BTC USD 60,726.0 Gold USD 4,328.60
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Adam Kesepian

Mahar perkahwinan Adam

Pergaulan hidup adalah persahabatan! Dan pergaulan antara lelaki dengan wanita akan berubah menjadi perkahwinan apabila disertai dengan mahar. Dan kini apakah bentuk mahar yang harus diberikan?
Itulah yang sedang difikirkan Adam.

Untuk keluar dari keraguan, Adam a.s berseru: “Ilahi, Rabbi! Apakah gerangan yang akan kuberikan kepadanya? Emaskah, intankah, perak atau permata?”.

“Bukan!” kata Tuhan.

“Apakah hamba akan berpuasa atau solat atau bertasbih untuk-Mu sebagai maharnya?” tanya Adam a.s dengan penuh pengharapan.

“Bukan!” tegas suara Ghaib.

Adam diam, mententeramkan jiwanya. Kemudian bermohon dengan tekun: “Kalau begitu tunjukilah hamba-Mu jalan keluar!”.

Allah SWT. berfirman: “Mahar Hawa ialah selawat sepuluh kali atas Nabi-Ku, Nabi yang bakal Kubangkit yang membawa pernyataan dari sifat-sifat-Ku: Muhammad, cincin permata dari para anbiya’ dan penutup serta penghulu segala Rasul. Ucapkanlah sepuluh kali!”.
Adam a.s merasa lega. Ia mengucapkan sepuluh kali salawat ke atas Nabi Muhammad SAW. sebagai mahar kepada isterinya. Suatu mahar yang bernilai spiritual, kerana Nabi Muhammad SAW adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Hawa mendengarkannya dan menerimanya sebagai mahar.
“Hai Adam, kini Aku halalkan Hawa bagimu”, perintah Allah, “dan dapatlah ia sebagai isterimu!”.
Adam a.s bersyukur lalu memasuki isterinya dengan ucapan salam. Hawa menyambutnya dengan segala keterbukaan dan cinta kasih yang seimbang.

Allah SWT. berfirman kepada mereka: “Hai Adam, diamlah engkau bersama isterimu di dalam syurga dan makanlah (serta nikmatilah) apa saja yang kamu berdua ingini, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini kerana (apabila mendekatinya) kamu berdua akan menjadi zalim”.
(Al-A’raaf: 19).
Dengan pernikahan ini Adam a.s tidak lagi merasa kesepian di dalam syurga. Inilah percintaan dan pernikahan yang pertama dalam sejarah ummat manusia, dan berlangsung di dalam syurga yang penuh kenikmatan. Iaitu sebuah pernikahan agung yang dihadiri oleh para bidadari, jin dan disaksikan oleh para malaikat.

Peristiwa pernikahan Adam dan Hawa terjadi pada hari Jumaat. Entah berapa lama keduanya berdiam di syurga, hanya Allah SWT yang tahu. Lalu keduanya diperintahkan turun ke bumi. Turun ke bumi untuk menyebar luaskan keturunan yang akan mengabdi kepada Allah SWT dengan janji bahawa syurga itu tetap tersedia di hari kemudian bagi hamba-hamba yang beriman dan beramal soleh.

Firman Allah SWT.: “Kami berfirman: Turunlah kamu dari syurga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, nescaya tidak ada kekhuatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
 
Maha Kaya Allah Azza Wajalla...mengurniakan anak kpd adam dan hawa begitu ramai....yg akhirnya bertaburan di muka bumi ini. terima kasih tuhan!
 
* Romantisme di Syurga *

Perayaan maiyah dan cinta Adam dan Hawa masih jadi perbincangan makhluk-makhluk di syurga, seraya bersenandung puji-pujian kehadirat-Nya penuh kekaguman. Bintang-bintang semakin bersinar binar. Bunga-bunga semakin merekah indah seiring mulai tumbuhnya putik atau pun benang sari. Waktu itu, Adam duduk termenung di atas sebuah batu di tepi telaga Kautsar. Pandangannya menerawang ke dalam genangan air yang sungguh bening dan beriak tenang.

Adam masih bertanya-tanya sendiri tentang Hawa: seseorang yang akan turut mengisi hari-hari bersamanya. Entah mengapa pula kemunculan Hawa terasa menjadi jawaban atas gelegak perasaannya sebelumnya. Perasaan yang merentang jedah panjang sehingga pendulum waktu terasa berayun sangat lambat. Perasaan yang mengusik pikirannya, seolah ada yang kurang dalam dirinya. Perasaan membutuhkan yang ia sendiri tak tahu apa yang diinginkannya. Perasaan yang teramat melenakan sekaligus melunglaikan sekujur dayanya.

Dalam batinnya juga masih terngiang-ngiang penjelasan Tuhan mengenai riwayat perdana kehadirannya. Mula-mula Tuhan menciptakannya dari tanah, lantas menjadi sosok makhluk “ahsan taqwim” (sebaik-baik bentuk) berspesies manusia laki-laki. Namun walau begitu, ia tidaklah benar-benar sempurna, lantaran ternyata struktur tulang rusuk dalam tubuhnya kurang secuil.

Lalu, dari bagian kecil rusuknya itulah Tuhan menciptakan manusia kedua bernama Hawa yang serupa tapi tak sama dengannya. Sosok lain yang merupakan bagian dirinya, tapi dengan Kehendak-Nya bisa menjadi pribadi yang berbeda. Pribadi berkodrat perempuan dengan karakteristik jasmani, pikiran, hati, dan perasaan tersendiri. Pribadi yang memiliki dunianya sendiri tapi senantiasa tersambung dengan dunianya.

Dari situ, ia menyedari bahawa manusia seperti dirinya termasuk juga Hawa sesungguhnya tiada yang sempurna. Yang ada hanyalah kenescayaan untuk saling menggenapi kekurangan dan menghargai kelebihan satu sama lain. Bukan saling menyakiti apalagi merendahkan hanya gara-gara perbedaan yang tak sungguh berbeda.

“Hey, mengapa kulihat sejak tadi kau berdiam diri?” tiba-tiba terdengar suara yang mengagetkannya. Seketika lamunannya musnah.
“Oh, rupanya kau, Hawa!” balasnya terbata-bata setelah mengetahui si empunya suara.

“Apa kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya Hawa lagi, lalu mengambil tempat di sisinya.
“Hmmm... iya neh!” jawabnya sambil menerawang.

“Omong-omong, apa yang sedang kau pikirkan hingga selarut tadi?” tanya Hawa ingin tahu.
“Aku sedang memikirkan dirimu?”

“Memangnya ada apa dengan aku?” selidik Hawa.
“Entahlah, aku sendiri tak tahu apa yang kupikirkan tentangmu sebenarnya. Yang jelas aku merasakan bahwa hadirmu telah membuat diriku berarti dengan menegaskan bahwa aku ada!” balasnya singkat sambil menghela nafas.

Entah kenapa kata-kata Adam sempat menyihir Hawa hingga terdiam dan tersipu malu mendengarnya. Dalam hati, Hawa serasa bermandikan rinai embun pagi. “Sungguh Agung Tuhan yang telah membisikkan kata-kata yang menyejukkan itu dalam hati Adam, lalu menyuarakannya lewat bibirnya!” Hawa membatin sendiri. Hawa juga yakin bahwa kata-kata Adam juga keluar dari lubuk kalbunya.

“Wahai Hawaku! Ceritakanlah lebih banyak tentang siapa dirimu sesungguhnya!” bisik Adam lirih sambil meraih tangan Hawa dengan lembut. Lagi-lagi Hawa hanya bisa terdiam dan wajahnya semakin tertunduk dengan perasaan berkecamuk.

bersambung esok...:))
Diposkan oleh Den Anshor
 
ermmm menarik kisahnya...tp mcm dh buat novel lak aku baca kisah n plot cita nya
 
Back
Top
Log in Register