dan diampun bagi mereka pada akhir malamâ€￾.

* Imam Bukhari, Muslim dan Ahmad meriwayatkan hadis daripada Sahal bin Sa’d. Sabda Rasulullah s.a.w: “Sesunggunya dalam syurga terdapat satu pintu yang dikenali dengan ar-Raiyyan di mana yang berhak memasukinya hanya orang yang berpuasa. Apabila selesai masuk nescaya ditutupnyaâ€￾.

* Mengikut riwayat an-Nasai sama seperti di atas kecuali ditambah sabda Nabi: Sesiapa yang masuk di dalamnya nescaya dapat meminum siapa yang minum nescaya tidak dahaga selama-lamanya.

* Mengikut riwayat Imam Ahmad dan an-Nasai daripada Abi Hurairah r.a sabda Rasulullah s.a.w: “Puasa merupakan perisaiâ€￾. Dan daripada Usman bin Abi al-As, “Puasa merupakan perisai daripada neraka seperti perisai seseorang daripada kamu pada masa peperangan selama mana ia tidak mengoyaknya dengan berdusta atau mengumpatâ€￾.

* Al-Baihaqi meriwayatkan daripada Usman bin Abi al-As, puasa merupakan perisai daripada azab Allah.

* Imam Ahmad, Muslim dan an-Nasai meriwayatkan daripada Abi Hurairah dan Abi Sa’id Sesungguhnya Allah berfirman: Sesungguhnya puasa bagiku dan Aku yang membalasnya dan sesungguhnya bagi orang berpuasa akan mendapat dua kegembiraan apabila ia berbuka nescaya bergembira dan apabila bertemu Allah nescaya ia gembira. Demi jiwa Muhammad ditangan-Nya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi.

* Ibn Majah dan al-Hakim meriwayatkan daripada Ibn Umar bahawa Nabi s.a.w bersabda: “Sesungguhnya orang yang berpuasa ketika berbuka mempunyai doa yang tidak ditolakâ€￾.

* Al-Dailami meriwayatkan daripada Ibn Umar katanya: “Diam orang puasa merupakan tasbih, tidurnya adalah ibadat, doanya mustajab dan amalannya digandakanâ€￾.

* Ibn Majah meriwayatkan daripada Ibn Jabir, Ahmad, at-Tabarani dan al- Baihaqi daripada Abi Umamah bahawa Nabi bersabda: “Sesungguhnya bagi Allah ketika berbuka puasa mempunyai mereka yang dibebaskan daripada neraka yang demikian itu pada setiap malamâ€￾.

* Al-Baihaqi meriwayatkan daripada Abi Hurairah bahawa Nabi s.a.w bersabda: “Puasa merupakan separuh kesabaran dan atas tiap sesuatu mempunyai zakat dan zakat bagi tubuh badan adalah puasaâ€￾.

* Imam Ahmad, al-Tirmidzi dan al-Baihaqi meriwayatkan daripada Ummi Imarah: “Sesungguhnya orang yang berpuasa apabila makan sentiasalah malaikat berselawat keatasnya sehingga selesai makanannyaâ€￾.

Sebenarnya banyak lagi kelebihan puasa dan Ramadan seperti mendapat syafaat dan dijauhkan daripada neraka. Justeru marilah sama-sama kita mengambil kesempatan dengan kunjungan Ramadan al-Mubarak dengan berpuasa dan beramal.

Selamat berpuasa dan semoga diterima Allah.
 
Back
Top
Log in Register