BTC USD 85,544.8 Gold USD 4,163.40
Time now: Jun 1, 12:00 AM

PENTING:Siapa Dulu?

Hikayat Nur Muhammad
Bismillahirrahmanirrahim. Wabihi nastai billa hitaala. Ini hikayat peri menyatakan Nur Muhammad rasulullah sallallah alaihi wassallam bermula, maka tatkala itu semata-mata alam pun belum jadi Arash dan Kursi pun belum jadi pun belum jadi langit dan bumi pun belum jadi darat dan laut pun belum langit dan bumi pun belum jadi tersebut Luh pun belum tersurat dan seperti Nabi sallallah alaihissalam kepada nabi Adam alaihissalam yakni Adam antara tanah dan seperti sabda Nabi sallallah alaihi wassallam `aw wala ma holakallahi taala linur’ artinya pertama -tama di jadikan Allah subhanahu wa ta’ala itu cahayaku ini. Maka ia pun sujud dengan firman Allah menyuruh sujud demikianlah firman Allah sujudlah engkau lima puluh tahun lamanya telah sudah ia sujud. Maka firman Allah “Hai kekasih ku Nur Muhammad”, maka bangkitlah ia Nur Muhammad itu dengan firman Allah taala, “Hai Nur Muhammad telah ku fardukan segala umat kamu pertama-tama mengucap kalimah syahadah, kedua sembahyang lima waktu pada sehari semalam, ketiga puasa pada bulan ramadhan, keempat memberi zakat, kelima naik haji ke Baitullah al-haram.

Kemudian daripada itu maka cahaya ku itu dijadikan Allah ta’ala itu seekor burung yang mulia dan indah rupanya. Sebermula adapun akan kepala burung itu Ali bin Abi Talib dan kedua mata burung itu Hassan dan Hussin, di lehernya burung itu Fatimah al-Zahrah dan kedua lengannya burung itu Abu Bakar as-siddiq radiallah hu anhu dan Umar Ibn al-Hattab dan ekornya burung itu Hamzah Ibn Abdul Mutalib dan belakangnya burung itu Abbas radiallah hu anhu dan kaki burung itu Khadijah al-Kubra.

Maka firman Allah taala kepada cahaya ku “Hai Nur Muhammad, aku nugerahi bagi mu tujuh petala laut, pertama-tama Laut Ilmu, kedua Latif, ketiga Laut Sabar, keempat Laut Akal, kelima Laut Fikir, keenam Laut Rahmat, ketujuh Laut Cahaya”.

Maka firman Allah ta’ala kepada Nur Muhammad itu, “Hai Nur Muhammad pergilah engkau kepada laut dan berenanglah engkau pada satu laut itu sepuluh ribu tahun lamanya”. Telah sudah Nur Muhammad mendengarnya firman Allah ta’ala demikian bunyinya itu. Maka Nur Muhammad pun pergilah kepada laut itu, pertama - tama Ilmu. Maka Nur Muhammad pun berenanglah sepuluh ribu tahun lamanya. Maka ia keluar dari Laut Ilmu itu. Maka ia berenang pula kepada Laut Latif sepuluh ribu tahun lamanya. Maka ia keluar pula daripada Laut Latif itu. Maka ia berenang pula kepada Laut Sabar sepuluh ribu tahun lamanya. Maka ia keluar dari Laut Sabar itu, maka ia berenang pada Laut Fakir sepuluh ribu tahun lamanya. Maka keluar ia daripada Laut Fakir itu, maka berenang ia pula pada Laut Akal sepuluh ribu tahun lamanya. Maka ia keluar daripada Laut Akal berenang pula pada Laut Rahmat sepuluh ribu tahun lamanya. Maka ia keluar daripada Laut Rahmat itu, maka berenang pula ia kepada Laut Cahaya sepuluh ribu tahun lamanya. Maka adalah jumlahnya Nur Muhammad itu berenang pada tujuh laut itu menjadi tujuh puluh ribu tahun lamanya bilangannya Nur Muhammad itu berenang pada tujuh laut.

Maka datanglah firman Allah ta’ala kepada Nur Muhammad itu katanya, “Hai Nur Muhammad keluarlah engkau daripada tujuh petala laut itu”. Maka firman Allah ta’ala kepada Nur Muhammad, “Engkau gerakkanlah diri mu itu dengan firman ku”. Maka dengan firman Allah ta’ala, maka jadilah sakti dua laksa empat ribu nabi. Maka antara itu bertitiklah air tiga suku daripada Nur Muhammad itu. Maka itulah jadi tiga belas nabi yang mursal keturunan wahyu daripada Jibril alaihis salam. Bertitiklah pula air daripada Nur Muhammad itu yang kanan. Maka itulah yang menjadi malaikat Jibrail alaihis salam. Maka titik pula air mata yang kiri daripada Nur Muhammad itu. Maka menjadi pula Israfil alaihis salam. Maka daripada dua titik itu pula menjadi Izrail dan Mikael alaihis salam. Maka adalah titik yang ketiga daripada telinga Nur Muhammad yang kanan ini lah menjadi Luh Mahfuz dan yang keempat titik itulah menjadi kalam. Maka bertitiklah pula tuwinaf air daripada hidung Nur Muhammad itu. Maka yaitulah menjadi tujuh pangkat Syurga. Maka bertitiklah pula daripada bahu Nur Muhammad itu setitik. Maka yaitu menjadi matahari dan yang dua titik itu menjadi bulan. Maka bertitiklah pula lima titik daripada tangan Nur Muhammad itu yang kanan yaitu menjadi angin dan air dan yang keempat titik itu menjadi angin sughra dan yang kelima titik itu menjadi Sajratul Muntaha dan yang ketiga titik itu menjadi pohon kayu Tuba dan yang titik itu menjadi khadam nabi Allah Sulaiman alaihis salam dan yang setitik itu pula menjadi tongkat nabi Musa daripada nabi Adam alaihis salam kepada nabi Sith dan daripada nabi Ayub kepada nabi Musa.
 
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan empat anasir pohon bangsanya itu pertama-pertama air, kedua tanah, ketiga angin, keempat api. Maka firman Allah ta’ala kepada Nur Muhammad, “Hai Nur Muhammad fikirlah engkau kepada angin itu ku jadikan zahir kelihatan”.

Maka Nur Muhammad pun pergilah kepada angin. Maka angin itu terlalu membesarkan dirinya. Maka kata Nur Muhammad “Assalamualaikum, hai angin”. Maka disahut oleh angin “Waalaikummussalam, hai Nur Muhammad yang amat bercahaya, siapalah engkau?”. Maka sahut Nur Muhammad, “Aku seorang hamba Allah dan engkau pun seorang hamba Allah”. Maka kata Nur Muhammad “Hai angin mengapa engkau pun seorang sangat membesarkan diri mu”. Maka sahut barang sekehendak ku. Maka kata Nur Muhammad kepada angin itu, “Sungguh pun engkau tiada kelihatan orang tetapi lihatlah oleh mu akan diri mu adakah bercela atau tiada”. Maka kata angin, “Apalah cela ku”. Maka kata Nur Muhammad, “Hai angin engkau itu lah hamba orang berlayaran”. Maka kata angin, “Hai Nur Muhammad yang bercahaya, engkau itu lah gerangan yang tiada bercela”. Maka kata Nur Muhammad, “Astarfirulallahhalazim, hamba ini pun sahaja bercela ada pun subhanahuwataala azzawajalla yang tiada bercela, asyadualla ilahaillallah wahdahu lasyarikalah waasyaduanna muhammadan abduhu warasuluh”. Maka kata angin, “Hai Nur Muhammad yang amat bercahaya telah percayalah aku akan di kau dan masuklah aku kepada agama Islam dan ajarlah aku kalimah syahadah”. Maka ajar oleh Nur Muhammad akan syahadah itu demikain bunyinya “Asyhadu an laa ilaaha illallahu waasyhadu anna Muhammadan Rasulullah”. Maka di ucap oleh angin yang demikain itu.

Maka Nur Muhammad pun pergilah kepada api. Maka dilihat oleh api kepada Nur Muhammad itu. Maka ia memohonkan dirinya sekalian alam dan gembiranya dan terlalu sangat membesarkan dirinya itu. Maka kata Nur Muhammad itu, “Assalamualaikum hai api”. Maka disahutlah api salamnya itu, “Waalaikummussalam ya Nur Muhammad amat bercahaya-cahaya, siapa engkau ini?”. Maka sahut Nur Muhammad, “Aku ini hamba Allah dan engkau pun seorang hamba Allah juga yang amat hina”. Maka kata Nur Muhammad “Api mengapa engkau gembira membesarkan diri mu terlalu sangat”. Maka kata api “Barang kehendak ku, aku berlaku akan”. Maka kata Nur Muhammad “Hai api yang hamba ini tiada boleh berlaku kehendak ini dilihat diri mu itu tiadakah bercela?,”. Maka kata api “Hai Nur Muhammad yang amat bercahaya-cahaya, apakah cela ku ini?”. Maka kata Nur Muhammad “Hai api, yang membunuh engkau itu air dan yang mengjadikan engkau itu angin dan engkau itu menjadi hamba orang banyak, iaitu memasakkan segala makanan orang”. Maka kata api “Hai Nur Muhammad yang amat bercahaya-cahaya, engkaulah gerangan yang tiada bercela”. Maka kata Nur Muhammad itu “Astarfirullah halazim yang hamba ini sahaja dengan celanya adapun yang tiada bercela itu melaikan Allah s.w.t jua yang tiada bercela itu, Asyaduallaa ilahaillaallah wahdahu lasyarikalah waasyaduanna muhammadan abduhu warasuluh”. Maka kata api “Hai Nur Muhammad telah percayalah akan engkau dan masuklah aku akan agama Islam itu kepada kamu dan ajarkan lah aku kalimah syahadah itu kepada ku”. Maka kata Nur Muhammad itu, “Ucaplah oleh mu laa ilaaha illallahu Muhammadan Rasulullah”. Maka mengucaplah api demikian itu.

Setelah itu, maka Nur Muhammad pun pergilah kepada air. Maka dilihat oleh Nur Muhammad air itu terlalu amat gembiranya dan sangat membesarkan dirinya. Maka Nur Muhammad pun pergilah kepada air serta katanya “Assalamualaikum hai air”. Maka disahut oleh air itu “Walaikummussalam hai Nur Muhammad”. Maka kata Nur Muhammad “hai air, engkau itu seorang hamba Allah dan aku pun seorang hamba Allah yang hina, mengapa engkau membesarkan dirimu itu?”. Maka sahut air itu “Barang kehendakku peroleh”. Maka sahut Nur Muhammad “Hai air yang hamba ini tiadalah boleh dengan sekehendak hati hamba”. Maka kata Nur Muhammad “Hai air lihatlah dirimu adakah bercela atau tiadakah?”. Maka sahut air itu “Apakah celaku ini?”. Maka kata Nur Muhammad, “Engkau itulah hamba segala najis, engkau yang menyucikan”. Maka sahut air itu “Engkau gerangan yang tiada bercela”. Maka kata Nur Muhammad itu, “Astarfirullahalazim yang hamba ini sahaja dengan bercelanya, maka adapun yang tiada ia cela itu hanya Allah subhanahu wa taala jua asyaduallaa ilahaillaallah wahdahu lasyarikalah waasyaduanna muhammadan abduhu warasuluh”. Maka kata air telah percayalah aku akan di kau dan masuklah aku kepada agama mu Islam dan ajarkanlah aku kalimah syahadah. Maka kata Nur Muhammad, “Hai air, ucaplah oleh mu kalimah LailahaillaAllah Muhammadar Rasulullah”. Maka mengucaplah air yang demikian itu.

Maka Nur Muhammad pergilah kepada tanah. Maka memberi salam “Assalamualaikum hai tanah”. Maka sahut oleh tanah “Walaikummussalam ya Nur Muhammad”. Maka dilihat oleh Nur Muhammad itu tanah sangat merendahkan diri dengan malunya dan sopannya dan hormatnya serta takutnya akan Allah ta’ala serta dengan malunya akan Nur Muhammad itu. Maka kata tanah “Ya Nur Muhammad yang amat bercahaya terlalu baik sekali tuan hamba datang ini daripada firman Allah ta’ala kepada hamba ini”. Maka dilihat oleh Nur Muhammad tanah itu sangat merendahkan diri serta dengan malunya dan sopannya melihatkan Nur Muhammad. Lalu dipeluk dan dicium oleh Nur Muhammad itu akan tanah itu. Maka sembah Nur Muhammad “Ya Aiyuha Ya Rabbi Ya Saiidi Ya Maulana Ya Tuhan ku engkaulah jua yang terlebih mengetahuai dan yang mendengarkan, penuhlah hambamu dan empat anasir.

Maka itulah segala manusia di dalam dunia ini dapat tabiat setengah daripada tabiat api itu hangat dan setengah manusia itu angin iaitu keras dan setengah daripada tabiat air sejuk dan setengah daripada tabiat bumi itu itu basah kering, Tetapi murah dan merendahkan dirinya. Di dalam kitab pertama-pertama nurain anasir itulah dijadikan Allah Taala nabi Allah Adam dan barang siapa ada menaruh cetera peri Nur Muhammad tatkala peri kemuliaan Nur Muhammad Rasulullah sallallah alaihi wassallam. bercahaya-bercahaya itu atau mendengarkan dia, maka Allah ta’ala memberi nugerah di dalam kitab pertama-pertama Taurat dan kedua Injil dan ketiga Zabur, keempat Furqanulazim iaitu kepada Rasulullahi sallallah alaihi wassallam. dinugerahkan Allah subhanahu wa ta’ala akan dia pahalanya subhanahu wa ta’ala pertama-pertama Jibril alaihis salam, kedua Mikael alaihis salam dan ketiga Israfil alaihis salam. Akan memeliharakan dia dan dinugerahkan Allah taala pahalanya seperti pahala orang naik haji dinugerahkan Allah ta’ala akan segala yang membaca dia itu atau orang yang mendengarkan dia.

Cetera ini daripada permulaan datang kepada kesudahan cetera Nur Muhammad itu. Maka disuratkan Allah subhanahu wa ta’ala pahalanya itu seperti orang yang mengelilingi ka’aba Allah tujuh kali pahalanya dan barang siapa ada ia membaca akan dia pada tiap-tiap malam atau tiap-tiap hari, maka pahalanya itu seperti orang yang mati syahid tujuh puluh perbendaharaan yang terbuka kepadanya dan dinugerahkan Allah Taala akan dia dan hendaklah kiranya segala Islam menaruh peri kejadian bercahaya Nur Muhammad itu kerana telah diharuskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan hendaklah memberi panji daripada suatu rumah kepada suatu rumah supaya memuji-memuji penghulu kita dan lagi supaya mengenal akan tuhannya dan lagi mengerjakan suruhnya akan membesarkan tuhan kita amin yarabbalalamin wasallaallahuala hairuholqahu sdiidina muhammaadawwaala alihi waashabihi ajmain birahmatika ya arhamarrohimin intahiyal kalamu panji Hikayatun Nur Muhammadun SallaAllualaihissalam.


ini adalah sekadar hikayat...ntah betul ntah x...alao citer nie hikayat sekali pun x salah asalkan untuk memuliakan Islam...
ia bukan dijadikan pegangan "SOLID"..........
 
Muhammad. Bukankah di syurga itu,Nabi Adam telah diperlihatkan
kalimah "LAAILAAHAILLALLAH MUHAMMADARRASULULLAH" ?

ade suatu cerite berdasarkan hadith iaitu Nabi Adam as semasa jatuh dari dunia pernah bertawassul akan Muhammad saw dan Allah swt bertanya dari mane Adam as tau nama Muhammad saw??? jawab Adam as dia ternampak kalimah Shahadah di dekat Pintu Arash masa di syurga..........

p/s: jgn tanye aku hadithnye mane..aku pun x tau...

aku duk dgr2 org borak kat kedai kopi je.....aku cuma berkongsi..nk tau lebih,kene la berguru murshid:D
 
Antara para ulama yang membicarakan soal Nur Muhammad ialah:

1- Qadi ‘Iyad yang terkenal dengan kitab al-Shifanya,
2- Imam al-Suyuti dalam Tafsir Jalalainnya
3- Firuzabadi dalam Tanwir al-Miqbasnya atau tafsir ibn ‘Abbasnya
4- Imam Fakhru’d-Din al-Razi, mujaddid abad ke 6 Hijrah, dengan Tafsir al-Kabirnya
5- Qadi al-Baidawi dengan Tafsir al-Baidawinya
6- Al-Baghwi dengan Ma’alim al-Tanzilnya
7- Pengarang tafsir Abi Su’ud dengan huraiannya
8- Al-Tabari dengan Tafsir at-tabarinya
9- Pengarang Tafsir al-Khazin dengan huraiannya
10- Al-Nasafi dengan Tafsir al-Madariknya
11- Al-Sawi dengan syarahnya atas al-jalalain
12- Al-Alusi dengan Ruh al-ma’aninya
13- Ismail Haqqi dengan syarahnya atas Tafsir Ruh al-Ma’ani
14- Al-Qari dengan Sharah al-Shifanya
15- Suyuti dengan al-Riyad al-Aniqanya
16- Ibn Kathir dengan Tafsirnya
17- Qadi ‘Iyad dengan al-Shifanya
18- Al-Nisaburi dengan tafsirnya Ghara’ib al-Qur’an
19- Al-Zarqani dengan Sharah al-mawahib al-laduniyyahnya
20- Ibn Hajar dengan al-Isabahnya
21- Tirmidhi dengan Sunannya
22- Baihaqi dengan Daala’il al-Nubuwwahnya
23- Ibn Hajar Haitami dengan D ala’il al-Nubuwwahnya
24- Bukhari, Muslim dan Imam Ahmad dengan kitab hadith mereka masing-masing
yang memberi gambaran tentang nabi s.a.w.
25- Al-Hakim dengan al-Mustadraknya
26- Ibn Kathir dengan Tafsirnya dan Maulid Rasul Allahnya
27- Ibn Ishaq dengan Sirahnya
28- Dhahabi dengan Mizan al-I’tidalnya
29- Al-Tabari dengan al-Riyad al-Nadiranya
30- Al-Shahrastani dengan al-Milal wan-Nihalnya
31- ‘Abd al-Haq al-Dihlawi dengan Madarij al-Nubuwwahnya (dalam Bahasa Parsi)
32- ‘Abd al-Hayy al-Lucknowi dengan al-Athar al-marfu’ fi al-akhbar al-maudu’anya
33- ‘Abd al-Razzaq dengan Musnadnya
34- ‘Abidin (Ahmad al-Shami) men.1320 H. dengan komentarnya atas syair ibn Hajar
al- Haitami al-Ni’;matul-Kubra ‘alal-‘Alamin
35- Al-‘Ajluni (Isma’il bin Muhammad, men.1162) dengan Kashf al-Khafa’nya
36- Bakri (Sayyoid Abu al-hasan Ahmad ibn ‘Abd Allah men.abad ke3 H) dengan al-
Anwar fi Maulid al-Nabi Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallamnya Diyarbakri
(Husain bin Muhammad, meninggal 966 H.) yang memulakan kitabnya Tarikh al-
Khamis fi Ahwal Anfasi Nafisa dengan kata-kata Segala puji-pujian tertentu bagi
Allah yang menjadikan cahaya nabiNya sebelum daripada segala sesuatu…”
37- Fasi (Muhammad ibn Ahmad men.1052 H.) dengan kitabnya Matali’ al-Masarrat
38- Shaikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani men.561 H. dengan kitabnya Sirr al-Asrar fi Ma
Yuhtahu ilaihi al-Abrar (hal.12-14 edisi Lahore) yang menyatakan: Ia memberi dalil
bahawa Baginda adalah punca bagi segala sesuatu yang maujud, dan Allah Maha
Mengetahui. Haqqi (Ismail, men.1137) menukil hadith itu dalam tafsirnya Ruh al-
Bayan
39- Ibn Hajar al-Haitami (men.974 H) dengan Fatawa Hadithiyyahnya
40- Syaikh Ismail al-Dihlawi (men.1246 H) dengan risalahnya Yek Rauzah di mana
beliau menyatakan: Sebagaimana yang diisyaratkan oleh riwayat: perkara yang
awal dijadikan Allah adalah nurku.
41- Sulaiman al-Jamal (men.1204 H) yang menukil hadith tentang nur Muhammad
awal-awal dijadikan Allah, dalam syarahnya ke atas al-Busiri berjudul al-Futuhat al-
Ahmadiyyah bi al-Minah al-Muhammadiyyah.
42- ‘Abd al-Qadir al-Jili dengan Namus al-A’zam wa al.-Qamus al-Aqdam fi Ma’rifat
Qadar al-Bani sallka’lahu ‘alaihi wa sallam menyebut hadith nur Muhammad.
Kharputi (‘Umar bin Ahmad, men.1299) dalam syarahnya terhadap al-Busiri
menyebutnya.
43- Maliki al-Hasani (Muhammad ibn ‘Alawi) menyebutnya dalam syarahnya terhadap
kitab al-Qari Hasyiyah Al-Maurid al-Rawi fi Maulid al-Nabi. Pada halaman 40 beliau
menyatakan “Sanad Jabir adalah sahih tanpa pertikaian, tetapi ulama berbeza
pendapat tentang teksnya kerana khususiahnya, Baihaqi juga meriwayatkan hadith
itu dengan beberapa kelainan.”

Semoga merungkai persoalan yang bermain di fikiran saudara/i
 
Salam semua member2 forum...

di sini saya ingin bertanya sesuatu yg menjadi pertanyaan sekian lama di fikiran saya nie...bukan nk menidakkan kejadian tuhan...tp ada persoalan yang xdpt saya serta org2 yg pernah saya tanya dpt jawab soalan ni...harap ada seseorang yang dapat merungkaikan persoalan saya nie..saya ingin tahu sgt supaya saya tidak berfikir yang bukan2 yang menyimpang jauh dari ajaran islam yg sebenar...

soalan saya ialah :

siapakah yang hidup dahulu...NABI ADAM atau DINASOUR?
*seperti yang saya tahu...dinasour hidup semasa bumi ini sekeping tanah dan belum terbentuk lagi apa2 benua seperti sekarang ini...hanya selepas tahi bintang menghentam bumi,barulah terbentuk benua2 di bumi ini seperti amerika,asia,afrika,arab dan sebagainya...betulkan jika saya salah....dinasour ini juga hidup berpuluh2 juta tahun yang lalu dan pada masa tersebut ada dikatakan wujud manusia prasejarah....betulkan jika saya salah...seperti yang saya tahu,NABI ADAM a.s. diturunkan ke bumi di suatu tempat di Arab(maka,pada fikiran saya pada masa NAbi Adam diturunkan sudah wujud benua Arab).maka,yang menjadi persoalan saya ialah siapa hidup dahulu? sudah termaktub dalam Al-Quran nabi Adam adalah manusia pertama yang hidup di bumi tuhan ini,jadi mcm mane dengan manusia prasejarah tu? dan seperti yang saya tahu, haiwan hanya wujud selepas zaman nabi sulaiman, maka betul ke wujud dinasour nie berpuluh2 juta tahun dahulu? ada ke dalam al-quran atau mana2 hadis yang mengatakan wujudnya dinasour ni?

Saya berharap sgt2 ada yang dapat memberikan jawapan pada persoalan saya ini kerana sudah sekian lama saya ingin mengetahui jawapan sebenarnya...saya hanya insan yang inginkan kebenaran dan kepastian bukan meragui kekuasaan tuhan yang maha besar.ALLAHUAKBAR3x!!!!!


wallahualam


Aku pun pernah terfikir pasal ni...Cuma hasil dari tontonan aku ke atas banyak dokumentari tentang dinosor...Aku dapat simpulkan mungkin zaman dinosor wujud sebelum nabi adam turun...Jika dinosor wujud dizaman manusia, bagaimana manusia boleh tahan survive untuk bersaing dengan dinosor dan dari berlakunya hentakan meteor ke bumi satu waktu dulu...

Tentang manusia pra sejarah tu mungkin ia wujud selepas zaman dinosor sebab jika dilihat zaman manusia pra-sejarah tu, atau lebih tepat 10,000 BC. Binatang2 sudah menjadi kecil seperti gajah atau mammoth yang saiznya lebih kecil berbanding dinosor.
Mungkin waktu ini zaman dimana adam sudah turun..Wallahualam bissawab Hanya Allah yang maha mengetahui....

P/s:Ini hanya andaian aku sahaja bukan kata pengsahihan...Cerita sebenar hanya Allah yang tahu...
 
Manusia keturunan Nabi Adam adalah daripada spesies Homo Sapiens, manakala manusia zaman prasejarah daripada Homo Erectus (spesies ni hampir sama cam spesies beruk, x ble bercakap.. maksudnya xde bahasa khusus.. n dorg gak x ble berfikir guna otak cam spesies Homo Sapiens). Saya tengok pasal spesies manusia ni dalam Discovery Channel 2-3 tahun lepas. kalu x silap ada 3 jenis spesies manusia
 
Back
Top
Log in Register