BTC USD 85,530.2 Gold USD 4,120.01
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Sajak-Sajak Islam

BIDADARIKU

Satu,
Namamu tak terukir
Dalam catatan harianku
Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi – mimpiku
Indah suaramu tak terekam
Dalam pita batinku
Namun kau hidup mengaliri
Pori – pori cinta dan semangatku
Sebab
Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untukku ....... Bidadariku.....
Dua,
Mas kawin untuk bidadariku
Adalah sekuntum bunga melati
Yang aku petik
Dari sujud sembahyangku
Setiap hari
Tiga,
Malam pertama
Bersama bidadariku
Adalah pesta madu ditaman firdaus
Yang aku peras
Dari keringatnya yang wangi
Setelah bertahun – tahun
Berlari – lari
Mengejar bulan dan bintang
Dihari – hari perang dan damai
Empat,
Buah cintaku
Dengan bidadariku
Adalah lahirnya sejuta generasi teladan
Yang menggendong tempayan – tempayan kemanfaatan
Bagi manusia dan kemanusiaan
Pada setiap tempat, pada setiap zaman
Mereka lahir demi kesejatiaan sebuah pengabidan
Dalam abad – abad yang susah
Abad – abad yang tidak mengenal Tuhan
Abad – abad yang hilang naluri kemanusiaan
Abad – abad berkuasanya rezim – rezim kemungkaran
Dan mereka tetap kekar dan setia
Membela kebenaran dan keadilan
Lima,
Estafet perjuangan kami berkelanjutan
Sambung – menyambung pada setiap generasi
Tak berpenghabisan
Terus bergerak
Mengalir segenap ladang – ladang peradaban
Seperti cintaku
Pada bidadariku
Yang terus rumbuh, semakin subur dari hari kehari
Laksana kalimat kalimat suci
Di hati para sholihin, di hati para nabi
 
Berapa Harga Wanita Abad XXI?

Empat belas abad yang lalu
Tatkala Rasul Pilihan lahir dari rahim Aminah
Harga setetes darah wanita
Lebih mulia dari langit bumi serta isinya
Kini.....
Dalam peradaban yang serba absurd, tak kenal moral
Tubuh dan jiwa wanita diobral
Dimana – mana
Persis
Seperti tissue pengusap keringat
Diobral murah
Mudah didapat
Mudah dibawa
Kemana – mana
Dimana – mana
Satu dua sen saja
Praktis dapat dipakai
Dimana – mana
Satu dua usapan saja
Lantas dibuang
Dalam kantong – kantong sampah kehidupan
Menyatu dalam komunitas kuman dan kotoran
Kini.......
Dalam peradaban yang tak kenal nurani
Wanita – wanita itu jadi budak nafsunya sendiri
Wanita – wanita itu membuang rasa kemanusiaanya sendiri
Wanita – wantia tampil terlalu berani
Di layar – layar kaca
Di majalah – majalah
Di studia foto
Di jalur – jalur internet
Di garis – garis pantai
Di pasar – pasar
Di trotoar – trotoar
Di lorong – lorong sempit
Di lapangan kehidupan
Di gubug – gubug reot
Di hotel – hotel berbintang
Di pesta – pesta dan rapat
Di terminal
Di stasiun
Di pelabuhan
Di trem dan bus kota
Di segala pusat denyut kehidupan
Wanita – wanita itu nekad
Membalut sepertiga tubuhnya
Dengan sutera tipis satu lapis
Dihiasi basah keringatnya
Pesonanya persis seperti gelas – gelas kacanya
Dalam pesta para raja
Mereka kehilangan ruh kesuciannya
Mereka telah membuang nyawa cintanya
Untuk menyesal selama – lamanya

Tiba tiba puisiku bungkam, berhenti sendiri
Ia menangis bersama sepi
Dalam tangisnya ia isakkan
Saut pertanyaan :
“ Jika dunia tak lagi menyisakan wanita – wanita rabbaniyah yang setia merawat cinta dan generasi.
Maka...... berapa harga wanita abad XXI ini ????
Pertanyaan ini biar para wanita yang menjawabnya sendiri.
 
Nasihat Seorang Ibu Diakhir Zaman Untuk Putrinya

Putriku,
Menjelang engkau dewasa
Pintallah
Benang – benang keimanan
Untuk pakaian keseharianmu
Sebutlah nama Tuhanmu
Dalam setiap tarikan nafasmu
Agar engkau selamat, tidak diperkosa dan dianiya
Oleh kaum durjana, kaum jin, kaum iblis yang angkara
Dan tidak diperdaya situasi zaman
Yang memang sudah gila tak kenal iba

Lindungilah
Tabir kesucianmu
Dengan sifat malu dan dengan benteng ilahi
Yang berwujud pesona cahaya
Yang terpancar pada surat An Nur
Ayat tiga puluh sampai tiga puluh tiga

Kelak, jika tiba masamu
Pilihlah suami yang shaleh, bersahaja,
Tidak, tidak miskin,
Fasih membaca Al-quran,
Fasih mengumandangkan kebenaran dan keadilan,
Setia dalam cinta,
Setia dalam suka dan duka, dan
Setia dalam menjaga keluarga
Dari hal – hal yang tida direlakan Tuhan

Lantas lahirkan dari kesucian Rahimmu
Seribu generasi teladan, seribu generasi pilihan
Yang terukir dengan standar surat Al Kahfi ayat tiga belas

Akhirnya, jadilah engkau seorang ibu sejati
Sepanjang hayat masih dikantung badan
Hingga pada saatnya, di akhir masa nanti
Engkau akan dikenal sebagai mentari sejati
Bagi peradaban umat manusia ini
 
BIDADARIKU

Satu,
Namamu tak terukir
Dalam catatan harianku
Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi – mimpiku
Indah suaramu tak terekam
Dalam pita batinku
Namun kau hidup mengaliri
Pori – pori cinta dan semangatku
Sebab
Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untukku ....... Bidadariku.....
Dua,
Mas kawin untuk bidadariku
Adalah sekuntum bunga melati
Yang aku petik
Dari sujud sembahyangku
Setiap hari
Tiga,
Malam pertama
Bersama bidadariku
Adalah pesta madu ditaman firdaus
Yang aku peras
Dari keringatnya yang wangi
Setelah bertahun – tahun
Berlari – lari
Mengejar bulan dan bintang
Dihari – hari perang dan damai
Empat,
Buah cintaku
Dengan bidadariku
Adalah lahirnya sejuta generasi teladan
Yang menggendong tempayan – tempayan kemanfaatan
Bagi manusia dan kemanusiaan
Pada setiap tempat, pada setiap zaman
Mereka lahir demi kesejatiaan sebuah pengabidan
Dalam abad – abad yang susah
Abad – abad yang tidak mengenal Tuhan
Abad – abad yang hilang naluri kemanusiaan
Abad – abad berkuasanya rezim – rezim kemungkaran
Dan mereka tetap kekar dan setia
Membela kebenaran dan keadilan
Lima,
Estafet perjuangan kami berkelanjutan
Sambung – menyambung pada setiap generasi
Tak berpenghabisan
Terus bergerak
Mengalir segenap ladang – ladang peradaban
Seperti cintaku
Pada bidadariku
Yang terus rumbuh, semakin subur dari hari kehari
Laksana kalimat kalimat suci
Di hati para sholihin, di hati para nabi


tt ke tulis sajak ni?

sungguh puitis dan syahdu :)cgrock
 
Back
Top
Log in Register