akanopiat
Permanently Banned -, Spamming in Private Message
- Messages
- 1,677
- Joined
- Jan 1, 2009
- Messages
- 1,677
- Reaction score
- 64
- Points
- 30
Selain dari nabi-nabi ,rasul-rasul, alim ulamak .hafiz al quran , para syuhada .
Kita juga boleh menjadi VIP di alam akhirat kelak..dengan menghafaz 40 hadis nabi saw...
diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Syuabul Iman
Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata, Rasulullah shallallohu alaihi wasallam
bersabda, “Barang siapa yang menghafal 40 hadits yang bermanfaat bagi ummatku dari
urusan agama mereka niscaya Allah akan membangkitkannya di hari kiamat bersama para
ulama. Keutamaan seorang alim dibandingkan seorang abid (ahli ibadah) sebanyak 70 derajat
dan Allah yang lebih tahu berapa jarak antara satu derajat ke derajat berikutnya”
Dari Abu Darda radhiyallohu anhu berkata, Rasulullah shallallohu alaihi wasallam telah
ditanya apa batasan ilmu jika seseorang menghafalnya maka dia termasuk faqih? Rasulullah
shallallohu alaihi wasallam menjawab, “Barangsiapa menghafal bagi ummatku 40 hadits dari
perkara dien mereka, niscaya Allah akan membangkitkannya di hari kiamat sebagai seorang
faqih dan aku menjadi pemberi syafaat dan saksi baginya”
Hadits Arba’in Nawawiyah adalah kumpulan 40 hadits Nabi saw yang dikumpulkan oleh
Imam Nawawi ra. dan merupakan kitab yang tidak asing bagi kita umat Islam di seluruh
dunia. Umat Islam mengenalnya dan akrab dengannya, karena banyak dibahas oleh para
ulama dan menjadi rujukan dalam menyebarkan ajaran Islam kepada kaum muslimin
berkaitan dengan kehidupan beragama, ibadah, muamalah dan syariah.
Mungkin Imam Nawawi dalam mengumpulkan hadits-hadits ini terinspirasi
dengan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Ali, Abdullah
bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Abi Darda, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas
bin Malik, Abu Hurairah, Abu Sa’id Al-Khudhri –semoga Allah meridhai
mereka semua- dari berbagai metode periwayatan-
bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa yang menghafal dari umatku 40 hadits
–yang berisi di dalamnya- akan perkara agamanya, maka Allah akan
membangkitkannya di hari kiamat nanti bersama golongan para fuqaha dan
ulama”.
Dalam riwayat lain disebutkan,
“Allah akan membangkitkannya
sebagai seorang faqih dan alim”.
Dan dalam riwayat Abu Darda, “Aku
pada hari kiamat akan menjadi pemberi syafaat dan saksi“.
Dan dalam riwayat Ibnu Mas’ud,
“Dikatakan kepadanya: Masuklah kamu pada pintu
mana yang kamu suka”.
Dan dalam riwayat Ibnu Umar,
“Akan ditulis bersama golongan para ulama dan dibangkitkan bersama para syuhada”.
Para huffazh (ahli-ahli hadits) telah bersepakat bahwa hadits ini lemah walaupun memiliki
jalur periwayatan yang banyak” Walaupun para huffazh al-hadits melemahkan kedudukan
hadits di atas seperti imam Abdullah bin Al-Mubarak, Ad-Daruqutni, Al-Hakim, Abu
Nu’aim dan para ulama lainnya dari ulama terdahulu dan sekarang, namun
imam Nawawi tetap mengambilnya karena –seperti yang disepakati oleh
ulama lainnya-
boleh mengambil hadits dhaif (lemah) jika hanya
berkaitan dengan fadlail a’mal (perbuatan yang diutamakan).
Meskipun demikian Imam Nawawi tidak hanya bersandar pada hadits tersebut di
atas namun berpedoman pada hadits lainnya,
sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam hadits shahih, “Agar dapat disampaikan orang yang
menyaksikan kepada orang yang tidak menyaksikan”.
Dan hadits Rasul lainnya, “Allah memberkahi seseorang yang mendengar sabdaku, lalu dia
sadar dan menunaikannya seperti yang didengarnya”.
Karena itulah imam Nawawi mencoba mengumpulkan 40 hadits, mengikuti dan meneladani
apa yang disampaikan Rasulullah saw dan yang banyak dilakukan oleh para
ulama terdahulu.
Karena sebelumnya para ulama banyak mengumpulkan 40 hadits berkaitan
dengan ushuluddin (dasar-dasar agama), sebagian lainnya mengumpulkan
pada hadits yang berkaitan dengan cabang-cabang ilmu, sebagian lainnya
pada masalah jihad, sebagian lainnya pada masalah adab (etika dan
akhlaq) dan sebagian lainnya juga ada yang mengumpulkan pada
hadits-hadits tentang khutbah Rasulullah saw, semuanya memiliki tujuan
yang baik, karena itu Imam Nawawi juga ingin berkecimpung dalam
mengumpulkan 40 hadits yang mencakup segala aspek kehidupan, berkaitan
dengan kaidah agama yang agung, aqidah dan syariah, ibadah dan
muamalah. Namun demikian, untuk melegalisasikan kebenaran hadits ini,
imam Nawawi tidak mengambil hadits dari yang dhaif kecuali berusaha
mengambil atau mengumpulkan 40 hadits dari hadits-hadits yang shahih,
lebih banyak dari hadits-hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari
dan Muslim.
Imam Nawawi mengumpulkan 40 hadits dengan tidak menyebutkan secara
lengkap sanad-sanadnya; guna mempermudah menghafal dan lebih luas
manfaatnya. Dan bagi kita sebagai umat disarankan untuk mengambil,
mempelajari dan menghafal hadits-hadits tersebut, karena memiliki
kebarokahan dalam kehidupan agama dan akhirat, ketaatan dan
urusan duniawi.
memetik kata penceramah bebas ustaz azhar idrus , boleh mengamalkannya untuk
mendapatkan fadhilatnya (seperti hadis dhoif perbuatan menyapu muka selepas salam) tetapi
untuk dijadikan dalil dan hujah tidak dibolehkan (hanya hadis shohih atau hasan). hadis ini
hanya dhoif bukan maudhu'(palsu).Hadis dhoif boleh diamal untuk perkara sunat dan bukan
untuk menjadi sandaran hujah (mengikut kebanyakan ulamak hadis dan ulamak fekah).
Contohnya hadis dhoif tidak boleh jadi dalil potong tangan pencuri (hanya sohih atau hasan)
,contoh lain kita tidak boleh membatalkan nikah dengan hadis dhoif. Hadis dhoif hanya
dhoif/lemah dari syarat hadis bukan dari orang kafir..
Silap faham kita umat di akhir zaman ini menyangka hadis dhoif tidak boleh dipakai untuk di
amalkan bercanggah dari ulamak hadis yang muktabar di seluruh dunia....
Senarai kitab al-Arba’in (40 hadis):
1. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Bakr Al-Ajiri
2. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Bakr Al-Ashbahani
3. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Bakr Al-Kalabadzi
4. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Bakr Al-Baihaqi
5. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Sa’id Al-Malini
6. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Abdirrahman Al-Sulami
7. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Nu’aim Al-Ashfahani
8. Kitab Al-Arba’in karangan Ibnu Al-Jazari
9. Kitab Al-Arba’in karangan Ibnu Asakir
10. Kitab Al-Arba’in Al-Buldaniyyah karangan Abu Thahir Al-Salafi
11. Kitab Al-Arba’in karangan Al-Hakim
12. Kitab Al-Arba’in karangan Ad-Daruquthni
13. Kitab Al-Arba’in karangan As-Suyuthi
14. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Ismail Abdullah bin Muhammad Al-Anshari Al-Harawi
15. Kitab Al-Arba’in karangan Abdullah bin Al-Mubarak
16. Kitab Al-Arba’in karangan Ibnu Hajar Al-Asqalani
17. Kitab Al-Arba’in karangan Syeikh Daud al-Fathoni*
18. Kitab Al-Arba’in karangan Syah Waliyullah al-Dehlawi*
19. Kitab Al-Arba’in karangan Syeikh Yasin al-Fadani*
20. Kitab Al-Arba’in karangan Al-Imam An-Nawawi
Kitab al-Imam an-Nawawi adalah yang paling popular secara umum. Yang paling terkenal
kitab syarahannya adalah karangan Ibnu Rajab al-Hambali iaitu Jami’ Al-‘Ulum wa al-Hikam.
Dalam kitab ini,beliau menambah 8 buah hadis menjadikan kesemuanya 50 hadis.
Maka marilah kita mulai menghafal hadis dan mengamalkannya jika boleh...
Kita juga boleh menjadi VIP di alam akhirat kelak..dengan menghafaz 40 hadis nabi saw...
diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Syuabul Iman
Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata, Rasulullah shallallohu alaihi wasallam
bersabda, “Barang siapa yang menghafal 40 hadits yang bermanfaat bagi ummatku dari
urusan agama mereka niscaya Allah akan membangkitkannya di hari kiamat bersama para
ulama. Keutamaan seorang alim dibandingkan seorang abid (ahli ibadah) sebanyak 70 derajat
dan Allah yang lebih tahu berapa jarak antara satu derajat ke derajat berikutnya”
Dari Abu Darda radhiyallohu anhu berkata, Rasulullah shallallohu alaihi wasallam telah
ditanya apa batasan ilmu jika seseorang menghafalnya maka dia termasuk faqih? Rasulullah
shallallohu alaihi wasallam menjawab, “Barangsiapa menghafal bagi ummatku 40 hadits dari
perkara dien mereka, niscaya Allah akan membangkitkannya di hari kiamat sebagai seorang
faqih dan aku menjadi pemberi syafaat dan saksi baginya”
Hadits Arba’in Nawawiyah adalah kumpulan 40 hadits Nabi saw yang dikumpulkan oleh
Imam Nawawi ra. dan merupakan kitab yang tidak asing bagi kita umat Islam di seluruh
dunia. Umat Islam mengenalnya dan akrab dengannya, karena banyak dibahas oleh para
ulama dan menjadi rujukan dalam menyebarkan ajaran Islam kepada kaum muslimin
berkaitan dengan kehidupan beragama, ibadah, muamalah dan syariah.
Mungkin Imam Nawawi dalam mengumpulkan hadits-hadits ini terinspirasi
dengan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Ali, Abdullah
bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal, Abi Darda, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas
bin Malik, Abu Hurairah, Abu Sa’id Al-Khudhri –semoga Allah meridhai
mereka semua- dari berbagai metode periwayatan-
bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa yang menghafal dari umatku 40 hadits
–yang berisi di dalamnya- akan perkara agamanya, maka Allah akan
membangkitkannya di hari kiamat nanti bersama golongan para fuqaha dan
ulama”.
Dalam riwayat lain disebutkan,
“Allah akan membangkitkannya
sebagai seorang faqih dan alim”.
Dan dalam riwayat Abu Darda, “Aku
pada hari kiamat akan menjadi pemberi syafaat dan saksi“.
Dan dalam riwayat Ibnu Mas’ud,
“Dikatakan kepadanya: Masuklah kamu pada pintu
mana yang kamu suka”.
Dan dalam riwayat Ibnu Umar,
“Akan ditulis bersama golongan para ulama dan dibangkitkan bersama para syuhada”.
Para huffazh (ahli-ahli hadits) telah bersepakat bahwa hadits ini lemah walaupun memiliki
jalur periwayatan yang banyak” Walaupun para huffazh al-hadits melemahkan kedudukan
hadits di atas seperti imam Abdullah bin Al-Mubarak, Ad-Daruqutni, Al-Hakim, Abu
Nu’aim dan para ulama lainnya dari ulama terdahulu dan sekarang, namun
imam Nawawi tetap mengambilnya karena –seperti yang disepakati oleh
ulama lainnya-
boleh mengambil hadits dhaif (lemah) jika hanya
berkaitan dengan fadlail a’mal (perbuatan yang diutamakan).
Meskipun demikian Imam Nawawi tidak hanya bersandar pada hadits tersebut di
atas namun berpedoman pada hadits lainnya,
sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam hadits shahih, “Agar dapat disampaikan orang yang
menyaksikan kepada orang yang tidak menyaksikan”.
Dan hadits Rasul lainnya, “Allah memberkahi seseorang yang mendengar sabdaku, lalu dia
sadar dan menunaikannya seperti yang didengarnya”.
Karena itulah imam Nawawi mencoba mengumpulkan 40 hadits, mengikuti dan meneladani
apa yang disampaikan Rasulullah saw dan yang banyak dilakukan oleh para
ulama terdahulu.
Karena sebelumnya para ulama banyak mengumpulkan 40 hadits berkaitan
dengan ushuluddin (dasar-dasar agama), sebagian lainnya mengumpulkan
pada hadits yang berkaitan dengan cabang-cabang ilmu, sebagian lainnya
pada masalah jihad, sebagian lainnya pada masalah adab (etika dan
akhlaq) dan sebagian lainnya juga ada yang mengumpulkan pada
hadits-hadits tentang khutbah Rasulullah saw, semuanya memiliki tujuan
yang baik, karena itu Imam Nawawi juga ingin berkecimpung dalam
mengumpulkan 40 hadits yang mencakup segala aspek kehidupan, berkaitan
dengan kaidah agama yang agung, aqidah dan syariah, ibadah dan
muamalah. Namun demikian, untuk melegalisasikan kebenaran hadits ini,
imam Nawawi tidak mengambil hadits dari yang dhaif kecuali berusaha
mengambil atau mengumpulkan 40 hadits dari hadits-hadits yang shahih,
lebih banyak dari hadits-hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari
dan Muslim.
Imam Nawawi mengumpulkan 40 hadits dengan tidak menyebutkan secara
lengkap sanad-sanadnya; guna mempermudah menghafal dan lebih luas
manfaatnya. Dan bagi kita sebagai umat disarankan untuk mengambil,
mempelajari dan menghafal hadits-hadits tersebut, karena memiliki
kebarokahan dalam kehidupan agama dan akhirat, ketaatan dan
urusan duniawi.
memetik kata penceramah bebas ustaz azhar idrus , boleh mengamalkannya untuk
mendapatkan fadhilatnya (seperti hadis dhoif perbuatan menyapu muka selepas salam) tetapi
untuk dijadikan dalil dan hujah tidak dibolehkan (hanya hadis shohih atau hasan). hadis ini
hanya dhoif bukan maudhu'(palsu).Hadis dhoif boleh diamal untuk perkara sunat dan bukan
untuk menjadi sandaran hujah (mengikut kebanyakan ulamak hadis dan ulamak fekah).
Contohnya hadis dhoif tidak boleh jadi dalil potong tangan pencuri (hanya sohih atau hasan)
,contoh lain kita tidak boleh membatalkan nikah dengan hadis dhoif. Hadis dhoif hanya
dhoif/lemah dari syarat hadis bukan dari orang kafir..
Silap faham kita umat di akhir zaman ini menyangka hadis dhoif tidak boleh dipakai untuk di
amalkan bercanggah dari ulamak hadis yang muktabar di seluruh dunia....
Senarai kitab al-Arba’in (40 hadis):
1. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Bakr Al-Ajiri
2. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Bakr Al-Ashbahani
3. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Bakr Al-Kalabadzi
4. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Bakr Al-Baihaqi
5. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Sa’id Al-Malini
6. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Abdirrahman Al-Sulami
7. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Nu’aim Al-Ashfahani
8. Kitab Al-Arba’in karangan Ibnu Al-Jazari
9. Kitab Al-Arba’in karangan Ibnu Asakir
10. Kitab Al-Arba’in Al-Buldaniyyah karangan Abu Thahir Al-Salafi
11. Kitab Al-Arba’in karangan Al-Hakim
12. Kitab Al-Arba’in karangan Ad-Daruquthni
13. Kitab Al-Arba’in karangan As-Suyuthi
14. Kitab Al-Arba’in karangan Abu Ismail Abdullah bin Muhammad Al-Anshari Al-Harawi
15. Kitab Al-Arba’in karangan Abdullah bin Al-Mubarak
16. Kitab Al-Arba’in karangan Ibnu Hajar Al-Asqalani
17. Kitab Al-Arba’in karangan Syeikh Daud al-Fathoni*
18. Kitab Al-Arba’in karangan Syah Waliyullah al-Dehlawi*
19. Kitab Al-Arba’in karangan Syeikh Yasin al-Fadani*
20. Kitab Al-Arba’in karangan Al-Imam An-Nawawi
Kitab al-Imam an-Nawawi adalah yang paling popular secara umum. Yang paling terkenal
kitab syarahannya adalah karangan Ibnu Rajab al-Hambali iaitu Jami’ Al-‘Ulum wa al-Hikam.
Dalam kitab ini,beliau menambah 8 buah hadis menjadikan kesemuanya 50 hadis.
Maka marilah kita mulai menghafal hadis dan mengamalkannya jika boleh...