BTC USD 85,806.1 Gold USD 4,140.79
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

43. Ar Raqib

PENETAPAN NAMA AR-RAQIB
Nama Allah yang maha agung ini disebutkan dalam tiga ayat al-Qur'an:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kamu sekalian [an-Nisâ'/4:1].

وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا

Dan adalah Allâh Maha Mengawasi segala sesuatu [al-Ahzâb/33:52]

وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Dan akulah yang menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah Yang Maha Mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu [al-Mâidah/5:117].

MAKNA AR-RAQIB SECARA BAHASA
Ibnu Fâris rahimahullah menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan makna yang satu, yaitu berdiri (tegak) untuk mengawasi atau memperhatikan sesuatu [1]. Sedanglan al-Fairuz Abâdi rahimahullah dalam al-Qamuusnya menjelaskan bahwa nama ini secara bahasa berarti pengawas, penunggu dan penjaga [2]. Sementara itu, Ibnul Atsîr rahimahullah dan Ibnu Manzhûr rahimahullah menjelaskan bahwa nama Allah al-Raqîb berarti Maha Penjaga/Pengawas yang tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya [3]. Demikian pemaparan para Ulama lughah (bahasa) tentang makna kata ar-raqiib melalui tinjauan bahasa.

PENJABARAN MAKNA NAMA ALLAH AL-RAQIB
Imam Ibnu Katsîr rahimahullah ketika menafsirkan ayat pertama di atas, beliau menjelaskan bahwa makna ar-Raqîb adalah zat yang maha mengawasi semua perbuatan dan keadaan manusia" [4]
.
Syaikh ‘Abdurrahmân as-Sa'di rahimahullah berkata: "Ar-Raqîb adalah zat yang maha memperhatikan dan mengawasi semua hamba-Nya ketika mereka bergerak(beraktifitas) maupun ketika mereka diam, (mengetahui) apa yang mereka sembunyikan maupun yang mereka tampakkan, dan (mengawasi) semua keadaan mereka" [5]

Di tempat lain beliau berkata, ar-Raqîb adalah zat yang maha mengawasi semua urusan (makhluk-Nya), maha mengetahui kesudahannya, dan maha mengatur semua urusan tersebut dengan sesempurna-sempurna aturan dan sebaik-sebaik ketentuan[6] ".

Maka makna ar-Raqîb secara lebih terperinci adalah Dzat Yang Maha memperhatikan (mengetahui) segala yang tersembunyi dalam dada (hati) manusia, yang Maha mengawasi apa yang diusahakan setiap diri manusia, Yang Maha memelihara semua makhluk dan mengatur mereka dengan sebaik-baik aturan dan penataan paling sempurna, yang Maha mengawasi semua yang terlihat dengan penglihatan-Nya, tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya, yang Maha mengawasi semua yang terdengar dengan pendengaran-Nya yang meliputi segala sesuatu, yang Maha mengawasi (memperhatikan) semua makhluk dengan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu [7] .

PENGARUH POISTIF DAN MANFAAT MENGIMANI NAMA ALLAH AR-RAQIB
Pengaruh positif yang paling utama dengan mengimani nama Allâh Azza wa Jalla yang agung ini adalah senantiasa merasakan murâqabatullâh (pengawasan dari Allâh Azza wa Jalla ) dalam semua keadaan kita, dan timbulnya rasa malu yang sesungguhnya di hadapan-Nya. Kondisi ini akan mendorong seorang hamba untuk selalu konsisten melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi semua perbuatan maksiat, di manapun ia berada [8] .

Murâqabatullâh (selalu merasakan pengawasan Allâh Azza wa Jalla) adalah kedudukan yang sangat tinggi dan agung dalam Islam, sekaligus merupakan tahapan utama untuk menempuh perjalanan menuju perjumpaan dengan Allâh Azza wa Jalla dan negeri akhirat.

Hakekat murâqabatullâh adalah seorang hamba senantiasa merasakan dan meyakini pengawasan Allâh Azza wa Jalla terhadap (semua keadaannya) lahir dan batin. Selanjutnya, ia merasakan pengawasan-Nya ketika berhadapan dengan perintah-Nya, untuk kemudian ia laksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan ketika berhadapan dengan larangan-Nya, ia berusaha keras menjauhinya dan menghindarinya [9].

Seorang penyair mengungkapkan makna ini dalam bait syairnya [10] :
Jika suatu hari kamu sedang sendirian, maka janganlah kamu berkata:
“Aku sendirian”, akan tetapi katakanlah, “Ada (Allâh) yang mengawasiku”
Dan janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa Dia akan lalai sesaat pun
Dan (jangan mengira) sesuatu yang tersembunyi akan luput dari (pengawasan)-Nya

Inilah makna al-ihsân yang disebutkan dalam hadits Jibrîl Alaihissallam yang terkenal, yaitu sabda Rasûlulâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

(Al-ihsân adalah) engkau beribadah kepada Allâh seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau kamu tidak bisa melihat-Nya, maka sungguh Dia melihatmu [11]

Syaikh ‘Abdurrahmân as-Sa'di rahimahullah berkata, " Murâqabatullâh (selalu merasakan pengawasan Allâh Azza wa Jalla) adalah termasuk amalan hati yang paling tinggi (keutamaannya dalam Islam), yaitu menghambakan diri (beribadah) kepada Allâh dengan (memahami dan mengamalkan makna yang terkandung dalam) nama-Nya ar-Raqîb (Yang Maha Mengawasi) dan asy-Syahîd (Yang Maha Menyaksikan). Maka ketika seorang hamba mengetahui (meyakini) bahwa semua gerakan (aktifitas)nya yang lahir maupun batin, tidak ada (satu pun) yang luput dari pengetahuan-Nya, dan dia (senantiasa) menghadirkan keyakinan ini dalam semua keadaannya, ini (semua) akan menjadikannya (selalu berusaha) menjaga batin (hati)nya dari (semua) pikiran (buruk) dan angan-angan yang dibenci Allâh Azza wa Jalla , menjaga lahir (anggota badan)nya dari (semua) ucapan dan perbuatan yang dimurkai Allâh Azza wa Jalla , dan akan beribadah (mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla ) dengan al-ihsân. Dengan itu, maka ia akan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla seakan-akan melihat-Nya, kalau tidak bisa melihat-Nya maka ia (yakin) sesungguhnya Allâh melihatnya"[12] .

Kalau kita merenungkan dengan seksama ayat-ayat al-Qur'ân yang menerangkan luasnya ilmu Allâh Azza wa Jalla dan bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan dan pengawasan-Nya, baik yang tampak di mata manusia maupun tersembunyi, seperti ayat-ayat berikut:

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ

Dan ketahuilah bahwasanya Allâh mengetahi apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya [al-Baqarah/2:235].

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allâh, padahal Allâh beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allâh tidak ridhai. Dan adalah Allâh Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan [an-Nisâ/4:108]

لَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan dalam hati [al-Mu'min/40:19].

Dan ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat-ayat tersebut, merenungkan dan menghayati semua itu akan membangkitkan dalam diri seorang hamba murâqabatullâh dalam semua perbuatan dan keadaannya. Karena murâqabatullâh adalah termasuk buah manis dari keyakinan seorang hamba bahwa Allâh Azza wa Jalla Maha mengawasi dan memperhatikan dirinya, Maha mendengarkan apa yang diucapkan lisannya dan Maha mengetahui semua perbuatannya setiap waktu, setiap tarikan nafas, bahkan setiap kedipan matanya[13] .

PENUTUP
Dengan penjelasan di atas, kita dapat memahami bagaimana agungnya manfaat dan keutamaan membaca al-Qur'ân dengan merenungi dan menghayati kandungan maknanya. Sebab, dengan itulah kita bisa mengambil petunjuk agung yang terdapat di dalamnya dengan sempurna , untuk membawa kita mencapai kedudukan dan tingkatan yang tinggi di hadapan Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah kitab (al-Qur'ân) yang kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran [Shâd/38:29].

Akhirnya, kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allâh Azza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar berkenan menganugerahkan kepada kita semua kedudukan murâqabatullâh yang agung dan mulia ini dan semua kedudukan yang tinggi dalam agama-Nya. Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla Maha mendengar dan mengabulkan permohonan hamba-Nya. Wallâhu a’lam

https://www.youtube.com/watch?v=T8XSyTFVHLc
 
44. Al Mujib

AL MUJIIB (Yang Maha Mengabulkan/Yang Maha Memperkenankan) adalah Allah yang menjawab (menyambut) doa-doa hambanya yang memohon dengan membantunya, menjawab seruan mereka yang menyeru-Nya dan menjawab keinginan orang-orang yang miskin dengan apa yang mereka perlukan, bahkan sesungguhnya Allah mengetahui keperluan hambanya sebelum mereka memintanya, karena Allah telah mempersiapkan sumber-sumber untuk memenuhi keperluan hamba-Nya, dengan menciptakan makanan, dan dengan memberikan kemudahan berupa cara atau sebab dan sarana untuk memenuhi semua keperluan mereka

'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan dari menyembah-Ku (berdoa kepada-Ku) akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina' [Al Mu'min:60]


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ



'Dan apabila hamba-hamba-ku bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)ku dan hendaklah mereka beriman kepada-ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran'[Al Baqarah:186]

'Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut'[Al A'raaf:55]

Ketinggian martabat doa terletak pada keutamannya. Manfaat terbesar yang diperoleh dari doa ialah orang yang berdoa tidak akan dikecewakan sama sekali. Jika takdirnya bergantung pada doa, ia akan melihat jelas adanya manfaat didalam doanya.

Rasulullah Saw bersabda: 'Tidak ada yang dapat mengubah takdir, kecuali doa'. Namun, jika takdirnya tidak bergantung pada doa, manfaat doanya adalah ganjaran pahala, karena doa termasuk ibadah, bahkan merupakan puncaknya ibadah.

Rasulullah Saw bersabda :'Doa adalah otaknya ibadah'[Tirmidzi]

Juga karena doa Allah azza wa jalla mengubah (mengganti) takdir yang telah ditetapkan semula dengan apa yang diminta melalui doanya, yaitu takdir lain yang belum ditetapkan bagi orang yang bersangkutan. Bahkan mungkin pengganti takdir itu lebih baik daripada sebelumnya, karena sesungguhnya Allah Maha Pemurah, Maha Penyantun, dan Maha Luas limpahan karunia-Nya.

'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu'[Al Mu'min:60]

'Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku'[Al Baqarah:186]

Rasulullah Saw bersabda: 'Bekerjalah, karena setiap orang dimudahkan untuk sesuatu yang telah diciptakan baginya'

Allah azza wa jalla memerintahkan dan mendorong hamba-Nya supaya berdoa kepada-Nya.

'Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi, sesudah (allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik'[Al A'raaf:55~56]

'Dia-lah Allah yang hidup kekal, tiada Tuhan selain Dia, maka bersembah sujudlah kepada-Nya dengan setulus-tulusnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam'[Al Mu'min:65]

Rasulullah Saw bersabda: 'Doa adalah senjata orang beriman, tiang agama, serta cahaya langit dan bumi'

Rasulullah Saw bersabda :'Tak seorangpun yang binasa saat sedang berdoa'

Rasulullah Saw bersabda: 'Hendaklah kalian berdoa dengan keyakinan akan terkabul'

Rasulullah Saw bersabda: 'Tiada sesuatu yang lebih mulia dalam pandangan Allah selain doa'

Rasulullah Saw bersabda: 'Mohonlah karunia-Nya, karena sesungguhnya Allah berkenan jika diminta'

Allah azza wa jalla menyukai orang-orang yang merengek-rengek dalam berdoa. Rasulullah Saw sendiri bila berdoa sering mengulanginya hingga tiga kali, demikian juga bila Beliau memohon sesuatu kepada Allah azza wa jalla.

Sungguh benarlah bahwasanya Allah Maha Besar lagi Maha Tinggi, menciptakan segala sesuatu dan menyempurnakannya. Dia-lah yang melimpahkan nikmat dan karuna. Allah lebih menyayangi kita daripada kita menyayangi diri kita sendiri, amat luas rahmat-Nya bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya

Rasulullah Saw bersabda: 'Sesungguhnya Allah menurunkan seratus rahmat. Satu diantaranya dikeluarkan di dunia, sedangkan yang sembilan puluh sembilan, Allah menyimpannya di akhirat'

'Doa adalah kunci bagi setiap kebutuhan, tempat beristirahat bagi mereka yang membutuhkan, tempat berteduh bagi yang terjepit, dan pelega bagi orang-orang yang dikejar keperluan'[Syekh Ali Ad Daqqaq]

Kecaman atau celaan Allah SWT bagi orang yang tidak mau berdoa

'Dan mereka menggenggamkan tangannya'[At Taubah:67]

Yaitu orang-orang yang tidak mau menengadahkan tangannya kepada Allah untuk meminta atau memohon

'Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan jika berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan'[An Naml:62]

Berdoa adalah hak Allah yang harus dipenuhi. Jika doa belum dikabulkan dan belum tercapai, Dia telah melaksanakan hak Allah, karena hakikat doa adalah ungkapan kebutuhan ibadah.

Rasulullah Saw bersabda: 'Demi Allah yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya seorang hamba berdoa kepada Allah, sedangkan ia marah kepada-Nya karena tidak mengabulkan doanya, kemudia ia beroda lagi kepada-Nya maka Allah Ta'ala berfirman kepada Malaikat-Nya: hamba-Ku tidak mau berdoa kepada selain-Ku, sungguh Aku kabulkan doanya'[Hakim, Ibnu Sunni]

Rasulullah Saw bersabda: 'Sesungguhnya Allah tidak akan memperkenankan doa dari hati yang lalai'[Ahmad, Tirmidzi]

Rasulullah Saw bersabda: 'Perbaikilah pekerjaanmu (carilah pekerjaan yang halal), niscaya doamu akan dikabulkan'[Thabrani]

Seseorang bertanya kepada Imam Ja'far Ash Shadiq: 'Apa sebabnya kita berdoa, tetapi tidak pernah dikabulkan?',

Beliau menjawab: 'Itu karena engkau berdoa kepada Tuhan yang engkau tak punya pengetahuan tentang-Nya'. 'Bagaimana anda menunggu terkabulnya doa, sedangkan anda telah menutup jalannya dengan melakukan dosa-dosa'

Manusia perlu bersikap tanggap terhadap Allah azza wa jalla dalam apapun yang diperintahkan dan dilarang-Nya. Kemudian terhadap hamba-hamba-Nya, dalam apapun yang Allah anugerahkan kepadanya dengan cara membuatnya mampu melakukannya, dan dalam membantu setiap peminta dalam apapun yang mereka minta darinya, jika dia mampu melakukannya, atau dengan jawaban yang baik jika dia tidak mampu melakukannya

'Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah kamu menghardiknya'[Adh-dhuha:10].

Alangkah banyaknya orang hina yang angkuh, mereka merasa mulia dan besar tanpa memperdulikan perasaan orang lain yang terluka.

Funny-Animals-animal-humor-29016816-1920-1200_zpsczwy2mys.jpg
 
Last edited:
45. Al Wasi'

Al-Wasi’ merupakan turunan dari kata wa-si-’a, yang berarti luas, lapang, daya tampung, berkelimpahan, meliputi, kaya, dan arti lain yang serupa. Orang yang menguasai berbagai ilmu disebut luas ilmunya. Orang yang mudah memaafkan disebut lapang dada. Orang yang memiliki kekayaan yang banyak disebut berkelimpahan, dan seterusnya.

“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-Mukminuun: 7)

Kata Al-Wasi’ digunakan Al-Qur’an sebanyak 9 kali, dan semuanya dipakai untuk menyifati Allah swt. Hal ini memberi gambaran bahwa hanya Allah yang berhak menyandang sifat ini. Tak ada seorang pun yang memiliki keluasan, sebagaimana keluasan Allah. Hanya Dia Yang Maha Luas dalam segala hal.

Selain dalam bentuk ism (kata benda), wa-si-a dalam bentuk fi’il (kata kerja) juga banyak dijumpai dalam Al-Qur’an, bahkan jumlahnya lebih banyak lagi. Salah satu di antaranya menggambarkan tentang keluasan ilmu Allah, sebagaimana berikut:

“Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?” (Al-An’am: 80).
Senada dengan ayat di atas, Al-Qur’an juga menyebutkan:

“Mereka yang memilkul ’Arsy dan mereka yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhan mereka dan mereka beriman kepada-Nya dan memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman (dengan berkata): ’Ya Tuhan kami! Karunia dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan dari-Mu orang-orang yang kembali (kepada-Mu) dan mengikuti jalan-Mu, dan peliharalah mereka dari siksa api neraka.” (Al-Mu’min: 7).

Jika kedua ayat di atas menggambarkan keluasan ilmu-Nya, ayat berikut ini justru menggambarkan tentang keluasan rahmat-Nya.

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf: 156).

Dalam buku An-Nihayah, Ibnu Atsir memaparkan tentang sifat Allah Al-Wasi’ ini dengan menyebut beberapa arti: (1) bisa memperkaya setiap orang miskin, (2) rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, (3) otoritasnya tidak pernah berakhir, (4) rahmat-Nya tidak terbatas, (5) kerajaan-Nya abadi, (6) tidak pernah menghentikan pemberian, (7) tidak pernah kebingungan karena mengetahui sesuatu dari mengetahui yang lain, (8) pengetahuannya meliputi segala sesuatu, (9) kekuasaan-Nya mencakup segala sesuatu, (10) rahmat-Nya amat luas, (11) Dia mandiri, (12) pengetahuan, kekuasaan, dan rahmat-Nya adalah paling besar, (13) Dzat yang sifat-sifat-Nya tidak terbatas, (14) pengetahuan, rahmat, dan ampunan-Nya luas, dan (15) wilayah-Nya begitu besar tak terbatas.

Itulah sebabnya, Al-Wasi’ yang sejati dan mutlak hanya Allah. Hanya Dia yang ilmu-Nya tak bertepi, rahmat-Nya tak pernah habis terbagi, dan kekuasaan-Nya meliputi langit dan bumi.

Dialah Allah yang keluasan-Nya meliputi Barat dan Timur, Utara dan Selatan. Dia ada di segala penjuru langit dan bumi. Karenanya, Dia menginformasikan kepada kita bahwa untuk menghadap kepada-Nya kita bisa mengarahkan wajah kita kemana pun, terutama pada saat kita berada dalam perjalanan (safar), maupun saat kita tidak tahu arah (kiblat).

Allah berfirman:
“Maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 115).

Ayat di atas memberi gambaran kepada kita bahwa Allah swt selain Maha Luas Dzat-Nya juga berlapang dada dalam memberikan rukhsah (keringanan) kepada hamba-Nya ketika beribadah. Dia memaklumi hamba-Nya yang kesulitan menghadap kiblat ketika safar, karenanya Dia memberi keringanan.

Apalagi kepada orang yang telah berlapang dada, menolong sesamanya dengan mengeluarkan sebagian dari hartanya, baik dalam bentuk sodakoh, infaq, maupun zakat. Dia melipatgandakan pemberian orang tersebut dengan quantum pahala. Al-Qur’an menyebutkan:


مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ



“Perumpamaan (nafkah yang dilekuarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).

Lalu, bagaimana cara meneladani sifat ini? Bantulah setiap orang yang meminta bantuan, perlakukan semua orang dengan sebaik-baik perlakuan, dan bermurah hatilah kepada setiap orang. Tak lupa, maafkan orang sebelum atau sesudah mereka meminta maaf. Bukalah dada secara lapang untuk menerima keterbatasan manusia.

seal5_large_zpsihvgsafw.jpg
 
46. Al Hakim

Allah berfirman:
واعلم أن الله عزيز حكيم

Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagu Maha Bijaksana.
Al Baqoroh 260

Keterangan :
=========
1. Makna Al Hakim :

Yg dimaksud dgn Al Hakim adalah Maha Bijaksana dlm perbuatanNya, perkataanNya dan taqdirNya. Maka Dia meletakan sesuatu sesuai dgn tempatnya dgn hikmah dan keadilanNya.

2. Al Hakim mencakup 3 makna yaitu :

a. الحاكم (Hakim) yg punya hukum yg mutlak dan sempurna dari semua sisi. Semua makhluk adalah mahkum (dihukumi), dan bagiNya hukum semuanya, kpdNya urusan dikembalikan semuanya, Dia memutuskan atas hambaNya dgn qodho dan qodarNya, Dia yg memutuskan perkara diantara mereka dgn dienNya dan syareatNya kemudian pada hari kiamat Dia memutuskan diantara mereka dgn dgn balasan antara keutamaan dan keadilannya. Oleh krn itu tdk ada hakim kecuali Allah dan tdk boleh berhukum dgn undang2 dan hukum melainkan hukumNya. Allah berfirman :
أفحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون
Apakah hukum jahiliyah yg mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yg lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang yg yakin.
Al Maidah 50

b. ذو الحكمة yaitu Yg Mempunyai hikmah. Hikmah lawan dari ke*****an dan hikmah adalah meletakan sesuatu di tempat yg tepat.

Oleh krn itu hukum Allah baik hukum kauniyah, syar'iyah dan jaza' (balasan) dikaitkan dgn hikmah. Maka Dia tdk menciptakan sesuatu dgn sia-sia, tdk meninggalkan makhluk begitu saja, tdk diperintah dan tdk dilarang, tdk diberi pahala dan tdk diberi siksa. Maka tdklah Allah memberi sesuatu kecuali ada hikmah, tdklah Allah memberi nikmat kecuali ada hikmah, Dia tdk menimpakan musibah kecuali ada hikmah, Dia tdk memerintahkan sesuatu kecuali ada hikmah, dan hikmah itu dlm mengerjakan perintah dan melaziminya, Dia tdk melarang sesuatu kecuali ada hikmah, dan hikmah itu dlm meninggalkan larangan dan selalu melazimi untuk meninggalkannya. Allah berfirman :
أفحسنتم أنما خلقناكم عبثا و أنكم إلينا لا ترجعون
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tdk dikembalikan kpd Kami.
Al Mukminun 115

c. المحكم yaitu Yang Merapikan dan mengokohkan serta menekuni segala sesuatu dari ciptaannya. Maka tdk ada dlm penciptaan Ar Rohman terdapat keganjilan, kekurangan dan cacat. Itulah ciptaan Allah yg Dia mengerjakan dgn tekun, rapi dan kokoh. Dan tdk ada dlm syareatNya bertentangan dan perbedaan. Allah berfirman :
ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا
Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yg banyak didlmnya.
An Nisa' 82

3. Sebagian mereka berkata : Disebut Al Hakim lebih dari 90 kali, dan sering disandingkan dan dikaitkan dgn Al Aziz dan Al Alim. Dan ini menunjukkan bahwa hikmahNya bersumber dari sifat izzah (keperkasaan dan kemuliaan) dan ilmuNya. Seperti firman Allah :
وما النصر الا من عند الله العزيز الحكيم
Dan kemenanganmu itu hanya dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Ali Imron 127
نرفع الدرجات من نشاء إن ربك حكيم عليم
Kami tinggikan siapa yg Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Robmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Al An'am 83


والله أعلم


spring-snowdrops-wallpaper-flowers-32897799-1920-1080_zpswvejajcm.jpg
 
47. Al Wadud

إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ
وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ

“Sesungguhnya Dialah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan Dia (pula) yang menghidupkannya (kembali). Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mencintai.” (QS. Al-Buruj: 13–14)

Dalam Al-Qur’an, kata Al-Wadud digunakan dua kali, kedua-duanya merujuk pada sifat Allah, yaitu Yang Maha Menyintai. Bedanya, pada ayat yang disebutkan di atas merupakan sifat Allah, yang Dia sendiri yang menyifatiNya, sedangkan pada ayat yang berikut ini merupakan penyifatan Allah oleh Nabi Syu’aib ketika beliau mengajak umatnya untuk bertaubat.

Allah berfirman: “Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepadaNya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Menyintai.” (QS. Huud: 90).

Menurut kaidah bahasa, Al-Wadud berasal dari rangkaian huruf “waw” dan “dal” berganda, sedang arti dasarnya adalah “cinta” dan “harapan.” Para mufassirin mengatakan bahwa kata itu dapat dipahami dari sisi “subyek,” yang menyintai dan mengasihi, juga dapat dipahami dari sisi “obyek,” yang dicintai dan dikasihi. Dengan demikian, maka Allah adalah Dzat Yang menyintai makhluqNya sekaligus dicintai oleh mereka.

Fahrudin Ar-Razi menambahkan arti yang ketiga, yaitu “menanamkan cinta.” Dia-lah Allah yang menanamkan cinta pada hati manusia sehingga mereka dapat menyintai sesamanya dan menyintai makhluk lainnya. Perndapat ini diperkuat dengan firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta (dalam hati mereka)”. (Maryam: 96).

Sebenarnya, kecintaan Allah kepada manusia tak diragukan lagi. Bagi orang-orang yang mau berpikir, mereka akan segera memahami betapa Allah menyintai mereka melalui penyiptaan langit, bumi, dan segala isinya. Tak sekadar itu, Allah juga telah menundukkan keduanya untuk memenuhi hajat hidup manusia. Bahkan kalau mau merenungkan sejenak, sesungguhnya penyiptaan manusia itu sendiri sudah merupakan bukti cinta-Nya kepada manusia. Dialah yang menghidupkan, menyiapkan sarana dan prasarana kehidupan, memberi kesehatan, kenikmatan, sukses, dan kebahagiaan. Lalu Dia juga menjanjikan surga bagi orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan.

Jika Allah telah membuktikan cinta-Nya kepada kita, lalu apa bukti cinta kita kepada-Nya? Ketika Al-Junaid ditanya tentang siapa yang disebut orang-orang yang menyintai Allah, ia menjawab: “Ia adalah yang tidak menoleh kepada dirinya lagi, selalu dalam hubungan intim dengan Tuhan melalui dzikir, senantiasa menunaikan hak-hakNya, memandang kepada-Nya dengan mata hati, bahkan terbakar hatinya oleh sinar hakekat Ilahi.

Sang pecinta meneguk minum dari gelas cinta kasihNya, tabir pun terbuka baginya sehingga sang Maha Kuasa muncul dari tirai-tirai ghaibNya. Maka tatkala sang pecinta berbisik dengan Allah, tatkala berbicara demi Allah, tatkala bergerak atas perintah Allah, tatkala diam bersama Allah. Ia, sungguh selalu “dengan”, “demi”, dan “bersama” Allah.

Sesungguhnya Allah swt telah menyiapkan sarana bagi manusia yang telah menyintaiNya untuk melampiaskan rasa rindunya untuk bertemu denganNya. Setiap hari kita diberi kesempatan untuk menemuiNya minimal lima kali dalam solat-solat fardhu, bahkan telah disediakan pula solat-solat sunah. Masih ada waktu istimewa yang disediakan khusus bagi para pecinta, yaitu pertemuan malam hari melalui solat lail atau solat tahajud. “Dan pada sebagian malam hari bersolat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. Al-Israa: 79).

Ya, bila kita ingin dicintai Allah, tiada jalan bagi kita kecuali aktif menemuiNya, berusaha mendekatiNya, bermesraan denganNya, dan menjalin hubungan intim denganNya. Bila kita sudah berusaha sungguh-sungguh bertaqarrub dan berupaya menyintaiNya, maka Allah akan mengulurkan cintaNya.

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang menyintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Barangsiapa yang membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah pun membenci pertemuan dengannya”. (HR. Bukhari)

Saatnya kita buktikan cinta kepada Yang Menyintai kita.


https://www.youtube.com/watch?v=j32MbMB1SyU
 
48. Al majiid


قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۖ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ ۚ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

[73]
Malaikat-malaikat itu berkata: “Patutkah engkau merasa hairan tentang perkara yang telah ditetapkan oleh Allah? Memanglah rahmat Allah dan berkatNya melimpah-limpah kepada kamu, wahai ahli rumah ini. Sesungguhnya Allah Maha terpuji, lagi Maha Melimpah kebaikan dan kemurahanNya”. (Qs. Hud: 73)

Kata Al-Majid terambil dari asal kata ma-ja-da, yang arti dasarnya adalah “mencapai batas maksimal.” Prestasi tertinggi yang berupa kejayaan atau kemuliaan yang merupakan puncak pencapaian sukses dan kemenangan dinamakan “majid.” Demikian juga seekor unta yang makan hingga kenyang disebut “majud.”

Dalam Al-Qur’an, kata majid bisa dijumpai dalam empat ayat. Dua ayat digunakan untuk memberi sifat Allah, sebagaimana ayat di atas, dan satu lagi adalah sebagai berikut: “Dan Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih, yang memiliki Arsy, lagi Maha Mulia.” (Qs. Al-Buruj: 14-15)

Sedang dua ayat yang lain dipakai untuk menyifati Al-Qur’an. Dua ayat itu adalah: “Qaf. Demi Qur’an yang mulia.” (Qs. Qaf: 1) dan ayat berikut:

“Bahkan yang (didustakan itu) ialah Al-Qur’an yang mulia.” (Qs. Al-Buruj: 21).

Penggunaan kata majid untuk menyifati Al-Qur’an merupakan isyarat dari Allah Al-Majid (Yang Maha Mulia) bahwa jalan untuk meraih keselamatan, sukses, kejayaan, kebahagiaan, dan kemuliaan (Al-Majid) adalah mengikuti petunjuk-petunjuk Al-Qur’an, sebagaimana statemenNya sendiri:

“Dan sungguh, ini adalah jalanKu yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa.” (Qs. Al-An’am: 153).

Selain itu, penggunaan kata al-Majid untuk menyifati Al-Qur’an memberi pengertian bahwa Al-Qur’an adalah puncak dari segala kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Setelah Al-Qur’an tidak ada lagi wahyu yang diturunkan Allah, sebab Al-Qur’an sudah sampai pada batas tertinggi, merupakan kalam Ilahi yang tiada tandingnya lagi. Bahkan, Al-Qur’an menantang siapa pun untuk membuat yang sama, jika mampu.

Allah berfirman:

“Katakanlah, Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.” (Qs. Al-Isra: 88).

Bagi Allah, sifat al-Majid adalah suatu yang niscaya. Menurut al-Ghazali, tidak ada seorang pun yang memiliki kombinasi dari tiga kemuliaan selain Allah. Karenanya, mustahil bagi manusia, jin, dan malaikat menyandang sifat al-Majid. Tidak ada yang mampu menggabungkan ketiga kemuliaan yang terangkum dalam kata atau sifat al-Majid. Kombinasi tiga kemuliaan (Al-Majid) itu adalah: (1) mulia DzatNya, (2) indah PerbuatanNya, dan (3) banyak anugerahNya.

Sungguh pun demikian, kita tetap berusaha untuk meneladani sifat Al-Majid semampunya. Kita berusaha untuk bersungguh-sungguh mencapai kemuliaan tanpa meminta untuk dipuji manusia, karena kemuliaan kita di depan manusia tidak berarti apa-apa di sisi Allah, sebab bagaimana pun hebatnya, di depan Allah kita adalah hamba-Nya yang hina dina.

Kita tidak bisa mengurus diri sendiri selain bergantung kepadaNya. Kita tersesat kecuali atas petunjukNya. Kita ***** tanpa ajaranNya. Kita hina tanpa kemuliaanNya.

Yang patut kita renungkan bahwa kemuliaan itu adalah milik Allah yang dikaruniakan kepada mereka yang dikehendakiNya. Jika Dia berkehendak memuliakan seseorang, maka tidak ada kekuatan mana pun yang bisa menghalanginya.

Demikian pula sebaliknya, jika Allah menghendaki kehinaan pada diri seseorang, maka tiada kekuatan apa pun yang bisa mencegahnya, sebagaimana firmanNya: “Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang sanggup memuliakannya.” (Qs. Al-Hajj: 28).

Tidak ada salahnya jika kita berdo’a sebagaimana do’a sahabat nabi yang bernama Sa’id bin Ubadah, sebagai berikut: “Ya Allah, anugerahi aku pujian, nama baik, dan kejayaan. Ya Allah, tiada kejayaan tanpa karya, dan tiada karya tanpa kekayaan. Maka anugerahi aku kekayaan yang dapat mengantar pada pencapaian nama baik dan kejayaan.”

animals-background-10_zpsyohdaoxh.jpg
 
49. Al Bai'th

AL BAA'ITS (yang Membangkitkan) adalah Allah yang menghidupkan makhluk-makhluk pada hari kiamat.

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ



[7]
Dan bahawa sesungguhnya hari kiamat itu tetap akan datang, tidak ada sebarang syak padanya, dan bahawa sesungguhnya Allah akan membangkitkan (menghidupkan semula) orang-orang yang di dalam kubur.[Al Hajj:7]

'Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada didalam kubur dan dilahirkan apa yang ada didalam dada, sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka'[Al Adiyat:9~11].

Kebangkitan Orang Yang Mati Adalah Kebangkitan Yang Hakiki.

Hal ini dapat diketahui kalau kita benar-benar telah mengetahui kiamat, yang merupakan salah satu bentuk paling ghaib dari pengetahuan. Kebanyakan manusia menyukai ilusi umum dan khayalan kosong mengenai hal ini. Mereka menggambarkan kematian semata-mata ketiadaan atau kebangkitan melahir sesuatu yang baru, segera setelah ketiadaan, seperti layaknya pada penciptaan yang pertama. Tidaklah mendasar apabila mereka berpikir bahwa penciptaan yang kedua sama dengan penciptaan yang pertama.

'Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-nya kepada mereka dan mereka ber girang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman'[Ali Imran:169~171].

Pengelihatan bathiniah membimbing kepada fakta bahwa manusia diciptakan untuk keabadian dan tidak ada jalan baginya untuk menjadi tiada. Pada suatu waktu, perilakunya dapat dipisahkan dari tubuhnya atau perilakunya dapat kembali ke tubuhnya dan dikatakan bahwa 'dia telah hidup dan dibangkitkan', yaitu tubuhnya telah hidup.

Dan pendapat Ahli Tahqiiq bahwa kebangkitan kembali bukanlah penciptaan kedua, tetapi sperti penciptaan yang pertama, itupun tidak benar. Karena penciptaan kedua adalah INSYA' (Penciptaan lain) yang tidak berkaitan dengan penciptaan yang pertama.

'Kami telah menentukan kematian diantara kamu dan kami sekali-kali, tidak dapat dikalahkan, untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua) ?'[Al Waaqiah:60~62].

'Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Mahasuci Allah, pencipta yang paling baik'[Al Mu'minuun:14].

'Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) dihari kiamat'[Al Mu'minuun:15~16].

'Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh, katakanlah (wahai Muhammad), roh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit'[Al Israa':85].

Munculnya watak kesucian (kewalian) pada orang yang memiliki sifat ini merupakan penciptaan demikian pula kenabian yang juga merupakan/semacam kebangkitan.

Penciptaan persepsi inderawi, setelah fondasi spiritual, merupakan penciptaan yang lain, sedangkan penciptaan melihat yang terjadi setelah tujuh tahun dan penciptaan akal budi setelah lima belas tahun, bisa kurang atau lebih, merupakan penciptaan lebih lanjut. Dengan demikian, setiap permulaan merupakan satu tahapan.

'Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian'[Nuh:14].

Sebagaimana pemahaman hakiki tentang melihat itu sulit bagi bayi sebelum dia mencapaitingkatan melihat dan pemahaman hakiki mengenai akal budi dan keajaiban-keajaiban yang tersingkap dalam tahapan ini, sulit sebelum mencapai tingkatan akal budi, pemahaman mengenai tahapan kewalian dan kenabianpun sulit selama ada tahapan pada akal budi. Ini karena kewalian merupakan tahap kesempurnaan yang terjadi setelah penciptaan akal budi yang merupakan tahap setelah panca indera. Oleh karena itu wajarlah orang menolak kenabian dan segala keajaiban-keajaibannya dan menolak akan adanya penciptaan yang kedua dan akhirat, karena mereka tidak melihat dan belum sampai disana.

Kebenaran kebangkitan menunjukkan yang mati dengan menciptakan mereka kembali. Ke*****an adalah sebenar-benar kematian, dan ilmu pengetahuan adalah semulia-mulia hidup. Barangsiapa yang mendidik orang dari ke*****an, sehingga orang yang di didiknya itu menjadi orang yang berpengetahuan, maka dia sudah menciptakan dan menghidupkan kembali orang tersebut sehingga hidupnya mendapat rahmat

'Para Ulama adalah ahli waris para Nabi'[Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban].

'Katakanlah (wahai Muhammad) adakah sama orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan?'[Az-Zumar:9].

'Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang beriman (juga) menyatakan demikian, tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana'[Ali Imran:18].

'Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan'[Al Mujadilah:11]

Ibnu Abbas r.a mengatakan orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan mempunyai derajat lebih tinggi sebanyak tujuh ratus derajat dibandingkan orang-orang yang beriman tanpa ilmu pengetahuan.

Jarak antara derajat yang satu dengan yang lainnya sama dengan perjalanan lima ratus tahun.

'Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hayalah para Ulama (Orang-orang yang berilmu pengetahuan)'[Fathir:28].

Bonita%20Beach%20Sunsets010_zpsyvpci1sf.jpg
 
50. As Syahid

Asy-Syahid, nama Allah l yang agung, menunjukkan keluasan pengetahuan-Nya terhadap segala aktivitas hamba-Nya. Dia menyaksikan segala gerak-gerik mereka dari atas sana.

Allah l menyebut nama ini dalam beberapa ayat al-Qur’an, seperti dalam firman-Nya saat memerintahkan Nabi-Nya untuk mengatakan kepada orang-orang kafir,

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ ۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰ ۚ قُلْ لَا أَشْهَدُ ۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ


19]
Bertanyalah (wahai Muhammad): “Apakah sesuatu yang lebih besar persaksiannya?” (Bagi menjawabnya) katakanlah: “Allah menjadi Saksi antaraku dengan kamu, dan diwahyukan kepadaku Al-Quran ini, supaya aku memberi amaran dengannya kepada kamu dan juga (kepada) sesiapa yang telah sampai kepadanya seruan Al-Quran itu. Adakah kamu sungguh-sungguh mengakui bahawa ada beberapa tuhan yang lain bersama-sama Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakuinya”. Katakanlah lagi: “Hanyasanya Dia lah sahaja Tuhan Yang Maha Esa, dan sesungguhnya aku adalah berlepas diri apa yang kamu sekutukan (dengan Allah Azza Wa Jalla)”.(al-An’am: 19)
Nama ini tersebut pula dalam hadits, saat Nabi n mengisahkan seseorang dari Bani Israil yang begitu kuat keimanannya terhadap Allah Yang Maha Menyaksikan segala sesuatu.
Dari Abu Hurairah z dari Rasulullah n,

أَنَّهُ ذَكَرَ رَجُلاً مِنْ بَنِى إِسْرَائِيلَ سَأَلَ بَعْضَ بَنِى إِسْرَائِيلَ أَنْ يُسْلِفَهُ أَلْفَ دِينَارٍ، فَقَالَ: ائْتِنِى بِالشُّهَدَاءِ أُشْهِدُهُمْ. فَقَالَ: كَفَى بِاللهِ شَهِيدًا.قَالَ: فَأْتِنِى بِالْكَفِيلِ. قَالَ: كَفَى بِاللهِ كَفِيلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. فَدَفَعَهَا إِلَيْهِ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

Beliau menyebutkan seorang lelaki dari Bani Israil. Dia meminta kepada salah seorang dari mereka untuk meminjaminya uang sebesar seribu dinar, maka dia pun mengatakan, “Datangkan kepadaku para saksi agar aku persaksikan kepada mereka.” Ia menjawab, “Cukuplah Allah menjadi saksi.” Lalu ia mengatakan lagi, “Datangkan kepadaku seseorang yang bisa menjamin.” Ia menjawab, “Cukuplah Allah sebagai penjamin.” Ia mengatakan, “Kamu benar.” Lalu ia berikan uang tersebut kepadanya sampai batas waktu yang ditentukan. (Sahih, HR. al-Bukhari)
Ibnul Atsir t menjelaskan dalam kitabnya Jami’ul Ushul, “Asy-Syahid adalah Dzat yang tidak tersembunyi baginya sesuatu pun. Disebut Syaahid (شَاهِدٌ) dan disebut Syahiid (شَهِيْدٌ), seperti bentuk kata Aalim (عَالِمٌ) dan Aliim (عَلِيمٌ), yakni (seolah-olah) hadir menyaksikan segala sesuatu dan melihatnya.”

As-Sa’di t dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Asy-Syahid berarti yang mengetahui segala sesuatu, mendengar setiap suara, baik yang tersembunyi maupun yang jelas, melihat segala yang ada, baik yang kecil maupun yang besar. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, yang menjadi saksi bagi hamba-Nya dan terhadap hamba-Nya atas segala yang mereka lakukan.”
Beliau juga menjelaskan dalam kesempatan yang lain, ar-Raqiib dan asy-Syahid termasuk dari al-‘Asma’ul Husna. Keduanya adalah dua nama yang sama, menunjukkan liputan pendengaran Allah l terhadap segala sesuatu yang dapat didengar, penglihatannya terhadap segala sesuatu yang dapat dilihat, serta pengetahuan-Nya terhadap segala yang dapat diketahui, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dia yang mengawasi dan mengetahui segala yang tersimpan dalam dada, yang mengawasi semua yang dilakukan oleh setiap jiwa, yang menjaga setiap makhluk dan melangsungkan kehidupannya dengan aturan yang paling bagus dan sempurna.

Allah l berfirman,
,
“Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.” (al-Hajj: 17)

“Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (an-Nisa: 79)

Oleh karena itu, al-muraqabah (sikap selalu merasa diawasi Allah l) yang merupakan amalan kalbu tertinggi adalah salah satu wujud peribadatan kepada Allah l yang berlandaskan pada dua nama-Nya, yaitu ar-Raqib dan asy-Syahid.

Maka dari itu, ketika seorang hamba mengetahui bahwa tingkah lakunya yang nyata dan yang batin diawasi oleh Allah l, serta senantiasa ingat hal ini pada setiap keadaan, pasti akan membuahkan pengawasan batin atas segala pikiran dan bisikan yang dimurkai-Nya, serta penjagaan lahiriah atas segala ucapan dan perbuatan yang dimurkai-Nya. Lantas, ia pun akan beribadah kepada Allah l sampai pada tingkat ihsan sehingga ia beribadah kepada Allah l seolah-olah ia melihat-Nya. Apabila ia tidak melihat-Nya, Allah l lah yang melihatnya.

Buah Mengimani Nama Allah asy-Syahid

Mengimani nama Allah asy-Syahid maka akan menumbuhkan sikap muraqabah dalam jiwa seseorang, selalu merasa diawasi Allah l. Seperti yang dinyatakan oleh asy-Syaikh as-Sa’di, apabila sikap ini senantiasa ada setiap saat, seseorang akan bisa menjaga dirinya secara lahir dan batin dari segala sesuatu yang dimurkai oleh Allah l.

Hal ini karena Allah l menyaksikan segala aktivitas hamba-Nya di mana pun; baik di tempat yang gelap maupun yang terang, di tempat ramai maupun sepi, saat sendirian, berduaan, maupun bersama yang lain di keramaian. Mengimani nama Allah asy-Syahid sangat membantu seseorang untuk menjauhi kemaksiatan pacaran dan perzinaan.

https://www.youtube.com/watch?v=sQWQuxhGypI
 
51. Al Haq

Di antara Al-Asmaul Husna adalah Al-Haq (Yang Maha Benar). Nama yang mulia ini telah Allah l sebut dalam Al-Quran. Allah l berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَأَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ




Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Hajj: 6)

Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) Arsy yang mulia. (Al-Mu’minun: 116)
Dari Ibnu Abbas c, dia berkata:


كَانَ النَّبِيُّ n إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ قَالَ: اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ n حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ –أَوْ: لَا إِلَهَ غَيْرُكَ

“Adalah Nabi n bila melakukan shalat malam bertahajjud beliau berdoa: Ya Allah, milik-Mulah segala pujian. Engkaulah Penegak langit dan bumi serta siapa saja yang ada padanya. Milik-Mulah segala pujian, milik-Mulah kerajaan langit-langit dan bumi dan siapa saja yang ada padanya. Milik-Mulah segala pujian, Engkaulah Cahaya langit-langit dan bumi dan siapa saja yang ada padanya. Milik-Mulah segala pujian, Engkaulah Raja langit-langit dan bumi. Milik-Mulah segala pujian, Engkaulah Yang Maha Benar, janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar ucapan-Mu benar, surga benar, neraka benar, para nabi benar, Muhammad n benar, hari kiamat benar. Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri, dan kepada-Mulah aku beriman, kepada-Mulah aku bertawakkal, kepada-Mulah aku kembali, dengan pertolongan-Mulah ketika aku berdialog, kepada-Mulah aku berhukum. Maka ampunilah apa yang telah aku perbuat, dan apa yang aku lakukan di belakang hari, apa yang aku sembunyikan atau yang terang-terangan. Engkaulah yang memajukan atau yang mengundurkan. Tiada Ilah yang benar melainkan engkau. (HR. Al-Bukhari, Abwabut Tahajjud Bab At-Tahajjud billaili)

Nama Allah l yang agung ini memiliki makna yang luas. Di antaranya bahwa keberadaan Allah l sungguh-sungguh benar.

Qiwamussunnah Al-Ashfahani t mengatakan: Di antara nama Allah l adalah Al-Haq (Yang Maha Benar), yakni Dialah yang keberadaan-Nya sungguh benar (Al-Hujjah, 1/135)

Ibnul Qayyim t berkata: Karena sesungguhnya Allah l, Dialah Yang Maha Benar, ucapan-Nya benar, dan agama-Nya benar. Kebenaran merupakan sifat-Nya. Kebenaran adalah sifat-Nya dan milik-Nya. (Madarijus Salikin, 2/333)

Asy-Syaikh As-Sadi t mengatakan: Al-Haq, Yang Maha Benar, pada Dzat dan sifat-Nya. Maka ada-Nya adalah suatu kepastian. Maha sempurna seluruh sifat-Nya. Dzat-Nya mengharuskan keberadaan-Nya, dan tiada keberadaan sesuatu dari suatu apapun kecuali dengan kehendak-Nya. Dialah yang masih tetap dan terus memiliki sifat keagungan, keindahan, dan kesempurnaan. Ucapan-Nya benar, perbuatan-Nya benar, perjumpaan dengan-Nya juga benar, para rasul-Nya benar, kitab-kitab-Nya benar, agama-Nyalah yang benar, ibadah kepada-Nya satu-satu-Nya adalah benar, dan segala sesuatu yang disandarkan kepada-Nya adalah benar.

(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Ilah) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al-Hajj: 62)

Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (Al-Kahfi: 29)

Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (Yunus: 32)

Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Al-Isra: 81)


Wild-Animals-714949_zpsrwwzqwec.jpg
 
52. Al Wakil

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

102]
Yang demikian (sifat-sifatNya dan kekuasaanNya) ialah Allah Tuhan kamu, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menciptakan tiap-tiap sesuatu, maka beribadatlah kamu kepadaNya. Dan (ingatlah) Dia lah yang mentadbirkan segala-galanya.

quran 6:102


Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu'alaikum.

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa ta'aala (SWT) yang mentadbir seluruh alam, mencurahkan limpah kurniaNya dan kenikmatan yang begitu banyak, sehingga kita tak mampu menghitungnya.

Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad sallallaahu ‘alayhi wa sallam (SAW) serta keluarga dan para sahabat yang mulia dan orang-orang yang istiqamah mengikuti Baginda.

Nama Allah dalam asmaul husna yang ke 52 ialah al-Wakil yang membawa maksud;

1) Yang Maha Mewakili

2) Yang Maha Memelihara
Kalimah ini tembil daripada huruf waw, kaf dan lam (wakala) yang makna asalnya mewakilkan atau mempercayakan orang lain bagi sesuatu urusan atau pekerjaan yang sepatutnya dilakukan sendiri. Contoh; hantar wakil untuk merasmikan sesuatu acara atau majlis kerana yang sepatutnya hadir tidak dapat hadir. Daripada wakala itulah timbul al-Wakil sebagai nama Allah yang bermaksud Allah bersedia menerima kepercayaan yang diberikan kepadaNya. Ada perbezaan antara wakalah kepada Allah dengan wakalah kepada manusia.

Jika kita berwakil kepada orang lain orang itu mesti lakukan 100% seperti yang kita harapkan. Jika tidak mungkin kita boleh pecat atau saman kerana dia melakukan tidak sama seperti yang kita kehendaki. Kita boleh juga kata "next time no more". Lain jika kita berwakilkan Allah. Allah tak mesti melakukan 100% seperti apa yang kita kehendaki.

Ini kerana Allah lebih mengetahui daripada kita. Seorang hamba yang menjadikan Allah sebagai wakil juga tak boleh serah bulat-bulat kepada Allah. Hamba tersebut kena ikut berusaha. Oleh itu bila bertawakkal kepada Allah seorang hamba tak boleh rasa kecewa jika tak dapat apa yang dikehendaki. Allah Yang Maha Memelihara sama seperti dalam perbahasan nama Allah al-Hafiz. Allah memelihara hamba-hambaNya dengan sunnatullah dan inayatullah. Kita disuruh berikhtiar bertepatan dengan sunnatullah, tetapi kita harus ingat bahawa berlaku atau tidak berlaku seperti apa yang kita hajati bergantung kepada masyi'ah Allah.

Menurut sunnatullah bila seseorang itu lemas boleh mati tetapi Allah boleh batalkan; itulah inayatullah. Hamba juga tidak boleh memaksa Allah bila bertawakkal. Kita berusaha tetapi yang nak memberi itu ialah Allah. Orang yang berusaha dan bertawakkal tidak akan mempersoalkan Allah. Jika tidak dia akan stress memanjang. Sepatutnya dia memahami bahawa Allah Maha Bijaksana.

Ibnu 'Abbas ra ada meriwayatkan sebuah hadis; "Sesiapa sahaja suka untuk menjadi manusia yang paling kuat maka bertawakkallah kepada Allah". Orang yang bertawakkal kepada Allah akan sentiasa tenang menerima apa sahaja yang Allah putuskan kepadanya. Walaupun Allah beri lain daripada apa yang dia minta, dia yakin Allah tak akan memberikan benda yang tak baik kepadanya. Telah menjadi tabi'at manusia bahawa apabila diberi ujian sama ada nikmat atau musibah; manusia akan berkata Allah memuliakannya bila mendapat nikmat dan Allah menghinanya bila diberikan musibah.

Allah berfirman:

89:15 (Dalam pada itu manusia tidak menghiraukan balasan akhirat), oleh yang demikian, maka kebanyakan manusia apabila diuji oleh Tuhannya dengan dimuliakan dan dimewahkan hidupnya, (ia tidak mahu bersyukur tetapi terus bersikap takbur) serta berkata dengan sombongnya: "Tuhanku telah memuliakan daku!" (al-Fajr [89] : 15)

89:16 Dan sebaliknya apabila ia diuji oleh Tuhannya, dengan disempitkan rezekinya, (ia tidak bersabar bahkan ia resah gelisah) serta merepek dengan katanya: "Tuhanku telah menghinakan daku!" (al-Fajr [89] : 16)

Pemikiran seperti ini adalah salah dan merupakan dosa besar kerana berfikir bahawa redha atau kemurkaan Allah adalah berdasarkan pemberian Allah. Subhanallah. Mudah-mudahan kita semua memahami dan menghayati konsep bertawakkal kepada Allah dan menghadapi ujian dengan cara yang sebenarnya.

Allahumma Amiin.

african-wild-animalsgiraffe-trio-wallpapers_zps6p47luku.jpg
 
Back
Top
Log in Register