BTC USD 83,414.4 Gold USD 4,265.94
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

Mush’ab bin Umair

Orang-orang yang paling awal masuk Islam itu adalah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari diri mereka sendiri. Limpahan rahmat Allah semoga dicurahkan kepada mereka, salah satunya Mush’ab bin Umair.

Masih ingatkah kisah seorang syuhada yang gugur di medan perang dan tak sehelai kain yang cukup untuk menutupi tubuhnya? Dialah Mush’ab bin Umair. Seorang pahlawan yang berjuang membawa bendera pasukan Islam di perang Uhud.

Siapakah awalnya Mush’ab bin Umair? Ia merupakan pemuda gagah, anak Umair orang kaya Mekah, yang pakaiannya selalu bagus, rapih dan apik, dibesarkan di lingkungan serba berkecukupan dalam keluarga Quraisy. Ibunya Khunas binti Malik, berkepribadian kuat dan tak bisa ditawar, namun kemudian merupakan seorang yang menjadi kendala terbesarnya saat pertama kali memeluk Islam.

Mush’ab biasa mengendap-ngendap untuk belajar Islam di rumah Arqam bin Abil Arqam di bukit Shafa. Namun, rahasianya untuk memeluk Islam lama-kelamaan terkuak karena diketahui secara kebetulan oleh Usman bin Thalhah. Usman melihatnya memasuki rumah Arqam. Pada kali lain juga mendapatinya sedang sholat seperti Rasulullah SAW. Mengetahui itu, Mush’ab dikurung dirumahnya sendiri oleh sang ibu.

Sampai akhirnya ada berita mengenai hijrahnya kaum muslimin ke Habsyi, ia mencari jalan untuk meloloskan diri dan berhasil. Ia sempat pergi ke Habsyi lalu pulang menemui ibunya. Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya kembali. Mush’ab pun bersumpah dan menyatakan tekad untuk membunuh orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Mengetahui kebulatan tekad putranya, sang ibu akhirnya mengucapkan selamat berpisah dengan berat hati dan tak mengakuinya sebagai putranya lagi karena ia tak bersedia mengikuti Islam.

Berpisahlah Mush’ab dari keluarga dan segala kemewahannya. Pemuda yang biasa berpakaian bagus itu memilih menjadi seorang muslim sederhana dengan pakaian seadanya. Sampai suatu hari ia diutus Rasulullah SAW menjadi duta untuk kalangan Anshar.

Rasulullah SAW menggambarkan Mush’ab, “Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan RasulNya.”

Duta di Madinah

Sesampai di Madinah, Mush’ab mendapati kaum muslimin kala itu tak lebih dari 12 orang, yakni mereka yang berbai’at di bukit Aqabah. Pilihan Rasulullah SAW atas diri Mush’ab sebagai duta di sana cukuplah tepat. Ia menyampaikan ajaran Islam secara bijak saat tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zararah.

Suatu kali saat sedang menyampaikan ajaran, ia disergap oleh Usaid bin Hudlair, kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dan menyentakkan lembingnya. Ia marah karena Mush’ab dianggap akan menyelewengkan anak buah dan agamanya. Masalahnya bagi Usaid, Tuhan itu dianggap sesuatu yang mudah ditemui. Tidak seperti tuhannya Muhammad SAW yang tak seorang pun dapat melihatNya.

Sambil berdiri Usaid berteriak, “Apa maksud kalian datang ke kampung kami? Apakah hendak mem*****i rakyat kecil kami? Tinggalkan tempat ini segera, jika tak ingin nyawa kalian melayang!”
Mush’ab tetap tenang layaknya samudra. “Kenapa Anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya Anda menyukainya nanti, anda akan menerimanya. Sebaliknya, jika tidak, kami akan menghentikan apa yang Anda tidak sukai itu,” katanya lembut. Akhirnya, Usaid mau juga mendengarkan, dan hatinya terbuka. Ia mendengarkan indah dan berartinya bacaan Al Quran Mush’ab.

Usaid meninggalkan Mush’ab dan orang-orang di situ beberapa saat kemudian kembali lagi. Namun, rambutnya basah lantaran mandi bersih. Setelah itu, Usaid menyatakan pengakuannya pada Islam. Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah utusan Allah.
Setelah berita mengenai keislaman Usaid tersebar, menyusul pula Sa’ad bin Mu’adz, juga Sa’ad bin Ubadah masuk Islam, yang menjadi penanda berakhirnya pertentangan suku-suku di Madinah. Warga Madinah pun berbondong masuk Islam.

Syahid di Perang Uhud

Perang Uhud merupakan satu ujian perang yang sulit bagi kaum muslim. Pada perang inilah diuji siapa di antara muslim kala itu yang benar-benar menuruti Rasulullah SAW dan yang tidak. Awal kekacauan pasukan muslim dimulai saat pasukan panah meninggalkan bukit karena dikiranya mereka telah mengalahkan kaum musyrikin. Padahal, Rasulullah SAW meminta mereka untuk tidak meninggalkan bukit.

Tanpa diduga ternyata pasukan berkuda kaum kafir menyerbu dari belakang dari atas bukit. Melihat pasukan muslim porak poranda, tentara kafir segera saja akan menyerang Rasulullah SAW. Saat itulah, Mush’ab mengorbankan dirinya untuk menarik perhatian pasukan kafir agar tidak menyerang Nabi. Ia mengangkat bendera setinggi-tingginya dan berteriak sehingga pasukan kafir mengarah padanya.

Ibnu Sa’ad berkata, diceritakan kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahnil al Abdari dari bapaknya, ia berkata:

Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di perang Uhud. Tatkala barisan kaum muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangan kanannya hingga putus. Sementara Mushab mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa orang Rasul.”

Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu sampai putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera lalu dengan kedua pangkal lengannya ia meraih bendera itu ke dadanya.

“Muhammad itu tidak lain adalah seorang Rasul dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul.”

Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak dan menusuknya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur dan bendera jatuh.
Allah menurunkan firmannya dalam AlQuran:

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. QS Ali Imran 144

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul,” itulah kata-kata terakhir Mush’ab sebelum akhirnya ia gugur sebagai syuhada.

Sehelai Burdah

Rasulullah SAW bersama para sahabat mendatangi medan pertempuran untuk menyampaikan salam perpisahan pada para syuhada. Ketika sampai pada jasad Mush’ab, bercucuran air matanya.

Berkata Khabbah Ibnul Urrat:

Kami hijrah di jalan Allah, bersama Rasulullah SAW dengan mengharap keridhoannya. Di antara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. Diantaranya adalah Mush’ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelai kain pun menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah SAW,”Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkir.”

Rasulullah SAW mendekati jasad Musha’b dan membacakan ayat:

“Di antara orang-orang mukmin terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.” QS Al Ahzab 23.

Setelah itu Rasulullah SAW berucap,

“Ketika di Mekah dahulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut, hanya dibalut sehelai burdah.

Sungguh Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari kiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah.”

Kemudian Rasulullah SAW berpaling ke arah sahabat yang masih hidup,

“Hai manusia, berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam. Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya.”

Salam atasmu Mush’ab bin Umair. Salam padamu para Syuhada.

Hassan_Mosque_zps96ac707e.jpg


kisah sahabat banyak di Quran
 
Thalhah bin Ubaidillah

Thalhah bin Ubaidillah dijuluki si syahid yang hidup. Thalhah pada masa perang Uhud telah berani mengorbankan nyawanya demi melindungi Rasulullah SAW yang kala itu telah terluka. Lebih dari 70 tikaman tombak dan tebasan pedang melukai Thalhah demi melindungi Rasul. Namun, Thalhah yang terluka parah tetap hidup.

Al Quran menjelaskan orang-orang seperti Thalhah: “Di antara orang-orang mukmin itu terdapat sejumlah laki-laki yang memenuhi janji-janji mereka terhadap Allah. Di antara mereka ada yang memberikannya nyawanya, sebagian yang lain sedang menunggu gilirannya. Dan tak pernah mereka merubah pendiriannya sedikit pun jua.” QS 33 Al Ahzab 23

Setelah membaca ayat itu Rasulullah menunjuk kepada Thalhah Bin Ubaidillah sambil berkata:

“Siapa yang suka melihat seorang laki-laki yang masih berjalan di muka bumi, padahal ia telah memberikan nyawanya, maka hendaklah ia memandang Thalhah.”

Masuk Islam Dibantu Abu Bakar ra.

Dalam perjalanannya berniaga ke kota Bushra, Thalhah bertemu dengan seorang pendeta yang amat baik. Di waktu itu sang pendeta memberi tahu padanya, bahwa Nabi yang akan muncul di tanah Haram, sebagaimana telah diramalkan akan segera datang. Maka tibalah Thalhah di Mekah setelah beberapa bulan menetap di Bushra, ia mendengar bisik-bisik mengenai Muhammad Al Amin.

Thalhah bertanya kepada Abu Bakar yang baru saja pulang dengan kafilah dan barang perniagaannya. Setelah berbincang sejenak, Abu Bakar mengantarkan Thalhah kepada Rasulullah SAW. Thalhah hendak berjanji setia kepadanya sehingga menjadikannya diantara orang-orang yang pertama masuk Islam.

Setelah masuk Islam, Thalhah yang termasuk terpandang sebagai hartawan besar dengan perniagaan pun tak luput dari penganiayaan kaum Quraisy. Ia dilindungi oleh Naufal bin Khuwailid, paman dari istri Rasul Khadijah. Sampai akhirnya Thalhah pun ikut hijrah ke Madinah.

Saat perang Badar, Thalhah tak bisa turut berperang. Ia diutus ke luar kota oleh Rasulullah SAW bersama Said bi Zaid. Sekembalinya dari sana, mereka yang berperang juga baru tiba dari perang Badar. Meskipun tak ikut berperang, Thalhah mendapatkan rampasan perang seperti yang lainnya.

Pelindung Rasulullah SAW di Perang Uhud

Kisah pahit peperangan Uhud terjadi ketika pasukan panah turun meninggalkan kedudukan mereka tak menghiraukan perintah Rasulullah SAW hanya untuk memperebutkan harta rampasan. Tiba-tiba pasukan Quraisy menyerang dari belakang dengan mendadak. Pasukan muslim kucar-kacir. Nabi menjadi sasaran utama dan sempat terluka.

Thalhah yang melihat bahaya menimpa Rasulullah bergerak cepat. Ia menebas jalan, menghalau tombak, menikam pedang, demi melindungi Nabi. Ia lompat dari kudanya, menepis pedang-pedang yang mengarah kepada Rasulullah yang saat itu telah terluka di bagian wajahnya.

Demikianlah Thalhah sang pelindung Nabi. Berkat ketangkasannya, ia memapah Rasulullah SAW dengan tangan kirinya, dan menebas pedang dengan tangan kanannya. Ia menyerang semua musyrik yang berkeliling di sekitar Rasulullah SAW yang jumlahnya banyak.

Aisyah ra menceritakan apa yang digambarkan ayahnya Abu Bakar Shidiq ra mengenai Thalhah:
“Itu semuanya adalah hari Thalhah! Aku adalah orang yang mula-mula mendapatkan Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, “Tolonglah saudaramu itu…Thalhah!” Kami lalu menengoknya, dan ternyata pada sekujur tubuhnya terdapat lebih dari tujuh puluh luka berupa tusukan tombak, sobekan pedang dan tancapan panah, dan ternyata pula anak jarinya putus, maka kami segera merawatnya dengan baik.”

Thalhah Si Baik Hati

Pada semua medan tempur, Thalhah selalu berada di barisan terdepan mencari keridhaan Allah dan membela bendera Rasul. Usai berperang di medan laga, ia akan kembali ke pekerjaannya sebagai pedagang. Perniagaannya selalu berkembang pesat, dan ia banyak menyumbangkan hartanya. Rasulullah menyebutnya, “Thalhah si baik hati”.

Istri Thalhah, Su’da bin Auf bercerita mengenai suaminya. Suatu hari ditemukannya Thalhah sedang sedih. “Ada apa?” kataku. Maka ia menjawab, “Soal harta yang ada padaku ini, semakin banyak juga, hingga menyusahkanku dan menyempitkanku.” Aku berkata, “Tidak jadi soal, bagi-bagikan saja.” Lalu ia berdiri memanggil orang banyak kemudian membagi-bagikannya sehingga tak ada yang tinggal sedirham.

Suatu kali pernah ia menjual sebidang tanah dengan harga yang tinggi. Setelah itu, dilihatnya tumpukan uangnya dan ia menangis. “Sungguh jika seseorang dibebani memiliki harta yang segini banyaknya dan tidak tahu apa yang akan terjadi, pasti akan mengganggu ketentraman ibadah kepada Allah.” Thalhah kemudian berkeliling membawa hartanya bersama sahabat dan membagi-bagikannya sampai siang sehingga tak tersisa.

Jabir bin Abdullah menggambarkan pula kepemurahan Thalhah dengan berkata, “Tak pernah aku melihat seseorang yang lebih dermawan dengan memberikan hartanya yang banyak tanpa diminta terlebih dahulu daripada Thalhah bin Ubaidillah.”

Thalhah adalah seorang yang banyak berbuat baik kepada keluarga dan kerabat. Ia menanggung nafkah mereka. Ia menanggung kebutuhan, mencukupi belanja, menikahkan anak yatim, dan melunasi hutang orang yang berhutang.

As Saib bin Zaid menceritakan, “Aku telah menemui Thalhah baik dalam perjalanan maupun waktu menetap, maka tak pernah kujumpai seseorang yang lebih merata kepemurahannya baik mengenai uang, kain atau makanan daripada Thalhah.”

Thalhah mendapat julukan, Asy Syahidul Hayy (syahid yang hidup), Al Khair (yang baik), Al Jauh (yang pemurah), Al Fayyadh (yang dermawan).

Tetangga Rasulullah dalam Surga

Setelah khalifah Ustman bin Affan terbunuh, bermunculanlah perpecahan kaum muslimin kala itu. Thalhah sempat berada dalam perpecahan dan menjadi mereka yang membela kaum yang menuntut Khalifah Ali bin Abi Thalib atas kematian Ustman. Namun khalifah Ali mengingatkan Thalhah yang kala itu bersama Zubair, akan pesan Rasulullah SAW.

Ali berkata kepada Zubair yang juga didengar Thalhah. “Hai Zubair aku minta kau jawab karena Allah. Tidakkah engkau ingatm du suatu hari Rasulullah lewat di depanmu dan berkata kepadamu, “Wahai Zubair tidakkah engkau cinta kepada Ali?” Maka jawabmu, “Masak aku tidak cinta kepada saudara sepupuku, anak bibi dan anak pamanku, serta orang satu agama denganku?” Beliau Rasulullah SAW menjawab, “Hai Zubair, demi Allah bila engkau memeranginya jelas engkau berlaku zalim kepadanya.” Berkatalah Zubair, “Yah aku ingat, hampir aku melupakannya. Demi Allah aku tak akan memerangimu.” Demikian kata Zubair kepada Ali. Zubair dan Thalhah mundur dari perpecahan dan tak lagi memusuhi Ali.

Mundurnya Thalhah ini justru menjadi ancaman bagi keduanya. Mundurnya Thalhah dan Zubair dari perpecahan yang menentang khalifah Ali harus ditebus dengan nyawanya. Zibair dibunuh seorang yang mengikutinya bernama Amru bin Jarmuz sedangkan Thalhah dibunuh dengan panah oleh Marwan bin Hakam.

Sewaktu Ali meninjau orang-orang yang gugur sebagai syuhada di medan perang, semua mereka disholatkan. Tatkala ia berada di makam Thalhah dan Zubair, ia berdiri melepas keduanya dengan kata-kata indah. “Sesungguhnya aku amat mengharapkan agar aku bersama Thalhah dan Zubair dan Ustman, termasuk di antara orang-orang yang difirmankan Allah:

“Dan Kami cabut apa yang bersarang dalam dada mereka dari kebencian sebagai layaknya orang bersaudara, dan di atas pelaminan mereka bercengkerama berhadap-hadapan…” QS Al Hijr 47

Kemudian Ali berkata, “Kedua telingaku ini telah mendengar sendiri sabda Rasulullah SAW. Thalhah dan Zubair tetanggaku dalam surga…”

Salam untukmu Thalhah Bin Ubaidillah. Salam untukmu para syuhada.

Mosques-picture_zpsfa28711a.jpg


ramai sahabat yang syahid untuk pertahankan islam
 
Salman Al Farisi

Saat terjadinya perang Khandaq, pada tahun kelima hijriah, beberapa orang Yahudi pergi ke Mekah menghasut orang-orang musyrik dan golongan-golongan kafir agar bersekutu menghadapi Rasulullah SAW dan kaum muslimin. Mereka berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan yang akan menumbangkan serta mencabut akar agama baru ini.

Siasat dan taktik perang diaturlah secara licik, bahwa tentara Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar, sementara Bani Quraidah (Yahudi) akan menyerang dari dalam, yaitu dari belakang barisan kaum muslimin, sehingga mereka akan terjepit dari dua arah, karenanya mereka akan hancur lumat dan hanya tinggal nama.

Sampai suatu hari kaum muslim melihat pasukan tentara yang besar mendekati kota Madinah. Mereka membawa perlengkapan, persenjataan dan perbekalan yang banyak. Pada saat itu kaum muslimin sempat panik dan gentar seperti dilukiskan Allah dalam Al Quran:

“Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar seolah-olah hatimu telah naik sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah.” QS Al Ahzab 10

Dua puluh empat ribu orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sfyan dan Uyainah bin Hishn menghampiri Madinah untuk mengepung dan menaklukkannya serta menghabisi Muhammad SAW serta agama Islam. Pasukan ini tidak hanya orang Quraisy tapi juga kumpulan berbagai kabilah dan suku.

Rasulullah SAW mengajak sahabat untuk segera bermusyawarah. Mereka bersepakat hanya akan bertahan. Namun, apa daya jika pertahanan tak kuat? Maka muncullah seorang yang bertubuh tinggi jangkung dan dihormati, Salman Al Farisi. Ia naik ke suatu tempat yang tinggi untuk mengamati. Salman yang berasal dari Parsi telah mempunyai pengalaman teknik berperang. Setelah mengamati, Salman memberikan usul yang tak pernah terpikirkan, membuat penggalian Khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka di sekeliling kota.

Benarlah, setelah adanya parit pasukan kafir tertahan sampai sebulan lamanya dalam peperangan karena tak sanggup menerobos masuk ke dalam kota Madinah. Sampai suatu malam Allah mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak porandakan tentara mereka.

Penggalian Khandaq dan Batu Besar
Sewaktu menggali lubang pertahanan perang Khandaq, Salman pun turut serta. Bersama Rasulullah SAW, kaum muslimin membawa tembilang dan membelah batu. Sampai ada sebuah batu besar yang tak bisa dihancurkan. Salman mengusulkan kepada Rasulullah SAW untuk membelokkan arah galian. Namun, Nabi SAW datang. Beliau meminta orang yang berada di dekat batu untuk menjauh.

Rasulullah SAW mengangkat tangan dan berdoa lalu memegang erat tembilang dan memukul batu itu keras-keras. Sekali pukul batu itu terbelah. Seketika dari belahannya keluar lambaian api yang tinggi dan menerangi.

“Saya lihat lambaian api itu menerangi pinggiran kota Madinah,” kata Salman. Sementara Rasulullah SAW mengucapkan takbir, “Allah Maha Besar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci istana Persi, dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan Hirah begitu pun kota-kota Maharaja Persi dan bahwa umatku akan menguasai semua itu.”

Rasulullah SAW memukulkan batu itu dua kali. Setelah dipukul keluar lagi lambaian api. Apinya tinggi dan menerangi. Rasulullah SAW bersabda, “Allah Maha Besar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa umatku akan menguasainya.”

Kemudian Rasulullah SAW memukulnya untuk ketiga kalinya sampai akhirnya batu itu pecah hancur. Sinar yang keluar dari pukulan itu amat terang dan menyala. Rasulullah SAW menguncapkan La ilaha illahllah diikuti kaum muslimin. Lalu diceritakan Rasulullah SAW bahwa beliau melihat mahligai istana di Suriah, Shana begitupun daerah lain yang suatu ketika nanti berada di bawah panji bendera Allah.

Berceramah di Depan Rumah
Apabila sedang duduk di bawah naungan pohon rindang di depan rumahnya di Madain, Salman al Farisi suka menceritakan pengalaman dirinya, ilmu atau riwayat.

“Aku berasal dari Isfahan, warga suatu desa yang bernama Ji. Bapakku seorang bupati di daerah itu, dan aku merupakan makhluk Allah yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api yang bertanggungjawab atas nyalanya dan tidak membiarkannya padam.

Bapakku memiliki sebidang tanah, dan pada suatu hari, aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku lewat di sebuah gereja milik kaum Nashrani. Aku mendengar mereka sedang sembahyang. Maka aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang, dan kataku dalam hati. “Ini lebih baik dari apa yang aku anut selama ini!”

Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam, dan tidak jadi pergi ke tanah mliki bapakku serta tidak pula kembali pulang, hingga bapak mengirim orang untuk menyusulku.

Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan kepada orang-orang nashrani dari mana asal-usul agama mereka. “Dari Syria,” ujar mereka.

Ketika telah berada di hadapan bapakku, ku katakan kepadanya, “Aku lewat pada suatu kaum yang sedang melakukan upacara sembahyang di gereja. Upacara mereka amat mengagumkanku. Kulihat pula agama mereka lebih baik dari agama kita.” Kami pun bertanya jawab dan berakhir dengan dirantainya kakiku dan dipenjarakannya diriku.

Kepada orang-orang nashrani ku kirim berita bahwa aku telah menganut agama mereka. Kuminta pula agar bila datang rombongan dari Syria, supaya aku diberi tahu sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permintaanku itu mereka kabulkan, maka kuputuskan rantai, lalu meloloskan diri dari penjara dan menggabungkan diri kepada rombongan itu menuju Syria.

Sesampainya di sana ku tanyakan ahli dalam agama itu, dijawabnya bahwa ia adalah uskup pemilik gereja. Maka datanglah aku kepadanya, kuceritakan keadaanku. Akhirnya tinggallah aku kepadanya, sebagai pelayan. Aku melaksanakan ajaran mereka dan belajar. Sayang, uskup ini seorang yang tidak baik beragamanya, karena dikumpulkannya sedekah dari orang-orang dengan alasan untuk dibagikan, ternyata disimpan untuk dirinya pribadi sampai uskup itu wafat.

Mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Dan kulihat tak seorang pun yang lebih baik beragamanya dari uskup baru ini. Aku pun mencintainya demikian rupa, sehingga hatiku merasa tak seorang pun yang lebih kucintai sebelum itu daripadanya.

Tatkala ajalnya telah dekat aku bertanya kepadanya. “Sebagai anda maklumi, telah dekat saat berlakunya takdir Allah atas Anda. Maka apakah yang harus kuperbuat dan siapakah sebaiknya yang harus kuhubungi?” “Anakku, tak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin yang tinggal di Mosul.” Lalu saat ia wafat, aku berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya. Kuceritakan kepadanya pesar dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah.

Lalu orang itu pun hampir meninggal pula. Kutanyakan padanya siapa yang harus kuturuti. Aku disuruh tinggal bersama seorang pemimpin di Amuria, kota yang termasuk wilayah Romawi. Aku berangkat ke sana dan tinggal bersama orang itu dan sebagai bekal hidup aku berternak sapi dan kambing beberapa ekor.

Ternyata orang di Amuria itu pun hendak wafat pula. Kutanyakan padanya siapa yang bisa aku percayai. Ia menjawab, “Anakku, tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau padanya. Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. Ia nanti akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu hitam. Seandaianya kamu dapat pergi ke sana, temuilah ia. Ia mempunyai tanda-tanda yang jelas, ia tidak mau makan sedekah, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kemabian yang bila engkat melihatnya, segeralah kau mengenalinya.”

Suatu hari lewatlah rombongan perjalanan dari Arab. Aku bertanya pada mereka, “Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya ku berikan kalian sapi-sapi dan kambing-kambiingku.” Sehingga sampailah aku di negeri bernama Wadil Qura.

Di sana aku dianiaya, dijual sebagai budak kepada yahudi. Aku menjadi budaknya sampai datang yahudi Bani Quraidhah membeliku.
Saat sedang di pohon kurma, seorang saudara yahudi tuannya datang dan berkata, “Bani Qilah celaka! Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba yang datang dari Mekah dan mengaku sebagai nabi.” Salman yang berada di atas pohon gemetar. Ia turun dan ikut bertanya sehingga dipukul majikannya.

Pada petang harinya, ia mengumpulkan seluruh barang-barangnya untuk menemui Rasulullah SAW di Quba. Aku berhasil sampai dan masuk kepadanya ketika beliau sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan. Lalu kutanya kepadanya, “Tuan-tuan adalah perantau yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makan yang telah kujanjikan untuk sedekah. Dan setelah mendengar keadaan tuan-tuan, maka menurut hematku, tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya dan makanan itu ku bawa ke sini.” Lalu makanan itu ku taruh di hadapannya.

“Makanlah dengan nama Allah,” sabda Rasulullah kepada sahabatnya. Namun, beliau tak ikut memakannya. Aku berpikir itulah salah satu tanda kenabiannya bahwa beliau tak memakan sedekah.

Aku pulang kembali kepada majikanku, tapi kembali mengunjungi Rasulullah SAW keesokan harinya. Ia membawa makanan dan mengatakan bahwa ingin menyerahkan makanan itu sebagai hadiah. “Makanlah dengan menyebut nama Allah,” sabda Rasulullah SAW. Kali ini Nabi memakannya. Salah satu tanda lagi bahwa Rasulullah SAW mau menerima hadiah.

Esoknya aku kembali lagi mencari Rasulullah SAW di Baqi. Di sana ia dapat melihat tanda kenabian di lehernya. Melihat itu, aku meratap dan menciuminya sambil menangis. Lalu aku dipanggil menghadap oleh Rasulullah SAW. Aku duduk di hadapannya lalu kuceritakan kisahku. Kemudian aku masuk Islam.”

Setelah memeluk Islam, Salman terhalang turut berjihad di perang Badar dan Uhud karena ia masih menjadi budak seorang Yahudi. Sampai suatu hari ia dibantu Rasulullah SAW dibebaskan.

Sholat dan Shaum Abu Darda
Salman pernah tinggal beberapa waktu bersama Abu Darda. Ia melihat bagaimana Abu Darda sholat di tengah malam dan shaum di siang hari, terus-menerus. Sampai Salman berkata kepada Abu Darda, “Sesungguhnya kedua matamu mempunyai hak atas dirimu, demikian pula keluargamu mempunyai hak atas dirimu. Disamping engkau shaum, berbukalah, dan disamping sholat, tidurlah.” Peristiwa itu sampai ke telinga Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Sungguh Salman telah dipenuhi ilmu.”

Saat perang Khandaq, kaum Anshar mengatakan bahwa Salman dari golongan mereka. Kaum muhajirin pun tak kalah mengatakan demikian. Namun, Rasulullah SAW mengatakan, “Salman adalah golongan kami, ahlul bait.”

Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah menggelari Salman dengan Luqmanul Hakim. Saat Ali ditanya tentang Salman yang telah wafat beliau menjawab,

“Ia adalah seorang yang datang dari kam dan kembali kepada kami Ahlul Bait. Siapa pula do antara kalian yang akan dapat menyamai Lukmanul Hakim. Ia telah beroleh ilmu yang pertama begitu pula ilmu yang terakhir. Dan telah dibacana kitab yang pertama dan juga kitab yang terakhir. Tak ubahnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering.”

Salman adalah seorang yang bersahaja. Saat kehidupan Madinah mulai berkecukupan, Salman hanya tinggal di rumahnya menganyam daun kurma menjadi keranjang. Uang yang dimilikinya selain untuk nafkah keluarganya akan disedekahkan. Padahal Salman berasal dari Parsi yang penuh dengan kemewahan.

Hisyam bin Hasan dari Hasan mengatakan bahwa setelah Salman menerima tunjangan yang lima ribu setahun, ia akan membagi-bagikannya. Sedangkan untuk nafkah keluarganya, ia ambil dari usaha kedua tangannya membuat keranjang. Ia menolak pangkat dan kedudukan.

Pernah suatu kali Saad bin Abi Waqqash datang menjenguk Salman yang sedang menangis. “Apa yang kau tangiskan wahai Abu Abdillah?” tanya Saad. “Padahal Rasulullah SAW wafat dengan ridha kepadamu?”

Salman menjawab, “Demi Allah, aku menangis bukanlah karena takut mati ataupun mengharap kemewahan dunia, hanya Rasulullah SAW telah menyampaikan suatu pesan kepada kita yaitu sabdanya, hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengendara. Padahal, hartaku segini banyaknya.”
“Wahai Saad!” Salman melanjutkan. “Ingatlah Allah di kala dukamu, sedang kau derita. Dan pada putusanmu jika engkau menghukumi. Dan pada saat tanganmu melakukan pembagian.”

Inilah pemahaman Salman Al Farisi mengenai kekayaan dan kepuasan. Ia adalah orang yang zuhud pada dunia, harta, pangkat. Ia tak ingin menjadi bagian dari kemewahan dunia itu kecuali sedikit yang diambilnya sekedar bekal seorang pengendara.

Amir yang bersahaja.
Saat ditugaskan sebagai Amir di kota Madain, Salman tak menerima gaji. Ia hanya menafkahi keluarganya dari usaha menganyam daun kurma. Suatu hari ada seorang Syria keberatan membawa buah tin dan kurma dalam keranjangnya. Ketika dilihatnya seorang dengan pakaian usang, maka dipanggillah Salman yang kala itu sudah menjadi Amir.

Ia meminta Salman membantunya mengangkut keranjang tin dan kurmanya sampai ke rumahnya. Sepanjang jalan ada saja yang menegur. “Assalamu’alaikum, dan juga kepada Amir kami ucapkan salam,” kata orang-orang yang berpapasan. Ada juga yang menawarkan diri untuk membantu membawakan namun Salman menolak. Sampai akhirnya orang Syria itu mengerti siapa Salman dan menyesal serta meminta maaf. Namun Salman menolak, “Tidak sebelum kuantarkan sampai ke rumahmu!”

Saat ditanya mengapa ia tidak menyukai jabatannya sebagai Amir, Salman menjawab, “Karena manis waktu memegangnya, tapi pahit waktu melepaskannya.”

Salman wafat di rumahnya yang sederhana. Terlalu rendah untuk berdiri dan terlalu sempit untuk berjalan. Ia tak meninggalkan apa-apa selain kesturi untuk wewangian dirinya kala wafat. Sebelum wafat ia meminta istrinya memercikkan wangian kesturi itu ke tubuhnya.

“Sekarang telah hadir di hadapanku makhluk Allah (malaikat) yang tiada dapat makan hanyalah gemar wangi-wangian.” Tak berapa lama istirnya keluar menutup pintu dan kembali lagi, Salman telah dipanggil oleh Allah SWT.

Semoga ridha dan rahmat Allah atasmu Salman al Farisi.

Floating_Mosque_zps4332b02a.jpg


sahabat berdakwah sepanjang masa
 
Zubair bin Awwam

Zubair bin Awwam adalah ksatria muslim yang gagah berani. Ia penunggang kuda handal yang ditakuti. Kegarangannya menerjang masuk ke pasukan musuh membuat mereka gentar. Pedangnya berkibas dan luka yang mengiris tubuhnya tak dirasakannya.

Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah adalah dua ksatria yang merupakan tetangga Rasulullah SAW di surga, demikianlah yang dinyatakan Rasulullah SAW. Setiap menyebut nama Zubair pasti disebut Thalhah begitu pula sebaliknya.

Keduanya memiliki beberapa kesamaan yaitu sama-sama tumbuh remaja, termasuk mereka yang dulunya dari keluarga berada, memiliki keteguhan beragama, gagah berani, angkatan pertama masuk Islam, sepuluh orang yang diberi kabar gembira masuk surga, dan sahabat Rasulullah SAW yang enam, ahli musyawarah yang diserahi oleh Umar bin Khatthab memilih kalifah sepeninggalnya.

Zubair merupakan tujuh orang yang pertama-tama masuk Islam, semenjak Islam masih disebarkan secara sembunyi di rumah Arkam dan kala itu usianya baru lima belas. Seorang penunggang kuda yang berani.

Suatu kali saat sedang berada di rumah Arkam, terdengar kabar angin bahwa Rasulullah SAW terbunuh. Zubair segera mengambil pedangnya, menunggang kuda dan menyisir kota Mekah mencari kebenaran berita itu. Sampai akhirnya bertemu dengan Rasulullah SAW di suatu tempat yang tinggi di Mekah. Rasulullah SAW menanyakan apa yang diperbuatnya. Rasulullah SAW pun memohonkan bahagia dan mendoakan kebaikan Zubair.

Zubair berasal dari keluarga terpandang suku Quraisy. Saat memeluk Islam, tak kurang dari derita yang dialaminya, terutama dari pamannya sendiri. Pernah ia disekap, dikurung, diberi asap sampai sesak nafas. Padahal kala itu ia masih anak muda yang baru tumbuh.

Menghalau Musuh
Zubair melakukan hijrah ke Habsyi (Ethiopia) dua kali. Ia kembali lagi ke Arab untuk mengejar ketinggalan dalam berperang bersama Rasulullah SAW. Ia menderita banyak tusukan dan meninggalkan bekas yang memperlihatkan keperkasaannya.

Saat perang Uhud usai dan pasukan Quraisy kembali ke Mekah, Zubair diutus Rasulullah SAW bersama Abu Bakar untuk mengikuti gerakan tentara Quraisy dan menghalau mereka sehingga kaum kafir akan berpikir bahwa muslimin pastinya masih punya kekuatan.

Abu Bakar dan Zubair memimpin 70 orang muslimin. Kaum Quraisy berpikir bahwa pasukan itu adalah pendahulu balatentara yang akan lebih banyak lagi dibelakangnya. Melihat itu, kaum Quraisy segera bergegas kembali ke Mekah.

Selain perang Yarmuk, Zubair merupakan prajurit yang memimpin langsung pasukan. Saat pasukannya gentar melihat tentara Romawi, Zubair berteriak, ”Allahu Akbar!” Ia maju dan membelah pasukan musuh sambil mengayunkan pedang.

Zubair merindukan syahid. Ia bahkan menamakan anak-anaknya dengan nama para syuhada. Ia tak pernah memerintah satu daerah, mengumpul pajak, atau jabatan lain. Ia semata-mata menjalankan tugasnya untuk berperang di jalan Islam.

Sewaktu pengepungan atas Bani Quraidha sudah berjalan lama tanpa membawa hasil, Rasulullah SAW mengirimnya bersama Ali binAbi Thalib. Ia berdiri di muka benteng musuh yang kuat sambil mengulang ucapannya, ”Demi Allah biar kami rasakan sendiri apa yang dirasakan Hamzah atau kalau tidak, akan kami tundukkan benteng mereka!”

Ia kemudian terjun ke dalam benteng hanya berdua saja dengan Ali,dan dengan kekuatan syarafnya mereka berhasil menyebarkan rasa takut pada musuh-musuh yang bertahan dalam benteng, lalu membukakan pintu-pintu benteng tersebut bagi kawan mereka di luar.

Saat perang Hunain, Zubair melihat pemimpin suku Hawazin yang juga menjadi panglima pasukan musyrik dalam perang tersebut namanya Malik bin Auf. Terlihat olehnya sesudah pasukan Hawazin bersama panglimanya lari tunggang langgang dari medan perang Hunain. Ia sedang berada di tengah-tengah gerombolan besar sahabatnya bersama sisa pasukan yang kalah, maka secara tiba-tiba diserbunya rombongan itu seorang diri sehingga mereka kucar-kacir. Ia menghalaunya dari tempat persembunyian mereka.

Pembela Rasulullah SAW
Kecintaan dan penghargaan Rasulullah SAW terhadap Zubair luar biasa dan beliau sangat membanggakannya. ”Setiap Nabi mempunya pembela dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam,” demikianlah pernyataan Rasulullah SAW tentang Zubair. Zubair yang suami dari Asma binti Abu Bakar, merupakan seorang yang pemurah dan suka mengorbakan hartanya demi Allah SWT.

Hasan bin Tsabit telah melukiskan sifat-sifat Zubair ini dengan indah:

”Ia berdiri teguh menepati janjinya kepada Nabi dan mengikuti petunjuknya. Menjadi pembelanya, sementara perbuatan sesuai dengan perkataannya. Ditempuhnya jalan yang telah digunakannya, tak hendak menyimpang daripadanya. Bertindak sebagai pembela kebenaran, karena kebenaran itu jalan sebaik-baiknya.
Ia adalah seorang berkuda yang termasyur dan pahlawan yang gagah perkasa. Merajalela di medan perang dan ditakuti di setiap arena. Dengan Rasulullah SAW mempunyai pertalian darah dan masih berhubungan keluarga. Dan dalam membela Islam mempunyai jasa-jasa yang tidak terkira.
Betapa banyaknya marabahaya yang mengancam Rasulullah SAW Nabi al Musthafa. Disingkirkan Zubair dengan ujung pedangnya, maka semoga Allah membalas jasa-jasanya.”

Zubair orang yang berbudi tinggi dan bersifat mulia. Keberanian dan kepemurahannya seimbang laksana dua kuda satu tarikan, ia telah berhasil mengurus perniagaannya dengan gemilang, kekayaannya melimpah, tetapi semua itu dibelanjakannya untuk membela Islam, sehingga ia sendiri mati dalam berhutang.

Tawakalnya kepada Allah merupakan dasar kepemurahannya, sumber keberanian dan pengorbanannya hingga ia rela menyerahkan nyawanya dan diwasiatkannya kepada anaknya Abdullah untuk melunasi hutang-hutangnya. ”Bila aku tak mampu membayar utang, minta tolonglah kepada Maulana induk semang kita.”
Anaknya Abdullah bertanya padanya, ”Maulana yang mana Bapak maksudkan?”
Jawab Zubair, ”Yaitu Allah, induk semang dan penolong kita yang paling utama.”
Kata Abdullah kemudian, ”Maka demi Allah, setiap aku terjatuh ke dalam kesukaran karena utangnya, tetap aku memohon, Wahai Induk Semang Zubair, lunasilah hutangnya, maka Allah mengabulkan permohonanku itu dan Alhamdulillah hutang pun dapat dilunasi.”

Gugur Tanpa Menyelisihi Ali bin Abi Thalib
Dalam perang Jamal, Zubair menemui akhir hayatnya sesudah ia menyadari kebenaran dan berlepas tangan dari peperangan. Ia berlepas diri untuk memerangi Ali bin Abi Thalib di suasana muslim yang kala itu mulai terpecah belah sesudah meninggalnya kalifah Usman bin Affan.

Sesudah menyadari kebenaran dan berlepas tangan dari peperangan, ia terus diintai oleh golongan yang menghendaki berkobarnya api fitnah, lalu ia pun ditusuk oleh seorang pembunuh yang curang waktu sedang lengah yakni saat sedang duduk sholat menghadap Allah SWT.

Si pembunuh pergi kepada imam Ali, dengan maksud melaporkan tindakannya terhadap Zubair. Ia mengira Ali akan senang mendengar beritanya itu. Tetapi Ali berteriak mengetahui hal tersebut. ”Sampaikan berita kepada pembunuh putra ibu Shafiah itu bahwa untuknya telah disediakan api neraka!”

Ketika pedang Zubair ditunjukkan kepada Ali oleh beberapa orang sahabat, ia mencium dan lama sekali ia menangis kemudian katanya, ”Demi Allah, pedang ini banyak berjasa, digunakan oleh pemiliknya untuk melindungi Rasulullah SAW dari marabahaya.
Selamat dan bahagia bagi Zubair dalam kematian sesudah mencapai kejayaan hidupnya! Selamat kemudian selamat kita ucapkan kepada pembela Rasulullah!”

Salam untukmu Zubair bin Awwam. Salam untukmu para Syuhada.

mosques20_zps7ba04ba3.jpg


sahabat korbankan harta dan nyawa
 
Abu Dzar Al Ghifari

Abu Dzar Al Ghifari adalah sahabat Rasulullah SAW yang paling zuhud. Tak ada yang bisa menyamainya dalam hal kesederhaannya menempuh kehidupan. Ia adalah orang yang dicintai Rasulullah SAW, seorang penggerak kehidupan sederhana dan bersahaja, selalu menganjurkan untuk tidak mencintai dunia dan harta benda.


Masuk Islam Sendirian Sampai Mengajak Kaumnya

Setelah menempuh perjalanan jauh melewati padang pasir, akhirnya tibalah juga Abu Dzar Al Ghifari di Mekah. Ia berpura-pura menjadi musafir yang ingin thawaf di sekeliling Kabah mengelilingi berkala-berkala besar agar maksud kedatangannya tidak diketahui. Abu Dzar memasang telinga lebar-lebar seandainya ada kabar berita dimana ia bisa menjumpai orang yang paling ingin ditemuinya, Muhammad SAW.

Sampai suatu hari, Abu Dzar bisa mendapati Rasulullah SAW yang kala itu sedang duduk sendiri. Ia menyapanya, “Selamat pagi wahai kawan sebangsa!”

“Alaikas salam, wahai sahabat,” jawab beliau SAW.
Kata Abu Dzar, “Bacakanlah kepadaku gubahan anda.”
Rasulullah SAW menjawab, “Ia bukan syair hingga dapat digubah, tetapi adalah Quran yang mulia.”
“Bacakanlah untukku kalau demikian,” kata Abu Dzar.

Maka dibacakannya oleh Rasulullah SAW sedang Abu Dzar mendengarkan dengan penuh perhatian hingga tidak berselang lama ia pun berseru, “Asyahadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh.” Demikianlah Abu Dzar mengucapkan syahadat.

“Anda dari mana, saudara sebangsa?” Tanya Rasulullah SAW. “Dari Ghifar,” jawab Abu Dzar. Maka terbukalah senyum lebar di kedua bibir Rasulullah SAW sementara wajahnya diliputi rasa kagum dan takjub. Abu Dzar tersenyum pula, karena ia mengetahui rasa terpendam di balik rasa kagum Rasulullah SAW demi mendengar bahwa orang yang telah mengaku Islam di hadapannya secara terus terang itu seorang laki-laki dari Ghifar.

Ghifar adalah suatu kabilah atau suku yang tak ada taranya dalam soal menempuh jarak. Mereka adalah kabilah yang suka melakukan perjalanan. Maka tatkala ada seorang dari suku Ghifar datang menemui Nabi SAW, beliau berkata,”Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang disukaiNya.”

Abu Dzar adalah satu dari mereka yang memeluk Islam, urutan kelima atau keenam. Kala itu dakwah Islam masih disampaikan secara sembunyi. Meskipun telah menyatakan keislamannya kepada Rasulullah SAW, Abu Dzar masih menyembunyikannya lalu setelah itu meninggalkan kota Mekah untuk kembali kepada kaumnya.

Namun, Abu Dzar bukanlah orang yang bisa tenang-tenang saja melihat kesyirikan. Batu-batu dibelah dan dibuat patung. Ia merasa jengah sampai akhirnya ia bertanya kepada Rasulullah SAW,” Wahai Rasulullah, apa yang harus saya kerjakan menurut anda?”
“Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti!” demikian dikatakan Rasulullah SAW.

Abu Dzar berkata, “Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, saya takkan pulang kembali sebelum meneriakkan Islam dalam masjid.”

Benarlah, pergilah Abu Dzar ke Masjidil Haram. Disana, ia meneriakkan syahadat di hadapan orang Quraisy Mekah atau para perantau asing yang sedang thawaf dengan suara lantang. “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.” Mereka yang mendengar Abu Dzar berteriak langsung memukulinya.

Kejadian pemukulan ini terdengar di telinga paman Nabi SAW, Abbas. Ia berupaya mencegah orang memukulinya. Menggunakan cara halus Abbas berkata, “Wahai kaum Quraisy, Anda semua adalah bangsa pedagang yang mau tak mau akan lewat di kampung Bani Ghifar. Dan orang ini salah seorang warganya, bila ia bertindak akan dapat menghasut kaumnya untuk merampok kafilah-kafilahmu nanti!” Mereka akhirnya meninggalkan Abu Dzar.

Pada hari berikutnya, Abu Dzar melihat dua orang wanita sedang thawaf berkeliling berkala-berkala Usaf dan Nailah sambil memohon padanya. Ia menghadang wanita itu dan menghina para berkala. Kedua wanita itu memekik dan orang-orang berdatangan. Lagi-lagi Abu Dzar dipukuli. Saat Abu Dzar siuman, ia belum kapok dan berseru, ”Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah!”

Demikianlah watak dan tabiat Abu Dzar. Baginya kebenaran itu dinyatakan secara terbuka dan terus terang. Namun, lantaran waktunya belum pas, Rasulullah SAW akhirnya menyuruh Abu Dzar untuk pulang dahulu kepada keluarganya. Abu Dzar mendapatkan kembali keluarganya dan menceritakan pertemuannya dengan Nabi SAW. Seorang demi seorang kaumnya masuk Islam. Abu Dzar juga mendakwahi suku Aslam.

Hari-hari berlalu sampai saatnya Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Rasulullah SAW telah menetap di Madinah bersama kaum Muhajirin dan Anshar. Sampai suatu hari datanglah sebuah rombongan kafilah memasuki Madinah. Ternyata itu adalah rombongan Abu Dzar bersama kaumnya yang telah memeluk Islam. Melihat rombongan yang berbondong-bondong itu, naka sekali lagi Rasulullah SAW bersabda, ”Sungguh Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendakiNya.” Tidak hanya suku Ghifar yang masuk Islam, suku Aslan pun mengikuti. Padahal suku ini dulunya adalah para perampok.

Sambil memandang rombongan suku Ghifar Rasulullah SAW berkata, ”Suku Ghifar telah di ghafar (diampuni) oleh Allah. Lalu beliau melihat suku Aslam dan berujar, ”Suku Aslam telah disalam (diterima dengan damai) oleh Allah.”

Mengenai Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda, ”Takkan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar.”


Upeti


Pada suatu hari Rasulullah SAW mengemukakan kepadanya pertanyaan berikut, ”Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu bila menjumpai para pembesar yang mengambil barang upeti untuk diri mereka pribadi?”

Jawab Abu Dzar, ”Demi yang telah mengutus anda dengan kebenaran, akan saya tebas mereka dengan pedangku!”
Sabda Rasulullah SAW, ”Maukah kamu aku beri jalan yang lebih baik dari itu? Ialah bersabar sampai kamu menemuiku.”

Waktu berlalu, Rasulullah SAW pergi mendahului, diikuti sahabatnya, Abu Bakar Asshidiq. Abu Dzar masih diliputi ketenangan ketika kekhalifan dipimpin oleh Umar bin Khattab, al Faruqul adhim, demikianlah gelar yang diberikan Rasulullah SAW kepada Umar sebagai pemisah antara yang haq dan yang bathil.

Akan tetapi, setelah kekhalifan Umar berlalu, jiwanya mulai terusik. Mulailah ia melihat apa yang diwasiatkan Rasulullah SAW, mengenai orang-orang yang senang mengumpulkan harta. Kekayaan mulai melimpah, harta rampasan, jabatan dan daerah kekuasaan. Rasanya ia akan segera keluar dan menghunus pedangnya kepada orang-orang yang mulai tidak menjalani syariat Islam. Namun, teringatlah ia akan pesan Rasulullah SAW, bersabar sampai ia menemui beliau.

Maka, disarungkannya kembali pedang itu. Ia teringat Firman Allah SWT:

”Dan tidaklah ada haq bagi seorang mu’min untuk membunuh mu’min lainnya kecuali karena keliru (tidak sengaja)” QS Annisa 92

Baginya, membangun masyarakat beragama bukanlah membangun kerajaan. Menjadi rahmat karunia bukan azab kesengsaraan, mengajarkan kerendahan hati bukan kesombongan, persamaan bukan pengkastaan, kesahajaan bukan keserakahan, kesederhanaan bukan keborosan, kedamaian dan kebijaksanaan dalam menghadapi kehidupan. Maka dihadapinyalah keadaan itu bukan dengan pedangnya, namun melalui lisannya.

Semboyan hidup Abu Dzar yang ia ungkapkan:

Beritakanlah kepada para penumpuk harta yang menumpuk emas dan perak.
Mereka akan disetrika dengan setrika api, neraka akan menyetrika kening dan pinggang mereka di hari kiamat.

Setiap kali ia pergi kemanapun dan bertemu dengan pembesar yang serakah, kepada mereka, diulangilah semboyan hidupnya itu. Abu Dzar terutama melancarkan usaha lisannya di gudang kekayaan yaitu Syria. Disana ada Muawiyah bin Abi Sufyan yang memerintah di wilayah paling subur. Muawiyah adalah seorang pemimpin dermawan yang membagi-bagikan harta tanpa perhitungan untuk mengambil hati orang-orang terpandang di sana. Maka pergilah Abu Dzar ke Syria.

Berita mengenai kehadiran Abu Dzar yang memimpin gerakan hidup sederhana ini tentulah disambut gembira rakyat jelata di sana. ”Bicaralah wahai Abu Dzar, bicaralah wahai sahabat Rasulullah!” demikian pinta mereka.

Ia memandang kepada masyarakat jelata yang banyak berada di antara bangunan mewah.”Saya heran melihat orang yang tidak punya makanan di rumahnya, kenapa ia tidak mendatangi orang-orang itu dengan menghunus pedangnya?” Tapi, cepat-cepat diingatnya pesan Rasulullah SAW.

Maka, dinasehatilah rakyat jelata itu. Ia menjelaskan bahwa mereka sama tak ubah seperti sisir yang setiap bagiannya berserikat dalam rezeki. Tak ada kelebihan seseorang dari lainnya kecuali dengan taqwa. Seorang pemimpin serta pembesar dari suatu golongan haruslah yang pertama kali menderita kelaparan sebelum anak buahnya, sebaliknya yang paling belakang menikmati kekenyangan setelah mereka.

Bukan melalui peperangan. Abu Dzar membentuk dalam sebuah komunitas masyarakat sebuah usaha untuk membuat pendapat umum dan menyampaikannya kepada para pemimpin atau pembesar.


Bertemu Muawiyah

Pada suatu kali, ia bertemu dengan Muawiyah dan para pembesar serta mengatakan, ”Apakah tuan-tuan yang sewaktu Al Quran diturunkan kepada Rasulullah SAW, apakah beliau ada di lingkungan tuan-tuan? Benar, Al Quran itu diturunkan kepada tuan-tuan, dan tuan-tuanlah yang mengalami sendiri berbagai peperangan.”

Abu Dzar melanjutkan, ”Tidakkah tuan-tuan jumpai dalam Al Quran sebuah ayat?” Lalu ia membacakan surat At Taubah 34-36.

”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan di jalan Allah, bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Yaitu, ketika emas dan perak dipanaskan dalam api neraka, lalu disetrikakan ke kening, ke pinggang dan ke punggung mereka, sambil dikatakan, nah inilah yang kalian simpan untuk diri kalian itu, maka rasailah akibatnya.”

Saat itu Muiwiyah berkata, ”Ayat ini diturunkan kepada ahlul kitab.”
Abu Dzar berteriak, ”Tidak!” Serunya, ”Bahkan ia diturunkan kepada kita dan kepada mereka.”

Abu Dzar memintanya untuk melepaskan gedung, tanah serta harta kekayaan itu dan tidak menyimpannya untuk diri masing-masing kecuali sekedar keperluan sehari-hari.

Berita mengenai pembicaraan Abu Dzar bersama Muawiyah ini menyebar dari mulut ke mulut. Semboyan Abu Dzar untuk menasehati orang-orang mulai tersebar, yaitu, ”Sampaikan kepada para penumpuk harta akan setrika api di neraka!”

Kala itu Muawiyah dilanda kekhawatiran. Ucapan Abu Dzar dikhwatirkan akan mempengaruhi orang-orang untuk memberontak. Maka ditulisnyalah surat kepada khalifah Ustman ra, ”Abu Dzar telah merusak orang-orang Syria.”

Ustman ra akhirnya meminta kembali Abu Dzar balik ke Madinah. Khalayak ramai melepas kepergiaannya kembali ke Madinah. Suatu pemandangan yang belum pernah disaksikannnya.


Tidak Berniat Memerangi Khalifah

Kembali ke Madinah, Ustman meminta Abu Dzar untuk tetap tinggal di sana. Ustman ra juga merupakan khalifah yang bijaksana yang dengan pemikirannya ia berusaha memimpin umat Islam kala itu dengan seadil-adilnya.

”Tinggallah di sini disampingku. Disediakan bagimu unta yang gemuk yang akan mengantarkan susu pagi dan sore,” kata Ustman ra. Jawaban Abu Dzar adalah, ”Aku tak perlu akan dunia tuan-tuan.”

Orang banyak menganggap pandangan Abu Dzar akan kesederhanaan bertentangan dengan kepemimpinan para khalifah. Maka terkejutnya ia kala sebagian orang menyebar fitnah. Saat itu datanglah seorang perutusan dari Kufah memintanya untuk mengibarkan bendera pemberontakan terhadap khalifah.

”Demi Allah, seandainya Ustman hendak menyalibku di tiang kayu yang tertinggi atau di atas bukit sekalipun, tentulah saya dengar titahnya dan saya taati, saya bersabar dan sadarkan diri, dan saya meraka bahwa demikian adalah yang sebaik-baiknya bagiku.

Dan seandainya ia menyuruhku berkelana dari ujung dunia, tentulah akan sayadengar dan taati, saya bersabar dan sadarkan diri dan saya merasa bahwa demikian adalah yang sebaik-baik bagiku.

Begitupun jika ia menyuruhku pulang ke rumahku, tentulah saya akan dengar dan taati, saya bersabar dan sadarkan diri dan saya merasa bahwa demikian adalah sebaik-baiknya bagiku.”

Satu nasehat Rasulullah SAW yang pernah didengar Abu Dzar:

”...ia merupakan amanat dan dihari kiamat menyebabkan kehinaan dan penyesalan... kecuali orang yang mengambilnya secara benar, dan menunaikan kewajiban yang dipikulkan kepadanya.”


Mengajarkan Kesederhanaan

Pada suatu hari, Abu Dzar ditemui oleh Abu Musa al Asy’ari. ”Selamat wahai Abu Dzar, selamat wahai saudaraku.” Tetapi Abu Dzar menolak, katanya, ”Aku bukan saudaramu lagi. Kita bersaudara dulu sebelum kamu menjadi pejabat dan gubernur.” Bahkan kepada Abu Hurairah ra yang pekerjaan sehari-hari menjaga masjid ia enggan menemuinya karena dianggapnya sebagai pejabat yang mencari kemewahan. Tentu saja hal tersebut disanggah oleh Abu Hurairah ra.

Bukanlah Abu Dzar jika ia tidak menolak segala tawaran jabatan dan kemewahan. Ia pernah ditawari jabatan amir di Irak. ”Demi Allah, tuan-tuan takkan dapat memancingku dengan dunia tuan-tuan itu untuk selama-lamanya.”

Suatu kali orang berkata kepadanya perihal bajunya yang usang, ”Bukankah anda punya baju yang lain? Beberapa hari yang lewat saya lihat anda punya dua helai baju baru.”

Jawab Abu Dzar, ”Wahai putra saudaraku, kedua baju itu telah kuberikan kepada orang yang lebih membutuhkannya daripadaku.”
Kata kawan itu, ”Demi Allah, anda jua membutuhkannya.” Kata Abu Dzar, ”Ampunilah ya Allah. Kamu terlalu membesarkan dunia. Tidakkah kamu lihat burdah yang saya pakai ini? Dan saya punya satu lagi untuk sholat jumat. Saya punya seekor kambing diperah susunya, dan seekor keledai untuk ditunggangi. Nikmat apa lagi yang lebih besar dari yang kita miliki ini?”

Pada suatu hari Abu Dzar menyampaikan sebuah hadist wasiat Rasulullah SAW:

”Aku diberi wasiat oleh junjunganku dengan tujuh perkara. Disuruhnya aku agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri kepada mereka. Disuruhnya aku melihat kepada orang yang dibawahku dan bukan kepada orang yang diatasku. Disuruhnya aku agar tidak meminta sesuatu kepada orang lain, disuruhnya aku agar menghubungkan tali silaturahim, disuruhnya aku mengatakan yang haq walaupun pahit. Disuruhnya aku agar dalam menjalankan agama Allah tidak takut dengan celaan orang. Dan disuruhnya agar memperbanyak menyebut, la haula walaa quata illaa billah.”

Imam Ali bin Abi Thalib berkata mengenai Abu Dzar, ”Tak seorang pun tinggal sekarang ini yang tidak mempedulikan celaan orang dalam menegakkan agama Allah, kecuali Abu Dzar.”

Abu Dzar pernah dilarang memberikan fatwa. Kata Abu Dzar:
”Demi Tuhan yang nyawaku berada di tanganNya! Seandainya tuan-tuan menaruh pedang di atas pundakku, sedang menurut rasa hatiku masih ada kesempatan untuk menyampaikan ucapan Rasulullah SAW yang kudengar dari padanya, pastilah akan kusampaikan juga sebelum tuan-tuan menebas batang leherku.”


Meninggal di Rabadzah

Seorang perempuan kurus yang berkulit kemerah-merahan dan duduk dekat Abu Dzar menangis. Ia adalah istrinya yang menatapi sang suami menghadapi sakaratul maut. Abu Dzar bertanya padanya, ”Apa yang kamu tangiskan padahal maut itu pasti datang?” Jawab istrinya, ”Karena anda akan meninggal, padahal pada kita tak ada kain kafan untukmu.”

Abu Dzar tersenyum, ia berkata, ”Janganlah menangis. Pada suatu hari, ketika saya berada di sisi Rasulullah SAW bersama beberapa orang sahabatnya, saya dengar beliau bersabda, ”Pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, yang akan disaksikan nanti oleh serombongan orang-orang beriman.” Semua yang ada di majelis itu telah meninggal di kampung dan di hadapan jamaah kaum muslimin, tak ada lagi yang masih hidup di antara mereka kecuali daku. Nah, inilah daku sekarang, menghadapi maut di padang pasir, maka perhatikanlah olehmu jalan...siapa tahu kalau-kalau ada rombongan orang beriman itu sudah datang. Demi Allah, saya tidak bohong, dan tidak pula dibohongi.”

Benarlah, rombongan yang dipimpin oleh Abdullah bin Masud datang. Namun, didapatinya Abu Dzar telah berpulang ke Rahmatullah. Ia mendapati jenazahnya ada bersama istri dan seorang anak. Melihat bahwa Abu Dzar telah tiada, Ibnu Masud langsung menangis.

”Benarlah ucapan Rasulullah...
Anda berjalan sebatang kara...
Mati sebatang kara...
Dan dibangkitkan nanti sebatang kara...”

Ibnu Masud terduduk. Teringat olehnya pada masa perang Tabuk pada sembilan hijriah. Rasulullah SAW menitahkan untuk maju menapak dan menghadang pasukan Romawi. Kala itu musim paceklik udara begitu panas. Banyak yang merasa enggan menghadapi musuh yang begitu kuat.

Berjalanlah Rasulullah SAW bersama beberapa orang muslimin. Saat perjalanan beberapa tertinggal. Dilaporkan kepada beliau mengenai orang yang tertinggal itu. ”Biarkanlah andainya ia berguna tentu akan disusulkan oleh Allah pada kalian. Dan andainya tidak, maka Allah telah membebaskan kalian daripadanya.”

Demikianlah Abu Dzar. Keledainya mulai kelelahan dan berjalan gontai. Maka Abu Dzar turun dari keledainya dengan mengangkut perbekalannya untuk menyusul Rasulullah SAW berjalan kaki. Pasir kala itu terasa begitu panas.

Esok paginya, kala pasukan muslimin beristirahat dan menurunkan barang bawaannya, terlihatlah dari jauh seorang yang berjalan kaki. ”Wahai Rasulullah, itu ada seorang laki-laki berjalan seorang diri.” Ujar Rasulullah SAW, ”Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar.” Ya, Abu dzar berhasil menyusul mereka berjalan kaki.

”Wahai Rasulullah, demi Allah itu Abu Dzar,” kata seorang rombongan. Rasulullah SAW tersenyum, ”Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada Abu Dzar. Ia berjalan sebatang kara, meninggal sebatang kara, dan dibangkitkan nanti sebatang kara.”

Demikianlah Ibnu Masud mengingat perkataan Rasulullah SAW mengenai Abu Dzar. Ia datang kepada Rasulullah SAW untuk masuk Islam sebatang kara. Meninggal sebatang kara, dan kelak akan dibangkitkan di akhirat sebatang kara karena hanya dia satu-satunya sahabat Rasulullah SAW yang paling zuhud kehidupannya. Tak ada orang lain yang bisa menyamainya.

Rahmat, kekayaan dan kasih sayang Allah SWT semoga dicurahkan kepadamu Abu Dzar Al Ghifari.

Image-7-Sheikh-Zayed-Grand-Mosque_zps83f420dd.jpg


sahabat memilik iman yang teguh
 
Hudzaifah Ibnul Yaman

Kota Madain sedang ramai menunggu kedatangan seorang wali negeri mereka yang baru saja diangkat oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. Mereka mendengar wali mereka itu seorang yang sholeh, bertaqwa, dan berjasa membebaskan Iraq. Namun, tiba-tiba yang muncul seorang yang hanya menunggang keledai. Kain alas duduknya lusuh, sambil makan roti dan garam.

Orang-orang mengerumuninya. Hudzaifah pun menatap air muka para penduduk. Mereka diam seolah ingin mendengarkan perkataannya.

"Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah!" kata Hudzaifah lantang.
Salah seorang dari penduduk bertanya, "Dimanakah tempat-tempat fitnah itu wahai Abu Abdillah?"

Hudzaifah pun menjawab," Pintu-pintu rumah pembesar. Seorang di antara kalian masuk menemui mereka dan mengatakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka lakukan."

Demikianlah ucapan Hudzaifah ketika pertama kali diangkat menjadi wali negeri di kota Madain. Penduduk pun memandang wali mereka itu dengan kesan pertama sebagai orang yang tak mau ada celah sedikitpun terhadap kemunafikan.


Kebaikan dan Kejahatan

Hudzaifah adalah seorang yang anti kemunafikan. ia bersama saudaranya, Shafwan, menemani bapaknya menghadap Rasulullah SAW dan ketiganya masuk Islam. Semenjak masuk Islam, ia mempelajarinya langsung dari Nabi, dan tak ada persoalan hidupnya yang disembunyikannya. Ia adalah orang yang jujur dan mudah baginya untuk membaca tabiat atau air wajah orang lain.

Hudzaifah pandai mengenal karakter dan sifat manusia. Ia pandai menebak wajah dan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Hal inilah yang diandalkan oleh khalifah Umar bin Khattab ketika memilihnya. Itu lantaran ia sebelumnya telah lama bergaul dengan orang yang jahat dan munafik sehingga mudah mengenalinya. Hudzaifah menuturkan:

"Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya.
Pernah ku bertanya, "Wahai Rasulullah, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini, apakah di balik kebaikan ini ada kejahatan?"
"Ada," jawab Rasulullah SAW.
"Kemudian setelah kejahatan masih ada lagi kebaikan?" tanyaku pula.
"Memang tapi kabur dan bahaya," jawab Rasulullah SAW.
"Apa bahaya itu?"
"Yaitu segolongan umat mengikuti sunnah bukan sunnahku, dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah."
"Kemudian setelah kebaikan tersebut masihkah ada kejahatan?" tanyaku pula.
"Masih," jawab Nabi. "Yakni para tukang seru di pintu neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka akan mereka lemparkan ke neraka!"
Lalu kutanyakan kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian?"
Jawab Rasulullah SAW, "Senantiasa mengikuti jamaah kaum muslimin dan pemimpin mereka."
"Bagaimana kalau mereka tidak punya jamaah dan tidak pula pemimpin?"
"Hendaklah kamu tinggalkan golongan itu semua, walaupun kamu akan tinggal di rumpun kayu sampai kamu menemui ajal dalam keadaan demikian."


Musuh Kemunafikan

Hudzaifah ibnu Yaman menempuh kehidupan dengan mata terbuka dan hati waspada terhadap sumber fitnah dan liku-likunya demi menjaga diri dan memperingatkan manusia terhadap bahayanya. Laksana seorang filsuf, ia berkata:

"Sesungguhnya Allah Ta'ala telah membangkitkan Muhammad SAW, maka diserunya manusia dari kesesatan kepada kebenaran, dari kekafiran kepada keimanan. Lalu yang menerima mengamalkannyalah, hingga dengan kebenaran itu yang mati menjadi hidup dan dengan kebatilan yang hidup menjadi mati. Kemudian masa kenabian berlalu, dan datang masa kekhalifahan menurut jejak beliau, dan setelah itu tiba di jaman kerajaan yang durjana.
Di antara manusia ada yang menentang, baik dengan hati dan lisannya tanpa mengikutsertakan tangannya, maka golongan ini telah meninggalkan suatu cabang dari yang haq.
Dan ada pula yang menentang dengan hatinya semata, tanpa mengikutsertakan tangan dan lisannya, maka golongan ini telah meninggalkan dua cabang dari yang haq.
Dan ada pula yang tidak menentang, baik dengan hati maupun dengan tangan serta lisannya, maka golongan ini adalah mayat-mayat bernyawa."

Hudzaifah juga berbicara tentang hati dan mengenai kehidupannya yang beroleh petunjuk dan yang sesat, katanya:

"Hati itu ada empat macam.
Hati yang tertutup, itulah dia hati orang kafir.
Hati yang dua muka, itulah dia hati orang yang munafik.
Hati yang suci bersih, di sana ada pelita yang menyala, itulah dia hati orang yang beriman.
Dan hati yang berisi keimanan dan kemunafikan. Tamsil keimanan itu adalah laksana sebatang kayu yang dihidupi air yang bersih, sedang kemunafikan itu tak ubahnya bagai bisul yang dialiri darah dan nanah. Maka mana di antara keduanya yang lebih kuat, itulah yang menang."

Lidah Hidzaifah tajam dan pedas. Itu karena pengalamannya yang luas. Hal ini pun membuatnya bertanya kepada Rasulullah SAW:

"Saya datang menemui Rasulullah SAW, kataku padanya, "Wahai Rasulullah, lidahku agak tajam terhadap keluargaku, dan saya khawatir kalau-kalau hal itu akan menyebabkan saya masuk neraka." Maka kata Rasulullah SAW, "Kenapa kamu tidak istigfar? Sungguh saya beristigfar kepada Allah tiap hari seratus kali."

Suatu kala pernah ia mengalami kepahitan dalam hidup saat dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan bapaknya, Husail bin Yabir, terbunuh saat perang Uhud. Saat itu kaum muslim tak mengetahui jika bapaknya juga telah masuk Islam. Hudzaifah melihat dari jauh saat pedang menghujam tubuh bapaknya. "Ayahku, jangan ia ayahku." Tetapi Allah berkehendak lain.

Saat kaum muslimin mengetahui mengenai kesalahan itu, mereka pun diliputi perasaan bersalah dan duka. Namun, Hudzaifah berkata, "Semoga Allah mengampuni tuan-tuan. Ia adalah sebaik-baiknya Penyayang."

Usai perang Rasulullah SAW memerintahkan untuk membayar diyat kepada Hudzaifah atas kematian bapaknya. Namun, ia menolaknya dan menyuruh membagikannya kepada kaum muslimin.


Menjadi Mata-Mata

Sewaktu terjadi perang Khandaq, angin topan dan badai meraung dan menderu. Rasulullah SAW memerintahkan Hudzaifah menjadi mata-mata untuk menyusup ke dalam tenda-tenda kaum kafir yang telah berminggu-minggu tertahan di luar Madinah dan tak bisa masuk kota karena kaum muslim membuat pertahanan berupa parit.

Maka kala malam Hudzaifah mengendap-ngendap meninggalkan Madinah untuk sampai di perkemahan musuh. Kala itu angin kencang, alat penerangan mereka padam. Abu Sufyan yang menjadi panglima kaum Quraisy khawatir kalau-kalau ada penyusup yang datang.

Abu Sufyan menyeru kepada anak buahnya, "Hai segenap golongan Quraisy, hendaklah masing-masing kalian memperhatikan kawan duduknya, dan memegang tangan serta mengetahui siapa namanya!"

Maka secepat kilat, Hudzaifah yang sedang menyusup itu mencari orang-orang di perkemahan musuh yang bisa dipegang tangannya. "Maka segeralah saya menjabat tangan laki-laki yang duduk di dekatku, kataku kepadanya, "Siapa kamu ini?" ujarnya, "Si anu anak si anu."

Demikianlah Hudzaifah bersiasat. Tak satupun tentara musuh menyadari kehadirannya di sana. Sekali Abu Sufyan berseru kepada pasukannya, "Hai orang-orang Quraisy, kekuatan kalian sudah tidak utuh lagi. Kuda-kuda kita telah binasa, demikian juga halnya unta. Bani Quraidhah telah pula menghianati kita sebagaimana kalian saksikan sendiri, kita telah mengalami bencana angin badai, periuk-periuk berpelantingan, api menjadi padam dan kemah-kemah berantakan. Maka berangkatlah kalian, saya pun akan berangkat." Lalu, Abu Sufyan naik ke punggung untanya dan mulai berangkat, diikuti dari belakang oleh tentaranya.

Berkata Hudzaifah:
"Kalau tidaklah pesan Rasulullah SAW kepada saya agar tidak mengambil suatu tindakan sebelum menemuinya lebih dahulu, tentulah saya bunuh Abu Sufyan itu dengan anak panah." Lalu kembalilah Hudzaifah kepada Rasulullah SAW dan menceritakan pengalamannya itu.



Menundukkan Irak

Hudzaifah adalah juga seorang yang mahir bertempur. Ia yang dikenal taat beribadah dan seorang pemikir ini juga dikenal sebagai pemberani di medan perang. Ia merupakan tokoh penting dalam pembebasan Irak.

Pada peperangan besar Nahawand, saat orang Parsi berhasil menghimpun 150 ribu tentara, Amirul Mukminin Umar bin Khattab memilih Nu'man bin Maqarrin sebagai panglima Islam. Kepada Hudzaifah dikirim surat agar ia menuju tempat itu sebagai komandan dari tentara Kufah. Umar menyatakan dalam suratnya:

"Jika kaum muslimin telah berkumpul, maka masing-masing panglima hendaklah mengepalai anak buahnya, sedang yang akan menjadi panglima besar ialah Numan bin Muqarrin. Dan seandainya Nu'man tewas, maka panji-panji komando hendaklah dipegang oleh Hudzaifah dan kalau ia tewas pula maka oleh Jarir bin Abdillah."

Amirul Mukminin masih menyebutkan beberapa nama lagi, ada tujuh orang banyaknya yang akan memegang pimpinan tentara secara berurutan.

Maka berhadapanlah kedua pasukan. Pasukan Parsi 150 ribu orang dan kamu muslimin hanya 30 ribu orang. Nu'man bin Muqarrin tewas dan kepemimpinan pasukan dipegang Hudzaifah. "Allahu Akbar. Ia telah menepati janjiNya. Allahu Akbar telah dibelaNya tentaraNya!" Demikianlah seruan Hudzaifah.

Ia memutar kekang kudanya dan menuju pasukan muslim sembari berseru:

"Hai umat Muhammad SAW, pintu-pintu surga telah terbuka lebar, siap sedia menyambut kedatangan tuan-tuan, jangan biarkan ia menunggu lama. Ayuhlah wahai pahlawan Badar! Majulah pejuang-pejuang Uhud, Khandaq dan Tabuk!"

Hudzaifah telah membakar semangat pasukan muslim. Kemenangan perang Nahawand segera didapat.


Pindah ke Kufah

Segera setelah kaum muslimin di kota Madain di bawah pimpinan Saad bin Abu Waqqash kurang memadai, khalifah Umar memerintahkan untuk pindah ke Kufah. Maka pergilah Hudzaifah bersama Salman bin Ziad untuk menyelidiki lokasi yang tepat untuk bermukim. Hudzaifah menemukan tempat di sebuah padang yang kosong berbatu.

Segera setelah mereka pindah ke Kufah kaum muslimin mendapatkan kebaikan. Mereka yang sakit sembuh, yang lemah menjadi lebih kuat, dan urat mereka berdenyutan menyebarkan arus kesehatan. Hudzaifah mengatakan:

"Tidaklah termasuk yang terbaik di antara kalian yang meninggalkan dunia untuk kepentingan akhirat, dan tidak pula yang meninggalkan akhirat untuk kepentingan dunia, tetapi hanyalah yang mengambil bagian dari kedua-duanya."

Pada suatu hari di antara hari-hari yang datang silih berganti di tahun 36 hijriah, Hudzaifah mendapat panggilan menghadap Ilahi. Saat di akhir hidupnya itulah, datang beberapa orang sahabat kepadanya. Maka ditanyakanlah kepada mereka, "Apakah tuan-tuan membawa kain kafan?"
"Ada," ujar mereka.
"Coba lihat," kata Hudzaifah.
Maka tatkala dilihatnya kain kafan itu baru dan agak mewah, terlukislah pada kedua bibirnya senyuman terakhir bernada ketidaksenangan, katanya, "Kain kafan ini tidak cocok bagiku. Cukuplah bagiku dua helai kain putih tanpa baju. Tidak lama aku akan berada dalam kubur menunggu diganti dengan kain yang lebih baik atau dengan yang lebih jelek."

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Hudzaifah sempat mengucapkan kata-kata:
"Selamat datang wahai maut
Kekasih tiba di waktu rindu
Hati bahagia tak ada keluh kesah atau sesalku."

Lalu ruh suci itupun pergilah membawa kesholehan dan ketaqwaannya.

Salam untukmu Hudzaifah Ibnul Yaman, semoga ridha Allah bersamamu.

Ibn-Tulun_zpscf446022.jpg


sahabat sentiasa ingat akhirat
 
Miqdad Al-Aswad

Seorang penunggang kuda yang pertama-tama dalam pasukan Islam, dialah Miqdad bin Amr. Seorang filsuf yang ucapannya teguh, pembangkit semangat kepahlawanan serta dicintai Allah SWT dan RasulNya. Teringat Miqdad, teringat pulalah pada Al Quran Surat 5 Al Maidah ayat 24, serta buah pikirnya atas ayat ini.

"Mereka berkata, 'Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." QS Al Maidah 24. Ayat ini menceritakan keengganan kaum Bani Israil saat diminta oleh nabi Musa untuk membantunya mengambil alih Palestina.

Sebelum terjadinya perang Badar, jumlah kaum muslimin masih sangat sedikit. Tak memiliki pengalaman perang sama sekali sementara jumlah kaum Quraisy begitu besar, ditambah dengan ketekadan dan kesombongannya.

Rasulullah SAW berkumpul dengan para sahabat. Setiap orang yang berkumpul di situ akan ditanya satu persatu pendapat mereka mengenai perang pertama yang akan dihadapi. Sebelum terjadi pembicaraan, Miqdad telah khawatir bila ada yang mengajukan keberatan sehingga menyurutkan semangat, maka ia telah bersiap untuk menjadi yang awal bicara.

Pertama yang berbicara adalah Abu Bakr Shidiq ra dengan kata-kata yang menentramkan hati. Lalu dilanjutkan oleh Umar bin Khattab ra. Selanjutnya, Miqdad lah yang angkat bicara. Inilah juga buah pikirnya atas surat Al Maidah 24 yang diamalkannya dalam perkataan dan perbuatan:

"Ya, Rasulullah...Teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama Anda!
Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa, 'Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, sedang kami akan duduk menunggu di sini'.
Tetapi kami akan mengatakan kepada Anda, 'Pergilah Anda bersama Tuhan Anda dan berperanglah, sementara kami ikut berjuang di samping Anda!'
Demi yang telah mengutus Anda membawa kebenaran, seandainya Anda membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersama Anda dengan tabah hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan di sebelah kiri Anda, di bagian depan dan di bagian belakang Anda, sampai Allah memberi Anda kemenangan!"

Demikianlah kata-kata Miqdad bin Amr yang terkenal itu dan masih terekam sampai sekarang. Jika bukan karena kata-kata ini, maka tak akan pernah ada perjuangan, perang yang begitu bergelora dari pasukan muslimin dengan tak gentarnya melawan para musuh Allah dan RasulNya. Demikianlah teguh keimanannya mengalahkan rasa takut sehingga menyulutkan sikap kepahlawanan.

"Wahai Rasulullah... Sungguh kami telah beriman kepada Anda dan membenarkan Anda, dan kami saksikan bahwa apa yang Anda bawa itu adalah benar, serta untuk itu kami telah ikatkan janji dan padukan kesetiaan kami.
Maka majulah wahai Rasulullah laksanakan apa yang Anda kehendaki, dan kami akan bersama Anda!
Dan demi yang telah mengutus Anda membawa kebenaran, sekiranya Anda membawa kami menerjuni dan mengarungi lautan ini, akan kami terjuni dan arungi, tidak seorang pun di antara kami yang akan berpaling dan tidak seorang pun yang akan mundur untuk menghadapi musuh.
Sungguh kami akan tabah dalam peperangan, teguh dalam menghadapi musuh dan semoga Allah akan memperlihatkan kepada Anda perbuatan kami yang berkenan di hati Anda. Nah, kerahkanlah kami dengan berkat dari Allah."

Tak ada yang lain selain kegembiraan yang diterima Rasulullah SAW atas pernyataan Miqdad bin Amr.

Siiruu wa absiruu. "Berangkatlah dan besarkanlah hati kalian." Demikianlah disampaikan baginda Rasulullah SAW kepada kaum muslimin kala itu.

Maka berperanglah kaum muslimin yang hanya 300-an di perang Badar melawan 1400 orang pasukan kafir. Anggota pasukan berkuda hanya tiga orang saja, Miqdad bin Amr, Marstsad bin Abi Martsad dan Zubair bin Awam. Sementara pejuang lainnya berjalan kaki dan mengendarai unta.

Ketika membicarakan Miqdad, sang ksatria dari Hawari itu, para sahabat dan teman sejawatnya berkata, "Orang yang pertama memacu kudanya dalam perang sabil ialah Miqdad Ibdul Aswad." Miqdad yang termasuk orang pertama masuk Islam atau orang ketujuh menyatakan keislamannya secara terbuka, dulunya memiliki nama belakang Ibnul Aswad yaitu nama bapak angkatnya. Karena tidak lagi diperbolehkan secara agama, maka digantilah kembali nama belakangnya sesuai nama bapak kandungnya, Amr bin Saad.

Sahabat Rasulullah SAW, Abdullah bin Masud yang terkenal pernah mengatakan mengenai Miqdad, "Saya telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga saya lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini..."


Filsuf dan Ahli Pikir


Miqdad adalah seorang filsuf dan ahli pikir. Hikmat dan filsafat tidak saja terkesan dari ucapannya semata, tetapi terutama pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh dan perjalanan hidup yang tulus dan lurus.

Saat kembali dari sebuah tugas sebagai Amir di suatu daerah, Rasulullah SAW bertanya kepada Miqdad, "Bagaimana pendapatmu menjadi Amir?"

Maka dengan penuh kejujuran dijawabnya, "Anda telah menjadikan daku menganggap diri di atas semua manusia sedang mereka berada di bawahku. Demi yang telah mengutus Anda membawa kebenaran, semenjak saat ini saya tak berkeinginan menjadi pemimpin, sekalipun untuk dua orang untuk selama-lamanya."

Miqdad adalah seorang pemikir yang selalu mempertimbangkan apa yang dilakukannya. Ia menolak untuk bermegah-megah dan menolak jabatan sebagai Amir. "Orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah," demikianlah hadist dari Rasulullah SAW yang selalu diulang-ulangnya. Sebuah jabatan baginya tidak lebih dari sebuah fitnah yang menyesakkan hati.

Pola pikirnya telah menghasilkan sikap hati-hati dan tidak tergesa-gesa, terutama dalam menjatuhkan putusan atas seseorang. Miqdad selalu teringat pesan Rasulullah SAW, "Bahwa hati manusia lebih cepat berputarnya daripada isi periuk di kala menggeletak."

Pada suatu hari duduklah beberapa orang di dekat Miqdad. Lewatlah seorang lelaki dan berkata pada Miqdad, "Sungguh berbahagialah kedua mata ini yang telah melihat Rasulullah SAW, demi Allah, seandainya kami dapat melihat apa yang Anda lihat dan menyaksikan apa yang Anda saksikan..."

Miqdad menghampirinya dan berkata,
"Apa yang mendorong kalian untuk ingin menyaksikan peristiwa yang disembunyikan Allah dari pengelihatan kalian, padahal kalian tidak tahu apa akibatnya bila sempat menyaksikannya?
Demi Allah, bukankah di masa Rasulullah SAW banyak orang yang ditelungkupkan Allah mukanya ke neraka jahanam?
Kenapa kalian tidak mengucapkan puji kepada Allah yang menghindarkan kalian dari malapetaka seperti yang menimpa mereka itu, dan menjadikan kalian sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Nabi kalian?"

Demikianlah pemikiran Miqdad. Setiap orang pasti ingin hidup di masa Rasulullah SAW. Tapi pada jaman Nabi SAW pun ada orang yang tetap kafir masuk neraka. Maka, daripada berandai-andai bisa hidup di jaman Rasulullah SAW, lebih baik bersyukur dan memuji Allah SWT di jaman kapanpun kita hidup.

Pada suatu ketika, Miqdad keluar bersama rombongan tentara yang sewaktu-waktu dapat dikepung oleh musuh. Komandan mengeluarkan perintah agar tidak seorang pun menggembalakan hewan tunggangannya. Tetapi salah seorang anggota tidak mengetahui larangan tersebut sehingga diberi hukuman. Namun, hukuman itu terlalu berat.

Orang itu menangis sambil berteriak-teriak. Miqdad mengambil tangannya untuk dibawanya menghadap komandan. Ia tak segan membela orang yang tertindas saat menerima ketidakadilan. Setelah mengetahui duduk perkaranya, terungkaplah juga kesalahan sang komandan.

"Biar mati, asal Islam tetap jaya!" Begitulah semboyan Miqdad bim Amr. Prinsip yang selalu diwujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kejayaan yang walaupun harus dibalas dengan nyawa sekalipun. Kiranya Miqdad telah memperoleh kehormatan dari Rasulullah SAW dan menerima ucapan,

"Sungguh Allah telah menyuruhku untuk mencintai empat orang dan Allah telah menyampaikan pesanNya bahwa mencintai mereka. Mereka adalah Ali, Al Miqdad, Abu Dzar al Ghifari, dan Salman Al Farisi."

Semoga penghormatan dilimpahkan atasmu di akhirat Miqdad bin Amr. Semoga Allah menurunkan semangat kepahlawanan Miqdad di hati para pejuang dan pembela Islam yang menjadi penerusnya.

umayyad-mosque_zps773698d4.jpg


para sahabat sentiasa zuhud
 
Ikramah bin Abu Jahal

Islam menyaksikan kelahiran banyak tokoh-tokoh terkemuka. Antara yang hebat adalah Ikramah bin Abu Jahal. Seorang pemuda yang pada awalnya sangat menentang Islam. Akhirnya menjadi seorang pembela Islam yang tegar.

Peribadi

Ikramah merupakan seorang pemuda Quraisy yang gagah berani. Beliau lahir dari keturunan bangsawan Quraisy. Sangat dihormati dan dipandang mulia oleh penduduk Mekah pada masa itu. Beliau juga merupakan seorang penungang kuda yang sangat mahir.

Sebelum masuk Islam

Ikramah menolak dakwah Islam kerana terpengaruh dengan sikap ayahnya, Abu Jahal yang menentang Islam. Dek dorongan yang kuat dari ayahnya itu, beliau juga sangat memusuhi Rasulullah SAW dan menyeksa umat Islam yang lain.

Perang Badar menyaksikan Ikramah menjadi sayap kanan kepada ayahnya. Namun, Abu Jahal terbunuh dalam peperangan tersebut. Tambah malang lagi ia disaksikan sendiri oleh Ikramah. Namun ia tidak mampu berbuat apa-apa kerana mahu menyelamatkan diri sendiri.

Permusuhan Islam Semakin Memuncak

Sejak kematian ayahnya itu, kebenciannya pada Islam semakin menebal. Kali ini bukan kerana benci terhadap Islam, tetapi kerana mahu membalas kematian ayahnya itu. Dalam beberapa peperangan melawan kaum muslimin, beliau antara yang berada dibarisan hadapan.

Perang Uhud menyaksikan Ikramah menjadi sayap kiri pasukan Quraisy manakala Khalid al-Walid menjadi sayap kanan memimpin pasukan berkuda. Kedua panglima ini gagah memecah belahkan tentera Islam.

Perang Khandak menyaksikan beliau antara yang semangat ingin memecah banteng pertahanan tentera Islam Madinah pada masa itu. Setiap hari beliau berpusing sekitar parit untuk mencari jalan hendak menembusi Madinah.

Ketika pembukaan kota Mekah berlangsung, Ikramah mengambil keputusan melawan tentera Islam yang hendak masuk ke Mekah. Ikramah mengumpulkan pengikutnya untuk menyerbu tentera Islam yang masuk ke Mekah.

Namun, ia sangat terkejut melihat Khalid al-Walid yang menyerbunya ketika itu. Namun, beliau tetap tekad melawan Islam. Akhirnya tenteranya tewas. Ikramah sempat melarikan diri dari dibunuh.

Beliau merasa sangat menyesal pada masa itu. Mekah tidak lagi aman baginya. Beliau akhirnya menuju ke Yaman.

Isteri Solehah

Ummu Hakim, isteri Ikramah sangat bimbang akan keadaan suaminya. Beliau kemudian mendapat tahu suaminya di Yaman. Beliau ditemani pembantunya, seorang yang berbangsa Rom, untuk menemaninya sampai ke Yaman

Namun, dalam perjalanan, pembantunya itu merayunya berbuat maksiat. Tetapi Ummu Hakim sangat setia pada suaminya itu. Selain itu, dia dapat menanganinya dengan bijaksana. Dia memberi harapan dengan melewat-lewat masa sambil meneruskan perjalanan.

Sesampai sahaja di sebuah perkampungan Arab, Ikramah segera meminta tolong kepada penduduk disitu dan menyatakan niat jahat pembantunya itu. Pembantunya itu akhirnya ditangkap. Dapatlah Ummu Hakim meneruskan perjalanannya dengan aman.

Pertemuan Cinta Suci

Akhirnya Ummu Hakim bertemu dengan suaminya di Pantai Laut Merah. Mereka berpeluk kegembiraan. Ummu Hakim meminta suaminya untuk pulang bersamanya ke Mekah. Sambil menyatakan Rasulullah sudah mengampunkan kesalahannya itu.

Ikramah dengan senang hati mengikut isterinya pulang ke Mekah. Dalam perjalanan pulang, Ummu Hakim menceritakan perihal pembantunya kepada Ikramah. Mereka kemudian singgah di perkampungan Arab tersebut.

Disebabkan terlalu marah dengan pembantunya itu, Ikramah mengambil keputusan membunuh pembantunya itu. Mereka seterusnya meneruskan perjalanan ke Mekah.

Mengucap Kalimah Syahadah

Ketibaan Ikramah dan isterinya disambut oleh Rasulullah dan para sahabat. Mereka seolah-olah sudah menduga kedatangan Ikramah ke Mekah. Baginda Rasulullah gembira dengan kedatangan Ikramah tersebut.

Lantas, dihadapan baginda, Ikramah mengucap dua kalimah syahadah. Ikramah berjanji akan mengubah perangainya dan bersedia membela Islam dengan tangannya. Ikramah mahu bertaubat dan menebus kesilapannya yang dulu.

Pahlawan Islam yang Berani

Ternyata Ikramah menepati kata-katanya itu. Kalau dahulu hidup dan matinya melawan Islam, kini beliau berjuang berhabis-habisan mempertahankan kalimah tauhid Islam.

Perang Yarmuk menyaksikan tentera Islam diserang bertubi-tubi oleh tentera Rom. Ikramah kemudian mara kehadapan menyerang tentera Rom yang sedang menggila. Beliau menghalau pasukan musuh yang sedang mara kehadapan.

Akhirnya, beliau gugur terkorban dalam peperangan tersebut. Meskipun sedemikian, tentera Islam berjaya mendapat kemenangan yang gemilang.

HD-Mosque-AlAqsa-4_zps12368420.jpg


para sahabat menepati janji-janji
 
Asma' binti Abu Bakar As-siddiq

Ibu Teladan Asma' Binti Abu Bakar As Siddiq, Dzatun Nithaqain

“Ya Allah! Kasihanilah dia kerana solat yang panjang diselangi tangisan di tengah kedinginan malam yang sepi, ketika orang-orang lain sedang nyenyak dibuai mimpi. Ya Allah! Kasihanilah dia yang sering menahan lapar dan dahaga ketika bertugas jauh dari Madinah atau Mekah dalam menunaikan ibadah puasa kepadaMu. Ya Allah! Aku menyerahkannya di bawah pemeliharaanMu, aku redha dengan apa yang telah Engkau tetapkan bagiku dan baginya, dan berilah kami pahala orang-orang yang sabar...!" [Doa Asma' radhiallahu anha buat puteranya, Abdullah bin Zubair]

Asma' binti Abu Bakar As-siddiq, saudara kepada Aisyah Ummul Mukminin (isteri Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam), puteri kepada sahabat Rasulullah yang mulia, Saidina Abu Bakar As-siddiq, isteri Zubair bin Awwam, pejuang dan tokoh Islam yang mengutamakan redha Allah di dalam perjuangannya, Merupakan seorang wanita muhajir yang mulia dan bonda kepada Abdullah bin Zubair, salah seorang pejuang yang gugur mempertahankan agamanya, dan sesungguhnya kedudukannya ini cukup untuk mengangkat darjat beliau ke tempat yang tinggi, mulia dan terpuji. Peribadinya dirahmati Allah dengan keistimewaan yang sangat menonjol, setanding dengan para Muslimin di ketika itu, cerdas, cerdik, lincah, pemurah dan berani.

Kedermawanan beliau dapat dilihat jelas melalui ucapan anaknya," Aku belum pernah melihat wanita yang sangat pemurah melebihi ibuku termasuk Aisyah Radhiallahu anha. Beliau (Aisyah) mengumpulkan apa yang diperolehinya sedikit demi sedikit, lantas setelah itu barulah dinafkahkannya kepada mereka yang memerlukannya. Sedangkan ibuku, dia tidak pernah menyimpan sedikit pun sehingga hari esok"

Kebijaksanaan Dzatun Nithaqain

Kecemerlangan berfikir Asma Radhiallahu anha terpancar dari sikapnya yang penuh prihatin dan perhitungan yang bijaksana. Peristiwa Hijrah Abu Bakar menyaksikan pengorbanan seorang sahabat demi Islam, tidak meninggalkan sesen pun harta untuk keluarganya melainkan dibelanjakan keseluruhannya untuk Allah dan rasulNya. Ketika Abu Quhafah (ayah kepada Abu Bakar radhiallahu anhu) yang masih musyrik menemui keluarganya, beliau berkata kepada Asma',

"Demi Allah! Tentu ayahmu telah mengecewakanmu dengan hartanya, di samping akan menyusahkanmu dengan pemergiannya!". Jawab wanita yang mulia ini, "Tidak wahai datuk! sekali-kali tidak! Beliau banyak meninggalkan wang buat kami" ujarnya sambil menghibur dan menenangkan datuknya. Dikumpulkannya batu-batu kerikil yang kemudiannya dimasukkan ke dalam lubang tempat kebiasaannya menyimpan wang. Kemudian dibawakan datuknya yang buta itu ke tempat simpanan tersebut, lantas berkata, "Lihatlah datukku! Beliau banyak meninggalkan wang buat kami!". Perkataan tersebut ternyata berjaya meyakinkan Abu Quhafah. Maksud perbuatan tersebut adalah untuk menyenangkan hati datuknya, agar tidak bersusah hati memikirkan hal tersebut. Malah, Asma' juga tidak menginginkan bantuan dari orang musyrik meskipun datuknya sendiri. Inilah bukti yang menunjukkan besarnya perhatian beliau terhadap dakwah dan kepentingan kaum Muslimin.

Diberi julukan sebagai 'dzatun nithaqain' oleh Rasulullah yang membawa erti "wanita yang mempunyai dua tali pinggang", sebagai peringatan terhadap peristiwa Hijrah yang menyaksikan pengorbanan dan keberanian Asma' yang tiada tolok bandingannya. Beliau bersusah payah menyediakan bekalan makanan dan minuman buat Rasulullah dan Abu Bakar Radhiallahu anhu di saat genting seperti itu. Beliau mengoyakkan ikat pinggangnya kepada dua untuk dijadikan tali pengikat untuk mengikat bekalan makanan dan minuman tersebut, sehingga kerana peristiwa itu Rasulullah mendoakan beliau agar digantikan tali pinggang tersebut dengan yang lebih baik dan lebih indah di syurga kelak.

Tidak hanya itu pengorbanan Asma Radhiallahu anha. Peristiwa hijrah ini turut menyaksikan kekuatan berfikir dan perancangan strategi yang dimiliki oleh seorang Muslimah hasil dari aktiviti politik dan kecemerlangan berfikir yang diadun dengan ketaqwaan dan keimanan yang teguh. Asma' Radhiallahu anha bukan sekadar menjadi penghantar makanan kepada dua orang sahabat yang berperanan penting bagi umat Islam, malah beliau juga menyampaikan berita-berita penting tentang rencana-rencana pihak musuh terhadap kaum Muslimin. Dengan kehamilannya ketika itu, Asma' mengambil peranan yang menjanjikan risiko tinggi, di mana bukan saja nyawanya menjadi taruhan, malah lebih dari itu, nyawa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam dan ayahnya turut sama terancam. Memikirkan kemarahan musuh Islam lantaran lolosnya Rasulullah dari kepungan, kafir Quraisy pastinya akan berusaha bersungguh-sungguh mencari-cari Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam untuk dibunuh kerana bencinya mereka terhadap dakwah Islam dan pejuang-pejuangnya.

Di saat-saat genting seperti itu, Asma' mampu meramal segala kemungkinan yang bakal berlaku, dan dengan kecerdikan dan penuh perhitungan, beliau berjalan menuju Gua Tsur sambil menggembala kambing-kambingnya berjalan di belakangnya. Taktik ini dilakukan untuk mengaburi mata pihak musuh kerana jejaknya terhapus oleh jejak-jejak kambing gembalaannya itu. Tindakan ini belum tentu mampu dilakukan oleh seorang lelaki yang berani sekalipun, lantaran hal tersebut bakal mengundang bahaya, kezaliman, dan kekejaman orang-orang kafir Quraisy.

Permasalahan ini tidak cukup sampai di situ. Setelah kejayaan Rasulullah dan Abu Bakar keluar dari tempat persembunyian dan berhasil berhijrah ke Madinah, Asma' Radhiallahu anha dan keluarganya didatangi beberapa orang Quraisy, di antaranya Abu Jahal yang telah bertindak kasar menampar pipi Asma’ Radhiallahu anha dengan sekali tamparan yang mengakibatkan subangnya terlepas!. Asma' menjawab dengan penuh diplomasi saat beliau ditanya tempat persembunyian Rasulullah dan ayahnya dengan berkata," Demi Allah, aku tidak tahu di mana ayahku berada sekarang!"

Hijrah Asma' Radhiallahu anha dan suaminya ke Madinah berlaku selang beberapa lama dari hijrah sebelumnya, di mana pada ketika itu Asma' sedang sarat mengandungkan Abdullah bin Zubair dan hanya menanti detik-detik kelahirannya. Perjalanan yang jauh dan berbahaya ditempuhi jua sehinggalah angkatan para sahabat tiba di Quba'. Kelahiran anak pasangan sahabat ini disambut dengan penuh kesyukuran dan kegembiraan. Dialah bayi pertama yang dilahirkan di Madinah.

Sebaik-baik Ummu wa Rabbatul Bait

Seorang muhajirah yang agung, antara wanita yang awal memeluk Islam, sangat memuliakan suaminya meskipun Zubair hanya seorang pemuda miskin yang tidak mampu menyediakan pembantu buatnya. Hatta tidak mempunyai harta yang dapat melapangkan kehidupan keluarganya, melainkan hanya seekor kuda yang dijaganya dengan baik. Beliaulah isteri yang sentiasa sabar dan setia berkhidmat untuk suaminya, sanggup bekerja keras merawat dan menumbuk sendiri biji kurma untuk makanan kuda suaminya di saat Zubair sibuk menjalankan tugas-tugas yang diperintah Rasulullah kepadanya.

Di dalam didikannya, keperibadian Abdullah bin Zubair dibentuk. Beliau adalah susuk seorang ibu yang sangat memahami peranannya dalam melahirkan generasi utama yang berkualiti, generasi yang menjadikan kecintaan kepada Allah dan RasulNya di atas segala-galanya, sama ada harta, isteri, keluarga mahupun segala jenis perbendaharaan dunia. Beliau mencetak keperibadian generasi yang siap berjuang membela bendera Islam dan kalimah La ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Keperibadian seperti ini terpancar jelas di dalam diri puteranya, Abdullah bin Zubair. Hal ini dapat kita teladani melalui kisah pertemuan terakhir di antara seorang ibu dan anak yang saling menyayangi dan mencintai satu sama lain, semata-mata kerana kecintaan keduanya kepada Allah Subhanahu wa Taala dan RasulNya.

Abdullah: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, wahai ibunda!

Asma': Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, ya Abdullah! Mengapa engkau datang ke sini di saat-saat seperti ini? Padahal batu-batu besar yang dilontarkan Hajjaj kepada tenteramu menggetarkan seluruh Kota Mekah?

Abdullah: Aku hendak bermusyawarah dengan ibu

Asma': Tentang masalah apa?

Abdullah: Tenteraku banyak meninggalkanku. Mereka membelot dariku ke pihak musuh. Mungkin kerana mereka takut terhadap Hajjaj atau mungkin juga kerana mereka menginginkan sesuatu yang dijanjikannya sehingga anak-anak dan isteriku sendiri berpaling daripadaku. Sedikit sekali jumlah tentera yang tinggal bersamaku. Sementara utusan Bani Umayyah menawarkan kepadaku apa saja yang ku minta berupa kemewahan dunia asal saja aku bersedia meletakkan senjata dan bersumpah setia mengangkat Abdul Malik bin Marwan sebagai khalifah. Bagaimana pendapatmu wahai ibu?

Asma': Terserah kepadamu Abdullah! Bukankah engkau sendiri yang mengetahui tentang dirimu? Jika engkau yakin bahawa engkau mempertahankan yang haq dan mengajak kepada kebenaran, maka teguhkanlah pendirianmu sepertimana para perajuritmu yang telah gugur dalam mengibarkan bendera agama ini! Akan tetapi, jika engkau menginginkan kemewahan dunia, sudah tentu engkau adalah seorang anak lelakiku yang pengecut! dan bererti engkau sedang mencelakakan dirimu sendiri dan menjual murah harga kepahlawananmu selama ini, anakku!

Abdullah: Akan tetapi, aku akan terbunuh hari ini ibu.

Asma' : Itu lebih baik bagimu daripada kepalamu akan dipijak-pijak juga oleh budak-budak Bani Umayyah dengan mempermainkan janji-janji mereka yang sangat sukar untuk dipercayai!

Abdullah: Aku tidak takut mati, Ibu. Tetapi aku khuatir mereka akan mencincang dan merobek-robek jenazahku dengan kejam!

Asma': Tidak ada yang perlu ditakuti perbuatan orang hidup terhadap kita sesudah kita mati. Kambing yang sudah disembelih tidak akan merasa sakit lagi ketika kulitnya dikupas orang!

Abdullah: Semoga Ibu diberkati Allah. Maksud kedatanganku hanya untuk mendengar apa yang telah ku dengar dari ibu sebentar tadi. Allah Maha Mengetahui, aku bukanlah orang yang lemah dan terlalu hina. Dia Maha Mengetahui bahawa aku tidak akan terpengaruh oleh dunia dan segala kemewahannya. Murka Allah bagi sesiapa yang meremehkan segala yang diharamkanNya. Inilah aku, anak Ibu! Aku selalu patuh menjalani segala nasihat Ibu. Apabila tewas, janganlah ibu menangisiku. Segala urusan dari kehidupan Ibu, serahkanlah kepada Allah!

Asma': Yang ibu khuatirkan andainya engkau tewas di jalan yang sesat.

Abdullah: Percayalah Ibu! Anakmu ini tidak pernah memiliki fikiran sesat untuk berbuat keji. Anakmu ini tidak akan menyelamatkan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang-orang Muslim yang berbuat kebaikan. Anakmu ini mengutamakan keredhaan ibunya. Aku mengatakan semua ini di hadapan ibu dari hatiku yang putih bersih. Semoga Allah menanamkan kesabaran di dalam sanubari Ibu.

Asma': Alhamdulillah! segala puji bagi Allah yang telah meneguhkan hatimu dengan apa yang disukaiNya dan yang Ibu sukai pula. Rapatlah kepada Ibu wahai anakku, Ibu ingin mencium baumu dan menyentuhmu. Agaknya inilah saat terakhir untuk ibu memelukmu..."

Abdullah:Jangan bosan mendoakan aku Ibu!

Sebelum matahari terbenam di petang itu, Abdullah bin Zubair syahid menemui Rabbnya. Dia kembali kerana mengutamakan redha Allah dan redha ibunya yang beriman. Diriwayatkan, bahawa Al-Hajjaj berkata kepada Asma' setelah Abdullah terbunuh :"Bagaimanakah engkau lihat perbuatanku terhadap puteramu ?" Asma' menjawab :"Engkau telah merosak dunianya, namun dia telah merosak akhiratmu." Asma' wafat di Mekkah dalam usia 100 tahun, sedang giginya tetap utuh, tidak ada yang tanggal dan akalnya masih sempurna. [Mashaadirut Tarjamah : Thabaqaat Ibnu Saad, Taarikh Thabari, Al-Ishaabah dan Siirah Ibnu Hisyam]. Semoga Allah meredhai kedua hambaNya, Asma' dan puteranya.

Khatimah

Inilah sebuah teladan yang sangat berharga buat kita semua. Asma' Radiallahu anha bukan sahaja menunjukkan keberaniannya, kepatuhannya kepada Allah, suami dan ayahnya, juga pengorbanannya yang besar, sikap dermawannya dan kecemerlangan berfikir yang menjadi cermin keperibadiannya. Bersama suaminya, Zubair bin Awwam, terbentuklah keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, bukan kerana harta yang melimpah ruah, tetapi limpahan barakah dan rahmat dari Allah Subhanahu wa Taala kerana ahli keluarganya yang menjadikan kecintaan mereka hanya kepada Allah dan Rasul di atas kecintaan-kecintaan lainnya. Dari keluarga ini, lahirlah seorang syuhada yang gagah berani, tidak takut terhadap apapun kecuali Allah Subhanahu wa Taala Semoga kisah Asma’ Abu Bakar ini akan sentiasa mekar di jiwa kita sebagai motivasi diri dalam menyemai kecintaan serta menjalankan kewajipan terhadap Rabbul Izzati.

The_Holy_Mosque_in_Mecca_zps8f98a02c.jpg


para sahabat beri nasihat secara berhikmah
 
Abdullah ibn Umar

Abdullah ibn Umar ra.- Sahabat Rasul, Sahabat Malam

Perang Khandak berkecamuk. Beredar kabar, siapa saja lelaki berusia 15 tahun ke atas berhak ikut berjihad. Mendengar itu seorang pemuda berseri-seri. Usianya saat itu masuk 15 tahun. Ia segera mendaftarkan diri. Itulah idamannya selama ini: berjihad bersama Rasulullah. Keikutsertaannya dalam berbagai medan jihad tak pernah lepas dalam sejarah hidup pemuda itu. Saat perang membuka kota Mekah (Futuh Makkah), ia berusia 20 tahun dan termasuk pemuda yang menonjol di medan perang. Dialah, Abdullah ibn Umar, atau Ibn Umar.

"Penting sekali mendapatkan pengakuan (baiat) dari penduduk Madinah. Yang paling kukhawatirkan ada tiga orang: Husain ibn Ali, Abdullah ibn Zubair, dan Abdullah ibn Umar," Muawiyah berwasiat kepada anaknya, Yazid, yang telah dia nobatkan sebagai putra mahkota. Tiga orang itu telah menyatakan penentangannya pada pengangkatan Yazid ibn Muawiyah.

"Adapun Husain ibn Ali, aku berharap kamu dapat mengatasinya. Adapun Abdullah ibn Zubair, kalau kamu berhasil mengatasinya, kamu harus menghancurkannya hingga berkeping-keping. Sedangkan Ibn Umar, orang ini sebenarnya terlalu sibuk dengan urusan akhirat. Asal kamu tidak mengusik urusan akhiratnya ini, maka ia akan membiarkan urusan duniamu."

Berkawan Malam. Menurut sebagian penulis riwayat, kaum muslimin masa itu sedang jaya-jayanya. Muncul daya tarik harta dan kedudukan membuat sebagian orang tergoda memperolehnya. Maka para sahabat melakukan perlawanan pengaruh materi itu dengan mempertegas dirinya sebgai contoh gaya hidup zuhud dan salih, menjauhi kedudukan tinggi.

Ibn Umar pun dikenal sebagai pribadi yang berkawan malam untuk beribadah, dan berkawan dengan dinihari untuk menangis memohon ampunan-Nya. Akan halnya soal salat malam ini, ada riwayatnya. Di masa hayat Rasulullah, Ibn Umar mendapat karunia Allah. Setelah selesai salat bersama Rasulullah, ia pulang, dan bermimpi. "Seolah-olah di tanganku ada selembar kain beludru. Tempat mana saja yang kuingini di surga, kain beledru itu akan menerbangkanku ke sana. Dua malaikat telah membawaku ke neraka, memperlihatkan semua bagian yang ada di neraka. Keduanya menjawab apa saja yang kutanyakan mengenai keadaan neraka," begitulah diungkapkan Ibn Umar kepada saudarinya yang juga istri Rasul, Hafshah, keesokan harinya.

Hafshah langsung menanyakan mimpi adiknya kepada Rasulullah. Rasulullah SAW bersabda, ni’marrajulu 'abdullah, lau kaana yushallii minallaili fayuksiru, akan menjadi lelaki paling utamalah Abdullah itu, andainya ia sering salat malam dan banyak melakukannya. Semenjak itulah, sampai meninggalnya, Ibn Umar tak pernah meninggalkan qiyamul lail, baik ketika mukim atau bersafar. Ia demikian tekun menegakkan salat, membaca Al-Quran, dan banyak berzikir menyebut asma Allah. Ia amat menyerupai ayahnya, Umar ibn Khatthab, yang selalu mencucurkan airmata tatkala mendengar ayat-ayat peringatan dari Al-Quran.

Soal ini, 'Ubaid ibn 'Umair bersaksi, "Suatu ketika kubacakan ayat ini kepada Abdullah ibn Umar." 'Ubaid membacakan QS 4:41-42 yang artinya: Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami datangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat, dan Kami mendatangkan kamu (Muhamad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). Di hari itu orang-orang kafir dan yang mendurhakai Rasul berharap kiranya mereka ditelan bumi, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun." Maka Ibn Umar menangis hingga janggutnya basah oleh air mata.

Pada kesempatan lain, Ibn Umar tengah duduk di antara sahabatnya, lalu membaca QS 83:-6 yang maknanya: Maka celakalah orang-orang yang berlaku curang dalam takaran. Yakni orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain meminta dipenuhi, tetapi mengurangkannya bila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain. Tidakkah mereka merasa bahwa mereka akan dibangkitkan nanti menghadapi suatu hari yang dahsyat, yaitu ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam. Lantas Ibn Umar mengulang bagian akhir ayat ke enam, "yauma yaquumun naasu lirabbil 'alamiin", ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam. Sembari air matanya bercucuran, sampai akhirnya ia jatuh karena sekapan rasa duka mendalam dan banyak menangis.

Abdullah ibn Umar adalah salah satu sahabat Nabi yang berhati lembut dan begitu mendalam cintanya kepada Rasulullah. Sepeninggal Rasulullah SAW, apabila ia mendnegar nama Rasulullah disebut di hadapannya, ia menangis. Ketika ia lewat di sebuah tempat yang pernah disinggahi Rasulullah, baik di Mekah maupun di Madinah, ia akan memejamkan matanya, lantas butiran air bening meluncur dari sudut matanya.

Sebagai sahabat Rasul, ahli ibadah dan dikaruniai mimpi yang haq, karena mimpinya dibenarkan Rasulullah, ia menjadi sosok yang tak punya minat lagi kepada dunia. Sebuah kecenderungan yang sudah nampak sejak ia remaja, ketika pertama kali gairahnya bangkit untuk ikut berjihad.

Dermawan. Bagaimana mungkin Ibn Umar dikatakan tak berhasrat pada dunia, sedang ia pedagang yang sukses? Bisa saja. Sebagai pedagang ia berpenghasilan banyak karena kejujurannya berniaga. Selain itu ia menerima gaji dari Baitul Maal. Tunjangan yang diperolehnya tak sedikitpun disimpan untuk dirinya sendiri, tetapi dibagi-bagikannya kepada fakir miskin. Berdagang buat Ibn Umar hanya sebuah jalan memutar rezeki Allah di antara hamba-hambanya.

Suatu ketika Ibn Umar menerima uang sebanyak 4.000 dirham dan sehelai baju dingin. Sehari kemudian, periwayat yang bernama Ayub ibn Wail Ar-Rasibi melihat Ibn Umar sedang membeli makanan untuk hewan tunggangannya dengan berutang. Maka Ayub ibn Wail ini mencari tahu kepada keluarganya. Bukankah Abu Abdurrahman (maksudnya Ibn Umar) menerima kiriman empat ribu dirham dan sehelai baju dingin? Mengapa dia berutang untuk membeli pakan hewan tunggangannya? "Tidak sampai malam hari, uang itu telah habis dibagikannya. Mengenai baju dingin itu, mula-mula dipakainya, lalu ia pergi keluar, saat kembali ia sudah tak lagi memakai baju dingin itu. Ketika kami tanya ke mana baju dingin itu, Ibn Umar bilang sudah diberikannya kepada seorang miskin," demikian jawab keluarga Ibn Umar.

Segera saja Ayub ibn Wail bergegas menuju pasar. Ia berdiri di tempat yang agak tinggi dan berteriak. "Hai kaum pedagang, apa yang Tuan-tuan lakukan terhadap dunia. Lihatlah Ibn Umar, datang kiriman kepadanya sebanyak empat ribu dirham, lalu dibagi-bagikannya hingga esok pagi ia membelikan hewan tunggangannya makanan secara berutang."

Kedermawanan Ibn Umar antara lain juga ditunjukkan dengan sikap hanya memberi mereka yang fakir miskin. Ia pun jarang makan sendirian. Anak-anak yatim atau golongan melarat kerap diajaknya makan bersama-sama. Ia pernah menyalahkan anak-anaknya sendiri lantaran mengundang jamuan makan untuk kalangan hartawan. "Kalian mengundang orang-orang yang dalam kekenyangan, dan kalian biarkan orang-orang kelaparan."

Sang dermawan memang bukan mencari nama dengan kedermawanannya. Dalam kesehariannya, kaum dhuafa akrab dengan Ibn Umar. Sifat santunnya, terutama kepada fakir miskin, bukan basa-basi. Orang-orang fakir dan miskin sudah duduk menunggu di tepi jalan yang diduga bakal dilewati Ibn Umar, dengan harapan mereka akan terlihat oleh Ibn Umar dan diajak ke rumahnya.

Hati-hati. Adalah Abdullah ibn Umar orangnya, yang kalau dimintai fatwa enggan berijtihad. Karena takut berbuat kesalahan, meskipun ajaran Islam yang diikutinya sejak berusia 13 tahun memberi satu pahala bagi yang keliru berijtihad, dan dua pahala bagi yang benar ijtihadnya. Karena khawatir keliru berijtihad, ia pun menolak jabatan kadi atau kehakiman. Padahal ini jabatan tertinggi di antara jabatan kenegaraan dan kemasyarakatan, jabatan yang juga "basah".

Pernah khalifah Utsman r.a. mau memberi jabatan kadi, tapi Ibn Umar menolak. semakin Khalifah mendesak, Abdullah ibn Umar makin tegas menolak.

"Apakah antum tak hendak menaati perintahku?"

"Sama sekali tidak. Hanya, saya dengar para hakim itu ada tiga macam: pertama hakim yang mengadili tanpa ilmu, maka ia dalam neraka; kedua, yang mengadili berdasarkan nafsu, ia pun dalam neraka; dan ketiga, yang berijtihad sedang ijtihadnya betul, maka ia dalam keadaan berimbang, tidak berdosa tapi tidak pula beroleh pahala. Dan saya atas nama Allah memohon kepada antum agar dibebaskan dari jabatan itu."

Khalifah menerima keberatan itu dengan syarat, Ibn Umar tak menyamnpaikan alasan penolakannya kepada siapa pun. Sebab, jika seorang yang bertakwa lagi salih mengetahui hal ini, niscaya akan mengikuti jejak Ibn Umar. Kalau sudah demikian, pupuslah harapan khalifah mendapatkan kadi yang takwa dan salih.

Penolakan itu sendiri sebenarnya karena Ibn Umar masih melihat di antara sahabat Rasulullah masih banyak yang salih dan wara’ yang lebih pantas memegang jabatan itu. Ibn Umar sendiri sadar, penolakan itu takkan sampai berakibat jatuhnya posisi kadi ke tangan yang tak pantas memegangnya.

Calon Khalifah Ketiga. Penerus kekhalifahan Islam sepeninggal Abu Bakar Ash-Shiddiq, adalah Umar ibn Khattab. Khalifah Umar ibn Khattab suatu ketika mendapat serangan mematikan dari Abu Lu’lu’ah. Dalam keadaan terluka parah, sejumlah sahabat menemui Khalifah memberi saran. "Wahai Amirul Mu’minin, bukankah sebaiknya engkau segera menunjuk salah seorang wakil yang akan menggantikan engkau?"

"Siapakah orangnya? Andaikata Abu Ubaidah Ibn Jarrah masih hidup, niscaya aku akan tunjuk dia sebagai pengganti." Salah satu sahabat berkata, "Saya akan menunjukkan nama pengganti itu. Tunjuklah Abdullah ibn Umar."

"Demi Allah, engkau keliru. Aku tak bermaksud menunjuk orang yang kau usulkan itu. Apa yang kau harapkan dari keluargaku untuk pekerjaan ini, sudah cukuplah dan dari keluargaku aku seorang diri saja yang akan diperiksa Allah dan yang akan ditanya tentang hal-hal mengenai umat Muhamad saw ini."

Kondisi Umar terus memburuk, belum juga ada nama penggantinya. Sekali lagi para sahabat menemui Khalifah, mendorong menunjuk calon penerusnya. Khalifah pun memberi nama-nama calon itu. "Hendaklah kamu berpegang teguh kepada calon yang terdiri dari beberapa orang, dan orang yang kucalonkan ini ialah beberapa orang yang sewaktu Rasulullah wafat, beliau rela kepada orang-orang ini, dan orang-orang ini termasuk yang dijanjikan Rasulullah masuk surga. Mereka ialah Ali ibn Abi Thalib, Utsman ibn Affan, Saad ibn Abi Waqqash, Abdurrahman ibn Auf, Thalhah ibn Ubaidillah, dan Abdullah ibn Umar."

Akhirnya masuk juga nama anak Umar ini. Tapi, kata Umar, Ibn Umar hanya berhak memilih, tapi tidak berhak dipilih. Menurut periwayat, Abdullah ibn Umar sampai mendorong terpilihnya Usman ibn Affan dengan pertimbangan, Utsman ibn Affan luas ilmunya, wara’, dan memiliki kelebihan dan keistimewaan. Antara lain, Utsman ibn Affan menjadi suami dari dua anak perempuan Rasulullah SAW.

Tak heran, dalam masa kepemimpinan Utsman ibn Affan, Abdullah ibn Umar kerap dimintai nasihat. Puncaknya, Utsman meminta Ibn Umar memegang jabatan kadi yang kemudian ditolaknya dengan hujjah, alasan yang kuat.

Syahid setelah Mengingatkan Penguasa. Namanya tak kalah terkenal dibanding ayahandanya, Umar ibn Khattab. Ia lahir di Mekah, 10 tahun sebelum Hijrah atau 612 Masehi. Dalam usia 10 tahun, Abdullah cilik ikut ayahnya berhijrah. Abdullah adalah contoh sahabat Nabi yang amat terpelajar di Madinah, di masa kejayaan Islam. Selain Basrah, Madinah memang tumbuh menjadi pusat pemikiran Islam pasca masa Nabi SAW.

Kegairahan Abdullah seolah melengkapi kekurangan yang ada di kalangan penuntut ilmu-ilmu Islam, karena ia mendalami segi ajaran Islam yang saat itu kurang memperoleh perhatian serius. Yakni tradisi atau hadis Rasulullah saw. Menurut para periwayat, Abdullah mendapatkan inspirasi luar biasa karena ia tinggal di Madinah, yakni tumbuhnya kecenderungan mendengarkan, mencatat, dan mengkritisi berbagai hal mengenai Nabi, termasuk anekdot-anekdot yang sepeninggal Nabi banyak diungkapkan penduduk Madinah.

Putra Umar ini perintis awal bersama sahabat yang lainnya yakni Abu Hurairah dalam bidang hadis (tradisi) Nabi SAW. Ia periwayat hadis kedua terbanyak setelah Abu Hurairah, yakni meriwayatkan 2.630 hadis. Ia pun hapal Quran secara sempurna. Selain itu, ia banyak menerima hadis langsung dari Nabi SAW, dari para sahabat Nabi termasuk ayahnya, Umar ibn Khattab ra.

Selama 60 tahun setelah Nabi wafat, ia menjadi salah satu mata air pengetahuan menyangkut hadis yang banyak dihapalnya, baik karena ia mendengar langsung dari Nabi atau bertanya kepada orang-orang yang menghadiri majelis Nabi menyangkut tutur dan perbuatan Nabi. Ia kerap diminta fatwa dan pertimbangan, tetapi ia juga saking berhati-hatinya ia menolak diminta ijtihadnya. Kecintaannya kepada Rasulullah, kemampuannya mengingat tutur dan perbuatan Nabi, menjaga substansi ajaran sebagaimana dulu Nabi menyampaikannya, membuat Abdullah ibn Umar bersama Abdullah ibn Abbas dianggap pemula bagi golongan yang kemudian disebut golongan sunni.

Abdullah ibn Umar memang hidup dalam beberapa masa kekhalifahan, di antaranya ada masa-masa penuh pergolakan antar kelompok Islam. Menghadapi situasi keras, Ibn Umar tak berubah menjadi kasar dan pembalas. Suatu ketika, Gubernur Mu’awiyah, Al-Hajjaj ibn Yusuf, yang berkedudukan di Hijaz tengah berpidato di masjid. Sang gubernur terkenal kejam dan fasik. Kebetulan Abdullah ibn Umar ada di masjid itu.

Saat itulah, orang-orang semasanya mendapat bukti, betapa kelembutan dan kesabaran Ibn Umar, tidak berarti lemah terhadap kezaliman. Dengan tenang, Ibn Umar berdiri masih saat Gubernur Hajjaj masih di mimbar, dan berkata, "Engkau musuh Allah. Engkau menghalalkan barang yang diharamkan Allah. Engkau meruntuhkan rumah Allah, dan engkau membunuh banyak wali Allah." Al Hajjaj menyetop pidatonya. "Siapakah orang bicara tadi?" Seseorang menjawab, itu Abdulah ibn Umar. Lalu Hajjaj meneruskan pidatonya. "Diam, wahai orang yang sudah pikun."

Seteleh Al-Hajjaj kembali ke kantornya, diperintahkannya pembantunya menikam Abdullah ibn Umar dengan pisau beracun. Si pembantu berhasil menorehkan pisau beracun itu ke tubuh Abdullah ibn Umar yang lantas jatuh sakit. Di pembaringan, Ibn Umar dijenguk Al-Hajjaj. Al-Hajjaj beruluk salam, Ibn Umar tak menjawab. Al-Hajjaj menanyakan sesuatu, berbicara dengan Abdullah ibn Umar tetapi Abdullah ibn Umar tak menjawab sepatah katapun.

Ibn Umar wafat tahun 72 Hijriyah dalam usia 84 tahun. Putra Umar ibn Khattab sebagaimana ayahnya, sama-sama penggiat Islam, telah pergi. Kalau Umar ibn Khattab hidup di suatu masa di mana banyak pula sahabat Rasulullah yang wara’ dan ahli ibadah, maka orang-ornag semasa Abdullah ibn Umar mengatakan, zaman ketika Ibn Umar hidup sulit menemukan sosok yang sealim dan seteguh dia.

Menghindari Jabatan, Antikekerasan

Benar, Ibn Umar bergairah kala panggilan jihad berkumandang. Tetapi, sungguh suatu kenyataan, ia anti kekerasaan, terlebih ketika yang bertikai adalah sesama golongan Islam. Kendati ia berulangkali mendapat tawaran berbagai kelompok politik untuk menjadi khalifah.

Hasan r.a. meriwayatkan, tatkala Utsman ibn Affan terbunuh, sekelompok umat Islam memaksanya menjadi khalifah. Mereka berteriak di depan rumah Ibn Umar, "Anda adalah seorang pemimpin, keluarlah agar kami minta orang-orang berbai’at kepada anda." Tapi Ibn Umar menyahut, "Demi Allah, seandainya bisa janganlah ada walau darah setetas tertumpah disebabkan daku." Massa di luar mengancam. "Anda harus keluar. Atau, kalau tidak kami bunuh di tempat tidurmu." Diancam begitu, Umar tak tergerak. Massa pun bubar.

Sampai suatu ketika datang lagi ke sekian kali tawaran menjadi khalifah. Ibn Umar mengajukan syarat, yakni asal ia dipilih seluruh kaum muslimin tanpa paksaan. Jika bai’at dipaksakan sebagian orang atas sebagian lainnya di bawah ancaman pedang, ia akan menolak jabatan khalifah yang dicapai dengan cara semacam itu. Saat itu, sudah pasti syarat ini takkan terpenuhi. Mereka sudah terpecah menjadi beberapa firqah, saling mengangkat senjata pula. Ada yang kesal lantas menghardik Ibn Umar.

"Tak seorang pun lebih buruk perlakuannya terhadap umat manusia, kecuali engkau."

"Kenapa? Demi Allah tak pernah aku menumpahkan darah mereka, tidak pula aku berpisah dengan jamaah mereka apalagi memecah-mecah persatuan mereka?" saut Ibn Umar heran.

"Seandanya kamu mau menjadi khalifah, tak seorang pun akan menentang."

"Saya tak suka kalau dalam hal ini seorang mengatakan setuju, sedang yang lain tidak."

Lagi-lagi, Ibn Umar menghindari posisi pemimpin tertinggi umat Islam ini. Meski demikian, saat ia berusia lanjut pun harapan orang dipimpin Ibn Umar tetap ada. Ketika Muawiyah II putera Yazid beberapa kali menduduki jabatan khalifah. Datang Marwan menemui Ibn Umar. "Ulurkan tangan Anda agar kami berbaiat. Anda adalah pemimpin Islam dan putra dari pemimpinnya."

"Lantas apa yang kita lakukan terhadap orang-orang masyriq?"

"Kita gempur mereka sampai mau berbaiat."

"Demi Allah, aku tak sudi dalam umurku yang tujuhpuluh tahun ini, ada seorang manusia yang terbunuh disebabkan olehku."

Mendengar jawaban ini, Marwan pun berlalu, dan melontarkan syair.

"Api fitnah berkobar sepeninggal Abu Laila, dan kerajaan akan berada di tangan yang kuat lagi perkasa." Abu Laila yang dimaksudkannya, ialah Muawiyah ibn Yazid.

Sikap penolakan Ibn Umar ini karena ia ingin netral di tengah kekalutan para pengikut Ali dan Muawiyah. Sikap itu diungkapkannya dengan pernyataan, "Siapa yang berkata 'Marilah salat’, akan kupenuhi. Siapa yang berkata 'Marilah menuju kebahagiaan’, akan kuturuti pula. Tetapi siapa yang mengatakan 'Marilah membunuh saudaramu seagama dan merampas hartanya’ aku katakan: tidak!"

Ini bukan karena Ibn Umar lemah, tapi karena ia sangat berhati-hati, dan amat sedih umat Islam berfirkah-firkah. Ia tak suka berpihak pada salah satunya. Pernah, Abul 'Ali Al-Barra berada di belakang Ibn Umar tanpa sepengetahuannya. Didengarnya Ibn Umar bicara pada dirinya sendiri, "Mereka letakkan pedang-pedang mereka di atas pundak-pundak lainnya, mereka berbunuhan lalu berkata, hai Abdulah ibn Umar ikutlah dan berikan bantuan. Sungguh menyedihkan." Begitulah, gambaran suasana hati Abdulah ibn Umar.

Meskipun pada akhirnya, pernah Abdulah ibn Umar berkata, "Tiada sesuatu pun yang kusesalkan karena tak kuperoleh, kecuali satu hal, aku amat menyesal tak mendampingi Ali memerangi golongan pendurhaka." Tapi kemudian, Ibn Umar tak mampu menyetop peperangan, sehigga ia menjauhi semuanya. Seseorang menggugatnya. Mengapa ia tak membela Ali dan pengikutnya kalau ia merasa Ali di pihak yang benar, Abdullah ibn Umar menjawab, "Karena Allah telah mengharamkan atasku menumpahkan darah Muslim." Lalu dibacanya Q.2:193, perangilah mereka itu hingga tak ada lagi fitnah dan hingga orang-orang beragama itu ikhlas semata-mata karena Allah.

Ibn Umar melanjutkan, "Kita telah melakukan itu, memerangi orang-orang musyrik hingga agama itu semata bagi Allah. Tetapi sekarang apa tujuan kita berperang? Aku sudah mulai berperang semenjak berhala-berhala memenuhi Masjidil Haram dari pintu sampai ke sudut-sudutnya, hingga akhirnya semua dibasmi Allah dari bumi Arab. Sekarang, apakah aku akan memerangi orang yang mengucapkan "laa ilaaha illallah"?

DSC_0662_2_zps414311d8.jpg


para sahabat kuat beribadat
 
Back
Top
Log in Register