BTC USD 84,350.2 Gold USD 4,274.18
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Allah Di Mana ?

aku nak tanya TT..sekadar melontarkan pertanyaan..semasa sedara TT bersolat/bersembahyang..sedara menghadapkan diri sedara kepada sapa?

hadap sape ek??
bukan calang soalan nie.. agaknya dah sampai tahap mcm ni x.. sape yg dah sampai angkat sepanduk..

Orang bertanya kepada Rabi'atul-adawiyyah, "Adakah kamu lihat Tuhan yang kamu sembah itu? Rabi'atul-adawiyyah menjawab, "Jika aku tidak lihat Dia, aku tidak akan menyembahNya."
 
Last edited:
meh tgk apa yg dituliskan nie.. ni kira mcmn plak ek.. tergolong dalam wahabi gak ke

Allah yang menciptakan kita mewajibkan kita untuk mengetahui di mana Dia, sehingga kita dapat menghadap kepada-Nya dengan hati, do'a dan solat kita. Orang yang tidak tahu di mana Tuhan akan selalu sesat, dan tidak mengetahui bagaimana caranya beribadah yang benar. Sifat 'atas' atau 'tinggi' yang dimiliki Allah atas makhlukNya tidak berbeza dengan sifat-sifat Allah yang lain sebagaimana yang diterangkan dalam Qur'an dan Hadith sahih, seperti 'mendengar', 'melihat', 'berbicara', 'turun' dan lain-lain.

Aqidah para ulama salaf yang soleh dan golongan yang selamat yaitu "Ahlus Sunnah wal Jama'ah" mempunyai keyakinan sesuai dengan apa yang terdapat dalam Kitabullah tanpa ta'wil(menggeser ma'na yang asal ke ma'na yang lain), ta'til (meniadakan ma'nanya sama sekali) dan tasybih (menyamakan Allah dengan makhlukNya). Hal ini berdasarkan firman Allah yang bermaksud:
"Tidak ada suatu apa pun yang sama dengan Allah dan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat." (AsySyura: 11)

Sifat-sifat Allah ini antara lain sifat 'atas' atau 'tinggi' tadi mengikuti zat Allah. Oleh karena itu Iman kepada sifat-sifat Allah tersebut juga wajib sebagaimana juga Iman kepada zat Allah. Imam Malik ketika ditanya tentang ma'na "istiwa" dalam firman Allah yang bermaksud:
''Allah yang Maha Pengasih itu "istawa" di atas Arasy." [Surah Taha:4]
Beliau menjawab: Istiwa itu sudah dimaklumi, yaitu bererti "Tinggi."Tetapi bentuknya bagaimana tidak diketahui, kita hanya wajib mengimaninya.

Perhatikanlah jawapan Imam Malik tadi yang menetapkan bahwa iman kepada istiwa itu wajib diketahui oleh setiap Muslim. Tetapi bagaimana tingginya Allah itu hanya Allah saja yang mengetahui. Orang yang mengingkari sifat Allah yang telah ditetapkan dalam Qur'an dan hadith - antara lain sifat ketinggian Allah yang mutlak dan Allah di atas langit - maka orang itu bererti telah mengingkari ayat Qur'an dan hadith yang menetapkan adanya sifat-sifat tersebut. Sifat-sfat tersebut meliputi
sifat-sifat kesempurnaan, keluhuran dan keagungan yang tidak boleh diingkari oleh siapa pun. Usaha sekelompok ulama' yang datang belakangan untuk mena'wilkan ayat-ayat Qur'an yang berhubungan dengan sifat Allah, yang terpengaruh oleh filsafat yang merosak aqidah Islam, menyebabkan mereka menghilangkan sifat-sifat Allah yang sempurna dari zat-Nya.

Mereka bertentangan dengan method ulama salaf yang dinilai lebih
selamat, lebih tahu dan lebih kuat argumentasinya.KESIMPULAN
Beriman kepada seluruh sifat-sifat Allah yang diterangkan dalam Qur'an dan hadith adalah wajib. Tidak boleh membeza-bezakan antara sifat yang satu dengan sifat yang lain, sehingga kita hanya mahu beriman kepada sifat yang satu dan ingkar kepada sifat yang lain. Orang yang percaya bahwa Allah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan percaya bahwa mendengar dan melihatnya Allah tidak sama dengan mendengar dan melihatnya makhluk, maka ia juga harus percaya bahwa Allah itu tinggi di
atas langit dengan cara dan sifat yang sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan tingginya makhluk, kerana sifat tingginya itu adalah sifat yang sempurna bagi Allah. Hal itu sudah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam kitabNya dan sabda-sabda Rasulullah SAW. Fitrah dan cara berfikir yang sihat juga mendukung kenyataan tersebut.ALLAH Dl ATAS ARASY
Al Qur'an, hadith sahih dan naluri serta cara berfikir yang sihat akan mendukung kenyataan bahwa Allah berada di atas arasy.

1. Allah berfirman yang bermaksud:
"Allah yang Maha Pengasih itu "istawa" di atas Arasy." [Surah Taha:4] Sebagaimana diterangkan dalam hadith Bukhari, para tabiin menafsirkan istawa dengan naik dan tinggi.

2. Allah berfirman yang bermaksud:
"Apakah kamu merasa aman terhadap Yang di langit? Dia akan
menjungkir-balikkan bumi bersama kamu." (AlMulk:16)
Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud "Yang di langit" adalah Allah seperti dituturkan dalam kitab Tafsir Ibnul-Jauzi.3. Firman Allah yang bermaksud:
"Orang-orang tidak takut kepada Tuhannya yang di atas mereka." (AnNahl: 50)

4. Firman Allah tentang Nabi Isa As:
"Tetapi Allah mengangkatnya kepadaNya." (AnNisa:158)
Maksudnya Allah menaikkan Nabi Isa ke langit.

5. Allah berfirman yang maksudnya:
"Ialah Allah yang ada di langit-langit." (AlAn'am: 3)
Ibnu Katsir mengomentari ayat ini sebagai berikut: Para ahli tafsir bersependapat bahwa kita tidak akan berkata seperti ucapan kaum Jahmiyah (golongan yang sesat) yang mengatakan bahwa Allah itu berada di setiap tempat. Maha Suci Allah dari ucapan mereka. Adapun firman Allah yang bermaksud:
"Dan Allah selalu bersamamu di mana kamu berada." (AlHadid: 41)
Yang dimaksudkan adalah Allah itu selalu bersama kita, dimana Allah Mendengar dan Melihat kita, seperti keterangan dalam Ibnu Katsir dan Jalalain.

6. Rasulullah SAW mi'raj ke langit ketujuh dan berdialog dengan Allah serta diwajibkan untuk melakukan solat lima waktu (Riwayat Bukhari dan Muslim).

7. Rasulullah SAW bersabda:
"Kenapa kamu tidak mempercayaiku, padahal saya ini dipercayai oleh Allah yang ada di langit?" (Riwayat Bukhari dan Muslim).

8. Rasulullah SAW bersabda: "Sayangilah orang-orang yang ada di bumi maka yang di langit (Allah) akan menyayangimu." (Riwayat Turmidzi).

9. Rasulullah SAW pernah menanyai seorang wanita budak: "Di mana Allah?" Jawabnya: "Di langit!" Rasulullah bertanya lagi: "Siapa saya?" Dijawab lagi: "Kamu Rasulullah." Lalu Rasulullah bersabda: "Merdekakanlah dia karena dia seorang Mukminah! "

10. Sabda Rasulullah SAW: "Arsy berada di atas, dan Allah berada di atas arsy. Allah mengetahui keadaan kamu."

11. Abu Bakar Siddiq berkata: "Barang siapa menyembah Allah maka Allah berada di langit, Ia hidup dan tidak mati." (Riwayat Imam Darimi dalam Alradd alal Jahmiyah)

12. Abdullah bin Mubarak pernah ditanya: "Bagaimana kita mengetahui Tuhan kita?" Maka beliau menjawab: "Tuhan kita di atas langit, di atas arsy, berbeza dengan makhlukNya." Maksudnya zat Allah berada di atas arsy, berbeza dan berpisah dengan makhlukNya, dan keadaannya di atas arsy tersebut tidak sama dengan makhluk.

13. Imam Abu Hanifah menulis kitab kecil berjudul "Sesungguhnya Allah itu di atas arsy." Beliau menerangkan hal itu seperti dalam kitabnya "Al-Ilm wal-Muta'allim."

14. Orang yang sedang solat selalu mengucapkan "Subhana rabial'ala (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). Ketika berdo'a ia juga mengangkat tangannya dan menadahkan ke langit.

15. Otak yang sihat juga mendukung kenyataan bahwa Allah berada di langit. Seandainya Allah berada di semua tempat, nescaya Rasulullah SAW pernah menerangkan dan mengajarkan kepada para sahabatnya. Kalau Allah berada di SEGALA TEMPAT bererti Allah jua berada di tempat-tempat yang najis dan kotor. Maha Suci Allah dari anggapan itu.

[Syeikh Muhammad b Jamil Zeno; Dar-ul-Hadith Al-Khairiyah, Makkah
Al-Mukarramah]

sumber http://www.mymasjid.net.my/koleksi-artikel/display/334
 
Last edited:
meh tgk apa yg dituliskan nie.. ni kira mcmn plak ek.. tergolong dalam wahabi gak ke

Allah yang menciptakan kita mewajibkan kita untuk mengetahui di mana Dia, sehingga kita dapat menghadap kepada-Nya dengan hati, do'a dan solat kita. Orang yang tidak tahu di mana Tuhan akan selalu sesat, dan tidak mengetahui bagaimana caranya beribadah yang benar. Sifat 'atas' atau 'tinggi' yang dimiliki Allah atas makhlukNya tidak berbeza dengan sifat-sifat Allah yang lain sebagaimana yang diterangkan dalam Qur'an dan Hadith sahih, seperti 'mendengar', 'melihat', 'berbicara', 'turun' dan lain-lain.

Aqidah para ulama salaf yang soleh dan golongan yang selamat yaitu "Ahlus Sunnah wal Jama'ah" mempunyai keyakinan sesuai dengan apa yang terdapat dalam Kitabullah tanpa ta'wil(menggeser ma'na yang asal ke ma'na yang lain), ta'til (meniadakan ma'nanya sama sekali) dan tasybih (menyamakan Allah dengan makhlukNya). Hal ini berdasarkan firman Allah yang bermaksud:
"Tidak ada suatu apa pun yang sama dengan Allah dan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat." (AsySyura: 11)

Sifat-sifat Allah ini antara lain sifat 'atas' atau 'tinggi' tadi mengikuti zat Allah. Oleh karena itu Iman kepada sifat-sifat Allah tersebut juga wajib sebagaimana juga Iman kepada zat Allah. Imam Malik ketika ditanya tentang ma'na "istiwa" dalam firman Allah yang bermaksud:
''Allah yang Maha Pengasih itu "istawa" di atas Arasy." [Surah Taha:4]
Beliau menjawab: Istiwa itu sudah dimaklumi, yaitu bererti "Tinggi."Tetapi bentuknya bagaimana tidak diketahui, kita hanya wajib mengimaninya.

Perhatikanlah jawapan Imam Malik tadi yang menetapkan bahwa iman kepada istiwa itu wajib diketahui oleh setiap Muslim. Tetapi bagaimana tingginya Allah itu hanya Allah saja yang mengetahui. Orang yang mengingkari sifat Allah yang telah ditetapkan dalam Qur'an dan hadith - antara lain sifat ketinggian Allah yang mutlak dan Allah di atas langit - maka orang itu bererti telah mengingkari ayat Qur'an dan hadith yang menetapkan adanya sifat-sifat tersebut. Sifat-sfat tersebut meliputi
sifat-sifat kesempurnaan, keluhuran dan keagungan yang tidak boleh diingkari oleh siapa pun. Usaha sekelompok ulama' yang datang belakangan untuk mena'wilkan ayat-ayat Qur'an yang berhubungan dengan sifat Allah, yang terpengaruh oleh filsafat yang merosak aqidah Islam, menyebabkan mereka menghilangkan sifat-sifat Allah yang sempurna dari zat-Nya.

Mereka bertentangan dengan method ulama salaf yang dinilai lebih
selamat, lebih tahu dan lebih kuat argumentasinya.KESIMPULAN
Beriman kepada seluruh sifat-sifat Allah yang diterangkan dalam Qur'an dan hadith adalah wajib. Tidak boleh membeza-bezakan antara sifat yang satu dengan sifat yang lain, sehingga kita hanya mahu beriman kepada sifat yang satu dan ingkar kepada sifat yang lain. Orang yang percaya bahwa Allah itu Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan percaya bahwa mendengar dan melihatnya Allah tidak sama dengan mendengar dan melihatnya makhluk, maka ia juga harus percaya bahwa Allah itu tinggi di
atas langit dengan cara dan sifat yang sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan tingginya makhluk, kerana sifat tingginya itu adalah sifat yang sempurna bagi Allah. Hal itu sudah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam kitabNya dan sabda-sabda Rasulullah SAW. Fitrah dan cara berfikir yang sihat juga mendukung kenyataan tersebut.ALLAH Dl ATAS ARASY
Al Qur'an, hadith sahih dan naluri serta cara berfikir yang sihat akan mendukung kenyataan bahwa Allah berada di atas arasy.

1. Allah berfirman yang bermaksud:
"Allah yang Maha Pengasih itu "istawa" di atas Arasy." [Surah Taha:4] Sebagaimana diterangkan dalam hadith Bukhari, para tabiin menafsirkan istawa dengan naik dan tinggi.

2. Allah berfirman yang bermaksud:
"Apakah kamu merasa aman terhadap Yang di langit? Dia akan
menjungkir-balikkan bumi bersama kamu." (AlMulk:16)
Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud "Yang di langit" adalah Allah seperti dituturkan dalam kitab Tafsir Ibnul-Jauzi.3. Firman Allah yang bermaksud:
"Orang-orang tidak takut kepada Tuhannya yang di atas mereka." (AnNahl: 50)

4. Firman Allah tentang Nabi Isa As:
"Tetapi Allah mengangkatnya kepadaNya." (AnNisa:158)
Maksudnya Allah menaikkan Nabi Isa ke langit.

5. Allah berfirman yang maksudnya:
"Ialah Allah yang ada di langit-langit." (AlAn'am: 3)
Ibnu Katsir mengomentari ayat ini sebagai berikut: Para ahli tafsir bersependapat bahwa kita tidak akan berkata seperti ucapan kaum Jahmiyah (golongan yang sesat) yang mengatakan bahwa Allah itu berada di setiap tempat. Maha Suci Allah dari ucapan mereka. Adapun firman Allah yang bermaksud:
"Dan Allah selalu bersamamu di mana kamu berada." (AlHadid: 41)
Yang dimaksudkan adalah Allah itu selalu bersama kita, dimana Allah Mendengar dan Melihat kita, seperti keterangan dalam Ibnu Katsir dan Jalalain.

6. Rasulullah SAW mi'raj ke langit ketujuh dan berdialog dengan Allah serta diwajibkan untuk melakukan solat lima waktu (Riwayat Bukhari dan Muslim).

7. Rasulullah SAW bersabda:
"Kenapa kamu tidak mempercayaiku, padahal saya ini dipercayai oleh Allah yang ada di langit?" (Riwayat Bukhari dan Muslim).

8. Rasulullah SAW bersabda: "Sayangilah orang-orang yang ada di bumi maka yang di langit (Allah) akan menyayangimu." (Riwayat Turmidzi).

9. Rasulullah SAW pernah menanyai seorang wanita budak: "Di mana Allah?" Jawabnya: "Di langit!" Rasulullah bertanya lagi: "Siapa saya?" Dijawab lagi: "Kamu Rasulullah." Lalu Rasulullah bersabda: "Merdekakanlah dia karena dia seorang Mukminah! "

10. Sabda Rasulullah SAW: "Arsy berada di atas, dan Allah berada di atas arsy. Allah mengetahui keadaan kamu."

11. Abu Bakar Siddiq berkata: "Barang siapa menyembah Allah maka Allah berada di langit, Ia hidup dan tidak mati." (Riwayat Imam Darimi dalam Alradd alal Jahmiyah)

12. Abdullah bin Mubarak pernah ditanya: "Bagaimana kita mengetahui Tuhan kita?" Maka beliau menjawab: "Tuhan kita di atas langit, di atas arsy, berbeza dengan makhlukNya." Maksudnya zat Allah berada di atas arsy, berbeza dan berpisah dengan makhlukNya, dan keadaannya di atas arsy tersebut tidak sama dengan makhluk.

13. Imam Abu Hanifah menulis kitab kecil berjudul "Sesungguhnya Allah itu di atas arsy." Beliau menerangkan hal itu seperti dalam kitabnya "Al-Ilm wal-Muta'allim."

14. Orang yang sedang solat selalu mengucapkan "Subhana rabial'ala (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). Ketika berdo'a ia juga mengangkat tangannya dan menadahkan ke langit.

15. Otak yang sihat juga mendukung kenyataan bahwa Allah berada di langit. Seandainya Allah berada di semua tempat, nescaya Rasulullah SAW pernah menerangkan dan mengajarkan kepada para sahabatnya. Kalau Allah berada di SEGALA TEMPAT bererti Allah jua berada di tempat-tempat yang najis dan kotor. Maha Suci Allah dari anggapan itu.

[Syeikh Muhammad b Jamil Zeno; Dar-ul-Hadith Al-Khairiyah, Makkah
Al-Mukarramah]

sumber http://www.mymasjid.net.my/koleksi-artikel/display/334

Belajar Tafisran al-Quran dalam teknik dan proses yang sebenar.

Istiwa` bukan bermakna tinggi ia tidak boleh dimaknakan. Takwil tak boleh apatah lagi ditafsirkan...Jika tinggi maknanya maka pasti ada rendahnya.

Jika ayat Allah yang mengatakan Dia "ada tanga" maka apakah Yadun yang bererti tangan itu bermakna tangan?
 
tak perlu nak pertikai apa pun yang mereka nak kata tentang dimana Wujud Allah itu,sebab pengetahuan tentang Allah itu hanya mengikut kadar ilmu dan amal seseorang itu,cerita tentang Allah selagi boleh dihujah masih berada pada ilmu yaqin(pada akal)ada pun keyakinan tentang Allah itu boleh mencapai sehingga darajat ainul yaqin,haqqul yaqin dan kamal yaqin,kita orang awam jangan nak gah cerita tentang Allah,peringkat ulama salaf itu di nilai mengikut amalan rohani mereka yang sentiasa mengekalkan ingat kepada Allah tanpa lalai,mereka mengambil Islam secara keseluruhan (aqidah,syariat,akhlaq,jihad bilmal dan jihad binnafsi)mengikut sunnah secara keseluruhan(siddiq,amanah,tabligh dan fathonah)
 
mmm ...mungkin sedara tersilap tafsir apa yang saya tulis atau penerangan saya tidak jelas. Apa yang saya maksudkan ialah, sekiranya muncul seseorang hamba Allah menanyakan "Di mana Allah berada?", takkan Guru agama tu terus bagi jawapan, tapi sebelum bagi jawapan kena bersertakan hujah-hujah yang betul. Nak fahamkan hujah, Nak fahamkan sifat2 Allah ni bukanye mudah, bukan sehari boleh faham. (Ini kerana soalan yang sebegini akan menjadi perbahasan macam kat thread sekarang ni, kalau soalan yang biasa takpe laa)...
so kenalah belajar, dan Seorang Guru tu takkan nak paksa seseorang tu belajar...

Pernah saya mendengar Guru saya menasihatkan rakan sya "Kalau naik motor c70, jangan la nak bawak laju macam Honda City".

Maksud penerangan saya yang posting sebelum ni, ialah orang yang nak belajar betul2, tak cukup dengar ceramah dari guru tu sahaja, berjumpa terus dengan beliau untuk belajar dari beliau...
kalau setakat dengar kat You Tube tu jee...sampai bila2 pun tak habis bincang thread ni....

adakah saya mengatakan bahawa seseorang guru itu perlu memaksa pelajarnya belajar..?apa yang saya taip tadi "belajar atau tidak itu perkara no.2"..dan konotasi soalan "Di mana Allah berada?" tidak sama maknanya dengan "Allah Di mana?"..baik saya nak tanya soalan mudah pada sedara

1. Beruk Pak Ali
2. Pak Ali beruk..

adakah kedua2 ayat ini mempunyai maksud yang sama? :-?

tulisan yang berwarna hijau tu saudara tujukan kepada siapa sebenarnya..saya atau TT..? sebab setahu saya TT yang belajar melalui youtube..segala ungkapan dan barisan taip posting TT kalu sedara baca dari muka 1 hingga sekarang..saya kir sedara tahu siapa yang belajar dengan youtube..
 
Back
Top
Log in Register