BTC USD 63,323.9 Gold USD 4,327.97
Time now: Jun 1, 12:00 AM

Krisis Tun M, Najib punca nilai ringgit jatuh

balqis07

CG Top Poster Club
gem
Messages
30,953
Paid Membership
Joined
Jan 27, 2010
Messages
30,953
Reaction score
294
Points
136
SHAH ALAM - Ketidaktentuan iklim ekonomi negara kini dipengaruhi dengan iklim politik dalaman yang tidak stabil, sekali gus menyumbang penyusutan mata wang ringgit.

Pakar Ekonomi Pusat Pengajian Ekonomi, Kewangan dan Perbankan, Universiti Utara Malaysia (UUM), Prof Datuk Dr Amir Hussin Baharuddin berkata, ekonomi negara sudah cukup bagus dalam pelbagai segi terutamanya daripada segi pelaburan.

"Namun, berikutan situasi politik disebabkan oleh Tun Dr Mahathir Mohamad, ia menyebabkan iklim ekonomi turut terkesan.

"Kita kena faham, penyusutan mata wang bukan sahaja disebabkan ekonomi...mata wang adalah sensitif," katanya, semalam.

Menurutnya, pelabur luar akan lebih berwaspada untuk melabur apabila melihat politik negara yang tidak menentu terutamanya isu di antara bekas perdana menteri itu dan Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak.

"Kalau saya seorang pelabur dan melihat keadaan politik yang mana seorang perdana menteri diminta untuk meletak jawatan. Saya pasti tidak 'syok' untuk melabur.
"Mata wang kita jatuh sebab kita," katanya lagi.

Mengulas lanjut, Amir berkata, selagi Dr Mahathir tidak berhenti mengkritik secara berterusan terhadap Najib, ekonomi negara tidak akan kembali stabil dan kemungkinan menjadi semakin teruk.


sumber:http://www.sinarharian.com.my/nasional/krisis-tun-m-najib-punca-nilai-ringgit-jatuh-1.401057
 
Pelabur bukan la ***** sgt.. sebelum dtg melabur.. diaorg dah hantar wakil kompeni utk stadi negara kita.. termasuk kerajaan.. sistem perbankan.. sistem cukai.. dan apa2 sistem yg akan bersangkutan dengan pelaburan mereka.

Kalau takat tun m dok bising2.. efek tu ada.. tp amat kecil.. pelabur lari bukan pasai tun m.. tp pasai najib running negara mcm rosmah punya. Itu jer


Diaorg dah stadi korupsi yg berlaku.. then tun m masuk gelanggang.. dan pelabur pun ambil langkah yg sama mcm kita semua.. beli popcorn dah enjoy the show.
 
mcm ayat mat maslan je..biar benor prof ni..
 
hebat btl tun ni sebab komen pm jatuh habis matawang..:-?

tp mcmner plak dgn negara jiran ni dgn mslh yg lbh krg sama..

Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) makin terpuruk dan kini menembus angka 13.000 sejak 5 Maret 2015 lalu. Hingga akhir pekan lalu, Rupiah bahkan menembus level Rp 13.400. Rupiah pun diprediksikan bakal menuju level Rp 15.000.

Staf Pengajar Universitas Sam Ratulangi, Agus Tony Poputra mengungkapkan, depresiasi kurs masih akan terjadi dengan ancaman krisis moneter 1998 terulang kembali jika pemerintah dan Bank Indonesia tidak melakukan kebijakan substansial untuk mencegahnya.

Agus menjelaskan, pelemahan Rupiah memberi keuntungan bagi Indonesia karena dapat meningkatkan ekspor. Hal itu benar hanya jika ekspor Indonesia jauh melampaui impor. Faktanya impor Indonesia telah melewati ekspor pada beberapa tahun terakhir.

“Stabilisasi rupiah yang hakiki tidak dapat diselesaikan lewat kebijakan yang bersifat responsif, seperti membentuk Crisis Management Protocol (CMP) karena hanya memberi solusi jangka pendek,” ungkapnya di Jakarta, Minggu (14/04/2015).

Agus menyebut, ada lima faktor yang membuat rupiah sangat rentan terhadap pengaruh global, antara lain :

Pertama, Kurangnya usaha serius pemerintah selama beberapa dekade mendorong produksi barang substitusi impor. Hasilnya tekanan impor semakin deras yang berujung rupiah semakin terekspos.

Kedua, Lambatnya penerapan kebijakan hilirisasi terutama sektor pertambangan. Ini membuat sumber daya alam terdeplesi luar biasa, namun nilai tambah domestiknya sangat kecil. Selain itu, terjadi export illusion yang signifikan pada sektor pertambangan yaitu nilai ekspor besar, tapi devisa yang masuk kecil. Ini membuat dana pihak ketiga perbankan dalam negeri tumbuh melambat serta cadangan devisa tidak meningkat signifikan.

Selama 4 tahun terakhir, cadangan devisa Indonesia hanya berkutat pada US$ 95 sampai US$ 124,64 miliar. Posisi tertinggi US$ 124,64 miliar ini dicapai pada Agustus 2011. Angka tertinggi ini sulit dicapai kembali, karena Mei 2015 saja posisi cadangan devisa US$ 110,8 miliar. “Tidak kuat jika cadangan devisa itu buat intervensi rupiah dalam rangka stabilisasi rupiah,” tegasnya.

Ketiga, Lebih dari 20 tahun pemerintah tidak memperhatikan secara serius terhadap kebijakan lokal konten. Dampaknya nilai impor bahan baku semakin meningkat seiring bertambahnya permintaan produk untuk pasar domestik maupun ekspor.

Keempat, Meningkatnya perilaku konsumsi barang impor sebagai alat aktualisasi diri sehingga meningkatkan permintaan barang impor. Kondisi ini terjadi karena minimnya kampanye untuk menggunakan produk dalam negeri.

Kelima, Penerapan kebijakan devisa terlalu bebas. Ini mengakibatkan sulitnya mengendalikan pergerakan devisa. Akhirnya rupiah menjadi mudah dimainkan.(rz)
 
Jatuh teruk giler sepanjang berniaga online!

1zcob55.png
 
Back
Top
Log in Register