BTC USD 85,417.5 Gold USD 4,140.83
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

7. Nabi Lut

Nabi Luth adalah anak saudara dari Nabi Ibrahim. Ayahnya yang bernama Hasan bin Tareh adalah saudara sekandung dari Nabi Ibrahim. Ia beriman kepada bapa saudaranya Nabi Ibrahim mendampinginya dalam semua perjalanan dan sewaktu mereka berada di Mesir berusaha bersama dalam bidang perternakan yang berhasil dengan baik binatang ternaknya berkembang biak sehingga dalam waktu yang singkat jumlah yang sudah berlipat ganda itu tidak dapat ditampung dalam tempat yang disediakan . Akhirnya perkongsian Ibrahim-Luth dipecah dan binatang ternakan serta harta milik perusahaan mereka di bahagi dan berpisahlah Luth dengan Ibrahim pindah ke Yordania dan bermukim di sebuah tempat bernama Sadum.

Nabi Luth Diutuskan Oleh Allah Kepada Rakyat Sadum

Masyarakat Sadum adalah masyarakat yang rendah tingkat moralnya,rosak mentalnya, tidak mempunyai pegangan agama atau nilai kemanusiaan yang beradab. Kemaksiatan dan kemungkaran bermaharajalela dalam pergaulan hidup mereka. Pencurian dan perampasan harta milik merupakan kejadian hari-hari di mana yang kuat menjadi kuasa sedang yang lemah menjadi korban penindasan dan perlakuan sewenang-wenang. Maksiat yang paling menonjol yang menjadi ciri khas hidup mereka adalah perbuatan homoseks {liwat** di kalangan lelakinya dan lesbian di kalangan wanitanya. Kedua-dua jenis kemungkaran ini begitu bermaharajalela di dalam masyarakat sehinggakan ianya merupakan suatu kebudayaan bagi kaum Sadum.

Seorang pendatang yang masuk ke Sadum tidak akan selamat dari diganggu oleh mereka. Jika ia membawa barang-barang yang berharga maka dirampaslah barang-barangnya, jika ia melawan atau menolak menyerahkannya maka nyawanya tidak akan selamat. Akan tetapi jika pendatang itu seorang lelaki yang bermuka tampan dan berparas elok maka ia akan menjadi rebutan di antara mereka dan akan menjadi korban perbuatan keji lelakinya dan sebaliknya jika si pendatang itu seorang perempuan muda maka ia menjadi mangsa bagi pihak wanitanya pula.

Kepada masyarakat yang sudah sedemikian rupa keruntuhan moralnya dan sedemikian paras penyakit sosialnya diutuslah nabi Luth sebagai pesuruh dan Rasul-Nya untuk mengangkat mereka dari lembah kenistaan ,kejahilan dan kesesatan serta membawa mereka alam yang bersih ,bermoral dan berakhlak mulia. Nabi Luth mengajak mereka beriman dan beribadah kepada Allah meninggalkan kebiasaan mungkar menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan kejahatan yang diilhamkan oleh iblis dan syaitan. Ia memberi penerang kepada mereka bahawa Allah telah mencipta mereka dan alam sekitar mereka tidak meredhai amal perbuatan mereka yang mendekati sifat dan tabiat kebinatangan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan bahawa Allah akan memberi ganjaran setimpal dengan amal kebajikan mereka. Yang berbuat baik dan beramal soleh akan diganjar dengan syurga di akhirat sedang yang melakukan perbuatan mungkar akan di balaskannya dengan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam.

Allah SWT berfirman:

"Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul. Ketika saudara mereka Luth, berkata kepada mereka: Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." (QS. asy-Syu'ara: 160-163)

Dengan kelembutan dan kasih sayang semacam ini, Nabi Luth berdakwah kepada kaumnya. Beliau mengajak mereka untuk hanya menyembah kepada Allah SWT yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan melarang mereka untuk melakukan kejahatan dan kekejian. Namun dakwah beliau berhadapan dengan hati yang keras dan jiwa yang sakit serta penolakan yang berasal dari kesombongan.

Kaum Nabi Luth melakukan berbagai kejahatan yang tidak biasa dilakukan oleh penjahat manapun. Mereka merampok dan berkhianat kepada sesama teman serta berwasiat dalam kemungkaran. Bahkan catatan kejahatan mereka ditambah dengan kejahatan baru yang belum pernah terjadi di muka bumi. Mereka memadamkan potensi kemanusiaan mereka dan daya kreativiti yang ada dalam diri mereka. Yaitu kejahatan yang belum pernah dilakukan seseorang pun sebelum mereka di mana mereka berhubungan seks dengan sesama kaum lelaki (homo seks).

Allah SWT berfirman:

"Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu sedang kamu melihat(nya). Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan mendatangi wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak dapat mengetahui (akibat perbuatanmu)." (QS. an-Naml: 54-55)

Nabi Luth menyampaikan dakwah kepada mereka dengan penuh ketulusan dan kejujuran, namun apa gerangan jawapan dari kaumnya:

"Maka tidak lain jawapan kaumnya melainkan mengatakan: 'Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; kerana sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwahkan dirinya) bersih.'" (QS. an-Naml: 56)

Mengapa mereka menjadikan sesuatu yang patut dipuji menjadi sesuatu yang tercela yang kemudian harus diusir dan dikeluarkan. Tampak bahawa jiwa kaum Nabi Luth benar-benar sakit dan mereka justru menganiaya diri mereka sendiri serta bersikap angkuh terhadap kebenaran. Akhirnya, kaum lelaki cenderung kepada sesama jenis mereka, bukan malah cenderung kepada wanita. Sungguh aneh ketika mereka menganggap kesucian dan kebersihan sebagai kejahatan yang harus disamakan. Mereka orang-orang yang sakit yang justru menolak ubat dan memeranginya. Tindakan kaum Nabi Luth membuat had beliau bersedih. Mereka melakukan kejahatan secara terang-terangan di tempat-tempat mereka. Ketika mereka melihat seorang asing atau seorang musafir atau seorang tamu yang memasuki kota, maka mereka menangkapnya. Mereka berkata kepada Nabi Luth, "sambutlah tamu- tamu perempuan dan tinggalkanlah untuk kami kaum lelaki." Mulailah perilaku mereka yang keji itu terkenal.

Nabi Luth memerangi mereka dalam jihad yang besar. Nabi Luth mengemukakan argumentasi. Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun berlalu, dan Nabi Luth terus berdakwah. Namun tak seorang pun yang mengikutinya dan tiada yang beriman kepadanya kecuali keluarganya, bahkan keluarganya pun tidak beriman semuanya. Isteri Nabi Luth kafir seperti isteri Nabi Nuh:

"Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang- orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang soleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (seksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): 'Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk neraka.'" (QS. at-Tahrim: 10)

Jika rumah adalah tempat istirahat yang di dalamnya seseorang mendapatkan ketenangan, maka Nabi Luth terseksa, baik di luar rumah mahupun di dalamnya. Kehidupan Nabi Luth dipenuhi dengan mata rantai penderitaan yang keras namun beliau tetap sabar atas kaumnya. Berlalulah tahun demi tahun tetapi tak seorang pun yang beriman kepadanya, bahkan mereka mulai mengejek ajarannya dan mengatakan apa saja yang ingin mereka katakan:

"Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang- arang yang benar." (QS. al-'Ankabut: 29)

Ketika terjadi hal tersebut, Nabi Luth berputus asa kepada mereka dan ia berdoa kepada Allah SWT agar menolongnya dan menghancurkan orang- orang yang membuat kerosakan. Akhirnya, para malaikat keluar dari tempat Nabi Ibrahim menuju desa Nabi Luth. Mereka sampai saat Ashar. Mereka mencapai pagar-pagar Sudum. Sungai mengalir di tengah-tengah tanah yang penuh dengan tanaman yang hijau.

Sementara itu, anak perempuan Nabi Luth berdiri sedang memenuhi tempat airnya dari air sungai itu. Ia mengangkat wajahnya sehingga menyaksikan mereka. Ia tampak kehairanan melihat kaum lelaki yang memiliki ketampanan yang mengagumkan. Salah seorang malaikat bertanya kepada anak kecil itu: "Wahai anak perempuan, apakah ada rumah di sini?" Ia berkata (saat itu ia mengingat kaumnya), "Hendaklah kalian tetap di situ sehingga aku memberitahu ayahku dan kemudian akan kembali pada kalian." Ia meninggalkan wadah airnya di sisi sungai dan segera menuju ayahnya.

"Ayahku, ada pemuda-pemuda yang ingin menemuimu di pintu kota. Aku belum pernah melihat wajah-wajah seperti mereka," kata anak itu dengan nada gugup. Nabi Luth berkata kepada dirinya sendiri: Ini adalah hari yang dahsyat. Beliau segera berlari menuju tamu-tamunya. Ketika Nabi Luth melihat mereka, beliau merasakan kehairanan yang luar biasa. Beliau berkata: "Ini adalah hari yang dahsyat." Beliau bertanya kepada mereka: "Dari mana mereka datang dan apa tujuan mereka?" Mereka malah terdiam dan justru memintanya untuk menjamu mereka." Nabi Luth tampak malu di hadapan mereka, kemudian beliau berjalan di depan mereka sedikit lalu beliau berhenti sambil menoleh kepada mereka dan berkata: "Saya belum mengetahui kaum yang lebih keji di muka bumi ini selain penduduk negeri ini." Beliau mengatakan demikian dengan maksud agar mereka mengurungkan niat mereka untuk bermalam di negerinya. Namun mereka tidak peduli dengan ucapan Nabi Luth dan mereka tidak memberikan komentar atasnya.

Nabi Luth kembali berjalan bersama mereka dan beliau selalu berusaha untuk mengalihkan pembicaraan tentang kaumnya. Nabi Luth memberitahu mereka bahawa penduduk desanya sangat jahat dan menghinakan tamu-tamu mereka. Di samping itu, mereka juga membuat kerosakan di muka bumi dan seringkali terjadi pertentangan di dalam desanya. Pemberitahuan tersebut dimaksudkan agar para tamunya membatalkan niat mereka untuk bermalam di desanya tanpa harus melukai perasaan mereka dan tanpa menghilangkan penghormatan pada tamu. Nabi Luth berusaha dan mengisyaratkan kepada mereka untuk melanjutkan perjalanannya tanpa harus mampir di negerinya. Namun tamu-tamu itu sangat menghairankan. Mereka tetap berjalan dalam keadaan diam. Ketika Nabi Luth melihat tekad mereka untuk tetap bermalam di kota, beliau meminta kepada mereka untuk tinggal di suatu kebun sehingga datang waktu Maghrib dan kegelapan menyelimuti segala penjuru kota. Nabi Luth sangat bersedih dan dadanya menjadi sempit. kerana rasa takutnya dan penderitaannya sehingga ia lupa untuk memberi mereka makanan. Kegelapan mulai menyelimuti kota. Nabi Luth menemani tiga tamunya itu berjalan menuju rumahnya. Tak seorang pun dari penduduk kota yang melihat mereka. Namun isterinya melihat mereka sehingga ia keluar menuju kaumnya dan memberitahu mereka kejadian yang dilihatnya. Kemudian tersebarlah berita dengan begitu cepat dan selanjutnya kaum Nabi Luth menemuinya. Allah SWT berfirman:

"Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya kerana kedatangan mereka, dan dia berkata: 'Ini adalah hari yang amat sulit.' Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergesa-gesa. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji." (QS. Hud: 77-78)

Mulailah terjadi hari yang sangat keras. Kaum Nabi Luth bergegas menuju padanya. Nabi Luth bertanya pada dirinya sendiri: "Siapa gerangan yang memberitahu mereka?" Kemudian ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari isterinya namun ia tidak menemuinya. Maka bertambahlah kesedihan Nabi Luth.

Kaum Nabi Luth berdiri di depan pintu rumah. Nabi Luth keluar kepada mereka dengan penuh harap, bagaimana seandainya mereka diajak berfikir secara sehat? Bagaimana seandainya mereka diajak menggunakan fitrah yang sehat? Bagaimana seandainya mereka tergugah dengan kecenderungan yang sehat terhadap jenis lain yang Allah SWT ciptakan untuk mereka? Bukankah di dalam rumah mereka terdapat kaum wanita? Seharusnya wanitalah yang menjadi kecenderungan mereka, bukan malah mereka cenderung kepada sesama lelaki.

"Dia berkata: 'Hai kaumku, inilah puteri-puteri (negeriku) mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal." (QS. Hud: 78)

"Inilah puteri-puteri (negeriku)." Apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut? Nabi Luth ingin berkata kepada mereka: "Di hadapan kalian terdapat wanita-wanita di bumi. Mereka lebih suci bagi kalian dalam bentuk kesucian jiwa dan fizik. Ketika kalian cenderung kepada mereka, maka kecenderungan itu merupakan pelaksanaan dari fitrah yang sehat." "Maka bertakwalah kalian kepada Allah." Nabi Luth berusaha menjamah jiwa mereka dari sisi takwa setelah menjamahnya dari sisi fitrah. Bertakwalah kepada Allah SWT dan ingatlah bahawa Allah SWT mendengar dan melihat serta akan murka dan menyeksa orang-orang yang derhaka. Seharusnya orang yang berakal sehat menghindari murka- Nya.

"Dan janganlah kalian mencemarkan namaku terhadap tamuku ini." Ini adalah usaha gagal dari beliau yang mencuba menggugah kemuliaan dan tradisi mereka sebagai orang Badwi yang harus menghormati tamu, bukan malah menghinakannya. "Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?" Tidakkah di antara kalian terdapat orang yang mempunyai fikiran yang sehat? Tidakkah di antara kalian terdapat laki-laki yang berakal? Apa yang kalian inginkan jika memang terwujud, maka itu hakikat kegilaan. Akal adalah sarana yang tepat bagi kalian untuk mengetahui kebenaran. Sesungguhnya perkara tersebut sangat jelas kebenarannya jika kalian memperhatikan fitrah, agama, dan harga diri." Kaumnya menunggu hingga beliau selesai dari nasihatnya yang singkat lalu mereka tertawa terbahak-bahak. Kalimat Nabi Luth yang suci itu tidak mampu mengubah pendirian jiwa yang sakit, hati yang beku, dan fikiran yang *****:

"Mereka menjawab: 'Sesungguhnya kamu telah tahu bahawa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.'" (QS. Hud: 79)

Demikianlah tampak dengan jelas bahawa kebenaran tersembunyi di balik pengkaburan, suatu hal yang diketahui oleh dunia semuanya. Mereka tidak mengatakan kepadanya apa yang mereka inginkan kerana dunia mengetahuinya dan selanjutnya ia juga mengetahui, yakni isyarat yang buruk pada perbuatan yang buruk.

Nabi Luth merasakan kesedihan dan kelemahannya di tengah-tengah kaumnya. Dengan marah Nabi Luth memasuki rumahnya dan menutup pintu rumahnya. Ia berdiri mendengarkan tertawa dan celaan serta pukulan terhadap pintu rumahnya. Sementara itu, orang-orang asing yang dijamu oleh Nabi Luth tampak duduk dalam keadaan tenang dan terpaku. Nabi Luth merasakan kehairanan dalam dirinya ketika melihat ketenangan mereka. Dan pukulan-pukulan yang ditujukan pada pintu semakin kencang. Mulailah kayu-kayu pintu itu tampak rosak dan lemah, lalu Nabi Luth berteriak dalam keadaan kesal:

"Luth berkata: 'Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).'" (QS. Hud: 80)

Nabi Luth berharap akan mendapatkan kekuatan sehingga dapat melindungi para tamunya. Beliau mengharapkan seandainya terdapat benteng yang kuat yang dapat melindunginya, yaitu benteng Allah SWT yang di dalamnya para nabi dan kekasih-kekasih-Nya dilindungi. Berkenaan dengan hal itu, Rasulullah berkata saat membaca ayat tersebut: "Allah SWT menurunkan rahmat atas Nabi Luth. Ia berlindung pada benteng yang kukuh." Ketika penderitaan mencapai puncaknya dan Nabi Luth mengucapkan kata-katanya yang terbang laksana burung yang putus asa, para tamunya bergerak dan tiba-tiba bangkit. Mereka memberitahunya bahawa ia benar-benar akan terlindung di bawah benteng yang kuat:

"Para utusan (malaikat) berkata: 'Hai Luth sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-sekali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu." (QS. Hud: 81)

Jangan berkeluh kesah wahai Luth dan jangan takut. Kami adalah para malaikat, dan kaum itu tidak akan mampu menyentuhmu. Tiba-tiba pintu terbelah. Jibril bangkit dan ia menunjuk dengan tangannya secara cepat sehingga kaum itu kehilangan matanya. Lalu mereka tampak serampangan di dalam dinding dan mereka keluar dari rumah dan mereka mengira bahawa mereka memasukinya. Jibril as menghilangkan mata mereka.

Allah SWT berfirman:

"Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal." (QS. al-Qamar: 37-38)

Para malaikat menoleh kepada Nabi Luth dan memerintahkan kepadanya untuk membawa keluarganya di tengah malam dan keluar. Mereka mendengar suara yang sangat mengerikan dan akan menggoncangkan gunung. Seksa apa ini? Ini adalah seksa dari bentuk yang aneh. Para malaikat memberitahunya bahawa isterinya termasuk orang-orang yang menentangnya. isterinya adalah seorang kafir seperti mereka, sehingga jika turun azab kepada mereka, maka ia pun akan menerimanya.

Keluarlah wahai Luth kerana keputusan Tuhanmu telah ditetapkan. Nabi Luth bertanya kepada malaikat: "Apakah sekarang akan turun azab kepada mereka?" Para malaikat memberitahunya bahawa mereka akan terkena azab pada waktu Subuh. Bukankah waktu Subuh itu sangat dekat?

Allah berfirman SWT:

"Pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kalian yang tertinggal, kecuali isterimu Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka kerana sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka adalah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?" (QS. Hud: 81)

Nabi Luth keluar bersama anak-anak perempuannya dan isterinya. Mereka keluar di waktu malam. Dan tibalah waktu Subuh. Kemudian datanglah perintah Allah SWT:

"Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan seksaan itu tiadalah jauh dari orang- orang yang lalim. " (QS. Hud: 82-83)

Para ulama berkata: "Jibril menghancurkan dengan ujung sayapnya tujuh kota mereka. Jibril mengangkat semuanya ke langit sehingga para malaikat mendengar suara ayam-ayam mereka dan gonggongan anjing mereka. Jibril membalikkan tujuh kota itu dan menumpahkannya ke bumi. Saat terjadi kehancuran, langit menghujani mereka dengan batu- batu dari neraka Jahim. Yaitu batu-batu yang keras dan kuat yang datang silih berganti. Neraka Jahim terus menghujani mereka sehingga kaum Nabi Luth musnah semuanya. Tiada seorang pun di sana. Semua kota- kota hancur dan ditelan bumi sehingga terpancarlah air dari bumi. Hancurlah kaum Nabi Luth dan hilanglah kota-kota mereka. Nabi Luth mendengar suara-suara yang mengerikan. isterinya melihat sumber suara dan dia pun musnah."

Allah SWT berfirman tentang kota-kota Luth:

"Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada seksa yang pedih. " (QS. adz-Dzariyat: 35-37)

"Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia)." (QS. al-Hijr: 76)

"Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi, dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkannya." (QS. ash-Shaffat: 137-138)

Yakni ia adalah bukti kekuasaan Allah SWT yang zahir. Para ulama berkata: "bahawa kota-kota yang tujuh menjadi danau yang aneh di mana airnya asin dan deras airnya lebih besar dari derasnya air laut yang asin. Dan di dalam danau ini terdapat batu-batu tarnbang yang mencair. Ini mengisyaratkan bahawa batu-batu yang ditimpakan pada kaum Nabi Luth menyerupai butiran-butiran api yang menyala. Ada yang mengatakan bahawa danau yang sekarang bernama al-Bahrul Mayit yang terletak di Palestina adalah kota-kota kaum Nabi Luth."

Tamatlah riwayat kaum Nabi Luth dari bumi. Akhirnya, Nabi Luth menemui Nabi Ibrahim. Beliau menceritakan berita tentang kaumnya. Beliau hairan ketika mendengar bahawa Nabi Ibrahim juga mengetahuinya. Nabi Luth terus melanjutkan misi dakwahnya di jalan Allah s.w.t seperti Nabi Ibrahim. Mereka berdua tetap menyebarkan Islam di muka bumi.


Kisah Nabi Luth Di Dalam Al-Quran

Kisah Nabi Luth dalam Al-Quran terdapat pada 85 ayat dalam 12 surah diantaranya surah "Al-Anbiyaa" ayat 74 dan 75 , surah "Asy-Syu'ara" ayat 160 sehingga ayat 175 , surah "Hud" ayat 77 sehingga ayat 83 , surah "Al- Qamar" ayat 33 sehingga 39 dan surah "At-Tahrim" ayat 10 yang mengisahkan isteri Nabi Luth yang mengkhianati suaminya.
 
8. Nabi Ismail

Ismail berusia belia ketika memulai perjalanannya menuju Allah s.w.t. Ibunya membawanya dan menidurkannya di atas tanah, yaitu tempat yang sekarang kita kenal dengan nama telaga zamzam dalam Ka'bah. Saat itu tempat yang dihuninya sangat tandus dan belum terdapat telaga yang memancar dari bawah kakinya. Tidak ada di sana setitis air pun. Nabi Ibrahim meninggalkan isterinya, Hajar, bersama anaknya yang kecil. "Wahai Ibrahim ke mana engkau hendak pergi dan membiarkan kami di lembah yang kering ini?" Kata Hajar. "Wahai Ibrahim di mana engkau akan pergi dan membiarkan kami? Wahai Ibrahim ke mana engkau akan pergi?" Si ibu mengulang-ulang apa yang dikatakannya. Sedangkan Nabi Ibrahim diam dan tidak menjawab. Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana perasaan Nabi Ibrahim saat meninggalkan mereka berdua di suatu lembah yang tidak ada di alamnya tumbuh-tumbuhan dan minuman. Namun Allah s.w.t telah memerintahkannya untuk tinggal di lembah itu. Dengan lapang dada Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah s.w.t.

Dalam kisah-kisah israiliyat (kisah-kisah palsu yang dibuat oleh Bani Israil) disebutkan bahawa isteri pertamanya, Sarah, tampak cemburu pada Hajar, isteri keduanya, sehingga kerananya Nabi Ibrahim harus menjauhkannya beserta anaknya. Kami percaya bahawa kisah ini palsu dan penuh dengan kebohongan. Jika kita mengamati keperibadian Nabi Ibrahim, maka kita mengetahui bahawa beliau tidak akan mendapat perintah dari seorang pun selain Allah s.w.t.

Kami tidak meyakini bahawa beliau terperangkap dalam perasaan kecemburuan feminisme dan kami juga tidak percaya bahawa beliau sengaja membangkitkan perasaan ini. Kami tidak mengira bahawa peribadi Sarah yang mulia akan terpedaya dengan sikap egoisme. Bukankah ia sendiri yang menikahkan Nabi Ibrahim dengan Hajar, pembantunya agar ia mendapatkan keturunan? Ia menyedari bahawa dirinya wanita tua dan mandul. Ia sendiri yang menikahkannya dan membantu pelaksanaannya. Ia telah memberikan dan mengabdikan dirinya kepada seorang lelaki yang hatinya tiada dipenuhi dengan cinta kepada siapa pun kecuali cinta kepada Penciptanya.

Allah s.w.t berfirman tentang Sarah dan Hajar:

"Rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah. (QS. Hud: 73)

Jadi, masalahnya adalah bukan masalah kecemburuan antara sesama wanita, namun ia adalah tugas yang diperintahkan oleh Allah s.w.t yang di dalamnya tersembunyi hikmah-Nya. Barangkali Sarah lebih hairan daripada Hajar ketika Nabi Ibrahim memerintahkannya untuk membawa anaknya Ismail dan mengikutinya. "Ke mana engkau hai Ibrahim pergi?" Mungkin pertama-tama Hajar yang bertanya kepadanya dan mungkin juga Sarah yang bertanya. Nabi Ibrahim hanya terdiam dan akhirnya kedua wanita itu pun juga terdiam.

Di sana terdapat hikmah yang tersembunyi di mana Nabi Ibrahim tidak mengetahuinya dan Allah s.w.t tidak menjelaskan kepadanya. la tidak mengetahui hai itu sebagaimana mereka berdua juga tidak mengetahuinya. Jadi kedua-duanya hanya terdiam sebagai bentuk akhlak dari isteri-isteri nabi. Inilah Hajar yang sendirian bersama anaknya di lembah yang terasing dan tandus, di mana ia tidak mengetahui rahsia di balik tempat itu. Inilah Ismail yang memulai perjalanannya menuju Allah s.w.t saat masih menyusui. Ia mengalami ujian saat masih kecil dan juga ujian bagi ayahnya, di mana ia mendapatkan seorang anak saat sudah tua. Nabi Ibrahim menyedari bahawa manusia tidak memiliki sesuatu pun dalam dirinya. Dan seseorang yang cinta kepada Allah s.w.t akan memberikan dirinya kepada Allah s.w.t dan akan memberikan apa yang di sukai oleh dirinya kepada Allah s.w.t tanpa harus diminta. Itu adalah hukum cinta yang dalam. Kami tidak percaya bahawa Nabi Ibrahim mengetahui mengapa ia harus meninggalkan Ismail dan ibunya di tempat itu. Kami tidak mengira bahawa Allah s.w.t telah memberitahunya. Allah s.w.t hanya menurunkan perintah dan Ibrahim hanya menaatinya. Di sinilah tampak kerasnya ujian dan kesulitannya. Di sinilah cinta yang paling dalam diungkapkan, dan di sinilah cinta yang murni dituangkan.

Allah s.w.t menguji kekasih-Nya Ibrahim dengan suatu ujian yang sangat keras, di mana umumnya para orang tua berat sekali melakukannya. Bukan bererti bahawa cinta Allah s.w.t kepada Ibrahim dan cinta Ibrahim kepada-Nya menjadikan Ibrahim tidak memiliki perasaan kemanusiaan. Kekuatan cintanya pada Allah s.w.t justru menjadikan sebagai lautan dari perasaan kemanusiaan, bahkan lautan yang tidak bertepi. Perasaan beliau terhadap Ismail lebih besar, lebih lembut, dan lebih sayang dari perasaan ayah mana pun terhadap anaknya. Meskipun demikian, beliau rela meninggalkannya di tempat yang tandus kerana Allah s.w.t memerintahkan hal tersebut. Terjadilah pergelutan dalam dirinya namun ia mampu melewati ujiannya dan beliau memilih cinta Allah s.w.t daripada cinta anaknya.

Ketika Nabi Ibrahim menampakkan kecintaan yang luar biasa dari yang seharusnya kepada anaknya, maka Allah s.w.t memerintahkannya untuk menyembelihnya. Allah s.w.t agar hanya Dia yang menjadi pusat cinta para nabi-Nya. Barang siapa yang mencintai Allah s.w.t, maka ia pun harus mencintai kebenaran dan orang yang mencintai kebenaran adalah orang memenuhi hatinya dengan cinta kepada Penciptanya semata. Ismail mewarisi kesabaran ayahnya. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah s.w.t sebelumnya:

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang soleh" (QS. ash-Shaffat: 100)

Allah s.w.t menjawab:

"Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar." (QS. ash-Shaffat: 101)

Kesabaran yang sama yang terdapat pada ayahnya, kebaikan yang sama, ketakwaan yang sama, dan adab kenabian yang sama pula. Ismail mendapatkan ujian yang pertama saat beliau kecil dan ujian itu berakhir saat Allah s.w.t memancarkan zamzam dari kedua kakinya sehingga darinya ibunya minum dan menyusuinya. Kemudian Ismail mendapatkan ujian yang kedua dalam hidupnya saat ia menginjak masa muda:

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahawa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu: Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'" (QS. ash-Shaffat: 102)

Apa yang Anda kira terhadap jawapan si anak? Ia tidak bertanya tentang sifat dari mimpi itu, dan ia tidak berdebat dengan ayahnya tentang kebenaran mimpi itu, tetapi yang dikatakannya: "Wahai ayahku laksanakanlah apa yang diperintahkan. "Janganlah engkau gelisah kerana aku dan janganlah engkau menampakkan kesedihan dan keluh-kesah. "Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Demikianlah jawapan seorang anak yang soleh terhadap ayahnya yang soleh. Itulah puncak dari kesabaran dari seorang anak dan tentu orang tuanya lebih harus bersabar. Itu bagaikan perlumbaan di antara keduanya untuk menguji siapa di antara mereka yang paling sabar. Perlumbaan yang tujuannya adalah meraih cinta Allah s.w.t.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diredhai di sisi Tuhannya." (QS. Maryam: 54-55)

Baitullah

Ismail hidup di semenanjung Arab sesuai dengan kehendak Allah s.w.t. Ismail memelihara kuda dan terhibur dengannya serta memanfaatkannya untuk keperluannya. Sedangkan air zamzam sangat membantu orang- orang yang tinggal di daerah itu. Kemudian sebahagian kafilah menetap di situ dan sebahagian kabilah tinggal di tempat itu. Nabi Ismail tumbuh menjadi dewasa dan menikah. Lalu ayahnya, Nabi Ibrahim, mengunjunginya dan tidak menemukannya dalam rumah namun ia hanya mendapati isterinya. Nabi Ibrahim bertanya kepadanya tentang kehidupan mereka dan keadaan mereka. isterinya mengadukan padanya tentang kesempitan hidup dan kesulitannya. Nabi Ibrahim berkata padanya: "Jika datang suamimu, maka perintahkan padanya untuk mengubah gerbang pintunya."

Ketika Nabi Ismail datang, dan isterinya menceritakan padanya perihal kedatangan seorang lelaki, Ismail berkata: "Itu adalah ayahku dan ia memerintahkan aku untuk meninggalkanmu, maka kembalilah engkau pada keluargamu." Kemudian Nabi Ismail menikahi wanita yang kedua. Nabi Ibrahim mengunjungi isteri keduanya dan bertanya kepadanya tentang keadaannya. Lalu ia menceritakan padanya bahawa mereka dalam keadaan baik-baik dan dikurniai nikmat. Nabi Ibrahim puas terhadap isteri ini dan memang ia sesuai dengan anaknya. Barangkali Nabi Ibrahim menggunakan kemampuan spirituilnya dan cahaya yang mampu menyingkap keghaiban yang dimilikinya. Nabi Ibrahim menyiapkan Ismail untuk mengembang tugas yang besar. Yaitu tugas yang membutuhkan kerja keras kemanusiaan seluruhnya dan waktunya seluruhnya serta kenyamanannya seluruhnya.

Ismail menjadi besar dan mencapai kekuatannya. Nabi Ibrahim mendatanginya. Tibalah saat yang tepat untuk menjelaskan hikmah Allah s.w.t yang telah terjadi dari perkara-perkara yang samar. Nabi Ibrahim berkata kepada Ismail: "Wahai Ismail, sesungguhnya Allah s.w.t memerintahkan padaku suatu perintah" ketika datang perintah pada Nabi Ibrahim untuk menyembelihnya, beliau menjelaskan kepadanya persoalan itu dengan gamblang. Dan sekarang ia hendak mengemukakan perintah lain yang sama agar ia mendapatkan keyakinan bahawa Ismail akan membantunya. Kita di hadapan perintah yang lebih penting daripada penyembelihan. Perintah yang tidak berkenaan dengan peribadi nabi tetapi berkenaan dengan makhluk.

Ismail berkata: "Laksanakanlah apa yang diperintahkan Tuhanmu padamu." Nabi Ibrahim berkata: "Apakah engkau akan membantuku?" Ismail menjawab: "Ya, aku akan membantumu." Nabi Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah s.w.t memerintahkan aku untuk membangun rumah di sini." Nabi Ibrahim mengisyaratkan dengan tangannya dan menunjuk suatu bukit yang tinggi di sana.

Selesailah pekerjaan itu. Perintah itu telah dilaksanakan dengan berdirinya Baitullah yang suci. Itu adalah rumah yang pertama kali dibangun untuk manusia di bumi. Ia adalah rumah pertama yang di dalamnya manusia menyembah Tuhannya. Dan kerana Nabi Adam adalah manusia yang pertama turun ke bumi, maka keutamaan pembangunannya kembali padanya. Para ulama berkata: "Sesungguhnya Nabi Adam membangunnya dan ia melakukan tawaf di sekelilingnya seperti para malaikat yang tawaf di sekitar Arasy Allah s.w.t.

Nabi Adam membangun suatu khemah yang di dalamnya ia menyembah Allah s.w.t. Adalah hal yang biasa bagi Nabi Adam - sebagai seorang Nabi - untuk membangun sebuah rumah untuk menyembah Allah s.w.t. Tempat itu dipenuhi dengan rahmat. Kemudian Nabi Adam meninggal dan berlalulah abad demi abad sehingga rumah itu hilang dan tersembunyi tempatnya. Maka Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah s.w.t untuk membangun kedua kalinya agar rumah itu tetap berdiri sampai hari kiamat dengan izin Allah s.w.t. Nabi Ibrahim mulai membangun Ka'bah. Ka'bah adalah sekumpulan batu yang tidak membahayakan dan tidak memberikan manfaat. Ia tidak lebih dari sekadar batu. Meskipun demikian, ia merupakan simbol tauhid Islam dan tempat penyucian kepada Allah s.w.t. Nabi Adam memiliki tauhid yang tinggi dan Islam yang mutlak. Nabi Ibrahim pun termasuk seorang Muslim yang tulus dan ia bukan termasuk seorang musyrik.

Batu-batu rumah itu telah dibangun dari ketenteraman hati Nabi Adam dan kedamaian Nabi Ibrahim serta cintanya dan kesabaran Nabi Ismail serta ketulusannya. Oleh kerana itu, ketika Anda memasuki Masjidil Haram Anda akan merasakan suatu gelombang kedamaian yang sangat dalam. Terkadang pada kali yang pertama engkau melihat dirimu dan tidak melihat rumah dan pemeliharanya. Dan barangkali engkau melihat rumah pada kali yang kedua namun engkau tidak melihat dirimu dan Tuhanmu. Ketika engkau pergi ke haji engkau tidak akan melihat dirimu dan rumah itu yang engkau lihat hanya pemelihara rumah itu. Ini adalah haji yang hakiki. Inilah hikmah yang pertama dari pembangunan Ka'bah.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): 'Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk dan patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (Al-Quran) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. " (QS. al-Baqarah: 127-129)

Ka'bah terdiri dari batu-batuan yang ada di bumi di mana ia dijadikan pondasi oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Sejarah menceritakan bahawa ia pernah dihancurkan lebih dari sekali sehingga ia pun beberapa kali dibangun kembali. Ia tetap berdiri sejak masa Nabi Ibrahim sampai hari ini. Dan ketika Rasulullah saw diutus - sebagai bukti pengabulan doa Nabi Ibrahim - beliau mendapat Ka'bah dibangun terakhir kalinya, dan tenaga yang dicurahkan oleh orang-orang yang membangunnya sangat terbatas di mana mereka tidak menggali dasarnya sebagaimana Nabi Ibrahim menggalinya. Dari sini kita memahami bahawa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mencurahkan tenaga keras yang tidak dapat ditandingi oleh ribuan laki-laki. Rasulullah saw telah menegaskan bahawa kalau bukan kerana kedekatan kaum dengan masa jahiliah dan kekhuatiran orang- orang akan menuduhnya dengan berbagai tuduhan jika beliau menghancurkannya dan membangunkannya kembali, nescaya beliau ingin merobohkannya dan mengembalikannya ke pondasi Nabi Ibrahim.

Sungguh kedua nabi yang mulia itu telah mencurahkan tenaga keras dalam membangunnya. Mereka berdua menggali pondasi kerana dalamnya tanah yang di bumi. Mereka memecahkan batu-batuan dari gunung yang cukup jauh dan dekat, lalu setelah itu memindahkannya dan meratakannya serta membangunnya. Tentu hal itu memerlukan tenaga keras dari beberapa lelaki tetapi mereka berdua membangunnya bersama-sama. Kita tidak mengetahui berapa banyak waktu yang digunakan untuk membangun Ka'bah sebagaimana kita tidak mengetahui waktu yang digunakan untuk membuat perahu Nabi Nuh. Yang penting adalah, bahawa perahu Nabi Nuh dan Ka'bah sama-sama sebagai tempat perlindungan manusia dan tempat yang membawa keamanan dan kedamaian. Ka'bah adalah perahu Nabi Nuh yang tetap di atas bumi selama-lamanya. Ia selalu menunggu orang-orang yang menginginkan keselamatan dari kedahsyatan angin taufan yang selalu mengancam setiap saat.

Allah s.w.t tidak menceritakan kepada kita tentang waktu pembangunan Ka'bah. Allah s.w.t hanya menceritakan perkara yang lebih penting dan lebih bermanfaat. Dia menceritakan tentang kesucian jiwa orang-orang yang membangunnya dan doa mereka saat membangunnya:

"Tuhan kami, terimalah dari hand (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. " (QS. al- Baqarah: 127)

Itulah puncak keikhlasan orang-orang yang ikhlas, ketaatan orang-orang yang taat, ketakutan orang-orang yang takut, dan kecintaan orang-orang yang mencintai:

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau." (QS. al-Baqarah:
128)

Sesungguhnya kaum Muslim yang paling agung di muka bumi saat itu, mereka berdoa kepada Allah s.w.t agar menjadikan mereka termasuk orang-orang yang berserah diri pada-Nya. Mereka mengetahui bahawa hati manusia terletak sangat dekat dengan ar-Rahman (Allah s.w.t). Mereka tidak akan mampu menghindari tipu daya Allah s.w.t. Oleh kerana itu, mereka menampakkan kemurnian ibadah hanya kepada Allah s.w.t, dan mereka membangun rumah Allah s.w.t serta meminta pada- Nya agar menerima pekerjaan mereka.

Selanjutnya, mereka meminta Islam (penyerahan diri) pada-Nya dan rahmat yang turun pada mereka di mana mereka memohon kepada Allah s.w.t agar memberi mereka keturunan dari umat Islam. Mereka ingin agar jumlah orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang sujud dan rukuk semakin banyak. Sesungguhnya doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menyingkap isi had seorang mukmin. Mereka membangun rumah Allah s.w.t dan pada saat yang sama mereka disibukkan dengan urusan akidah (keyakinan). Itu mengisyaratkan bahawa rumah itu sebagai simbol dari akidah.

"Dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. " (QS. al-Baqarah: 128)

Perlihatkanlah kepada kami cara ibadah yang Engkau sukai. Perlihatkanlah kepada kami bagaimana kami menyembah-Mu di bumi. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang. Setelah itu, kepedulian mereka melampaui masa yang mereka hidup di dalamnya. Mereka berdoa kepada Allah s.w.t:

"Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (Al-Quran) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. " (QS. al-Baqarah: 129)

Akhirnya, doa tersebut terkabul ketika Allah s.w.t. mengutus Muhammad bin Abdullah saw. Doa tersebut terwujud setelah melalui masa demi masa. Selesailah pembangunan Ka'bah dan Nabi Ibrahim menginginkan batu yang istimewa yang akan menjadi tanda khusus di mana tawaf di sekitar Ka'bah akan dimulai darinya. Ismail telah mencurahkan tenaga di atas kemampuan manusia biasa. Beliau bekerja dengan sangat antusias sebagai wujud ketaatan terhadap perintah ayahnya. Ketika beliau kembali, Nabi Ibrahim telah meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. "Siapakah yang mendatangkannya (batu) padamu wahai ayahku?" Nabi Ibrahim berkata: "Jibril as yang mendatangkannya." Selesailah pembangunan Ka'bah dan orang- orang yang mengesakan Allah s.w.t serta orang-orang Muslim mulai bertawaf di sekitarnya. Nabi Ibrahim berdiri dalam keadaan berdoa kepada Tuhannya sama dengan doa yang dibacanya sebelumnya, yaitu agar Allah s.w.t menjadikan had manusia cenderung pada tempat itu:

"Maka jadikanlah hati sebahagian manusia cenderung kepada mereka. "(QS. Ibrahim: 37)

kerana pengaruh doa tersebut, kaum Muslim merasakan kecintaan yang dalam untuk mengunjungi Baitul Haram. Setiap orang yang mengunjungi Masjidil Haram dan kembali ke negerinya ia akan merasakan kerinduan pada tempat itu. Semakin jauh ia, semakin meningkat kerinduannya padanya. Kemudian, datanglah musim haji pada setiap tahun, maka hati yang penuh dengan cinta pada Baitullah akan segera melihatnya dan rasa hausnya terhadap telaga zamzam akan segera terpuaskan. Dan yang lebih penting dari semua itu adalah cinta yang dalam terhadap Tuhan, Baitullah dan telaga zamzam yaitu, Tuhan alam semesta. Allah s.w.t berfirman berkenaan dengan orang-orang yang mendebat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail:

"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. " (QS. Ali 'Imran: 67)

Allah s.w.t mengabulkan doa Nabi Ibrahim dan beliau yang pertama kali menamakan kita sebagai orang-orang Muslim. Allah s.w.t berfirman:

"Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dan dahulu. " (QS. al- Hajj: 78)
 
9. Nabi Ishak , 10. Nabi Yaqub

Nabi Ishaq adalah putera nabi Ibrahim dari isterinya Sarah, sedang Nabi Ismail adalah puteranya dari Hajr, dayang yang diterimanya sebagai hadiah dari Raja Namrud.

Tentang Nabi Ishaq ini tidak dikisahkan dalan Al-Quran kecuali dalam beberapa ayat di antaranya adalah ayat 69 sehingga 74 dari surah Hud, seperti berikut:

69. " Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami {malaikat-malaikat** telah datang kepada Ibrahim membawa khabar gembira mereka mengucapkan "selamat".Ibrahim menjawab: "Selamatlah" maka tidak lama kemudian Ibrahim menjamukan daging anak sapi yang dipanggang.

70. "Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. malaikat itu berkata " Janagan kamu takut sesungguhnya kami adalah {malaikat-malaikat** yang diuts untuk kaum Luth."

71. "dan isterinya berdiri di sampingnya lalu di tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira akan {kelahiran** Ishaq dan sesudah Ishaq {lahir pula** Ya'qub."

72. Isterinya berkata " sungguh menghairankan apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua dan suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua juga? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang aneh."

73. Para malaikat itu berkata " Apakah kamu merasa hairan tentang ketetapan Allah? { itu adalah** rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu hai ahlulbait! sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah. "

74. "Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya dia pun bersoal jawab dengan {malaikat- malaikat** Kami tentang kaum Luth." { Hud : 69 ~ 74 **

Selain ayat-ayat yang tersebut di atas yang membawa berita akan lahirnya Nabi Ishaq daripada kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia yang menurut sementara riwayat bahawa usianya pada waktu itu sudah mencapai sembilan puluh tahun, terdapat beberapa ayat yang menetapkan kenabiannya di antaranya ialah ayat 49 surah "Maryam" sebagai berikut:

" Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang meerka sembah selain Allah Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya'qup. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi."

Dan ayat 112 dan 113 surah "Ash-Shaffaat" sebagai berikut :

" 112. Dan Kami dia khabar gembira dengan {kelahiran** Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang soleh. 113. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada {pula** yang zalim terhadap dirinya dengan nyata."
Catatan Tambahan

Diriwayatkan bahawa Nabi Ibrahim wafat pada usia 175 tahun. Nabi Ismail pada usia 137 tahun dan Nabi Ishaq pada usia 180 tahun.

Al-Qur'an al-Karim hanya menyebutkan sekilas tentang kisah Nabi Ishak. Kelahiran nabi ini membawa suatu kejadian yang luar biasa di mana para malaikat menyampaikan berita gembira tentang kelahirannya. Kelahirannya terjadi setelah beberapa tahun dari kelahirannya Nabi Ismail, saudaranya. Had Sarah sangat senang dengan kelahiran Ishak dan kelahiran putranya Yakub as. Tetapi kita tidak mengetahui bagaimana kehidupan Nabi Ishak dan bagaimana kaumnya bersikap padanya. Yang kita ketahui hanya, bahawa Allah s.w.t memujinya sebagai seorang nabi dari orang-orang yang soleh.

Adapun Yakub, ia adalah Nabi pertama yang berasal dari sulbinya. Beliau adalah Yakub bin Ishak bin Ibrahim. Namanya adalah Israil ia adalah seorang Nabi yang diutus bagi kaumnya. Allah s.w.t menyebutkan tiga bagian dari kisahnya. Berita gembira tentang kelahirannya disampaikan oleh para malaikat kepada datuknya Ibrahim dan Sarah neneknya. Allah s.w.t juga menyebutkan wasiatnya saat ia meninggal. Dan Allah s.w.t akan menyebutkannya setelah itu - tanpa mengisyaratkan namanya - dalam kisah Nabi Yusuf. Melalui wasiatnya tersebut, kita dapat mengetahui tingkat ketakwaannya. Kita mengetahui bahawa kematian adalah suatu bencana yang akan menghancurkan manusia sehingga karenanya manusia menjadi lupa terhadap namanya dan ia hanya ingat terhadap penderitaan dan kesusahannya, tetapi Nabi Yakub tidak lupa saat ia menjemput kematian untuk berdoa kepada Allah s.w.t. Allah s.w.t berfirman:

"Adakah hamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sepeninggalku?' Mereka menjawab: 'Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek mayangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishah, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya. " (QS. al- Baqarah: 133)

Peristiwa ini yang terjadi antara Nabi Yakub dan anak-anaknya di saat menjelang kematian adalah peristiwa yang sangat besar. Kita di hadapan seseorang yang menghadapi sakaratul maut. Apakah masalah yang menyibukkan fikirannya di saat sakaratul maut? Apakah fikiran-fikiran yang selalu mengganggunya saat sakaratul maut? Apakah perkara penting yang harus disampaikannya sehingga hatinya menjadi tenang sebelum kematiannya? Apakah warisan yang ingin ditinggalkannya kepada anak- anaknya dan cucu-cucunya? Apakah sesuatu yang ingin disampaikannya sebelum kematiannya yang dapat menjamin keselamatan manusia? Anda akan menemukan jawaban dari semua pertanyaan itu saat beliau bertanya: "Apa yang kalian sembah sepeninggalku?" Pertanyaan itulah yang sangat merisaukan beliau saat menghadapi sakaratul maut. Yaitu masalah keimanan kepada Allah s.w.t. la adalah masalah satu-satunya dan ia merupakan warisan hakiki. Anak-anak Israil menjawab: "Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan ayah-ayahmu Ibrahim, Ismail, dan Ishak. Yaitu Tuhan yang Maha Esa dan kami akan berserah diri pada-Nya."

Telah terdapat dalil yang kuat yang menunjukkan bahawa mereka diutus untuk menyebarkan Islam. Jika mereka (anak-anak Israil) keluar dari Islam, maka mereka bererti keluar dari rahmat Allah s.w.t dan jika mereka tetap mempertahankannya, maka mereka akan mendapatkan rahmat. Yakub meninggal dan ia bertanya kepada anak-anaknya tentang Islam, di mana ia merasa tenang atas akidah mereka. Sebelum kematiannya, ia mendapatkan ujian berat berkenaan dengan anaknya Yusuf. Yusuf adalah seorang Nabi seperti Yakub di mana Allah s.w.t mengutusnya pada penduduk Mesir.
 
11. Nabi Yusuf

Nabi Yusuf adalah putera ke tujuh daripada dua belas putera-puteri Nabi Ya'qub. Ia dengan adiknya yang bernama Benyamin adalah beribukan Rahil, saudara sepupu Nabi Ya'qub. Ia dikurniakan Allah rupa yang bagus, paras tampan dan tubuh yang tegap yang menjadikan idaman setiap wanita dan kenangan gadis-gadis remaja. Ia adalah anak yang dimanjakan oleh ayahnya, lebih disayang dan dicintai dibandingkan dengan saudara- saudaranya yang lain, terutamanya setelah ditinggalkan iaitu wafatnya ibu kandungnya Rahil semasa ia masih berusia dua belas tahun.

Perlakuan yang diskriminatif dari Nabi Ya'qub terhadap anak-anaknya telah menimbulkan rasa iri-hati dan dengki di antara saudara-saudara Yusuf yang lain, yang merasakan bahawa mereka dianak-tirikan oleh ayahnya yang tidak adil sesama anak, memanjakan Yusuf lebih daripada yang lain.

Rasa jengkel mereka terhadap kepada ayahnya dan iri-hati terhadap Yusuf membangkitkan rasa setia kawan antara saudara-saudara Yusuf, persatuan dan rasa persaudaraan yang akrab di antara mereka. Kisah Nabi Yusuf terdapat dalam satu surah penuh yang juga bernama surah Yusuf. Disebutkan bahawa sebab turunnya surah Yusuf adalah kerana orang-orang Yahudi meminta kepada Rasulullah saw untuk menceritakan kepada mereka kisah Nabi Yusuf. Kisah Nabi Yusuf telah mengalami perubahan pada sebahagiannya dan terdapat penambahan pada sebahagiannya. Lalu Allah s.w.t menurunkan satu surah penuh yang secara terperinci menceritakan kisah Nabi Yusuf.

Allah s.w.t berfirman:

"Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahuinya. " (QS. Yusuf: 3)

Para ulama berbeza pendapat dalam hal mengapa kisah ini disebut dengan kisah yang terbaik? Ada yang mengatakan bahawa kisah ini memiliki keistimewaan dibandingkan dengan kisah-kisah Al-Qur'an yang lain dilihat dari sisi kandungannya yang memuat berbagai ungkapan dan hikmah. Ada yang mengatakan kerana Nabi Yusuf mengampuni saudara- saudaranya dan bersikap sabar atas tindakan mereka. Ada yang mengatakan lagi bahawa kerana di dalamnya terdapat kisah para nabi dan orang-orang soleh, terdapat juga pelajaran tentang kehormatan diri dan adanya godaan, kehidupan para raja, lelaki dan wanita, tipu daya kaum wanita, di dalamnya juga disebut tentang aspek tauhid dan fiqih, pengungkapan mimpi dan penakwilannya. Di samping itu, ia adalah surah yang penuh dengan peristiwa-peristiwa dan petualangan emosi (perasaan atau cinta). Ada yang mengatakan bahawa ia disebut sebagai kisah yang terbaik kerana semua orang-orang yang disebut di dalamnya pada akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Alhasil, kita percaya bahawa terdapat sebab penting di balik keistimewaan kisah ini. Kisah dalam surah tersebut bermuara dari awal sampai akhir pada satu bentuk di mana Anda akan merasakan adanya kekuasaan Allah s.w.t dan terlaksananya perintah-Nya meskipun banyak manusia berusaha menentangnya:

"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya. " (QS. Yusuf: 21)

Nabi Yusuf mendapatkan berbagai ujian dalam hidupnya. Beliau menghadapi persekongkolan jahat yang justru datang dari orang-orang yang dekat dengannya, yaitu saudara-saudaranya. Mereka merencanakan untuk membunuhnya. Rencana itu mereka buat saat Yusuf masih kecil. Kemudian Yusuf dijual di pasar budak di Mesir lalu ia dibeli dengan harga yang sangat murah. Kemudian beliau menghadapi rayuan dari isteri seorang lelaki yang memiliki jabatan penting. Ketika ia menolak rayuannya, ia pun dimasukan ke dalam penjara. Dalam beberapa waktu, beliau menjadi tahanan di penjara. Meskipun mendapatkan berbagai kehinaan ini, pada akhirnya beliau mampu menduduki tampuk kepemimpinan di Mesir. Beliau menjadi menteri dari raja yang pertama. Ia memulai dakwahnya di jalan Allah s.w.t dari atas panggung kekuasaan. Ia melaksanakan rencana Allah s.w.t dan menunaikan perintah-Nya. Demikianlah kandungan dari kisahnya.

Kisah tersebut seolah-olah menggambarkan suatu adegan filem yang sangat mengagumkan, episod demi episod. Di samping itu, Anda akan dihadapkan pada satu bahagian dari bahagian-bahagian peristiwa yang membuat Anda tercengang dan cukup mengganggu daya imaginasi Anda. Itu adalah kisah seni yang sangat mengesankan yang tidak mampu diungkapkan oleh seniman mana pun dari kalangan manusia. Pada mulanya kisah itu mengungkap mimpi dan pada akhirnya menakwilkan mimpi ini. Mimpi para nabi pasti selalu berisi kebenaran, di mana Allah s.w.t menyingkapkan di dalamnya berbagai peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada awal kisah, kita tidak mengetahui bahawa Yusuf adalah seorang Nabi. Begitu juga konteks Al-Qur'an terkesan menyembunyikan nama ayahnya, yaitu Nabi Yakub sebagaimana disampaikan oleh Nabi saw. Jadi, kita berhak untuk merenungkan mimpi tersebut dengan penuh kehairanan. Layar akal pertama-tama menampilkan pemandangan mimpi. Perhatikanlah filem yang dimulai dengan mimpi. Mimpi identik dengan tidur, dan permulaan kisah apa pun yang dimulai dengan tidur tidak terlepas dari rasa ngantuk. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah faktor-faktor daya tarik cerita itu sendiri. Al- Qur'an menceritakan bagaimana Nabi Yusuf menyampaikan mimpinya kepada ayahnya:

"(Ingatlah), Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: 'Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."' (QS. Yusuf: 4)

Amatilah bentuk tentangan yang diwujudkan oleh adanya mimpi yang membangkitkan daya khayal. Perhatikanlah potensi imaginasi bagaimana ia menjalankan aktivitinya. Sesungguhnya otak manusia merupakan sumber masalah di mana ia menciptakan di dalamnya suatu gambar dari sujudnya matahari, bulan dan bintang. Dengan gambaran mukjizat ini yang menentang imaginasi para ahli seni dan filem, kisah Nabi Yusuf dimulai. Atau, dimulailah video visual dari kisah Nabi Yusuf sebagaimana yang diceritakan oleh Allah s.w.t dalam kitab-Nya. Nabi Yusuf melihat mimpi dan ia sekarang membeberkannya kepada ayahnya:

"Ayahnya berkata: 'Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.'" (QS. Yusuf: 5)

Si ayah mengingatkannya agar jangan sampai ia menceritakannya kepada saudara-saudaranya. Sesungguhnya saudara-saudara Nabi Yusuf tidak mencintainya dan tidak menyukai kedekatannya dengan ayahnya, dan mereka juga tidak simpati dengan perhatian si ayah padanya. Yusuf bukanlah saudara kandung mereka di mana Nabi Yakub menikahi isteri kedua yang tidak melahirkan baginya anak-anaknya dan lahirlah darinya Yusuf dan saudara kandungnya. Yusuf bin Yakub dan Yakub bin Ishak bin Ibrahim. Salasilah suci dalam kitaran suci. Ketika mendengar mimpi anaknya, Nabi Yakub merasa bahawa anaknya itu akan mengembang suatu urusan besar, yaitu kitaran kenabian yang berada di sekitarnya. Sebahagian ulama berkata: "Nabi Yakub merasa bahawa Allah s.w.t memilih Yusuf melalui mimpi ini": •

"Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi nabi) dan di ajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari tabir mimpi-mimpi." (QS. Yusuf: 6)

Makna takwil adalah mengetahui akhir dari sesuatu dan kemampuan untuk menyingkap suatu kesimpulan, juga mengetahui rahsia yang belum terjadi. Lalu apa yang dimaksud dengan alhadis? Mereka mengatakan bahawa ia adalah mimpi. Nabi Yusuf akan mampu mentafsirkan mimpi di mana melalui simbol-simbolnya yang tersembunyi, ia mampu melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Ada yang mengatakan bahawa alhadis adalah peristiwa-peristiwa. Nabi Yusuf akan mengetahui kesudahan dari suatu peristiwa, baik dari permulaannya dan akhirannya. Allah s.w.t akan memberikan ilham padanya sehingga ia mengetahui takwil mimpi.

"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf: 6)

Pada akhir pembicaraannya, Nabi Yusuf mengembalikan ilmu dan hikmah kepada Allah s.w.t. Sebahagian ulama ada yang mengatakan bahawa ayat tersebut bukan termasuk bahagian dari dialog Nabi Yakub bersama anaknya Yusuf, namun ia merupakan pujian dari Allah s.w.t terhadap Yusuf. Perkataan tersebut dimasukan dalam rangkaian kisah sejak permulaannya, padahal ia bukan bahagian darinya. Jadi, sejak semula Nabi Yusuf dan Nabi Yakub tidak mengetahui takwil dari mimpinya. Kami memilih pendapat ini (pendapat ini dikemukakan oleh al-Qurthubi dalam tafsirnya: Al-Jami' li Ahkamil Qur'an. Kalau begitu, kita memahami dialog dalam bentuk pemahaman yang lain. Sesungguhnya Allah s.w.t menceritakan di sini bagaimana Dia memilih Yusuf. Ini bererti proses kenabian Yusuf, dan bukan mengajarinya untuk menakwilkan mimpi serta memberitahunya tentang hakikat simbol-simbol yang ada dalam kehidupan atau dalam mimpi, selain mukjizat-mukjizatnya sebagai seorang nabi. Dan Allah s.w.t Maha Mengetahui kepada siapa agamanya diserahkan. Nabi Yakub mendengarkan mimpi anaknya dan mengingatkannya agar jangan menceritakannnya kepada saudara- saudaranya. Yusuf memenuhi permintaan ayahnya. Ia tidak menceritakan pada saudara-saudaranya apa yang dilihatnya. Yusuf berprasangka bahawa mereka membencinya sampai pada batas di mana sulit baginya untuk merasa nyaman bersama mereka, dan kemudian menceritakan kepada mereka rahsia-rahsianya yang khusus dan mimpi-mimpinya. Tersembunyilah penampilan Nabi Yakub dan anaknya, lalu layar filem menampilkan kejadian lain, yaitu saudara-saudara Nabi Yusuf yang membuat persengkokolan:

"Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya. (Yaitu) ketika mereka berkata: Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita ada dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia he suatu (daerah yang tidak di kenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik. Seorang di antara mereka berkata: 'Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dalam telaga, supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat. " (QS. Yusuf: 7-10)

Di dalam lembaran-lembaran perjanjian lama disebutkan bahawa Nabi Yusuf menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya. Tidak terdapat isyarat Al-Qur'an yang menunjukkan hal itu. Kalau memang demikian, nescaya saudara-saudaranya akan menceritakan hal itu dan kedengkian mereka akan semakin bertambah sehingga mereka segera membunuhnya. Yusuf percaya dengan pesan ayahnya dan ia tidak menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya. Meskipun demikian, saudara-saudaranya tetap merencanakan konspirasi dan niat jahat padanya. Salah seorang mereka berkata: "Mengapa ayah kita lebih mencintai Yusuf daripada kita?" Saudara yang kedua berkata: "Barangkali kerana ketampanannya." Saudara ketiga berkata: 'Yusuf dan saudaranya kedua-duanya mendapat tempat di hati ayahnya." Saudara yang pertama berkata: "Sungguh ayah kita telah sesat." Salah seorang mereka mengusulkan sebuah solusi: "Kalau begitu bunuhlah Yusuf." "Mengapa kita membunuhnya? lebih baik kita membuangnya di bumi yang jauh. Mengapa kita tidak membunuhnya, lalu kita merasa tenang." Salah seorang di antara mereka berkata: "Mengapa ia harus dibunuh? Apakah kalian ingin menghindar darinya? Kalau begitu, lebih baik kita membuangnya ke dalam telaga yang di situ menjadi tempat lewatnya para kafilah. Maka kafilah itu akan mengambilnya dan membawanya ke tempat yang jauh sehingga ia jauh dari wajah ayahnya. Dengan jauhnya Yusuf, maka tujuan kita tercapai. Kemudian setelah itu, kita bertaubat dari kejahatan kita dan kita kembali menjadi orang-orang yang baik."

Dialog tersebut terus berlanjut setelah timbul ide untuk memasukan Yusuf ke telaga. Namun mereka tetap kembali pada ide-ide itu kerana ia dianggap sebagai ide yang paling aman. Ide untuk membunuh diurungkan. Kemudian timbullah ide untuk menjauhkan dan membuang Yusuf. Itu dianggap ide yang paling cemerlang. Dari sini kita memahami bahawa saudara-saudara Yusuf, meskipun kejahatan mereka dan kedengkian mereka sangat kental, namun dalam had mereka masih tersisa titik-titik kebaikan. Akhirnya, ide untuk membuangnya ke telaga diputuskan. Kemudian mereka sepakat untuk melaksanakan rencana itu:

"Mereka berkata: 'Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya. Biarkan dia pergi bersama kami esok pagi, agar ia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya.' Berkata Yakub: 'Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkankanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah darinya. Mereka berkata: 'Jika ia benar- benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang rugi.'" (QS. Yusuf: 11-14)

Terjadilah dialog antara mereka dan ayahnya dengan penuh kelembutan dan dendam yang tersembunyi. Mengapa engkau tidak merasa aman ketika kami pergi dengan Yusuf? Apakah Yusuf dapat menjadi saudara kandung kami, lalu mengapa engkau khawatir kepada kami jika kami membawanya. Bukankah kami mencintainya dan nanti akan menjaganya. Mengapa engkau tidak membiarkannya pergi bersama kami besok untuk bersenang-senang dan bermain. Bukankah ketika ia pergi dan main-main, itu dapat menghiburnya? Lihatlah wajahnya tampak pucat kerana ia sering berdiam di rumah, seharusnya ia harus bermain agar tampak ceria. Masalahnya adalah, Yakub khawatir terhadap serigala-serigala gurun. Apakah yang dimaksud Yakub adalah serigala-serigala yang ada dalam diri mereka atau serigala-serigala hakiki, yaitu binatang yang buas? Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Mereka membujuk ayahnya agar mengizinkan Yusuf pergi dengan mereka. Akhirnya, mereka berhasil meyakinkan ayahnya yang sangat khawatir kalau-kalau Yusuf dimakan oleh serigala. Apakah ini masuk akal? Kami sepuluh orang laki-laki, maka mana mungkin kami yang banyak ini lalai darinya? Sungguh kami akan kehilangan sifat kejantanan kami seandainya terjadi peristiwa itu. Kami jamin bahawa tidak ada seekor serigala pun yang akan memakannya. Kerana itu, tidak ada yang perlu dikhuatirkan. Si ayah berdiri di bawah tekanan anak-anaknya. Mereka pun berhasil menemani Yusuf pada hari berikutnya dan pergi dengannya ke gurun. Mereka menuju tempat yang jauh yang belum pernah mereka berjalan sejauh itu. Mereka mencari telaga yang di situ sering dilewati oleh para kafilah dan mereka berencana untuk memasukan Yusuf ke dalam telaga itu. Allah s.w.t mengilhamkan kepada Yusuf bahawa ia akan selamat, maka ia tidak perlu takut. Allah s.w.t menjamin bahawa Yusuf akan bertemu dengan mereka pada suatu hari dan akan memberitahu mereka apa yang mereka lakukan kepadanya.

Selesailah satu adegan dan akan dimulai adegan yang lain. Kita bisa membayangkan bahawa Yusuf sempat melakukan perlawanan kepada mereka namun mereka memukulinya dan mereka memerintahnya untuk melepas bajunya, lalu mereka menceburkannya ke dalam telaga dalam keadaan telanjang. Kemudian Allah s.w.t mewahyukan kepadanya bahawa ia akan selamat dan kerananya ia tidak perlu takut. Di dalam telaga itu terdapat air, namun tubuh Nabi Yusuf tidak terkena hal yang membahayakan. Ia sendirian duduk di telaga itu, kemudian ia bergantungan dengan batu:

"Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Yakub berkata: 'Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.'" (QS. Yusuf: 16- 18)

Peristiwa ini terjadi di malam yang gelap. Tetapi kegelapan itu segera dipecah oleh tangisan sepuluh orang lelaki. Sementara itu, si ayah duduk di rumahnya lalu anak-anaknya masuk menemuinya di tengah-tengah malam di mana kegelapan malam menyembunyikan kegelapan had dan kegelapan kebohongan yang siap ditampakkan. Nabi Yakub bertanya: "Mengapa kalian menangis? Apakah terjadi sesuatu pada kambing? Mereka berkata sambil meningkatkan tangisannya:

"Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan pernah percaya kami, walaupun kami adalah orang-orang yang benar. " (QS. Yusuf: 17)

"Setelah kembalinya kita dari adu lari, kita dikejutkan ketika melihat Yusuf telah berada di perut serigala. Kita tidak menemukan Yusuf. Mungkin engkau tidak percaya kepada kami meskipun kami jujur, tetapi kami menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Kita tidak berbohong kepadamu. Sungguh Yusuf telah dimakan oleh serigala. Inilah pakaian Yusuf. Kita menemukan pakaian Yusuf berlumuran darah sedangkan Yusuf tidak kita temukan:

"Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. " (QS. Yusuf: 18)

Mereka menyembelih kambing atau rusa lalu melumurkan darah palsu ke pakaian Yusuf. Mereka lupa untuk merobek-robek pakaian Yusuf. Mereka malah membawa pakaian sebagaimana biasanya (masih utuh) tetapi hanya berlumuran darah. Mereka melemparkan pakaian Yusuf di depan ayahnya yang saat itu sedang duduk. Nabi Yakub memegang pakaian anaknya. Lalu ia mengangkat pakaian itu dan memperhatikannya di bawah cahaya yang terdapat dalam kamar. Ia membalik-balikkan baju itu di tangannya namun ia mendapatinya masih utuh dan tidak ada tanda- tanda cakaran atau robek. Serigala apa yang makan Yusuf? Apakah ia memakannya dari dalam pakaian tanpa merobek pakaiannya? Seandainya Yusuf mengenakan pakaiannya lalu ia dimakan oleh serigala, nescaya pakaian tersebut akan robek. Seandainya ia telah melepas bajunya untuk bermain dengan saudara-saudaranya, maka bagaimana pakaian tersebut dilumuri dengan darah sementara saat itu ia tidak menggunakan pakaian? Melalui bukti-bukti itu, Nabi Yakub mengetahui bahawa mereka berbohong. Yusuf tidak dimakan oleh serigala. Si ayah mengetahui bahawa mereka berbohong. Ia mengungkapkan hal ini dalam perkataannya:

"Yakub berkata: 'Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.'" (QS. Yusuf: 18)

Demikianlah perilaku nabi yang bijaksana. Ia meminta agar diberi kesabaran dan memohon pertolongan kepada Allah s.w.t atas apa yang mereka lakukan terhadap anaknya. Selanjutnya, terdapat kafilah yang berjalan menuju ke Mesir, yaitu satu kafilah besar yang berjalan cukup jauh sehingga dinamakan sayyarah. Semua kafilah itu menuju ke telaga. Mereka berhenti untuk menambah air. Mereka menghulurkan timba ke telaga. Lalu Yusuf bergelantungan dengannya. Orang yang menghulurkannya mengira bahawa timbanya telah penuh dengan air lalu ia menariknya. Tiba-tiba, "Oh ini anak kecil." Di zaman itu ditentukan bahawa siapa yang menemukan sesuatu yang hilang, maka ia akan memilikinya. Demikianlah undang-undang yang ditetapkan saat itu. Mula- mula orang yang menemukannya gembira tetapi ia berfikir tentang tanggung jawab yang harus dipikulnya, dan kemudian timbullah rasa khawatir dalam dirinya. Kemudian untuk menghindar darinya ia menetapkan untuk menjualnya saat ia tiba di Mesir. Akhirnya, ketika ia sampai di Mesir ia segera menjualnya di pasar budak dengan harga yang sangat murah di mana ia dibeli oleh seorang lelaki yang mempunyai kepentingan dengannya:

"Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: 'Oh; khabar gembira, ini seorang anak muda!' Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka tidak tertarik hatinya kepada Yusuf. Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: 'Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi ia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.' Dan demikianlah Kami berikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir) dan agar Kami ajarkan kepadanya ta'bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. " (QS. Yusuf: 19-21)

Perhatikanlah bagaimana Allah s.w.t mengungkap kandungan cerita yang jauh pada permulaannya: "Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. "

Yusuf benar-benar diuji dengan ujian yang berat. Ia dimasukkan dalam telaga, ia dihinakan, ia dijauhkan dari ayahnya, ia diambil dari telaga lalu menjadi budak yang dijual di pasar, ia dibeli oleh seorang lelaki dari Mesir lalu menjadi seseorang yang dimiliki oleh lelaki itu. Demikianlah cerita demi cerita telah dialaminya. Yusuf tampak tidak memiliki daya dan upaya. Demikianlah prasangka manusia mana pun tetapi hakikat selalu berlawanan dengan prasangka. Yang dapat kita bayangkan adalah bahawa itu adalah sebuah tragedi, ujian, dan fitnah. Allah s.w.t pasti memenangkan urusan-Nya. Dia akan memuluskan langkah-Nya meskipun banyak orang yang berusaha menghentikannya. Allah s.w.t akan mewujudkan janji-Nya dan akan menggagalkan kejahatan orang lain. Allah s.w.t telah menjanjikan kepada Yusuf bahawa ia akan dijadikan Nabi.

Yusuf mendapatkan tempat di hati seseorang yang membelinya, yaitu seorang bangsawan yang berkata kepada isterinya: "Hormatilah ia, kerana barangkali ia bermanfaat bagi kita atau kita dapat menjadikannya sebagai anak." Lelaki ini bukanlah orang sembarangan tetapi ia seorang yang penting. Ia termasuk seseorang yang berasal dari pemerintah yang berkuasa di Mesir. Kita akan mengetahui bahawa ia adalah seorang menteri di antara menteri-menteri raja. Seorang menteri yang penting yang Al-Qur'an menyebutnya dengan istilah al-Aziz. Orang-orang Mesir kuno terbiasa untuk menyebutkan sifat seperti nama atau identik dengan nama terhadap para menteri. Misalnya, mereka mengatakan: Ini adalah al-Aziz (orang yang mulia), ini adalah al-'Adil (orang yang adil), ini adalah al-Qawi (orang yang kuat), dan seterusnya. Alhasil, pendapat yang paling kuat adalah, bahawa al-Aziz ini kepala menteri di Mesir.

Demikianlah Allah s.w.t menguatkan Yusuf di muka bumi. Ia terdidik di masa kecil di rumah seorang lelaki yang berkuasa dan Allah s.w.t akan mengajarinya takwil mimpi. Dan pada suatu hari, raja akan membutuhkannya untuk menduduki jabatan di Mesir. Allah s.w.t akan memenangkan urusan-Nya tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Semua itu terwujud melalui suatu ujian berat yang dialami oleh Yusuf. Nabi Yusuf adalah orang yang paling tampan di masanya, di mana wajahnya mengundang decak kagum orang yang melihatnya. Sikapnya yang sopan dan penuh dengan keanggunan moral semakin menambah ketampanannya. Hari demi hari berlalu. Yusuf pun semakin tumbuh besar:

"Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf: 22)

Yusuf diberi kemampuan untuk mengendalikan suatu masalah dan ia diberi pengetahuan tentang kehidupan dan peristiwa-peristiwanya. Ia juga diberi metode dialog yang dapat menarik simpati orang yang mendengarnya. Yusuf diberi kemuliaan sehingga ia menjadi peribadi yang agung dan tak tertandingi. Tuannya mengetahui bahawa Allah s.w.t memuliakannya dengan mengirim Yusuf padanya. Ia mengetahui bahawa Yusuf memiliki kejujuran, kemuliaan, dan istiqamah (keteguhan) lebih dari siapa pun yang pernah ditemuinya dalam kehidupan.

Sementara itu, isteri al-Aziz selalu mengawasi Yusuf. Ia duduk di sampingnya dan berbincang-bincang bersamanya. Ia mengamati kejernihan mata Yusuf. Lalu ia bertanya kepadanya dan mendengarkan jawapan dari Yusuf. Akhirnya, kekagumannya semakin bertambah pada Yusuf. Al-Qur'an melukiskan kisah terakhir dari perjalanan cinta ini di mana si wanita itu mulai menggunakan siasat dan taktik untuk memperdaya Yusuf:

"Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu seraya berkata: 'Marilah ke sini.' Yusuf berkata: 'Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.' Sesungguhnya orang-orang yang lalim tiada beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikan dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba yang terpilih. " (QS. Yusuf: 23-24)

Al-Qur'an tidak menyebut sedikit pun tentang berapa usia wanita itu dan berapa usia Yusuf. Kita dapat mengamati hal itu hanya dengan perkiraan. Ia menghadirkan Yusuf saat beliau masih kecil dari telaga. Dia adalah seorang isteri yang misalnya berusia dua puluh tiga sementara Yusuf berusia dua belas tahun. Setelah tiga belas tahun, ia berusia tiga puluh enam sementara Yusuf berusia dua puluh lima. Apakah peristiwa itu memang terjadi di usia ini? Boleh jadi memang demikian. Tindakan wanita itu dalam peristiwa itu dan peristiwa sesudahnya menunjukkan bahawa ia wanita yang sudah matang dan cukup berani. Peristiwa ini yang diungkapkan oleh Al-Quran al-Karim merupakan puncak dari peristiwa-peristiwa yang lalu yang sangat mengganggu daya imaginasi kita.

Sungguh isteri al-Aziz sangat mencintai Yusuf. Ia merayunya dengan cara terang-terangan lalu ia menutup pintu-pintu sambil berkata: "Hai Yusuf kemarilah kau ke sini. Kali ini engkau tidak akan dapat lari dariku." Ini bererti bahawa terdapat peristiwa sebelumnya di mana Yusuf dapat menghindar darinya. Peristiwa sebelumnya tidak disampaikan dengan cara terang-terangan seperti ini. Yusuf telah terdidik di istana seorang menteri besar di Mesir. Anda bisa membayangkan bagaimana Yusuf tinggal di lingkungan yang mewah yang dikelilingi dengan wanita-wanita cantik. Yusuf adalah seorang pemuda yang dibeli oleh suaminya dan menjadi budaknya. Ia memanggilnya di tempat tidurnya dan memerintahkannya untuk menghadirkan gelas minuman, misalnya. Atau tampak padanya bajunya yang tipis atau ia menampakkan padanya kecantikannya atau ia merayunya dengan rayuan yang biasa dilakukan oleh kaum wanita terhadap kaum lelaki.

Bayangkanlah semua ini di mana mereka berdua selama beberapa tahun tinggal di satu rumah dan di bawah satu atap. Wanita itu menggoda Yusuf dan merayunya, sementara Yusuf masih bertahan dengan ketakwaannya. Wanita itu terbelenggu dengan hawa nafsunya. Kemudian datanglah hari yang terakhir. Wanita itu bosan dengan sikap tidak peduli ini dan sikap pura-pura tidak tahu ini. Ia menentukan untuk mengubah rencananya. Ia tidak lagi menggunakan bahasa isyarat dia lebih memilih bahasa terang-terangan. Ia menutup semua pintu dan menyobek cadar rasa malu dan ia menjelaskan cintanya kepada Yusuf.

Barangkali ia berkata kepada Yusuf: 'Yusuf, alangkah tampan wajahmu." Dan barangkali Yusuf akan berkata demikian: "Tuhanku menggambarkan aku sebelum aku diciptakan." Wanita itu berkata sambil mendekati Yusuf: "Yusuf, alangkah halusnya rambutmu." Yusuf berkata: "Ia adalah sesuatu yang pertama kali hancur dariku saat aku berada dalam kuburan." Wanita itu berkata: "Alangkah jernih kedua matamu." Yusuf berkata: "Dengan keduanya aku melihat apa yang diciptakan oleh Tuhanku." Wanita itu berkata: "Bukankah aku adalah sesuatu yang diciptakan oleh Tuhanmu? Angkatlah pandangan matamu dan lihatlah wajahku." Yusuf berkata: "Aku takut pada hari kiamat." Wanita itu berkata: "Aku mendekat padamu tetapi engkau malah menjauh dariku." Yusuf berkata: "Aku ingin mendekat pada Tuhanku." Wanita itu berkata: "Aku telah dikuasai oleh perasaan cinta padamu. Aku menjadi bahagian dari udara yang aku hirup dan yang aku bernafas darinya. Engkau tidak akan lari dariku." Yusuf mengetahui bahawa ia mengajaknya untuk mendekati, lalu beliau berkata: "Aku berlindung kepada Allah s.w.t. Aku meminta ampun kepada Allah s.w.t Yang Maha Agung. Tuhan Pencipta alam semesta telah memuliakan aku dengan rumah ini, dan pemilik rumah ini telah memuliakan aku dengan kepercayaannya. Maka siapakah yang aku khianati? Dan keselamatan apa yang aku harapkan bagi diriku jika aku memang melakukan apa yang engkau inginkan." Allah s.w.t berfirman: "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikan dia tidak melihat tanda (dan) Tuhannya."

Para ahli tafsir sepakat tentang keinginan wanita itu untuk melakukan maksiat, sedangkan mereka berselisih pendapat tentang hasrat yang ada pada Nabi Yusuf. Ada yang mengatakan bahawa wanita itu memang ingin melakukan maksiat dengannya dan Yusuf pun memiliki perasaan yang sama, namun ia tidak sampai melakukannya. Ada yang mengatakan lagi bahawa wanita itu berhasrat untuk menciumnya dan Yusuf berhasrat untuk memukulinya. Ada pendapat lain yang mengatakan bahawa hasrat ini memang terdapat di antara mereka sebelum terjadinya peristiwa ini. Ia merupakan gerakan jiwa yang terdapat dalam diri Yusuf saat beliau memasuki alam remaja kemudian Allah s.w.t memalingkannya darinya. Dan sebaik-baik tafsir yang cukup menenangkan saya bahawa di sana terdapat pendahuluan dan pengakhiran dalam ayat tersebut.

Abu Hatim berkata: "Aku membaca bahagian yang unik dari Al-Qur'an pada Abu Ubaidah dan ketika aku sampai pada firman-Nya": "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu,"

Abu Ubaidah berkata: "Ini berdasarkan pendahuluan dan pengakhiran. Dengan pengertian bahawa wanita itu benar-benar cenderung pada Yusuf, dan seandainya Yusuf tidak melihat tanda kebenaran dari Tuhannya nescaya ia pun akan cenderung padanya. Saya kira tafsir ini sesuai dengan kemaksuman para nabi sebagaimana ia juga sesuai dengan konteks ayat yang datang sesudahnya": "Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba yang terpilih."

Ayat tersebut menetapkan bahawa Nabi Yusuf termasuk hamba-hamba Allah s.w.t yang ikhlas, pada saat yang sama menetapkan juga kebebasannya dari pengaruh kekuasaan setan. Allah s.w.t berkata kepada Iblis pada hari penciptaan:

"Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-arang yang sesat. " (QS. al-Hijr: 42)

Selama Yusuf termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas, maka ia akan tersucikan dari berbagai dosa. Ini tidak bererti bahawa Yusuf sunyi dari perasaan kejantanan dan ini juga tidak bererti bahawa Yusuf berada dalam kesucian para malaikat di mana mereka tidak terpengaruh dengan daya tarik materialis (bendawi). Namun ini bererti bahawa beliau menghadapi godaan yang cukup lama dan beliau mampu untuk melawannya, dan jiwanya tidak cenderung padanya. Kemudian beliau dibimbing dan ditenangkan oleh ketakwaannya yang mampu melihat tanda-tanda kebenaran dari Tuhannya. Apalagi Yusuf adalah putera Yakub, seorang Nabi, putera Ibrahim, kakek para Nabi dan kekasih Allah s.w.t.

Terjadilah perkembangan pergelutan antara mereka berdua. Dialog telah berkembang dari bahasa lisan menuju bahasa tangan. Isteri menteri itu menghulurkan tangannya kepada Yusuf dan berusaha untuk memeluknya. Yusuf berputar dalam keadaan pucat wajahnya dan berlari menuju ke pintu. Lalu ia dikejar oleh wanita itu dan wanita itu menarik-narik pakaiannya seperti orang tenggelam yang memegang perahu. Kedua- duanya sampai ke pintu. Tiba-tiba pintu itu terbuka namun suaminya datang bersama salah satu kerabatnya:

"Dan keduanya berlumba-lumba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu." (QS. Yusuf: 25-29)

Wanita yang sedang mabuk cinta kepada Yusuf itu melihat suaminya muncul di tengah-tengah peristiwa itu, ia segera menggunakan kelicikannya. Jelas sekali bahawa di sana terdapat pergelutan. Yusuf tampak gementar dengan penuh rasa malu dan butiran-butiran keringat mengalir dari keningnya. Sebelum suaminya membuka mulutnya untuk mengawali pembicaraan, wanita itu mendahuluinya dengan melontarkan tuduhan kepada Yusuf: "Wanita itu berkata: 'Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?'"

Ia menuduh Yusuf telah merayunya. Ia mengatakan bahawa Yusuf berusaha memperkosanya. Yusuf memandangi wanita itu dengan kepolosan dan kesabaran. Sebenarnya Yusuf berusaha menyembunyikan rahsia wanita itu namun ketika ia mulai menuduhnya Yusuf terpaksa mempertahankan dirinya. "Yusuf berkata: 'Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)."

Kini giliran si suami untuk menunjukkan reaksinya. Kami kira ia berkata: "Pelankanlah suara kalian berdua. Sesungguhnya di rumah ini terdapat banyak budak dan pembantu. Ini adalah masalah khusus." Kepala menteri itu adalah seorang tua yang terkesan tenang dan tidak ******* emosi. Peristiwa ini terjadi di kalangan kelompok masyarakat yang bergaya hidup mewah, bukan kaum tradisional sehingga mereka cenderung menggunakan cara-cara yang bijak dan terbaik dalam menyelesaikan masalah. Kemudian kepala menteri itu duduk dan mulai mengusut kejadian itu. Ia bertanya kepada isterinya dan juga bertanya kepada Yusuf. Kemudian orang yang ada di dekat wanita itu berkata: "Sesungguhnya kunci persoalan ini terletak pada pakaian Yusuf. Jika pakaiannya robek dari depan, maka ini bererti Yusuf memang ingin memperkosanya. Wanita itu akan merobek pakaian Yusuf untuk mempertahankan dirinya."

Si suami berkata: "Lalu bagaimana jika pakaiannya robek dari belakang." Seorang penengah dari keluarganya berkata: "Maka ini bererti wanita itu yang merayunya. Jadi kunci dari peristiwa ini ada pada pakaian Yusuf." Akhirnya, pakaian itu berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Kemudian seorang penengah dari keluarganya mengamati pakaian itu, lalu ia mendapatinya dalam keadaan robek dari belakang. Selanjutnya, kepala menteri itu pun melihatnya dan ia juga mendapatinya dalam keadaan robek dari belakang. Maka secara otomatis tuduhan itu dibalikkan pada si isteri. Allah s.w.t menceritakan peristiwa ini dalam firman-Nya: "Dan seorang saksi keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: 'Jika baju gamisnya itu koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang berdusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.' Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf terkoyak di belakang berkatalah ia: 'Sesungguhnya (kejadian) itu adalah tipu daya kamu, Sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.'"

Ketika si suami memastikan pengkhianatan isterinya, ia tampak tenang- tenang saja dan tidak menunjukkan emosi yang berlebihan, bahkan ia tidak berteriak dan tidak marah. Aturan kelompok terpandang saat itu memaksanya untuk menyikapi suatu persoalan dengan penuh ketenangan dan kelembutan. Ia berkata: "Sesungguhnya ini adalah bahagian dari tipu daya kalian, hai para wanita." Ia mengisbatkan apa yang dilakukan oleh isterinya kepada tipu daya yang umumnya dikerjakan oleh para wanita. Ia menegaskan bahawa tipu daya perempuan umumnya sangat besar (berbahaya). Kemudian ia menoleh pada Yusuf sambil berkata: "Hai Yusuf berpalinglah dari masalah ini. Lupakanlah masalah ini dan janganlah engkau terlalu peduli dengannya serta jangan pula engkau menceritakannya. Inilah yang penting, yaitu menjaga hal-hal yang telah terjadi. Kami tidak ingin masalah ini akan mencuat ke permukaan."

Kemudian si suami merasa bahawa ia belum mengatakan sesuatu pun kepada isterinya selain penyataannya yang berhubungan dengan tipu daya kaum wanita secara umum. Ia ingin berkata kepada isterinya tentang sesuatu yang khusus. Ia berusaha untuk bersikap keras pada isterinya tetapi kekerasan itu berakhir dengan kelembutan yang terwujud dalam ucapannya: "Dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, kerana kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah. "

Setelah pernyataan yang pertama dan nasihat yang terakhir, si suami mengakhiri masalah tersebut, lalu Yusuf pun pergi. Tuan rumah itu tidak meminta perincian atau kronologis peristiwa yang terjadi antara isterinya dan pemuda yang mengabdi padanya. Yang ia minta adalah agar pembicaraan ini ditutup sampai di sini saja. Tetapi masalah ini sendiri meskipun terjadi di kalangan masyarakat yang terpandang tidak dapat begitu saja di tutup. Alhasil, masalah tersebut akhirnya tersebar kemana- mana. Peristiwa itu tersebar dari satu istana ke istana-istana penguasa saat itu. Kemudian wanita-wanita yang tinggal di istana itu mulai ramai- ramai menjadikannya sebagai bahan cerita. Kemudian masalah itu pun tersebar di penjuru kota:

"Dan wanita-wanita di kota berkata: 'Isteri al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangan itu adalah sangat mendalam, Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata. " (QS. Yusuf: 30)

Di sini kita mengetahui bahawa yang dimaksud wanita dalam kasus roman itu adalah isteri dari al-Aziz dan bahawa laki-laki itu yang membeli Yusuf dari Mesir itu adalah seorang menteri di Mesir, yakni seorang pembesar atau tokoh atau ketua dari para menteri. Barangkali ketika membeli Yusuf, ia masih menjadi menteri biasa lalu setelah itu ia naik jabatan. Dan sekarang ia menjadi kepala menteri di Mesir.

Akhirnya berita tersebut berpindah dari satu mulut ke mulut yang lain, dan dari satu rumah ke rumah yang lain sehingga sampailah berita itu ke telinga isteri al-Aziz. Barangkali dikatakan kepadanya: "Penduduk kota banyak yang membicarakan kisah romantismu." la berkata: "Kisah romantisku dengan siapa?" Dikatakan padanya: "Dengan Yusuf." Ia berkata: "Aku memang tidak dapat memungkiri bahawa aku mencintainya." Dikatakan kepadanya: "Semua isteri menteri membicarakan tentang kecenderunganmu padanya." Ia berkata: "Apa yang mereka katakan?" Dikatakan kepadanya: "Sungguh engkau berada di dalam kesesatan yang nyata." Ia berkata mulai tampak emosinya: "Kesesatan apa? Siapa yang mengatakan bahawa aku tersesat. Tidakkah wanita-wanita itu pernah melihat bagaimana si Yusuf? Apakah mereka mengetahui daya tariknya? Siapa mereka itu yang mengatakan demikian? Sebutkanlah padaku nama-nama wanita-wanita yang banyak bicara itu."

Isteri al-Aziz terdiam sebentar dan tampaknya ia sedang berfikir. Kemudian ia telah menetapkan sesuatu dan memerintahkan untuk mendatangkan para juru masak. Akhirnya, para juru masak datang ke istana. Ia memberitahu mereka bahawa ia akan menyiapkan suatu jamuan besar di istana. Ia telah memilih berbagai macam hidangan dan minuman. Ia telah memerintahkan agar diletakkan pisau-pisau yang tajam di sebelah buah-buah apel yang dihidangkan, dan hendaklah juga diletakkan kain putih di sebelah wadah atau piring-piring yang di situ diletakkan apel, juga diletakkan bantal-bantal yang memang saat itu menjadi tradisi masyarakat timur. Kemudian ia mengundang kaum hawa yang membicarakan petualangan cintanya dengan Yusuf. Akhirnya, datanglah hari jamuan itu. Wanita-wanita dari kalangan masyarakat elit segera berdatangan menuju ke istana kepala menteri. Isteri al-Aziz memanfaatkan acara itu sebagai kesempatan emas untuk menunjukkan seorang pemuda yang paling tampan dan paling mengagumkan.

Undangan tersebut dibatasi hanya di kalangan wanita sehingga mereka lebih leluasa dan lebih bebas untuk mendengarkan cerita dan untuk mengobrol. Mereka duduk dan bersandar di atas bantal-bantal sambil makan dan minum. Pesta jamuan itu terus berlangsung di mana dihidangkan di atasnya makanan yang istimewa dan minuman yang dingin dan sangat menyenangkan orang yang melihatnya.

Tempat pesta itu dipenuhi dengan berbagai macam komentar dan berbagai macam canda tawa. Kami kira bahawa setiap wanita yang hadir di tempat itu sengaja menahan lidahnya agar jangan sampai menyentuh kisah Yusuf. Sebenarnya mereka semua mengetahui peristiwa yang terjadi antara Yusuf dan wanita perdana menteri itu, tetapi mereka sengaja menyembunyikannya seakan-akan mereka tidak mengetahuinya. Demikianlah aturan main yang biasa dipegang oleh kalangan elit dari masyarakat saat itu. Namun, isteri al-Aziz, sebagai tuan rumah, justru menggugah mereka dan ia justru membuka persoalan tersebut: "Aku mendengar ada wanita-wanita yang mengatakan bahawa aku jatuh cinta pada seorang pemuda yang bernama Yusuf." Tiba-tiba keheningan yang menyelimuti meja makan itu runtuh dan tangan-tangan para undangan nyaris lumpuh. Isteri al-Aziz benar-benar mencuri kesempatan itu. Ia bercerita sambil memerintahkan para pembantunya untuk menghadirkan apel. "Aku mengakui bahawa memang Yusuf seorang pemuda yang mengagumkan. Aku tidak mengingkari bahawa aku benar-benar mencintainya, dan aku telah mencintainya sejak dahulu," kata isteri al- Aziz dengan nada serius. Kemudian wanita-wanita itu mulai mengupas apel. Saat itu peradaban di Mesir telah mencapai puncak yang jauh di mana gaya hidup mewah menghiasi istana-istana.

Pengakuan isteri al-Aziz menciptakan suatu kedamaian umum di ruangan itu. Jika isteri al-Aziz saja mengakui bahawa ia memang jatuh cinta kepada Yusuf, maka pada gilirannya mereka pun berhak untuk mencintainya. Meskipun demikian, mereka mengisyaratkan bahawa seharusnya isteri al-Aziz tidak cenderung pada Yusuf justru sebaliknya, ia harus menjadi tempat cinta. Seharusnya, ia yang dikejar oleh lelaki, bukan sebaliknya. Isteri al-Aziz mengangkat tangannya dan mengisyaratkan agar Yusuf masuk dalam ruangan itu. Kemudian Yusuf masuk di ruang makan itu. Ia dipanggil oleh majikannya kemudian ia pun datang. Kaum wanita masih mengupas buah, dan belum lama Yusuf memasuki ruangan itu sehingga terjadilah apa yang dibayangkan oleh isteri al-Aziz.

Tamu-tamu wanita itu tiba-tiba membisu. Sungguh mereka tercengang ketika menyaksikan wajah yang bercahaya yang menampakkan ketampanan yang luar biasa, ketampanan malaikat. Wanita-wanita itu pun terdiam dan mereka bertakbir, dan pada saat yang sama mereka terus memotong buah yang ada di tangan mereka dengan pisau. Semua pandangan tertuju hanya kepada Yusuf dan tak seorang pun di antara wanita itu melihat buah yang ada di tangannya. Akhirnya, wanita-wanita itu justru memotong tangannya sendiri namun mereka tidak lagi merasakannya. Sungguh kehadiran Yusuf di tempat itu sangat mengagumkan mereka sampai pada batas mereka tidak merasakan rasa sakit dan keluarnya darah dari tangan mereka.

Salah seorang wanita berkata dengan suara yang pelan: "Subhanallah (Maha Suci Allah)." Wanita yang lain berkata dengan suara lembut yang menampakkan kehairanan: "Ini bukan manusia biasa." Sedangkan wanita yang ketiga berkata: "Ini tiada lain adalah seorang malaikat yang mulia." Tiba-tiba isteri al-Aziz berdiri dan berkata: "Inilah dia orang yang kalian cela aku kerana daya tariknya. Memang tidak aku pungkiri bahawa aku pernah merayunya dan menggodanya untuk diriku. Di hadapan kalian ada handuk-handuk putih untuk membalut luka. Sungguh kalian telah dikuasai oleh Yusuf, maka lihatlah apa yang terjadi pada tangan-tangan kalian." Akhirnya, pandangan mereka sekarang berpindah dari Yusuf ke jari-jari mereka yang terpotong oleh pisau yang tajam di mana mereka tidak lagi merasakannya.

Kami kira Yusuf melihat atau memandang ke arah bawah (tanah), atau mengarahkan pandangannya ke depannya tanpa ada maksud tertentu, tetapi ketika disebut ada darah yang keluar di sekitar tempat jamuan itu, maka ia pun melihat ke arah tempat jamuan itu. Yusuf dikejutkan dengan adanya darah yang mengalir di sekitar buah apel yang keluar dari jari-jari wanita itu. Yusuf segera mendatangkan perban dan air seperti biasa yang dilakukan pemuda yang bekerja di istana. Kami kira bahawa isteri al-Aziz berkata saat Yusuf memerban luka yang dideritai oleh para wanita: "Sungguh aku telah menggodanya namun ia mampu menahan dirinya. Jika dia tidak menaati apa yang aku perintahkan kepadanya, nescaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang- orang yang hina."

Kami kira Yusuf tidak menghiraukan ucapannya dan tidak mengomentarinya. Beliau adalah seorang Nabi, tetapi tragedi wanita tersebut adalah bahawa ia mencintai seorang nabi. Kami kira juga bahawa wanita-wanita itu menggodanya pada saat mereka hadir di tempat jamuan. Salah seorang yang sangat cantik berkata kepada Yusuf saat beliau membalut lukanya: "Sungguh sekadar engkau memandang tanganku hai Yusuf, itu sudah cukup bagiku untuk mengubati jariku yang terpotong." Atau ada wanita lagi yang mengatakan padanya: "Yusuf, tidakkah engkau menginginkan seorang perempuan yang akan membersihkan sepatumu dan akan mencuci pakaianmu dan yang akan mengabdi kepadamu."

Barangkali wanita-wanita yang hadir di pesta jamuan itu memiliki berbagai macam cara untuk menggoda. Mungkin sebahagian mereka menggunakan senjata mata atau senjata bulu mata atau senjata fizik untuk mendapatkan Yusuf. Kita tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi di tempat jamuan itu. Biarkanlah daya khayal kita menggembara dan menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi. Tampak bahawa berbagai godaan ditujukan pada Yusuf dari wanita-wanita yang hadir dan diundang di acara itu. Yusuf berdiri di tengah-tengah ujian yang berat ini dengan penuh kehairanan:

"Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.'" (QS. Yusuf: 33)

Semua wanita-wanita yang ikut serta dalam undangan tersebut mencuba untuk menundukkan Yusuf dengan menggunakan lirikan, gerakan-gerakan tertentu, atau isyarat atau dengan bahasa yang jelas. Yusuf memohon pertolongan Allah s.w.t agar ia diselamatkan dari tipu daya mereka. Ia berdoa kepada Allah s.w.t sebagai seorang manusia yang mengenal kemanusiaannya dan tidak terpedaya dengan kemaksumannya dan kenabiannya. Ia berdoa kepada Allah s.w.t agar memalingkan tipu daya mereka darinya sehingga ia tidak cenderung kepada mereka dan kemudian menjadi orang yang *****. Allah s.w.t mengabulkan doanya. Kemudian tangan-tangan yang terputus mulai merasakan kesakitan, dan Yusuf meninggalkan ruang makan itu. Setiap wanita sibuk memerban lukanya dan masing-masing mereka berfikir tentang alasan apa yang akan mereka sampaikan ketika suami mereka bertanya tentang tangan mereka yang terpotong itu? Dan, di mana peristiwa itu terjadi?

Allah s.w.t menceritakan jamuan yang besar itu dalam firman-Nya:

"Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundanglah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan) kemudian dia berkata (kepada Yusuf):

'Keluarlah (nampakanlah dirimu) kepada mereka.' Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum akan keelokan rupanya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: 'Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia. Wanita itu berkata: 'Itulah dia orang yang kamu cela aku kerana (tertarik) kepadanya dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, nescaya dia akan termasuk golongan orang- orang yang hina. Yusuf berkata: 'Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang *****.' Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Yusuf: 31-34)

Allah s.w.t berhasil memalingkan dan menyelamatkan Yusuf dari tipu daya wanita itu. Akhirnya, wanita-wanita itu merasa putus asa untuk mendapatkan Yusuf dan mendapatkan cinta darinya, sehingga mereka merasa bahawa rasa cinta mereka kepada Yusuf adalah sesuatu keinginan yang mustahil untuk diwujudkan. Keinginan-keinginan yang mustahil ini justru membangkitkan ingatan mereka kepada Yusuf lebih daripada sebelumnya.

Wanita-wanita mulai membicarakan Yusuf: tentang pengaruhnya, kewibawaannya, dan kemuliaannya. Mereka mulai menceritakan bagaimana mereka memotong tangan mereka dengan pisau ketika melihat Yusuf. Akhirnya, berita itu tersebar dari kelompok elit ke masyarakat bawah. Manusia mulai membicarakan tentang sosok pemuda yang menolak keinginan isteri seorang ketua menteri, dan isteri-isteri dari para menteri memotong tangan mereka kerana merasa kagum dengannya. Seandainya kasus ini diketahui secara terbatas di kalangan istana dan kamar-kamarnya yang tertutup nescaya tidak ada seorang pun yang memperhatikannya. Tetapi masalah ini kemudian menyebar kemana-mana sampai kelapisan masyarakat yang paling bawah.

Di sinilah kewibawaan pemerintah dipertaruhkan dan menjadi pertimbangan. Lalu, rejim yang berkuasa menangkap Yusuf. Yusuf dimasukkan dalam penjara untuk membungkam banyaknya gosip-gosip yang disampaikan berkenaan dengan sikapnya serta sebagai cara untuk menutup cerita itu. Yusuf telah berkata ketika wanita-wanita memanggilnya untuk melakukan kesalahan bahawa penjara baginya lebih ringan dan lebih disukainya daripada memenuhi ajakan mereka. Demikianlah Yusuf kemudian masuk ke dalam penjara. Meskipun sebenarnya Yusuf bebas dari segala tuduhan, ia tetap dimasukkan dalam penjara.

Kami tidak yakin bahawa isteri al-Aziz adalah penyebab masuknya Yusuf ke dalam penjara. Kami mengetahui bahawa penolakan tegasnya kepadanya membangkitkan kesombongannya dan cukup menjatuhkan kemuliaannya tetapi kami percaya bahawa wanita itu memang benar- benar mencintainya. Barangkali masuknya Yusuf dalam penjara membuat suatu kondisi lain yang mengubah hubungannya dengan Yusuf di mana ketika Yusuf jauh darinya, maka rasa rindunya dan rasa cintanya kepada Yusuf justru meningkat. Ia berandai-andai seandainya Yusuf keluar dari penjara meskipun hal itu tidak dapat diwujudkannya.

Dan barangkali bukti tuntutan kami yang mengisyaratkan perubahan cintanya padanya dan ketulusannya dengan cinta itu adalah bahawa ia mengakui benar-benar berusaha untuk berbuat buruk padanya tapi Yusuf menolak. Ia melepaskan pengakuannya dengan ucapannya: "Agar dia (al- Aziz) mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya."

Seakan-akan keinginannya agar Yusuf tidak melupakannya lebih penting daripada kedamaiannya bersama suaminya atau kedudukannya sebagai wanita kedua di Mesir. Dan barangkali cintanya kepada Yusuf—saat ia tidak ada—berbeza dalam kualitinya dan kedalamannya daripada cintanya ketika Yusuf masih muda belia yang mengabdi padanya di istana. Ketika mereka berdua dipisahkan dengan jarak yang cukup jauh, dan wanita itu tercegah dari melihatnya, maka timbullah rasa cinta yang menjadikannya tidak akan mengkhianatinya meskipun Yusuf telah pergi jauh darinya. Betapa berat penderitaan cinta manusiawi yang dialami isteri al-Aziz. Masalahnya adalah, bahawa ia memilih seseorang yang hatinya telah tenggelam dalam lautan cinta Ilahi. Akhirnya, Yusuf masuk ke dalam penjara. Allah s.w.t berfirman:

"Kemudian timbul fikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahawa mereka harus memenjarakannya sampai sewaktu-waktu." (QS. Yusuf: 35)

Mereka telah menetapkan suatu keputusan meskipun Yusuf sebenarnya terlepas dari berbagai tuduhan, dan beliau menunjukkan bukti kebenarannya. Meskipun demikian, mereka tetap memasukkan Yusuf dalam penjara sampai waktu yang tidak ditetapkan. Pembicaraan seputar kisah Yusuf pun menjadi padam dan api yang menyala di tengah-tengah manusia menjadi suram. Ketika para menteri dan para pembesar tidak mampu menahan kendali wanita-wanita mereka, namun mereka dengan mudah mampu untuk memenjarakan seseorang yang tidak bersalah. Itu adalah pekerjaan mereka yang mereka lakukan dengan *******.

Demikianlah ayat Al-Qur'an menggambarkan secara singkat suatu suasana istana secara keseluruhan. Yaitu suasana yang penuh dengan kekotoran dan kerosakan internal. Suasana orang-orang yang bergaya aristokrasi, dan suasana hukum yang mutlak. Penjara menjadi jalan keluar yang dipilih oleh hukum yang mutlak. Seandainya kita memperhatikan keadaan masyarakat Mesir saat itu dan apa yang mereka sembah, maka kita akan memahami mengapa kekuasaan mutlak diperlakukan saat itu. Orang- orang Mesir menyembah tuhan-tuhan yang beraneka ragam. Mereka menyembah selain Allah s.w.t.

Kita telah mengetahui sebelumnya bagaimana kebebasan manusia terpasung ketika mereka lebih memilih sembahan-sembahan selain Allah s.w.t. Dalam kisah Nabi Yusuf kita melihat fenomena seperti itu. Meskipun beliau sebagai seorang Nabi, beliau ditetapkan untuk ditahan dan dimasukkan penjara, tanpa melalui penelitian dan tanpa melalui pengadilan. Kita di hadapan suatu masyarakat yang menyembah berbagai macam tuhan dan kemudian mereka dikuasai dan dipimpin oleh multi tuhan. Oleh kerana itu, tidak sulit bagi mereka untuk menahan orang yang tidak berdosa, bahkan barangkali sulit bagi mereka melakukan sesuatu selain itu.

Yusuf masuk dalam penjara dalam keadaan memiliki hati yang kukuh. Dalam keadaan tenang beliau berada dalam penjara. Beliau tidak menampakkan kesedihan, namun sebaliknya. Beliau berhasil melalui ujian dari isteri al-Aziz, dari pertanyaan-pertanyaan para menteri, dari keusilan para dukun, dan dari pembicaraan para pembantu. Bagi Yusuf, penjara adalah suatu tempat yang damai di mana di dalamnya ia mampu menenangkan dirinya dan berfikir tentang Tuhannya. Nabi Yusuf memanfaatkan kesempatannya di penjara untuk berdakwah di jalan Allah s.w.t. Di dalam penjara, beliau mendapati orang-orang yang tidak berdosa yang juga dimasukkan di dalamnya. Ketika manusia mendapatkan perlakuan lalim dari sebahagian manusia yang lain, maka hati mereka akan lebih mudah untuk mendengarkan kebenaran dan menerima hidayah. Memang hati orang-orang yang menderita dan teraniaya lebih terbuka untuk memenuhi panggilan Allah s.w.t.

Yusuf bercerita kepada manusia tentang rahmat Sang Pencipta, kebesaran-Nya, dan kasih sayang-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya. Yusuf bertanya kepada mereka: "Mana yang lebih baik, apakah akal harus dikalahkan dan manusia menyembah tuhan yang bermacam-macam atau, akal dimenangkan dan manusia menyembah Tuhan Pengatur alam Yang Maha Besar." Yusuf menyampaikan argumentasi-argumentasi yang kuat melalui pertanyaan-pertanyaannya yang disampaikan dengan ketenangan dan kedamaian. Beliau berdialog dengan mereka secara sehat dan dengan fikiran yang jernih serta dengan niat yang tulus.

Kemudian masuklah bersama beliau dua orang pemuda ke dalam penjara. Salah seorang di antara mereka adalah pimpinan petugas pembuat rod yang biasa bekerja di tempat raja, sedangkan yang lain pimpinan petugas pemberi minuman keras (khamer) yang biasa diminum oleh raja. Tukang roti itu menyaksikan dalam mimpinya bahawa ia berdiri di satu tempat dengan membawa roti di atas kepalanya yang kemudian dimakan oleh burung yang terbang, sementara orang yang memberikan minum para raja juga bermimpi, dan melihat dalam mimpinya bahawa ia memberikan minum khamer kepada raja.

Kedua orang itu pergi kepada Yusuf dan masing-masing mereka menceritakan mimpinya kepadanya serta meminta kepada beliau untuk menakwilkan atau mentafsirkan apa yang mereka lihat. Yusuf menggunakan kesempatan itu baik-baik dan kemudian ia berdoa kepada Allah s.w.t. Kemudian beliau memberitahu tukang roti itu, bahawa ia akan disalib dan akan mati, adapun pemberi minum raja, maka dia akan keluar dari penjara dan akan kembali bekerja di tempat raja. Yusuf berkata kepada pemberi minum itu: "Jika engkau pergi ke raja, maka jangan lupa menceritakan keadaanku padanya. Katakan kepadanya bahawa di sana terdapat seorang yang ditahan dalam keadaan teraniaya yang bernama Yusuf.

Akhirnya apa yang diceritakan oleh Nabi Yusuf benar-benar terjadi. Tukang roti itu pun terbunuh sedangkan orang yang biasa memberi minum raja itu dimaafkan dan kembali ke istana tetapi ia lupa untuk menceritakan pesan Yusuf kepada raja. Setan telah melupakannya sehingga ia lupa untuk menyebut nama Yusuf di depan raja. Yusuf pun tinggal di dalam penjara selama beberapa tahun. Allah s.w.t berfirman:

"Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang di antara keduanya: 'Sesungguhnya aku bermimpi bahawa aku akan memeras anggur. Dan yang lainnya berkata: 'Sesungguhnya aku bermimpi bahawa, aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung.' Berikanlah kepada kami ta'birnya: Sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (menakwilkan mimpi). Yusuf berkata: 'Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebahagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak, dan Yakub. Tidaklah patut bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah Yang demikian itu adalah dari kurnia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri(Nya). Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek-nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (QS. Yusuf: 36-40)

Setelah dakwah yang sangat dalam ini dan setelah Yusuf mengemukakan argumentasinya kepada orang-orang yang bertanya, beliau mulai mentafsirkan mimpi yang mereka lihat:

"Hai kedua penghuni penjara, adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minum tuannya dengan khamer; adapun yang seorang lagi, maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebahagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku). Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua: 'Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.' Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Kerana itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya. " (QS. Yusuf: 41- 42)

Cuba Anda perhatikan bagaimana Al-Qur'an menceritakan hal ini. Yusuf tidak menentukan kapan hal tersebut akan terjadi pada kedua orang itu, baik mereka yang bernasib baik atau pun mereka yang bernasib buruk. Ini adalah salah satu bentuk kasih sayang dan kelembutan beliau kepada mereka. Namun mereka memahami tujuan beliau ketika memutuskan suatu perkara kepada mereka dan mengatakan kepada yang lain bahawa ia akan bebas.

Al-Qur'an al-Karim tidak menceritakan bahawa takwil itu telah terwujud dan bahawa perkara itu telah terlaksana sebagaimana telah ditakwilkan oleh Yusuf. Di sini terdapat celah yang dapat digunakan oleh daya khayal bahawa semua ini telah terjadi. Kemudian orang yang selamat itu keluar dari penjara dan menuju ke istana. Ia pun kembali menuangkan minuman kepada raja. Seharusnya ia menceritakan pesan Yusuf yang telah memberitahukan kepadanya bahawa ia akan selamat namun pesan Nabi Yusuf tersebut benar-benar dilupakannya atau benar-benar hilang dari ingatannya. Ia lupa bagaimana Nabi Yusuf menakwilkan mimpinya dan bagaimana Nabi Yusuf berdakwah di jalan Allah s.w.t. Kemewahan istana raja dan kesibukannya dalam melayani raja atau tuannya membuatnya lupa untuk menyampaikan pesan Nabi Yusuf. Setan pun turut serta dalam melupakannya. Akhirnya, Nabi Yusuf tetap tinggal di penjara untuk beberapa tahun. Nabi Yusuf menghadapi ujian itu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan serta tidak berputus asa dan redha akan keputusan Allah s.w.t.

Marilah kita berpindah dari penjara ke kamar raja. Si raja tertidur dan bermimpi. Ia melihat dirinya berdiri di tepi Sungai Nil. Air sungai Nil turun di depan matanya. Air Sungai Nil tenggelam dan habis sehingga sungai itu menjadi tumpukan tanah yang kosong dari air. Kemudian ikan- ikan melompat-lompat sehingga tersembunyi dalam tanah sungai. Lalu keluarlah dari sungai itu tujuh sapi yang gemuk dan keluar juga tujuh sapi yang kurus. Sapi-sapi yang kurus itu malah menyerang sapi-sapi yang gemuk. Sapi-sapi yang kurus itu anehnya berubah menjadi binatang- binatang buas yang melahap sapi-sapi yang gemuk. Dalam mimpinya itu, raja berdiri dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan dan menakutkan itu. la menyaksikan teriakan-teriakan sapi-sapi yang gemuk itu saat dimakan oleh sapi-sapi yang kurus.

Kemudian timbullah di atas tepi Sungai Nil tujuh tangkai hijau dan tujuh tangkai hijau itu tenggelam dalam tanah. Dan muncullah di tanah yang sama tujuh tangkai yang kering. Tiba-tiba raja bangun dari tidurnya dalam keadaan takut. Raja menceritakan mimpinya kepada para peramal, para dukun, dan para menterinya. Ia meminta kepada mereka untuk menafsirkannya. Seorang peramal berkata: "Ini adalah hal yang cukup aneh, bagaimana sapi-sapi kurus dapat memakan sapi-sapi yang gemuk? Saya kira ini adalah kembang mimpi yang tidak ada ertinya." Kemudian para ahli mimpi dan para penakwil mimpi dan mereka yang ada di sekitar raja bersepakat bahawa mimpi si raja tidak memiliki makna yang khusus, atau ia hanya sekadar kembang tidur yang tidak ada ertinya.

Berita tentang mimpi raja itu sampai di telinga orang yang memberi minum raja. Fikirannya bergoncang ketika mendengar mimpi raja itu. Ia mulai mengingat-ingat mimpi yang dilihatnya di penjara. Ia mengingat, bagaimana Yusuf menakwilkan mimpinya. Ia segera menuju ke tempat raja dan menceritakan kepadanya peristiwa yang dialaminya bersama Yusuf. Ia berkata kepada raja: "Sesungguhnya hanya Yusuf satu-satunya yang mampu mentafsirkan mimpimu. Sebenarnya ia telah berpesan kepadaku agar aku menyebut keadaannya di depanmu tetapi terus terang, aku lupa menyampaikan pesannya." Kemudian raja mengutus orang itu ke penjara untuk menemui Yusuf dan bertanya kepadanya perihal mimpinya. Allah s.w.t berfirman:

"Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): 'Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang termuka, terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpiku. Mereka menjawab: 'Itu adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu takwil mimpi itu.' Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: 'Aku akan memberitahukan kepadamu tentang (orang yang pandai) menakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).' (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): 'Yusuf, hai orang yang amat dipercayai, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu agar mereka mengetahuinya.'" (QS. Yusuf: 43-46)

Kamar raja menjadi gelap, sementara itu layar penjara menjadi terang. Yusuf tampak berada dalam penjaranya. Seorang pemberi minum raja datang padanya. Raja membutuhkan pendapatnya dan Allah s.w.t akan memenangkan urusan-Nya tetapi kebanyakan manusia tidak menyedari. Utusan raja itu menanyakan tentang tafsir mimpi si raja. Yusuf tidak mensyaratkan kepadanya bahawa ia harus dikeluarkan dari penjara sebagai imbalan dari usahanya dalam mentafsirkan mimpinya. Yusuf tidak tidak mengatakan apa-apa selain ia berusaha untuk mentafsirkan mimpi raja. Demikianlah sikap seorang nabi ketika manusia datang padanya untuk meminta pertolongan meskipun mereka berbuat lalim kepadanya. Yusuf berkata kepada pemberi minum raja itu:

"Yusuf berkata: 'Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa;, maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun yang sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang akan kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur." (QS. Yusuf: 47-49)

Yusuf menjelaskan kepada utusan raja bahawa negeri Mesir akan mengalami masa-masa yang subur selama tujuh tahun di mana saat itu tanaman-tanaman akan tumbuh segar, dan hendaklah orang-orang Mesir tidak melampaui batas dalam memanfaatkan musim subur ini kerana setelah itu akan disusul dengan tujuh tahun paceklik. Pada musim itu, apa saja yang disimpan oleh penduduk Mesir akan habis. Oleh kerana itu, cara yang terbaik untuk menyimpan hasil tanaman mereka adalah, hendaklah mereka membiarkannya di tangkai-tangkainya agar ia tidak rosak atau terkena hama atau dapat berubah kerana cuaca.

Demikian takwil mimpi raja tersebut terkuak. Yusuf justru menambahkan pembicaraan tentang keadaan suatu tahun yang belum pernah dimimpikan oleh raja. Yaitu tahun yang penuh dengan kebahagiaan. Tahun di mana manusia mendapatkan kurnia dengan banyaknya tanaman- tanaman yang tumbuh dan melimpahnya air serta tumbuhnya anggur- anggur yang mereka tanam sehingga mereka memeras darinya khamer. Juga tumbuh pohon zaitun yang mereka tanam yang mereka memeras darinya minyak zaitun. Tahun ini tidak terdapat dalam mimpi raja. Ini adalah ilmu khusus yang diperoleh Nabi Yusuf. Yusuf menyampaikannya kepada pemberi minum raja itu dan memesan kepadanya agar bahagian ini pun juga dikemukakan kepada raja dan masyarakat. Akhirnya, pemberi minum itu kembali ke raja dan menceritakan semua yang didengarnya dari Yusuf. Raja menjadi terhairan-hairan dengan apa yang didengarnya. Ia kemudian berkata: "Siapa gerangan orang yang dipenjara ini. Sungguh luar biasa. Ia menceritakan hal-hal yang akan terjadi, bahkan lebih dari itu ia memberikan cara-cara untuk mengatasi persoalan yang akan terjadi itu tanpa meminta upah atau balasan atau agar ia dibebaskan dari penjara."

Kemudian raja mengeluarkan perintah agar Yusuf dibebaskan dari penjara dan dihadirkan padanya. Lalu utusan raja pergi ke penjara. Utusan ini bukan utusan yang pertama, yaitu si pemberi minum raja. Ia adalah seseorang yang memiliki jabatan penting. Kemungkinan besar ia adalah salah seorang menteri. Ia pergi untuk menemui Yusuf di penjara. Ia meminta kepada Yusuf agar keluar dari penjara guna menemui raja. Raja menginginkan agar ia segera menjumpainya.

Ternyata Yusuf menolak untuk keluar dari penjara kecuali semua tuduhan yang ditujukan kepadanya dicabut. Tampak bahawa mereka menuduhnya terlibat dalam kasus pemotongan tangan para wanita. Mungkin mereka berkata: "Yusuf ingin berbuat aniaya terhadap wanita-wanita itu, lalu kaum wanita ingin mempertahankan diri mereka dengan cara memotong tangan mereka dengan pisau." Alhasil, boleh jadi mereka menggunakan berbagai macam kebohongan yang sulit diterima, tetapi sebagaimana kita ketahui segala hal sah-sah saja dan boleh saja jika dilakukan oleh orang-orang yang hidup di istana kerana hukum yang dipakai di sana adalah hukum yang mutlak. Yusuf tidak mahu keluar dari penjara itu kecuali bila ditetapkan bahawa beliau terlepas dari segala tuduhan:

"Raja berkata: 'Bawalah dia kepadaku.' Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: 'Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka.'" (QS. Yusuf: 50)

Utusan itu kembali kepada raja. Raja berteriak ketika melihatnya sendirian: "Di mana Yusuf?" Utusan raja berkata: "Ia masih di penjara." Raja bangkit dari tempat duduknya lalu berkata: "Bukankah aku memerintahkanmu untuk menghadirkannya?" Utusan raja berkata: "Ia menolak untuk keluar dari penjara kecuali semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya dicabut. Paduka yang mulia bertanggungjawab dalam menyelesaikan kasusnya bersama wanita-wanita di istana yang telah memotong tangan mereka." Raja berkata: "Kalau begitu, panggillah semua isteri-isteri menteri dan hadirkanlah isteri al-Aziz. Saya minta semua hadir."

Raja merasa bahawa Yusuf menghadapi suatu persoalan di mana ia tidak mengetahui secara pasti titik terangnya. Barangkali raja mendengar berbagai macam gosip dan desas-desus yang biasa terjadi di kalangan para menterinya dan kisah yang melibatkan isteri ketua menterinya dan Yusuf, tetapi raja itu tidak begitu peduli dengan apa yang didengarnya. Sebab cerita-cerita semacam ini sudah menjadi hal yang biasa dan sering terjadi di dunia istana yang glamor. Akhirnya, isteri al-Aziz dan semua wanita yang pernah dijamunya hadir di depan raja. Raja bertanya: "Bagaimana cerita Yusuf yang sebenarnya? Apa yang kalian ketahui tentangnya? Apa benar ia terlibat dalam skandal seks?

Salah seorang perempuan memotong pembicaraan raja dan berkata: "Demi Allah, kami tidak mengetahui bahawa ia melakukan suatu keburukan." Wanita yang lain berkata: "Yusuf adalah seorang yang suci bagaikan seorang malaikat." Kemudian pandangan tertuju kepada isteri al-Aziz yang tampak pucat. Ia menampakkan kerinduan untuk melihat wajah Yusuf. Ia mengaku bahawa ia telah berbohong dan Yusuf adalah orang-orang yang benar. Ia benar-benar telah menggoda Yusuf namun Yusuf menolak. Ia menegaskan bahawa ia benar-benar mengatakan yang sesungguhnya, bukan kerana takut kepada raja dan juga wanita-wanita yang lain. Fikirannya masih berputar sekitar Yusuf. Akhirnya, Yusuf dibebaskan dari berbagai tuduhan. Allah s.w.t menceritakan proses pengadilan ini dan penyusutan ini dalam firman-Nya:

"Raja berkata: (kepada wanita-wanita itu): 'Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepada- mu) ? Mereka berkata: Maha sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukkan darinya. Berkata isteri al-Aziz: 'Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku) dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.' Yusuf berkata: 'Yang demikian itu agar dia (al-Aziz) mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahawasanya Allah tidak meredhai tipu daya orang- orang yang berkhianat. " (QS. Yusuf: 51-52)

Al-Qur'an al-Karim menceritakan kepada kita proses pengakuan isteri al- Aziz dengan menggunakan lafal-lafal insipiratif yang mengisyaratkan adanya luapan emosi dan perasaan yang dalam: "Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku) dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. " Itu adalah suatu penyaksian yang utuh dari wanita tersebut tentang dosanya serta kesucian dan kejujuran Yusuf. Suatu kesaksian yang tidak didorong oleh rasa takut atau rasa khawatir atau apa pun lainnya.

Konteks Al-Qur'an mengungkapkan faktor yang lebih dalam dari semua ini. Yaitu keinginan wanita itu agar lelaki yang telah mencela kesombongan feminisnya tetap menghormatinya. Ia tidak ingin lelaki itu terus merendahkannya sebagai wanita yang salah. Ia ingin meluruskan fikiran lelaki tentang dirinya. "Yang demikian itu agar dia (al-Aziz) mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya." Aku tidak seburuk yang dibayangkannya. Barangkali ia mulai menangis ketika berkata:

"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampunan lagi Maha Penyayang. " (QS. Yusuf: 53)

Melalui perenungan ayat-ayat tersebut, kita dapat mengetahui bahawa isteri al-Aziz mengikuti agama Nabi Yusuf. Ia mengikuti agama tauhid. Penahanan Yusuf telah membuat perubahan drastik dalam hidupnya. Ia beriman kepada Tuhannya dan memeluk agama Yusuf. Ia mencintai Yusuf meskipun beliau jauh dan tidak bertemu dengannya.

"Dan raja berkata: 'Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang tepat bagiku.' Maka tatkala raja telah bercakap- cakap dengan dia, dia berkata: 'Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.' Berkatalah Yusuf: 'Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.' Dan demikian Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa saja yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia- nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa." (QS. Yusuf: 54-57)

Setelah itu, Al-Qur'an al-Karim tidak menyebutkan kisah isteri al-Aziz secara penuh. Al-Qur'an malah berpindah ke kisah yang lain sehingga kita tidak mengetahui urusannya ketika ia mengakui kejahatannya lalu dibarengi dengan pernyataan keimanannya terhadap agama Nabi Yusuf.

Berkenaaan dengan wanita itu, terdapat banyak dongeng palsu dan bohong. Ada yang mengatakan bahawa suaminya mati lalu ia menikah dengan Yusuf. Kemudian diketahui bahawa ia masih perawan. Ia mengaku bahawa suaminya adalah seorang tua yang tidak suka mendekati wanita. Ada yang mengatakan bahawa matanya menjadi buta kerana saking seringnya ia menangis terhadap Yusuf, lalu ia keluar dari istana dan tersesat di jalan-jalan kota. Ketika Yusuf menjadi pembesar di istana, wanita itu berteriak dengan penuh kesakitan dan penyesalan sambil berkata: "Maha Suci Allah yang menjadikan seorang raja budak kerana kemaksiatannya dan menjadikan budak raja kerana ketaatannya." Kemudian Yusuf bertanya: "Suara siapa itu? Dikatakan padanya: "Itu adalah isteri al-Aziz yang keadaannya telah berubah. Sebelumnya ia menjadi mulia dan kini menjadi hina." Kemudian Yusuf memanggilnya dan bertanya kepadanya: "Apakah masih tersisa dalam dirimu rasa cinta pada diriku?" Wanita itu menjawab: "Sungguh, memandang wajahmu lebih aku cintai daripada dunia. Hai Yusuf, berikanlah padaku ujung cemetimu." Lalu Yusuf memberikan kepadanya. Ia meletakkan di dadanya. Yusuf melihat cemeti itu bergetar di tangannya dengan goncangan yang sangat keras kerana detak jantungnya yang kuat. Masih banyak kebohongan-kebohongan lain dan dongeng-dongeng lain yang berkenaan dengannya. Kisah-kisah yang disampaikan itu semua laksana drama romantis yang berakhir pada kehancuran cinta.

Al-Qur'an al-Karim tidak menyebutkan akhir dari kehidupan wanita itu. Al-Qur'an sengaja menutup kisahnya setelah ia bersaksi dan beriman kepada Nabi Yusuf. Tentu di balik semua ini terdapat tujuan agamis. Pada dasarnya, kisah itu adalah kisah Yusuf, bukan kisah wanita itu. Jadi, yang ditonjolkan oleh Al-Qur'an adalah kisah Yusuf, bukan kisah isteri al- Aziz. Di balik semua ini juga terdapat tujuan seni yang tinggi. Wanita itu muncul dalam kisah itu dan ia bersembunyi atau menghilang di saat yang tepat. Ia bersembunyi ketika berada di puncak penderitaannya. Raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang tepat bagiku." Yusuf masuk menemui raja. Raja berbicara dengannya dengan bahasanya dan Yusuf pun mampu menjawabnya. Raja berbicara dengan bahasa kedua dan Yusuf pun menjawabnya dengan bahasa Arab. Raja bertanya: "Bahasa apa ini?" Ini adalah bahasa Ismail, paman ayahku, kata Yusuf. Kemudian Yusuf berbicara dengan raja dengan bahasa Ibrani. Raja bertanya: "Bahasa apa ini?" Yusuf berkata: "Ini adalah bahasa orang tuaku, Ibrahim, Ishak dan Yakub." Raja itu memang mampu berbicara dengan lebih dari satu bahasa namun ia mendapati
Yusuf justru memiliki kemampuan berbahasa lebih tinggi darinya.

Raja kagum dengan wawasan luas yang dimiliki Nabi Yusuf dan kedalaman ilmunya yang mengesankan. Kemudian pembicaraan menjalar pada masalah mimpi. Yusuf menasihati raja agar memulai rencana yang tepat untuk mengumpulkan makanan dan menyimpannya dalam rangka menghadapi tahun-tahun penceklik. Yusuf memberikan pengertian kepada raja bahawa kelaparan akan melanda Mesir dan kota-kota di sekitarnya. Oleh kerana itu, negeri Mesir harus siap-siap untuk menghadapi suasana yang sangat sulit itu, demikian juga negeri-negeri di sekitarnya. Dari sini kita memahami bahawa negeri Mesir memiliki kedudukan penting dalam percaturan sejarah kuno. Raja bertanya tentang pelaksanaan rencana. Salah satu yang dikatakannya sebagaimana disebutkan dalam tafsir al-Qurtubi: "Seandainya penduduk Mesir dapat melaksanakan apa-apa yang berkenaan dengan masalah ini. Tetapi sulit ditemukan di antara mereka orang-orang yang jujur."

Raja mengisyaratkan pada kelompok yang berkuasa dan kelompok- kelompok lain di sekitarnya bahawa untuk mendapat kejujuran pada kelompok yang bergaya hidup mewah tersebut merupakan hal yang sangat sulit. Setelah pengakuan raja kepada Yusuf tentang hakikat ini, Yusuf berkata: "Kalau begitu, jadikanlah aku sebagai pengawas atas kekayaan bumi. Aku adalah seorang pengawas yang sangat teliti dan berpengetahuan." Tentu dalam pernyataan tersebut, Yusuf tidak menginginkan keuntungan peribadi. Sebaliknya, Yusuf memikul amanat untuk memberikan makan bagi masyarakat yang lapar selama tujuh tahun. Yaitu, masyarakat yang seandainya mereka lapar, maka penguasanya dapat mempermainkan mereka. Dalam masalah ini, sebenarnya terdapat pengorbanan Nabi Yusuf.

Konteks Al-Qur'an tidak menetapkan bahawa raja setuju. Seakan-akan Al- Qur'an al-Karim mengatakan bahawa permintaan tersebut mengandung persetujuan sebagai bentuk penambahan penghormatan kepada Yusuf dan menunjukkan kedudukannya di sisi raja. Jadi, jawapan raja atas permintaan Yusuf tidak disebutkan. Akhirnya, kita memahami bahawa Yusuf kemudian berada di tempat yang diusulkannya. Demikianlah Allah s.w.t memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir. Ia menjadi orang yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan kekayaan Mesir dan perekonomiannya. Beliau menjadi ketua para menteri besar. Barangkali sesuai dengan tradisi saat itu, beliau mendapat dua tugas sekaligus: tugas sebagai kepala pemerintahan dan kepala urusan logistik.

Konteks Al-Qur'an tidak memberitahukan kepada kita tindakan-tindakan Nabi Yusuf di Mesir. Kita hanya mengetahui bahawa beliau adalah seorang yang bijaksana dan sangat mengerti berbagai persoalan. Kita mengetahui bahawa beliau adalah seorang yang terpercaya dan jujur. Oleh kerana itu, selama Nabi Yusuf duduk di kerusi pemerintahan, maka perekonomian Mesir tidak perlu dikhuatirkan. Kemudian roda zaman berputar. Tahun-tahun kejayaan dan kesenangan berlalu dengan cepat, dan datanglah tahun-tahun kelaparan. Di sini konteks Al-Qur'an tidak menyebutkan keadaan raja dan para menteri. Seakan-akan masalah hanya terfokus pada Yusuf.

Al-Qur'an tidak menyebutkan kepada kita bahawa kelaparan telah dimulai. Ia tidak menggambarkan kepada kita proses permulaan musim kelaparan itu. Kitab suci itu justru membentangkan suatu peristiwa yang dialami saudara-saudara Yusuf di mana mereka datang dari Palestina untuk membeli makanan di Mesir. Yaitu makanan yang saat itu di bagi dengan sistem yang menyerupai sistem pengagihan. Penggunaan sistem tersebut menunjukkan bahawa mereka berada dalam puncak peradabannya. Yusuf ingin membandingkan antara kebutuhan orang- orang yang memerlukan dan persediaan makanan yang akan digunakan di masa yang lama. Oleh kerana itu, tidak setiap orang yang memiliki daya beli tinggi berkesempatan membeli barang-barang yang ingin disimpannya sehingga orang-orang yang lain akan mati kelaparan. Ada yang mengatakan bahawa beliau memberi pada setiap orang—pada satu masa—seberat muatan unta. Sementara itu, saudara-saudara Yusuf datang dari gurun. Mereka datang guna membeli makanan dari Mesir. Dalam peribahasa Mesir dikatakan: "Seandainya Mesir kenyang dan dunia lapar, maka Mesir akan mengenyangkannya tetapi kalau Mesir lapar, maka dunia tidak akan mengenyangkannya."

Kini saudara-saudara Yusuf yang telah menceburkannya ke dalam telaga telah datang. Anak-anak Nabi Yakub datang dan berbaris dalam rombongan orang-orang yang membutuhkan. Yusuf duduk di atas singgahsana Mesir sebagai seorang penguasa yang memerintah dan melarang. Yusuf bergegas untuk menjamin kelangsungan kehidupan manusia. Beliau dikelilingi oleh para menterinya, orang-orang penting, dan para tentera. Nabi Yusuf segera mengenali saudara-saudaranya, sedangkan mereka tidak mengenalinya. Mereka telah terpisahkan cukup lama dengan Yusuf di mana keadaan sangat menyusahkan mereka sehingga mereka datang dari Palestina untuk mencari makan di Mesir.

Terjadilah dialog antara Yusuf dan saudara-saudaranya tanpa mereka mengetahui identiti Yusuf. Saudara-saudara Yusuf itu berjumlah sepuluh orang, namun mereka membawa sebelas unta. Yusuf bertanya kepada mereka—melalui—salah seorang penterjemah—agar beliau tidak berbicara dengan mereka dengan bahasa mereka, yaitu bahasa Ibrani: "Undang- undang kita memutuskan untuk memberikan makanan pada setiap orang sesuai dengan kemampuan unta mengangkut makanan itu. Berapa jumlah kalian?" Mereka menjawab: "Sebelas orang." Yusuf berkata kepada salah seorang penterjemah: "Katakan kepada mereka, bahasa kalian berbeza dengan bahasa kami dan pakaian kalian pun berbeza dengan pakaian kami. Barangkali kalian adalah mata-mata." Mereka menjawab: "Demi Allah, kami bukan mata-mata tetapi kami adalah keturunan dari seorang ayah yang baik." Yusuf bertanya: "Kalian mengatakan bahawa jumlah kalian sebelas padahal, kalian berjumlah sepuluh."

Mereka menjawab: "Sebenarnya kami adalah dua belas saudara, seorang saudara kami meninggal di daratan dan kami mempunyai saudara yang lain yang sangat dicintai oleh orang tua kami dan ia tidak mampu untuk bersabar ketika berpisah dengannya. Oleh kerana itu, kami datang dengan membawa untanya sebagai ganti darinya." Yusuf berkata: "Bagaimana aku bisa memastikan kejujuran kalian?" Mereka menjawab: "Pilihlah sesuatu yang engkau dapat menjadi tenang dengannya." Yusuf berkata: "Undang-undang kami menetapkan untuk tidak memberikan makanan kepada seseorang yang tidak ada. Kerana itu, datangkanlah saudara kalian agar aku dapat memberinya makanan. Tidakkah kalian mengetahui bahawa aku menegakkan timbangan dengan jujur?"

Demikianlah dialog terus berlangsung antara saudara-saudara Yusuf dan Yusuf. Yusuf memberitahukan kepada mereka bahawa kali ini mereka mendapatkan pengecualian (keringanan) dan keistimewaan. Tetapi, jika pada masa yang akan datang mereka datang tanpa membawa saudara mereka, maka Yusuf tidak akan memberikan makanan kepada mereka. Mereka berkata padanya, bahawa kami akan berusaha memuaskan ayah kami atau meyakinkan ayah kami untuk meninggalkan saudara kami itu bersama kami. Berkenaan dengan peristiwa tersebut, Allah s.w.t
berfirman:

"Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) lalu mereka masuk ke (tempatnya). Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya. Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: 'Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahawa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu. Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapatkan sukatan lagi dariku dan jangan kamu mendekatiku.' Mereka berkata: 'Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (ke mari) dan sesungguhnya kami benar-benar akan melaksanakannya.' Mereka berkata kepada bujangan-bujangannya: 'Masukkanlah barang-barang (penukar kepunyaan-kepunyaan mereka) ke dalam karung-karung mereka, supaya mereka mengetahuinya apabila mereka telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi.'" (QS. Yusuf: 58-62)

Kemudian berpindahlah peristiwa di Mesir ke peristiwa yang terjadi di Kan'an. Saudara-saudara Yusuf kembali pulang dan menemui ayah mereka. Sebelum mereka menurunkan muatan yang dibawa oleh unta, mereka masuk menemui ayah mereka: "Sungguh kami tidak mendapatkan sukatan gandum. Ini terjadi kerana engkau melindungi dan mempertahankan anakmu." Mereka mengatakan: "Kami tidak akan memberikan makanan bagi orang tak hadir. Mengapa engkau tidak merasa aman ketika kami membawanya? Biarkanlah ia pergi bersama kami dan sesungguhnya kami akan menjaganya." Jelas sekali bahawa dialog tersebut bertujuan untuk memujukkan si ayah dan membebankan tanggung jawab kepadanya dalam hal ketidakmampuan mereka memperoleh makanan. Namun, si ayah menjawab dengan menggunakan sopan santun para nabi. Ia berkata bahawa ia tidak merasa aman terhadap mereka atas anaknya yang kecil sebagaimana kekhuatirannya terhadap Yusuf sebelumnya, dan ia tidak peduli atau tidak begitu yakin dengan ucapan mereka: "Sungguh kami sebaik-baik penjaga. Kerana, Allah s.w.t-lah sebaik-baik penjaga dan Maha Pengasih di antara yang mengasihi."

Anak-anak itu membuka wadah-wadah yang mereka bawa untuk mengeluarkan biji-bijian makanan yang ada di dalamnya. Tiba-tiba mereka mendapatkan barang-barang mereka telah dikembalikan bersama makanan. Pengembalian harga menunjukkan ketidakinginan untuk menjual atau itu semacam peringatan, dan barangkali itu merupakan hal yang mengganggu mereka agar mereka kembali membenarkan harga pada kali yang kedua. Melihat kenyataan tersebut, anak-anak itu segera menuju ke ayah mereka sambil mengatakan: "Wahai ayah kami, kami tidak berbuat aniaya dan kami tidak berbohong kepadamu. Sungguh harga yang telah kami beli dikembalikan kepada kami. Ini bererti bahawa mereka tidak akan menjual kepada kami kecuali jika saudara kami pergi bersama kami."

Demikianlah dialog antara mereka dan ayah mereka terus berlanjut. Mereka memberikan pengertian kepada ayahnya bahawa kecintaannya kepada seorang anaknya dan hubungan dekat dengannya justru mengorbankan kepentingan mereka dan menjatuhkan perekonomian mereka. Mereka ingin untuk menambah perbekalan mereka dan mereka berjanji akan menjaga saudara mereka dengan penjagaan yang sangat hebat. Dialog tersebut berakhir dengan persetujuan si ayah terhadap keinginan mereka dengan syarat, bahawa mereka berjanji untuk membawa pulang anaknya kecuali jika mereka dikepung oleh musuh dan mereka tidak mampu menyelamatkannya. Si ayah menasihati mereka untuk tidak masuk—kerana mereka berjumlah sebelas orang—dari satu pintu dari pintu-pintu Mesir sehingga tak seorang pun yang menaruh kecurigaan. Barangkali si ayah mengkhuatirkan terjadinya pencurian atau kedengkian, namun konteks ayat tersebut tidak menceritakan kepada kita apa yang dikhuatirkan oleh si ayah. Akhirnya, Nabi Yakub bertawakal kepada Allah s.w.t dan menyerahkan urusan anaknya pada mereka. Berkaitan dengan hal tersebut, Allah s.w.t berfirman:

"Maka tatkala mereka telah kembali kepada ayah mereka (Yakub), mereka berkata: 'Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat sukatan, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.' Berkatalah Yakub: 'Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?.' Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.' Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka, dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: Wahai ayah kami apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. Itu adalah sukatan yang mudah (bagi raja Mesir). Yakub berkata: 'Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahawa kamu pasti akan akan membawanya kembali kepadaku, kecuali jika kamu dikepung musuh.' Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Yakub berkata: 'Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini).' Dan Yakub berkata: 'Hai anak-anakku, janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada- Nya-lah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri.' Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiadalah melepaskan mereka sedikit pun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya suatu keinginan pada diri Yakub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, kerana Kami telah mengajarkan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." (QS. Yusuf: 63-68)

Kali ini saudara-saudara Yusuf yang sebelas orang itu kembali lagi:

"Dan tatkala mereka masuk he (tempat) Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya, Yusuf berkata: 'Sesungguhnya aku (ini) adalah saudaramu, maka janganlah kamu berduka cita terhadap apa yang telah mereka kerjakan.'" (QS. Yusuf: 69)

Konteks Al-Qur'an mengarah ke keadaan Yusuf di mana beliau melindungi saudaranya dan menunjukkan padanya rahsia kekerabatannya. Tentu hal ini tidak terjadi saat saudara-saudara Yusuf masuk menemuinya kerana jika demikian nescaya mereka akan mengetahui hubungan kekerabatan Yusuf. Hal ini terjadi dalam ketersembunyian sehingga saudara- saudaranya tidak mengetahui. Tapi konteks ayat tersebut yang sangat mengagumkan, sengaja berpindah pada keadaan pertama yang dialami Yusuf di mana beliau tampak khawatir saat mereka masuk menemuinya dan saat beliau melihat saudaranya. Demikianlah, Al-Qur'an menjadikannya sebagai tugas pertama kerana ia merupakan sesuatu yang pertama kali terlintas dalam hati Yusuf. Ini termasuk ungkapan yang dalam yang terdapat pada Kitab yang agung ini. Ayat tersebut juga tidak menyinggung masa perjamuan dan apa yang terjadi saat itu antara Yusuf dan saudara-saudaranya. Ia justru mengungkapkan peristiwa saat mereka meninggalkan tempat itu. Yusuf merencanakan sesuatu terhadap saudara-saudaranya. Yusuf ingin agar saudaranya yang kecil tetap bersamanya. Yusuf mengetahui bahawa usahanya untuk menahan saudaranya akan menimbulkan kesedihan buat ayahnya, dan barangkali kesedihan-kesedihan baru akan menumpuki kesedihan-kesedihan si ayah. Mungkin saja peristiwa ini akan mengingatkannya tentang hilangnya Yusuf.

Yusuf mengetahui semua itu. Beliau memandangi saudaranya. Dan tidak ada alasan kuat untuk menahannya. Kerana itu, mengapa ia harus menahan saudaranya dengan cara demikian? Al-Qur'an menyinggung rahsia tersebut, yaitu bahawa Yusuf bergerak di bawah bimbingan wahyu Ilahi. Allah s.w.t menginginkan agar Yakub menerima ujian dan menjalani puncak dari penderitaan, sehingga ketika beliau mampu melalui berbagai penderitaan dan bersabar atasnya, maka Allah s.w.t akan mengembalikan padanya kedua puteranya, dan akan mengembalikan juga matanya yang buta.

Rencana Yusuf sudah matang. Yusuf memerintahkan para pengawalnya untuk meletakkan gelas raja yang terbuat dari emas di tempat penyimpanan yang dibawa saudaranya secara rahsia. Gelas itu digunakan sebagai alat untuk menimbang gandum di mana gelas tersebut tentu sangat mahal kerana ia terbuat dari emas murni. Akhirnya, gelas tersebut disembunyikan dalam barang bawaan saudaranya. Saudara-saudara Yusuf bersiap-siap untuk pergi dan bersama mereka saudara mereka yang kecil. Kemudian pintu kota pun ditutup dan tiba-tiba berteriaklah seseorang: "Hai kafilah, kalian adalah pencuri."

Teriakan tentera tersebut menghentikan langkah semua kafilah. Kini, mereka semua menjadi tertuduh. Orang-orang berdatangan dan bersama mereka saudara-saudara Yusuf. "Barang apa yang hilang dari kamu?" tanya saudara-saudara Yusuf. Para tentera itu menjawab: "Kami kehilangan gelas milik raja yang terbuat dari emas. Barang siapa yang mampu mendatangkannya dan menemukannya, maka kami akan memberikan balasan. Kami akan memberikannya makanan yang dimuat oleh unta."

Saudara-saudara bukanlah orang-orang yang mencuri. Para petugas keamanan Yusuf berkata (sebelumnya mereka telah mendapatkan pengarahan dari Yusuf): "Hukuman apa yang kalian inginkan bagi seorang pencuri?" Saudara-saudara Yusuf berkata: "Dalam peraturan kami, bahawa orang yang mencuri akan menjadi budak bagi orang yang kehilangan barangnya." Petugas keamanan itu berkata: "Kami akan menerapkan peraturan kalian. Kami tidak menggunakan undang-undang Mesir yang menegaskan untuk memenjarakan orang yang mencuri." Tawaran ini tentu sebagai tipu daya dan rencana jitu dari Allah s.w.t di mana Yusuf diberi ilham untuk membicarakan hal itu pada petugas keamanannya. Seandainya kalau bukan kerana rencana Ilahi ini, nescaya Yusuf tidak akan dapat mengambil saudaranya. Agama raja atau peraturannya tidak memutuskan untuk menjadikan budak orang yang mencuri.

Salah seorang kepala keamanan berkata: "Mulailah kalian memeriksa." Yusuf memperhatikan semua ini dari sanggahannya. Ia telah menyerahkan perintahnya kepada petugas keamanan untuk pertama- tama memeriksa saudara-saudaranya dan hendaklah mereka tidak mengeluarkan gelas raja kecuali pada pemeriksaaan yang terakhir. Kemudian selesailah pemeriksaan saudara yang pertama, saudara yang kedua sampai saudara yang kesepuluh. Dan mereka tidak menemukan barang yang dimaksud. Saudara-saudara Yusuf merasa aman bahawa mereka terlepas dari tuduhan mencuri. Mereka mulai menarik nafas lega dan mereka berkata bahawa semua di antara kami telah diperiksa kecuali saudara kami yang kecil. Yusuf berkata—kali ini beliau turut campur—: "Ia tidak perlu diperiksa." Tampaknya ia bukan seorang pencuri.

Saudara-saudara Yusuf berkata: "Kami tidak akan meninggalkan tempat ini kecuali setelah barang bawaannya diperiksa. Ini harus dilakukan agar hati kami menjadi tenang begitu juga hati kalian. Sungguh kami adalah anak-anak dari seorang tua yang baik dan kami bukanlah pencuri." Akhirnya, petugas keamanan pun memeriksa barang bawaan saudaranya, dan tiba-tiba mereka mengeluarkan gelas raja dari dalamnya. Dan sesuai peraturan yang ditetapkan oleh mereka, saudara Yusuf menjadi budak baginya. Saudara-saudara Yusuf yang merasa tenang dan selamat dari tuduhan, kini mereka mulai mencela saudara kandung Yusuf. Mereka berkata: "Jika
ia mencuri, maka saudaranya yang dulu pun juga mencuri." Yusuf mendengarkan tuduhan mereka padanya dan beliau menampakkan kesedihan yang dalam. Yusuf menyembunyikan kesedihannya dalam dirinya dan tidak menampakkan perasaannya.

Yusuf berkata dalam dirinya: "Sesungguhnya sifat-sifat kalian lebih buruk, dan Allah s.w.t mengetahui apa yang kalian nyatakan itu." Beliau ingin mengatakan: "Dengan tuduhan ini, kalian justru menambah keburukan kalian di sisi Allah s.w.t daripada si tertuduh kerana kalian menuduh seseorang yang sebenarnya terlepas dari tuduhan dan Allah s.w.t mengetahui hakikat yang kalian katakan." Kemudian terjadilah keheningan setelah komentar saudara-saudara yang terakhir. Kemudian hilanglah perasaan selamat dan mereka mulai mengingat Yakub. Bukankah mereka telah menjalin suatu perjanjian besar dengannya agar mereka tidak berlaku aniaya terhadap anaknya? Mereka mulai merengek- rengek dan mencuba mendapat belas kasih dari Yusuf: "Wahai seorang yang mulia, wahai raja, sungguh ia mempunyai ayah yang sudah tua, maka ambillah salah seorang dari kami sebagai gantinya. Sungguh kami melihatmu sebagai seorang yang baik."

Yusuf berkata dengan penuh ketenangan: "Bagaimana kalian ingin agar kami melepaskan seseorang yang kami temukan gelas raja di tempatnya, lalu kalian meminta seseorang yang lain sebagai gantinya? Ini adalah tindakan yang lalim dan kami tidak akan berbuat lalim." Saudara-saudara Yusuf berusaha untuk terus meminta belas kasihnya tetapi petugas keamanan dan para tentera meyakinkan mereka bahawa pemimpin Mesir, Yusuf yang jujur, telah berbicara dan mengeluarkan perintah. Kerana itu, hendaklah mereka pergi dan meninggalkan saudara mereka
sebagai budak di sisinya.

Kemudian saudara-saudara Yusuf mulai bergerak. Mereka tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan saat menghadapi musibah yang baru ini, dan bagaimana mereka akan menghadapi ayah mereka dan menceritakan padanya apa yang terjadi. Salah seorang saudara yang paling tua duduk di atas tanah dan berkata: "Aku tidak akan bergerak dari tempatku. Kalian telah berbuat aniaya terhadap Yusuf sebelumnya, dan sekarang kalian berbuat aniaya terhadap saudaranya. Pulanglah kalian pada ayah kalian tanpa aku dan ceritakan padanya apa yang terjadi.

Allah s.w.t berfirman:

"Maka tatkala telah disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan: 'Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri.' Mereka menjawab, sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu: 'Barang apakah yang hilang dari kamu?' Penyeru-penyeru itu berkata: 'Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya.' Saudara-saudara Yusuf menjawab: 'Demi Allah, sesungguhnya kamu mengetahui bahawa kami datang bukan untuk membuat kerosakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri.' Mereka berkata: 'Tetapi apa balasannya jika kamu betul- betul pendusta?' Mereka menjawab: 'Balasannya, ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya). Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim.' Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami tinggikan darjat orang yang Kami kehendaki: Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui. Mereka berkata: 'Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.' Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): 'Kamu lebih buruk dari kedudukanmu (sifat- sifatmu) dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu. Mereka berkata: 'Wahai al-Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik.' Berkata Yusuf: 'Aku mohon perlindungan kepada Allah dari menahan seseorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim.' Maka tatkala mereka berputus asa daripada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua di antara mereka:

'Tidakkah kamu ketahui bahawa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kamu dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu, aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali) atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya.'" (QS. Yusuf: 70-80)

Saudara-saudara Yusuf menetapkan akan kembali tanpa saudara kandung mereka yang paling besar dan tanpa saudara kandung mereka yang paling kecil. Mereka masuk menemui ayahnya dan berkata: "Wahai ayahku, anakmu benar-benar mencuri." Dengan penuh kehairanan ayahnya bertanya, seakan-akan ia mendustakan apa yang didengarnya: "Apa yang kalian katakan?" Mereka menceritakan apa yang telah terjadi. Mereka memberitahukan kepadanya bahawa mereka mengatakan apa yang benar-benar mereka saksikan dengan mata kepala mereka sendiri. Kalau ayah mereka ragu, hendaklah ia bertanya kepada orang-orang yang bersama mereka di Mesir, dan hendaklah ia bertanya kepada kafilah yang datang bersama mereka. Kali ini mereka benar. Terdapat banyak saksi yang mendukung mereka.

Nabi Yakub berusaha mendengar apa yang mereka katakan dan dengan kesedihan yang diliputi dengan kesabaran dan mata yang menangis beliau berkata: "Hanya dirimu sendiri yang memandang baik perbuatan yang buruk itu. Maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Mudah-mudahan Allah s.w.t mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sesungguhnya Dia Maria Mengetahui dan Maha Bijaksana." Yakub tidak percaya kepada mereka kerana mereka sebelumnya telah berbuat kelaliman. Akhirnya, Yakub mulai merasakan kesepian. Ia hidup tanpa ditemani puteranya yang lebih dicintainya daripada saudara-saudaranya yang lain. Yakub adalah seorang yang sudah tua dan di masa tuanya Allah s.w.t mengujinya dengan kesepian dan kesendirian tetapi Yakub telah mewasiatkan kesabaran dalam dirinya dan bertawakal kepada Allah s.w.t. Yakub telah berusaha menerapkan kesabaran yang indah tanpa mengadukan apa yang dialaminya kepada seseorang pun selain Allah s.w.t. Beliau hanya mengharap kebaikan kepada Allah s.w.t dan berharap kepada-Nya untuk mendatangkan semua anak-anaknya. Sesungguhnya Allah s.w.t mengetahui keadaannya dan Dia Maha Bijaksana, Maha Penyayang, dan Maha Pengasih terhadap hamba-Nya.

Nabi Yakub pergi dan kembali ke kamarnya. Mendengar peristiwa tersebut, beliau kembali terkenang dengan peristiwa lamanya berkenaan dengan anaknya Yusuf. Ia mulai merenung sambil berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf." Keluarlah dalam hatinya suatu kegoncangan cinta yang dalam lalu kedua matanya dipenuhi dengan air mata yang banyak yang semakin menambah kesedihannya. Allah s.w.t memberitahukan kepada kita tentang dialog yang terjadi antara saudara-saudara Yusuf dan ayah mereka dalam firman-Nya:

"Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah: 'Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri; dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar. Yakub berkata: 'Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui. 'Dan Yakub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: 'Aduhai duka citaku terhadap Yusuf,' dan kedua matanya menjadi putih kerana kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak- anaknya). " (QS. Yusuf: 81-84)

Tangisan yang cukup lama itu menjadikan beliau kehilangan matanya atau menyerupai sesuatu yang menampakkan kehilangan matanya. Adakah orang yang mengatakan: "Apakah mungkin seorang nabi menangis seperti ini? Tidakkah menangis justru menampakkan keputusasaan?" Untuk menjawab kegelisahan orang yang bertanya demikian, kami katakan: "para nabi adalah manusia yang memiliki perasaan yang paling besar dan paling sensitif terhadap penderitaan. Tangisan itu sendiri merupakan bentuk dan tingkatan dari cinta. Juga merupakan bentuk pengaduan kepada Allah s.w.t. Yakub menangis kerana beliau adalah seseorang yang memiliki jiwa yang besar. Beliau tidak menangis di hadapan seseorang pun. Tangisan beliau sekadar pengaduan kepada Allah s.w.t yang tiada seorang pun yang mengetahuinya kecuali Allah s.w.t. Tangisan tersebut tidak difahami oleh anak-anaknya di mana mereka menyerang sisi kemanusiaannya yang dalam dengan menasihatinya agar berhenti menangis dan kalau tidak, kata mereka, ia akan menghancurkan dirinya sendiri."

"Mereka berkata: ,Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa.'" Yakub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya." (QS. Yusuf: 85-86)

Nabi Yakub menjawab perkataan anak-anaknya itu dan beliau berusaha menunjukkan alasan dan hakikat dari tangisannya. Beliau mengadukan persoalan-persoalannya kepada Allah s.w.t kerana Dia Maha Mengetahui terhadap banyak hal yang tidak mereka ketahui. Beliau meminta kepada mereka agar membiarkannya menangis dan menganjurkan mereka untuk melakukan hal lebih bermanfaat bagi mereka.

"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. " (QS. Yusuf: 87)

Di tengah-tengah kesedihannya yang dalam, beliau menyingkapkan harapannya akan rahmat Allah s.w.t. Beliau mengetahui melalui ilham yang didapatinya bahawa Yusuf tidak mati. Oleh kerana itu, hendaklah saudara-saudara Yusuf pergi mencarinya, dan hendaklah dalam mencarinya mereka benar-benar berharap kepada Allah s.w.t. Kafilah bergerak dan menuju ke Mesir. Saudara-saudara Yusuf berjalan menuju ke al-Aziz. Keadaan perekonomian mereka sedang merosot tajam dan begitu juga suasana kejiwaaan mereka, kefakiran mereka, kesedihan ayah mereka, dan penderitaan yang mengiringi mereka sangat meruntuhkan kekuatan mereka. Kini mereka menemui Yusuf dan mereka membawa harta benda yang sangat sederhana dan hina. Mereka datang dengan membawa sesuatu yang memiliki harga sangat minimum atau sedikit. Allah s.w.t berfirman:

"Maka ketika mereka masuk (ke tempat) Yusuf, mereka berkata: 'Hai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada arang-orang yang bersedekah." (QS. Yusuf: 88)

Akhirnya, mereka terpaksa meminta-minta. Mereka meminta kepada Yusuf agar sudi kiranya bersedekah untuk mereka dan menunjukkan belas kasihnya kepada mereka dengan mengingatkan bahawa Allah s.w.t akan membalas orang-orang yang bersedekah. Di tengah-tengah kehinaan mereka dan kemerosotan mereka, Yusuf berbicara dengan bahasa mereka tanpa perantara seorang penterjemah:

"Yusuf berkata: 'Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?' Mereka berkata: 'Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?' Yusuf menjawab: 'Akulah Yusuf dan ini saudaraku, sesungguhnya Allah telah melimpahkan kurnia-Nya kepada kami.' Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.' Mereka berkata:

'Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).'" (QS. Yusuf: 89-91)

Dialog tersebut menyentuh ungkapan-ungkapan yang sangat dalam yang ada pada jiwa mereka. Penguasa Mesir mengagetkan mereka dengan bertanya seputar apa yang telah mereka lakukan terhadap Yusuf. Nabi Yusuf berbicara dengan bahasa mereka sehingga mereka mengetahui bahawa ia benar-benar Yusuf. Kemudian dialog itu semakin berkembang sehingga terungkaplah kesalahan mereka di hadapannya. Mereka telah membuat tipu daya pada Yusuf tetapi Allah s.w.t memenangkan urusan- Nya. Setelah berlalu tahun demi tahun, maka tersingkaplah tipu daya mereka. Dan Allah s.w.t memenangkan rencana-Nya dengan cara yang sangat elegan. Masuknya Yusuf dalam perigi merupakan awal dari kebangkitan untuk menduduki kerusi istana dan kekuasaan, dan jauhnya beliau dari ayahnya justru menjadi sebab bertambahnya cinta Yakub kepadanya. Ini adalah tabir yang tersingkap di depan mereka.

Kali ini, Nabi Yusuf justru benar-benar menjadi tumpuan harapan mereka. Mereka menutup dialog mereka bersamanya dengan mengatakan: "Demi Allah, sesungguhnya Allah s.w.t telah melebihkan kamu atas kami, dan kami adalah orang-orang yang bersalah." Pengakuan mereka terhadap kesalahan yang mereka lakukan di sisi lain justru menyembunyikan kekhuatiran pada diri mereka. Mungkin mereka berfikir bahawa Yusuf akan melakukan balas dendam kepada mereka sehingga tubuh mereka tampak gementar. Melihat hal yang demikian itu, Yusuf menenangkan mereka dengan ucapannya:

"Dia (Yusuf) berkata: 'Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang. " (QS. Yusuf: 92)

Tidak ada balas dendam, tidak ada celaan, dan tidak ada kebencian. Yusuf tidak mengatakan bahawa aku akan memaafkan kalian atau aku mengampuni kalian, tetapi ia berdoa kepada Allah s.w.t agar Dia mengampuni mereka. Ini mengisyaratkan bahawa beliau mengampuni mereka. Nabi Yusuf berdoa kepada Allah s.w.t agar Dia mengampuni mereka dan tentu doa seorang nabi akan dikabulkan. Ini adalah sikap toleransi beliau yang sangat terpuji. Ini adalah contoh terbaik dari sikap toleran. Setelah itu, Nabi Yusuf mengalihkan pembicaraan kepada ayahnya. Beliau mengetahui bahawa mata ayahnya sudah memutih kerana saking sedihnya. Beliau mengetahui bahawa ayahnya tidak mampu lagi melihat. Beliau merasakan penderitaaan ayahnya sehingga beliau melepas bajunya dan memberikannya kepada mereka:

"Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkanlah ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku." (QS. Yusuf: 93)

Kafilah kembali ke Palestina. Akhirnya, peristiwa di Mesir berpindah ke tanah Palestina. Kita sekarang berada di rumah Nabi Yakub. Lelaki itu duduk di kamarnya dalam keadaan kedua matanya memutih. Tiba-tiba laki-laki itu bangkit dan tampaklah perubahan drastik pada wajahnya. Ia menggantikan pakaiannya dan keluar menemui isteri-isteri anak-anaknya. Ia berhenti di tengah-tengah rumah dan mengangkat kepalanya ke langit lalu menghirup udara dengan kuat. Dadanya dipenuhi dengan hembusan angin yang datang dari Mesir. kemudian ia kembali ke kamarnya. Salah seorang isteri anak yang paling besar berkata kepada isteri-isteri anak- anak yang lain: "Sungguh Yakub hari ini keluar dari kamarnya tidak seperti biasanya. Kami merasakan ada sesuatu yang lain. Yakub meninggalkan persembunyiannya dan berdiri di depan halaman rumah. Ia melihat ke langit padahal ia buta, dan bagaimana ia melihat ke langit? Aku tidak tahu. Tetapi aku bersumpah, aku telah melihat senyum yang menghiasi wajahnya."

Isteri-isteri dan anak laki-laki yang lain bertanya dalam keadaan kehairanan: "Kamu mengatakan bahawa ia memakai baju yang baru dan kamu mengatakan bahawa dia tersenyum?" Wanita-wanita itu segera menuju Nabi Yakub dan tampak senyuman masih menghiasi wajahnya. Apakah yang dilihat oleh wanita-wanita itu suatu imaginasi? Wanita- wanita itu bertanya kepadanya: "Apa yang kamu rasakan, wahai seorang yang mulia?" Lelaki tua itu menjawab: "Aku mencium bau Yusuf." Mendengar jawapan itu, para wanita menggerutu. Lalu Yakub menambahkan: "Sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal, tentu kamu membenarkan aku."

Isteri-isteri dan anak laki-laki itu meninggalkan Yakub dan kemudian terjadilah dialog-dialog lanjutan antara sesama mereka: "Lelaki tua itu tidak memiliki harapan. Tangisannya atas Yusuf akan menghancurkannya," kata sebahagian mereka. "Apakah ia berbicara tentang pakaiannya?" "Aku tidak tahu, ia hanya berkata bahawa ia mencium bau Yusuf," jawab yang lain. "Engkau mengatakan bahawa ia mengganti pakaiannya?," tanya sebahagian mereka. "Barangkali ia gila, hanya orang yang gila yang menceritakan sesuatu yang tidak ada," sambung yang lain. Pada hari itu Yakub meminta segelas susu. Ia berpuasa dan berbuka dengannya, lalu untuk pertama kalinya ia meminta makanan dan tidak menolaknya.

Datanglah waktu petang dan ia menggantikan pakaiannya dengan agak lambat. Kafilah berjalan dengan membawa pakaian Yusuf. Pakaian itu disembunyikan di bawah gandum. Pakaian itu bercampur dengan embun- embun kebun dan bau tanah yang baik dan minyak wangi Nabi Yusuf serta kehangatan matahari yang mematangkan gandum. Kafilah mulai mendekat ke desa lelaki tua itu. Lelaki itu berputar-putar di kamarnya. Ia tampak sibuk solat dan mengangkat kedua tangannya ke langit kemudian ia mulai mencium udara dan menangis. Ia membayangkan pakaian Yusuf yang sedang menuju padanya:

"Tatkala kafilah itu telah ke luar (dari negeri Mesir) berkata ayah mereka: 'Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku). Keluarganya berkata: 'Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.' Tatkala telah tiba pembawa khabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Yakub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Yakub: Tidakkah aku katakan kepadamu, bahawa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya.' Mereka berkata: 'Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).'" (QS. Yusuf: 94-97)

Inilah fasa terakhir dari kisah Nabi Yusuf di mana kisahnya dimulai dengan mimpi dan di episod terakhirnya menyebutkan takwil mimpinya:

"Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapaknya dan dia berkata: 'Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya-Allah dalam keadaan aman." Dan ia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgahsana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya bersujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: 'Wahai ayahku inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merosakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku.

Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. " (QS. Yusuf: 99-100)

Perhatikanlah apa yang dilakukannya saat mimpinya terwujud, beliau berdoa kepada Tuhannya:

"Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang soleh. " (QS. Yusuf: 101)

Itu hanya satu doa: "wafatkanlah aku sebagai seorang Muslim." Kita tidak ingin meninggalkan kisah Nabi Yusuf putera Nabi Yakub yang mulia sebelum kita memperhatikan poin penting di bawah ini:

Dalam kisah Nabi Ibrahim, cinta naluriah terhadap Ismail, anaknya, dicabut darinya, sehingga hatinya benar-benar dipenuhi dengan cinta yang murni untuk Allah s.w.t semata. Dan ketika persoalan tersebut terwujud, maka perintah untuk menyembelih anaknya dibatalkan dan kemudian datanglah tebusan dari Allah s.w.t. Dalam hal ini terdapat kesamaan dengan apa yang terjadi pada Nabi Yakub di mana Yakub sangat mencintai Yusuf kemudian ia diuji dengan hilangnya Yusuf, dan ketika hatinya murni untuk Allah s.w.t tanpa ada kecemburuan kepada Yusuf dan saudaranya, Allah mengembalikan kedua anaknya kepadanya.

Pengajaran yang didapati dari kisah Nabi Yusuf A.S.

Banyak ajaran dan kisah yang dapat dipetik dari Kisah Nabi Yusuf yang penuh dengan pengalaman hidup yang kontroversi itu. Di antaranya ialah :~ bahawasanya penderitaan seseorang yang nampaknya merupakan suatu musibah dan bencana, pada hakikatnya dalam banyak hal bahkan merupakan rahmat dan bar akah yang masih terselubung bagi penderitaannya. Kerana selalunya bahawa penderitaan yang di anggapkan itu suatu musibah adalah menjadi permulaan dari kebahagiaan dan menjadi kesejahteraan yang tidak diduga semula. Demikianlah apa yang telah dialami oleh Nabi Yusuf dengan pelemparan dirinya ke dalam sebuah perigi oleh saudara-saudaranya sendiri, disusuli dengan pemenjaraannya oleh para penguasa Mesir. Semuanya itu merupakan jalan yang harus ditempuh oleh beliau untuk mencapai puncak kebesaran dan kemuliaan sebagai nabi serta tingkat hidup yang mewah dan sejahtera sebagai seorang penguasa dalam sebuah kerajaan yang besar yang dengan kekuasaannya sebagai wakil raja, dapat menghimpunkan kembali seluruh anggota keluarganya setelah sekian lama berpisah dan bercerai-berai.

Maka seseorang mukmin yang percaya kepada takdir, tidak sepatutnya merasa kecewa dan berkecil hati bila tertimpa sesuatu musibah dalam harta kekayaannya, kesihatan jasmaninya atau keadaan keluarganya. Ia harus menerima percubaan Allah itu dengan penuh kesabaran dan tawakal seraya memohon kepada Yang Maha Kuasa agar melindunginya dan mengampuni segala dosanya, kalau-kalau musibah yang ditimpakan kepadanya itu merupakan peringatan dari Allah kepadanya untuk bertaubat.

Dan sebaliknya bila seseorang mukmin memperoleh nikmat dan kurnia Allah berupa perluasan rezeki, kesempurnaan kesihatan dan kesejahteraan keluarga, ia tidak sepatutnya memperlihatkan sukacita dan kegembiraan yang berlebih-lebihan. Ia bahkan harus bersyukur kepada Allah dengan melipat gandakan amal solehnya sambil menyedarkan diri bahawa apa yang diperolehnya itu kadang-kadang boleh tercabut kembali bila Allah menghendakinya. Lihatlah sebagaimana teladan Nabi Yusuf yang telah kehilangan iman dan tawakalnya kepada Allah sewaktu berada seorang diri di dalam perigi mahupun sewaktu merengkok di dalam penjara, demikian pula sewaktu dia berada dalam suasana kebesarannya sebagai Penguasa Kerajaan Mesir, ia tidak disilaukan oleh kenikmatan duniawinya dan kekuasaan besar yang berada di tangannya. Dalam kedua keadaan itu ia tidak melupakan harapan, syukur dan pujaan kepada Allah dan sedar bahawa dirinya sebagai makhluk yang lemah tidak berkuasa mempertahankan segala kenikmatan yang diperolehnya atau menghindarkan diri dari musibah dan penderitaan yang Allah limpahkan kepadanya. Ia mengembalikan semuanya itu kepada takdir dan kehendak Allah Yang Maha Kuasa.

Nabi Yusuf telah memberi contoh dan teladan bagi kemurnian jiwanya dan keteguhan hatinya tatkala menghadapi godaan Zulaikha, isteri ketua Polis Mesir, majikannya. Ia diajak berbuat maksiat oleh Zulaikha seorang isteri yang masih muda belia, cantik dan berpengaruh, sedang ia sendiri berada dalam puncak kemudaannya, di mana biasanya nafsu berahi seseorang masih berada di tingkat puncaknya. Akan tetapi ia dapat menguasai dirinya dan dapat mengawal nafsu kemudaannya, menolak ajak isteri yang menjadi majikannya itu, kerana ia takut kepada Allah dan tidak mahu mengkhianati majikannya yang telah berbuat budi kepadanya dirinya dan memperlakukannya seolah-olah anggota keluarganya sendiri. Sebagai akibat penolakannya itu ia rela dipenjarakan demi mempertahankan keluhuran budinya, keteguhan imannya dan kemurnian jiwanya.

Nabi Yusuf memberi contoh tentang sifat seorang kesatria yang enggan dikeluarkan dari penjara sebelum persoalannya dengan Zulaikha dijernihkan. Ia tidak mahu dikeluarkan dari penjara kerana memperoleh pengampunan dari Raja, tetapi ia ingin dikeluarkan sebagai orang yang bersih, suci dan tidak berdosa. Kerananya ia sebelum menerima undangan raja kepadanya untuk datang ke istana, ia menuntut agar diselidik lebih dahulu tuduhan-tuduhan palsu dan fitnah-memfitnah yang dilekatkan orang kepada dirinya dan dijadikannya alasan untuk memenjarakannya. Terpaksalah raja Mesir yang memerlukan Yusuf sebagai penasihatnya, memerintahkan penyusutan kembali peristiwa Yusuf dengan Zulaikha yang akhirnya dengan terungkapnya kejadian yang sebenar, di mana mereka bersalah dan memfitnah mengakui bahawa Yusuf adalah seorang yang bersih suci dan tidak berdosa dan bahawa apa yang dituduhkan kepadanya itu adalah palsu belaka.

Suatu sifat utama pembawaan jiwa besar Nabi Yusuf menonjol tatkala ia menerima saudara-saudaranya yang datang ke Mesir untuk memperolehi hak pembelian gandum dari gudang pemerintah kerajaan Mesir. Nabi Yusuf pada masa itu, kalau ia mahu ia dapat melakukan pembalasan terhadap saudara-saudaranya yang telah melemparkannya ke dalam sebuah perigi dan memisahkannya dari ayahnya yang sangat dicintai. Namun sebaliknya ia bahkan menerima mereka dengan ramah-tamah dan melayani keperluan mereka dengan penuh kasih sayang, seolah-olah tidak pernah terjadi apa yang telah dialami akibat tindakan saudara- saudaranya yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Demikianlah Nabi Yusuf dengan jiwa besarnya telah melupakan semua penderitaan pahit yang telah dialaminya akibat tindakan saudara-saudaranya itu dengan memberi pengampunan kepada mereka, padahal ia berada dalam keadaan yang memungkinkannya melakukan pembalasan yang setimpal. Dan pengampunan yang demikian itulah yang akan berkesan kepada orang yang diampuni dan yang telah dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam beberapa ayat Al-Quran dan beberapa hadis nabawi.
 
12- Nabi Ayub

Nabi Ayub as menggambarkan sosok manusia yang paling sabar, bahkan bisa dikatakan bahawa beliau berada di puncak kesabaran. Sering orang menisbatkan kesabaran kepada Nabi Ayub. Misalnya, dikatakan: seperti sabarnya Nabi Ayub. Jadi, Nabi Ayub menjadi simbol kesabaran dan cermin kesabaran atau teladan kesabaran pada setiap bahasa, pada setiap agama, dan pada setiap budaya. Allah s.w.t telah memujinya dalam kitab-Nya yang berbunyi:

"Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)." (QS. Shad: 44)

Yang di maksud al-Aubah ialah kembali kepada Allah s.w.t. Nabi Ayub adalah seseorang yang selalu kembali kepada Allah s.w.t dengan zikir, syukur, dan sabar. Kesabarannya menyebabkan beliau memperoleh keselamatan dan rahsia pujian Allah s.w.t padanya.

Al-Quran al-Karim tidak menyebutkan bentuk dari penyakitnya, dan banyak cerita-cerita dongeng yang mengemukakan tentang penyakitnya. Dikatakan bahawa beliau terkena penyakit kulit yang dahsyat sehingga manusia-manusia enggan untuk mendekatinya. Dalam cuplikan kitab Taurat disebutkan berkenaan dengan Nabi Ayub: "Maka keluarlah syaitan dari haribaan Tuhan dan kemudian Ayub terkena suatu luka yang sangat mengerikan dari ujung kakinya sampai kepalanya." Tentu kita menolak semua ini sebagai suatu hakikat yang nyata. Kami pun tidak mentolerir jika itu dianggap sebagai perbuatan seni semata. Perhatikanlah ungkapan dalam Taurat: "Kemudian syaitan keluar dari haribaan Tuhan kita," sebagai orang-orang Muslim, kita mengetahui bahawa syaitan telah keluar dari haribaan Tuhan sejak Allah s.w.t menciptakan Adam as. Maka, kapan syaitan kembali ke riba Tuhan? Kita berada di hadapan ungkapan seni, tetapi kita tidak berada di hadapan suatu hakikat.

Lalu, bagaimana hakikat sakitnya Nabi Ayub dan bagaimana kisahnya? Yang popular tentang cubaan Nabi Ayub dan kesabarannya adalah riwayat berikut: para malaikat di bumi berbicara sesama mereka tentang manusia dan sejauh mana ibadah mereka. Salah seorang di antara mereka berkata: "Tidak ada di muka bumi ini seorang yang lebih baik daripada Nabi Ayub. Beliau adalah orang mukmin yang paling sukses, orang mukmin yang paling agung keimanannya, yang paling banyak beribadah kepada Allah s.w.t dan bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya dan selalu berdakwah di jalan-Nya." syaitan mendengarkan apa yang dikatakan lalu ia merasa terganggu dengan hal itu. Kemudian ia pergi menuju ke Nabi Ayub dalam rangka berusaha menggodanya tetapi Nabi Ayub adalah seorang Nabi di mana hatinya dipenuhi dengan ketulusan dan cinta kepada Allah s.w.t sehingga syaitan tidak mungkin mendapatkan jalan untuk mengganggunya.

Ketika syaitan berputus asa dari mengganggu Nabi Ayub, ia berkata kepada Allah s.w.t: "Ya Rabbi, hamba-Mu Ayub sedang menyembah-Mu dan menyucikan-Mu namun, ia menyembah-Mu bukan kerana cinta, tapi ia menyembah-Mu kerana kepentingan-kepentingan tertentu. Ia menyembah-Mu sebagai balasan kepada-Mu kerana Engkau telah memberinya harta dan anak dan Engkau telah memberinya kekayaan dan kemuliaan. Sebenarnya ia ingin menjaga hartanya, kekayaannya, dan anak-anaknya. Seakan-akan berbagai nikmat yang Engkau kurniakan padanya adalah rahsia dalam ibadahnya. Ia takut kalau-kalau apa yang dimilikinya akan binasa dan hancur. Oleh kerana itu, ibadahnya dipenuhi dengan hasrat dan rasa takut. Jadi, di dalamnya bercampur antara rasa takut dan tamak, dan bukan ibadah yang murni kerana cinta."

Riwayat tersebut mengatakan bahawa Allah s.w.t berkata kepada iblis: "Sesungguhnya Ayub adalah hamba yang mukmin dan sejati imannya. Ayub menjadi teladan dalam keimanan dan kesabaran. Aku membolehkanmu untuk mengujinya dalam hartanya. Lakukan apa saja yang engkau inginkan, kemudian lihatlah hasil dari apa yang engkau lakukan."

Akhirnya, syaitan pergi dan mendatangi tanah Nabi Ayub dan berbagai tanaman dan kenikmatan yang dimilikinya. Kemudian syaitan itu menghancurkan semuanya. Keadaan Nabi Ayub pun berubah dari puncak kekayaan ke puncak kefakiran. Kemudian syaitan menunggu apa tindakan Nabi Ayub. Nabi Ayub berkata: "Oh musibah dari Allah s.w.t. Aku harus mengembalikan kepada-Nya amanat yang ada di sisi kami di mana Dia saat ini mengambilnya. Allah s.w.t telah memberi kami nikmat selama beberapa masa. Maka segala puji bagi Allah s.w.t atas segala nikmat yang diberikannya, dan Dia mengambil dari kami pada hari ini nikmat-nikmat itu. Bagi-Nya pujian sebagai Pemberi dan Pengambil. Aku dalam keadaan redha dengan keputusan Allah s.w.t. Dia-lah yang mendatangkan manfaat dan mudarat. Dia-lah yang redha dan Dialah yang murka. Dia adalah Penguasa. Dia memberikan kerajaan kepada siapa yang di kehendaki-Nya, dan mencabut kerajaan dari siapa yang dikehendaki-Nya; Dia memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya dan menghinakan siapa yang dikehendaki- Nya." Kemudian Nabi Ayub sujud dan Iblis tampak tercengang melihat pemandangan tersebut.

Lalu syaitan kembali kepada Allah s.w.t dan berkata: "Ya Allah, jika Ayub tidak menerima nikmat kecuali dengan mengatakan pujian, dan tidak mendapatkan musibah kecuali mendapatkan kesabaran maka hal itu sebagai bentuk usahanya kerana ia mendapatkan anak. Ia mengharapkan dengan melalui mereka kekayaannya meningkat dan melalui mereka ia dapat menjalani kehidupan yang lebih mudah." Riwayat mengatakan bahawa Allah s.w.t membolehkan bagi syaitan untuk berbuat apa saja kepada anak-anak Ayub. Kemudian syaitan menggoncangkan rumah yang di situ anak-anaknya tinggal sehingga mereka semua terbunuh. Dalam keadaan demikian, Nabi Ayub berdialog kepada Tuhannya dan menyeru: "Allah memberi dan Allah mengambil. Maka bagi-Nya pujian saat Dia memberi dan mengambil, saat Dia murka dan redha, saat Dia mendatangkan manfaat dan mudarat. Kemudian Ayub pun sujud dan iblis lagi-lagi tampak tercengang dan merasa malu."

Iblis kembali menemui Allah s.w.t dan mengatakan bahawa Ayub dapat bersabar kerana badannya sehat. Seandainya Engkau memberi kekuasaan kepadaku, ya Rabbi, untuk mengganggu badannya nescaya dia akan berhenti dari kesabarannya. Riwayat mengatakan bahawa Allah s.w.t menginzinkan syaitan untuk mengganggu tubuh Ayub. Dikatakan bahawa syaitan memukul tubuh Nabi Ayub dari kepalanya sampai kakinya sehingga Nabi Ayub sakit kulit di mana tubuhnya membusuk dan mengeluarkan nanah, bahkan keluarganya dan sahabat-sahabatnya meninggalkannya kecuali isterinya. Namun lagi-lagi Nabi Ayub tetap bersabar dan bersyukur kepada Allah s.w.t. Beliau memuji-Nya pada hari- hari kesehatannya dan ia tetap memuji Allah s.w.t saat mendapatkan ujian sakit. Dalam dua keadaan itu, Nabi Ayub tetap bersabar dan bersyukur kepada Allah s.w.t.

Melihat pemandangan itu, amarah syaitan semakin meningkat namun ia tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya. Di sini syaitan mengumpulkan para penasihatnya dari pakar-pakar dan ia menceritakan tentang kisah Ayub dan meminta mereka mengeluarkan pendapat—setelah ia menyampaikan rasa putus asanya saat menggodanya atau mencuba menghilangkan sifat sabarnya dan syukurnya.

Salah seorang syaitan berkata: "Sungguh engkau telah mengeluarkan Adam bapak manusia dari syurga, lalu dari mana engkau mendatanginya? Oh, yang engkau maksud adalah Hawa?" Terbukalah di hadapan Iblis suatu ide yang baru. Lalu ia pergi ke isteri Ayub dan memenuhi hatinya dengan rasa putus asa sehingga ia pergi ke Ayub dan berkata padanya: "Sampai kapan Allah s.w.t menyiksamu? Di mana harta, keluarga, teman dan kaum kerabat? Di mana masa jayamu dan kemuliaanmu dahulu?"

Mendengar perkataan isterinya itu, Nabi Ayub menjawab: "Sungguh engkau telah dikuasai oleh syaitan. Mengapa engkau menangisi kemuliaan yang telah berlalu dan anak yang telah mati?" Perempuan itu berkata: "Mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah agar Dia menghilangkan cubaan darimu dan menyembuhkanmu serta menghilangkan kesedihannmu?" Nabi Ayub berkata: "Berapa lama kita merasakan kebahagiaan?" Isterinya menjawab: "Delapan tahun." Ayub berkata: "Berapa lama kita mendapat penderitaan?" Isterinya menjawab: "Tujuh tahun." Ayub berkata: "Aku malu jika aku meminta agar Allah s.w.t melepaskan penderitaanku ketika aku melihat masa kebahagiaanku. Sungguh imanmu tampak melemah dan keputusan Allah s.w.t membuat hatimu menjadi sempit. Seandainya aku sembuh dan kembali kepada kekuatanku, nescaya aku akan memukulmu dengan seratus kali pukulan dari tongkat. Sejak hari ini, aku tidak memakan dari makananmu dan dari minumanmu atau memerintahkanmu untuk melakukan suatu urusan. Maka pergilah kau dariku."

Akhirnya, isteri Nabi Ayub pergi sehingga Nabi Ayub tinggal sendirian dalam keadaan sabar menanggung penderitaannya. Penderitaan yang seandainya ditimpakan kepada gunung nescaya gunung tidak akan mampu menahannya. Kemudian Nabi Ayub berdoa kepada Allah s.w.t dalam keadaan penuh kasih sayang dan meminta belas kasih kepada-Nya. Beliau berdoa agar Allah s.w.t menyembuhkannya. Dan akhirnya, doanya dikabulkan oleh Allah s.w.t. Demikianlah riwayat yang popular berkenaan dengan penderitaan Nabi Ayub dan kesabarannya.

Menurut hemat kami riwayat ini palsu kerana ia sesuai dengan teks Taurat yang menjelaskan sakitnya Nabi Ayub. Begitu juga kami tidak menerima jika dikatakan bahawa penyakitnya sangat buruk sekali yang menyebabkan masyarakat lari darinya sebagaimana dikatakan oleh dongeng-dongeng kuno. Bagi kami, riwayat semacam itu bertentangan dengan kedudukan kenabian. Yang perlu kita perhatikan dan perlu kita pastikan adalah apa-apa yang telah disampaikan oleh Al-Quran berkenaan dengan cerita Nabi Ayub. Al-Quran adalah kitab satu-satunya yang pasti benar yang tiada kebatilan di depan dan di belakangnya.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan (ingatlah kisah) Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: ('Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.' Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalian keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS. al-Anbiya': 83-84)

Kita telah memahami bahawa Nabi Ayub adalah hamba yang soleh dari hamba-hamba Allah s.w.t. Allah s.w.t menginginkan untuk mengujinya dalam hartanya, keluarganya, dan badannya. Hartanya hilang sehingga ia menjadi orang fakir setelah sebelumnya ia termasuk orang yang paling kaya. Kemudian ia ditinggalkan oleh isterinya dan keluarganya sehingga ia merasakan erti kesunyian dan kesendirian lalu ia ditimpa penyakit dalam tubuhnya dan ia merasa menderita kerananya, tetapi beliau tetap sabar menghadapi semua itu dan tetap bersyukur kepada Allah s.w.t.

Sakit yang dideritanya cukup lama sehingga beliau menghabiskan waktu- waktu dan hari-harinya dalam keadaan sendirian bersama penyakitnya, rasa sedihnya, dan kesendiriannya. Demikianlah Nabi Ayub merasakan segi tiga penderitaan. Segi tiga penderitaan dalam hidupnya, yaitu sakit, kesedihan, dan kesendirian. Di saat beliau mendapat cubaan seperti itu, pada suatu hari datang pada beliau salah satu pemikiran syaitan. Fikiran itu berputar-putar di relung hatinya; fikiran itu mengatakan padanya, wahai Ayub penyakit ini dan penderitaan yang engkau rasakan oleh kerana godaan dariku. Seandainya engkau berhenti sabar dalam satu hari saja nescaya penyakitmu akan hilang darimu. Kemudian manusia-manusia berbisik-bisik dan berkata: Seandainya Allah s.w.t mencintainya nescaya ia tidak akan merasakan penderitaan yang begitu hebat. Demikianlah pemikiran yang jahat itu. syaitan tidak mampu untuk mengganggu seseorang kecuali dengan izin Allah s.w.t sebagaimana Allah s.w.t tidak menjadikan cinta-Nya kepada manusia identik dengan kesihatan mereka. Sesungguhnya Allah s.w.t menguji mereka sebagaimana yang dikehendaki-Nya.

Fikiran syaitan itu berputar di sekitar hati Nabi Ayub seperti berputarnya lalat di musim panas di sekitar kepala manusia, namun beliau mampu menghilangkan fikiran ini dan sambil tersenyum kepada dirinya beliau berkata: "Keluarlah hai syaitan! Sungguh aku tidak akan berhenti bersabar, bersyukur, dan beribadah." Akhirnya, fikiran jahat itu dengan rasa putus asa keluar dari akal Nabi Ayub. Nabi Ayub duduk dalam keadaan marah kerana syaitan berani untuk mengganggunya. Beliau membayangkan bahawa boleh jadi syaitan berani menggodanya dengan memanfaatkan kesendiriannya, penderitaannya, dan penyakitnya.

Isteri Nabi Ayub datang dalam keadaan terlambat dan mendapati Nabi Ayub dalam keadaan marah. Isterinya itu menutupi kepalanya dengan suatu kain tertutup. Isteri Nabi Ayub menghadirkan atau menghidangkan makanan yang baik untuknya. Nabi Ayub bertanya padanya: "Dari mana engkau mendapati wang?" Nabi Ayub telah bersumpah akan memukulnya seratus kali pukulan dengan tongkat ketika beliau sembuh, tetapi kesabarannya sungguh sangat luas seperti sungai yang besar. Dan di waktu sore, setelah mengetahui kehalalan makanan yang dihidangkan, beliau pun memakannya. Kemudian Nabi Ayub keluar menuju ke gunung dan berdoa kepada Tuhannya.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: 'Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan seksaan' (Allah berfirman): 'Hentamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami mendapati dia (Ayuh) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (kepada Tuhannya)." (QS. Shad: 41-44)

Bagaimana kita memahami perkataan Nabi Ayub, "Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan seksaan."? Nabi Ayub ingin mengadukan kepada Tuhannya perihal keberanian syaitan padanya di mana syaitan membayangkan bahawa ia dapat mengganggunya. Nabi Ayub tidak percaya bahawa sakit yang dideritanya adalah datang kerana pengaruh syaitan.

Demikianlah pemahaman yang sesuai dengan kemaksuman para nabi dan kesempurnaan mereka. Allah s.w.t memerintahkan beliau untuk mandi di salah satu mata air di gunung. Allah s.w.t memerintahkannya agar beliau minum dari mata air ini. Kemudian Nabi Ayub melaksanakan perintah ini dan mandi serta minum. Belum lama beliau minum pada tegukan yang terakhir sehingga beliau merasakan sehat dan sembuh sepenuhnya dari penyakitnya. Kemudian suhu panas dalam tubuhnya pun kembali normal seperti biasanya. Allah s.w.t memberikan kepada Ayub dan keluarganya dan orang-orang yang seperti mereka suatu rahmat dari sisi-Nya sehingga Nabi Ayub tidak kembali sendirian. Allah s.w.t memberinya berlipat-lipat kekayaan dan kemuliaan dari sisi-Nya sehingga Ayub tidak menjadi fakir.

Nabi Ayub kembali mendapatkan kesehatannya setelah lama merasakan penderitaan dan sakit; Nabi Ayub bersyukur kepada Allah s.w.t. Beliau telah bersumpah untuk memukul Isterinya sebanyak seratus pukulan dengan tongkat ketika beliau sembuh. Sekarang beliau sembuh maka Allah s.w.t mengetahui bahawa beliau tidak bermaksud untuk memukul Isterinya. Namun agar beliau tidak sampai melanggar janjinya dan sumpahnya, Allah s.w.t memerintahkannya agar segera mengumpulkan seikat ranting dari bunga Raihan yang berjumlah seratus dan hendaklah beliau memukulkan itu kepada isterinya dengan sekali pukulan. Dengan demikian, beliau telah memenuhi sumpahnya dan tidak berbohong. Allah s.w.t membalas kesabaran Ayub dan memujinya dalam Al-Quran sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)." (QS. Shad: 44)
 
13. Nabi Syuib

Kaum Madyam, kaumnya Nabi Syu'ib, adalah segolongan bangsa Arab yang tinggal di sebuah daerah bernama "Ma'an" di pinggir negeri Syam. Mereka terdiri dari orang-orang kafir tidak mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Mereka menyembah kepada "Aikah" iaitu sebidang padang pasir yang ditumbuhi beberapa pohon dan tanam-tanaman. Cara hidup dan istiadat mereka sudah sangat jauh dari ajaran agama dan pengajaran nabi-nabi sebelum Nabi Syu’ib a.s.

Banyak orang di zaman kita beranggapan bahawa agama hanya merupakan program-program yang kosong dan nilai-nilai akhlak semata. Ini adalah keyakinan klasik dan salah. Pada hakikatnya, agama adalah sistem dalam kehidupan dan pergaulan. Intinya ialah hubungan dengan Allah s.w.t. Oleh kerana itu, usaha memisahkan antara masalah-masalah tauhid dan perilaku manusia dalam kehidupan mereka sehari-hari bererti memisahkan agama dari kehidupan dan mengubahnya menjadi adat- istiadat, tradisi-tradisi, dan acara-acara ritual yang hampa. Kisah Nabi Syu’ib menampakkan hal yang demikian secara jelas.

Allah s.w.t mengutus Syu’ib pada penduduk Madyan:

"Dan kepada (penduduk) Madyan (kami utus) saudara mereka, Syu 'ib. Ia berkata: 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia.'" (QS. Hud: 84)

Ini adalah dakwah yang sama yang diserukan oleh setiap nabi. Dalam hal ini tidak ada perbezaan antara satu nabi dan nabi yang lain. Ia merupakan dasar akidah dan tanpa dasar ini mustahil suatu bangunan akan berdiri. Setelah peletakan bangunan tersebut, Syu’ib mulai menyuarakan dakwahnya:

"Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)." (QS. Hud: 84)

Setelah menjelaskan masalah tauhid secara langsung, Nabi Syu’ib berpindah pada masalah muamalah sehari-hari yang berkenaan dengan kejujuran dan keadilan. Adalah hal yang terkenal pada penduduk Madyan bahawa mereka mengurangi timbangan dan mereka tidak memberikan hak-hak manusia. Ini adalah suatu kehinaan yang menyentuh kesucian hati dan tangan sebagaimana menyentuh kesempurnaan harga diri dan kemuliaan.

Para penduduk Madyan beranggapan bahawa mengurangi timbangan adalah salah satu bentuk kelihaian dan kepandaian dalam jual-beli serta bentuk kelicikan dalam mengambil dan membeli. Kemudian nabi mereka datang dan mengingatkan bahawa hal tersebut merupakan hal yang hina dan termasuk pencurian. Nabi Syu’ib memberitahukan kepada mereka bahawa beliau khawatir jika mereka meneruskan perbuatan keji itu nescaya akan turun kepada mereka azab di mana manusia tidak akan dapat menghindar dari seksaan itu. Perhatikanlah bagaimana campur tangan Islam melalui Nabi Syu’ib yang diutus kepada manusia di mana ia memperhatikan persoalan jual-beli dan mengawasinya:

"Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerosakan." (QS. Hud: 85)

Nabi Syu’ib meneruskan misi dakwahnya. Beliau mengulang-ulangi nasihatnya kepada mereka dengan cara yang baik dan mengajak ke jalan yang baik, tidak ke jalan yang buruk; beliau menghimbau kepada mereka untuk menegakkan timbangan dengan keadilan dan kebenaran dan mengingatkan mereka agar jangan merampas hak-hak orang lain. Merampas hak-hak orang lain itu tidak terbatas pada jual-beli saja, namun juga berhubungan dengan perbuatan-perbuatan lainnya; beliau memerintahkan mereka untuk menegakkan timbangan keadilan dan kejujuran. Demikianlah seruan dari agama tauhid dan akidah tauhid di mana ia selalu menyuarakan kejujuran dan keadilan.

Agama selalu memerintahkan manusia untuk menjalin kerjasama sesama mereka dalam kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang bijaksana dan baik, baik menyangkut hubungan kerja, hubungan peribadi mahupun hubungan lainnya. Al-Quran al-Karim mengatakan: "Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka. "Dan kata as-Syai' (sesuatu) dalam ayat tersebut diucapkan kepada hal-hal yang bersifat materi dan yang bersifat non-materi (rohani) di mana masuk dalam kategori itu perbuatan-perbuatan dan hubungan-hubungan yang menghasilkan. Al-Quran melarang segala bentuk kezaliman, baik kezaliman berkenaan dengan menimbang buah-buahan atau sayur- sayuran mahupun kezaliman dalam bentuk tidak memberikan penghargaan terhadap usaha manusia dan pekerjaan mereka. Sebab, kelaliman terhadap manusia akan menciptakan suasana ketidakharmonisan yang berakibat pada timbulnya penderitaan, sikap putus asa, dan sikap tidak peduli, sehingga pada akhirnya hubungan sesama manusia berjalan tidak harmonis dan menimbulkan kegoncangan dalam kehidupan. Oleh kerana itu, Al-Quran mengingatkan agar jangan sampai ada manusia yang berbuat kerosakan di muka bumi:

"Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerosakan. Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu." (QS. Hud: 85-86)

Yang di maksud al-'Atsu ialah sengaja membuat kerosakan dan bertujuan untuk membuat kerosakan. Janganlah kalian membuat kerosakan di muka bumi; janganlah kalian sengaja untuk menciptakan keonaran di muka bumi. Apa yang ada di sisi Allah s.w.t adalah hal yang terbaik buat kalian jika kalian benar-benar beriman. Kemudian Nabi Syu’ib memberitahu kepada mereka bahawa ia tidak memiliki sesuatu kepada mereka; ia tidak dapat menguasai mereka tidak juga ia selalu mengawasi mereka. Beliau hanya sekadar seorang rasul atau utusan untuk menyampaikan ajaran Tuhannya:

"Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu. " (QS. Hud: 86)

Dengan cara yang demikian, Nabi Syu’ib menjelaskan kaumnya bahawa masalah yang mereka hadapi saat ini sangat penting dan sangat serius, bahkan sangat berat. Beliau memberitahu mereka akibat yang bakal mereka terima jika mereka membuat kerosakan. Selesailah bahagian pertama dari dialog Nabi Syu’ib bersama kaumnya. Nabi Syu’ib telah mengawali pembicaraan dan kaumnya mendengarkan. Kemudian beliau berhenti dari pembicaraannya dan sekarang kaum membuka pembicaraan:

"Mereka berkata: 'Hai Syu’ib, apakah agamamu yang menyuruh agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang dan berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal " (QS. Hud: 87)

Para penduduk Madyan yang kafir mereka biasa merampok dan menyembah al-Aikah, yaitu pohon dari al-Aik yang dikelilingi oleh dahan- dahan yang berputar di sekelilingnya. Mereka termasuk orang-orang yang menjalin hubungan sesama manusia dengan cara-cara yang sangat keji. Mereka suka mengurangi timbangan; mereka mengambil yang lebih darinya dan tidak menghiraukan kekurangannya. Perhatikanlah semua itu dalam dialog mereka bersama Syu’ib. Mereka berkata, "wahai Syu’ib apakah agamamu yang memerintahkanmu...?" Seakan-akan agama ini mendorong Syu’ib dan membisikinya serta memerintahnya sehingga ia mentaati tanpa pertimbangan dan pemikiran. Sungguh Syu’ib telah berubah dengan agamanya itu menjadi alat yang bergerak dan alat yang tidak sedar. Demikianlah celaan dan tuduhan keji yang dialamatkan oleh kaum Nabi Syu’ib kepadanya. Agama Syu’ib telah membuatnya gila dan membuatnya nekad untuk memerintahkan mereka meninggalkan apa yang selama ini mereka sembah dan disembah oleh kakek-kakek mereka. Kakek-kakek mereka telah menyembah tumbuh-tumbuhan dan pohon- pohonan sementara agama Syu’ib memerintahkan mereka untuk hanya menyembah Allah s.w.t. Kenekatan model apa dari Syu’ib ini?

Dengan ejekan dan penghinaan ini, Nabi Syu’ib menghadapi dialog yang terjadi dengan mereka. Kemudian mereka kembali bertanya-tanya dengan penuh keheranan dan dengan nada mengejek: "Apakah agamamu yang menyuruh agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak- bapak kami." Tidakkah engkau sedar wahai Syu’ib bahawa agamamu ingin mencampuri keinginan kita dan cara kita menggunakan harta kita? Apakah hubungan keimanan dan salat dengan muamalah materi?

Dengan pertanyaan ini, kaum Nabi Syu’ib mengira bahawa mereka mencapai suatu tingkat kecerdasan. Mereka mengemukakan di hadapannya masalah keimanan, dan mereka mengingkari adanya keterkaitan antara perilaku manusia dan muamalah mereka serta perekonomian mereka. Ini adalah masalah yang klasik; ini adalah usaha untuk memisahkan antara ekonomi dan Islam di mana setiap nabi justru di utus untuknya meskipun nama-nama mereka berbeza-beza; ini adalah masalah kuno yang diungkap oleh kaum Nabi Syu’ib di mana mereka mengingkari bahawa agama turut campur dalam kehidupan sehari-hari mereka, perekonomian mereka dan cara mereka menggunakan harta mereka. Mereka menganggap bahawa menginfakkan harta atau menggunakannya atau menghambur-hamburkannya adalah suatu yang tidak berhubungan dengan agama. Hal itu menyangkut kebebasan peribadi manusia. Bukankah itu hartanya yang khusus lalu mengapa agama turut campur di dalamnya?

Demikianlah pemahaman kaum Nabi Syu’ib kepada Islam yang dibawa oleh Nabi Syu’ib. Kami kira pemahaman demikian sedikit atau banyak tidak berbeza dengan pemahaman banyak masyarakat di zaman kita sekarang mereka menganggap bahawasanya Islam tidak memiliki kaitan dengan kehidupan peribadi manusia dan kehidupan perekonomian mereka. Oleh kerana itu, manusia dapat menggunakan harta mereka sesuai dengan kemahuan mereka: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal."

Mereka ingin mengatakan kepada Nabi Syu’ib, seandainya engkau seorang yang bijaksana dan memiliki pemikiran yang matang nescaya engkau tidak akan mengatakan apa yang telah engkau katakan. Mereka kembali mengejek Nabi Syu’ib dan merendahkan dakwahnya. Seandainya Anda bertanya kepada kaum Nabi Syu’ib tentang pemahaman agama mereka maka mereka pasti mengingkari bahawa agama adalah sebagai sistem dalam kehidupan yang menjadikan hidup lebih mulia, lebih suci, lebih adil dan lebih pantas manusia untuk menjabat sebagai khalifatullah di muka bumi; seandainya Anda bertanya kepada mereka tentang agama nescaya mereka memberitahumu bahawa ia hanya berupa kumpulan nilai-nilai rohani yang baik yang tidak mewarnai kehidupan sehari-hari. Dengan pemahaman seperti ini, agama hanya sekadar hiasan. Ini adalah pemahaman yang menggelikan kerana Allah s.w.t mengutus para nabi dan ajaran-ajaran yang mereka bawa bukan untuk perhiasan dan main- mainan.

Maha Suci Allah s.w.t dari semua itu. Allah s.w.t mengutus para nabi-Nya dengan membawa sistem baru dalam kehidupan, yaitu sistem yang mencakup nilai-nilai dan pemikiran-pemikiran yang itu semua tidak akan bermakna jika tidak berubah menjadi suatu sistem dalam kehidupan secara umum dan mengatur kehidupan secara khusus. Dengan pemahaman seperti inilah agama menjadi mulai dan agama menjadi benar adanya. Dan dengan asumsi seperti ini, kita memahami seberapa jauh campur tangan agama dalam persoalan-persoalan kehidupan sehari- hari: dimulai dari hubungan-hubungan cinta sampai undang-undang perkahwinan, bahkan cara mengambil keputusan hidup sampai sistem dalam menginfakkan wang dan menggunakannya, juga sistem dalam cara menggunakan dan mengagihkan kekayaan dan sebagainya. Jika manusia memahami agama seperti ini maka jadilah agama sesuatu kebenaran. Dan kalau tidak, agama laksana puing-puing saja.

Nabi Syu’ib mengetahui bahawa kaumnya mengejeknya kerana mereka menganggap agama tidak turut campur dalam kehidupan sehari-hari. Namun, beliau menghadapi semua itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang kerana beliau yakin apa yang beliau bawa adalah kebenaran. Beliau tidak peduli dengan ejekan mereka dan tidak tersinggung dengannya dan tidak mempersoalkan hal itu; beliau memberi pengertian kepada mereka bahawa beliau berada di atas kebenaran dari Tuhannya; beliau adalah seorang nabi yang mengetahui kebenaran; beliau tidak melarang mereka untuk meninggalkan sesuatu yang di balik larangan itu mendatangkan keuntungan peribadi buatnya; beliau tidak ingin menasihati mereka dalam kejujuran agar pasar menjadi sepi dan kerananya beliau mengambil manfaat; beliau hanya sekadar seorang nabi di mana dakwah setiap nabi tergambar dalam ungkapan yang singkat:

"Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. " (QS. Hud: 88)

Yang beliau inginkan hanya al-Islah (usaha membuat perbaikan). Demikianlah kandungan dan inti dakwah para nabi yang sebenarnya. Mereka adalah al-Muslihun, yaitu orang-orang yang membuat perbaikan; mereka memperbaiki akal, memperbaiki hati dan memperbaiki kehidupan yang umum dan kehidupan yang khusus:

"Syu’ib berkata: 'Hai kaumku, bagaimana fikiranku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah
aku kembali.'" (QS. Hud: 88)

Setelah Nabi Syu’ib menjelaskan tujuan-tujuannya kepada mereka dan menyingkapkan kebenaran dakwahnya, beliau mulai mengotak-atik akal- akal mereka; beliau mengungkapkan kepada mereka bagaimana pergelutan orang-orang sebelum mereka dengan para nabi sebelumnya, yaitu kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Hud, kaum Nabi Saleh, dan kaum Nabi Luth yang masa mereka tidak jauh dengan masa Nabi Syu’ib. Beliau mulai berdialog dengan mereka dan mengingatkan mereka bahawa sikap penentangan mereka justru akan mendatangkan seksaan bagi mereka. Nabi Syu’ib mengingatkan mereka bagaimana nasib orang-orang yang mendustakan kebenaran:

"Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Saleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun dari Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada- Nya,sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. " (QS. Hud: 89-90)

Usai Nabi Syu’ib berdakwah kepada Allah s.w.t dan menjelaskan al-ishlah (usaha memperbaiki masyarakat) dan mengingatkan mereka bahaya penentangan serta menakut-nakuti mereka dengan menceritakan kembali seksaan yang diterima orang-orang yang berbohong sebelum mereka. Meskipun demikian, Nabi Syu’ib tetap membukakan pintu pengampunan dan pintu taubat bagi mereka. Beliau menunjukkan kepada mereka kasih sayang Tuhannya Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Namun kaum Nabi Syu’ib memilih azab. Kekerasan hati mereka dan keinginan mereka untuk mendapatkan harta yang haram serta rasa puas dengan sistem yang mengatur mereka, semua itu menyebabkan mereka menolak kebenaran:

"Mereka berkata: 'Hai Syu’ib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu.'" (QS. Hud: 91)

Kami tidak memahamimu. Engkau adalah seorang yang mengacau; engkau mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti:

"Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami." (QS. Hud: 91)

Beliau dikatakan sebagai orang yang lemah kerana orang-orang fakir dan orang-orang yang menderita adalah orang-orang yang beriman padanya, sedangkan orang-orang kaya dan para pembesar telah menentang mereka. Demikianlah pertimbangan umumnya manusia yang tidak memiliki kekuatan cukup untuk menghadapi kebenaran dakwah Nabi Syu’ib di mana beliau dianggap sebagai orang yang lemah:

"Kalau tidaklah kerana keluargamu tentulah kami akan merejammu."(QS. Hud: 91)

Seandainya kalau bukan kerana keluargamu dan kaummu dan orang-orang yang mengikutimu nescaya kami akan menggali suatu lubang dan kami akan bunuh kamu di lubang itu dengan cara melempari kamu dengan batu:

"Sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami." (QS. Hud: 92)

Kaum Nabi Syu’ib berpindah dari cara mengejek pada cara menyerang. Nabi Syu’ib telah menyampaikan bukti kepada mereka setelah mereka mengejeknya, lalu mereka mengubah cara mereka berdialog. Mereka memberitahunya bahawa mereka tidak memahami apa yang beliau katakan dan mereka melihat bahawa Nabi Syu’ib sebagai orang yang lemah dan hina. Dan seandainya kalau bukan kerana mereka takut (kasihan)
kepada keluarganya nescaya mereka akan membunuhnya. Mereka menampakkan kebencian kepada Nabi Syu’ib dan ingin sekali untuk membunuhnya kalau bukan kerana alasan-alasan yang berhubungan dengan keluarganya. Menghadapi ancaman itu, Nabi Syu’ib tetap menunjukkan sikap lembutnya lalu beliau bertanya kepada mereka dengan maksud untuk menggugah ke sekian kalinya akal mereka:

"Syu’ib menjawab: 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah. " (QS. Hud: 92)

Apakah cukup rasional jika mereka membayangkan hal tersebut? Mereka melupakan hakikat kekuatan yang mengatur alam. Sesungguhnya hanya Allah s.w.t Yang Maha Mulia dan Maha Kuat. Seharusnya mereka mengingat hal itu; seharusnya seseorang tidak takut kepada apapun selain Allah s.w.t dan tidak membandingkan kekuatan di alam wujud ini dengan kekuatan Allah s.w.t. Hanya Allah s.w.t Yang Kuat dan hanya Dia yang mengatur hamba-hamba-Nya.

Tampak bahawa kaum Nabi Syu’ib mulai kesal dan semakin kesal dengannya, lalu berkumpullah para pembesar kaumnya:

"Pemuka-pemuka dari kaum Syu'ib yang menyombongkan diri berkata: 'Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’ib dan dengan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami.'" (QS. al-A'raf: 88)

Mereka menggunakan tahap baru dengan cara mengancam Nabi Syu’ib; mereka mengancamnya untuk membunuh dan mengusir dari desa mereka; mereka memberi pilihan kepada Nabi Syu’ib antara terusir dan kembali kepada agama mereka yang menyembah pohon-pohon dan benda-benda mati. Nabi Syu’ib memberitahu kepada mereka bahawa masalah kembalinya ia ke agama mereka adalah masalah yang tidak berhubungan dengan masalah-masalah yang disebutkan dalam perjanjian. Sungguh Allah s.w.t telah menyelamatkan beliau dari agama mereka lalu bagaimana beliau kembali lagi padanya? Beliau yang mengajak mereka pada agama tauhid lalu bagaimana beliau mengajak mereka untuk kembali pada kesyirikan dan kekufuran? Beliau mengajak mereka dengan cara yang lembut dan kasih sayang sementara mereka
mengancamnya dengan kekuatan.

Demikianlah pertentangan antara Nabi Syu’ib dan kaumnya semakin berlanjutan. Nabi Syu’ib memegang amanat dakwah untuk menghadapi para pembesar, para pendusta, dan para penguasa kaumnya. Akhirnya, Nabi Syu’ib mulai mengetahui bahawa mereka tidak lagi memiliki harapan kerana mereka telah berpaling dari Allah s.w.t:

"Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya pengetahuan Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan. Dan (dia berkata): 'Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan). Sesungguhnya aku pun menunggu bersama kamu." (QS. Hud: 92-93)

Nabi Syu’ib berlepas diri dari mereka. Mereka telah berpaling dari agama Allah s.w.t bahkan telah mendustakan nabi-Nya dan menuduhnya bahawa ia tersihir dan seorang pembohong. Maka, setiap orang hendaklah melakukan apa saja yang diinginkannya dan hendaklah mereka menunggu azab Allah s.w.t. Kemudian pergelutan antara Nabi Syu’ib dan kaumnya berakhir adanya fasa baru. Mereka meminta kepada Nabi Syu’ib untuk mendatangkan azab dari langit jika beliau termasuk orang-orang yang benar. Dengan nada mencabar dan menentang, mereka berkata: "di mana azab itu, di mana seksaan yang dijanjikan itu? Mengapa terlambat datang?"

Mereka mengejek Nabi Syu’ib dan beliau dengan tenang menunggu datangnya azab Allah s.w.t. Allah s.w.t mewahyukan kepada beliau agar keluar bersama orang-orang mukmin dari desa tersebut. Akhirnya, Nabi Syu’ib keluar bersama para pengikutnya dan datanglah azab Allah s.w.t:

"Dan tatkala datang azab Kami. Kami selamatkan Syu’ib dan orang- orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari kami, dan orang-orang lalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaan bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (QS. Hud: 94-95)

Ia adalah teriakan sekali saja satu suara yang datang kepada mereka dari celah-celah awan yang menyelimuti. Mula-mula mereka barangkali bergembira kerana membayangkan itu akan membawa hujan tetapi mereka dikejutkan ketika datang kepada mereka seksaan yang besar pada hari yang besar.

Selesailah masalah ini. Mereka menyedari bahawa teriakan itu membawa bencana buat mereka; teriakan itu menghanguskan setiap makhluk yang ada di dalam negeri itu. Mereka tidak mampu bergerak dan tidak mampu menyembunyikan diri dan tidak pula mereka dapat menyelamatkan diri mereka.
 
14. Nabi Musa 15. Nabi Harun

Yakub atau Israil tinggal di Mesir sejak ia datang untuk bertemu dengan anaknya, Yusuf. Ketika beliau wafat mereka menguburnya di tempat di mana ia dilahirkan di Palestina. Anak-anak Israil lebih memilih untuk hidup di Mesir di sisi Yusuf. Keadaan Mesir, kebaikannya yang banyak, kelayakan tanahnya, dan keharmonisan iklimnya merupakan daya tarik tersendiri bagi mereka untuk tinggal di dalamnya. Anak-anak Israil tinggal di Mesir dalam tempo yang lumayan. Mereka menikah sehingga jumlah mereka bertambah banyak. Berlalulah tahun demi tahun dan kemudian Nabi Yusuf meninggal. Nabi Yusuf telah mengubah Islam saat beliau memegang tampuk kekuasaan. Nabi Yusuf memperjuangkan Islam dan setiap nabi yang diutus oleh Allah s.w.t pasti memperjuangkan agama Islam sejak Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad saw. Pengertian Islam di sini ialah, mengesakan Allah s.w.t dan hanya semata-mata menyembah-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan berdoa kepada- Nya. Islam juga bererti menyerahkan niat dan amal hanya semata-mata kepada Allah s.w.t. Demikianlah yang kita fahami atau yang kita maksud dari kata al-Islam, bukan sistem sosial yang dibawa oleh Nabi yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Sistem ini merupakan kepanjangan dari sistem-sistem sosial yang dibawa para nabi. Jadi, esensi akidah satu dan tidak berbeza dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw.

Ketika Nabi Yusuf menjadi penguasa di Mesir dan ketua para menteri agama di Mesir berubah menjadi agama tauhid atau Islam. Nabi Yusuf as menyeru manusia untuk memeluk Islam saat beliau ada di dalam penjara ketika beliau mengatakan:

"Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa (QS.Yusuf: 39)

Dan beliau berdoa pada suatu hari ketika mimpinya terwujud:

"Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang soleh. " (QS. Yusuf: 101)

Dan ketika Nabi Yusuf meninggal, Mesir mengubah sistem tauhid ke sistem multi tuhan untuk kedua kalinya. Menurut dugaan kuat bahawa hal ini terwujud dengan adanya campur tangan kelompok-kelompok elit yang berkuasa. Kelompok-kelompok elit ini - ketika di bawah agama tauhid - mereka tidak mendapatkan suatu perlakukan istimewa atau dibezakan dengan masyarakat umum, sehingga kerananya mereka mempunyai kepentingan untuk mengembalikan sistem penyembahan multi tuhan. Kemudian masyarakat mengikuti sistem penyembahan Fir'aun. Dan akhirnya, Mesir dipimpin keluarga-keluarga Fir'aun dan mereka mengklaim bahawa mereka adalah tuhan atau wakil-wakil tuhan atau orang-orang yang berbicara atas nama tuhan.

Pada dasarnya, masyarakat Mesir adalah masyarakat yang beradab. Mereka disibukkan dengan pembangunan peradaban. Mereka memiliki kecenderungan keagamaan yang kuat. Dan barangkali kelompok- kelompok dari masyarakat Mesir meyakini bahawa Fir'aun bukan tuhan namun kerana mereka mendapat tantangan keras dari Fir'aun dan Fir'aun tidak ingin dari kaumnya kecuali agar mereka mentaatinya sehingga mereka pun terpaksa menyembunyikan keimanan dalam diri mereka. Jadi, tuhan-tuhan berhala banyak sekali di Mesir. Hal yang bisa difahami adalah, bahawa Fir'aun menguasai semua macam tuhan dan ia mengisyaratkan dengannya dan berbicara atas namanya. Yang demikian ini adalah sangat jelas di Mesir. Ketika terdapat sistem multi tuhan di Mesir - meskipun masyarakatnya meyakini tuhan utama, yaitu Fir'aun - kelompok elit yang berkuasa membatasi untuk hanya menyembah Fir'aun dan melaksanakan perintah-perintahnya serta membenarkan tindakan semena-menanya. Kita akan mengetahui dan kita akan membuka lembaran-lembaran Nabi Musa as bagaimana masyarakat Mesir hidup di zamannya. Majoriti masyarakat saat itu mendapatkan kehinaan yang luar biasa dan diperlakukan secara lalim. Mereka harus taat sepenuhnya kepada Fir'aun. Mereka selalu diancam oleh algojo-algojo Fir'aun dan para tenteranya.

Allah s.w.t menceritakan Fir'aun yang hidup di zaman Nabi Musa dalam firman-Nya:

"Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya (seraya berkata): 'Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.'" (QS. an-Nazi'at: 23-24)

Manusia saat itu benar-benar tunduk terhadap pernyataan orang-orang kafir. Mereka mentaati - barangkali itu kerana terpaksa - perkataan Fir'aun. Mesir kembali menggunakan sistem multi tuhan setelah sebelumnya disinari oleh tauhid yang disuarakan oleh Nabi Yusuf. Sementara itu, anak-anak Yakub atau anak-anak Israil mereka telah menyimpang dari tauhid. Mereka mengikuti orang-orang Mesir. Sedikit sekali dari keluarga mereka yang masih mempertahankan agama tauhid secara tersembunyi.

Datanglah suatu masa atas Bani Israil di mana mereka semakin banyak dan semakin menyebar. Mereka mengerjakan berbagai macam pekerjaan, dan mereka memenuhi pasar-pasar Mesir. Berlalulah hari demi hari. Mesir diperintah oleh seorang raja yang bengis di mana orang-orang Mesir menyembahnya. Raja yang jahat ini melihat Bani Israil semakin banyak dan semakin berkembang serta mengambil posisi-posisi penting. Raja mendengar pembicaraan Bani Israil tentang berita yang samar di mana dalam berita itu dikatakan bahawa salah seorang anak Bani Israil akan menjatuhkan Fir'aun Mesir dari singgahsananya. Barangkali berita itu berasal dari suatu mimpi dari mimpi-mimpi hidup atau mimpi nyata yang mengelilingi hati kelompok minoriti yang tertindas, dan mungkin itu merupakan berita gembira yang tersebut dalam kitab-kitab mereka. Apa pun halnya, berita ini telah sampai di telinga Fir'aun.

Kemudian Fir'aun mengeluarkan perintah yang aneh, yaitu jangan sampai seorang pun dari Bani Israil yang melahirkan anak. Maksud dari perintah ini adalah, hendaklah setiap anak yang lahir dari jenis laki-laki dibunuh. Aturan ini mulai diterapkan. Tapi para pakar ekonomi berkata kepada Fir'aun: Orang-orang tua dari Bani Israil akan mati sesuai dengan ajal mereka, sedangkan anak-anak kecilnya disembelih maka ini akan berakhir pada hancurnya dan binasanya Bani Israil namun Fir'aun akan kehilangan kekayaan dan aset manusia yang dapat bekerja untuknya atau menjadi budak-budaknya dan wanita-wanita tidak dapat lagi dimilikinya. Maka yang terbaik adalah, hendaklah dilakukan suatu proses sebagai berikut: Anak laki-laki disembelih pada tahun yang pertama dan hendaklah mereka dibiarkan pada tahun berikutnya. Fir'aun sependapat dengan fikiran ini kerana itu dianggap lebih menguntungkan dari sisi ekonomi.

Ibu Musa mengandung Harun pada tahun di mana anak-anak kecil tidak dibunuh maka ia melahirkannya secara terang-terangan. Ketika datang tahun yang ditetapkan di dalamnya bahawa anak-anak kecil harus dibunuh, ia melahirkan Musa. Saat melahirkan Musa, sang ibu merasakan ketakutan yang luar biasa. la mencemaskan bahawa jangan-jangan anaknya akan dibunuh. Maka si ibu menyusuinya secara sembunyi- sembunyi. Kemudian datanglah suatu malam yang penuh berkah di mana Allah s.w.t mewahyukan kepadanya:

"Dam Kami ilhamkan kepada ibu Musa: 'Susuilah dia dan apabila khuatir terhadapnya maka jatuh kalah ia ke dalam sungai (Nil). Dan janganlah kamu khuatir dan janganlah (pula) bersedih hati, kerana sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.'" (QS. al-Qashash: 7)

Mendengar wahyu Allah s.w.t itu dan mendengar panggilan yang penuh kasih sayang dan suci ini, ibu Musa langsung mentaatinya. Ia diperintahkan untuk membuat peti kecil bagi Musa. Setelah menyusuinya, ia meletakkannya di peti itu. Kemudian ia pergi ke tepi sungai Nil dan membuangnya di atas air. Hati sang ibu adalah hati yang paling pengasih di dunia. Hatinya dipenuhi penderitaan saat ia melemparkan anaknya di sungai Nil, tetapi ia menyedari bahawa Allah s.w.t lebih Pengasih terhadap Musa dibandingkan dengan dirinya. Allah s.w.t lebih mencintainya dibandingkan dengan dirinya. Allah s.w.t adalah Tuhannya dan Tuhan sungai Nil.

Belum lama peti itu menyentuh sungai Nil sehingga sang Pencipta mengeluarkan perintah kepada arus sungai agar menjadi tenang dan bersikap lembut terhadap bayi yang dibawanya yang pada suatu hari akan menjadi Nabi. Sebagaimana Allah s.w.t memerintahkan kepada api agar menjadi dingin dan membawa keselamatan bagi Nabi Ibrahim, begitu juga Allah s.w.t memerintahkan kepada sungai Nil agar membawa Musa dengan tenang dan penuh kelembutan sehingga menyerahkannya ke istana Fir'aun. Air sungai nil membawa peti yang mulia ini ke istana Fir'aun. Di sana ombak menyerahkannya kepada tepi pantai kemudian ia mewasiatkan kepada tepi pantai itu. Dan angin berkata kepada rumput yang tidur di sisi peti: Jangan engkau banyak bergerak kerana Musa sedang tidur. Rumput itu pun mentaati perintah angin dan Musa tetap tidur.

Pada hari itu, matahari menyinari istana Fir'aun. Isteri Fir'aun keluar berjalan-jalan di kebun istana sebagaimana biasanya. Kita tidak mengetahui apa gerangan yang menjadikannya berjalan-jalan dan menempuh jarak yang lebih jauh dari yang biasa di tempuhnya.

Isteri Fir'aun berbeza sekali dengan Fir'aun. Fir'aun adalah seorang kafir sementara isterinya adalah seorang yang beriman. Fir'aun adalah seorang yang keras kepala sementara isterinya adalah seorang yang penyayang. Fir'aun adalah seorang penjahat sementara isterinya adalah seorang yang lembut dan penuh cinta. Di samping itu, isterinya merasakan kesedihan yang dalam kerana ia belum mampu melahirkan anak. Ia merindukan untuk mendapatkan anak. Isteri Fir'aun berhenti di sisi kebun kemudian bau harum yang datang dari pohon itu menyebarkan perasaan sedih akan rasa kesendirian. Pada saat yang sama, wanita-wanita yang membantunya sudah memenuhi tempat-tempat air yang diambil dari sungai. Tiba-tiba mereka mendapati peti di sisi kaki mereka. Mereka membawa peti itu seperti semula ke isteri Fir'aun. Ia memerintahkan untuk membukanya lalu mereka pun membukanya. Betapa terkejutnya isteri Fir'aun ketika melihat Musa di dalamnya. Maka ia pun merasakan bahawa ia mencintainya seperti anaknya sendiri. Allah s.w.t menaruh dalam hatinya rasa cinta kepada Musa sehingga air matanya berlinang.

Kemudian ia membawa peti mati itu. Isteri Fir'aun membolak-balikkan Musa sambil menangis. Musa terbangun dan ia pun menangis. Musa tampak lapar ia membutuhkan air susu pagi dan tetap menangis. Fir'aun duduk di atas meja makan. Ia menantikan isterinya namun yang ditunggu belum hadir. Fir'aun mulai marah dan mencarinya. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan isterinya dengan membawa Musa. Isteri Fir'aun tampak sangat menyayanginya. Ia terus menciuminya dan air matanya berlinangan. Fir'aun bertanya, "dari mana datangnya anak kecil ini?" Kemudian mereka menceritakan kepadanya bahawa mereka menemukannya di sebuah peti di tepi sungai. Fir'aun berkata: "Ini adalah salah satu anak Bani Israil. Sesuai dengan peraturan, anak-anak yang lahir tahun ini harus dibunuh." Mendengar keputusan Fir'aun itu, isteri Fir'aun berteriak dan ia mendekap Musa lebih keras:

"Dan berkatalah isteri Fir'aun: '(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia jadi anak.'" (QS. al- Qashash: 9)

Fir'aun tampak kehairanan sekali melihat aksi isterinya yang mendekap anak kecil yang mereka temukan di tepi sungai. Fir'aun tampak tercengang kerana isterinya menangis dengan gembira di mana Fir'aun tidak pernah mendapati isterinya menangis kerana gembira seperti ini. Fir'aun mulai mengetahui bahawa isterinya menyayangi anak ini seperti anaknya sendiri. Fir'aun berkata dalam dirinya: Barangkali ia ingat bahawa ia tidak mampu melahirkan anak dan menginginkan anak ini. Akhirnya, Fir'aun sepakat atas apa yang dikatakan oleh isterinya. Fir'aun memenuhi keinginannya dan menyetujuinya untuk mendidik anak ini di istananya.

Ketika mendengar persetujuan Fir'aun, tampaklah keceriaan yang luar biasa pada wajah isterinya. Fir'aun belum pernah menyaksikan keceriaan seperti ini. Fir'aun telah menghadirkan berbagai macam hadiah kepadanya, juga perhiasan dan budak tetapi ia belum pernah tersenyum meskipun sekali. Fir'aun menyangka bahawa isterinya tidak mengerti erti sebuah senyuman. Dan sekarang, Fir'aun melihat sendiri wajahnya dipenuhi dengan senyum keceriaan. Sementara itu, Musa mulai menangis kerana lapar. Isteri Fir'aun mengetahui bahawa Musa sedang lapar. Ia berkata kepada Fir'aun: "Anakku yang kecil sedang lapar." Fir'aun berkata: "Datangkanlah kepadanya para wanita yang menyusui." Kemudian didatangkanlah kepadanya seorang wanita yang menyusui dari istana. Wanita itu mencuba untuk menyusui Musa tetapi apa yang terjadi? Musa menolaknya. Lalu didatangkan wanita yang kedua sampai ketiga dan sampai kesepuluh tetapi Musa tetap menangis dan tidak ingin menyusu kepada seorang pun di antara mereka. Melihat kenyataan itu, isteri Fir'aun menangis kerana tidak tahan melihat penderitaan anak kecil itu. Ia tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya.

Bukan hanya isteri Fir'aun satu-satunya yang merasa sedih dan menangis, ibu Musa adalah wanita lain yang merasa sedih dan menangis. Ketika ia melemparkan Musa ke sungai Nil, ia merasa bahawa ia sedang melemparkan buah hatinya di sungai. Lalu peti yang dilemparkan itu hilang dibawa oleh air sungai dan beritanya pun tersembunyi. Dan ketika datang waktu pagi, ibu Musa merasakan kesedihan yang selalu menghantuinya. Hampir saja ia pergi ke istana Fir'aun untuk mendapatkan berita tentang anaknya kalau bukan kerana Allah s.w.t menarah kedamaian dalam hatinya sehingga ia menyerahkan urusan anaknya kepada Allah s.w.t. Alhasil, ia berkata kepada saudara perempuan Musa: "Pergilah dengan tenang ke istana Fir'aun dan berusahalah untuk mendapatkan berita tentang Musa dan hendaklah engkau hati-hati agar jangan sampai mereka mengetahuimu." Kemudian saudara perempuan Musa pergi dengan tenang. Akhirnya, ia mendengarkan kisah tentang Musa secara sempurna. Ia melihat Musa dari kejauhan dan mendengarkan suara tangisannya. Ia melihat mereka dalam keadaan kebingungan di mana mereka tidak mengetahui bagaimana menyusuinya. Ia mendengar bahawa Musa menolak setiap wanita yang mencuba menyusuinya.

Saudara perempuan Musa berkata kepada para pengawal Fir'aun: "Apakah kalian mahu aku tunjukkan suatu keluarga yang dapat menyusuinya dan dapat mengasuhnya." Isteri Fir'aun menjawab: "Seandainya engkau dapat membawa kepada kami wanita yang dapat menyusuinya dan dapat mengasuhnya nescaya kami akan memberimu hadiah yang besar. Yakni sesuatu yang engkau inginkan akan kami penuhi." Lalu saudara perempuan Musa itu kembali dan menghadirkan ibunya. Si ibu menyusuinya dan Musa pun menyusu dengan tenang. Melihat hal itu, Isteri Fir'aun sangat gembira dan berkata: "Bawalah dia sehingga masa penyusuannya selesai, lalu kembalikanlah dia kepada kami dan kami akan memberimu suatu balasan yang besar atas penyusuan dan pendidikan yang engkau berikan."

Demikianlah Allah s.w.t mengembalikan Musa kepada ibunya agar ia merasa gembira dan hatinya menjadi tenang dan tidak bersedih serta agar ia mengetahui bahawa janji Allah s.w.t benar dan bahawa perintah- Nya dan ketentuan-Nya pasti terlaksana meskipun banyak rintangan dan tantangan. Allah s.w.t berfirman:

"Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahsia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: 'Ikutilah dia.' Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya, dam Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mahu menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: 'Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlu bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?'. Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahawa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (QS. al-Qashash: 10-13)

Ibu Musa menyempurnakan penyusuan lalu menyerahkannya ke rumah Fir'aun. Saat itu Musa disenangi dan disukai semua orang. Allah s.w.t berfirman:

Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari- Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku." (QS.Thaha: 39)

Tiada seorang pun yang melihat Musa kecuali ia akan mencintainya. Musa dididik di istana terbesar di bawah bimbingan dan penjagaan Allah s.w.t. Pendidikan Musa dimulai di rumah Fir'aun di mana di dalamnya terdapat ahli pendidikan dan para pengajar. Mesir saat itu merupakan negara yang besar di dunia dan Fir'aun sebagai raja yang paling kuat. kerana itu, secara sederhana Fir'aun mampu mengumpulkan para pakar pendidikan dan para cendekiawan. Demikianlah hikmah Allah s.w.t berkehendak agar Musa terdidik di bawah pendidikan yang besar dan ditangani pakar-pakar pendidikan yang terlatih. Ironisnya, hal ini terjadi di rumah musuhnya yang pada suatu hari nanti akan hancur di tangannya, sebagai bentuk pelaksanaan dari perintah Allah s.w.t.

Musa tumbuh di rumah Fir'aun. Beliau mempelajari ilmu hisab, ilmu bangunan, ilmu kimia, dan bahasa. Beliau tidur di bawah bimbingan agama. Oleh kerana itu, Musa tidak mendengar omongan kosong yang dikatakan oleh pendidik tentang ketuhanan Fir'aun. Jarang sekali ia mendengar bahawa Fir'aun adalah tuhan. Beliau pun menepis pernyataan dan anggapan ini. Beliau tinggal bersama Fir'aun di satu rumah. Beliau mengetahui lebih daripada orang lain bahawa Fir'aun hanya sekadar manusia biasa tetapi ia orang yang lalim. Musa mengetahui bahawa ia bukanlah anak dari Fir'aun. Beliau adalah salah seorang dari Bani Israil. Beliau menyaksikan bagaimana pengawal-pengawal Fir'aun dan para pengikutnya menindas Bani Israil. Akhirnya, Musa tumbuh besar dan mencapai kekuatannya.

Ketika para pengawal lalai darinya, Musa memasuki kota. Musa berjalan- jalan di sekitar kota. Kemudian Musa mendapati seorang lelaki dari pengikut Fir'aun yang sedang berkelahi dengan seseorang dari Bani Israil. Lalu seseorang yang lemah dari kedua orang itu meminta tolong kepadanya. Musa pun turut campur dalam urusan itu. Musa mendorong dengan tangannya seorang lelaki yang berbuat aniaya itu. Ternyata Musa membunuhnya. Saat itu Musa memang terkenal sebagai orang yang kuat sampai pada batas di mana dengan sekali pukul saja untuk melerai musuhnya, ia justru membunuhnya. Tentu Musa tidak sengaja untuk membunuh orang laki-laki itu. Tetapi apa yang terjadi? Lelaki itu tersungkur dan kemudian mati. Musa berkata kepada dirinya: Ini adalah perbuatan setan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang menyesatkan dan nyata. Kemudian Musa berdoa kepada Tuhannya dan berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku maka ampunilah aku." Allah s.w.t pun mengampuninya. Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Allah s.w.t berfirman:

"Dan setelah Musa sudah cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah kenabian dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lemah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang lagi dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan darinya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: 'Ini adalah perbuatan setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). Musa berdoa: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri kerana itu ampunilah aku.' Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Musa berkata: 'Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.'" (QS. al-Qashash: 14-17)

Kemudian Nabi Musa menjadi takut di tengah-tengah kota dan merasa terancam. Dalam ayat itu digambarkan bagaimana Nabi Musa merasakan ketakutan di mana ia mengkhuatirkan kejahatan akan datang padanya pada setiap langkahnya, dan ia begitu sensitif melihat gerak-geri di sekitarnya. Nabi Musa saat itu menampakkan kegoncangan jiwa yang dahsyat. Sebenarnya Nabi Musa hanya ingin mempertahankan dirinya saat menolong seseorang dari Bani Israil. Ketika itu Nabi Musa mendorong dengan tangannya dan bertujuan memisahkan orang Mesir dari orang Israil tetapi ia justru membunuhnya.

Dalam undang-undang positif dinyatakan bahawa pembunuhan semacam ini dianggap sebagai pembunuhan kerana keteledoran atau kerana kesalahan bukan kerana faktor kesengajaan sehingga kerananya yang bersangkutan tidak akan mendapatkan suatu hukuman yang berat. Biasanya orang yang melakukan pembunuhan tanpa sengaja akan mendapatkan keputusan yang meringankannya kerana ia membunuh tanpa kesengajaan. Tentu kejadian semacam ini tidak dapat dianggap sebagai pembunuhan dengan sengaja kerana yang bersangkutan tidak ingin mencelakakan orang lain. Nabi Musa tidak memukul orang itu. Yang ia lakukan hanya mendorongnya. Atau dengan kata lain, Nabi Musa hanya sekadar menyingkirkan orang tersebut. Kita akan mengetahui bahawa Nabi Musa adalah cermin lain dari Nabi Ibrahim. Kedua-duanya dari kalangan ulul azmi, tetapi Nabi Ibrahim adalah cermin kesabaran dan kelembutan sementara Nabi Musa adalah cermin dari kekuatan dan keperkasaan.

Musa menjadi takut dan terancam di tengah-tengah kota. Beliau berjanji di kemudian hari bahawa beliau tidak akan lagi menjadi sahabat orang- orang yang berbuat jahat. Beliau tidak akan lagi terlibat dalam pertengkaran dan permusuhan antara sesama penjahat. Di tengah-tengah perjalanannya, Musa dikejutkan ketika melihat orang yang ditolongnya kelmarin saat ini lagi-lagi memanggilnya dan minta tolong padanya. Lagi- lagi orang itu terlibat permusuhan dan pertengkaran dengan seorang Mesir. Musa mengetahui bahawa orang Israil ini berbuat aniaya. Musa mengetahui bahawa ia termasuk salah seorang preman di situ. Akhirnya, Musa berteriak di depan wajah orang Israil itu sambil berkata: "Sungguh ternyata engkau adalah orang yang jahat."

Musa mengatakan demikian sambil mendorong keduanya dan ia melerai pertengkaran itu. Orang Israil itu mengira bahawa Musa akan mencelakakannya maka ia diliputi rasa takut. Sambil meminta kasih sayang kepada Musa, ia berkata: "Wahai Musa apakah engkau akan membunuhku sebagaimana engkau membunuh orang yang kelmarin. Apakah engkau ingin menjadi seorang penguasa di muka bumi dan tidak ingin menjadi orang yang memperbaiki bumi." Ketika mendengar orang Israil yang mengatakan demikian, Musa berhenti dan amarahnya mereda. Musa mengingat apa yang dilakukannya kelmarin dan bagaimana ia meminta ampun dan bertaubat serta berjanji untuk tidak menjadi pembantu orang-orang yang berbuat jahat. Musa kemudian kembali dan meminta ampun kepada Tuhannya.

Orang Mesir yang berkelahi dengan orang Israil itu mengetahui bahawa Musa adalah pembunuh orang Mesir yang mayatnya mereka temukan kelmarin. Petugas keamanan Mesir tidak berhasil menyingkap kasus pembunuhan itu. Akhirnya, rahsia Musa tersingkap lalu seorang lelaki Mesir yang beriman datang dari penjuru kota. Ia membisikkan kepada Musa bahawa ada suatu rencana untuk membunuhnya. Ia menasihati Musa agar meninggalkan Mesir secepatnya.

Allah s.w.t berfirman:

"kerana itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khuatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kelmarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: 'Sesungguhnya kamu benar- benar orang yang sesat yang nyata (kesesatannya). Maka tat-kala Musa memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: 'Hai Musa apakah kamu bermaksud untuk membunuhku, sebagaimana kamu kelmarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian.' Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota tergesa- gesa seraya berkata: 'Hai Musa, sesungguhnya pembesar sedang berunding tentang kamu. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.'" (QS. al-Qashash: 18-20)

Allah menyembunyikan kepada kita nama laki-laki yang datang mengingatkan Musa itu. Tetapi menurut hemat kami, ia adalah seorang lelaki Mesir yang tentu memiliki jabatan penting. Sesuai dengan ayat tersebut, ia mengetahui adanya persengkongkolan untuk menyingkirkan Musa dari kedudukan yang tinggi. Seandainya ia orang yang biasa-biasa saja maka orang itu tidak mengenalnya. Orang itu mengetahui bahawa Musa tidak berhak untuk mendapatkan hukum bunuh atas dosanya. Musa membunuh kerana faktor kesalahan, bukan kerana faktor kesengajaan. Kesalahan semacam itu menurut undang-undang Mesir yang dahulu dihukum dengan penjara. Lalu, mengapa timbul keinginan untuk membunuh Musa? Kalau kita memperhatikan nasihat orang Mesir itu terhadap Musa maka kita akan menemukan jawapannya. Yaitu perkataannya: "Para pembesar merencanakan persekongkolan untuk menyingkirkanmu."

Al-Mala' adalah para penguasa atau para pembesar yang bertanggungjawab pada keamanan. Mereka menyiapkan persekongkolan untuk menyingkirkan Musa. Apa yang dilakukan oleh Musa - kalau memang dianggap sebagai suatu kesalahan - adalah kejahatan biasa yang hanya dituntut dengan hukuman penjara. Lalu siapakah yang membuat rencana yang demikian, dan siapakah yang mendorong untuk melakukan persekongkolan untuk membunuhnya? Kami kira bahawa kepala keamanan Mesir tidak menyukai Musa. Ia mengetahui bahawa Musa adalah anggota Bani Israil. Ia mengetahui bahawa sampainya peti di istana Fir'aun merupakan suatu rekayasa yang dirancang oleh musuh- musuhnya yang menginginkan kedudukannya. Ini bererti kerana keteledorannya dan ketelodaran anak-anak buahnya. Berapa kali orang itu menasihati dan menganjurkan agar Musa dibunuh tetapi Fir'aun justru menampik fikiran itu. Dan ketika datang saat yang ditentukan untuk membunuh Musa, Fir'aun justru tunduk terhadap Isterinya yang sangat mencintai Musa.

Akhirnya, kesempatan emas ada di depannya. Para pembantunya mengatakan kepadanya bahawa Musalah yang membunuh orang Mesir yang mereka temukan jasadnya kelmarin. Selesailah urusan ini. Kemudian datanglah perintah dan kesempatan untuk membunuh Musa. Orang-orang yang membenci Musa mulai mendapatkan angin kegembiraan di mana mereka akan melihat Musa terbunuh, tetapi Allah s.w.t mengirim seorang Mesir yang baik untuk mengingatkan Musa agar berlari dari kejaran orang-orang yang lalim.

Allah s.w.t berfirman:

"Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu- nunggu dengan khuatir, dia berdoa: 'Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim itu.'" (QS. al-Qashash: 21)

Musa meninggalkan kota dan menjadi orang yang terusir. Musa segera keluar dalam keadaan takut dan sambil waspada Musa selalu berdoa dalam hatinya: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim." Kaum itu memang benar-benar orang-orang yang lalim. Mereka ingin menerapkan hukuman bagi pembunuh dengan sengaja atas Musa, padahal Musa tidak melakukan selain berusaha memisahkan orang yang berkelahi tetapi dengan tidak sengaja ia membunuhnya. Musa segera keluar dari Mesir. Beliau tidak lagi pergi ke istana Fir'aun dan tidak mengganti pakaiannya, dan beliau tidak membawa makanan untuk perjalanan. Beliau tidak membawa binatang tunggangan yang dapat menghantarkannya. Beliau tidak pergi bersama suatu kafilah. Beliau langsung pergi ketika mendapatkan khabar dari seorang mukmin yang mengingatkannya dari ancaman Fir'aun.

Musa melalui jalan yang tidak lazim dilalui orang biasa. Musa memasuki gurun dan ia menuju ke suatu tempat yang di situ Allah s.w.t membimbingnya. Ini adalah pertama kalinya beliau keluar dan mengharungi gurun pasir sendirian. Kemudian sampailah Musa di suatu tempat yang bernama Madyan. Musa istirahat dan duduk-duduk di dekat sumur yang besar di mana di situ orang-orang mengambil air untuk memberi minum kepada binatang-binatang tunggangan mereka dan binatang-binatang gembalaan mereka. Musa tidak membawa makanan selain daun-daun pohon. Musa minum dari sumur-sumur yang ditemukannya di tengah jalan. Sepanjang perjalanan Musa merasakan ketakutan; jangan-jangan Fir'aun mengirim orang untuk menangkapnya. Ketika Musa sampai di kota Madyan Musa berbaring di sisi pohon dan istirahat. Musa merasa lapar dan keletihan. Sandal yang dipakainya tampak mulai rosak. Beliau tidak mempunyai wang yang cukup untuk membeli sandal baru, dan beliau juga tidak mempunyai wang yang cukup untuk membeli makanan dan minuman.

Nabi Musa memperhatikan kumpulan pengembala yang sedang mengambil air untuk kambing-kambing mereka. Musa ingat bahawa ia sedang lapar dan haus. Ia berkata dalam dirinya: Aku tidak dapat memenuhi perutku dengan air selama aku tidak memiliki wang yang cukup untuk membeli makanan. Musa berjalan menuju tempat air. Sebelum sampai, ia mendapati dua orang perempuan yang sedang menyendirikan kambing-kambingnya agar jangan sampai tercampur dengan kambing orang lain. Melalui ilham, Musa merasa bahawa kedua wanita itu membutuhkan pertolongan. Musa lupa terhadap rasa hausnya, lalu beliau menuju ke arah mereka dan bertanya, apakah ia dapat membantu mereka? Lalu seorang gadis yang paling tua berkata: "Kami menunggu sampai selesainya para gembala itu mengambil air untuk binatang gembalaan mereka." Musa bertanya: "Mengapa kalian tidak mengambil air sekarang?" Gadis yang paling kecil berkata: "Kami tidak mampu untuk berdesak-desakan dengan kaum lelaki." Nabi Musa kehairanan kerana mengetahui kedua gadis itu menggembala kambing. Seharusnya yang mengembala kambing adalah kaum lelaki. Ini adalah tugas yang berat dan sangat melelahkan. Musa bertanya: "Mengapa kalian menggembala kambing?" Masih kata gadis yang paling kecil: "Orang tua kami sudah tua di mana kesehatannya tidak dapat membantunya untuk keluar dari rumah dan menggembala kambing setiap hari." Musa berkata: "Kalau begitu, aku akan membantu kalian untuk mengambil air tersebut."

Musa berjalan menuju tempat air. Musa mengetahui bahawa para penggembala meletakkan di atas bibir air suatu batu besar yang tidak bisa digerakkan kecuali oleh sepuluh orang. Musa merangkul dan mengangkatnya dari bibir sumur. Otot-otot Musa tampak menonjol saat memindahkan batu itu. Musa adalah seorang lelaki yang kuat. Akhirnya, Musa berhasil mengambilkan air bagi remaja puteri itu, dan kemudian ia mengembalikan batu itu ke tempatnya. Musa kembali duduk di bawah naungan pohon. Saat itu Musa lupa untuk minum. Perut Musa menempel ke punggungnya kerana saking laparnya. Musa mengingat Allah s.w.t dan memanggil-Nya dalam hatinya:

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. al-Qashash: 24)

"Dan tatkala ia menghadap ke jurusan negeri Madyan ia berdoa (lagi): 'Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.' Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menambat (ternaknya) Musa berkata: 'Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?' Kedua wanita itu menjawab: 'Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.' Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.'" (QS. al-Qashash: 22-24)

Marilah kita tinggalkan sejenak Nabi Musa yang sedang duduk di bawah naungan pohon untuk kemudian kita melihat apa yang terjadi pada kedua gadis itu. Kedua gadis itu kembali ke rumah ayahnya. Si ayah bertanya: "Hari ini kalian kembali lebih cepat dari biasanya?" Gadis yang paling tua berkata: "Sungguh hari ini kami sangat beruntung. Wahai ayah, kami bertemu dengan seorang lelaki yang mulia yang mengambilkan air bagi haiwan kami sebelum orang-orang lain mengambilnya." Si ayah berkata: "Alhamdulillah." Gadis yang paling kecil berkata: "Saya kira wahai ayahku dia datang dari tempat yang jauh dan tampak ia sedang lapar. Saya melihat dia dalam keadaan kecapaian meskipun ia seorang lelaki yang kuat."

Si ayah berkata kepada anak perempuannya: Pergilah engkau padanya dan katakan, sesungguhnya ayahku memanggilmu untuk memberimu upah atas jasamu mengambilkan air untukku. Kemudian anak perempuan itu pergi menemui Musa dalam keadaan hatinya berdebar-debar. Perempuan itu berdiri di depan Musa dan menyampaikan surat dari ayahnya. Musa bangkit dari tempat duduknya dan pandangannya tertuju ke bawah. Musa tidak bermaksud mengambilkan air untuk mereka dengan tujuan mengharapkan upah dari mereka. Beliau membantu mereka hanya semata-mata kerana Allah s.w.t. Beliau merasakan dalam dirinya bahawa Allah s.w.t-lah yang mengarahkan beliau untuk membantu mereka.

Gadis itu berjalan di depan Musa kemudian bertiuplah angin dan menyentuh pakaiannya sehingga Musa menundukkan pandangan matanya kerana merasa malu. Musa berkata kepadanya: "Saya akan berjalan di depanmu dan tunjukkanlah jalan kepadaku." Mereka pun sampai di kediaman si ayah. Sebahagian ahli tafsir mengatakan bahawa si ayah ini adalah Nabi Syu'aib. Beliau memperoleh usia yang panjang setelah kematian kaumnya. Ada juga yang mengatakan bahawa si ayah adalah putera dari saudara Syu'aib. Ada yang mengatakan bahawa ia adalah anak dari pamannya, dan ada juga yang mengatakan bahawa ia adalah seorang lelaki mukmin dari kaumnya. Yang jelas, ia adalah seorang tua yang soleh. Orang tua itu menghidangkan kepada Nabi Musa makanan siang dan bertanya kepadanya dari mana ia datang dan kemudian ke mana ia akan pergi.

Musa mengungkapkan ceritanya. Orang tua itu berkata kepadanya, jangan khuatir dan jangan takut. Engkau akan selamat dari orang-orang yang lalim. Negeri ini tidak tunduk pada Mesir dan mereka tidak akan sampai di sini. Mendengar ucapan itu, Musa menjadi tenang dan bangkit untuk pergi. Salah seorang anak perempuan itu berkata kepada ayahnya dengan berbisik: "Wahai ayahku, berilah dia upah." Sesungguhnya engkau akan memberikan upah kepada seorang yang kuat dan jujur. Si ayah bertanya kepadanya: "Bagaimana engkau mengetahui dia seorang lelaki yang kuat?" Anak perempuannya menjawab: "Saya lihat sendiri ia mengangkat batu yang tidak mampu diangkat oleh sepuluh orang lelaki." Si ayah bertanya lagi: "Bagaimana engkau mengetahui bahawa dia seseorang yang jujur." Perempuan itu menjawab: "Ia menolak untuk berjalan di belakangku dan ia berjalan di depanku sehingga ia tidak melihatku saat aku berjalan, dan selama perjalanan saat aku berbincang- bincang padanya, dia selalu menundukkan matanya ke tanah sebagai rasa malu dan adab yang baik darinya."

Kemudian orang tua itu memandangi Musa dan berkata padanya: "Wahai Musa, aku ingin menikahkanmu dengan salah satu puteriku. Dengan syarat, hendaklah engkau bekerja menggembala kambing bersamaku selama delapan tahun. Seandainya engkau menyempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah kemurahan darimu. Aku tidak ingin menyusahkanmu. Sungguh insya-Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang saleh." Musa berkata: "Ini adalah kesepakatan antar aku dan engkau dan Allah s.w.t sebagai saksi atas kesepakatan kita, baik aku melaksanakan pekerjaan selama delapan tahun mahupun sepuluh tahun. Setelah itu, aku bebas untuk pergi ke mana saja."

Allah s.w.t berfirman:

"Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: 'Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan) mu memberi minum (ternak) kami.' Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata: 'Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang lalim itu.' Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: 'Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), kerana sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercayai. Berkatalah dia (Syu'aib): 'Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahawa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya-Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.' Dia (Musa) berkata: 'Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang aku ucapkan.'" (QS. al-Qashash: 25-28)

Ketika sampai pada kisah ini, banyak pena bertebaran untuk mendapatkan jawapan dari pertanyaan-pertanyaan yang mencuba menerobos kesamaran. Mereka bertanya tentang anak perempuan yang menikahi Musa: apakah anak perempuan yang paling besar ataukah anak perempuan yang paling kecil, dan Musa memilih masa bekerja delapan tahun atau sepuluh tahun. Bahkan mereka menyampaikan berbagai macam riwayat dan kisah yang mereka yakini kebenarannya. Kami sendiri meyakini bahawa Musa menikah dengan salah satu anak perempuan dari orang tua itu tetapi kita tidak mengetahui siapa dia dan siapa namanya. Kami meyakini bahawa beliau menikah dengan gadis yang memanggilnya untuk menemui ayahnya. Kemudian gadis itulah yang menganjurkan ayahnya agar memberikan upah padanya.

Al-Quran al-Karim melalui konteks ayatnya menyingkap bentuk kekaguman yang tersembunyi di balik gadis itu terhadap Musa. Barangkali orang tuanya mengetahui bahawa anak perempuannya menaruh rasa cinta kepada Musa, dan boleh jadi ketika berbicara tentang pernikahan kepada Musa, ia menyerahkan sepenuhnya kebebasan Musa untuk memilih. Mungkin Musa memilih sendiri gadis mana yang diminatinya. Tetapi, siapa gadis yang dipilih oleh Musa: apakah gadis yang paling tua atau gadis yang paling kecil? Yang jelas Al-Quran tidak menyebutkan hal tersebut, meskipun ia hanya memberikan isyarat kepadanya dalam firman-Nya:

"Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan. " (QS. al-Qashash: 25)

Begitu juga Al-Quran al-Karim tidak menyebutkan waktu yang dihabiskan oleh Musa saat ia bekerja: apakah sepuluh tahun atau beliau merasa cukup dengan delapan tahun. Kami sendiri meyakini sesuai dengan kebiasaan Musa dan kemurahannya serta kenabiannya serta kedudukannya sebagai salah satu nabi ulul azmi bahawa beliau memilih masa yang paling lama, yaitu sepuluh tahun. Pendapat itu juga didukung oleh hadis Ibnu Abas.

Demikianlah Nabi Musa mengabdi kepada orang tua itu selama sepuluh tahun penuh. Pekerjaan Nabi Musa terbatas pada keluar dari rumah di waktu pagi untuk menggembala kambing. Kami kira bahawa sepuluh tahun masa yang dihabiskan oleh Nabi Musa di Madyan merupakan suatu ketentuan yang dirancang oleh Allah s.w.t. Musa berdasarkan agama Yakub. Kakek beliau adalah Yakub dan Yakub sendiri adalah cucu dari Ibrahim. Dengan demikian, Musa adalah cucu dari Ibrahim dan setiap nabi yang datang setelah Ibrahim berasal dari sulbinya. Maka dari sini kita memahami bahawa Musa berada di atas agama ayah-ayahnya dan datuk- datuknya.

Nabi Musa berdasarkan Islam dan agama tauhid. Nabi Musa menghabiskan masa sepuluh tahun itu dalam keadaan jauh dari kaumnya dan keluarganya. Masa sepuluh tahun ini adalah masa yang paling penting dalam kehidupannya. Ia merupakan masa persiapan yang besar. Pada setiap malam Musa merenungkan bintang-bintang. Musa mengikuti terbitnya matahari dan tenggelamnya. Pada setiap siang Musa memikirkan tumbuh-tumbuhan: bagaimana ia membelah tanah dan mekar. Musa memperhatikan air: bagaimana ia menghidupkan bumi setelah bumi itu mati, lalu bumi itu menjadi tempat yang indah dan subur. Musa memperhatikan alam yang luas dan ia tampak tercengang dan kagum dengan ciptaan Allah s.w.t.

Sebenarnya pemikiran-pemikiran dan perenungan-perenungan tersebut jauh-jauh hari sudah tersembunyi di dalam dirinya dan menetap di dalam jiwanya. Bukankah Musa telah terdidik di istana Fir'aun. Ini bererti bahawa beliau menjadi seorang Mesir yang mempunyai wawasan yang luas; orang Mesir yang menunjukkan kekuatan fizikalnya; orang Mesir dengan segala makanannya dan minumannya. Jadi, segala hal yang ada pada Musa berbau Mesir. Musa siap-siap untuk menerima wahyu Ilahi dari bentuk yang baru. Yaitu wahyu Ilahi yang langsung datang tanpa perantara seorang malaikat di mana Allah s.w.t akan berbicara dengannya tanpa perantara.

Oleh kerana itu, sebelum datangnya wahyu itu perlu adanya persiapan mental dan moral, sedangkan persiapan fizik telah selesai dilaluinya di Mesir. Musa tumbuh di istana yang paling besar yang dimiliki penguasa di bumi dan di suatu pemerintahan yang paling kaya di bumi. Musa menjadi seorang pemuda yang kuat di mana hanya sekadar memisahkan seseorang yang berkelahi, ia justru membunuhnya. Setelah persiapan fizik yang sangat kuat, kini Musa harus melewati persiapan mental yang seimbang. Yaitu persiapan yang dilakukan melalui pengasingan yang sempurna di mana beliau hidup di tengah-tengah gurun dan tempat penggembalaan yang beliau belum pernah menginjakkan kakinya di sana. Beliau hidup di tengah-tengah orang asing yang belum pernah beliau lihat sebelumnya.

Sering kali Musa mendapatkan kesunyian dan keheningan di balik pengasingan itu. Allah s.w.t mempersiapkan hal tersebut kepada nabi- Nya agar setelah itu beliau mampu memegang amanat yang besar dari Allah s.w.t. Datanglah suatu hari atas Musa. Selesailah masa yang ditentukan. Kemudian Musa merasakan kerinduan untuk kembali ke Mesir. Dengan berlalunya waktu, hukuman yang harus dijalaninya dengan sendirinya gugur. Musa mengetahui hal itu, tetapi beliau juga mengetahui bahawa undang-undang di Mesir sebenarnya terletak pada kekuatan penguasa; jika penguasa berkehendak maka Musa dapat menerima hukuman dan jika tidak berkehendak maka dia akan memaafkannya, meskipun yang bersangkutan berhak mendapatkan hukuman. Alhasil, Musa menyedari hal itu, Musa tidak sepenuhnya yakin ia akan selamat ketika beliau menginjakkan kakinya di Mesir seperti keyakinannya bahawa beliau selamat di tempatnya sekarang. Meskipun demikian, rasa rindunya untuk melakukan perjalanan kembali ke tempatnya mendorong Musa segera menuju ke Mesir. Musa tepat mengambil keputusan.

Musa berkata kepada Isterinya: "Besok kita akan memulai perjalanan ke Mesir." Isterinya berkata dalam dirinya: "Di dalam perjalanan terdapat seribu macam bahaya tetapi ketenangan tetap menghiasai wajah Musa." Isteri Musa tetap taat kepada Musa. Nabi Musa sendiri tidak mengetahui rahsia tentang keputusannya yang cepat untuk kembali ke Mesir setelah sepuluh tahun beliau pergi melarikan diri, lalu mengapa sekarang ia kembali ke sana? Apakah beliau rindu kepada ibunya dan saudaranya? Apakah beliau berfikir untuk mengunjungi Isteri Fir'aun yang telah mendidiknya layaknya ibunya dan sangat mencintainya layaknya ibunya sendiri? Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang terlintas dalam diri Musa saat beliau berkeinginan untuk kembali ke Mesir. Hanya saja, yang kita ketahui bahawa Nabi Musa terbimbing dengan ketetapan- ketetapan Ilahi sehingga beliau tidak melangkahkan kakinya kecuali berdasarkan ketetapan tersebut.

Musa keluar bersama keluarganya dan melakukan perjalanan. Bulan bersembunyi di balik gumpalan awan yang tebal, dan kegelapan rnenyelimuti sana-sini. Sementara itu, petir menyambar sangat keras dan langit menurunkan hujan. Cuaca tampak tidak bersahabat. Di tengah- tengah perjalanannya, Musa tersesat. Musa mendapatkan dua potongan batu kemudian beliau memukulkan kedua-nya dan menggesek-gesekan keduanya agar mendapatkan api darinya sehingga beliau dapat berjalan. Tetapi sayang, beliau tidak mampu melakukan hal itu. Angin yang bertiup kencang memadamkan api kecil itu.

Nabi Musa berdiri dalam keadaaan bingung dan tubuhnya tampak menggigil di tengah-tengah keluarganya. Kemudian Nabi Musa mengangkat kepalanya dan menyaksikan sesuatu dari jauh. Sesuatu yang beliau saksikan adalah api yang sangat besar yang menyala-nyala dari kejauhan. Maka hati Musa dipenuhi dengan rasa gembira. Ia berkata kepada keluarganya: "Aku melihat api di sana." Lalu beliau memerintahkan kepada mereka untuk tinggal di tempatnya sehingga beliau pergi ke api itu. Barangkali di sana beliau mendapatkan suatu berita atau akan menemukan seseorang yang dapat memberinya petunjuk sehingga beliau tidak tersesat, atau beliau dapat membawa sebahagian api yang menyala sehingga tubuh mereka menjadi hangat.

Keluarganya melihat api yang diisyaratkan oleh Musa tetapi sebenarnya mereka tidak melihat sesuatu pun. Mereka tetap mentaatinya dan duduk sambil menunggu kedatangan Musa. Musa bergerak menuju ke tempat api. Musa segera berjalan untuk menghangatkan tubuhnya, sementara tangan kanannya memegang tongkatnya dan tubuhnya tampak basah kuyup kerana hujan. Nabi Musa tetap berjalan sampai ia mencapai suatu lembah yang bernama Thua'. Beliau menyaksikan sesuatu yang unik di lembah ini. Di lembah itu tidak ada rasa dingin dan tidak ada angin yang bertiup. Yang ada hanya keheningan. Nabi Musa mendekati api. Belum lama beliau mendekatinya sehingga beliau mendengar suara panggilan:

"Maka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: 'bahawa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam." (QS. an-Naml: 8)

Tiba-tiba Nabi Musa berhenti dan badannya menggigil. Suara itu tampak terdengar dan datang dari segala tempat dan tidak berasal dari tempat tertentu. Musa melihat api dan beliau kembali merasa menggigil. Beliau mendapati suatu pohon hijau dari duri dan setiap kali pohon itu terbakar dan berkobar api darinya maka pohon itu justru semakin hijau. Seharusnya pohon itu berubah warnanya menjadi hitam saat terbakar, tetapi anehnya api justru meningkatkan warna hijaunya. Musa tetap menggigil meskipun beliau merasakan kehangatan dan tampak mulai berkeringat.

Lembah yang di situ Musa berdiri adalah lembah Thua'. Musa meletakkan kedua tangannya di atas kedua matanya kerana saking dahsyatnya cahaya. Beliau melakukan yang demikian itu sebagai usaha untuk melindungi kedua matanya. Kemudian Musa bertanya dalam dirinya: Ini cahaya atau api? Tiba-tiba beliau tersungkur ke tanah sebagai wujud rasa takut, lalu Allah s.w.t memanggil:

"Wahai Musa." (QS. Thaha: 11)

Musa mengangkat kepalanya dan berkata: "Ya." Allah berkata:

"Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu." (QS. Thaha: 12)

Musa semakin menggigil dan berkata: "Benar wahai Tuhanku."

Allah s.w.t berkata: "Maka lepaskanlah kedua sandalmu sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci yang bernama Thua'." Musa tertunduk dan rukuk sementara tubuhnya tampak gementar dan beliau mulai melepas sandalnya Allah s.w.t berkata:

Maka tinggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa'. " (QS. Thaha: 12)

Musa rukuk dan melepas kedua sandalnya. Kemudian Allah s.w.t kembali berkata:

"Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahsiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang diusahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan darinya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu binasa." (QS. Thaha: 13-16)

Musa semakin gementar saat beliau menerima wahyu Ilahi dan saat berdialog dengan Allah s.w.t. Allah s.w.t yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang berkata:

"Apakah itu yang ada di tangan kananmu, hai Musa?" (QS. Thaha: 17)

Bertambahlah kehairanan Nabi Musa. Allah s.w.t adalah Zat yang mengajaknya berbicara dan tentu Dia lebih mengetahui daripada Musa tentang apa yang dipegangnya, lalu mengapa Allah s.w.t bertanya kepadanya jika memang Dia lebih mengetahui darinya. Tak ragu lagi bahawa di sana ada hikmah yang tinggi. Musa menjawab pertanyaan itu dengan suaranya yang tampak mengigil:

"Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya." (QS. Thaha: 18)

Allah berfirman:

"Lemparkanlah ia, hai Musa!" (QS. Thaha: 19)

Musa melemparkan tongkatnya dari tangannya dan rasa hairannya semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba Musa dikejutkan ketika melihat tongkat itu menjadi ular yang besar. Ular itu bergerak dengan cepat. Musa tidak mampu lagi menahan rasa takutnya. Musa merasa tubuhnya bergetar kerana rasa takut. Musa membalikkan tubuhnya kerana takut dan ia mulai lari. Belum lama ia lari, belum sampai dua langkah, Allah s.w.t memanggilnya:

"Hai Musa, janganlah kamu takut, sesungguhnya orang yang menjadikan rasul, tidak takut di hadapanku. " (QS. an-Naml: 10)

"Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. " (QS. al- Qashash: 31)

Musa kembali memutar badannya dan berdiri. Tongkat itu tampak bergerak dan ular itu pun tetap bergerak. Allah s.w.t berkata kepada Musa:

"Peganglah ia dan janganlah takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula. " (QS. Thaha: 21)

Musa menghulurkan tangannya ke ular itu dalam keadaan menggigil. Musa belum sempat menyentuhnya sehingga ular itu menjadi tongkat. Demikianlah perintah Allah s.w.t terjadi dengan cepat. Kemudian Allah s.w.t memerintahkan kepadanya:

"Masukanlah tanganmu ke leher bajumu, nescaya ia keluar putih tidak bercacat bukan kerana penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan. " (QS. al-Qashash: 32)

Musa meletakkan tangannya di kantongnya lalu ia mengeluarkannya dan tiba-tiba tangan itu bersinar bagaikan bulan. Kembali rasa kagum Musa bertambah. Lalu ia meletakkan tangannya di dadanya sebagaimana diperintahkan Allah s.w.t padanya sehingga rasa takutnya benar-benar hilang.

Musa merasa tenang dan terdiam. Kemudian Allah s.w.t memerintahkan kepadanya - setelah beliau melihat kedua mukjizat ini, yaitu mukjizat tangan dan mukjizat tongkat - untuk pergi menemui Fir'aun dan berdakwah kepadanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang dan Allah s.w.t memerintahkan kepadanya untuk mengeluarkan Bani Israil dari Mesir. Musa menampakkan rasa takutnya kepada Fir'aun. Musa berkata bahawa ia telah membunuh seseorang di antara mereka dan beliau khuatir mereka akan membunuhnya dan membalasnya. Musa meminta kepada Allah s.w.t dan memohon kepada-Nya agar mengirim saudaranya Harun bersamanya. Allah s.w.t menenangkan Musa dengan mengatakan bahawa Dia akan selalu bersama mereka berdua. Dia mendengar dan menyaksikan gerak-geri dan perbuatan mereka. Meskipun Fir'aun terkenal dengan kejahatannya dan kekuatannya, namun kali ini Fir'aun tidak akan mampu mengganggu atau menyakiti mereka. Allah s.w.t memberitahu Musa bahawa Dia-lah yang akan menang. Musa berdoa dan memohon kepada Allah s.w.t agar melapangkan hatinya dan memudahkan urusannya serta memberinya kekuatan dalam berdakwah di jalan-Nya.

Allah s.w.t berfirman:

"Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa ? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: 'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit darinya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: Hai Musa, sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Maka tinggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa'. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahsiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang diusahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu kamu dipalingkan darinya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu binasa. Apakah itu yang ada di tangan kananmu, hai Musa, 'Ini adalah tongkatku, aku bertelehan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingmu, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.' Allah berfirman: Lemparkanlah ia, hai Musa!' Lalu dilemparkanlah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Peganglah ia dan janganlah takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, nescaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar. Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas. Berkata Musa: 'Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidah, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.' Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali yang lain, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu: Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya.' Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku. (Yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir'aun): 'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?' Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencubamu dengan beberapa cubaan; maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa, dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku. " (QS. Thaha: 9-41)

Kita tidak mengetahui apa yang kita akan katakan dan apa yang kita komentar berkaitan dengan firman Allah s.w.t kepada salah seorang hamba-Nya: "Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku." Allah s.w.t telah memilih Musa. Itu adalah salah satu puncak kemuliaaan di mana tidak ada seseorang pun di zaman itu yang mampu mencapainya selain Musa. Nabi Musa kembali untuk menemui keluarganya setelah Allah s.w.t memilihnya sebagai Rasul atau utusan untuk berdakwah ke Fir'aun. Akhirnya, Nabi Musa beserta keluarganya berjalan menuju ke Mesir. Hanya Allah s.w.t yang mengetahui fikiran-fikiran apa yang terlintas di dalam diri Musa saat beliau mengayunkan langkahnya menuju ke Mesir.

Selesailah masa-masa perenungan dan dimulailah hari-hari kedamaian dan kebahagiaan, dan akhirnya datanglah hari-hari yang sulit. Demikianlah Nabi Musa memikul amanat kebenaran dan pergi untuk menyampaikannya kepada salah satu penguasa yang paling bengis dan paling kejam dan paling jahat di zamannya. Nabi Musa mengetahui bahawa Fir'aun adalah orang yang jahat. Fir'aun akan berusaha memberhentikan langkah dakwahnya dan Fir'aun akan menentangnya tetapi Allah s.w.t memerintahkannya untuk pergi ke Fir'aun dan berdakwah kepadanya dengan kelembutan dan kasih sayang. Allah s.w.t mewahyukan kepada Musa bahawa Fir'aun tidak akan beriman tetapi Nabi Musa tidak peduli dengan hal itu. Beliau diperintahkan untuk melepaskan Bani Israil yang sedang diseksa oleh Fir'aun.

Allah s.w.t berkata kepada Musa dan Harun:

"Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dan katakanlah: 'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyeksa mereka." (QS. Thaha: 47)

Inilah tugas yang ditentukan, yaitu tugas yang akan berbenturan dengan ribuan tantangan. Fir'aun menyeksa Bani Israil dan menjadikan mereka budak-budak dan memaksa mereka untuk bekerja di luar kemampuan mereka. Fir'aun juga menodai kehormatan wanita-wanita mereka dan menyembelih anak laki-laki mereka. Nabi Musa mengetahui bahawa rejim Mesir berusaha untuk memperbudak Bani Israil dan mengeksploitasi mereka di luar kemampuan mereka demi kepentingan penguasa. Tetapi Nabi Musa tetap memperlakukan dan menghadapi Fir'aun dengan penuh kelembutan dan kasih sayang sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah s.w.t padanya:

"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Thaha: 43-44)

Musa bercerita kepada Fir'aun tentang siapa sebenarnya Allah s.w.t, tentang rahmat-Nya, tentang syurganya, dan tentang kewajipan mengesakan-Nya dan menyembah-Nya. Beliau berusaha mem-bangkitkan aspek-aspek kemanusiaan Fir'aun melalui pembicaraan tersebut. Fir'aun mendengarkan apa yang dikatakan oleh Musa dengan penuh kebosanan. Fir'aun membayangkan bahawa seseorang yang di hadapannya adalah orang gila yang nekad untuk menentang dan menggoyang kedudukannya. Kemudian Fir'aun mengangkat tangannya dan berbicara: "Apa yang engkau inginkan, hai Musa?" Musa menjawab: "Aku ingin agar engkau membebaskan Bani Israil." Fir'aun bertanya: "Mengapa aku harus membebaskan mereka bersamamu sementara mereka adalah budak- budakku?" Musa menjawab: "Mereka adalah hamba-hamba Allah s.w.t, Tuhan Pengatur alam semesta." Dengan nada mengejek Fir'aun bertanya: "Bukankah engkau mengatakan bahawa namamu Musa?" Musa menjawab: "Benar." Fir'aun berkata: "Bukankah engkau yang kami temukan di sungai Nil saat engkau masih kecil yang tidak mempunyai daya dan kekuatan? Bukankah engkau Musa yang aku didik di istana ini, lalu engkau memakan makanan kami dan meminum air kami, dan engkau menikmati kebaikan- kebaikan dari kami? Bukankah engkau yang membunuh seseorang lalu setelah itu engkau lari? Tidakkah engkau ingat semua itu? Bukankah mereka mengatakan bahawa pembunuhan merupakan suatu kekufuran? Kalau begitu, engkau seorang kafir dan engkau seorang pembunuh. Jadi engkau adalah Musa yang lari dari hukum Mesir. Engkau adalah seseorang yang lari dan menghindari keadilan. Lalu sekarang engkau datang kepadaku dan berusaha berbicara denganku. Engkau berbicara tentang apa hai Musa. Sungguh aku telah lupa."

Musa mengerti bahawa Fir'aun mengingatkan padanya tentang masa lalunya dan Fir'aun berusaha menunjukkan kepadanya bahawa ia telah mendidiknya dan berlaku baik padanya. Musa juga memahami bahawa Fir'aun mengancamnya dengan pembunuhan. Musa memberitahu Fir'aun, bahawa ia bukan seorang kafir ketika membunuh seorang Mesir tetapi saat itu beliau melakukannya dengan tidak sengaja. Musa memberitahu Fir'aun bahawa ia lari dari Mesir kerana khuatir akan pembalasan mereka. Pembunuhan yang dilakukan olehnya bersifat tidak sengaja. Musa tidak bermaksud untuk membunuh seseorang. Musa telah memberitahu Fir'aun bahawa Allah s.w.t telah memberinya hikmah dan menjadikannya salah seorang Rasul. Allah s.w.t menceritakan sebahagian dialog antara Musa dan Fir'aun dalam surah as-Syuara' sebagaimana firman-Nya:

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): 'Datangilah kaum yang lalim itu, (yaitu) kaum Fir'aun. Mengapa mereka tidak bertakwa? Berkata Musa: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahawa mereka akan mendustakan aku. Dan (kerananya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun. Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.' Allah berfirman: 'Janganlah takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan). Maka datanglah kamu berdua kepada Fir'aun dan katakanlah: 'Sesungguhnya kami adalah Rasul Tuhan semesta alam, lepaskanlah Bani Israil (pergi) beserta kami.' Fir'aun menjawab: 'Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu, dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna.' Berkata Musa: 'Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. " (QS. as-Syu'ara: 10-21)

Kemudian bangkitlah emosi Nabi Musa ketika Fir'aun mengingatkan bahawa ia telah berbuat baik kepada Musa. Musa bangkit dan berbicara kepadanya:

"Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil." (QS. asy-Syu'ara: 22)

Musa ingin berkata kepadanya, apakah engkau mengira bahawa nikmat yang engkau berikan kepadaku lalu engkau merasa telah berbuat baik padaku, di mana aku adalah salah seorang lelaki dari kalangan Bani Israil? Apakah nikmat ini sebanding dengan cara-caramu memperlakukan bangsa yang besar ini di mana engkau memperbudak mereka; engkau memperkerjakan mereka dengan cara yang semena-mena. Jika ini memang demikian maka logik mengatakan bahawa kita seimbang: tiada yang berhutang dan tiada yang meminjam. Jika tidak demikian maka siapa yang memberikan bahagian yang lebih besar?

Alhasil masalahnya adalah dakwah di jalan Allah s.w.t, yaitu satu urusan yang aku tidak membawa kepadamu dari diriku sendiri. Aku bukan utusan dari bangsa Bani Israil. Aku bukan juga utusan dari diriku sendiri tetapi aku adalah seorang utusan dari Allah s.w.t. Aku adalah utusan Tuhan Pengatur alam semesta. Sampai pada tahap ini Fir'aun mulai memasuki pembicaraan lebih serius: Fir'aun bertanya:

"Siapakah Tuhan semesta alam itu?" (QS. asy-Syu'ara': 23) Musa Menjawab:

"Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antaranya keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya." (QS. asy-Syu'ara': 24)

Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya: "Apakah kamu tidak mendengarkan?" (QS. asy-Syu'ara': 25)

Musa berkata dan tidak mempedulikan ejekan Fir'aun itu:

"Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu. " (QS. asy-Syu'ara': 26)

Fir'aun berkata kepada mereka yang datang bersama Musa dari Bani Israil: "Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar- benar orang gila." Musa kembali berkata dan tidak memperhatikan tuduhan Fir'aun dan ejekannya:

"Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal. " (QS. asy-Syu'ara': 28)

Allah s.w.t menceritakan sebahagian dialog yang terjadi antara Fir'aun dan Musa dalam surah as-Syu'ara':

"Fir'aun bertanya: 'Siapakah Tuhan semesta alam itu?' Musa Menjawab: 'Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya.' Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya: 'Apakah kamu tidak mendengarkan?' Musa berkata: "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu.' Fir'aun berkata: 'Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.' Musa berkata: 'Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.'" (QS. asy-Syu'ara': 23-28)

Allah s.w.t mengingatkan dalam surah Thaha sebahagian dari peristiwa pertemuan antara Fir'aun dan Nabi Musa. Allah s.w.t berfirman:

"Maka datanglah kamu kedua kepadanya (Fir'aun) dan katakanlah: 'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyeksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahawa seksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.' Berkata Fir'aun: 'Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa.' Musa berkata: 'Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.' Berkata Fir'aun: 'Maka bagaimanakah keadaan-keadaan umat-umat yang dahulu? Musa menjawab: 'Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab. Tuhan kami tidak akan salah dan tidak akan salah (pula) lupa.'" (QS. Thaha: 47-52)

Kita perhatikan bahawa Fir'aun tidak bertanya kepada Nabi Musa tentang Tuhan Pengatur alam atau Tuhan Musa dan Harun dengan maksud bertanya sesungguhnya atau pertanyaan yang bermaksud untuk mengetahui kebenaran tetapi perkataan yang dilontarkan Fir'aun semata- mata hanya untuk mengejek. Nabi Musa as menjawabnya dengan jawapan yang sempurna dan mengena. Nabi Musa berkata: "Sesungguhnya Tuhan kami adalah Dia yang memberi sesuatu ciptaannya kemudian Dia membimbing ciptaannya. Dialah sang Pencipta. Dia menciptakan berbagi macam makhluk dan Dia juga yang membimbingnya sesuai dengan kebutuhannya sehingga makhluk-makhluk tersebut dapat menjalani kehidupan dengan baik. Allah s.w.t-lah yang mengarahkan segala sesuatu; Allah s.w.t-lah yang menguasai segala sesuatu; Allah s.w.t-lah yang mengetahui segala sesuatu; Allah s.w.t-lah yang menyaksikan segala sesuatu." Al-Quran al-Karim mengungkapkan semua itu dalam ungkapan yang sederhana namun padat ertinya, yaitu dalam firman-Nya:

"Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." (QS. Thaha: 50)

Kemudian Fir'aun bertanya, "lalu bagaimana keadaan manusia-manusia yang hidup di abad-abad pertama di mana mereka tidak menyembah Tuhanmu ini?" Fir'aun masih ingkar dan mengejek dakwah Nabi Musa. Nabi Musa menjawab: "bahawa masa-masa yang dahulu di mana mereka tidak menyembah Allah s.w.t adalah masalah yang semua itu berada di sisi Allah s.w.t. Atau dalam kata lain, semua itu diketahui oleh Allah s.w.t. Keadaan di masa-masa yang dahulu tercatat dalam kitab Allah s.w.t. Allah s.w.t menghitung apa yang mereka kerjakan di dalam kitab. Allah s.w.t tidak pernah lupa." Jawapan Nabi Musa tersebut berusaha menenangkan Fir'aun tentang orang-orang yang hidup di masa-masa pertama. Jadi Allah s.w.t mengetahui segala sesuatu dan mencatat apa saja yang dilakukan manusia dan Allah s.w.t tidak menyia-nyiakan pahala mereka. Kemudian Nabi Musa kembali menyempurnakan dan menyelesaikan pembicaraannya tentang sifat Tuhannya:

"Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal. Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan darinya Kami akan mengembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. " (QS. Thaha: 53-55)

Nabi Musa menarik perhatian Fir'aun tentang tanda-tanda kebesaran Allah s.w.t di alam semesta. Nabi Musa menunjukkan kepadanya bagaimana gerakan angin, hujan, dan tumbuh-tumbuhan. Kemudian Nabi Musa juga menunjukkan bagaimana pengaruh semua itu pada bumi. Musa memberitahu kepada Fir'aun bahawa Allah s.w.t menciptakan manusia dari tanah dan setelah itu Dia akan mengembalikan padanya dengan kematian lalu mengeluarkan manusia darinya di hari kebangkitan. Jadi, di sana terjadi hari kebangkitan dan pada hari kiamat manusia akan menghadap kepada Allah s.w.t. Tidak ada seseorang pun yang dikecualikan dari hal itu. Semua hamba Allah s.w.t akan berdiri dihadapan-Nya pada hari kiamat, termasuk Fir'aun.

Musa datang kepada Fir'aun sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi peringatan dari Musa ini tidak membikin Fir'aun merenung dan mendapatkan pelajaran namun justru dialog antara dirinya dan Musa semakin menajam. Bisa dikatakan bahawa dialog di antara mereka menjadi pertentangan. Ketajaman dialog mulai menghangat. Kemudian berubahlah bahasa dialog itu. Musa berusaha menyampaikan argumentasi yang sangat kuat kepada Fir'aun. Musa berusaha membawa argumentasi rasional tetapi Fir'aun berusaha keluar dari ruang lingkup dialog yang berdasarkan logik yang sehat. Fir'aun berusaha menggunakan dialog dalam bentuk yang baru, yaitu suatu cara yang Musa tidak mampu lagi melawannya. Ia mulai menyerang Musa dan mengancamnya.

Fir'aun menunjukkan penentangannya kepada kebenaran yang dibawa oleh Musa. Fir'aun acuh tak acuh terhadap dakwah Nabi Musa. Fir'aun mulai menyerang peribadi Musa. Ia mulai mempersoalkan pakaian Musa dan kedudukan sosialnya bahkan ia pun menyerang cara Musa berbicara. Setelah menghina Musa sedemikian rupa, Fir'aun sengaja memakai metode kekuatan mutlak. Fir'aun bertanya kepada Musa, bagaimana ia berani menentang penyembahan terhadap dirinya; bagaimana Musa menyembah selain dirinya; tidakkah Musa mengetahui bahawa Fir'aun adalah tuhan? Bagaimana Musa tidak mengetahui hakikat ini padahal ia terdidik di istana Fir'aun dan sangat mengenal lingkungan di sekitar Fir'aun? Setelah Fir'aun menyampaikan tentang ketuhanan-nya secara mendasar, ia bertanya kepada Musa, bagaimana Musa berani menyembah tuhan selain dirinya. Ini bererti bahawa Musa ingin dimasukan ke dalam penjara. Tiada ketentuan di sisi kami bagi orang yang menyembah selain Fir'aun kecuali penjara adalah tempatnya:

"Fir'aun berkata: 'Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.'" (QS. asy-Syu'ara': 29)

Musa mengetahui bahawa argumentasi-argumentasi rasional tidak lagi bermanfaat. Dialog yang tenang dan sehat berubah menjadi ejekan dan hinaan serta pada akhirnya menjadi ancaman hukuman penjara. Musa mengetahui bahawa telah tiba waktunya untuk menunjukkan mukjizat yang dibawanya. Setelah diancam akan dimasukan ke dalam penjara, ia berkata kepada Fir'aun:

"Musa berkata: 'Dan apakah (kamu akan melakukan ini) kendatipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata?'" (QS. asy- Syu'ara': 30)

Musa menantang kepada Fir'aun dan Fir'aun menerima tantangannya. Fir'aun ingin tahu sejauh mana kebenaran Musa.

"Fir'aun berkata: 'Datangkanlah sesuatu (keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah termasuk orang-orang yang benar.'" (QS. asy- Syu'ara': 30-31)

Musa melemparkan tongkatnya di ruangan yang besar itu. Mula-mula Fir'aun menganggap bahawa tongkat yang dibawanya jatuh kerana Musa gementar menghadapinya. Setelah Fir'aun meminta padanya bukti atas kebenaran dakwahnya, tiba-tiba tongkat yang menyentuh tanah itu berubah menjadi ular yang besar yang bergerak dengan cepat dan gesit. Ular itu menuju ke arah Fir'aun. Fir'aun tampak pucat kerana takut. Ia tampak gementar di kerusinya kemudian ia berteriak agar mereka menjauhkan ular itu darinya. Nabi Musa menghulurkan tangannya ke ular itu lalu ular itu kembali menjadi tongkat yang ada di tangannya sebagaimana semula. Setelah peristiwa itu, keheningan menyeliputi istana Fir'aun. Nabi Musa kembali menunjukkan kepada orang-orang yang berdiri di sekitarnya, mukjizatnya yang kedua. Musa memasukkan tangannya di sakunya lalu mengeluarkannya. Tiba-tiba tangan itu menjadi putih seperti bulan; tangan itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang memenuhi penjuru istana. Akhirnya, semua orang yang hadir di situ merasakan kekaguman yang luar biasa sedangkan Fir'aun wajahnya tampak menghijau kerana saking takutnya.

Allah s.w.t berfirman:

"Maka Musa melemparkan tongkatnya, yang tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular yang nyata. Dan ia menarik tangannya (dari dalam bajunya), maka tiba-tiba tangan itu jadi putih (bersinar) bagi orang- orang yang melihatnya." (QS. asy-Syu'ara': 32-33)

Keheningan semakin menyelimuti istana Fir'aun. Pengaruh dua mukjizat yang dibawa oleh Nabi Musa tertanam pada jiwa orang-orang yang hadir di situ. Pertama-tama mereka merasakan ketakutan dalam diri mereka kemudian Nabi Musa mengembalikan tangannya ke sakunya lalu tangannya kembali seperti semula.

Fir'aun berkata: "Sekarang, pergilah kalian berdua. Nanti kita akan lanjutkan perbincangan kita." Musa memalingkan wajahnya dan keluar dari istana. Fir'aun tampak terpukul atas peristiwa itu. Fikirannya mulai berputar-putar. Ia membayangkan apa yang terjadi di istananya dan di wilayah kekuasaannya seandainya berita tentang dua mukjizat itu tersebar di tengah-tengah manusia, lalu manusia mulai membicarakan tentang Musa dan Harun. Fir'aun mengeluarkan perintahnya agar orang- orang yang melihat peristiwa itu tidak membuka hal itu kepada masyarakat umum, tetapi para pembantu istana dan sebahagian dari Bani Israil menyaksikan dua peristiwa itu. Akhirnya, mulailah terjadi perbincangan di tengah-tengah masyarakat ramai tentang dua mukjizat itu. Fir'aun benar-benar terdiam ketika menghadapi dua mukjizat yang dibawa oleh Nabi Musa. Ketika Musa keluar dari istana Fir'aun yang sebelumnya merasa takut dan gementar, kini menjadi marah. Ia meluapkan kemarahan itu kepada menterinya dan para pembantunya. Tiba-tiba ia bersikap kasar kepada mereka tanpa sebab yang diketahui. Fir'aun memerintahkan mereka untuk keluar dari ruangannya dan meningggalkan dirinya sendirian.

Fir'aun berusaha untuk menghadapi masalah itu dengan lebih tenang. Fir'aun meminum beberapa gelas dari minuman keras tetapi rasa marahnya belum hilang juga. Kemudian ia mengeluarkan perintah untuk mengumpulkan orang-orang dekatnya dan semua para menteri di istana serta para pemimpin di Mesir. Fir'aun mengeluarkan perintahnya kepada Haman salah satu ketua para menterinya untuk mengepalai pertemuan tersebut. Kemudian para pembesar dari kaum Fir'aun berkumpul. Fir'aun memasuki ruang pertemuan dan wajahnya tampak emosi. Jelas sekali Fir'aun tidak mahu menerima dengan mudah adanya tuhan lain yang disembah orang-orang Mesir selain dirinya. Fir'aun cukup berbahagia ketika ia menguasai Mesir dari memerintah dengan semahunya. Tiba-tiba, ia dikejutkan dengan kedatangan Musa yang ingin menghancurkan apa saja yang telah dibangunnya. Musa mengatakan pada dirinya bahawa di sana ada Tuhan yang Esa yang tiada Tuhan lain selain-Nya di alam semesta. Ini bererti bahawa Fir'aun adalah seorang pembohong. Pemikiran ini menghantui kepala Fir'aun sehingga Fir'aun menoleh kepada ketua para menterinya yaitu Haman akhirnya pertemuan bersejarah itu diadakan.

Tidak ada seorang pun yang berani membuka mulutnya. Fir'aun membuka pertemuan itu dengan secara tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan kepada Haman: "Apakah aku seseorang pembohong wahai Haman?" Haman menunduk dan bertanya: "Siapa yang berani menentang Fir'aun?" Fir'aun berkata dengan marah: "Musa." Bukankah ia mengatakan bahawa ada tuhan lain di langit." Dengan mantap Haman menjawab: "Sungguh wahai tuanku, Musa berbohong." Fir'aun berkata dalam keadaan memutar wajahnya ke arah yang lain: "Aku mengetahui bahawa ia berbohong." Kemudian Fir'aun kembali menoleh ke Haman:

"Dan berkatalah Fir'aun: 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu- pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.'" (QS. al-Mu'min: 36-38)

Fir'aun mengeluarkan perintah untuk membangun suatu bangunan yang kukuh dan tinggi di mana ketinggiannya mampu mencapai langit. Perintah Fir'aun itu berdasarkan peradaban Mesir yang lagi maju di mana mereka cenderung membangun bangunan yang spektakuler. Namun Fir'aun lupa pada aturan-aturan teknik pembangunan. Meskipun demikian, Haman bersikap munafik, padahal ia mengetahui kemustahilan membangun sesuatu bangunan semegah dan setinggi itu. Haman berkata: "Saya ingin melaksanakan perintah untuk mendirikan bangunan itu sesegera mungkin, tetapi wahai tuanku dan izinkanlah aku untuk pertama kalinva aku menentang perintahmu. Sungguh engkau tidak akan mendapati sesuatu pun di langit. Tidak ada di sana Tuhan selain dirimu." Fir'aun mendengar penolakan ketua para menterinya itu dengan sangat puas, seakan-akan ia mendengarkan suatu hakikat yang ditetapkan. Kemudian dalam perkumpulan yang terkenal itu, Fir'aun melontarkan kata-katanya yang bersejarah:

"Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku." (QS. al-Qashash: 38)

Semua yang hadir di tempat itu menundukkan kepala tanda setuju. Di antara mereka terdapat dua orang atau tiga orang yang masih memiliki akal sehat. Ketiga orang itu mengetahui bahawa sebenarnya Fir'aun adalah seorang pembohong. Meskipun demikian, mereka membiarakan kebohongan itu dan memilih apa yang disetujui oleh Fir'aun. Tentu persetujuan ini berakibat pada masyarakat Mesir yang harus membayar mahal hasil dari persetujuan itu. Para tentera Mesir, para pembesar istana, dan para dukun tunduk kepada kegilaan Fir'aun. Fir'aun berkata dengan maksud bertanya kepada para penasihatnya: "Apa yang kalian katakan tentang Musa?" Haman berkata: "Ia adalah seorang yang pembohong."

Salah seorang menteri yang lain berkata: "Saya kira ia adalah seorang yang gila." Sementara itu salah seorang dukun berkata: " - Tampaknya ia khuatir mereka akan mencurigainya jika ia tidak mengatakan sesuatu pun kepada mereka - saya kira ia terkena kegilaan." Fir'aun memutus pembicaraan mereka dengan mengatakan: "Sungguh kalian menggambarkan Musa macam-macam, namun kalian belum menjawab pertanyaanku. Apa sebenarnya maunya Musa? Apa sebenarnya persekongkolan yang disembunyikannya." Para penasihat terdiam kerana rasa takut dan sebagai bentuk kemunafikan terhadap Fir'aun. Mereka hanya menunggu Fir'aun mengucapkan kalimat-kalimat tertentu lalu mereka menirukannya dengan mulut-mulut mereka layaknya burung beo. Setelah keheningan menyelimuti ruangan itu, Fir'aun berkata: "Aku kira bahawa Musa adalah salah satu tukang sihir yang hebat. Ia ingin mengeluarkan kalian dari negeri kalian dengan sihirnya. Lalu persekongkolan apa yang kalian siapkan?"

Adalah hal yang maklum di rejim kekuasaan mutlak bahawa perkumpulan yang dihadiri oleh para pembesar dan para menteri untuk mengeluarkan pendapat sesama mereka bererti hanya sekadar untuk mengulang-ulang dan menerima keputusan mutlak dari penguasa. Para penasihat berkata - setelah Fir'aun memberi mereka kesempatan untuk mengutarakan pendapat: "Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Fir'aun. Musa adalah seorang tukang sihir. Kalau begitu, masalahnya telah selesai. Kita akan mengembalikan Musa dan saudaranya, dan kita akan menyebarkan perintah Fir'aun di Mesir untuk menghadirkan tukang sihir. Jika para tukang sihir telah datang dan berdiri di hadapan Musa, maka mereka akan dapat membuktikan bahawa Musa memang tukang sihir dan mereka akan mampu mengalahkannya. Dengan cara demikian, kita dapat memperdayanya di hadapan orang-orang Mesir dan anak-anak Bani Israil." Perundingan bersejarah itu sepakat untuk melaksanakan hal itu. Sepuluh orang dari pembantu Fir'aun keluar dari istana, Fir'aun dengan menunggangi kenderaan mereka dan mereka segera berpencar di seluruh penjuru Mesir. Kemudian diumumkan pada hari kedua di pasar-pasar Mesir bahawa seluruh jago-jago sihir hendaklah menuju ke istana Fir'aun untuk mendengarkan suatu perintah atau suatu urusan yang penting.

Fir'aun memanggil Nabi Musa dan berusaha mengancamnya dan menakut- nakutkan tetapi Nabi Musa tampak tenang. Fir'aun berkata kepada Nabi Musa: "Sesungguhnya engkau seorang tukang sihir, dan aku menetapkan untuk menyingkap kedokmu di hadapan semua orang. Tidak lama lagi para tukang sihir akan datang." Nabi Musa bertanya: "Kapan aku akan bertemu dengan tukang sihir itu?" Fir'aun berkata: "Di sana terdapat suatu pertemuan atau acara yang sebentar lagi akan dimulai yang dihadiri oleh banyak orang. Yaitu hari di mana angin bertiup dengan sepoi-sepoi; hari di mana bumi berhias diri menyambut kedatangan musim semi. Sungguh itu suatu pertemuan yang menakjubkan dan engkau akan dikalahkan. Sekarang aku beri kesempatan kamu untuk mencabut dakwahmu. Aku memberikan kesempatan yang terakhir bagimu untuk menyelamatkan kehormatanmu."

Musa berkata dengan tidak memperhatikan perkataan Fir'aun yang terakhir: "Kami sepakat atas pertemuan itu. Kami akan hadir di hari itu di mana manusia akan berkumpul di pagi hari." Fir'aun bertanya: "Kapan engkau akan datang?" Musa berkata: "Insya-Allah aku akan hadir di waktu fajar di permulaan siang."

Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah perlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda- tanda kekuasaan Kami semuanya, maka ia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran). Berkata Fir'aun: 'Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa! Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).' Berkata Musa: "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalah naik.'" (QS. Thaha: 56-59)

Nabi Musa pergi dalam keadaaan tenang. Kemudian para utusan tukang sihir datang ke istana Fir'aun. Ketika semua berkumpul, Fir'aun memerintahkan agar mereka semua menemuinya. Ketika masuk menemui Fir'aun, para tukang sihir sujud kepadanya. Fir'aun memerintahkan mereka untuk berdiri, kemudian Fir'aun mulai berjalan-jalan di antara mereka sambil mengamati wajah mereka dan pakaian mereka. Fir'aun tampak terdiam memikirkan sesuatu dan tiba-tiba ia berdiri dan berkata: "Wahai para tukang sihir, kami sekarang menghadapi masalah yang kecil dan kami telah memerintahkan agar kalian dihadirkan untuk memecahkan masalah itu." Para tukang sihir itu menundukkan kepalanya dan mereka mendengarkan dengan hikmat. Fir'aun kembali berkata: "Salah seorang lelaki datang kepada kami dan ia mengaku utusan Allah s.w.t; seorang lelaki yang bernama Musa dan bersama saudaranya, Harun. Musa ini adalah tukang sihir yang mahir, lebih tangkas dan lebih hebat dari Harun. Oleh kerana itu, kalian harus mengalahkannya dengan kekalahan yang teruk sehingga ia tidak mampu lagi mengangkat kepalanya kerana rasa malu." Para tukang sihir tetap menundukkan kepalanya dan mereka terdiam. Fir'aun berkata: "Mengapa seseorang di antara kalian tidak bertanya kepadaku tentang sihirnya Musa." Salah seorang tukang sihir dengan tenang berkata: "Kami menunggu tuan yang agung menceritakannya kepada kami. Kami tidak ingin memutus pembicaraanmu wahai tuan."

Dengan nada marah, Fir'aun berkata: "Musa melemparkan tongkatnya dan tiba-tiba tongkatnya itu menjadi ular yang sangat besar lalu ia mencabut tangannya dan tiba-tiba tangannya menjadi putih yang menakjubkan orang-orang yang melihatnya." Tampak senyum manis menghiasi wajah- wajah para tukang sihir dan salah seorang mereka berkata: "Hendaklah hati Fir'aun tenang. Ini adalah permainan kuno; permainan tongkat yang berubah menjadi ular. Sesungguhnya itu hanya sekadar imaginasi yang menipu orang-orang yang melihatnya, yang seakan-akan ia bergerak padahal ia tetap di tempatnya."

Fir'aun berkata: "Aku tidak ingin untuk memasuki perdebatan sekitar masalah pembuatan sihir. Yang aku inginkan agar kalian mengalahkan Musa. Kami telah sepakat untuk bertemu pada hari ketika musim semi akan tiba. Masyarakat Mesir semuanya akan berkumpul. Mereka akan menyaksikan kalian saat kalian mengalahkannya. Oleh kerana itu, kalian harus dapat mengalahkannya."

Selesailah perkataan Fir'aun. Ia menunggu para tukang sihir meninggalkannya tapi mereka masih berdiri. Salah seorang mereka bertanya: "Mengapa tuan kita Fir'aun tidak berbicara kepada kita tentang urusan yang lebih penting seandainya kita dapat mengalahkan Musa?" Dengan kehairanan Fir'aun bertanya: "Apa sesuatu yang lebih penting itu?" Salah seorang tukang sihir berkata: "Tentu kami minta upah jika kami menang." Dengan tertawa, Fir'aun berkata: "Jangan khuatir, aku akan memuaskan kalian. Kalian akan menjadi orang-orang yang dekat. Kami akan mengadakan pekerjaan-pekerjaan baru di istana bagi para tukang sihir. Kalian jangan khuatir. Tenanglah kerana kalian akan menerima upah yang layak."

Fir'aun tertawa melihat kepercayaan para tukang sihir kepada diri mereka, kemudian ia memerintahkan agar mereka meninggalkan tempatnya. Lalu ia sendiri menuju ke meja makan siang. Fir'aun duduk sambil makan. Ia berkata sambil menyantap paha kambing yang besar: "Semenjak Musa datang selera makanku terganggu. Namun sekarang, kehancuran Musa sudah dekat."

Allah s.w.t berfirman:

"Dan Musa berkata: 'Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan alam semesta, wajib atasku tidak mengatakannya sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.' Fir'aun menjawab: 'Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.' Dan dia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. Pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata: 'Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu.' (Fir'aun berkata): 'Maka apakah yang kamu anjurkan?' Pemuka-pemuka itu menjawab: 'Beritahulah ia dan saudara-saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai.' Dan beberapa ahli sihir telah datang kepada Fir'aun mengatakan: '(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang Fir'aun menjawab: 'Ya dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).'" (QS. al-A'raf: 104-114)

Kemudian datanglah hari yang dijanjikan. Orang-orang berbondong- bondong keluar dari rumah. Mereka membicarakan tentang pertemuan antar Nabi Musa dan Fir'aun. Mereka menuju ke tempat perayaan sejak pagi hari. Tidak ada seorang pun di Mesir yang tidak mengetahui tentang peristiwa itu. Orang-orang begitu gembira ketika para tukang sihir itu datang sebagaimana mereka juga gembira ketika melihat Fir'aun datang, namun keheningan menyelimuti tempat itu ketika Nabi Musa dan Nabi Harun datang. Tempat perayaan itu diadakan di tempat terbuka yang hanya ditutupi oleh payung Fir'aun yang melindungi kepalanya dari terik matahari. Fir'aun berdiri di tengah-tengah tenteranya. Ia memakai emas dan permata. Sementara itu, Nabi Musa berdiri dengan menundukkan kepalanya dalam keadaan mengingat Allah s.w.t.

Keadaan saat itu benar-benar hening. Kemudian para tukang sihir maju menemui Musa. Mereka berkata kepada Musa: "Apakah engkau yang pertama kali melempar atau kami yang pertama kali melempar." Musa berkata: "Kalianlah yang pertama kali melempar." Para tukang sihir berkata: "Demi kemuliaan Fir'aun, sesungguhnya kami akan menang." Musa berkata: "Celaka kalian, janganlah kalian membuat dusta kepada Allah s.w.t nescaya Dia akan mendatangkan seksa bagi kalian." Sebahagian ahli hakikat berkata: "Nabi Musa menoleh dan kemudian ia melihat Jibril di sebelah kanannya." Jibril berkata kepadanya: "Wahai Musa, hendaklah kamu bersikap sopan kepada wali-wali Allah s.w.t." Musa berkata dalam dirinva: "Mereka para tukang sihir itu datang dengan maksud menyimpangkan agama Fir'aun." Jibril kembali berkata: "Bersikap lembutlah terhadap wali-wali Allah s.w.t. Mereka saat ini sampai salat Ashar berada di sisimu dan setelah salat Ashar mereka akan berada di syurga."

Para tukang sihir itu mulai melemparkan tongkat-tongkat mereka dan tali-tali mereka. Tiba-tiba arena itu dipenuhi dengan ular-ular. Mereka menipu dan menyihir pandangan orang-orang yang melihatnya. Orang- orang yang melihat sihir itu merasa takut kerana mereka mendatangkan sihir yang besar. Orang-orang merasa gembira dan Fir'aun pun menampakkan senyumnya. Ia berkata dalam dirinya: Sungguh hari ini adalah hari pembalasan atas Musa. Mukjizatnya berupa tongkat yang ada di tangannya yang dapat berubah menjadi ular, sekarang Fir'aun menghadirkan kepadanya seluruh tukang sihir di mana tongkat-tongkat dan tali-tali yang ada di tangan mereka pun berubah menjadi ular. Senyuman Fir'aun pun semakin melebar.

Nabi Musa memperhatikan tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka. Ia merasa takut. Nabi Musa ingat apa yang dikatakan oleh Jibril dan ia mulai merasakan ketakutan. Bagaimana mungkin para tukang sihir itu akan masuk syurga dan mereka akan menjadi wali-wali Allah s.w.t? Nabi Musa merasakan semua itu, namun tiada seorang pun yang mengetahui hakikat pemikiran yang terlintas dalam benak Nabi Musa saat ia berdiri dengan bajunya yang sederhana bersama saudaranya di hadapan kumpulan manusia yang banyak dari para pengawal dan tentera Fir'aun. Ketika Musa merasakan ketakutan tersebut, maka cahaya yang terang menembus dalam dirinya dan Allah s.w.t berkata kepadanya:

"Kami berkata: 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, nescaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang." (QS.Thaha: 68-69)

Musa merasa senang ketika mendengar Allah s.w.t menenangkannya. Nabi Musa dapat mengendalikan dirinya, kemudian beliau mengangkat tongkatnya dan melemparkannya. Sebelum tongkat itu menyentuh tanah, tiba-tiba terjadilah suatu mukjizat. Orang-orang dan para tukang sihir Fir'aun bahkan Fir'aun sendiri menyaksikan sesuatu yang belum pernah mereka saksikan di dunia. Biasanya seorang tukang sihir dapat menipu pandangan manusia dan memperdaya mereka seolah-olah ada ular yang bergerak padahal ia tetap di tempatnya. Tetapi apa yang terjadi saat itu adalah sesuatu yang benar-benar berbeza. Belum sampai tongkat Nabi Musa menyentuh tanah sehingga ia berubah menjadi ular yang besar dan sangat gesit.

Tiba-tiba ular ini menuju ke tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka yang bergerak dan ia mulai memakannya satu persatu. Tongkat Nabi Musa memakan tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka dengan cepat. Belum berselang beberapa minit sehingga arena itu kosong dari tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka. Tongkat-tongkat dan tali-tali tukang sihir tersembunyi dalam perut tongkat Nabi Musa. Dan bergeraklah ular yang besar menuju Nabi Musa lalu beliau menghulurkan tangannya dan tiba-tiba ular itu berubah menjadi tongkat. Para tukang sihir mengetahui bahawa mereka bukan di hadapan seorang penyihir. Mereka sebenamya adalah tokoh-tokoh sihir dan para pakar dalam hal itu di zaman mereka, tetapi apa yang mereka saksikan saat ini bukan termasuk sihir. Itu adalah mukjizat dari Allah s.w.t.

Akhirnya, para tukang sihir itu sujud di atas tanah. Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan Pengatur alam semesta. Tuhan yang diyakini oleh Musa dan Harun." Orang-orang Mesir dan anak-anak Bani Israil menyaksikan mukjizat yang mengagumkan ini. Mereka melihat bagaimana tukang sihir-tukang sihir Fir'aun sujud kepada Musa dan Harun. Fir'aun menyaksikan bahawa bola itu kini berada di tangan Musa dan Harun. Lalu ia bangkit dari duduknya dan berteriak di depan tukang sihir: "Bagaimana kalian beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepada kalian." Para tukang sihir berkata: "Untuk beriman tidak perlu izin." Fir'aun berkata: "Kalau begitu ini adalah persekongkolan yang jelas. Sesungguhnya Musa adalah guru kalian yang mengajari kalian sihir. Sungguh tangan-tangan kalian dan kaki-kaki kalian akan diputus dan kalian akan disalib di pohon kurma. Sungguh ini adalah persekongkolan yang jelas."

Para tukang sihir berkata: "Lakukan apa saja yang engkau inginkan, hai Fir'aun. Kami tidak memilihmu dan kami tidak mengutamakanmu atas mukjizat Ilahi ini. Sesungguhnya kami beriman kepada Tuhan kami agar Dia mengampuni kami dan menghapus kesalahan-kesalahan kami. Apa yang engkau berikan terhadap kami adalah sesuatu yang sedikit, dan apa yang ada di sisi Allah s.w.t lebih baik dan lebih abadi. Seandainya engkau menyeksa kami dan membunuh kami dan menyalib kami, maka engkau hanya dapat menyeksa kami di kehidupan dunia ini. Tentu kehidupan dunia tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Kami hanya ingin mendapatkan pengampunan dari Allah s.w.t dan memasuki syurga." Kemudian Fir'aun mengeluarkan perintahnya untuk menyalib semua tukang sihir. Ketika menyaksikan peristiwa tersebut, orang-orang menjadi ketakutan. Kemudian Nabi Musa dan Nabi Harun meninggalkan tempat itu dan Fir'aun kembali ke istananya. Allah s.w.t menceritakan dalam surah al-A'raf apa yang dialami tukang sihir dan Musa dalam firman-Nya:

"Ahli-ahli sihir berkata: 'Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?' Musa menjawab: 'Lemparkanlah (lebih dahulu)! Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan). Dan Kami mewahyukan kepada Musa: 'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka sekoyong-koyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. kerana itu nyatalah yang benar dan gagallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata: 'Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (Yaitu) Tuhan Musa dan Harun. Fir'aun berkata: 'Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?' Sesungguhnya (perbuatan) ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya darinya; maka kelah kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini); sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh- sungguh aku akan menyalib kamu semuanya. Ahli-ahli sihir itu menjawab: 'Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. Dan kamu tidak membalas dendam dengan menyeksa kami, melainkan kerana kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.' (Mereka berdoa): 'Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).'" (QS. al-A"raf: 115-126)

Para tukang sihir Mesir berubah menjadi Muslim dan mempercayai ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa. Mereka beriman kepada Allah s.w.t. Akhirnya, mereka dinaikkan di batang-batang pohon kurma untuk disalib dan dipotong tangan-tangan mereka dan kaki-kaki mereka. Mereka meminta kepada Allah s.w.t agar mereka dimatikan sebagai orang-orang Muslim.

Kemudian Musa memahami apa yang diucapkan oleh Jibril as: Mereka sejak saat ini sampai salat Ashar di sisimu dan setelahnya mereka berada di syurga. Ketika memasuki waktu Ashar tubuh para tukang sihir itu berlumuran darah. Mereka disalib oleh para tentera Fir'aun. Fir'aun menghadapi masalah baru. Fir'aun mengadakan serangkaian pertemuan- pertemuan penting di istananya. Fir'aun memanggil penanggung jawab tentera dan pasukan. Fir'aun juga memanggil apa saat ini dinamakan dengan kepala intelejen. Bahkan Fir'aun juga memanggil para menteri dan para penjabat serta tukang-tukang dukun. Jadi, Fir'aun memanggil semua yang mempunyai kekuatan untuk mengubah jarum sejarah.

Fir'aun bertanya kepada kepala intelejennya: "Apa yang dikatakan orang- orang?" Ia berkata: "Anak buahku telah kusebar di antara khalayak dan mereka mendapat informasi bahawa Musa dapat memenangkan perlumbaan itu kerana ia berhasil membikin suatu konspirasi bersama para tukang sihir." Kemudian Fir'aun bertanya kepada salah seorang ketua keamanan: "Apa yang terjadi pada jasad-jasad tukang sihir?" Ia berkata: "Anak buahku menggantunginya di tempat umum dan di pasar-pasar untuk menakuti manusia dan kami sebarkan berita bahawa Fir'aun akan membunuh setiap orang yang memiliki persekongkolan." Lalu Fir'aun bertanya kepada komandan pasukan: "Apa yang dikatakan oleh pasukan?" Ia menjawab: "Mereka menginginkan agar mendapatkan perintah untuk bergerak di tempat mana pun yang ditentukan oleh Fir'aun." Fir'aun berkata: "Belum datang giliran pasukan maka akan datang gilirannya."

Fir'aun kemudian terdiam. Lalu Haman salah seorang ketua para menteri bergerak dan mengangkat tangannya dan ia mulai meminta untuk berbicara, dan Fir'aun mengizinkan kepadanya. Haman berkata: "Apakah kita akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerosakan di muka bumi dan mereka mengalihkan ibadah kepada selainmu?" Fir'aun berkata: "Sungguh engkau dapat membaca fikiranku wahai Haman. Kita akan membunuh anak-anak mereka dan akan mempermalukan perempuan-perempuan mereka. Aku memiliki kekuasaan di atas mereka."

Pasukan Fir'aun pergi untuk membunuh anak-anak laki dari Bani Israil dan menodai kehormatan wanita-wanita mereka, serta memenjarakan siapa pun yang menentang. Musa berdiri menyaksikan apa yang terjadi tanpa mampu turut campur dan tanpa mampu mencegahnya. Yang beliau lakukan hanya memerintahkan kaumnya untuk bersabar. Beliau memerintahkan mereka untuk meminta pertolongan kepada Allah s.w.t dan bersabar atas segala ujian. Beliau menjadikan para tukang sihir sebagai teladan bagi mereka di mana tukang sihir Mesir itu mampu menahan derita di jalan Allah s.w.t tanpa berkeluh kesah. Nabi Musa memberitahu mereka bahawa tentera-tentera Fir'aun berbuat aniaya di muka bumi yang seakan-akan bumi adalah milik khusus mereka. Sebenarnya Allah s.w.t akan mewariskan bumi kepada orang-orang yang bertakwa.

Kemudian intimidasi yang dilakukan Fir'aun sangat mempengaruhi jiwa Bani Israil sehingga mereka merasakan kekalahan dan pesimis. Mereka berkata kepada Musa: "Wahai Musa kami sangat menderita sebelum kedatanganmu dan sesudah kedatanganmu, anak-anak dibunuh sebelum kedatanganmu dan sesudah kedatanganmu." Seakan-akan mereka berkata kepada Musa bahawa keberadaanmu tidak memberikan manfaat sedikit pun. Kami tetap merasakan kesendirian. Musa menolak ke*****an mereka ini. Ia memberitahu mereka bahawa Allah s.w.t akan menghancurkan musuh-musuh mereka, kemudian Allah s.w.t akan menjadikan bumi dikuasai oleh mereka. Tetapi lagi-lagi mereka tetap mengadu kepada Musa dan tampak bahawa mereka tidak kuat lagi menahan penderitaan yang mereka alami.

Musa menghadapi keadaan yang sulit. Beliau berusaha melawan kemarahan Fir'aun dan konspirasinya. Pada saat yang sama, Nabi Musa mendengar keluhan kaumnya. Di tengah-tengah keadaan yang demikian, Qarun bergerak. Qarun adalah seorang putera Bani Israil. Ia berasal dari kaum Musa tetapi ia justru menentang Musa. Kekayaannya dan status sosialnya menjadikannya lebih dekat kepada rejim Fir'aun. Allah s.w.t menceritakan kepada kita tentang kekayaan Qarun. Allah s.w.t berkata kepada kita bahawa kunci-kunci kamar yang menyimpan kekayaannya sangat sulit dipikul oleh sekelompok laki-laki yang kuat sekalipun. Seandainya kita ingin mengetahui kunci-kunci kekayaan ini yang sedemikian rupa, maka kita dapat membayangkan kekayaan itu sendiri. Qarun memiliki berbagai macam kekayaan dan dalam jumlah yang banyak. Bahkan saking kayanya, pelana kudanya terbuat dari kulit yang dihiasi oleh perak dan emas.

Jika Qarun keluar dengan membawa pesona dunia yang diikuti oleh rombongannya dan disinari oleh matahari, maka emas-emas yang dibawanya tampak menyala di bawah sengatan matahari. Pemandangan demikian sangat mengagumkan bagi orang-orang yang mencintai dunia. Kekayaan yang dimiliki Qarun membuatnya bersikap angkuh sehingga tidak mudah baginya untuk menerima nasihat. Tampak bahawa kekayaannya dan kesombongannya membuatnya merasa bergembira, sehingga tertawanya Qarun menjadi tertawa yang paling terkenal di kalangan Bani Israil, dan kebenarannya menyaingi kebenaran Fir'aun dan Haman. Kedua orang itu (Fir'aun dan Haman) menguasai Mesir secara keseluruhan, sedangkan Qarun hanya mengusai sebahagian dari Mesir.

Orang-orang yang berakal dari kaumnya menasihatinya agar ia berfikir sejenak tentang akhiratnya, dan barangkali mereka berkata kepadanya: "Sesungguhnya tak seorang pun menasihatimu untuk meninggalkan dunia secara keseluruhan dan menempuh jalan orang-orang yang zuhud tetapi mereka menasihatimu agar engkau tidak melupakan bahagianmu dari dunia. Sebagaimana mereka menasihatimu agar jangan sampai engkau melupakan bahagianmu dari akhirat."

Qarun hanya merasa puas dengan bahagiannya dari dunia. Imaginasi akalnya mengatakan bahawa kekayaan ini datang kerana usaha kerasnya sebagaimana ia menduga kekayaannya adalah tanda bahawa Allah mencintainya. Bahkan ia mengira bahawa ia lebih utama dan lebih mulia dari Musa. Musa adalah seorang yang fakir sedangkan Qarun adalah seorang yang kaya, maka bagaimana seorang yang fakir yang tidak memakai satu pun gelang dari emas dapat memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Allah dibandingkan dengan seorang yang kaya yang mampu membuat pelana kudanya dari emas. Demikianlah pandangan Qarun dan Fir'aun terhadap Musa.

Allah s.w.t berfirman:

"Bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?" (QS. az-Zukhruf: 52)

Demikianlah pernyataan Fir'aun kepada Musa. Terdapat kesesuaian antara pendapat Fir'aun dan Qarun terhadap Musa. Sesuai dengan kedudukan sosial dan kekayaannya, Qarun menjadi sahabat Fir'aun dan mendukung rejim kekuasaannya. Bukan hanya Qarun, Fir'aun dan Haman yang menjadi tawanan khayalan ini, bahkan kaum Fir'aun pun memiliki pendapat yang sama. Yakni, bagi orang-orang Mesir, Musa hanya sekadar seorang tukang sihir yang mengalahkan jaguh-jaguh sihir lainnya. Namun ini tidak bererti bahawa masyarakat Mesir tidak memiliki keutamaan sedikit pun. Di tengah-tengah masyarakat Mesir masih terdapat orang yang beriman kepada Nabi Musa namun ia menyembunyikan keimanannya kerana khuatir terhadap kejahatan Fir'aun.

Di sana juga ada orang yang bertanya-tanya dengan ke*****an: Jika Allah s.w.t memang mencintai Musa lalu mengapa ia dijadikan seorang yang fakir. Qarun menjadi fitnah atau cubaan di tengah-tengah kaumnya dan juga bagi orang-orang Mesir. Ketika Qarun keluar dengan membawa pesona dunianya maka orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata:

"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: 'Moga- moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. al-Qashash: 79)

Sedangkan orang-orang yang berakal sehat - biarpun jumlah mereka sedikit - mereka memandang bahawa kekayaan Qarun yang begitu luar biasa tidak bererti sedikit pun di sisi Allah s.w.t. Allah s.w.t tidak memandang kekayaan yang banyak jika jiwa manusia menjadi gelap kerananya. Di tengah-tengah keadaan yang demikian sulit, Nabi Musa menghadapi Qarun yang menentangnya. Musa sebagai seorang Nabi mesti menunjukkan sikap yang baik dan kesucian yang agung. Tampaknya Qarun sepakat dengan Fir'aun untuk berusaha menjatuhkan Musa di depan pengikutnya dengan tuduhan yang berlawanan dengan kesuciannya.

Akhirnya, pada suatu hari Nabi Musa dikejutkan dengan suatu tuduhan di mana ada seorang wanita yang menuduhnya berbuat tidak senonoh kepadanya dan mengatakan bahawa Musa pernah tidur bersamanya kelmarin. Kami kira Nabi Musa sangat kaget dengan tuduhan ini dan beliau tidak mengetahui apa yang dikatakannya atau bagaimana beliau membela dirinya menghadapi tuduhan seperti itu. Kemungkinan besar beliau salat dan menghadap Allah s.w.t. Kemudian beliau menemui wanita itu dan bertanya, mengapa ia menuduhkan padanya sesuatu yang tidak benar. Tiba-tiba wanita itu menangis dan meminta ampun kepada Musa. Ia memberitahu Musa bahawa Qarun memberinya wang sebagai imbalan atas fitnah yang ditebarkannya terhadap Musa. Mendengar itu, Musa mendoakan buruk buat Qarun. Kemudian Allah s.w.t berkehendak untuk mendatangkan mukjizat di saat yang tepat yang menjelaskan kepada manusia bahawa Dia Maha kuasa, Maha kuat, dan Maha Perkasa, dan bahawa harta hanya sebahagian ujian dan fitnah, bukan sebagai suatu keutamaan yang dengannya manusia dapat dinilai.

Mukjizat yang Allah s.w.t turunkan adalah membinasakan Qarun dan menenggelamkan rumahnya dan hartanya. Qarun keluar untuk menemui kaumnya dengan menampakkan pesona dunianya. Lalu bumi terbelah di bawah kakinya dan Qarun pun tersungkur di bumi. Kami tidak mengetahui apakah itu gempa yang pertama kali terjadi atau itu adalah gempa yang Allah s.w.t perintahkan kepada bumi untuk terjadi. Yang kita ketahui adalah bahawa bumi terbelah dan ia menelan Qarun. Bumi menenggelamkan istana-istana Qarun, hewan-hewan ternaknya, emasnya, peraknya dan semua kekayaannya serta orang dekatnya.

Sebahagian dongeng mengatakan bahawa itu terjadi di Fuyum, dan danau Qarun adalah yang dikenal orang-orang Mesir dengan nama ini. Ia adalah tempat yang dihuni oleh Qarun dan menjadi tempat istananya dan tempat menyimpan hartanya. Alhasil, Al-Quran al-Karim tidak menentukan tempat datangnya azab ini dan tidak juga menyebut kapan itu terjadi. Al-Quran hanya menceritakan apa yang terjadi. Tentu penentuan tempat dan waktu bukan sesuatu yang penting tetapi yang penting adalah pelajaran yang terjadi itu.

Allah s.w.t berfirman dalam surah al-Qhashash:

"Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: 'Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.' Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerosakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerosakan. Qarun berkata: 'Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, kerana ilmu yang ada padaku.' Dan apakah ia tidak mengetahui, bahawasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidakkah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: 'Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali orang- orang yang sabar.' Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang- orang (yang dapat) membela (dirinya). Dan jadilah orang-orang yang kelmarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu, berkata: "Aduhai benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan kurnia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah).' Negeri akhirat itu. Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerosakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. " (QS. al-Qashash: 76-83)

Orang-orang dahulu banyak membicarakan ilmu ini yang Qarun mengklaim bahawa ia diberi ilmu itu. Sebahagian mereka mengatakan bahawa itu adalah ilmu kimia yang dengannya Qarun mampu mengubah tembaga menjadi emas. Sebahagian lagi mereka mengatakan bahawa Qarun mengetahui ismullah al-A'zham (nama Allah yang agung) lalu ia menggunakannya untuk mengubah bahan-bahan itu menjadi emas. Tetapi orang-orang yang berakal dari kalangan orang-orang dahulu membantah hal itu. Menurut mereka, Qarun tidak mengetahui ismullah al-A'zham. Qarun adalah seorang munafik. Mereka juga tidak percaya bahawa Qarun dapat membuat racikan kimia.

Kami kira, ini semua adalah dongengan semata yang tidak layak untuk menjelaskan sebab-sebab kekayaannya. Menurut hemat kami, Qarun adalah seorang yang lalim di mana ia melakukan pekerjaan yang tidak sehat. Dan boleh jadi ia memanfaatkan persahabatan dengan Fir'aun untuk mendapatkan fasiliti-fasiliti dari Fir'aun. Dan kerana persahabatan itu, ia berani menentang Musa. Qarun melakukan kejahatan di sana-sini dan kerananya ia mengatakan bahawa harta yang diperolehnya adalah hasil dari kerja kerasnya dan ilmunya. Qarun telah membuat kebohongan dan kelaliman dan ia mendapatkan kekayaan dengan cara-cara yang tidak sehat.

Penyimpangan dari keimanan kepada Allah s.w.t meskipun sehujung rambut pada akhirnya menyeret manusia kepada sikap kesombongan. Manusia itu akan menentang kebenaran dan ia tidak mampu lagi mengikuti kebenaran sehingga pada gilirannya sesuatu yang bohong pun akan menjadi laksana sesuatu yang realistik dan tidak perlu lagi dipersoalkan. Belum lama Qarun mendapatkan seksa sehingga orang- orang mukmin yang mengikuti Nabi Musa merasakan kelapangan yang sebelumnya mereka merasa tertindas. Orang-orang Mesir dan anak-anak Israil menyaksikan mukjizat ini.

Akhirnya, pertentangan antara Fir'aun dan Nabi Musa mencapai puncaknya. Fir'aun meyakini bahawa Musa sangat mengancam kekuasaannya. Musa - sebagaimana nabi-nabi yang lain - membawa ajarannya dengan penuh kelembutan tetapi ketika ia berhadapan dengan puncak kejahatan dan sumber-sumber yang lalim maka ia tidak segan- segan untuk menghancurkannya. Nabi Musa menantang sumber kejahatan di zamannya, yaitu Fira'un. Kemudian Fir'aun melontarkan ide untuk membunuh Musa. Fir'aun mengira bahawa membunuh Musa adalah cara satu-satunya untuk menyelesaikan masalahnya:

"Dan berkata Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya): 'Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, kerana sesungguhnya aku khuatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerosakan di muka bumi.'" (QS. al-Mu'min: 26)

Kita perhatikan bahawa Fir'aun berusaha untuk mencegah orang-orang yang menuju kebenaran; Fir'aun berusaha memberhentikan tugas para nabi; ia berusaha menyesatkan manusia dengan mengatakan bahawa justru Musa yang ingin menyesatkan mereka; ia mengusulkan kepada para menterinya dan para pembesarnya untuk membiarkannya membunuh Musa. Tentu ia tidak membunuh Musa dengan tangannya sendiri tetapi ia hanya sekadar melontarkan fikiran untuk membunuhnya di depan mereka dan yang melaksanakan hal tersebut adalah para pejabat istana. Kami kira Haman sangat berperan dalam pelaksanaan ide ini. Kemudian terbentuklah kelompok orang-orang munafik yang mendukung ide Fir'aun ini.

Ide tersebut hampir segera dibenarkan kalau tidak ada seorang dari keluarga Fir'aun. Ia adalah seorang lelaki dari kalangan pejabat negara yang terpandang. Al-Quran tidak menyebutkan namanya kerana namanya tidak begitu penting dan begitu juga ia tidak menyebutkan sifatnya kerana sifatnya tidak begitu penting. Al-Quran hanya menceritakan keadaan lelaki ini yang menyembunyikan keimanannya. Ia berbicara di tengah-tengah perkumpulan yang di situ disampaikan ide untuk membunuh Musa. Kemudian ia menghentikan ide gila itu dan berusaha meruntuhkan ide itu. Ia berkata bahawa Musa hanya mengatakan bahawa Allah s.w.t adalah Tuhannya, lalu untuk mendukung penyataannya itu ia membekali dirinya dengan bukti-bukti yang jelas yang menunjukkan bahawa ia benar-benar seorang rasul. Kemudian ada dua kemungkinan dan tidak ada kemungkinan ketiga: pertama bahawa Musa adalah seorang pembohong, kedua ia seorang yang benar. Jika ia seorang pembohong maka kebohongannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri dan ia tidak melakukan sesuatu yang kerananya ia harus dibunuh. Namun jika ia benar lalu kita membunuhnya maka gerangan apa yang akan menjamin kita dari keselamatan terhadap azab yang dijanjikannya? Seorang mukmin yang menyembunyikan keimanannya itu berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya hari ini kita berada di tempat-tempat kekuatan sebagaimana yang dialami oleh Qarun di mana ia memiliki kekayaan dan kekuatan kemudian terjadilah apa yang terjadi padanya. Siapakah yang akan menyelamatkan kita dari azab Allah s.w.t ketika datang? Siapakah yang dapat menolong kita dari seksaan-Nya jika menimpa kita? Tindakan melampaui batas kita dan usaha kita untuk membohongkan kebenaran telah membuat kita rugi."

Perkataan lelaki mukmin itu memuaskan para hadirin. Orang lelaki itu adalah seseorang yang tidak begitu menampakkan loyalitinya kepada Fir'aun. Ia bukan dari kalangan pengikut Musa. Tampaknya ia berbicara dengan motivasi untuk mempertahankan kekuasaan Fir'aun, dan menurutnya tidak ada sesuatu yang dapat menjatuhkan kekuasaan Fir'aun seperti kebohongan dan tindakan yang melampaui batas dan membunuh jiwa-jiwa yang tidak berdosa.

Dari sinilah kata-kata lelaki mukmin itu memancarkan kekuatannya yang cukup mempengaruhi Fir'aun, para menterinya, dan anak buahnya. Meskipun ide Fir'aun untuk membunuh Musa digagalkan oleh lelaki mukmin itu, namun Fir'aun mengatakan kata-kata bersejarahnya yang kemudian menjadi contoh dari sikap orang-orang yang lalim:

"Fir'aun berkata: Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.'" (QS. al-Mu'min: 29)

Demikianlah pernyataan para penguasa yang lalim ketika mereka menghadapi masyarakat mereka. Aku tidak melihat pendapatku kecuali sesuai dengan apa yang aku pertimbangkan. Ini adalah pendapat kami yang khusus. Ia merupakan pendapat yang membimbing kalian menuju jalan petunjuk, sedangkan pendapat lainnya salah. Oleh kerana itu, kita harus tetap melawannya dan membinasakannya. Allah s.w.t menceritakan sikap demikian ini dalam surah Ghafir:

"Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata: 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki kerana dia menyatakan: 'Tuhanku ialah Allah,' padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar nescaya sebahagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Musa berkata): 'Hai kaumku, untukmu lah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita!' Fir'aun berkata: 'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa saja yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.'" (QS. al-Mu'min 28-29)

Perdebatan tersebut tidak berhenti pada batas ini. Fir'aun mengutarakan kata-katanya tetapi seorang mukmin itu tetap tidak puas dengannya, kemudian lelaki mukmin itu kembali berbicara:

"Dan orang yang beriman itu berkata: 'Hai kaumku, sesungguhnya aku khuatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak akan menghendaki berbuat kelaliman terhadap hamba-hamba-Nya. Hai kaumku, sesungguhnya aku khuatir terhadapmu akan seksaan hari panggil-memanggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan dirimu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, nescaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan- keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: 'Allah tidak akan mengirimkan seorang (rasul pun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang." (QS. al-Mu'min: 30-35)

Kita perhatikan dalam pembicaraan tersebut terdapat perbezaan dengan pembicaraan sebelumnya. Lelaki mukmin itu berusaha menguraikan pada pembicaraan akhirnya tentang bukti-bukti sejarah. Ia menyampaikan kepada Firaun dan kaumnya argumentasi-argumentasi yang cukup untuk menunjukkan kebenaran Musa. Ia memperingatkan mereka agar jangan sampai mengganggu Musa. Sebelum masa mereka, terdapat umat-umat yang menentang rasul-rasul yang dikirim oleh Allah s.w.t, lalu Allah s.w.t menghancurkan mereka. Mereka adalah kaum Nuh, kaum 'Ad, dan kaum Tsamud. Zaman mereka tidak terlalu jauh dengan zaman sekarang.

Sejarah Mesir menunjukkan bukti kebenaran ucapannya di mana Nabi Yusuf datang dengan membawa bukti yang jelas kemudian terdapat orang-orang yang merugikan dakwahnya lalu mereka beriman padanya setelah keselamatan hampir saja tercabut dari mereka. Lalu apa keanehan di balik pengutusan para rasul dari Allah s.w.t? Sejarah masa lalu harus menjadi bahan renungan. Bukankah kelompok minoriti orang- orang mukmin memperoleh kemenangan ketika mereka benar-benar beriman atas kelompok majoriti yang kafir? Bukankah Allah s.w.t telah menghancurkan orang- orang kafir? Allah s.w.t menenggelamkan mereka dengan taufan dan Allah s.w.t menghancurkan mereka dengan kilat atau Allah s.w.t menenggelamkan mereka dalam bumi. Apa yang kita tunggu sekarang dan dari mana kita tahu bahawa usaha kita membela Fir'aun mati-matian akan membawa keuntungan bagi kita semua?

Pembicaraan lelaki mukmin yang intelektual itu mengandung beberapa peringatan yang mengerikan. Tampaknya ia berhasil memuaskan para hadirin bahawa ide membunuh Musa adalah ide yang tidak aman. Atau dengan kata lain, itu adalah ide yang tidak menjamin keselamatan mereka. Oleh kerana itu, ide tersebut hendaklah ditinggalkan. Setelah itu, lelaki mukmin itu berusaha untuk menunjukkan kepada mereka kebenaran yang dibawa oleh Musa. Ia yang semula menggunakan bahasa isyarat, kini berusaha untuk menggunakan bahasa yang terang dan gamblang. Ia telah berani menampakkan kebenaran:

"Orang yang beriman itu berkata: 'Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki mahupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk syurga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.'" (QS. al-Mu'min: 38-40)

Akhirnya, keimanan lelaki mukmin itu pun tersingkap. Ia diketahui sebagai seorang mukmin yang tidak lagi menyembunyikan keimanannya. Pada akhir pembicaraannya, ia menegaskan:

"Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Mengapa) kamu menyeruku kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak aku ketahui padahal aku menyeru kamu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahawa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun baik di dunia mahupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan mengingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (QS. al-Mu'min: 41-44)

Lelaki mukmin itu mengakhiri pembicaraan dengan kata-kata yang berani ini. Kami kira, Allah s.w.t telah mengirim lelaki mukmin ini dari kalangan Fir'aun agar Fir'aun melupakan Musa. Konteks Al-Quran menyingkap bahawa lelaki ini merupakan salah seorang intelektual Mesir yang mengetahui sejarah dan mampu menganalisis serta memiliki kemampuan untuk menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain sehingga ia mengetahui sebab-sebab dan akhir dari suatu peristiwa.

Orang yang beriman itu mampu menggiring akal mereka menuju kebenaran. Fir'aun tersibukkan dengan lelaki mukmin ini hingga beberapa saat ia lupa untuk memikirkan Musa. Lelaki mukmin itu berasal dari keluarga Fir'aun. Ia adalah kerabat dekatnya dan salah seorang pejabat negaranya. Keimanannya terhadap kebenaran menjadikan istana Fir'aun terbagi menjadi dua kubu: kubu pro Musa dan kubu anti Musa. Ini bererti kemenangan yang besar bagi Musa. kerana itu, membunuh lelaki mukmin itu akan mengganggu atau menggoyangkan keberadaan cendekiawan Mesir di mana ia adalah salah seorang dari mereka.

Demikianlah, Fir'aun menghadapi masalah yang rasa-rasanya sulit atau mustahil untuk terpecahkan. Membunuh lelaki mukmin itu tidak akan memberikan dampak yang baik, begitu juga membiarkannya hidup juga tidak memberikan dampak yang baik. Akhirnya, mereka membikin suatu konspirasi untuk menyingkirkannya. Kemudian di sinilah bimbingan Allah s.w.t diturunkan:

"Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." (QS. al-Mu'min: 45)

Untuk beberapa saat, Fir'aun disibukkan dengan masalah baru ini, tetapi Fir'aun adalah Fir'aun. Ia tetap memakai busana kesombongannya; ia tetap menyeksa Bani Israil, menghina mereka dan menodai kehormatan wanita-wanita serta membunuh anak-anak. Akhirnya, tibalah waktunya bagi Allah s.w.t untuk bersikap keras kepada keluarga Fir'aun. Allah s.w.t menurunkan bencana kepada mereka dan menakut-nakuti mereka dengan azab sehingga mereka mengurungkan niat untuk menghancurkan Musa dan laki-laki mukmin itu, dan sebagai pembuktian atas kebenaran kenabian Musa. Allah s.w.t menurunkan tahun-tahun yang kering dan tandus kepada orang-orang Mesir di mana bumi tampak kering kontang dan sungai Nil pun mengering hingga buah-buahan jarang sekali ditemukan dan harga semakin mencekik leher. Akibatnya, kelaparan melanda di sana-sini. Dalam keadaan demikian, orang-orang Mesir menganggap bahawa kehidupan mereka terancam. Adalah hal yang maklum bahawa seksa yang seperti ini akan selalu menimpa manusia ketika mereka berpaling dari keimanan dan takwa.

Allah s.w.t berfirman:

"Jikalau sekitarnya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami seksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. al-A'raf: 96)

Hukum yang lama diperlakukan atas penduduk Mesir kerana dua sebab: pertama, sikap dingin mereka terhadap pembunuhan yang dilakukan Fir'aun kepada para tukang sihir, kedua, sikap dingin mereka terhadap kelaliman penguasa mereka. Aneh sekali ketika kaum Fir'aun mengembalikan masa paceklik ini dan musibah kelaparan ini pada suatu sebab yang sangat menghairankan. Mereka mengatakan bahawa apa yang menimpa mereka kerana kesialan yang dibawa oleh Musa. Kelaparan yang melanda mereka, kefakiran, dan kekurangan buah-buahan yang mereka rasakan saat ini adalah disebabkan oleh adanya Musa di tengah-tengah mereka.

Kemudian kefakiran mereka semakin meningkat dan mereka semakin menjauh dari kebenaran. Mereka meyakini bahawa sihir Musa adalah yang bertanggungjawab terhadap apa yang menimpa mereka pada musim paceklik ini. Mereka mengira dengan ke*****an mereka bahawa kekeringan yang melanda negeri mereka adalah sebagai alat atau kekuatan yang digunakan oleh Musa untuk menyihir mereka. Namun perlu diperhatikan bahawa pemikiran demikian tidak mewakili pemikiran umumnya masyarakat saat itu, tetapi pemikiran ini datang dan dihembuskan oleh kelompok-kelompok yang berkuasa. Akhirnya, Allah s.w.t menurunkan azab yang lebih keras kepada mereka. Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: 'Ini adalah kerana (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan neraka tidak mengetahuinya. Mereka berkata: 'Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu maka, kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.' Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. (QS. al-A'raf: 130-133)

Allah s.w.t mengirimkan berbagai macam azab dengan harapan agar mereka kembali kepada Allah s.w.t dan melepaskan Bani Israil serta membiarkan mereka pergi bersama Musa. Allah s.w.t mengirim taufan kepada mereka. Setelah masa paceklik, datanglah tahun yang penuh dengan air sehingga bumi pun tenggelam dengan air sehingga mereka tidak dapat bercucuk tanam. Setelah mereka diseksa dengan sedikitnya air maka kali ini mereka mendapatkan limpahan air yang luar biasa. Mereka segera datang kepada Nabi Musa sambil berkata:

"Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata: 'Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.'" (QS. al-A'raf: 134)

Kemudian Nabi Musa berdoa kepada Tuhannya sehingga azab disingkirkan dari mereka. Air yang memancar dengan dahsyat itu berhenti dan bumi kembali mengambil air yang cukup sehingga layak untuk dibuat bercucuk tanam. Nabi Musa meminta kepada mereka untuk mewujudkan janji mereka, yaitu melepaskan tawanan Bani Israil. Tapi mereka tidak memenuhinya. Kemudian datanglah tanda kebesaran yang lain yaitu dalam bentuk turunnya belalang. Allah s.w.t mengirim sekawanan belalang yang memenuhi tanaman dan buah-buahan. Ketika belalang- belalang itu terbang maka tanaman-tanaman mereka dan buah-buahan mereka tersembunyi dari pandangan kerana saking banyaknya belalang- belalang itu. Belalang itu memakan makanan orang-orang Mesir.

Melihat keadaan demikian, mereka pun pergi ke Musa dan meminta kepadanya agar berdoa kepada Tuhannya agar menyingkirkan seksaan ini dari mereka dan mereka berjanji untuk melepaskan padanya Bani Israil. Nabi Musa pun lagi-lagi berdoa kepada Tuhannya sehingga Allah s.w.t menyingkirkan azab itu dari mereka. Dan belalang-belalang itu kembali ke tempat asalnya. Mereka dapat menanami kembali bumi dengan baik. Lalu Nabi Musa meminta kepada mereka untuk melepaskan Bani Israil namun mereka menunda-nundanya sehingga Nabi Musa mengetahui bahawa sebenarnya mereka tidak serius untuk memenuhi janji mereka.

Kemudian datanglah seksaan Allah s.w.t yang lain, yaitu dikirim-Nya berbagai macam hama. Tersebarlah hama yang membawa penyakit. Lagi- lagi mereka datang kepada Nabi Musa dan mengulangi janji mereka dan Nabi Musa pun berdoa kepada Allah s.w.t. Kali ini mereka pun tetap mengingkari janji mereka. Lalu datanglah seksaan Allah s.w.t yang lain dalam bentuk dikirim-Nya katak di mana bumi dipenuhi dengan katak. Katak itu melompat-lompat ke sana-sini dan memenuhi makanan orang- orang Mesir serta berada di rumah mereka sehingga mereka sangat terganggu dengan kehadiran katak-katak liar itu. Lagi-lagi mereka menemui Nabi Musa dan kembali mengulangi janji mereka dan meminta padanya agar ia berdoa kepada Tuhannya agar Allah s.w.t menyingkirkan azab dari mereka. Tetapi mereka pun tetap mengingkari janji mereka.

Selanjutnya, Allah s.w.t menurunkan azab yang lain yaitu darah di mana sungai Nil berubah menjadi darah sehingga tidak seorang pun dapat meminumnya. Kita ketahui bahawa mukjizat-mukjizat pertama berupa sesuatu yang biasa terjadi pada tanaman. Berkurangnya air Nil atau bertambahnya air tersebut atau serangan belalang atau hama dan katak, semua ini adalah bukan hal baru bagi orang-orang Mesir. Yang baru adalah kejadian ini terjadi dengan sangat tiba-tiba dan sangat mencekam. Sedangkan mukjizat atau azab yang lain adalah azab yang tidak biasa terjadi di daerah Mesir, yaitu azab yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana air sungai Nil berubah menjadi darah.

Perubahan sungai itu menjadi darah hanya terjadi di kalangan orang- orang Mesir sedangkan Musa dan kaumnya dapat meminum airnya seperti biasanya. Namun ketika seorang Mesir memenuhi tempat gelasnya dengan air maka ia akan mendapati bahawa gelasnya penuh dengan darah. Melihat peristiwa tersebut, orang-orang Mesir tergoncang sebagaimana istana Fir'aun juga tergoncang melihat seksa yang mengerikan dan baru ini. Lagi-lagi mereka menuju ke Nabi Musa dan meminta kepadanya agar berdoa kepada Tuhannya dan mereka berjanji pada kali ini untuk membebaskan orang-orang Bani Israil. Nabi Musa pun berdoa kepada Tuhannya sehingga azab itu disingkirkan dari orang-orang Mesir. Meski demikian. istana Fir'aun tidak mengizinkan Musa untuk menemui kaumnya dan pergi bersama mereka. Lalu bagaimana sikap Fir'aun sendiri? Fir'aun tetap menunjukkan pembangkangnya dan kesombongannya. Fir'aun mengumumkan di tengah-tengah kaumnya bahawa dia tuhan. Bukankah - kata Fir'aun - dia memiliki kerajaan Mesir dan sungai-sungai ini mengalir di bawah kekuasaannya? Fir'aun memberitahu bahawa Musa adalah tukang sihir yang bohong dan ia hanya seorang fakir yang tidak mampu menggunakan satu kalung emas dan satu gelang emas.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka Musa berkata: 'Sesungguhnya aku adalah dari utusan Tuhan seru sekalian alam. Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka mengetawakannya. Dan tidakkah Kami perlihatkan kepada mereka sesuatu mukjizat kecuali mukjizat itu lebih besar dari mukjizat-mukjizat sebelumnya. Dan Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (kejalan yang benar). Dan mereka berkata: 'Hai ahli sihir berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu; sesungguhnya kami (jika doamu dikabulkan) benar-benar akan menjadi orang yang mendapat petunjuk. Maka tatkala Kami menghilangkan azab itu dari mereka, dengan serta merta mereka memungkiri (janjinya). Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: 'Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?' Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat dijelaskan (perkataannya)? Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya.' Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya dengan (perkataannya itu) lalu mereka patuh kepadanya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (QS. az-Zukhruf: 46-54)

Perhatikanlah ungkapkan Al-Quran: Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya dengan (perkataannya itu) lalu mereka patuh kepadanya. Fir'aun memenjara akal mereka, membelenggu kebebasan mereka, dan menutup masa depan mereka yang cerah. Fir'aun menodai kemanusiaan mereka sehingga mereka mentaatinya. Bukankah ketaatan ini aneh? Namun keanehan ini hilang ketika kita mengetahui bahawa mereka adalah orang- orang yang fasik. Kefasikan menjadikan seseorang tidak peduli dengan masa depannya dan kepentingannya serta urusannya. Pada akhirnya, ia akan mendapati kehancuran. Demikianlah yang terjadi pada kaum Fir'aun.

Allah s.w.t berfirman:

"Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut), dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian." (QS. az-Zukhruf: 55-56)

Tampak jelas bahawa Fir'aun tidak beriman kepada Musa. Fir'aun tidak menghentikan usaha untuk menyeksa Bani Israil dan ia tetap merendahkan kaumnya. Maka melihat kenyataan yang demikian, Musa dan Harun berdoa buruk untuk Fir'aun:

"Musa berkata: 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya dengan perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat seksaan yang pedih.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.'" (QS. Yunus: 88-89)

Kemudian datanglah izin kepada Nabi Musa untuk meninggalkan Mesir dengan disertai oleh kaumnya yang mengikutinya. Sikap kaum Nabi Musa sangat aneh. Tidak semua kaumnya beriman kepadanya. Allah s.w.t berfirman:

"Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda- pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahawa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyeksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas." (QS. Yunus: 83)

Selesailah urusan. Allah s.w.t telah menetapkan untuk membuat suatu keputusan hukum terhadap Fir'aun. Allah s.w.t memerintahkan kepada Musa untuk keluar dan mengizinkan Bani Israil untuk pergi. Mereka bersiap-bersiap untuk keluar dan pergi bersama Musa. Mereka membawa perhiasan-perhiasan mereka lalu datanglah malam kepada mereka. Nabi Musa berjalan bersama mereka dan menyeberangi Laut Merah dan menuju ke negeri Syam. Sementara itu, utusan Fir'aun dan intelejennya bergerak. Sampailah berita kepada Fir'aun bahawa Musa telah pergi beserta kaumnya. Fir'aun mengeluarkan perintahnya di segenap penjuru kota agar pasukan yang besar berkumpul. Fir'aun menyampaikan alasan yang aneh di balik pengumpulan tentera itu sebagaimana disampaikan oleh Al-Quran:

"Dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita. " (QS. asy-Syu'ara': 55)

Fir'aun telah naik pitam melihat aksi Musa. "Secara peribadi aku telah marah padanya. Jumlah mereka sedikit namun kemarahan kita terhadap mereka sungguh banyak. Kalau demikian, ini adalah peperangan." Fir'aun benar-benar seorang penjahat kelas kakap. Ia tidak berusaha menyembunyikan niatnya di balik kata-kata besarnya. Misalnya, secara diplomasi ia dapat mengatakan bahawa keamanan kerajaan terancam atau sistem ekonomi akan hancur jika para pekerja ini yang digaji dengan sangat murah ini akan keluar. Fir'aun tidak mengatakan semua itu tetapi ia hanya menyatakan bahawa ia sedang emosi. Nabi Musa membuatnya naik pitam dan ini sudah cukup untuk mengeluarkan perintah agar para tentera dikumpulkan. Manusia membenarkan tindakan Fir'aun untuk seribu kalinya setelah membohongkannya. Tiada seorang pun yang menentangnya dan tidak ada seorang pun yang mempersoalkan sebab kenapa di balik pengumpulan tentera itu.

Akhirnya, bergeraklah tentera Fir'aun dengan membawa persenjataan yang lengkap dan mereka berusaha mengejar Nabi Musa. Fir'aun duduk di atas kenderaan perangnya dan mengawasi tentera di sekitamya sambil tersenyum. Barangkali ia membayangkan, jika sejak semula ia melakukan itu maka gerak-geri Musa akan dapat dipatahkannya dan ia dapat membunuhnya. Alhasil, ia sekarang berada di jalan untuk menangkap Musa dan membunuhnya dan menyelesaikan masalah seluruhnya.

Nabi Musa berdiri di depan Laut Merah. Tampak dari kejauhan bahawa debu yang ditebarkan oleh tentera Fir'aun mulai mendekat. Lalu setelah itu tampak panji-panji tentera. Melihat hal itu, kaum Nabi Musa merasakan ketakutan. Mereka menghadapi situasi sangat sulit dan berbahaya: di depan mereka ada laut sementara di belakang mereka ada musuh. Mereka tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk berperang dengan pasukan Fir'aun kerana mereka hanya terdiri dari wanita-wanita, anak-anak kecil, dan orang-orang lelaki yang tidak bersenjata. Fir'aun akan menyembelih mereka semuanya.

Tiba-tiba terdengarlah teriakan dari kaum Nabi Musa: "Fir'aun akan menyusul kita dan menangkap kita." Nabi Musa berusaha menenangkan mereka sambil berkata: "Tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku dan Dia pun akan membimbingiku." Kita tidak mengetahui bagaimana perasaan Nabi Musa saat itu atau apa yang difikirkannya. Yang jelas, ia tidak mendapat kepercayaan seperti ini kecuali setelah Allah s.w.t mewahyukan kepadanya agar ia memukulkan tongkatnya ke lautan itu. Kemudian Nabi Musa pun memukulkan tongkat yang dibawanya kepada lautan itu.

Demikianlah bahawa kehendak Allah s.w.t pasti terlaksana meskipun harus bertentangan dengan logik manusia. Allah s.w.t ingin menunjukkan mukjizat, kemudian Allah s.w.t mewahyukan kepada Musa untuk memukulkan tongkatnya kepada lautan. Pemukulan tongkat terhadap lautan hanya sekadar sebab yang kemudian diikuti dengan terbelahnya lautan. Belum sampai Nabi Musa mengangkat tongkatnya sehingga malaikat Jibril turun ke bumi lalu Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke lautan. Tiba-tiba laut itu terbelah menjadi dua bahagian: satu bahagian menjadi kering kontang di mana di sebelah kanannya terdapat ombak dan di sebelah kirinya juga terdapat ombak. Nabi Musa bersama kaumnya berjalan sehingga mereka dapat melewati lautan. Ini adalah mukjizat yang sangat besar. Ombak bergelombang: meninggi dan menurun sehingga tampak ada tangan tersembunyi yang mencegahnya agar jangan sampai menenggelamkan Nabi Musa atau bahkan membasahinya sekalipun.

Demikianlah Nabi Musa dan kaumnya berhasil melewati lautan. Sementara itu, Fir'aun sampai ke lautan. Ia menyaksikan mukjizat ini. Ia melihat lautan terdapat jalan kering yang terbelah menjadi dua. Fir'aun saat itu merasakan ketakutan tetapi lagi-lagi keras kepalanya dan pembangkangnya tetap menyalakan api peperangan sehingga ia menyuruh pasukannya untuk maju. Ketika Musa selesai menyeberangi lautan, ia menoleh ke lautan dan ia ingin memukulkan dengan tongkatnya sehingga kembali sebagaimana mestinya, tetapi Allah s.w.t mewahyukan kepadanya agar ia membiarkan lautan seperti semula. Seandainya ia memukulkan tongkatnya kepada lautan dan laut itu kembali seperti semula nescaya Nabi Musa akan selamat dan Fir'aun pun akan selamat, sedangkan Allah s.w.t telah berkehendak untuk menenggelamkan Fir'aun. Oleh kerana itu, Musa diperintahkan untuk membiarkan lautan seperti semula. Allah s.w.t mewahyukan kepadanya:

"Dan biarlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentera yang akan ditenggelamkan." (QS. ad-Dukhan: 24)

Fir'aun bersama tenteranya sampai di tengah lautan. Ia sudah melewati separuhnya dan ia akan sampai ke tepi yang lain. Kemudian Allah s.w.t memerintahkan kepada Jibril. Lalu Jibril menggerakkan ombak sehingga ombak itu menerpa Fir'aun dan menenggelamkannya beserta tenteranya. Fir'aun dan tenteranya tenggelam. Pembangkang telah tenggelam sedangkan keimanan kepada Allah s.w.t telah selamat.

Ketika tenggelam, Fir'aun melihat tempatnya di neraka. Kini. ia sedar dan tabir telah terkuak di depannya. Fir'aun telah menjemput sakaratul maut. Ia telah menyedari bahawa Musa adalah seorang yang benar dan ia telah menyia-nyiakan dirinya dengan menentangnya dan berusaha memeranginya. Fir'aun berusaha menunjukkan keimanannya.

"Hingga bila Fir'aun itu hampir tenggelam berkatalah dia: 'Saya percaya bahawa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).'" (QS. Yunus: 90)

Taubat Fir'aun tidak berguna dan tidak diterima; taubat yang justru disampaikan ketika ia menyaksikan azab dan akan memasuki pintu kematian. Jibril berkata kepadanya:

"Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah derhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerosakan." (QS. Yunus: 91)

Yakni, tidak ada taubat bagimu. Sungguh telah selesai waktu taubat bagimu dan engkau telah binasa. Selesailah urusan ini dan tiadalah keselamatan bagimu. Yang selamat hanyalah tubuhmu dan engkau akan dilemparkan oleh ombak ke tepi sehingga tubuhmu sebagai bukti kebesaran Allah s.w.t bagi orang-orang yang hidup sesudahmu:

"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi peringatan bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." (QS. Yunus: 92)

Apa yang terjadi pada Fir'aun merupakan sunatullah yang abadi yang terjadi sebagai pelajaran bagi hamba-hamba Allah s.w.t.

Allah s.w.t berfirman:

"Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: 'Kami beriman hepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan- sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.'" (QS. al- Mu'min: 84)

Allah s.w.t menceritakan sikap Fir'aun bersama Musa dalam firman-Nya:

"Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: 'Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), kerana sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli. Kemudian Fir'aun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tenteranya) ke kota-kota. (Fir'aun berkata): 'Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil-kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga.' Maka Kami keluarkan Fir'aun dari kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. Maka Fir'aun dan bala tenteranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut- pengikut Musa: 'Sesungguhnya kita benar-benar akan disusul.' Musa menjawab: 'Sekali-kali kita tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.' Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukji- zat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS. asy-Syu'ara': 52-68)

Tersingkaplah kejahatan dan kelaliman Fir'aun. Ombak lautan menggiring tubuhnya ke tepi. Kami tidak mengetahui tepi mana yang dimaksud, yang menggiring tubuh seseorang yang mengaku dirinya sebagai tuhan; seseorang yang tidak ada seorang pun yang berani menentangnya. Diduga kuat bahawa ombak menggiring jasadnya ke tepi barat lalu orang-orang Mesir melihatnya dan mengetahui bahawa tuhan mereka yang mereka sembah, yang mereka taati adalah sekadar seseorang yang tidak mampu menjauhkan kematian dari lehernya.

Setelah itu, orang-orang Mesir mengetahui kebenaran secara sempurna. Al-Quran al-Karim tidak menceritakan kepada kita apa yang mereka perbuat setelah jatuhnya rejim Fir'aun dan setelah tenteranya tenggelam; Al-Quran tidak menceritakan kepada kita bagaimana reaksi mereka setelah Allah s.w.t menghancurkan apa yang diperbuat oleh Fir'aun dan kaumnya dan apa yang mereka bangun; Al-Quran tidak menyinggung semua itu; Al-Quran justru memfokuskan keadaan Musa dan Harun dan bagaimana peristiwa yang dialami Bani Israil bersama kedua nabi itu.

Fir'aun Mesir telah mati. Ia tenggelam di hadapan mata orang-orang Mesir dan Bani Israil. Meskipun ia telah mati, tetapi pengaruhnya tetap membekas pada jiwa orang-orang Mesir dan Bani Israil. Sungguh sangat sulit untuk menghilangkan pengaruh kehinaan yang sekian lama atau sekian tahun tertanam dalam jiwa dan kemudian jiwa itu menjadi mulia. Fir'aun telah menanamkan pada jiwa Bani Israil sesuatu yang akan kita ketahui dari ayat-ayat Al-Quran. Fir'aun telah membiasakan mereka untuk mendapatkan kehinaan. Fir'aun telah menghancurkan jiwa mereka dari dalam. Fir'aun telah merosak suasana rohani mereka yang bersih. Fir'aun telah merosak fitrah mereka sehingga mereka menyeksa Musa dan menyakiti Musa dengan sikap penentangan dan ke*****an.

Mukjizat pembelahan lautan masih segar di fikiran mereka. Pasir-pasir laut yang basah masih membekas dan masih terdapat dalam sandal- sandal Bani Israil ketika mereka lewat di depan kaum yang menyembah berhala. Seharusnya mereka menampakkan kemarahan mereka atas kelaliman terhadap akal, dan mereka memuji kepada Allah s.w.t kerana mereka mendapatkan petunjuk pada jalan keimanan dan kebenaran. Tetapi mereka justru menoleh kepada Musa dan meminta kepadanya agar menjadikan tuhan lain bagi mereka yang dapat mereka sembah seperti orang-orang itu. Mereka merasa cemburu ketika melihat orang-orang yang menyembah berhala itu dan mereka pun menginginkan hal yang sama. Mereka merasakan kerinduan kepada hari-hari syirik yang lalu yang mereka dapati di bawah naungan Fir'aun. Nabi Musa mengetahui betapa *****nya mereka.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai pada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: 'Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).' Musa menjawab: 'Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).' Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. Musa menjawab: 'Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat. Dan (ingatlah hai Bani Israil), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cubaan yang besar dari Tuhanmu. " (QS. al-A'raf: 138-141)

Musa berjalan bersama kaumnya di Saina', yaitu suatu gurun yang di dalamnya terdapat pohon yang dapat melindungi dari sengatan matahari dan di dalamnya terdapat makanan dan air. Kemudian rahmat Allah s.w.t turun kepada mereka di mana mereka mendapatkan al-Manna dan Salwa dan mereka dinaungi oleh awan. Al-Manna adalah makanan yang rasanya mendekati manis dan ia dihasilkan oleh sebahagian pohon-pohon yang berbuah di mana angin membawa kepada mereka rasa demikian ini dari daun-daun pohon. Allah s.w.t juga mengirim kepada mereka as-Salwa, yaitu salah satu burung yang bernama as-Saman.

Ketika mereka merasakan kehausan yang sangat saat di Saina' tidak ada setitis air pun maka Nabi Musa memukulkan dengan tongkatnya kepada batu sehingga batu itu memancarkan dua belas mata air. Bani Israil terbagi menjadi dua belas cucu maka Allah s.w.t mengirim air tersebut kepada setiap kelompok. Meskipun mereka mendapatkan kemuliaan dan kehormatan yang sedemikian rupa, tetapi lagi-lagi jiwa mereka yang sakit tidak dapat menyedarkan mereka untuk mensyukuri nikmat-nikmat ini. Mereka justru mendebat Nabi Musa dan mengatakan bahawa mereka bosan dengan makanan ini dan mereka ingin memiliki bawang merah dan bawang putih serta kacang-kacangan. Semua makanan ini adalah makanan tradisional Mesir. Bani Israil meminta kepada Nabi mereka untuk berdoa kepada Allah s.w.t dan mengeluarkan dari bumi makanan- makanan ini. Nabi Musa melihat bahawa mereka menganiaya diri mereka sendiri, dan Nabi Musa menyedari betapa mereka merindukan kehinaan mereka saat mereka bersama Fir'aun. Mereka berani menolak makanan- makanan yang baik dan makanan-makanan yang mulia, dan sebagai gantinya, mereka malah menginginkan makanan-makanan yang rendah mutunya. Allah s.w.t berfirman:

"Dan ingatlah ketika kamu berkata: 'Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu, mohon-kanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: 'Sayur-sayuran, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.' Musa berkata: 'Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.' Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) kerana mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikianlah itu (terjadi) kerana mereka selalu berbuat derhaka dan melampaui batas. " (QS. al-Baqarah: 61)

Nabi Musa berjalan bersama kaumnya menuju Baitul Maqdis. Nabi Musa memerintahkan kaumnya untuk memasukinya dan memerangi siapa pun yang ada di dalamnya serta berusaha menguasai tempat itu. Demikianlah telah datang ujian terakhir kepada mereka setelah mereka menyaksikan mukjizat dan ayat-ayat Allah s.w.t serta hal-hal yang luar biasa. Telah datang saat ujian kepada mereka untuk berperang - kerana mereka sebagai orang-orang mukmin - melawan kaum penyembah berhala. Namun kaum Nabi Musa menolak untuk memasuki tanah suci. Nabi Musa berusaha menyedarkan mereka dengan menceritakan bagaimana nikmat Allah s.w.t yang turun kepada mereka; bagaimana Allah s.w.t menjadikan di tengah-tengah mereka para nabi dan menjadikan mereka raja-raja yang mewarisi kerajaan Fir'aun; dan bagaimana mereka diberi suatu kekayaan dan anugerah yang tidak dapat didapatkan oleh seseorang pun di dalam dunia.

Kaum Nabi Musa takut kepada peperangan dan beralasan bahawa di dalamnya terdapat kaum yang perkasa dan mereka tidak akan masuk ke tanah suci sehingga orang-orang yang kuat itu keluar darinya. Kitab-kitab kuno mengatakan bahawa mereka keluar dalam jumlah enam ratus ribu. Nabi Musa tidak dapat mendapatkan seseorang pun di antara mereka yang siap melakukan peperangan kecuali dua orang. Kedua orang ini berusaha untuk menyedarkan kaum agar mereka memasuki tanah suci itu dan berperang. Mereka berdua berkata: "Sungguh hanya sekadar kalian memasuki pintu darinya maka kalian akan mendapatkan kemenangan." Tetapi Bani Israil menampakkan ketakutan dan tubuh mereka tampak gementar.

Pada kali yang lain - sesuai dengan tabiat mereka - mereka merindukan menyembah berhala ketika melihat ada kaum yang menyembah berhala. Mereka telah rosak dan mereka telah kalah dari dalam diri mereka; mereka telah biasa mendapatkan kehinaan sehingga mereka tidak mampu berperang. Yang tersisa hanyalah, mereka mampu untuk bersikap tidak sopan pada Nabi Musa as dan kepada Tuhannya. Kaum Nabi Musa berkata kepadanya dalam kalimat yang terkenal:

"Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." (QS. al-Maidah: 24)

Mereka mengucapkan kata-kata tersebut dengan lantang dan jelas serta tanpa rasa malu. Nabi Musa mengetahui bahawa kaumnya sangat jauh dari kebaikan. Fir'aun telah mati tetapi pengaruhnya tetap tertanam dalam jiwa mereka di mana untuk mengubatinya memerlukan waktu yang lama. Nabi Musa kembali kepada Tuhannya dan memberitahu-Nya bahawa ia tidak memiliki sesuatu pun kecuali dirinya dan saudaranya. Nabi Musa berdoa buruk kepada kaumnya agar Allah s.w.t memisahkan antara dirinya dan mereka. Allah s.w.t menurunkan keputusan-Nya kepada generasi ini yang telah rosak fitrahnya. Yaitu keputusan yang berupa: mereka disesatkan selama empat puluh tahun sehingga generasi ini mati atau mereka mencapai usia senja dan kemudian akan lahir generasi yang baru; generasi yang belum rosak jiwanya dan mereka akan dapat berperang dan memperoleh kemenangan.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: 'Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikannya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seseorang pun di antara umat-umat yang lain.' Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (kerana takut kepada musuh) maka kamu menjadi orang-orang yang rugi. Mereka berkata: 'Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya.' Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: 'Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya nescaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.' Mereka berkata: 'Hai Musa, kami sekali-kali tidak memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya, kerana itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.' Berkata Musa: 'Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu. 'Allah berfirman: '(Jika demikian), maha sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu." (QS. al-Maidah: 20-26)

Dimulailah hari-hari kesesatan. Mereka melewati tempat yang tertutup. Mereka memulai dari tempat yang mereka akhiri dan sebaliknya. Alhasil, mereka berjalan tanpa tujuan sepanjang siang-malam, pagi-sore. Mereka memasuki daratan di daerah Saina'. Nabi Musa kembali ke tempat yang beliau bertemu di dalamnya untuk pertama kalinya dengan kalimat- kalimat Allah s.w.t. Bani Israil turun dari at-Thur, dan Nabi Musa mendaki gunung sendirian. Di sana diturunkan Taurat dan Tuhannya berdialog dengannya. Sebelum Nabi Musa naik untuk bertemu dengan Tuhannya, ia menjadikan saudaranya, Harun, sebagai khalifahnya untuk kaumnya. Harun diangkatnya sebagai wakilnya yang bertanggungjawab untuk mengurus kaumnya. Dan Musa pun pergi menuju Tuhannya.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan telah Kami jadikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnakanlah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: 'Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerosakan'" (QS. al-A'raf: 142)

Orang-orang dahulu mengatakan bahawa Nabi Musa berpuasa selama tiga puluh hari sepanjang malam dan siang tanpa mencecah makanan sedikit pun kemudian Nabi Musa tidak ingin untuk berdialog kepada Tuhannya sementara mulutnya dalam keadaan seperti mulut orang yang berpuasa. Lalu beliau memakan sedikit dari tanaman bumi dan beliau mengunyahnya. Tuhannya berkata kepadanya: "Mengapa engkau berbuka?" Musa menjawab: "Ya Tuhanku, aku tidak ingin berbicara denganmu kecuali mulutku dalam keadaan baik baunya." Allah s.w.t menjawab: "Tidakkah engkau mengetahui wahai Musa bahawa mulut orang yang berpuasa di sisi-Ku lebih baik daripada bau misik. Kembalilah engkau berpuasa selama sepuluh hari kemudian datanglah kepada-Ku." Nabi Musa as pun melaksanakan perintah-Nya.

Kami tidak mengetahui secara pasti, mengapa Nabi Musa berpuasa selama empat puluh malam, bukan tiga puluh hari. Yang kita ketahui bahawa Allah s.w.t menambah sepuluh hari yang lain. Setelah itu, turunlah Taurat; turunlah kepadanya sepuluh wasiat:

1. Perintah untuk hanya menyembah kepada Allah s.w.t dan tidak menyekutukan-Nya.
2. Larangan untuk bersumpah bohong atas nama Allah s.w.t.
3. Menjaga kehormatan pada hari Sabtu. Dengan pengertian, memfokuskan hari Sabtu sebagai hari ibadah.
4. Perintah untuk menghormati ayah dan ibu.
5. menyedari bahawa Allah s.w.t yang dapat memberi dan membagi.
6. Janganlah engkau membunuh.
7. Janganlah engkau berzina.
8. Janganlah engkau mencuri.
9. Janganlah memberikan kesaksian yang palsu.
10. Jangan engkau merasa tertipu atau terpikat kepada rumah temanmu atau Isterinya atau budaknya atau sapinya atau keledainya.

Para ulama salaf mengatakan bahawa kandungan sepuluh wasiat ini telah terdapat dalam dua ayat dalam Al-Quran, yaitu dalam firman-Nya:

"Katakanlah: 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua ibu dan bapakmu, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu kerana takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya mahupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.' Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahaminya. Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakan takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. " (QS. al-An'am: 151- 152)

Allah s.w.t menceritakan kepada kita bagaimana keadaan Musa ketika ia pergi untuk menemui janji dengan Tuhannya. Musa ketika berpuasa selama empat puluh malam bermaksud untuk lebih mendekat kepada Tuhannya. Ketika Allah s.w.t berdialog dengannya, maka Musa merasakan cinta yang semakin bergelora kepada Tuhannya. Kami tidak mengetahui perasaan apa yang ada di hati Musa ketika ia meminta kepada Tuhannya agar dapat melihatnya. Seringkali cinta yang ada di dalam manusia mendorong dirinya untuk meminta sesuatu yang mustahil. Lalu bagaimana bayangan Anda terhadap cinta yang berhubungan dengan cinta kepada Allah s.w.t. Ia adalah hakikat cinta. Kedalaman perasaan Nabi Musa kepada Tuhannya dan kecintaannya kepada sang Pencipta, semua ini mendorongnya untuk meminta kepada Allah s.w.t agar dapat melihatnya.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: 'Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.'" (QS. al- A'raf: 143)

Demikianlah dorongan cinta dari para pencinta sejati. Musa bertanya dan meminta kepada Tuhannya sesuatu yang menakjubkan tetapi Allah s.w.t menjawabnya:

"Tuhan berfirman: 'Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku." (QS. al-A'raf: 143)

Seandainya Allah s.w.t hanya mengatakan demikian maka ini pun sebagai bentuk keadilan dari-Nya, tetapi keadaan di sini adalah keadaan cinta Ilahi dari Musa. Dorongan cinta yang dibalas dengan dorongan cinta. Demikianlah Nabi Musa mendapatkan rahmat dari Tuhannya. Allah s.w.t memberitahunya bahawa ia tidak akan mampu melihat-Nya kerana tak satu pun dari makhluk yang tidak dapat "menangkap cahaya" dari Allah s.w.t. Allah s.w.t memerintahkannya agar melihat gunung, dan jika gunung itu masih menetap di tempatnya maka ia akan dapat melihat Tuhannya.

Allah s.w.t berfirman:

"Tetapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) nescaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pengsan. (QS. al-A'raf: 143)

Tiada seorang pun yang dapat "menangkap" cahaya Allah s.w.t. Nabi Musa mengetahui hakikat ini dan menyaksikan sendiri. Ash'aq adalah al-Maut (kematian) atau al-Ighma' (keadaan tidak sedarkan diri atau pengsan). Kami tidak mengetahui bagaimana keadaan yang dialami Nabi Musa ketika ia kehilangan kehidupannya atau kesedarannya.

"Maka setelah Musa sedar kembali, dia berkata: 'Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.'" (QS. al-A'raf: 143)

Para mufasir klasik cukup serius meneliti dan memperbincangkan ayat- ayat ini. Misalnya, mereka bertanya-tanya: bagaimana Nabi Musa meminta kepada Allah s.w.t agar dapat melihat-Nya, padahal ia tahu bahawa itu adalah hal yang tidak mungkin atau mustahil. Mereka berselisih pendapat dalam hal itu dan saling adu argumentasi. Mu'tazilah memiliki pendapat yang lain dan Ahlusunah pun memiliki pendapat yang lain lagi. Pokok pembicaraan semuanya berkisar pada: bagaimana seorang nabi tidak mengetahui - padahal ia adalah makhluk Allah s.w.t yang paling dekat dengan-Nya - bahawa melihat Allah s.w.t adalah hal yang sangat mustahil?

Kami kira bahawa sikap Nabi Musa tersebut menggambarkan puncak cinta dan kedalaman dari hatinya, yang ini merupakan gambaran yang tinggi dari sejarah yang dilalui oleh Nabi Musa. Kita sekarang berada di hadapan puncak cinta kepada Allah s.w.t. Dan seorang pencinta tidak menginginkan selain melihat "wajah" kekasihnya. Menurut logik akal bahawa melihat Allah s.w.t adalah hal yang mustahil, tetapi kapan cinta pernah peduli dengan logik itu. Nabi Musa terdorong untuk mendapatkan pengalaman baru yaitu suatu pengalaman yang kayaknya ia sengaja melakukannya untuk mewakili kita semua. Nabi Musa nekad dan mendorong kita untuk meminta. Ia lebih dahulu merasakan keadaan tidak sedarkan diri dan ia telah membuktikan kepada kita dengan tubuhnya yang mulia dan rohnya yang suci bahawa tak seorang pun dapat "menangkap" cahaya Allah s.w.t. Nabi Musa dalam keadaan tak sedarkan diri lalu ketika bangun ia memuja-muja Allah s.w.t dan bertaubat serta meminta ampun kepadaNya:

"Dia berkata: 'Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau.'" (QS. al-A'raf: 143)

Mengapa Nabi Musa bertaubat? Orang-orang sufi berkata: Ia bertaubat dari dorongan cinta yang besar di mana ia meminta sesuatu yang mustahil, padahal ia menyedari itu adalah mustahil. Ini adalah tafsiran yang memuaskan yang didukung oleh konteks ayat-ayat tersebut. Perhatikanlah ayat-ayat (tanda-kebesaran) Allah s.w.t dan bagaimana Dia mengingatkan Musa terhadap apa-apa yang diterimanya dari berbagai macam nikmat. Allah s.w.t berkata kepada Musa:

"Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku. Sebab itu, berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur. Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): 'Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya.'" (QS. al-A'raf: 144-145)

Ahli tafsir memperhatikan firman Allah s.w.t kepada Musa: "Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku."

Kemudian dilakukanlah perbandingan antara Nabi Musa dan nabi-nabi yang lain. Dikatakan bahawa pemilihan ini dikhususkan hanya kepadanya dan di zamannya saja, dan tidak berlaku di zaman sebelumnya kerana ada Nabi Ibrahim di zaman itu, sedangkan Nabi Ibrahim lebih baik dari Nabi Musa. Begitu juga pemilihan ini tidak berlaku pada zaman setelahnya kerana ada Nabi Muhammad bin Abdullah saw dan ia lebih baik dari mereka berdua.

Kami ingin menghindari perdebatan ini, bukan kerana kami percaya bahawa semua nabi sama. Memang Allah s.w.t memberitahu kita bahawa Dia mengutamakan sebahagian nabi atau sebahagian yang lain dan mengangkat darjat sebahagian mereka atau sebahagian yang lain, tetapi pengutamaan ini adalah hal yang tidak boleh kita sentuh. Hendaklah kita beriman kepada seluruh nabi dan kita harus menunjukkan penghormatan kita kepada mereka semua. Adalah bukan hal yang sopan jika kita mencuba membanding-bandingkan di antara para nabi. Yang utama adalah, hendaklah kita meyakini dan mengimani mereka semua. Akhirnya, selesailah perjumpaan Musa dengan Tuhannya. Kemudian Nabi Musa kembali kepada kaumnya dalam keadaan marah dan jengkel. Di alam wujud tidak ada seorang manusia yang memiliki kelembutan dan kerelaan hati yang begitu besar seperti Nabi Musa, tetapi ia diberitahu oleh Tuhannya bahawa kaumnya telah menyimpang dari jalannya. Oleh kerana itu, ia kembali dalam keadaan marah dan jengkel kepada mereka. Allah s.w.t berfirman:

"Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa? Berkata Musa: 'Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar supaya Engkau redha (kepadaku). Allah berfirman: 'Maka sesungguhnya, Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri. Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. " (QS. Thaha: 83-86)

Musa turun dari gunung dan membawa papan Taurat. Rasa-rasanya hatinya mendidih dan jengkel. Kita dapat membayangkan bagaimana emosi yang membakar Nabi Musa saat ia mengayunkan langkahnya menuju kaumnya. Betapa tidak, belum lama Nabi Musa meninggalkan kaumnya dan menemui Tuhannya, mereka mendapatkan fitnah melalui Samiri. Fitnah ini adalah, bahawa Bani Israil - ketika keluar dari Mesir - membawa banyak dari harta perhiasan orang-orang Mesir dan emas-emas mereka. Mereka mengambilnya untuk mereka memanfaatkan dalam pesta perayaan mereka. Kemudian mereka selamat kerana mukjizat pembelahan lautan di mana lautan menenggelamkan Fir'aun dan tenteranya sehingga harta mereka yang berupa emas dimiliki oleh Bani Israil.

Harun mengetahui bahawa emas tersebut bukan milik mereka lalu Harun memintanya dari mereka dan menimbunnya di tanah. Bani Israil tidak memerlukannya kerana saat ini mereka sedang tersesat. Mereka berjalan di tengah-tengah gurun sehingga tidak bermanfaat bagi mereka emas- emas itu. Harun, saudara kandung Musa, menggali tanah dan meletakkan emas-emas itu lalu menimbunkan di atasnya tanah. Samiri melihat apa yang dilakukan oleh Harun. Setelah itu, dia mengeluarkannya dan membuat sebuah patung sapi yang menyerupai sapi Ibis sesembahan orang-orang Mesir. Samiri adalah seorang pemahat yang mahir. Dia mampu membuat anak sapi yang menarik di mana ketika dia meletakkannya di arah angin maka akan masuk darinya udara dari celah bahagian belakangnya lalu keluar dari hidungnya. Samiri membuat suara yang menyerupai suara sapi yang sebenamya.

Konon, rahsia kehebatan sapi ini adalah kerana Samiri telah mengambil segenggam tanah yang dilalui Jibril ketika ia turun ke bumi dalam peristiwa mukjizat pembelahan laut. Yakni Samiri melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh kaum Nabi Musa. Kemudian dia mengambil segenggam tanah dari bekas yang dilalui seorang utusan (Jibril) dan meletakkannya bersama emas. Samiri membuat darinya anak sapi. Jibril as tidak berjalan di atas sesuatu kecuali sesuatu itu menjadi hidup. Ketika Samiri menambahkan tanah itu ke emas lalu membuat darinya anak sapi maka anak sapi itu dapat bersuara seperti anak sapi yang sebenarnya. Demikianlah kisah Samiri. Kita mengetahui sekarang bahawa jika tanah ditambahkan ke emas dan melebur maka tanah itu akan terpisah dari emas dan akan meninggalkan bekas (lubang) di tempat terpisahnya itu. Diduga kuat bahawa Samiri menggunakan tanah itu seperti tanah yang lain dalam usaha untuk mengeringkan bahagian dalam dari anak sapi di mana patung itu berubah menjadi patung yang mempunyai suara.

Setelah itu, Samiri keluar menemui Bani Israil dengan membawa apa yang dibuatnya. Mereka bertanya kepadanya: "Apa ini, hai Samiri?" Ia menjawab: "Ini adalah tuhan kalian dan tuhan Musa." Mereka berkata: "Bukankah Musa sedang menemui Tuhannya?" Samiri menjawab: "Musa telah lupa ia pergi untuk menemui tuhannya di sana, padahal sebenarnya tuhannya ada di sini." Akhirnya, Bani Israil menyembah anak sapi ini.

Barangkali pembaca akan merasa hairan terhadap fitnah ini. Bagaimana akal kaum itu dapat tunduk sampai pada keadaan seperti ini? Bukankah mereka telah menyaksikan mukjizat yang besar? Bagaimana mereka dengan mudah menyembah berhala? Kebingungan tersebut segera hilang ketika kita lihat keadaan kejiwaan kaum yang menyembah anak sapi itu. Mereka telah terdidik di Mesir pada saat mereka menyembah berhala dan sangat mengkultuskan anak sapi Ibis. Mereka terdidik di bawah kehinaan dan perbudakan sehingga jiwa mereka menjadi ternoda dan fitrah mereka menjadi tercemar. Mereka menyaksikan mukjizat-mukjizat dari Allah s.w.t tetapi mukjizat itu berbenturan dengan jiwa-jiwa yang putus asa. Mukjizat ini tidak mampu memuaskan mereka untuk mempercayai kebenaran. Mereka masih saja dihinggapi keinginan untuk menyembah berhala. Mereka adalah para penyembah berhala seperti tokoh-tokoh Mesir yang dahulu. Oleh kerana itu, mereka menyembah anak sapi. Sikap mereka ini tidak terlalu mengagetkan kita. Sebab, setelah mereka menyaksikan mukjizat pembelahan lautan, mereka melihat suatu kaum yang menyembah berhala, lalu mereka minta kepada Nabi Musa agar menjadikan tuhan bagi mereka seperti kaum yang menyembah berhala itu.

Jadi, masalahnya adalah masalah klasik. Pada hakikatnya, hasrat untuk menyembah berhala bererti menyembah berhala itu sendiri. Apa yang dilakukan Samiri adalah, ia memanfaatkan kerinduan kaum untuk menyembah berhala. Kemudian Samiri memilih agar anak sapi yang diciptakannya berbentuk emas kerana ia mengetahui bahawa umumnya Bani Israil lemah (mudah terpedaya) pada emas. Akhirnya, fitnah yang ditimbulkan oleh Samiri tersebar di sana sini. Harun sangat terpukul ketika mengetahui Bani Israil menyembah anak sapi dari emas. Mereka terbagi menjadi dua kelompok: minoriti dari mereka beriman dan mengetahui bahawa ini adalah tipu daya dan kebohongan semata, sedangkan majoriti mereka mengingkari Harun dan tetap melampiaskan kerinduan mereka untuk menyembah berhala. Harun berdiri di tengah- tengah kaumnya dan mulai menasihati mereka. Ia berkata kepada mereka: "Sesungguhnya kalian tertipu dengannya. Ini adalah fitnah (godaan). Samiri telah memanfaatkan ke*****an kalian dengan menciptakan anak sapi itu. Lembu itu bukan tuhan kalian dan bukan juga tuhan Musa:

"Sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah ahu dan taatilah perintahku." (QS. Thaha: 90)

Para penyembah anak sapi menolak nasihat Harun. Kelompok orang- orang yang ***** itu tidak mahu lagi menerima nasihat. Harun kembali memperingatkan mereka dan menceritakan kembali kepada mereka bagaimana mukjizat-mukjizat Allah s.w.t dapat menyelamatkan mereka, dan bagaimana Allah s.w.t memuliakan dan menjaga mereka. Tetapi mereka menutup telinga dan menolak segala nasihatnya. Mereka justru melemahkan posisi Harun dan nyaris saja membunuhnya. Adalah jelas bahawa Harun lebih lemah daripada Musa, sehingga para kaum tidak takut lagi. Harun khuatir jika ia menggunakan kekuatan dan menghancurkan berhala-berhala yang mereka sembah, maka akan terjadi fitnah di tengah-tengah kaum dan akan tercipta perang saudara. Akhirnya, Harun memilih untuk menunda hal itu sampai kedatangan Musa. Harun mengetahui bahawa Musa seorang yang kuat yang mampu mengatasi fitnah ini tanpa harus menumpahkan darah. Sementara itu, Bani Israil terus menari di sekitar anak sapi. Samiri - mudah-mudahan Allah s.w.t melaknatnya - adalah penyebab fitnah ini, dan ia menari-nari serta berputar-putar di sekeliling berhala.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya pada juz kesebelas menyebutkan fitnah yang timbulkan oleh Samiri. Qurthubi berkata: "Imam Abu Bakar at-Thurthusi ditanya: "Apa yang dikatakan oleh pemimpin kita al-Faqih tentang kelompok lelaki yang memperbanyak zikrullah dan menyebut Muhammad saw. Sebahagian mereka menari-nari sehingga pengsan. Mereka menghadirkan sesuatu dan memakannya. Apakah hadir bersama mereka boleh atau tidak? Berilah kami fatwa, mudah-mudahan engkau diberi pahala." Qurthubi menjawab pertanyaan ini dengan menukil penjelasan gurunya: "Mazhab sufi (yang beliau maksudkan adalah orang-orang yang menari-nari yang dipraktikkan oleh sebahagian aliran sufi untuk mengekspresikan zikir) berdasarkan ke*****an dan kesesatan serta sesuatu yang sia-sia. Islam hanya berdasarkan Kitab Allah s.w.t dan sunah Rasul-Nya. Praktik tari-tarian seperti itu adalah sesuatu yang pertama kali diciptakan oleh pengikut-pengikut Samiri ketika mereka menjadikan anak sapi sebagai tuhan mereka. Mereka menari-nari di sekitarnya dan berkumpul di situ. Itu adalah agama kekufuran dan penyembahan terhadap anak sapi."

Nabi saw duduk bersama sahabatnya dan seakan-akan di atas kepala mereka terdapat burung, kerana saking hormatnya mereka terhadap beliau. Hendaklah penguasa dan wakilnya mencegah orang-orang itu untuk hadir di masjid dan selainnya. Dan tidak diperkenankan bagi seorang pun yang beriman kepada Allah s.w.t dan hari kemudian untuk hadir bersama orang-orang itu atau membantu kebatilan mereka. Ini adalah pendapat mazhab Malik, Abu Hanifah, Syafi'i, Ahmad bin Hambal, dan lain-lain dari para imam kaum Muslim.

Demikianlah pernyataan al-Qurthubi berkaitan dengan masalah tersebut. Anda dapat membayangkan sejauh mana kecemerlangan fikirannya dan sejauh mana ketakwaannya. Selanjutnya, kita kembali kepada kisah Nabi Musa. Nabi Musa turun dari gunung untuk kembali menemui kaumnya. Kemudian ia mendengar teriakan kaum saat mereka menari-nari di sekitar anak sapi. Kaum itu berhenti ketika melihat Nabi Musa muncul di depan mereka. Dan tiba-tiba keheningan menyelimuti mereka. Nabi Musa berteriak dan berkata:

"Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati, berkatalah dia: 'Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku!'" (QS. al-A'raf: 150)

Musa berjalan menuju ke Harun, lalu ia meletakkan papan Taurat dengan tangannya di atas tanah. Tampaknya api kemarahan telah membakamya. Musa memegang Harun dari rambut kepalanya sampai rambut janggutnya sambil berkata:

"Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) menderhakai perintahku?" (QS. Thaha: 92-93)

Musa bertanya, "Apakah Harun tidak mentaati perintahnya, bagaimana ia mendiamkan fitnah ini; bagaimana ia tetap bersama mereka dan tidak meninggalkan mereka serta berlepas diri dari perbuatan mereka; bagaimana ia tetap diam dan tidak berusaha melawan mereka, bukankah orang yang diam atau membiarkan suatu kesalahan itu bertanda bahawa ia merestuinya atau bahagian dari kesalahan itu?" Keheningan semakin meningkat ketika gelora api kemarahan Musa semakin membara. Harun berbicara kepada Musa dan meminta kepadanya untuk melepaskan kepalanya dan janggutnya kerana mereka berdua berasal dari ibu yang satu. Harun mengingatkan Musa akan kedekatan hubungannya melalui ibu, bukan melalui ayah agar hal itu lebih dapat membuat Musa merasa kasihan kepadanya:

"Harun menjawab: 'Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku.'" (QS. Thaha: 94)

Harun memberi pengertian kepada Musa bahawa ia sama sekali tidak bermaksud menentang perintahnya, dan ia pun tidak menunjukkan sikap merestui penyembahan anak sapi, tetapi ia khuatir jika ia meninggalkan mereka dan pergi lalu Musa bertanya kepadanya, mengapa ia tidak tetap tinggal bersama mereka? Mengapa seorang yang bertanggungjawab kepada mereka justru meninggalkan mereka? Di samping itu, ia juga khuatir jika ia memerangi mereka dengan kekerasan maka terjadi peperangan di antara mereka. Lalu Musa akan bertanya kepadanya, mengapa ia membikin perpecahan di antara mereka dan mengapa ia tidak menunggu kembalinya Musa:
 
16. Nabi Zulkifli

Allah s.w.t memasukkan Zulkifli dalam rahmat-Nya. Allah s.w.t memujinya sebagai hamba yang sabar dan Dia menyebutkannya bersama Ismail dan Idris. Allah s.w.t berfirman:

"Dan (ingatlah) kisah Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh." (QS. al-Anbiya': 85-86)

Disebutkan bahwa beliau menanggung kebutuhan kaumnya. Beliau yang mengurusi mereka; beliau menegakkan keadilan di antara mereka. Ketika beliau melakukan tugas itu, beliau mendapat julukan DzulKifli. Banyak dongeng yang dibuat berkenaan dengan cerita beliau.

Al-Qur'an hanya menyebut namanya dan memujinya tanpa menyertakan satu kisah yang lengkap tentangnya, bahkan masa dakwahnya pun tidak diketahui. Kita tidak mengetahui siapa kaum Nabi ini dan bagaimana beliau diutus di tengah-tengah mereka serta bagaimana kaumnya memenuhi panggilan dakwahnya.
 
17. Nabi Daud

Berlalulah tahun-tahun yang cukup panjang dari wafatnya Musa. Setelah Nabi Musa, datanglah para nabi dan mereka telah mati dan anak-anak Israil setelah Musa telah kalah. Kitab suci mereka telah hilang, yaitu Taurat. Ketika Taurat telah hilang dari dada mereka maka ia pun tercabut dari tangan mereka. Musuh-musuh mereka menguasai peti perjanjian yang di dalamnya terdapat peninggalan keluarga Musa dan Harun. Bani Israil terusir dari keluarga mereka dan rumah mereka. Keadaan mereka sungguh sangat tragis. Kenabian telah terputus dari cucu Lawi, dan tidak tersisa dari mereka kecuali seorang wanita yang hamil yang berdoa kepada Allah s.w.t agar Dia memberinya anak laki- laki. Lalu ia melahirkan anak laki-laki dan menamainya dengan nama Asymu'il yang dalam bahasa Ibrani bererti Ismail. Yakni Allah s.w.t mendengar doaku.

Ketika anak itu tumbuh dewasa, ibunya itu mengirimnya ke masjid dan menyerahkannya kepada lelaki soleh agar belajar kebaikan dan ibadah darinya. Anak itu berada di sisinya. Pada suatu malam - ketika ia telah menginjak dewasa - ia tidur, lalu ia mendengar ada suara yang datang dari sisi masjid. Ia bangun dalam keadaan ketakutan dan mengira bahawa syeikh atau gurunya memanggilnya. Ia segera menuju gurunya dan bertanya: "Apakah engkau memang memanggilku?" Guru itu tidak ingin menakut-nakutinya maka ia berkata: "Ya, ya." Anak itu pun tidur kembali. Kemudian suara itu lagi-lagi memanggilnya untuk kedua kalinya dan ketiga hingga ia bangun dan melihat malaikat Jibril memanggilnya: "Tuhanmu telah mengutusmu kepada kaummu." Pada suatu hari, Bani Israil menemui nabi yang mulia ini. Mereka bertanya kepadanya: "Tidakkah kami orang-orang yang teraniaya?" Dia menjawab: "Benar." Mereka berkata: "Tidakkah kami orang-orang yang terusir?" Dia menjawab: "Benar." Mereka mengatakan: "Kirimkanlah untuk kami seorang raja yang dapat mengumpulkan kami di bawah satu bendera agar kita dapat berperang di jalan Allah s.w.t dan agar kita dapat mengembalikan tanah kita dan kemuliaan kita." Nabi mereka berkata kepada mereka dan tentu ia lebih tahu daripada mereka: "Apakah kalian yakin akan menjalankan peperangan jika diwajibkan peperangan atas kalian?"

Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak berperang di jalan Allah s.w.t sedangkan kami telah terusir dari negeri kami, dan anak-anak kami pun terusir serta keadaan kami makin memburuk." Nabi mereka berkata: "Sesungguhnya Allah s.w.t telah mengutus Thalut sebagai penguasa bagi kalian." Mereka berkata: "Bagaimana ia menjadi penguasa atas kami sedangkan kami lebih berhak mendapatkan kekuasaan itu daripadanya. Lagi pula, ia bukan seorang yang kaya, sedangkan di antara kami ada orang yang lebih kaya daripadanya."

Nabi mereka berkata: "Sesungguhnya Allah s.w.t memilihnya atas kalian kerana ia memiliki keutamaan dari sisi ilmu dan fizik. Dan Allah s.w.t memberikan kekuasaan-Nya kepada siapa pun yang Dia kehendaki." Mereka berkata: "Apa tanda kekuasaa-Nya?" Nabi menjawab: "Kitab Taurat yang dirampas musuh kalian akan kembali kepada kalian. Kitab itu akan dibawa oleh para malaikat dan diserahkan kepada kalian. Ini adalah tanda kekuasaan-Nya." Mukjizat tersebut benar-benar terjadi di mana pada suatu hari Taurat kembali kepada mereka.

Pembentukan pasukan Thalut dimulai. Thalut telah menyiapkan tenteranya untuk memerangi Jalut. Jalut adalah seseorang yang perkasa dan penantang yang hebat di mana tak seorang pun mampu mengalahkannya. Pasukan Thalut telah siap. Pasukan berjalan dalam waktu yang lama di tengah-tengah gurun dan gunung sehingga mereka merasakan kehausan. Raja Thalut berkata kepada tenteranya: "Kita akan menemui sungai di jalan. Barang siapa yang meminumnya maka hendaklah ia akan keluar dari pasukan dan barang siapa yang tidak mengicipinya dan hanya sekadar membasahi kerongkongannya maka ia akan dapat bersamaku dalam pasukan."

Akhirnya, mereka mendapati sungai dan sebahagian tentera minum darinya dan kemudian mereka keluar dari barisan tentera. Thalut telah menyiapkan ujian ini untuk mengetahui siapa di antara mereka yang mentaatinya dan siapa yang membangkangnya; siapa di antara mereka yang memiliki tekad yang kuat dan mampu menahan rasa haus dan siapa yang memiliki keinginan yang lemah dan mudah menyerah.

Thalut berkata kepada dirinya sendiri: "Sekarang kami mengetahui orang- orang yang pengecut sehingga tidak ada yang bersamaku kecuali orang- orang yang berani." Jumlah pasukan memang berpengaruh tetapi yang paling penting dalam pasukan adalah, sifat keberanian dan iman, bukan semata-mata jumlah dan senjata. Lalu datanglah saat-saat yang menentukan bagi pasukan Thalut. Mereka berdiri di depan pasukan musuhnya, Jalut. Jumlah pasukan Thalut sedikit sekali tetapi pasukan Musuh sangat banyak dan kuat.

Sebahagian orang-orang yang lemah dari pasukan Thalut berkata: "Bagaimana mungkin kita dapat mengalahkan pasukan yang perkasa itu?" Kemudian orang-orang mukmin dari pasukan Thalut menjawab: "Yang penting dalam pasukan adalah keimanan dan keberanian. Berapa banyak kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah s.w.t." Allah s.w.t berfirman:

"Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka: 'Angkatlah untuk kami seorang raja agar kami berperang (di bawah pimpinannya) dijalan Allah. Nabi mereka menjawab: 'Mungkin sekali jika kamu diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.' Mereka menjawab: 'Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami sesungguhnya telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami.' Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang yang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang lalim. Nabi mereka mengatakan kepada mereka: 'Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.' Mereka menjawab: 'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?' (Nabi mereka) berkata: 'Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahi ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.' Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: 'Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman. Maka tatkala Thalut keluar membawa tenteranya, ia berkata: 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali mencedok secedok tangan, maka ia adalah pengikutku. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: 'Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tenteranya' Orang-orang yang meyakini bahawa mereka akan menemui Allah berkata: 'Berapa banyak yang terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah berserta orang-orang yang sabar.'" (QS. al-Baqarah: 246-249)

Jalut tampak membawa baju besinya bersama pedangnya. Tampaknya ia menantang seseorang untuk berlawan dengannya. Semua tentera Thalut merasa takut untuk menghadapinya. Di saat-saat tegang ini, muncullah dari pasukan Thalut seorang penggembala kambing yang kecil, yaitu Daud. Daud adalah seorang yang beriman kepada Allah s.w.t. Ia mengetahui bahawa keimanan kepada Allah s.w.t adalah hakikat kekuatan di alam ini, dan bahawa kemenangan bukan semata-mata ditentukan banyaknya senjata dan kuatnya tubuh.

Daud maju dan meminta kepada raja Thalut agar mengizinkannya berlawan dengan Jalut. Namun si raja pada hari pertama menolak permintaan itu. Daud bukanlah seorang tentera, ia hanya sekadar penggembala kambing yang kecil. Ia tidak memiliki pengalaman dalam peperangan. Ia tidak memiliki pedang, senjatanya adalah potongan batu bata yang digunakan untuk mengusir kambingnya. Meskipun demikian, Daud mengetahui bahawa Allah s.w.t adalah sumber kekuatan yang hakiki di dunia ini. kerana ia seorang yang beriman kepada Allah s.w.t, maka ia merasa lebih kuat daripada Jalut.

Pada hari kedua, ia kembali meminta izin agar diberi kesempatan untuk memerangi Jalut. Lalu raja memberikan izin kepadanya. Raja berkata kepadanya: "Seandainya engkau berani memeranginya, maka engkau menjadi pemimpin pasukan dan akan menikahi anak perempuanku." Daud tidak peduli dengan iming-iming tersebut. Ia hanya ingin berperang dan memenangkan agama. Ia ingin membunuh Jalut, seorang lelaki yang sombong yang zalim dan tidak beriman kepada Allah s.w.t, Raja mengizinkan kepada Daud untuk berlawan dengan jalut.

Daud maju dengan membawa tongkatnya dan lima buah batu serta katapel. Jalut maju dengan dilapisi senjata dan baju besi. Jalut berusaha mengejek Daud dan merendahkannya serta mentertawakan kefakirannya dan kelemahannya. Kemudian Daud meletakkan batu yang kuat di atas katapelnya, lalu ia melepaskannya di udara sehingga batu itu pun meluncur dengan keras. Angin menjadi sahabat Daud kerana ia cinta kepada Allah s.w.t sehingga angin itu membawa batu itu menuju ke dahi Jalut. Batu itu membunuhnya. Jalut yang dibekali senjata yang lengkap itu tersungkur ke tanah dan mati.

Daud, seorang penggembala yang baik, mengambil pedangnya. Dan berkecamuklah peperangan di antara kedua pasukan. Peperangan dimulai saat pemimpinnya terbunuh dan rasa ketakutan menghinggapi seluruh pasukannya, sedangkan pasukan yang lain dipimpin oleh seorang penggembala kambing yang sederhana.

Allah s.w.t berfirman:

"Tatkala mereka tampak oleh jalut dan tenteranya, mereka pun berdoa: 'Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kukuhkanlah pendirian kami terhadap orang-orang kafir.' Mereka (tentera Thalut) mengalahkan tentera Jalut dengan izin Allah memberinya kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rosaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai kurnia (yang dicurahkan) atas semesta alam." (QS. al-Baqarah: 250-251)

Setelah Daud membunuh jalut, ia mencapai puncak kebenaran di tengah- tengah kaumnya sehingga ia menjadi seorang lelaki yang paling terkenal di kalangan Bani Israil. Beliau menjadi pemimpin pasukan dan suami dari anak perempuan raja. Namun Daud tidak begitu gembira dengan semua ini. Beliau tidak bertujuan untuk mencapai kebenaran atau kedudukan atau kehormatan, tetapi beliau berusaha untuk menggapai cinta Allah s.w.t. Daud telah diberi suatu suara yang sangat indah dan mengagumkan. Daud bertasbih kepada Allah s.w.t dan mengagungkan- Nya dengan suaranya yang menarik dan mengundang decak kagum. Oleh kerana itu, setelah mengalahkan Jalut, Daud bersembunyi. Beliau pergi ke gurun dan gunung. Beliau merasakan kedamaian di tengah-tengah makhluk-makhluk yang lain. Di saat mengasingkan diri, beliau bertaubat kepada Allah s.w.t.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia Kami. (Kami berfirman): 'Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud', dan Kami telah melunakkan besi padanya. (Yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang soleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Saba': 10- 11)

"Dan telah Kami tundukan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud, dan Kamilah yang melakukannya. Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi kepada kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)." (QS. al-Anbiya': 79-80)

Ketika Daud duduk, maka ia bertasbih kepada Allah s.w.t dan memuliakan-Nya. Allah s.w.t memilih Daud sebagai Nabi dan memberinya Kitab Zabur. Allah s.w.t berfirman:

"Dan Kami berikan Kitab Zabur kepada Daud." (QS. al-Isra': 55)

Zabur adalah kitab suci seperti Kitab Taurat. Daud membaca kitab tersebut dan bertasbih kepada Allah s.w.t. Saat beliau bertasbih, gunung-gunung juga ikut bertasbih, dan burung-burung pun berkumpul bersama beliau.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu pagi dan petang, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masing amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan." (QS. Shad: 17-20)

Gurun terbentang sehingga mencapai ufuk. Ini adalah hari puasa Daud. Nabi Daud berpuasa pada suatu hari dan berbuka pada hari yang lain. Inilah yang disebut dengan Shiam ad-Dahr. Daud membaca Kitab Zabur dan merenungkan ayat-ayatnya. Gunung-gunung bertasbih bersamanya. Gunung menyempurnakan pembacaan ayat tersebut, dan terkadang beliau diam sementara gunung itu menyempurnakan tasbihnya. Bukan hanya gunung yang bertasbih bersama beliau, burung-burung pun ikut bertasbih. Ketika Daud mulai membaca Kitab Zabur yang suci maka burung-burung, binatang-binatang buas, dan pohon-pohon pun berkumpul di sisinya, bahkan gunung-gunung ikut bertasbih. Bukan hanya kerana ketulusan Daud yang menjadi penyebab bertasbihnya gunung-gunung atau burung-burung bersama beliau; bukan hanya keindahan suaranya yang menjadi penyebab bertasbihnya makhluk-makhluk yang lain bersama beliau, namun ini adalah mukjizat dari Allah s.w.t kepadanya sebagai Nabi yang memiliki keimanan yang agung, yang cintanya kepada Allah s.w.t sangat tulus. Bukan hanya ini mukjizat yang diberikan kepada beliau, Allah s.w.t juga memberinya ilmu atau kemampuan untuk memahami bahasa burung dan haiwan-haiwan yang lain.

Pada suatu hari, beliau merenung dan mendengarkan ocehan burung yang berdialog satu sama lain. Lalu beliau mengerti apa yang dibicarakan burung-burung itu. Allah s.w.t meletakkan cahaya dalam hatinya sehingga ia memahami bahasa burung dan bahasa haiwan-haiwan yang lain. Daud sangat mencintai haiwan dan burung. Beliau berlemah lembut kepada haiwan-haiwan itu, bahkan beliau merawatnya ketika haiwan- haiwan itu sakit sehingga burung-burung dan binatang yang lain pun mencintainya. Di samping kemampuan memahami bahasa burung, Allah s.w.t juga memberinya hikmah (ilmu pengetahuan). Ketika Daud memperoleh ilmu dari Allah s.w.t atau ketika ia mendapatkan mukjizat maka bertambahlah rasa cintanya kepada Allah s.w.t dan bertambah juga rasa syukumya kepada-Nya, begitu juga ibadahnya semakin meningkat. Oleh kerana itu, beliau berpuasa pada suatu hari dan berbuka pada hari yang lain. Allah s.w.t sangat mencintai Daud dan memberinya kerajaan yang besar. Dan masalah yang dihadapi oleh kaumnya adalah, banyaknya peperangan di zaman mereka. kerana itu, pembuatan baju besi sangat penting. Baju besi yang dibuat oleh para ahli sangat berat sehingga seorang yang berperang tidak mudah bergerak dengan bebas ketika memakai baju besi itu.

Pada suatu hari, Nabi Daud duduk sambil merenungkan masalah tersebut dan di depan beliau ada potongan besi yang beliau main-mainkan. Tiba- tiba, beliau mengetahui bahawa tangannya dapat membikin besi itu lunak. Allah s.w.t memang telah melunakkan besi bagi Daud. Lalu Daud memotong-motongnya dan membentuknya dalam potongan-potongan kecil dan melekatkan sebahagian pada yang lain, sehingga beliau mampu membuat baju besi yang baru, yaitu baju besi yang terbentuk dari lingkaran-lingkaran besi yang jika dipakai oleh seseorang yang berperang maka ia akan leluasa untuk bergerak dan tubuhnya tetap terlindung dari pedang dan kapak. Baju besi itu lebih baik dari semua baju besi yang ada pada saat itu.

Allah s.w.t melunakkan baju besi baginya. Yakni, Nabi Daud adalah orang yang pertama kali menemukan bahawa besi dapat menjadi leleh dengan api dan ia dapat dibentuk menjadi ribuan rupa. Kami merasa puas dengan tafsir seperti ini. Nabi Daud bersyukur kepada Allah s.w.t. Kemudian banyak fabrik-fabrik berdiri untuk membuat baju besi yang baru. Ketika selesai pembuatan baju besi itu dan diberikan kepada pasukannya maka musuh-musuh Daud mengetahui bahawa pedang mereka tidak akan mampu menembus baju besi ini. Baju besi yang dipakai oleh para musuh itu sangat berat dan dapat ditembusi oleh pedang. Baju besi yang mereka pakai tidak membuat mereka bergerak dengan bebas dan tidak dapat melindungi mereka saat berperang, tidak demikian halnya dengan baju besi yang dibuat oleh Nabi Daud. Setiap peperangan yang diikuti oleh tentera Daud maka beliau selalu mendapatkan kemenangan; setiap kali beliau memasuki kancah peperangan maka beliau merasakan kemenangan. Beliau mengetahui bahawa kemenangan ini semata-mata datangnya kerana Allah s.w.t sehingga rasa syukurnya kepada-Nya semakin bertambah dan tasbih yang beliau lakukan pun semakin meningkat serta kecintaan kepada Allah s.w.t pun semakin bergelora.

Ketika Allah s.w.t mencintai seorang nabi atau seorang hamba dari hamba-hamba-Nya maka Dia menjadikan manusia juga mencintainya. Manusia mencintai Nabi Daud sebagaimana burung-burung, haiwan- haiwan, dan gunung-gunung pun mencintainya. Raja melihat hal yang demikian itu lalu timbullah rasa cemburu dalam dirinya. Ia mulai berusaha untuk menyakiti Nabi Daud dan membunuhnya. Ia menyiapkan pasukan untuk membunuh Daud. Daud mengetahui bahawa raja cemburu kepadanya. Oleh kerana itu, beliau tidak memerangi raja namun apa yang beliau lakukan? Beliau mengambil pedang raja saat ia tidur lalu beliau memotong sebahagian dari pakaiannya dengan pedang itu. Kemudian beliau membangunkan raja dan berkata kepadanya: "Wahai raja, engkau telah berencana untuk membunuhku, namun aku tidak membencimu dan tidak ingin membunuhmu. Seandainya aku ingin membunuhmu maka aku lakukan saat engkau tidur. Ini bajumu telah terpotong. Aku telah memotongnya saat engkau tidur. Aku bisa saja memotong lehermu sebagai ganti dari memotong baju itu, tetapi aku tidak melakukannya. Aku tidak suka untuk menyakiti seseorang pun. Ajaran yang aku bawa hanya berisi cinta dan kasih sayang, bukan kebencian. Raja menyedari bahawa dirinya salah dan ia meminta maaf kepada Daud."

Kemudian berlalulah hari demi hari dan raja terbunuh dalam suatu peperangan yang tidak diikuti oleh Nabi Daud, kerana raja itu cemburu kepadanya dan menolak bantuannya. Setelah itu, Nabi Daud menjadi raja. Masyarakat saat itu mengetahui bahawa Daud melakukan apa saja demi kebaikan dan kebahagiaan mereka sehingga mereka rela untuk menjadikannya raja bagi mereka. Jadi, Daud menjadi Nabi yang diutus oleh Allah s.w.t sekaligus menjadi raja. Kekuasaan tersebut justru meningkatkan rasa syukur kepada Allah s.w.t dan meningkatkan ibadahnya kepada-Nya serta mendorong beliau untuk lebih meningkatkan kebaikan dan menyantuni orang-orang fakir serta menjaga kepentingan masyarakat umum.

Allah s.w.t memperkuat kerajaan Daud. Allah selalu menjadikannya menang ketika melawan musuh-musuhnya. Allah menjadikan kerajaannya sangat besar sehingga ditakuti oleh musuh-musuhnya meskipun tidak dalam peperangan. Allah menambah nikmat-Nya kepada Daud dalam bentuk memberinya hikmah. Selain memberi kenabian kepada Daud, Allah s.w.t memberi hikmah dan kemampuan untuk membezakan kebenaran dari kebatilan. Nabi Daud mempunyai seorang anak yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah anak yang cerdas dan kecerdasannya itu tampak sejak masa kecilnya. Usia Sulaiman mencapai sebelas tahun ketika terjadi kisah ini. Allah s.w.t berfirman:

"Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, kerana tanaman itu dirosaki oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu. " (QS. al-Anbiya': 78-79)

Seperti biasanya, Daud duduk dan memberikan keputusan hukum kepada manusia dan menyelesaikan persoalan mereka. Seorang lelaki pemilik kebun datang kepadanya disertai dengan lelaki yang lain. Pemilik kebun itu berkata kepadanya: "Tuanku wahai Nabi, sesungguhnya kambing laki- laki ini masuk ke kebunku dan memakan semua anggur yang ada di dalamnya. Aku datang kepadamu agar engkau menjadi hakim bagi kami. Dan aku menuntut ganti rugi."

Daud berkata kepada pemilik kambing: "Apakah benar bahawa kambingmu memakan kebun lelaki ini?" Pemilik kambing itu berkata: "Benar wahai tuanku." Daud berkata: "Aku telah memutuskan untuk memberikan kambingmu sebagai ganti dari apa yang telah dirosaki oleh kambingmu." Sulaiman berkata: "Allah telah memberinya hikmah di samping ilmu yang diwarisi dari ayahnya - aku memiliki hukum yang lain, wahai ayahku." Daud berkata: "Katakanlah wahai Sulaiman." Sulaiman berkata: "Aku memutuskan agar pemilik kambing mengambil kebun laki- laki ini yang buahnya telah dimakan oleh kambingnya. Lalu hendaklah ia memperbaikinya dan menanam di situ sehingga tumbuhlah pohon-pohon anggur yang baru. Dan aku memutuskan agar pemilik kebun itu mengambil kambingnya sehingga ia dapat mengambil manfaat dari bulunya dan susunya serta makan darinya. Jika pohon anggur telah besar dan kebun tidak rosak atau kembali seperti semula, maka pemilik kebun itu dapat mengambil kembali kebunnya dan begitu juga pemilik kambing pun dapat mengambil kambingnya." Daud berkata: "Ini adalah keputusan yang hebat wahai Sulaiman. Segala puji bagi Allah s.w.t yang telah memberimu hikmah ini. Engkau adalah Sulaiman yang benar-benar bijaksana." Nabi Daud - meskipun kedekatannya kepada Allah s.w.t dan kecintaannya kepada-Nya - selalu belajar kepada Allah s.w.t. Allah s.w.t telah mengajarinya agar ia tidak memutuskan suatu perkara kecuali setelah ia mendengar perkataan kedua belah pihak yang bertikai.

Pada suatu hari Nabi Daud duduk di mihrabnya yang di situ ia solat dan beribadah. Ketika ia memasuki kamarnya, ia memerintahkan para pengawalnya untuk tidak mengizinkan seseorang pun masuk menemuinya atau mengganggunya saat ia solat. Tiba-tiba, beliau dikejutkan ketika melihat dua orang lelaki berdiri di hadapannya. Daud takut kepada mereka berdua kerana mereka berani masuk, padahal ia telah memerintahkan agar tak seorang pun masuk menemuinya. Daud bertanya kepada mereka: "Siapakah kalian berdua?" Salah seorang lelaki itu berkata: "Janganlah takut wahai tuanku. Aku dan laki-laki ini berselisih pendapat. Kami datang kepadamu agar kamu memutuskan dengan cara yang benar." Daud bertanya: "Apa masalahnya?" Laki-laki yang pertama berkata: "Saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan kambing betina, sedangkan aku hanya mempunyai satu. Ia telah mengambilnya dariku." Ia berkata: "Berikanlah kepadaku, lalu ia mengambilnya dariku." Daud berkata tanpa mendengar pendapat atau argumentasi pihak yang lain: 'Sesungguhnya dia telah berbuat lalim kepadamu dengan meminta kambingmu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya dari kebanyakan orang-orang yang berserakan itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman.'

Daud terkejut ketika tiba-tiba dua orang itu menghilang dari hadapannya. Kedua orang itu bersembunyi laksana awan yang menguap di udara. Akhirnya, Daud mengetahui bahawa kedua lelaki itu adalah malaikat yang diutus oleh Allah s.w.t kepadanya untuk memberinya pelajaran: hendaklah ia tidak mengambil keputusan hukum di antara dua orang yang berselisih kecuali setelah mendengar perkataan mereka semua. Barangkali pemilik sembilan puluh sembilan kambing itu yang benar. Daud tunduk dan bersujud serta rukuk kepada Allah s.w.t dan meminta ampun kepada-Nya. Allah s.w.t berfirman:

"Dan sampaikah kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar? Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut dengan (kedatangan) mereka. Mereka berkata: 'Janganlah kamu merasa takut, (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat lalim kepada yang lain; maka berilah keputusan di antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: 'Serahkanlah kambing itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.' Daud berkata: 'Sesungguhnya dia telah berbuat lalim kepadamu dengan meminta kambingmu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya dari kebanyakan orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang soleh; dan amat sedikitlah mereka ini". Dan Daud mengetahui bahawa kami mengujinya; maka ia meminta. ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (QS. Shad: 21-25)

Banyak cerita dongeng atau bohong yang disampaikan orang-orang Yahudi tentang godaan yang dialami oleh Daud. Dikatakan bahawa ia tertarik dengan isteri dari salah seorang pemimpin pasukannya lalu ia mengutus pemimpin itu di suatu peperangan di mana ia mengetahui apa yang terjadi dengannya. Kemudian Daud menguasai isterinya.

Itu adalah kepalsuan yang mengada-ada. Manusia yang hatinya berhubungan dengan bintang tertinggi di langit dan tasbihnya berhubungan dengan tasbih makhluk-makhluk dan benda-benda mati, maka mustahil baginya untuk hanya melihat atau tertarik dengan keindahan atau kecantikan wajah wanita atau fiziknya. Seseorang yang melihat puncak keindahan di alam dan berhubungan dengannya secara langsung dan menundukkannya dengan tasbihnya maka mustahil baginya untuk tunduk kepada naluri seksual. Daud adalah seorang hamba Allah s.w.t dan tidak mungkin ia menjadi hamba dari nalurinya sebagaimana yang dikemukakan oleh cerita-cerita palsu Bani Israil.

Nabi Daud kembali menyembah Allah s.w.t dan bertasbih kepada-Nya serta melantunkan senandung cinta kepada-Nya sampai akhir hayatnya. Nabi Daud berpuasa sehari dan berbuka sehari. Sehubungan dengan itu, Rasulullah saw bersabda: "Sebaik-baik puasa adalah puasanya Daud. Beliau berpuasa satu hari dan berbuka satu hari. Beliau membaca Zabur dengan tujuh puluh suara; beliau melakukan solat di tengah malam dan menangis di dalamnya, dan kerana tangisannya segala sesuatu pun ikut menangis, dan suaranya dapat menyembuhkan orang yang gelisah dan orang yang menderita." Nabi Daud meninggal secara tiba-tiba sebagaimana dikatakan oleh berbagai riwayat.

Matahari mengganggu manusia, lalu Sulaiman memanggil burung dan berkata: "Naungilah Daud. Maka burung itu menaunginya. Dan angin menjadi tenang." Sulaiman berkata kepada burung: "Naungilah manusia dari sengatan matahari. Burung itu pun tunduk kepada perintah Sulaiman. Ini untuk pertama kalinya orang-orang menyaksikan kekuasaan Sulaiman."
 
18. Nabi Sulaiman

Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: 'Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.' Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata: 'Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu, sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata.'" (QS. an-Naml: 15-16)

"Dan Sulaiman telah mewarisi Daud. " Beliau mewarisi Daud dalam sisi kenabian dan kekuasaan, bukan mewarisi harta kerana para nabi tidak mewariskan. Sebab sepeninggal mereka, harta mereka menjadi sedekah bagi orang-orang yang ada di sekitar mereka, yaitu orang-orang fakir dan orang yang membutuhkan. Dan harta para nabi tidak dikhususkan bagi kalangan keluarganya. Rasulullah saw bersabda: "Kami para nabi tidak mewariskan." Sulaiman mewarisi kenabian dari Daud. Ini adalah hal yang jelas. Allah s.w.t telah memilihnya sebagai Nabi dari Bani Israil. Begitu juga, Allah s.w.t telah memberinya kekuasaan (kerajaan) sehingga ia menjadi pimpinan Bani Israil. Barangkali sesuatu yang paling penting yang diwarisi oleh Sulaiman dari Daud adalah tradisi militer. Kemajuan militer yang dahsyat ini telah berpindah kepada Sulaiman. Daud sebenarnya adalah seorang penggembala kambing yang miskin, tetapi seiring dengan perjalanan waktu, ia menjadi komandan pasukan yang tiada tandingannya. Perubahan keadaan ini adalah sebagai bentuk ilham dari Allah s.w.t dan sebagai dukungan dari-Nya.

Daud mengetahui bahawa kekuatan yang hakiki yang mengatur alam wujud adalah kekuatan Allah s.w.t. Ketika ia menghulurkan tangannya dan memegang potongan batu lalu beliau melemparkannya melalui katapelnya ke arah Jalut, maka ini sebagai bentuk demonstrasi kekuatan darinya. Kehadiran Nabi Daud mengubah keadaan pasukan Bani Israil di mana mereka sebelumnya lari jika berhadapan dengan musuh, maka kini keberadaan mereka mulai diperhitungkan. Di masa hidupnya, Daud mengalami peperangan yang cukup banyak namun Al-Quran tidak menceritakan secara terperinci hal itu. Al-Quran adalah kitab dakwah di jalan Allah s.w.t, dan bukan kitab sejarah. Al-Quran hanya mengatakan:

"Dan Kami kuatkan kerajaannya." (QS. Shad: 20)

Ayat tersebut bererti bahawa Daud belum pernah terkalahkan dalam peperangan yang diikutinya. Di samping dukungan yang Allah s.w.t berikan kepada Daud, juga pasukannya dan rakyatnya di mana mereka adalah orang-orang yang bertauhid dan menyerahkan diri kepada Allah s.w.t, Allah s.w.t mengungkapkan kepada Daud hal-hal yang menjadikan pasukannya memiliki keistimewaan yang dengannya mereka dapat mengalahkan pasukan-pasukan yang lain yang ada di bumi saat itu.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (QS. Saba': 10)

Masalah baju besi yang dibuat untuk orang-orang yang hendak berperang cukup mengganggu gerakan mereka. Anda bisa bayangkan ketika ada dua orang yang berperang yang salah satunya dapat bergerak dengan bebas, sementara yang lain tidak leluasa bergerak. Namun dengan kekuasaan Allah s.w.t, Nabi Daud dapat melunakkan besi dan membuat darinya baju besi yang ringan. Ini adalah kemajuan penting yang Allah s.w.t berikan kepada Daud dan tenteranya. Kemajuan ini kini dimiliki oleh Sulaiman. Demikianlah Sulaiman memiliki pasukan yang dahsyat yang melebihi pasukan mana pun di bumi saat itu. Bahkan Allah s.w.t menambah kurnia-Nya kepada Sulaiman:

"Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: 'Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata.'" (QS. an-Naml: 16)

Ketika kita membuka lembaran-lembaran sejarah kehidupan Nabi Sulaiman yang diungkap oleh Al-Quran, maka kita akan mengetahui bahawa kita berada di masa keemasan Bani Israil, yaitu masa Nabi mereka dan penguasa mereka Sulaiman. Sulaiman tidak merasa puas dengan apa yang telah diwarisinya dari Daud. Ambisinya mendorongnya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar.

Pada suatu hari ia menadah tangannya dan berdoa kepada Allah s.w.t. Antara hati Nabi dan Allah s.w.t tidak ada penghalang, jarak, atau waktu. Tak seorang pun dari para nabi yang berdoa kepada Allah s.w.t kecuali doanya pasti terkabul. Kejernihan hati ketika mencapai puncak tertentu, maka ia akan menggapai apa saja yang diinginkan di jalan Allah s.w.t. Dalam doanya, Nabi Sulaiman berkata:

"Ia berkata: Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahilah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seseorangpun sesudahku." (QS. Shad: 35)

Sulaiman menginginkan dari Allah s.w.t suatu kerajaan yang belum pernah diperoleh oleh siapa pun setelahnya. Allah s.w.t mengabulkan doa hamba-Nya Sulaiman dan memberinya kerajaan tersebut. Barangkali orang-orang yang hidup di saat ini bertanya-tanya mengapa Sulaiman meminta kerajaan ini yang belum pernah dicicipi oleh seorang pun setelahnya? Apakah Sulaiman - sesuai dengan bahasa kita saat ini - seorang lelaki yang gila kekuasaan. Tentu kita tidak menemukan sedikit pun masalah yang demikian dalam hati Sulaiman. Ambisi Sulaiman untuk mendapatkan kekuasaan atau kerajaan adalah ambisi yang ada di dalam seorang nabi, dan tentu ambisi para nabi tidak berkaitan kecuali dengan kebenaran. Ambisi tersebut adalah bertujuan untuk memudahkan penyebaran dakwah di muka bumi. Sulaiman sama sekali tidak cinta kepada kekuasaan dan ingin menunjukkan sikap kesombongan namun beliau ingin mendapatkan kekuasaan untuk memerangi kelaliman yang menyebar di muka bumi. Perhatikanlah kata-kata Sulaiman kepada Balqis ketika beliau berdialog dengannya tentang singgahsananya dalam surah an-Naml:

"Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: 'Serupa inikah singgahsanamu?' Dia menjawab: 'Seakan-akan singgahsana ini singgahsanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri." (QS. an-Naml: 42)

Demikianlah kata-kata Sulaiman yang bijaksana. Menurut kami, itu adalah kata-kata yang membenarkan permintaannya untuk memiliki kekuasaan dan kekuatan. Sulaiman telah mengerahkan semua kemuliaan dan kekuasaannya dalam rangka menegakkan agama Allah s.w.t dan menyebarkan Islam. Tidakkah ratu Saba' berkata pada akhir ceritanya bersama Sulaiman:

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat lalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." (QS. an-Naml: 44)

Setelah Mukadimah pokok ini, marilah kita membuka halaman-halaman cerita Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman mewarisi kekuasaan, kenabian, dan hikmah (ilmu) dari Daud. Orang-orang menyebutnya: Sulaiman al-Hakim (Sulaiman yang bijaksana). Kebijaksanaan Nabi Sulaiman tidak terbatas pada keadilannya di tengah-tengah manusia dan kasih sayangnya kepada mereka namun kebijakan Sulaiman juga berlaku di kalangan burung dan binatang lainnya. Nabi Daud juga mengenal bahasa burung, tetapi Sulaiman dapat berbicara dengan bahasa burung, bahkan ia dapat menjadikannya pembantunya. Ketika Nabi Daud bertasbih, maka gunung- gunung dan burung-burung serta binatang-binatang buas pun ikut bertasbih bersamanya bahkan angin pun berhenti untuk mendengarkan tasbih ini, sedangkan Nabi Sulaiman, Allah s.w.t memberinya kurnia lebih dari itu di mana binatang-binatang buas tunduk padanya, begitu juga angin dan burung.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: 'Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.' Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata: 'Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu, sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata.'" (QS. an-Naml: 15-16)

Nabi Sulaiman mampu mendengar bisikan semut yang berbicara dengan sesama mereka, bahkan ia mampu memerintahkan semut tersebut sehingga semut itu taat kepada perintahnya. Pasukan Nabi Sulaiman memiliki kekuatan yang sangat dahsyat di dunia. Belum pernah ada di dunia suatu pasukan yang memiliki kekuatan seperti ini, Kekuatan Nabi Sulaiman berasal dari beberapa kombinasi yang sangat mengagumkan sehingga kerananya ia tidak dapat tertanding. Kekuatan itu terdiri dari manusia, jin, dan burung. Kita mengetahui bahawa jin adalah makhluk Allah s.w.t dan manusia tidak mampu melihatnya atau menghadirkannya atau meminta pertolongannya, sedangkan Sulaiman telah diberi Allah s.w.t kemampuan untuk menundukkan jin dan memperkerjakan mereka sebagai tentera di tengah-tengah peperangan, bahkan ia mampu menjadikan mereka sebagai pekerja-pekerja kasar di kerajaannya saat tidak ada peperangan. Ketika ada pasukan lain yang mencuba melawan pasukan ini, maka mustahil mereka akan merasakan kemenangan. Bahkan pasukan Sulaiman juga diperkuat oleh pasukan burung. Burung di pasukan Sulaiman memerankan tugas penting. Yaitu apa yang kita kenal saat ini dengan istilah badan perisikan. Kita mengetahui bahawa peranan informasi saat peperangan adalah hal yang sangat penting. Dari informasi tersebut, pasukan dapat mengetahui keadaan musuhnya. Demikianlah peranan burung pada pasukan Sulaiman. Ia terbang di tengah-tengah musuh kemudian ia kembali kepada Sulaiman untuk menyampaikan berita tentang keadaan musuhnya. Di samping jin dan burung, Allah s.w.t juga menundukkan angin untuk Sulaiman. Nabi Sulaiman dapat memerintah angin dan ia mampu untuk menaiki angin bersama tenteranya.

Sekarang, kita mengetahui bahawa ide adanya pesawat terbang adalah berangkat dari usaha memanfaatkan udara di mana pesawat tersebut dapat terbang di dalamnya meskipun ia lebih berat darinya. Namun sejak dahulu Allah s.w.t memberikan kemampuan ini kepada Sulaiman di mana ia mampu menundukkan angin dan menggunakannya demi kepentingannya. Oleh kerana itu, pasukan Sulaiman juga terdiri dari pasukan udara pada saat di mana tak seorang pun memimpikan untuk terbang di udara. Barangkali mukjizat ini yang Allah s.w.t berikan kepada Sulaiman menjadi sebab kejayaan militernya sehingga pasukannya tidak tertanding. Allah s.w.t berfirman:

"Dan dihimpunkan kepada Sulaiman tenteranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka diatur dengan tertib (dalam barisan)." (QS. an- Naml: 17)

"Kemudian Kami tundukkan kepada angin yang berhembus dengan baik menurut kemana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami;, maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (QS. Shad: 36-40)

Kita akan mengetahui bahawa Sulaiman akan meninggalkan ide untuk menggunakan kuda di tengah-tengah pasukannya setelah ia pada suatu hari dibuatnya lupa pada solat. Ketika Sulaiman meninggalkan kuda dalam rangka mencapai redha Allah s.w.t, maka Dia menggantikannya dengan angin yang bertiup sesuai dengan perintahnya ke mana pun ia pergi dan ke mana pun tempat yang diinginkannya. Di samping senjata udara yang Allah s.w.t berikan kepada Sulaiman, Allah s.w.t juga memberikan kemampuan yang tak seorang pun dari para nabi mendapatkannya. Yaitu kemampuan untuk memerintah syaitan. syaitan adalah salah satu bahagian dari jin. Ia adalah kelompok yang celaka dari jin. Kelompok ini sebenarnya tidak mampu dikuasai oleh manusia, bahkan jin yang soleh pun tidak dapat mengatur mereka. Adapun Sulaiman, Allah s.w.t telah memberinya kekuasaan untuk menundukkan syaitan dan mempekerjakannya bahkan mengikatnya dengan rantai serta menghukumnya jika ia menentang perintahnya.

syaitan membangun untuk Sulaiman istana dan patung-patung dan alat- alat perang. Bahkan syaitan-syaitan itu menyelam di dasar lautan untuk mengeluarkan permata dan yakut untuk Sulaiman. Jika ada di antara syaitan yang menentang perintahnya, maka Nabi Sulaiman mengikatnya dengan rantai. Ini semua menunjukkan kekayaan Sulaiman dan kekuasaannya di mana ia mampu mengatur banyak makhluk di dunia. Tentu kemampuannya itu atas izin atau kehendak dari Tuhannya sebagai mukjizat dari-Nya. Allah s.w.t berfirman:

"Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku)." (QS. Saba': 12)

Nabi Sulaiman yang bijaksana adalah penguasa yang tak tertanding di muka bumi. Meskipun memperoleh nikmat-nikmat yang khusus dan agung ini yang Allah s.w.t berikan kepada Sulaiman, beliau tetap menunjukkan sebagai manusia yang paling banyak berzikir kepada-Nya dan manusia yang paling banyak bersyukur di zamannya.

Allah s.w.t berfirman tentang Sulaiman:

"(Sulaiman) sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)." (QS. Shad: 30)

Al-Aubah ialah kembali kepada Allah s.w.t melalui solat, puasa, tasbih, menangis, istighfar, dan mengungkapkan rasa cinta yang dalam. Hamba yang kembali adalah hamba yang menuju Allah s.w.t. Waktu solat bagi Sulaiman adalah waktu yang sangat penting sehingga ketika datang waktu itu, maka beliau tidak bisa disibukkan dengan hal yang lain. Pada suatu hari, beliau nyaris kehilangan waktu solat. Tentu hal ini di luar kehendaknya. Pada saat itu, beliau sibuk mengurus persoalan yang penting, yaitu menyiapkan tentera untuk perang. Saat itu bertepatan dengan waktu Asar. Sulaiman masih menyiapkan kuda tentera- tenteranya. Kuda pada waktu itu menjadi senjata yang penting di tengah-tengah pasukannya. Sulaiman lewat di depan kuda dan memeriksanya sehingga beliau nyaris kehilangan waktu solat Asar.

Sulaiman sujud kepada Allah s.w.t kemudian ia solat. Ia meminta agar kuda itu dikembalikan kepadanya. Ketika kuda datang, ia mengusap lehernya dan kakinya dengan tangannya lalu ia meminta ampun kepada Allah s.w.t kerana ia sibuk menyiapkan pasukan untuk berjihad sehingga nyaris kehilangan waktu solat. Sejak peristiwa itu, Sulaiman merasa tidak lagi membutuhkan kuda di tengah-tengah pasukannya. Lalu Allah s.w.t menggantikannya dengan angin yang mampu membawa tenteranya ke mana pun ia pergi. Allah s.w.t berfirman:

"Dan Kami kurniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. maka ia berkata: 'Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan.' Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku.' Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu." (QS. Shad: 30-33)

Sulaiman mengetahui penyakit kuda dan ia mampu berbicara dengan bahasa kuda, bahkan kuda itu pun mentaati perintah Nabi Sulaiman. Allah s.w.t juga memberikan kenikmatan lain atas Sulaiman Allah s.w.t berfirman:

"Dan Kami alirkan cairan tembaga baginya." (QS. Saba': 12)

Al-Kithir adalah tembaga yang dicairkan. Sebagaimana Allah s.w.t memberikan nikmat atas ayahnya Daud di mana ia mampu melunakkan besi dan Allah s.w.t mengajarinya bagaimana cara mencairkannya, maka Sulaiman pun memanfaatkan tembaga yang cair itu untuk peperangan dan di saat perdamaian. Pada saat peperangan beliau mencampur tembaga dengan besi dan membuat darinya perunggu. Mereka menggunakan senjata-senjata perunggu dalam peperangan, seperti pedang, baju besi dan pisau. Senjata-senjata ini adalah senjata yang paling kuat di saat itu. Sedangkan di saat perdamaian, tembaga digunakan untuk membuat bangunan, patung, dan sebagainya. Meskipun Nabi Sulaiman mendapatkan nikmat yang besar ini dan kurnia yang khusus, Allah s.w.t telah mengujinya dengan suatu ujian. Ujian akan selalu datang pada seorang hamba. Ketika hamba itu mendapat kedudukan besar, maka ujiannya pun menjadi besar. Allah s.w.t menguji Sulaiman dengan penyakit.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kerusinya sebagai tubuh (yang lemah kerana sakit), kemudian ia bertaubat. Ia berkata: 'Ya Tuhanku, ampunilah aku anugerahkanlah kerajaan yang tidak dimiliki oleh seseorang pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi. Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang ia kehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam. " (QS. Shad: 34-37)

Para ahli tafsir berbeza pendapat tentang fitnah atau ujian yang dialami oleh Nabi Sulaiman. Barangkali riwayat yang paling terkenal dalam hal ini adalah riwayat yang paling penuh dengan kebohongan. Dikatakan bahawa Sulaiman bertekad untuk menggilir isteri-isterinya yang berjumlah tujuh ratus pada satu malam saja untuk melakukan hubungan seks dengan mereka, sehingga para wanita itu akan melahirkan seorang anak yang dapat berperang di jalan Allah s.w.t. Sulaiman tidak mengatakan insya- Allah lalu ia menggilir isteri-isterinya dan tidak ada seorang pun yang melahirkan kecuali seorang wanita yang melahirkan anak yang buruk rupa.

Kisah tersebut berbeza atau kontradiksi dari permulaannya dan akhirannya. Tentu kisah itu berasal dari cerita khurafat yang direkayasa oleh orang-orang Yahudi atau termasuk dari israiliyat. Hakikat ujian yang dialami Nabi Sulaiman adalah apa yang disebutkan oleh Fakhrur Razi: "Sulaiman diuji dengan suatu penyakit yang keras di mana kedoktoran saat itu tidak mampu mengatasinya. Sakitnya Sulaiman sangat keras sehingga para doktor dari kalangan manusia dan jin pun tidak mampu menghilangkan penyakitnya. Lalu burung-burung menghadirkan rumput- rumput yang dianggap sebagai ubat tetapi Sulaiman pun belum juga sembuh. Semakin hari penyakit Sulaiman semakin menjadi-jadi sehingga ketika Sulaiman duduk di atas kerusi ia duduk bagaikan tubuh tanpa roh, seakan-akan ia mati kerana saking kerasnya penyakit yang dideritanya. Sakit yang diderita oleh Sulaiman terus berlanjutan untuk beberapa saat namun Sulaiman tidak henti-hentinya berzikir kepada Allah s.w.t dan meminta kesembuhan kepada-Nya serta beristighfar kepada-Nya dan mengungkapkan rasa cintanya kepada-Nya."

Selesailah ujian Allah s.w.t terhadap hamba-Nya, Sulaiman. Beliau pun sembuh. Kini Sulaiman merasakan kembali kesehatannya setelah ia mengetahui segala kejayaannya dan segala kekuasaannya serta segala kebesarannya tidak lagi mampu menghilangkan penyakit yang dideritanya kecuali jika Allah s.w.t menghendakinya. Inilah pendapat yang lebih menenangkan hati kami. Pendapat tersebut sesuai dengan kemaksuman Sulaiman sebagai Nabi yang bijaksana dan Nabi yang mulia:

"Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kerusinya sebagai tubuh (yang lemah kerana sakit)" (QS. Shad: 34)

Sakit yang diderita Sulaiman membuat dirinya seperti jasad yang tak bernyawa. Kata jasad dalam bahasa Arab diungkapkan atas sesuatu yang kehilangan kehidupan atau kesehatan. Sulaiman berubah menjadi jasad kerana saking kerasnya penyakit yang dideritanya.

"Kemudian ia bertaubat." (QS. Shad: 34)

Lalu Nabi Sulaiman kembali sehat. Ia meminta pertolongan dengan rahmat Allah s.w.t lalu Allah s.w.t menyembuhkannya dan merahmatinya. Nabi Sulaiman telah membangun masjid atau tempat beribadah sehingga manusia menyembah Allah s.w.t di dalamnya. Rumah ini menunjukkan keunggulan seni arkitektur dan seni pahat. Orang-orang yang membangun rumah ini berjumlah puluhan ribu orang. Tentu setiap kelompok dari mereka memiliki pekerjaan masing-masing. Di antara mereka ada yang mencairkan tambang; di antara mereka ada tukang pahat; ada yang membelah batu; ada yang memotong-motong kayu; ada yang mendatangkan rumput-rumput dari Lebanon; ada yang melelehkan emas dan menjadikannya lempengan-lempengan yang mengkilat untuk menutupi kayu dan menutupi dinding.

Bahkan golongan jin juga membantu pembangunan rumah tersebut, tentu dengan perintah dan bimbingan Nabi Sulaiman. Mereka membuat patung- patung yang besar dan membuat bejana yang besar untuk tempat, makanan para tentera dan pekerja, yaitu bejana seperti gunung kerana saking beratnya dan besarnya. Mereka juga membuat tempat-tempat minum yang besarnya seperti kolam. Sulaiman mengawasi para pekerjanya dan juga mengurus masyarakatnya di mana beliau mengenali masalah mereka dan berusaha memecahkannya. Beliau juga mengawasi pasukannya dari kalangan binatang dan burung. Beliau mengetahui apakah ada satu di antara mereka yang tidak hadir dan di mana ia pergi serta mengapa ia pergi.

Nabi Sulaiman bukan hanya mengetahui masalah tenteranya dari kalangan manusia dan tenteranya dari kalangan burung, namun ia juga menunjukkan kasih sayangnya terhadap semut di mana beliau mendengar bisikannya dan tidak suka untuk menginjaknya. Nabi Sulaiman selalu menundukkan kepalanya ke bumi sebagai bentuk rasa rendah diri dan syukur kepada Allah s.w.t. Pada suatu hari ia berjalan di depan tenteranya dan tiba-tiba ia mendengar suara semut yang berkata kepada temannya dari kalangan semut:

"Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: 'Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak terinjak oleh Sulaiman dan tenteranya, sedangkan mereka tidak menyedari';, maka dia tersenyum kerana (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: 'Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ke dua orang ibu dan bapakku dan untuk mengerjakan amal soleh yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh." (QS. an-Naml: 18-19)

Sulaiman mendengarkan pembicaraan semut itu lalu beliau tersenyum kerana mendengar pembicaraannya. Apa yang dibayangkan oleh semut kecil itu? Meskipun Sulaiman mendapatkan kekuasaan dan memiliki tentera yang besar, namun beliau menunjukkan kasih sayang terhadap semut. Beliau mendengar bisikannya dan melihat semut yang di depannya. Oleh kerana itu, tak mungkin baginya untuk menginjaknya. Sulaiman bersyukur kepada Allah s.w.t yang telah memberinya nikmat ini, yaitu nikmat rahmat dan nikmat kasih sayang. Di samping itu, Sulaiman orang yang paling kaya di dunia di mana istananya terbuat dari kayu gaharu yang memiliki bau yang harum dan istananya terbuat dari emas dan terkadang dari kristal. Beliau juga memiliki kerusi besar yang dibuat dari emas dan permata. Istana Sulaiman merupakan istana yang paling besar di dunia. Sulaiman menggunakan pakaian dari emas dan permata. Meskipun demikian, Sulaiman tetap menunjukkan sebagai hamba yang berserah diri dan rendah diri kepada Allah s.w.t dan kepada manusia. Nabi Sulaiman yang merendahkan dirinya di hadapan Allah s.w.t dan ia selalu sujud pada Allah s.w.t sebagaimana ayahnya yang selalu bertasbih kepada Allah s.w.t. Sulaiman selalu melantunkan lagu-lagu cinta Ilahi dan hanya memuji Allah s.w.t.

Pada suatu hari, Nabi Sulaiman mengeluarkan perintahnya kepada pasukannya untuk bersiap-siap. Sulaiman keluar memeriksa pasukannya. Satu demi satu pasukannya ditelitinya. Kelompok yang pertama adalah kelompok manusia. Sulaiman memperhatikan kesiapan mereka, lalu Sulaiman mengeluarkan perintah-perintahnya. Kemudian Sulaiman memeriksa kelompok jin dan menyampaikan perintah-perintahnya kepada mereka. Beliau memenjarakan jin yang tampak bermalas-malas saat bekerja. Lalu ia memeriksa binatang dan berkata kepada mereka, apakah mereka sudah, makan dengan baik dan tidur dengan nyenyak, apakah ada yang mengadu kepadanya, misalnya kerana penyediaan, makanan tidak layak, apakah di sana ada yang sakit, dan sebagainya. Ketika Sulaiman merasa puas dengan semuanya, Sulaiman memasuki tenda tempat berkumpulnya burung. Belum lama Sulaiman memasuki tenda tersebut dan mengamat-amati keadaan di sekitarnya sehingga ia mengetahui burung yang tidak hadir yaitu Hud-hud:

"Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: 'Mengapa aku tidak melihat hud-hud." (QS. an-Naml: 20)

Burung-burung yang lain tampak terdiam sebagai penghormatan dan akan mendengarkan apa yang akan dikatakan pemimpin mereka Sulaiman. Beliau mengarahkan pandangannya pada semua burung dan tidak menemukan Hud-hud di antara mereka. Tak seekor burung pun yang mengetahui keberadaannya. Sulaiman mulai menampakkan kemarahannya:

"Apakah dia termasuk yang tidak hadir?" (QS. an-Naml: 20)

Tiba-tiba seekor burung kecil memberanikan diri untuk berkata kepada Sulaiman: "Wahai Nabi yang mulia, seharusnya hud-hud ada bersamaku kelmarin untuk melaksanakan tugas penyelidikan. Ia adalah pemimpin misi itu namun hud-hud belum datang. Oleh kerana itu, aku tidak pergi bersamanya." Burung itu tampak gementar ketakutan. Sulaiman mengetahui bahawa hud-hud tidak hadir, dan tak seorang pun mengetahui kepergiannya. Hud-hud pergi tanpa terlebih dahulu meminta izin kepada Sulaiman dan tidak memberitahu di mana keberadaannya. Dalam keadaan marah, Sulaiman berkata:

"Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika ia benar-benar datang kepadaku dengan alasan yang jelas." (QS. an-Naml: 21)

Kawanan burung mengetahui bahawa Sulaiman sedang marah dan telah menetapkan untuk menyeksa hud-hud atau menyembelihnya atau justru memaafkannya dengan syarat, ia datang dengan membawa alasan yang dapat menyelamatkannya. Atau dengan kata lain, hud-hud dapat memastikan bahawa ia melaksanakan tugas yang penting. Sulaiman menunjukkan kemarahan yang besar sehingga siapa pun akan merasa takut. Ketika Sulaiman marah - meskipun beliau terkenal dengan kasih sayangnya - maka kemarahannya kerana membela kebenaran, kemudian beliau dapat melaksanakan ancamannya dengan cara yang mudah. Seekor burung tampak gementar ketakutan melihat kemarahan Sulaiman, lalu beliau menghulurkan tangannya ke burung itu dan memegang-megang kepalanya sehingga burung itu pun merasa tenang dan rasa takutnya hilang.

Sulaiman pergi dari tenda burung itu dan menuju istananya. Sulaiman masih memikirkan keadaan hud-hud. Seharusnya hud-hud menjadi bahagian penting dari badan perisikan. Apakah ia pergi untuk menyingkap sesuatu, atau apakah ia pergi hanya untuk bermain-main? Sulaiman telah memperhatikan dan mengetahui bahawa hud-hud adalah seekor burung yang cerdik dan juga fasih berbicara. Terkadang Sulaiman mendapati hud-hud sedang bermain-main dan menunda pekerjaannya. Sulaiman melihatnya dan hud-hud memakami bahawa ini tidak benar. Sebab, ia tidak boleh mencampur adukkan antara waktu serius dan waktu bermain.

Akhirnya, tidak lama setelah kepergiannya, hud-hud tiba di tenda burung. Burung-burung yang lain berkata kepadanya: "Pergilah engkau ke tempat tuan kita Sulaiman. Jika ia mengetahui bahawa engkau telah sampai, maka jiwamu benar-benar terancam." Hud-hud terbang dan menemui Sulaiman. Pada waktu itu beliau sedang duduk sambil, makan. Hud-hud berdiri dan telah menetapkan untuk memulai pembicaraan dengan Sulaiman sebelum beliau bertanya kepadanya ke mana dia pergi. Ini sebagai bukti bahawa ia melaksanakan tugas penting. Hud-hud berkata:

"Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba' suatu berita penting yang diyakini." (QS. an-Naml: 22)

Aku adalah hud-hud yang miskin, tetapi aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui, dan aku telah datang kepadamu dari kerajaan Saba' dengan membawa berita yang sangat penting. Sulaiman tampak terdiam dan menunggu hud-hud menyelesaikan pembicaraannya:

"Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgahsana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk." (QS. an-Naml: 23-24)

Hud-hud diam sejenak dan Sulaiman merasa bahawa hud-hud menunjukkan kefasihan lisannya dan berbicara dengan baik kepadanya. Hud-hud mengemukakan perkataan yang sering disampaikan Sulaiman kepada manusia dan burung:

"Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan yang mempunyai Arasy yang besar." (QS. an-Naml: 25-26)

Jelas sekali bahawa hud-hud mengulangi perkataan pemimpin kita Sulaiman, sebagai usaha terakhir untuk memperoleh kasih sayang Sulaiman dan agar beliau puas dengan penjelasannya itu. Sulaiman berkata sambil menunjukkan senyuman manis di wajahnya:

"Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang- orang yang berdusta." (QS. an-Naml: 27)

Hud-hud ingin mengatakan, aku tidak bohong wahai Nabi yang mulia namun diamnya Sulaiman membuatnya takut, sehingga ia pun terdiam. Sulaiman terdiam kerana berfikir, lalu ia memutuskan sesuatu. Setelah itu, beliau mengangkat kepalanya dan meminta secarik kertas dan pena. Sulaiman segera menulis surat singkat dan menyerahkannya kepada hud- hud serta memerintahkannya:

"Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan." (QS. an-Naml: 28)

Al-Quran al-Karim hanya menceritakan dalam surah an-Naml bagaimana perginya hud-hud dan bagaimana ia menyerahkan surat itu. Lalu, Al- Quran langsung menyebut keadaan kerajaan Balqis yang saat itu ia sedang membaca surat tersebut di depan para pembesar kerajaannya dan para menterinya:

"Berkata ia (Balqis): 'Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya: 'Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. bahawa janganlah kalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.'" (QS. an-Naml: 29- 31)

Dalam surat Sulaiman itu disebutkan, hendaklah mereka menyerahkan diri dan tunduk kepada perintahnya. Sulaiman memerintahkan agar mereka meninggalkan penyembahan terhadap matahari. Sulaiman tidak mempersoalkan akidah mereka dan tidak memuaskan mereka dengan apa pun. Sulaiman hanya memerintahkan bahawa ia berada di atas kebenaran. Bukankah ia didukung kekuatan yang berlandaskan keyakinan yang dimilikinya Sulaiman hanya memerintahkan mereka agar tunduk dan patuh kepadanya. Ratu Saba' menyampaikan surat tersebut di tengah- tengah kaumnya:

"Berkata dia (Balqis): 'Hai putera para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majlis(ku).'" (QS. an- Naml: 32)

Sementara itu, reaksi para pembesar istana adalah menentang surat tersebut. Isi surat itu membangkitkan kecongkakan kaum Saba' di mana mereka merasa lebih kuat. Mereka mengetahui bahawa di sana ada orang yang mencuba menentang mereka dan mengisyaratkan peperangan kepada mereka, lalu ia meminta kepada mereka untuk memenuhi syarat- syaratnya sebelum terjadinya peperangan dan kekalahan:

"Mereka menjawab: 'Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu;, maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan." (QS. an-Naml: 33)

Para pembesar kaumnya ingin berkata, kita siap untuk melaksanakan peperangan. Tampaknya ratu itu memiliki kebijakan yang lebih baik daripada pembesar kaumnya. Surat Sulaiman itu membuatnya berfikir lebih jernih dan lebih hati-hati. Ia berusaha seboleh mungkin menghindari peperangan. Ratu itu berfikir dalam tempo yang lama. Nama Sulaiman tidak diketahuinya dan ia pun belum pernah mendengarnya. Oleh kerana itu, ratu tidak mengetahui kekuatannya. Boleh jadi Sulaiman memiliki kekuatan yang dahsyat sehingga ia mampu memerangi kekuasaannya dan mengalahkannya. Kemudian ratu memperhatikan apa yang ada di sekelilinginya. Ia melihat kemajuan masyarakatnya dan kekayaannya. Barangkali ia mengira bahawa Sulaiman iri terhadap kemajuan dan kekayaan ini sehingga Sulaiman ingin menyerangnya. Setelah mempertimbangkan isi surat Sulaiman dengan cermat, ratu Saba' memilih untuk tidak bersikap ceroboh. Ratu lebih suka untuk menggunakan bahasa kelembutan. Ia mengirim kepada Sulaiman suatu hadiah yang besar. Ratu mengira bahawa Sulaiman seorang yang ambisius yang boleh jadi ia telah mendengar tentang kekayaan kerajaannya.

Para utusan pergi dengan membawa hadiah dari ratu Saba'. Ratu berharap agar mereka dapat memasuki kerajaan Sulaiman dan akan mengetahui kondisi kerajaannya. Saat mereka pulang, ratu ingin mendengar secara langsung dari mereka tentang keadaan kaum Sulaiman dan pasukannya. Setelah mendapatkan informasi yang cukup, maka si ratu dapat membuat sesuatu keputusan yang tepat. Ratu menyembunyikan apa yang terlintas dalam dirinya lalu ia berbicara kepada pembesar istananya bahawa ia dapat menyingkap niat jahat raja Sulaiman melalui cara mengirim hadiah kepadanya. Ratu lebih memilih cara tersebut dan menunggu reaksi Sulaiman. Ratu berhasil memuaskan para pembesar istananya, dan untuk sementara ia menghilangkan ide berperang, kerana para raja jika menyerang suatu desa, maka pemimpin desa tersebut adalah orang yang paling banyak mendapatkan kehinaan dan cercaan. Akhirnya, para pembesar kaumnya merasa puasa dengan fikirannya itu. Allah s.w.t berfirman:

"Dia berkata: 'Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, nescaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.'" (QS. an-Naml: 34- 35)

Kemudian sampailah hadiah ratu Balqis ke Nabi Sulaiman. Para badan perisikannya memberitahunya bahawa para utusan Balqis datang dengan membawa hadiah. Sulaiman langsung mengetahui bahawa ratu itu sengaja mengirim orang-orangnya untuk mengetahui atau mendapatkan informasi tentang kekuatannya, lalu setelah itu, ia mengambil keputusan atau sikapnya kepada Sulaiman. Sulaiman segera memanggil semua pasukannya untuk berkumpul.

Utusan Balqis segera memasuki istana Sulaiman yang dipenuhi dengan pasukan besar yang bersenjata. Tiba-tiba, utusan Balqis tampak tercengang ketika melihat kekayaan mereka dan harta mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerajaan Sulaiman. Hadiah mereka tampak tidak bererti. Emas yang mereka bawa tampak tidak bererti saat mereka memasuki istana Sulaiman yang terbuat dari kayu-kayu pohon gaharu yang mengeluarkan bau yang harum serta dihiasi dengan emas. Para utusan Balqis berdiri bersama Sulaiman dan menyaksikan bagaimana Sulaiman mengendalikan pasukannya. Kemudian mereka mulai berfikir tentang kekuatan dan kualiti pasukan Sulaiman. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat di tengah-tengah pasukan itu terdapat singa, burung dan tentera dari kalangan manusia yang mampu terbang. Mereka pun sadar bahawa mereka di hadapan pasukan yang tiada taranya.

Selesailah demonstrasi pasukan Sulaiman. Kemudian para utusan ratu dipersilakan maju ke tempat hidangan, makan. Para utusan itu sangat terkejut ketika melihat berbagai macam, makanan dari penjuru bumi ada di depannya, dan di antara, makanan itu pun terdapat, makanan yang biasa di temukan di negeri mereka, tetapi mereka melihat bahawa, makanan itu memiliki rasa yang istimewa. Selain itu, piring-piring yang ada di depan mereka dan dijadikan tempat, makanan terbuat dari emas dan mereka dilayani oleh laki-laki yang berhias dengan emas, ratu mereka pun tidak mengenakan hiasan itu. Di meja, makan itu terdapat burung, ikan laut dan berbagai macam daging yang mereka tidak mampu lagi membezakannya. Sulaiman tidak, makan bersama mereka tetapi beliau, makan dengan menggunakan piring yang terbuat dari kayu. Beliau memakan roti yang kering yang dicampur dengan minyak. Inilah, makanan yang dipilihnya.

Sulaiman, makan bersama mereka dalam keadaan diam. Mereka merasa bahawa kehadiran Sulaiman menciptakan suatu kewibawaan yang luar biasa. Selesailah jamuan, makan itu, lalu dengan sangat malu, mereka menyerahkan hadiah ratu Balqis kepada Sulaiman. Hadiah itu berupa emas. Bagi mereka, hadiah itu sangat bernilai tetapi di sini hadiah ini tampak kecil di hadapan kekayaan yang sangat mengagumkan. Sulaiman memperhatikan hadiah ratu itu dan berkata:

"Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: 'Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta?, maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. (QS. an- Naml: 36)

Raja Sulaiman menyingkap - dengan kata-katanya yang singkat itu - penolakannya terhadap hadiah mereka. Ia memberitahu utusan itu bahawa ia tidak menerima hadiah tersebut. Ia tidak merasa puas dengan hadiah itu. Yang membuatnya puas hanya: "Janganlah kalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. "

Lalu Sulaiman kembali berkata dengan pelan:

"Kembalilah kepada mereka. Sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentera yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba') dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina." (QS. an- Naml: 37)

Sulaiman meninggalkan para utusan ratu itu setelah terlebih dahulu mengancam mereka. Para utusan itu mengharap agar Sulaiman mau menunggu kunjungan ratu Balqis sendiri yang akan membawa misi perdamaian. Akhirnya, sampailah para utusan Balqis ke Saba' mereka segera menuju istana ratu. Mereka memberitahu bahawa negeri mereka ada di hujung tanduk. Mereka menceritakan kepada ratu kekuatan Sulaiman, dan tidak mungkin bagi mereka mampu melawannya. Mereka meyakinkan Balqis bahawa ia harus mengunjunginya dan melihat sendiri. Kemudian ratu menyiapkan dirinya untuk pergi menuju kerajaan Sulaiman. Sulaiman duduk di kerusi kerajaan di tengah-tengah para pembesarnya dan para menterinya serta para komandan pasukan. Beliau berfikir tentang Balqis. Sulaiman mengetahui bahawa Balqis menuju tempatnya. Balqis dikelilingi rasa takut. Sulaiman berfikir sejenak tentang bagaimana matahari disembah. Ia memikirkan bagaimana informasi yang diterima badan perisikannya tentang kemajuan kerajaan Balqis dalam bidang kesenian dan ilmu pengetahuan. Sulaiman bertanya kepada dirinya sendiri, apakah kemajuan menjadi penghalang untuk mengetahui kebenaran, apakah ratu itu gembira dengan kekuatan yang dicapainya dan ia membayangkan bahawa kekuatan adalah?

Dengan kemajuan yang dimilikinya, Sulaiman ingin membuat kejutan agar ratu mengetahui bahawa Islam yang diyakini oleh Sulaiman adalah satu-satunya yang mampu mendatangkan kemajuan dan kekuatan yang hakiki, sehingga ia dapat membandingkan antara keyakinannya dalam menyembah matahari berserta kemajuan yang dicapainya dan keyakinan Sulaiman juga berserta kemajuan yang diraihnya.

Para perisik Sulaiman telah memberitahunya bahawa hal yang sangat disegani dan dikagumi oleh kaum Balqis adalah kerajaan Saba', yaitu singgahsana ratu Balqis. Singgahsana itu terbuat dari emas dan batu mulia; singgahsana tersebut dijaga oleh para penjaga yang sangat disiplin di mana mereka tidak pernah lalai sedikit pun. Oleh kerana itu, sangat tepat bila Sulaiman menghadirkan singgahsana di sini, di kerajaannya sehingga ketika ratu tiba, maka ia dapat duduk di atasnya. Sulaiman ingin membuat kejutan kepadanya dan menunjukkan bahawa kemampuannya tersebut yang berlandaskan pada keislamannya. Sulaiman melakukan yang demikian itu dengan harapan agar si ratu tunduk kepadanya. Ide ini terlintas dalam diri Sulaiman, lalu ia mengangkat kepalanya dan menoleh kepada anak buahnya:

"Berkata Sulaiman: 'Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgahsananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.'" (QS. an-Naml: 38)

Perhatikanlah ungkapan fikiran Nabi Sulaiman tersebut. Semua pemikirannya berkisar tentang keislaman, para penyembah matahari; tentang bagaimana beliau dapat memberikan petunjuk kepada mereka di jalan Allah s.w.t. Yang pertama menjawab pertanyaan Sulaiman itu adalah Ifrit dari kalangan jin yang Allah s.w.t telah menundukkan mereka kepada Sulaiman:

"Berkata Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: 'Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgahsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.'" (QS. an-Naml: 39)

Sulaiman berdiri dari tempat duduknya setelah satu jam atau dua jam, namun jin itu berjanji kepadanya untuk menghadirkan singgahsana Balqis sebelum itu. Istana Sulaiman di Palestina sedangkan istana Balqis terletak di Yaman. Jarak antara singgahsana tersebut dan singgahsana Sulaiman lebih dari ribuan juta. Barangkali pesawat yang cepat sekali pun yang kita kenal hari ini tidak akan mampu membawa dan mendatangkan istana itu dalam waktu satu jam. Tetapi masalahnya di sini berhubungan dengan kekuatan jin yang misteri.

Sulaiman tidak mengomentari sedikit pun terhadap apa yang dikatakan oleh Ifrit dari kalangan jin. Tampak ia menunggu tanggapan lain yang mampu menghadirkan singgahsana Balqis yang lebih cepat dari itu. Sulaiman menoleh kepada seseorang di sana yang duduk di atas naungan:

"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab: 'Aku akan membawa singgahsana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.', maka tatkala Sulaiman melihat singgahsana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: 'Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencuba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat- Nya). Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) diriku sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia." (QS. an-Naml: 40)

Belum lama seseorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab menyatakan kalimatnya sehingga singgahsana itu bercokol di depan Sulaiman. Ia mampu menghadirkan singgahsana itu lebih cepat atau lebih sedikit dari kedipan mata ketika mata itu tertutup dan terbuka. Al-Quran al-Karim tidak menyingkap keperibadian seseorang yang menghadirkan singgahsana itu. Al-Quran hanya menggaris bahawa orang itu mempunyai ilmu dari al-Kitab. Al-Quran tidak menjelaskan kepada kita, apakah ia seorang malaikat atau manusia atau jin. Begitu juga Al-Quran al-Karim sepertinya menyembunyikan kitab yang dimaksud di mana darinya orang tersebut mempunyai kemampuan yang luar biasa ini. Al-Quran sengaja tidak menyingkap hakikat kitab yang dimaksud.

Kita sekarang berhadapan dengan mukjizat yang besar yang terjadi dan dilakukan seseorang yang duduk di tempat Sulaiman. Yang jelas, Allah s.w.t menunjukkan mukjizat-Nya, adapun rahsia di balik mukjizat ini, maka tak seorang pun yang mengetahuinya kecuali Allah s.w.t. Demikianlah, konteks Al-Quran menyebutkan kisah tersebut untuk menjelaskan kemampuan Nabi Sulaiman yang luar biasa, yaitu kemampuan yang menegaskan adanya seseorang alim ini di majlisnya. Termasuk tindakan fudhul (sok mau tahu) jika orang bertanya siapa yang memiliki ilmu dari al-Kitab ini: apakah Jibril atau Ashif bin Barkhiya atau makhluk yang lain. Juga termasuk fudhul jika kita bertanya tentang al- Kitab ini: apakah orang yang mengetahui isinya menggunakan ismullah al- A 'dzham (nama Allah s.w.t yang agung) untuk menghadirkan singgahsana.

Semua pembahasan seputar masalah ini dianggap fudhul. Betapa tidak, Al-Quran sendiri tidak menerangkan hal itu sehingga rasa-rasanya kita tidak perlu membahas terlalu jauh. Singgahsana itu tampak di depan Sulaiman. Perhatikanlah tindakan Nabi Sulaiman setelah adanya mukjizat ini. Beliau tidak merasa kagum terhadap kemampuannya yang luar biasa; beliau tidak tercengang dengan kekuatannya; beliau mengembalikan keutamaan tersebut kepada Penguasa para penguasa (Allah s.w.t) dan bersyukur kepada-Nya yang telah mengujinya dengan kekuasaan ini agar ia dapat membuktikan apakah ia bersyukur atau mengingkari. Setelah Sulaiman bersyukur kepada Penciptanya, ia mulai memperhatikan singgasana si ratu. Singgasana tersebut merupakan simbol pembangunan dan kemajuan tetapi tampaknya ia hanya sesuatu yang biasa dibandingkan dengan kekuasaan dan kebesaran ciptaan yang dibikin oleh manusia dan jin di kalangan istana Sulaiman. Sulaiman memikirkan dalam tempo yang lama singgasana Balqis kemudian beliau memerintahkan agar singgasana itu diperbaiki sehingga saat Balqis datang Sulaiman dapat mengujinya, apakah Balqis dapat mengenali singgahsananya atau tidak:

Dia berkata: 'Ubahlah baginya singgahsananya;, maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenalnya.'" (QS. an-Naml: 41)

Sulaiman memerintahkan agar dibangun istana yang akan digunakan untuk menyambut Balqis. Sulaiman memilih tempat di laut dan ia memerintahkan agar dibangun suatu istana di mana sebahagian besarnya terdiri dari air laut. Sulaiman memerintahkan agar tanah-tanah itu terbuat dari kaca yang tebal dan kuat sehingga orang yang berjalan di atas istana itu akan membayangkan bahawa di bawahnya ada ikan-ikan yang berwarna dan berenang dan ia melihat rumput-rumput laut yang bergerak.

Akhirnya, selesailah pembangunan istana itu, dan saking bersihnya kaca yang terbuat darinya tanah kamarnya sehingga tampak di sana tidak ada kaca. Hud-hud memberitahu Sulaiman bahawa Balqis telah sampai di dekat kerajaannya. Kemudian Balqis datang. Al-Quran tidak menyebutkan keadaan Sulaiman saat menyambut Balqis, namun Al-Quran justru menunjukkan dua sikap Balqis: pertama, bagaimana sikap Balqis ketika pertama kali melihat singgahsananya yang datang mendahuluinya, padahal ia telah meninggalkan pengawalnya untuk tetap setia menjaga singgasana itu; kedua keadaannya di depan tanah istana yang penuh dengan permata yang berenang di bawahnya ikan-ikan:

"Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: 'Serupa inikah singgahsanamu?' Dia menjawab: 'Seakan-akan singgasana ini singgahsanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.'" (QS. an-Naml: 42)

Ayat tersebut menggambarkan kondisi dialog antara Sulaiman dan Balqis. Balqis melihat singgahsananya dan ia tercengang saat mengetahui bahawa itu adalah singgahsananya, namun ia kemudian mulai ragu kerana melihat tidak sepenuhnya itu singgahsananya. Jika itu benar-benar singgahsananya, lalu bagaimana ia datang mendahuluinya dan bila bukan singgahsananya, maka bagaimana Sulaiman dapat meniru se persis dan se teliti ini. Sulaiman berkata saat melihat Balqis mengamati singgahsananya: "Apakah ini singgahsanamu?" Setelah mengalami kebingungan sesaat Balqis menjawab: "Sepertinya benar." Sulaiman berkata: "Kami telah diberi ilmu sebelumnya dan kami sebagai orang- orang Muslim."

Melalui penyataannya itu, Sulaiman ingin mengisyaratkan kepada Balqis agar ia membandingkan antara keyakinannya berserta ilmu yang dicapainya dan keyakinan Sulaiman yang Muslim berserta pengetahuan yang diraihnya. Penyembahan terhadap matahari dan pencapaian ilmu yang dicapai oleh Balqis tampak tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ilmu Sulaiman dan keislamannya. Sulaiman telah mendahuluinya dalam bidang ilmu kerana keislamannya. kerana itu, sangat mudah baginya untuk mengungguli Balqis dalam ilmu-ilmu yang lain.

Demikianlah yang diisyaratkan pernyataan Sulaiman kepada Balqis. Ratu Saba' itu mengetahui bahawa ini adalah singgahsananya di mana singgasana itu datang lebih dahulu daripada dirinya. Beberapa bahagian dirinya telah diubah. Saat Balqis masih berjalan menuju tempat Sulaiman, ia berfikir: kemampuan apa yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman? Balqis tercengang melihat apa yang disaksikannya yang merupakan buah dari keimanan Sulaiman dan hubungannya dengan Allah s.w.t. Sebagaimana Balqis tercengang ketika melihat kemajuannya dalam bidang pembangunan seni dan ilmu, maka ia lebih kagum lagi saat melihat hubungan yang kuat antara keislaman Sulaiman dan ilmunya serta kemajuannya:

"Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya) kerana sesungguhnya dia terdahulu termasuk orang-orang yang kafir." (QS. an-Naml: 43)

Bergoncanglah dalam benak Balqis ribuan hal. Ia melihat keyakinan kaumnya runtuh di hadapan Sulaiman; ia menyedari matahari yang disembahnya merupakan ciptaan Allah s.w.t di mana Dia menggerakkannya untuk hamba-hamba-Nya. Lalu terbitlah matahari kebenaran pada dirinya. Hatinya diterangi oleh cahaya baru yang tidak akan tenggelam seperti tenggelamnya matahari. Masa keislamannya hanya menunggu waktu. Balqis memilih waktu yang tepat untuk mengumumkan keislamannya. Allah s.w.t berfirman:

"Dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam istana.', maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: 'Sesungguhnya ia adalah istana licin yang terbuat dari kaca.' Berkatalah Balqis: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat lalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.'" (QS. an-Naml: 44)

Dikatakan kepada Balqis masuklah ke dalam istana. Ketika ia masuk, maka ia tidak menyaksikan adanya kaca tetapi ia melihat air sehingga ia mengira akan bersinggungan dengan air laut lalu ia menyingkap sedikit bajunya agar bajunya tidak basah. Sulaiman mengingatkannya - tanpa melihat - agar ia tidak khuatir terhadap pakaiannya kerana pakaiannya tidak akan basah, sebab di sana tidak ada air. Ia sekadar kaca yang halus yang saking halusnya hingga ia tidak tampak. Pada kesempatan itulah Balqis mengumumkan keislamannya. Ia mengakui kelaliman dirinya dan ia menyatakan penyerahan diri kepada Sulaiman dan kepada Allah s.w.t Tuhan alam semesta. Lalu kaumnya pun mengikutinya dan mereka memeluk Islam. Balqis menyedari ia berhadapan dengan penguasa yang terbesar di bumi dan salah satu Nabi Allah s.w.t yang mulia. Untuk pertama kalinya wajah Sulaiman tampak dihiasi dengan senyuman yang menunjukkan kepuasannya sejak Balqis mengunjunginya. Demikianlah, Sulaiman mewujudkan kejayaannya yang hakiki dan menyebarkan cahaya Islam di muka bumi.

Al-Quran tidak menyebutkan kisah Balqis setelah keislamannya. Para ahli tafsir mengatakan bahawa ia menikah dengan Sulaiman. Selain itu, ada yang mengatakan bahawa ia menikah dengan salah satu orang dekat Sulaiman. Ada juga yang mengatakan bahawa sebahagian raja Habsyah adalah keturunan dari buah perkahwinan ini. Kami tidak sependapat dengan semua itu kerana Al-Quran al-Karim tidak menyebutkan semua perincian tersebut. Oleh kerana itu, kami tidak merasa penting untuk menyelami sesuatu yang tidak diketahui oleh seseorang pun.

Sulaiman hidup di tengah-tengah kejayaan dan kemuliaan di muka bumi, kemudian Allah s.w.t menetapkan kematian baginya. Sebagaimana kehidupan Sulaiman berada di puncak kemuliaan dan kejayaan yang penuh dengan keajaiban yang luar biasa, maka kematiannya pun merupakan tanda-tanda kebesaran Allah s.w.t yang penuh dengan keajaiban. Demikianlah bahawa kematiannya sesuai dengan kehidupannya, sesuai dengan kejayaannya. Allah s.w.t berfirman tentang kematian Sulaiman:

"Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin bahawa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam seksa yang menghinakan. " (QS. Saba': 14)

Kemampuan Nabi Sulaiman untuk menundukkan jin dan memperkerjakan mereka serta hubungan mereka dengannya, semua ini menimbulkan fitnah di tengah-tengah manusia dalam hal tertentu, dan kematian Sulaiman merupakan batasan (jawapan) terhadap fitnah ini. Kami tidak mengetahui siapa yang mengklaim bahawa jin mengetahui hal yang ghaib, apakah itu syaitan yang terkutuk atau jin yang ***** atau manusia yang tertipu. Kami tidak mengetahui siapa yang bertanggungjawab terhadap tersebarnya isu yang keliru ini. Yang kita ketahui adalah, bahawa hal tersebut tersebar dan mempengaruhi sebahagian manusia dan jin. Barangkali manusia berkata kepada diri mereka: Selama jin melakukan perbuatan yang luar biasa ini, maka apa gerangan yang menjadikan mereka tidak mengetahui hal yang ghaib itu.

Manusia itu lupa bahawa kunci keghaiban berada di tangan Allah s.w.t. Masalah ilmu ghaib tidak akan mampu dikuasai oleh jin, manusia, para nabi, dan semua makhluk. Hanya Dia yang mengetahuinya. Allah s.w.t telah merencanakan bahawa kematian Sulaiman pun bertujuan untuk menghancurkan pemikiran ini, yaitu pemikiran bahawa jin mengetahui hal yang ghaib. Jin bekerja untuk Nabi Sulaiman selama beliau hidup, dan tatkala beliau meninggal, maka tugas mereka menjadi bebas. Nabi Sulaiman meninggal tanpa diketahui oleh jin sehingga mereka tetap bekerja untuknya. Mereka tetap mengabdi kepada Sulaiman. Seandainya mereka mengetahui hal yang ghaib nescaya mereka tidak meneruskan pekerjaan mereka.

Pada suatu hari Sulaiman memasuki mihrabnya untuk i'tikaf, ibadah, dan solat. Tak seorang pun berani mengganggu khalwatnya di mihrabnya. Mihrab Sulaiman terletak di puncak gunung dan dindingnya terbuat dari permata. Pada suatu hari Sulaiman duduk bersandar pada tongkatnya dan ia tampak tenggelam dalam tafakur. Beliau berzikir kepada Allah s.w.t hingga rasa kantuk menguasainya lalu setelah itu malaikat maut menemuinya di mihrabnya. Sulaiman pun meninggal. Beliau bersandar kepada tongkatnya. Jin melihatnya dan mengira bahawa beliau sedang solat sehingga mereka pun terus melanjutkan pekerjaannya.

Berlalulah hari-hari yang panjang. Kemudian datanglah rayap, yaitu semut kecil yang memakan kayu. Haiwan itu pun mulai memakan tongkat Sulaiman. Rayap-rayap itu tampak lapar. Sebahagian dari tongkat Sulaiman dimakan beberapa hari oleh rayap-rayap itu. Ketika yang dimakannya semakin bertambah, maka tongkat itu pun menjadi rosak dan jatuh dari tangan Sulaiman. Tubuh mulia itu kehilangan keseimbangan dan terhempas di bumi. Tatkala tubuh suci itu tersungkur, maka manusia segera menuju ke sana. Mereka menyedari dan mengetahui bahawa Nabi Sulaiman telah meninggal dalam waktu yang lama. Jin menyedari bahawa mereka tidak mengetahui hal yang ghaib dan manusia pun mengetahui hakikat ini. Seandainya jin mengetahui hal yang ghaib, nescaya ia tidak akan meneruskan seksa yang hina, mereka tidak akan bekerja.

Demikianlah Nabi Sulaiman meninggal dalam keadaan duduk dan solat di mihrabnya. Lalu berita itu tersebar bagaikan api di bumi. Manusia, burung, dan binatang buas menghantarkan jenazah Nabi Sulaiman. Sekawanan burung tampak sedih dan menangis. Semua makhluk bersedih. Akhirnya, tak seorang pun mengetahui bahasa burung di bumi. Meninggallah seseorang yang memakami pembicaraan burung. Burung- burung itu berkata: "Betapa beratnva kehidupan di tengah-tengah orang yang tidak mengetahui pembicaraan kita."

Kisah Nabi Sulaiman dengan Semut

Kisah 1

Kerajaan Nabi Sulaiman AS dikala itu sedang mengalami musim kering yang begitu
panjang. Lama sudah hujan tidak turun membasahi bumi. Kekeringan melanda di mana-mana. Baginda Sulaiman AS mulai didatangi oleh umatnya untuk meminta pertolongan dan memintanya memohon kepada Allah s.w.t agar menurunkan hujan untuk membasahi kebun-kebun dan sungai-sungai mereka. Baginda Sulaiman AS kemudian memerintahkan satu rombongan besar pengikutnya yang terdiri dari bangsa jin dan manusia berkumpul di lapangan untuk berdoa memohon kepada Allah s.w.t agar musim kering segera berakhir dan hujan segera turun.

Sesampainya mereka di lapangan Baginda Sulaiman AS melihat seekor semut kecil
berada di atas sebuah batu. Semut itu berbaring kepanasan dan kehausan. Baginda
Sulaiman AS kemudian mendengar sang semut mulai berdoa memohon kepada Allah s.w.t penunai segala hajat seluruh makhluk-Nya. "Ya Allah pemilik segala khazanah, aku berhajat sepenuhnya kepada-Mu, Aku berhajat akan air-Mu, tanpa air-Mu ya Allah aku akan kehausan dan kami semua kekeringan. Ya Allah aku berhajat sepenuhnya pada-Mu akan air- Mu, kabulkanlah permohonanku", doa sang semut kepada Allah s.w.t. Mendengar doa si semut maka Baginda Sulaiman AS kemudian segera memerintahkan rombongannya untuk kembali pulang ke kerajaan sambil berkata pada mereka, "kita segera pulang, sebentar lagi Allah s.w.t akan menurunkan hujan-Nya kepada kalian. Allah s.w.t telah mengabulkan permohonan seekor semut". Kemudian Baginda Nabi Sulaiman dan rombongannya pulang kembali ke kerajaan.

Kisah 2

Suatu hari Baginda Sulaiman AS sedang berjalan-jalan. Ia melihat seekor semut sedang berjalan sambil mengangkat sebutir buah kurma. Baginda Sulaiman AS terus mengamatinya, kemudian beliau memanggil si semut dan menanyainya, Hai semut kecil untuk apa kurma yang kau bawa itu?. Si semut menjawab, Ini adalah kurma yang Allah s.w.t berikan kepada ku sebagai makananku selama satu tahun. Baginda Sulaiman AS kemudian mengambil sebuah botol lalu ia berkata kepada si semut, Wahai semut ke marilah engkau, masuklah ke dalam botol ini aku telah membagi dua kurma ini dan akan aku berikan separuhnya padamu sebagai makananmu selama satu tahun. Tahun depan aku akan datang lagi untuk melihat keadaanmu. Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman AS. Setahun telah berlalu. Baginda Sulaiman AS datang melihat keadaan si semut. Ia melihat kurma yang diberikan kepada si semut itu tidak banyak berkurang. Baginda Sulaiman AS bertanya kepada si semut, hai semut mengapa engkau tidak menghabiskan kurmamu Wahai Nabiullah, aku selama ini hanya menghisap airnya dan aku banyak berpuasa. Selama ini Allah s.w.t yang memberikan kepadaku sebutir kurma setiap tahunnya, akan tetapi kali ini engkau memberiku separuh buah kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi kerana engkau bukan Allah Pemberi Rezeki (Ar-Rozak), jawab si semut.

Tempat Ibadah Sulaiman

Tempat ibadah Sulaiman atau Haikal Sulaiman terletak di Ursyilim (Yarusalem). Ia adalah sentral ibadah kaum Yahudi dan simbol sejarah kaum Yahudi serta sebagai kebanggaan mereka. Raja Sulaiman telah membangunnya dan mengeluarkan harta yang tidak sedikit untuk mendirikannya. Bahkan ia memerlukan seratus delapan puluh ribu pekerja. Sulaiman telah mendatangkan emas dari Thirsis dan kayu dari Lebanon dan batu mulia dari Yaman. Setelah tujuh tahun dari pembangunan yang terus-menerus, Haikal Sulaiman menjadi sempurna. Saat itu ia menjadi kekaguman dan simbol kejayaan di dunia.

Berulang kali ada usaha untuk menghancurkan bangunan tersebut. Orang- orang yang tamak dan para penyerang bertujuan untuk merampas harta benda yang bernilai yang terdapat dalam Haikal Sulaiman. Mereka merosak sebahagian darinya lalu salah seorang raja berusaha memperbaikinya kerana saking cintanya kepada orang-orang Yahudi. Pada kali ini pembangunan tempat beribadah itu membutuhkan waktu empat puluh enam tahun sehingga ia pun menjadi suatu bangunan yang besar yang menakjubkan yang dikelilingi oleh tiga pagar besar. Ia terdiri dari dua halaman besar: yaitu halaman luar dan halaman dalam. Halaman dalam dibangun di atas tiang-tiang ganda yang terbuat dari marmar. Sedangkan halaman luar dari tempat ibadah itu meliputi gerbang-gerbang besar yang ditutup oleh emas dan sepuluh pintu gerbang dilapisi dengan tembaga Kurnusus. Para raja terus memberikan hadiah untuk pembangunan dan penyempurnaan tempat ibadah itu sampai akhir zamannya, sehingga tempat peribadatan itu memuat perbendaharaan harta yang tidak ternilai.

Tujuan utama dari pembangunan Haikal Sulaiman adalah untuk menyembah kepada Allah s.w.t di dalamnya. Tempat ibadah itu merupakan masjid bagi orang-orang yang bertauhid dan orang-orang mukmin. Tentu keindahan dan kebesarannya tidak dimaksudkan memalingkan manusia dari menyembah selain Allah s.w.t. Dan barangkali kebesaran bangunan itu merupakan simbol kekuatan negara dan kekuatan akidahnya. Namun sesuai dengan perjalanan waktu, mulailah terjadi perubahan dan penyimpangan. Seharusnya ibadah hanya ditujukan kepada Allah s.w.t, tiba-tiba kaum berpaling dan malah mengagumi kulit dan meninggalkan hakikat.

Akhirnya, nasib tempat ibadah itu sama dengan nasib yang dialami tempat-tempat ibadah lainnya. Haikal Sulaiman adalah simbol tauhid dan penyembahan kepada Allah s.w.t yang tiada sekutu bagi-Nya. Kemudian berlalulah tahun demi tahun sehingga berubahlah haikal itu menjadi lempengan emas yang mengkilat yang menyembunyikan di bawahnya kepentingan agama Yahudi.

"Orang-orang Yahudi menodai kesucian tempat ibadah itu dan mereka melecehkan keindahannya di mana mereka menjadikannya sebagai pasar, tempat jual-beli. Kemudian tempat itu disesaki oleh para penjual sapi, kambing, dan merpati hingga tempat itu menjadi kotor dan berubah menjadi kandang binatang. Di tempat itu terjadi kegaduhan dan kebisingan di mana orang-orang melakukan transaksi jual-beli dan menukar wang di situ." (Injil Matta)

Ketika tempat ibadah itu kehilangan hakikatnya dan menjadi pasar tempat berdagang, Allah s.w.t mengutus orang-orang yang menghancurkan tempat itu. Allah s.w.t berfirman:

"Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: 'Sesungguhnya kamu akan membuat kerosakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu sekelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (bererti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka- muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh- musuhmu memasukinya pada kali pertama dan membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu; dan kiranya kamu kembali kepada (kederhakaan), nescaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang- orang yang tidak beriman." (QS. al-Isra': 4-8)

Ayat-ayat tersebut menunjukkan tentang hukum azali yang tidak pernah berubah pada kehidupan bangsa dan umat di mana umat itu akan tampak kuat selama mereka berpegangan dengan tali Allah s.w.t dan ketika mereka meninggalkan hakikat kekuatan. iaitu kekuatan yang bersandar kepada Allah s.w.t dan mereka memilih menyembah selain-Nya dan menjadikan dunia sebagai tujuan hidup mereka, maka ketika ini terjadi, Allah s.w.t akan mengutus kepada mereka orang-orang yang menghancurkan mereka.

Para mufasir menyebutkan bagaimana terjadinya peristiwa penghancuran Haikal Sulaiman dan penghancuran Baitul Maqdis. Mereka mengatakan: "Allah s.w.t mewahyukan kepada salah seorang nabi dari kalangan Bani Israil yang bernama Armiya ketika muncul berbagai kemaksiatan di tengah-tengah mereka, hendaklah engkau menyampaikan kepada kaummu dan beritahukan kepada mereka bahawa mereka memiliki hati tetapi mereka tidak mengerti; mereka memiliki mata tetapi mereka tidak melihat; dan mereka memiliki telinga tetapi mereka tidak mendengar.

Kemudian nabi itu menerima wahyu dan ia diperintahkan untuk bertanya kepada Bani Israil, apakah salah seorang mereka merasa gembira ketika bermaksiat kepada Allah s.w.t, dan apakah seseorang merasa sedih dan gelisah ketika taat kepada Allah s.w.t. Haiwan biasanya ingat kepada tempat asalnya dan kembali kepadanya, sedangkan kaum itu justru meninggalkan asal-muasal mereka yang hakiki, yaitu hakikat tauhid. Jadi, sebenarnya mereka lebih jahat dari binatang."

Demikianlah kalimat-kalimat Ilahi disampaikan di tengah-tengah para pendeta dan para penguasa, namun para pendeta justru membuat tuhan lain selain Allah s.w.t dan mereka menggiring manusia untuk menyembah sesama manusia. Adapun para penguasa, mereka membangkang pada nikmat Allah s.w.t dan merasa tenang dengan azab Allah s.w.t yang dahsyat. Mereka tertipu dengan dunia. Mereka mencampakkan Kitab Allah s.w.t dan melupakan janji-Nya. Mereka mengubah-ubah Kitab Allah s.w.t (Taurat). Mereka menciptakan kebohongan kepada para rasul-Nya dan membunuh mereka tanpa alasan yang benar.

Sedangkan para fuqaha dan orang-orang cerdik, mereka mempelajari sesuatu sesuai dengan kepentingan mereka. Mereka mengambil sebahagian Kitab dan meninggalkan sebahagiannya. Mereka mendukung para penguasa yang lalim yang membuat penyelewengan dalam agama. Mereka justru mentaati penguasa itu meskipun benar-benar bermaksiat kepada Allah s.w.t. Mereka membatalkan perjanjian dengan Allah s.w.t.

Sementara itu, anak-anak nabi, maka mereka menjadi orang-orang yang kalah. mereka berharap agar Allah s.w.t menolong mereka seperti ayah- ayah mereka ditolong. Mereka tidak ingat bagaimana sikap wara' ayah- ayah mereka dan bagaimana mereka mencurahkan usaha mereka, bahkan darah mereka tertumpah tetapi mereka sabar dan mereka tetap percaya kepada janji Allah s.w.t, sehingga Dia memuliakan agamanya dan memenangkan mereka.

Demikianlah Armiya terus menyiarkan berita tentang kebenaran dan mengingatkan kaumnya dan memberi mereka kesempatan terakhir untuk bangkit dan kembali pada agama tauhid. Kalau tidak, Allah s.w.t akan mengutus kepada mereka seorang penguasa yang bengis di mana pasukannya bagaikan sekawanan awan yang akan menghancurkan bangunan-bangunan yang mereka bangun dan akan meninggalkan desa yang mereka huni dalam keadaan yang mengerikan. Ibnu Katsir berkata dengan menukil apa yang dinyatakan oleh Ibnu Asakir:

"Duhai Ilya dan penghuninya, bagaimana mereka dihinakan dengan pembunuhan dan mereka menjadi tawanan-tawanan yang hina, tempat- tempat istana mereka yang mengagumkan menjadi tempat-tempat tinggalnya haiwan-haiwan buas. Aku akan menghancurkan mereka dengan berbagai azab. Jika langit menurunkan hujan di atas bumi, maka bumi tidak akan tumbuh. Bila tumbuh suatu tumbuhan di bumi, maka itu adalah sebagai rahmat-Ku terhadap binatang-binatang. Jika mereka menanam sesuatu, maka tanaman mereka akan dikuasai oleh hama dan jika ada tumbuhan yang selamat darinya, maka Aku akan cabut darinya keberkahan, dan jika mereka berdoa Aku tidak akan mengabulkan dan jika mereka meminta, maka Aku tidak akan memberi dan jika mereka menangis, maka aku tidak akan menyayangi, dan jika mereka berusaha bersikap rendah diri, maka Aku akan memalingkan wajah-Ku dari mereka."

Ilya menyampaikan kepada kaumnya tentang azab Allah s.w.t yang akan meliputi segala sesuatu, namun orang-orang Yahudi menyambut dakwahnya dengan kebohongan dan kemaksiatan dan mereka menuduhnya dengan kebohongan.

Mereka berkata kepadanya, "Bagaimana engkau berbohong dan mengaku bahawa Allah s.w.t akan menghancurkan bumi-Nya dan masjid-masjid- Nya lalu siapa yang akan menyembah-Nya jika tidak ada seorang pun di muka bumi yang menyembah-Nya, juga tidak ada masjid dan tidak ada Kitab. Sungguh engkau telah gila wahai Ilya." Akhirnya pertentangan antara Ilya dan kaumnya berakhir pada pemenjaraannya. Pada saat yang sama, datanglah pasukan Bakhtansir menuju mereka. Orang-orang Yahudi terkejut ketika mendengar suara derap kaki kuda dan suara panah-panah yang melayang dan bau kebakaran. Pasukan itu memasuki desa-desa dan kota-kota. Mereka mengelilingi segenap penjuru kota dan desa. Pemimpin pasukan itu menyerbu orang-orang Yahudi dan menghancurkan mereka: sepertiga dibunuh, sepertiga ditawan, sementara wanita-wanita tua dan lelaki-lelaki tua dibiarkan hidup.

Baitul Maqdis dihancurkan dan tempat ibadah itu pun hancur. Orang- orang laki-laki dibunuh dan benteng-benteng kukuh pun dibakar, bahkan ulama-ulamanya dan fuqaha-fuqahanya dibunuh dan tak seorang pun hidup di antara mereka. Rumah-rumah orang-orang Yahudi tidak lagi dihuni kecuali oleh burung hantu dan binatang buas. Lalu sebahagian orang-orang Yahudi dari Bani Israil meninggalkan tempat itu dan tempat itu pun menjadi tempat yang tandus untuk waktu yang lama sehingga Allah s.w.t mengizinkan kepada sebahagian cucu dari kaum itu untuk kembali dan mereka pun kembali.

Selama terjadi peristiwa yang berdarah tersebut, Uzair tidur dan dialah satu-satunya yang menjaga Taurat.
 
Back
Top
Log in Register