kerunai
CG Top Poster Club

- Messages
- 25,039
- Joined
- Sep 2, 2007
- Messages
- 25,039
- Reaction score
- 76
- Points
- 120
Salam semua...
Aku terpanggil untuk membuka thread ini kerana aku merasakan, sudah menjadi tanggungjawab kita semua menyampaikan dan saling tegur menegur untuk kebaikan bersama... aku harap korang semua dapat menganalisis dan membuah muhasabah diri...ini bukan provokasi politik cuma untuk share maklumat sahaja....
di petik dari melayu.com
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. As shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.
Amma ba’du.
Mukaddimah
Baru-baru ini saya membaca majalah Sabili, terbit di Jakarta, No. 25/Th. XV/26 Juni 2008 M. Disana ada sebuah tulisan menarik berjudul, “Malaysia yang Mendidih”. Tulisan ini merupakan laporan perjalanan wartawan Sabili ketika baru-baru ini berkunjung ke Malaysia. Semula saya tidak terlalu peduli dengan tulisan itu, sebab saya anggap tulisan politik biasa. Soal politik, bukan perkara aneh lagi di tengah-tengah masyarakat kami. Ia seperti makan sehari-hari di saat pagi, siang, dan malam. Tetapi dalam tulisan itu ternyata banyak info-info politik masa kini di Malaysia.
Setelah saya membaca tulisan itu sampai selesai, ternyata situasi politik di Malaysia sedang panas, penuh kericuhan, silang pendapat satu sama lain. Surat kabar Republika terbitan Jakarta, juga memuat info-info semisal itu. Berita yang dimuat di Republika tidak berbeda jauh dengan berita yang dimuat majalah Sabili. Dapat disimpulkan, kondisi Malaysia saat ini sedang genting, proses politik memanas, sitegang meluas.
Jika melihat kondisi seperti itu, saya teringat pengalaman kami tahun 1998 dulu, sebelum Presiden Soeharto turun dari posisinya sebagai Presiden RI. Kondisinya sangat mirip, meskipun ada perbedaan-perbedaan. Indonesia ketika itu berada dalam kegentingan besar, dunia internasional menyaksikannya. Saya khawatir, Malaysia juga akan mengalami kondisi yang sama, sehingga negara ini dikhawatirkan akan mengalami guncangan-guncangan hebat sebagaimana kami alami setelah Reformasi 1998.
Di hari ini kami banyak menyesali sikap tergesa-gesa para mahasiswa, generasi muda, para politisi, atau gerakan Islam yang waktu itu sangat menuntut Reformasi. Setelah 10 tahun berlalu, Reformasi hanya memberi kepuasan dalam soal politik, tetapi dalam perkara kesejahteraan, harta benda, kedamaian sosial, moralitas, kesatuan negara, sampai masa depan negeri kami hancur karena Reformasi. Dalam soal politik, Indonesia adalah surga, tetapi dalam masalah sosial-ekonomi, kehidupan kami mengalami kerusakan luar-biasa.
Alangkah sedihnya, jika kondisi politik Malaysia saat ini akan berkembang menjadi Reformasi palsu, seperti yang kami alami selama 10 tahun terakhir (1998-2008). Apa yang akan terjadi jika konsep fundamental negara Malaysia kemudian berubah menjadi sistem liberal, seperti yang terjadi di Indonesia? Sungguh, yang akan beruntung disana adalah para pemodal besar, baik pemodal asing maupun lokal, sedangkan yang akan sangat menderita adalah masyarakat Malaysia, khususnya umat Islam.
Menyadari kenyataan di atas, saya beranikan diri menyusun tulisan berisi nasehat ini untuk kaum Muslimin di Malaysia. Saya sadari, apalah artinya diri saya sehingga harus memberi nasehat untuk sebuah bangsa yang selama ini banyak dipuji-puji karena keberhasilannya? Namun niat saya, ingin menasehati sesama Muslim agar terhindar dari musibah besar yang bisa menimpa. Kami telah sama-sama merasakan betapa pahit akibat dari kesalahan politik yang kami lakukan sejak 10 tahun lalu. Kehidupan masyarakat tidak menjadi lebih baik, malah menjadi sangat buruk, jauh lebih buruk dari keadaan di jaman Pak Harto dulu. Rakyat Malaysia sendiri telah sama-sama tahu, demi mencari income, banyak warga kami menjadi pekerja illegal di Malaysia. Itu baru satu bukti di antara sekian banyak bukti, bahwa kehidupan kami semakin sulit setelah Reformasi. Padahal dulu kami tidak pernah sehina keadaan di masa kini.
Mengapa bisa menjadi demikian, padahal Reformasi adalah perbaikan? Semestinya, jika ada perbaikan, kehidupan akan menjadi lebih baik. Secara teoritikal Reformasi memang perbaikan, tetapi kenyataan yang kami alami selama 10 tahun ini ternyata bukan Reformasi, melainkan LIBERALISASI (penerapan sistem liberal di segala bidang). Masyarakat kami, seperti rumpun warga Muslim Nusantara lainnya, tidak cocok dengan sistem liberal, sebab karakter kita bukan bangsa liberal seperti Amerika. Itulah sebab penderitaan kaum Muslim di Indonesia saat ini.
Ketua Dewan Pembina organisasi Islam Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII), KH. Cholil Badawi, mengatakan, “Warna dominan sistem yang kini dikembangkan rezim demi rezim Reformasi, pasca jatuhnya presiden Soeharto 1998, sangat pekat model liberalisme. Bahkan dalam berbagai penerapan rezim liberal di Indonesia jauh lebih liberal dibandingkan di negara Barat asal ideologi itu. Tapi apa yang diperoleh bangsa ini setelah Reformasi berjalan satu dekade?...Indonesia sungguh terpuruk tahun demi tahun Reformasi yang terus berjalan. Kini bangsa Indonesia telah dimasukkan kategorinya sebagai negara gagal (Failed State), karena kepemimpinan yang lemah, ekonomi yang terus-menerus merosot, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan sistem demokrasi (yang amat dibanggakan) itu, tapi ternyata telah gagal diterapkan untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia.” (Suara Islam, edisi 44, 16-29 Mei 2008 M, halaman 30).
Bagaimanapun kita adalah Muslim dan terikat Ukhuwwah Islamiyyah, sehingga satu sama lain memiliki tanggung-jawab untuk tolong-menolong dan nasehat-menasehati dalam kebaikan.
“Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (Surat Al Maa’idah: 2).
Aku terpanggil untuk membuka thread ini kerana aku merasakan, sudah menjadi tanggungjawab kita semua menyampaikan dan saling tegur menegur untuk kebaikan bersama... aku harap korang semua dapat menganalisis dan membuah muhasabah diri...ini bukan provokasi politik cuma untuk share maklumat sahaja....
di petik dari melayu.com
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. As shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.
Amma ba’du.
Mukaddimah
Baru-baru ini saya membaca majalah Sabili, terbit di Jakarta, No. 25/Th. XV/26 Juni 2008 M. Disana ada sebuah tulisan menarik berjudul, “Malaysia yang Mendidih”. Tulisan ini merupakan laporan perjalanan wartawan Sabili ketika baru-baru ini berkunjung ke Malaysia. Semula saya tidak terlalu peduli dengan tulisan itu, sebab saya anggap tulisan politik biasa. Soal politik, bukan perkara aneh lagi di tengah-tengah masyarakat kami. Ia seperti makan sehari-hari di saat pagi, siang, dan malam. Tetapi dalam tulisan itu ternyata banyak info-info politik masa kini di Malaysia.
Setelah saya membaca tulisan itu sampai selesai, ternyata situasi politik di Malaysia sedang panas, penuh kericuhan, silang pendapat satu sama lain. Surat kabar Republika terbitan Jakarta, juga memuat info-info semisal itu. Berita yang dimuat di Republika tidak berbeda jauh dengan berita yang dimuat majalah Sabili. Dapat disimpulkan, kondisi Malaysia saat ini sedang genting, proses politik memanas, sitegang meluas.
Jika melihat kondisi seperti itu, saya teringat pengalaman kami tahun 1998 dulu, sebelum Presiden Soeharto turun dari posisinya sebagai Presiden RI. Kondisinya sangat mirip, meskipun ada perbedaan-perbedaan. Indonesia ketika itu berada dalam kegentingan besar, dunia internasional menyaksikannya. Saya khawatir, Malaysia juga akan mengalami kondisi yang sama, sehingga negara ini dikhawatirkan akan mengalami guncangan-guncangan hebat sebagaimana kami alami setelah Reformasi 1998.
Di hari ini kami banyak menyesali sikap tergesa-gesa para mahasiswa, generasi muda, para politisi, atau gerakan Islam yang waktu itu sangat menuntut Reformasi. Setelah 10 tahun berlalu, Reformasi hanya memberi kepuasan dalam soal politik, tetapi dalam perkara kesejahteraan, harta benda, kedamaian sosial, moralitas, kesatuan negara, sampai masa depan negeri kami hancur karena Reformasi. Dalam soal politik, Indonesia adalah surga, tetapi dalam masalah sosial-ekonomi, kehidupan kami mengalami kerusakan luar-biasa.
Alangkah sedihnya, jika kondisi politik Malaysia saat ini akan berkembang menjadi Reformasi palsu, seperti yang kami alami selama 10 tahun terakhir (1998-2008). Apa yang akan terjadi jika konsep fundamental negara Malaysia kemudian berubah menjadi sistem liberal, seperti yang terjadi di Indonesia? Sungguh, yang akan beruntung disana adalah para pemodal besar, baik pemodal asing maupun lokal, sedangkan yang akan sangat menderita adalah masyarakat Malaysia, khususnya umat Islam.
Menyadari kenyataan di atas, saya beranikan diri menyusun tulisan berisi nasehat ini untuk kaum Muslimin di Malaysia. Saya sadari, apalah artinya diri saya sehingga harus memberi nasehat untuk sebuah bangsa yang selama ini banyak dipuji-puji karena keberhasilannya? Namun niat saya, ingin menasehati sesama Muslim agar terhindar dari musibah besar yang bisa menimpa. Kami telah sama-sama merasakan betapa pahit akibat dari kesalahan politik yang kami lakukan sejak 10 tahun lalu. Kehidupan masyarakat tidak menjadi lebih baik, malah menjadi sangat buruk, jauh lebih buruk dari keadaan di jaman Pak Harto dulu. Rakyat Malaysia sendiri telah sama-sama tahu, demi mencari income, banyak warga kami menjadi pekerja illegal di Malaysia. Itu baru satu bukti di antara sekian banyak bukti, bahwa kehidupan kami semakin sulit setelah Reformasi. Padahal dulu kami tidak pernah sehina keadaan di masa kini.
Mengapa bisa menjadi demikian, padahal Reformasi adalah perbaikan? Semestinya, jika ada perbaikan, kehidupan akan menjadi lebih baik. Secara teoritikal Reformasi memang perbaikan, tetapi kenyataan yang kami alami selama 10 tahun ini ternyata bukan Reformasi, melainkan LIBERALISASI (penerapan sistem liberal di segala bidang). Masyarakat kami, seperti rumpun warga Muslim Nusantara lainnya, tidak cocok dengan sistem liberal, sebab karakter kita bukan bangsa liberal seperti Amerika. Itulah sebab penderitaan kaum Muslim di Indonesia saat ini.
Ketua Dewan Pembina organisasi Islam Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII), KH. Cholil Badawi, mengatakan, “Warna dominan sistem yang kini dikembangkan rezim demi rezim Reformasi, pasca jatuhnya presiden Soeharto 1998, sangat pekat model liberalisme. Bahkan dalam berbagai penerapan rezim liberal di Indonesia jauh lebih liberal dibandingkan di negara Barat asal ideologi itu. Tapi apa yang diperoleh bangsa ini setelah Reformasi berjalan satu dekade?...Indonesia sungguh terpuruk tahun demi tahun Reformasi yang terus berjalan. Kini bangsa Indonesia telah dimasukkan kategorinya sebagai negara gagal (Failed State), karena kepemimpinan yang lemah, ekonomi yang terus-menerus merosot, korupsi dan kriminalitas menyebar, dan sistem demokrasi (yang amat dibanggakan) itu, tapi ternyata telah gagal diterapkan untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia.” (Suara Islam, edisi 44, 16-29 Mei 2008 M, halaman 30).
Bagaimanapun kita adalah Muslim dan terikat Ukhuwwah Islamiyyah, sehingga satu sama lain memiliki tanggung-jawab untuk tolong-menolong dan nasehat-menasehati dalam kebaikan.
“Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (Surat Al Maa’idah: 2).