ainissocoolsince1991
Junior Member
- Messages
- 57
- Joined
- May 19, 2008
- Messages
- 57
- Reaction score
- 9
- Points
- 11
Doa akan dikabulkan kalau hatinya yakin, dan tidak akan dikabulkan kalau hatinya lalai dan main-main, ragu, tidak yakin. Bagaimana membangkitkan agar hati ini yakin dalam doa?
1. Gaungkan dalam hati bahwa Allah Pengabul doa
Ketika sedang berdoa maupun setelah berdoa, tanamkan atau gaungkan di hati bahwa Allah Maha Pengabul Doa. Gaungkan pula dalam hati bahwa Allah Maha Baik, tidak pernah berbuat dzolim terhadap hambaNya. Allah tidak pernah ingkar janji. Apa janji Allah? Setiap doa pasti dikabulkan. Karena Allah Maha Baik, tidak ada alasan Allah tidak mengabulkan doa kita. Gaungkan pula di dalam hati bahwa tidak ada yang mustahil di tangan Allah, karena Allah Maha Kuasa dalam mengabulkan doa. Seberat apa pun permasalahan yang di hadapi hamba, bagi Allah itu adalah kecil; tidak ada yang mustahil. ”Ya Allah, Engkau pasti mengabulkan doaku”, itu yang digaung-gaungkan, ”Karena Engkau Maha Baik, tidak pernah dzalim terhadap hambaMu”. Ini yang membuat kita menjadi lebih bersemangat dalam berdoa. Selama ini mengapa dalam berdoa kita kurang bersemangat? Karena dalam hatinya, ”Sepertinya Allah tidak mengbulkan doaku…”. Kalau seperti itu, hati menjadi lemas, tidak bersemangat. Kalau kita sering mengalami keajaiban-keajaiban, maka itu makin bagus, menambah keyakinan kita dalam berdoa. Tetapi kalau semua yang terjadi dianggap biasa saja, dianggap serba kebetulan, keyakinan kita makin berkurang. Makin banyak kejadian yang ajaib (unexpected), makin dahsyat doa kita. Menggaungkan hal-hal seperti ini membutuhkan konsistensi, terus menerus; sampai menghunjam di dalam hati. Kalau sudah menghunjam di dalam hati, doa itu akan meyakinkan dan akan dikabulkan.
2. Berulang-ulang
Doa itu harus dilakukan berulang-ulang, jangan bosan. Ulang-ulang doa itu sampai dikabulkan. Kalau kita sudah mulai bosan, doa tidak akan dikabulkan. Artinya berulang-ulang adalah bahwa doa yang sama diucapkan beberapa kali, tidak boleh bosan; jangan beralih ke doa yang lain sebelum doa ini dikabulkan. Yang sering terjadi adalah doa yang satu belum dikabulkan, sudah minta doa yang lain lagi. Ulang-ulang terus sampai dikabulkan doa itu. Dengan begitu hati menjadi mantap. Keyakinan doa itu ibarat tangga, bertingkat-tingkat sampai ujungnya adalah pengabulan doa. Setiap tingkatan menunjukkan tingkat keyakinan doa, sampai puncaknya adalah keyakinan penuh 100%. Kalau keyakinannya sudah 100%, doa itu yakin dikabulkan; tetapi kalau masih di tangga bawah, berarti belum yakin; perlu terus ditingkatkan dengan berulang-ulang agar hati mantap. Ciri hati yang mantap adalah tangan bergetar, suara bergetar. Doa Nabi ketika perang Badar sampai bergetar tangannya, sampai-sampai sorabannya jatuh, sampai Nabi pun mengucapkan doa, ”Ya Allah, kalau kami hari kalah dalam perang ini, maka tidak akan ada yang menyembah Engkau di muka bumi ini”. Bergetar tangan dan suara doa Nabi, sehingga doanya terkabul. Jadi, doa itu lakukan berulang-ulang sampai dikabulkan. Kalau sudah sampai pada tingkatan bergetar itu, kalau yang diminta adalah sesuatu yang mustahil, maka yang muncul adalah keajaiban. Dalam bahasa agama itu dinamakan karomah, maunah, mu’jizat. Lakukan berulang-ulang, kalau 1000 kali belum dikabulkan, buat 2000 kali, belum dikabulkan juga, lakukan 3000 kali; terus begitu. Yang sering terjadi adalah baru 50% keyakinannya, sudah turun lagi, atau minta doa yang lain. Berarti doa itu mulai dari nol lagi, sama seperti permainan ular tangga, sudah sampai tengah-tengah tiba-tiba bisa turun lagi mulai dari nol lagi. Kalau doa itu sudah dikabulkan, baru beralih ke doa yang lain. Firman Allah:
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,
Yang sering terjadi adalah doa yang satu belum dikabulkan, sudha beralih ke doa yang lain. Ibarat kuliah baru tingkat satu, pindah lagi ke universitas yang lain. Kuliah pada 10 universitas tetapi semuanya tingkat satu terus, tidak akan pernah lulus. Kalau ia tekun pada universitas tertentu, waktu 10 tahun itu bisa mencapai gelar Doktor.
3. Doa itu harus fokus dan jelas
Doa itu harus fokus, artinya yang diminta adalah jelas, tidak mengambang. Mengapa kadang-kadang doa kita tidak yakin? Karena doa kita sifatnya mengambang: “Terserah Allah saja”, jangan seperti itu. Mintalah yang jelas tentang kebaikan. Doa itu harus jelas, artinya kalimatnya tidak mengambang. Misalnya, ”Ya Allah berilah aku rejeki”, itu adalah doa yang mengambang. Minta yang fokus dan jelas: ”Ya Allah, kontrakanku sudah habis, berilah aku rejeki untuk bisa membayar kontrakan ini”. Mintalah masalah kita secara fokus dan jelas, supaya kita bertambah yakin. Yang kedua, kalau doa itu terkabul, kita bisa dengan mudah mengevaluasinya doa kita itu: sudah terkabul atau belum. Kalau doa kita tidak jelas, kita sulit untuk mengetahui apakah sudah dikabulkan atau belum doa kita. Misalnya berdoa, ”Ya Allah berilah aku rejeki”, lalu besoknya mendapat Rp. 2000,-, itu rejeki juga; tetapi yang seperti ini sering dianggap tidak dikabulkan. Mintanya yang jelas: ”Ya Allah, kontrakanku belum dibayar”, mudah untuk mengevaluasinya. Kalau hanya minta rejeki, diberi Rp. 5000,- sering kali protes, padahal mintanya rejeki Mengapa doa orang yang didzalimi itu makbul? Karena doanya itu dengan penuh keyakinan, dan jelas permintaannya. Makanya kita harus berhati-hati terhadap doanya orang yang didzalimi. Orang yang didzalimiitu permintaannya jelas dan fokus. Agar doa kita fokus, makanya permintaannya jangan banyak-banyak, kalau bisa satu atau dua hal saja; kecuali untuk urusan akhirat maka mintanya yang banyak-banyak. Ini dilakukan agar target yang dituju jelas.
4. Lawan gangguan syaitan
Kalau ada gangguan syaitan, lawan! Syaitan itu sering menggoda kita, ”Itu tidak benar, Tuhan masa’ mengabulkan doamu yang seperti itu?”. Ini harus dilawan, fight! Gaungkan bahwa Allah Maha Baik. Bisa jadi syaitannya berupa manusia, ”Ya, saya tahu siapa kamu, pasti gagal, sedangkan ustadz saja berdoa tidak dikabulkan apalagi kamu!”. Yang seperti ini bisa berpengaruh kepada kita, maka lawan! Pengalaman orang lain bisa menjadikan diri kita tidak yakindatas doa kita.
1. Gaungkan dalam hati bahwa Allah Pengabul doa
Ketika sedang berdoa maupun setelah berdoa, tanamkan atau gaungkan di hati bahwa Allah Maha Pengabul Doa. Gaungkan pula dalam hati bahwa Allah Maha Baik, tidak pernah berbuat dzolim terhadap hambaNya. Allah tidak pernah ingkar janji. Apa janji Allah? Setiap doa pasti dikabulkan. Karena Allah Maha Baik, tidak ada alasan Allah tidak mengabulkan doa kita. Gaungkan pula di dalam hati bahwa tidak ada yang mustahil di tangan Allah, karena Allah Maha Kuasa dalam mengabulkan doa. Seberat apa pun permasalahan yang di hadapi hamba, bagi Allah itu adalah kecil; tidak ada yang mustahil. ”Ya Allah, Engkau pasti mengabulkan doaku”, itu yang digaung-gaungkan, ”Karena Engkau Maha Baik, tidak pernah dzalim terhadap hambaMu”. Ini yang membuat kita menjadi lebih bersemangat dalam berdoa. Selama ini mengapa dalam berdoa kita kurang bersemangat? Karena dalam hatinya, ”Sepertinya Allah tidak mengbulkan doaku…”. Kalau seperti itu, hati menjadi lemas, tidak bersemangat. Kalau kita sering mengalami keajaiban-keajaiban, maka itu makin bagus, menambah keyakinan kita dalam berdoa. Tetapi kalau semua yang terjadi dianggap biasa saja, dianggap serba kebetulan, keyakinan kita makin berkurang. Makin banyak kejadian yang ajaib (unexpected), makin dahsyat doa kita. Menggaungkan hal-hal seperti ini membutuhkan konsistensi, terus menerus; sampai menghunjam di dalam hati. Kalau sudah menghunjam di dalam hati, doa itu akan meyakinkan dan akan dikabulkan.
2. Berulang-ulang
Doa itu harus dilakukan berulang-ulang, jangan bosan. Ulang-ulang doa itu sampai dikabulkan. Kalau kita sudah mulai bosan, doa tidak akan dikabulkan. Artinya berulang-ulang adalah bahwa doa yang sama diucapkan beberapa kali, tidak boleh bosan; jangan beralih ke doa yang lain sebelum doa ini dikabulkan. Yang sering terjadi adalah doa yang satu belum dikabulkan, sudah minta doa yang lain lagi. Ulang-ulang terus sampai dikabulkan doa itu. Dengan begitu hati menjadi mantap. Keyakinan doa itu ibarat tangga, bertingkat-tingkat sampai ujungnya adalah pengabulan doa. Setiap tingkatan menunjukkan tingkat keyakinan doa, sampai puncaknya adalah keyakinan penuh 100%. Kalau keyakinannya sudah 100%, doa itu yakin dikabulkan; tetapi kalau masih di tangga bawah, berarti belum yakin; perlu terus ditingkatkan dengan berulang-ulang agar hati mantap. Ciri hati yang mantap adalah tangan bergetar, suara bergetar. Doa Nabi ketika perang Badar sampai bergetar tangannya, sampai-sampai sorabannya jatuh, sampai Nabi pun mengucapkan doa, ”Ya Allah, kalau kami hari kalah dalam perang ini, maka tidak akan ada yang menyembah Engkau di muka bumi ini”. Bergetar tangan dan suara doa Nabi, sehingga doanya terkabul. Jadi, doa itu lakukan berulang-ulang sampai dikabulkan. Kalau sudah sampai pada tingkatan bergetar itu, kalau yang diminta adalah sesuatu yang mustahil, maka yang muncul adalah keajaiban. Dalam bahasa agama itu dinamakan karomah, maunah, mu’jizat. Lakukan berulang-ulang, kalau 1000 kali belum dikabulkan, buat 2000 kali, belum dikabulkan juga, lakukan 3000 kali; terus begitu. Yang sering terjadi adalah baru 50% keyakinannya, sudah turun lagi, atau minta doa yang lain. Berarti doa itu mulai dari nol lagi, sama seperti permainan ular tangga, sudah sampai tengah-tengah tiba-tiba bisa turun lagi mulai dari nol lagi. Kalau doa itu sudah dikabulkan, baru beralih ke doa yang lain. Firman Allah:
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,
Yang sering terjadi adalah doa yang satu belum dikabulkan, sudha beralih ke doa yang lain. Ibarat kuliah baru tingkat satu, pindah lagi ke universitas yang lain. Kuliah pada 10 universitas tetapi semuanya tingkat satu terus, tidak akan pernah lulus. Kalau ia tekun pada universitas tertentu, waktu 10 tahun itu bisa mencapai gelar Doktor.
3. Doa itu harus fokus dan jelas
Doa itu harus fokus, artinya yang diminta adalah jelas, tidak mengambang. Mengapa kadang-kadang doa kita tidak yakin? Karena doa kita sifatnya mengambang: “Terserah Allah saja”, jangan seperti itu. Mintalah yang jelas tentang kebaikan. Doa itu harus jelas, artinya kalimatnya tidak mengambang. Misalnya, ”Ya Allah berilah aku rejeki”, itu adalah doa yang mengambang. Minta yang fokus dan jelas: ”Ya Allah, kontrakanku sudah habis, berilah aku rejeki untuk bisa membayar kontrakan ini”. Mintalah masalah kita secara fokus dan jelas, supaya kita bertambah yakin. Yang kedua, kalau doa itu terkabul, kita bisa dengan mudah mengevaluasinya doa kita itu: sudah terkabul atau belum. Kalau doa kita tidak jelas, kita sulit untuk mengetahui apakah sudah dikabulkan atau belum doa kita. Misalnya berdoa, ”Ya Allah berilah aku rejeki”, lalu besoknya mendapat Rp. 2000,-, itu rejeki juga; tetapi yang seperti ini sering dianggap tidak dikabulkan. Mintanya yang jelas: ”Ya Allah, kontrakanku belum dibayar”, mudah untuk mengevaluasinya. Kalau hanya minta rejeki, diberi Rp. 5000,- sering kali protes, padahal mintanya rejeki Mengapa doa orang yang didzalimi itu makbul? Karena doanya itu dengan penuh keyakinan, dan jelas permintaannya. Makanya kita harus berhati-hati terhadap doanya orang yang didzalimi. Orang yang didzalimiitu permintaannya jelas dan fokus. Agar doa kita fokus, makanya permintaannya jangan banyak-banyak, kalau bisa satu atau dua hal saja; kecuali untuk urusan akhirat maka mintanya yang banyak-banyak. Ini dilakukan agar target yang dituju jelas.
4. Lawan gangguan syaitan
Kalau ada gangguan syaitan, lawan! Syaitan itu sering menggoda kita, ”Itu tidak benar, Tuhan masa’ mengabulkan doamu yang seperti itu?”. Ini harus dilawan, fight! Gaungkan bahwa Allah Maha Baik. Bisa jadi syaitannya berupa manusia, ”Ya, saya tahu siapa kamu, pasti gagal, sedangkan ustadz saja berdoa tidak dikabulkan apalagi kamu!”. Yang seperti ini bisa berpengaruh kepada kita, maka lawan! Pengalaman orang lain bisa menjadikan diri kita tidak yakindatas doa kita.
