BTC USD 85,545.6 Gold USD 4,339.13
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Dunia Islam

Akar

akar_zpsdc505649.png


Dan bandingan Kalimah yang jahat dan buruk samalah seperti sebatang pohon yang tidak berguna yang mudah tercabut akar-akarnya dari muka bumi; tidak ada tapak baginya untuk tetap hidup.
(Ibrahim 14:26)

TreeRoot1_zpse1260b78.jpg
 
Bunga

bunga1_zps5dd6c16b.png


Kemudian makanlah dari segala jenis bunga-bungaan dan buah-buahan (yang engkau sukai), serta turutlah jalan-jalan peraturan Tuhanmu yang diilhamkan dan dimudahkannya kepadamu". (Dengan itu) akan keluarlah dari dalam badannya minuman (madu) yang berlainan warnanya, yang mengandungi penawar bagi manusia (dari berbagai-bagai penyakit). Sesungguhnya pada yang demikian itu, ada tanda (yang membuktikan kemurahan Allah) bagi orang-orang yang mahu berfikir.
(Al-Nahl 16:69)

bunga_zps298cbe66.jpg
 
Bangunan

bangunan_zps842603da.png



Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berperang untuk membela agamaNya, dalam barisan yang teratur rapi, seolah-olah mereka sebuah bangunan yang tersusun kukuh.
(As-Saff 61:4)

bangunan_zpsd230a242.jpg
 
Matahari

mata_zps810f6e06.png


Dan Ia juga yang menjadikan matahari dan bulan sentiasa beredar, untuk kepentingan kemudahan kamu, dan yang menjadikan malam dan siang bagi faedah hidup kamu.
(Ibrahim 14:33)

449636092_zps033f2358.jpg
 
Last edited:
Susu

susu_zpsc7df7413.png

Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak itu, kamu beroleh pelajaran yang mendatangkan iktibar. Kami beri minum kepada kamu daripada apa yang terbit dari dalam perutnya, yang lahir dari antara hampas makanan dengan darah; (iaitu) susu yang bersih, yang mudah diminum, lagi sedap rasanya bagi orang-orang yang meminumnya.
(Al-Nahl 16:66

susu-kambing_zpsbd20b132.jpg
 
Sahabat nabi

Dalam Islam, Sahabat Rasulullah S.A.W. (Arab الصحابه;) bermaksud mereka yang hidup semasa zaman baginda lalu mengenali dan menjadi rakan seperjuangan Nabi Muhammad s.a.w. semasa mengembangkan Islam.
Sahabat Nabi yang terkenal

Abbad ibn Bishr
Abdullah ibn Abbas
Abdullah ibn Amru
Abdullah ibn Hudhafah As-Sahmi
Abdullah ibn Jahsy
Abdullah ibn Mas'ud
Abdullah ibn Rawahah
Abdullah ibn Salam
Abdullah ibn Umar
Abdullah ibn Umm Maktum
Abdullah ibn Zubair
Abdur Rahman ibn Auf
Abu Ayyub al-Ansari
Abu Dzar al-Ghifari
Abu Musa Al-Asya'ari
Abu Hurairah
Abu Said Al-Khudri
Abu Sufyan ibn Al-Harits
Abu Ubaidah Al-Jarrah
Abu Darda'
Abul As ibn ar-Rabiah
Adi ibn Hatim
Ammar ibn Yasir
Amru Al-Ash
Amr ibn Jamuh
Anas ibn Malik al-Ansari
An-Nuayman bin Amr
At-Tufail ibn Amr ad-Dawsi
Aqil ibn Abi Thalib
Asma binti Abu Bakar
Barakah
Bara' ibn Malik al-Ansari
Bilal bin Rabah
Fairuz Ad-Dailami
Habib ibn Zaid al-Ansari
Hanzalah ibn Abu Umayr
Hajar ibn Adi
Hakim ibn Hazm
Hamzah bin Abdul Muttalib
Harits ibn Abdul Muthalib
Huzaifah Al-Yamani
Ikrimah ibn Abu Jahal
Ja'afar ibn Abi Thalib
Julaibib
Khabbab ibn al-Aratt
Khalid bin al-Walid
Miqdad Al-Aswad
Muaz ibn Jabal
Muawiyah ibn Abu Sufyan
Muhammad ibn Maslamah
Mus'ab ibn Umair
Nu'man ibn Muqarrin
Nu'man ibn Basyir
Nuaim ibn Mas'ud
Rabiah bin Ka'ab
Ramlah binti Abu Sufyan
Rumaysa binti Milhan
Sa'ad ibn Abi Waqqas
Sa'ad bin Ubadah
Sa'ad ibn Muaz
Said ibn Amir al-Jumahi
Said ibn Zayd
Salim Maula Abi Huzaifah
Salman Al-Farisi
Suhaib Ar-Rumi
Suhail ibn Amr
Talhah ibn Ubaidillah
Thabit ibn Qais
Thumamah ibn Uthal
Ubaidah al-Harits
Ubay ibn Ka'ab
Umair ibn Sa'ad al-Ansari
Umair ibn Wahab
Umar Al-Khattab
Ummu Salamah
Uqbah ibn Amir
Usamah ibn Zaid
Utbah ibn Ghazwan
Uwais Al-Qarni
Zayd ibn Khatab
Zaid ibn Harithah
Zaid ibn Thabit
Zubair ibn Awwam

Terdapat 3 syarat yang wajib yang perlu diambilkira sebelum seseorang itu layak digelar sebagai sahabat nabi iaitu, seseorang yang hidup di zaman baginda dan bersua muka atau mendengar suara baginda (kerana terdapat beberapa sahabat baginda yang buta). Kedua mereka yang beriman dengan baginda iaitu mereka yang percaya dengan kenabian baginda. Yang terakhir adalah mereka yang mati di dalam islam kerana terdapat beberapa orang yang hidup dan bersua dengan baginda serta beriman dengan baginda tetap murtad apabila kewafatan baginda.
 
Abdullah bin Abbas

ABDULLAH BIN ABBAS
Lisannya bertanya, Qalbunya mencerna

Di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW, terdapat beberapa sahabat kecil yang ketika melafadzkan syahadat mereka berusia sangat muda, atau ketika mereka dilahirkan, ayah bunda mereka telah muslim. Perhatian Rasulullah SAW kepada para sahabat cilik ini, tidak berbeda dengan sahabat-sahabat yang lainnya. Bahkan beliau sangat memperhatikan mereka dan meluangkan waktu untuk bermain, bicara dan menasehati mereka.

Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas) adalah salah satu kelompok sahabat junior ini. Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah. Semenjak kecilnya, beliau sudah menunjukkan kecerdasan dan ke sungguhannya terhadap suatu masalah. Rasulullah mengetahui potensi besar yang ada pada anak muda ini, seperti halnya beliau melihat potensi yang sama pada Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan sahabat-sahabat cilik lainnya.

Rasulullah SAW sering terlihat berdua bersama si kecil Abdullah bin Abbas. Suatu ketika, misalnya, Rasulullah SAW mengajak Ibnu Abbas RA berjalan-jalan seraya menyampaikan tarbiyahnya kepada pemuda cilik ini:

"Ya ghulam, maukah engkau mendengarkan beberapa kalimat yang sangat berguna?

Jagalah Allah SWT (ajaran-ajaranNya), maka engkau akan mendapatkanNya selalu menjagamu. Jagalah ALlah SWT (larangan-laran ganNya), maka engkau akan mendapatkanNya selalu dekat di hadapan mu. Kenalilah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam dukamu. Bila engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memerlukan pertolongan, mohonkanlah kepada Allah. Semua hal (yang terjadi denganmu) telah selesai ditulis. Ketahuilah, seandainya semua makhluk bersepakat untuk membantumu dengan apa yang tidak ditaqdirkan Allah untukmu, mereka tidak akan mampu membantumu. Atau bila mereka berkonspirasi untuk menghalangi engkau mendapatkan apa yang ditaqdirkan untukmu, mereka juga tidak akan dapat melakukannya. Semua aktifitasmu kerjakan lah dengan keyakinan dan keikhlasan. Ketahuilah, bahwa bersabar dalam musibah itu akan memberikan hasil positif; dan bahwa kemenangan itu dicapai dengan kesabaran; dan bahwa kesuksesan itu sering dilalui lewat tribulasi; dan bahwa kemudahan itu tiba setelah kesulitan.
[Hadist Riwayat Ahmad, Hakim, Tirmidzi]

Demikianlah rangkaian prinsip aqidah, ilmu dan 'amal yang manakah hasil tarbiyah Rasulullah itu? Abdullah bin Abbas tumbuh menjadi seorang muslim yang penuh inisiatif, haus ilmu, dekat dengan Allah dan Rasul-Nya.

Suatu ketika, Ibnu Abbas ingin mengetahui secara langsung bagaimana cara Rasulullah shalat. Untuk itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya: ummahatul mu'minin, Maimunah bint al-Harist. Ketika itu ia melihat Rasulullah bangun tengah malam dan pergi berwudhu. Dengan sigap Ibnu Abbas membawakan air untuk berwudhu, dengan demikian ia dapat melihat sendiri bagaimana Rasulullah berwudhu. Rasulullah - sang murobbi agung itu - tidak menyepele kan hal ini, beliau mengelus dengan lembut kepala Ibnu Abbas, seraya mendo'akan: "Ya Allah, faqih-kanlah ia dalam perkara agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir Kitab-Mu."

Kemudian Rasulullah berdiri untuk sholat lail yang dimakmumi oleh isteri beliau, Maimunah. Ibnu Abbas tak tinggal diam, dia segera berdiri di belakang RasuluLlah SAW; tetapi Rasulullah kemudian menariknya agar ia berdiri sedikit berjajar dengannya. Ibnu Abbas berdiri sejajar dengan Rasulullah, tetapi kemudian ia mundur lagi ke shaf belakang. Seusai sholat, Rasulullah mempertanyakan sikap Ibnu Abbas ini, dan dijawab oleh Ibnu Abbas bahwa rasanya tak pantas dirinya berdiri sejajar dengan seorang Utusan ALlah SWT. RasuluLlah ternyata tidak memarahinya, bahkan beliau mengulangi do'anya ketika berwudhu tadi.

Ketika Ibnu Abbas berusia 13 tahun, Rasulullah wafat. Beliau sangat merasa kehilangan. Tapi hal ini tidak menjadikannya bersedih atau lemah. Dengan segera ia mengajak teman sebayanya untuk bertanya dan belajar pada sahabat-sahabat senior mengenai apa saja yang berkenaan dengan Rasulullah dan ajaran al-Islam. Logika Ibnu Abbas, saat itu mengatakan bahwa para sahabat masih berada di Madinah, inilah kesempatan terbaik untuk menimba ilmu dan informasi dari mereka, sebelum mereka berpencaran ke kota-kota lain atau sebelum mereka wafat. Namun sayang, ajakan ini tidak ditanggapi oleh rekan-rekan sebayanya, karena mereka rata-rata beranggapan bahwa para sahabat senior tidak akan memperhatikan pertanyaan anak-anak kecil macam mereka.

Ibnu Abbas tak patah arang. Beliau sendiri mendatangi para sahabat yang diperkirakan mengetahui apa saja yang ingin ia tanyakan. Dengan sabar, beliau menunggu para sahabat pulang dari kerja keseharian atau da'wahnya. Bahkan kalau sahabat tadi kebet ulan sedang berisitirahat, Ibnu Abbas dengan sabar menanti di depan pintu rumahnya, hingga tertidur, tergolek beralaskan pakaiannya. Tentu saja para sahabat terkejut menemui Ibnu Abbas tertidur di muka rumahnya, "Oh keponakan Rasululah, ada apa gerangan? Kenapa tidak kami saja yang datang menemuimu, bila engkau ada keperluan?" "Tidak,"kata Ibnu Abbas, "sayalah yang harus datang menemui anda."

Demikianlah masa kecil Ibnu Abbas. Bagaimana dengan masa dewasanya? Beliau katakan sebagai seorang muda yang berwawasan dewasa, yang lisannya selalu bertanya dan qalbunya selalu mencerna. Umar bin Khattab selalu mengundang Ibnu Abbas dalam majelis syuro'nya dengan beberapa sahabat senior, dan beliau selalu berkata kepada Ibnu Abbas agar ia tidak perlu sungkan menyampaikan pendapat. Inilah bentuk tarbiyah lain yang diperoleh oleh Ibnu Abbas, dengan selalu berada dalam kalangan sahabat senior.

Dalam masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, beliau bergabung dengan pasukan muslimin yang berekspedisi ke Afrika Utara, di bawah pimpinan AbduLlah bin Abi-Sarh. Beliau terlibat dalam pertempuran dan juga dalam da'wah di sana. Di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib RA, Ibnu Abbas mengajukan permohonan untuk menemui dan berda'wah kepada kaum Khawarij. Melalui dialog dan diskusinya yang intens, sekitar 12.000 dari 16.000 khawarij bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar.

Abdulah bin Abbas, yang muda yang ulama, wafat dalam usia 71 tahun pada tahun 68H. Sahabat Abu Hurairah RA, berkata "Hari ini telah wafat Ulama Ummat. Semoga Allah SWT berkenan memberikan pengganti Abdullah bin Abbas."

sabanci_mosque-normal_zps2f4cbc5f.jpg


Sahabat banyak berkorban untuk islam
 
Last edited:
Abdullah ibn Mas'ud

Tidak layak bagi seseorang yang mengaku dirinya mencintai Allah dan RasulNya membenci para sahabat Rasulullah Muhammad SAW. Orang-orang yang paling awal masuk Islam itu adalah para sahabat Rasulullah SAW yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari diri mereka sendiri. Limpahan rahmat Allah semoga dicurahkan kepada mereka, salah satunya Abdullah Bin Mas’ud.

Siapakah orang yang Rasulullah SAW minta kepadanya untuk dibacakan Al Quran? Dialah Abdullah bin Masud atau Ibnu Mas,ud. Siapakah orang yang pertama kali membacakan Al Quran di hadapan pemuka-pemuka suku Quraisy yang jahiliyah? Dialah Ibnu Mas’ud.

Abdullah bin Mas’ud lebih dikenal dengan panggilan Ibnu Mas’ud merupakan golongan pertama beriman, yaitu orang yang keenam masuk Islam. Pertemuannya pertama kali dengan Rasulullah saat ia masih remaja dan tengah menggembalakan kambing milik Uqban bin Mu’aith. Rasulullah dan Abu Bakr ra datang kepadanya dan meminta sekiranya ada susu untuk mereka minum.

“Aku orang kepercayaan, aku tak dapat memberi Anda berdua minuman,” kata Ibnu Mas’ud. Lalu Rasulullah SAW menanyakan apakah ia memiliki kambing betina yang mandul. Ibnu Mas’ud kemudian menunjukkan salah satu kambing seperti yang diminta. Kambing itu kemudian diikat oleh Rasulullah SAW, sementara Abu Bakr ra mengambil batu cembung untuk menampung air susu. Rasulullah SAW mengusap susu kambing itu sambil mengatakan sesuatu lalu keluarlah susunya sehingga beliau dan Abu Bakr ra dapat minum. Usai minum, Nabi berkata kepada kambing itu, “Kempislah.” Maka susu tak lagi keluar.

Ibnu Mas’ud terheran melihat apa yang telah dilakukan Rasulullah SAW. Lantas didatanginya Rasulullah SAW dan berkata, “Ajarkanlah kepadaku kata-kata tersebut.” Nabi SAW menjawab, “Engkau akan menjadi seorang anak yang terpelajar.”

Kemudian hari, memang benarlah Ibnu Mas’ud diberi rahmat Allah SWT menjadi orang yang sangat pandai membaca, menghafal surat-surat Al Quran yang turun kepada Rasulullah SAW selama hidup Beliau. Mengenai dirinya, Ibnu mas’ud berkata, “Saya telah menampung 70 surat Al Quran yang kudengar langsung dari Rasulullah SAW, tiada seorang pun yang menyaingiku dalam hal ini.”

Pada kala lain, Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak suatu pun dari Al Quran itu yang diturunkan kecuali aku mengetahui peristiwa apa yang diturunkannya. Dan tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripadaku. Dan sekiranya aku tahu ada seorang yang dapat dicapai dengan berkendaraan unta dan ia lebih tahu tentang Kitabullah daripadaku, pastilah aku akan menemuinya. Tetapi aku bukanlah yang terbaik di antaramu.”

Sabda Rasulullah SAW, “Berpegang teguhlah kepada ilmu yang diberikan oleh Ibnu Ummi Abidin (Ibnu Mas’ud).” “Barangsiapa yang ingin mendengar Al Quran tepat seperti diturunkannya, hendaklah ia mendengarkannya dari Ibnu Ummi Abidin!” Beliau mengulangnya sampai dua kali.

Rasullullah Menangis Mendengar Bacaan Ibnu Mas’ud

Pada suatu hari Rasulullah SAW memanggil Ibnu Mas’ud. “Bacakanlah kepadaku, hai Abdullah!”

“Haruskah aku membacakannya kepada Anda, wahai Rasulullah?”

Jawab Rasulullah, “Saya ingin mendengarnya dari mulut orang lain.”

Maka Ibnu Mas’ud pun membacanya dimulai dari surat An Nissa sampai pada ayat… “Maka betapa jadinya bila Kami jadikan dari setiap umat itu seorang saksi, sedangkan kamu Kami jadikan sebagai saksi bagi mereka. …Ketika orang-orang kafir yang mendurhakai Rasul sama berharap kiranya mereka disamaratakan dengan bumi… dan mereka tidak dapat merahasiakan pembicaraan dengan Allah…” (QS An Nissa 41-42)

Maka Rasulullah tak dapat menahan tangisnya, air matanya meleleh dan dengan tangannya diisyaratkan kepada Ibnu Mas’ud yang maksudnya, “Cukup…cukuplah sudah, hai Ibnu Mas’ud.”
Pada suatu hari serombongan sahabat berkumpul pada Ali karamallahu wajhah, lalu kata mereka kepadanya:

“Wahai Amirul Mukminin, kami tidak melihat orang yang lebih berbudi pekerti, lebih lemah lembut dalam mengajar, begitupun yang lebih baik pergaulannya dan lebih sholeh daripada Abdullah bin Mas’ud.”

Ujar Ali, “Saya minta tuan-tuan bersaksi kepada Allah, apakah ini betul-betul tulus dari hati tuan-tuan?” “Benar,” kata mereka.

Kata Ali, “Ya Allah, saya mohon Engkau menjadi saksinya, bahwa saya berpendapat mengenai dirinya seperti apa yang mereka katakan itu, atau lebih baik dari itu lagi. Sungguh, telah dibawanya Al Quran maka dihafalkannya barang yang halal dan diharamkannya barang yang haram…, seorang ahli dalam soal keagamaan dan luas ilmunya tentang as sunnah.”

Suatu ketika para sahabat memperkatakan pribadi Abdullah bin Mas’ud, kata mereka: “Sungguh, sementara kita terhalang, ia diberi restu, dan sementara kita bepergian, ia menyaksikan (tingkah laku RasulullahSAW).”

Maksud mereka, Ibnu Mas’ud beruntung mendapatkan kesempatan berdekatan dengan Rasulullah SAW, suatu hal yang jarang didapat oleh orang lain. Ia lebih sering masuk ke rumah Rasulullah SAW dan menjadi teman duduknya. Ibnu Mas’ud menjadi tempat Rasulullah SAW menumpahkan keluhan dan mempercayakan rahasianya, hingga ia diberi gelar “Peti Rahasia”.

Membaca Surat Ar Rahman Dihadapan Pemuka Quraisy

Sebelum masuk Islam, Ibnu Masud tak berani berhadapan dengan suku Quraisy. Ia hanya seorang pemuda miskin, lemah, dengan perawakan kecil dan kurus. Namun, setelah masuk Islam di kemudian hari ia tampil berani di depan majelis yang terdiri dari pemuka dan pemimpin Quraisy yang sedang duduk berkumpul. Dengan suara merdunya ia membacakan surat Ar Rahman.

Berikut penuturan Zubair ra mengenai Ibnu Masud yang membacakan surat Ar Rahman:

“Yang mula-mula menderas Al Quran di Mekah setelah Rasulullah SAW adalah Abdullah bin Masud. Pada suatu hari para sahabat Rasulullah SAW berkumpul. Kata mereka, “Demi Allah, orang-orang Quraisy belum lagi mendengar sedikit pun Al Quran ini dibaca dengan suara keras di hadapan mereka. Nah siapa di antara kita yang bersedia memperdengarkan kepada mereka?”

Maka berkata Ibnu Masud, “Saya!”

Kata mereka, “Kami khawatir akan keselamatan dirimu! Yang kami inginkan ialah seorang laki-laki yang mempunyai kerabat yang akan mempertahankannya dari orang-orang itu jika mereka bermaksud jahat.”

“Biarkanlah saya!” kata Ibnu Masud. “Allah pasti membela.” Maka datanglah Ibnu Masud kepada kaum Quraisy di waktu Dhuha, yakni ketika mereka sedang berada di balai pertemuannya. Ia berdiri di panggung lalu membaca: “Bismilahirahmaani rahiim. Ar Rahman…’allamal Quran…” Lalu sambil menghadap kepada mereka diteruskanlah bacaannya.

“Apa yang dibaca oleh anak si Ummu Abidin itu…? Sungguh yang dibacanya itu ialah yang dibaca oleh Muhammad!” kata salah seorang Quraisy.

Mereka bangkit mendatangi dan memukulinya, sedang Ibnu Masud meneruskan bacaannya sampai batas yang dikehendaki Allah. Setelah itu dengan muka dan tubuh yang babak beluar ia kembali kepada sahabat. Kata mereka, “Inilah yang kami khawatirkan terhadap dirimu…”

Ibnu Masud berkata, “Sekarang ini tak ada yang lebih mudah bagiku dari menghadapi musuh-musuh Allah itu! Dan seandainya tuan-tuan menghendaki, saya akan mendatangi mereka lagi dan berbuat hal yang sama esok hari!”

Ujar mereka, “Cukuplah demikian! Kamu telah membacakan mereka barang yang menjadi tabu bagi mereka!”

Umar bin Khatab ra mengatakan mengenai Ibnu Mas’ud, “Islamnya merupakan suatu kemenangan, hijrahnya merupakan pertolongan, sedang pemerintahannya menjadi rahmat.”

6_zps7385b2cb.jpg


contohilah sahabat
 
Abdullah ibn Rawahah

Orang-orang yang paling awal masuk Islam itu adalah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari diri mereka sendiri. Limpahan rahmat Allah semoga dicurahkan kepada mereka, salah satunya Abdullah Ibnu Rawahah.

Seorang panglima perang, syuhada, penyair dan pemberi semangat yang ulung. Itulah Abdullah Ibnu Rawahah.

Abdullah Ibnu Rawahah termasuk kaum Anshar yang pertama-tama masuk Islam pada Baiat Aqabah. Beliau adalah orang yang banyak usaha dan kegitannya dalam membela Islam setelah Nabi hijrah ke Madinah. Ia juga yang mengawasi sepak terjang Abdullah bin Ubay, pemimpin golongan munafik.

Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di lingkungan pandai baca tulis. Ia seorang penyair yang lancar. Suatu hari saat sedang duduk-duduk, Nabi SAW bertanya padanya, “Apa yang Anda lakukan bila hendak mengucapkan syair?”

Jawabnya kepada Nabi SAW, “Kurenungkan dulu, kemudian ku ucapkan.” Lalu teruslah ia mengucapkan syairnya tanpa tangguh:

“Wahai putra Hasyim yang baik, sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia, dan memberimu keutamaan, dimana orang tak usah iri, dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakini terhadap dirimu, suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka. Seandainya Anda bertanya dan meminta pertolongan mereka dalam memecahkan persoalan, tiadalah mereka hendak menjawab atau membela. Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang Anda bawa sebagaimana Ia telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa.”

Mendengar itu, Rasulullah SAW gembira dan ridho padanya dan berkata, “Dan engkau pun akan diteguhkan Allah.”

Sewaktu Rasullullah sedang tawaf di Mekah pada umrah qadla, Ibnu Rawahah berada di muka beliau seraya membaca syair:

“Oh Rabb, kalaulah tidak karena Engkau, niscaya tidaklah kami akan mendapat petunjuk, tidak akan bersedekah dan sholat. Maka mohon diturunkan sakinah atas kami dan diteguhkan pendirian kami jika musuh datang menghadang. Sesungguhnya orang-orang yang telah aniaya terhadap kami, bila mereka membuat fitnah akan kami tolak dan kami tentang.”

Ibnu Rawahah sempat berduka saat turun ayat:

“Dan para penyair banyak pengikut mereka adalah orang-orang yang sesat”. QS Asy Syuara 224
Namun, ia menjadi lega, saat Allah meneruskan firmanNya:
“Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak ingat kepada Allah dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya”. QS asy Syuara 227.

Ibnu Rawahah juga dikenang sebagai orang yang suka berpuasa. Dari Abu Darda ra katanya:
"Kami pergi beserta Nabi SAW dalam sebagian di antara beberapa perjalanan beliau, pada suatu hari yang sangat panas, sehingga ada orang yang meletakkan tangannya di atas kepala karena sangat panasnya, dan tidak ada di antara kami yang puasa selain Nabi SAW dan Ibnu Rawahah." HR Bukhari
Pejuang Perang dan Motivator Ulung

Ibnu Rawahah adalah salah seorang pejuang yang turun ke berbagai perang melawan kaum kafir di pertempuran Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah dan Khaibar. Kalau Indonesia punya Bung Tomo, umat Islam dahulu sudah punya Abdullah Ibnu Rawahah. Ia adalah seorang motivator ulung.

"Wahai diri! Seandainya engkau tidak tewas terbunuh, tetapi engkau pasti akan mati juga!"

Ia meneriakkan semangat tempurnya:

“Menyingkir kalian anak-anak kafir dari jalanNya! Menyingkir kamu, setiap kebaikan akan ditemui pada RasulNya!”

Syahid di Perang Muktah

Sebelum berperang Muktah di negeri Syam, Ibnu Rawahah melantunkan syairnya:

“Yang kuminta kepada Allah Yang Maha Rahman
Keampunan dan kemenangan di medan perang
Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan
Bertekuk luturnya angkatan perang setan
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan
Mati syahid di medan perang”

Abdullah bin Rawahah adalah panglima ketiga dalam pasukan Islam. Pasukan muslim melihat jumlah pasukan Romawi pimpinan Heraklius kala itu sekitar dua ratus ribu orang seperti tak habis-habis. Seseorang dari pasukan muslim ketakutan dan berkata, “Baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah memberi tahu jumlah musuh yang besar. Mungkin kita bisa mendapat bantuan tambahan pasukan.”
Ibnu Rawahah langsung berdiri dan berteriak:

“Kawan-kawan sekalian! Demi Allah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan dalam bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah! Kita tidak memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah! Ayolah kita maju, salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenangan atau syahid di jalan Allah!”

Pasukan muslimin langsung tersengat semangatnya. Mereka maju menghadapi pasukan kafir yang jumlah berlipat-lipat. Sampai akhirnya kedua pasukan bertemu dan pecahlah peperangan.
Pemimpin pertama Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid, disusul Jafar bin Abi Thalib.Melihat keduanya syahid, Ibnu Rawahah berkata:

“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga
Tetapi kulihat, engkau menolak surga…
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah kesatria sejati…!”

Ibnu Rawahah pun menyerbu pasukan Romawi menjemput takdirnya sebagai syahid berikutnya. Pedangnya tak berhenti menebas, sampai tubuhnya tak sanggup lagi menahan tebasan pedang kepadanya. Allah telah mengangkatnya sebagai syuhada.

Prajurit muslim yang melewati jenazahnya berkata, “Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah, dan benar ia telah terpimpin. Benar Engkau ya Ibnu Rawahah! Anda adalah prajurit yang telah dipimpin oleh Allah!”

Saat terjadi perang Muktah, Rasulullah SAW di Madinah langsung terdiam diliputi berita yang dirahmatkan Allah pada Beliau. Mata Nabi SAW berkaca-kaca. Beliau berkata pada sahabatnya, “Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Jafar dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula…”
Nabi SAW diam sebentar, “Kemudian panji itu dipegang oleh Abdullah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu sampai akhirnya ia pun syahid pula.”

Rasulullah SAW terdiam lalu wajahnya berubah cerah, “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke surga…”

Salam atasmu Ibnu Rawahah, salam atasmu Para Syuhada.

grand_mosque2_zpsd7f81ad0.jpg


jasa para sahabat dikenang selalu
 
Hamzah bin Abdul Mutthalib

Saat orang belum lagi mengenal Islam, Hamzah bin Abdul Mutthalib termasuk orang yang pertama dipanggil dalam iman. Hamzah adalah paman dan saudara sesusuan Rasulullah SAW. Hamzah dan Rasulullah SAW besar bersama-sama. Ia gemar dan mahir dalam berburu. Sebagai keturunan Quraisy, Hamzah juga suka duduk dan berkumpul bersama keluarga dan pembesar-pembesar suku itu.
Suatu hari saat pulang berburu, ia mampir ke Kabah untuk thawaf. Seorang pelayan wanita Abdullah bin Jud’an segera menghampirinya. “Wahai Abu Umarah (panggilan Hamzah), seandainya anda melihat apa yang dialami oleh keponakan anda Muhammad SAW baru-baru ini! Abul Hakam bin Hisyam ketika mendapati Muhammad sedang duduk disakitinya dan dimakinya, hingga mengalami hal-hal yang tak diinginkan!”

Hamzah naik darah. Membawa busur panahnya, ia hendak pergi mencari Abu Jahal. Belum lagi beranjak dari Kabah ia telah mendapati Abu Jahal di sana. Sambil memegang busur panahnya, ia memukul kepala Abu Jahal hingga lecet.

“Kenapa kamu cela dan kamu maki Muhammad SAW padahal aku telah menganut agamanya dan mengatakan apa yang dikatakannya? Nah, cobalah ulangi kembali makianmu itu kepadaku jika kamu berani!”

Orang-orang yang berada di sekitar mereka terkejut. Benarkan Hamzah telah menjadi Islam?

Hamzah pulang ke rumah setelah kejadian itu. Ia merenung tak habis pikir tentang apa yang baru saja ia ucapkan. Rasa marah karena keponakannya telah disakiti membuatnya begitu saja mengatakan keislaman karena tak rela Rasulullah SAW terluka. Mungkinkah ia menerima agama baru begitu saja padahal saat itu ia sedang marah.

Tatkala dirasakan bahwa akal pikirannya tak berdaya, maka dengan ikhlas dan tulus hati ia pun pergi berlindung kepada yang ghaib. Di sisi Kabah, sambil wajahnya menengadah ke langit, dan dengan minta pertolongan kepada segala kudratdan nur yang terdapat di alam wujud ia memohon dan berdoa agar memperoleh petunjuk.

“Kemudian timbullah sesal dalam hatiku karena meninggalkan agama nenek moyang dan kaumku… dan aku pun diliputi kebingungan hingga mata tak pernah tidur… Lalu pergilah aku ke Kabah dan memohon petunjuk Allah agar membukakan hatiku untuk menerima kebenaran dan melenyapkan segala keraguan. Maka Allah pun mengabulkan permohonanku itu dan memenuhi hatiku dengan keyakinan.
Aku pun segera menemui Rasulullah dan memaparkan keadaanku padanya, maka didoakannya kepada Allah agar ditetapkanNya hatiku dalam agamaNYa.”

Allah menguatkan agama Islam dengan Hamzah dan sebagai batu karang yang kukuh menjulang ia membela Rasulullah SAW dan sahabatnya yang lemah. Melihat Hamzah berada di pihak Rasulullah, Abu Jahal semakin gencar melancarkan serangan kepada muslimin dan bersiap melakukan perang saudara. Apalagi juga setelah Umar bin Khatab masuk Islam.

Ketegaran Hamzah memimpin sariyah, pasukan tentara Islam telah membuktikan kekokohan hatinya. Panji-panji Islam pertama yang diserahkan Rasululah SAW adalah kepada Hamzah, sehingga ia dijuluki Singa Padang Pasir, Singanya Allah dan Rasulullah.

Perang pertama kali terhadap kaum kafir Quraisy, Perang Badar yang terjadi pada Ramadan 2 Hijriah, Hamzah diutus Rasulullah duel satu orang satu dengan pasukan kafir. Waktu itu ada tiga utusan adu duel yaitu Ubaidah ibn al Harits, Hamzah dan Ali. Sementara di pasukan kafir ada Utbah, Syaibah dan Al Wali. Ia dengan gagah mengalahkan lawan duelnya, demikian pula Ali. Mereka berdua kemudian membantu Ubaidah melawan Utbah.

Syahid di Perang Uhud

Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan merupakan perempuan yang memiliki dendam terbesar pada Hamzah. Pada perang Badar, ia kehilangan bapak, paman, saudara dan putanya. Orang menyampaikan kepadanya bahwa Hamzahlah yang membunuh mereka. Wanita ini paling keras menghasut kaum Quraisy untuk berperang. Tujuannya untuk mendapatkan kepala Hamzah.

Sebelum terjadinya perang Uhud, Hindun telah lama menghasut Wahsyi, seorang budak untuk membenci Hamzah. Ia menjanjikan pada Wahsyi jika berhasil membunuh Hamzah, akan diberi kekayaan dan perhiasan paling berharga, semua perhiasan emas permata yang ada padanya. Ia pun dijanjikan tak menjadi seorang budak lagi.

Perang Uhud pecah. Pasukan pemanah tak mengindahkan seruan Rasulullah agar tak meninggalkan bukit untuk mengambil rampasan perang. Pasukan muslimin diserang dari belakang dari arah bukit sehingga kucar-kacir. Saat itulah, Hamzah berjuang mati-matian. Pada saat itu juga, mata Wahsyi selalu jeli mengarahkan pandangan pada sasaran target tombaknya, Hamzah bin Abdul Muttalib.
Wahsyi berkisah…

“Saya seorang Habsyi dan mahir melemparkan tombak dengan teknik Habsyi hingga jarang sekali lemparanku meleset. Tatkala orang-orang telah mulai berperang, saya pun keluar dan mencari-cari Hamzah. Sehingga akhirnya tampak di antara manusia tak ubahnya bagai unta kelabu mengancam orang-orang dengan pedangnya hingga tak seorang pun yang dapat bertahan di depannya.
Maka demi Allah, ketika saya bersiap-siap untuk membunuhnya, saya bersembunyi di balik pohon agar dapat menerkamnya atau menunggunya supaya dekat, tiba-tiba saya didahului oleh Siba bin Abdul Uzza yang tampil ke depannya. Tatkala ia tampak oleh Hamzah, maka serunya, “Marilah ke sini hai anak tukang sunat wanita!” Lalu ditebasnya hingga tepat mengenai kepalanya.
Ketika itu saya pun menggerakkan tombak mengambil ancang-ancang hingga setelah terasa tepat, saya lontarkan hingga mengenai pinggang bagian bawah dan tembus ke bagian muka di antara kedua pahanya. Dicobanya bangkit ke arahku, tetapi ia tak berdaya lalu rubuh dan meninggal.
Saya datang mendekatinya dan mencabut tombakku lalu kembali ke perkemahan dan duduk-duduk di sana karena tak ada lagi tugas dan keperluanku. Saya telah membunuhnya semata-mata demi kebebasan dari perbudakan yang memilikiku.”

Washyi melanjutkan kisahnya…

“Sesampainya di Mekah, saya pun dibebaskan. Saya tetap bermukim di sana sampai kota itu dimasuki Rasulullah SAW di hari pembebasan. Maka saya lari ke Thaif. Tatkala perutusan Thaif menghadap Rasulullah untuk menyatakan keislamannya, timbul berbagai rencana dalam pikiranku. Kataku dalam hati, biarlah saya pergi ke Syria, atau Yaman atau ke tempat lain. Demi Allah, ketika saya berada dalam kebingungan itu, datanglah seseorang mengatakan kepadaku, “Hai *****, Rasulullah tak hendak membunuh seseorang yang masuk Islam!”

Maka pergilah saya mendapatkan Rasulullah SAW di Madinah. Saya baru tampak olehnya ketika tiba-tiba telah berdiri di depannya mengucapkan dua kalimat syahadat. Tatkala saya dilihatnya, Beliau bertanya, “Apakah kamu ini Wahsyi?”

“Benar ya Rasulullah,” ujarku. Lalu sabdanya, “”Ceritakanlah kepadaku bagaimana kamu membunuh Hamzah!” Maka saya ceritakan. Setelah saya selesai, sabdanya pula, “Sangat menyesal. Sebaiknya engkau menghindarkan perjumpaan denganku.”

Maka selalulah saya menghindarkan diri dari hadapan dan jalan yang akan ditempuh oleh Rasulullah SAW agat tidak kelihatan oleh beliau sampai saat beliau diwafatkan Allah. Tatkala kaum muslimin pergi memadamkan pemberontakan (nabi palsu) Musailamatul Kadzdzan penguasa Yamamah, saya pun ikut bersama mereka dan membawa tombak yang saya gunakan untuk membunuh Hamzah dahulu.

Ketika orang-orang mulai bertempur saya lihat Musailamatul Kadzhzab sedang berdiri dengan pedang di tangan. Maka saya pun bersiap-siaplah dan menggerakkan tombak membuat ancang-ancang. Hingga setelah terasa tepat saya lemparlah dan menemui sasarannya.

Maka sekiranya saya dengan tombak itu telah membunuh sebaik-baik manusia yaitu Hamzah, saya berharap kiranya Allah mengampuni saya karena dengan tombak itu pula saya telah membunuh sejahat-jahat manusia Musailamah!”

Rasulullah SAW Diperintah untuk Bersabar

Perang Uhud usai dan syahidlah Hamzah terkena tombakan Wahsyi. Penombak itu kembali kepada Hindun mendapatkan perhiasan dan kebebasan dirinya dari budak dengan membawa hati Hamzah. Kebiadaban pasukan kafir pada muslimin kala itu memang menyayat hati. Apalagi saat melihat paman tercintanya Hamzah meninggal dunia, Rasulullah SAW tak tahan menitikkan air matanya. Beliau bersabda,

“Tak pernah aku menderita musibah seperti ini yang kuderita dengan peristiwa Anda (Hamzah) sekarang ini…dan tidak satu suasana pun yang lebih menyakitkan hatiku seperti suasana sekarang ini.”

Sambil menoleh ke arah para sahabat Rasulullah SAW bersabda,

“Sekiranya Shafiah, saudara perempuan Hamzah- takkan berduka dan tidak adak menjadi sunnah sepeninggalku nanti, akan kubiarkan ia mengisi perut binatang buas dan tembolok burung nasar! Tetapi sekiranya aku diberi kemenangan oleh Allah di salah satu medan pertempuran dengan orang Quraisy, akan kuperbuat sebagai yang mereka perbuat, terhadap tiga puluh orang laki-laki di antara mereka.”

Para sahabat berseru,

“Demi Allah, sekiranya pada waktu nanti kita diberi kemenangan oleh Allah terhadap mereka, akan tiba cincang mayat-mayat mereka seperti yang belum pernah dilakukan oleh seorang Arab pun.”

Belum beranjak Rasulullah dari tempatnya, turunlah wahyu dari Allah SWY untuk tetap bersabar.

“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang utama. Sesungguhnya Rabb kalian lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan ia lebih mengetahui siapa-siapa yang beroleh petunjuk… Jika kalian hendak membalas, balaslah seperti yang telah dilakukan mereka kepada kalian dan jika kalian bersabar, maka itu memang lebih baik bagi orang-orang yang bersabar.
Dan bersabarlah kamu, dan kesabaranmu itu takkan tercapai kecuali dengan pertolongan Allah, serta jangan kamu berduka cita atas mereka, serta janganlah sesak nafas karena tipu daya yang mereka lakukan. ..
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang taqwa serta orang-orang yang berbuat baik.” QS An Nahl 125-128

The_Blue_Mosque_at_sunset_zps61a25856.jpg


banyak ujian dihadapi sahabat
 
Back
Top
Log in Register