BTC USD 83,580.3 Gold USD 4,256.76
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

Zaid bin Tsabit

Orangnya masih belia, seumur anak-anak SD sekarang. Tetapi, Allah ternyata memberikan keistimewaan kepadanya. Ia memiliki kecerdasan dan ketajaman berpikir yang luar biasa. Semangat pantang menyerah dan semangat berkorban di jalan Islam tak diragukan lagi lekat kepadanya. Rasulullah memberikan penilaian khusus, dan karenanya termasuk di antara sahabat yang paling disayang Nabi SAW. Siapakah dia? Tak bukan dan tak lain ia adalah Zaid bin Tsabit.

Dilahirkan pada tahun 10 sebelum hijrah, atau 10 tahun lebih muda dari Ali bin Abi Thalib, Zaid dan keluarganya berasal dari kabilah Bani An-Najjar. Keluarganya termasuk kelompok awal penduduk Madinah yang menerima Islam. Di bawah bimbingan dan pendidikan orang tuanya, Zaid tumbuh menjadi seorang pemuda cilik yang cerdas dan berwawasan luas. Suatu ketika, Zaid kecil ditolak Rasulullah bergabung dalam keprajuritan karena usianya yang masih belia. Meskipun kecewa, ia tak lantas putus asa. Untuk mengobati kekecewaannya itu, Zaid mencari aktivitas lain yang lebih bermanfaat. Jalan itu ia temukan, yakni menghafal dan memperdalam Alquran. Kebetulan, Zaid kecil memang diberi anugerah kelebihan dan ketajaman berpikir.

Aktivitasnya ini ia utarakan kepada sang ibu, Nuwair binti Malik. Dengan senang hati, sang ibu pun mendukung penuh. Melalui Nuwair, famili yang lain diberitahu perihal kegiatan anaknya itu. Mereka pun setuju. Kepada Rasulullah, mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, ini anak kami. Dia hafal 17 surat Alquran. Bacaannya betul, sesuai yang diturunkan Allah kepada Anda. Selain itu, dia pandai pula membaca dan menulis Arab. Tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin berbakti kepada Anda dengan keterampilan yang dia miliki, dan ingin pula mendampingi Anda selalu. Jika Anda menghendaki silakan dengarkan bacaannya.” Rasulullah pun langsung mendengarkan bacaannya. Benar, ternyata bacaan Zaid sangat bagus dan fasih. Rasulullah gembira lantaran apa yang diucapkan dan didengarnya langsung dari Zaid melebihi dari apa yang dikatakan familinya tersebut.

“Jika engkau mau selalu dekat denganku, pelajarilah baca tulis bahasa Ibrani. Saya tidak percaya kepada orang Yahudi yang menguasai bahasa tersebut, bila mereka saya diktekan sebagai sekretaris saya,” kata Rasulullah. Anak kecil itu pun menyanggupi tawaran Nabi SAW. Dalam waktu sekejab, bahasa Ibrani ia kuasai. Sejak saat itu, Zaid tampil menjadi sekretaris Nabi SAW sekaligus salah satu pencatat wahyu yang diterima Rasulullah. Bila wahyu turun, sebagaimana dikutip dalam buku 101 Sahabat Nabi, Rasul memanggil Zaid, lalu dibacakan kepadanya dan Zaid disuruh menulis. Zaid menulis ayat-ayat Alquran langsung dari diktean Rasulullah secara bertahap sesuai urut diturunkannya ayat tersebut. Karena itulah, Zaid bukan saja dikenal sebagai penerjemah dan pencatat wahyu Rasul, ia juga dikenal di kalangan para sahabat sebagai tempat umat Islam bertanya ihwal Alquran sesudah Rasulullah wafat. Selain pada masa Abu Bakar, Zaid juga menjadi ketua kelompok penghimpun Alquran masa kekhalifahan ketiga, Utsman bin Affan.

Khalifah Umar bin Khaththab pun mengakui Zaid sebagai tempat rujukan para sahabat tentang Alquran. Dalam satu kesempatan, Umar berkata, “Hai manusia, siapa yang ingin bertanya tentang Alquran, datanglah kepada Zaid bin Tsabit. Siapa yang hendak bertanya tentang fikih, temuilah Muadz bin Jabal. Dan siapa yang hendak bertanya soal harta kekayaan, datanglah kepada saya. Sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan saya penguasa, Allah jualah yang memberinya.” Berkah keberadaan Zaid tak terbatas pada posisinya sebagai rujukan Alquran. Ia pun sebagai sumber solusi suatu persoalan. Misalnya, suatu ketika umat Islam di Madinah berbeda pendapat ihwal siapa khalifah pengganti Rasulullah. Kaum Muhajirin (pendatang dari Mekkah) berkata, “Pihak kami lebih berhak menjadi khalifah.”

Sementara kaum Anshar (warga asli Madinah) berkata, “Pihak kami dan kalian sama-sama berhak. Kalau Rasulullah mengangkat seseorang dari kalian untuk suatu urusan, maka beliau mengangkat pula seorang dari pihak kami untuk menyertainya.” Perbedaan pendapat hampir saja memicu konflik fisik. Padahal jenazah Rasulullah masih terbaring. Di tengah meruncingnya masalah itulah, Zaid muncul dan berkata kepada kaumnya, orang-orang Anshar, “Wahai kaum Anshar, sesungguhnya Rasulullah SAW adalah orang Muhajirin. Karena itu, sepantasnyalah penggantinya orang Muhajirin pula. Kita adalah pembantu-pembantu (Anshar) Rasulullah. Maka sepantasnyalah pula kita menjadi pembantu bagi pengganti (khalifah)-nya, sesudah beliau wafat, dan memperkuat kedudukan khalifah dalam menegakkan agama.” Setelah mengatakan hal itu, Zaid bin Tsabit mengulurkan tangannya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, seraya berkata, “Inilah Khalifah kalian. Baiatlah kalian dengannya!”n hery s/berbagai sumber Pelopor Pembukuan Alquran Di Madinah, ia mempunyai kenangan tersendiri soal kedatangan Rasulullah bersama rombongan.

Pada saat menanti kedatangan Rasulullah dan Abu Bakar di Madinah dari Mekkah, Zaid bin Tsabit termasuk mereka yang sering pergi ke tepi kota melihat kalau-kalau Sang Junjungan tercinta telah datang. Betapa berbunganya hati kaum Muslimin Madinah melihat Rasulullah memasuki batas kota. Mereka menyambut dengan rasa syukur, dan menawarkan rumah-rumah mereka kepada Rasulullah. Berlainan dengan yang lain, pemuka Bani Najjar tidak menawarkan rumah-rumah mereka, tapi menawarkan pemuda anggota kabilah mereka: Zaid bin Tsabit kepada Rasulullah untuk diterima sebagai asisten beliau di bidang kesekretariatan mengingat kecerdasannya yang luar biasa. Betapa girangnya hati sang pemuda cilik ini dapat membantu dan selalu dekat dengan utusan Allah yang ia cintai.

Rasulullah SAW pun gembira dan menerima tawaran pemuka Bani Najjar. Rasulullah sangat mencintai sahabat ciliknya. Zaid bin Tsabit tidak mengecewakan Rasulullah, dalam waktu sangat singkat dia dapat menuliskan dan menghafal 17 surat Alquran. Di samping tugasnya sebagai sekretaris untuk menuliskan dan menghafal wahyu yang baru diterima Rasulullah, Zaid juga memperoleh penugasan dari Rasulullah untuk mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani, dua bahasa yang sering digunakan musuh Islam pada waktu itu. Kedua bahasa ini dikuasai Zaid hanya dalam waktu sangat singkat, 32 hari!

Pada masa Kekhalifahan Abu Bakar, Zaid bin Tsabit mendapat tugas sangat penting untuk membukukan Alquran. Abu Bakar Ra memanggilnya dan mengatakan, “Zaid, engkau adalah seorang penulis wahyu kepercayaan Rasulullah, dan engkau adalah pemuda cerdas yang kami percayai sepenuhnya. Untuk itu aku minta engkau dapat menerima amanah untuk mengumpulkan ayat-ayat Alquran dan membukukannya.” Zaid, yang tak pernah menduga mendapat tugas seperti ini memberikan jawaban yang sangat terkenal dalam memulai tugas beratnya mengumpulkan dan membukukan Alquran:

“Demi Allah, mengapa engkau akan lakukan sesuatu yang tidak Rasulullah lakukan? Sungguh ini pekerjaan berat bagiku. Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah seberat tugas yang kuhadapi kali ini.” Akhirnya setelah melalui musyawarah yang ketat, Abu Bakar Ra dan Umar bin Khaththab dapat meyakinkan Zaid bin Tsabit dan sahabat yang lain, bahwa langkah pembukuan ini adalah langkah yang baik. Hal-hal yang mendorong segera dibukukannya Alquran, di antaranya mengingat banyaknya para hafidz Quran yang syahid.

Dalam pertempuran “Harb Riddah” (kaum murtad) yang dipimpin Musailamah Al-Kazzab, sebanyak 70 sahabat yang hafal Alquran menemui syahid. Dengan pertimbangan-pertimbangan inilah, Zaid bin Tsabit menyetujui tugas ini dan segera membentuk tim khusus. Zaid membuat dua butir outline persyaratan pengumpulan ayat-ayat.

Kemudian Khalifah Abu Bakar menambahkan satu persyaratan lagi. Jadilah ketiga persyaratan tersebut: Pertama, ayat/surat tersebut harus dihafal paling sedikit dua orang. Kedua, harus ada dalam bentuk tertulisnya (di batu, tulang, kulit dan bentuk hardcopy lainnya). Ketiga, untuk yang tertulis, paling tidak harus ada dua orang saksi yang melihat saat dituliskannya. Dengan persyaratan tersebut, Zaid bin Tsabit memulai pekerjaan berat ini dan membawahi beberapa sahabat lain. Pengumpulan dan pembukuan dapat diselesaikan masih pada masa Kekhalifahan Abu Bakar.


Mosque_in_Fallujah_zpsf6da1225.jpg
 
Abu Darda

Uwaimir bin Malik al-Khazraji yang lebih dikenal dengan nama Abu Darda bangun dari tidurnya pagi-pagi sekali. Setelah itu, dia menuju berhala sembahannya di sebuah kamar yang paling istimewa di dalam rumahnya.

Dia membungkuk memberi hormat kepada patung tersebut, kemudian diminyakinya dengan wangi-wangian termahal yang terdapat dalam tokonya yang besar, sesudah itu patung tersebut diberinya pakaian baru dari sutera yang megah, yang diperolehnya kemarin dari seorang pedagang yang datang dari Yaman dan sengaja mengunjunginya. Setelah matahari agak tinggi, barulah Abu Darda masuk ke rumah dan bersiap hendak pergi ke tokonya.

Tiba-tiba jalan di Yastrib menjadi ramai, penuh sesak dengan para pengikut Nabi Muhammad yang baru kembali dari peperangan Badar. Di muka sekali terlihat sekumpulan tawanan terdiri dari orang-orang Quraisy. Abu Darda mendekati keramaian dan bertemu dengan seorang pemuda suku Khazraj. Abu Darda menanyakan kepadanya keberdaan Abdullah bin Rawahah. Pemuda Khazraj tersebut menjawab dengan hati-hati pertanyaan Abu Darda, karena dia tahu bagaimana hubungan Abu Darda dengan Abdullah bin Rawahah. Mereka tadinya adalah dua orang teman akrab di masa jahily.

Setelah Islam datang, Abdullah bin Rawahah segera masuk Islam, sedangkan Abu Darda tetap dalam kemusyrikan. Tetapi, hal itu tidak menyebabkan hubungan persahabatan keduanya menjadi putus. Karena, Abdullah berjanji akan mengunjungi Abu Darda sewaktu-waktu untuk mengajak dan menariknya ke dalam Islam. Dia kasihan kepada Abu Darda, karena umurnya dihapiskan dalam kemusyrikan. Abu Darda tiba di toko pada waktunya. Ia duduk bersila di atas kursi, sibuk jual beli dan mengatur para pelayan. Sementara itu, Abdullah bin Rawahah datang ke rumah Abu Darda. Sampai di sana dia melihat Ummu Darda di halaman rumahnya.

“Assalamu’alaiki, ya amatallah,” (Semoga Anda bahagia, hai hamba Allah) kata Abdullah memberi salam. “Wa’alaikassalam, ya akha Abi Darda’”(Dan semoga Anda bahagia pula, hai sahabat Abu Darda), jawab Ummu Darda. “Ke mana Abu Darda?” tanya Abdullah. “Dia ke toko, tetapi tidak lama lagi dia akan pulang,” jawab Ummu Darda. “Bolehkah saya masuk?” tanya Abdullah. “Dengan segala senang hati, silakan!” jawab Ummu Darda. Ummu Darda melapangkan jalan bagi Abdullah, kemudian dia masuk ke dalam dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga serta mengasuh anak. Abdullah bin Rawahah masuk ke kamar tempat Abu Darda meletakkan patung sembahannya. Dikeluarkannya kapak yang sengaja dibawanya. Dihampirinya patung itu, lalu dikapaknya hingga berkeping-keping.

Katanya, “Ketahuilah, setiap yang disembah selain Allah adalah batil!” Setelah selesai menghancurkan patung tersebut, dia pergi meninggalkan rumah. Ummu Darda masuk ke kamar tempat patung berada. Alangkah terperanjatnya dia, ketika dilihatnya petung telah hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai. Ummu Darda meratap menampar-nampar kedua pipinya seraya berkata, “Engkau celakan saya, hai Ibnu Rawahah.” Tidak berapa lama kemudian Abu Darda pulang dari toko. Ia mendapati istrinya sedang duduk dekat pintu kamar patung sambil menangis. Rasa cemas dan takut kelihatan jelas di wajahnya.

“Mengapa engkau menangis?” tanya Abu Darda. “Teman Anda, Abdullah bin Rawahah tadi datang kemari ketika Anda sedang di toko. Dia telah menghancurkan patung sembahan Anda. Cobalah Anda saksikan sendiri,” jawab Ummu Darda. Abu Darda menengok ke kamar patung, dilihatnya patung itu sudah berkeping-keping, maka timbullah marahnya. Mulanya dia bermaksud hendak mencari Abdullah. Tetapi, setelah kemarahannya berangsur padam, dia memikirkan kembali apa yang sudah terjadi. Kemudian katanya, “Seandainya patung itu benar Tuhan, tentu dia sanggup membela dirinya sendiri.” Maka, ditinggalkannya patung yang menyesatkan itu, lalu dia pergi mencari Abdullah bin Rawahah. Bersama-sama dengan Abdullah, dia pergi kepada Rasulullah SAW dan menyatakan masuk agama Allah di hadapan beliau.

Sejak detik pertama Abu Darda iman dengan Allah dan Rasul-Nya, dia iman dengan sebenar-benar iman. Dia sangat menyesal agak terlambat masuk Islam. Sementara itu, kawan-kawannya yang telah lebih dahulu masuk Islam telah memperoleh pengertian yang mendalam tentang agama Allah ini, hafal Alquran, senantiasa beribadat, dan takwa yang selalu mereka tanamkan dalam dirinya di sisi Allah. Karena itu, dia bertekad hendak mengejar ketinggalannya dengan sungguh-sunggu sekalipun dia berpayah-payah siang dan malam, hingga tersusul orang-orang yang telah berangkat lebih dahulu. Dia berpaling kepada ibadat dan memutuskan hubungannya dengan dunia; mencurahkan perhatian kepada ilmu seperti orang kehausan; mempelajari Alquran dengan tekun dan menghafal ayat-ayat, serta menggali pengertiannya sampai dalam. Tatkala dirasakannya perdagangannya terganggu dan merintanginya untuk beribadat dan menghadiri majlis-majlis ilmu, maka ditinggalkannya perusahaanya tanpa ragu-ragu dan tanpa menyesal. Berkenaan dengan sikapnya yang tegas itu, orang pernah bertanya kepadanya. Maka, dijawabnya, “Sebelum masa Rasulullah, saya menjadi seorang pedagang.

Maka, setelah masuk Islam, saya ingin menggabungkan berdagang untuk beribadat. Demi Allah, yang jiwa Abu Darda dalam kuasa-Nya, saya akan menggaji penjaga pintu masjid supaya saya tidak luput salat berjamaah, kemudian saya berjual beli dan berlaba setiap hari 300 dinar.” Kemudian, saya menengok kepada si penanya dan berkata, “Saya tidak mengatakan, Allah Ta’ala mengharamkan berniaga. Tetapi saya ingin menjadi pedagang, bila perdagangan dan jual beli tidak menganggu saya untuk dzikrullah (berzikir).” Abu Darda tidak meninggalkan perdagangan sama sekali. Dia hanya sekadar meninggalkan dunia dengan segala perhiasan dan kemegahannya. Baginya sudah cukup sesuap nasi sekadar untuk menguatkan badan, dan sehelai pakaian kasar untuk menutupi tubuh. Pada suatu malam yang sangat dingin, suatu jamaah bermalam di rumahnya.

Abu Darda menyuguhi mereka makanan hangat, tetapi tidak memberinya selimut. Ketika hendak tidur, mereka mempertanyakan selimut. Seorang di antaranya berkata, “Biarlah saya tanyakan kepada Abu Darda. Kata yang lain, “Tidak perlu!” Tetapi, orang yang seorang itu menolak saran orang yang tidak setuju. Dia terus pergi ke kamar Abu Darda. Sampai di muka pintu dilihatnya Abu Darda berbaring, dan istrinya duduk di sampingnya. Mereka berdua hanya memakai pakaian tipis yang tidak mungkin melindungi mereka dari kedinginan.

Orang itu bertanya kepada Abu Darda, “Saya melihat Anda sama dengan kami, tengah malam sedingin ini tanpa selimut. Ke mana saja kekayaan dan harta benda Anda?” Jawab Abu Darda, “Kami mempunyai rumah di kampung sana. Harta benda kami langsung kami kirimkan ke sana setiap kami peroleh. Seandainya masih ada yang tinggal di sini (berupa selimut), tentu sudah kami berikan kepada tuan-tuan. Di samping itu, jalan ke rumah kami yang baru itu sulit dan mendaki. Karena itu, membawa barang seringan mungkin lebih baik daripada membawa barang yang berat-berat. Kami memang sengaja meringankan beban kami supaya mudah dibawa.

Kemudian Abu Darda bertanya kepada orang itu, “Pahamkah Anda?” Jawab orang itu, “Ya, saya mengerti.” Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Umar mengangkat Abu Darda menjadi pejabat tinggi di Syam. Tetapi, Abu Darda menolak pengangkatan tersebut. Khalifah Umar marah kepadanya. Lalu kata Abu Darda, “Bilamana Anda menghendaki saya pergi ke Syam, saya mau pergi untuk mengajarkan Alquran dan sunah Rasulullah kepada mereka serta menegakkan salat bersama-sama dengan mereka.” Khalifah Umar menyukai rencana Abu Darda tersebut. Lalu, Abu Darda berangkat ke Damsyiq. Sampai di sana didapatinya masyarakat telah mabuk kemewahan dan tenggelam dalam kenikmatan dunia. Hal itu sangat menyedihkannya.

Maka, dipanggilnya orang banyak ke masjid, lalu dia berpidato di hadapan mereka. Katanya, “Wahai penduduk Damsyiq! Kalian adalah saudaraku seagama; tetangga senegeri; dan pembela dalam melawan musuh bersama. Wahai penduduk Damsyiq! Saya heran, apakah yang menyebabkan kalian tidak menyenangi saya? Padahal, saya tidak mengharapkan balas jasa dari kalian. Nasihatku berguna untuk kalian, sedangkan belanjaku bukan dari kalian. Saya tidak suka melihat ulama-ulama pergi meninggalkan kalian, sementara orang-orang ***** tetap saja *****.

Saya hanya mengharapkan kalian supaya melaksanakan segala perintah Allah Taala, dan menghentikan segala larangan-Nya. Saya tidak suka melihat kalian mengumpulkan harta kekayaan banyak-banyak, tetapi tidak kalian pergunakan untuk kebaikan. Kalian membangun gedung-gedung yang mewah, tetapi tidak kalian tempati atau kalian mencita-citakan sesuatu yang tak mungkin tercapai oleh kalian. Bangsa-bangsa sebelum kamu pernah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan bercita-cita setinggi-tingginya. Tetapi hanya sebentar, harta yang mereka tumpuk habis kikis, cita-cita mereka hancur berantakan, dan bangunan-bangunan mewah yang mereka bangun rubuh menjadi kuburan.

Hai penduduk Damsyiq! Inilah bangsa ‘Ad (kaum Nabi Hud As.)yang telah memenuhi negeri (antara Aden dan Oman) dengan harta kekayaan dan anak-anak. Siapakah di antara kalian yang berani membeli dariku peninggalan kaum ‘Ad itu dengan harga dua dirham?” Mendengar pidato Abu Darda tersebut orang banyak menangis, sehingga isak tangis mereka terdengar dari luar masjid. Sejak hari itu Abu Darda senantiasa mengunjungi majelis-majelis masyarakat Damsyiq dan pergi ke pasar-pasar. Jika ada yang bertanya kepadanya, dijawabnya; jika dia bertemu dengan orang *****, diajarinya; dan jika dia melihat orang terlalai, diingatkannya. Direbutnya setiap kesempatan yang baik sesuai dengan situasi dan kondisi serta kemampuan yang ada padanya.

Pada suatu ketika dia melihat sekelompok orang mengeroyok seorang laki-laki. Laki-laki itu babak belur dipukuli dan dicaci-maki mereka. Abu Darda datang menghampiri, lalu bertanya, “Apa yang telah terjadi? Jawab mereka, “Orang ini jatuh ke dalam dosa besar.” Kata Abu Darda, “Seandainya dia jatuh ke dalam sumur, tidakkah kalian keluarkan dia dari sumur itu?” Jawab mereka, “Tentu!” Kata Abu Darda, “Karena itu, janganlah kalian caci maki dia, dan jangan pula kalian pukuli. Tetapi, berilah dia pengajaran dan sadarkan dia. Bersyukurlah kalian kepada Allah yang senantiasa memaafkan kalian dari dosanya.” Tanya mereka, “Apakah Anda tidak membencinya?”

Jawab Abu Darda, “Sesungguhnya saya membenci perbuatannya. Apabila dia telah menghentikan perbuatannya yang berdosa itu, dia adalah saudara saya.” Orang itu menangis dan tobat dari kesalahannya. Kali yang lain seorang pemuda mendatangi Abu Darda dan berkata kepadanya, “Wahai sahabat Rasulullah! Ajarilah saya!” Jawab Abu Darda, “Hai anakku! Ingatlah kepada Allah di waktu kamu bahagia. Maka Allah akan mengingatmu di waktu kamu sengsara. Hai anakku! Jadilah kamu pengajar atau menjadi pelajar atau menjadi pendengar. Dan, janganlah sekali-kali menjadi yang keempat (yaitu orang *****), karena yang keempat pasti celaka. Hai anakku! Jadikanlah masjid menjadi tempat tinggalmu, karena aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Setiap masjid adalah tempat tinggal orang yang bertakwa. Allah SWT menjanjikan bagi orang yang menjadikan masjid sebagai tempat tinggalnya, kesenangan, kelapangan rahmat, dan lewat di jalan yang diridai Allah Taala.” Abu Darda pernah pula melihat sekelompok pemuda duduk-duduk di pinggir jalan.

Mereka ngobrol sambil melihat orang-orang yang lalu lintas. Abu Darda mengampiri mereka dan berkata kepadanya, “Hai anak-anakku! Tempat yang paling baik bagi orang muslim adalah rumahnya. Di sana dia dapat memelihara diri dan pandangannya. Jauhilah duduk-duduk di pinggir jalan dan di pasar-pasar, karena hal itu menghabiskan waktu dengan percuma. Ketika Abu Darda tinggal di Damsyiq, Gubernur Muawiyah bin Abu Sufyan melamar anak gadis Abu Darda, yaitu Darda, untuk putranya, Yazid. Abu Darda menolak lamaran Muawiyah tersebut. Dia tidak mau mengawinkan anak gadisnya, Darda, dengan Yazid (putra Gubernur). Bahkan, Darda dikawinkannya dengan pemuda muslim, anak orang kebanyakan.

Abu Darda menyukai agama dan akhlak pemuda itu. Orang banyak heran dengan sikap Abu Darda, dan berbisik-bisik sesama mereka, “Anak gadis Abu Darda dilamar oleh Yazid bin Muawiyah, tetapi lamarannya ditolak. Kemudian Abu Darda mengawinkan putrinya dengan seorang pemuda muslim anak orang kebanyakan.” Seorang penanya bertanya kepada Abu Darda,”Mengapa Anda bertindak seperti itu.” Jawab Abu Darda, “Saya bebas berbuat sesuatu untuk kemaslahatan Darda.” Tanya, “Mengapa?” Jawab Abu Darda, “Bagaimana pendapat Anda, apabila nanti Darda telah berada di tengah-tengah inang pengasuh yang senantiasa siap sedia melayaninya, sedangkan dia berada dalam istana yang gemerlapan menyilaukan mata, akan kemana jadinya agama Darda ketika itu?”

Pada suatu waktu ketika Abu Darda berada di negeri Syam, Amirul Mukminin Umar bin Khattab datang memeriksa. Khalifah mengunjungi sahabat itu di rumahnya malam hari. Ketika Khalifah membuka pintu rumah Abu Darda, ternyata pintu itu tidak dikunci dan rumah gelap tanpa lampu. Ketika Abu Darda mendengar suara Khalifah, Abu Darda berdiri mengucapkan selamat datang dan menyilakan Khalifah Umar untuk duduk. Keduanya segera terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan penting, padahal kegelapan menyelubungi keduanya, sehingga masing-masing tidak melihat kawannya berbicara. Khalifah Umar meraba-raba bantal alas duduk Abu Darda, kiranya sebuah pelana kuda.

Dirabanya pula kasur tempat tidur Abu Darda, kiranya berisi pasir belaka. Dirabanya pula selimut, kiranya pakaian-pakaian tipis yang tidak mencukupi untuk musim dingin. Kata Khalifah Umar, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda. Maukan Anda saya bantu? Maukah Anda saya kirimi sesuatu untuk melapangkan kehidupan Anda?” Jawab Abu Darda, “Ingatkah Anda hai Umar sebuah hadist yang disampaikan Rasulullah kepada kita?” Tanya Umar, “Hadist apa gerangan?” Jawab Abu Darda, “Bukankah Rasulullah telah bersabda, “Hendaklah puncak salah seorang kamu tentang dunia seperti perbekalan seorang pengendara (yaitu secukupnya dan seadanya).” Jawab Khalifah Umar, “Ya, saya ingat!” Kata Abu Darda, “Nah, apa yang telah kita perbuat sepeninggal beliau, hai Umar?” Khalifah Umar menangis, Abu Darda pun menangis pula. Akhirnya, mereka berdua bertangis-tangisan sampai waktu subuh. Abu Darda menjadi guru selama tinggal di Damsyiq.

Dia memberi pengajaran kepada penduduk, memperingatkan mereka, mengajarkan kitab (Alquran) dan hikmah kepada mereka sampai dia meninggal. Tatkala Abu Darda hampir meninggal, para sahabatnya datang berkunjung. Mereka bertanya, “Sakit apa yang Anda rasakan?” Jawab Abu Darda, “Dosa-dosaku!” Tanya, “Apa yang Anda inginkan?” Jawab, “Ampunan Tuhanku.” Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang hadir di sekitarnya, “Ulangkanlah kepadaku kalimah, Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.” Abu Darda senantiasa membaca kalimah tersebut berulang-ulang hingga nafasnya yang terakhir. Setelah Abu Darda pergi menemui Tuhannya, Auf bin Malik al-Asyja’iy bermimpi.

Dia melihat dalam mimpinya sebuah padang rumput yang luas menghijau. Maka, mengambanglah bau harum semerbak dan muncul suatu bayangan berupa sebuah kubah besar dari kulit. Sekitar kubah berbaring hewan ternak yang belum pernah terlihat sebelumnya. Dia bertanya, “Milik siapa ini?” Jawab, “Milik Abdur Rahman bin Auf.” Abdur Rahman muncul dari dalam kubah. Dia berkata kepada Auf bin Malik, “Hai, Ibnu Malik! Inilah karunia Allah kepada kita berkat Alquran. Seandainya engkau mengawasi jalan ini, engkau akan melihat suatu pemandangan yang belum pernah engkau saksikan, dan mendengar sesuatu yang belum pernah engkau dengar, dan tidak pernah terlintas dalam pikiranmu.” Tanya Auf bin Malik, “Untuk siapa semuanya, hai Abu Muhammad? Jawab, “Disediakan Allah Taala untuk Abu Darda, karena dia telah menolak dunia dengan mudah dan lapang dada.”

Mosque-in-Djenne_zps36fe30c4.jpg
 
Salim Maula Abu Hudzaifah

Pada suatu hari, Rasulullah saw. berpesan kepada para sahabatnya, “Belajarlah Al Qur'an daripada empat orang: Abdullah bin Mas'ud, Salim Maula Abu Hudzaifah, Ubai bin Ka'b dan Muadz bin Jabal." Kita sudah berkenalan dengan Abdullah bin Mas'ud, Ubai dan Muadz. Jadi, siapakah pula sahabat yang keempat yang dijadikan Rasulullah sebagai rujukan untuk mengajarkan AI Qur'an?

Dialah Salim Maula (hamba yang dibebaskan oleh) Abu Hudzaifah. Dahulunya, beliau merupakan seorang hamba yang dijual beli, lalu Islam mengangkat martabatnya, sehingga beliau dijadikan anak angkat oleh seorang tokoh Islam terkemuka, yang sebelum masuk Islam juga seorang bangsawan dan pemuka Quraisy. Selepas Islam menghapuskan budaya anak angkat ketika itu, beliau menjadi saudara dan kawan rapat kepada orang yang memerdekakannya, yaitu sahabat mulia Abu Hudzaifah bin Utbah.

Berkat kurnia dan nikmat daripada Allah ta'ala, ruhiyah, tingkahlaku dan ketakwaan Salim mencapai ke puncaknya, sehinggakan beliau disegani dan dihormati oleh rakan-rakannya sesama muslim. Sahabat Rasul yang mulia ini biasanya dipanggil "Salim Maula Abu Hudzaifah" kerana dahulunya beliau merupakan seorang hamba yang dijual beli, kemudiannya dimerdekakan. Beliau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sejak awal lagi, sehingga digolongkan dalam kalangan as-Sabiqun al-Awwalun (orang-orang yang mula-mula memeluk Islam). Hudzaifah bin Utbah sendiri juga telah masuk Islam sejak awal.

Beliau tidak peduli dengan ayahnya (Utbah bin Rabi'ah) yang sedang marah dan kecewa kerana anaknya (Hudzaifah) telah masuk Islam. Padahal, Hudzaifah memiliki kewibawaan tinggi dalam kalangan orang Quraisy dan bahkan, dirinya telah dipersiapkan untuk menjadi pemimpin Quraisy. Setelah memerdekakan Salim, Abu Hudzaifah menjadikannya sebagai anak angkat. Disebabkan inilah, Salim dikenali sebagai Salim bin Abu Hudzaifah.

Selepas itu, kedua-dua mereka beribadah kepada Allah dengan penuh khusyu dan ketaatan. Setiap siksaan dan tipu daya Quraisy, mereka hadapi dengan penuh kesabaran. Pada suatu hari, turunlah ayat yang menghapuskan budaya anak angkat yang berlaku pada waktu itu. Setiap anak angkat mestilah disebut sesuai dengan nama ayah kandungnya, bukan ayah angkatnya.

Zaid yang pada waktu itu merupakan anak angkat Nabi saw. dan juga dikenali dalam kalangan kaum muslimin sebagai Zaid bin Muhammad saw., menggunakan nama ayah kandungnya semula iaitu Haritsah, lalu namanya menjadi Zaid bin Haritsah. Akan tetapi, ayah Salim tidak dapat diketahui sehinggakan beliau akhirnya dinasabkan dengan orang yang telah memerdekakannya, maka beliau dipanggil Salim Maula Abu Hudzaifah. Boleh jadi, ketika Islam menghapuskan budaya anak angkat, Islam ingin menegaskan kepada umatnya, "Janganlah kamu mencari-cari hubungan kekeluargaan dan silaturahim untuk menguatkan persaudaraan yang lebih besar dan lebih kuat berbanding Islam itu sendiri dan juga akidah yang menjadikan kalian bersaudara." Hal ini telah difahami dengan baik oleh kaum muslimin generasi as Sabiqun al Awwalun.

Setelah Allah dan Rasul-Nya, tidak ada yang lebih mereka cintai melainkan saudara seakidah dengan mereka. Kita telah melihat bagaimana orang-orang Ansar menyambut saudara-saudara mereka, kaum Muhajirin. Mereka membahagikan harta dan tempat tinggal mereka kepada dua bahagian, bahkan ada yang memberi semua yang mereka miliki. Inilah yang terjadi antara Abu Hudzaifah, seorang bangsawan Quraisy terhadap Salim yang dahulunya hamba belian yang tidak diketahui siapa ayahnya itu.

Sehingga akhir hayat mereka, hubungan kedua-dua mereka ini lebih erat dan bukan sekadar sebagai dua orang adik-beradik, sehinggakan ketika meninggal dunia, mereka mati bersama-sama, nyawa melayang bersama dan tubuh mereka terbaring berdampingan. Inilah kemuliaan Islam yang tiada dua. Bahkan, ini baru satu daripada sekian banyak kemuliaan dan keistimemewaan Islam. Keimanan Salim sudah mencapai ke puncaknya.

Beliau telah menempuh jalan menuju Allah dengan soleh dan ketakwaan. Oleh itu, salasilah keturunan dan kedudukannya di masyarakat sudah tidak menjadi masalah lagi, kerana ketakwaan dan keikhlasannya telah mengangkatnya ke kedudukan yang tertinggi di tengah-tengah masyarakat yang baru dibangunkan oleh Islam dengan tapak dan asas baru yang adil lagi mulia. Asas itu diceritakan dalam firman Allah berikut. "Sesungguhnya, yang paling mulia antara kamu ialah yang paling bertakwa"(al Hujurat, 49:13) Juga dikhabarkan dalam hadis berikut. "Tidak ada keutamaan bagi seorang Arab terhadap yang bukan Arab, kecuali kerana ketakwaannya, dan tidak ada keutamaan bagi seorang kulit putih terhadap seorang kulit hitam kecuali kerana ketakwaannya."

Dalam masyarakat baru yang bersih itu, Abu Hudzaifah pasti disanjung-sanjung sekiranya menjadi wali bagi seseorang yang dahulunya menjadi hamba belian. Bahkan, keluarganya juga akan disanjung jika menikahkan Salim dengan keponakannya yang bernama Fatimah binti Walid bin Utbah. Di tengah-tengah masyarakat baru dan bersih yang menghancurkan sistem kasta yang menganiaya dan diskriminasi yang tidak adil inilah, Salim selalu berada di barisan hadapan disebabkan kejujuran, keimanan dan jasa baiknya. Benar, dialah yang menjadi imam solat jemaah bagi kaum Muhajirin selama mereka bersolat di Masjid Quba'.

Beliau menjadi rujukan bagi mereka yang ingin mempelajari Al Qur'an, sehinggakan Rasulullah menyuruh kaum muslimin belajar daripadanya. Beliau juga memiliki banyak kebaikan dan kelebihan sehingga Rasulullah pernah bersabda kepadanya, "Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam umatku, orang sepertimu." Bahkan sahabat-sahabatnya ketika itu menggelarkannya sebagai Salim "orang yang soleh". Riwayat hidup Salim seperti riwayat hidup Bilal dan puluhan hamba belian serta fakir miskin lain yang dibebaskan oleh Islam dari belenggu perhambaan dan kelemahan, lalu Islam menjadikan mereka pemimpin dalam masyarakat madani. Pada diri Salim, terkumpul seluruh keutamaan dan kelebihan yang diajarkan oleh Islam.

Bahkan boleh dikatakan, semua keutamaan itu berdesakan memenuhi diri dan sekitarnya. Dan kesungguhan imannyalah yang menjaganya dengan baik. Antara kelebihannya yang paling menonjol ialah beliau berani menyatakan secara jelas apa yang dianggapnya benar. Beliau tidak mahu diam jika menurutnya, pada waktu itu beliau harus berbicara. Beliau tidak mahu mengkhianati kehidupan dengan berdiam diri terhadap suatu kesalahan yang dapat menguburkan kehidupan itu.

Selepas peristiwa pembukaan kota Mekah, Rasulullah menghantar beberapa buah pasukan kecil ke kampung-kampung dan suku-suku Arab di sekeliling Mekah, dan memberitahukan kepada penduduknya bahawa Rasulullah saw. menghantar utusan tersebut untuk berdakwah dan bukan untuk berperang. Khalid bin Walid terpilih sebagai ketua salah sebuah pasukan tersebut. Ketika Khalid sampai di tempat yang dituju, terjadilah suatu peristiwa yang menyebabkan beliau terpaksa menggunakan senjata lalu membunuh. Ketika berita peristiwa ini sampai kepada Nabi saw., baginda tidak henti-henti memohon keampunan daripada Allah.

Baginda berkata, "Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu daripada perbuatan yang dilakukan oleh Khalid." Bahkan, peristiwa ini selalu diingati oleh Saidina Umar dan mempengaruhi sikap dan pandangannya terhadap Khalid. Beliau berkata, "Sesungguhnya, pedang Khalid itu terlalu tergesa-gesa." Dalam pasukan kecil yang diketuai oleh Khalid itulah terdapat Salim Maula Abu Hudzaifah dan sahabat yang lain. Ketika beliau melihat tindakan Khalid tersebur, Salim menegurnya habis-habisan dan memberitahukan kesalahannya sedangkan Khalid, yang merupakan seorang komandan dan juga pahlawan hebat pada zaman Jahiliah dan selepas Islam, kadang-kadang diam sambil mendengar, kadang-kadang membela hujahnya dan kadang-kadang berbicara dengan suara lantang.

Namun, Salim tetap berpegang pada pendiriannya dan mengemukakannya tanpa rasa takut atau basa-basi. Pada waktu itu, Salim tidak memandang Khalid sebagai pemuka bangsawan dan memandang dirinya sebagai hamba belian. Tidak! Hal ini kerana Islam telah menyamakan kedudukan mereka. Beliau juga tidak memandangnya sebagai komandan yang bebas untuk berbuat apa-apa kesalahan, tetapi sebagai rakan seperjuangan. Teguran yang beliau tujukan kepada Khalid bukan kerana maksud tertentu atau dengan tujuan tertentu, tetapi sebagai nasihat yang dijunjung tinggi oleh Islam, dan dijadikan oleh Nabi saw. sebagai sendi agama. Baginda pernah bersabda, "Agama itu nasihat. Agama itu nasihat. Agama itu nasihat." Ketika Rasulullah saw. mendengar tindakan Khalid itu, beliau bertanya, ''Adakah sesiapa yang tidak bersetuju dengannya?" Alangkah indah dan hebatnya pertanyaan ini. Kemarahan Rasulullah pun mereda ketika para sahabat menjawab, "Ada. Salim Maula Abu Hudzaifah."

Salim menjalani kehidupannya bersama Rasulullah dan kaum muslimin. Beliau tidak pernah tertinggal satu peperangan pun. Beliau juga tidak pernah berhenti beribadah. Persaudaraannya dengan Abu Hudzaifah pula semakin hari semakin erat. Waktu terus berjalan. Setelah Rasulullah pulang ke rahmatullah, Khalifah Abu Bakar menghadapi pengkhianatan jahat orang-orang murtad. Lalu, tibalah saatnya peperangan Yamamah, suatu pertempuran yang sangat dahsyat, yang belum pernah dialami oleh kaum muslimin sebelumnya.

Kaum muslimin berperang, tidak ketinggalan Salim dan saudara seakidahnya, Abu Hudzaifah. Pada awal peperangan, kaum muslimin ditimpa kekalahan, sehinggakan setiap pejuang muslim merasakan bahwa menang dalam peperangan ini merupakan suatu tanggungjawab terhadap diri masing-masing. Khalid bin Walid mengumpulkan mereka lalu mengatur strategi baru yang hebat. Dua saudara ini , Abu Hudzaifah dan Salim, berpelukan dan saling berjanji dan bersiap sedia untuk syahid demi Islam yang telah memberi mereka kebahagiaan dunia dan akhirat. Lalu kedua-dua mereka menceburkan diri dalam kecamuk perang yang dahsyat itu. Abu Hudzaifah berseru, "Wahai Ahlul Qur'an, hiasilah Al Qur'an dengan tindakan kamu," sementara pedangnya menyabit ke sana dan ke mari seperti angin taufan yang memporak-perandakan pasukan Musailamah al Kazzab. Salim pun berseru, "Seburuk-buruk Ahlul Qur'an ialah diriku, jika kaum muslimin mendapat serangan dari arahku." Jangan berkata begitu, wahai Salim! Kerana sebaik-baik Ahlul Qur'an ialah dirimu. Pedangnya bagai menari-nari, menebas kepala orang-orang murtad yang hendak mengembalikan jahiliah Quraisy dan memadamkan cahaya Islam. Tiba-tiba, sebuah pedang musuh menebas tangannya hingga putus.

Pada waktu itu, beliau memegang panji kaum Muhajirin menggantikan Zaid bin Khattab yang telah gugur mendahuluinya. Mengetahui tangan kanannya putus, beliau segera mendapatkan bendera dengan tangan kirinya dan terus mengibarkannya sambil membaca firman Allah, "Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama orang yang bertakwa yang jumlahnya besar. Mereka tidak menjadi lemah kerana bencana yang menimpa mereka di jalan Allah. Mereka tidak lesu dan tidak menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Ali Imran, 3:146)

Alangkah mulianya semboyan ini. Inilah semboyan yang dipilih oleh Salim ketika ajal menjemputnya. Sekumpulan tentera murtad mengepung dan menyerangnya. Salim akhirnya rebah. Namun ruhnya masih belum mahu meninggalkan tubuhnya yang suci, meskipun perang sudah tamat dengan matinya Musailamah aI Kazzab dan kekalahan pasukannya. Perang ini tamat dengan kemenangan kaum muslimin. Ketika kaum muslimin mencari-cari anggota pasukan mereka yang gugur, mereka mendapati Salim sedang nazak. Beliau bertanya kepada mereka, "Bagaimanakah nasib Abu Hudzaifah?" Mereka menjawab, "Beliau telah syahid." Beliau berkata, "Baringkan aku di sampingnya." "Beliau di sampingmu, wahai Salim. Beliau gugur di tempat itu."

Salim tersenyum. Dan itulah senyumannya yang terakhir. Beliau sudah tidak berkata-kata. Beliau dan rakan rapatnya itu telah mencapai cita-cita yang mereka dambakan selama ini. Kedua-duanya masuk Islam bersama. Hidup bersama. Dan syahid bersama. Sungguh, satu perjalanan hidup dan nasib yang menakjubkan. Salim telah pergi menghadap Allah. Kaum muslimin kehilangan seorang tokoh besar yang sangat dikagumi Umar. Sebelum meninggal dunia, Umar pernah berpesan, "Seandainya Salim masih hidup, pasti aku akan serahkan urusan khilafah kepadanya setelah kematianku."


la-imam-mosque-la-mas_zps76740d6d.jpg
 
Abdullah Ibn Umm Maktum

Dia bermasam muka dan berpaling. Kerana datangnya seorang yang buta. Padahal adakah memberitahumu boleh jadi dia akan akan menjadi orang yang suci? Atau dia akan ingat lalu memberi manfaat kepadanya ingatan itu? Adapun terhadap orang yang telah merasa cukup, maka engkau hadapkan perhatian itu kepadanya. (Surah Abasa 80: 1 – 6)

Kali ini terasa kelainanya. Apatah lagi ia membicarakan peribadi generasi yang amat hampir dengan seorang Nabi yang ummi. Abdullah Ibn Umm Maktum si buta yang celik hatinya, namanya terbaris sebagai seorang generasi al-Quran yang unik bahkan kerana dia dua kali ayat-ayat Allah turun membasahi bumi. Nabi Muhammad saw bersabda: Sahabat-sahabatku umpama bintang di langit. (Hadith sahih Riwayat al-Bukhari) Bintang di langit peranannya bukan sahaja menemani malam dengan penuh setia tetapi bersinar-sinar dan menjadi pedoman bagi pengembara. Begitulah bandingan sahabat Nabi yang setia itu, peribadi dan sifat-sifat mereka sebagai generasi al-Quran yang amat unik ini menjadi suatu ciri yang boleh dipedomani oleh kita dalam kehidupan. Dia bersama Mus’ab Ibn Umair r.a meredah padang pasir menjadi golongan sahabat yang pertama berhijrah di Madinah. Bayangkan si buta dan si Muda Mus’ab diberikan tanggungjawab yg amat besar oleh Rasulullah saw.

Pejam mata sejenak dan bayangkan seorang yang buta mengatur langkah hijrah yang pertama ini. Bayangkan juga Mus’ab yang memimpin musafir yang penuh bahaya itu. Andai dia tersalah langkah, andai musyrikin menghidu jejaknya, bukan sahaja nyawanya akan melayang, tetapi nyawa saudaranya yang buta dan masa depan dakwah di Yathrib sebelum Rasulullah berhijrah. Dipendekkan cerita, tidak ada satu rumahpun yang tidak mendengar tentang Islam sebelum kedatangan Nabi. Dan inilah jasa dua manusia unggul ini. Abdullah Ibn Ummi Maktoum dan Mus’ab Ibn Umair. Setelah Nabi Muhammad saw tiba di Madinah, baginda menetapkan tiga asas utama dalam pembinaan negara Islam Madinah.

Pertama ialah persaudaraan, kedua ialah institusikan masjid sebagai medan dan pusat kehidupan dan ketiga ialah kepimpinan dan pelembagaan madinah. Tiga asas ini menjadi mudah untuk Rasulullah saw laksanakan hasil dari jejak-jejak hijrah yang pertama dan jasa para Sahabat r.a termasuklah si buta Abdullah Ibn Ummi Maktum ini. Sekumpulan para Sahabat r.a dipersaudarakan oleh Rasulullah saw. Abdullah Ibn Ummi Maktoum ini dipersaudarakan dengan Bilal bin Rabah r.a. Si hitam yang dulunya hamba teraniaya tetapi setelah Islam maruahnya diletakkan sebaris dengan Umar al-Khattab, Abu Bakar al-Siddiq, Ammar bin Yasir, Ibn al-Jarrah.

Malah sebaris dalam saf-saf solat di Masjid yang pertama di atas dunia. Lalu bersahabat si buta dan si hitam ini. Tetapi mereka ini bukan calang-calang orang. Si hitam inilah yang suara takbir azannya mencecah awan, menembusi langit yang tujuh. Si buta inilah juga dilantik oleh Rasulullah saw sebagai ‘khalifah’ baginda 13 kali banyaknya iaitu sewaktu Nabi mengetuai ekspedisi dan peperangan menentang musuh Islam. Maka madinah dan seisi penduduk menjadi amanah Abdullah Ibn Ummi Maktum sewaktu baginda mengetuai ekspedisi di luar kota Madinah. Si buta inilah yang dari jauh merayu-rayu kpd Rasulullah, wahai suami sepupuku (khadijah) ajarkan kepadaku apakah wahyu yang turun kepadamu hari ini? Inilah rutin Abdullah dari kejauhan dan itulah yang berlaku dalam satu pertemuan Nabi bersama golongan pembesar Quraisy sehingga berubah air muka Rasul di atas kunjungan itu.

Bukan Abdullah tidak tahu adanya tetamu besar bersama Nabi tetapi jiwanya yang merindui ayat-ayat al-Quran setiap hari menjadikan raganya kehausan al-Quran dan ternanti-nanti ayat-ayat yang baru. Lalu turunlah wahyu menegur baginda dengan firman-Nya: Dia bermasam muka dan berpaling. Kerana datangnya seorang yang buta. Padahal adakah memberitahumu boleh jadi dia akan akan menjadi orang yang suci? Atau dia akan ingat lalu memberi manfaat kepadanya ingatan itu? Adapun terhadap orang yang telah merasa cukup, maka engkau hadapkan perhatian itu kepadanya. (Surah Abasa 80: 1 – 6) Siapakah Ibn Umm Maktum ini wahai Nabiku? Sehinggakan Allah menurunkan wahyu padamu kerananya? Sejak itu, Rasulullah saw dari jauh lagi mengalu-alukan kehadiran Abdullah, ‘telah datang sepupu isteriku yang kerananya turun wahyu menegurku’ .. Ibn Umm Maktum mempunyai pertalian saudara dengan isteri Rasulullah s.a.w iaitu Khadijah binti Khuwailid. Beliau antara penduduk Mekah yang awal memeluk Islam.

Bagaimanakah seorang buta membuat penilaian dan memilih untuk memeluk Islam? Tidak takutkah si buta ini pada halangan dan juga ancaman yang dahsyat dari kumpulan Quraisy? Sudahlah matanya buta, bagaimana sekiranya tubuhnya dicedera atau dipukul dan diazab oleh Quraisy yang berkuasa? Bukankah era dakwah di Mekah ketika itu tertekan dengan suasana yang dipantau dengan ketat, diancam dengan penjara dan azab? Bahkan banyak percubaan untuk membunuh Rasulullah, menangkap para sahabat r.a dan juga mengazabkan golongan miskin yang Islam?

Mereka ingin melenyapkan cahaya Allah (Islam, al-Quran dan mesej dakwah Rasulullah) dengan mulut-mulut mereka (arahan, ancaman, perintah, kuatkuasa undang-undang dsb), tetapi Allah akan sempurnakan cahaya-Nya sekalipun orang-orang yang kafir itu amat membencinya. Dia-lah yang mengutuskan rasul-Nya dengan hidayah dan agama yang benar mengatasi agama (cara hidup) yang lain, sekalipun golongan yang syirik itu amat membencinya. (Al-Saf 8-9).

Apabila hidayah dan nur daripada Allah ini ingin menyinar, ia akan menembusi jua walaupun dalam ruang yang sempit. Nur itulah yang membuka mata hatinya sehingga Ibn Umm Maktum sekalipun buta tetapi ‘melihat’ kebenaran. Rasulullah s.a.w diberi peringatan oleh Allah bahawa Ibn Maktum ini lebih besar harapannya dan jiwanya lebih berkembang dan meningkat menjadi seorang yang suci dan bersih hatinya. Meskipun buta matanya, kalau jiwa bersih, kebutaan bukan beban dan tidak juga menghambat peningkatan iman seseorang. Manakala mereka yang golongan yang telah merasa cukup dan tidak perlu ditunjuk jalan, pintar dan berasa diri lebih kaya, golongan ini bukan lah prioriti untuk diberikan perhatian.

Bahkan menurut mufassir golongan ini akan datang kepada agama setelah kemenangan untuk mengaut keuntungan dan ada kepentingan. Bayangkan sehalus itu kritikan Allah mengajar Nabi s.a.w. Ciri dan sikap Abdullah Ibn Umm Maktum ini lebih wajar untuk dipedomani oleh generasi umat Islam. Manakala ciri kedua pula adalah sifat-sifat yang mesti dijauhi. Setelah Rasulullah saw wafat, Bilal r.a membawa diri ke Syria lantaran kesedihan yang amat terdapat kehilangan Nabi. Apalah ertinya lagi apabila kekasih yang mulia hilang di mata. Bilal r.a menyertai ekspedisi pembukaan kota-kota dan membawanya sehingga ke utara Syria. Manakala Ibn Umm Maktum terus berada di Madinah sehinggalah saat umat Islam bersiap siaga untuk menyertai peperangan al-Qaadisiyyah iaitu peperangan yang akan menentukan jauh bangunnya empayar Islam dan menamatkan kekejaman Byzantine.

Jika tentera Muslimin menang, maka jatuhlah sebuah empayar yang digeruni dan tamatlah penindasan ke atas rakyat dan jajahan taklukannya. Abdullah yang sejak hayat Rasulullah meronta-ronta untuk ke medan jihad, akhirnya memohon khalifah Umar al-Khattab membenarkan dia pergi. ‘Wahai Umar, tentera Islam memerlukan seorang yang tetap memegang panjinya. Berikanlah tanggungjawab itu kepadaku. Aku ini buta, akan kuredah semua di hadapanku, engkau akan perlukan orang yang tidak akan menjatuhkan atau membuatkan panji Islam tergelincir. Orang itu ialah aku. aku akan mara tatkala orang lain mengelak tikaman tetapi aku tidak, dan engkau perlukan seseorang sepertiku’..(ulang Abdullah berkali-kali)

Umar berfikir panjang. Abdullah Ibn Umm Maktum bukan calangan orang. Dia telah Islam sewaktu orang-orang lain termasuk dirinya masih kufur. Dia telah berhijrah sewaktu orang-orang lain masih berlindung di Makkah. Dia telah mengislamkan penduduk Madinah sebelum Rasulullah tiba. Malah dia berada di saf yang awal dalam solat sebaris dengan sahabat-sahabat lain yang mulia. Bahkan kerananya dua kali ayat-ayat al-Quran turun ke dunia. Maka atas alasan apakah lagi untuk dia menolak permintaan itu. Sejarah gemilang Abdullah di medan tempur ini dirakamkan oleh Anas yang melihat sendiri Ibn Ummi Maktum ini berjuang di bawah ribuan tentera pimpinan Saad Ibn Abi Waqas. Akhirnya beliau diterima sebagai sahabat yang syahid oleh Allah swt. Rasulullah saw pernah bersabda maksudnya: Apabila menjelang fajar tunggulah azan Bilal bin Rabah, apabila ingin solat fajar tunggulah azan Ibn Umm Maktum. Bilal r.a dan Ibn Umm Maktum ini bergilir saban hari melaungkan azan di Madinah. Itulah rutin dua muazzin Rasulullah s.a.w ini.

Cumanya, bagaimana seorang yang buta tahu bilakah waktu solat bermula? Talk pada hari itu diakhiri dengan penjelasan.. Because he could smell the fajr… his heart beat with the sun. Moga-moga Allah menambah iman kita walau hanya sedetik.

Mosque_Khartoum_Sudan_zpsbb9f7882.jpg
 
Saad bin Abi Waqas

Saad lahir dan besar di kota Makkah. Ia dikenal sebagai pemuda yang serius dan memiliki pemikiran yang cerdas. Sosoknya tidak terlalu tinggi namun bertubuh tegap dengan potongan rambut yang pendek. Orang-orang selalu membandingkannya dengan singa muda. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya dan sangat disayangi kedua orangtuanya, terutama ibunya.

Meski berasal dari Makkah, ia sangat benci pada agamanya dan cara hidup yang dianuti masyarakatnya. Ia membenci upacara penyembahan berhala yang menjadi budaya di Makkah saat itu. Suatu hari dia didatangi Abu Bakar yang dikenal sebagai orang yang ramah. Ia mengajak Saad menemui Muhammad di sebuah bukit dekat Makkah. Pertemuan itu amat berkesan di jiwa Saad yang ketika itu baru berusia 20 tahun. Ia pun segera menerima undangan Muhammad s.a.w. untuk menjadi salah seorang penganut ajaran Islam yang dibawanya. Saad kemudian menjadi salah satu sahabat yang pertama masuk Islam.

Saad sendiri secara tidak langsung memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah s.a.w.. Ibunda rasul, Aminah binti Wahhab berasal dari suku yang sama dengan Saad iaitu dari Bani Zuhrah. Kerana itu Saad juga sering disebut sebagai Saad dari Zuhrah, untuk membezakannya dengan Saad-Saad yang lain. Namun keislaman Saad mendapat tentangan keras terutama dari keluarga dan anggota sukunya. Ibunya bahkan mengancam akan bunuh diri. Selama beberapa hari, ibunda Saad menolak makan dan minum sehingga kurus dan lemah. Meski dipujuk dan dibawakan makanan, namun ibunya tetap menolak dan hanya bersedia makan jika Saad kembali ke agama lamanya. Namun Saad berkata bahawa meski ia memiliki kecintaan luar biasa kepada ibunya, namun kecintaannya pada Allah s.w.t dan Rasulullah s.a.w jauh lebih besar lagi.

Mendengar kekerasan hati Saad, sang ibu akhirnya menyerah dan makan kembali. Fakta ini memberikan bukti kekuatan dan keteguhan iman Saad bin Abi Waqqas. Di masa-masa awal sejarah Islam, kaum Muslim menghilangkan diri ke bukit jika hendak menunaikan solat. Kaum Quraisy selalu menghalangi mereka dari beribadah. Saat tengah solat, sekelompok kaum Quraisy mengganggu dengan saling melemparkan ucapan kasar. Kerana kesal dan tidak tahan, Saad bin Abi Waqqas memukul salah seorang orang Quraisy dengan tulang unta sehingga melukainya. Ini menjadi darah pertama yang tumpah akibat konflik antara umat Islam dengan orang kafir.

Konflik yang kemudian semakin hebat dan menjadi batu ujian keimanan dan kesabaran umat Islam. Setelah peristiwa itu, Rasulullah meminta para sahabat agar lebih tenang dan bersabar menghadapi orang Quraisy seperti yang difirmankan Allah s.w.t dalam surat al-Muzammil ayat 10. Cukup lama kaum Muslimin menahan diri. Hanya beberapa dekad kemudian, umat Islam diperkenankan melakukan serangan terhadap orang kafir.

Saad bin Abi Waqqas menjadi salah satu tonggak pemimpin utamanya. Saad dijamin Syurga Pada suatu hari ketika Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat, tiba-tiba beliau menatap ke ufuk dan berkata, “Seorang penghuni surga akan muncul.” Ketika para sahabat mencari di sekeliling siapa yang dimaksud Nabi, tiba-tiba Sa’ad muncul. Abdullah bin Amr,menanyakan “rahsia” sehingga mendapat jaminan surga. Sa’ad mengatakan, “Ibadah yang aku kerjakan juga dikerjakan yang lain, kecuali aku tidak pernah menaruh dendam atau berniat jahat terhadap kaum muslimin.”

Ia terlibat dalam perang badar bersama saudaranya yang bernama Umair yang kemudian syahid bersama 13 pejuang Muslim lainnya. Pada perang Uhud, bersama Zaid, Saad terpilih menjadi salah satu pasukan pemanah terbaik Islam. Saad berjuang dengan gigih dalam mempertahankan Rasulullah s.a.w setelah beberapa pejuang Muslim meninggalkan posisi mereka. Saad juga menjadi sahabat dan pejuang Islam pertama yang tertembak panah dalam upaya mempertahankan Islam. Saad juga merupakan salah satu sahabat yang dikurniai kekayaan yang banyak dan digunakannya untuk kepentingan dakwah.

Ia juga dikenal kerana keberaniannya dan dermawannya. Saad hidup hingga usianya menjelang 80 puluh tahun. Menjelang wafatnya, Saad meminta puteranya untuk mengafaninya dengan jubah yang ia gunakan dalam perang Badar. ''Kafani aku dengan jubah ini kerana aku ingin bertemu Allah SWT dalam pakaian ini,''ujarnya. Kepahlawan Saad dalam Peperangan Qadisiyyah Penolakan kaisar Farsi untuk menerima Islam membuat air mata Saad bercucuran. Berat baginya melakukan peperangan yang harus mengorbankan banyak nyawa kaum Muslim dan bukan Muslim. Kepahlawanan Saad bin Abi Waqqas tertulis dengan tinta emas saat memimpin pasukan Islam melawan tentara Farsi di Qadissyah. Peperangan ini merupakan salah satu peperangan terbesar umat Islam.

Bersama 3000 pasukannya, ia berangkat menuju Qadasiyyah. Di antara mereka terdapat sembilan veteran perang Badar, lebih dari 300 mereka yang ikut serta dalam ikrar Riffwan di Hudaibiyyah, dan 300 di antaranya mereka yang ikut serta dalam memerdekakan Makkah bersama Rasulullah. Lalu ada 700 orang putra para sahabat, dan ribuan wanita yang ikut serta sebagai perawat dan tenaga bantuan. Pasukan ini berkemah di Qadisiyyah berhampiran Hira. Pasukan musuh yang datang untuk menentang pasukan tentera Muslimin, mereka semua berjumlah 120,000 ribu orang dibawah panglima perang kebanggaan mereka, Rustum. Sebelum memulai peperangan, Saidina Umar yang menjadi khalifah saat itu, mengarahkan Saad menulis surat kepada kaisar Farsi, Yazdagird dan Rustum, isi surat itu mengajak meraka menerima agama Islam. Delegasi Muslim yang pertama berangkat menemui Yazdagird adalah Nu’man bin Muqarrin yang kemudian mendapat penghinaan dan menjadi bahan ejekan Yazdagird. Untuk mengirim surat kepada Rustum, Saad mengirim delegasi yang dipimpin Rubiy bin Aamir. Rustum menawarkan segala kemewahan duniawi kepada Rubiy bin Aamir sebagai pembalasan dan penghinaan.

Namun ia tidak berpaling dari Islam dan menyatakan bahawa Allah SWT menjanjikan kemewahan lebih baik iaitu surga. Para delegasi Muslim kembali setelah kedua pemimpin itu menolak tawaran masuk Islam. Melihat hal tersebut, air mata Saad bercucuran kerana ia terpaksa harus berperang yang berarti mengorbankan nyawa orang Muslim dan bukan muslim. Setelah itu, untuk beberapa hari ia terbaring sakit kerana tidak kuat menanggung kepedihan jika perang harus terjadi. Saad tahu pasti, bahawa peperangan ini akan menjadi peperangan yang sangat keras yang akan menumpahkan darah dan mengorbankan banyak nyawa. Ketika tengah berfikir, Saad akhirnya tahu bahawa ia tetap harus berjuang.

Kerana itu, meskipun terbaring sakit, Saad segera bangkit dan menghadapi pasukannya. Di depan pasukan Muslim, Saad membaca surat Al Anbiya ayat 105 tentang bumi yang akan dipusakai oleh orang-orang soleh seperti yang tertulis dalam kitab Zabur. Setelah itu, Saad menukar pakaian kemudian menunaikan solat zuhur bersama pasukannya. Setelah itu dengan membaca takbir, Saad bersama pasukan Muslim memulai peperangan. Selama empat hari, peperangan berlangsung tanpa henti dan menimbulkan korban dua ribu Muslim dan sepuluh ribu orang Farsi. Peperangan Qadisiyyah merupakan salah satu peperangan terbesar dalam sejarah dunia. Pasukan Muslim memenangi peperangan itu.

Dimana Saad bin Waqas dikebumikan? Menurut catatan resmi dari Dinasti Tang yang berkuasa pada 618-905 M dan berdasarkan catatan serupa dalam buku A Brief Study of the Introduction of Islam to China karya Chen Yuen, Islam pertama kali datang ke China sekitar tahun 30 H atau 651 M. Disebutkan bahawa Islam masuk ke China melalui utusan yang dikirim oleh Khalifah Ustman bin Affan, yang memerintah selama 12 tahun atau pada periode 23-35 H / 644-656 M. Sementara menurut catatan Lui Tschih, penulis Muslim China pada abad ke 18 dalam karyanya Chee Chea Sheehuzoo (Perihal Kehidupan Nabi), Islam dibawa ke China oleh rombongan yang dipimpin Saad bin Abi Waqqas. Sebagian catatan lagi menyebutkan, Islam pertama kali datang ke China dibawa oleh panglima besar Islam, Saad bin Abi Waqqas, bersama sahabat lainnya pada tahun 616 M. Catatan tersebut menyebutkan bahawa Saad bin Abi Waqqas dan tiga sahabat lainnya datang ke China dari Abyssinia atau yang sekarang dikenal dengan Etiopia.

Setelah kunjungan pertamanya. Saad kemudian kembali ke Arab. Ia kembali lagi ke China 21 tahun kemudian atau pada masa pemerintahan Usman bin Affan, dan datang dengan membawa salinan Al Quran. Usman pada masa kekhalifahannya memang menyalin Al Quran dan menyebarkan ke berbagai tempat, demi menjaga kemurnian kitab suci ini. Pada kedatangannya yang kedua di tahun 650, Saad berlayar melalui Samudera Hindi ke Laut China menuju pelabuhan laut di Guangzhou. Kemudian ia berlayar ke Chang'an atau kini dikenal degan nama Xi'an melalui rute yang kemudian dikenal sebagai Jalan Sutera. Bersama para sahabat, Saad datang dengan membawa hadiah dan diterima dengan baik oleh kaisar Dinasti Tang, Kao-Tsung (650-683).

Namun Islam sebagai agama tidak langsung diterima oleh sang kaisar. Setelah melalui proses penyelidikan, sang kaisar kemudian memberikan izin bagi pengembangan Islam yang dirasanya sesuai dengan ajaran Konfusius. Namun sang kaisar merasa bahawa kewajiban sembahyang lima kali sehari dan puasa sebulan penuh terlalu berat baginya hingga akhirnya ia tidak jadi memeluk Islam. Namun begitu ia mengizinkan Saad bin Abi Waqqas dan para sahabat untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat di Guangzhou. Oleh orang Cina, Islam disebut sebagai Yi si lan Jiao atau agama yang murni. Sementara Makkah disebut sebagai tempat kelahiran Buddha Ma-hia-wu (atau Rasulullah Muhammad SAW). Saad bin Abi Waqqas kemudian menetap di Guangzhou dan ia mendirikan Masjid Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling berharga di China.

Masjid ini menjadi masjid tertua yang ada di daratan Cina dan usianya sudah melebihi 1300 tahun. Ianya teletak di jalan Guang Ta Lu. Mesjid ini terus bertahan melewati berbagai monomen sejarah China dan saat ini masih berdiri tegak dan masih seindah dahulu setelah diperbaiki beberapa kali. Baru-baru ini masjid ini di perbaiki sekali lagi dengan melibatkan pembesaran ruangan sembahyang apabila pihak pengurusan mesjid membeli sedikit ruang bahagian belakang masjid .

Masjid Huaisheng ini kemudian dijadikan Masjid Raya Guangzhou Remember the Sage, atau masjid untuk mengenang Nabi Muhammad s.a.w. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Guang ta, karena masjid dengan menara elok ini yang letaknya di jalan Guangta. Ta berarti menara, kerana menurut sejarahnya menara mesjid ini adalah yang tertinggi pada awal pembinaannya berbanding bangunan lain. Sebahagian percaya bahawa Saad bin Abi Waqqas menghabiskan sisa hidupnya dan meninggal di Guangzhou, China. Sebuah pusara diyakini sebagai makamnya.

Makamnya menjadi satu lagi tempat kunjungan pelawat dari seluruh pelusuk dunia. Sampai di Guangzhou adalah tidak rasmi bagi kita orang Islam kalau tidak menjejakkan kaki ke kubur Saad. Namun sebahagian lagi menyatakan bahawa Saad meninggal di Baqi’ berhampiran Madinah dan dimakamkan dikawasan makam para sahabat. Meskipun tidak diketahui secara pasti di mana Saad bin Abi Waqqas meninggal dan dimakamkan, namun yang pasti ia memiliki peranan penting terhadap perkembangan Islam di China. Kalaupun kubur yang ada di China itu bukan kubur Saad bin Abi Waqas tetapi pastinya kubur tersebut adalah kubur seorang berbangsa Arab yang memiliki jasa besar kepada perkembangan Islam di China.

grand_mosque_zps3ec6c6df.jpg
 
Mu'adz bin Jabal

Kelahiran dan kehidupan beliau: - Mu'adz bin Jabal r.a dilahirkan di Madinah. - Muadz r.a mempunyai ciri-ciri keistimewaan sebagai seorang yang sangat pintar, mempunyai penampilan sebagai seorang yang perkasa dan berhemah tinggi. Allah mengurniakan kepada beliau kepetahan bercakap, mempunyai rupa paras dan tutur kata yang indah. -

Mu'adz bin Jabal r.a memeluk Islam sejak beliau masih kecil melalui Mus'ab bin Umair yang diutuskan oleh Rasulullah s.a.w ke Madinah untuk mengajar penduduk Madinah. Sifat terpuji beliau: - Sebaik sahaja Nabi s.a.w berhijrah ke Madinah, Mu'adz sentiasa berada bersama dengan Rasulullah s.a.w sehingga beliau dapat memahami Al-Quran dan syariat-syariat Islam dengan baik menyebabkan beliau muncul sebagai seorang yang paling alim tentang Al-Quran dari kalangan para sahabat, orang yang paling baik membaca Al-Quran serta paling memahami syariat-syariat Allah. -

Oleh sebab itulah Rasulullah s.a.w memuji beliau dengan bersabda: Yang bermaksud: Umatku yang paling alim tentang halal dan haram ialah Muaz bin Jabal. Hadis riwayat Tirmizi dan Ibnu Majah. - Mu'adz r.a terdiri dari kalangan enam orang yang mengumpulkan Al-Quran pada zaman Rasulullah s.a.w. - Setelah Allah s.w.t membuka Kota Mekah kepada Rasulullah s.a.w, penduduk Mekah memerlukan kepada tenaga pengajar yang tetap tinggal bersama dengan mereka untuk mengajar syariat Allah s.w.t, lalu Rasulullah s.a.w meminta supaya Muaz tinggal bersama dengan penduduk Mekah untuk mengajar Al-Quran dan memberikan kefahaman kepada mereka mengenai agama Allah s.w.t.

Sifat terpuji beliau juga jelas terserlah ketika rombongan raja-raja Yaman datang berjumpa Rasulullah s.a.w mengisytiharkan keislaman mereka dan meminta daripada Rasulullah s.a.w supaya menghantar tenaga pengajar kepada mereka. Lalu baginda memilih Mu'adz r.a untuk memegang tugas tersebut bersama-sama dengan beberapa orang para sahabat malah beliau merupakan ketua kepada rombongan para sahabat tersebut.

Dikisahkan dari Said Bin Ziyad dari Khalid Bin Saad, bahwa Mu'adz Bin Jabal R.A telah berkata: "Rasulullah SAW telah mengutusku ke Negeri Yaman untuk memberikan pelajaran agama di sana. Maka tinggallah aku di sana. Pada satu malam aku bermimpi dikunjungi oleh seseorang, kemudian orang itu berkata kepadaku, apakah anda masih tidur juga wahai Mu'adz, padahal Rasulullah SAW telah berada di dalam tanah. Mu'adz terbangun dari tidur dengan rasa takut, lalu ia mengucapkan, "A'uzubillahi minasy syaitannir rajim?" Setelah itu ia lalu mengerjakan solat. Pada malam seterusnya, ia bermimpi seperti mimpi malam yang pertama. Mu'adz berkata, "Kalau seperti ini, bukanlah dari syaitan?"

Kemudian ia memekik sekuat-kuatnya, sehingga didengar sebahagian penduduk Yaman. Pada esok harinya orang ramai berkumpul, lalu Mu'adz berkata kepada mereka, "Malam tadi dan malam sebelumnya saya bermimpi yang sukar untuk difahami. Dahulu, bila Rasulullah SAW bermimpi yang sukar difahami, baginda membuka Mushaf (al-Quran). Maka berikanlah Mushaf kepadaku.

أSetelah Mu'adz menerima Mushaf, lalu dibukanya maka nampaklah firman Allah yang bermaksud: "Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula?" (Az-Zumar: 30). Maka menjeritlah Mu'adz, sehingga ia tak sadarkan diri. Setelah ia sedar kembali, ia membuka Mushaf lagi, dan ia nampak firman Allah yang berbunyi: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada orang-orang yang bersyukur?" (Ali-lmran: 144)

Maka Mu'adz pun menjerit lagi, "Aduhai Abal-Qassim. Aduhai Muhammad?" Kemudian ia keluar meninggalkan Negeri Yaman menuju ke Madinah. Ketika ia akan meninggalkan penduduk Yaman, ia berkata, "Seandainya apa yang kulihat ini benar. Maka akan meranalah para janda, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, dan kita akan menjadi seperti biri-biri yang tidak ada pengembala." Kemudian ia berkata lagi, "Aduhai sedihnya berpisah dengan Nabi Muhammad SAW?" Lalu dia pun pergi meninggalkan mereka, di saat ia berada pada jarak lebih kurang tiga hari perjalanan dari Kota Madinah, tiba-tiba terdengar olehnya suara halus dari tengah-tengah lembah, yang mengucapkan firman Allah S.W.T yang bermaksud, "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati."

Lalu Mu'adz mendekati sumber suara itu, setelah berjumpa, Mu'adz bertanya kepada orang tersebut: "Bagaimana khabar Rasulullah SAW?أ¢â‚¬? Orang tersebut menjawab, Wahai Mu'adz, sesungguhnya Muhammad SAW telah meninggal dunia.أ Mendengar ucapan itu Mu'adz terjatuh dan tak sedarkan diri. Lalu orang itu menyadarkannya, ia memanggil Mu'adz, Wahai Mu'adz sedarlah dan bangunlah." Ketika Mu'adz sedar kembali, orang tersebut lalu menyerahkan sepucuk surat untuknya yang berasal dari Abu Bakar Assiddiq, dengan cop dari Rasulullah S.A.W.

Tatkala Mu'adz melihatnya, ia lalu mencium cop tersebut dan diletakkan di matanya, kemudian ia menangis dengan tersedu-sedu. Setelah puas ia menangis iapun melanjutkan perjalanannya menuju Kota Madinah. Mu'adz sampai di Kota Madinah pada waktu fajar menyingsing. Didengarnya Bilal sedang mengumandangkan azan Subuh. Bilal mengucapkan, "Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah?" Mu'adz menyambung, "Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasulullah?" Kemudian ia menangis dan akhirnya ia jatuh dan tak sedarkan diri lagi. Pada saat itu, di samping Bilal Bin Rabah ada Salman Al-Farisy R.A lalu ia berkata kepada Bilal: "Wahai Bilal sebutkanlah nama Muhammad dengan suara yang kuat dekatnya, dia adalah Mu'adz yang sedang pengsan.

Ketika Bilal selesai azan, ia mendekati Mu'adz, lalu ia berkata, "Assalamualaika, angkatlah kepalamu wahai Mu'adz, aku telah mendengar dari Rasulullah S.A.W, baginda bersabda, "Sampaikanlah salamku kepada Mu'adz." Maka Mu'adz pun mengangkatkan kepalanya sambil menjerit dengan suara keras, sehingga orang-orang menyangka bahwa ia telah menghembus nafas yang terakhir, kemudian ia berkata, "Demi ayah dan ibuku, siapakah yang mengingatkan aku pada baginda, ketika baginda akan meninggalkan dunia yang fana ini, wahai Bilal? Marilah kita pergi ke rumah isteri baginda Siti Aisyah R.A."

Ketika sampai di depan pintu rumah Siti Aisyah, Mu'adz mengucapkan, "Assalamualaikum ya ahlil bait, wa rahmatullahi wa barakatuh?" Yang keluar ketika itu adalah Raihanah, dia berkata, "Aisyah sedang pergi ke rumah Siti Fatimah.أKemudian Mu'adz menuju ke rumah Siti Fatimah dan mengucapkan, "Assalamualaikum ya ahli bait." Siti Fatimah menyambut salam tersebut, kemudian ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda: Orang yang paling alim di antara kamu tentang perkara halal dan haram adalah Mu'adz Bin Jabal, ia adalah kekasih Rasulullah S.A.W." Kemudian Fatimah berkata lagi: "Masuklah wahai Mu'adz?" Fatimah R.A lalu berkata kepadanya: "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sampaikanlah salam saya kepada Mu'adz dan khabarkan kepadanya bahwa ia kelak di hari kiamat sebagai imam ulama." Kemudian Mu'adz bin Jabal keluar dari rumah Fatimah R.A menuju ke arah kubur Rasulullah S.A.W.

kazan-kul-sharif-mosque_zpsec643c19.jpg
 
Abu Ayyub Al-Ansari

Nama sebenar beliau ialah Khalid bin Zaid bin Kulaib dari Banu Najjar. Beliau merupakan salah seorang sahabat yang utama dan paling rapat kepada Nabi SAW. Ketika Rasulullah SAW sampai di Madinah di dalam peristiwa hijrah, baginda disambut dengan gembira oleh orang-orang Ansar di Madinah.

Hati mereka berada bersama-sama baginda dan mata mereka sentiasa mengikuti pererakan baginda dengan rasa penuh cinta dan kebaktian. Mereka ingin memberi baginda sambutan yang amat baik sekali pernah diberikan oleh seseorang. Pada mulanya, Rasulullah SAW berhenti di Quba yang terletak dekat pinggir kota Madinah dan tinggal di sana selama beberapa hari. Perkara pertama yang dilakukannya ialah membina sebuah masjid sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an: “Masjid yang didirikan atas dasar taqwa.” (At-Taubah: 108)

Nabi SAW memasuki kota Madinah dengan menunggang untanya. Para pemimpin Madinah berdiri di sepanjang jalan, setiap orang berharap untuk mendapatkan penghormatan dari Nabi SAW agar baginda ingin singgah dan bermalam di rumahnya. Seorang demi seorang berdiri di jalan yang dilalui oleh unta baginda. Mereka semua berkata: “Tinggallah bersama kami, hai Rasulullah.” Rasulullah SAW akan menjawab: “Biarkanlah unta ini berjalan semahunya.” Unta itu terus berjalan, diikuti dengan rapat para penduduk Madinah.

Setiap kali ia melewati sebuah rumah, tuan rumah tersebut merasa sedih dan kecewa manakala orang-orang yang rumahnya menunggu giliran untuk dilalui oleh unta itu sentiasa mengharap-harap agar ia berhenti di depan pintu mereka. Unta itu meneruskan perjalanannya dengan diikuti oleh orang ramai sehingga ia berhenti di atas sebidang tanah di depan rumah Abu Ayyub Al-Ansari. Namun, Rasulullah SAW tidak turun dari untanya itu. Selepas beberapa ketika, unta itu berjalan semula, Rasulullah SAW membiarkan tali kekangnya terlepas.

Walau bagaimana pun, tidak lama kemudian ia berpusing semula dan berhenti di atas tanah tadi. Hati Abu Ayyub dipenuhi dengan kegembiraan. Beliau keluar mendapatkan Nabi SAW dan menyambutnya dengan ghairah sekali. Beliau mengangkat barang-barang Nabi sambil merasakan bahawa beliau sedang membawa harta yang paling berharga sekali di dunia ini. Rumah Abu Ayyub memiliki dua tingkat. Beliau telah mengosongkan tingkat atas dan semua milik keluarganya supaya Nabi SAW boleh tinggal di situ.

Namun Nabi SAW lebih suka tinggal di tingkat bawah. Malam pun sampai dan Nabi SAW berehat. Tetapi apabila mereka telah menutup pintu, Abu Ayyub menoleh ke arah isterinya lalu berkata: “Celakalah kita! Apa yang telah kita lakukan? Rasulullah SAW berada di bawah dan kita ada di atasnya! Adakah kita berjalan di atas Rasulullah SAW! Adakah kita menghalang wahyu?! Jika benar, maka binasalah kita!” Pasangan suami isteri itu menjadi bertambah bimbang tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Mereka hanya dapat sedikit akal bila mereka bergerak ke tepi rumah supaya tidak betul-betul berada di atas Nabi. Mereka juga berhati-hati supaya berjalan di tepi-tepi sudut lantai dan tidak di tengah-tengahnya. Pada keesokan paginya, Abu Ayyub menemui Rasulullah SAW lalu berkata: “Demi Allah, kami tidak dapat melelapkan mata sedikit pun malam tadi, begitu juga dengan Ummu Ayyub.” “Mengapa hai Abu Ayyub?” Tanya Rasulullah, hairan.

Abu Ayyub pun menerangkan kebimbangan mereka kerana berada di atas manakala baginda pula berada di bawah, dan mungkin mereka juga boleh menghalang wahyu. “Janganlah bimbang, hai Abu Ayyub,” kata Nabi SAW, “Kami lebih suka tinggal di tingkat bawah kerana ramai orang yang akan menziarahi kita.” “Kami akur dengan kehendak Rasul,” jawab Abu Ayyub. Abu Ayub ada menceritakan satu kisah:- “Pada suatu malam yang sejuk, sebuah kendi kami telah pecah dan air mengalir di atas lantai atas.

Ummu Ayyub dan aku memandang air tersebut. Kami hanya memiliki sehelai kain baldu yang kami gunakan sebagai selimut. Kami pun menggunakannya untuk mengelap air itu kerana bimbang ia menyerap ke bawah dan terkena pada Nabi SAW. Pada waktu pagi, aku mendapatkan baginda lalu berkata: `Aku tidak senang berada di atasmu.’ Dan memberitahunya apa yang telah terjadi. Baginda menerima keinginanku dan kami pun berpindah tempat.” Rasulullah SAW tinggal di rumah Abu Ayyub selama hampir tujuh bulan sehingga masjid yang dibinanya telah siap di atas tanah tempat unta baginda berhenti.

Baginda berpindah ke bilik yang dibina di sekeliling masjid tersebut untuk diri dan keluarganya. Dengan demikian, baginda menjadi jiran Abu Ayyub. Alangkah beruntungnya kerana mendapat jiran semulia itu! Abu Ayyub sangat mencintai Nabi SAW dengan seluruh hati dan nabi SAW juga amat mencintainya. Tidak ada peraturan rasmi di antara mereka. Nabi SAW terus menganggap rumah Abu Ayyub seperti rumahnya sendiri. Pada suatu hari, Abu Bakar keluar dari rumahnya di waktu tengahari yang terik lalu pergi ke masjid. Umar terlihatnya lalu bertanya: “Hai Abu Bakar, apa yang membuat engkau keluar pada waktu begini?” Abu Bakar mengatakan bahawa dia terlalu lapar, lalu Umar pun turut mengakui dirinya juga kelaparan.

Rasulullah SAW terserempak dengan mereka lalu bertanya: “Apa yang membuat kamu berdua keluar dari rumah pada waktu begini?” Mereka memberitahu baginda lalu baginda berkata: “Demi Tuhan yang jiwaku di tanganNya, hanya laparlah yang membuat aku keluar juga. Marilah bersamaku.” Mereka pun pergi ke rumah Abu Ayyub Al-Ansari. Kebetulan, Abu Ayyub sedang bekerja di kebun kurma berdekatan. Beliau mendengar suara Nabi SAW lalu segera datang. “Selamat datang kepada Rasul dan siapa saja yang bersamanya,” katanya lalu meneruskan, “hai Rasulullah, biasanya engkau tidak datang pada waktu begini.”

Abu Ayyub selalu menyimpan sedikit makanan untuk Nabi setiap hari. Jika Nabi tidak datang, maka Abu Ayyub memberikan makanan tersebut kepada keluarganya. Abu Ayyub keluar dan memotong setandan kurma yang di dalamnya ada kurma masak dan ada kurma yang setengah masak. “Aku tidak mahu engkau memotong yang ini,” kata Nabi, “Mengapa engkau tidak bawakan kurma yang masak saja?” Abu Ayyub berkata: “wahai Rasulullah, silakanlah makan kurma yang telah masak dan yang setengah masak ini. Aku akan menyembelih seekor kambing untukmu.” “Kalau begitu, jangan sembelih kambing yang ada susu,” pesan baginda. Abu Ayyub menyembelih seekor anak kambing, memasaknya separuh dan memanggang yang separuh lagi.

Beliau juga meminta isterinya supaya membuat roti kerana isterinya pandai dalam hal itu. Bila makanan telah siap, ia dihidangkan di depan Nabi SAW dan kedua-dua orang sahabatnya itu. Nabi mengambil sekeping daging, meletakkannya ke atas roti lalu berkata: “Wahai Abu Ayyub, bawakanlah ini kepada Fatimah, dia tidak makan seperti ini selama beberapa hari.” Apabila mereka selesai makan dan merasa puas, Nabi SAW berkata: “Roti dengan daging, busr dengan rutb!” Kemudian air mata mengalir dari kelopak matanya.

Baginda berkata lagi: “Ini adalah nikmat yang akan ditanyakan kepada kamu pada hari kiamat kelak. Maka jika kamu makan nikmat itu, ucapkanlah bismillah dan bila selesai katakanlah Alhamdulillahillazi huwa ashba’na wa an’ama a laina (Segala puji bagi Allah yang telah mencukupkan kami dan menganugerahkan nikmat ke atas kami). Ini adalah baik.” Itulah imbasan terhadap kehidupan Abu Ayyub sehari-harian. Beliau juga mempunyai karier ketenteraan yang tersendiri. Banyak dari masanya dihabiskan sebagai seorang pahlawan sehingga dikatakan mengenainya: “Beliau tidak terlepas dari semua pertempuran yang disertai oleh kaum Muslimin sejak dari zaman Nabi SAW sehinggalah zaman Muawiyah melainkan beliau terlibat semuanya.”

Misi ketenteraan terakhir yang disertainya ialah yang disediakan oleh Muawiyah dan dipimpin oleh anaknya, Yazid untuk menentang Konstantinopel. Pada waktu itu, Abu Ayyub sudah sangat tua, hampir berusia lapan puluh tahun. Tubuhnya kurus kering kerana diserang sakit malaria. Tetapi hal itu tidak menghalangnya daripada menyertai pasukan tentera dan menyeberangi lautan untuk berjihad di jalan Allah. Tidak lama selepas terlibat dalam peperangan itu, Abu Ayyub jatuh sakit dan terpaksa berundur dari berjihad.

Namun begitu, beliau tetap berada di atas kudanya dalam keadaan seperti melekat. Yazid datang mendapatkannya lalu bertanya: “Wahai Ayahanda Abu Ayyub, adakah ayahanda memerlukan sesuatu?” “Hai Yazid, sampaikanlah salamku kepada tentera Muslimin dan katakan kepada mereka bahawa Abu Ayyub menyuruh kamu supaya menyerbu masuk ke dalam kawasan musuh sejauh yang boleh, bawalah dia dan kebumikan dia di bawah dinding kota Konstantinopel, kerana aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda bahawa seorang lelaki yang soleh akan syahid dan dikebumikan di bawah dinding tersebut.”

Kemudian beliau menghembuskan nafas yang terakhir. Tentera Muslimin melaksanakan keinginan sahabat Nabi yang agung itu. Mereka berjaya mengundurkan tentera musuh dalam serangan demi serangan sehingga mereka sampai ke dinding kota Konstantinopel. Di sana, mereka mengebumikan jasad beliau. Kaum Muslimin mengepung kota tersebut selama empat tahun tetapi akhirnya berundur. Rupanya, janji Nabi mengenai kemenangan ke atas kota Konstantinople ini benar. Ia disempurnakan oleh Sultan Muhamad al-Fateh.

1_Sheikh_Zayed_Grand_Mosque1_zps00f8064b.jpg
 
Ubay bin Ka'ab

Ubay bin Ka'ab merupakan salah seorang perintis dari penulis-penulis wahyu dan penulis-penulis surat. Begitu juga dalam menghafal Alquran, membaca dan memahami ayat-ayatnya, ia termasuk golongan terkemuka...

Pada suatu hari Rasulullah saw. menanyainya, "Hai Abul Mundzir, ayat manakah dari kitabullah yang teragung?" Orang itu menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Nabi saw. mengulangi pertanyaannya, "Abul Mundzir, ayat manakah dari kitabullah yang teragung?" Maka ia menjawab, "Allah, tiada tuhan melainkan Ia, Yang Maha Hidup lagi Maha Pengatur." (Al-Baqarah: 255).

Rasulullah saw. pun menepuk dadanya. Dan, dengan rasa bangga yang tercermin pada wajahnya, ia berkata, "Hai Abul Mundzir, selamat bagimu atas ilmu yang kamu capai." Abul Mundzir yang mendapat ucapan selamat dari Rasulullah saw. yang mulia atas ilmu dan pengertian yang dikaruniakan Allah kepadanya itu tiada lain adalah Ubay bin Ka'ab, seorang sahabat yang mulia. Ia seorang warga Anshar dari suku Khajraj, ikut mengambil bagian dalam perjanjian Aqabah, Perang Badar, dan peperangan-peperangan lainnya. Ia mencapai kedudukan yang tinggi dan derajat mulia di kalangan kaum muslimin angkatan pertama, hingga amirul mukminin Umar pernah mengatakan tentangnya, "Ubay adalah pemimpin kaum muslimin ...."

Ubay bin Ka'ab merupakan salah seorang perintis dari penulis-penulis wahyu dan penulis-penulis surat. Begitu juga dalam menghafal Alquran, membaca dan memahami ayat-ayatnya, ia termasuk golongan terkemuka. Pada suatu hari Rasulullah saw. mengatakan kepadanya, "Hai Ubay bin Ka'ab, saya dititahkan untuk menyampaikan Alquran kepadamu." Ubay maklum bahwa Rasulullah saw. hanya menerima perintah-perintah itu dari wahyu, maka dengan harap-harap cemas ia menanyakan kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah saw., ibu dan bapakku menjadi tebusan Anda, apakah kepada Anda disebut namaku?" Ujar Rasulullah saw., "Benar, namamu dan turunanmu di tingkat tertinggi."

Seorang muslim yang mempunyai kedudukan seperti ini di hati Nabi saw. pastilah seorang muslim yang sangat agung. Selama bertahun-tahun persahabatan, yaitu ketika Ubay bin Ka'ab selalu berdekatan dengan Nabi saw., ia tidak putus-putusnya mereguk air yang manis dari telaga yang dalam itu. Setelah berpulangnya Rasulullah saw., Ubay bin Ka'ab menepati janjinya dengan tekun dan setia, baik dalam beribadah, dalam keteguhan beragama, maupun keluhuran budi. Disamping itu, tiada henti-hentinya ia menjadi pengawas bagi kaumnya. Diingatkannya mereka akan masa-masa Rasulullah saw. masih hidup, diperingatkan keteguhan iman mereka, sifat zuhud, perangai, dan budi pekerti mereka.

Di antara ucapan-ucapannya yang mengagumkan yang selalu didengungkan kepada sahabat-sahabatnya adalah, "Selagi kita bersama Rasulullah saw., tujuan kita satu. Tetapi setelah ditinggalkan beliau, tujuan kita bermacam-macam. Ada yang ke kiri, ada yang ke kanan." Ia selalu berpegang pada takwa dan menetapi zuhud terhadap dunia, hingga tidak dapat terpengaruh dan terpedaya.

Karena, ia selalu menilik sesuatu pada akhir kesudahannya. Sebagaimana juga corak hidup manusia, betapa pun ia berenang dalam lautan kesenangan, dan kancah kemewahan, tetapi pasti ia akan menemui maut yang segalanya akan berubah menjadi debu, sedang di hadapannya tiada terlihat, kecuali hasil perbuatannya yang baik atau yang buruk. Mengenai dunia, Ubay pernah melukiskannya sebagai berikut, "Sesungguhnya makanan manusia itu sendiri, dapat diambil sebagai perumpamaan bagi dunia, biar dikatakannya enak atau tidak, tetapi yang penting apa nantinya ...."

Bila Ubay berbicara di depan khalayak ramai, semua leher akan terulur dan semua telinga akan terpasang, disebabkan apabila ia berbicara mengenai agama Allah, tiada seorang pun yang ditakutinya dan tiada udang di balik batu. Tatkala wilayah Islam telah meluas, dan dilihatnya sebagian kaum muslimin menyeleweng dengan menjilat pada penguasa-penguasa mereka, ia tampil dan melepas kata-katanya yang tajam, "Celaka mereka, demi Tuhan, mereka celaka dan mencelakakan.

Tetapi, saya tidak menyesal melihat nasib mereka, hanya saya sayangkan adalah kaum muslimin yang celaka disebabkan mereka." Karena kesalehan dan ketakwaannya, Ubay selalu menangis setiap teringat Allah dan hari akhir. Ayat-ayat Alquran, baik yang ia baca atau yang didengarnya, semua menggetarkan hati dan persendiannya. Tetapi, suatu ayat di antara ayat-ayat yang mulia itu, jika dibaca atau terdengar olehnya, akan menyebabkan diliputi oleh rasa duka yang tidak dapat dilukiskan. Ayat itu ialah, "Katakanlah, Ia Kuasa akan mengirim siksa kepada kalian, baik dari atas atau dari bawah kaki kalian, atau membaurkan kalian dalam satu golongan berpecah-pecah, dan ditimpakan-Nya kepada kalian perbuatan kawannya sendiri ...." (Al-an'am: 65).

Yang paling dicemaskan Ubay adalah datangnya suatu generasi umat bercakar-cakaran sesama mereka. Ia selalu memohon keselamatan kepada Allah, berkat, karunia, serta rahmat-Nya. Hal itu diperolehnya, dan ditemuinya Tuhannya dalam keadaan beriman, aman tenteram, dan beroleh pahala.


Muhammad_Ali_Mosque_Citadel_Cairo_Egypt5_zpsd1f4f3c9.jpg
 
an-Nu’man bin Muqarrin al-Muzani

An-Nu’man bin Muqarrin Al-Muzani



Sesungguhnya bagi iman ada rumahnya, bagi nifaq ada rumahnya. Sesungguhnya rumah Bani Muqarrin adalah daripada rumah iman [‘Abdullah bin Mas’ud]

Memimpin Kabilahnya Untuk Memeluk Islam

An-Nu’man bin Muqarrin al-Muzzani al-Anshori adalah ketua kepada kabilah al-Muzzani yang memeluk Islam bersama kaumnya seawal ketibaan Nabi saw. di Madinah. Kedatangan Nabi saw. memang merupakan berita yang ditunggu-tunggu oleh semua penduduk Yathrib dan di antaranya adalah An-Nu’man sendiri.

Pada suatu malam, dia berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, Demi Allah ! kita tidak mengetahui mengenai Muhamad melainkan yang baik belaka. Kita juga tidak dengar mengenai seruannya melainkan seruan rahmat, kebaikan dan keadilan. Kenapalah kita masih berlengah-lengah, sedangkan orang lain bersegera menemuinya?!” kata an-Nu’man.

Beliau seterusnya berkata;

“Saya telah berazam untuk pergi menemuinya pada pagi esok. Sesiapa yang ingin bersama saya, hendaklah dia membuat persiapan.”

Kata-kata an-Nu’man menyentuh hati kaumnya lantas keesokan hari menjelang pagi, 10 saudaranya beserta 400 pahlawan Muzainah siap untuk menuju Yathrib bagi menyatakan keIslaman mereka. an-Nu’man tersangat gembira, cuma dia merasa bersalah untuk berangkat tanpa sebarang hadiah kepada Nabi saw. dan kaum Muslimin. Ternakan dan tanaman mereka musnah akibat kemarau menyebabkan an-Nu’man terpaksa berlegar-legar sehingga ke rumah adik-beradiknya untuk mendapatkan hadiah yang sesuai. Akhirnya, beliau berjaya mengumpulkan beberapa ekor kambing untuk dipersembahkan kepada baginda Nabi saw..

Madinah gempar !

11 bersaudara beserta 400 pahlawan memeluk Islam serentak dari bani Muzainah. Peristiwa yang penuh gemilang ini diabadikan Allah swt. di dalam surah at-Taubah, ayat 99;

وَمِنَ الأعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ أَلا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَهُمْ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan sebahagian dari orang-orang A’raab itu ada yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan memandang apa yang mereka dermakan (pada jalan Allah itu) sebagai amal-amal bakti (yang mendampingkan) di sisi Allah dan sebagai (satu jalan untuk mendapat) doa dari Rasulullah (yang membawa rahmat kepada mereka) ketahuilah, Sesungguhnya apa Yang mereka dermakan itu adalah menjadi amal bakti bagi mereka (yang mendampingkan mereka kepada Allah); Allah akan masukkan mereka ke Dalam rahmatNya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”

an-Nu’man yang setia

Diceritakan bahwa an-Nu’man merupakan seorang sahabat Nabi saw. yang setia. Beliau menyertai semua peperangan bersama Nabi saw.. Meskipun Nabi saw. telah wafat, an-Nu’man tetap berdiri utuh bersama bani Muzainah di belakang Abu Bakr ra. untuk sama-sama memerangi golongan murtad.

an-Nu’man dan Kisra 1 Yazdaruj

Sewaktu era pemerintahan Umar al-Khattab ra., an-Nu’man memainkan peranan penting dalam pembukaan Parsi. Ia bermula apabila Saidina Umar menugaskan an-Nu’man untuk mengetuai rombongan untuk berdakwah kepada sang Kisra, Yazdaruj.

Berkata an-Nu’man kepada Yazdaruj;

“Allah swt. telah merahmati kami dengan mengutuskan kepada kami seorang Rasul. Baginda telah menunjuk danmemerintahkan kami melakukan kebaikan. Baginda juga mengajar kami mengenali kejahatan dan melarangnya.

Baginda juga telah berjanji kepada kami, jika kami menerima seruannya, Allah swt. akan memberikan kebaikan di dunia dan di akhirat kepada kami.

Dalam masa sekejao sahaja, Allah swt. telah menukarkan kesempitan kami menjadi luas, kehinaan menjadi mulia, permusuhan menjadi persaudaraan dan kasih sayang.

Baginda memerintahkan kami supaya mengajak manusia kepada agama yang membawa kebaikan kepada mereka. Dan agar kami memulakannya dengan mereka yang berdekatan.

Oleh itu, kami mengajak kamu masuk ke dalam agam kami. Ia sebuah agama yang menghukum baik kesemua perkara baik dan menggalakkannya. Ia juga menghukum buruk kesemua perkara buruk dan menegahnya..

Agama ini mengeluarkan penganutnya dari kegelapan dan kezaliman kufur kepada cahaya dan keadilan iman.

Jika kamu menerima seruan kami kepada Islam, kami akan tinggalkan kitab Allah kepada kamu. Kemuaidna kami tugaskan kamu melaksanakannya dengan kamu berhukum dengan hukum-hakamnya. Setelah itu, kami pulang meninggalkan kamu dengan urusan kamu.

Jika kamu enggan memeluk Islam, kami akan mengambil jizyah daripada kamu dan melindungi kamu. Jika kamu enggan membayar jizyah, maka kami akan memerangi kamu”

Mendengar kata-kata an-Nu’man, latas Yazdaruj terus menengking-nengking marah yang menyala-nyala. Lantas beliau membalas di akhirnya untuk menghantar Rustum, panglimanya untuk menguburkan kaum Muslimin di parit al-Qaddisiyah.

Panglima Islam di Nahawand, menentang Parsi

Peperangan Qaddisiyah benar-benar tercetus, yang akhirnya dimenangi kaum Muslimin. Yazdaruj yang angkuh mengatakan parit al-Qaddisisyah akan dipenuhi kaum Muslimin ternyata salah, Allah swt. memihak kepada kaum yang beriman, dan membenam tentera Kisra di parit mereka sendiri.

Negara Parsi berang akan berita Qaddisiyah, lantas mereka mempersiapkan 150 ribu tentera untuk berhadapan dengan kaum Musimin di Nahawand. Umar al-Khattab akhirnya melantik an-Nu’man sebagai panglima. Berkata Umar tentang an-Nu’man;

Demi Allah ! Saya akan lantik untuk menerajui tentera Islam, seorang lelaki yang lebih tangkas daripada mata tombak apabila dua pasukan tentera bertembung. Beliau ialah an-Nu’man bin Muqarrin al-Muzani.

Pasukan an-Nu’man lantas menuju untuk menghadapi musuh. Apabila menghampiri Nahawand, kuda-kuda mereka berhenti tanpa disuruh. Setelah diperiksa, rupa-rupanya tentera Parsi telah menanam duri-duri besi sepanjang perjalanan ke Nahawand. Tetapi itu lansung tidak mematahkan gelora jihad kaum Muslimin. Mereka terus membersihkan duri-duri besi dan dan terus mara memerangi kaum Musyrik, Parsi.

Berkata an-Nu’man;

“Saya akan bertakbir sebanyak tiga kali. Apabila saya bertakbir kali pertama, sesiapa yang belum bersedia hendaklah bersedia. Apabila saya bertakbir kali kedua, setiap kamu hendaklah memgang senjata masing-masing. Kemudian apabila saya bertakbir kali ketiga, saya akan menyerang musuh Allah. Maka kamu semua menyeranglah bersama-sama saya”

Akhirnya, benteng Parsi robek musnah. Kemenangan berpihak kepada kaum Muslimin, yang ditandai dengan nama “Fathu al-Futuh” iaitu ketua segala pembukaan. Dan an-Nu’man menerima kemenangan yang lebih besar, beliau syahid tatkala mara mengalahkan musuh-musuh Allah.

Semoga Allah merahmati an-Nu’man bin Muqarrin al-Muzani

Great-mosque-in-Casablanca-Marocco_zps3d312a03.jpg
 
Abdullah bin Jahsy

Abdullah bin Jahsy



Abdullah bin Jahsy r.a adalah anak kepada ibu saudara Rasulullah SAW, Umamah binti Abdul Mutallib dan juga ipar kepada Rasulullah SAW kerana Rasulullah SAW mengahwini saudara perempuannya Zainab binti Jahsy r.a.





Abdullah bin Jahsy r.a termasuk dikalangan 40 orang pertama yang memeluk Islam (al-Sabiqun al-Awwalun).

Penghijrahan Abdullah bin Jahsy ke Madinah

Ketika Rasulullah SAW mengizinkan para sahabat untuk berhijrah ke Madinah, Abdullah bin Jahsy adalah orang kedua berhijrah selepas Abu Salamah r.a. Penghijrahan ini bukanlah sesuatu yang baru bagi beliau kerana beliau telah terlibat dalam hijrah ke Habsyah sebelum ini, cuma penghijrahan kali ini disertai isteri dan anak.

Berikutan daripada hijrah beliau ke Madinah, harta-harta peninggalan dan kekayaan Abdullah bin Jahsy telah di rampas oleh Abu Jahal. Peristiwa ini berlaku apabile para pembesar Quraisy yang mengadakan rondaan bagi memeriksa sudut-sudut kota Mekah mendatangi perkampunang Bani Jahsy, iaitu setelah Abdullah bin Jahsy meninggalkan kota Mekah. Pemimpin meraka, Abu Jahal yang mendapati rumah Abdullah bin Jahsy tidak berpenghuni dan dipenuhi harta kekayaan, telah mengambil seluruh harta itu. Perkara ini kemudiannya sampai ke pengatahuan Abdullah bin Jahsy dan beliau mengadu kepada Rasulullah SAW.

Rasulullah telah menjawab: “Allah akan menggantikannya dengan rumah yang paling baik di Syurga”



Abdullah bin Jahsy sebagai Amirul Mukminin

Untuk membentuk pasukan tentera Islam, Rasulullah SAW telah memilih 8 orang yang dipandangnya mampu berperang termasuk Abdullah bin Jahsy dan Sa’ad bin Abi Waqqash r.a. Dalam pasukan ini, Abdullah bin Jahsy telah terpilih sebagai ketua dan telah diserahkan bendera Islam pertama kepadanya. Bendera ini telah diikat pada tongkat Rasullulah SAW. Abdullah bin Jahsy telah digelar Amirul Mukminin kerana peristiwa ini.

Setelah dilantik sebagai amir, beliau telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk merisik dan mengintip musuh. Rasulullah telah memberi Surat Perintah kepada beliau dan melarang beliau membuka surat itu melainkan sesudah dua hari perjalanan. Oleh itu sesudah dua hari perjalanan, beliau telah membuka surat itu dan membacanya:

“ Bila kamu membaca surat ini, teruskanlah perjalananmu ke arah Mekah. Berhentilah diantara Taif dan Mekah. Amatilah gerak-geri kaun Quraisy dan segera laporkan kepadaku.”

Sesuai dengan arahan Rasulullah SAW, Abdullah bin Jahsy r.a meneruskan perjalanannya dan tiba di Nakhlah. Di tempat tersebut mereka mempersiapkan pos perisikan dan ketika mereka bersiap-siap, tiba-tiba dari jarak yang agak jauh mereka terlihat sekumpulan kabilah Quraisy terdiri daripada Amr bin Hadhramy, Hakam bin Kaysan, Utsman bin Abdullah dan al-Mughirah bin Abdullah. Mereka membawa dagangan seperti kulit, anggur dan sebagainya. Abdullah bin Jahsy telah bermesyuarat dengan pasukannya untuk menyerang atau membiarkan kabilah Quraisy itu. Di saat akhir bulan Haram, jika mereka melakukan penyerangan, bererti melanggar kehormatan bulan itu serta akan mendatangkan kemarahan bangsa Arab. Akan tetapi jika kabilah itu dibiarkan lalu, mereka akan masuk ke tanah Haram (Mekah) iaitu bererti membiarkan mereka masuk ke tempat aman.

Akhirnya mereka memutuskan menyerang dah merampas harta kabilah itu. Seorang anggota rombongan tewas, dua ditawan dan seorang lagi berjaya melarikan diri. Tibanya di Madinah, harta rampasan dan tawanan dibawa dihadapan Rasulullah SAW. Abdullah bin Jahsy dan pasukan telah dimarahi kerana bertindak diluar arahan dan perintah Rasulullah SAW.

Baginda telah menangguhkan keputusan mengenai hukuman harta rampasan dan dua tawanan perang sementara menunggu keputusan dari Allah. Abdullah bin Jahsy dan pasukan telah digantung kerja. Mereka jelas bersalah kerana melanggar perintah Rasulullah SAW. Kaum muslimin mencela mereka sehingga mereka terase dipulaukan. Penyesalan dan kesedihan menjadi lebih teruk apabila mereka mengetahui kaum Quraisy menggunakan peluang ini untuk menekan Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Mereka menyebarkan berita dikalangan kabilah-kabilah Arab, bahawa kaum Muslimin telah menghalalkan pertumpahan darah dan perampasan harta dibulan Haram.

Abdullah bin Jahsy menganggung beban mental yang sangat hebat. Walaubagaimanapun, beliau tetap terus beristigfar dan memohan ampun kepada Allah SWT sehingga turunnya Al-Baqarah ayat 217 membawa berita gembira. Turunnya ayat ini telah menenangkan hati Rasulullah SAW. Harta rampasan diberike Baitul Man dan kedua tawanan dibebaskan. Harta rampasan ini adalah harta rampasan pertama umat Islam dan musuh yang dibunuh adalah musyrik pertama yang tertumpah darahnya di tangan kaum Muslimin. Bendara pasukan mereka juga, bendara pertama yang diikat oleh Rasulullah.



Syahidnya Abdullah bin Jahsy

Abdullah bin Jahsy adalah antara sahabat yang syahid dalam perang Uhud. Di dalam perang ini Abdullah bin Jahsy dan Saad bin Waqqash r.a telah berdoa di sebuah tempat yang agak terpencil.

Doa Saad bin Waqqash r.a:

“Ya Allah, pertemukanlah aku dengan musuh yang paling buas dan jahat. Aku akan melawannya dan berilah aku kemenangan”

Abdullah bin Jahsy mengaminkan doa seraya menambah:

“Ya Allah, pertemukanlah aku dengan musuh yang jahat dan buas. Aku akan melawannya dan aku tewas ditangannya. Dia kemudian memotong hidung dan telingaku”

Ketika perang Uhud berakhir, ternyata Allah memakbulkan doanya. Para sahabat menemukan jasadnya tewas sepertimana doanya. Hidung dan telinganya buntung dan tubuhnya digantung dengan seutas tali. Allah SWT memuliakan nya dengan pahala syahid bersama Hamzah bin Abdul Muttalib r.a. Keduanya tewas dan dimakamkan didalam satu kubur. Air mata Rasulullah telah membasahi kubur mereka menambah harumnya darah syahid yang melumuri jasab mereka. Semoga mereka dirahmati. Amin.

Birmingham_Central_Mosque_zps6f91d8f9.jpg
 
Back
Top
Log in Register